Anda di halaman 1dari 51

OBAT-OBATAN

ANESTESI
Pembimbing:
Dr. Andityo Sumbarwoto, Sp.An

Oleh:
KELOMPOK J31
Thasia Isabelita 201820401011109
Muhammida Fahrina S. 201820401011104
Dian Sella Rahmasari 201820401011108
Juliatika 201820401011120
Syamsul Amar Hidayat 201820401011165

SMF ILMU ANESTESI RS BHAYANGKARA KEDIRI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
DEFINISI

Tindakan anestesi adalah menghilangkan rasa sakit seluruh tubuh secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible.

Durasi anestesi  tergantung besar dosis yang diberikan

Trias anestesi : Hipnotik, analgesia dan muscle relaxant


1. Penilaiaan & persiapan pra anestesi
• Penilaian pra bedah
• Anamnesis  riwayat pasien sebelumnya, untuk
negetahui hal-hal yang perlu perhatian khusus
(riwayat penyakit sistemik, riwayat alergi, riwayat
obat-obatan, riwayat operasi)
• Pemeriksaan fisik  pemeriksaan keadaan umum.
Pemeriksaan mulut untuk mengetahui adakah
penyulit pada tindakan intubasi
• Pemeriksaan penunjang laboratorium, radiologi
dan lainnya
• Konsultasi dan koreksi terhadap kelainan fungsi
organ vital
• Menentukan prognosis pasien
Kelas Klasifikasi status fisik preoperasi
menurut ASA
Kelas I Fit dan sehat

Kelas II Penyakit sistemik ringan

Kelas III Penyakit sistemik berat yang tidak terkontrol


Kelas IV Penyakit sistemik tidak terkontrol dan
mengancam nyawa

Kelas V Mengancam nyawa-tidak diharapkan dapat


bertahan >24 jam tanpa pembedahan
ASA (American Society of Anesthesiologist)
2. Pre medikasi
• Tujuan  pemberian obat sebelum pasien
diinduksi dengan tujuan melancarkan induksi,
rumatan, dan bangun dari anesthesia
• Rasa nyaman
• Memudahkan induksi
• Menguarngi jumlah obat anetesi
• Tekan reflex yang tidak diinginkan
• Kurangi kelenjar saliva
• Kurangi rasa sakit
 Pemberian:
IM diberikan 30-45mnt sebelum induksi
anestesi
IV diberikan 5-10mnt sebelum induksi anestesi
3. Induksi

• Tujuan  tindakan untuk


membuat pasien dari sadar
menjadi tidak sadar.
Sehingga memungkinkan
dimulainya tindakan op.
Stethoscope, laryngoscope
Scope (lampu harus terang)
Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa
Tube balon dan > 5 tahun dengan balon (cuffed)

Guedel  menahan lidah  agar tidak


STATICS
Airway menyumbat jalan nafas

Tape Hipafix, handsaplast

Madrin atau stilet yang mudah dibengkokan,


Introducer memudahkan pipa trakea dimasukkan

Connector Penyambung pipa trakea

Suction Menyedot lendir, saliva dll


 Standar pemantauan
 Standar I: tenaga anestesia yang berkualifikasi harus berada diruang
operasi selama pemberian anestesia
 Standar II: Selama pemberian anestesia , jalan nafas, oksigenasi,
ventilasi dan sirkulasi pasien harus dievaluasi secara teratur dan
kontinu

Pemantauan
Oksigenasi Ventilasi
jalan napas

Sirkulasi Suhu tubuh


Tujuan perawatan di ruang pulih:
 Memantau secara kontinu dan mengobati secara cepat dan tepat
masalah sirkulasi dan respirasi
 Mempertahankan kestabilan sistem respirasi dan sirkulasi
 Memantau perdarahan luka operasi
 Mengatasi/mengobati masalah nyeri pasca bedah

Pasien yang tidak perlu dirawat di ruang pulih:


