Anda di halaman 1dari 21

Case Report Session

*KepaniteraanKlinik Senior/G1A216099
**Pembimbing

OTOMIKOSIS

Karina Rija Sriayu, S.Ked*


dr. Alfian Taher, Sp. THT**

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RADEN MATTAHER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Otomikosis adalah infeksi jamur di liang telinga. Infeksi jamur di liang telinga
dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut. Beberapa jamur dapat
menyebabkan reaksi radang liang telinga. Dua jenis jamur yang paling sering ditemukan pada
tempat ini adalah Pityrosporum dan Aspergillus (A. Niger, A. Flavus). Faktor timbulnya
penyakit ini disebabkan oleh perubahan kelembaban lingkungan, suhu yang tinggi, maserasi
kulit liang telinga yang terpapar lama oleh kelembaban, trauma lokal serta masuknya bakteri
sebagai keadaan yang sering berkaitan dengan penyakit ini. Otomikosis sering terjadi di
negara tropis dan subtropis.1,2
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. TA
Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Alamat : Kota Baru
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Pasien : S1

2.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan gatal pada telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang dengan keluhan gatal pada telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu. Pasien
juga mengeluhkan terasa penuh dan pendengaran dirasa berkurang pada telinga kiri.
Sebelumnya, terdapat cairan yang keluar berwarna jernih, tidak berbau, dengan
konsistensi cair, keluar hilang timbul, yang biasanya keluar saat telinga kiri pasien
sedang gatal, namun sekarang tidak muncul lagi. Pasien menyatakan bahwa sebelum
terjadinya keluar cairan tersebut, pasien mengorek telinga menggunakan cutton bud.
Pusing (-). Mual (-). Muntah (-).

Riwayat Pengobatan
Pasien pernah berobat ke puskesmas 2 bulan yang lalu. Pasien tidak mengingat obat
apa saja yang diberikan padanya, ia hanya ingat bahwa diberikan obat tetes telinga.
Setelah berobat pasien merasa ada sedikit perbaikan terhadap penyakitnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit yang sama (-). Riwayat hipertensi (-) , riwayat DM (-), riwayat
asma (-), riwayat trauma kepala (-), riwayat alergi obat (-),

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan os.
Riwayat hipertensi dan DM dalam keluarga di sangkal.

TELINGA HIDUNG TENGGOROK LARING


Gatal : -/+ Rinore : -/- Sukar Menelan : - Suara parau : -
Dikorek :+/+ Buntu : -/- Sakit Menelan : - Afonia : -
Nyeri :-/+ Bersin :- Trismus :- Sesak napas : -
Bengkak :-/- * Dingin/Lembab : - Ptyalismus : - Rasa sakit :
Otore : -/+ * Debu Rumah :- Rasa Ngganjal : - Rasa ngganjal : -
Tuli :-/+ Berbau : -/- Rasa Berlendir : -
Tinitus :-/- Mimisan : -/- Rasa Kering : -
Vertigo : - Nyeri Hidung : -/-
Mual :- Suara sengau : -
Muntah : -

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Kesadaran : compos mentis
Pernapasan : 22 x/i
Suhu : 36,6 C
Nadi : 72x/i
TD : 120/80 mmHg
Anemia :-
Sianosis :-
Stridor inspirasi :-
Retraksi suprasternal : -
Retraksi interkostal :-
Retraksi epigastrial :-

a. Telinga
Daun Telinga Kanan Kiri
Anotia/mikrotia/makrotia - -
Keloid - -
Perikondritis - -
Kista - -
Fistel - -
Ott hematoma - -
Nyeri tekan tragus - -
Nyeri tarik daun telinga - -
Liang Telinga Kanan Kiri
Atresia - -
Serumen prop - -
Epidermis prop - -
Korpus alineum - -
Jaringan granulasi - -
Exositosis - -
Osteoma - -
Furunkel - -
Membrana Timpani Kanan Kiri
Hiperemis - -
Retraksi - -
Bulging - -
Atropi - -
Perforasi - -
Bula - -
Sekret + -
Refleks Cahaya Arah jam 5 Arah jam 7

