Anda di halaman 1dari 20

PENGANTAR HUKUM BISNIS

“LEMBAGA PEMBIAYAAN”
Dosen : I Made Suweden, SH, MH, MKn

OLEH
Kelompok 12

Kadek Putri Kristiani 1702622010266 ( 13 )


Ni Nyoman Iin Purnama Sari 1702622010284 ( 31 )
Putu Kartinita Apryani 1702622010294 ( 41 )

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil
menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul “Lembaga
Pembiayaan”. Makalah ini berisikan tentang pengertian, fungsi, serta jenis
lembaga pembiayaan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai segala usaha kita.

Denpasar, 21 Desember 2019

Penyusun

i
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Pendahuluan .........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang .......................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................1

1.3 Tujuan ....................................................................................................2

1.4 Manfaat ..................................................................................................2

Pembahasan ..........................................................................................................3

2.1 Pengertiaan Lembaga Pebiayaan............................................................3

2.2 Fungsi Lembaga Pembiayaan ................................................................3

2.3 Jenis Lembaga Pembiayaan ...................................................................5


2.4 Contoh dan Produk Lembaga Pembiayaan .........................................12
Penutup ..............................................................................................................16

3.1 Kesimpulan ..........................................................................................16

Daftar Pustaka ...................................................................................................17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dalam mempertahankan hidupnya melakukan berbagai macam cara,
salah satunya adalah melakukan kegiatan atau aktivitas bisnis. Melalui kegiatan itu
manusia dapat memenuhi tuntutan hidupnya yang semakin hari semakin komplek.
Kehidupan manusia di era modern ini begitu cepat berputar, kehidupan yang begitu
cepat memacu manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara cepat
pula. Pemenuhan kebutuhan hidup secara cepat telah mendorong dan membuka
peluang bagi manusia untuk melakukan kegiatan bisnis.
Aktivitas bisnis itu sendiri diwarnai oleh berbagai bentuk hubungan bisnis
atau kerjasama bisnis yang melibatkan para pelaku bisnis. Hubungan bisnis atau
kerja sama bisnis yang terjadi sangat beraneka ragam tergantung pada bidang bisnis
apa yang telah dijalankan. Dengan semakin berkembangnya aktifitas bisnis
sekarang ini maka keperluan akan modal atau dana bagi pelaku usaha juga akan
semakin meningkat. Oleh karena itu sarana penyediaan dana yang dibutuhkan oleh
pelaku usaha atau masyarakat perlu diperluas. Umumnya dana yang dibutuhkan
tersebut dapat disediakan oleh lembaga perbankan melalui fasilitas kredit.
Namun, fasilitas kredit dari perbankan sangat terbatas dan tidak semua pelaku
usaha punya akses untuk mendapatkan bantuan pendanaan dari bank. Selain itu
lembaga perbankan juga memerlukan jaminan yang kadang kala tidak bisa dipenuhi
oleh pelaku usaha yang bersangkutan maka perlu adanya suatu upaya lain yang
mudah prosesnya dan tanpa jaminan. Upaya lain tersebut dapat dilakukan melalui
suatu jenis badan usaha yaitu melalui lembaga pembiayaan. Oleh karena itu di
dalam makalah ini akan dijelaskan lebih rinci tentang lembaga-lembaga
pembiayaan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian lembaga pembiayaan ?
1.2.2 Apa saja fungsi atau peran dari lembaga pembiayaan ?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis lembaga pembiayaan ?

1
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari lembaga pembiayaan
1.3.2 Untuk mengetahui apa saja fungsi serta peran dari lembaga pembiayaan
1.3.3 Untuk mengetahui jenis-jenis apa saja dari lembaga pembiayaan

1.4 Manfaat
1.4.1 Pembaca dapat mengetahui mengenai pengertian, fungsi dan jenis-jenis

dari Lembaga Pembiayaan.

1.4.2 Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pembaca

mengenai lembaga pembiayaan.

