Anda di halaman 1dari 75

LAPORAN AKHIR

PROFIL KOMODITAS KUBIS

Witono Adiyoga
Mieke Ameriana
Rachman Suherman
T. Agoes Soetiarso
Budi Jaya
Bagus Kukuh Udiarto
Rini Rosliani
Darkam Mussadad

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN


PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN

2004

1
I. Pendahuluan

Kubis memiliki nama ilmiah Brassica oleracea. Dalam dunia tumbuhan, kubis
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Divisi : Spermatophyta
b. Subdivisi : Angiospermae
c. Kelas : Dicotyledonae
d. Famili : Brassicaceae
e. Genus : Brassica
f. Species : Brassica oleracea.

Kubis merupakan kelompok tanaman yang dikenal sebagai cole crops. Kata "cole"
berasal dari kata “col” di Middle English. Orang Romawi menyebut tanaman ini
sebagai "caulis", sedangkan orang Yunani menyebutnya sebagai "kaulion". Kesemua
kata tersebut pada dasarnya berarti batang. Kelompok tanaman ini meliputi kubis,
kubis bunga, brokoli, kale, collards, kohlrabi, dan Brussels sprouts. Tanaman cole liar
banyak ditemukan tumbuh di sepanjang pantai Mediterania dan Atlantik, Eropa.
Kubis dan kale berasal dari Eropa Barat, sedangkan kubis bunga dan brokoli berasal
dari wilayah Mediterania. Kubis dan kale merupakan tanaman pertama dari
kelompok ini yang didomestikasi, kira-kira 2 000 tahun yang lalu. Sebelum
didomestikasi, kedua tanaman ini dikumpulkan dari daerah liar dan digunakan
terutama sebagai tanaman obat atau medisinal herbal. Bentuk-bentuk liar kubis
ditemukan sepanjang pantai-pantai Laut Tengah dan atau Jazirah Asia Kecil atau
Turki yang kemudian berevolusi menjadi bentuk-bentuk yang dibudidayakan pada
saat ini. Semua tanaman cole bersifat interfertile (dapat disilangkan) dan banyak
pula yang self-incompatible (bunga tidak dapat difertilisasi oleh polen yang berasal
dari tanaman yang sama). Karakteristik ini mempermudah upaya untuk melakukan
seleksi jenis tanaman cole yang baru. Self-incompatibility juga menyebabkan
produksi benih hibrida cenderung ekonomis.
Introduksi tanaman kubis ke Indonesia tidak diketahui secara pasti sejak kapan.
Kubis dwi musim sudah ada sejak sebelum Perang Dunia II, ditanam di daerah
pegunungan dan benihnya selalu didatangkan dari luar negeri, khususnya
Netherland. Varietas kubis yang terkenal pada saat itu adalah RvE (Roem van
Enkhuizen). Bagi petani yang menemukan kesulitan untuk mendapatkan benih,
biasanya menanam kubis dari stek, sehingga dikenal sebagai kubis stek (Argalingga,
Majalengka dan Dieng, Wonosobo). Sampai saat ini kubis stek masih dapat ditemui
di daerah Dieng, sedangkan di Argalingga sudah atau hampir punah.

Kubis yang dibudidayakan di Indonesia ada dua jenis, yaitu (1) Jenis semusim
(annual type) – tipe kubis yang dapat tumbuh, berkrop, berbunga dan berbiji di
daerah tropis pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, tanpa memerlukan
periode pendinginan terlebih dahulu; (2) Jenis dwi musim (biennial type) – dapat
tumbuh di daerah tropis namun tidak dapat berbunga secara alami karena tidak
adanya musim dingin panjang untuk merangsang pembungaannya. Jenis dwi musim
inilah yang banyak diminta konsumen karena kropnya keras/padat, tidak rapuk dan
tidak renyah seperti kubis semusim. Namun pengembangan dari sisi pemuliaan dan
produksi benihnya terkendala oleh ketidak-mampuan jenis kubis ini untuk berbunga

2
secara alami. Dengan demikian, budidaya kubis di Indonesia memiliki
ketergantungan yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan benih dari pasar
impor.

II. Area, produksi dan produktivitas

Data terakhir dari FAO (2004) menunjukkan bahwa produksi kubis dunia pada tahun
2004 mencapai 68 389 593 ton dan diusahakan pada luasan lahan sekitar 3 214 105
hektar (Tabel 1). Perkembangan terakhir juga menunjukkan bahwa China adalah

Tabel 1 Areal panen, produksi dan produktivitas kubis dunia serta lima negara
penghasil terbesar

2000 2001 2002 2003 2004

Dunia A (ha) 2 801 396 3 033 996 3 066 269 3 187 864 3 242 105
P (t) 58 783 149 60 781 249 61 515 476 66 837 584 68 389 593
Y (t/ha) 20,98 20,03 20,06 20,97 21,09

China A (ha) 1 220 265 1 485 684 1 571 113 1 624 310 1 669 450
P (t) 23 148 800 25 262 396 28 078 001 30 584 911 32 601 000
Y (t/ha) 18,97 17,00 17,87 18,83 19,53

India A (ha) 260 000 250 000 260 000 280 000 280 000
P (t) 5 910 000 5 510 000 5 680 000 5 800 000 6 000 000
Y (t/ha) 22,73 22,04 21,85 20,71 21,43

Russian Fed. A (ha) 174 130 172 520 172 330 176 460 178 000
P (t) 3 491 820 3 855 530 3 651 850 4 440 570 4 500 000
Y (t/ha) 20,05 22,35 21,19 25,16 25,28

USA A (ha) 109 880 105 000 103 180 105 480 105 480
P (t) 2 598 690 2 491 660 2 371 330 2 433 110 2 450 000
Y (t/ha) 23,65 23,73 22,98 23,07 23,23

Indonesia A (ha) 99 289 89 439 96 405 95 729 95 729


P (t) 1 551 710 1 399 230 1 438 190 1 551 430 1 551 430
Y (t/ha) 15,63 15,64 15,91 16,21 16,21
Sumber: FAOSTAT

3
negara produsen kubis terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 47%, diikuti oleh
India (9%), Federasi Rusia, Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Indonesia
termasuk ke dalam lima negara terbesar produsen kubis dunia ditinjau dari luas
areal panen dan produksi totalnya. Namun demikian, produktivitas kubis di
Indonesia bahkan masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata produktivitas
kubis dunia. Sementara itu, produktivitas kubis di empat negara produsen lainnya
ternyata juga masih belum optimal. Berikut ini adalah beberapa negara yang
produktivitas kubisnya jauh melampaui produktivitas kubis di lima negara produsen
kubis terbesar. Dalam lima tahun terakhir secara konsisten produktivitasnya:

