Anda di halaman 1dari 12

Gagasan Reformasi

Pemikiran tentang Reformasi: Definisi dan Beberapa Karakteristik


Fundamental
 
 
Gagasan reformasi telah menjadi kata kunci dalam kebijakan publik internasional,
administrasi publik atau manajemen publik dan arena pembangunan yang lebih luas.
Bandingkan dengan varia istilah/pesaing alternatif, termasuk 'transformasi',
'penciptaan kembali', 'modernisasi' dan 'perbaikan'(Pollitt dan Bouckaert 2004: 15).
Gagasan tampaknya menjadi gagasan yang paling menarik digunakan untuk
menyarankan perbaikan yang signifikan. Memang, telah ditetapkan sebagai salah
satu cara yang paling efektif untuk strategi kebijakan atau pengembangan, bertujuan
untuk pencapaian kinerja yang lebih baik atau hasil. Ini adalah alat untuk mencapai
tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri. Secara bersamaan, strategi reformasi telah di
semua bibir dan keprihatinan setiap organisasi. Organisasi termasuk lokal dan
nasional (pemerintah dan organisasi non-pemerintah), dan global: termasuk
lembaga lembaga dan bantuan terkemuka seperti: Bank Dunia, UNDP, USAID,
AUSAID, ADB, OECD dan banyak lembaga internasional lainnya). Tapi, apa yang
'reformasi', ini 'dimuat term'-sebagai Pollit dan Bouckaert (2004) menyebutnya itu-
menjadi begitu populer di banyak bidang manajemen sektor publik, pembangunan
dan bidang lain.
 
Seperti banyak konsep lain, yang sering didefinisikan menurut berbeda konteks atau
penggunaan, tesis ini berpendapat bahwa meskipun reformasi mungkin berarti hal
yang berbeda untuk orang yang berbeda, ia membawa arti penting yang 'perbaikan
yang signifikan'. Menariknya, dari literatur yang luas pada sektor publik (manajemen
publik / administrasi) reformasi, sangat sedikit literatur ini meliputi diskusi tentang
definisi reformasi. Sebagai contoh adalah definisi oleh Pollitt dan Bouckaert (2004),
yang tesis ini menemukan sangat komprehensif dan berguna. Menurut Pollitt dan
Bouckaert (2004: 15), reformasi “sangat menyiratkan tidak hanya mengubah tetapi
perubahan menguntungkan yang disengaja dari (masa lalu) negara kurang
diinginkan untuk lebih diinginkan (masa depan) negara-” dengan demikian
'peningkatan yang signifikan', sebagai tesis ini berpendapat.
 
Selain itu, “itu mengacu tidak terhadap total inovasi tetapi untuk membentuk kembali
dari sesuatu yang sudah ada (reformasi)”(Pollitt dan Bouckaert 2004: 15). Dengan
demikian, makna penting dari reformasi, sebagaimana didalilkan dalam tesis ini
adalah 'perbaikan yang signifikan', menyiratkan reformasi yang tidak hanya
perbaikan 'kecil' (meskipun kata-kata 'signifikan' atau 'kecil' menunjukkan relativitas).
Untuk ilustrasi, hanya mengubah satu staf atau beberapa staf di sebuah lembaga
biasanya tidak dikategorikan sebagai inisiatif reformasi, tetapi mengubah seluruh
staf, para pemimpin, bersama-sama dengan lainnya yang signifikan sarana atau
inisiatif, seperti mengubah pendekatan organisasi dari salah satu top-down ke
bottom-up), dapat dikategorikan sebagai 'peningkatan yang signifikan', atau
perubahan menguntungkan sebagai Pollit dan Bouckaert (2004) mengklaim sebagai
reformasi.
 
Lebih lanjut menurut Pollitt dan Bouckaert ini, reformasi jangka memiliki akar yang
dalam dalam politik perbaikan: “telah menjadi istilah yang lebih sadar, namun masih
secara eksplisit politik” (2004: 14-15). Meskipun akar-akar dalam politik,
bagaimanapun, istilah ini telah digunakan secara luas di banyak bidang
penyelidikan, termasuk yang paling relevan dalam tesis ini adalah dalam konteks
manajemen sektor publik.
 
Yang penting, banyak inisiatif reformasi sektor publik telah memeluk dua strategi
reformasi yang lebih luas. Ini adalah reformasi politik dan administrasi (Halligan
1997; kettl 2005). Tujuan utama dari pengetatan kontrol manajemen atas
perusahaan dan karyawan untuk efisiensi dan keuntungan telah menjadi alasan
utama daya tarik ini untuk dunia bisnis (diuraikan dari Bowornwathana dan
Poocharoen 2010: 315)
 
Berdasarkan Halligan (1997: 19) 's diskusi tentang Model Sektor Publik baru yang
fokus pada reformasi di Australia dan New Zeeland, Pollitt dan Bouckaert (2004: 14-
15) menguraikan beberapa karakter dasar reformasi:

1. Pada tingkat yang paling dasar, ini adalah tentang adaptasi dan fine tuning
dari yang berlaku;
2. Ini melibatkan penerapan teknik;
3. Menyangkut dengan satu set ide-ide yang mencakup tujuan keseluruhan,
kerangka membimbing tindakan.

