Anda di halaman 1dari 11

Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak.

, CA 2020

RANGKUMAN BAB 7
FIELD WORK
Auditor internal setelah melakukan survey pendahuluan dan menetapkan
program audit yang akan dijalankan, maka langkah selanjutnya adalah
melakukan pekerjaan lapangan. Pekerjaan lapangan merupakan proses untuk
mendapatkan keyakinan secara sistematis dengnan mengumpulkan bahan bukti
secara objektif mengenai operasi entitas, mengevaluasinya, dan melihat apakah
operasi tersebut memenuhi standar danapakah telah mencapai tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan.
Pekerjaan lapangan ini, membutuhkan penelaahan yang tepat dalam
menerapkan teknik-teknik yan gkaan digunakan dalam pengumpulan data,
menyusun, mencatat, dan mengevaluasi bahan bukti audit.
Pentingnya pemahaman mengenai proses serta tujuan pekerjaan lapangan
dapat membantu seorang internal auditor dalam melakukan pekerjaan lapangan.
Maka dari itu tugas ini dibuat untuk menjelaskan kembali mengenai “Pekerjaan
Lapangan II”.

1. Penerapan Teknik-teknik audit


Teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,
menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan
pada beragam kondisi. Teknik-teknik ini diterapkan dalam kerangka tertentu,
tergantung pada masalah yang menjadi subjek yang diaudit. Hasil akhirnya
adalah opini dan rekomendasi audit.
Penugasan audit dapat dilakukan dalam beberapa bentuk sebagai berikut :
a. Audit Fungsional
Audit fungsional adalah audit yang mengikuti proses dari awal hingga akhir,
melintasi lini organisasi. Cenderung lebih berkonsentrasi pada operasi dan
proses dibandingkan pada administrasi dan orang-orang yang ada dalam
organisasi. Audit ini bertujuan untuk menentukan seberapa baik fungsi-fungsi
dalam organisasi akan saling berinteraksi dan bekerja sama. Audit fungsional
yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit atas:
 Pemesanan, penerimaan, dan pembayaran bahan baku dan perlengkapan
 Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna
 Penerapan perubahan pada produk
 Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa
 Pengendalian dan praktik keselamatan
 Program untuk mendeteksi konflik kepentingan
 Pengelolaan aset-aset modal
 Formulasi anggaran
 Fungsi-fungsi pemasaran
b. Audit Organisasional
Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memerhatikan aktivitas
yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol administratif yang
digunakan untuk memastikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan.
Pendekatan organisasional yang tajam sering kali bisa memberikan
1
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