1.4.3 Makalah ini disusun guna untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah

Penghantar Hukum Bisnis dengan mengungsung tema “Lembaga

Pembiayaan”

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lembaga Pembiayaan


Sesuai dengan peraturan Presiden No.9 Tahun 2009 pengertian Lembaga
Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan dana atau barang modal. Sedangkan pengertian Perusahaan
Pembiayaan adalah badan usaha yang khusus didirikan untuk melakukan Sewa
Guna Usaha, Anjak Piutang, Pembiayaan Konsumen, dan/atau usaha Kartu Kredit.
Lembaga/Perusahaan Pembiayaan berbeda dengan lembaga lainnya seperti
Lembaga Keuangan maupun Lembaga Perbankan baik dari segi jenis, fungsi dan
tugasnya. Bila dilihat dari kegiatan usahanya fungsi Perusahaan Pembiayaan lebih
fokus fungsi pembiayaan. Selain itu perbedaan Lembaga Pembiayaan dengan bank
atau Lembaga Keuangan Bukan Bank, lembaga pembiayaan tidak diperbolehkan
untuk menghimpun dana secara langsung dari masyarakat. Ketentuan tentang
lembaga ini telah diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61
Tahun 1988 Pasal 1 ayat 2. Keputusan Presiden tersebut menjelaskan pengertian
mengenai lembaga pembiayaan yaitu “Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha
yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang
modal dengan tidak menarik secara langsung dari masyarakat”.

2.2 Fungsi / Peran Lembaga Pembiayaan


Lembaga Pembiayaan memiliki peran cukup penting, yakni sebagai sumber
pembiayaan alternatif untuk menunjang pertumbuhan prekonomian nasional,
menampung, manyalurkan aspirasi dan minat masyarakat serta berperan penting
pada pembangunan, dimana lembaga ini diharapkan masyarakat maupun sebagai
pelaku usaha dapat mengatasi masyalah yang umum yakni dari segi permodalan.
Fungsi dan peranan Lembaga Pembiayaan diantaranya:
1. Fungsi Lembaga Pembiayaan bagi masyarakat berfungsi untuk membantu
masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah agar terhindar dari
jerat rentenir yang pada umumnya memberikan pinjaman dengan prosentase
bunga yang relatif tinggi. Harapannya dengan adanya Lembaga

3
Pembiayaan, Pengusaha Kecil dengan modal yang terbatas dapat menikmati
kredit modal atau barang modal dengan syarat mudah dan bunga yang
ringan.
2. Fungsi Lembaga Pembiayaan tidak hanya terbatas bagi masyarakat
kalangan menengah ke bawah saja, akan tetapi dapat digunakan dalam
bisnis terutama untuk pengembangan infrastruktur. Keberadaan lembaga
pembiayaan ini sangatlah diperlukan, hal ini disebabkan tidak semua
pengembang infrastruktur dan pelaku bisnis memiliki modal yang besar
untuk menutup jumlah biaya yang tidak sedikit.
Melalui Lembaga Pembiayaan, harapannya para pelaku bisnis di bidang
pengembangan infrastruktur ini dapat memperoleh tambahan dana pinjaman dalam
bentuk pinjaman dana talangan, dana proyek dan sejenisnya, sehingga keterbatasan
modal dan dana tidak lagi menjadi masalah bagi pelaku bisnis dan pengembang
infrastruktur.
Sebagai alternative dalam memberikan pembiayaan yang potensial guna
menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat, tentu saja Lembaga Pembiayaan
memiliki peranan yang amat krusial bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat
dan bangsa ini, selain itu lembaga pembiayaan juga mengemban peran penting
dalam bidang pembangunan seperti menampung aspirasi dan minat dari
masyarakat.
Keikut sertaan Lembaga Pembiayaan bagi pembangunan dimana pelaku
usaha dan masyarakat umum mengharapkan Lembaga Pembiayaan ini bisa
mengatasi masalah yang vital terkait permasalahan keuangan dan permodalan,
menjadikan Lembaga Pembiayaan amat dibutuhkan oleh seluruh lapisan
masyarakat, para pelaku bisnis, maupun badan usaha yang berada di Indonesia.

