Anda di halaman 1dari 89

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Fakultas Kedokteran Gigi Skripsi Sarjana

2019

Perubahan Warna Gigi Manusia yang


Mengalami Diskolorasi Kopi Setelah
Perendaman dalam Ekstrak Daun
Bayam (Amaranthus hybridus L) dengan
Durasi Berbeda

Halim, Kristin
Universitas Sumatera Utara

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/16325
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
PERUBAHAN WARNA GIGI MANUSIA YANG MENGALAMI
DISKOLORASI KOPI SETELAH PERENDAMAN DALAM
EKSTRAK DAUN BAYAM (Amaranthus hybridus L)
DENGAN DURASI BERBEDA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi


syarat memperoleh gelar sarjana kedokteran gigi

KRISTIN HALIM
NIM: 150600050

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ilmu Material dan

Teknologi Kedokteran Gigi

Tahun 2019

Kristin Halim
Perubahan Warna Gigi Manusia yang Mengalami Diskolorasi Kopi Setelah Perendaman
dalam Ekstrak Daun Bayam (Amaranthus hybridus L) dengan Durasi Berbeda
xi+56 halaman
Dental bleaching adalah suatu cara untuk memutihkan kembali gigi yang berubah
warna sampai mendekati warna asli gigi secara kimiawi. Tujuan bleaching adalah
mengembalikan fungsi estetis gigi. Bleaching dapat menggunakan bahan kimia dan alami.
Daun bayam adalah bahan alami yang mengandung asam oksalat yang dapat memutihkan
gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perubahan warna gigi
manusia yang mengalami diskolorasi kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam
dengan durasi berbeda. Besar sampel setiap kelompok perendaman 28, 42, dan 56 jam
adalah 10. Gigi premolar yang tidak melebihi 3 bulan pasca pencabutan langsung direndam
dalam larutan saline. Seluruh akar gigi diolesi cat kuku bening dan direndam dalam kopi
selama 12 hari agar mengalami diskolorasi. Warna gigi diukur menggunakan chromameter.
Pembuatan ekstrak daun bayam dengan metode maserasi, dan dihasilkan 300 mL ekstrak
daun bayam. Kemudian gigi direndam dalam ekstrak daun bayam dengan kelompok
perendaman 28, 42, dan 56 jam, lalu warna gigi diukur kembali. Hasil diperoleh dengan uji
Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan perubahan warna gigi E) sesudah perendaman
ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam, dan uji Mann-Whitney untuk melihat
perbedaan lebih lanjut dari ketiga kelompok tersebut. Hasil perhitungan rerata perubahan
warna gigi E) untuk kelompok perendaman 28, 42, dan 56 jam berturut-turut adalah 3,38
± 1,57; 5,44 ± 2,53; dan 8,63 ± 2,25. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan terdapat
perbedaan signifikan antara ketiga kelompok (p=0,002). Hasil uji Mann-Whitney
menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perendaman selama 28 jam dengan 56 jam
(p=0,000) dan selama 42 jam dengan 56 jam (p=0,038), namun tidak terdapat perbedaan
yang signifikan antara 28 jam dan 42 jam (p=0,121). Dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan dari perubahan warna gigi manusia yang mengalami diskolorasi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam (Amaranthus hybridus L) dengan durasi
berbeda.
Daftar rujukan: 61 (1995-2018)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji


Pada tanggal 1 Juli 2019

TIM PENGUJI

KETUA : Hj. Lasminda Syafiar, drg., M.Kes


ANGGOTA : 1. Astrid Yudhit, drg., M.Si
2. Sefty Aryani Harahap, drg., M.Si

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan
judul ―Perubahan Warna Gigi Manusia yang Mengalami Diskolorasi Kopi Setelah
Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam (Amaranthus hybridus L) dengan Durasi Berbeda.
Skripsi ini penulis ajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Gigi di Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menerima banyak bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus
kepada:
1. Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes., Sp.RKG(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.
2. Hj. Lasminda Syafiar, drg., M.Kes. selaku Ketua Departemen Ilmu Material dan
Teknologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara sekaligus
dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran guna memberi
penulis arahan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Sefty Aryani Harahap, drg., M.Si. selaku dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran gunamemberi penulis arahan dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Sumadhi Sastrodiarjo, drg., Ph.D., Rusfian, drg., M.Kes., Kholidina Imanda
Harahap, drg., MDSc, Astrid Yudhit, drg., M.Si., dan Febby Revita Sari, drg., Muliadi
selaku Staf Departemen IMTKG FKG USU yang telah memberi penulis masukan yang
berharga dalam penyusunan skripsi ini.
5. Prof. Dr. Rasinta Tarigan, drg., Sp.KG(K) selaku dosen pembimbing akademik
yang telah memberi penulis motivasi selama menjalani program akademik dan penyusunan
skripsi ini.
6. Awaluddin Saragih, M.Si, Apt selaku Kepala Laboratorium Obat Tradisional
Fakultas Farmasi USU atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis selama pembuatan
ekstrak dan pelaksanaan penulisan skripsi ini.

i
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
7. Linda Masniary Lubis, STP, M.Si selaku Kepala Laboratorium Teknologi Pangan
Fakultas Pertanian USU atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis selama
pengukuran warna gigi dan pelaksanaan penulisan skripsi ini.
8. Prana Ugiana Gio, S.Si, M.Si, selaku staf pengajar di Departemen S3 Statistika USU
yang telah membimbing penulis dalam mengolah data hasil penelitian dan memberi
bimbingan selama penulisan skripsi ini.
9. Ayah penulis, Indra Utomo Lim, Ibu penulis, Susana, dan saudara penulis, Elisa
Halim, atas segala kasih sayang yang tidak terbatas, hiburan yang membangkitkan semangat,
doa, pengertian, dan nasihat tiada henti dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Teman-teman terkasih penulis: Hawdy Laifa, anggota-anggota 4 Angels-KETS
(Silvia Wira, Elis Crystal, dan Tania Vanda), Calvinthio Gunawan, Priscylla Chang, Céline
Lieu, Hanni Stella Angelica, yang selalu ada untuk penulis, menghapus air mata penulis,
menghibur penulis, dan mendoakan yang terbaik untuk penulis. Kepada anggota Love
Experts (Regita Azwinda dan Stefanus Samuel), anggota 天天 Chicken (Shanty, Silvinia,
Taniadiana, Giovanny, Jane), yang selalu mendukung penulis untuk selalu berjuang dan
tidak menyerah selama penulisan skripsi ini.

11. Bias tersayang penulis: Do Kyungsoo (도경수) dan Im Jaebeom (임재범), serta

seluruh anggota EXO dan GOT7 yang selalu memberi dukungan moral melalui lagu, foto
dan video dan selalu memberi semangat tanpa batas dalam penyelesaian skripsi ini.
Penyusunan skripsi ini telah penulis upayakan dengan sebaik mungkin, tetapi penulis
menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan di dalamnya terkait
keterbatasan penulis, maka dengan kerendahan hati dan lapang dada penulis menerima
kritikan dan saran dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat dalam pengembangan
wawasan penulis di bidang Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi dan juga
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Gigi, khususnya
IlmuMaterial dan Teknologi Kedokteran Gigi serta masyarakat.

Medan, 1 Juli 2019


Penulis

(Kristin Halim)
NIM 150600050

ii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................................

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii

DAFTAR TABEL .................................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... vi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ ix

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 3
1.3 Tujuan Penelitian.......................................................................................... 3
1.4 Hipotesis Penelitian ...................................................................................... 3
1.5 Manfaat Penelitian........................................................................................ 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 4

2.1 Gigi ............................................................................................................... 4


2.1.1 Anatomi Gigi ............................................................................................. 4
2.1.2 Warna Gigi ................................................................................................ 5
2.1.3 Perubahan Warna Gigi .............................................................................. 5
2.2 Mekanisme Perubahan Warna Gigi oleh Makanan/Minuman ..................... 9
2.2.1 Perubahan Warna Gigi oleh Kopi ............................................................. 10
2.3 Pemutihan Gigi (Bleaching) ......................................................................... 10
2.3.1 Definisi Pemutihan Gigi ............................................................................ 10
2.3.2 Bahan Pemutihan Gigi .............................................................................. 11
2.3.3 Mekanisme Pemutihan Gigi ...................................................................... 12
2.3.4 Jenis-jenis Teknik Pemutihan Gigi ........................................................... 14
2.4 Metode Pengukuran Warna Gigi .................................................................. 15
2.4.1 Metode Subjektif ....................................................................................... 16
2.4.2 Metode Objektif ........................................................................................ 16
2.5 Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L) ................................................. 18
2.5.1 Taksonomi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L) ........................... 18
2.5.2 Morfologi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L) ............................. 18
2.5.3 Kandungan Gizi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L) ................... 19
2.5.4 Manfaat Daun Bayam terhadap Gigi ......................................................... 21

iii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN................................................................. 22

3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................. 22


3.1.1 Rancangan Penelitian ................................................................................ 22
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................................ 22
3.2.1 Lokasi Penelitian ....................................................................................... 22
3.2.2 Waktu Penelitian ....................................................................................... 22
3.3 Sampel, dan Besar Sampel Penelitian .......................................................... 22
3.3.1 Sampel ....................................................................................................... 22
3.3.2 Besar Sampel ............................................................................................. 23
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .............................................. 24
3.4.1 Variabel Penelitian .................................................................................... 24
3.4.1.1 Variabel Bebas ....................................................................................... 24
3.4.1.2 Variabel Terikat...................................................................................... 24
3.4.1.3 Variabel Terkendali ................................................................................ 24
3.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali ..................................................................... 24
3.4.2 Definisi Operasional .................................................................................. 24
3.5 Alat dan Bahan Penelitian ............................................................................ 25
3.5.1 Alat Penelitian ........................................................................................... 25
3.5.2 Bahan Penelitian........................................................................................ 31
3.6 Prosedur Penelitian....................................................................................... 33
3.6.1 Persiapan Sampel ...................................................................................... 33
3.6.2 Perendaman dalam Larutan Kopi dan Pengukuran Warna ....................... 34
3.6.3 Pembuatan Ekstrak Daun Bayam 100%.................................................... 37
3.6.4 Perendaman Sampel dalam Ekstrak Daun Bayam. ................................... 39
3.6.5 Pengukuran Warna Gigi setelah Perendaman ........................................... 41
3.7 Uji Data ........................................................................................................ 43

BAB 4 HASIL PENELITIAN .................................................................................. 44

4.1 Hasil Pengukuran Perubahan Warna Gigi .................................................... 44


4.2 Hasil Uji Data Perubahan Warna Gigi ......................................................... 46

BAB 5 PEMBAHASAN ............................................................................................ 49

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................... 51

6.1 Kesimpulan................................................................................................... 51
6.2 Saran ............................................................................................................. 51

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

iv
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Komposisi mineral dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L)


dalam tiap 100 gram bayam .................................................................................. 19
2. Komposisi vitamin dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L)
dalam tiap 100 gram bayam .................................................................................. 19
3. Komposisi asam amino dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L)
dalam tiap 100 gram bayam .................................................................................. 20
4. Komposisi zat fitokimia dalam daun bayam (Amaranthus hybridus L)
dalam tiap 100 gram bayam .................................................................................. 20
5. Data Nilai Rerata L, a, b Sebelum dan Sesudah, dan Perubahan Warna
E) Untuk Kelompok Perendaman Ekstrak Daun Bayam
28, 42, dan 56 Jam ................................................................................................ 44
6. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Perubahan Warna Gigi E) Sesudah
Perendaman Ekstrak Daun Bayam ........................................................................ 46
7. Hasil Uji Kruskal Wallis Perubahan Warna E) Sesudah
Perendaman Ekstrak Daun Bayam selama 28, 42, dan 56 Jam ............................ 47
8. Hasil Uji Lanjutan Mann-Whitney Perubahan Warna E) Sesudah
Perendaman Ekstrak Daun Bayam selama 28, 42, dan 56 Jam ............................ 47
9. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1)
dan Sesudah (L2)Perendaman Ekstrak Daun Bayam selama
28 , 42, dan 56 Jam ............................................................................................... 48
10. Hasil Uji Wilcoxon Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2)
Perendaman Ekstrak Daun Bayam selama 28 , 42, dan 56 Jam ......................... 48

v
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Skema mekanisme bleaching dan overbleaching terhadap permukaan gigi….. 14
2. Chromameter Minolta CR 400 ........................................................................ 17
3. Tanaman bayam (Amaranthus hybridus L) ..................................................... 18
4. Reaksi oksidasi asam oksalat (H2C2O4) ........................................................... 21
5. Mikromotor dan handpiece .............................................................................. 25
6. Bur brush ......................................................................................................... 25
7. Pinset ................................................................................................................ 26
8. Wadah plastik untuk merendam gigi ............................................................... 26
9. Gelas ukur ........................................................................................................ 26
10. Kertas pH indikator universal ........................................................................ 26
11. Gelas beaker dan sendok pengaduk kopi ....................................................... 27
12. Alat tulis ........................................................................................................ 27
13. Termometer ................................................................................................... 27
14. Kertas perkamen ............................................................................................ 27
15. Lemari pengering ........................................................................................... 28
16. Blender........................................................................................................... 28
17. Timbangan ..................................................................................................... 28
18. Gelas erlenmeyer ........................................................................................... 28
19. Corong gelas .................................................................................................. 29
20. Kertas saring .................................................................................................. 29
21. Kapas ............................................................................................................. 29
22. Botol perkolator ............................................................................................. 29
23. Infus set.......................................................................................................... 30
24. Kompor dan panci ......................................................................................... 30
25. Botol hasil ekstrak ......................................................................................... 30
26. Chromameter Minolta CR 400 tampak samping .......................................... 30
27. Chromameter Minolta CR 400 tampak atas .................................................. 30
28. Gigi premolar satu dan dua, rahang atas dan rahang bawah ......................... 31
29. Larutan saline ................................................................................................ 31

vi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
30. Pasta abrasif ................................................................................................... 31
31. Cat kuku bening ............................................................................................. 31
32. Bubuk kopi .................................................................................................... 32
33. Daun bayam ................................................................................................... 32
34. Etanol 70% .................................................................................................... 32
35. Benang untuk mengikat gigi .......................................................................... 32
36. Gigi direndam dalam larutan saline sebelum perlakuan ............................... 33
37. Gigi dibersihkan dengan pasta abrasif ........................................................... 33
38. Bagian akar gigi dilapisi cat kuku bening ..................................................... 34
39. a. Gigi digantung di dalam wadahnya ........................................................... 34
b. Gigi diurutkan dan diberi kode .................................................................. 34
40. Penyeduhan 300 gram bubuk kopi dengan 300 mL air di gelas beaker ........ 35
41. Larutan kopi dituang sebanyak 10mL untuk masing-masing
kelompok A, B, C .......................................................................................... 35
42. a. Gigi dicuci di bawah air mengalir.............................................................. 36
b. Gigi dikeringkan dengan tisu ..................................................................... 36
43. a. Gigi diletakkan pada permukaan rata dan berlatar belakang putih ............ 36
b. Bagian bukal menghadap pada ujung alat, dan tombol pada alat
ditekan untuk mengukur warna gigi ......................................................... 36
44. a. Tanaman bayam yang hanya dipetik daunnya ........................................... 37
b. Daun bayam yang telah dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil
kemudian disebarkan di atas kertas perkamen .......................................... 37
45. a. Daun bayam dikeringkan di dalam lemari pengering ................................ 37
b. Daun bayam yang kering ........................................................................... 37
c. Daun bayam yang telah kering diblender menjadi serbuk halus ............... 37
46. Serbuk daun bayam dicampurkan dengan etanol 70% di dalam
wadah tertutup .............................................................................................. 38
47. Proses maserasi menggunakan botol perkolator dan infus set ...................... 38
48. Hasil maserat pertama dan kedua .................................................................. 39
49. a. Maserat diuapkan dengan water bath agar dihasilkan ekstrak kental ....... 39
b. Hasil ekstrak kental ................................................................................... 39
c. pH ekstrak yang terukur yaitu 6 ................................................................. 39
50. Kelompok A (perendaman daun bayam 28 jam), kelompok B (perendaman

vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
daun bayam 42 jam), kelompok C (perendaman daun bayam 56 jam) ......... 40
51. a. Gigi dicuci di bawah air mengalir.............................................................. 40
b. Gigi dikeringkan dengan tisu ..................................................................... 40
52. a. Gigi dicuci di bawah air mengalir.............................................................. 41
b. Gigi dikeringkan dengan tisu ..................................................................... 41
53. a. Gigi dicuci di bawah air mengalir.............................................................. 41
b. Gigi dikeringkan dengan tisu ..................................................................... 41
54. Sampel gigi kelompok A diukur perubahan warnanya dengan chromameter 42
55. Sampel gigi kelompok B diukur perubahan warnanya dengan chromameter 42
56. Sampel gigi kelompok C diukur perubahan warnanya dengan chromameter 42
57. Grafik nilai rerata perubahan warna gigi E) sesudah perendaman dalam
ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam ............................................ 45
58. Grafik nilai rerata nilai kecerahan gigi sebelum (L1) dan sesudah (L2)
perendaman dalam ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam ............. 46

viii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
1. Kerangka Teori
2. Kerangka Konsep
3. Alur Penelitian
4. Lembar Penjelasan Calon Subjek Penelitian
5. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan
6. Data Hasil Pengukuran Warna
7. Output Uji Normalitas Data Perubahan Warna Gigi E) Sesudah Perendaman dalam
Ekstrak Daun Bayam
8. Output Uji Kruskal Wallis Perubahan Warna Gigi E) Sesudah Perendaman dalam
Ekstrak Daun Bayam
9. Output Uji Mann-Whitney Perubahan Warna Gigi E) Sesudah Perendaman dalam
Ekstrak Daun Bayam
10. Output Uji Normalitas Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2) Perendaman
dalam Ekstrak Daun Bayam
11. Output Uji Wilcoxon Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2 ) Perendaman
dalam Ekstrak Daun Bayam
12. Lembar Persetujuan yang Telah Ditandatangani
13. Surat Keterangan Selesai Penelitian
14. Surat Keterangan Selesai Penelitian
15. Ethical Clearance
16. Surat Pernyataan Olah Data

ix
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Estetika pada wajah dapat menentukan persepsi pada diri sendiri dan dapat
mempengaruhi kualitas hidup.1 Estetika penampilan seseorang sangat ditentukan oleh
keharmonisan struktur wajah dan gigi. Struktur gigi yang harmonis ditentukan oleh beberapa
faktor, seperti bentuk gigi, ukuran gigi, posisi gigi dan warna gigi. Studi telah membuktikan
bahwa penampilan seseorang sangat dipengaruhi oleh warna gigi dan ada tidaknya
maloklusi.2 Sebuah survei penelitian internasional menunjukkan 66% responden merasa
tidak puas dengan penampilan akibat warna gigi mereka. Survei ini membuktikan bahwa
warna gigi sangat mempengaruhi persepsi pasien terhadap penampilannya secara
keseluruhan.3
Perubahan warna pada gigi adalah masalah estetika yang cukup besar. Secara estetik,
perubahan warna gigi dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bahkan berdampak
psikologis pada pasien.4 Perubahan warna gigi dapat terjadi karena faktor intrinsik dan
ekstrinsik. Perubahan warna gigi secara intrinsik dapat disebabkan oleh karies gigi, bahan
tambalan gigi (amalgam), trauma pada gigi, pengaruh obat sistemik (tetrasiklin), defisiensi
nutrisi, penyakit genetik atau herediter (amelogenesis imperfekta), dan proses penuaan.5,6
Perubahan warna gigi secara ekstrinsik dapat terjadi karena pelepasan agen kromogenik oleh
konsumsi makanan dan minuman seperti kopi, teh, anggur merah, merokok, dan penggunaan
obat kumur klorheksidin.6 Oral hygiene yang buruk juga merupakan salah satu faktor utama
dalam perubahan warna gigi ekstrinsik.5
Selama dua dekade terakhir, proses pemutihan gigi atau bleaching menjadi salah satu
perawatan estetika gigi yang paling populer. Terdapat beberapa metode bleaching, di
antaranya adalah in-office bleaching yang sepenuhnya dilakukan oleh dokter gigi dan home
bleaching yang dilakukan oleh pasien sendiri di bawah pengawasan dokter gigi.7 In-office
bleaching menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) pada konsentrasi 25-40% sebagai bahan
bleaching, sedangkan home bleaching menggunakan karbamid peroksida [CO(NH2)2.H2O2]
pada konsentrasi 10-15%.8 Metode home bleaching lebih menjadi pilihan pasien karena
penggunaannya yang mudah dan harga yang relatif terjangkau dibandingkan dengan in-
office bleaching.9

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2

Bayam (Amaranthus hybridus L) merupakan salah satu tanaman yang paling sering
dikonsumsi, karena bayam diyakini mengandung banyak beta karoten (provitamin A), lutein,
asam folat, vitamin C, kalsium, zat besi, fosfor, dan kalium. 10 Selain kandungan gizi tersebut,
bayam juga dikenal sebagai tanaman yang mengandung asam oksalat tertinggi daripada
tanaman lain. Bentuk oksalat yang umumnya dijumpai pada bayam adalah dalam senyawa
kalsium oksalat.11 Kandungan asam oksalat paling banyak dapat ditemukan pada bagian
daun dari tanaman bayam. Produksi asam oksalat pada daun tanaman bayam adalah melalui
serangkaian reaksi kimia, yaitu konversi glycolate dan glyoxalate menjadi ion oksalat, dan
pemecahan asam askorbat (vitamin C).12 Selain itu, pada daun tanaman bayam, dapat
dijumpai enzim oxalic acid oxidase yang berperan dalam memecah asam oksalat menjadi
karbon dioksida dan hidrogen peroksida, tapi umumnya enzim tersebut inaktif.11
Iskandar dkk.13 melakukan penelitian mengenai pengaruh larutan ekstrak daun bayam
dan susu terhadap tingkat diskolorasi gigi akibat kopi. Penelitian ini menggunakan larutan
ekstrak daun bayam dalam berbagai konsentrasi yaitu 10%, 20% dan 30%, kemudian
dicampur dengan susu 1 mL dan direndam selama 60 menit, untuk melihat proteksi terhadap
efek diskolorasi gigi akibat kopi, dimana tingkat diskolorasi gigi dilihat dengan alat
spektrofotometer warna VITA Easyshade®. Ternyata, hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa campuran ekstrak daun bayam dan susu dapat memproteksi gigi dari efek diskolorasi
gigi akibat kopi.
Raditia14 meneliti tentang perbedaan efektivitas ekstrak bayam murni, ekstrak bayam
dicampur susu serta karbamid peroksida 10% terhadap pemutihan gigi yang diskolorasi
akibat kopi. Perubahan warna sampel gigi diukur dengan alat spektrofotometer dan
menggunakan sistem warna CIE (Committee Internationale de L’Eclairage) L*a*b. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa karbamid peroksida 10% menghasilkan perubahan warna
yang lebih signifikan dibandingkan dengan ekstrak bayam murni dan ekstrak bayam
dicampur susu.
Azizah dkk.15 meneliti tentang perbedaan efektivitas ekstrak daun bayam 100% dan
hidrogen peroksida 3% terhadap proses pemutihan gigi selama 56 jam. Hasil penelitian
tersebut menyimpulkan bahwa dengan perendaman hidrogen peroksida dan bayam selama
56 jam efektif terhadap pemutihan gigi.
Prastiwi dkk.16 meneliti tentang perbedaan lama waktu perendaman gigi dalam
ekstrak buah belimbing manis (Averrhoa carambola) terhadap perubahan warna gigi dan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3

ternyata ekstrak belimbing manis 100% dapat memutihkan gigi karena mengandung asam
oksalat. Selain pada bayam, asam oksalat juga terkandung dalam buah belimbing manis.
Berdasarkan metode home bleaching selama 2-3 jam per hari selama 2-4 minggu17,
peneliti ingin melihat perbedaan perubahan warna gigi manusia setelah perendaman dalam
ekstrak daun bayam selama 28 jam (2 jam per hari selama 2 minggu), 42 jam (2 jam per hari
selama 3 minggu), dan 56 jam (2 jam per hari selama 4 minggu).

1.2 Rumusan Masalah


Apakah ada perbedaan perubahan warna gigi manusia yang mengalami diskolorasi
kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam dengan durasi berbeda.

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui perbedaan perubahan warna gigi manusia yang mengalami
diskolorasi kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam dengan durasi berbeda

1.4 Hipotesis Penelitian


Tidak ada perbedaan perubahan warna gigi manusia yang mengalami diskolorasi
kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam dengan durasi berbeda.

1.5 Manfaat Penelitian


1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tambahan
bagi peneliti, dokter gigi dan masyarakat tentang manfaat daun bayam dalam bidang
kedokteran gigi.
2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi kepada masyarakat tentang
bayam sebagai alternatif bahan pemutih gigi yang dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pertimbangan untuk dokter gigi
sebagai bahan alternatif pemutih gigi yang ekonomis untuk kesehatan gigi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigi
2.1.1 Anatomi Gigi
Gigi terdiri dari mahkota gigi dan akar gigi. Mahkota gigi secara klinis adalah bagian
gigi yang terlihat di rongga mulut dan menonjol di atas gingiva, dan akar gigi secara klinis
adalah bagian gigi yang terpendam dalam tulang alveolar maksila atau mandibula. Mahkota
gigi dan akar gigi bertemu di leher gigi.18,19
Pada potongan melintang, gigi terdiri dari email, dentin dan rongga pulpa. Email
merupakan jaringan keras tubuh manusia yang mengalami mineralisasi dan mempunyai nilai
kekerasan permukaan yang tinggi. Email juga bersifat avaskuler yaitu tidak mempunyai
pembuluh darah maupun pembuluh saraf di dalamnya. Email pada gigi permanen
mengandung 96% matriks anorganik, 1% matriks organik, dan 3% air. Matriks anorganik
email tersusun atas kristal kalsium hidroksiapatit [Ca10(PO4)6(OH)2] dan beberapa
kandungan mineral lainnya seperti karbonat, magnesium, kalium, natrium dan fluor dalam
jumlah kecil.19,20
Email berkembang dari organ email (ektoderm) dan merupakan produk dari sel
epitelial khusus disebut ameloblas. Secara mikroskopik struktur dasar email terdiri dari
prisma email (enamel prism atau enamel rod). Di sekeliling bagian terluar dari prisma email
terdapat ruang interprisma (interrod enamel). Pada daerah yang berdekatan dengan
dentinoenamel junction (DEJ) pada daerah yang rendah mineral terlihat gambaran cerah
yang halus tampak seperti rumput disebut enamel tufts yang dapat ditemukan pada bagian
terdalam sepertiga dari email dan merupakan area yang kurang mineralisasinya. Selain
enamel tuft, ditemukan juga enamel spindle yang merupakan ujung serat jaringan ikat atau
bagian sel odontoblas yang tertanam dalam email yang dihasilkan oleh odontoblas yang
melintasi membran dasar sebelum mengalami mineralisasi ke dalam DEJ. 19,20
Pembentukan email terjadi secara bertahap selapis demi selapis. Pola pembentukan
yang bertahap ini memberikan gambaran garis pertumbuhan email yang disebut garis
Retzius. Garis ini berjalan melintang terhadap arah prisma email. Pada permukaan email,
garis Retzius bermanifestasi sebagai suatu garis yang melingkari mahkota gigi dalam arah

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


5

mesiodistal dan disebut sebagai garis perikimata. Garis perikimata menjadi kurang jelas
dengan pertambahan umur karena pemakaian dan tidak terlihat sama pada setiap individu. 20
Dentin merupakan bagian yang terluas dari struktur gigi yang meliputi seluruh
panjang gigi mulai dari mahkota hingga akar. Dentin terletak di bawah email pada bagian
mahkota dan terletak di bawah sementum pada bagian akar serta mengelilingi pulpa. Dentin
dibentuk dari odontoblas yang berasal dari ektomesenkim. Dentin tersusun atas 70% matriks
anorganik (kristal kalsium hidroksiapatit), 20% matriks organik berupa serat kolagen, dan
10% air. Kristal kalsium hidroksiapatit ini mirip dengan yang ditemukan pada email tetapi
dengan persentase yang lebih rendah sehingga dentin lebih lunak dibandingkan email.18,19,20

2.1.2 Warna Gigi


Warna gigi ditentukan oleh warna dentin dan warna email. Warna gigi dipengaruhi
oleh kombinasi dari warna intrinsik dan adanya stain ekstrinsik yang melekat pada
permukaan gigi.21 Setiap perubahan pada email, dentin atau struktur pulpa koronal dapat
menyebabkan perubahan transmisi cahaya pada warna gigi. 22 Warna gigi juga ditentukan
oleh ketebalan email, ketebalan dentin, warna dentin yang melapisi di bawahnya serta warna
pulpa dan translusensi email. Gigi manusia dapat mengalami diskolorasi (perubahan warna)
dikarenakan email yang menipis karena abrasi/erosi/abfraksi/atrisi, sebaliknya dentin akan
menjadi lebih tebal akibat deposisi dentin sekunder dan dentin reparatif. Hal ini akan terjadi
seiring bertambahnya usia seseorang sehingga warna giginya akan lebih kuning atau keabu-
abuan atau kuning keabu-abuan.23 Warna gigi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
sumber cahaya, jumlah cahaya yang mengenai gigi, penyerapan dan penyebaran cahaya di
sekitar jaringan gigi, tekstur dan kontur gigi. 24

2.1.3 Perubahan Warna Gigi (Diskolorasi)


Perubahan warna gigi, atau disebut juga diskolorasi, dapat memberikan dampak
psikososial yang buruk terhadap seorang pasien.25 Perubahan warna gigi menjadi masalah
bagi banyak orang karena memberikan perasaan tidak nyaman ketika berbicara atau
tersenyum, karena mereka berkeyakinan bahwa gigi putih mampu membuat orang merasa
lebih cantik dan percaya diri.26 Perubahan warna pada gigi dapat disebabkan oleh beberapa
faktor. Berdasarkan sumber zat warnanya, ada dua faktor penyebab perubahan warna pada
gigi, yaitu faktor ekstrinsik (luar) dan faktor intrinsik (dalam).4,5,6,8

