Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan-kegiatan manusia di bumi saat ini sudah banyak yang melampauhi


batas maksimal lingkungan dalam mengatasi dampak dari lingkungan itu secara
alami. Lingkungan sudah sangat kesulitan dalam mengatasi dampak tersebut dan
perlunya campur tangan manusia dalam mengatasinya. Hubungan antara organisme
dan lingkungan sangat rumit namun demikian tidak semua faktor sama pentingnya
pada pada setiap sitwasi untuk organisme. Setiap kondisi yang mendekati atau
melebuhi batasan-batasan toleransi dinyatakan sebagai kondisi yang membatasi atau
dikenal dengan faktor pembatas dan beberapa faktor pembatas yang umumnya
penting bagi tanama. Seperti air dan cahaya sebagai faktor pembatas.
Kita dapat melihat tanah yang tidak subur lagi sehingga tidak bisa digunakan
untuk bercocok tanam diakibatkan oleh kegiatan manusia yang lebih memikirkan
keuntungan dan kesenangan dirinya sendiri yaitu dengan memberikan bahan kimia
yang dapat memperelok tumbuhannya sementara memperburuk unsur hara yang ada
dalam tanah. Kita juga dapat melihat banyak spesis hewan langkah yang banyak
diburuh manusia sehingga dapat mempercepat spesis hewan tersebut. Contoh-contoh
di atas menunjukkan bahwa manusia sebagai faktor yang dapat memengaruhi atau
dapat mengganggu keseimbangan lingkungan ataubisa disebut sebagai faktor
pembatas ekosistem dan manusia pulalah yang dapat mengatasinya.
Banyak masalah lingkungan tersebut maka diperlukan strategi bagi manusia
sebagai penghuni bumi yang dapat berfikir dan bertindak dalam mengatasinya.
Contoh penggunaan kompos alami pada saat bercocok tanam dan peran penting bagi
pemerintah untuk melindungi plora dan fauna yang ada di Negaranya yaitu melalui
pengadaan peraturan masing-masing. Negara tentang hal ini atau adanya Undang-
Undang tentang pelestarian bumi maka alam dapat terlindungi dan terjaga kelestarian
lngkunganya sehingga dapat menjadi alam yang indah.
Berdasarkan hal tersebut tujuan dilaksanakanya praktikum ini untuk
mengetahui aspek faktor pembatas cahaya dan air.yang sangat berpengaruh terhadap
lingkungan yang sebagai hal terpenting dalam pertumbuhan tahapan awal. Percobaan
juga dapat memberikan kita pengetahuan tentang batas-batas toleransi terhadap
cahaya dan air yang berperan sebagai faktor pembatas pada tanaman dalam ekologi.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Percobaan bertujuan untuk mengetahui aspek faktor pembatas cahaya dan air
sebagai komponen utama lingkungan tanaman dan pengaruhnya terhadap
pertumbuhan tanaman pada tahap awal. Adapun kegunaannya yaitu Percobaan
diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang batas-batas toleransi tanaman
terhadap cahaya dan air.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Pembatas Pertumbuhan Secara Umum

Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan suatu tingkat dan
jumlah perkembangan suatu ekosistem. Keterbatasan dan toleransi di dalam
ekosistem pertumbyhan organism yang baik baik dapat tercapai bila faktor
lingkungan yang mempengaruhi tumbuhn berimbang dan menguntungkan. Bila salah
satu faktor lingkungan tidak seimbang dengan faktor lingkungan lain. Faktor
lingkungan yang paling tidak optimum akan menentukan tingkat produktifitas
organism. Prinsip ini disebut sebagai prinsip faktor pembatas (Kartono, 2005).
2.2 Faktor-faktor Pembatas Bagi Pertumbuhan Tanaman
Suatu keadaan yang melampaui batas-batas toleransi disebut keadaan yang
membatasi atau faktor pembatas. Faktor pembatas dapat mencapai nilai ekstrim
maksimum maupun minimum dengan ukuran kritis. Faktor pembatas bervariasi dan
berbeda untuk setiap tumbuhan maupun hewan dengan nilai ekstrim tertentu,
sehingga terjadilah pengelompokan dan perkembangan serta penyebaran organisme
tersebut pada suatu ekosistem (Noughton, 1998).
Liebig menyatakan bahwa jumlah bahan utama yang dibutuhkan apabila
mendekati keadaan minimum kritis cendrung menjadi pembatas. Ditambahkannya
bahwa cahaya, suhu, zat makanan dan unsur-unsur utama meyebabkan hilangnya
vegetasi pada ketinggian tertentu di pegunungan atau hilangnya beberapa tumbuhan
dalam wilayah yang dinaungan ( Naungton, 1998).
Bukan sekadar terlalu sedikitnya sesuatu yang menjadi faktor pembatas
seperti yang dinyatakan Liebig, tetapi juga terlalu banyak faktor seperti panas, cahaya
dan air. Oleh sebab itu organime mempunyai sifat minimum dan maksimum
lingkungannya. Jarak antara kedua batas nilai minimum dan maksimum lingkungan
ini menunjukkan batas toleransi. Konsep pengaruh batas maksimum maupun
minimum bersama-sama dimasukkan ke dalam Hukum Toleransi oleh Shelford pada
tahun 1913. Beberapa perinsip Hukum Toleransi mengenai faktor pembatas dapat
dinyatakan sesuai pernyataan sebagai berikut:
1. Suatu organisme mempunyai toleransi yang besar terhadap satu faktor dan kecil
terhadap faktor lainnya.
2. Organisme yang mempunyai toleransi yang besar terhadap semua faktor memiliki
daerah penyebaran yang luas.
3. Bila satu faktor lingkungan tidak optimum untuk suatu jenis organisme, mak
toleransi berkurang terhadap faktor-faktor lingkungan lainnya. Misalnya Penman
(1956) melaporkan bahwa, bila tanah dengan kandungan Nitrogen yang terbatas
maka daya tahan rumput terhadap kekeringan berkurang.
4. Dalam banyak hal, interaksi populasi seperti kompetisi, predator, parasit dan
lainnya mencegah organisme dari pengambilan keuntungan terhadap kondisi
lingkungan fisik yang optimum.
5. Pembiakan merupakan masa yang kritis bila faktor-faktor lingkungan menjadi
terbatas. Keadaan reproduktif seperti: biji, telur, embrio, kecambah, dan larva
pada umumnya mempunyai batas toleransi yang sempit.
Faktor pembatas mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan generatif
tumbuhan. Faktor lingkungan menjadi faktor pembatas, baik itu abiotik maupun
biotik. Diantaranya adalah Cahaya, Suhu, Air, Tanah dan banyak lagi. Setiap
faktornya juga bisa terbagi lagi, misalnya Cahaya : Intensitas Cahaya menurut
Naungton (1998) :
1. Cahaya
Cahaya langsung mempengaruhi pertumbuhan pohon melalui intensitas,
kualitas dan lama penyinaran. Dari ketiga karakteristik cahaya diatas bagi rimbawan
yang kemungkinan dapat dimanipulasi adalah intensitas cahaya. Bila tanaman
mendapatkan intensitas cahaya sampai nilai ambang batas intensitas cahaya minimal
baru diperoleh hasil positif fotosintesis.
Titik kompensasi cahaya tumbuhan toleran lebih rendah daripada tumbuhan
intoleran, Namun titik ini bukan angka yang pasti untuk tumbuhan tertentu tetapi
bervariasi berdasarkan apakah daun terbuka atau terdahulu dalam kondisi lingkungan
seperti suhu tingkat unsur hara dan potensial air bahkan perlakuan yang dilakukan
terhadap tumbuhan tersebut sebelumnya. Faktor faktor ini dapat memodifikasi titik