 Pasien dengan anestesia lokal yang kondisinya normal
 Pasien dengan resiko tinggi tertular infeksi sedangkan tidak ada
ruang isolasi pada ruang pulih
 Pasien yang memerlukan terapi intensif  ICU
Obat
anestesi

Intravena Inhalasi Gas Regional Lokal


INTRAVENA
 Sediaan : Thiopental Sodium 500mg Powder for Solution for Injection
 Farmakokinetik :
 Onset : IV, 10-20 detik
 Durasi : 30 menit
 Farmakodinamik : menghilangkan kesadaran dengan cara memfasilitasi
pengikatan GABA pada reseptor GABAA. di membrane neuron SSP.
Bersifat GABA-mimetik dengan langsung merangsang kanal klorida.
Barbiturat juga menekan kerja neurotransmiter sistem stimulasi
(perangsang).
 KI : respiratory obstruction, acute asthma, severe shock
 Ef. Samping : Aritmia, Depresi pernapasan
 Dosis :
 Induksi : 100mg-150mg
 IV: 3-5 mg/kg (anak-anak, 5-6 mg/kg; bayi 7-8 mg/kg).
 Sediaan : 5mg/ml Solution for Injection
 Farmakokinetik :
 Onset : 1-3 menit
 Durasi : 12 jam
 Farmakodinamik : interaksinya dengan reseptor penghambat
neurotransmiter yang diaktifkan oleh asam gamma amino butirat
(GABA)
 KI : hipersensitif (+), Severe or acute respiratory
insufficiency/depression, Sleep apnoea syndrome, Severe hepatic
insufficiency
 Ef. Samping : Drowsiness, sedasi, kelemahan otot, ataksia
 Dosis
 Induksi : 0, 1-0,5 mg/kgBB. 0,2 mg/kgBB (orang sehat) sebagai medikasi
pra-anestetik, (poor risk) hanya dibutuhkan 0, 1-0,2 mg/kgBB.
 Sediaan : kombinasi tetap yang mengandung fentanil sitrat 0,05
rng dan droperidol 2,5 mg per ml,
 Farmakokinetik :
 Onset  Fentanil : 2 menit ; Droperidol : 10-15 menit
 Durasi : IV, 5-15 menit
 Farmakodinamik : Bekerja pada reseptor opioid pada tubuh
 KI : pasien Parkinson
 Ef. Samping : perangsangan ekstrapiramidal dan gerak otot
spontan (bersifat swasirna dengan pemberian atropin)
 Dosis
 Induksi : dosis tunggal dropepridol (0,15 mg/kgBB) 6-8 menit kemudian
diberikan fentail (0002-0,003 mg/kgBB) dapat diulang tiap 6-8 menit
 Sediaan: injectable solutions 2mg/mL
 Farmakokinetik :
 Onset : < 1 menit
 Durasi : 100 detik per 0,1 mg/kgBB
 Farmakodinamik :
 KI : impaired renal function, hepatic disease
 Ef. Samping : penghambatan sintesis steroid oleh adrenal,
intravenous pain, transient skeletal muscle movements or
myoclonus
 Dosis
 Induksi : 0,2 - 0,3 mg/kgBB dalam 30-60 detik
 Sediaan: emulsi 1 %
 Farmakokinetik :
 Onset : 40 detik
 Durasi : 5-10 menit
 Farmakodinamik : Propofol mengurangi aliran darah serebral,
TIK dan kecepatan metabolik serebral
 KI : Pasien dengan TIK meningkat
 Ef. Samping : Hipotensi, Bradikardia, Apnea
 Dosis :
 Induksi : IV 1,5-2,5 mg/kgBB
 Rumatan: Bolus IV: 25-50 mg ; Infus: 100-200 mcg/kg/menit
 Sediaan : Injectable solution 10 mg/mL, 50 mg/mL, 100 mg/mL
 Farmakokinetik :
 Onset : < 30 detik IV
 Durasi  analgesic (40 menit), anestetik (10-15 menit), amnesia (1-2 jam)
 Farmakodinamik : penghambatan efek membran dan
neurotransmitter eksitasi asam glutamat pada reseptor N-metil-D-
aspartat.
 KI : Hipertensi dengan sistolik 160 mmHg dan diastolik 100 mmHg,
Dekompensasi cordis, peningkatan tekanan intrakranial (edema
serebri ) dan peningkatan TIO
 Ef. Samping : hipertensi, takikardi, hipotensi, aritmia
 Dosis
 Induksi  (IV : 1-2 mg/kgBB) (IM 3 -5 mg/kgBB)
 Maintenance : 25 – 100 mg/kgBB/menit
 Sediaan : 200mcg/2mL (100mcg/mL) single-dose glass vial
 Farmakokinetik :
 Onset : < 5 menit
 Peak effect : 15 menit
 Durasi : 2 jam