4
2.3 Jenis jenis Lembaga Pembiayaan
Keputusan Preseiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1988 menetapkan
bidang usaha Lembaga Pembiayaan antara lain:
1. Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company)
Leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan kepada perusahaan (badan
hukum) atau perorangan dalam bentuk pembiayaan barang modal.
Pembayaran kembali oleh peminjam dilakukan secara berkala dan dalam
jangka waktu menengah atau panjang. Perusahaan yang menyelenggarakan
leasing disebut lessor, sedangkan perusahaan yang mengajukan leasing
disebut Lessee.
Kegiatan leasing secara resmi diperbolehkan beroperasi di Indonesia
setelah keluar keputusan bersama antara meneteri keuangan, menteri
perindustrian dan menteri perdagangan Nomor Kep 122/MK/IV/1974,
Nomor 32/M/SK/2/74 dan Nomor 30/Kpb/1/74 tanggal 7 Februari 1974
tentang Perizinan Usaha Leasing di Indonesia.
Selain lessor dan lesse dalam kegiatan sewa guna usaha seringkali
melibatkan pihak ketiga misalnya pemasok (Supplier), atau Credit Provider.
Obyek kegiatan leasing meliputi barang-barang modal pada sector
transportasi, industry, kontruksi, pertanian, pertambangan, perkantoran,
kesehatan.
a. Jenis Leasing
1) Operating lessee adalah usaha leasing dimana pihak lessee hanya membayar
sewa pembiayaan (rental) sesuai perjanjian tanpa diikuti dengan pemilihan
(hak opsi) barang modal tersebut oleh lessee pada masa akhir perjanjian.
Jenis barang modal yang sering disewakan dengan cara ini yitu barang yang
memiliki nilai tinggi, misalnya: alat-alat berat, traktor, mesin-mesin dan
sebagainya.
2) Financial lessee
Financial lessee adalah usaha leasing dimana selain membayar sewa yang
ditetapkan pada akhir masa kontrak, pembiayaan lesse tersebut akan
membeli barang-barang modal tersebut berdasarkan sisa yang disepakati
bersama.

5
3) Leverage lease
Leverage lease adalah finance lease yang melibatkan selain lessor dan
lessee. Juga pihak ketiga yaitu Credit Provider, peran pihak ketiga ini adalah
membiayai sebagian barang modal yang akan disewakan, pihak lessor
hanya akan membiayai sebesar 20% sampai dengan 40% harga barang
modal, sedangkan sisanya dibiayai pihak ketiga tersebut.
4) Cross border lease
Cross border lease adalah usaha leasing yang melewati batas wilayah suatu
Negara. Dalam model ini diperlukan suatu penanganan khusus meliputi
aturan hukumnya, perpajakan, akuntansi dan sebagainya. Contoh baranng
modal yang bisa disewa guna usahakan denganc ara ini adalah pesawat
terbang.

b. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Leasing


1. Lessor : Perusahaan yang membiayai kegiatan leasing atau diakatakan
pula sebagai pemilik barang modal secara hukum
2. Lessee : Pihak yang memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan leasing
3. Pemasok (supplier) : Penghasil, dealer atau distributor barang modal
yang dibutuhkan oleh lessee
4. Bank

c. Manfaat Leasing
Pembiayaan melalui leasing menciptakan beberapa keuntungan antara lain:
1. Menghemat Modal
2. Sangat luwes (fleksible)
3. Sebagai sumber dana
4. Menguntungkan cash flow
5. Menciptakan keuntungan dari pengaruh inflasi
6. Sarana kredit menengah dan panjang
7. Dokumentasi sederhana

6
2. Perusahaan Jasa Anjak Piutang (Factoring Company)
Usaha jasa anjak piutang adalah usaha pembiayaan dalam bentuk
pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka
pendek suatu perusahaan (debitur) dari transaksi perdagangan dalam negri
atau luar negri.
a. Pelaku Usaha Anjak Piutang
1. Kreditur : yaitu perusahaan penjual barang atau jasa yang menerima
pembayaran secara kredit jangka pendek
2. Debitur : yaitu pembeli barang atau pengguna jasa yang akan membayar
secara kredit jangka pendek
3. Factor : yaitu perusahaan anjak piutang yang akan membiayai
pembayaran secara tunai kreditur
b. Biaya Anjak Piutang
Ada dua biaya yang harus dibayar oleh perusahaan pengguna jasa anjak
piutang :
1. Factoring Charge
Yaitu biaya yang dikenakan oleh perusahaan anjak piutang kepada
perusahaan pengguna jasa atau nasabah sebagai biaya administrative.
Besarnya berkisar 0,5% sampai dnegan 2% dari jumlah piutang yang
dijual kreditur kepada perusahaan anjak piutang.
2. Intial Payment Charge (Bunga)
Yaitu biaya yang dikenakan pada dana yang telah dibayarkan lebih dulu
pada kreditur. Bunga dihitung untuk masa “pembelian” piutang sampai
piutang tersebut jatuh tempo. Besarnya bunga biasanya mengikuti
sukubunga yang berlaku. Namun dapat pula bervariasi tergantung
volume transaksi, rata-rata transaksi, profit, sifat debitur dan
sebagainya.