 
Untuk mengulangi, ia berpendapat dalam tesis ini bahwa reformasi berarti 'perbaikan
yang signifikan' (seperti perbaikan itu berarti 'membuat sesuatu yang lebih baik',
sehingga perubahan-sebagai bermanfaat Pollit dan Bouckaert (2004)' definisi
reformis. Penelitian ini oleh karena itu, kemajuan Pollit dan Bouckaert (2004) 'definisi
reformasi, bahwa reformasi berarti' perubahan yang bermanfaat signifikan. ini berarti
bahwa reformasi melibatkan bukan hanya penolakan struktur yang ada, tapi proses
'perbaikan besar'.
 
Hal lain yang signifikan dari reformasi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, gagasan
biasanya berartisebagai “perjuangan kekuasaan antara aktor-aktor yang terlibat”
(Bowornwathana dan Poocharoen 2010: 303). Sebagai Bowornwathana dan
Poocharoen lanjut menegaskan, seorangprogram reformasi dministrative mengubah
keseimbangan kekuasaan antara lembaga-lembaga pemerintah, dan khususnya,
-sebagai fokus-politik mereka, kalangan politisi dan birokrat dan kalangan birokrat
sendiri. Dalam konteks seperti itu, reformasi administrasi menurut mereka adalah
“perjuangan untuk kekuasaan dan kontrol di antara berbagai politisi dan birokrat
aktor” (2010: 305), Dengan kemenangan menjadi perluasan bidang mereka dan
rumput dalam pemerintahan; sementara yang kalah, mendapat nya kekuasaan
relatif berkurang. Pertanyaan untuk setiap inisiatif reformasi, ketika telah
dilaksanakan, menurut analis ini adalah'yang aktor telah akhirnya diakuisisi lebih
banyak kekuatan dan mana aktor memiliki daya yang lebih kecil” (Bowornwathana
dan Poocharoen 2010: 305).
 
Argumen ini bahwa reformasi berarti perjuangan kekuasaan antara aktor-aktor yang
terlibat Perlu menekankan di sini, terutama mengingat relevansi dengan sifat
reformasi birokrasi, terutama dalam konteks desentralisasi dan pemerintahan yang
baik di Indonesia.
 
Pengertian "reformasi" secara harfiah berasal dari kata "reform" atau "reformation",
yang artinya "membentuk kembali" sesuai dengan hakikinya. Namun secara
fungsional pemahamannya adalah membentuk kembali ke arah perbaikan,
kemajuan, pembaharuan, dan penyempurnaan                        (Istianto, 2013: 201).
Kata “ reformasi” sudah menjadi semacam komoditas dalam konteks kehidupan
berbangsa dan bernegara di Indonesia akhir-akhir ini. Dimana-mana kita pasti
mendengar reformasi, entah ketika menghadiri diskusi, seminar ataupun
perbincangan sehari-hari. Bahkan, ada media massa yang diwarnai oleh berita-
berita tentang reformasi dalam berbagai aspek. Meluasnya pembicaraan tentang
reformasi menyebabkan munculnya berbagai interpretasi tentang makna reformasi
itu sendiri. Kata reformasi berasal dari kata “reform” yang artinya perbaikan atau
pembaruan (J.M.Echols, 1995 : 473).
Reformasi administrasi adalah perubahan yang sadar dan dipertimbangkan dengan
baik yang dilakukan di publik organisasi atau sistem sektor untuk tujuan
meningkatkan struktur, operasi atau kualitas tenaga kerjanya. Menurut Caiden
(1968), “Reform is based on the simple idea that man should not wait for changes to
take place naturally but should seek to speed, by artificial means, improvements in
the world order.” “Reformasi didasarkan pada gagasan sederhana bahwa manusia
seharusnya tidak menunggu perubahan terjadi secara alami tetapi harus berusaha
untuk mempercepat, dengan cara buatan, peningkatan dalam tatanan dunia. "
 
Apa pun definisi yang dimaksud, masing-masing komponennya memperoleh makna
khusus dalam
sektor publik, di mana dimensi yang ditargetkan untuk perbaikan lebih kompleks
daripada dimensi itu ditemui di sektor non-pemerintah. Sementara semua organisasi
berusaha untuk mencapai hasil yang lebih baik tujuan mereka (efektivitas) - dan
meningkatkan produktivitas mereka (efisiensi) - sektor publik organisasi juga harus
memperhatikan dimensi politik kehidupan administrasi.
Dengan demikian, di luar dimensi ekonomi, reformasi administrasi publik dapat
menargetkan tujuan yang terkait perbaikan kehidupan publik, seperti menghilangkan
patronase, nepotisme dan korupsi, meningkat keterwakilan, mendorong partisipasi
warga dan kelompok, dan meningkatkan akuntabilitas dan transparansi.
 
