CRS (Case Report Session)
*Kepanitraan Klinik Senior/G1A218069
** Pembimbing dr. Yunaldi Sp. THT
OTOMIKOSIS
Ricco Firmansyah, S.Ked*
dr.Yunaldi Sp. THT
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN BAGIAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI
2020
HALAMAN PENGESAHAN
CASE REPORT SESSION (CRS)
OTOMIKOSIS
Disusun Oleh :
Ricco Firmansyah, S.Ked
G1A218069
Kepaniteraan Klinik Senior
Bagian THT-KL
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi
Rsud Raden Mattaher Provinsi Jambi
Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan
Pada Maret 2020
PEMBIMBING
dr. Yunaldi Sp. THT
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Case
Report Session yang berjudul OTOMIKOSIS sebagai kelengkapan persyaratan
dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Bagian THT-KL di Rumah Sakit Umum
Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Yunaldi Sp. THT yang telah
bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing penulis selama
menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Bagian THT-KL di Rumah Sakit Umum
Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena
itu kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan guna
kesempurnaan laporan CRS ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca.
Jambi, Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Otomikosis adalah infeksi jamur yang melibatkan pinna dan kanalis
auditorius eksternus, namun dengan adanya perforasi membran timpani, juga
dapat melibatkan telinga tengah.Karakteristik otomikosis berupa peradangan,
gatal, otalgia, otore, rasa penuh di telinga, gangguan pendengaran dan
tinnitus. Kasus otomikosis yang disertai perforasi membran timpani, infeksi
telinga tengah dan keterlibatan infeksi tulang temporal, sering berhubungan
dengan kondisi pasien yang mengalami imunosupresi1,2,3.
Penyebab otomikosis pada umumnya adalah spesies jamur saprofitik
yang banyak terdapat di alam dan merupakan sebagian dari flora komensal
pada kanalis auditorius normal.Spesies terbanyak adalah Aspergillus dan
Candida. Aspergillus niger memproduksi koloni hitam yg
memberikangambaran “pepper” like sedangkan Candida albicans dan
Aspergillusfumigatus memberi gambaran klasik seperti fluffy white
discharge.4
Kejadian otomikosis banyak ditemukan di daerah iklim tropis dan
subtropis yang lembab. Prevalensi otomikosis 9%-22,7% dari total kasus
otitis externa, dan 30% pada pasien dengan gejala keluarnya cairan pada
telinga.5
Distribusi jenis jamur pada otomikosis tergantung lokasi geografis.
Walaupun jarang menimbulkan bahaya, keberadaannya memberi tantangan
dan rasa frustasi pada pasien dan ahli THT karena memerlukan follow up dan
pengobatan jangka panjang yang disebabkan oleh tingginya angka
rekurensi.5,6
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y
Umur : 45 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Mendalo
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pekerjaan orang tua :-
Pendidikan pasien : SMA
Pendidikan orang tua :-
Tanggal pemeriksaan : 5 Februari 2020
2.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama
Gatal dan rasa penuh pada telinga kanan sejak 1 bulan yll
Riwayat Perjalanan Penyakit
Pasien datang dengan keluhan telinga kanan gatal disertai rasa penuh sejak 1
bulan yll.Gatal dirasa setiap saat, pasien mengaku mengorek telinga namun
keluhan gatal tidak berkurang.Pasien juga mengaku terdapat cairan yang
keluar dari telinga kanan, cairan yang keluar berwarna bening kekuningan,
keluhan ini hilang timbul. Pasien mengaku pada telinga kanan kurang peka
dalam mendengar, keluhan ini dirasakan terjadi setelah telinga gatal dan
dirasa penuh.
Riwayat Pengobatan
± 1 hari SMRS pasien menggunakan obat tetes telinga yang dibeli di apotek,
pasien tidak mengingat nama obatnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan serupa (-)
Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan yang sama dengan pasien disangkal.