• > 30 t/ha : Australia, Cyprus, Republik Ceko, Honduras, Mexico,


Netherlands, Selandia Baru, Norwegia, Palestina, Polandia,
Slovenia, Afrika Selatan dan Spanyol
• > 40 t/ha : Austria, Belgia, Jepang, Kuwait, Swedia dan Uzbekistan
• > 50 t/ha : Jerman, Irlandia, Korea Utara dan Saudi Arabia

Selama periode 1995-2003, luas areal panen kubis di Indonesia cukup berfluktuasi,
yaitu antara 69 815 hektar pada tahun 1996 dan 59 207 hektar pada tahun 2001.
Sementara itu, produktivitas kubis pada periode waktu yang sama juga
menunjukkan fluktuasi dengan kisaran yang relatif sempit, yaitu terendah pada
tahun 2001 sebesar 20,4 ton/ha dan tertinggi pada tahun 1995 sebesar 24,7 ton/ha.
Dengan demikian, produksi kubis tahunan di Indonesia cenderung bervariasi dengan
catatan tertinggi pada tahun 1995 sebesar 1,625 juta ton, dan terendah pada tahun
2001 sebesar 1,205 juta ton.

Table 3 Produksi kubis di Indonesia, 1995-2003

Tahun Luas Panen (ha) Produksi (t) Produktivitas (t/ha)

1995 65,820 1,625,227 24.7

1996 69,815 1,580,408 22.6

1997 64,990 1,338,507 20.6

1998 69,150 1,459,232 21.1

1999 65,352 1,447,910 22.2

2000 66,914 1,336,410 22.4

2001 59,207 1,205,404 20.4

2002 60,235 1,232,843 20.5

2003 64,520 1,348,433 20.9

Rata-rata 65,111 1,397,153 21.7

Sumber: Survei Pertanian, BPS (berbagai tahun)

4
Secara agregat, produktivitas kubis di Indonesia selama periode 1995-2003
mencapai rata-rata 21,7 t/ha. Untuk periode yang sama, pencapaian ini ternyata
setara dengan produktivitas rata-rata kubis dunia (132 negara), yaitu ± 20 t/ha.

Berkaitan erat dengan tingkat adaptabilitasnya, pertanaman kubis di Indonesia


tersebar terutama di daerah dataran tinggi. Berdasarkan data produksi dan areal
tanam, pertanaman kubis tercatat di 28 propinsi, kecuali Bangka Belitung dan DKI
Jakarta. Tabel 4 menunjukkan perkembangan areal tanam dan produksi berdasarkan
propinsi penghasil kubis, serta data agregatnya. Empat sentra produksi kubis utama
di Indonesia berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan
Jawa Timur. Keempat sentra produksi tersebut menyumbang 80.4% dari total areal
panen dan 80.5% dari produksi total tahun 2003. Walaupun dikembangkan pada
agroekosistem yang relatif sama, produktivitas yang dicapai oleh setiap propinsi
ternyata cukup beragam. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan intensitas
pengelolaan antar sentra produksi yang biasanya tercermin dari perbedaan kualitas
dan/atau kuantitas masukan yang digunakan.

Tabel 4 Areal tanam (ha), produksi (ton) dan produktivitas (ton/ha) kubis di
Indonesia, 1998-2002

Propinsi 1999 2000 2001 2002 2003

Aceh Area (ha) 192 200 234 56 575


Prod (t) 3.631 2.921 3.233 802 10.840
Prvt (kwt/ha) 18,91 14,61 13,82 14,32 18,85

Sumatera Utara Area (ha) 7.545 11.641 8.156 8.699 10.027


Prod (t) 184.493 268.896 198.605 272.877 249.716
Prvt (kwt/ha) 24,45 23,10 24,35 27,92 24,90

Sumatera Barat Area (ha) 1.788 1.786 1.768 1.836 1.632


Prod (t) 52.346 45.978 66.216 21.535 36.063
Prvt (kwt/ha) 29,28 25,74 37,45 11,73 22,10

Riau Area (ha) 1 - 2 - -


Prod (t) 4 - 7 - -
Prvt (kwt/ha) 4,00 - 3,50 - -

Jambi Area (ha) 354 517 555 1.268 2.030


Prod (t) 10.384 16.628 22.652 20.528 39.809
Prvt (kwt/ha) 29,33 32,16 40,81 16,19 19,61

Sumatera Selatan Area (ha) 172 238 225 156 256


Prod (t) 2.334 2.325 1.553 1.483 2.702
Prvt (kwt/ha) 13,57 9,77 6,90 9,51 10,55

Bengkulu Area (ha) 3.686 2.690 1.637 3.258 1.662


Prod (t) 86.115 43.005 28.113 55.898 25.078
Prvt (kwt/ha) 23,36 15,99 17,17 17,16 15,09

Lampung Area (ha) 615 781 517 344 607


Prod (t) 9.757 9.049 7.019 5.756 9.883
Prvt (t/ha) 15,87 11,59 13,58 16,73 16,28

Bangka Belitung Area (ha) - - - - -


Prod (t) - - - - -
Prvt (t/ha) - - - - -

5
SUMATERA Area (ha) 14.353 17.853 13.094 15.617 16.789
Prod (t) 349.064 388.802 327.398 348.879 374.091
Prvt (t/ha) 24,32 21,78 25,00 22,34 22,28

DKI Jakarta Area (ha) - - - - -


Prod (t) - - - - -
Prvt (t/ha) - - - - -

Jawa Barat Area (ha) 23.239 21.101 19.788 17.729 18.403


Prod (t) 613.338 501.381 490.449 431.208 438.091
Prvt (t/ha) 26,39 23,76 24,79 24,32 23,81

Jawa Tengah Area (ha) 15.644 13.339 12.181 11.537 14.360


Prod (t) 262.266 207.005 185.775 165.888 240.134
Prvt (t/ha) 16,76 15,52 15,25 14,38 16,72