c. Kegiatan Anjak Piutang


Perusahan anjak piutang merupakan jenis perusahaan yang relative
baru dikenal di Indonesia. Secara resmi adalah dengan dike;luarkan surat
keputusan menteri keuangan Nomor 1251/KMK.031/1998 tanggal 20

7
Desember 1998. Padahal di banyak Negara lain kegiatan perusahaan anjak
piutang sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu.
Kegiatan utama perusahaan anjak piutang yaitu mengambil alih
perusahaan dengan tanggung jawab tertentu tergantung kesepakatan
dengan pihak kreditur (pihak yang punya utang). Usaha- usaha yang
dijalankan oleh perusahaan anjak piutang berkaitan dengan pengelolaan
piutang bagi perusahaan.
Bagi perusahaan kreditur dengan adanya perusahaan anjak piutang
sangat membantu mereka dalam hal mengurangi risiko yang dihadapkan
terhadap macetnya tagihan perusahaan. Disamping itu, mereka juga dapat
berkonsentrasi terhadap kegiatan lain yang lebih strategis
diperusahaannya.

3. Modal Ventura
Perusahaan modal ventura adalah suatu badan usaha yang melakukan
kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu
perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu
(Kepres N0.61 Tahun 1998). Perusahaan yang meneriama bantuan
pembiayaan disebut dengan perusahaan pasangan usaha (PPU). Balas jasa
yang di dapat oleh perusahaan modal ventura adalah bagi hasil jika
perusahaan yang dibiayai (perusahaan pasangan usaha/ PPU) dan berbagi
beban jika PPU rugi.
Ada beberapa cirri khas dari modal ventura, yaitu sebagai berikut:
a) Pemberian bantuan tidak hanya berupa modal, tetapi juga perusahaan
modal ventura ikut terlibat dalam manajemen PPU
b) Pemberian bantuan yang dilakukan tidak permanen, tetapi bersifat
sementara paling tidak lima sampai sepuluh tahun
c) Motif pemberian bantuan bersifat bisnis
d) Pemberian bantuan tanpa jaminan

8
Secara garis besar tujuan pendirian modal ventura antara lain:
1) Pengembagan suatu teknologi baru atau pengembagan produk baru
2) Pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan
3) Kemitraan dalam rangka pengetasan kemiskinan
4) Alih teknologi yang dilakukan ke perusahaan yang masih menggunakan
teknologi lama.
5) Membantu perusahaan yang sedang kekurangan likuiditas
6) Membantu perusahaan baru dimana tingkat risiko kerugiannya sangat
besar

4. Perusahaan Pembiayaan Konsumen (Consumers Finance Company)


Pembiayaan konsumen merupakan salah satu lembaga pembiayaan
yang dilakukan suatu perusahaan financial (consumer finance company).
Perusahaan pembiayaan konsumen adalah badan usaha yang melakukan
kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan
konsumen dengan sistm pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen.
Target pasar dari model pembiayaan ini sudah jelas yaitu konsumen.
Barang yang menjadi obyek pembiayaan konsumen umumnya adalah
barang-barang seperti alat elektronik, computer dan alat-alat rumah tangga
yang menjadi kebutuhan konsumen . besarnya pembiayaan yang diberikan
kepada konsumen umumnya relative kecil, sehingga risiko yang dipikul oleh
perusahaan pembiayaan konsumen juga relative kecil.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pembiayaan
konsumen adalah kegiatan pembiayaan yang dilakukan oleh lembaga
keuangan bagi konsumen dan ditunjukkan untuk pembelian barang-barang
yang bersifat konsumtif bukan untuk keperluan produktif. Aktivitas
pembiayaan konsumen dilakukan karena tidak semua konsumen mampu
membeli barang konsumsi dengan cara pembayaran tunai. Sebagian besar
masyarakat saat ini terutama yang memiliki pendapatan menengah ke bawah
dapat membeli barang yang diinginkan dengan cara mengangsur. Perusaaan
pembiayaan konsumen akan menangani atau melakukan pembayaran dengan
cara tunai kepada pihak penjual. Selanjutnya, konsumen membayar barang

9
tersebut dengan cara mengangsur selama jangka waktu tertentu kepada
perusahaan pembiayaan konsumen.

