Anda di halaman 1dari 39

SWAMEDIKASI

BATUK
Dea Raudya Kamal 41191097000004
Fariz Agus Mahira 41191097000006
Fitria Ningsih 41191097000009
Maria Ulfah 41191097000028
M Rizal 41191097000029
Tharlis Dian Syah 41191097000039
Nelly Nailul 41191097000046
Nada nursetiyanti 41191097000054
Nia Novitasari 41191097000060
Ai Nurhasanah 41191097000066
Mita Saputri 41191097000069
Yosi Fetria 41191097000072
Anita Robiyatul 41191097000076
Widiya Ningsih 41191097000090
Batuk adalah suatu refleks fisiologi protektif yang
bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan
Definisi Batuk saluran pernapasan dari dahak, debu, zat-zat perangsang
Definisi Batuk asing yang dihirup, partikel-partikel asing dan unsur-
unsur infeksi.
EtiologiBatuk
Etiologi Batuk
Alergi (Asma)

Sebab-sebab mekanis (asap rokok, debu, tumor paru)

Perubahan suhu yang mendadak

Rangsangan kimiawi (gas, bau)

Peradangan akibat infeksi virus seperti virus selesma (common cold),


influenza, dan cacar air di hulu tenggorok (bronchitis, pharyngitis).
Peradangan dari jaringan paru (pneumonia), tumor dan juga akibat efek samping beberapa
obat (penghambat-ACE). Batuk juga merupakan gejala terpenting pada penyakit kanker
paru. Penyakit tuberkulosa di lain pihak, tidak selalu harus disertai batuk, walaupun gejala
ini sangat penting.

Penyakit tifus dan dekompensasi jantung.

Penyakit infeksi cacing, biasanya terjadi pada anak-anak seperti


infeksi cacing gelang (askariasis)
Berdasarkan Tanda Klinis
Batuk produktif merupakan suatu mekanisme
perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zat-zat
Batuk asing (kuman, debu, dsb) dan dahak dari batang
produktif tenggorokan.
(dengan Untuk meringankan dan mengurangi frekuensi batuk
dahak) umumnya dilakukan terapi simtomatis dengan obat-obat
Jenis-Jenis batuk yakni zat pelunak, ekspektoransia, mukolitika dan
pereda batuk.
Batuk
Batuk non-produktif bersifat “kering” tanpa adanya dahak, misalnya
Batuk pada batuk rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga karena pengeluarannya
non- memang tidak mungkin, seperti pada tumor.
produkti
Batuk ini dapat mengganggu saat tidur dan bila tidak di obati batuk demikian akan berulang
f (kering) terus karena pengeluaran udara cepat pada waktu batuk akan kembali merangsang mukosa
tenggorokan dan faring.
Berdasarkan Durasi Batuk
Berdasarkan Durasi Batuk
Batuk Akut Batuk Sub Akut Batuk Kronis
• Berlangsung selama < 3 minggu • Berlangsung selama 3-8 minggu • Berlangsung selama > 8 minggu
• Kebanyakan kasus batuk akut • Merupakan fase peralihan akut • Batuk yang berlangsung secara
disebabkan oleh infeksi virus akan menjadi kronis berterusan akan menyebabkan
respiratori yang merupakan • Batuk terjadi karena gangguan kualitas hidup menurun yang
self-limiting dan bisa sembuh epitel, seperti sinusitis dan akan membawa kepada
selama seminggu asma pengasingan sosial dan depresi
• Merupakan simptom yang klinikal
sementara dan merupakan • Penyebab sering dari batuk
kelebihan yang penting dalam kronis adalah penyakit refluks
proteksi saluran pernafasan dan gastro-esofagus, rinosinusitis
pembersihan mukus dan asma
Mekanisme Batuk
• Iritasi dari salah satu saraf sensorik nervus fagus di laring, trakea, bronkus besar,
Fase atau serat aferen cabang faring dari nervus glosofaringeus dapat menimbulkan batuk.
Iritasi Batuk juga timbul bila reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan
saluran telinga luar dirangsang.