kompensasi cahaya melalui pengaruh secara bersamaan terhadap kecepatan respirasi.
Dengan meningkatnya intensitas cahaya maka fotosintesis daun juga ikut meningkat.
Pada titik tertentu kenaikan intensitas cahaya tidak memberikan kenaikan
fotosintesis lebih lanjut titik ini disebut titik kejenuhan cahaya. Titik kejenuhan
cahaya tumbuhan toleran biasanya lebih rendah daripada tumbuhan intoleran. Jika
intensitas cahaya melebihi titik kejenuhan fluktuasi intensitas cahaya berpengaruh
kecil terhadap kecepatan fotosintesis. Pada intensitas cahaya yang sangat tinggi
fotosintesis dapat dibatasi oleh foto oksidasi kloroplas.
2. Ketersediaan air
Porsi sangat kecil dari total air yang digunakan oleh tumbuhan dikonsumsi
langsung pada proses fotosintesis. Karena itu pengaruh defisit air pada fotosintesis
disebabkan hampir seluruhnya oleh pengaruh tidak langsung terhadap hidrasi
protoplasma dan penutupan stomata. Kondisi optimal fotosintesis terjadi bila daun
turgor penuh. Hal ini terjadi bila air tanah berlimpah dan kondisi atmosfir
menghendaki evaporasi rendah. Dengan tanah yang mengering di bawah kapasitas
lapang dan potensi air dalam tanah menurun menjadi lebih negatif terjadi kehilangan
turgor dan penutupan stomata yang selanjutnya membatasi pemasukan CO2 dan
menyebabkan penurunan fotosintesis. Fenomena penurunan fotosintesis ini
disebabkan oleh penurunan ketersediaan air dalam daun atau lebih tepatnya
penurunan potensi air daun yang menyebabkan stress air pada tumbuhan.
3. Unsur hara
Unsur hara pohon hutan mempengaruhi fotosintesis dalam dua cara langsung
dengan jalan mempengaruhi efisiensi proses dan tidak langsung berpengaruh terhadap
produksi fotosintesis total pohon. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan
fotosintesis pucuk yang baru dalam tahun pemupukan naik 78 persen sebagai akibat
bertambahnya nitrogen daun terkena suhu dan kondisi air yang baik dan bila
kecepatan fotosintesis bertambah hanya bila daun yang diperlukan terkena intensitas
cahaya yang lebih tinggi daripada 2000 fc (seperlima cahaya matahari penuh).
2.3 Faktor Pembatas Cahaya
Menurut Nounghton (1998), faktor pembatas cahaya dibedakan atas :
a. Kualitas cahaya atau komposisi panjang gelombang.
Umumnya tumbuhan terdaptasi untuk mengelola cahaya dengan panjang
gelombang o.39-7,60 mokron. Ultra violet dan infrared tidak dimanfaatkan dalam
proses fotosintetis. Kloropil yang berwarna hijaumengabsorsi cahaya merah dan biru,
dengan demikian panjang gelombang itu yang merupakan bagian dari spektum
cahaya yang bermanfaat bagi fotosintetis. Dalam ekosistem perairan cahaya merah
dan biru diserap fitoplaknton.
b. Intensitas cahaya atau kandungan energi cahaya.
Intentitas cahaya atau kandungan energi merupakan aspek cahaya yang
penting sebagai faktor lingkungan, karena berperan sebagai tenaga pengendali utama
dari ekosistem. Interaksi cahaya ini sangat bervariasi baik dalam ruang atau spasial
maupun dalam waktu atau temporal. Interaksi cahaya yang tersebar terjadi di daerah
tropika, terutama daerah kering. Perbedaan musim mempengaruhi intensitas cahaya
didaerah dengan latitude tinggi ini, Intensitas pada musim panas jauh berbeda dengan
musim dingin. Variasi intensitas cahaya dalam skalah besar dan dimidifikasi lagi oleh
topograpi. Sudut dan arah kemiringan berpengaruh terhadap jumlah cahaya.
c. Lamanya penyiraman
Seperti panjang, hari dan jumlah jam cahaya yang bersinar. Lamanya
penyinaran relative antara siang dan malam 24 jam akan mempengaruhi fungsi dari
tumbuhan secara luas. Jawaban dari organism hidup terhadap lamanya siang hari
dikenal dengan fotofireodisma. Dalam pertumbuhan respon ini meliputi perbungaan,
jatuhnya dau dalam dormansi. Didaerah sepanjang khalutsistiwa lamanya siang hari
atau fotopiroda akan konstan sepanjang tahun, sekitar 12 jam pada musim panas,
tetapi akan kurang dari 12 jam pada musim dingin. Perbedaan yang panjang antara
siang dan malam akan terjadi di daerah dan dengan garis lintang tinggi.
2.4 Faktor Pembatas Air