Refomasi Birokrasi dimaknai sebagai sebuah perubahan besar dalam paradigma
dan tata kelola pemerintahan, yang mengarah pada organisasi (kelembagaan),
tatalaksana, SDM, pelayanan, akuntabilitas dan perundangundangan serta pola pikir
(Grand Desain Reformasi Birokrasi Indonesia 2010- 2025, 2010: 2, yang selanjutnya
disingkat GDRB). Perubahan sistem administrasi di Indonesia telah terjadi pada saat
reformasi politik tahun 1998 yang berimbas terhadap reformasi di bidang
administrasi publik. Tuntutan masyarakat terhadap pemerintah untuk segera
diadakan reformasi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi
tonggak dimulainya era reformasi di bidang politik, hukum, ekonomi, dan birokrasi,
yang dikenal sebagai reformasi gelombang pertama (GDRB, 2010: 1). Birokrasi
adalah perangkat/institusi, pegawai/SDM dan sistem penyelenggaraan
pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai negeri berdasarkan peraturan
perundangundangan. Reformasi adalah proses penyempurnaan, perbaikan,
pengubahan, dan perombakan birokrasi dari keadaan kurang baik menjadi lebih
baik. Reformasi birokrasi merupakan upaya sistematis, terpadu dan komprehensif
yang ditujukan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance),
termasuk tata kelola pemerintahan yang baik (good public governance), dan tata
kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Tata Pemerintahan yang
baik (good governance) adalah proses penyelenggaraan pemerintahan yang
dilaksanakan pegawai negeri dengan menaati peraturan perundang-undangan dan
menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik.
Menurut UNDP (dalam Sedarmayanti, 2009 : 286) mengemukakan karakteristik
good governance adalah sebagai berikut.
1. Participation. Setiap warga negara mempunyai suara dalam penbuatan
keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi
yang mewakili kepentingannya.
 2. Rule of law. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu,
terutama hukum untuk hak asasi manusia.
3. Transparancy (tranparansi) yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi.
4. Responsiveness. Setiap lembaga dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan harus mencoba melayani sikap stakeholders.
5. Consensus orientation. Gopod governance menjadi perantara kepentingan yang
berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, baik
dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur.
 6. Equity. Semua warga negara mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau
menjaga kesejahteraan mereka.
7. Efectiveness and effeciency. Proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan
produknya sesuai dengan yang telah digariskan, dengan menggunakan
sumbersumber yang tersedia sebaik mungkin.
8. Acountability. Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan
masyarakat (civil society), bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga
stakeholders. Kedelapan karakteristik good governance yang dapat dianalogkan
juga harus menjadi karakteristik setiap pemerintahan daerah.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
REFORMASI
Pengertian "reformasi" secara harfiah berasal dari kata "reform" atau "reformation",
yang artinya "membentuk kembali" sesuai dengan hakikinya. Namun secara
fungsional pemahamannya adalah membentuk kembali ke arah perbaikan,
kemajuan, pembaharuan, dan penyempurnaan (Istianto, 2013: 201).
Kata “ reformasi” sudah menjadi semacam komoditas dalam konteks kehidupan
berbangsa dan bernegara di Indonesia akhir-akhir ini. Dimana-mana kita pasti
mendengar reformasi, entah ketika menghadiri diskusi, seminar ataupun
perbincangan sehari-hari. Bahkan, ada media massa yang diwarnai oleh berita-
berita tentang reformasi dalam berbagai aspek. Meluasnya pembicaraan tentang
reformasi menyebabkan munculnya berbagai interpretasi tentang makna reformasi
itu sendiri. Kata reformasi berasal dari kata “reform” yang artinya perbaikan atau
pembaruan (J.M.Echols, 1995 : 473).
 
REFORMASI BIROKRASI
"reformasi birokrasi" adalah membangun kembali kondisi birokrasi ke arah
perbaikan, penyempurnaan dan pembaharuan, sesuai dengan tujuan birokrasi
pemerintah, yaitu pemberian pelayanan publik yang tertib, teratur, lancar, serta
efisien dan efektif (Istianto, 2013: 201).
 