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


6

1. Faktor Ekstrinsik
Perubahan warna akibat faktor ekstrinsik umumnya merupakan hasil dari akumulasi
substansi kromogenik pada permukaan gigi. Perubahan warna yang terjadi dapat
disebabkan oleh oral hygiene yang buruk, konsumsi makanan dan minuman
berwarna dan merokok. Perubahan warna umumnya terjadi pada permukaan pelikel
dan merupakan hasil reaksi antara glukosa dan asam amino di dalam rongga mulut.
Reaksi antara glukosa dan asam amino ini disebut reaksi Millard (non-enzymatic
browning reaction). Suatu analisis kimiawi menemukan suatu substansi kromogenik
yaitu furfural dan furfuraldehid yang berperan dalam diskolorasi akibat reaksi
Millard tersebut.8
Faktor- faktor yang menyebabkan perubahan warna pada gigi:5
a. Faktor lokal
Penyebab diskolorasi paling utama adalah oral hygiene yang buruk.
Umumnya oral hygiene yang buruk disebabkan oleh ketidakmampuan untuk
membersihkan rongga mulut dengan rutin dan teratur. Akumulasi plak, kalkulus
dan partikel makanan akan menyebabkan noda coklat atau hitam pada permukaan
gigi.
b. Diet
Noda cokelat pada permukaan gigi bisa disebabkan oleh pengendapan zat
warna tanin yang ditemukan dalam teh, kopi, anggur merah, minuman cola, dan
beberapa makanan dan minuman lainnya yang dapat menyebabkan diskolorasi
gigi.
c. Kebiasaan
Tembakau pada rokok menyebabkan deposit berwarna coklat kehitaman
pada sepertiga tengah gigi sampai sepertiga servikal dari gigi. Kebiasaan menyirih
juga akan menghasilkan saliva berwarna merah sehingga warna merah tersebut
juga akan terdeposit pada permukaan gigi.
d. Mikroorganisme
Beberapa bakteri/jamur dapat menghasilkan noda yang biasa terdeposit pada
batas servikal gigi. Actinomyces sp. dapat menyebabkan noda kehitaman,
Penicillium sp. dan Aspergillus sp. dapat menyebabkan warna kehijauan pada gigi
anterior maksila.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


7

e. Faktor pekerjaan
Beberapa senyawa metalik dapat menyebabkan diskolorasi gigi, sebagai
hasil dari interaksi antara senyawa tersebut dengan plak gigi. Eksposur terhadap
senyawa besi (Fe), mangan (Mn), dan perak (Ag) dapat menghasilkan noda hitam
pada gigi. Eksposur terhadap senyawa merkuri (Hg) dan timbal (Pb) dapat
menghasilkan noda biru kehijauan pada gigi.
f. Obat topikal
Obat kumur klorheksidin dapat mengakibatkan noda kecoklatan pada
restorasi akrilik dan porselen setelah pemakaian beberapa minggu. Selain itu,
beberapa obat kumur yang mengandung kalium permanganat, perak nitrat dan
timah fluorida juga dapat menyebabkan diskolorasi gigi.
g. Obat sistemik
Penggunaan doksisiklin jangka panjang dapat menyebabkan pengikatan
terhadap glikoprotein yang terdapat pada plak gigi, sehingga jika ikatan ini
teroksidasi oleh cahaya matahari atau oleh bakteri, maka akan meninggalkan noda
pada permukaan gigi. Umumnya agen antimikrobial hanya menyebabkan
diskolorasi semu, artinya hanya mendeposit zat warna pada plak gigi.

2. Faktor Intrinsik
Perubahan warna yang disebabkan oleh faktor intrinsik umumnya disebabkan oleh
defek pada email atau noda internal yang berasal dari pulpa. Perubahan warna ini
umumnya setelah perubahan komposisi dan ketebalan jaringan keras gigi. 4 Perubahan
warna yang sering diamati disebabkan oleh proses penuaan, keretakan mikro email
(enamel microleakage), pengobatan tetrasiklin, konsumsi fluor yang berlebihan,
karies gigi, bahan restorasi gigi, dan penipisan lapisan email. Diskolorasi intrinsik
tidak bisa dibersihkan dengan prosedur profilaksis normal, namun diskolorasi ini
dapat diperbaiki dengan proses pemutihan gigi (bleaching) menggunakan agen
bleaching yang dapat penetrasi ke dalam email dan dentin untuk mengoksidasi zat
warna tersebut. Diskolorasi yang disebabkan oleh proses penuaan, merokok, penyakit
genetik/herediter dan noda kopi merespon baik terhadap proses bleaching.8

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


8

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan warna pada gigi:5


a. Bahan kedokteran gigi
Bahan restorasi merupakan penyebab yang paling umum dalam
menyebabkan diskolorasi intrinsik. Amalgam dalam jangka waktu lama dapat
melepaskan suatu substansi yang akan mendeposit warna abu kehitaman pada gigi.
Resin komposit, GIC, dan restorasi akrilik dalam jangka panjang juga dapat
menyebabkan suatu noda keabuan pada gigi.
b. Proses degeneratif
Seiring bertambahnya usia seseorang, gigi-geliginya juga akan mengalami
proses degenerasi seperti atrisi, abrasi maupun erosi akibat penggunaan, sehingga
akan menyebabkan gigi-geligi berwarna keabuan atau kekuningan, karena email
menipis dan memberikan tampilan kuning dari dentin.
c. Karies gigi
Pertama-tama, suatu lesi karies tampak berupa seperti bintik-bintik putih
pada email (white spot) dan ketika karies mulai berprogresi dari email menuju
dentin, warna lesi karies akan berubah menjadi kuning kecoklatan. Warna
kecoklatan tersebut disebabkan oleh reaksi Millard (reaksi antara glukosa dan
asam amino di rongga mulut).
d. Trauma
Trauma terhadap gigi praerupsi dapat mengganggu amelogenesis (proses
pembentukan email) dan dapat mengarah pada perkembangan email yang kurang
matang (hipoplasia email) sehingga warna email bukan translusen melainkan
berupa bercak kecoklatan. Trauma terhadap gigi yang sudah erupsi seperti avulsi,
intrusi, luksasi dan subluksasi menyebabkan perdarahan intrapulpa sehingga
menyebabkan diskolorasi intrinsik pada gigi.
e. Infeksi prenatal
Infeksi virus seperti cytomegalovirus selama kehamilan dapat menyebabkan
diskolorasi pada gigi anak saat erupsi, berupa email yang tampak opak dan kurang
berkembang (hipoplasia email). Beberapa penyakit infeksi pada anak postnatal
seperti campak, infeksi Streptokokus, demam Scarlet juga dapat menyebabkan
diskolorasi berupa noda melingkar pada permukaan gigi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


9

f. Obat sistemik
Pengobatan menggunakan tetrasiklin pada saat pertumbuhan dan
perkembangan gigi praerupsi dapat menyebabkan noda keabuan pada gigi. Pigmen
tetrasiklin berdifusi menuju dentin dari email, membentuk kelat dengan kristal
kalsium hidroksiapatit dan kelat tersebut yang memberikan warna keabuan pada
gigi. Sebaiknya antibiotik jenis tetrasiklin ini tidak dikonsumsi ibu hamil dan anak
sampai berusia 8 tahun.
g. Fluor berlebihan
Konsumsi fluor yang berlebihan pada saat maturasi email gigi praerupsi
dapat menyebabkan diskolorasi berupa bercak atau garis putih pada gigi. Fluorosis
tingkat berat meninggalkan bercak kecoklatan pada gigi.
h. Defisiensi nutrisi
Kekurangan beberapa sumber gizi seperti vitamin C, vitamin D, dan kalsium
pada masa perkembangan gigi dapat menyebabkan hipoplasia email sehingga
setelah erupsi gigi akan terdiskolorasi dengan bercak kecoklatan.
i. Penyakit genetik/herediter
Penyakit degeneratif yang dapat diturunkan secara herediter, seperti
amelogenesis imperfekta, dentinogenesis imperfekta juga merupakan faktor
penyebab diskolorasi gigi secara intrinsik.

2.2 Mekanisme Perubahan Warna Gigi oleh Makanan atau Minuman


Perubahan warna gigi dimulai ketika agen kromogen berkontak dengan permukaan
gigi atau dengan pelikel/plak gigi. Mekanisme perubahan warna gigi dimulai ketika plak gigi
dikelilingi ion negatif seperti ion hasil pemecahan glukosa. Oleh karena itu, ion-ion positif
dari makanan dan minuman yang mengandung tanin serta agen kromogen lainnya seperti
tembaga, besi dan nikel dapat membentuk ikatan dengan ion-ion negatif pada plak gigi.
Akumulasi dari agen kromogen pada plak gigi akan membentuk deposit noda pada
permukaan gigi. Saat kita mengonsumsi makanan atau minuman yang berwarna, maka
terjadi ikatan antara agen kromogen dan plak yang menempel pada email gigi dan agen
kromogen melepaskan zat warna pada permukaan gigi sehingga terjadi diskolorasi gigi.27,28
Perubahan warna umumnya terjadi pada permukaan pelikel dan merupakan hasil
reaksi antara glukosa dan asam amino di dalam rongga mulut. Reaksi antara glukosa dan
asam amino ini disebut reaksi Millard (non-enzymatic browning reaction). Reaksi Millard

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


10

juga dapat terjadi antara asam amino dan senyawa aldehid yang dihasilkan oleh bakteri
kariogenik. Suatu analisis kimiawi menemukan suatu substansi kromogenik yaitu furfural
dan furfuraldehid yang berperan dalam diskolorasi akibat reaksi Millard tersebut. Substansi
kromogenik tersebut yang menyebabkan diskolorasi berwarna kecoklatan pada gigi. 5,8

2.2.1 Perubahan Warna Gigi oleh Kopi


Kopi kaya akan substansi bioaktif seperti nicotinic acid, trigonelline, quinolinic acid,
pyrogallic acid, kafein dan tannic acid. Tanin atau yang disebut juga asam tanat adalah zat
warna yang bertanggung jawab atas perubahan warna kecoklatan pada gigi. Kandungan
senyawa di dalam kopi yang berperan dalam diskolorasi gigi adalah tanin sebagai agen yang
mengikat dan memberi warna ke permukaan email gigi. Selain itu, kandungan senyawa lain
seperti asam klorogenat adalah agen penyedia warna pada minuman kopi yang kadarnya
akan meningkat bersamaan dengan temperatur proses penyeduhan kopi. Berbagai macam
asam yang terkandung dalam kopi juga membuat pH minuman kopi menjadi rendah (bersifat
asam).29 Senyawa asam akan mempengaruhi kelarutan email, sehingga akan menyebabkan
terdepositnya zat warna ke gigi.30

2.3 Pemutihan Gigi (Bleaching)


2.3.1 Definisi Pemutihan Gigi
Pemutihan gigi atau bleaching adalah suatu metode yang efektif dan konservatif
untuk mencerahkan warna gigi yang mengalami diskolorasi dan merupakan suatu prosedur
kedokteran gigi yang diaplikasikan selama beberapa abad. Seiring dengan perkembangan
zaman, berbagai penelitian dan observasi mengenai bahan dan teknik bleaching telah
memungkinkan prosedur pemutihan gigi yang efektif dan relatif aman. 31
Pemutihan gigi adalah suatu proses yang akan membuat gigi tampak lebih putih.
Proses pemutihan gigi ini pertama kali digambarkan pada tahun 1864 dan telah berkembang
hingga saat ini. Ada beberapa macam pilihan cara perawatan pemutihan gigi yang
disesuaikan dengan jenis pewarnaan yang terjadi. Perawatan konvensional untuk
menghilangkan diskolorasi gigi ekstrinsik adalah dengan tindakan skeling dan polishing gigi,
namun untuk diskolorasi ekstrinsik yang sukar dan diskolorasi intrinsik, diperlukan
perawatan lain, yaitu proses pemutihan gigi (bleaching). Pada proses pemutihan gigi
konvensional, digunakan bahan asam oksalat untuk gigi vital dan kalsium klorida dari batu
kapur untuk gigi non vital.26

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


11

Perencanaan perawatan bleaching bergantung pada etiologi diskolorasi gigi pasien.


Diskolorasi ekstrinsik terbukti memberikan respon yang lebih baik terhadap bleaching,
sedangkan diskolorasi intrinsik yang ekstensif juga dapat memberikan hasil yang
memuaskan asalkan durasi perawatannya mencukupi. Kontraindikasi bleaching adalah pada
pasien yang mempunyai ekspektasi terlalu tinggi, pasien kurang kooperatif, wanita hamil,
dan pasien yang alergi terhadap komponen bleaching.31

2.3.2 Bahan Pemutihan Gigi


Bahan yang pertama kali diperkenalkan dan digunakan untuk bleaching adalah
hidrogen peroksida dalam berbagai konsentrasi. Hidrogen peroksida yang lazim digunakan,
terutama untuk in-office bleaching adalah hidrogen peroksida 30-35%, dimana senyawa ini
akan diaktivasi oleh sinar curing sehingga ion oksigen akan dilepaskan dan ion tersebut yang
berperan dalam memutihkan gigi. Dalam hal ini, hidrogen peroksida bersifat oksidator. 8
Bahan bleaching yang sering digunakan, terutama untuk bleaching yang dilakukan di
rumah (home bleaching) adalah karbamid peroksida, yang tersedia dalam berbagai
konsentrasi, yaitu 10%-20%. Karbamid peroksida terurai menjadi hidrogen peroksida dan
urea di rongga mulut, dan hidrogen peroksida tersebut yang berperan dalam memutihkan
warna gigi. Karbamid peroksida 10% akan terurai menjadi 3% hidrogen peroksida dan 7%
urea. Urea ini merupakan senyawa nitrogen yang berperan untuk memperlambat pelepasan
oksigen dari senyawa hidrogen peroksida, sehingga memungkinkan oksigen bereaksi lebih
lama terhadap agen kromogen pada permukaan gigi. 8,26,32
Beberapa bahan alami yang pernah diteliti dan dapat merubah warna gigi, antara lain:
a. Apel
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Rosidah dkk. menemukan bahwa apel
mengandung asam malat, yaitu suatu zat yang dapat memutihkan gigi dengan
melarutkan noda pada gigi. Asam malat memiliki berat molekul sangat rendah
sehingga mampu berdifusi ke dalam email gigi dengan melepaskan oksigen pada
ikatan rangkap dari senyawa organik dan anorganik dalam gigi. 33 Menurut penelitian
Fauziah dkk., asam malat merupakan asam turunan golongan karboksilat yang
memiliki kemampuan memutihkan gigi dengan mengoksidasi permukaan email gigi
dengan mengoksidasi permukaan email gigi sehingga menjadi netral dan
menimbulkan efek pemutihan.34

