Anda di halaman 1dari 44

Pembimbing

dr. Lasmaria Flora, Sp.An, M.Kes


Oleh :
Rio Mulya Riharta
1711901057

KKS ILMU ANESTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU
RSUD BANGKINANG
Obat untuk menghilangkan nyeri, 2 kelompok:
1. Analgetik
2. Anestesi

• Anestesi  Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi,


kemampuan untuk merasa“ menghilangkan rasa sakit
Anestesi diklasifikasikan berdasarkan daerah/luasan pada
tubuh yang mempengaruhinya, yaitu:
1. Anestesi lokal
2. Anestesi regional
3. Anastesi umum
Tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversibel.
Trias anestesi :
1. Hipnotik/sedasi
2. Analgesia
3. Muscle relaxant
Pasien tidak kooperatif, ex: anak
Dewasa yang memilih anestesi umum
Pembedahan yang luas
Pembedahan yang lama
Pembedahan dimana anetesi lokal tidak praktis atau
tidak memuaskan
Alergi obat anestesi lokal
Penderita dengan pengobatan antikoagulantia
- Penilaian & persiapan pra anestesia
- Penilaian pra bedah
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan laboratorium
d. Kebugaran untuk anestesia
e. Klasifikasi status fisik
f. Masukan oral
- Premedikasi
 ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia
 ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
 ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga
aktivitas rutin terbatas
 ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat
melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan
ancaman kehidupannya setiap saat
 ASA V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam
• Meredakan kecemasan dan ketakutan
• Memperlancarkan induksi anestesi
• Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
• Meminimalkan jumlah obat anestesi
• Mengurangi mual-muntah pasca bedah
• Menciptakan amnesia
• Mengurangi isi lambung
• Mengurangi reflex yang membahayakan
1. Analgesik narkotik
a. Petidin (amp 2 cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Morfin (amp 2 cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Fentanyl (fl 10 cc = 50 mg), dosis 1-3 µgr/kgBB
2. Analgesik non narkotik
a. as. mefenamat
b. Tramol
3. Hipnotik
a. Ketamin (fl 10 cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1 cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid (amp 2 cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5 cc/3 cc = 15 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20 cc = 200 mg), dosis 2,5mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2 cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
Anti emetik
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1 cc = 0,25 mg), dosis 0,001
mg/kgBB
b. DBP
c. Narfoz, rantin, primperan
 Induksi anestesi
 Induksi intravena
 Induksi intramuscular
 Induksi inhalasi
 Induksi per rectal
 Induksi steal
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar
menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya
anestesi dan pembedahan.
Cara:
a. IV
b. Inhalasi
c. IM
d. Rectal
 S : Scope  Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope, pilih bilah atau daun
(blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.
 T : Tube  Pipa trakea. Pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan > 5 tahun dengan balon
(cuffed).
 A : Airway  Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (naso-tracheal
airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak
menyumbat jalan napas.
 T : Tape  Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
 I : Introducer  Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang mudah dibengkokkan
untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.
 C : Connector  Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia.
 S : Suction  Penyedot lender, ludah, dll.
• Dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali
• Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan 30-60 detik
Contoh obat induksi intravena:
a. Tiopental (pentotal, tiopenton)  1 amp 500 mg / 1000 mg, sebelum
digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai kepekatan 2,5% (1 ml
= 25 mg), dosis 3-7 mg/kg
b. Propofol (diprivan, recofol)  kepekatan 1%, 1 ml = 10 mg, dosis
bolus induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan 4-12 mg/kg/jam, dosis
sedasi 0,2 mg/kg
c. Ketamin (ketalar)  kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1 ml = 50
mg), 10% (1 ml = 100 mg), dosis bolus 1-2 mg/kg dan dosis IM
3-10 mg
Contoh obat:
Ketamin (ketalar)  dosis 5-7 mg/kgBB dan
setelah 3-5 menit pasien tidur
 N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide,
dinitrogen monoksida)
 Halotan (fluotan)
 Enfluran (etran, aliran)
 Isofluran (foran, aeran)
 Desfluran (suprane)
 Sevofluran (ultane)
Hanya digunakan untuk anak atau bayi
menggunakan thiopental atau midazolam
- Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang
tidur
- Induksi inhalasi biasa hanya sungkup muka tidak
kita tempelkan pada muka pasien, tetapi kita
berikan jarak beberapa sentimeter, sampai pasien
tertidur baru sungkup muka kita tempelkan
• Menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan cara mengatur konsentrasi obat anestesi
dalam tubuh pasien
• Jika konsentrasi obat tinggi, maka akan dihasilkan anestesi yang dalam
• Jika konsentrasi obat rendah , maka akan didapatkan anestesi yang dangkal
Contoh:
- Opioid dosis tinggi, fentanil 10-50 mcg/kgBB
- Opioid dosis biasa, propofol 4-12 mg/KgBB/jam
Anestesi inhalasi  anestesi dengan menggunakan gas atau cairan
anestesi yang mudah menguap (volaitile agent) sebagai zat
anestetik melalui udara pernafasan.
Cara pemberian:
• Open drop method
• Semiopen drop method
• Semiclosed method
• Closed method
Teknik pemberian:
• Inhalasi dengan respirasi spontan
• Inhalasi dengan respirasi kendali
• Anestesi Intravena Total (TIVA)
Anestesi intravena  digunakan untuk tindakan yang singkat atau
induksi anestesi
Pengakhiran Anestesi
Mempertahankan Anestesi • Pengakhiran anestesi sebelum operasi
berakhir
• Pemantauan TTV, dll
• FiO2 100% dipasang beberapa menit
• Pertahankan anestesi sebelum ekstubasi
• Perencanaan terapi nyeri • Penyedotan sekret didalam mulut dan
pasca operasi faring
• Ekstubasi, bila nafas spontan mencukupi
• Perhatikan tanda-tanda klinis dan reflex perlindungan telah kembali
• Pasien yang stabil secara hemodinamik
dan respiratorik diletakkan di dalam
ruangan pasca bedah
Hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh
sementara pada impuls saraf sensorik, sehingga impuls
nyeri dari satu bagian tubuh diblokir untuk sementara
(reversibel).
- Blok sentral (blok neuroaksial), ex : blok spinal, epidural, dan kaudal.
- Blok perifer (blok saraf), ex: topikal, infiltrasi lokal, blok lapangan, dan analgesia
regional intravena.
• Alat minim dan teknik relatif sederhana
• Relatif aman untuk pasien yang tidak puasa
• Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi
• Tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi
• Perawatan post operasi lebih ringan
• Tidak semua penderita mau dilakukan anestesi secara regional
• Membutuhkan kerja sama pasien yang kooperatif
• Sulit diterapkan pada anak-anak
Pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid
Indikasi Kontra Indikasi Absolut

