Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PROBLEM BASED LEARNING-1 TENTANG KERUSAKAN HUTAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
Terintegrasi-B (MPKT-B)

Disusun Oleh:

Rizka Chairunnisa 1906291582

Claudio Marvel 1906361595

Fajar Maulana 1906362383

Glen Miracle Wikarta 1906384270

Syahdan Dafa Qatrunnada 1906384932

Kenneth Emmanuel Senewe 1906385380


KATA PENGANTAR

Pertama-tama, marilah kita panjatkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
atas berkat Rahmat dan Hidayat-Nya kami semua masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
makalah kebudayaan ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas MPKT-B.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Fully Handayani Ridwan, S.H., M.Kn.
selaku fasilitator kelas MPKT-B yang selalu memberi dukungan serta masukan sehingga
makalah ini dapat tersusun dengan baik.

Semoga Makalah Problem Based Learning-1 tentang Kebakaran Hutan yang telah kami
susun ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Maka dari itu,
kami sangat mengharapkan saran serta masukan yang membangun demi penyusunan makalah
yang lebih baik.

Tim Penulis

Depok, Maret 2020

DAFTAR ISI

1
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I 3
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Makalah 4
1.4 Manfaat Makalah 4
BAB II 5
2.1 Keberadaan Hutan dan Erosi Tanah 5
2.2 Erosi Tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) 8
2.3 Solusi Mengatasi Erosi Tanah 10
2.4 Kerusakan Hutan Menyebabkan Krisis Air Bersih 13
2.5 Solusi Preventif terhadap Kerusakan Hutan untuk Mencegah Krisis Air 15
2.6 Pengaruh Terhadap Biodiversitas 16
2.7 Solusi Penanganan Keberlangsungan Biodiversitas 17
BAB III 18
3.1 Kesimpulan 18
3.2 Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 20

BAB I

PENDAHULUAN

2
1.1 Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang memiliki keterikatan sangat erat dengan alam
sekitarnya, manusia memiliki ketergantungan pada alam agar dapat terus bisa hidup dengan
seyogyanya. ketergantungan manusia pada alam selalu terbukti dari perkembangan manusia
yang tak lepas dari sumber-sumber daya alam yang kita temui sampai sekarang, mulai dari kayu,
rempah-rempah, air minum, hingga hal-hal kecil yang sangat berarti bagi manusia, yang mana
tersedia pada alam. Oleh sebab itu, penting bagi manusia sebagai pihak yang bisa mengelola
alam untuk menyadari bagaimana cara untuk melestarikan alam berserta dengan sumberdaya dan
keanekragamannya agar bisa membawa kesejahteraan hidup bagi manusia dan makhluk hidup
lainnya. Di dalam makalah ini, kami akan membahas masalah-masalah yang ada yang kerap kali
kita temui, khususnya di daerah Indonesia, dimana masih ada banyak permasalahan pada hutan
sebagai salah satu daerah penyedia tersebsar kebutuhan bagi keberlangsungan hidup, yang mana
masalah tersebut menjadi cikal bakal tumbuhnya kerusakan-kerusakan lainnya, seperti erosi,
terganggunya keberlangsungan hayati, krisis air dan berbagai masalah lainnya. Disini kami akan
membahas lebih dalam mengenai permasalahan-permasalahan tersebut dari mendeskripsikan
apa saja masalah yang bisa terjadi sampai menjelaskan dampak buruk yang mengikutinya. selain
itu solusi-solusi konkret yang efektif akan coba kami sediakan guna menyikapi masalah ini
dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Hutan memiliki andil yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup di bumi ini, hutan
yang baik tentunya akan memberikan manfaat yang begitu besar baik bagi manusia, hewan, dan
tumbuhan. Namun sangat disayangkan saat ini masih ada saja hutan-hutan yang mengalami
kerusakan, baik yang disebabkan oleh manusia seperti pembakaran hutan dan penebangan secara
liar, ataupun yang terjadi secara alamiah seperti sambaran petir di hutan yang menyebabkan
kebakaran. Kerusakan hutan tersebut akan memberikan berbagai dampak buruk bagi manusia
dan ekosistem. Maka, masalah yang dapat dirumuskan dalam makalah ini adalah, sebagai
berikut:
1. Bagaimana kerusakan hutan dapat mengakibatkan terjadinya erosi tanah, krisis air, dan
terganggunya biodiversitas?

3
2. Apa saja solusi yang dapat dilakukan dalam menanggulangi masalah yang ditimbulkan
dari kerusakan hutan, dalam lingkup erosi tanah, krisis air, dan terganggunya
biodiversitas?

1.3 Tujuan Makalah

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak kerusakan hutan yang
mengakibatkan beberapa permasalahan, seperti erosi tanah, krisis air, dan terganggunya
biodiversitas di Indonesia. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan beberapa
solusi yang bersifat preventif maupun represif atas permasalahan yang ditimbulkan dari
kerusakan hutan tersebut.

1.4 Manfaat Makalah

Makalah ini diharapkan mampu bermanfaat untuk menunjang dan menambah studi
kepustakaan mengenai dampak kerusakan hutan terhadap ekosistem dengan lingkup
permasalahan seputar erosi tanah, krisis air, dan terganggunya biodiversitas. Selain itu, makalah
ini diharapkan mampu bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai topik yang
bersangkutan.