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


12

b. Stroberi
Dalam penelitian in vitro oleh Margaretha dkk., dijelaskan bahwa stroberi dapat
memutihkan gigi yang direndam dalam pasta buah stroberi selama 2 minggu, karena
stroberi memiliki kandungan asam elegat dan asam malat yang dapat memutihkan
gigi. Asam elegat berperan sebagai oksidator kuat, sehingga akan mengoksidasi
noda-noda pada email dan dentin.35,36
c. Tomat
Mulky dkk. melakukan penelitian mengenai tomat sebagai alternatif bahan pemutih
gigi, dan menemukan bahwa terdapat kandungan hidrogen peroksida (H2O2) di dalam
buah tomat. Hasil penelitian ini terbukti bahwa hidrogen peroksida yang terkandung
di dalam buah tomat dapat memutihkan gigi.37
d. Belimbing
Prastiwi dkk. meneliti tentang perbedaan lama waktu perendaman gigi dalam ekstrak
buah belimbing manis terhadap perubahan warna gigi, dengan dasar bahwa buah
belimbing manis mengandung asam oksalat yang dapat memutihkan gigi. Perubahan
warna gigi tersebut diuji dengan waktu 56 jam, 88 jam dan 126 jam dan terbukti
bahwa asam oksalat yang terkandung pada buah belimbing manis dapat memutihkan
gigi.16
e. Bayam
Azizah dkk. meneliti tentang perbedaan efektivitas ekstrak daun bayam 100% dan
hidrogen peroksida 3% terhadap proses pemutihan gigi, dimana sampel gigi
direndam dalam ekstrak daun bayam 100% dan hidrogen peroksida 3% selama 56
jam dan menyimpulkan bahwa ekstrak daun bayam 100% efektif dalam memutihkan
gigi karena kandungan asam oksalat yang dapat memutihkan gigi melalui suatu
proses pelepasan elektron.15

2.3.3 Mekanisme Pemutihan Gigi


Pemutihan gigi atau bleaching umumnya dilakukan dengan senyawa hidrogen
peroksida atau karbamid peroksida sebagai agen bleaching. Senyawa-senyawa ini
mengandung suatu enzim yang berperan dalam pemutihan warna gigi. Hidrogen peroksida
(H2O2) adalah senyawa pengoksidasi yang melepaskan oksigen dan ion perhidroksil (HO2-),
yang merupakan suatu radikal bebas yang sangat reaktif. Radikal bebas inilah yang berperan
dalam memutihkan warna gigi. Dalam keadaan aqueous murni, hidrogen peroksida bersifat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


13

asam. Namun, agar hidrogen peroksida dapat menghasilkan radikal bebas lebih cepat,
senyawa ini harus dalam keadaan basa (pH 9,5-10).38 Pembentukan radikal bebas hidroksil
(HO) juga meningkat pada bahan bleaching yang diaktivasi dengan sinar tampak atau laser. 8
Hidrogen peroksida adalah senyawa pengoksidasi (oksidator) yang dapat berdifusi
melalui gigi, dan terurai membentuk radikal bebas yang tidak stabil, seperti hidroksil (HOn),
perhidroksil (HO2), ion perhidroksil (HO2-) dan ion superoksida (O22-). Radikal bebas yang
dihasilkan akan menyerang molekul organik (pigmen) agen kromogen yang berada di antara
matriks anorganik email dan memutuskan ikatan rangkap yang ada pada molekul organik
tersebut. Ikatan rangkap tersebut berubah menjadi ikatan tunggal sehingga agen kromogen
tersebut akan kehilangan pigmen warnanya secara perlahan-lahan dan proses pemutihan gigi
pun berlangsung.8
Radikal bebas merupakan elektron yang tidak berpasangan dan akan terus bereaksi
terhadap molekul organik maupun anorganik. Radikal bebas akan berikatan dengan dan
memecah pigmen warna dari stain melalui reaksi reduksi, merubah struktur optis dari
pigmen tersebut dan menurunkan kemampuan penyerapan cahaya. Pigmen warna dari stain
akan berubah menjadi molekul yang lebih sederhana, berwarna terang, dan memiliki berat
molekul yang ringan, sehingga pigmen warna ini dapat berdifusi keluar dari tubulus dentin
dan micropore email.30,40
Menurut Goldstein dan Garber, pemutihan gigi akan terus berlangsung sampai
mencapai suatu titik dimana molekul yang terbentuk sudah paling sederhana, keadaan ini
disebut saturation point (titik jenuh). Pada titik ini, sudah tidak ada molekul zat warna yang
dapat dipecah oleh ion, sehingga struktur gigi mulai dirusak oleh ion tersebut, dan akan
mengarah pada kerusakan email. Proses bleaching harus dihentikan ketika saturation point
telah dicapai. Jika proses bleaching dilanjutkan, maka akan terjadi overbleaching.
Overbleaching adalah suatu kondisi dimana email telah terdegradasi dan menyebabkan
kerapuhan gigi sehingga porositas gigi meningkat. Bleaching optimum akan memutihkan
gigi dengan efektif, sedangkan overbleaching akan menyebabkan kerusakan email, seperti
pada gambar 1. 39,41

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


14

Gambar 1. Skema mekanisme bleaching dan overbleaching terhadap permukaan gigi41


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemutihan gigi, yakni:36
1. pH dari bahan bleaching
2. Cara aplikasi, durasi aplikasi, dan ketebalan bahan bleaching terhadap email
3. Konsentrasi bahan bleaching
4. Panjang gelombang sinar fotoaktivasi (untuk bleaching yang memerlukan aktivasi
sinar)
5. Ukuran gigi

2.3.4 Jenis-Jenis Teknik Pemutihan Gigi


1. In-Office Bleaching31,32
Pemutihan gigi yang dilakukan di klinik dokter gigi umumnya menggunakan
hidrogen peroksida dalam konsentrasi tinggi seperti 35-50% dan pada durasi 30-60 menit
untuk mendapatkan hasil yang paling optimal. Beberapa senyawa hidrogen peroksida yang
digunakan untuk in-office bleaching memerlukan aktivasi dengan sinar, penggunaan ini juga

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


15

akan mempercepat prosedur. Karena in-office bleaching menggunakan hidrogen peroksida


konsentrasi tinggi, maka sebelum prosedur bleaching, pasien dipakaikan rubber dam atau
karet isolasi untuk mencegah iritasi terhadap gingiva.
2. Home Bleaching31,32
Prosedur pemutihan gigi ini dilakukan di rumah oleh pasien sendiri dalam
pengawasan dokter gigi yang bersangkutan. Umumnya bahan bleaching yang digunakan
adalah karbamid peroksida 10-15% atau hidrogen peroksida dalam konsentrasi yang lebih
rendah daripada in-office bleaching. Hasil bleaching umumnya hampir sama dengan in-
office bleaching, tapi waktu yang diperlukan lebih lama. Home bleaching memerlukan
penggunaan tray atau suatu wadah khusus untuk menempatkan bahan bleaching dan pasien
akan memakai tray tersebut agar bahan bleaching selalu berkontak terhadap permukaan gigi.
Tray yang digunakan pasien dapat dibuat khusus (custom tray) agar mengikuti bentuk gigi-
geligi pasien, sehingga meningkatkan kenyamanan dan mengurangi resiko bahan bleaching
tumpah dan mengiritasi jaringan lunak rongga mulut.
3. Over-The-Counter (OTC) Bleaching31,32,42,43
Beberapa produk pemutihan gigi dapat dibeli pasien melalui apotek atau pusat
kesehatan lainnya. Produk OTC sangat populer akhir-akhir ini karena mudah digunakan,
prosedurnya sederhana dan harganya relatif terjangkau. Namun, beberapa studi
membuktikan bahwa tidak semua produk OTC bersifat aman, dan beberapa produk OTC
bahkan tidak memberikan hasil yang efektif. Contoh produk OTC adalah whitening tray,
whitening strips, dan paint-on whitening agent.

2.4 Metode Pengukuran Warna Gigi


Persepsi warna berbeda untuk setiap individu. Penyesuaian warna gigi dan
komunikasi yang baik dengan petugas laboratorium gigi sangat mempengaruhi estetika yang
diharapkan pasien. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas penyesuaian warna, seperti
sumber cahaya, cahaya lingkungan saat pengukuran warna, tekstur dan kontur gigi, latar
belakang saat pengukuran warna gigi. Oleh karena itu, untuk menstandardisasi hasil
penilaian warna, beberapa teknik dan peralatan telah dikembangkan untuk memudahkan
dokter gigi dalam perihal menentukan warna gigi. Secara umum, pengukuran warna gigi
terbagi menjadi dua kategori, yaitu pengukuran warna secara subjektif (visual) dan
pengukuran warna secara objektif (instrumental).24

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


16

2.4.1 Metode Subjektif


Pengukuran warna secara subjektif, yaitu secara visual merupakan metode yang
paling umum dan sering digunakan, menggunakan shade guide yang dijual secara komersil.
VITAPAN Classical shade guide dengan 16 tab warna gigi telah diluncurkan tahun 1956
untuk membantu para dokter gigi dalam menentukan warna gigi. Sampai saat ini, shade
guide merupakan alat pengukuran warna gigi yang sangat populer dan digunakan oleh
mayoritas dokter gigi di seluruh dunia.44

Pengintepretasi warna gigi dengan shade guide bertumpu pada tiga kualitas warna,
yaitu hue, chroma, dan value. Hue adalah kualitas warna yang dapat membedakan antara
warna yang satu dengan warna yang lainnya. Misalnya merah, jingga, kuning, hijau, biru,
indigo, ungu, dll. Semua warna tersebut merupakan penyusun spektrum warna. Pada gigi
permanen, warna hue semua gigi hampir sama di rongga mulut. Variasi warna hue sering
terjadi sesuai dengan bertambahnya usia, serta faktor intrinsik dan ekstrinsik yang
mempengaruhinya. Chroma adalah kejenihan atau intensitas warna, yang merupakan
kualitas dari hue yang dapat membedakan antara warna yang kuat dengan warna yang lemah,
dan kualitas warna ini kebanyakan akan berkurang karena proses bleaching. Semua hue
menerima reduksi chroma akibat vital dan non vital bleaching. Value adalah kualitas warna
yang membedakan antara warna terang dengan warna gelap. Gigi yang berwarna terang
memiliki value tinggi tetapi gigi yang berwarna gelap memiliki value yang rendah.45

Untuk menentukan skor warna gigi pada VITAPAN Classical shade guide terdapat
16 tingkatan warna yang disusun sesuai perbedaan hue, chroma dan value, yaitu B1=1,
A1=2, B2=3, D2=4, A2=5, C1=6, C2=7, D4=8, A3=9, D3=10, B3=11, A3,5=12, B4=13,
C3=14, A4=15, C4=16. (dengan angka B1-C4 sebagai nama warna gigi dan angka 1-16
sebagai tingkatan value warna gigi).46

2.4.2 Metode Objektif


Pengukuran warna gigi secara objektif umumnya menggunakan alat elektronik,
seperti spektrofotometer warna, kolorimeter (chromameter) dan kamera digital yang
digunakan bersamaan dengan software yang bersangkutan.47 Spektrofotometer dan
kolorimeter lebih luas digunakan untuk menentukan warna gigi. Kedua instrumen ini
menggunakan sistem warna CIE L*a*b* yang dikembangkan pada tahun 1978 oleh Comittee
Internationale de L’Eclairage sesuai dengan karakteristik dan persepsi warna pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


17

manusia.48 Sistem tersebut memiliki nilai kecerahan, L, mulai dari 0 (hitam) sampai 100
(putih), dan dua sumbu berlawanan: sumbu a untuk warna kemerahan (+) dan kehijauan (-),
sumbu b untuk warna kekuningan (+) dan kebiruan (-). Koordinat L menggambarkan
kecerahan atau disebut sebagai value pada sistem Munsell yang dihitung dengan L2-L1,
dimana L1 adalah nilai L awal dan L2 adalah nilai L setelah perawatan. Koordinat a
dihitung dengan a2-a1, dimana a1 adalah nilai awal dan a2 adalah nilai setelah perawatan.
Koordinat b dihitung dengan b2-b1, dimana b1 adalah nilai awal dan b2 adalah nilai setelah
perawatan. Delta E ( E) menggambarkan keseluruhan perubahan warna. Perubahan warna
dapat dihitung dengan rumus:48,49

Dimana L, a, b adalah perbedaan nilai L, a, dan b sampel sebelum dan sesudah
perendaman dalam larutan.48 Nilai E berkisar dari 0-100, dimana E<=1 persepsi warna
tidak dapat dilihat mata manusia, E= 1-2 menandakan persepsi warna dapat terlihat setelah
observasi cermat, E= 2-10 menandakan persepsi warna dapat terlihat secara sekilas, E=
11-49 menandakan persepsi warna dapat terlihat jelas, E= 100 menandakan perubahan
warna yang sangat kontras.50
Chromameter adalah alat yang digunakan untuk mengukur warna dari permukaan
suatu objek. Prinsip dasar dari alat ini adalah interaksi antara energi cahaya difus dengan
atom atau molekul dari objek yang dianalisis. Chromameter dapat mengukur nilai tristimulus
warna dari pantulan cahaya sebuah spesimen setelah sumber cahaya telah melewati
serangkaian filter. Alat ini menggunakan filter fotodioda untuk mengontrol cahaya yang
mencapai spesimen. Setiap chromameter dengan tipe berbeda memiliki ruang pengukuran
dengan diameter yang berbeda pula. Sumber cahaya yang digunakan adalah lampu xenon.
Lampu inilah yang menembak permukaan objek yang kemudian dipantulkan menuju sensor
spektral. Selain melalui sensor, enam sel silikon yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap
cahaya akan mengukur cahaya yang dipantulkan oleh objek.50

Gambar 2. Chromameter Minolta CR 400

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


18

2.5 Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L)


Bayam merupakan tanaman sayuran yang biasa dikenal dengan nama ilmiah
Amaranthus sp. Kata amaranth dalam bahasa Yunani berarti everlasting atau abadi.
Tanaman ini berasal dari daerah Amerika Tropis dan masuk ke Indonesia pada abad ke-14.
Bayam mudah tumbuh dimana saja, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, bayam
telah dikonsumsi secara luas sebagai sayuran yang dapat diolah dalam berbagai macam,
misalnya sayur tumis, sayur urap, sayur bening, dan sebagainya. 51

Gambar 3. Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L)

2.5.1 Taksonomi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L)


Berdasarkan taksonominya, tanaman bayam diklasifikasikan sebagai:51,52
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Caryophyllales
Familia : Amaranthaceae
Subfamilia : Amaranthoideae
Genus : Amaranthus L
Spesies : Amaranthus hybridus L

2.5.2 Morfologi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L)


Tanaman bayam adalah tanaman tahunan yang berbentuk perdu atau terna yang dapat
tumbuh dengan ketinggian 0,6-1,5 meter. Pada tanaman bayam, kedua jenis organ
reproduksi jantan dan betina ada di tanaman yang sama, tetapi pada beberapa tanaman

