Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA PASIEN ULKUS


DIABETIKUM

DISUSUN KELOMPOK 1:

1. Andrian NIM: 111711002


2. Annisa Maulani A. NIM: 111711003
3. Debby Listiyorini NIM: 111711005
4. Kerin Nurul Ramadanty NIM: 111711010
5. Nor Indri Syahrullah NIM: 111711022

DOSEN PEMBIMBING:

Yusnaini Siagian, S.Kep, Ns, M.Kep

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH

TANJUNGPINANG

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena penyusun telah berhasil
menyelesaikan sebuah modul pembelajaran dengan judul “Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah pada Pasien Ulkus Diabetikum”.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini tidak akan selesai
tanpa adanya bantuan dan bimbingan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Untuk
itu penyusun mengucapkan terima kasih :.
1. Ibu Yusnaini Siagian, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dosen Pembimbing yang telah
membantu ,mengarahkan serta membimbing sehingga modul pembelajaran ini dapat
selesai.
2. Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan baik moral maupun materil.
3. Teman – teman yang telah memberikan dorongan semangat kepada penyusun.
Terwujudnya modul pembelajaran ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi
penyusun, namun penyusun menyadari bahwa modul pembelajaran ini masih jauh dari
sempurna yang dikarenakan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Oleh
karena itu kritik dan saran dari para pembaca akan sangat bermanfaat bagi
penyempurnaan modul pembelajaran ini. Semoga modul pembelajaran ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Demikianlah yang dapat tim penyusun sampaikan atas
perhatianya tim penyusun ucapkan terimakasih.

Tanjungpinang, 20 Maret 2020


Penulis

Kelompok 1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................................i
Daftar isi..................................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang......................................................................................................1
B. Rumusan masalah.................................................................................................2
C. Tujuan penulisan..................................................................................................2
D. Manfaat penulisan................................................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian.............................................................................................................3
B. Penyebab..............................................................................................................3
C. Klasifikasi............................................................................................................4
D. Pengertian perfusi perifer tidak efektif................................................................5
E. Patofisiologi.........................................................................................................5
F. Manifestasi klinis................................................................................................10
G. Penatalaksanaan Medis.......................................................................................11
H. Pencegahan..........................................................................................................14

BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian...........................................................................................................16
B. Diagnosa..............................................................................................................18
C. Intervensi.............................................................................................................20

BAB IV : PENUTUP

A. kesimpulan......................................................................................................23
B. Saran...............................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
dengan adanya kenaikan kadar glukosa dalam darah atauhiperglikemia (Smeltzer
c.s, 2012). Survei yang dilakukan oleh world healthorganization (who), indonesia
menempati urutan ke-4 dengan jumlahpenderita diabetes militus (dm) terbesar di
dunia setelah india, cina, danamerika serikat, dengan prevalensi 8,6% dari semua
total penduduk. Padatahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap dm dan tahun 2025
diperkirakanmeningkat menjadi 12,4 juta penderita (nasriati, 2013).
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, prevalensi
diabetes yang terdiagnosis oleh dokter sebesar 2,1%. Jumlah kasus dm yangada di
wilayah jawa tengah pada tahun 2016 sebanyak 209.319 kasus, terdiridari dm yang
tidak tergantung insulin sebanyak 183.172 kasus dan dm yangtergantung insulin
sebanyak 26.147 kasus.
Dm tidak hanya menyebabkan komplikasi akut tetapi juga komplikasi kronik
yang ditimbulkan oleh adanya mikroangiopati maupun makroangiopatiyang
dialaminya.Komplikasi kronik biasanya terjadi dalam 5-10 tahun setelahdiagnosis
ditegakkan (Smeltzer & Bare, 2012).Ulkus (luka) diabetikum padapasien dm
merupakan tanda adanya komplikasi vaskular dan neuropathy.Ulkus diabetikum
disebabkan karena kurangnya suplai darah pada arteri danatau vena.Seperti pada
pasien ulkus kronik umumnya, pasien ulkus dm dapatmerasakan kehilangan sensasi,
mudah terjadi trauma dan kerusakan kulit,deformitas kaki bahkan sampai
mengalami hospitalisasi hingga amputasi (ribu& wahl, 2014).Berdasarkan data dari
international diabetes federation (idf)(2016), angka kematian akibat ulkus dan
gangren berkisar 17-23%, sedangkanangka amputasi berkisar 15-30% (yunir, 2011).
Ulkus kaki pada pasien dm tidak hanya memberikan dampak perubahan fisik
pada penderitanya namun juga dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Studi
penelitian tentang kualitas hidup pasien chronic venous ulcer menunjukkan bahwa
pasien dengan ulkus kronik mengalami situasi kesulitanhidup akibat adanya
keterbatasan mobilitas dan aktivitas, nyeri, dan prosespenyembuhan yang panjang
(ribu & wahl, 2014).
Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronik dm yang paling
ditakuti (sudoyo, 2009).Komplikasi ulkus diabetikum dapat berefek padacitra tubuh
mereka.Citra tubuh merupakan kumpulan dari sikap individu yangdisadari dan tidak
disadari terhadap tubuhnya, termasuk persepsi masa laludan sekarang, serta
perasaan tentang struktur, bentuk, dan fungsi tubuh(Keliat, 2011).
Seseorang yang mengalami perubahan penampilan dan fungsi tubuh cenderung
akan memiliki citra tubuh yang negatif. Penelitian yang dilakukanoleh sitorus
(2011) tentang gambaran citra tubuh pasien paska amputasidiperoleh hasil bahwa
lebih dari setengah respondennya mempunyai citratubuh yang negatif. Sofiyana
(2011) melakukan penelitian dengan hubunganantara stress dengan konsep diri pada
penderita dm yang dilakukan di rsudarifin achmad didapatkan hasil bahwa sebagian
besar penderita dm (63,3%) dari 30 responden) memiliki citra tubuh yang negatif.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari ulkus diabetikum?
2. Apa saja penyebab ulkus diabetikum?
3. Apa saja klasifiksai ulkus diabetikum?
4. Apa pengertian perfusi perifer tidak efektif?
5. Bagaimana proses terjadinya (patofisiologi) ulkus diabetikum?
6. Bagaimana manifestasi klinis ulkus diabetikum?
7. Bagaimana penatalaksanaan ulkus diabetikum?
8. Bagaimana pencegahan ulkus diabetikum?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu agar mahasiswa/I mengetahui “Asuhan
Keperawatan pada pasien Ulkus Diabetikum”

D. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa/I dan pembaca
mendapat informasi dan pemahaman mengenai “asuhan keperawatan medical bedah
pada pasien Ulkus Diabetikum”.
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP PENYAKIT ULKUS DIABETIKUM


A. PENGERTIAN
Ulkus diabetikum merupakan kerusakan yang terjadi sebagian (Partial
Thickness) atau keseluruhan (Full Thickness) pada daerah kulit yang meluas ke
jaringan bawah kulit, tendon, otot, tulang atau persendian yang terjadi pada
seseorang yang menderita penyakit Diabetes Melitus. Kondisi ini timbul akibat
dari peningkatan kadar gula darah yang tinggi. Apabila ulkus kaki berlangsung
lama, tidaak dilakukam penatalaksanaan dan tidak sembuh, luka akan menjadi
ternfeksi. Ulkus kaki, infeksi, neuroarthropati dan penyakit arteri perifer
merupakan penyebab terjadinya gangrene dan amputasi ekstremitas pada bagian
bawah (Tarwoto &dkk., 2012)
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan
ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman
saprofit.Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus
diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit
DM dengan neuropati perifer, (Andyagreeni, 2010).
Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan
dengan morbiditas akibat Diabetes Mellitus.Ulkus kaki Diabetes merupakan
komplikasi serius akibat Diabetes, (Andyagreeni, 2010).

B. PENYEBAB
Penyebab dari ulkus kaki diabetik ada beberapa komponen yaitu
meliputineuropati sensori perifer, trauma, deformitas, iskemia, pembentukan
kalus, infeksidan edema.faktor penyebab terjadinya ulkus diabetikum terdiri
dari 2 faktor yaitufaktor endogen dan eksogen. Faktor endogen yaitu genetik
metabolik, angiopatidiabetik, neuopati diabetik sedangkan faktor eksogen yaitu
trauma, infeksi, dan obat(Wijaya, Andra Saferi dan Mariza Putri,
2013).Terdapat 2 penyebab ulkus diabetic secara umum yaitu neuropati dan
angiopati diabetik. Neuropati diabetik adalah suatukelainan pada urat saraf
akibat dari diabetes melitus akibat kadar gula dalam darahyang tinggi dapat
merusak urat saraf penderita dan menyebabkan hilang ataumenurunnya sensasi
nyeri pada kaki, apabila penderita mengalami trauma kadangkadangtidak terasa.
Kerusakan saraf menyebabkan mati rasa dan menurunnyakemampuan
merasakan sensasi sakit, panas atau dingin. Titik tekanan, seperti
akibatpemakaian sepatu yang terlalu sempit menyebabkan terjadinya kerusakan
saraf yangdapat mengubah cara jalan klien. Kaki depan lebih banyak menahan
berat badansangat rentan terhadap luka tekan. Dapat disimpulkan bahwa gejala
neuropati meliputi kesemutan, rasa panas, rasa tebal di telapak kaki, kram,
badan sakit semua terutama malam hari.
Angiopati diabetik merupakan suatu penyempitan pada pembuluh darah
yang terdapat pada penderita diabetes.Pembuluh darah besar atau kecil pada
penderita diabetes mellitus mudah mengalami penyempitan dan penyumbatan
oleh gumpalan darah.Jika terjai sumbatan pada pembuluh darah sedang atau
besar pada tungkai, maka dapat mengakibatkan terjadinya gangrene diabetic,
yaitu luka pada daerah kaki yang berbau busuk dan berwarna merah kehitaman.
Adapun angiopati dapat menyebabkan terganggunya asupan nutrisi, oksigen
serta antibiotik sehingga kulit sulit sembuh. Dengan kata lain, meningkatnya
kadar gula darah dapat menyebabkan pengerasan, bahkan kerusakan pembuluh
darah arteri dan kapiler (makro/mikroangiopati). Hal ini dapat menyebabkan
berkurangnya asupan nutrisi dan oksigen ke jaringan, sehingga timbul risiko
terbentuknya nekrotik (Maryunani, 2013).