BAB II

PEMBAHASAN

4
2.1 Keberadaan Hutan dan Erosi Tanah

Secara yuridis, definisi mengenai hutan diperoleh dari Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan. Hutan didefinisikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan di antaranya memiliki
fungsi sebagai sistem infiltrasi alami dan penyedia sumber mata air. Kemampuan infiltrasi ini
diperoleh melalui perakaran dan kandungan bahan organik yang mampu menggemburkan tanah
sehingga meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dan menghambat aliran permukaan.
Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki daratan kawasan hutan dengan
total seluas 120.599.794 hektar per Desember 2018.1 Oleh karenanya, Indonesia memiliki
sumber daya hutan yang melimpah dan banyak dikelola secara komersial. Namun, sepanjang
tahun 2001 hingga 2015, terjadi pengurangan luas tutupan hutan Indonesia. Simpulan ini
diperoleh dari data Laboratorium Global Land Analysis & Discovery (GLAD) dari Universitas
Maryland bahwa pengurangan luas tutupan hutan Indonesia tetap menunjukkan angka yang
tinggi setiap tahunnya.2 Data terakhir, tahun 2015, seluas 735.000 hektare tutupan hutan
berkurang.
Kerusakan hutan karena aktivitas manusia meningkatkan risiko terjadinya erosi tanah di
Indonesia. Erosi tanah adalah kejadian pengikisan lapisan tanah (umumnya yang terletak di
permukaan lahan) oleh biang erosi (air hujan) yang melibatkan dua proses berurutan yang
terpisah, yaitu pemecahan tanah yang diikuti oleh pengangkutan bahan-bahan tanah terpecah dan
pengendapannya (Purwowidodo, 1999).3 Secara keseluruhan, erosi tanah terdiri dari proses

1 Badan Pusat Statistik. 2020. Luas Kawasan Hutan dan Kawasan Perairan Indonesia Berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan s.d. Desember 2018. Retrieved from https://www.bps.go.id/statictable/2013/12/31/1716/luas-
kawasan-hutan-dan-kawasan-konservasi-perairan-indonesia-berdasarkan-surat-keputusan-menteri-lingkungan-hidup-dan-
kehutanan-s-d-desember-2018.html. Diakses pada 19 Maret 2020.

2 Nurul Arifin, 2018, Bagaimana Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia di Masa Depan?. Retrieved from
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/12/bagaimana-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia-di-masa-depan.
Diakses pada 19 Maret 2020.

3 Ujang Suwarna, dkk, 2009, Erosi Tanah Akibat Operasi Pemanenan Hutan (Soil Erosion Caused by Forest
Harvesting Operations). Jurnal Manajemen Hutan Tropika IPB Vol. XV No. 2, hlm. 61 Retrieved from
https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmht/article/view/3240/2180. Diakses pada 19 Maret 2020.

5
penghancuran agregat tanah, pengangkutan partikel tanah, dan pengendapan partikel tanah.4
Lebih lanjut, pengendapan partikel tanah ini kemudian mampu menyebabkan pendangkalan pada
daerah aliran sungai (DAS). Erosi tanah mampu dipicu oleh hujan, angin, limpasan permukaan,
jenis tanah, kemiringan lereng, dan penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya, dan ada atau
tidaknya konservasi.5 Maka, erosi tanah sebetulnya dipengaruhi oleh faktor alami dengan
akselerasi dari adanya faktor aktivitas manusia.
Melalui tinjauan siklus hidrologi, erosi tanah dapat ditimbulkan ketika curah hujan
melebihi daya infiltrasi (penyerapan) tanah sehingga tercipta aliran permukaan (run-off) yang
dapat mengikis permukaan tanah. Siklus hidrologi secara singkat dapat dipahami melalui gambar
berikut ini:

Siklus penyimpanan air.. Sumber:


https://www.climatehubs.usda.gov/sites/default/files/farbotnik.pdf

Secara sederhana, hujan yang merupakan salah satu hasil presipitasi uap air dari awan, akan jatuh
ke daratan untuk kemudian sebagian diinfiltrasi/diserap oleh tanah dan sebagian menjadi aliran
permukaan (run-off). Sebagian air hujan kemudian diuapkan oleh tumbuhan (transpirasi),
diuapkan melalui permukaan tanah dan air (evaporasi), dan sebagian lagi diserap ke dalam tanah

4 Ai Dariah, dkk, 2004, Kepekaan Tanah terhadap Erosi. Retrieved from


http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng2.pdf, hlm. 3. Diakses pada 19
Maret 2020.