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


19

bayam, organ reproduksi jantan dan betina dapat terpisah. Bagian terpenting tanaman bayam
terdiri dari akar, batang, daun dan bunga.52,53
Tanaman bayam termasuk tumbuhan akar tunggang dengan sistem perakarannya
yang menyebar dan dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm. Batang bayam banyak
mengandung air (herbaceus) dan tumbuh tinggi di atas permukaan tanah. Bayam yang sudah
usianya sudah satu tahunan terkadang batangnya akan mengeras (berkayu dan bercabang
banyak). Daun bayam umumnya berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan
urat-urat daunnya jelas. Warna daunnya bervariasi mulai dari warna hijau tua, hijau muda,
hijau keputihan dan merah.52
2.5.3 Kandungan Gizi Tanaman Bayam (Amaranthus hybridus L)
Berikut ini berupa daftar kandungan gizi bayam yang secara rinci dapat dilihat pada
tabel 1, tabel 2, tabel 3, dan tabel 4.
Tabel 1. Komposisi mineral dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L) dalam tiap
100 gram bayam54
Kandungan Mineral Konsentrasi (mg)
Natrium (Na) 7,43
Kalium (K) 54,20
Kalsium (Ca) 44,15
Magnesium (Mg) 231,22
Besi (Fe) 13,58
Zink (Zn) 3,80
Fosfor (F) 34,91
Na/K 0,14
Ca/P 1,26

Tabel 2. Komposisi vitamin dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L) dalam tiap
100 gram bayam54
Kandungan Vitamin Konsentrasi (mg)
Beta karoten (Vitamin A) 3,29
Tiamin (Vitamin B1) 2,75
Riboflavin (Vitamin B2) 4,24
Niasin (Vitamin B3) 1,54
Piridoksin (Vitamin B6) 2,33

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


20

Kandungan Vitamin Konsentrasi (mg)


Asam askorbat (Vitamin C) 25,40
alfa-Tokoferol (Vitamin E) 0,50

Tabel 3. Komposisi asam amino dari daun tanaman bayam (Amaranthus hybridus L) dalam
tiap 100 gram bayam54
Kandungan Asam Amino Konsentrasi (mg)
Isoleusin 3,39
Leusin 6,70
Lysin 3,03
Metionin 1,76
Cystin 0,46
Fenilalanin 4,00
Tirosin 3,05
Treonin 2,62
Valin 3,50
Histidin 2,15
Alanin 3,35
Arginin 3,94
Asam aspartat 5,40
Asam glutamat 15,79
Glisin 3,81
Prolin 3,43
Serin 3,04

Tabel 4. Komposisi zat fitokimia dalam daun bayam (Amaranthus hybridus L) dalam tiap
100 gram bayam54
Kandungan Zat Fitokimia Konsentrasi (mg)
Alkaloid 3,54
Flavonoid 0,83
Saponin 1,68
Tanin 0,49

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


21

Kandungan Zat Fitokimia Konsentrasi (mg)


Fenol 0,35
Asam hidrosianat 16,99
Asam fitik 1,32

2.5.4 Manfaat Daun Bayam terhadap Gigi


Bayam mengandung beberapa kandungan kimia yaitu asam oksalat dan asam folat
yang dapat membantu mengatasi berbagai macam penyakit.51 Bayam dikenal sebagai
tanaman yang mengandung asam oksalat paling tinggi dibandingkan dengan tanaman
lainnya. Kandungan asam oksalat paling tinggi dapat ditemukan pada daunnya. Kandungan
asam oksalat pada daun bayam berkisar sekitar 39%. 13 Asam oksalat sering dijumpai dalam
bentuk senyawa sekunder dari vitamin C, maupun sebagai suatu kristal dari mineral-mineral
yang terkandung dalam daun bayam, seperti kalium, natrium, zink, kalsium, magnesium dan
zat besi.11
Asam oksalat termasuk jenis asam organik. Asam organik adalah asam yang
tergolong senyawa organik dan tidak mempunyai oksida asam. Asam oksalat dengan rumus
molekul H2C2O4 terurai menjadi 2H+ dan 2CO2. Asam oksalat mengandung anion (ion
bermuatan negatif) dan anion cenderung melepaskan elektron. Proses pelepasan elektron ini
disebut reaksi oksidasi, maka asam oksalat disebut sebagai reduktor. 12
Mekanisme yang terjadi pada proses pemutihan gigi dengan ekstrak daun bayam
adalah bayam merupakan bahan pemutih gigi yang alami karena mengandung asam oksalat.
Reaksi pemutihan yang terjadi oleh asam oksalat adalah reaksi oksidasi. Dalam reaksi
oksidasi, terjadi proses pelepasan elektron terhadap molekul organik kromofor. Elektron
tersebut kemudian akan berikatan dengan 3 molekul C tersier yang terdapat pada kromofor
pada permukaan email. Ikatan ini akan menyebabkan terganggunya konjugasi elektron pada
molekul organik sehingga menghasilkan struktur baru yang lebih terang. 55

H2C2O4 ↔ 2CO2 + 2H+ + 2e-

Gambar 4. Reaksi oksidasi asam oksalat H2C2O4 56

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


22

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental
laboratorium.

3.1.1 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian adalah pretest-posttest group design.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi Penelitian
1. Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi
USU Medan.
2. Pembuatan ekstrak daun bayam di Laboratorium Obat Tradisional Fakultas
Farmasi USU Medan, karena tersedia alat untuk membuat ekstrak.
3. Pengukuran perubahan warna gigi dilakukan di Laboratorium Teknik Pangan
Fakultas Pertanian USU Medan, karena tersedia alat untuk mengukur perubahan warna gigi,
yaitu chromameter.

3.2.2 Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan dari bulan September 2018 sampai Juli 2019

3.3 Sampel dan Besar Sampel Penelitian


3.3.1 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah gigi premolar 1 dan/atau
premolar 2 rahang atas dan/atau rahang bawah yang pasca-ekstraksi dan memenuhi kriteria
sebagai berikut:
1. Kriteria inklusi
a. Mahkota masih utuh dan akar sudah terbentuk sempurna
b. Tidak terdapat karies, restorasi, dan anomali pada permukaan mahkota
c. Gigi tidak retak dan/atau fraktur

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


23

d. Usia gigi kurang dari atau sama dengan 3 bulan pasca-ekstraksi


2. Kriteria eksklusi
a. Gigi sulung
b. Gigi yang mengalami diskolorasi ekstrinsik/intrinsik
c. Gigi yang sudah pernah dietsa atau dilakukan bleaching
d. Akar gigi perforasi

3.3.2 Besar Sampel


Jumlah besar sampel pada penelitian eksperimen secara sederhana dapat dihitung
dengan rumus Federer sebagai berikut:

(t – 1) ( r – 1) ≥ 15

Keterangan: t = banyak perlakuan


r = banyak kali ulangan

Dalam penelitian ini terdapat 3 kelompok sampel yang diberi perlakuan. Berdasarkan
rumus di atas, maka jumlah sampel tiap kelompok dapat ditentukan sebagai berikut:
( 3 – 1 ) ( r – 1 ) ≥ 15

( 2 ) ( r – 1 ) ≥ 15

r – 1 ≥ 7,5

r ≥ 8,5≈ 10

Untuk mempermudah perhitungan maka besar sampel yang dapat dipakai setiap
kelompok perlakuan pada penelitian ini adalah 10 sampel.
Kelompok A : sampel direndam dalam ekstrak daun bayam selama 28 jam = 10 gigi
Kelompok B : sampel direndam dalam ekstrak daun bayam selama 42 jam = 10 gigi
Kelompok C : sampel direndam dalam ekstrak daun bayam selama 56 jam = 10 gigi
Jadi, total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 gigi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


24

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


3.4.1 Variabel Penelitian
3.4.1.1 Variabel Bebas
Durasi perendaman dalam ekstrak daun bayam, yaitu selama 28 jam, 42 jam dan 56
jam.
3.4.1.2 Variabel Terikat
Perubahan warna gigi premolar manusia
3.4.1.3 Variabel Terkendali
1. Jenis gigi (premolar satu atau premolar dua, rahang atas atau bawah)
2. Penyimpanan gigi dalam larutan saline selama 3 bulan atau kurang dari 3 bulan
sebelum perlakuan
3. Larutan untuk diskolorasi gigi yaitu larutan kopi
4. Volume larutan kopi yaitu 10 mL
5. Lama perendaman gigi dalam larutan kopi yaitu 12 hari
6. Jenis bayam, yaitu bayam hijau cabut (Amaranthus hybridus L)
7. Daun bayam yang dipetik dari tanaman bayam, namun daun di pucuk tanaman
tidak diambil karena masih berupa daun muda
8. Volume ekstrak daun bayam 10 mL
9. Konsentrasi ekstrak bayam 100%

3.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali


1. Lingkungan (kondisi pH tanah dan iklim) tempat tumbuh tanaman bayam
2. Usia tanaman bayam
3. Perlakuan terhadap tanaman bayam selama tumbuh
4. Ketebalan/struktur email
5. Suhu larutan kopi untuk diskolorasi gigi
6. Suhu ruang

3.4.2 Definisi Operasional


1. Perubahan warna gigi manusia adalah perubahan warna gigi manusia E) yang
mengalami diskolorasi kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam dengan durasi
berbeda, yaitu selama 28 jam, 42 jam dan 56 jam dan diukur menggunakan alat
chromameter dengan sistem CIE L*a*b*. Nilai E dapat dihitung dengan rumus:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


25


Dimana adalah nilai L setelah perendaman dikurangi nilai L sebelum perendaman ekstrak,
adalah nilai a setelah perendaman dikurangi nilai a sebelum perendaman ekstrak,
adalah nilai b setelah perendaman dikurangi nilai b sebelum perendaman ekstrak.
2. Ekstrak daun bayam adalah ekstrak yang dihasilkan dari daun bayam hijau cabut
(Amaranthus hybridus L) dengan kandungan asam oksalat dan diekstraksi dengan metode
maserasi menggunakan pelarut etanol 70%.
3. Perendaman gigi permanen manusia dalam ekstrak daun bayam, yaitu merendam
gigi di dalam ekstrak daun bayam selama 28 jam (2 jam per hari selama 2 minggu), 42 jam
(2 jam per hari selama 3 minggu) dan 56 jam (2 jam per hari selama 4 minggu).

3.5 Alat dan Bahan Penelitian


3.5.1 Alat Penelitian
1. Mikromotor dan handpiece (Saeshin Strong, Korea)

Gambar 5. Mikromotor dan handpiece


2. Bur brush

Gambar 6. Bur brush

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


26

3. Pinset (Dentica, Pakistan)

Gambar 7. Pinset
4. Wadah plastik untuk merendam gigi

Gambar 8. Wadah plastik untuk merendam gigi


5. Gelas ukur

Gambar 9. Gelas ukur


6. Kertas pH indikator universal (SUNCARE USA Technology, USA)

Gambar 10. Kertas pH indikator universal

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


27

7. Gelas beaker dan sendok pengaduk kopi (Pyrex, Jerman)

Gambar 11. Gelas beaker dan sendok pengaduk kopi


8. Alat Tulis

Gambar 12. Alat tulis


9. Termometer (Krischef, Indonesia)

Gambar 13. Termometer


10. Kertas perkamen

Gambar 14. Kertas perkamen

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


28

11. Lemari pengering

Gambar 15. Lemari pengering


12. Blender (Philips, Belanda)

Gambar 16. Blender


13. Timbangan

Gambar 17. Timbangan


14. Gelas erlenmeyer (Pyrex, Jerman)

Gambar 18. Gelas Erlenmeyer

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


29

15. Corong gelas (Pyrex, Jerman)

Gambar 19. Corong gelas

16. Kertas saring

Gambar 20. Kertas saring


17. Kapas

Gambar 21. Kapas


18. Botol perkolator

Gambar 22. Botol perkolator

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


30

19. Infus set (GEA Medical, Indonesia)

Gambar 23. Infus set


20. Kompor dan panci

Gambar 24. Kompor dan panci


21. Botol hasil ekstrak

Gambar 25. Botol hasil ekstrak


22. Chromameter (Minolta CR 400, Indonesia)

Gambar 26 dan 27. Chromameter Minolta CR 400 (tampak samping dan tampak
atas)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


31

3.5.2 Bahan Penelitian


1. Gigi premolar satu dan dua, rahang atas dan rahang bawah

Gambar 28. Gigi premolar satu dan dua, rahang atas dan rahang bawah
2. Larutan saline (PT. EMJEBE Pharma, Indonesia)

Gambar 29. Larutan saline


3. Pasta abrasif (Flairesse, USA)

Gambar 30. Pasta abrasif


4. Cat kuku bening (Just Miss, Indonesia)

Gambar 31. Cat kuku bening

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


32

5. Bubuk kopi (Kapal Api, Indonesia)

Gambar 32. Bubuk kopi


6. Tanaman bayam yang telah dipetik daunnya saja

Gambar 33. Daun bayam


7. Etanol 70% (pelarut)

Gambar 34. Etanol 70%


8. Benang untuk mengikat gigi

Gambar 35. Benang untuk mengikat gigi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


33

3.6 Prosedur Penelitian


3.6.1 Persiapan Sampel
1. Sampel gigi yang diekstraksi karena kebutuhan ortodonti direndam dalam larutan
saline, dan dikeluarkan saat akan dilakukan perlakuan, seperti yang terlihat pada
gambar 36.

Gambar 36. Gigi direndam dalam larutan saline sebelum perlakuan


2. Pertama-tama semua sampel gigi dibersihkan dengan pasta abrasif menggunakan
mikromotor dan bur brush, seperti yang terlihat pada gambar 37.

Gambar 37. Gigi dibersihkan dengan pasta abrasif


3. Cat kuku bening diaplikasikan pada gigi dari bagian servikal hingga bagian akar
dengan tujuan untuk menutup akar sehingga larutan kopi dan ekstrak daun bayam
tidak berpenetrasi melalui tubulus dentin dan foramen apikal gigi premolar, seperti
yang terlihat pada gambar 38.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


34

Gambar 38. Bagian akar gigi dilapisi cat kuku bening

4. Masing-masing gigi digantung di dalam wadahnya, diurutkan dan diberi kode


sesuai dengan kelompok perlakuannya, seperti yang terlihat pada gambar 39a dan
39b.

(b)

(a)
Gambar 39. (a) Gigi digantung di dalam wadahnya, (b) Gigi diurutkan dan diberi
kode

3.6.2 Perendaman dalam Larutan Kopi dan Pengukuran Warna


1. Pembuatan larutan kopi dengan menyeduh 300 gram bubuk kopi Kapal Api
dengan 300 mL (diukur dengan gelas beaker) air mendidih, kemudian diaduk
menggunakan sendok pengaduk kopi, seperti yang terlihat pada gambar 40.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


35

Gambar 40. Penyeduhan 300 gram bubuk kopi dengan 300 mL air di gelas beaker

2. Pembuatan larutan kopi sebanyak 300 mL adalah untuk 30 wadah sampel gigi yaitu
10mL untuk masing-masing sampel. Sampel gigi digantung dengan benang selama
perendaman agar seluruh permukaan mahkota sampel gigi terendam larutan kopi,
seperti yang terlihat pada gambar 41.