TELINGA HIDUNG TENGGOROK LARING
Gatal : +/+ Rinore : -/- Sukar Menelan : - Suara parau : -
Dikorek : +/+ Buntu : -/- Sakit Menelan : - Afonia : -
Nyeri :-/- Bersin Trismus :- Sesak napas : -
Bengkak : +/- * Dingin/Lembab : - Ptyalismus : - Rasa sakit :
Otore : +/- * Debu Rumah :- Rasa Ngganjal : - Rasa ngganjal :
-
Tuli : +/- Berbau : -/- Rasa Berlendir : -
Tinitus : -/- Mimisan : -/- Rasa Kering : -
Vertigo : - Nyeri Hidung : -/-
Mual :- Suara sengau : -
Muntah : -
2.3 PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran : compos mentis
Pernapasan : 20 x/i
Suhu : 36,6 °C
Nadi : 79x/i
TD : 110/80 mmHg
Anemia : -/-
Sianosis : -/-
Stridor inspirasi : -/-
Retraksi suprasternal : -
Retraksi interkostal : -/-
Retraksi epigastrial : -/-
a) Telinga
Daun Telinga Kanan Kiri
Anotia/mikrotia/makrotia - -
Keloid - -
Perikondritis - -
Kista - -
Fistel - -
Ott hematoma - -
Liang Telinga Kanan Kiri
Atresia - -
Serumen + +
Sekret + -
Epidermis prop - -
Jaringan granulasi - -
Exositosis - -
Osteoma - -
Furunkel - -
Tampak debris berwarna putih kekuningan pada telinga kanan
Membrana Timpani Kanan Kiri
Hiperemis - -
Retraksi - -
Bulging - -
Atropi - -
Perforasi - -
Bula - -
-
Sekret -
+
Refleks Cahaya +
Retro-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -
Pre-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -
Tuba Eustachii
Kanan Kiri
Valsalva Test + +
Politzer + +
b) Hidung
Rinoskopi Anterior Kanan Kiri
Vestibulum nasi Hiperemis (-), secret (+) Hiperemis (-), secret (-)
Sekret (+), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),
Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)
Selaput lendir DBN DBN
Septum nasi Deviasi (-), luka (-) Deviasi (-), luka (-)
Lantai + dasar
DBN DBN
hidung
Konka inferior Hipertrofi (-), hiperemis (-), Hipertrofi (-), hiperemis(-),
Meatus nasi inferior DBN DBN
Konka Media Hipertrofi (-), hiperemis (-), Hipertrofi (-), hiperemis (-)
Meatus nasi media DBN DBN
Massa - -
Rinoskopi
Kanan Kiri
Posterior
Sekret (-), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),
Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)
Selaput lendir DBN DBN
Koana DBN DBN
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Hiperemis (-), livide (-), Hiperemis (-), livide (-),
Konka superior
hipertrofi (-) hipertrofi (-)
Meatus nasi media DBN DBN
Muara tuba - -
Adenoid - -
Massa - -
Transiluminasi
Kanan Kiri
Sinus
Tidak dilakukan
c) Mulut
Hasil
Selaput lendir mulut DBN
Bibir Sianosis (-)
Lidah Atropi papil (-), tumor (-)
Gigi Lengkap, DBN
Kelenjar ludah DBN
d) Faring
Hasil
Uvula Bentuk normal, terletak ditengah
Palatum mole hiperemis (-), benjolan (-)
Palatum durum Hiperemis (-), benjolan (-)
Plika anterior Hiperemis (-)
Dekstra : tonsil T2, hiperemis (-), permukaan
rata, kripta tidak melebar detritus (-)
Tonsil
Sinistra : tonsil T2, hiperemis (-), permukaan
rata, kripta tidak melebar detritus (-)
Plika posterior Hiperemis (-)
Mukosa orofaring Hiperemis (-), granula (-)
e) Laringoskopi indirect
Hasil
Pangkal lidah Tonsil lingual hiperemis (-)
Epiglotis Hiperemis (-), granula (-)
Sinus piriformis DBN
Aritenoid DBN
Sulcus aritenoid DBN
Corda vocalis DBN
Massa Tidak ada
f) Kelenjar Getah Bening Leher
Kanan Kiri
Regio I DBN DBN
Regio II DBN DBN
Regio III DBN DBN
Regio IV DBN DBN
Regio V DBN DBN
Regio VI DBN DBN
area Parotis DBN DBN
Area postauricula DBN DBN
Area occipital DBN DBN
Area supraclavicula DBN DBN
g) Pemeriksaan Nervi Craniales
Kanan Kiri
Nervus I Hiposmia DBN
Nervus II 1/˜ 1/˜
Diameter 3 mm, bentuk Diameter 3 mm,
Nervus III, IV, VI
pupil bulat bentuk pupil bulat
Nervus V DBN DBN
NervusVII DBN DBN
Nervus VIII
Nervus IX Uvula simetris, reflex muntah (+)
Nervus X Uvula simetris, reflex muntah (+)
Nervus XI M. sternocleidomastoideus dan M. trapezius DBN
Nervus XII DBN
2.4 PEMERIKSAAN AUDIOLOGI
Tes Pendengaran Kanan Kiri
Tes rinne + +
Tes weber Lateralisasi ke telinga kiri
Sama dengan
Tes schwabach Memanjang
pemeriksa
Kesimpulan: tuli sensorineural
2.5 DIAGNOSIS
Otomikosis
2.6 DIAGNOSIS BANDING
1. Otitis media akut
2. Otitis media supuratif kronis
2.7 PENATALAKSANAAN
Terapi
Pada pasien ini terdapat sekret sehingga dilakukan ear toilet untuk
membersihkan
Diberikan salep telinga klotrimazole 1%
Monitoring
Minta pasien untuk kontrol ulang dalam 1-2 hari ke depan. Lihat apakah ada
perbaikan dari keluhan yang dialami pasien.
KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
1. Menjelaskan kepada pasien mengenai tujuan dan manfaat dari pengobatan
yang diberikan kepada pasien.
2. Memberitahu kepada pasien akan pentingnya follow up dan terapi yang
adekuat untuk penyakitnya.
3. Memberitahukan kepada pasien untuk menutup telinga ketika mandi untuk
mencegah telinga menjadi lembab dan tidak lagi mengorek telinga.
2.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TELINGA
A. ANATOMI
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu
telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.Telinga luar terdiri
dari aurikula, kanalis auditorius eksternus hingga lapisan epitel
membran timpani. Aurikula dan kanalis auditorius eksternus
mengandung tulang rawan elastis yang berasal dari mesoderm dan
sedikit jaringan subkutan, yang ditutupi oleh kulit dengan kelenjar
pelengkapnya.12
Aurikula merupakan tulang rawan elastis yang simetris
secara bilateral.Lekukan utama aurikula terdiri dari heliks,
antiheliks, tragus, antitragus, dan konka.Heliks merupakan lingkaran
aurikula terluar yang besar.Heliks berakhir di inferior pada lobulus,
satu-satunya bagian aurikula yang tidak disangga oleh tulang
rawan.Konka aurikula adalah bagian tengah aurikula yang bergaung,
dan kanalis auditorius eksternus berjalan mulai dari daerah ini.
Elevasi di anterior pada pembukaan kanalis auditorius eksternus,
yang terletak di depan konka adalah tragus. Elevasi lain yang
berlawanan dengan tragus, dan terletak di atas lobulus adalah
antitragus. Lingkaran berlekuk yang lebih kecil, paralel dan terletak
anterior dari heliks adalah antiheliks. Aurikula berhubungan dengan
banyak otot-otot intrinsik dan ekstrinsik.9
Seluruh kanalis auditorius eksternus dilapisi oleh epitel
skuamosa berlapis dengan keratinisasi, yang lebih tebal di bagian
tulang rawan (0,5 sampai 1 mm) dibandingkan bagian osseus (0.2
mm). Pada kanalis auditorius eksternus bagian tulang rawan terdiri
dari lapisan epidermis dengan papillanya, dermis dan subkutan
melekat dengan perikondrium.Lapisan kulit kanalis auditorius
eksternus bagian tulang tidak mengandung papilla, melekat erat
dengan periosteum tanpa lapisan subkutan, berlanjut menjadi
lapisan luar dari membran timpani dan menutupi sutura antara
tulang timpani dan tulang skuama. Kulit ini tidak mengandung
kelenjar dan rambuT.8
Kanalis auditorius eksternus dapat dibagi menjadi dua
bagian.40% bagian luar merupakan tulang rawan dan mengandung
lapisan tipis jaringan subkutan antara kulit dan tulang rawan.Kulit
bagian tulang rawan kanalis mengandung banyak sel-sel rambut dan
kelenjar-kelenjar sebasea dan apokrin seperti kelenjar
serumen.Ketiga struktur ini bersama-sama memberikan fungsi
protektif dan disebut sebagai unit apopilosebasea. Sekresi dari
kelenjar ini, dikombinasikan dengan lapisan keratin deskuamasi dari
stratum korneum, membentuk asam (pH 6,0-6,5), mantel lilin dari
cerumen yang berfungsi sebagai penghalang terhadap infeksi dan
luka pada kulit. 60% bagian dalam merupakan tulang, dibentuk
terutama oleh anulus timpani, dan mengandung jaringan lunak yang
sangat sedikit.Oleh sebab itu, kulit bagian tulang kanalis tidak
mengandung kelenjar-kelenjar dan sel-sel rambut. Panjang rata-rata
kanalis auditorius eksternus orang dewasa adalah 2,5 cm. Pertemuan
bagian kartilago dan bagian tulang kanalis merupakan bagian yang
menyempit yang disebut isthmus.7
Kanalis melekuk sedikit di superior dan posterior dalam bentuk huruf
S dari lateral ke medial. Aurikula perlu ditarik secara halus ke arah atas,
keluar dan ke bawah untuk meluruskan kanalis pada pemeriksaan. Ada tiga
mekanisme perlindungan makroskopis yang melindungi kanalis auditorius
eksternus dan permukaan lateral membran timpani : tragus dan antitragus,
kulit dengan lapisan serumennya, dan isthmus kanalis auditorius eksterna.