5 Ujang Suwarna, dkk, Op. cit.

6
menjadi air tanah (perkolasi) (Kartasapoetra, dkk, 2005).6 Oleh karenanya, aliran permukaan
yang terlalu tinggi karena rendahnya daya infiltrasi tanah dapat berisiko mengikis tanah sehingga
menyebabkan erosi.
Apabila dikaitkan dengan fungsi hutan, sistem infiltrasi alami hutan menjadi salah satu
cara utama yang dapat dipertahankan untuk mengatasi erosi tanah. Menurut Kartasapoetra,
semakin banyak dan semakin rapat tumbuhan di atasnya, risiko terjadinya erosi tanah akan
semakin kecil.7 Bahan-bahan organik yang terkandung dalam tanah juga mampu berperan dalam
pembentukan, penstabilan, dan pengikatan agregat tanah. Bahan-bahan organic tersebut yang
masih berbentuk serasah (seperti ranting dan dedaunan kering) juga dapat menggemburkan tanah
dan melindungi tanah dari tumbukan yang keras dari air hujan. Serasah lebih banyak berfungsi
pada kemampuannya untuk melindungi tanah ketimbang untuk meningkatkan daya infiltrasi
tanah.8
Oleh karena itu, keberadaan hutan sangat erat kaitannya dengan terjadinya erosi tanah
sekaligus menjadi cara utama untuk mengatasinya. Fungsi hutan sebagai sistem infiltrasi alami
mampu menyerap presipitasi air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi aliran permukaan
yang dapat mengikis tanah. Kandungan bahan organik dalam tanah juga mampu menstabilkan
agregat tanah sehingga tidak rentan terkikis oleh air. Selain itu, kandungan bahan organik yang
masih berupa serasah juga berperan dalam melindungi tanah sehingga mengurangi tumbukan
antara tanah dengan air hujan.

2.2 Erosi Tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah aliran sungai merupakan sistem hidrologi dalam suatu wilayah daratan, dibatasi
oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian
disalurkan ke laut melalui sungai. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37
Tahun 2012 (PP No.37/2012) tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pasal 1 Ketentuan

6 Ary Widiyanto, 2010, Hutan Sebagai Pengatur Tata Air dan Pencegah Erosi Tanah: Pengelolaan dan
Tantangannya. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis, hlm. 3 Retrieved from
https://www.researchgate.net/publication/299741374_HUTAN_SEBAGAI_PENGATUR_TATA_AIR_DAN_PENCEGAH_ER
OSI_TANAH_PENGELOLAAN_dan_TANTANGANNYA. Diakses pada 19 Maret 2020.

7 Ibid.

8 Ai Dariah, Op. cit, hlm 10.

7
Umum 1, Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan
yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi
menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke
laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai
dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Pemanfaatan daerah ini dibagi
menjadi 2, yaitu pemanfaatan lahan tanah dan air.
Erosi dapat mempengaruhi produktivitas lahan yang biasanya mendominasi DAS bagian
hulu dan dapat memberikan dampak negatif pada DAS bagian hilir (sekitar muara sungai) yang
berupa hasil sedimen9. Pada produktivitas lahan, erosi akan mempengaruhi hutan, pertanian, dan
perkebunan, sedangkan pada pemanfaatan air, erosi akan mengganggu irigasi, suplai air minum,
serta produktivitas PLTA.
Penurunan produktivitas tanah tersebut dimulai saat hilangnya lapisan tanah yang kaya
akan unsur hara, terbawa oleh aliran air saat terjadi erosi. Kurangnya unsur hara pada tanah
inilah yang menyebabkan turunnya kualitas tanaman karena kurangnya nutrisi yang dapat
diambil oleh, baik tanaman perkebunan ataupun hutan yang berada di sepanjang DAS tersebut.
Oleh karena itu, erosi bukan hanya disebabkan oleh kerusakan hutan, tetapi juga merusak hutan
itu sendiri jika dibiarkan. Bukan hanya itu saja, erosi menyumbangkan logam berat atau racun
lainnya yang terserap dengan partikel halus (Toy et al.,2002 dalam narcisa G. Pricope 2009:2)10.
Tanah yang telah terbawa oleh aliran sungai tersebut pun kemudian mengendap di dasar
sungai, menjadi pengendapan sedimen, yang berakibat kepada pendangkalan dasar sungai.
Pengendapan sedimen ini hanya terjadi pada partikel tanah yang bermassa relatif berat terhadap
gaya angkat ke atasnya air, sedangkan untuk partikel lainnya yang relatif lebih ringan, daya
apungnya akan menyebabkan partikel-partikel tersebut tetap terbawa oleh air, menjadikannya
keruh. Umumnya, partikel tanah yang ringan ini berasal dari sisa sisa-sisa tumbuhan yang
setengah membusuk, sehingga menyebabkan air tersebut menjadi lebih asam. Bukan hanya itu
saja, hubungan air yang bersifat asam terhadap erosi tersebut juga bisa muncul dari pencemar

9 M Ruslin Anwar, dkk, 2009, Penanggulangan Erosi Secara Struktural pada Daerah Aliran Sungai Bango.
https://rekayasasipil.ub.ac.id/index.php/rs/article/view/139/136. Diakses pada 21 Maret 2020.

10 Lilis Nurhayati,dkk, 2012, Pengaruh Erosi terhadap Produktivitas Lahan Das Walikan Kabupaten Karanganyar
dan Wonogiri, http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/geografi/article/download/1351/938. Diakses pada 6 Maret
2020.