5. Perusahaan Kartu Kredit (Credit Card Company)


Perusahaan kartu kredit adalah badan usaha yang melakukan usaha
pembiayaan untuk membeli barang dan jasa dengan menggunakan kartu
kredit. Menurut Suryohadibroto dan Prakoso kartu kredit adalah alat
pembayaran sebagai pengganti uang tunai yang sewaktu-waktu dapat
digunakan konsumen untuk ditukarkan dengan produk barang dan jasa yang
diinginkannya pada tempat-tempat yang dapat menerima kartu kredit
(merchant) atau dapat digunakan konsumen untuk menguangkan kepada bank
penerbit atau jaringannya (cash advance).
Kartu kredit diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan atau lembaga
pengelola kartu kredit bagi para nasabahnya dan dapat digunakan oleh
pemegangnya sebagai alat yang sah secara kredit. Pedagang (merchant) yang
menerima pembayaran dengan kartu kredit kemudian menagih
pembayarannya kepada bank atau pengelola kartu kredit tersebut. Pada
akhirnya bank atau lembaga keuangan atau pengelola kartu kredit akan
menagih kembali kepada pemegang kartu kredit atau mendebet secara
langsung dari rekening nasabah yang bersangkutan (pemegang kartu kredit).
Dengan demikian bisnis kartu kredit melibatkan tiga pihak yaitu:
1. Bank, lembaga keuangan atau lembaga pengelola yang menerbitkan
kartu kredit (issuer) bekerjasama dengan merchant.
2. Nasabah sebagai pemegang kartu kredit (cardholder).
3. Pedagang yang menerima pembayaran dengan kartu kredit (merchant).
Menurut Sukirman (1994) kartu kredit dapat digolongkan dari berbagai sudut
pandang.
Berdasarkan sudut pandang penerbitan kartu kredit dibedakan atas
1. Kartu kredit yang diterbitkan oleh bank misalnya Visa Card, Master Card,
dan BCA Card.
2. Adapun yang diterbitkan oleh bukan bank misalnya Diners Club dan
AMEX.

10
Berdasrkan sudut pandang cara pembayaran kartu kredit dibedakan atas
a) Credit Card
Cara pembayarannya dapat dilakukan secara bertahap atau secara
angsuran yang oleh karenanya dikenakan bunga terhadap lama waktu
pembayaran. Misalnya Visa Card dan Master Card.
b) Charge Card
Cara pembayarannya dapat dilakukan secara keseluruhan pada waktu
tagihan jatuh tempo. Misalnya Dinners Club dan AMEX.
c) Debit Card
Cara pembayarannya dilakukan dengan mendebit langsung rekening
pemegang Debit Card di bank penerbit Debit Card. Misalnya BCA, Visa
Eectron ippo dan Visa Electron Niaga.
Berdasarkan sudut pandang tujuan dibedakan atas
1) Kartu Kredit Umum
Dapat digunakan untuk semua pembayaran yang mempunyai logo Visa,
Master, Dinners, AMEX. Misalnya Master Card, Dinners Club
2) Kartu Kredit Khusus
Hanya dapat digunakan ditempat-tempat tertentu yang berada dijaringan
penerbit kartu kredit. Misalnya Golf Card (hanya untuk bermain golf),
Matahari Card (hanya bisa dipakai di matahari grup).
Berdasarkan sudut pandang fasilitas (jumlah limit kredit), kartu kredit
dibedakan atas kartu kredit Classic dan Gold. Kartu kredit Classic
mempunyai limit kredit antara 1-10 juta. Sedangkan kartu kredit Gold
mempunyai limit kredit antara 10-30 juta. Dasar penggolongan dari sudut
pandang ini adalah jumlah pendapata calon pemegang kartu kredit.