DI Yogya Area (ha) 50 26 45 67 40


Prod (t) 1.718 822 1.358 2.324 1.025
Prvt (t/ha) 34,36 31,62 30,18 34,69 25,63

Jawa Timur Area (ha) 8.111 9.563 8.616 9.277 9.068


Prod (t) 121.074 131.986 121.794 166.551 157.411
Prvt (t/ha) 14,93 13,80 14,14 17,95 17,36

Banten Area (ha) - - 1 - -


Prod (t) - - 3 - -
Prvt (t/ha) - - 30,00 - -

JAWA Area (ha) 47.044 44.029 40.631 38.610 41.871


Prod (t) 998.396 841.194 799.379 765.971 836.661
Prvt (t/ha) 21,22 19,11 19,67 19,84 19,98

Bali Area (ha) 1.315 1.376 1.290 1.353 1.282


Prod (t) 51.893 51.841 48.611 50.468 51.188
Prvt (t/ha) 39,46 37,68 37,68 37,30 39,93

NTB Area (ha) 411 74 286 391 361


Prod (t) 3.041 1.034 3.211 2.868 3.086
Prvt (t/ha) 7,40 13,97 11,23 7,34 8,55

NTT Area (ha) 161 212 165 218 222


Prod (t) 645 838 679 1.799 1.208
Prvt (t/ha) 4,01 3,95 4,12 8,25 5,44

BALI & NTT Area (ha) 1.887 1.662 1.741 1.962 1.865
Prod (t) 55.579 53.713 52.501 55.135 55.482
Prvt (t/ha) 29,45 32,32 30,16 28,10 29,75

Kalimantan Barat Area (ha) 12 5 9 22 179


Prod (t) 53 22 44 77 688
Prvt (t/ha) 4,42 4,40 4,89 3,50 3,84

Kalimantan Tengah Area (ha) 1 5 - 1 -


Prod (t) 4 18 - 10 -
Prvt (t/ha) 4,00 3,60 - 10,00 -

Kalimantan Selatan Area (ha) 5 5 2 - -


Prod (t) 18 18 7 - -
Prvt (t/ha) 3,60 3,60 3,50 - -

Kalimantan Timur Area (ha) 85 70 36 80 46


Prod (t) 1.263 414 298 367 185
Prvt (t/ha) 14,86 5,91 8,28 4,59 4,02

KALIMANTAN Area (ha) 103 85 47 103 225


Prod (t) 1.338 472 349 454 873
Prvt (t/ha) 12,99 5,55 7,43 4,41 3,88

6
Sulawesi Utara Area (ha) 149 493 320 325 332
Prod (t) 1.168 3.846 5.740 2.457 6.456
Prvt (t/ha) 7,84 7,80 17,94 7,56 19,45

Sulawesi Tengah Area (ha) 143 191 138 221 158


Prod (t) 1.522 1.042 624 1.207 2.630
Prvt (t/ha) 10,64 5,46 4,52 5,46 16,65

Sulawesi Selatan Area (ha) 1.293 2.449 2.640 2.639 2.721


Prod (t) 38.054 46.310 15.831 54.384 67.970
Prvt (t/ha) 29,43 18,91 6,00 20,61 24,98

Sulawesi Tenggara Area (ha) 107 113 141 243 97


Prod (t) 905 690 968 1.669 501
Prvt (t/ha) 8,46 6,11 6,87 6,87 5,16

Gorontalo Area (ha) - - 3 5 3


Prod (t) - - 11 19 5
Prvt (t/ha) - - 3,67 3,80 1,67

SULAWESI Area (ha) 1.692 3.246 3.242 3.433 3.311


Prod (t) 41.649 51.888 23.174 59.736 77.562
Prvt (t/ha) 24,62 15,99 7,15 17,40 23,43

Maluku Area (ha) 20 22 67 18 117


Prod (t) 128 60 831 115 483
Prvt (t/ha) 6,40 2,73 12,40 6,39 4,13

Maluku Utara Area (ha) - - - 28 36


Prod (t) - - - 84 540
Prvt (t/ha) - - - 3,00 15,00

Papua Area (ha) 253 17 385 464 306


Prod (t) 1.756 281 1.772 2.469 2.741
Prvt (t/ha) 6,94 16,53 4,60 5,32 8,96

MALUKU & PAPUA Area (ha) 273 39 452 510 459


Prod (t) 1.884 341 2.603 2.668 3.764
Prvt (t/ha) 6,90 8,74 5,76 5,23 8,20

LUAR JAWA Area (ha) 18.308 22.885 18.576 21.625 22.649


Prod (t) 449.514 495.216 406.025 466.872 511.772
Prvt (t/ha) 24,55 21,64 21,86 21,59 22,60

INDONESIA Area (ha) 65.352 66.914 59.207 60.235 64.520


Prod (t) 1.447.910 1.336.410 1.205.404 1.232.843 1.348.433
Prvt (t/ha) 22,16 19,97 20,36 20,47 20,90

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura

Setelah program penelitian dan pengembangan kubis secara formal berlangsung


selama hampir 20 tahun, pertanyaan menyangkut status perkembangan produksi
kubis sampai sejauh ini merupakan suatu hal yang perlu mendapat klarifikasi.
Indikator penting yang dapat digunakan untuk menjelaskan status perkembangan
tersebut adalah kecepatan serta pola pertumbuhan produksi yang diperagakan oleh
usahatani kubis. Disamping dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan yang
bersifat konstan, menurun atau meningkat, indikator ini juga dapat mengidentifikasi
sumber atau faktor dominan penentu pertumbuhan -- peningkatan areal tanam,
peningkatan hasil/produktivitas atau kombinasi peningkatan keduanya. Lebih jauh
lagi, indikator tersebut dapat pula mengidentifikasi komponen-komponen serta
sumber ketidak-stabilan produksi (Hazell, 1984).

7
Analisis data tahunan produksi dan areal tanam kubis mencakup periode waktu
1970-2003 menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata produksi kubis di
Indonesia cenderung menurun sebesar 0.5% (0.005). Tingkat pertumbuhan
produksi rata-rata kubis (meningkat/menurun) pada dasarnya dapat dipilah ke dalam
pertumbuhan yang disebabkan oleh peningkatan/penurunan areal tanam dan
peningkatan/penurunan produktivitas. Kontribusi peningkatan dari komponen areal
tanam dan produktivitas terhadap pertumbuhan produksi kubis secara berturut-turut
adalah (-) 2.3% dan 1,8%. Dengan demikian, sumber dominan yang menyebabkan
penurunan produksi kubis selama periode 1970-2003 adalah penurunan areal tanam.
Lebih jauh lagi, keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi
terhadap ketidak-stabilan produksi sayuran secara umum, dibandingkan dengan
keragaman produktivitas.

