BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai calon konselor, kita harus mampu melakukan konseling, hal ini
dipelajari dalam psikologi, yaitu psikologi konseling, yang merupakan cabang
dari psikologi. Sebagai konselor kita harus mampu memahami psikologi
konseling agar kita bisa mengerti dan dapat menjadi acuan dalam melakukan
konseling.
Psikologi berasal dari bahasa yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan
logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi adalah ilmu tentang jiwa
atau ilmu jiwa (Sarwono, 2009: 1).
Konseling (counseling) biasanya kita kenal dengan istilah penyuluhan,
yang secara awam dimaknakan sebagai pemberian penerangan, informasi, atau
nasihat kepada pihak lain (konseli). Konseling sebagai cabang dari psikologi
merupakan praktik pemberian bantuan kepada individu ( Latipun, 2003:2).
Dengan mengerti tentang pengertian psikologi dan pengertian konseling
saja, tidak cukup untuk kita sebagai calon konselor. Oleh karena itu, kita harus
mengetahui apa sebenarnya pengertian psikologi konseling secara utuh. Maka dari
itu, kami menyusun makalah ini sebagai penjelasan mengenai definisi dan sejarah
psikologi konseling.
1
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, ditemukan beberapa rumusan masalah,
diantaranya:
1. Apa definisi Psikologi Konseling?
2. Apa Tujuan Psikologi Konseling?
3. Bagaimana Hubungan Psikologi konseling dengan Psikiatri!
4. Bagaimana Metode Pengembangan Psikologi konseling
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Psikologi Konseling
Psikologi Konseling merupakan suatu kegiatan yang dibangun melalui
adanya interaksi antara konseli dengan psikolog atau konselor untuk
mengidentifikasi persepsi, kebutuhan, nilai, perasaan, pengalaman, harapan, serta
masalah yang dihadapi konseli (Djamarah Syaiful Bahri: 2008). Hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis konseli dengan
menyadarkan konseli akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga
akhirnya konseli dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya.
Seorang yang menghadapi permasalahan dalam hidupnya, kadang kala
dirasakan begitu berat atau mengganggu kehidupannya dalam keseharian. Namun,
seringkali mereka menghadapi masalah tersebut tanpa tahu benar dan menyadari
apa sebenarnya akar dari masalah mereka tersebut. Melalui proses konseling
inilah bersama-sama antara konselor dengan konseli menemukan akar masalah
yang ada dan menyadarkan konseli akan apa yang harus dilakukannya untuk
memecahkan masalahnya tersebut.
Diantara berbagai disiplin ilmu, yang memiliki kedekatan hubungan
dengan konseling adalah psikologi, bahkan secara khusus dapat dikatakan bahwa
konseling merupakan aplikasi dari psikologi, terutama jika dilihat dari tujuan,
teori yang digunakan, dan proses penyelenggaraannya. Oleh karena itu telaah
mengenai konseling dapat disebut dengan psikologi konseling (counseling
psychology).
B. Tujuan Konseling
Tujuan konseling menurut Krumboltz yaitu :
1. Mengubah perilaku yang salah penyesuaian Para ahli konseling dan
psikoterapi berpandangan bahwa tujuan konseling adalah mengubah tingkah
3
laku klien yang salah penyesuaian menjadi perilaku yang tepat
penyesuaiannya. Seseorang yang salah penyesuaian perlu mendapatkan
konseling, jika tidak dibantu maka dapat berpengaruh pada perkembangan
kepribadiannya. Terkadang ada klien yang tidak dapat memahami diri dan
perilakunya sendiri, jika klien memang ingin penyesuaian yang baik maka
klien harus menyadari dan memiliki kemauan untuk berubah, agar proses
konseling dapat berjalan lancar.
2. Belajar membuat keputusan Dalam proses konseling juga harus belajar dalam
membuat keputusan. Memang tidak gampang dalam mengambil keputusan,
tetapi klien harus belajar dan berani dalam hal itu. Karena yang lebih tahu dan
paham tentang masalah tersebut adalah klien itu sendiri. Setiap keputusan
yang diambil pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif, menguntungkan
dan merugikan, yang menunjang maupun yang menghambat. Maka dari itu,
dorongan dari konselor juga diperlukan tetapi dengan risiko yang sudah
dipertimbangkan sebelumnya sebagai konsekuensi alamiah.
3. Mencegah munculnya masalah Mencegah munculnya masalah mengandung
tiga pengertian, yaitu mencegah jangan sampai mengalami masalah di
kemudian hari, mencegah jangan sampai masalah yang dialami bertambah
berat atau berkepanjangan, mencegah jangan sampai masalah yang dihadapi
berakibat gangguan yang menetap (Notosoedirdjo dan Latipun,1999) Ketiga
tujuan tersebut bersifat kontinum. Maksudnya bahwa konseling tersebut dapat
dicapai secara bertahap, dan pada akhirnya hendak mencapai tujuan akhirnya.
Karena tujuan akhir tidak akan tercapai jika tidak melalui tujuan yang
sebelumnya. Tujuan konseling menurut JohnMcLeod. 2006 dalam buku
Tohirin yang berjudul Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah
(berbasis integrasi), adalah :
a. Pemahaman. Adanya pemahaman terhadap akar dan perkembangan
kesulitan emosional,mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk
lebih memilih kontrolrasional ketimbang perasaan dan tindakan.
4
b. Berhubungan dengan orang lain. Menjadi lebih mampu membentuk
dan mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan
dengan orang lain; misalnya, dalam keluarga atau di tempat kerja.
c. Kesadaran diri. Menjadi lebih peka terhadap pemikiran dan perasaan
yang selama ini ditahan atau ditoalk, atau mengembangkan perasaan
yang lebih akurat berkenaan dengan bagaimana penerimaan orang lain
terhadap diri.
d. Penerimaan diri. Perkembangan sikap positif terhadap diri, yang
ditandai oleh kemampuan menjelaskan pengalaman yang selalu
menjadi subjek kritik diri dan penolakan.
e. Aktualisasi diri atau individuasi. Pergerakan kearah pemenuhaan
potensi atau penerimaan integrasi bagian diri yang sebelumnya saling
bertentangan.
f. Pencerahan. Membantu klien mencapai kondisi kesadaran spiritual
yang lebih tinggi.
g. Pemecahan masalah. Menemukan pemecahan problem tertentu yang
tak bisa dipecahkan oleh klien seorang diri. Penuntut kopetensi umum
dalam pemecahan masalah.
h. Pendidikan psikologi. Membuat klien mampu menangkap ide da
teknik untuk memahami dan mengontrol tingkah laku.
i. Memiliki keterampilan sosial. Mempelajari dan menguasai
keterampilan sosial dan interpersonal seperti mempertahankan kontak
mata, tidak menyela pembicaraan, asertif, atau pengendalian
kemarahan
j. Perubahan kognitif. Modifikasi atau mengganti kepercayaan yang tak
rasional atau pola pemikiran yang tidak dapat diadaptasi, yang
diasosiasikan, tingkah lakupenghancuran diri.
k. Perubahan tingkah laku. Modifikasi atau mengganti pola tingkah laku
yang adaptif atau merusak
l. Perubahan sistem. Memperkenalkan perubahan dengan cara
beroperasinya sistem social (contoh : keluarga). m. Penguatan.
5
Berkenaan dengan keterampilan, kesadaran, dan pengetahuan yang
akan membuat klien mampu mengontrol kehidupanya
m. Restitusi. Membantu klien membuat perubahan kecil terhadap perilaku
yang merusak.
n. Reproduksi (generativity) dan aksi sosial. Menginspirasikan dalam diri
seseorang khasyat dan kapasitas untuk peduli terhadap orang lain,
membagi pengetahuan, dan mengkontribusikan kebaikan bersama
(collective good) melalui kesepakatan politik dan kerja komunitas.
C. Metode Pengembangan Psikologi konseling
Psikologi konseling sebagai ilmu pengetahuan (scientific), sa-ngat
diperlukan konselor untuk mengendalikan layanan konseling-nya kepada konseli,
yaitu individu yang membutuhkan bantuan konseling. Oleh karena itu, keberadaan
psikologi konseling ha-rus dikembangkan sedemikian rupa sejalan dengan
dinamika psi- kososial konseli sebagai individu yang memiliki keunikan dan
sebagai anggota masyarakat. Di pihak lain, dinamika mayarakat sebagai dampak
gelombang globalisasi dewasa ini dapat dihindari lagi, semuanya ini berpengaruh
terhadap kompleksitas masalah- masalah konseli. Dilihat dari waktu
pelaksanaannya, metode pengembangan psikologi konseling dapat dibedakan
menjadi dua bagian besar,
yaitu metode longitudinal dan metode cross sectional.
1. Metode longitudinal
Metode longitudinal merupakan metode pengembangan yang dilakukan
dalam kurun waktu relatif lama untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan.
Aktivitas pengembangan dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun
demi tahun. Karena itu, apabila dilihat dari aspek perjalanan pengembangan,
metode ini digunakan untuk mengembangkan psikologi konseling secara ver-tikal
(kedalaman). Contoh: Konselor hendak mengembangkan penerapan teo-ri-teori
konseling tertentu seperti teori Gestalt, cognitive behavioral therapy,
interaksional, atau transaksional, untuk membantu konseli yang menderita
depresi.
6
2. Metode Cross-Sectional
Berbeda dengan metode longitudinal, metode cross sectional merupakan
metode pengembangan yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama, dengan kata
lain hanya menggunakan wak-tu yang relatif singkat dapat diperoleh data-data
yang banyak de- ngan menggunakan sampel lebih dari satu konseli. Jadi metode
ini digunakan untuk mengembangkan psikologi konseling secara horizontal hanya
mengumpulkan data-data secara teliti dari bebe- rapa konseli dengan
menggunakan metode-metode tertentu dan hasilnya dianalisis serta diinterpretasi
secara objektif. Metode yang dapat digunakan sebagai berikut:
a. Metode introspeksi
Introspeksi atau mawas diri adalah penghayatan terhadap ke- hidupan
psikisnya sendiri, ini merupakan sumber pengenalan yang penting dalam
psikologi konseling. Metode introspeksi dapat dilakukan secara
eksperimental dan noneksperimental.
b. Metode ekstrospeksi
Metode ekstrospeksi adalah pengamatan yang sistematis ter- hadap
kehidupan psikis orang lain, untuk memahami ciri- ciri khas individu
tersebut. Metode ini sangat berguna bila digunakan bersama dengan
metode introspeksi.
c. Metode kuesioner
Kuesioner atau sering disebut angket merupakan pengem-
bangan psikologi konseling dengan menggunakan daftar per- tanyaan atau
pernyataan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden dari kegiatan
pengembangan tersebut
d. Metode interview
Metode interview disebut juga metode wawancara, yaitu salah satu metode
pengembangan pikologi konseling yang dilak- sanakan dengan melakukan
wawancara kepada sejumlah res- ponden dengan menggunakan pedoman
wawancara.
e. Metode dokumentasi
7
Secara harfiah dokumentasi artinya pengumpulan, pemilih- an,
pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990). Metode dokumentasi dapat
didefinisikan sebagai suatu teknik untuk memperoleh informasi dengan
cara mempelajari berbagai dokumen yang telah didokumentasikan.
f. Metode sosiometri
Sosiometri merupakan metode yang paling tepat untuk mem- peroleh data
mengenai hubungan sosial siswa. Dengan teknik ini, kita dapat meperoleh
data tentang susunan hubungan antar-individu, struktur hubungan
individu, intensitas hubung-an, dan arah hubungan sosial individu.
g. Metode biografi
Biografi atau disebut riwayat hidup merupakan metode yang efektif
apabila digunakan untuk menggali informasi yang mendalam mengenai
berbagai kejadian yang telah dialami oleh individu konseli.
Metode kelompok
Metode kelompok (group method) merupakan pengembang- an yang
dilakukan dengan menggunakan dinamika kelompok (group dinamics).
Menurut Prayitno (2005) dinamika kelompok merupakan sinergi dari
semua faktor yang ada di dalam suatu kelompok.