Faktor Penghambat Reformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi Dalam melaksanakan reformasi birokrasi memang tidak mudah,
berbagai hambatan pasti ditemui, baik dari lingkungan eksternal maupun internal. 
Berikut ini beberapa yang ditemui di Afrika, yaitu pelayanan publik yang buruk, yang
diakibatkan korupsi merajalela, moral dan motivasi pekerja rendah dan sumber daya
serta peralatan kurang (Kyarimpa, 2009:26). Dengan kata lain, yang menjadi
penghambat kegagalan reformasi birokrasi secara tidak langsung karena rendahnya
moralitas dan motivasi SDM. Menyinggung masalah Sumber Daya Manusia (SDM)
yang dikemukakan di atas, EE Mangindaan (Mantan KemenPAN dan RB) juga
mengatakan bahwa kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah hambatan untuk
melakukan reformasi birokrasi seringkali justru datang dari dalam birokrasi itu sendiri
(internal), baik karena lemahnya kemampuan atau rendahnya kemauan. (Majalah
Layanan Publik, Edisi XXXVII, 2011: 9). Sebagai analog (perbandingan), persoalan
desentralisasi yang pernah dijalankan di Jepang, juga mendapat tantangan dari para
birokrat Jepang, karena merasa kepentingankepentingannya akan terancam dengan
adanya desentralisasi tersebut (Nakamura, 1996: 5).
Strategi Reformasi Birokrasi
Pelaksanaan reformasi administrasi, khususnya reformasi birokrasi tidak selalu
berjalan mulus, penuh tantangan yang dihadapi, sebagaimana dikatakan Cepiku dan
Mititelu (2010: 63) dalam Jurnal Transylvanian Review of Administrative Sciences
No. 3E, bahwa reformasi administrasi publik di Negara-negara Transisi (seperti
Albania dan Rumania) memerlukan agenda yang sangat matang, karena
sebelumnya tidak diprioritaskan dan tidak didefinisikan secara jelas dalam hal
pelaksanaan yang efektif, meskipun mengacu pada keinginan yang kuat. Untuk itu,
perlu dipilih dan dikembangkan strategi yang tepat dalam upaya mensukseskan
reformasi birokrasi untuk mewujudkan effective governance di Pemerintahan
Daerah, sebagaimana yang dikatakan Hanh Been Lee (1970: 13) bahwa strategi
adalah variabel yang digunakan untuk mengubah reformasi administrasi yang
mencakup jenis, cakupan dan kecepatan reformasi (Strategy is the manipulative
variable of administrative reform. The main object of manipulation is the type, scope
and speed of reform, although strategy is also involved in the choice of the reform
agents and reform agency as well as the timing of reform). Strategi diperlukan,
karena lemahnya agen perubahan, struktur internal lembaga tidak ditujukan untuk
perubahan besar serta ruang lingkup dan laju reformasi harus dikompromikan,
sebagaiman dikemukakan Lee (1970: 14), “Strategy is conditioned by the change
agents on one side and the environment on the other. When the change agents are
weak and the internal structure of the agency is not geared to a major change, the
scope and pace of reform would have to be compromised”. Untuk melangkah ke
pelaksanaan reformasi administrasi, ditawarkan dua strategi, yaitu Comprehensive
Strategy dan Incremental Strategy (Lee, 1970: 14-16). Comprehensive
Strategy adalah suatu cara atau pola yang digunakan oleh suatu lembaga
manajerial pusat dalam mengendalikan beberapa bidang cakupan seperti personil,
anggaran dan organisasi. Dalam penerapan strategi ini, diperlukan dukungan politik
dari penguasa, sedangkan Legislatif dan partai Politik jarang memberikan dukungan
yang memadai (Samonte dan Khosla dalam Lee, 1970: 14). Komitmen politik
penguasa diperlukan, mengingat seluruh perencanaan reformasi administrasi yang
akan dilakukan dibuat dan harus diketahui penguasa, sehingga goal yang diinginkan
akan tercapai. Sebagaimana hasil penelitian di beberapa daerah, ditemukan bahwa
salah satu faktor pendukung keberhasilan reformasi birokrasi di daerah adalah
komitmen dan political will kepala daerah (Prasojo, Maksum dan Kurniawan, 2006:
175-176). Incremental Strategy adalah suatu pendekatan yang melihat reformasi
administrasi secara bertahap dan sebagai rantai yang berurutan, karena reformasi
dianggap sebagai suatu proses. Pendekatan ini mengutamakan pelatihan yang tidak
hanya melibatkan staf dari badan reformasi, tetapi juga orang-orang dari instansi
terkait lainnya. Setiap strategi memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan
Incremental Strategy dapat membangun kepercayaan di antara agen reformasi.
Sedangkan keterbatasannya pendekatannya bersifat gradual (bertahap), sehingga
akan membutuhkan proses yang lebih panjang. Kelebihan Comprehensive Strategy,
perubahannya akan menyeluruh dan membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat
daripada incremental. Keterbatasannya membutuhkan perhatian lebih banyak dari
baik dari pemerintah maupun lembaga/instansi yang terkait . Strategi yang
dikembangkan Lee lebih bersifat makro yang difokuskan pada reformasi
administrasi. Berbicara masalah strategi, Arne F. Leemans (tt: 14- 15) mengatakan
bahwa kecepatan reformasi administrasi dapat dicapai, tetapi dikondisikan oleh
berbagai faktor. Oleh karena itu, waktu, isu utama strategi dipengaruhi oleh kondisi
berikut:
1. Memiliki rancangan skema reformasi administrasi yang jelas, termasuk solusi
alternatifnya.
2. Tergantung pada kekuatan pemerintah, dalam mencari dukungan politik, terutama
dari birokrasi.
3. Pelaksanaan skema reformasi harus dikomunikasikan ke dalam maupun keluar
organisasi. mengharuskan anggota dan sub-kelompok organisasi diinformasikan
4. Perubahan Lingkungan sangat menentukan reformasi dapat menjadi efektif.
5. Pelaksanaan skema reformasi lebih moderat.
 