Pola pertumbuhan produksi menurun yang didominasi oleh penurunan areal tanam
(kontribusi penurunan areal tanam terhadap penurunan produksi lebih besar
dibandingkan dengan kontribusi peningkatan produktivitas), mengandung beberapa
implikasi sebagai berikut: (a) strategi dan kegiatan/usaha yang berhubungan dengan
inovasi teknologi/penelitian yang ada belum cukup kuat memacu pola pertumbuhan
produksi berbasis peningkatan produktivitas, atau program penyuluhan belum
berjalan secara optimal, terutama dikaitkan dengan proses alih teknologi di tingkat
petani, dan (b) penurunan produksi dimungkinkan oleh adanya dis-insentif akibat
perubahan harga masukan dan luaran. Harga masukan yang meningkat lebih cepat
dibandingkan harga luaran, sehingga biaya per unit produk lebih tinggi dibandingkan
dengan harga jual per unit produk. Hal ini memungkinkan adanya ketidak-stabilan
profitabilitas relatif dari komoditas yang diusahakan, sehingga petani memutuskan
untuk tidak menanam komoditas bersangkutan (Bisaliah, 1986).

Indikator-indikator yang diperoleh dari hasil analisis, memberikan gambaran


perlunya strategi pendekatan pengembangan yang lebih memberikan penekanan
pada peningkatan akselerasi pertumbuhan produksi kubis berbasis peningkatan
produktivitas atau inovasi teknologi. Sementara itu, variabilitas areal tanam
menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap ketidak-stabilan produksi kubis
selama periode 1970-2003, dibandingkan dengan variabilitas produktivitas. Hal ini
mengindikasikan masih dominannya pengaruh berbagai faktor, misalnya profitabili-
tas kubis relatif terhadap komoditas sayuran lain, kendala ketersediaan lahan siap
tanam secara kontinyu, kendala musim (iklim dan cuaca), dan respon produsen
terhadap harga kubis yang bersifat fluktuatif, terhadap realisasi areal tanam.

III. Konsumsi dan jenis pemanfaatan

Keluarga kol (kubis) ternyata banyak sekali jenisnya, diantaranya yang dikenal
adalah sawi hijau, sawi putih, kembang kol, kailan, kolrabi, salad air dan brokoli.
Semua keluarga kubis-kubisan mengandung senyawa anti kanker dan merupakan
sumber vitamin C, vitamin A vitamin B 1, mineral, kalsium, kalium, klor, fosfor,
sodium dan sulfur. Kandungan serat kasar pada kol sangat tinggi sehingga dapat

8
memperkecil resiko penyakit kanker lambung dan usus. Hasil penelitian di Amerika
membuktikan bahwa kol yang dikonsumsi dalam keadaan mentah atau yang telah
dimasak dapat mengurangi terjadinya kanker usus besar sebanyak 66%. Manfaat
lain dari kol adalah dapat mencegah dan menyembuhkan luka lambung,
menstimulasi kekebalan, menurunkan kadar kolesterol dalam darah serta dapat
mencegah infeksi karena jamur. Jenis sayuran ini tidak saja akrab menjadi hidangan
sayuran orang Indonesia, tetapi juga oleh warga Cina Singapura, bahkan rata-rata
konsumsinya mencapai 40 g/hari atau tiga kali lebih tinggi daripada orang Amerika.
Dari beberapa hasil studi epidemologi, dilaporkan bahwa konsumsi kubis-kubisan
seperti kubis putih dan merah, brokoli, kembang kol, kale, lobak, dan seledri air
dapat menurunkan risiko bergagai jenis kanker, yaitu kanker payudara, prostat,
ginjal, kolon, kandung kemih dan paru-paru. Pada kanker prostat, konsumsi tiga
atau lebih porsi sayuran tersebut mampu menurunkan risikonya dibanding konsumsi
hanya satu porsi per minggu. Demikian halnya, konsumsi sayuran Brassica sebanyak
1-2 porsi/hari dilaporkan dapat menurunkan risiko kanker payudara sebesar 20-40%

Namun demikian, mengkonsumsi jenis makanan apapun sebaiknya jangan dalam


jumlah yang berlebih, begitu juga dengan kubis. Kandungan goitrins nya dapat
menganggu keseimbangan iodium dalam darah. Hal ini dapat terjadi pada orang-
orang tertentu yang menderita mag, gastritis dan perut kembung. Konsumsi kubis
yang berlebih akan menyebabkan terbentuknya gas dalam lambung. Tetapi jika
asupan iodium dari makanan lain seimbang, mengkonsumsi kubis tidak perlu lagi
dikhawatirkan. Tabel 4 dan 5 memberikan informasi lengkap mengenai komposisi
makanan atau nutrisi yang terdapat pada kubis.

Tabel 4 Komposisi makanan pada kubis-kubisan per 100 gr edible portion

No Kubis-kubisan Air Protein Serat Vit A Vit C Kalsium Besi


(%) (gr) (gr) (SI) (mg) (mg) (mg)
1 Kubis putih
Mentah 92.4 1.3 0.8 130 47 49 0.4
Dikukus 93.9 1.1 0.8 130 33 44 0.3
2 Kubis merah
Mentah 90.2 2.0 1.0 40 61 42 0.8
Dikukus
3 Kubis bunga
Mentah 91.0 2.7 1.0 60 78 25 1.1
Dikukus 92.8 2.3 1.0 60 55 21 0.7
4 Brokoli
Mentah 89.1 3.6 1.5 2500 113 103 1.1
Dikukus 91.3 3.1 1.5 2500 90 88 0.8
5 Kaelan
Mentah 87.5 4.2 1.3 8900 125 179 2.2
Dikukus 91.5 3.2 1.1 7400 62 134 1.2
6 Caisim
Mentah 92.2 2.3 6460 102 220 2.9
Dikukus
7 Petsai
Mentah 94.8 1.6 0.6 3100 25 165 0.8
Dikukus 95.2 1.4 0.6 3100 15 148 0.8
Sumber: Direktorat Gizi, DepKes RI (1981) dan USDA (1975)