Retro-aurikular Kanan Kiri


Fistel - -
Kista - -
Abses - -
Pre-aurikular Kanan Kiri
Fistel - -
Kista - -
Abses - -

b. Hidung
Rinoskopi
Kanan Kiri
Anterior
Hiperemis (-), Bisul (-), Hiperemis (-), Bisul (-),
Vestibulum nasi
Krusta (-), Raghade (-) Krusta (-), Raghade (-)

Sekret (-), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),


Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)

Selaput lendir DBN DBN


Septum nasi Deviasi (-), luka (-) Deviasi (-), luka (-)

Lantai + dasar
DBN DBN
hidung

Hipertrofi (-), hiperemis (-), Hipertrofi (-),


Konka inferior
livide (-) hiperemis(-), livide (-)

Meatus nasi
DBN DBN
inferior
Polip - -
Korpus alineum - -
Massa tumor - -
Rinoskopi Kanan Kiri
Posterior
Sekret (-), hiperemis (-), Sekret (-), hiperemis (-),
Kavum nasi
Edema mukosa (-) Edema mukosa (-)
Selaput lendir DBN DBN

Koana DBN DBN


Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)

Hiperemis (-), livide (-), Hiperemis (-), livide (-),


Konka superior
hipertrofi (-) hipertrofi (-)
Adenoid DBN DBN
Massa tumor - -
Fossa rossenmuller - -

Transiluminasi
Kanan Kiri
Sinus
Tidak dilakukan

c. Mulut
Hasil
Selaput lendir mulut DBN
Bibir Sianosis (-) raghade (-)
Lidah Atropi papil (-), tumor (-)
Gigi Caries (-)
Kelenjar ludah DBN

d. Faring

Hasil
Uvula Bentuk normal, terletak ditengah

Palatum mole hiperemis (-), benjolan (-)


Palatum durum Hiperemis (-), benjolan (-)
Plika anterior Hiperemis (-)

Dekstra : tonsil T1, hiperemis (-),


permukaan rata, kripta tidak melebar
detritus (-)
Tonsil
Sinistra : tonsil T1, hiperemis (-),
permukaan rata, kripta tidak melebar
detritus (-)
Plika posterior Hiperemis (-)
Mukosa orofaring Hiperemis (-), granula (-)

e. Laringoskopi Indirect
Hasil
Pangkal lidah
Epiglotis
Sinus piriformis
Aritenoid Sulit dinilai
Sulcus aritenoid
Corda vocalis
Massa

f. Kelenjar Getah Bening Leher


Kanan Kiri
Regio I DBN DBN
Regio II DBN DBN
Regio III DBN DBN
Regio IV DBN DBN

Regio V DBN DBN


Regio VI DBN DBN
area Parotis DBN DBN
Area postauricula DBN DBN
Area occipital DBN DBN
Area supraclavicula DBN DBN

g. Pemeriksaan Nervi Craniales


Kanan Kiri
Nervus III, IV, VI DBN DBN
Nervus VII DBN DBN
Nervus IX DBN
Regio XII DBN

2.4 PEMERIKSAAN AUDIOLOGI


Tes Pendengaran Kanan Kiri
Tes rinne + +
Tes weber Tidak ada lateralisasi
Tes schwabach Sama dengan pemeriksa

Kesimpulan : Fungsi Pendengaran telinga kanan dan telinga kiri normal

2.5 DIAGNOSIS
Otomikosis Aurikula Sinistra

2.6 DIAGNOSIS BANDING


Otitis Eksterna Difusa Aurikula Sinistra

2.7 PENATALAKSANAAN
Terapi
Clotrimazole tetes telinga 2-3 tetes 2-3x/hari selama 14 hari

Monitoring
Minta pasien untuk kontrol ulang setelah obat yang diberikan habis. Lihat apakah ada
perbaikan dari keluhan yang dialami pasien, yaitu gatal dari telinga.
KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
1. Menjelaskan mengenai penyakit pasien, termasuk faktor yang memperberat
penyakit tersebut.
2. Menjelaskan kepada pasien mengenai tujuan dan manfaat dari pengobatan yang
diberikan kepada pasien.
3. Memberitahu kepada pasien akan pentingnya follow up dan terapi yang adekuat
untuk penyakitnya.
4. Memberitahukan kepada pasien untuk menutup telinga ketika mandi untuk
mencegah telinga menjadi lembab dan tidak lagi mengorek telinga.
5. Menyarankan pasien untuk tetap menjaga higienitas dan memakan makanan yang
bergizi.

