Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS STRUKTURAL NOVEL MAMO-ZEIN (KISAH CINTA YANG BERSEMI

DI BUMI DAN BERBUAH DI LANGIT) KARYA RAMADHAN EL BOUTHY

OLEH: ANDI FAIZAL

1. TEMA
Dalam novel Mamo-Zein (Kisah Cinta yang Bersemi di Bumi dan Berbuah di Langit)
tema yang disajikan sangat menarik sehingga membuat pembaca novel khususnya menjadi
ikut terjun langsung menikmati isi cerita yang disajikan. Sesuai dengan judul novel ini
Mamo-Zein (Kisah Cinta yang Bersemi di Bumi dan Berbuah di Langit) memberikan kisah
perjuangan sepasang kekasih yang menjadi korban keganasan api cinta yang merindu
dendam. Mamo adalah seorang lelaki asisten sekertaris istana yang miskin papa.
Sedangkan Zein adalah salah satu adik seorang raja yang bernama Amir Zainouddin yang
cantik jelita.
Kisah cinta Mamo dan Zein ini sangat mengharukan. Karena keduanya tidak
mendapatkan kebahagiaan dunia. Rintangan dan tantangan selalu meyelimuti kisah cinta
mereka. Hingga kemudian Mamo dipenjara gara-gara fitnah keji Bakar, seorang pelayan
Raja. Dan putri Zein pun dirundung nestapa dan didera berbagai macam penyakit hingga
tubuhnya kurus kerontang dan wajah cantiknya luntur berkeriput. Begitu juga Mamo,
keadaannya juga sangat memprihatinkan. Tetapi hikmah dari semua itu, Mamo dan Zein
kemudian berserah diri pada Allah Swt. dan mengisi sisa hidupnya untuk ibadah.
Setahun berlalu akhirnya Mamo dibebaskan oleh raja setelah melihat
pertimbangan adiknya yang sekarat dan seruan dari berbagai pihak. Namun terlambat
sudah. Saat orang-orang hendak mengunjungi Mamo dan membawanya ke luar. Mamo
sedang sujud dengan tubuh kaku dan dingin. Kemudian putri Zein menghampiri Mamo
dengan tangisan yang memilukan dan menghamburkan tubuhnya ke tubuh Mamo. Saat
itulah jiwa Mamo tersentuh. Ia merasakan sesuatu dalam dirinya. Ia terbangun sejenak
hanya sekedar untuk saling memuji dan menanyakan shalat dan al qur’an kepada puteri
Zein. Dan setelah itu ia meninggal dunia. Menurut penjaga penjaranya, sebelum Mamo
terbujur kaku, mereka melihat cahaya terang di dalam penjara Mamo.
Sehari setelahnya, Zein menyusul Mamo berpulang di atas gundukan tanah
kuburan Mamo dan kemudian dikebumikan bersama Mamo dalam satu kuburan sesuai
wasiat Zein.
“Ia tak percaya dirinya meihat wanita tercantik di dunia itu tersenyum manis
kepadanya seraya berderai airmata. Kebahagiaannya membuncah-buncah. Seluruh
penderitaan dan kesedihannya sirna. Kira-kira serupa panas setahun yang hilang tak
berbekas oleh hujan seharian.” (Pertemuan Pertama hal. 185)
“… jika aku mati nanti, janganlah engkau pisahkan jasadku dengan jasad Mamo,
kekasihku. Biarkan Mamo menemaniku di alam kubur sana. Biarkanlah kami berpelukan
di tempat peristirahatan kami yang terakhir, sebagai pasangan yang bahagia, setelah
sebelumya kami terbakar kerinduan dan perpisahan yang menyakitkan. Bairkanlah kami
berbahagia selama-lamanya di dalam satu kubur,” wasiat terakhir puteri Zein. (Wasiat
yang mengharukan hal. 240)
“Sejak saat itu, sejak ia jatuh hati pada putri Zein dan cinta bersemi di hatinya,
sejak saat itulah ia merasakan derita tak berkesudahan karena ia merasa tak lagi berharga
jika Putri Zein tidak ada di sisinya.” (pertemuan Terakhir hal. 254)