 Farmakodinamik : agonis selectif α2 adrenoceptor


 KI : hepatic disease, hipertensi, AV block, bradikardi
 Ef. Samping : hipertensi, hipotensi, bradikardi, mual, mulut kering
 Dosis
 Induksi : 1 mcg/kg selama 10-20 minutes
 Rumatan : 0.2- 0.7mcg/kg/jam
INHALASI
SIFAT :
 Cairan tak berwarna
 Berbau enak
 Tak mudah terbakar dan meledak
 Mudah menguap pada suhu kamar
 Sensitif terhadap cahaya dan mempunyai kecenderungan untuk
terurai secara spontan

EFEK :
 Efek anelgesia kurang baik
 Relaksasinya cukup
 Mendepresi pernafasan
 Menghambat kerja otot jantung dan pembuluh darah
KONTRA INDIKASI :
 Seksio sesarea : dosis rendah pun dapat menghambat kontraksi otot rahim serta mengurangi efektivitas
ergotonin dan oksitoksin
 Gangguan hati dan riwayat penggunaan halotan dalam waktu 3 bulan sebelumnya  Menyebabkan
hepatotoksisitas
 Pasien risiko peningkatan tekanan intrakranial

EFEK SAMPPING :
 Sistem Kardiovaskular
 Halotan mendilatasi jaringan vaskular kulit dan otak  menyebabkan berkurangnya perfusi organ-organ
tersebut  penurunan tekanan darah.
 Sisfem Saraf
 meningkatkan tekanan intrakranial pada pasien dengan massa intrakranial yang mendiami rongga, udem otak,
atau hipertensi intrakranial yang sudah ada sebelumnya.
 Otot
 menyebabkan relaksasi otot skeletal melalui efek depresan pusatnya
 Ginjal, Hati, dan Saluran Gastrointestinal
 penurunan aliran darah ginjal, laju filtrasi glomerular , hepatik dan splanknik.
Induksi dengan isofluran dan pemulihannya terjadi dengan
relatif cepat. Lebih dari 99% isofluran yang dihirup diekskresikan
tanpa perubahan meIalui paru-paru, bukan merupakan mutagen,
teratogen, atau karsinogen.

Isofuran biasanya digunakan untuk pemeliharaan anestesia


setelah induksi dengan senyawa lain karena aromanya yang kuat,
tetapi induksi anestesia dapat dicapai dalam waktu <10 menit
dengan konsentrasi 3% isofuran dalam O2
Sistem Kardiovaskular
 Menurunkan tekanan darah arteri, vasodilator koroner yang poten
Sistem Respirasi
 Penurunan volume tidal
Sisfem Saraf
 Menyebabkan vasodilatasi serebral dengan efek yang lebih ringan dibanding enfluran
atau halotan.

Otot
 Merelaksasi sebagian otot rangka melalui efek sentralnya
 Merelaksasi otot polos uterus dan tidak direkomendasikan untuk analgesia atau
anestesia pada persalinan dan pelahiran pervaginal.
Ginjal, Hati, dan Saluran Gastrointestinal
 Mereduksi aliran darah splanknik dan hepatik, ginjal dan laju filtrasi glomerulus.
Anestesia dan pemulihan relatif lambat

Enfluran terutama digunakan untuk pemeliharaan dan bukan untuk


induksi anestesia. Anestesia dapat dipertahankan dengan konsentrasi
1,5% sampai 3%. Konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan
anestesia dapat diturunkan jika enfuran digunakan bersama dengan
dinitrogen monoksida atau senyawa opioid.
Sisfem Kardiovaskular
 penurunan tekanan darah

Sisfem Respirasi
 Enfluran menghasilkan efek depresi yang lebih besar pada respons ventilasi terhadap
hipoksia dan hiperkarbia dibandingkan dengan halotan dan isofluran.
Sistem Saraf
 Vasodilator serebral yang meningkatkan tekanan intrakranial pada beberapa pasien.
Obat ini dapat menurunkan konsumsi O
Otot
 Enfluran menghasilkan relaksasi otot rangka, merelaksasi otot polos uterus.

Ginjal, Hati, dan Saluran Gastrointestinal


 Enfluran mereduksi aliran darah ke ginjal, splanik, hepatik, laju filtrasi glomerulus, dan
volume urine.
Desfluran berpartisi dengan buruk ke dalam darah, lemak, dan jaringan perifer
lainnya. Dengan demikian, konsentrasi dalam darah dan alveolus cepat meningkat
hingga tingkat konsentrasi yang dihirup.

 Dalam waktu 5 menit setelah pemberian, Waktu yang dibutuhkan untuk sadar
kembali biasanya tidak melebihi 5-10 menit

 Desfluran banyak digunakan pada operasi pasien rawat jalan karena memiliki
onset dan kinetika kembalinya kesadaran yang cepat.

Sistem Kardiovaskular
 Desfluran menurunkan tekanan darah.

Sisfem Respirasi
 meningkatkan kecepatan respirasi dan penurunan volume tidal
 senyawa ini juga merupakan iritan kuat bagi saluran  tidak digunakan
untuk induksi anestesia.

Sisfem Saraf
 Desfluran menurunkan resistensi vaskular serebral dan konsumsi O2
metabolik serebral.
 meningkatkan aliran darah serebral dan dapat meningkatkan ICP

Otot, Jantung, Hati, dan Saluran Gastrointestinal


 Desfluran merelaksasi otot rangka secara langsung
 Induksi anestesia yang cepat, perubahan cepat pada kedalaman anestetik bila
konsentrasi yang disampaikan berubah, dan kesadaran cepat setelah penghentian
pemberian
 Cocok digunakan sebagai inhalasi penginduksi anestesi (khususnya bagi anak-anak)
karena tidak mengiritasi saluran pernapasan
 Induksi anestesi cepat diperoleh pada konsentrasi 2-4%

EFEK SAMPING:
Sisfem Kardiovaskular
 Hipotensi
Sisfem Respirasi
 Reduksi pada volume tidal dan peningkatan kecepatan pernapasan
Sisfem Saraf
 Meningkatkan ICP
ANASTESI GAS
 Induksi cepat anesfesia dan kesadaran cepat setelah penghentian
pemberian.
 Afinitas lebih besar dari oksigen  berbahaya
 Senyawa ini memproduksi efek analgesia yang signifikan pada
konsentrasi serendah 20% dan biasanya menghasilkan efek sedasi
pada konsentrasi antara 30% -80%.
 Umumnya N2O digunakan sebagai tambahan untuk anesterik lain.
Sistem Kardiovaskular
 Diberikan bersama dengan anestetik terhalogenasi peningkatan frekuensi tekanan
jantung, tekanan darah arterial, dan curah jantung.
 Jika N2O diberikan bersama opioid, senyawa ini umumnya menurunkan tekanan darah
arteri dan curah jantung.