2.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Telinga


Secara anatomi telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

a. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari
tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan
pada sepertiga luar dan terdiri atas tulang pada dua pertiga dalam. Panjangnya kira-kira 2,5
3 cm.1

Pada sepertiga luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi
kelenjar keringat = kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh
liang telinga. Sedangkan pada dua pertiga dalam hanya dijumpai sedikit kelenjar serumen.1,3,4
b. Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batas sebagai berikut:1
Batas Luar : membran timpani
Batas depan : tuba eustachius
Batas bawah : vena jugularis
Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis
Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)
Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizontal,
kanalis fasialis, oval window, round window.

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan
terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani ini juga terbagi atas dua pars,
yaitu: 1,3,4,5

- Pars flaksida (membran sharpnell), terletak di bagian atas. Terdiri atas dua lapisan,
yaitu bagian luar yang merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam
yang dilapisi sel kubus bersilia. Pada pars ini terdapat daerah yang disebut atik. Di
tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga
tengah dengan antrum mastoid.
- Pars Tensa (Membran propria), terletak di bagian bawah. Terdiri dari tiga lapisan,
pada bagian tengahnya terdapat lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan serat
elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler pada bagian dalam.

Pada membran timpani inilah akan tampak refleks cahaya (cone of light), yaitu pada
pukul 7 untuk telinga kiri dan pada pukul 5 untuk telinga kanan. Pada telinga tengah juga
terdapat tulang-tulang pendengaran yang saling berhubungan, yaitu maleus, inkus, stapes.
Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan
inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap longjong yang berhubungan dengan
koklea.1

c. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) berupa dua setengah lingkaran dan 3
buah kanalis semi sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan
perilimfe skala timpani dengan skala vestibuli.1
Kanalis semi sirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk
lingkaran yang tidak lengkap. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perlimfe, sedangkan
skal media berisi endolimfe. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (reissner
membrane), sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak
organ corti.1
3.2 Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang atau getaran. Getaran kemudian dialirkan ke liang telinga dan mengenai
membran timpani, sehingga akan menggetarkan membran timpani melalui rangkaian tulang
pendengaran (maleus, inkus, stapes) yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit
tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan oval window.
Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang akan menggetarkan
oval window, sehingga perilimfe pada skala vestibuli akan bergerak. Getaran diteruskan
melalui membran reissner yang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerakan
relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
terbuka dan terjadilah pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps
yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus
auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.1

3.3 Definisi Otomikosis


Otomikosis adalah infeksi jamur di liang telinga. Infeksi jamur di liang telinga
dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut. Otomikosis merupakan penyakit
inflamasi telinga luar yang disebabkan oleh infeksi jamur, dan dapat menyebabkan inflamasi
difus di kulit meatus yang bisa menyebar ke auricula maupun lapisan epidermal membran
timpani. Berdasarkan waktu, otomikosis didefinisikan sebagai infeksi akut, subakut, maupun
kronik akibat ragi dan filamentosa jamur yang dapat merusak epitel squamosa meatus
acusticus external, dan komplikasinya jarang melibatkan telinga tengah.1, 6,7,8