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi ulkus diabetik menurut (Wijaya, Andra Saferi dan Mariza
Putri, 2013) adalah sebagai berikut:
Derajat 0 : Tidak ada lesi yang terbuka, luka masih dalam keadaan utuh
denganadanya kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti
“claw, callus”
Derajat I : Ulkus superfisial yang terbatas pada kulit.
Derajat II : Ulkus dalam yang menembus tendon dan tulang.
Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanpa adanya osteomielitis.
Derajat IV : Gangren yang terdapat pada jari kaki atau bagian distal kaki
dengan atau tanpa adanya selulitis.
Derajat V : Gangren yang terjadi pada seluruh kaki atau sebagian pada
tungkai.

B. KONSEP PERFUSI PERIFER TIDAK AKTIF PADA ULKUS DIABETIKUM


1. PENGERTIAN PERFUSI PERIFER TIDAK EFEKTIF
Perfusi perifer tidak efektif merupakan penurunan sirkulasi darah pada
level yang dapat mengganggu metabolisme tubuh (SDKI, 2016).
Sedangkanmenurut (Nurarif & Kusuma, 2015) perfusi perifer tidak efektif
merupakan penurunan darah ke perifer yang dapat mengganggu kesehatan.

2. PATOFISIOLOGI
Proses masalah kaki pada penderita diabetes mellitus terjadi diawali
dengan adanya hiperglikemi yang dapat menyebabkan terjadinya
kelainanneuropati dan kelainan pada pembuluh darah. Neuropati, baik
neuropati sensorikmaupun motoric dan autonom menyebabkan berbagai
perubahaan pada otot dankulit yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya
perubahan ditribusi tekanan padatelapak kaki dan kemudian akan
mempermudah terjadinya ulkus. Adanya kerentanan terhadap infeksi
mengakibatkan infeksi mudah merebak menjadi infeksi yang luas. Faktor aliran
darah yang kurang akan lebih lanjut menambah rumitnya pengelolaan kaki
diabetes (Wijaya, Andra Saferi dan Mariza Putri, 2013).
Ulkus diabetikum terdiri dari adanya kavitas sentral dan biasanya lebih
besar disbanding pintu masuknya, dikelilingi oleh kalus keras dan
tebal.Awalnyapembentukan ulkus berhubungan dengan adanya hiperglikemia
yang memberikan dampak terhadap saraf perifer, keratin, kolagen dan suplai
vaskuler.Dengan adanya tekanan mekanik terbentuk keratin yang keras pada
daerah kaki yang mengalami beban terbesar.Neuropati sensoris perifer dapat
menyebabkan terjadinya trauma berulang yang mengakibatkan terjadinya
kerusakan jaringan area kalus.selanjutnya dapat menyebabkan terbentuknya
kavitas yang membesar dan akhirnya ruptur yang melus sampai ke permukaan
kulit dan menimbulkan terjadinya ulkus. Adanya iskemia dan penyembuha luka
abnormal menghalangi resolusi.Mikroorganisme yang masuk mengadakan
kolonisasi didaerah ini. Drainase yang inadekuat menimbulkan close space
infection. Akhirnya sebagai konsekuensi system imun yang abnormal, bakteri
sulit dibersihkan, dan infeksi menyebar ke jaringan sekitarnya (Wijaya, Andra
Saferi dan Mariza Putri, 2013).
Penyakit neuropati dan vaskuler adalah factor utama yang
mengkontribusi terjadinya luka.Terjadinya masalah luka pada pasien diabetik
terkait erat denganpengaruh pada saraf yang terdapat pada kaki dan biasanya
dikenal denganneuropati perifer (Wijaya, Andra Saferi dan Mariza Putri,
2013).Pada neuropati mekanisme umum yang dapat dijelaskan adalah Adanya
Polyol Pathway. Kejadianneuropati yang diakibatkan karena status
hiperglikemia akan memacu aktifitasenzim Aldostase Reductase dan Sorbitol
Dehydrogenase. Hal ini mengakibatkanterjadinya konversi glukosa intraseluler
menjadi sorbitol dan fructose.Akumulasikedua produk gula tersebut
menghasilkan penurunan pada sinstesis sarafMyoinositol, yang dibutuhkan
untuk konduksi neuron normal. Selanjutnyakonversi kimiawi glukosa
menghasilkan penurunan cadangan nikotonamidadenine dinukliotid pospat
(NADP) , yang dibutuhkan untuk detoksifikasi reaksioksigen dan untuk sintesis
vasodilator nitric oksida (NO). terjadinya peningkatkanstress oksidatif pada sel
saraf dan peningkatan vasokonstriksi menyebabkaniskemia, yang pada akhirnya
meningkatkat injuri pada sel saraf dan kematian.Hiperglikemia dan stress
oksidatif juga berkontribusi terhadap proses glikasiprotein sel saraf dan aktivasi
yang tidak tepat dari protein kinase C, yangmengakibatkan disfungsi system
saraf dan iskemia (Tarwoto & Dkk., 2012).
Pasien diabetik sering kali mengalami gangguan pada
sirkulasi.Gangguansirkulasi ini adalah yang berhubungan dengan Pheripheral
Vascular Disease(PAD) yang merupakan factor perkembangan ulserasi kaki
sampai 50% kasus.Kondisi ini umumnya mempengaruhi arteri peroneal pada
otot betis dan arteritibialis.Disfungsi sel endotelial dan abnormalitas sel otot
polos berkembang padapembuluh arteri sebagai konsekuensi status
hiperglikemia yang peristen.Perkembangan selanjutnya mengakibatkan
penurunan kemampuan vasodilatorendothelium yang menyebabkan
vasokontriksi pembuluh arteri.Lebih jauhhiperglikemia pada diabetes
dihubungkan dengan peningkatkan thromboxane A2, suatu vasokontriktor dan