Lapisan serumen secara bertahap berpindah melewati isthmus ke bagian
lateral kanalis dan mengelupas di luar.7
Kanalis auditorius eksternus merupakan struktur yang normalnya
dapat melindungi dan membersihkan diri sendiri.Epitel kanalis auditorius
eksterna mempunyai kapasitas untuk bermigrasi ke lateral, yang
memungkinkan kanalis tetap tidak terobstruksi oleh debris. Kecepatan
migrasi epitel adalah 0,07 mm/hari dan terjadi pada lapisan sel basal. Gerak
saluran telinga yang disediakan oleh gerakan mengunyah biasa bersama-
sama dengan proses proliferasi epitel dan migrasi lateral yang mendorong
serumen ke luar dengan caraself-cleansing.8
B. Vaskularisasi
Telinga luar mendapatkan suplai darah dari cabang arteri carotis
eksterna, adapun vaskularisasi bagian anterior dari a . Auriculo temporalis (a.
temporalis superficialis), bagian posterior dari a. Auricularis posterior,
bagian medial dari a. Auricularis profunda ( a. maxillaris )7.
C. Inervasi
Persarafan telinga luar terdiri dari Nervus auricularis mayor cabang
nervus spinalis C2-C3 yang menginervasi kulit auricula dan 1/3 lateral kulit
diatas permukaan prosesus mastoideus. Nervus occipitalis minor (bag C2)
menginervasi kulit auricula 1/3 posterior. Nervus auriculo temporalis
merupakan cabang N. V (trigeminus) yang menginervasi kulit auricula 2/3
anterior, 1/2 bag anterior KAE dan membrana timpani. Nervus tympanicus,
cabang dari N IX (N glosopharyngeus) yang menginervasi permukaan luar
membran timpani. Nervus Arnold cabang dari nervus vagus (N. X) yang
menginervasi sebagian kecil auricula, 1/2 bagian posterior kanalis auditorius
eksternus dan membran timpani9,10.
D. Limfonodi
Aliran limfe kanalis auditorius eksternus merupakan jalur penting
untuk penyebaran infeksi. Kelenjar limfe telinga luar terdiri dari tiga bagian
yaitu : 1) Limfonodi parotis superfisialis yang menerima aliran kelenjar
limfe dari daerah tragus dan bagian anterior aurikula, 2) Limfonodi
retroaurikuler yang menerima aliran kelenjar limfe dari posterior dan kranial
aurikula, 3) Limfonodi cervikalis superfisialis yang menerima aliran kelenjar
limfe dari daerah lobulus7,9,10.
2.2 OTOMIKOSIS
A. Definisi
Otomikosis adalah infeksi jamur pada kulit liang telinga luar.
Walaupunjamur bisa menjadi agen penyebab primer, jamur biasanya
juga menyertai infeksi bakteri kronis di liang telinga luar atau telinga
tengah.2
B. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Beberapa penulis menyatakan bahwa jenis Aspergillus dan Candida
banyak ditemukan pada pasien-pasien dengan otomikosis. Jenis yang
lain seperti Mucor, Fusarium, Scedosporium, Hendersonula,
Rhodotorula, dan Cryptococcus jarang menyebabkan otomikosis.
Jamur dari jenis Monilial dandermatophyta (Trichophyton ssp,
Microsporum spp, dan Epidermophytonfloccosum) diduga juga
berhubungan dengan kejadian otomikosis.13
Selain adanya agen penyebab yaitu jamur, kejadian otomikosis juga
berhubungan dengan berbagai macam faktor predisposisi. Faktor
lingkungan terdiri dari suhu dan kelembaban. Faktor lokal termasuk
infeksi kronik pada telinga, penggunaan tetes telinga, penggunaan
steroid, adanya infeksi jamur pada bagian tubuh lainnya seperti
dermatomikosis atau vaginitis, gangguan fungsi imunitas, malnutrisi
dan perubahan hormonal tubuh yang dapat memicu timbulnya infeksi
seperti pada keadaan menstruasi ataupun pada wanita hamil.