pandangan yang luas atas operasi, melebihi yang diperoleh hanya dari
pengujian transaksi.
Auditor harus menerapkan prinsip-prinsip kontrol manajemen supaya dapat
diterapkan. Auditor internal harus mengetahui prinsip-prinsip perencanaan dan
pengarahan. Setiap organisasi harus ditelaah produktivitasnya, karena
produktivitas merupakan kunci bertahannya organisasi dalam lingkungan yang
kompetitif. Untuk menilai produktivitas, auditor internal harus mempelajari
tujuan produktivitas organisasi dan menetapkan sasaran kuantitatif untuk
mengukur produktivitas secara objektif.
c. Studi Manajemen
Setiap organisasi membutuhkan konsultan luar untuk melakukan studi
manajemen, membuat evaluasi, dan menawarkan rekomendasi untuk
memperbaiki masalah organisasi. Organisasi-organisasi ini telah
mendapatkan manfaat dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para
konsultan.
Standar Implementasi 2010 C1 menyatakan bahwa: “Kepala bagian audit
harus mempertimbangkan diterimanya penugasan konsultasi yang diusulkan
berdasarkan potensi yang ada dalam penugasan untuk meningkatkan
pengelolaan risiko, menambah nilai, dan meningkatkan operasi organisasi...”
Penugasan manajemen harus diminta dan disahkan oleh manajemen
eksekutif. Auditor harus menerapkan semua teknik mempengaruhi yang
mereka miliki sejak permulaan dan di sepanjang penugasan. Mereka harus
membuat manajemen tetap mengetahui informasi dan memperoleh
rekomendasi pada tingkat akar rumput sebelum menyajikannya ke
manajemen.
Segera setelah mengenali situasi tersebut, auditor internal harus membuat
presentasi formal ke manajemen mengenai pandangan mereka terhadap
masalah tersebut dan bagaimana usulan untuk mengatasinya. Presentasi
parameter-parameter dari masalah, dan teori kasus begitu auditor
membedahnya, memiliki beberapa manfaat. Hal ini bisa memaksa manajemen
untuk mempertimbangkan masalah tersebut dalam cara pandang yang belum
pernah dipertimbangkan sebelumnya.Studi itu sendiri harus dilakukan secara
mendalam, membutuhkan penelaahan ekstensif dan penelitian. Studi harus
menghasilkan jawaban yang kuat atas setiap pertanyaan relevan yang
diajukan manajemen, dan bisa memberi dukungan yang kuat atas
rekomendasi yang diajukan.
d. Audit atas Program
Manajemen eksekutif biasanya meminta untuk dilakukannya audit atas
program yang telah mereka buat. Program tersebut biasanya mencakup setiap
upaya yang didanai seiring dengan aktivitas normal organisasi yang sedang
berlangsung dan berhubungan dengan tujuan organisasi. Tujuan audit atas
program adalah memberikan manajemen informasi mengenai biaya,
pelaksanaan, dan hasil-hasil program dan membuat evaluasi yang informatif,
bermanfaat, dan objektif. Penelaahan dan pemahanan terhadap beberapa
istilah sebagai berikut :
 Evaluasi , memastikan nilai sesuat dengan membandingkan antara
2
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

pencapaian dengan standar dan tujuan


 Evaluasi program, mengevaluasi apa yang telah dicapai terkait dengan
sumber daya yang digunakan, dan apakah tujuan-tujuan program telah
layak dan sesuai.
 Studi biaya manfaat, mempertimbangkan hubungan antara sumber daya
yang digunakan, biaya dan manfaat. Disini auditor juga mengidentifikasi
pilihan terbaik dalam nilai uang atas manfaat terbesar dengan biaya
tertentu atau tingkat manfaat yang diperlukan pada biaya rendah.
 Studi efektifitas biaya, mempertimbangkan manfaat (hasil) yang tidak
dapat diukur dalam nilai uang dan pemanfaatan program baru.
Auditor internal melakukan audit atas program menentukan apa yang dicapai
dari program tersebut?, apakah program tersebut berhasil? Apakah terdapat
sistem yang memadai untuk memastikan keberhasilan dimasa yang akan
datang?.
Auditor internal juga perlu memerhatikan keluaran apa yang dihasilkan,
manfaat atau hasil dari berjalannya program tersebut , dan dampak
pemberlakukan program tersebut terhadap lingkungan baik terhadap suatu
komunitas, masyarakat, atau bahkan dunia.
Masalah akan timbul mengenai tujuan atas pengauditan program tersebut
yang pada akhirnya akan membuat auditor internal sulit mengidentifiksi
keberhasilan program, yaitu ketika tujuan, sasaran, dan standar perusahaan
tidak dikemukakan dengan jelas oleh manajemen, dewan komisaris, atau
badan badan lainnya serta ketika tujuan-tujuan saling tumpang tindih dan
bahkan kurangnya pemahaman terhadap orang yang bertanggungjawab
terhadap capaian tujuan dan sasaran perusahaa. Dengan demikian auditor
internal akan kesulitan memahami dan tidak bisa membuat evaluasi yang
objektif. Tolok ukur atas tujuan dan sasaran tesebut harus jelas dan
disepakati.
e. Audit atas Kontrak
Manajemen eksekutif biasanya meminta untuk dilakukannya audit atas kontrak
yang telah mereka buat. Manajemen biasanya kurang paham mengenai biaya
dalam kontrak operasi yang dilakukan. Permintaan audit atas kontrak ini dapat
membantu manajemen dalam memahami apakah kontrak yang dilakukan
telah tepat dan atau malah menjadi pemborosan biaya dan lain-lain.
Kontrak umumnya terdiri atas tiga kategori yaitu :
1. Biaya Sekaligus (lump-sum) merupakan kontrak dengan harga tetap.
Masalah yang timbul adalah ketika kontrak terdapat kenaikan, kemajuan
pembayaran, ketentuan intensif, dan penyesuaian atas biaya pekerjaan
lapangan. Auditor internal harus memahami dan mengetahui ketetapan
apa saja sehingga membuat adanya perubahan seperti itu. Dan apakah
perubahan tersebut sesuai dan wajar sehingga manajemen mengerti dan
memahami hal hal yang perlu dipertimbangkan apabila terjadi terhadap
hal tersebut diatas.
2. Biaya Tambahan (cost-plus) merupakan kontrak yang memiliki ketidak
pastian. Karena biaya tambahan diajukan ketika proyek masih berjalan
atas biaya-biaya tak terduga lainnya. Dalam hal ini auditor internal perlu
3
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