REFORMASI ADMINISTRASI
Terkait dengan reformasi administrasi ada beberapa ahli yang memberikan
pejelasannya, diantaranya yaitu Caiden (dikutip dari Zauhar 2007:6) mendefinisikan
reformasi administrasi sebagai “ The artificial inducement of administrative
transformation againts resistance”.Artinya, reformasi administrasi merupakan
kegiatan yang dibuat oleh manusia, tidak bersifat insidental, otomatis maupun
alamiah; ia merupakan suatu proses yang beriringan dengan proses reformasi
administrasi”. Caiden juga dengan tegas membedakan antara administrative reform
dan administrative change. Perubahan administrasi bernakna sebagai respons
keorganisasian yang sifatnya otomatis terhadap fluktuasi atau perubahan kondisi.
Zauhar (2007:11) “mengartikan reformasi administrasi adalah suatu usaha sadar
dan terencana untuk mengubah struktur dan prosedur birokrasi (aspek reorganisasi
atau institutional /kelembagaan, sikap dan perilaku birokrat), (aspek perilaku, guna
meningkatkan efektifitas organisasi atau terciptanya administrasi yang sehat dan
menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional)”.
Reformasi administrasi adalah perubahan yang sadar dan dipertimbangkan dengan
baik yang dilakukan di publik organisasi atau sistem sektor untuk tujuan
meningkatkan struktur, operasi atau kualitas tenaga kerjanya. Menurut Caiden
(1968), “Reformasi didasarkan pada gagasan sederhana bahwa manusia
seharusnya tidak menunggu perubahan terjadi secara alami tetapi harus berusaha
untuk mempercepat, dengan cara buatan, peningkatan dalam tatanan dunia. "
 
 
Model reformasi administrasi
 
a. Model Westminster, dikembangkan oleh Inggris & New Zealand dan berkembang
ke Kanada dan Australia. Menekankan apa yang disebut NPM.
 
b. Model Amerika, menekankan pada strategi yang disebut dengan reinventing
government    dengan prinsipnya Work Better
 
Reformasi administrasi diperlukan bagi birokrasi campuran
Sejumlah birokrasi negara-negara sedang berkembang secara gradual menjadi
kurang tertutup, namun tidak sepenuhnya terbuka; dan agaknya meningkat menjadi
birokrasi campuran.
 
Strategi Reformasi Administrasi
 Seperti yang sudah dijelaskan diatas untuk memperbaiki dari aspek kelembagaan
dan aspek sumber daya manusia diperlukan model pendekatan atau strategi dalam
melakukan reformasi adminitrasi pada kedua aspek tersebut. Terkait dengan strategi
dalam reformasi administrasi, Zauhar (2007:77) “menyatakan bahwa reformasi
administrasi berkaitan erat dengan pengertian strategi, karena pada hakekatnya
reformasi administrasi merupakan aktivitas untuk meningkatkan kemampuan
memenangkan peperangan melawan ketidakberesan administrasi dan beberapa
jenis penyakit administrasi lainnya yang banyak dijumpai dikebanyakan Negara
sedang berkembang”.
Selain itu Osborne (2000:45) “menyatakan ada 5 strategi reformasi administrasi
yaitu:
a) Strategi Inti
Strategi inti ini berkaitan erat dengan tujuan dari suatu sistem dan organisasi
pemerintahan. Tujuan dari suatu sistem dan organisasi pemerintahan dijadikan
strategi inti karena merupakan fungsi inti pemerintahan yaitu fungsi mengarahkan.
Strategi ini menghapus fungsi-fungsi yang tidak lagi menjalankan tujuan pemerintah
yang sebenarnya. Strategi ini memisahkan fungsi mengarahkan dari fungsi
melaksanakan, sehingga setiap organisasi dapat memusatkan pada satu tujuan.
Strategi ini juga meningkatkan kemampuan pemerintah untuk mengarahkan dengan
menciptakan mekanisme baru guna mendefinisikan tujuan dan strategi. Strategi ini
pendekatannya dengan pendekatan kejelasan tujuan, pendekatan kejelasan arah
dan pendekatan kejelasan arah.
b) Strategi Konsekuensi
Strategi konsekuensi ini berkaitan erat dengan sistem insentif pemerintah, sistem ini
merupakan bagian penting dari sistem pemerintahan. Dna birokratis memberi
insentif yang kuat kepada pegawai untuk taat aturan dan tunduk. Inovasi hanya akan
membawa kesulitan sedangkan status quo terus-menerus mendatangkan hadiah.
Pegawai dibayar sama tanpa memandang hasil. Dan sebagain besar organisasi
bersifat monopoli. Sistem insentif pemerintah yang disebutkan harus diubah menjadi
insentif dengan menciptakan konsekuensi atas kinerja yang dihasilkan.
c) Strategi Pelanggan
Strategi pelanggan ini memiliki pola yaitu menggeser sebagian pertanggungjawaban
kepada pelanggan. Strategi ini memberi pilihan kepada pelanggan mengenai
organisasi yang memberikan pelayanan dan menetapkan standar pelayanan pelang-
gan yang harus dipenuhi oleh organisasi-organisasi itu. Penciptaan
pertanggungjawaban kepada pelanggan semakin menekan organisasiorganisasi
pemerintah untuk memperbaiki hasil-hasil kinerja mereka, tidak sekedar mengelola
sumber daya mereka. Strategi ini juga menciptakan informasi mengenai kepuasan
pelanggan terhadap pelayanan dan hasil-hasil tertentu dari pemerintah, dan strategi
ini memberi organisasi-organisasi pe merintah sasaran tujuan yang tepat yaitu
meningkatnya kepuasan pelanggan.
d) Strategi Kontrol
Strategi kontrol pengendalian secara signifikan mendorong turun kekuasaan
pengambilan keputusan melalui hierarki, dan kadang-kadang keluar ke kelompok
masyarakat. Strategi ini menggeser bentuk pengendalian yang digunakan dan
aturan-aturan yang rinci serta komando hierarkis ke misi bersama dan sistem yang
menciptakan akuntabilitas kinerja. Strategi ini memberdayakan organisasi dengan
mengendurkan cengkeraman badan kontrol pusat.
e) Strategi Budaya
Dna sistem pemerintah kritis yang terakhir adalah dna yang menentukan budaya
organisasi pemerintah yaitu mengenai nilai-nilai, norma, sikap, dan harapan
pegawai. Budaya sangat dipengaruhi oleh bagian dna yang lainya yakni tujuan
organisasi, sistem insentif, sistem pertangungjawaban, dan struktur kekuasaannya.
Ubahlah unsur-unsur ini maka budaya akan berubah, tetapi budaya tidak selalu
berubah seperti yang apa yang diharapkan para pemimpinnya. Oleh karena itu,
setiap organisasi yang telah menggunakan empat strategi lainnya akhirnya harus
memutuskan mengubah budaya organisasinya.”
 
 
REFORMASI PELAYANAN PUBLIK
Pollit dan Bouckaert (dikutip dari Manurung 2010, hal 189) mendefinisikan reformasi
pelayanan publik seperti dibawah ini:
 “… public management reform consists of deliberate changes to the structures and
processes of public organization with the objective of getting them (in some sense)
to run better. Structural changes may include merging or splitting public sector
organizations…. Process change may include the redesign of the system…wich
encourcage public servant to be more cost conscious and/or to monitor more closely
the result their expenditures generates. Management reform frequently also
embraces changes to the system by which the public servants themselves are
recruited, trained, appraised, promoted, disciplined and declared redundant- these
would be another kind of process change.”
Reformasi pelayanan publik adalah perubahan sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan agar kinerja sektor publik semakin baik. Reformasi sektor publik
mencakup bukan saja unsur organisasi dan manejemen, tetapi juga sumber daya
manusia. Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya terfokus pada perubahan
kuantitas, namun juga kualitas. Suatu ketika, reformasi yang dilakukan akan
berdampak terhadap melebar dan menebalnya struktur birokrasi, tetapi di masa
yang lain menuntut birokrasi menjadi lebih ramping dan pipih. Reformasi juga dapat
menyebabkan penambahan administrator publik, namun juga dapat mengakibatkan
pengurangan administrator publik.
 