Otomikosis meningkat pada iklim panas dan lembab karena kondisi ini
sangat sesuai untuk proses pertumbuhan jamur. Kondisi panas dan
lembab jugaberpengaruh pada permukaan epitel liang telinga karena
dalam kondisi ini liang telinga lebih banyak menyerap air sehingga
sangat rentan terhadap infeksi.15
C. Patogenesis
Pada kondisi normal, terdapat berbagai mikroorganisme pada liang
telinga yang merupakan organisme komensal. Organisme ini bersifat
non patogen selama terdapat keseimbangan antara sistem pertahanan
tubuh dengan berbagai organisme tersebut. Kelembaban dan
lingkungan tropis memberikan kondisi yang dibutuhkan jamur untuk
berproliferasi. Kanalis auditorius yang intak mempunyai kemampuan
untuk membersihkan dirinya sendiri dengan migrasi sel epitel yang
terkelupas keluar bersama dengan serumen. Serumen menjaga kanalis
auditorius eksternus dalam kondisi asam. pH kanalis auditorius
eksternus mempunyai rentang antara 4,2 hingga 5,6. Kondisi asam
tersebut mempunyai efek anti-mikotik dan bakteriostatik. Kerusakan
dari setiap pelindung KAE dapat menyebabkan kolonisasi dan invasi
oleh organisme patogen4,13
Meningkatnya insidensi otomikosis mungkin berhubungan dengan
meningkatnya pengeluaran keringat dan berubahnya kelembaban udara
di permukaan epitel liang telinga. Epitel di liang telinga banyak
menyerap air pada keadaan tersebut sehingga lebih mudah terkena
infeksi. Pada pasien-pasien dengan penyakit gangguan imun berat
otomikosis yang invasif juga banyak ditemukan. Adanya pertumbuhan
jamur yang berlebihan tampak pada pasien yang menggunakan
antibiotik hal tersebut terjadi karena terganggunya flora normal yang
terdapat dalam tubuh.3,16
D. Diagnosis
Penegakan diagnosa otomikosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa pasien dengan
otomikosis biasanya akan sering didapatkan keluhan rasa gatal pada
liang telinga. Selain itu gejala lain yang sering dirasakan adalah rasa
penuh pada telinga, otore (keluar cairan dari telinga), otalgia (sakit
pada telinga), gangguan pendengaran dan tinnitus. Gejala gangguan
pendengaran pada kasus otomikosis biasanya disebabkan oleh adanya
akumulasi dari debris mikotik dalam liang telinga.13
Pemeriksaan fisik pada pasien otomikosis akan ditemukan adanya
debris berwarna putih, kehitaman, atau membran abu-abu yang
berbintik-bintik di liang telinga. Bercak karena Aspergillus niger
cenderung berwarna gelap kehitaman, Aspergillus fumigatus berwarna
kecoklatan, dan Candida albicans berwarna putih.2,17
Diagnosa pasti dari otomikosis ditegakan dengan pemeriksaan
penunjang yang cukup sederhana, yaitu dengan memeriksa sampel
debris atau swab bercak pada kaca preparat yang difiksasi dengan
larutan KOH 15% - 30% selanjutnya dilihat melalui mikroskop dan
akan tampak hifa ataupun spora dari jamur. Pemeriksaan penunjang
lain adalah kultur debris dari liang telinga dengan menggunakan media
Saboraud’s dextrose.13
E. Terapi
Terapi efektif pada pasien dengan kolonisasi kronis Aspergillus pada
kanalis akustikus eksternus adalah dengan kombinasi antara
pembersihan debris dan anti jamur topikal. Pengobatan sistemik tidak
direkomendasikan, kecuali mungkin pada kasus invasif otitis (akut atau
kronis) eksterna maligna dengan komplikasi mastoiditis atau
meningitis, atau keduanya. Kebanyakan pasien berhasil dengan
pengobatan topikal.