9
Tabel 5 Nutrisi dalam kubis (1 gelas, dicacah, 89 gr)

Nutrient Units 1 cup, Nutrient Units 1 cup,


chopped chopped
89 g 89 g
Proximates Lipids
Water g 82.014 Fatty acids, total satur g 0.029
Energy kcal 22.250 4:0 g 0.000
Energy kj 93.450 6:0 g 0.000
Protein g 1.282 8:0 g 0.000
Total lipid (fat) g 0.240 10:0 g 0.000
Ash g 0.632 12:0 g 0.001
Carbohydrate, by g 4.833 14:0 g 0.001
difference
Fiber, total dietary g 2.047 16:0 g 0.026
Minerals 18:0 g 0.001
Calcium, Ca mg 41.830 Fatty acids, total g 0.017
monounsaturated
Iron, Fe mg 0.525 16:1 undifferentiated g 0.000
Magnesium, Mg mg 13.350 18:1 undifferentiated g 0.017
Phosphorus, P mg 20.470 20:1 g 0.000
Potassium, K mg 218.940 22:1 undifferentiated g 0.000
Sodium, Na mg 16.020 Fatty acids, total g 0.109
polyunsaturated
Zinc, Zn mg 0.160 18:2 undifferentiated g 0.046
Copper, Cu mg 0.020 18:3 undifferentiated g 0.061
Manganese, Mn mg 0.142 18:4 g 0.000
Selenium, Se mcg 0.801 20:4 undifferentiated g 0.001
Vitamins 20:5 n-3 g 0.000
Vitamin C, tot asc acid mg 28.658 22:5 n-3 g 0.000
Thiamin mg 0.045 22:6 n-3 g 0.000
Riboflavin mg 0.036 Cholesterol mg 0.000
Niacin mg 0.267 Phytosterols mg 9.790
Pantothenic acid mg 0.125 Amino acids
Vitamin B-6 mg 0.085 Tryptophan g 0.013
Folate, total mcg 38.270 Threonine g 0.044
Folic acid mcg 0.000 Isoleucine g 0.064
Folate, food mcg 38.270 Leucine g 0.065
Folate, DFE mcg 38.270 Lysine g 0.060
Vitamin B-12 mcg 0.000 Methionine g 0.012
Vitamin A, IU IU 118.370 Cystine g 0.011
Retinol mcg 0.000 Phenylalanine g 0.040
Vitamin A, RAE mcg 6.230 Tyrosine g 0.021
Vitamin E mg 0.093 Valine g 0.054
Arginine g 0.072
Histidine g 0.026
Alanine g 0.045
Aspartic acid g 0.125
Glutamic acid g 0.281
Glycine g 0.028
Proline g 0.248
Serine g 0.074
Sumber: USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Release 16 (July 2003)

Beberapa penelitian di negara berkembang mengindikasikan adanya hubungan


positif antara pendapatan dan konsumsi sayuran, misalnya kubis. Pada tingkat
pendapatan per kapita yang relatif rendah, konsumsi kubis ternyata masih jauh dari

10
titik saturasi. Dengan demikian, sejalan dengan peningkatan pendapatan, konsumsi
kubis di negara-negara berkembang juga akan semakin meningkat. Disamping
pendapatan per kapita, pertumbuhan konsumsi kubis per kapita juga dipengaruhi
oleh harga relatif dan ketersediaan bahan substitusi. Tingkat pertumbuhan ini juga
merupakan fungsi dari selera, preferensi serta berbagai faktor demografis dan
kultural.

Sementara itu, konsumsi kubis di Indonesia menunjukkan peningkatan yang


cenderung kurang konsisten dalam 10 tahun terakhir ini. Dengan asumsi akurasi
data terjamin, beberapa hal yang dapat dikemukakan sehubungan dengan konsumsi
kubis di Indonesia adalah sebagai berikut:
• Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, konsumsi per kapita kubis nasional
menunjukkan peningkatan yang relatif kecil, yaitu sekitar 0,2 kg (1993-2004)
• Konsumsi per kapita kubis di daerah pedesaan relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan di daerah perkotaan dan menunjukkan kecenderungan semakin
meningkat
• Konsumsi per kapita kubis di daerah perkotaan menunjukkan kecenderungan
semakin menurun (Catatan: penurunan konsumsi per kapita kubis dari tahun ke
tahun ini juga terjadi di beberapa negara maju, misalnya Canada, yang
konsumsinya secara konsisten terus menurun:1999 (5.71 kg/kapita); 2000 (5.48
kg); 2001 (4.81 kg); 2002 (4.86 kg); dan 2003 (4.13 kg).

Tabel 6 Konsumsi kubis di perkotaan dan pedesaan Indonesia (kg/kapita/tahun)

Tahun Perkotaan Pedesaan Total

1993 1.77 1.87 1.87

1996 1.72 1.92 1.82

1999 1.47 1.66 1.56

2002 1.87 1.97 1.92

2004 1.61 2.34 2.03

IV. Pemasaran, perdagangan dan standardisasi

Rantai pasokan kubis merupakan saluran yang memungkinkan:


• Produk kubis bergerak dari produsen ke konsumen
• Pembayaran, kredit dan modal kerja bergerak dari konsumen ke produsen
kubis

11
• Teknologi didiseminasikan diantara partisipan rantai pasokan, misalnya
diantara produsen, pengepak dan pengolah
• Hak kepemilikan berpindah dari produsen kubis ke pengepak atau
pengolah, kemudian ke pemasar
• Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir
dari pedagang pengecer ke produsen kubis

Uraian di atas menunjukkan bahwa rantai pasokan kubis merupakan suatu sistem
ekonomi yang mendistribusikan manfaat dan juga risiko diantara berbagai partisipan
yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, rantai pasokan kubis secara tidak
langsung telah mengembangkan mekanisme internal serta insentif untuk menjamin
ketepatan berbagai komitmen produksi maupun delivery.

Lokasi geografis sentra produksi kubis memungkinkan produk sayuran tersebut


dipasarkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga antar
wilayah/regional. Rantai pasokan yang terjadi pada dasarnya merupakan bentuk
pelayanan yang sudah melembaga untuk menjembatani produsen dan konsumen
sayuran. Intervensi pemerintah terhadap rantai pasok kubis ini cenderung terbatas
pada dukungan ketersediaan infrastruktur fisik, misalnya jalan dan bangunan pasar.
Tataniaga kubis seluruhnya ditangani oleh pihak swasta. Hal ini mengimplikasikan
bahwa rantai pasok kubis secara umum cenderung beroperasi berdasarkan kekuatan
penawaran dan permintaan.

Beberapa jenis rantai pasok kubis yang berhasil diidentifikasi diantaranya adalah:

1. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar –


pedagang pengumpul antar wilayah – transporter/pengangkut – pedagang
besar/ grosir – pedagang pengecer - konsumen

2. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar –


transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer -
konsumen

3. produsen – pedagang komisioner - transporter/pengangkut – pedagang


pengumpul desa atau bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir
– pedagang pengecer - konsumen

4. produsen – pengepak - transporter/pengangkut – supermarket - konsumen

Rantai pasokan pertama dan kedua diestimasi menyerap sekitar 80% dari total
pasok kubis. Sisanya sekitar 20% dipasarkan melalui rantai pasok ketiga dan
keempat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa rantai pasokan kubis masih
didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang outlet utamanya adalah pasar-pasar
tradisional. Diagram di bawah ini menggambarkan berbagai elemen tipikal rantai
pasokan kubis (misalnya di Jawa Barat). Tanda panah menunjukkan aliran fisik
produk sayuran.

12
PRODUSEN

TRANSPORTER/PENGANGKUT

BANDAR ATAU PEDAGANG PENGUMPUL PENGEPAK


PEDAGANG PENGUMPUL REGIONAL ASSEMBLY
LOKAL TRADER

TRANSPORTER/PENGANGKUT

PEDAGANG BESAR/ PEDAGANG BESAR/


GROSIR DI BANDUNG GROSIR DI JAKARTA

PEDAGANG PEDAGANG SUPER MARKET


PENGECER DI PENGECER DI RESTORAN DAN
BANDUNG JAKARTA HOTEL

KONSUMEN

Gambar 1 Rantai pasokan kubis dan sayuran secara umum di Jawa Barat

Tabel berikut ini memberikan deskripsi mengenai berbagai elemen utama di dalam
rantai pasokan kubis (misalnya di Jawa Barat) serta nilai tambah yang diberikan oleh
setiap elemen.

13
Tabel 7 Elemen, deskripsi dan nilai tambah dalam rantai pasokan sayuran/kubis

Elemen Deskripsi Nilai Tambah

Produsen Petani yang menghasilkan serta o Produksi


memanen sayuran/kubis, dan untuk o Panen
beberapa saluran distribusi tertentu juga o Pengkelasan (grading)
melakukan kegiatan pengkelasan

Pedagang tebasan Pedagang yang membeli sayuran o Panen


(terutama tomat, kubis, kubis bunga o Pengkelasan
serta sayuran daun lainnya) pada saat
tanaman masih berada di lapangan
(sebelum panen).

Pedagang pengumpul Pedagang lokal yang mengumpulkan/ o Pengumpulan


lokal/desa membeli sayuran/kubis dalam volume o Sortasi
yang relatif besar dari petani atau o Pengkelasan
beberapa petani dan memasarkannya ke o Pengangkutan
pusat-pusat konsumsi.

Pedagang pengumpul Jenis pedagang yang berdomisili di luar o Pengumpulan


antar wilayah sentra produksi ini membeli sayuran/ o Sortasi
kubis dan memasarkannya ke pasar- o Pengkelasan
pasar grosir dan pengecer. Sayuran/ o Pengangkutan
kubis dapat dibeli langsung dari petani
atau bandar/ pedagang pengumpul lokal.

Pengepak Jenis usaha yang melakukan pembelian, o Jaminan kualitas


sortasi, pengkelasan, pengepakan/ o Pengkelasan
pengemasan serta memberikan o Pengemasan
pelayanan penyimpanan jangka pendek. o Koordinasi transpor dan
Elemen ini juga mengkoordinasikan negosiasi
transportasi produk serta memiliki o Penyimpanan jangka pendek
kontrak pemasokan dengan pengecer- terkontrol
pengecer besar. o Kontrak pemasokan sayuran

Transportasi Pemberi jasa angkutan produk sayuran/ o Pengangkutan


kubis dari sentra produksi ke pengecer.
Kegiatannya mencakup pengangkutan
produk ke lokasi-lokasi spesifik dalam
kerangka waktu yang telah ditentukan.

Restoran/Hotel Jenis usaha yang mengkonversikan o Pengolahan sayuran segar


sayuran/kubis menjadi makanan menjadi makanan
o Pemasaran dan distribusi

Pedagang besar/grosir Jenis usaha yang menjual sayuran/kubis o Pemasaran, penjualan dan
dalam volume yang relatif besar dan distribusi ke pengecer
melayani berbagai klien. o Jaminan kualitas
o Penyimpanan jangka pendek
terkontrol

Pengecer/Supermarket. Jenis usaha yang mengoperasikan toko- o Jaminan kualitas


toko pengecer untuk menjual sayuran/ o Distribusi
kubis o Promosi

Masalah utama yang secara umum berhasil diidentifikasi sepanjang rantai pasokan
kubis diantaranya adalah:

14
o Variabilitas harga yang tinggi
o Kehilangan hasil dan susut yang tinggi
o Respon terhadap pemesanan yang relatif lambat
o Kurangnya pengawasan kualitas sepanjang rantai, termasuk kurangnya alat
trans-portasi serta gudang penyimpanan berpendingin
o Kurangnya perencanaan produksi secara umum serta metode produksi yang
relatif masih sederhana/konvensional
o Kemampuan terbatas untuk memenuhi permintaan spesifikasi produk
o Kurangnya informasi pasar sepanjang rantai pasokan
o Kurangnya rasa kepercayaan antar elemen yang terlibat di dalam rantai pasokan
o Kesulitan koordinasi antar pemasok-pemasok skala kecil

Indikator yang kemungkinan dapat digunakan untuk mengevaluasi keragaan rantai


pasokan diantaranya adalah (a) farmer’s share dan (b) marjin tataniaga. Bagian
petani adalah rasio (dalam persen) antara harga yang diterima petani dengan harga
yang dibayarkan konsumen. Sedangkan marjin tataniaga adalah selisih antara harga
yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani. Marjin tataniaga
merepresentasikan harga untuk membayar jasa atau pelayanan yang diperlukan
dalam mempersiapkan produk memasuki pasar. Besarnya marjin tataniaga akan
sangat dipengaruhi oleh kombinasi: (a) kualitas dan kuantitas jasa pemasaran yang
diberikan, (b) biaya yang diperlukan untuk jasa/pelayanan pemasaran tersebut,
serta (c) efisiensi teknis dan harga jasa/pelayanan pemasaran yang diberikan.