8
pirit. Pencemaran pirit (sulfida) ini akibat dari persenyawaan zat besi dari tanah dengan asam
sulfat, sehingga menyebabkan tingginya keasaman di perairan sekitar delta11.
Air keruh tersebut akan mengganggu irigasi, baik bagi pertanian yang ada di daerah
sebelum maupun sesudah terjadinya pengendapan tersebut, karena air yang terbawa tetaplah
asam dan akan mengganggu produktivitas lahan pertanian tersebut. Selain pertanian, air sungai
juga dipakai sebagai suplai air minum, sehingga air keruh tersebut juga mengganggu produksi air
yang dapat diminum.
Selain beberapa hal di atas, terjadinya erosi juga berdampak buruk pada PLTA. Seperti
yang telah dijelaskan, erosi menyebabkan adanya sedimentasi, yang dengan efektif juga
mengurangi air yang dialirkan atau bisa disebut dengan mengurangi aliran air di bagian sungai
tersebut. Tingkat sedimen yang tinggi menyebabkan pengisian waduk dan kehilangan
penyimpanan langsung, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya potensi produksi (Bokan,
2015)12. Kurangnya air yang mengalir tersebut menyebabkan produksi listrik oleh PLTA di
sungai tersebut berkurang pula, seperti yang bisa dilihat pada Bendungan Sengguruh 13, yang
pada awalnya, produksi listrik PLTA daerah tersebut mencapai 29 megawatt, kemudian turun
menjadi sekitar 18 megawatt per hari. Hal yang sama juga terjadi pada PLTA di daerah Waduk
Bakaru. PLTA Bakaru memiliki kapasitas pembangkit sebesar 2 unit x 63 MW. Akan tetapi
dalam perkembangannya, ternyata PLTA Bakaru tidak mampu lagi memproduksi energi listrik
seperti apa yang direncanakan, akibat banyaknya sedimentasi mempengaruhi debit inflow rata-
rata 30 meter kubik per detik sehingga produksi energi listrik hanya 1 unit x 63 MW dan
berdampak kepada umur kapasitas waduk akan menurun dari 50 tahun menjadi 15 tahun14.

11 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2006, Mengatasi Pendangkalan di Daerah Muara,


http://lipi.go.id/berita/mengatasi-pendangkalan-di-daerah-muara/220. Diakses pada 21 Maret 2020
.
12Muhammad Abdul Rifai, 2018, Pengaruh Sedimentasi terhadap Perencanaan Kapasitas Waduk dada PLTA
Tamboli Sulawesi Tenggara, http://eprints.ums.ac.id/71667/11/naskah%20sipil.pdf. Diakses pada 6 Maret 2020.

13 Teguh Inpras Tribowo, 2013, Erosi Hulu Brantas Ancam Bendungan Sengguruh,
https://nasional.tempo.co/read/462736/erosi-hulu-brantas-ancam-bendungan-sengguruh/full&view=ok. Diakses
pada 21 Maret 2020.
14 Abdul Wahid, 2009, Model Perkembangan Laju Sedimentasi di Waduk Bakaru Akibat Erosi yang Terjadi di
Hulu Sub Das Mamasa Propinsi Sulawesi Selatan,
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/download/576/497. Diakses pada 6 Maret 2020.

9
2.3 Solusi Mengatasi Erosi Tanah

Erosi tanah mampu mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Degradasi lahan itu sendiri
dapat dipahami sebagai perubahan keadaan lahan yang bersifat negatif, di mana lahan
mengalami penurunan produktivitas dan potensi kegunaan untuk mendukung kehidupan.15
Degradasi lahan mengakibatkan terciptanya lahan-lahan kritis. Penanganan lahan kritis ini telah
menjadi perhatian pemerintah dan menunjukkan adanya tren penurunan. Menurut data Direktorat
Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (PDASHL), pada tahun 2014, jumlah lahan
kritis di Indonesia seluas 24,7 juta hektar. Sementara tahun 2018, jumlah tersebut menjadi 14,01
juta hektar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat upaya yang dapat dilakukan baik oleh
pemerintah maupun segenap masyarakat dalam menanggulangi lahan kritis dan sumber
penyebabnya, erosi tanah.
Secara umum, berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi erosi fokus kepada
peningkatan kapasitas infiltrasi tanah, kemampuan perlindungan tanah, serta mengurangi
tumbukan langsung antara tanah dengan air hujan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam
menanggulangi erosi tanah tersebut, di antaranya adalah:
A. Metode terasering
Terasering secara sederhana dapat dipahami sebagai metode konservasi tanah
secara mekanik dengan mengurangi kemiringan lereng atau mengurangi
panjang lereng. Terasering umumnya ditemui pada lahan-lahan pertanian yang
dibuat berundak-undak dengan tujuan untuk menghambat laju aliran air hujan
dan mengurangi tumbukan langsung antara air hujan dan tanah.
B. Metode vegetatif
Metode vegetatif merupakan metode untuk memanfaatkan tanaman maupun
sisa tanaman untuk menanggulangi erosi. Metode ini menitikberatkan pada
kemampuan tanaman sebagai pelindung tanah yang mampu mengurangi
tumbukan langsung antara air hujan dan tanah serta kemampuan tanaman
dalam menggemburkan tanah sehingga meningkatkan kapasitas infiltrasi
tanah yang mampu mengatasi erosi.
C. Reboisasi

15 Indonesian Centre for Environmental Law, 2019, Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Degradasi Lahan
dan Kekeringan di Indonesia. https://icel.or.id/isu/kehutanan-lahan/upaya-pemerintah-dalam-penanggulangan-
degradasi-lahan-dan-kekeringan-di-indonesia/. Diakses pada 19 Maret 2020.