mengawasi atas biaya-biaya yang memungkinkan terhadap biaya tak


terduga tersebut. Auditor internal juga harus menyadari ketentuan
intensifitas waktu yang dilakukan kontraktor. Auditor juga perlu
memahami dan mengawasi keandalan laporan dari kontraktor tersebut.
Auditor internal juga perlu menimbang kemungkinan buruk yang mungkin
terjadi ketika terdapat biaya tambahan dan memastikan apakah biaya
tersebut benar dan atau terjadi akibat kelalaian dari kontraktor.
3. Harga Per Unir (unit-price) merupakan kontrak dengan proyek yang
membutuhkan pekerjaan yang seragam dalam jumlah yang besar.
Misalnya, membersihkan lahan dalam ukuran hektar. Biasanya harga
disepakati perunit penyelesaiannya. Masalahnya adalah membuat
pencatatan yang layak tentang jumlah pekerjaan yang diselesaikan.
Dari ketiga kontrak tersebut hal yang perlu diperhatikan oleh seorang auditor
internal adalah ketentuan penelaahan sistem, penelaah kemajuan, dan audit
biaya dalam kontrak konstruks sehingga mencegah terjadinya kecurangan
yang terjadi dalam proyek tersebut

2. Audit Terintegrasi
Konsep integrasi bisa luas dan mencakup aspek-aspek seperti
menyediakan audit yang berlaku sebagai:
 Audit berkelanjutan atas elemen-elemen neraca dan operasional dalam audit
kinerja
 Pelaksanaan audit tetap tahap varian dari koperasi klien yang biasanya akan
diaudit secara terpisah
 Sebuah latihan dalam audit partisipasid yang klien : membantu perencanaan
audit dan/atau berpartisipasi dengan staf salam pelaksanaan audit
 Sebuah audit yagn sebenarnya menggabungkan berbagai tahap audit
internal yang berbeda seperti : audit keuagan, audit kinerja, audit sistem
informasi.
Jelasnya tingkat integrasi tergantung pada
a. Ukuran staf audit
b. Keahlian yang dimiliki staf atau yang terseda melalui sumber-sumber luar
c. Filosofi audit yang dipegang manajemen organisasi dan organisasi audit
d. Tingkat aktivitas teknologi diklien dan organisasi audit
e. Biaya manfaat dari pengoperasian audit semacam itu

3. Konsultan
Beberapa aturan yang harus diikuti auditor internal dalam berhubungan
dengan konsultan, sebagai berikut :
 Konsultan tersebut harus dapat dipercaya dan menunjukkan kompetensi
untuk pekerjaan yang dilakukan
 Konsultan dan auditor harus memiliki perjanjian lengkap atas lingkup dan
tujuan program sebelum mereka menyiapkan audit program kerja
 Staf harus ditugaskan untuk bekerja dengan konsultan, mengawasi aktivitas
mereka, dan membahas masalah-masalah yang ada dengan mereka.