11
2.4 Contoh dan Produk Lembaga Pembiayaan
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, bahwa lembaga pembiayaan
memiliki tiga (3) jenis perusahaan yang berbeda satu sama lain dengan
kegiatan usahanya masih-masih. Berikut akan kami ulas beberapa contoh
kegiatan usaha dan produk dari perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam
lembaga pembiayaan.
1. Perusahaan Sewa Guna Usaha
Perusahaan-perusahaan diseluruh dunia menggunakan sewa guna
usaha atau leasing ini untuk mendanai kendaraan, mesin, dan peralatan. Di
negara-negara maju, pada umumnya investasi pribadi satu pertiganya
dibiayai dengan leasing. Saat ini, negara berkembangpun sudah mulai
menunjukkan pertumbuhan yang baik terkait pemanfaatan leasing.
Secara umum leasing dapat diartikan sebagai perjanjian antara lessor
(perusahaan leasing) dengan lessee (nasabah) dimana pihak lessor
menyediakan barang dengan hak penggunaan oleh lessee sebagai imbalan
pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktiknya
transaksi keuangan perusahaan leasing dibagi dalam beberapa bentuk:
a) Direct Finance Leasse, di dalam transaksi ini pihak lessor membeli
barang modal atas permintaan lessee sekaligus menyewakan barang
tersebut kepada lessee. Lessee dapat menentukan sendiri spesifikasi
barang yang diinginkan termasuk harga dan suppliernya. Oleh
karenanya dalam kasus ini, pihak lessor hanya memenuhi permintaan
dan kebutuhan dari lessee saja.
b) Sales and Lease Back, proses ini dilakukan dimana pihak lessee
menjual barang modal kepada lessor untuk dilakukan kontrak sewa
guna usaha. Metode ini biasanya dimanfaatkan guna menambah
modal kerja lease. Sedangkan dalam operating lease dimana pihak
lessor sengaja membeli barang modal untuk kemudian dileasekan
kapada pihak lease. Biaya yang dikenakan adalah biaya keluaran guna
memperoleh barang yang dibutuhkan oleh lessee berikut bunganya.

12
Ada banyak sekali contoh perusahaan sewa guna usaha atau leasing di
Indonesia yang terdaftar di OJK, diantaranya: Adira Finance, BCA
Finance, BFI Finance, FIF, WOM, Otto Summit, Aditama Finance, dan
sebagainya adalah contoh perusahan leasing konvensional. Kemudian
untuk perusahaan leasing syariah di Indonesia diantaranya adalah: Al
Ijarah Indonesia Finance, Amanah Finance, dan Citra Tirta Mulia.

2. Perusahaan Anjak Piutang


Sebuah perusahaan anjak piutang mendapatkan modal atau
pembiayaan dari kegiatan pengelolaan, pembelian dan pengambil alihan
piutang dari sebuah perusahaan. Setidaknya ada empat perusahaan anjak
pituang baik multinasional maupun lokal yang masih aktif di Indonesia,
yaitu:
1) Aditama Finance, merupakan sebuah perusahaan pembiayaan yang
hadir menawarkan produknya berupa solusi anjak piutang dan sewa
guna usaha atau finance lease.
2) SG Finance, perusahaan ini awalnya hanya melayani pembiayaan atau
modal dana pada alat berat dan truk untuk dana di sector perkebunan,
infrastruktur, dan di sector pertambangan. Saat ini SG Finance
berkembang menjadi perusahaan anjak piutang dan consumer finance.
3) PT IFS Capital Indonesia, memberikan penyediaan jasa di bidang
leasing untuk berbagai usaha kecil dan menengah di Indonesia, dan
juga di bidang anjak piutang. IFSI kini telah menyediakan jasa bagi
para importir dan eksportir di Indonesia.
4) PT Tifa Finance, perusahaan ini berkfokus dan bergerak pada bidang
sewa guna usaha, anjak piutang, dan pembiayaan konsumen.

3. Perusahaan Pembiayaan Konsumen


Perusahaan Pembiayaan Konsumen sebenarnya hampir sama sistem
dan kegiatan usahanya dengan perusahaan leasing, yang membedakan
ialah jika perusahaan leasing mereka berfokus pada penyediaan barang
modal sedangkan perusahaan pembiayaan konsumen penyediaan

13
barangnya bergantung pada kebutuhan dan keinginan konsumen dan
bukan hanya barang modal. Contoh perusahaan yang berfokus pada
pembiayaan konsumen dengan penyediaan barang-barang elektronik
maupun kebutuhan rumah tangga yang dibayar secara kredit dan angsuran
adalah PT Adira Quantum Multifinance.