• Glotis secara refleks terbuka lebar akibat kontraksi otot abduktor kartilago aritenoidea


Fase dimana udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk ke dalam paru.
Inspirasi
• Tertutupnya glotis akibat kontraksi otot adductor kartilago aritenoidea, glotis tertutup selama 0,2
Fase detik. Pada fase ini tekanan intratoraks meningkat hingga 300 cm H2O agar terjadi batuk yang
Kompresi efektif
• Glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot ekspirasi, sehingga terjadilah
Fase pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan yang tinggi
Ekspirasi disertai dengan pengeluaran benda-benda asing dan bahan-bahan lain
Terapi Non Farmakologi Terapi Farmakologi

• Jenis-jenis obat batuk yang


• Minumlah air putih dengan cukup minimal 8-10
gelas per hari agar tenggorokan tidak kering dan terkait dengan batuk yang
dahak menjadi encer. berdahak dan tidak
Tata • Minum cairan hangat dapat membantu menjaga
kelembaban pada saluran pernafasan dan juga
berdahak :
Tata
laksana bermanfaat sebagai dekongestan saluran nafas. • Antitusif
• Hindari lingkungan yang dingin dan kering • Mukolitik
laksana
pada batuk • Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan iritasi
• Ekspektoran
dan merangsang tenggorokan, seperti:
pada batuk pemaparan terhadar debu dan rokok.
• Kumur-kumur dengan air putih selama satu
menit 3x sehari dapat meredakan gejala batuk
• Istirahat yang cukup
• Jangan menggunakan antihistamin karena obat
ini cenderung mengentalkan dahak/lendir yang
dapat mengakibatkan penimbunan dalam paru.
• Jangan menggunakan antibiotik untuk mengatasi
batuk, kecuali diresepkan oleh dokter dengan
hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
1. Antitusif
obat batuk yang menekan batuk dengan menurunkan aktivitas pusat
batuk di otak dan menekan respirasi.

Penggunaan antitusif biasanya untuk batuk yang mengganggu tidur.


Antitusif juga dapat menyebabkan retensi sputum, yang mungkin
membahayakan bagi pasien bronkitis kronis dan bronkiektasis

Antitusif yang biasanya digunakan merupakan opioid dan derivatnya seperti


morfin, dekstrometorfan, fokodin, kodein (efektif tetapi berefek konstipasi dan
dapat menyebabkan ketergantungan), diamorfin dan metadon.

Anak-Anak
Penggunaan antitusif yang mengandung kodein atau analgesik opioid sejenis
tidak dianjurkan pada anak dan harus dihindari pada anak usia < 1 tahun.

Terapi Paliatif
Diamorfin dan metadon telah digunakan untuk mengontrol batuk pada pasien dengan kanker paru
stadium akhir, meskipun sekarang morfin lebih disukai. Pada keadaan yang lain, obat-obat ini merupakan
kontraindikasi karena dapat menginduksi retensi sputum dan gagal nafas, selain menyebabkan
ketergantungan opiod.
2. Mukolitik
Mukolitik merupakan obat yang bekerja dengan cara mengencerkan sekret saluran pernafasan dengan jalan memecah benang-benang
mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum

Agen mukolitik berfungsi dengan cara mengubah viskositas sputum melalui aksi kimia langsung pada ikatan komponen mukoprotein

Mukolitik diresepkan untuk membantu ekspektorasi dengan mengurangi viskositas sputum. Mukolitik mengurangi eksaserbasi pada beberapa
pasien penyakit paru obstruktif kronis dan batuk produktif kronis.

Pengobatan harus dihentikan jika tidak ada manfaat setelah 4 minggu pemberian. Inhalasi uap dengan drainase postural efektif pada
bronkiektasis dan beberapa kasus bronkritis kronik. Mukolitik harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat ulserasi peptik
karena dapat merusak sawar mukosa lambung.

Agen mukolitik yang terdapat di pasaran adalah bromheksin, ambroksol, dan asetilsistein
3. Ekspektoran

Adalah obat yang dapat merangsang


pengeluaran dahak dari saluran nafas. Zat-zat ini
memperbanyak produksi dahak (yang encer)
dan demikian dapat mengurangi kekentalannya
sehingga mempermudah pengeluarannya.