4
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

 Auditor harus memahami sifat pekerjaan konsultan, alasan yang ada dibali
pilihan analitis mereka, risiko yang melekat dalam data dan analisis mereka,
dan apakah pekerjaan yagn dilakukan konsultan sesuai dengan yang
dimaksudkan
 Laporan audit akhir merupakan tanggungjawab auditor internal. Laporan
tersebut menyertakan opini auditor, meskipun ditunjang oleh hasil-hasil studi
yang dilakukan konsultan. Opini konsultan harus dikutip hanya jika subjek
maslah jelas berada diluar kompetensi auditor internal dan jelas-jelas
berkaitan dengan masalah teknis
 Konsultan tidak boleh mengarahkan atau mengambil hak prerogative
manajemen.

4. Penggunaan Sumberdaya dari Luar atau dari Mitra


Penggunaan sumberdaya dari luar atau dari mitra merupakan hal penting
dibanyak bidang spesialisasi dalam pekerjaan audit. Kepala bagian audit
bertanggungjawab atas kualitas jasa yang diberikan pihak luar. Evaluasi mutu
staf yang terlibat, baik dari dalam organisasi maupun dari luar organisasi, harus
sekomprehensid fungsi penugasan yang normal.
Penggunaan sumber daya dari luar atau dari mitra yang terstruktur dengan
baik dan memiliki keahlian tinggi akan membawa nilai teknis dan kredibilitas bagi
operasi audit internal.

5. Penelaahan Analitis
Penelaahan analitis telah lama digunakan unttuk menetukan kewajaran data
tertentu. Secara tradisional, penelaahan ini telah dikaitkan dengan masalah-
masalah keuangan. Misalnya:
 Perbandingan informasi keuangan periode sekarang dengan periode lalu
 Perbandingan informasi keuangan saat ini dengan yang diharapkan, yaitu
dengan anggaran perkiraan, dan pengalaman industri
 Penelaahan hubungan antara informasi keuangan dan non keuangan.

Beberapa teknologi yang digunakan untuk melaksanakan penelaahan ini


adalah sebagai berikut :
1. Analisis Tren, berupa pengujian yang dilakukan dengan membandingkan
data sekarang dengan data sebelumnya.
2. Analisis Rasio, berupa rasio rasio keuangan seperti profitabilitas, solvensi
(kemampuan melunasi utang), dan efisiensi, bisa digunakan untuk
menentukan kewajaran informasi saat ini.
3. Analisis regresi, digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-
variabel tertentu. Analisis ini mengukur sejauh mana variabel meningkat
bersamaan atau peningkatan satu variabel saat variabel lainnya menurun.

Auditor internal dapat menggunakan penelaahan analitis saat memeriksa


data operasi dan keungan. Menunjukkan masalah yang mungkin ada dan
memberi jalan audit yang lebih intensif untuk menentukan tingkat
abnormalitasnya dan penyebabnya. Berikut beberapa contoh :
5
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