Gambar 41. Larutan kopi dituang sebanyak 10mL untuk masing-masing kelompok A,
B, C

3. Larutan kopi diganti setiap hari selama 12 hari. Setiap 24 jam, gigi dikeluarkan dari
wadahnya dan dibilas dengan air mengalir kemudian dikeringkan dengan tisu.
Prosedur ini diulang setiap hari selama 12 hari.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


36

(a) (b)
Gambar 42. (a) Gigi dicuci di bawah air mengalir, (b) Gigi dikeringkan dengan tisu

4. Pengukuran warna gigi dilakukan 24 jam setelah perendaman pada hari ke-12 untuk
semua sampel gigi. Warna gigi diukur menggunakan chromameter Minolta CR 400.
5. Sampel diletakkan pada permukaan yang datar dengan latar belakang putih,
kemudian tekan tombol start dari alat, dan akan diperoleh nilai L, a, dan b dari
sampel, kemudian nilai L,a,b dicatat. Nilai L berkisar dari 0 (hitam) sampai 100
(putih). Notasi a menyatakan warna kromatik campuran merah-hijau dengan nilai +a
(positif) dari 0 sampai +100 untuk warna merah, dan nilai -a (negatif) dari 0 sampai -
80 untuk warna hijau. Notasi b menyatakan warna kromatik campuran biru-kuning
dengan nilai +b (positif) dari 0 sampai +70 untuk warna kuning, dan nilai –b (negatif)
dari 0 sampai -80 untuk warna biru. L menyatakan nilai kecerahan. Semakin
terang/cerah suratu warna, semakin tinggi nilai L.

(a) (b)
Gambar 43. (a) Gigi diletakkan pada permukaan rata dan berlatar belakang putih, (b)
Bagian bukal menghadap pada ujung alat, dan tombol pada alat ditekan
untuk mengukur warna gigi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


37

3.6.3 Pembuatan Ekstrak Daun Bayam


1. Daun bayam dipetik dari tanaman bayam, daun pada pucuk tanaman tidak ikut
dipetik karena masih berupa daun muda. Daun bayam dikumpulkan sebanyak
7,5 kg kemudian disortasi. Kemudian daun bayam dicuci bersih lalu ditiriskan,
dipotong kecil-kecil dan disebar di atas kertas perkamen agar airnya terserap,
seperti yang terlihat pada gambar 44a dan 44b.

(a) (b)
Gambar 44. (a) Tanaman bayam yang hanya dipetik daunnya, (b) Daun bayam
yang telah dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil, kemudian
disebarkan di atas kertas perkamen

2. Daun bayam yang sudah bebas air dimasukkan ke dalam lemari pengering dengan
suhu 40o-50oC. Proses pengeringan dilakukan sampai daun bayam mudah
diremukkan ( 1 minggu). Bahan yang telah kering dibuat menjadi bentuk serbuk
dengan menggunakan blender hingga menjadi serbuk, seperti yang terlihat pada
gambar 45a, 45b, dan 45c.

(a) (b) (c)


Gambar 45. (a) Daun bayam dikeringkan di dalam lemari pengering, (b) Daun
bayam yang kering, (c) Daun bayam yang telah kering diblender
menjadi serbuk halus.

3. Untuk mendapatkan ekstrak daun bayam, maka dilakukan ekstraksi dengan


metode maserasi:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


38

a. Sebanyak 1,5 kg serbuk simplisia (serbuk daun bayam) dimasukkan ke dalam


wadah tertutup, kemudian ditambahkan 15 L etanol 70%, seperti yang terlihat
pada gambar 46.

Gambar 46. Serbuk daun bayam dicampurkan dengan etanol 70% di dalam
wadah tertutup

b. Larutan tersebut diaduk-aduk selama 6 jam kemudian ditutup dan didiamkan


selama 24 jam sambil sesekali diaduk.
c. Penyaringan maserat dilakukan dengan kapas dan kertas saring menggunakan
botol perkolator yang dilengkapi dengan alat untuk mengeluarkan cairan (infus
set). Cairan maserat diperoleh dengan membuka infus set dan cairan tersebut
ditampung pada wadah plastik, seperti yang terlihat pada gambar 47.

Gambar 47. Proses maserasi menggunakan botol perkolator dan infus set

d. Proses maserasi diulangi seperti di atas dengan ampas simplisia dengan


penambahan etanol 70% sebanyak ½ jumlah awal, yaitu 7,5 L. Proses
penyaringan dan penampungan maserat dilakukan seperti di atas.
e. Maserat pertama dan kedua dikumpulkan dan dicampurkan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


39

Gambar 48. Hasil maserat pertama dan kedua


4. Maserat yang diperoleh diuapkan dengan menggunakan kompor dan panci sebagai
penangas air untuk menghilangkan sisa pelarut, sehingga diperoleh ekstrak kental.
Ekstrak kental yang diperoleh sebanyak 300 mL. Kemudian pH ekstrak kental
diukur, seperti yang terlihat pada gambar 49a, 49b, dan 49c.

(a) (b) (c)


Gambar 49. (a) Maserat diuapkan dengan kompor dan panci agar dihasilkan ekstrak
kental, (b) Hasil ekstrak kental, (c) pH ekstrak yang terukur yaitu 6.

3.6.4 Perendaman Sampel dalam Ekstrak Daun Bayam


1. Sampel kelompok perendaman dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok A,
B, dan C, masing-masing 10 sampel gigi untuk kelompok perendaman selama 28
jam, 42 jam dan 56 jam dalam ekstrak daun bayam. Setiap sampel gigi direndam
dalam wadah 10 mL ekstrak daun bayam pada suhu ruangan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


40

Gambar 50. Kelompok A (perendaman daun bayam 28 jam), kelompok B


(perendaman daun bayam 42 jam), kelompok C (perendaman daun
bayam 56 jam)

2. Untuk kelompok A, sampel gigi direndam dalam ekstrak daun bayam selama 28
jam, dengan perincian setiap 2 jam per hari ekstrak daun bayam diganti dengan
yang baru/segar. Setelah setiap 2 jam, sampel gigi dikeluarkan dengan pinset dari
wadah plastik dan dicuci di bawah air mengalir dan dikeringkan dengan tisu,
seperti yang terlihat pada gambar 51a dan 51b. Pengukuran warna dilakukan 24
jam setelah sampel gigi kering pada suhu kamar.

(a) (b)
Gambar 51. (a) Gigi dicuci di bawah air mengalir, (b) Gigi dikeringkan dengan
tisu

3. Untuk kelompok B, sampel gigi direndam dalam ekstrak daun bayam selama 42
jam, dengan perincian setiap 2 jam per hari ekstrak daun bayam diganti dengan
yang baru/segar. Setelah setiap 2 jam, sampel gigi dikeluarkan dengan pinset dari
wadah plastik dan dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan dengan tisu, seperti
yang terlihat pada gambar 52a dan 52b. Pengukuran warna dilakukan 24 jam
setelah sampel gigi kering pada suhu kamar.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


41

(a) (b)
Gambar 52. (a) Gigi dicuci di bawah air mengalir, (b) Gigi dikeringkan dengan
tisu

4. Untuk kelompok C, sampel gigi direndam dalam ekstrak daun bayam selama 56
jam, dengan perincian setiap 2 jam per hari ekstrak daun bayam diganti dengan
yang baru/segar. Setelah setiap 2 jam, sampel gigi dikeluarkan dengan pinset dari
wadah plastik dan dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan dengan tisu, seperti
yang terlihat pada gambar 53a dan 53b. Pengukuran warna dilakukan 24 jam
setelah sampel gigi kering pada suhu kamar.

(a) (b)
Gambar 53. (a) Gigi dicuci di bawah air mengalir, (b) Gigi dikeringkan dengan
tisu

3.6.5 Pengukuran Warna Gigi setelah Perendaman


1. Setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam, pengukuran warna gigi
menggunakan chromameter Minolta CR 400.
2. Sampel gigi diletakkan pada wadah permukaan yang mendatar dan berlatar
belakang putih, permukaan bukal gigi menghadap ke alat, kemudian pengukuran
dimulai dengan penekanan tombol start dari alat, dan akan diperoleh nilai L, a,
dan b dari sampel, kemudian nilai L, a, b dicatat. Nilai L berkisar dari 0 (hitam)
sampai 100 (putih). Notasi a menyatakan warna kromatik campuran merah-hijau

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


42

dengan nilai +a (positif) dari 0 sampai +100 untuk warna merah, dan nilai -a
(negatif) dari 0 sampai -80 untuk warna hijau. Notasi b menyatakan warna
kromatik campuran biru-kuning dengan nilai +b (positif) dari 0 sampai +70 untuk
warna kuning, dan nilai –b (negatif) dari 0 sampai -80 untuk warna biru.

Gambar 54. Sampel gigi kelompok A diukur warnanya dengan chromameter

Gambar 55. Sampel gigi kelompok B diukur warnanya dengan chromameter

Gambar 56. Sampel gigi kelompok C diukur warnanya dengan chromameter

3. Setelah pengukuran dengan chromameter, data L, a, b untuk 30 sampel gigi dicatat.


Kemudian L, a, dan b dihitung untuk masing-masing 30 sampel gigi. E dari
30 sampel gigi tersebut dihitung dengan menggunakan rumus:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


43


dan nilai E hasil perhitungan sesuai dengan kelompok perlakuan dicatat.

3.7 Uji Data


Uji data pada penelitian ini, yaitu:
1. Uji normalitas Shapiro-Wilk untuk melihat kenormalan distribusi data karena uji
ini dipakai jika jumlah sampel lebih kecil dari 50.
2. Karena data tidak terdistribusi normal, untuk membandingkan perubahan warna
(ΔE) setelah perendaman ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam,
dilakukan uji Kruskal Wallis, dan perbandingan lebih lanjut di antara ketiga
kelompok tersebut digunakan uji lanjutan Mann-Whitney.
3. Karena data tidak terdistribusi normal, untuk membandingkan nilai kecerahan gigi
sebelum (L1) dan sesudah (L2) perendaman ekstrak daun bayam pada masing-
masing kelompok, dilakukan uji Wilcoxon.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


44

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Pengukuran Perubahan Warna Gigi


Distribusi nilai rerata L, a, b sebelum dan sesudah perendaman, serta perubahan
warna ( E) untuk kelompok perendaman ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam
dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Data Nilai Rerata L, a, b Sebelum dan Sesudah, dan Perubahan Warna ( E) Untuk
Kelompok Perendaman Ekstrak Daun Bayam 28, 42, dan 56 Jam
Kelompok Rerata Nilai L, a, b
E
Perendaman L1 L2 a1 a2 b1 b2
49,38± 50,01 ± 2,25 ± 2,60 ± 5,21 ± 4,13 ±
28 Jam 3,38±1,57
3,89 4,08 0,63 0,37 2,31 1,69
50,30 ± 52,49 ± 2,45 ± 2,08 ± 2,54 ± 6,24 ±
42 Jam 5,44±2,53
3,89 4,79 0,41 0,38 2.15 2,45
49,60 ± 56,23 ± 2,47 ± 2,01 ± 2,29 ± 5,23 ±
56 Jam 8,63±2,25
5,30 4,31 0,41 0,30 2,18 3,73
Keterangan:
L1 : nilai kecerahan sebelum perendaman ekstrak daun bayam
L2 : nilai kecerahan sesudah perendaman ekstrak daun bayam
a1 : nilai sumbu merah-hijau sebelum perendaman ekstrak daun bayam
a2 : nilai sumbu merah-hijau sesudah perendaman ekstrak daun bayam
b1 : nilai sumbu kuning-biru sebelum perendaman ekstrak daun bayam
b2 : nilai sumbu kuning-biru sesudah perendaman ekstrak daun bayam

Dari tabel 5, terlihat perbedaan nilai rerata perubahan warna gigi ( E) untuk
kelompok perendaman ekstrak daun bayam 28, 42, dan 56 jam. Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan perubahan warna pada setiap kelompok, yaitu hasil nilai
rerata dan standar deviasi pada kelompok 28, 42, dan 56 jam berturut-turut adalah 3,38 ±
1,57; 5,44 ± 2,53; 8,63 ± 2,25. Untuk memudahkan dalam melihat nilai rerata perubahan
warna gigi, digambarkan dalam grafik batang (gambar 57).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


45

12,00

Nilai Rerata Perubahan Warna Gigi


8,63
10,00
5,44
8,00

6,00
(∆E)

3,38
4,00

2,00

0,00
28 Jam 42 Jam 56 Jam
Kelompok Perendaman

Gambar 57. Grafik Nilai Rerata Perubahan Warna Gigi E) Sesudah Perendaman Dalam
Ekstrak Daun Bayam selama 28, 42, dan 56 Jam.

Dari gambar 57, dapat dilihat terdapat peningkatan perubahan warna gigi E)
seiring dengan peningkatan durasi perendaman dalam ekstrak daun bayam. Pada kelompok
56 jam, terlihat bahwa perubahan warna yang dihasilkan paling tinggi karena semakin lama
durasi perendaman, perubahan warna yang dihasilkan lebih tinggi.
Dari tabel 5, juga terlihat perbedaan nilai rerata kecerahan gigi sebelum (L1) dan
sesudah (L2) meningkat pada masing-masing kelompok perendaman ekstrak daun bayam
selama 28, 42, dan 56 jam. Nilai rerata untuk nilai kecerahan gigi sebelum (L1) dan sesudah
(L2) perendaman selama 28, 42, dan 56 jam secara berturut-turut adalah 49,38 ± 3,89 dan
50,01 ± 4,08; 50,30 ± 3,89 dan 52,49 ± 4,79; 49,60 ± 5,30 dan 56,23 ± 4,31. Untuk
memudahkan dalam melihat nilai rerata kecerahan gigi, digambarkan dalam grafik batang
(gambar 58).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


46

70,00

Niali Rata-rata Perubahan Warna Gigi


52,49 56,23
60,00
49,38 50,01 50,30 49,6
50,00

40,00 Sebelum Perendaman


Bayam (L1)
30,00
Sesudah Perendaman
20,00 Bayam (L2)

10,00

0,00
28 Jam 42 Jam 56 Jam
Waktu Perendaman

Gambar 58. Grafik Nilai Rerata Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2) Perendaman
Dalam Ekstrak Daun Bayam selama 28, 42, dan 56 Jam.

Dari gambar 58, dapat dilihat terdapat peningkatan nilai kecerahan gigi pada masing-
masing kelompok perendaman, yang artinya perubahan warna yang disebabkan oleh
perendaman ekstrak daun bayam adalah perubahan warna yang semakin terang.

4.2 Hasil Uji Data Perubahan Warna Gigi


Jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 30 sampel gigi. Karena jumlah sampel <
50, maka uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk. Berdasarkan uji normalitas Shapiro-
Wilk didapatkan bahwa data perubahan warna gigi secara keseluruhan E) sesudah
perendaman ekstrak daun bayam selama 28 , 42, dan 56 jam tidak terdistribusi normal
(p<0,05). Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Perubahan Warna Gigi E) Sesudah Perendaman


Ekstrak Daun Bayam
Waktu Perendaman p
28 jam 0,009
42 jam 0,046
56 jam 0,617

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


47

Nilai rerata perubahan warna gigi E) sesudah perendaman ekstrak daun bayam
selama 28, 42, dan 56 jam berturut-turut adalah 3,38 ± 1,57; 5,44 ± 2,53; dan 8,63 ± 2,25.
Berdasarkan uji Kruskal Wallis, ada perbedaan signifikan dari perubahan warna gigi sesudah
perendaman ekstrak daun bayam selama 28 jam, 42 jam, dan 56 jam, dengan nilai p=0,002
(p<0,05). Hasil uji Kruskal Wallis dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Tabel 7. Hasil Uji Kruskal Wallis Perubahan Warna E) Sesudah Perendaman Ekstrak
Daun Bayam selama 28 , 42, dan 56 Jam
Waktu Perendaman n Mean SD p
28 jam 10 3,387 1,575
42 jam 10 5,441 2,537 0,002*
56 jam 10 8,639 2,256
Keterangan: *terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05)

Dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney, untuk melihat kelompok mana yang memiliki
perbedaan yang bermakna. Berdasarkan uji Mann-Whitney, tidak ada perbedaan signifikan
dari perubahan warna gigi sesudah perendaman ekstrak daun bayam hijau antara selama 28
jam dengan 42 jam, dengan nilai p=0,121 (p>0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan
antara kelompok perendaman 28 jam dengan 56 jam, dengan nilai p=0,000 (p<0,05) dan
antara selama 42 jam dengan 56 jam, dengan nilai p=0,038 (p<0,05). Hasil uji Mann
Whitney dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.