Mekanisme kerja:
Merancang reseptor-reseptor di mukosa
lambung yang kemudian meningkatkan kegiatan
kelenjar sekresi dari saluran lambung-usus dan
sebagai refleks memperbanyak sekresi dari
kelenjaar yang berada di saluran nafas.
TIPS SWAMEDIKASI OBAT BATUK
Menjelaskan kepada pasien
mengenai obat obat apa saja
yg digunakan, bagaimana
cara penggunaan yg tepat
(nama obat, besarnya dosis,
frekuensi & cara
penggunaan)

Jika terjadi eksaserbasi/


Diskusikan dengan pasien
kekambuhan setalah
mengenai cara pencegahan
diterapi, anjurkan untuk
dan penangan batuk
segera kembali ke dokter

Menginformasikan Efek
samping yang disebabkan
obat batuk tertentu,
terutama yg mengandung
turunan opiat (kodein), rasa
kantuk, dan ketergantungan
obat
HAL-HAL APA SAJA YANG PERLU DIPERHATIKAN
dalam SWAMEDIKASI OBAT BATUK?

1. Mengenali kondisi pasien ketika akan melakukan swamedikasi

PASIEN DENGAN KONDISI KHUSUS

 Kehamilan/menyusui,
 umur (balita atau lansia),
 diet khusus (diet gula)
 sedang/ baru berhenti konsumsi obat lain/
suplemen
 penyakit yang selama ini diderita (penyakit kronis) &
riwayat pengobatan dari dokter.
obat berbentuk sirup umumnya mengandung gula dalam kadar cukup tinggi sehingga dapat
berpengaruh pada pasien yang sedang diet gula.
beberapa jenis obat dapat menimbulkan pengaruh yang tidak diinginkan pada janin.
Beberapa jenis obat juga di sekresikan juga ke dalam air susu ibu dan dapat berpengaruh pada bayi
Anjuran untuk Pasien:
 Bila batuk lebih dari 3 hari tidak semakin membaik
(Depkes RI, 2007)
 Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat
atau sesak harus segera dibawa ke dokter (Depkes RI,
2007)
 Mengkonsultasikan ke dokter perlu atau tidaknya
mengganti obat apabila obat yang sedang dikonsumsi
menimbulkan efek samping batuk kering (ex: ACE Anjurkan pasien untuk
Inhibitor, captopril; Beta blocker, aspirin (Mims,2018) pemeriksaan lebih lanjut
 Penggunaan antitusif yang mengandung kodein atau
analgesik opioid sejenis tidak dianjurkan pada anak
dan harus dihindari pada anak usia < 1 tahun()
 anak 6 tahun dan pasien hipertensi, tidak dianjurkan
menggunakan dekongestan, ex phenylephrine untuk
hidung tersumbat yg disertai batuk (mims, 2018)
 Pasien dengan gangguan jantung, asma, hipertensi
(mims, 2018)
SWAMEDIKASI OBAT BATUK
2. Memahami BAHWA ADA kemungkinan interaksi obat
3.Mengetahui obat-obat yang dapat digunakan untuk swamedikasi

OBAT WAJIB APOTIK yaitu obat keras yang


dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien
di Apotik tanpa resep dokter.
SWAMEDIKASI OBAT BATUK

Apabila batuk berdahak Obat Batuk Kering (tanpa


diberikan ekspektoran disertai lendir atau
atau mukolitik (Nathan, dahak) dapat ditekan
2010) dengan obat batuk
antitusif (Nathan, 2010).
Berkumur dengan air
putih selama menit, 3 × Apabila disertai demam, dapat
1 untuk meredakan menggunakan PCT, secara
gejala batuk terpisah, atau biasanya
beberapa obat telah disertai
Jangan menggunakan PCT, sehingga tidak perlu
antibiotik tanpa resep dokter diberikan lagi

Pada batuk berdahak tidak dianjurkan untuk menggunakan antitusif/ antihistamin karena
penekanan dapat menyebabkan tertutupnya jalan udara sehingga mukus yang harusnya
dikeluarkan tertahan di saluran bronchial (Nathan, 2010).
4. Meneliti obat yang akan dibeli