Bedah ekstremitas bawah • Pasien menolak


• Infeksi pada tempat suntikan
Bedah panggul
• Hipovolemia berat, syok
Tindakan sekitar rektum • Koagulapati atau mendapat terapi
perineum koagulan
Bedah obstetrik-ginekologi • Tekanan intrakranial meningkat
Bedah urologi • Fasilitas resusitasi minim
• Kurang pengalaman tanpa
Bedah abdomen bawah didampingi konsulen anestesi
Pada bedah abdomen atas
dan bawah pediatrik biasanya
dikombinasikan dengan
anestesi umum ringan
 Infeksi sistemik
 Infeksi sekitar tempat suntikan
 Kelainan neurologis
 Kelainan psikis
 Bedah lama
 Penyakit jantung
 Hipovolemia ringan
 Nyeri punggung kronik
Posisi duduk/ lateral decubitus  diatas meja operasi
tanpa dipindahkan.
1. Buat pasien membungkuk maximal agar processus
spinosus mudah teraba.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka,
misal L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko
trauma terhadap medula spinalis
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alcohol
4. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan,misalnya dengan lidokain 1-2%
2-3ml
5. Cara tusukan median atau paramedian.
 Hipotensi berat
 Bradikardia
 Hipoventilasi akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat
kendali nafas
 Trauma pembuluh saraf
 Trauma saraf
 Mual-muntah
 Gangguan pendengaran
 Blok spinal tinggi atau spinal total
 Nyeri tempat suntikan
 Nyeri punggung
 Nyeri kepala karena kebocoran likuor
 Retensio urine
 Meningitis
 Obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada
jaringan saraf dengan kadar yang cukup
 Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal:
• Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen
• Batas keamanan harus lebar
• Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada
membran mukosa
• Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang
yang cukup lama
• Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap
pemanasan.
 Lidokaine(xylocain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobarik, dosis
20-100mg (2-5ml)

 Lidokaine(xylocain,lignokain) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.033,


sifat hyperbarik, dosis 20-50 mg (1-2ml)

 Bupivakaine (markaine) 0.5% dalamlm air: berat jenis 1.005, sifat


isobarik, dosis 5-20 mg (1-4 ml)
Blokade saraf dengan menempatkan obat di ruang
epidural
Keuntungan Kerugian
oBisa segmental oTeknik lebih sulit
oTidak terjadi headache oJumlah obat anestesi
post op lokal lebih besar
oHipotensi lambat terjadi oReaksi sistemis 
Blok tidak merata
Depresi kardiovaskular (hipotensi)
Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)
Mual – muntah
Indikasi
Bedah daerah sekitar perineum, anorektal misalnya
hemoroid, fistula paraanal.

Kontra indikasi
Seperti analgesia spinal dan analgesia epidural.
Infiltrasi Lokal
• Penyuntikan larutan analgetik lokal langsung diarahkan sekitar
tempat lesi

Blok Lapangan (Field Block)


• Infiltrasi sekitar lapangan operasi (contoh, untuk ekstirpasi tumor
kecil)

Analgesia Permukaan (Topikal)


• Obat analgetika lokal dioles atau disemprot di atas selaput
mukosa

Analgesia Regional Intravena (Bier Block)


• Anestesi jenis ini dapat dikerjakan untuk bedah singkat sekitar 45
menit pada lengan atau tungkai
• Anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit ketika
melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
• Anestesi terdiri atas anestesi umum, anastesi regional, dan anestesi lokal