Tabel 8. Hasil Uji Lanjutan Mann Whitney Perubahan Warna E) Sesudah Perendaman
Ekstrak Daun Bayam selama 28 , 42, dan 56 Jam
Waktu Perendaman p
42 jam 0,121
28 jam
56 jam 0,000*
42 jam 56 jam 0,038*
Keterangan: *terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05)

Berdasarkan uji normalitas Shapiro-Wilk didapatkan bahwa nilai kecerahan sebelum


(L1) dan sesudah (L2) perendaman ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam tidak
terdistribusi normal (p<0,05). Hasil uji Shapiro-Wilk dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


48

Tabel 9. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2)
Perendaman Ekstrak Daun Bayam Selama 28, 42, dan 56 Jam
Waktu Perendaman p
L1 0,145
28 jam
L2 0,001
L1 0,418
42 jam
L2 0,016
L1 0,618
56 jam
L2 0,003

Nilai rerata kecerahan gigi sebelum (L1) dan sesudah (L2) perendaman ekstrak daun
bayam selama 28, 42, dan 56 jam berturut-turut adalah 49,38 ± 3,89 dan 50,01 ± 4,08; 50,30
± 3,89 dan 52,49 ± 4,79; 49,60 ± 5,30 dan 56,23 ± 4,31. Berdasarkan uji Wilcoxon, terdapat
perbedaan signifikan dari nilai kecerahan gigi sebelum dan sesudah perendaman ekstrak
daun bayam selama 56 jam, dengan nilai p=0,007 (p<0,05), namun, tidak terdapat perbedaan
signifikan dari nilai kecerahan gigi antara sebelum dan sesudah perendaman ekstrak daun
bayam selama 28 jam dengan nilai p=0,285 (p>0,05), dan selama 42 jam dengan nilai
p=0,074 (p>0,05). Hasil uji Wilcoxon dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Hasil Uji Wilcoxon Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah (L2)
Perendaman Ekstrak Daun Bayam Selama 28, 42, dan 56 Jam
Waktu Sebelum Sesudah
n p
Perendaman Mean SD Mean SD
28 jam 10 49,38 3,89 50,01 4,08 0,285
42 jam 10 50,30 3,89 52,49 4,79 0,074
56 jam 10 49,60 5,30 56,23 4,31 0,007*
Keterangan: *terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


49

BAB 5

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, sampel yaitu gigi premolar pasca ekstraksi direndam dalam
larutan kopi terlebih dahulu selama 12 hari agar terjadi diskolorasi pada gigi. Larutan kopi
digunakan sebagai diskoloran karena kandungan tanin atau yang disebut juga asam tanat.29
Selanjutnya, dilakukan proses bleaching atau pemutihan gigi dengan merendam sampel gigi
ke dalam ekstrak daun bayam konsentrasi 100% dengan kelompok waktu berbeda yaitu 28
jam, 42 jam, dan 56 jam. Kemudian, perubahan warna gigi diukur dengan alat chromameter
Minolta CR 400 pada bagian bukal gigi premolar. Hasil nilai rerata dari pengukuran warna
yang dilakukan, yang dapat dilihat pada tabel 5, menunjukkan perubahan warna yang terjadi
sesudah perendaman dalam kopi selama 12 hari dan sesudah perendaman dalam ekstrak
daun bayam selama 28 jam, 42 jam, 56 jam sangat bervariasi.
Pada penelitian ini, didapatkan dari hasil uji Kruskal Wallis yang menunjukkan
bahwa ada perbedaan perubahan warna gigi E) yang signifikan antara ketiga kelompok
perlakuan yaitu kelompok perendaman 28 jam, 42 jam, dan 56 jam dalam ekstrak daun
bayam (p<0,05). Hasil uji Mann-Whitney (tabel 8) menunjukkan tidak ada perbedaan
perubahan warna E) yang signifikan antara kelompok perendaman 28 jam dengan 42 jam
(p>0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada perubahan warna kelompok
perendaman 28 jam dengan 56 jam (p<0,05), dan pada kelompok perendaman 42 jam
dengan 56 jam (p<0,05). Perbedaan yang signifikan ini dikaitkan dengan semakin lamanya
durasi perendaman dalam ekstrak daun bayam.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lumuhu dkk. (2016) yang
mendapatkan hasil bahwa jus tomat dan jus apel dapat mencerahkan warna gigi seiring
59
dengan lamanya jus berkontak dengan permukaan gigi. Penelitian lain yang juga sejalan
dengan penelitian ini dilakukan oleh Prastiwi dkk. (2016) menunjukkan hasil bahwa ekstrak
buah belimbing manis pada dasarnya semakin lama bahan berkontak dengan permukaan gigi,
maka semakin nyata perubahan warna gigi menjadi lebih terang. Hal ini dikarenakan
semakin banyak reaksi perusakan ikatan rangkap pada agen kromogen yang terjadi oleh
radikal bebas seiring bertambahnya durasi perendaman.16
Hasil pengukuran nilai kecerahan gigi sebelum (L1) dan sesudah (L2) perendaman
dalam ekstrak daun bayam selama 28, 42, dan 56 jam menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan. Hasil uji Wilcoxon (tabel 10) menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


50

dari nilai kecerahan gigi sebelum dan sesudah perendaman ekstrak daun bayam selama 56
jam (p<0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok 28 jam
(p>0,05), dan pada kelompok 42 jam (p>0,05). Ini berarti bahwa perubahan warna gigi yang
semakin terang akan signifikan pada durasi waktu 56 jam. Hal ini sejalan dengan penelitian
Prastiwi dkk. (2016) yang melihat perubahan warna gigi setelah perendaman dalam ekstrak
belimbing manis selama 56, 88, 126 jam, dan didapatkan hasil yang signifikan untuk ketiga
durasi perendaman. Ekstrak belimbing manis yang diteliti juga mengandung asam oksalat. 16
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Azizah dkk (2017) yang
menyimpulkan bahwa perendaman dalam ekstrak daun bayam selama 56 jam dapat
menghasilkan perubahan warna gigi yang semakin terang, karena kandungan asam oksalat di
dalam daun bayam. Bayam dikenal sebagai tanaman yang mengandung asam oksalat paling
tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Kandungan asam oksalat paling tinggi dapat
ditemukan pada daunnya, yaitu sekitar 39%.13 Mekanisme yang terjadi pada proses
pemutihan gigi dengan ekstrak daun bayam adalah bayam merupakan bahan pemutih gigi
yang alami karena mengandung asam oksalat. Asam oksalat adalah reduktor yang kuat.
Reaksi pemutihan yang terjadi oleh asam oksalat adalah reaksi oksidasi. Dalam reaksi
oksidasi, terjadi proses pelepasan elektron terhadap molekul organik kromofor. Elektron
tersebut kemudian akan berikatan dengan 3 molekul C tersier yang terdapat pada kromofor
pada permukaan email. Ikatan ini akan menyebabkan terganggunya konjugasi elektron pada
molekul organik sehingga menghasilkan struktur baru yang lebih terang. 55

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


51

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan yang signifikan dari perubahan warna E) gigi manusia yang
mengalami diskolorasi kopi setelah perendaman dalam ekstrak daun bayam
(Amaranthus hybridus L) dengan durasi berbeda, yaitu 28, 42, dan 56 jam, dimana
perubahan warna gigi menjadi lebih terang.
2. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari nilai kecerahan sebelum (L1) dan
sesudah (L2) pada kelompok perendaman ekstrak daun bayam (Amaranthus
hybridus L) 28 jam dan 42 jam.

6.2 Saran
Saran yang dapat diberikan:
1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal untuk penelitian
lebih lanjut.
2. Diharapkan penelitian lanjutan untuk mempertimbangkan keseragaman jenis gigi
yang digunakan dalam penelitian.
3. Diharapkan penelitian lanjutan untuk meneliti mengenai efek ekstrak daun bayam
terhadap sifat mekanis dan sifat fisik gigi yang lain.
4. Diharapkan penelitian lanjutan untuk mengetahui perubahan warna gigi dalam
penggunaan secara in vivo.
5. Diharapkan penelitian lanjutan untuk menggunakan alat spectrophotometer warna
untuk mengukur perubahan warna gigi karena alat tersebut menghasilkan hasil
pengukuran yang lebih teliti.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


52

DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin R, Herwanda, Tefani CR. Hubungan penilaian persepsi estetika oral dengan
keadaan maloklusi menggunakan Oral Subjective Index Scale (OASIS) dan Dental
Aesthetic Index (DAI). Cakradonya Dent J 2018; 10(1):10-7.
2. Boeira GF, Salas MMS, Araujo DC, Masotti AS, Correa MB, Demarco FF. Factors
influencing dental appearance satisfaction in adolescents: A cross sectional study
conducted in Southern Brazil. Braz J Oral Sci 2016; 15(1): 8-15.
3. Al-Zarea BK. Satisfaction with appearance and the desired treatment to improve
aesthetics. Int J Dent 2013; 2013: 1-7.
4. Prathap S, Rajesh H, Boloor VA, Rao AS. Extrinsic stains and management: A new
insight. J Acad Indus Res 2013; 1(8): 435-42.
5. Mehrotra V, Sawhny A, Gupta I, Gupta R. Tell tale shades of discolored teeth- A
review. Indian J Dent Sci 2014; 2(6): 95-9.
6. Mennito AS. A simple guide to tooth whitening. The Dental Learning Network,
2012: 8-10.
7. American Dental Association. Tooth whitening/bleaching: treatment considerations
for dentists and their patients. ADA Council on Scientific Affairs, 2009: 1-4.
8. Alqahtani MQ. Tooth-bleaching procedures and their controversial effects: A
literature review. Saudi Dent J 2014; 26: 33-46.
9. Abouassi T, Wolkewitz M, Hahn P. Effect of carbamide peroxide and hydrogen
peroxide on enamel surface: An in vitro study. Clin Oral Investig. 2011;15(5):
673-80.
10. Morelock TE, Correll JC. Spinach. In: Prohens J., Nuez F. (eds) Vegetables I.
Handbook of Plant Breeding, New York: Springer, 2008: 189-218.
11. Mou B. Evaluation of oxalate concentration in the US spinach germplasm collection.
Hort Sci 2008; 43(6): 1690-3.
12. Ahmed J, Ojha K, Vaidya S, Ganguli J, Ganguli AK. Formation of calcium oxalate
nanoparticles in leaves: Significant role of water content and age of leaves. Current
Sci 2012;103(3): 293-8.
13. Iskandar L, Santosa AS, Matram N. Pengaruh larutan ekstrak daun bayam
(Amaranthus Hybridus L) dan susu terhadap tingkat diskolorasi gigi akibat kopi
(eksperimental laboratorik). Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


53

14. Raditia MH. Perbedaan efektivitas pemutihan gigi menggunakan ekstrak bayam
murni, ekstrak bayam dan susu serta karbamid peroksida 10%. Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2017.
15. Azizah SA, Wijayanti N. Perbedaan efektivitas ekstrak daun bayam (Amaranthus
Tricolor L) dan hidrogen peroksida 3% terhadap proses pemutihan gigi. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2017.
16. Prastiwi CD, Wijayanti N. Perbedaan lama waktu perendaman gigi dalam ekstrak
buah belimbing manis (Averrhoa carambola) terhadap perubahan warna gigi.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2016.
17. O’Brien WJ. Dental material and their selection. 3 rd ed., Chicago: Quintessence Publ
Co., 2002: 166-8.
18. Scheid RC, Weiss G. Woelfel Anatomi Gigi. Alih Bahasa. Siswasuwignya P, Yusuf
HY, Lubis S. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2011: 11-3.
19. Fehrenbach MJ, Popowics T. Illustrated dental embryology, histology and anatomy.
4th ed., Missouri: Elsevier Saunders, 2016: 147-57.
20. Nasution AI. Jaringan keras gigi aspek mikrostruktur dan aplikasi riset. Banda Aceh:
Syiah Kuala University Press, 2016: 7-42.
21. Jyothi M, Girish K, Mounika A, Jyothirmayi BS, Bhargav K, Sonam A. Conservative
management of discoloured anterior teeth- A case series. Sch J Dent Sci 2016; 3(2):
58-62.
22. Ariana TR, Wibisono G, Praptiningsih RS. Pengaruh perasan buah lemon terhadap
peningkatan warna gigi. Medali J 2015; 2(1):74-8.
23. Grossman LI, Oliet S, dan Del Rio CE. Ilmu endodontik dalam praktek. 11th ed. Alih
Bahasa: Suryono S. Jakarta: EGC, 1995: 295-301.
24. Nakhaei M, Ghanbarzadeh J, Amirinejad S, Alavi S, Rajatihaghi H. The influence of
dental shade guides and experience on the accuracy of shade matching. J Contemp
Dent Practic 2016; 17(1):22-6.
25. Kapadia Y, Jain V. Tooth staining: A review of etiology and treatment modalities.
Acta Scientific Dental Sciences 2018; 2(6): 67-70.
26. Hendari R. Pemutihan gigi (tooth-whitening) pada gigi yang mengalami pewarnaan.
Sultan Agung 2009; 44(118): 65-77.
27. Mortazavi H, Bahravand M, Khodadoustan A. Colors in tooth discoloration: A new
classification and literature review. Int J Clin Dent 2014; 7(1): 17-28.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