 Pemeliharaan Aktiva Tetap


Dalam menguji kontrol atas aktiva tetap, auditor internal ingin mengetahui
apakah aktiva telah dikelompokkan sesuai umur manfaatnya dan apakah
biaya pemeliharaan tersedia untuk masing-masing klasifikasi.
 Statistik Karyawan
Laporan bisa dianalisis untuk menunjukkan berbagai hubungan antara
jumlah karyawan dan tren-tren organisasi lainnya.
 Perputaran Persediaan
Analisis tingkat perputaran, termasuk catatan barang-barang tertentu, bisa
mengungkapkan berapa banyak persediaan yang lebih dari setahun
 Biaya-baya karyawan dan perputaran karyawan
Biaya dan waktu yang digunakan untguk merekrut karyawan di berbagai
klasifikasi kadang kala bisa menjadi perhatian yang menarik
 Pengiriman persediaan
Hal lain yang harus diperhatikan adalah perhitungan hubungan antara jarak
mil yang dilalui dan rata-rata waktu yang penggunaan kendaraan
organisasi.
 Penyimpanan Perlengkapan dan Alat Tulis Kantor
Membandingkan penggunaan dengan jumlah karyawan pengguna menjadi
hal yang bermanfaat untuk suatu kontrol fisik
 Catatan Bahan Buku
Menganalisis laporan yang menunjukkan jumlah permintaan gudang yang
diproses
 Telepon dan Komputer
Auditor bisa menentukan dan menganalisis rasio jumlah karyawan terhadap
jumlah telepon, jumlah panggilan keluar yang dilakukan dan sebagainya
yang dibatasi disetiap departemen.

6. Bukti Hukum
Hubungan bukti hukum dengan bukti audit
Bukti hukum dan bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki
tujuan yang sama-untuk memberikan bukti, untuk mendorong keyakinan tentang
kebenaran atau kesalahan setiap pernyataan atas suatu masalah. Keyakinan
dibangun dari pertimbangan atas informasi, informasi tersebut yang kemudian
disajikan, dalam bentuk apa pun, merupakan bukti.
Bukti-bukti hukum (legal evidence) sangat mengandalkan pengakuan lisan.
Bukti-bukti audit (audit evidence) sangat mengandalkan bukti-bukti dokumen.
Berikut ini beberapa ringkasan bentuk bukti hukum.
1. Bukti terbaik (best evidence) sering disebut bukti primer, merupakan bukti
yang paling alami-bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta yang
sedang diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan
keandalan. Bukti lisan, misalnya, tidak boleh digunakan untuk
memperselisihkan instrument tertulis seperti kontrak atau akta; tetapi, bukti
lisan dapat digunakan untuk menjelaskan makna instrument tersebut jika
instrument seperti ini memungkinkan terjadinya lebih dari satu interpretasi