Pertimbangkan bentuk sediaan Obat Batuk tersebut (tablet,


sirup, kapsul, krim, dll) dan pastikan bahwa kemasan tidak
rusak.
5. Mengetahui cara penggunaan obat batuk yang benar
6. Mengetahui cara penyimpanan obat yang baik
Obat batuk Tindakan
Obat Batuk Tidak disimpan di tempat yang lebab
tablet, kapsul,
serbuk
Obat batuk Wadah terlindung cahaya/ sinar matahari, tidak
liquid lembab
Jangan menyimpan di lemari pedingin (es) kecuali
disarankan pada label penyimpanan

Obat batuk • Tutup wadah ditutup rapat


• Sendok/ pipet dicuci serta keringkan setelah
pemakaian
Kadaluarsa obat • kedaluwarsa obat bisa lebih pendek dari waktu
batuk yang tertera pada label ketika obat telah dibuka
dari kemasannya
OBAT BATUK YANG DAPAT
DIBERIKAN SAAT SWAMEDIKASI
ANTITUSIVE

dextromethorphan Kodein Noscapine


TIDAK BOLEH DIBERIKAN TANPA RESEP ASLI DOKTER
Antitusif dextromethorphan
obat antitusif, tidak mempunyai efek analgesik maupun adiktif, bekerja
secara sentral dengan meningkatkan ambang batuk, Meredakan batuk
Indikasi pada berbagai keadaan. Dalam dosis terapi tidak menghambat aktivitas
rambut getar saluran napas.

KONTRAINDIK Jangan digunakan pada pasien yang sedang mendapat obat penghambat
ASI monoamin oksidase (MAOI)

DOSIS/CARA dewasa adalah 15-30 mg, 3-4 kali sehari


PENGGUNAA anak-anak 6-12 tahun adalah 6,75 mg diberikan sampai 4 kali sehari
N Bayi lebih dari 1 tahun diberikan 3,5 mg sebanyak 4 kali sehari

EFEK
SAMPING menyebabkan sedikit kantuk, pusing dan gangguan saluran pencernaan

Zat aktif berupa serbuk berwana putih biasanya dalam sediaan farmasi
berbentuk sirup, tablet, spray dan lozenges
Bentuk dan banyak digunakan pada obat batuk tunggal juga digunakan pada obat flu
kombinasi kombinasi dengan zat aktif lain seperti fenilefrin, paracetamol dan
kloreniramin maleat
Dapat disertai pelepasan histamin dan harus hati-hati pada anak-anak yang
mempunyai kelainan atopik, pasien yang mengalami sedasi, agitasi, dan pasien yang
harus tidur berbaring. Pada pasien dengan penyakit hati, karena metabolismenya
Perhatian : sangat luas dalam hati.
Pada ibu menyusui belum diketahui apakah obat ini diekskresi dalam air susu karena
metabolismenya sangat luas dalam hati

KLASIFIKASI
OBAT OBAT BEBAS TERBATAS

contoh kombinasi dextromethorphan


TIDAK BOLEH DIBERIKAN TANPA RESEP ASLI DOKTER

Komposisi: per kaps codein 30 mg,phenyltoloxamine 10 mg,


guafenesin 100 mg.
Indikasi: Terapi simtomatik untuk batuk kering (non produktif)
yang disebabkan alergi atau infeksi.
KI: Hipersensitivitas,ggn sal nafas,koma,hamil,lactasi,asma
akut,Hipertrofi prosgtat dengan pembentukan residu urin
residural,glaukoma sudut tertutup (angle-closure
glaucoma),penyakit saluran pencernaan, anak <2 tahun karena
beresiko meningkatkan depresi pernafasan.
Dosis: Kaps dws&anak>14 thn 1,2x1Kaps,pagi dan sore. SiR
dws&anak>14 thn 15 ml,anak 6–14 thn 10 ml,4–6 thn 5 ml,2–4
thn: ½ sendok takar (2,5 ml). Dosis diberikan 2x/hari pda
pagi&sore hari
Efek Samping : Mual.Muntah.Konstipasi
Peringatan :gangguan fungsi ginjal dan hati,pasien
epilepsi,hamil,pasien usia lanjut dalam kondisi lemah

CODIPRONT
PARATUSIN (Kombinasi Antitusive Sirup Noscapine
dexmethropan )