Keuntungan anti jamur topikal yaitu aplikasi lokal, konsentrasi yang
diinginkan dari obat pada permukaan kulit akandicapai tak lama
setelah aplikasi, dan konsentrasi yang lebih tinggi dari anti jamur
tersebut pada lokasi yang terinfeksi. Perhatian khusus harus diberikan
kepada pilihan sediaan yang antara lain: solution, suspensi, krim, salep,
atau gel. Pasien otomikosis dengan membran timpani yang intak
dapatmenggunakan formulasi anti jamur antara lain, salep, gel, dan
krim. Ketika membran timpani perforasi, obat-obat ini tidak boleh
digunakan karena partikel kecil dari krim, salep, atau gel dapat
menyebabkan peradangan, dengan perkembangan jaringan granulasi di
telinga tengah. Obat topikal anti jamur yang soluble (obat tetes telinga
atau strip kasa diresapi dengan solution) sebagai pengobatan membran
timpani perforasi sangat dianjurkan. Yang harus dipertimbangkan agar
tepat memilih obat anti jamur topical, antara lain larut dalam air, risiko
rendah ototoksik, efek alergi rendah setelah pemberian berulang, obat
anti mikotik spektrum luas dengan efek lokal yang baik terhadap ragi
dan jamur, cocok untuk aplikasi pada pasien anak dan tersedia di
pasaran11,12.
Sediaan anti jamur dapat dibagi menjadi tipe spesifik dan non
spesifik. Antijamur non spesifik termasuk larutan asam dan
dehydrating solution seperti: Asam asetat 2% adalah asam cuka untuk
menjaga pH telinga tetap asam. 2) Gentian Violet dipersiapkan sebagai
solusi konsentrat yang rendah (misalnya 1%) dalam air. Telah digunakan
untuk mengobati otomikosis karena merupakan pewarna anilin dengan
antiseptik, antiinflamasi, antibakteri dan antijamur. Hal ini masih
digunakan di beberapa negara dan disetujui FDA (Food and
DrugAdministration). Studi melaporkan hingga 80% efficacy. 3)
Castellani’s paint (aseton, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol). 4) Cresylate
(merthiolate, M-cresyl asetat, propilen glikol, asam borat dan alkohol). 5)
Merkurokrom, sebuahantiseptik topikal terkenal, anti jamur tetapi tidak
lagi disetujui oleh FDA karena kandungan merkuri di didalamnya12.
Terapi anti jamur spesifik terdiri dari: 1) Nystatin adalah antibiotik
makrolida poliena yang menghambat sintesis sterol pada membran
sitoplasma. Banyak cetakan dan ragi yang sensitif terhadap Nystatin
termasuk spesies Candida. Sebuah keuntungan besar dari Nystatin
adalah mereka tidak terserap dalam kulit utuh. Nystatin tidak tersedia
sebagai larutan otik untuk otomikosis Nystatin dapat diresepkan
sebagai krim, salep atau bubuk. Dengan tingkat keberhasilan hingga
50-80% . 2) Azoles adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi
ergosterol merupakan sterol penting dalam membrane sitoplasma
normal. Clotrimazole yang paling banyak digunakan sebagai azol
topikal tampaknya menjadi salah satu agen terapi yang paling efektif
dalam otomikosis dengan bunga efektifitas 95-100%. Clotrimazole
memiliki efek bakterisid dan hal ini merupakan keuntungan bila
terdapat infeksi campuran dari bakteri dan jamur. Ketokonazole dan
Fluconazole memiliki aktivitas spektrum yang luas. Efikasi
Ketoconazole dilaporkan 95-100% terhadap spesies Aspergillus dan
Candida. Sediaan yang sering adalah sebagai krim 2%. Fluconazole
topikal telah dilaporkan efektif dalam 90% kasus. Krim Miconazole
2% juga telah menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 90%.
Bifonazole adalah agen anti jamur dan umum digunakan dalam 80-an.
Potensi larutan 1% mirip dengan Clotrimazole dan Miconazole.
Bifonazole dan turunannya menghambat pertumbuhan jamur hingga
100% . Itraconazole juga memiliki invitro dan efek vivo terhadap
spesies Aspergillus12.
Prinsip penatalaksanaan pada pasien otomikosis adalah pengangkatan
jamur dari liang telinga, menjaga agar liang telinga tetap kering serta
bersuasana asam, pemberian obat anti jamur, serta menghilangkan
faktor risiko. Tindakan pembersihan liang telinga bisa dilakukan
dengan berbagai macamcara antara lain dengan lidi kapas/kapas yang
dililitkan pada aplikator, pengait serumen, atau suction. Beberapa
penulis mempercayai bahwa yang terpenting dari terapi otomikosis
adalah mengetahui jenis agen penyebab infeksi tersebut sehingga terapi
yang tepat dapat diberikan. Clotrimazole memiliki efek anti bakteri
sehingga memberikan keuntungan terdapat infeksi campuran jamur-
bakteri. Anti jamur krim dari Ketoconazole dan Fluconazole juga bisa
dapat digunakan. Infeksi Candida biasanya mengunakan Tolnaftate.