3.4 Etiologi dan Faktor Predisposisi


Beberapa jamur dapat menyebabkan reaksi radang liang telinga. Dua jenis jamur yang
paling sering ditemukan pada tempat ini adalah Pityrosporum dan Aspergillus (A. Niger, A.
Flavus). Jamur Pityrosporum dapat hanya menyebabkan deskuamasi superfisial yang
menyerupai ketombe pada kulit kepala, atau dapat menyerupai suatu dermatitis seboroika
yang meradang, atau dapat menjadi dasar berkembangnya infeksi lain yang lebih berat seperti
furunkel atau perubahan ekzematosa. Demikian pula halnya dengan jamur Aspergillus.1
Pada sekitar 75% kasus otomikosis, genus Aspergillus merupakan agen kausative utama,
dengan penyebab tersering disebabkan oleh A. Niger, dan terkadang disebabkan oleh A.
flavus and A. Fumigatus. Jamur ini kadang-kadang didapatkan dari liang telinga tanpa adanya
gejala apapun kecuali rasa tersumbat dalam telinga, atau dapat berupa peradangan yang dapat
menyerang epitel kanalis atau gendang telinga dan menimbulkan gejala-gejala akut. Kadang-
kadang dapat pula ditemukan Candida albicans.5,9
Faktor timbulnya penyakit ini disebabkan oleh perubahan kelembaban lingkungan, suhu
yang tinggi, maserasi kulit liang telinga yang terpapar lama oleh kelembaban, trauma lokal
serta masuknya bakteri sebagai keadaan yang sering berkaitan dengan penyakit ini. Banyak
penelitian menyokong timbulnya infeksi karena masuknya bakteri dari luar. Faktor
predisposisi meliputi menurunnya sistem imun, penggunaan steroid, penyakit dermatologi,
ketiadaan serumen, penggunaan antibiotik spektrum luas, dan alat bantu dengar.2
Pada dasarnya, telinga memiliki kemampuan untuk melakukan mekanisme pembersihan.
Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan membuang sel-sel kulit yang mati
dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton
buds (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong
sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang
masuk ke dalam saluran telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembab
pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh jamur.2
Kelembaban merupakan faktor yang penting untuk terjadinya otomikosis. Kandungan air
pada lapisan permukaan luar kulit diduga memegang peranan yang nyata terhadap mudahnya
terjadi infeksi telinga luar.Stratum korneum menyerap kelembaban dari lingkungan yang
mempunyai derajat kelembaban yang tinggi. Peningkatan kelembaban dari keratin didalam
serta disekitar unit-unit apopilosebasea dapat menunjang terjadinya pembengkakan serta
peyumbatan folikel sehingga dengan demikian menyebakan berkurangnya aliran sekret ke
permukaan kulit.2
Trauma dapat diakibatkan karena luka goresan oleh penjepit rambut atau batang korek
api, alat yang tidak seharusnya digunakan untuk membersihkan benda asing, maupun
pembersihan kanal telinga yang terlalu sering setelah berenang ketika kulit kanal sudah
maserasi. Kulit yang normal mengandung lapisan lemak yang tipis pada permukaan yang
diduga mempunyai kerja antibakteri dan fungistatik. Lapisan lemak ini mempunyai fungsi
penting dalam pencegahan maserasi kulit serta menghalangi masuknya bakteri kedalam
dermis melalui unit-unit apopilosebasea. Apabila lapisan lemak dari tulang rawan liang
telinga dibuang, pada umumnya ia menggantikan dirinya dalam waktu yang singkat. Namun
apabila berulang-ulang dicuci maka lapisan lemak tersebut akan menghilang dan organisme
patogen yang tertanam disini bisa berkembang.7,17
Serumen sendiri memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan
pertumbuhan bakteri dan jamur. Serumen memiliki sifat antimikotik, bakteriostatik, dan juga
penolak serangga. Serumen terditi dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, dan ion
mineral. Serumen juga mengandung lisozim, imunoglubulin, dan asam lemak tak jenuh.
Adanya ikatan rantai panjang asam lemak pada kulit yang normal dapat menghambat
pertumbuhan bakteri. Disamping itu, karena kompisisi hidrofobiknya, serumen mampu
mencegah air masuk, membuat permukaan kanal menjadi impermeabel, dapat mengindari
maserasi, dan menghindari kerusakan epitel.6
Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini
olehkarena paparan ulang dengan air sehingga kanal menjadi lembab dan dapat
mempermudah jamur tumbuh. Hal inilah yang sering dihubungkan dengan terjadinya infeksi
pada telinga luar (otomikosis).11

3.5 Gejala dan Tanda Klinis Otomikosis

Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling sering terjadi adalah
rasa gatal atau pruritus. Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga.
Liang telinga merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit
atau pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa kotoran kulit
dan jamur. Infeksi jamur dan invasi pada jaringan di bawah kulit menyebabkan nyeri dan
supurasi. Bila infeksi berlanjut, eksema dan likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini
dapat meluas ke telinga bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga
terserang.5,12