54

28. Manuel ST, Abhishek P, Kundabala M. Etiology of tooth discoloration- A review.


Nig Dent J 2010; 18(2): 56-63.
29. Hecimovic I, Belscak-Cvitanovic A, Horzic D, Komes D. Comparative study of
polyphenols and caffeine in different coffee varieties affected by the degree of
roasting. Food Chemistry 2011: 991-1000.
30. Prasetyo EA. Keasaman minuman ringan menurunkan kekerasan permukaan gigi.
Maj Ked Gigi 2015; 28(2): 60-3.
31. Perdigao J, ed. Tooth whitening—An evidence based perspective. Minneapolis:
Springer, 2016: 24-9.
32. Strassler HE. The science and art of tooth whitening. ADA Cerp, 2009.
33. Rosidah NA, Erlita I, Ichrom MY. Perbandingan efektivitas jus buah apel (Malus
Syvestris Mill) sebagai pemutih gigi alami eksternal berdasarkan varietas. Jur Ked Gi
2017; 1(1): 1-5.
34. Fauziah C, Fitriyani S, Diansari V. Colour change of enamel after application of
Averrhoa bilimbi. J Dent Indonesia 2012; 19(3): 53-6.
35. Margaretha Juwita, Devi Rianti, Asti Meizarini. Perubahan warna enamel gigi setelah
aplikasi pasta buah stroberi dan gel karbamid peroksida 10%. Material Dental
Journal 2009; 1(1): 16-20.
36. Hartanto A, Rianti D, Meizarini A. Aplikasi pasta stroberi sebagai material bleaching
terhadap perubahan warna dan kekerasan permukaan enamel. JMKG 2012; 1(1): 7-
14.
37. Mulky IH, Rania N, Kusuma N, Tsabitha SF. The influence of tomato juice as an
alternative treatment to whiten the teeth. Indonesian Scholars J, 2014.
38. Feliz-Matos L, Hernandez LM, Abreu N. Dental bleaching technique: Hydrogen-
carbamide peroxides and light sources for activation, an update. Open Dentistry J
2014; 8: 264-8.
39. Jakfar S. Pengaruh agen aktif bleaching terhadap jaringan keras dan lunak mulut
serta bahan restorasi kedokteran gigi. Cakradonya Dent J, 2009 ; 2(1): 62-4.
40. Borges et al. Sensitivity in dental bleaching and the use of anti-inflammatory agents.
JSM Dent 2014; 2(1): 1-4.
41. Goldstein RE, Garber DA. Compelete dental bleaching. Chicago: Quintessence Book
1995: 42-4.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


55

42. Singh JKM, Sengut M, Halim MS, Ab-Ghani Z, Rahman NA. Safety comparison of
over the counter bleaching agent with professionally prescribed home bleaching
agent. Eur J Gen Dentistry 2018; 7(2): 35-40.
43. Demarco FF, Meireles SS, Masotti AS. Over-the-counter whitening agents: A
concise review. Braz Oral Res 2009; 23(1): 64-70.
44. Nakhaei M, Ghanbarzadeh J, Keyvanloo S, Alavi S, Jafarzadeh H. Shade matching
performance of dental students with three various lighting conditions. J Contemp
Dent Practice 2013; 14(1): 100-3.
45. Mount GJ, Hume WR. Preservation and restoration of tooth structure. London:
Mosby; 1998.p.2-6, 13-14.
46. de Almeida ACAG, Riehl R, dos Santos PH, Sunfeld LMM, Briso PLF. Clinical
evaluation of the effectiveness of different bleaching therapies in vital teeth. Int J
Perio Rest Dent 2012; 32(2): 303-9.
47. Igiel C, Weyrauch M, Wentaschek S, Scheller H, Lehmann KM. Dental color
matching: A comparison between visual and instrumental methods. Dent Materials J
2016; 35(1):63-9.
48. Padiyar N, Kaurani P. Colour stability: An important physical property of esthetic
restorative materials. Int J Clin Dent Sci 2010; 1(1): 81-4.
49. Khashayar G, Dozic A, Kleverlaan CJ, Feilzer AJ. Data comparison between two
dental spectrophotometers. Operative Dentistry 2012; 37(1): 12-20.
50. Konica Minolta Singapore Pte Ltd. Konica Minolta CR-10 Tristimulus Colorimeter
2017. http://sensing.konicaminolta.asia/products/cr-10-color-reader/ (1 September
2018)
51. Ramdani DY. Bayam Jadi Pilihan Usaha. Bandung. PT. Sarana Ilmu Pustaka, 2010:
17-24.
52. Rukmana. Bayam Bertanam dan Pengolahan Pasca Panen. Yogyakarta. Kanisius,
2010: 9-18.
53. Zipporah CM. Chemical compositions and antimicrobial activity of Amaranthus
hybridus, Amaranthus caudatus, Amaranthus spinosus, Corriandrum sativum
(Thesis). Njoro: Egerton University, 2008: 1-6.
54. Akubugwo IE, Obasi NA, Chinyere GC, Ugbogu AE. Nutritional and chemical value
of Amaranthus hybridus L from Afikpo, Nigeria. Afr J Biotechnol 2007; 6(24):
2833-9.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


56

55. Lerner BW, Lerner KL (eds). The Gale Encyclopedia of Science, Chicago: Gale
Cengage Learning, 2006: 2024.
56. Anonim. Oxidizing and reducing agents. https://chemed.chem.purdue.edu/ (22 Mei
2019).
57. Georgiades C. Tooth whitening composition and method employing dicarboxylic
acid whitening agent. United States: Patent Application Publication, 2002: 1-9.
58. Secilmis A, Dilber E, Ozturk N, Yilmaz FG. The effect of storage solutions on
mineral content of enamel. Materials Sci Applic 2013; 4: 439-45.
59. Prihanti GS. Pengantar biostatistik. Malang: UMM Press, 2016:17-8.
60. Kemenkes RI. Farmakope Herbal Indonesia Ed.I Suplemen II, Kemenkes RI., Jakarta,
2013: 25-32.
61. Lumuhu EFS, Kaseke MM, Parengkuan WG. Perbedaan efektivitas jus tomat
(Lucopersicon esculentum Mill.) dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) sebagai bahan
alami pemutih gigi. Jurnal eG 2016; 4(2): 83-9.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 1. Kerangka Teori

Warna Gigi

Faktor intrinsik Faktor ekstrinsik


 Bahan tambalan  Oral hygiene buruk
 Karies  Diet (Kopi)
 Trauma  Kebiasaan
 Infeksi  Mikroorganisme
 Obat sistemik  Faktor pekerjaan
 Fluor berlebihan  Obat topikal dan
 Defisiensi nutrisi sistemik
 Penyakit genetik

Diskolorasi
Gigi

Bleaching

Bahan bleaching

Hidrogen Karbamid Tanaman bayam

Peroksida Peroksida (Amaranthus hybridus L)

Kandungan
asam oksalat

Sifat oksidator

Perubahan warna gigi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 2. Kerangka Konsep

Gigi

Diskolorasi

Ekstrak daun bayam


(Amaranthus hybridus L)
100%

Kandungan
asam oksalat

Sifat oksidator

Perubahan warna gigi


permanen manusia

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 3. Alur Penelitian

Kelompok A Kelompok B Kelompok C

Sampel gigi premolar Sampel gigi premolar Sampel gigi premolar


permanen 10 buah permanen 10 buah permanen 10 buah

Perendaman di Perendaman di Perendaman di


dalam kopi selama dalam kopi selama dalam kopi selama
12 hari 12 hari 12 hari

Pengukuran warna Pengukuran warna Pengukuran warna


gigi diukur dengan gigi diukur dengan gigi diukur dengan
chromameter chromameter chromameter
(L1, a1, b1) (L1, a1, b1) (L1, a1, b1)

Pembuatan ekstrak Pembuatan ekstrak Pembuatan ekstrak


daun bayam 100% daun bayam 100% daun bayam 100%

Perendaman 6 Perendaman 6 Perendaman 6


sampel gigi dalam sampel gigi dalam sampel gigi dalam
ekstrak daun ekstrak daun ekstrak daun
bayam 100% bayam 100% bayam 100%
selama 28 jam selama 42 jam selama 56 jam

Pengukuran warna Pengukuran warna Pengukuran warna


gigi diukur dengan gigi diukur dengan gigi diukur dengan
chromameter chromameter chromameter
(L2, a2, b2) (L2, a2, b2) (L2, a2, b2)

Data dihitung Data dihitung Data dihitung


(ΔE) (ΔE) (ΔE)

Data pada kelompok A, kelompok B, kelompok C dibandingkan dan dilakukan


analisis data

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 4. Lembar Penjelasan Calon Subjek Penelitian

LEMBAR PENJELASAN CALON SUBJEK PENELITIAN


Salam Hormat, Saya yang bernama Kristin Halim, mahasiswi Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara, ingin melakukan penelitian tentang ―PERUBAHAN
WARNA GIGI MANUSIA YANG MENGALAMI DISKOLORASI KOPI SETELAH
PERENDAMAN DALAM EKSTRAK DAUN BAYAM (Amaranthus hybridus L)
DENGAN DURASI BERBEDA‖. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
perubahan warna gigi manusia yang mengalami diskolorasi kopi setelah perendaman dalam
ekstrak daun bayam dengan durasi berbeda, yaitu selama 28 jam, 42 jam, dan 56 jam.
Penampilan gigi merupakan fitur penting dalam menemukan daya tarik wajah dan
akan berperan penting dalam interaksi sosial manusia dan mempengaruhi karier seseorang.
Perubahan warna gigi akan menurunkan kepercayaan diri, mengurangi keindahan
penampilan dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Penelitian ini akan bermanfaat
untuk masyarakat dalam merubah warna gigi menjadi lebih putih dengan menggunakan
bahan alami yang murah, mudah didapatkan di lingkungan sekitar kita dan relatif aman
untuk digunakan, yaitu ekstrak daun bayam.
Proses penelitian memerlukan gigi Bapak/Ibu yang telah dicabut dan masih dalam
keadaan sehat (tanpa lubang). Jika Bapak/Ibu bersedia, Bapak/Ibu dapat mengisi identitas
Bapak/Ibu, kemudian Bapak/Ibu dapat meninggalkan gigi yang telah dicabut kepada dokter
gigi yang merawat. Lembar Persetujuan Menjadi Subjek Penelitian yang terlampir harap
ditandatangani dan diberikan kepada dokter gigi yang merawat. Perlu diketahui bahwa surat
ketersediaan tersebut tidak mengikat dan identitas Bapak/Ibu akan dirahasiakan.
Demikian penjelasan dari saya, atas partisipasi dan ketersediaan waktu Bapak/Ibu,
saya ucapkan terima kasih.

Peneliti,

Kristin Halim

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 5. Lembar Persetujuan setelah Penjelasan

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN


(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Dokter Gigi yang merawat:
Setelah membaca dan mendapatkan penjelasan serta memahami sepenuhnya apa yang akan
dilakukan dan didapatkan pada penelitian yang berjudul: ―PERUBAHAN WARNA GIGI
MANUSIA YANG MENGALAMI DISKOLORASI KOPI SETELAH
PERENDAMAN DALAM EKSTRAK DAUN BAYAM (Amaranthus hybridus L)
DENGAN DURASI BERBEDA‖.
Maka saya menyatakan bersedia ikut berpartisipasi menjadi salah satu subjek penelitian ini
yang diketahui oleh Kristin Halim sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara secara sadar dan tanpa paksaan, dengan catatan apabila suatu ketika saya
merasa dirugikan dalam bentuk apapun berhak membatalkan persetujuan ini.

Medan,………………………………………………………………………………………….
Yang menyetujui,
Subjek penelitian

(……………………………………………………………………………………………......)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 6. Data Hasil Pengukuran Warna

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 7. Output Uji Normalitas Data Perubahan Warna Gigi E) Sesudah
Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.

perubahan warna perendaman 28 jam .329 10 .003 .784 10 .009

perendaman 42 jam .272 10 .035 .842 10 .046


*
perendaman 56 jam .217 10 .200 .946 10 .617

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

Data normal, p>0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 8. Output Uji Kruskal Wallis Perubahan Warna Gigi E) Sesudah
Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum

perubahan warna 30 5.8223 3.02986 1.31 12.77

kelompok 30 2.0000 .83045 1.00 3.00

Uji Kruskal Wallis


Ranks

kelompok N Mean Rank

perubahan warna perendaman 28 jam 10 8.80

perendaman 42 jam 10 14.80

perendaman 56 jam 10 22.90

Total 30

a,b
Test Statistics

perubahan
warna

Chi-Square 12.930

df 2

Asymp. Sig. .002

a. Kruskal Wallis Test

b. Grouping Variable: kelompok

Signifikan pada p<0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 9. Output Uji Mann Whitney Perubahan Warna Gigi E) Sesudah
Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam

Uji Mann-Whitney pada Kelompok Perendaman 28 Jam dan 56 Jam


Ranks

kelompok N Mean Rank Sum of Ranks

perubahan warna perendaman 28 jam 10 8.45 84.50

perendaman 42 jam 10 12.55 125.50

Total 20

b
Test Statistics

perubahan
warna

Mann-Whitney U 29.500

Wilcoxon W 84.500

Z -1.550

Asymp. Sig. (2-tailed) .121


a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .123

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: kelompok

Signifikan pada p<0,05

Uji Mann-Whitney pada Kelompok Perendaman 28 Jam dan 56 Jam


Ranks

kelompok N Mean Rank Sum of Ranks

perubahan warna perendaman 28 jam 10 5.85 58.50

perendaman 56 jam 10 15.15 151.50

Total 20

b
Test Statistics

perubahan
warna

Mann-Whitney U 3.500

Wilcoxon W 58.500

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Z -3.516

Asymp. Sig. (2-tailed) .000


a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: kelompok

Signifikan pada p<0,05

Uji Mann-Whitney pada Kelompok Perendaman 42 Jam dan 56 Jam


Ranks

kelompok N Mean Rank Sum of Ranks

perubahan warna perendaman 42 jam 10 7.75 77.50

perendaman 56 jam 10 13.25 132.50

Total 20

b
Test Statistics

perubahan
warna

Mann-Whitney U 22.500

Wilcoxon W 77.500

Z -2.080

Asymp. Sig. (2-tailed) .038


a
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .035

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: kelompok

Signifikan pada p<0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 10. Output Uji Normalitas Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah
(L2) Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.


*
sebelum perendaman 28 jam .185 10 .200 .884 10 .145

sesudah perendaman 28 jam .300 10 .011 .690 10 .001


*
sebelum perendaman 42 jam .168 10 .200 .927 10 .418

sesudah perendaman 42 jam .300 10 .011 .804 10 .016


*
sebelum perendaman 56 jam .175 10 .200 .946 10 .618

sesudah perendaman 56 jam .336 10 .002 .740 10 .003

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

Data normal, p>0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 11. Output Uji Wilcoxon Nilai Kecerahan Gigi Sebelum (L1) dan Sesudah
(L2 ) Perendaman dalam Ekstrak Daun Bayam

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum

sebelum perendaman 28 jam 10 49.3870 3.89744 45.00 58.45

sebelum perendaman 42 jam 10 50.3040 3.89567 45.23 56.24

sebelum perendaman 56 jam 10 49.6070 5.30465 40.18 58.45

sesudah perendaman 28 jam 10 50.0100 4.08318 46.99 60.84

sesudah perendaman 42 jam 10 52.4910 4.79129 47.47 58.86

sesudah perendaman 56 jam 10 56.2350 4.31446 45.72 59.76

Uji Wilcoxon

b
Test Statistics

sesudah sesudah sesudah


perendaman 28 perendaman 42 perendaman 56
jam - sebelum jam - sebelum jam - sebelum
perendaman 28 perendaman 42 perendaman 56
jam jam jam
a a a
Z -1.070 -1.784 -2.703

Asymp. Sig. (2-tailed) .285 .074 .007

a. Based on negative ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Signifikan p<0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 12. Lembar Persetujuan yang Telah Ditandatangani

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 13. Surat Keterangan Selesai Penelitian

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 14. Surat Keterangan Selesai Penelitian

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 15. Ethical Clearance

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 16. Surat Pernyataan Olah Data

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA