Anda di halaman 1dari 27

Oleh: dr.

Reza Abidin Shihab


Pembimbing: dr. Yolanda Desire
Portofolio Internship RS Tingkat IV
Kesdam Cijantung
Kesadaran: Compos Mentis
GCS: 15
Tanda rangsang meningeal: (-)
Pemeriksaan Nervus Kranialis: dalam batas normal
Pemeriksaan mototorik:
4444 4444
Pemeriksaan sensorik: Berkurang pada
2222 kedua
2222
ekstremitas (hipethesia)
Refleks motorik ekstremitas atas dan bawah:
Berkurang (+)
Pemeriksaan refleks patologis: (-)
Hadinoto, S, 1996, Sindroma Guillain Barre, dalam : Simposium Gangguan
Gerak, hal 173-179, Badan Penerbit FK UNDIP, Semarang.
Harsono, 1996, Sindroma Guillain Barre, dalam : Neurologi Klinis, edisi I :
hal 307-310, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Mardjono M, 1989, Patofisiologi Susunan Neuromuskular, dalam :
Neurologi Klinis Dasar, edisi V : hal 41-43, PT Dian Rakyat, Jakarta.
Sidharta, P, 1992, Lesu-Letih-Lemah, dalam : Neurologi Klinis dalam
praktek Umum : ha; 160-162, PT Dian Rakyat, Jakarta.
Staf Pengajar IKA FKUI, 1985, Sindroma Guillain Barre, dalam : Ilmu
Kesehatan Anak, Jilid II : ha; 883-885, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI,
Jakarta.
Asbury A.K. 1990. Gullain-Barre Syndrome: Historical aspects. Annals of
Neurology (27): S2-S6.
Bosch E.P. 1998. Guillain-Barre Syndrome : an update of acute immuno-
mediated polyradiculoneuropathies. The Neurologist (4); 211-226 .
Penegakkan diagnosis Guillain Barre
Syndrome
Tatalaksana Guillain Barre Syndrome
Mengarah ke infeksi bakteri:

Antigen bakteri tersebut


Pasien seorang laki-laki berusia 32 thn
mengaktivasi sel limfosit T
Riwayat infeksi saluran pernapasan
mengaktivasi limfosit B dan
sekitar 1 bulan yang lalu
memproduksi autoantibodi
Riwayat ASTO (anti-streptolysin O) (+)
spesifik destruksi serabut
myelin saraf.

Sehingga muncul gejala lemas pada


kedua kaki sejak 1 minggu yang lalu,
lemas dirasakan semakin memberat,
Guillain Barre sampai pada sekitar 3 hari sebelum
Syndrome masuk rumah sakit pasien
mengeluhkan tidak bisa berjalan,
lemas dirasakan menjalar.
Guillain Barre syndrome (GBS) adalah suatu
kelainan sistem kekebalan tubuh manusia yang
menyerang bagian dari susunan saraf tepi dirinya
sendiri.
dengan karakterisasi berupa kelemahan atau
arefleksia dari saraf motorik yang sifatnya
progresif.
Kelainan ini kadang kadang juga menyerang saraf
sensoris, otonom, maupun susunan saraf pusat.
The National Institute of Neurological and
Communicative Disorders and Stroke ( NINCDS)
Gejala utama
Kelemahan yang bersifat progresif pada satu atau lebih
ekstremitas dengan atau tanpa disertai ataxia
Arefleksia atau hiporefleksia yang bersifat general

Gejala tambahan
Progresivitas dalam waktu sekitar 4 minggu
Biasanya simetris
Adanya gejala sensoris yang ringan
Terkenanya SSP, biasanya berupa kelemahan saraf facialis
bilateral
Disfungsi saraf otonom
Tidak disertai demam
Penyembuhan dimulai antara minggu ke 2 sampai ke 4
Pemeriksaan LCS
Peningkatan protein (> 0,55 g/L)
Sel MN < 10/ul

Pemeriksaan elektrodiagnostik
Terlihat
adanya perlambatan atau blok pada
konduksi impuls saraf
Terapi Suportif(bila terjadi paralisis otot
pernapasan) ICU
KVP < 15-20 mL/Kg
P Inspirasi Max < 30 cm H2O
P Ekspirasi Max < 40 cm H2O
SpO2 < 70 mmHg

Imunoterapi
Intravenous inffusion of human Immunoglobulin
(IVIg) (dosis 0,4 g / kg BB / hari selama 5 hari)
Plasma Exchange (PE)