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada tahap awal dan sering
mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada telinga bisa bervariasi mulai dari hanya
berupa perasaan tidak enak pada telinga, perasaan penuh dalam telinga, perasaan seperti
terbakar hingga berdenyut diikuti nyeri yang hebat. Keluhan rasa sakit yang dikeluhkan
sering menjadi gejala yang mengelirukan, walaupun rasa sakit tersebut merupakan gejala
yang dominan. Derajat rasa sakit belum bisa menggambarkan derajat peradangan yang
terjadi. Hal ini dijelaskan bahwasanya kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan
dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan serabut saraf
yang mengakibatkan rasa nyeri.5,12

Selain itu, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga, sehingga gerakan dari daun telinga akan mengakibatkan rasa sakit
yang hebat pada kulit dan tulang rawan di liang telinga luar. Kurangnya pendengaran
mungkin dapat terjadi akibat edema kulit liang telinga, sekret yang purulen, atau penebalan
kulit yang progresif yang bisa menutup lumen dan mengakibatkan gangguan konduksi
hantaran suara.10

3.6 Penegakan Diagnosis

Penegakan diagnosis pada otomikosis diawali dengan pemeriksaan lengkap THT untuk
statusnya terutama ditekankan pada pemeriksaan telinga yang menggunakan otoskopi.
Pemeriksaan penunjang yang yang dibutuhkan untuk penegakan diagnosis otomikosis
sampelnya dapat diperoleh dari swab telinga menggunakan cotton swab steril. Pemeriksaan
preparat langsung dengan mikroskop dapat digunakan untuk mendeteksi jamur. Pada preparat
sediaan langsung dengan menggunakan larutan KOH 10% hasil positif akan menunjukkan
adanya hifa pada preparat tesebut.2, 7, 13

3.7 Tatalaksana
Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2% dalam
alkohol, larutan Iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran antibiotik
dan steroid yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang
diperlukan juga obat anti-jamur (sebagai salep) yang diberikan secara topikal yang
mengandung nistatin, klotrimazol.1
Penggunaan antifungal topikal telah berlangsung lama, selain pengobatan topikal, aural
hygiene juga mempunyai pengaruh yang sangat penting pada pengobatan otomikosis. Larutan
asam asetat 2% dalam alkohol, larutan povidon iodin 5% atau tetes telinga yang mengandung
campuran antibiotik yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan.
Kadang-kadang diperlukan juga obat anti-jamur (seperti salep) yang diberikan secara topikal
yang mengandung nistatin, clotrimazole ataupun golongan azole lainnya. Nistatin adalah
antibiotik makrolida yang dapat menghambat sintesis sterol di membran sitoplasma, dan
banyak jamur yang sensitif terhadap nistatin, termasuk Candida spp.1,14
Golongan azole merupakan agen sintetik yang dapat mengurangi konsentrasi ergosterol,
yaitu sterol esensial yang terdapat pada membran sitoplasma normal. Clotrimazole adalah
golongan azole yang paling sering digunakan karena efektifitasnya yang tinggi dalam
mengobati otomikosis. Clotrimazole juga memiliki efek antibakteri sehingga sering
digunakan untuk pengobatan infeksi bakteri-jamur, dan ia tidak memiliki efek ototoksisitas.
Ketokonazole dan flukonazole merupakan antifungal spektrum luas dan komponen kimianya
efektif mengobati penyebab umum otomikosis seperti Aspergillus dan Candida albicans.1,14
BAB IV
ANALISA KASUS