10
Reboisasi menjadi cara utama yang juga berkaitan dengan metode vegetatif.
Reboisasi atau penanaman hutan kembali dapat menanggulangi erosi tanah
karena reboisasi mampu mengembalikan bahan-bahan organik yang mampu
menstabilkan agregat tanah, melindungi tanah, serta meningkatkan kapasitas
infiltrasi tanah.
D. Sistem Drainase
Sistem drainase menjadi metode mekanik yang perlu dilakukan dalam
mengatasi erosi. Memperbaiki sistem drainase menitikberatkan pada
mengalirkan aliran permukaan ke tempat lain sehingga menghindari adanya
konsentrasi air hujan yang terpusat pada satu titik. Adanya konsentrasi air
hujan yang terpusat mampu membuat tanah menjadi jenuh dan meningkatkan
risiko terkikis. Oleh karenanya, sistem drainase yang baik diperlukan dalam
hal mengalirkan air hujan ke tempat lain agar tidak mengakibatkan terjadinya
pengikisan tanah.

Di samping itu, terdapat pula berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam
menanggulangi erosi tanah. Salah satunya adalah melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2014 tentang Konservasi Tanah dan Air. Pasal 3 Undang-Undang ini bertujuan untuk
diantaranya melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan yang jatuh, meningkatkan
kapasitas infiltrasi tanah, dan mencegah terjadinya konsentrasi aliran permukaan; serta bertujuan
dalam meningkatkan daya dukung DAS. Ruang lingkup upaya konservasi tanah dan air
tercantum dalam Pasal 4 yang melingkup perencanaan Konservasi Tanah dan Air,
penyelenggaraan Konservasi Tanah dan Air, serta pembinaan dan pengawasan Konservasi Tanah
dan Air.
Penyelenggaraan Konservasi Tanah dan Air ini melingkupi perlindungan Fungsi Tanah
pada Lahan, pemulihan Fungsi Tanah pada Lahan, peningkatan Fungsi Tanah pada Lahan, dan
pemeliharaan Fungsi Tanah pada Lahan. Metode penyelenggaraan ini dilaksanakan dengan
beberapa metode, yaitu dengan metode vegetatif, agronomi, sipil teknis, manajemen, dan metode
lain sesuai dengan perkembangan teknologi. Rincian metode vegetatif, agronomi, dan sipil teknis
dapat diperoleh dari Pasal 24 mengenai Peningkatan Fungsi Tanah pada Lahan. Pada pasal
tersebut, metode vegetatif dilakukan dengan cara penanaman tumbuhan berikut:

11
A. Kayu-kayuan;
B. Perdu
C. Rumput-rumputan
D. Tanaman penutup tanah lainnya.
Metode vegetatif ditujukan bagi perlindungan tanah untuk mengurangi tumbukan antara air
hujan dengan tanah. Metode kedua, metode agronomi, dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
A. pemberian mulsa;
B. pengaturan pola tanam;
C. pemberian amelioran;
D. pengayaan tanaman;
E. pengolahan tanah konservasi;
F. penanaman mengikuti kontur;
G. Pemupukan;
H. pemanenan; dan/atau
I. kegiatan lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Metode ketiga, metode sipil teknis, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
A. Sengkedan;
B. teras guludan;
C. teras bangku;
D. pengendali jurang;
E. sumur resapan;
F. kolam retensi;
G. dam pengendali;
H. dam penahan;
I. saluran buntu atau rorak;
J. saluran pembuangan air;
K. terjunan air; dan/atau
L. bronjong.

12
2.4 Kerusakan Hutan Menyebabkan Krisis Air Bersih

Kerusakan hutan akan menghambat siklus hidrologi, hutan sebagai daerah dengan
kemampuan infiltrasi yang sangat tinggi, bila hutan tersebut gundul, maka daya infiltrasinya
akan berkurang. Sehingga menyebabkan aliran permukaan meningkat tinggi yang akan
menyebabkan tinggi tingkat erosi. Seperti yang sudah dibahas pada poin 2.1, erosi air tersebut
akan mengganggu daerah aliran. Maka, ketika hutan sudah gundul, akan terjadi dua hal yang
menyebabkan kurangnya pasokan air, yaitu, pada musim kemarau hutan yang rusak
menyebabkan kurangnya daerah resapan air, sehingga cadangan air yang seharusnya tersimpan
di dalam tanah, menjadi kosong, dan kekeringan menyebabkan terjadinya kekurangan cadangan
air.
Permasalahan juga terjadi pada musim penghujan, dimana rusaknya hutan menyebabkan
aliran permukaan (run off) yang tinggi, aliran permukaan yang tinggi membuat tingkat erosi
naik,sehingga banyak daerah aliran air yang bermasalah seperti,sungai yang meluap. Hal tersebut
bisa mendorong terjadinya bencana alam yaitu banjir. Jika banjir terjadi pada suatu pemukiman
masyarakat, maka sumur-sumur warga yang menjadi tempat utama air bersih, dapat terendam
oleh air banjir yang sudah terkontaminasi dan mengakibatkan terjadinya krisis air bersih.
Beberapa contoh dampak yang akan terjadi bila krisis air bersih terjadi, sebagai berikut:
A. Menurunnya standar hidup manusia
Manusia dalam keberlangsungan hidupnya sangat memerlukan ketersediaan
air bersih agar dapat berjalan dengan baik, mulai dari kebutuhan yang paling
pokok bagi manusia yaitu air minum, mandi, mencuci pakaian. Dan berbagai
fasilitas yang diperlukan manusia sehari-hari juga sangat bergantung pada
ketersediaan air bersih, seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum
lainnya.