Tabel 8 menunjukkan bahwa selama periode 2000-2004, koefisien variasi marjin


pemasaran kubis lebih tinggi dibandingkan dengan petsai dan tomat, namun sedikit
lebih rendah dibandingkan dengan kentang. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidak-
stabilan marjin kubis lebih tinggi dibandingkan petsai dan tomat, tetapi sedikit lebih
stabil dibandingkan kentang.

Table 8 Bagian petani dan marjin pemasaran beberapa sayuran penting di Jawa Barat, 2000-2004

Kubis Kentang Tomat Petsai

Marjin Pemasaran (Rp/kg)


Rata-rata 163.2 260.3 566.1 183.7
Standar Deviasi 142.6 242.4 264.0 105.0
Koefisien Variasi (%) 87.4 93.1 46.6 57.2

Bagian Petani (%)


Rata-rata 75.27 82.87 45.97 61.09
Standar Deviasi 14.83 11.21 13.12 18.31
Koefisien Variasi (%) 19.7 13.5 28.5 30.0

Secara umum, bagian petani untuk kubis cukup tinggi dan merefleksikan tingkat
kompetisi yang cukup tinggi di sepanjang rantai pasokan. Besaran variasi bagian

15
petani secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan dengan besaran variasi
marjin tataniaga. Bagian petani dan marjin tataniaga biasanya berkorelasi negatif,
artinya jika bagian petani meningkat maka marjin tataniaga akan menurun. Secara
implisit hal ini mengimplikasikan adanya keterkaitan yang kuat antara elemen
produksi dan elemen pemasaran di dalam rantai pasokan sayuran/kubis tradisional
di Jawa Barat.

Sementara itu, selama kurun waktu 2001-2003, data perdagangan (ekspor-impor)


kubis menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan net exporter dari sisi volume
maupun nilainya. Ekspor kubis dalam tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan
dari sisi volume, tetapi terjadi kenaikan dari sisi nilai. Negara destinasi ekspor kubis
terutama adalah Malaysia dan Singapore, namun ada sebagian pula yang diekspor
ke Taiwan, Jepang, Hongkong, Thailand, Mongolia dan Mexico. Selama 2001-2003,
impor kubis juga menunjukkan kecenderungan serupa dengan ekspor, yaitu
penurunan volume, tetapi kenaikan nilai. Negara utama asal impor kubis adalah
China dan Australia, dan sebagian kecil berasal dari Korea dan Vietnam. Perlu
diperhatikan bahwa unit biaya per kilogram kubis yang harus dikeluarkan untuk
ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun, namun biaya/kg untuk kubis
impor selalu lebih tinggi dibandingkan dengan biaya/kg untuk kubis ekspor.

Tabel 9 Volume dan nilai ekspor/impor kubis Indonesia, 2001-2003

Tahun Ekspor Impor

Volume (kg) Nilai (US$.) Unit Volume (kg) Nilai (US$) Unit
(US$/kg) (US$/kg)

2001 48 288 168 6 869 019 0.14 701 916 472 007 0.67

2002 49 415 364 9 758 703 0.20 453 784 328 417 0.72

2003 42 686 295 11 401 593 0.27 545 872 527 610 0.97

Salah satu kebijaksanaan operasional pengembangan pengolahan dan pemasaran


hasil pertanian adalah pembinaan mutu dan standardisasi pertanian. Keberhasilan
pengembangan pembinaan mutu dan standardisasi pertanian diharapkan akan
mampu untuk menunjang peningkatan daya saing serta keberhasilan menembus
pasar. Program pemerintah dalam pembinaan mutu hasil pertanian melalui program
standardisasi dan akreditasi sejalan dengan tuntutan konsumen baik di dalam
maupun di luar negeri. Untuk dapat bersaing di pasar yang bebas dan kompetitif
saat ini, komoditas pertanian yang dipasarkan harus benar-benar dapat menarik
minat pembeli. Hal ini perlu ditanamkan terhadap pelaku agribisnis bahwa di dalam
produk yang akan dipasarkan haruslah terdapat unsur jaminan kepastian mutu.
Kepastian mutu ini hanya dapat diperoleh melalui penerapan standar. Pada awalnya
standar ini hanya merupakan suatu tuntutan pasar, namun dalam
perkembangannya, ternyata standar memberikan banyak sekali nilai tambah bagi

16
petani yang menerapkannya, sehingga mulai dirasakan sebagai kebutuhan bagi
petani.

Dari aspek pertumbuhan dan pengembangan kegiatan/usaha agribisnis, penerapan


SNI dapat memberikan manfaat: (a) mewujudkan tercapainya persaingan yang
sehat dalam perda-gangan, (b) menunjang pelestarian lingkungan hidup, (c)
meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui sistematika dan
pendekatan yang terorganisir pada pemastian mutu, (d) meningkatkan citra dan
daya saing petani/pelaku agribisnis, (e) meningkatkan efisiensi di dalam berproduksi,
dan (f) mengantisipasi tuntutan konsumen atas mutu produk dan tingkat persaingan
usaha yang telah mengalami perubahan sehingga pelaku agribisnis dapat
menanggapinya melalui pendekatan mutu, pengendalian mutu, pemastian mutu,
manajemen mutu dan manajemen mutu terpadu.

Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor : 12 tahun 1991, standar yang berlaku di
seluruh wilayah Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia, yang mulai
diberlakukan sejak tanggal 1 April 1994. Sebagai tindak lanjut penetapan Standar
Nasional Indonesia, melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
303/Kpts/OT.210/4/1994 tanggal 27 April 1994, Standar Nasional Indonesia sektor
pertanian adalah standar yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian setelah
mendapatkan persetujuan dari Dewan Standardisasi Nasional (yang sekarang
menjadi Badan Standardisasi Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 13
tahun 1997) dan berlaku secara nasional di seluruh wilayah Indonesia.