Terdapat 3 Tipe Reformasi Menurut  Haque (2005) antara lain adalah :
 

1. Reformasi Kelembagaan : untuk merestrukturisasi sektor publik


berdasarkan asumsi promotor, perampingan atau perampingan sektor publik
sejalan dengan tren global saat ini.

1. b.      Reformasi Fungsional : mendefinisikan fungsi administrasi publik


sebagai suatu katalisator atau fasilitator dari pada aktor atau pemimpin
utama. Tujuannya adalah untuk merestrukturisasi peran atau fungsi sistem
administrasi sedemikian rupa sehingga dapat memungkinkan (dari pada
mengendalikan) peran yang dimainkan oleh sektor bisnis penekanan pada
kepuasan “konsumen” sektor publik, yang mewakili pergeseran dari fokus
sebelumnya pada hak “warga” untuk layanan dasar yang disediakan oleh
negara. 

1. Reformasi Kebijakan : lebih banyak kebijakan promotor seperti privatisasi,


deregulagi, alih daya, dan liberalisasi, deregulasi dan liberalisasi
perdagangan, investasi, dan kepemilikan asing.

1. Reformasi Struktural : mereformasi sistem administrasi berdasarkan


otonomi dan fleksibilitas manajerial dan keuangan yang lebih besar.

1. Reformasi Normatif Sikap :  untuk menanamkan norma-norma administratif


dan sikap berdasarkan netralitas, kesetaraan, representasi, dan akuntabilitas.

 
 
 
Terdapat 3 Tipe Reformasi (Prof. Zauhar, 2009) 
a.     Reformasi procedural
        Terkait pembenahan terhadap prosedur, struktur, tatanan
 
b.     Reformasi teknis
        Terkait penataan, penyempurnaan metode (cara kerja)
 
c.    Reformasi programatik
       Terkait dengan penyempurnaan pada performa kerja.
 
 
 
 
Tipe Birokrasi dalam Reformasi Administrasi
Reformasi pada dasarnya merupakan suatu gerakan yang menjadikan
administrasi sebagai instrumen yang lebih baik dalam mencapai tujuan umum
masyarakat. Konsekuensinya tersedia beragam alternatif pilihan alat
(instrumen) untuk mencapai tujuan tersebut. Pada negara yang sedang
berkembang kebanyakan pilihan terhadap tujuan mengikuti pilihan terhadap
alat yang dipakai, serta apa yang perlu disempurnakan lebih penting dari
bagaimana cara menyempurnakannya. Perbaikan pendekatan dalam hal ini
sangat penting dalam permulaan kegiatan reformasi administrasi. (menurut
Siagian;1967) Reformasi administrasi dalam suatu birokrasi dengan tipe yang
berbeda-beda maka reformasi administrasinya pun juga berbeda, antara lain :
1.      Reformasi administrasi dalam birokrasi tertutup
Struktur birokrasi tertutup dalam masyarakat sedang berkembang perlu
dibuka agar tuntutan perubahan sebagai akibat logis dari
perkembangan ilmiah dapat terpenuhi. Salah satu instrumen yang cocok yaitu
penciptaan program baru atau penciptaan organisasi baru. Walaupun program
ini dari luar tampak menopang reformasi namun realitasnya menunjukkan
sebaliknya. Jika birokrasi tertutup ini diciutkan dengan reformasi administrasi,
terdapat kecenderungan terjadi hilangnya fleksibilitas, sehingga birokrasi akan
bertambah tertutup dan kaku. Reformasi yang benar di negara sedang
berkembang yakni yang bersifat programatik. Jadi jika pemerintah melansir
suatu program substantif seperti program pertanian, ekonomi, politik,
pendidikan, pembangunan masyarakat desa, dll.memobilisasikan sebagian
sumber daya insani dan keuangan serta melenturkan struktur dan prosedur
organisasi untuk melaksanakan program tersebut, baru kegiatan ini dapat
disebut dengan reformasi administrasi. Dalam kegiatan ini para administrator,
teknisi, serta golongan birokrat profesional dilibatkan untuk menyukseskan
program ini.
Contohnya ketika india menjadi negara birokrasi tertutup, pembentukan
korporasi publik menyebabkan india bergeser ke arah birokrasi campuran.
Contoh klasik yaitu pengalaman Brazilia dengan Administrative Department of
The Public Service (DASP) yang pada tahun 1940-an mengintroduksi adanya
reformasi manajemen dan personalia yang dilakukan dengan kontrol yang
sangat ketat. Kegfiatan ini dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari
Brownlow Committee Report dari Amerika Serikat.
2.      Reformasi administrasi dalam birokrasi terbuka
Birokrasi terbuka di negara sedang berkembang secara terus-menerus
memerlukan infusi keteraturan. Selain itu juga diperlukan pengawasan dan
penjagaan itu juga diperlukan pengawasan dan penjagaan. Pada tahap awal
kegiatan prosedur dan struktur organisasi haruslah sederhana, karena jika
tidak akan menjadi penghalang bagi reformasi berikutnya.
 