B. Terganggunya pertanian dan peternakan


Tidak hanya manusia satu-satunya yang memerlukan air bersih agar tetap bisa
hidup. Contohnya pada pertanian dan peternakan, pada pertanian pengairan
tanaman diperlukan air yang layak agar tanaman tani bisa tumbuh dengan
baik, pengairan yang menggunakan air yang terkontaminasi bias
menyebabkan tanaman tumbuh terhambat atau bahkan mati.

13
Pada peternakan juga terjadi hal yang sama, hewan ternak perlu air bersih
untuk diminum, juga untuk membersihkan diri, bila hewan ternak meminum
air yang terkontaminasi maka akan mengakibatkan sakit pada hewan tersebut.
Ketika pertanian dan peternakan terganggu, maka kekuatan pangan bagi
manusia juga akan menurun selaras dengan menurunnya jumlah produksi dari
pertanian dan peternakan.

C. Munculnya berbagai penyakit


Air yang tidak bersih sudah membawa banyak kandungan yang tidak baik,
bila air tidak bersih tersebut digunakan oleh manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidup sehari-harinya seperti, digunakan untuk mencuci pakaian,
digunakan untuk mandi, bahkan digunakan untuk konsumsi air minum harian.
Tentunya kandungan bakteri yang ada pada air tidak bersih tersebut bisa
memunculkan berbagai jenis penyakit.

Adapun beberapa contoh penyakit yang bisa muncul karena krisis air bersih, sebagai
berikut:

A. Iritasi kulit
B. Sakit perut
C. Diare
D. Tifus
E. Hepatitis A

2.5 Solusi Preventif terhadap Kerusakan Hutan untuk Mencegah Krisis Air

Dengan begitu banyaknya dampak negatif dari terjadinya kerusakan hutan terhadap
ketersediaan air bersih, sehingga perlu diketahui cara mencegah terjadinya hal tersebut.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti mengeluarkan berbagai peraturan dan
pembentukan kelembagaan. Namun, upaya pengendalian yang telah dilakukan tersebut masih
kurang efektif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan selama ini, sehingga masih tetap
terjadi terus.

14
Maka, perlu adanya evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan penanganan kebakaran hutan dan
lahan. Diantaranya, yaitu:

1. Melakukan Reformasi Terhadap Kebijakan Pengelolaan Hutan dan Lahan.


Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengkajian ulang terhadap izin-izin
pemanfaatan lahan yang telah diterbitkan untuk mengatasi tumpang-tindih izin
pemanfaatan lahan serta izin pemanfaatan lahan gambut.
2. Penyelesaian Terhadap Sengketa Lahan, Pemberdayaan Masyarakat, dan
Penegakkan Hukum.
DPR dalam menjalankan fungsi pengawasan perlu mendesak pemerintah untuk
segera menangani secara optimal dan terukur terhadap masalah kebakaran hutan yang
telah meresahkan dan merugikan masyarakat.16
3. Menasionalisasikan Aplikasi 'Bekantan’
Aplikasi Bekantan merupakan aplikasi yang dipakai oleh Polisi Daerah Kalimantan
Selatan (Polda Kalsel), dimana nama aplikasinya sendiri merupakan singkatan dari
'Berantas Kebakaran Hutan dan Lahan'. Keunggulan dari kita memakai aplikasi
tersebut karena Bekantan dapat memberikan laporan adanya Kebakaran Hutan dan
Lahan (Karhutla), dapat melihat hotspot atau titik panas secara realtime.17
Keunggulan dari aplikasi ini dapat tercapai karena Polda Kalsel bekerja sama dengan
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

2.6 Pengaruh Terhadap Biodiversitas

Indonesia dijuluki sebagai Megadiversity Country, karena memiliki keanekaragaman


hayati yang melimpah, bahkan peringkat lima besar di dunia. Tercatat lebih dari 38.000 jenis
tumbuhan, di mana 55 persen di antaranya merupakan jenis endemik. Untuk pulau Jawa setiap
10.000 kilometer persegi terdapat 2.000 sampai 3.000 jenis tanaman endemik. Sedangkan di

16 SN Qadriyatun. Kebijakan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan. Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Setjen DPR RI. Jakarta. [Online] 2014; 6(6): 12. Dilihat di https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info
Singkat-VI-6-II-P3DI-Maret-2014-19.pdf [Diakses 6 Maret 2020]

17 Polda Kalsel Andalkan Aplikasi Bekantan untuk Berantas Karhutla. JPP. [Online] Juli 14 2019. pada
situs:https://jpp.go.id/humaniora/lingkungan-hidup/334675-polda-kalsel-andalkan-aplikasi-bekantan-untuk-
berantas-karhutla [Diakses 6 Maret 2020]

15
Kalimantan dan Papua mencapai lebih dari 5.000 jenis. Peneliti keanekaragaman hayati di hutan
Sumatera menemukan terdapat berbagai senyawa untuk bahan baku obat, ada yang sudah
dipatenkan, dan diinginkan oleh industri farmasi dari luar Indonesia.18
Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami
kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi,
dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana
banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar dan kerugian akibat banjir
tersebut juga sulit diperhitungkan.
Hutan alam mungkin memerlukan ratusan tahun untuk berkembang menjadi sistem yang
rumit yang mengandung banyak spesies yang saling tergantung satu sama lain. Pada tegakan
dengan pohon-pohon yang ditanam murni, lapisan permukaan tanah dan tumbuhan bawahnya
diupayakan relatif bersih.
Pohon-pohon muda akan mendukung sebagian kecil spesies asli yang telah ada
sebelumnya. Pohon-pohon hutan hujan tropis perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat dipanen
dan tidak dapat digantikan dengan cepat; demikian juga komunitasnya yang kompleks juga juga
tidak mudah digantikan bila rusak.

2.7 Solusi Penanganan Keberlangsungan Biodiversitas

Masalah keanekaragaman hayati sangat berhubungan apabila ditinjau dari masalah segi
ekologis, sosial, ekonomis maupun budaya. Yang bermasalah adalah fungsi keanekaragaman
yang bertolak belakang dari segi ekologi dengan segi ekonomi. keduanya mempengaruhi
kehidupan sosial dan budaya. Oleh karena itu, upaya untuk menyelesaikan masalah ini adalah
untuk mensinergikan antara segi ekologi dengan segi ekonomi. hal-hal yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut :
A. Adanya kesadaran mulai dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan. Dengan dimulai
dari atur diri sendiri akan bersifat fleksibel terhadap pelestarian keanekaragaman
hayati.
B. Pengembangan agrowisata. Dengan mengembangkannya maka akan mendapatkan
dua

18 Pemicu PBL-1 MPKT-B. https://emas.ui.ac.id/mod/resource/view.php?id=95407.pdf. Diakses 21 Maret 2020.

16
fungsi sekaligus yaitu untuk menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi ekonomi.
C. Melaksanakan pembangunan ramah lingkungan
D. Mengupayakan adanya eco-industrial. Dengan eco-industrial dapat mengurangi
jumlah limbah dan meningkatkan pendapatan dari penggunaan ulang atau penjualan
limbah.
E. Berusaha untuk meminimalisir penggunaan barang-barang seperti plastik dan kertas.
Mengupayakan untuk mendaur ulang barang-barang yang bisa didaur ulang demi
menjaga keanekaragaman hayati.
F. Menggunakan sistem pengelolaan hama terpadu (PHT). Dengan adanya PHT, dapat
menjaga rantai makanan yang berdampak pada pelestarian keanekaragaman hayati.
G. Memaksimalkan sistem pencagaran baik secara in situ maupun ex situ.

BAB III

PENUTUP

17
3.1 Kesimpulan

Masalah biodiversitas dan juga keberlangsungan akan alam harus dipertimbangkan


sebagai mahasiswa hukum agar dapat menjadi satu aset yang berharga bagi anak dan cucu kita di
masa depan. keberadaan hutan merupakan sesuatu hal yang penting untuk dijaga demi terjaganya
resapan air yang dapat mengurangi banjir di kota sekitarnya. Erosi tanah juga harus menjadi
pertimbangan yang penting, karena Memberikan pengaruh terhadap daerah aliran sungai yang
dapat menjadi sumber biodiversitas keanekaragaman hayati. Kerusakan hutan juga akan menjadi
ancaman yang besar bagi keanekaragaman dan keberlangsungan hidup manusia karena menjadi
pusat resapan air dan produsen oksigen yang sangat berdampak bagi hidup manusia. Manusia
tidak bisa hidup tanpa alam karena alam sendirilah yang menyediakan tempat bagi manusia,
makanan, sumber kehidupan bagi manusia dan ketika rusak; manusia tidak dapat menjalani
kehidupannya dengan sama oleh karena kepunahan manusia. Oleh sebab itu marilah kita sebagai
mahasiswa hukum untuk tetap berusaha untuk menjaga melestarikan dan juga merawat
keanekaragaman Indonesia yang kita miliki agar dapat suatu saat membantu kita di masa yang
akan datang menghadapi potensi bencana bencana yang baru yang mengancam keberlangsungan
manusia.