Air merupakan faktor lingkungan yang penting, semua orgnaisme hidup


memerlukan kehadiran air ini. Perlu dipahami bahwa jumlah air disetiap bumi kita ini
adalah terbatasdan dapat berubah-ubah akibat peoses sirkulasinya. Pengeringan bumi
sulit terjadi akibat adanya siklus melalui hujan, aliran air, transpirasi dan evaporasi
yang berlangsung secara terus menerus. Bagi tumbuhan air adalah penting karena
daapt langsung mempengaruhi kehidupannya. Bahkan air sebagai bagian dari faktor
iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perubahan struktur dan
organ tumbuhan. Untuk lebih rinci perhatikan peranan air bagi tumbuhan di bawah
ini menurut Naunghton (1998) :
a. Struktur tumbuhan
Air merupakan bagian terbesar membentuk jaringan dari semua mahklup
hidup (tak terkecuali tumbuhan). Antara 40% sampai 60% dari berat segar pohon
terdiri dari air dan bagi tumbuhan herbal jumlahnya mungkin akan mencapai 90%.
Cairan yang mengisi sel akan mampu menjaga substansi itu untuk berada dalam
keadaan yang sangat tepat untuk berfungsi sebagai metabolisme.
b. Sebagai penunjang
Tumbuhan memerlukan air untuk menunjang jaringan-jaringan air yang tidak
berkayu. Apabila sel-sel jaringan ini mempunyai cukup air maka sel-sel ini akan
berada dalam keadaan kukuh. Tekanan yang diciptakan oleh kehadiran air dalam sel
disebut tekanan turgor dan sel akan menjadi mengembang, dan apabila jumlah air
tidak memadai maka turgor berkurang dan isi sel akan mengerut dan terjadilah
plasmolisis.
c. Alat angkut
Tumbuhan memanfaatkan air sebagai alat untuk mengangkut materi di sekitar
tubuhnya. Nutrisi masuk melalui akar dan bergerak ke bagian tumbuhan lainnya
sebagai substansi yang terlarut dalam air. Demikian juga karbohidrat yang dibentuk
di daun diangkut ke jaringan-jaringan lainnya yang tidak berfotosintesis dengan cara
yang sama.
d. Pendingin
Kehilangan air dari tumbuhan oleh transpirasi akan mendinginkan tubuhnya
dan menjaga dari pemanasan yang berlebihan. Putaran permenit selama 30 sampai 40
menit.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertaniaan Universitas
Hasanuddin. Pada Hari Rabu 16 Oktober 2016 pukul 15: 00 WITA sampai selesai

3.2 Bahan dan Alat


Bahan-bahan yang digunakan adalah pupuk kandang, label, polybag (30x40)
cm, benih (ditentukan oleh asisten masing-masing) dan tanah, sedangkan alat-alat
yang digunakan adalah meteran, cangkul, sekop, ember, parang, oven, timbangan dan
alat tulis menulis.

3.3 Perlakuan
Perlakuan yang dicobakan :
1. Faktor pembatas cahaya
A1 = Intensitas cahaya 0%
A2 = Intensitas cahaya 100%
2. Faktor pembatas air
B1 = Pemberian air setiap hari
B2 = Pemberian air setiap 3 hari
B3 = Pemberian air setiap 5 hari
B4 = Pemberian air setiap 7 hari
Tiap perlakuan terdiri atas 2 polybag sehingga terdapat 12 polybag dan setiap
polybag terdiri atas 1 tanaman.

3.4 Pelaksanaan
1. Bersihkan lahan yang akan digunakan.
2. Isilah polybag dengan media tanam berupa tanah dan pupuk kandang
(2:1) kemudian jenuhkan.
3. Rendam benih yang akan digunakan.
4. Lakukan penanaman sesuai perlakuan dan tempatkan secara acak pada polybag.
5. Lakukan penyulaman jika ada tanaman yang mati.
6. Lakukan penyiangan jika ada gulma.
7. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari.
8. Pengamatan dilakukan mulai umur 7 HST hingga akhir percobaan dengan
selang 2 minggu sekali.
9. Komponen pengamatan adalah :
a. Tinggi tanaman (cm)
b. Jumlah daun (helai)
c. Berat kering (g)