Noscapine 10 mg, pct 125 mg, guaiphenesin atau


KOMPOSISI glyceryl guaiacolate 25 mg, chlorpheniramine maleate 2
mg, Succus liquiritiae 125 mg, pseudoephedrine HCl 7.5
mg (mims 2018)

INDIKASI/KEGUNAAN gejala influenza seperti demam, sakit kepala, hidung


tersumbat, bersin, batuk & pegal linu (mims 2018)
Anak 6-12 tahun:, 5-10 ml, 3-4 x1
DOSIS/CARA 1-6 tahun: 2.5-5 ml, 3-4 x 1
PENGGUNAAN
< 1 tahun :, 2.5 ml , 3-4 x 1 (mims 2018)

EFEK SAMPING Mengantuk, pusing, mulut kering, ruam kulit, kejang


epileptiform (dosis tinggi) (mims 2018)

KLASIFIKASI OBAT OBAT BEBAS TERBATAS


PARATUSIN (Kombinasi Antitusive Sirup Noscapine
dexmethropan )

Hipertiroidisme, Hipertensi, PJK, terapi dengan MAOI,


KONTRA nefropati (mims 2018), Hipersensitivitas, DM, dan
INDIKASI gangguan fungsi hati parah, wanita hamil (mims 2018
& honestdocs.id)

• Antihistamin: meningkatkan efek depresi SSP lainnya


• MAOI: memperpanjang kerja obat paratusin & bisa
meningkatkan tekanan darah
• alkohol dan obat-obat hipnotik: meningkatkan efek
INTERAKSI dari obat-obat yang mempunyai efek sedasi sentral
• Warfarin: meningkatkan efek antikoagulan, resiko
pendarahan
• Carbamazepine, fenobarbital dan fenitoin:
meningkatkan potensi kerusakan hati (mims 2018 &
honestdocs.id)

Mims, 2018
Bromhexine Erdostein

Ambroxol Karbosistein
Mukolitik

Acetylcystein Cylidrol
• INDIKASI : Mukolitik untuk meredakan
batuk berdahak
• KI : Hipersensitivitas
• PERINGATAN :Tukak lambung, kehamilan,
menyusui, penghentian pengobatan jika terjadi lesi
kulit atau mukosa
• EFEK SAMPING : Hipersensitivitas, syok dan
reaksi anafilaktik, mual, muntah, diare, nyeri perut
bagian atas, ruam, angioedema, urtikaria, pruritus
• INTERAKSI OBAT : Pemberian bersama antibotik
dapat meningkatkan kadar antibiotik dalam jaringan
paru
• DOSIS
Dewasa dan anak-anak >10 tahun : 1 tablet atau
30ml sirup 3 kali sehari
• Anak 5-10 tahun : ½ tablet atau 5ml sirup 3 kali sehari
Bromhexi • Anak 2-5tahun : ½ tblet atau 5 m sirup 2 kali sehari

n • PRODUSEN : Erlimpex
• SEDIAAN : Tablet 8 mg: Bisovon, mucohexin,
bronkris
• Sirup 4mg/5ml : bisovon, mucohexin, bronkriks
• Lar 2mg/ml : bisolvon
• Lar 2mg/ml : bisolvon
Ambroxol INDIKASI : sekretoliktik pada gangguan saluran napas akut dan
kronis

KI : hipersensitifitas terhadap ambroxol

PERINGATAN :hati-hati pada kehamila dan menyusui,gangguan


ginjal, metabolit ambroxol mungkin dapat terakumulasi di hati

ES : alergi (jarang) ; reaksi pada kulit, pembekakan wajah, dispnea,


demam
IO : pemberian berama antibiotik (amoxicilin, cefuroxime,
erytromycin, doxycycline) dapat meningkatkan kadar
antibiotikdalam jaringan paru

DOSIS : dws dan anak > 12 tahun : 2-3 x 30 mg/hari


Anak 1,2 – 1 6 mg/hari
PRODUSEN : Kimia farma

SEDIAAN : tab/kaplet 30mg : epexol,interpec, mucopect, mucera,


mucos
Sirup 15mg/5ml : epexol, inerpect, mucera, mucopect, mucos
Sirup 30mg/5ml : mucera. mucopect
Tets 15mg/ml : mucera, mucopect, mucos
Acetylcystein INDIKASI : terapi hipersekresi mukus kental dan tebl pada saluran
pernapasan