6
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

2. Bukti sekunder (secondary evidence) berada di bawah bukti primer dan


tidak disamakan keandalannya. Bukti sekunder bisa mencakup salinan bukti
tertulis atau lisan. Sebuah salinan tertulis umumnya dapat diterima, jika (1)
dokumen asli hilang atau telah dimusnahkan tanpa niat melakukan
kecurangan di pihak pendukung salinan tersebut; (2) bukti tertulis tersebut sulit
diperoleh oleh pendukung salinan tersebut; (3)  bukti tertulis dikendalikan oleh
entitas publik.
3. Bukti langsung (direct evidence) membuktikan fakta tanpa harus
menggunakan pernyataan atau rujukan untuk menetapkan suatu bukti.
Pengakuan dari seorang saksi atas sebuah fakta merupakan bukti langsung-
tidak diperlukan rujukan. Misalnya, seorang saksi yang menyatakan bahwa ia
mengamati seorang karyawan yang menginspeksi penerimaan barang
menandatangani berkas pemeriksaan. Padahal barang yang diterima kurang
dari yang tertera di berkas tersebut, merupakan bukti tertulis.
4. Bukti tidak langsung (circumstantial evidence) membuktikan fakta
sementara, atau sekumpulan fakta, yang dapat dirujuk seseorang untuk
mengetahui keberadaan beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah
yang sedang dipertimbangkan. Bukti ini tidak langsung membuktikan
keberadaan fakta-fakta primer, tetapi hanya meningkatkan penggunaan
pemikiran logis yang ada.
5. Bukti yang meyakinkan. Bukti yang meyakinkan merupakan bukti yang tak
terbantahkan, apa pun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga
mengalahkan semua bukti lainnya, dan merupakan sumber diambilnya
kesimpulan. Bukti ini tidak tidak bisa dipertentangkan dan tidak membutuhkan
bukti-bukti yang menguatkan.
6. Bukti yang menguatkan merupakan bukti tambahan dari karakter yang
berbeda menyangkut hal yang sama. Bukti ini mendukung bukti yang telah
diberikan dan cenderung menguatkan atau mengonfirmasikannya.
7. Bukti Opini, berdasarkan aturan opini, saksi-saksi harus memberikan
kesaksian hanya terhadap fakta yang ada-pada apa yang benar-benar mereka
lihat atau dengar. Sebaliknya auditor harus menyaring opini dan
mengumpulkan serta ,mengevaluasi fakta-fakta semata – hal-hal yang
cenderung membuktikan kebenaran atau kesalahannya. Opini yang diberikan
orang lain bisa bermamfaat sebagai penunjuk jalan yang benar untuk
mengumpulkan fakta, tetapi opini juga bisa bias, mementingkan kepetingan
sendiri, atau kurang mengandung informasi. Akan tetapi terdapat
pengecualian atas aturan opini, yang berkaitan dengan pengakuan saksi ahli.
8. Bukti kabar angin. Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan yang
tidak dapat diterima yang dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk
membuktikan kebenaran suatu masalah. Dengan kata lain, bukti ini berupa
bukti lisan atau tertulis yang dibawa ke pengadilan dan menjadi bukti atas
pernyataan yang dikatakan di pengadilan. Bukti kabar angin umumnya tidak
dapat diterima karena salah satu cara terbaik untuk membuktikan kebenaran
atau kesalahan sebuah pernyataan adalah dengan mendengar keterangan
dari saksi ahli di bawah sumpah dan memeriksa silang dengan apa yang
benar –benar dilihat atau didengar. Pemeriksaan silang merupakan cara untuk
7
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

menemukan ketidakjujuran dan kecurangan, penindasan, dan sumber


kesalahan yang terkandung dalam pernyataan seorang saksi ahli. Auditor
harus menempatkan diri mereka sendiri pada posisi sebagai seorang hakim di
pengadilan pada saat mengajukan pertanyaan dan memeriksa catatan.

7. Bukti Audit
Sifat bukti Audit
Bukti audit adalah informasi yang diperoleh auditor internal melalui pengamatan
suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus
memberikan dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti
audit teriri atas :
 Bukti Fisik : Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat.
 Bukti Pengakuan : Berbentuk surat pertanyaan. Bukti ini sendiri tidak bersifat
menyimpulkan
 Bukti Dokumen : Bukti dokumen bisa eksternal (Mencangkup surat yang
diterima oleh klien,faktur faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan).
Maupun dokumen internal (Mencangkup catatan akuntansi)
 Bukti Analitis : bersumber dari perhitungan perbandingan dengan standar
yang diterapkan, pertimbangan kewajaran, dan informasi yang telah dipecah
kedalam bagian bagian kecil

Standar-standar bukti audit


Semua bukti harus memenuhi uji :
 Kecukupan – Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai, dan
meyakinkan sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati hati untuk
mengambil kesimpulan yang sama dengan auditor
 Kompetensi – Bukti yang kopeten adalah bukti yang andal. Bukti tersebut
haruslah yang terbaik yang dapat diperoleh
 Relevansi – Mengacu pada hubungan antara informasi dengan
penggunanya. Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau
menyangkal suatu masalah harus memiliki hubungan yang logis

Penanganan bukti yang sensitif


Dalam penangannya, harus terdapat rencana yang dibuat untuk menangani dan
mengamankan bahan-bahan yang sensitif ini rencana harus mencakup metode
untuk menjaga integritas dokumen yang harus dipisahkan dari dokumen kertas
kerja biasa dan harus disimpan dalam lemari terkunci atau kotak penyimpanan
yang aman.
Dalam situasi yang sensitif yang akan berakibat terjadinya tindakan hukum,
harus ada konsultasi dengan penasihat hukum untuk menjaga bukti dari
tindakan-tindakan yang memungkinkan terjadi.