agonisagregasi platelet, yang memicu peningkatanhiperkoagulasi plasma.Selain
itu juga terjadi penurunan fungsi matriks ekstraseluler pembuluh darah yang
memicu terjadinya stenosis lumen arteri.Akumulasi kondisi diatas memicu
terjadinya penyakit obstruksi arteri yang pada akhirnya mengakibatkan iskemia
pada ekstremitas bawah dan meningkatkan Risiko ulserasi pada DM. Efek
sirkulasi inilah yang menyebabkan kerusakan pada saraf. Hal ini terkait dengan
neuropati yang berdampak pada sistem saraf autonom, yang mengontrol fungsi
otot-otot kalus, kelenjar dan organ visceral (Tarwoto &Dkk., 2012).
Adanya gangguan pada saraf autonom pengaruhnya adalah terjadinya
perubahan tonus otot yang menyebabkan abnormalitas aliran darah
(Wijaya,Andra Saferi dan Mariza Putri, 2013).Peningkatan viskositas darah
yang terjadipada pasien diabetes timbul berawal pada kekakuan mernbran sel
darah merahsejalan dengan peningkatan aggregasi eritrosit, Karena sel darah
merah bentuknyaharus lentur ketika melewati kapiler, kekakuan pada membran
sel darah merahdapat menyebabkan hambatan aliran dan kerusakan pada
endotelial.Glikosilasinon enzimatik protein spectrin membran sel darah merah
bertanggungjawab padakekakuan dan peningkatan aggregasi yang telah
terjadi.Akibat yang terjadi daridua hal tersebut adalah peningkatan viskositas
darah. Mekanisme glikosilasihampir sama seperti yang terlihat dengan
hemoglobin dan berbanding lurusdengan kadar glukosa darah.
Penurunan aliran darah akibat dari perubahan viskositas memacu
meningkatkanya kompensasi dalam tekanan perfusi sehingga akan
meningkatkantransudasi melalui kapiler dan selanjutnya dapat meningkatkan
viskositas darah.Iskemia perifer yang terjadi lebih lanjut disebabkan oleh
adanya peningkatanafinitas hemoglobin terglikolasi terhadap molekul oksigen
(Mathes., 2007). Efekmerugikan yang ditimbulkan oleh hiperglikemia yaitu
terhadap aliran darah danperfusi jaringan.Dengan demikian kebutuhan nutrisi
dan oksigen maupunpemberian antibiotic tidak mencukupi atau tidak mampu
mencapai jaringanperifer, juga tidak memenuhi kebutuhan metabolisme pada
lokasi tersebut(Wijaya, Andra Saferi dan Mariza Putri, 2013). Sehingga
terjadinya perfusi perifertidak efektif yang sering ditandai dengan pengisian
kapiler >3 detik, nadi perifermenurun atau tidak teraba, akral teraba dingin,
warna kulit pucat, turgor kulitmenurun, warna kulit pucat, edema,
penyembuhan luka lambat, indeks anklebrachial <0,90, bruit femoral, parastesia
dan nyeri ekstremitas (kludikasiintermiten) (SDKI, 2016).Penyakit pembuluh
perifer mengakibatkanpenyembuhan luka yang buruk dan meningkatkan risiko
amputasi.
3. MANIFESTASI KLINIS
Adapun manifestasi klinis dari perfusi perifer tidak efektif menurut
(SDKI, 2016) :
a. Pengisian kapiler < 3 detik
b. Nadi perifer menurun atau tidak teraba
c. Akral teraba dingin
d. Warna kulit pucat
e. ABI <0,90
f. Parastesia
g. Tugor kulit menurun
h. Edema
Menurut Stems (2014) edema adalah suatu pembengkakan yang
terjadi pada organ tubuh, tempat yang paling sering pada kaki dan tangan
(peripheral edema), abdomen (asites) dan pada dada (edema pulmonal).Jadi
edema merupakan suatu kondisi dimana terdapat kelebihan cairan di dalam
rongga interstisial akibat adanya penyumbatan saluran limfe dan kegagalan
mekanisme aliran balik vena.
i. Penyembuhan luka lambat
Menurut (Tellechea, Leal, Veves, & Carvalho, 2010)
Gangguanpenyembuhan ulkus kaki diabetik terjadi karena empat faktor
yaitu adanyahiperglikemia yang berlangsung secara terus menerus,
lingkungan pro-inflamasi,penyakit arteri perifir, dan neuropati perifir,
keempat keadaan di atas secarabersam-sama menyebabkan gangguan
fungsi sel imun, respon inflamasi menjaditidak efektif, disfungsi sel
endotel, dan gangguan neovaskularisasi.
j. Indek ankle-brankial index kurang dari 0,90
Ankle Brachial Index (ABI) merupakan rasio atau perbandingan
antara tekanan darah sistolik yang diukur pada pergelangan kaki dengan
arteri brachialis. Dalam kondisi normal, nilai dari ABI adalah >0,9, ABI
0,71–0,90 terjadi iskemia ringan, ABI 0,41–0,70 telah terjadi obstruksi
vaskuler sedang, ABI 0,00–0,40 telah terjadi obstruksi vaskuler berat.
Perjalanan alami PAD mencakup penurunan nilai ABI seiring perjalanan
waktu. Dari serangkaian pemeriksaan pasien yang dilakukan di
laboratorium vaskular, nilai ABI mengalami penurunan rata-rata 0,06 tiap
4,6 tahun. Tingkatan ABI juga dapat digunakan untuk memprediksi
kejadian yang mengenai ekstremitas bawah dimana tekanan darah sistolik
di bawah atau sama dengan 50 mmHg sering dihubungkan dengan angka
amputasi yang tinggi (Norgren L, Hiatt WR, 2007).
k. Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten)
Nyeri dan kram pada betis yang timbul saat berjalan dan hilang saat
berhentiberjalan, tanpa harus duduk. Gejala ini muncul jika Ankle-Brachial
Index < 0,75.