KI : hipersensitifitas terhadap acetylcystein

PERINGATAN : hati-hati pada pasien yang sulit mengeluarkan sekret,


penderita asma bronkial, berbahaya untk pasien asma bronkial akut

ES : pada penggunaan sistemik menimbulkan reaksi hipersnsitifitas


seperti urtikaria dan bronkospasme (jarang terjadi). Psoriasis, mual,
muntah, diare, stomatitis, pusing, tinitus

DOSIS : dws : 3 x 1 kapsul sehari

PRODUSEN : INDOFARMA

SEDIAAN : kapsul 200 mg : mucylin


Juga tersedian dlam bentuk kombinasi dengan obat lain seperti
kombinasi antara acetylsistein 200 mg dengan paracetamol 500 mg
( sistenol)
Ekspektoran
Ekspektoran kombinasi

Actifed Perhatian: hati-hati dosis: 3x sehari


Ekspektoran Indikasi: pada penderita dewasa dan anak-
( triprolidin HCL Ekspektoran dan dengan kelainan anak >12 tahun: 2
1,25 mg; dekongestan kardiovaskuler sdtk Kemasan: botol 60
pseudoefedrin HCL termasuk hipertensi ml/120 ml
Kontra indikasi: Anak-anak 6-12
30 mg;
Hipersensitif Efek samping: tahun: 1 sdtk
Guaimfenesin 100
mg/ml. insomnia 2-5 tahun: ½ sdtk
Afidryl Exspektorant ( Difenhidramin HCl 12,5 mg.
Amonium klorida 125mg, natrium sitrat 5 mg. Menthol 1
mg/ 5 ml syrup

Indikasi:ekspektoran, mengurangi refleks batuk serta rasa


gatal pada tenggorokan dan melegakan pernafasan

Perhatian dan Kontra Indikasi: penderita alkoholisme dan


yang mendapat terapi depresan syaraf pusat.

dosis: dewasa: 1-2 sdt tiap 2-3 jam.


anak-anak: 1/4 -1 sdt tiap 3 jam.
Kemasan: botol 60 ml
Daftar Pustaka
• Anonim. (2018). MIMS Petunjuk Konsultasi, Edisi 18. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer. Hal. A13, Hal A10
• Anonim,2014.Menuju Swamedikasi yang Aman. InfoPOM -Vol.15No. 1.diaksed di http://perpustakaan.pom.go.id
• BINFAR, 2007. Pedoman PEnggunaan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas. Jakarta: DEPKES RI
• Djuanda, Adhi., dkk. 2017. MIMS Petunjuk Konsultasi 2017/ 208. Jakarta: Buana Ilmu Populer. Halaman159,
133,222,279,78
• Estuningtyas, A., Arif, A., 2008. Obat Lokal. In: Gunawan, S. G., Setiabudy, R., Nafrialdi, Farmakologi dan Terapi. 5th
ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 531-532.
• Haque, R.A Chung, K. F., 2005. Cough: Meeting The Needs of A Growing Field, London. Available from:
http://www.coughjournal.com/content/1/1/1. [Accessed : 10 Agustus 2019]
• Pusat Informasi Obat Nasional, 2015. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Indonesia. Avalaible from: http://
pionas.pom.go.id/ioni/bab-3 [Accessed : 10 Agustus 2019]
• Putri, C.A., Retorini, E., Irdiah, Wardani, P.K dan Surtina, 2012. Obat-obat Saluran Pernafasan, Poltekkes Kemenkes RI
Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
• Setyanto, D. B. 3004. Batuk kronik pada anak: masalah dan tata laksana. Sari Pediatri. Vol. 6, No. 2. Hal. 64-70
• Tjay. Tan Hoan dan Rahardja. K, 2010, Obat–Obat Penting Edisi Ke Enam, 662-668, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Nathan, A. 2010. Non-Prescription Medicines Fourth Edition p60—63. London: Pharmaceutical Press dalam
http://journal.unair.ac.id
• Tim medical mini notes. 2019. Basic Pharmacology & Drug Notes. Edisi 2019. Makasar: MMB Publishing. Hal. 108-109.
TERIMA KASIH 