3.      Reformasi administrasi dalam birokrasi campuran
Pada birokrasi sedang berkembang kebanyakan sifat ketertutupannya
berangsur-anggsur berubah ke terbuka dan masuk taraf birokrasi campuran.
Birokrasi ini dituntut untuk terus membuka diri sembari meningkatkan
efisiennya. Maka dari itu reformasi yang dibutuhkan adalah reformasi yang
sifatnya programatik dan teknis. Birokrasi campuran punya kecenderungan
untuk kembali ke bentuknya semula yaitu birokrasi tertutup. Karena itu pada
birokrasi ini perlu dijaga dan diwaspadai agar tidak kembali ke bentuknya
semula, jika ini terjadi akan meningkatkan derajat kekakuannya dan
menurunkan adaptabilitas dan daya tanggapnya.
Tipe Reformasi Administrasi di Indonesia
            Sesuai dengan tipe birokrasinya, dalam melakukan reformasi
administrasi juga sesperti reformasi administrasi yang telah dijelaskan di atas,
yaitu reformasi administrasi pada birokrasi bertipe campuran. Seperti pada
penjelasan di atas mengenai reformasi administrasi dalam birokrasi campuran,
maka di Indonesiapun juga harus dilakukan langkah-langkah tersebut.
Meningkatkan efisiensi kerja birokrasi merupakan kebutuhan yang utama
dalam birokrasi di Indonesia. Adanya birokrasi yang terbelit-belit dan terkesan
eksklusif harus sedikit dirubah menjadi lebih sederhana dan mampu
berinteraksi dengan masyarakat luas. Selain itu, yang juga perlu direformasi
adalah mind-set dan culture-set dari birokrat-birokratnya.
            Pertama, penigkatan kinerja harus berbanding lurus dengan
peningkatan imbalan. Kedua, memperbaiki budaya kerja agar berorientasi
pada pelayanan publik. Ketiga, melakukan internalisasi dan konsistensi pada
proses penataan dan penjalanan pemerintahan yang baik. Dan yang menjadi
pusat perhatian kami disini adalah birokrasi boleh bekerja atau dijalankan
seperti swasta yang mengutamakan profesionalisme, akan tetapi orientasi dan
prinsip utama yang harus dipahami dan dilakukan yaitu birokrasi merupakan
pelayan publik yang harus melayani publik bukan profit oriented.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
REFERENSI
Osborne David dan Peter. 2000. Memangkas Birokrasi (Lima Strategi Menuju
Pemerintahan Wirausaha). Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Abdul Rosyid
dan Ramelan. Jakarta: PPM.
Zauhar, Soesilo. 2007. Reformasi Administrasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Caiden, G. (1968). “Administrative Reform,” International Review of Administrative
Sciences, vol. 34, no. 4, pp. 347-354.
Majalah Layanan Publik, Edisi : XXXVII, 2011.
Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 2, Hal. 338-343
Lee, Hanh Been. 1970. “The Concept, Structure and Strategy of Administrative
Reform: An Introduction” dalam Administrative Reform in Asia. Edited: Hanh Been
Lee dan Abelardo. Philippines, Manila: Eastern Regional. Organization for public
Administration.
Prasojo, Irfan R Maksum dan Teguh Kurniawan. 2008. Desentralisasi dan
Pemerintahan Daerah: Antara Model Demokrasi Lokal & Efisiensi Struktural.
Departemen Ilmu Administrasi FISIP-UI.
Cepiku, Denita dan Cristina Mitelu. 2010. “ Public Administration Reforms in
Transition Countries: Albania and Romania Between The Weberian Model and The
New Public Management” dalam Transylvanian Review of Administrative Sciences
No. 3E.
Leemans. Arne F. tt. “Administratif Reform: An overview. Jurnal Development and
Change. Vol. II. No. 3.
 
 
 
REFERENSI
Caiden, G. (1968). “Administrative Reform,” International Review of Administrative
Sciences, vol. 34, no. 4, pp. 347-354.
Pollitt, C. and G. Bouckaert (2004). Public Management Reform. A Comparative
Analysis, 2nd ed., Oxford, Oxford University Press.
Osborne David dan Peter. 2000. Memangkas Birokrasi (Lima Strategi Menuju
Pemerintahan Wirausaha). Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Abdul Rosyid
dan Ramelan. Jakarta: PPM.