4. PENATALAKSANAAN ULKUS DIABETIKUM DENGAN PERFUSI


PERIFER TIDAK EFEKTIF
Tujuan utama penatalaksanaan ulkus diabetik adalah mencapai penutupan
luka secepatnya.Mengatasi ulkus kaki diabetik dan menurunkan kejadian
berulangdapat menurunkan kemungkinan amputasi pada ekstremitas bagian
bawah pasienDM (Tarwoto, 2012: 230).
Asosiasi penyembuhan luka mendefinisikan luka kronik adalah luka yang
mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan sesuai dengan yang
seharusnyadalam mencapai integritas anatomi dan fungsinya, terjadi
pemanjangan prosesinflamasi dan kegagalan dalam reepitelisasi dan
memungkinkan kerusakan lebihjauh dan infeksi. Menurut Frykberg, R. G.,
Zgonis, T., Armstrong, D. G., Driver,V. R. & M., Kravitz (2006) menyatakan
area penting dalam manajemen ulkuskaki diabetik meliputi manajemen
komorbiditi, evaluasi status vaskuler dantindakan yang tepat pengkajian gaya
hidup/faktor psikologi, pengkajian danevaluasi ulser, manajemen dasar luka
dan menurunkan tekan. Adapun dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Manajemen komorbiditi.
Diabetes Mellitus merupakan penyakit multi organ, semua
komorbiditiyang mempengaruhi penyembuhan luka harus dikaji dan
dimanajemen,multidisplin untuk mencapai tujuan yang optimal pada ulkus
kaki diabetik.Beberapa komorbiditi yang mempengaruhi penyembuhan
luka meliputihiperglikemia dan penyakit vaskuler (Tarwoto, 2012: 228).
b. Evaluasi status vaskuler
Perfusi arteri memegang peranan penting dalam penyembuhan luka
danharus dikaji pada pasien dengan ulkus, selama sirkulasi terganggu luka
akanmengalami kegagalan penyembuhan dan berisiko amputasi. Adanya
insufisiensivaskuler dapat berupa edema, karakteristik kulit yang terganggu
(tidak ada rambut,penyakit kuku, penurunan kelembaban), penyembuhan
lambat, ekstremitas dingin,penurunan pulsasi perifer (Tarwoto, 2012: 239).
Pemeriksaan khusus padavaskular dapat mengidentifikasi komponen-
komponen dalam sistem vascular proses penyakit, proses patologi spesifik,
tingkatan lesi pada pembuluh darah dansejauh mana keparahan kerusakan
pembuluh darah. Pemeriksaan diagnostik untukmengetahui fungsi
pembuluh darah meliputi pemeriksaan non invasif dan invasif.Pemeriksaan
non invasif meliputi tes sederhana torniquet,
plethysmography,ultrasonography atau imaging duplex, pemeriksaan
dopler, analisis tekanansegmental, perhitungan TcPO2 dan magnetic
resononce angiography (MRA)(Tarwoto & Dkk., 2012).
c. Pengkajian gaya hidup/faktor psikososial
Gaya hidup dan faktor psikologi dapat mempengaruhi penyembuhan
luka.Contoh, merokok, alkohol, penyalahgunaan obat, kebiasaan makan,
obesitas,malnutrisi dan tingkat mobilisasi dan aktivitas. Selain itu depresi
dan penyakitmental juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan (Tarwoto
& Dkk., 2012)
d. Pengkajian dan evaluasi ulkus.
Pentingnya evaluasi secara menyeluruh tidak dapat
dikesampingkan.Penemuan hasil pengkajian yang spesifik akan
mempengaruhi secara langsungtindakan yang akan dilakukan. Evaluasi
awal dan deskripsi yang detail menjadipenekanan meliputi lokasi, ukuran,
kedalaman, bentuk, 44 inflamasi, edema,eksudat (kualitas dan kuantitas),
tindakan terdahulu, durasi, kalus, maserasi,eritema dan kualitas dasar luka
(Tarwoto & Dkk., 2012)
e. Manajemen jaringan/tindakan dasar ulkus.
Tujuan dari debridemen adalah membuang jaringan mati atau
jaringanyang tidak penti.Debridemen jaringan nekrotik merupakan
komponen integraldalam penatalaksanaan ulkus kronik agar ulkus
mencapai penyembuhan. Prosesdebridemen dapat dengan cara
pembedahan, enzimatik, autolitik, mekanik, danbiological (larva).
Kelembaban akan mempercepat proses reepitelisasi pada
ulkus.Keseimbangan kelembaban ulkus meningkatkan proses autolisis dan
granulasi.Untuk itu diperlukan pemilihan balutan yang menjaga
kelembaban luka.Dalampemilihan jenis balutan, sangat penting bahwa
tidak ada balutan yang paling tepatterhadap semua kaki diabetik (Delmas,
2006).
f. Penurunan Tekanan/Off-Loading
Menurunkan tekanan pada ulkus kaki diabetic adalah tindakan
yangpenting.Off-loading mencegah trauma lebih lanjut dan membantu
meningkatkanpenyembuhan. Delmas (2006) menyatakan ulkus kaki
diabetic merupakan lukakomplek yang dalam penatalaksanaannya harus
sistematik, dan dengan pendekatantim interdisiplin. Perawat memiliki
kesempatan signifikan untuk meningkatkan danmempetahankan kesehatan
kaki, mengidetifikasi masalah kegawatan yang munculmenasihati pasien
terhadap factor Risiko, dan mendukung praktik perawatan diriyang tepat.