Berdasarkan anamnesis yang telah dilakukan pada Tn. TA, 24 tahun, diketahui bahwa
Tn.A datang ke poliklinik THT RSUD Raden Mattaher Jambi dengan keluhan utama gatal
pada telinga kiri sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluhkan terasa penuh dan
pendengaran dirasa berkurang pada telinga kiri. Sebelumnya, terdapat cairan yang keluar
berwarna jernih, tidak berbau, dengan konsistensi cair, keluar hilang timbul, yang biasanya
keluar saat telinga kiri pasien sedang gatal, namun sekarang tidak muncul lagi. Pasien
menyatakan bahwa sebelum terjadinya keluar cairan tersebut, pasien mengorek telinga
menggunakan cutton bud. Pusing (-). Mual (-). Muntah (-).
Pada pemeriksaan fisik telinga DBN namun ditemukan adanya jamur pada dinding liang
telinga pasien. Pada rinoskopi anterior, posterior, mulut, faring, laring, kepala/leher, dan
pemeriksaan nervus cranialis DBN. Pada pemeriksaan audiologi didapatkan fungsi
Pendengaran telinga kanan dan telinga kiri normal.
Terapi yang diberikan yaitu Clotrimazole tetes telinga 2-3 tetes 2-3x/hari selama 14 hari
dan dimonitoring dengan inta pasien untuk kontrol ulang setelah obat yang diberikan habis.
Lihat apakah ada perbaikan dari keluhan yang dialami pasien, yaitu gatal dari telinga.
BAB V
KESIMPULAN

1. Otomikosis adalah infeksi jamur di liang telinga. Infeksi jamur di liang telinga
dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut.
2. Beberapa jamur dapat menyebabkan reaksi radang liang telinga. Dua jenis jamur
yang paling sering ditemukan pada tempat ini adalah Pityrosporum dan Aspergillus
(A. Niger, A. Flavus).
3. Faktor timbulnya penyakit ini disebabkan oleh perubahan kelembaban lingkungan,
suhu yang tinggi, maserasi kulit liang telinga yang terpapar lama oleh kelembaban,
trauma lokal serta masuknya bakteri sebagai keadaan yang sering berkaitan dengan
penyakit ini.
4. Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling sering terjadi
adalah rasa gatal atau pruritus. Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di
dalam telinga. Liang telinga merah sembab dan banyak krusta.
5. Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2%
dalam alkohol, larutan Iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung
campuran antibiotik dan steroid yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat
menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan juga obat anti-jamur (sebagai salep)
yang diberikan secara topikal yang mengandung nistatin, klotrimazol.
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi E A, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R. Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi Keenam. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2010.
2. Barati, B. Dkk. Otomycosis in Central Iran: A Clinical and Mycological Study. Iran
Red Crescent Med J 2011; 13(12):873-876. Vol.13. www.ircmj.com, diakses pada
tanggal 13 Juni 2017
3. Van den Broek, Feenstra. Buku saku Ilmu Kesehatan Tenggorok, Hidung, dan
Telinga. Edisi ke-12. Jakarta : EGC, 2010
4. Snell, Richard S. Anatomi Klinik Edisi 6. Jakarta ; EGC 2006
5. Boies R. Lawrence, Adam L. George. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Alih
bahasa : Wijaya Caroline. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta :
EGC, 1997
6. Gutirrez, P.H, dkk. Presumed Diagnosis: Otomycosis. A Study of 451 Patients. Acta
Otorrinolaringol Esp 2005; 56: 181-186. Diakses pada 13 Juni 2017
7. Dhingra, PL. Dhingra, Shruti. Disease of Ear, Nose, and Throat. 5th Edition. India:
Elsevier. 2012
8. Ho, Tang. Otomycosis :Clinical Features and Treatment Implications.
OtolaryngologyHead and Neck Surgery. American Academy of Otolaryngology
Head and Neck Surgery Foundation. 2006.135, 787-791. Diakses pada tanggal 13
Juni 2017
9. Chander, Jagdish. Aspergillus otomycosis. 2009.
http://www.aspergillus.org.uk/secure/treatment/otomyc.php. diakses pada tanggal 13
Juni 2017
10. Abdullah , Farhaan. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring dengan
Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut. www.USUdigitallibrary.com
. 2003. diakses pada 13 Juni 2017
11. Knott, Laurence. Fungal Ear Infection
(Otomycosis).http://www.patient.co.uk/doctor/Fungal-Ear-Infection-
(Otomycosis).htm diakses pada tanggal 13 Juni 2017
12. Ballenger, James. Jr, Snow. Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.
London: BC Decker. 2002
13. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. 2009
14. Munguia, Raymundo. Daniel, Sam J. Ototopical Antifungal and Otomycosis: A
Rivew. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. 2008. 72, 453459.
www.elsevier.com/locate/ijporl diunduh pada 13 Juni 2017