Nystatin juga dipercaya efektif melawan Candida5.
Terapi otomikosis dengan anti jamur membutuhkan waktu ± 3
minggu untuk mencegah rekurensi. Terapi berkelanjutan diberikan
walaupun pasien sudah bebas dari gejala18.
Edukasi antara lain tidak mengorek-ngorek telinga baik dengan korek
telinga ataupun jari, menjaga kelembaban dan pH normal seperti tidak
menggunakan obat steroid dan antibiotik berlebihan pada kanalis
auditorius eksternus 4,11,13,15
BAB IV
ANALISIS MASALAH
Pasien datang dengan keluhan telinga kanan gatal disertai rasa penuh sejak 1
bulan yll. Gatal dirasa setiap saat, pasien mengaku mengorek telinga namun keluhan
gatal tidak berkurang.Pasien juga mengaku terdapat cairan yang keluar dari telinga
kanan, cairan yang keluar berwarna bening kekuningan, keluhan ini hilang
timbul.Pasien mengaku pada telinga kanan kurang peka dalam mendengar, keluhan
ini dirasakan terjadi setelah telinga gatal dan dirasa penuh.
Ketika dilakukan pemeriksaan fisik telinga didapatkan gatal, korek, keluar
cairan, rasa penuh pada telinga kanan dan pendengaran berkurang pada telinga kanan,
tidak terdapat pusing berputar maupun mual dan muntah. Bentuk telinga normotia,
pada liang telinga didapatkan serumen dan secret pada telinga kanan disertai tampak
debris berwarna putih kekuningan pada telinga kanan. Dari pemeriksaan garpu tala
terdapat lateralisasi ke telinga kiri (yang sakit) dan terdapat pemanjangan pada
pemeriksaan swabach ditelinga kiri sehingga didapatkan tuli konduktif.
Hal tersebut sesuai dengan keluhan pada otomkosis dimana merupakan infeksi
jamur liang telinga yang ditandai dengan gatal, rasa penuh, keluar cairan dari liang
telinga. Hal ini dapat dibedakan dengan diagnosa banding dengan otitis media akut
dimana keluhan nya berupa sumbatan telinga disertai rasa nyeri telinga, serta
gangguan pendengarannamun membrane timpani retraksi, kemerahan, bulging,
maupun perforasi, pada otitits media akut juga terdapat secret yang keluar.Pada
pasien ini tidak terdapat gangguan pada membrane timpani dan tidak terdapat secret
keluar.Kesimpulannya adalah Ny.y mengalami otomikosis.Untuk membersihkan
sekret pada pasien dapat dilakukan ear toilet dan terapi local dengan salep anti jamur
seperti klotrimazole 1%.
Prognosis pasien ini pada quo ad vitam, functionam, dan sanationam adalah
bonam.Prognosis sangan tergantung dari pengobatan yang dilakukan dan dapat terjadi
rekurensi sehingga edukasi juga penting pada pasien ini.
BAB V
KESIMPULAN
Otomikosis adalah infeksi jamur yang melibatkan pinna dan kanalis
auditorius eksternus, namun dengan adanya perforasi membran timpani, juga
dapat melibatkan telinga tengah.Karakteristik otomikosis berupa peradangan,
gatal, otalgia, otore, rasa penuh di telinga, gangguan pendengaran dan
tinnitus. Terapi efektif pada pasien dengan kolonisasi kronis Aspergillus
pada kanalis akustikus eksternus adalah dengan kombinasi antara
pembersihan debris dan anti jamur topical.
Terapi otomikosis dengan anti jamur membutuhkan waktu ± 3 minggu
untuk mencegah rekurensi. Terapi berkelanjutan diberikan walaupun pasien
sudah bebas dari gejala. Edukasi juga penting dimana antara lain tidak
mengorek-ngorek telinga baik dengan korek telinga ataupun jari, menjaga
kelembaban dan pH normal seperti tidak menggunakan obat steroid dan
antibiotik berlebihan pada kanalis auditorius eksternus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Barati, B., et al. "Otomycosis in central iran: a clinical and
mycological study."Iranian Red Crescent Medical Journal2011 : 873.