C. PENCEGAHAN
Langkah – langkah yang dapat diambil dalam mencegah luka diabetes antara lain:
1. Periksakan kaki dan anggota gerak lain secara rutin
Setiap hari diharapkan pasien DM memeriksa kedua kakinya dan anggota
gerak lain agar dapat langsung mengetahui bila ada keanehan atau luka yang
muncul yang tidak terasa sakit. Penting juga untuk melakukan pemeriksaan
kaki dan anggota gerak lain rutin setiap 3 – 6 bulan sekali ke tenaga kesehatan
profesional supaya bila terdapat luka dapat tertangani lebih cepat dan
menurunkan resiko komplikasi pada luka.
2. Lakukan pengobatan DM dengan baik
Langkah terpenting untuk pencegahan luka diabetes tentu adalah kontrol
gula darah teratur, selain gula darah juga kontrol profil lipid yang baik untuk
menurunkan faktor resiko luka diabetik.PRINSIP : SEMAKIN BAIK KADAR
GULA TERKONTROL, SEMAKIN KECIL RESIKO TERJADI
KOMPLIKASI LUKA DIABETES
3. Perawatan kaki yang baik
Penelitian menunjukkan bahwa pasien DM yang memperhatikan kondisi
kakinya lebih jarang mengalami luka diabetes di kakinya.Perawatan kaki yang
baik meliputi:
a. Perhatikan dengan seksama sampai ke sela jari kondisi
b. Bila didapatkan adanya luka maupun benjolan seperti mata ikan (clavus)
dsb pada kaki, jangan berusaha ditangani sendiri.
c. Gunakan pelembap pada kaki untuk mencegah luka akibat kulit pecah
karena terlalu kering terutama daerah tumit
d. Potong kuku jangan terlalu rendah jauh di batas kulit dan kuku, cukup di
atasnya saja
e. Cuci kaki secara teratur termasuk sela jari dan keringkan
f. Gunakan alas kaki yang longgar walaupun di dalam rumah untuk
mencegah luka pada kaki, TIDAK DIANJURKAN BERJALAN TANPA
ALAS KAKI
g. Bila menggunakan sepatu naikkan 1 ukuran di atasnya dan gunakan kaus
kaki berbahan lembut
h. Kurangi kebiasaan mencelupkan kaki ke air hangat atau panas.
i. Bila telah terlanjur mengalami luka pada telapak kaki, segera ke tenaga
kesehatan profesional untuk mendapatkan penatalaksanaan terhadap luka
supaya tidak bertambah dan mencegah komplikasi lanjutan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS PASIEN
Identitas pasien dapat meliputi identitas pasien secara umum yang terdiri
darinama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama ,alamat ,pekerjaan,
statusperkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit
dandiagnosa medis.
2. KELUHAN UTAMA
Keluhan utama yang dirasakan pasien biasanya yaitu adanya rasa kesemutan
pada kaki atau tungkai bawah, rasa raba menurun, adanya nyeri pada luka
danluka yang tidak kunjung sembuh dan berbau.
3. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
Riwayat kesehatan sekarang terdiri dari kapan luka terjadi, penyebab terjadinya
luka dan upaya untuk mengatasi luka tersebut.
4. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit-penyakit lain yang ada kaitannya
dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pancreas.Adanya obesitas,
riwayatpenyakit jantung, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah
didapatmaupun obat-obatan yang biasa digunakan penderita.
5. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Riwayat kesehatan keluarga dapat di lihat dari genogram keluarga yang
akanmenunjukkan salah satu anggota keluarga yang juga mengalami DM
ataupenyakit keturunan yang dapat mengakibatkan terjadinya defisiensi
insulinmisalnya jantung, hipertensi dll.
6. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Meliputi informasi prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita
sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap
penyakitpenderita.
7. PEMERIKSAAN FISIK
a. Aktivitas dan istirahat
Lelah, kelemahan, sulit bergerak/berjalan, kram otot, penurunan kekuatan
otot dan tonus otot,
b. Sirkulasi
Adanya riwayat AMI, klaudikasi, hipertensi, kebas, kesemutan , ulkus kaki
dan penyembuhan lama. Selain itu menunjukkan gejala takikardi,
perubahan TDpostural, penurunan atau absen nadi, disritmia JVP, kulit
yang kering, hangatdan mataa cekung.
c. Integritas ego
Stress dan ansietas
d. Eliminasi
Perubahan pola berkemih, polyuria, nocturia, nyeri dan panas serta
kesulitan mengosongkan kandung kemih, infeksi kandung kemih, diare ,
perut lunakkembung, urin berwarna kuning pekat, polyuria menjadi
oliguria dan anuri jikaterjadi hypovolemia, urin berbau keruh (infeksi),
perut kerat dan berdistensi,bising usus bekurang atau meningkat.
e. Makan/minum
Pasien DM dapat melaporkan gejala penurunan nafsu makan, mual muntah,
anoreksia , penurunan berat badan, haus dan penggunaan deuretik.
f. Neurosensory
Gejala yang dirasakan dapat berupa pusing, sakit kepala, kesemutan , kebas
kelemahan pada otot, parastesia, dan gangguan penglihatan.
g. Nyeri/kenyamanan
Pasien DM dapat merasakan nyeri pada perut dan kembung.Tanda yang
muncul yaitu ekspresi muka menyeringai saat palpasi abdomen dan
sikapmelindungi.