4. Perusahaan Penerbit Kartu Kredit


Kartu kredit nampaknya sudah menjadi kartu wajib yang harus
dimiliki oleh sebagain masyarakat Indonesia saat ini, hal ini disebabkan
karena kartu kredit menjadi alternatif pembayaran yang cashless sehingga
pengguna tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak ketika
bepergian atau berbelanja. Ada banyak sekali perusahaan-perusahaan dan
lembaga-lembaga yang sudah menerbitkan kartu kredit. Setidaknya ada
sekitar 20 bank penerbit kartu kredit di Indonesia, diantaranya yaitu:
BCA yang saat ini telah mengeluarkan sekitar 17 jenis kartu kredit
yang dibedakan berdasarkan jumlah limit, fungsi, dan dapat disesuaikan
dengan kebutuhan penggunanya. Bank Mandiri, saat ini Bank Mandiri
telah menerbitkan 15 jenis kartu kredit yang dibedakan berdasarkan limit,
jaringan kartu (Visa atau Mastercard), dan fungsi yang dapat disesuaikan
dengan penggunanya mulai dari kelas pemula hingga professional, dan
bank-bank lainnya dengan jenis kartu kreditnya masing-masing.

5. Perusahaan Modal Ventura


Perusahaan Modal Ventura tidak hanya berfungsi sebagai lembaga
pembiayaan yang membantu dalam kesiapan dana dan modal, namun juga
mencakup dalam perihal bantuan manajemen perusahaan. Setidaknya ada
lima contoh perusahaan ventura yang masih aktif di Indonesia, yaitu:
1) Cyber Agent Venture, merupakan perusahaan modal ventura yang
berasal dari Jepang. Cyber Agent Venture bersama dengan east ventures
bekontribusi terhadap tokopedia.
2) 500 Startups, perusahaan 500 Startups sudah berkembang di Indonesia
sejak tahun 2013 dan menjadi salah satu investor di Bukalapak. 500

14
Startups didirikan oleh orang-orang ternama seperti para staff facebook,
paypal, dan google.
3) East Ventures, perusahaan ini merupakan perusahaan modal ventura
pertama di Indonesia yang didirikan sejak tahun 2010.
4) IMJ, IMJ merupakan salah satu perusahaan modal ventura yang
memberikan bantuan modal kepada para startup. Selain itu, IMJ juga
memberikan bantuan di bidang jasa akses internet, relasi
pengembangan bisnis, dan pengembangan produk.
5) Fenox Venture Capital, perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan
modal ventura yang cukup terkenal di kalangannya. Calon partner
mereka akan terhubung langsung dengan perusahaan yang ada di
Jepang dan di Silicon Valley, hal ini akan sangat membantu
pertumbuhan dari perusahaan partner dan akan menentukan perbedaan
perusahaan kecil, menengah, dan besar.

6. Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur


Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur yang ada di Indonesia salah
satunya adalah PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI),
perusahaan ini merupakan BUMN dengan kepemilikan saham 100% milik
Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Keuangan Republik Indonesia.
PT SMI ini telah didirikan sejak 26 Februari 2009.
PT SMI memainkan peranan aktif dalam memfasilitasi pembiayaan
infrastruktur di Indonesia, diantaranya melakukan kegiatan
pengembangan proyek dan melayani jasa konsultasi untuk seluruh proyek
yang tersebar di seluruh Indonesia. PT SMI membawa tugas guna
mendukung agenda pembangunan infrastruktur pemerintah Indonesia
melalui kemintraan dengan lembaga-lembaga keuangan swasta dan/atau
multilateral. Dengan demikian PT SMI ini berfungsi sebagai katalis dalam
percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal. Berbeda
dengan bank atau lembaga keuangan bukan bank, lembaga pembiayaan tidak
diperbolehkan untuk menghimpun dana secara langsung dari masyarakat.
Ketentuan tentang lembaga ini telah diatur dalam Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1988 Pasal 1 ayat 2. Keputusan Presiden
tersebut menjelaskan pengertian mengenai lembaga pembiayaan yaitu
“Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak
menarik secara langsung dari masyarakat”
Keputusan Preseiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1988
menetapkan bidang usaha lembaga pembiayaan antara lain:
1. Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company)
2. Perusahaan Jasa Anjak Piutang (Factoring Company)
3. Modal Ventura
4. Perusahaan Pembiayaan Konsumen (Consumers Finance Company)
5. Perusahaan Kartu Kredit (Credit Card Company)

16
DAFTAR PUSTAKA

https://www.akuntansilengkap.com/keuangan/fungsi-lembaga-pembiayaan/
https://www.cekkembali.com/lembaga-pembiayaan/
http://www.belajarkeuangan.com/jenis-lembaga-pembiayaan/

17