Metode tes
Metode tes di era sekarang sangat populer digunakan orang untuk
mengumpulkan data terhadap kemampuan individu, baik kemampuan
potensial (potential ability) maupun kemam-puan nyata (actual ability)
(Khairani, 214: 26-28).
8
D. Hubungan Psikologi konseling dengan Psikiatri
Psikiatri merupakan spesialisasi yang sulit dibedakan dari kekhususan
konseling. Perbedaan pokok antara psikiatri dan psi-kologi konseling dapat dilihat
dari dua aspek, yaitu pendidikan tenaga dan masalah konseling. Dilihat dari
pendidikan tenaga psikiatri, lebih ditekankan pada pendidikan medis yang
dibangun pada lingkungan kedok-teran, sedangkan konseling lebih ditekankan
pada pendidikan psikopedagogis. Adapun dilihat dari masalah konseli, perbedaan
lain yang dapat ditonjolkan ialah bahwa psikiatri menangani ma-salah yang
berhubungan dengan kondisi emosional yang lebih berat, sedangkan konseling
menangani masalah emosi yang ringan seperti: kecemasan, stres ringan, depresi,
konflik, ketergantungan, dan frustrasi.
9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai calon konselor, kita harus mampu melakukan konseling, hal ini
dipelajari dalam psikologi, yaitu psikologi konseling, yang merupakan cabang
dari psikologi. Sebagai konselor kita harus mampu memahami psikologi
konseling agar kita bisa mengerti dan menjadi acuan dalam melakukan konseling.
Dapat diambil kesimpulan bahwa psikologi konseling merupakan suatu
kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara klien dengan psikolog
atau konselor untuk mengidentifikasi persepsi, kebutuhan, nilai, perasaan,
pengalaman, harapan, serta masalah yang dihadapi konseli. Hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis konseli dengan
menyadarkan konseli akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga
akhirnya konseli dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya.
Diantara berbagai disiplin ilmu, yang memiliki kedekatan hubungan
dengan konseling adalah psikologi, bahkan secara khusus dapat dikatakan bahwa
konseling merupakan aplikasi dari psikologi, terutama jika dilihat dari tujuan,
teori yang digunakan, dan proses penyelenggaraannya. Oleh karena itu telaah
mengenai konseling dapat disebut dengan psikologi konseling (counseling
psychology).
10
B. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak
berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada
penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-
kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca pada umumnya.
11
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Latipun. (2003). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
McLeod, John. (2010). Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta:
Kencana Prenada
Media Group.
Sarwono, Sarlito W. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada.
Sarwono, Sarlito W. (1997). Psikologi Sosial Individu dan Teori-teori Psikologi
Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Shaleh, Rahman, Abdul. (2009). Psikologi suatu pengantar dalam perspektif
Islam. Jakarta:
Prenada Media Group.
Sobur, Alex. (2013). Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka
Setia.
Surya, Mohammad. (2009). Psikologi Konseling. Bandung: Maestro.
Kartono, Kartini. (1996). Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju.
12
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat
yang diberikan-Nya sehingga tugas Makalah Tentang Konsep Dasar Psikologi ini
dapat saya selesaikan. Makalah ini kami buat sebagai kewajiban untuk memenuhi
tugas.
Dalam kesempatan ini, kami menghaturkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu menyumbangkan ide dan pikiran mereka demi
terwujudnya makalah ini. Akhirnya saran dan kritik pembaca yang dimaksud
untuk mewujudkan kesempurnaan makalah ini penulis sangat hargai.
Padangsidimpuan, Oktober 2022
13
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................3
A. Definisi Psikologi Konseling................................................................3
B. Tujuan Konseling..................................................................................3
C. Metode Pengembangan Psikologi konseling .........................................6
D. Hubungan Psikologi konseling dengan Psikiatri..................................9
BAB III PENUTUP.........................................................................................10
A. Kesimpulan.....................................................................................10
B. Saran...............................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................12
ii
14
KONSEP DASAR KSIKOLOGI
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK
MUTHIA HIDAYAH
PUTRI SAKINA
MUHAMMAD IQBAL
DOSEN PENGAMPU :
Erlina Harahap, S.Psi. M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TAPANULI SELATAN
PADANGSIDIMPUAN
T.A. 2022
15