h. Pernafasan
Pernafasan dapat menunjukkan nafas cepat (DKA), batuk dengan atau
tanpa sputum prulen (terganggunya adanya infeksi/tidak).
i. Keamanan
Pada pasien dm sering mengeluh gatal, kulit kering dan ulkus pada kulit.
8. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah dapat meliputi pemeriksaan glukosa darah yaitu :GDS>
200mg/dl, dua jam post prandial >200mg/dl, dan gula darah puasa >
120mg/dl
b. Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara benedict (reduksi). Hasil dapat dilihat melalui
perubahan warnapada urine : hijau (+), kuning (++), merah (+++), dan
merah bata (++++).
c. Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotic yang sesuai
dengan jenis kuman.

B. DIAGNOSA
1. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri
dan/atau vena
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi
3. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan ganggren ditandai dengan
nekrosis luka
4. Resiko infeksi berhubungan dengan tingginya kadar gula darah
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan tubuh mengabsorbsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor
biologis
6. Risiko cidera berhubungan dengan retinopati
7. Kelelahan berhubungan dengan status penyakit
8. Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan ulkus diabetikum
9. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh, program
pengobatan, dan prosedur bedah
C. INTERVENSI PERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI


1 Perfusi perifer tidak efektif Selama 3 x24 jam,perfusi jaringanperifer NIC :
pasienmenjadi efektifdengan kriteria hasil: Circulatory Care : ArterialInsufficiency
NOC : 1. Lakukan penilaiankomprehensif dari
Tissue PerfusionPeripheral sirkulasi perifer (mis:memeriksa
1. Capilary refill pada jari-jaritangan denyut nadiperifer, edema,
dalambatas normal (<2 dtk) capillaryrefill, warna,dan suhu)
2. Tekanan darahsistolik dalambatas 2. Evaluasi edema periferdan denyut
normal(<140 mmHg) nadi
3. Tekanan darahdiastolik dalambatas 3. Beri obat antiplateletatau
normal (<90 mmHg) antikoagulan, jika diperlukan
4. Tekanan nadi(dalam batasnormal (60- 4. Rubah posisi pasiensetidaknya setiap
100x/mnt) 2 jam,jika di perlukan
5. Tidak terjadiedema padaperifer 5. Lindungi ektremitas daricedera
6. Pertahankan hidrasiyang adekuat
untukmenurunkan kekentalandarah
7. Monitor status cairan,termasuk
asupan dankeluaran
Circulatory Care : Venous Insufficiency
1. Tinggikan daerahekstremitas sebesar
20derajat atau lebih di atastingkat
jantung, jikadiperlukan
Fluid Management
1. Monitor berat badanharian pasien
2. Monitor tanda vital pasien
3. Kaji lokasi dan luasnyaedema
2 Gangguan konsep diri: harga diri rendah Kepercayaan diri klien kembali normal 1. Diskusikan persepsi klien tentang citra
dengan kriteria hasil: tubuhnya yang dulu dan saat ini,
1. Dapat mengidentifikasi citra tubuhnya perasaan dan harapan yang dulu dan
2. Dapat mengidentifikasi potensi (aspek saat ini terhadap citra tubuhnya
positif) 2. Diskusikan potensi bagian tubuh yang
3. Dapat melakukan cara untuk lain
meningkatkan citra tubuh 3. Bantu pasien untuk meningkatkan
4. Dapat berinteraksi dengan orang lain fungsi bagian tubuh yang terganggu
4. Ajarkan untuk meningkatkan citra
tubuh
5. Motivasi klien untuk melihat bagian
yang hilang secara bertahap
6. Bantu klien untuk menyentuh bagian
tersebut
7. Motivasi klien untuk melakukan
aktivitas
8. Lakukan interaksi secara bertahap
3 Gangguan citra tubuh Keluarga dapat membantu dalam 1. Jelaskan dengan keluarga tentang
meningkatkan kepercayaan diri klien dengan gangguan citra tubuh yang terjadi pada
kriteria hasil: klien
1. Dapat mengenal masalah gangguan 2. Jelaskan kepada keluarga cara
citra tubuh mengataasi gangguan citra tubuh
2. Dapat mengetahui cara mengatasi 3. Ajarkan kepada keluarga cara merawat