Sisfem Respirasi
 Dinitrogen monoksida dapat menyebabkan sedikit peningkatan kecepatan respirasi dan
penurunan volume tidal

Otot
 Dinitrogen monoksida tidak merelaksasi otot rangka

Ginjal, Hati, dan Saluran Gastrointestinal


 Tidak bersifat nefrotoksik maupun hepalotoksik.
 Siklopropan relatif tidak larut dalam darah sehingga menginduksi
dengan cepat (2-3 menit).
 Pemberian dengan kadar 1% volume dapat menimbulkan analgesia
tanpa hilangnya kesadaran.
 Menyebabkan relaksasi otot cukup baik dan sedikit sekali
mengiritasi saluran napas.
 Tidak menghambat kontraktilitas otot jantung
 Dapat menimbulkan aritmia jantung yaitu fibrilasi atrium,
bradikardi sinus, ekstrasistol atrium, ritme atrioventrikular,
ekstrasistol ventrikel dan ritme bigemini.
 Xenon praktis tidak larut dalam darah dan jaringan Iainnya
sehingga memungkinkan induksi dan pemulihan dari anestesia yang
cepat. Xenon cukup poten untuk menghasilkan anestesia bedah
jika diberikan bersama 30% oksigen.
 Memiliki efek samping yang minimal.
 Tidak berpengaruh pada curah jantung dan ritme jantung.
 Tidak memengaruhi fungsi paru-paru dan tidak ada laporan
mengenai toksisitas terhadap hati dan ginjal.
ANESTESI
REGIONAL
Anestesi regional atau anestesi lokal merupakan
penggunaan obat analgetik lokal untuk menghambat
hantaran saraf sensorik pada regio tertentu, sehingga
impuls aferen diblokir untuk sementara (reversible).

Neurological
Neurological
blockade perifer
blockade central
 Nerve block
 Spinal Anaesthesia
 IV regional
 Epidural
anestesia
Anaesthesia
Indikasi:
 Bedah ekstremitas bawah
 Bedah panggul
 Bedah obstetri-ginekologi
 Bedah urologi
Kontraindikasi:
Teknik:

Efek Samping:
Bradikardi
Hipotensi
Apnea
Mual muntah
Indikasi:
untuk memberikan anestesi ke perut dan ekstremitas bawah
Kontraindikasi:
Teknik Bromage score
ANESTESI LOKAL
ESTER
• Relatif tidak stabil dalam bentuk larutan
• Dimetabolisme dalam plasma oleh enzim pseudocholinesterase
• Masa kerja pendek
• Relatif tidak toksik
• Dapat bersifat alergen
AMIDA
• Lebih stabil dalam bentuk larutan
• Dimetabolisme dalam hati
• Masa kerja lebih panjang
• Tidak bersifat alergen
Berdasarkan potensi dan lama kerjanya, obat anestesi lokal
dibedakan menjadi 3 group.
 Group I meliputi prokain yang memiliki potensi lemah dengan
lama kerja singkat
 Group II meliputi lidokain dan mepivakain yang memiliki
potensi dan lama kerja sedang
 Group III meliputi tetrakain dan bupivakain yang memiliki
potensi kuat dengan lama kerja panjang
ESTER
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Mencegah transmisi Procaine dimetabolisme Diberikan Efek samping yang Dosis 15 mg/kgbb.
impuls saraf menjadi asam intarvena serius adalah Untuk infiltrasi : larutan 0,25-0,5
(blokade konduksi) paminobenzoiz (PABA) yang untuk hipersensitasi, yang dosis maksimum 1000 mg. Bisa
dengan menghambat dikaitkan dengan reaksi pengobatan kadang-kadang pada ditambah adrenalin (1 : 100.000)
pengiriman ion alergi. aritmia dosis rendah sudah Untuk blok epidural (maksimum)
natrium melalui selama dapat 25 ml larutan 1,5%
gerbang ion natrium Anestesi infiltrasi: onset anestesi mengakibatkan Untuk kaudal : 25 ml larutan 1,5%
selektif pada kerja 2-5 menit,durasi 30-45 umum, kolaps dan untuk spinal : 50-200 mg
membran saraf menit, efek puncak <30 bedah kematian. Efek tergantung efek yang di kehendaki
menit jantung, samping yang harus
atau induced dipertimbangkan Sediaan prokain kadar 1-2% dengan
Anestesi epidural: onset hypothermia pula adalah reaksi atau tanpa epinefrin untuk
kerja 5-15 menit, durasi 30- alergi terhadap anesthesia infiltrasi dan blockade
90 menit, efek puncak <30 kombinasi prokain saraf serta 5-20% untuk anestesi
menit penisilin. Berlainan spinal
dengan kokain, zat
Anestesi spinal: onset 2-5 ini tidak Cara pemberiaan dengan cara
menit, durasi 30-45 menit, mengakibatkan injeksi intravena
efek puncak <30 menit adiksi.
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Menstabilkan Onset kerja: Infiltrasi 15 Diberikan - Pusing, seperti Dosis aman maksimum: 1,0-1,5
membran neuron menit; spinal <10 menit sebagai akan pingsan mg/kg tanpa epinefrin; 2,5 mg/kg
dan mencegah suntikan - Tremor, dengan epinefrin
inisiasi serta Efek puncak: 15 menit-1 jam epidural ke mengantuk berat Spinal: Bolus/infus, 5-20 mg
transmisi impuls dalam tulang - Lemah, bernafas (larutan 1%)
saraf Durasi kerja: Infiltrasi 2-3 belakang terengah-engah Topikal (Spray): Gunakan larutan
jam; Spinal 1,25 jam-3 jam - Sakit kepala 2% selama 1 detik
parah, leher
kaku, Sediaan tetracaine yaitu larutan 1%
peningkatan
kepekaan Cara pemberiaan dengan cara
terhadap cahaya injeksi intravena 1% dalam
- Mati rasa, dekstrosa 10%
kesemutan, rasa
nyeri yang
seperti terbakar,
nyeri yang terasa
berlebihan di
bagian tubuh
tertentu
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Menstabilkan Onset kerja: 15-30 detik Anestesi Kardiovaskuler: Dosis topikal
membran neuron topikal Hipotensi
dengan menghambat Efek puncak: 1 menit Pulmonal: Depresi Sediaan benzocaine yaitu
flux ion yang pernafasan salep/krim, semprot dan
diperlukan untuk Durasi kerja: 12-15 menit SSP: Serangan supositoria
inisiasi dan konduksi kejang
impuls Alergi: Urtikaria,
eritema, reaksi Cara pemberiaan sesuai sediaan
anafilaktoid
(jarang)
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Menstabilkan Anestesi infiltrasi: onset Sering Efek samping yang Dosis 3-4 mg/kgBB, bila
membran neuronal kerja ½ - 1 menit, durasi 30- dipakai serius adalah ditambahkan adrenalin dosis