8. Kertas Kerja
Kertas kerja merupakan dasar pengembangan bukti. Ada beberapa kertas kerja
yang Penting, yaitu :
 Kutipan dari sumber berwenang tentang kriteria dan standar
8
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

 Ringkasan wawancara, pertemuan, percakapan


 Rincian pengamatan
 Analisis temuan dari kertas kerja
 Perhitungan analitis terkait dengan audit

9. Pekerjaan Lapangan dalam Lingkungan berteknologi tinggi


Enterprise-wide System - Perusahaan yang berkembang pesat menggunakan
enterprise-wide systems, yamg juga disebut sistem perencanaan sumber daya
perusahaan. Sistem ini bisa menangani bisinis dan fungsi fungsi dalam kisaran
yang luas, termasuk yang tercangkup dalam e-commerce yang substansial.
Selain diterapkan pada kebanyakan perusahaan besar, sistem ini juga
ditargetkan untuk usaha skla menengah. Jadi, selama beberapa waktu sistem ini
menjadi standar bagi kebanyakan perusahaan besar untuk memiliki bidang audit
internal sendiri.

10. Audit Berkelanjutan


Studi penelitian menyimpulkan bahwa kondisi kondisi berikut ini diperlukan
untuk terselenggaranya audit berkelanjutan :
 Subjek adalah dengan karakterisktik yang sesuai
 Keandalan sistem yang melandasi subjek tersebut
 Bukti audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi
yang tinggi
 Sarana yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil hasil prosedur audit
secara tepat waktu
 Tingkat keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek
masalah
Selanjutnya studi tersebut membahsa masalah masalah spesifik yang harus
dikembangkan oleh auditor eksternal menyangkut adanya auditor internal
dalam audit berkelanjutan

11. Perdagangan elektronik (E-commerce / E-business) dan auditing


berkelanjutan
Jika suatu entitas menggunakan e-commerce untuk menjual produk ke
pelanggan, terdapat beberapa risiko yang harus dipertimbangkan auditor dalam
merencanakan pekerjaan lapangannya. Risiko ini mencangkup kemungkinan
penjualan dan retur fiktif dan kemungkinan pesaing bisa mengakses informasi
penting dari perusahaan.
Dengan cara serupa, jika perusahaan berhubungan dengan usaha lainnya,
maka penjualan pembelian,retur dan pembayaran fiktif dapat dilakukan
sehingga menghasilkan kerugian besar bagi entitas. Audit berkelanjutan dapat
membantu memberikan tanda bagi auditor akan adanya masalah potensial dan
bagaimana menemukannya.

12. Kesimpulan

Pekerjaan lapangan merupakan proses untuk mendapatkan keyakinan secara


9
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

sistematis dengan mengumpulkan bahan bukti secara objektif mengenai


operasi entitas, mengevaluasinya, dan melihat apakah operasi tersebut
memenuhi standar yang dapat diterima dan tercapainya tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan serta menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan
oleh manajemen.
Penelahan yang tepat dalam teknik-teknik audit dapat membantu auditor dalam
melakukan pekerjaan lapangnya dalam mengumpulkan data, menyusun,
mencatat, dan mengevaluasi bahan bukti audit.
Auditor internal juga perlu memahami penugasan dalam audit yang
mencangkup, audit fungsional, audit orgasnisasional, studi manajemen, audit
atas program, dan audit atas kontrak.
Auditor internal juga dapat menggunakan sumberdaya dari luar dan atau dari
mitra dalam melaksanakan pekerjaan audit.
Auditor internal dapat menggunakan penelaahan analitis saat memeriksa data
operasi dan keungan. Menunjukkan masalah yang mungkin ada dan memberi
jalan audit yang lebih intensif untuk menentukan tingkat abnormalitasnya dan
penyebabnya.

10
Hastutie Noor Andriati., SE., M.Si., Ak., CA 2020

11