masalah gangguan citra tubuh klien
3. Mampu merawat klien gangguan citra 4. Memfasilitasi interaksi dirumah
tubuh 5. Memberikan pujian atas keberhasilan
klien
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
dengan adanya kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Smeltzer
c.s, 2012). Survei yang dilakukan oleh world health organization (who), indonesia
menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes militus (dm) terbesar di
dunia setelah india, cina, dan amerika serikat, dengan prevalensi 8,6% dari semua
total penduduk. Pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap dm dan tahun 2025
diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita (nasriati, 2013).
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan ulkus
adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit.Adanya
kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga
merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati
perifer, (Andyagreeni, 2010).Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi
yang berkaitan dengan morbiditas akibat Diabetes Mellitus.Ulkus kaki Diabetes
merupakan komplikasi serius akibat Diabetes, (Andyagreeni, 2010).
Penyebab dari ulkus kaki diabetik ada beberapa komponen yaitu meliputi
neuropati sensori perifer, trauma, deformitas, iskemia, pembentukan kalus, infeksi
dan edema.faktor penyebab terjadinya ulkus diabetikum terdiri dari 2 faktor yaitu
faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen yaitu genetik metabolik, angiopati
diabetik, neuopati diabetik sedangkan faktor eksogen yaitu trauma, infeksi, dan obat
(Wijaya, Andra Saferi dan Mariza Putri, 2013).Terdapat 2 penyebab ulkus diabetic
secara umum yaitu neuropati dan angiopati diabetik.
Adapun manifestasi klinis dari perfusi perifer tidak efektif menurut (SDKI, 2016)
yaitu Pengisian kapiler < 3 detik, Nadi perifer menurun atau tidak teraba, Akral
teraba dingin, Warna kulit pucat, ABI <0,90, Parastesia, Tugor kulit menurun,
Edema, Penyembuhan luka lambat, Indek ankle-brankial index kurang dari 0,90,
dan Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten)
Tujuan utama penatalaksanaan ulkus diabetik adalah mencapai penutupan luka
secepatnya.Mengatasi ulkus kaki diabetik dan menurunkan kejadian berulang dapat
menurunkan kemungkinan amputasi pada ekstremitas bagian bawah pasien DM
(Tarwoto, 2012: 230).

B. SARAN
Semoga diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Serta dapat
mengaktualisasikannya pada lingkungan sekitar baik dalam lingkungan keluarga
maupun masyarakat dan juga dengan adanya makalah ini pembaca dapat
menerapkan serta dapat mengaplikasikan apa yang telah dipaparkan oleh penulis
DAFTAR PUSTAKA

Herdman T. Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC

Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7.Jakarta : EGC

Hastuti, r.t. (2008).Faktor-faktor resiko ulkus diabetika pada penderita diabetes


mellitus.Tesis. Semarang: undip

Ribu, l., & wahl, a. (2014). How patient diabetes who have foot and leg ulcer perceive
the nursing care they receive. Journal of wound care.

Smeltzer cs & bare gb. (2012). Buku ajar keperawatan medikal–bedah (dr. H. Y.
Kuncara, penerjemah). Jakarta: egc

Desi Wulandari, dkk. 2015. Asuhan Keperawatan pada Ny.B dengan ulkus diabetes mellitus grade II di
ruang SS RSUP seger waras.
(https://www.academia.edu/30561600/ASUHAN_KEPERAWATAN_PADA_NY._B_DENGAN_ULKU
S_DIABETES_MELITUS_GRADE_II_DI_RUANG_SS_RSUP_SEGER_WARAS_ASUHAN_KEPER
AWATAN_PADA_NY._B_DENGAN_ULKUS_DIABETES_MELITUS_GRADE_II_DI_RUANG_SS_
RSUP_SEGER_WARAS)

http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/500/1/EVI%20ERNAWATI%20NIM.%20A01401890.pdf

http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/542/3/BAB%20II.pdf