2. Mahmoudabadi AZ, Masoomi SA, Mohammadi H. Clinical and
mycological studies of otomycosis.Pak J Med Sci 2010 : 187-190.
3. Fasunla, J., Ibekwe, T. and Onakoya, P. (2008), Otomycosis in western
Nigeria. Mycoses, 2007.
4. Alexis Jackman, Robert Ward, Max April, John Bent, Topical antibiotic
induced otomycosis, International Journal of Pediatric
Otorhinolaryngology, Volume 69, Issue 6, June 2005.
5. Sampath Chandra Prasad, Subbannayya Kotigadde, Manisha Shekhar, et
al., “Primary Otomycosis in the Indian Subcontinent: Predisposing
Factors, Microbiology, and Classification,” International Journal of
Microbiology, 2014.
6. Ajay Philip, Regi Thomas, Anand Job, V. Rajan Sundaresan, Shalini
Anandan, and Rita Ruby Albert, “Effectiveness of 7.5 Percent Povidone
Iodine in Comparison to 1 Percent Clotrimazole with Lignocaine in the
Treatment of Otomycosis,” ISRN Otolaryngology, vol. 2013.
7. Bailey, Byron J.; Johnson, Jonas T.; Newlands, Shawn D, Head & Neck
Surgery-Otolaryngology, 4th Edition, Chapter 135: Infections of The
External Ear, Lippincott Williams & Wilkins.2014.
8. Lalwani AK, Disease of The External Ear. In: Current Diagnosis &
treatment otolaryngology Head & Neck Surgery, 2nd ed. Chapter 47,
McGrawhill Lange. New York.2008.h.624-6.
9. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Ear Anatomy. In: Gray’s anatomy
for student, Chapter 8, Elsevier.2007:855-858.
10. Liston SL, Duvall III AJ. Embriologi, anatomi dan fisiologi telinga.
Dalam: Boies: Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.1997.h.27-31.
11. Kaur Ravinder et all, 2000. Otomycosis: a clinicomycologic study. ENT-
Ear Nose & Throat Journal; 79:606-609
12. Gray RF, 1992. Disease of The External Ear. In: Synopsis
ofotolaryngology. 5th ed. Butterworth Heineman ltd Oxford. P: 81-97.
13. Vennewald, I., Nat, R., Klemm E, 2010. Otomycosis: Diagnosis andtreatment.
Clinics in Dermatology; 28: 202–211.
14. Munguia R, Daniel SJ, 2008. Ototopical antifungals and otomycosis: a
review. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 2008; 72:
453 – 459.
15. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis: clinical features and
treatment implications. Otolaringology-Head and Neck Surgery 2006;
135: 787-791.
16. Gill King. Otitis Externa Mycotica. Article. Arch Otolaryngology.
1932;16(1):76-82
17. Inouye S, Uchida K, Yamaguchi H, 2001. In-vitro and In-vivo Anti-
Trichophyton Activity of Essential Oils by Vapaour Contact, Mycoses;
44: 99-107.
18. Abou-Halawa AS, Khan MA, Alrobaee AA, Alzolibani AA, Alshobaili HA.
Otomycosis with perforated tympanic membrane: self medication with topical
antifungal solution versus medicated ear wick. InternationalJournal of Health
Sciences. 2012;6(1):73–77.
20. Phillip RM, Rosen T. Topical Antifungal Agents. Comprehensive
Dermatologic Drug Therapy. WB Saunders Company. Philadelphia,
USA. P: 497-523.
21. Vennewald I, Wollina U, 2005. Cutaneus Infections due to
Oppurtunistic Molds: uncommon presentation. Clindermatol; 23:565-
571.
22. Reynolds JEF, Martindale, 1996. The Extra Pharmacopoela 31 sted. The
Council of The Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. P:
403Hughes GB, Pensak ML, 2007. Clinical Otology. 3 rded. New York :
Thieme Medical Publishers.
23. Linstrong CJ, Lucente FE, 2006. Infection of the External Ear. In: Head
& Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Lippincot Williams & Wilkins.
Philadelpia. P: 1987-2000
24. Viswanatha, Borlingegowda,M.S., D.L.O., Sumatha, D., M.B.B.S., &
Vijayashree, Maliyappanahalli Siddappa,M.B.B.S., M.S.. Otomycosis in
immunocompetent and immunocompromised patients: Comparative
study and literature review.Ear, Nose & Throat Journal, 91(3), 2012,
114-21