dengan menghambat 60 menit, efek puncak <30 untuk hipersensitasi, yang maksimal mencapai 6 mg/kgBB
flux natrium yang menit surface kadang-kadang pada Blok/Infiltrasi: 0,5-5 mg/kg
diperlukan untuk analgesi, dosis rendah sudah (larutan 0,5-2%)
inisiasi dan konduksi Anestesi epidural: onset blok dapat Epidural: 200-400 mg (larutan 1-
impuls kerja 5-15 menit, durasi 1-3 infiltrasi, mengakibatkan 2%)
jam, efek puncak <30 menit spinal, kolaps dan Spinal: 50-200 mg (larutan 0,5-5%)
Bersifat neurotoksik, epidural dan kematian. Lidokain Kaudal: 150-300 mg (15-20 mL
jika berlebihan Anestesi spinal: onset 5-15 caudal menyebabkan larutan 1% atau 1,5%)
menyebabkan kejang menit, durasi 1-3 jam, efek analgesia penurunan tekanan
puncak <30 menit dan nerve intrakranial Sediaan Infiltrasi: 0,5%, 1%, 1,5%, 2
Ditambhan adrenalin blok lainnya. (tergantung dosis) % dengan atau tanpa epinefrin
untuk mengurangi Juga dipakai yang disebabkan 1:50.000, 1:100.000, 1:150.000,
penyerapan secara oleh efek sekunder 1:200.000
intravena peningkatan Epidural: 1%,1,5%, 2%
IV aman karena untuk resistensi vaskuler Spinal: larutan 1,5%, 5% dengan
tidak ada mengobati otak dan penurunan dekstrosa/glukosa 7,5%
kardiotoksik aritmia aliran darah otak
selama
anesthesia Cara pemberiaan dengan cara
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Menstabilkan Onset Kerja: Infiltrasi, 2-10 Anestesi lokal Kardiovaskular: Dosis aman maksimum: 2 mg/kg
membran neuron dan menit; epidural, 4-17 menit; dan regional Hipotensi, aritmia, tanpa epinefrin; 2-3 mg/kg dengan
mencegah inisiasi spinal, >2 menit henti jantung epinefrin.
serta transmisi impuls Pulmonal : Gangguan
Efek Puncak: pernapasan, henti Infiltrasi/Blok Saraf Perifer: <150 mg
Bersifat kardiotoksik Infiltrasi/epidural, 30-45 napas (larutan 0,25%, 0,5%)
sehingga tidak boleh menit; spinal, 15 menit SSP: Serangan Epidural:
diberikan melalui kejang, tinitus, Bolus: 50-150 mg (larutan 0,175%-
pembuluh darah, Durasi Kerja: penglihatan kabur 0,75%); (larutan 0,175%-0,5%).
sehingga diberikan Infiltrasi/epidural/spinal, 200- Alergik: Urtikaria, Infus: 6-12 mL/jam (larutan 0,0625%-
epineprin untuk 400 menit (memanjang dengan edema angioneurotik, 0,125%)
mengurangi efek epinefrin); intrapleura, 12-48 gejala-gejala Spinal: Bolus/infus, 7-15 mg (larutan
tksiknya tidak untuk jam anafilaktoid 0,75%).
memperpanjnag Epidural/KaudaI/Spin
durasi al: Blok spinal tinggi,
hipotensi, retensi Sediaan lnjeksi: 0,25%, 0,5%, 0,75%
urin, kelemahan dan dengan dan tanpa epinefrin
paralisis ekstremitas 1:200.000
bawah, hilangnya
kontrol sfingter, nyeri
kepala, nyeri Cara pemberiaan dengan cara injeksi
punggung, palsi
saraf-saraf kranial,
FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI EFEK SAMPING DOSIS, SEDIAAN, CARA PEMBERIAN
Menstabilkan Onset kerja: Infiltrasi 3-5 Anestesi Kardivaskuler: Dosis aman maksimum: 4 mg/kg
membran neuron menit; epidural 5-15 menit regional, Hipotensi, tanpa epinefrin; 7 mg/kg dengan
dan mencegah anestesi bradikardia, blok epinefrin 1:200.000
inisiasi serta Efek puncak: Infiltrasi blok, jantung, aritmia
transmisi impuls /epidural 15-45menit anestesi Pulmonal: Depresi Blok/Infiltrasi: 50-400 mg (larutan
kaudal, napas, henti napas 0,5-1,5%)
Durasi kerja: Infiltrasi 45 anestesi SSP: Nyeri kepala Epidural:
menit-1,5 jam (dengan epidural pascaspinal, tinitus, Bolus:200-400 mg (larutan 1-2%)
epinefrin 2-6 jam); Epidural serangan kejang, Infus: 6-12 mL/jam (larutan 0,25-
3-5 jam memanjang dengan hilang pendengaran, 0,5%)
epinefrin euforia, disforia Kaudal: 150-400 mg (15-20 mL
Alergi: Urtikaria, larutan 1-2%)
eritema, edema
angioneurotik
Epidural/Kaudal: Sediaan Injeksi: 1%, 1,5%, 2%, 3%
Hilangnya kontrol
vesika urinaria dan
usus, defisit Cara pemberiaan dengan cara
motorik, sensorik, injeksi intravena
dan autonom
(kontrol sfingter)