3.2 Saran

Melihat sempat terjadinya kebakaran hutan Riau yang besar pada tahun 2019, maka
menurut kami, pemerintah haruslah lebih peduli terhadap kerusakan hutan di Indonesia,
mengingat bahwa kerusakan hutan dapat menyebabkan kejadian-kejadian lainnya seperti erosi,
krisis air, serta masalah biodiversitas. Pemerintah diharapkan dapat melakukan upaya preventif,
termasuk membuat pembaharuan kebijakan dapat dilakukan dengan lebih efektif, serta
memperbaiki susunan pemerintah daerah yang sempat tidak mau kooperatif pada sejumlah kasus
kebakaran hutan.
Selain itu, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk berperan dalam menjaga hutan,
seperti dengan menasionalisasikan aplikasi Bekantan untuk mengikutsertakan masyarakat dalam
menjaga kelestarian hutan. Di sini, bukan hanya masyarakat diajak untuk ikut aktif, tetapi juga
mempercepat jalur laporan agar pemerintah dapat langsung mendeteksi dini kebakaran hutan dan
sejenisnya.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Nurul. 2018. Bagaimana Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia di Masa Depan?.
Retrieved from https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/12/bagaimana-hutan
indonesia-sebagai-paru-paru-dunia-di-masa-depan. Diakses pada 19 Maret 2020.

Badan Pusat Statistik. 2020. Luas Kawasan Hutan dan Kawasan Perairan Indonesia Berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan s.d. Desember 2018.
Retrieved from https://www.bps.go.id/statictable/2013/12/31/1716/luas-kawasan-hutan
dan-kawasan-konservasi-perairan-indonesia-berdasarkan-surat-keputusan-menteri
lingkungan-hidup-dan-kehutanan-s-d-desember-2018.html. Diakses pada 19 Maret
2020.

Dariah, Ai, dkk. 2004. Kepekaan Tanah terhadap Erosi. Retrieved from
http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng2.p
df. Diakses pada 19 Maret 2020.

Anwar, M. Ruslin, dkk. 2009. Penanggulangan Erosi Secara Struktural pada Daerah Aliran
Sungai Bango. https://rekayasasipil.ub.ac.id/index.php/rs/article/view/139/136. Diakses
pada 21 Maret 2020.

Nurhayati, Lilis, dkk. 2012. Pengaruh Erosi terhadap Produktivitas Lahan Das Walikan
Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri.
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/geografi/article/download/1351/938. Diakses pada
6 Maret 2020.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2006. Mengatasi Pendangkalan di Daerah Muara.


http://lipi.go.id/berita/mengatasi-pendangkalan-di-daerah-muara/220. Diakses pada 21
Maret 2020.

Rifai, Muhammad Abdul. 2018. Pengaruh Sedimentasi terhadap Perencanaan Kapasitas Waduk
dada PLTA Tamboli Sulawesi Tenggara. http://eprints.ums.ac.id/71667/11/naskah
%20sipil.pdf. Diakses pada 6 Maret 2020.

20
Tribowo, Teguh Inpras. 2013. Erosi Hulu Brantas Ancam Bendungan Sengguruh.
https://nasional.tempo.co/read/462736/erosi-hulu-brantas-ancam-bendungan-
sengguruh/full&view=ok. Diakses pada 21 Maret 2020.

Wahid, Abdul. 2009. Model Perkembangan Laju Sedimentasi di Waduk Bakaru Akibat Erosi
yang Terjadi di Hulu Sub Das Mamasa Propinsi Sulawesi Selatan.
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/download/576/497. Diakses
pada 6 Maret 2020.

Indonesian Centre for Environmental Law. 2019. Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan
Degradasi Lahan dan Kekeringan di Indonesia. https://icel.or.id/isu/kehutanan
lahan/upaya-pemerintah-dalam-penanggulangan-degradasi-lahan-dan-kekeringan-di
indonesia/. Diakses pada 19 Maret 2020.

Pemerintah Indonesia. 2014. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah
dan Air. Lembaran Negara RI Tahun 2014, No. 299. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 1999. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.


Lembaran Negara RI Tahun 1999, No. 167. Jakarta: Sekretariat Negara.

Polda Kalsel Andalkan Aplikasi Bekantan untuk Berantas Karhutla. JPP. [Online] Juli 14 2019.
Pada situs: https://jpp.go.id/humaniora/lingkungan-hidup/334675-polda-kalsel-andalkan-
aplikasi-bekantan-untuk-berantas-karhutla Diakses pada 6 Maret 2020

Widiyanto, Ary. 2010. Hutan Sebagai Pengatur Tata Air dan Pencegah Erosi Tanah:
Pengelolaan dan Tantangannya. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Retrieved from
https://www.researchgate.net/publication/299741374_HUTAN_SEBAGAI_PENGATU
TATA_AIR_DAN_PENCEGAH_EROSI_TANAH_PENGELOLAAN_dan_TANTA
GANNYA. Diakses pada 19 Maret 2020.

Suwarna, Ujang, dkk. 2009. Erosi Tanah Akibat Operasi Pemanenan Hutan (Soil Erosion
Caused by Forest Harvesting Operations). Jurnal Manajemen Hutan Tropika IPB Vol.
XV No. 2, 61-65. Retrieved from

21
https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmht/article/view/3240/2180. Diakses pada 19 Maret
2020.

SN Qadriyatun. Kebijakan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan. Pengolahan Data dan
Informasi (P3DI) Setjen DPR RI. Jakarta. [Online] 2014; 6(6): 12. Dilihat di
https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info Singkat-VI-6-II-P3DI-Maret-2014-
19.pdf Diakses pada 6 Maret 2020

22