Tabel 10 memberikan gambaran lebih detil menyangkut SNI 01-3174-1998 untuk


kubis segar. Berdasarkan SNI kubis, kubis digolongkan dalam empat ukuran :
• Kecil : < 500 gram/butir
• Sedang : 501 – 1000 gram/butir
• Besar : 1001 – 1800 gram/butir
• Sangat besar : > 1801 gram/butir

Tabel 10 SNI 01-3174-1998 untuk kubis segar

Karakteristik Syarat
Mutu I Mutu II
Jumlah daun pembungkus (helai) 4 4
Keseragaman bentuk seragam Seragam
Keseragaman ukuran seragam Seragam
Kepadatan padat Kurang padat
Warna daun luar hijau Agak kuning
Kadar kotoran % (bobot/bobot) maks 2,5 2,5
Jumlah cacat (bobot/bobot) maks 5 10
Panjang batang kubis (cm) maks. 2,5 2,5

17
Disamping syarat mutu yang ditetapkan dalam SNI, segmen pasar juga menetapkan
persyaratan-persyaratan tertentu dan mengelompokkannya ke dalam beberapa kelas
mutu. Persyaratan mutu yang ditetapkan segmen pasar untuk komoditas kubis
segar antara lain :

Tabel 11 Persyaratan mutu kubis sesuai dengan permintaan segmen pasar

Kriteria Kelas Mutu


Mutu I Mutu II

Ukuran/bobot (gr) besar/ >1000 sedang /< 1000

Warna daun luar Hijau sampai keputihan Hijau sampai keputihan

Kesegaran (%) 90 – 100 80 – 89

Permukaan kulit Mulus Mulus

Kotoran bebas bebas

Hama/penyakit bebas bebas

V. Perkembangan harga dan indeks harga musiman

Harga berfungsi sebagai pengendali arah aktivitas ekonomi sayuran dan berperan
sebagai rationing mechanism untuk suatu produk yang diproduksi pada suatu
periode waktu serta menjadi barometer yang mengukur dimensi perilaku bekerjanya
pasar sayuran. Berbagai faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan
akan selalu berubah, sehingga jalur waktu harga sayuran akan selalu menunjukkan
variasi. Pada kondisi persaingan, fluktuasi harga dapat disebabkan oleh pergeseran
penawaran dan permintaan. Komparasi variabilitas harga di tingkat pasar yang
berbeda dapat memberikan indikasi lokus instabilitas harga. Informasi pada Table 12
menunjukkan koefisien variasi harga bulanan kubis di tingkat sentra produksi yang
ternyata lebih rendah dibandingkan dengan koefisien variasi harga tomat, tetapi
lebih tinggi dibandingkan dengan kentang dan petsai. Hal ini dapat memberikan
gambaran bahwa harga kubis relatif lebih stabil dibandingkan dengan tomat, namun
lebih tidak stabil dibandingkan dengan kentang dan petsai. Namun demikian,
koefisien variasi harga bulanan kubis ternyata paling tinggi di tingkat pedagang
besar/grosir. Untuk kubis, variasi marjin tataniaga ternyata lebih tinggi dibandingkan
dengan variasi harganya di tingkat sentra produksi maupun pedagang besar.
Perbandingan ini mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek, pedagang juga
menyerap dampak/akibat yang cukup signifikan dari adanya variabilitas harga
kentang dan kubis. Dengan kata lain, pedagang tidak memiliki posisi tawar menawar
yang cukup kuat untuk membebankan dampak/akibat dari pergeseran permintaan
dan penawaran kepada produsen maupun konsumen. Lebih lanjut diindikasikan

18
bahwa variasi harga kubis (dan kentang, tomat, petsai) di tingkat pedagang besar
secara umum lebih rendah dibandingkan dengan variasi marjin tataniaga dan variasi
harga di tingkat sentra produksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek
pasar cenderung beroperasi untuk mempertahankan stabilitas harga kubis (dan
kentang, tomat, petsai) di tingkat pedagang besar. Indikasi ini memberikan
penekanan perlunya perbaikan pengelolaan rantai pasokan sayuran tradisional di
Jawa Barat yang lebih memberikan perhatian terhadap upaya memecahkan
instabilitas harga yang cukup tinggi di tingkat sentra produksi.

Table 12 Variasi harga kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat grosir
(PIKJ), 2000-2004

Kubis Kentang Tomat Petsai

Harga di tingkat sentra produksi (Rp/kg)


Rata-rata 527.9 1 886.2 548.0 318.2
Standar Deviasi 396.8 780.4 427.3 195.8
Koefisien Variasi (%) 75.2 58.4 77.9 61.5

Harga di tingkat pedagang besar (Rp/kg)


Rata-rata 691.2 2 196.5 1 114.2 501.9
Standar Deviasi 471.1 881.6 602.2 201.6
Koefisien Variasi (%) 68.2 55.2 54.1 40.2

Marjin Pemasaran (Rp/kg)


Rata-rata 163.2 260.3 566.1 183.7
Standar Deviasi 142.6 242.4 264.0 105.0
Koefisien Variasi (%) 87.4 93.1 46.6 57.2

Salah satu kunci sukses pemasaran sayuran adalah pemahaman utuh menyangkut
pergerakan harga musiman suatu komoditas. Perkiraan pola harga musiman dari
suatu komoditas dapat diduga dengan menghilangkan pengaruh trend dan
menghitung harga rata-rata bulanan. Perkiraan pola harga musiman dapat terlihat
dengan mengekspresikan rata-rata harga setiap bulan sebagai persentase dari rata-
rata total harga dalam periode waktu tertentu. Tabel 13 menunjukkan pola harga
musiman kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat grosir
(Cibitung) dalam periode waktu 2001-2003. Untuk harga kubis di tingkat sentra
produksi, pada bulan Agustus, harga kubis rata-rata ternyata berada 33% di bawah
harga rata-rata total selama periode 2001-2003, sedangkan pada bulan April harga
kubis rata-rata berada 46% di atas harga rata-rata total selama periode 2001-2003.
Pola musiman yang sama ternyata juga berlaku untuk harga kubis di tingkat grosir.
Hal ini mengindikasikan bahwa selama periode 2001-2003, di tingkat sentra produksi

19
maupun grosir/pedagang besar, harga kubis terendah terjadi pada bulan Agustus,
sedangkan harga kubis tertinggi tercapai pada bulan April.

Table 13 Pola musiman harga kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat
grosir (Cibitung), 2001-2003

Bulan

J P M A M J J A S O N D
Tingkt
Rata-rata harga bulanan (Rp/kg)

Sentra 676,0 549,7 988,3 1062,0 969,0 651,3 598,7 486,3 560,0 743,7 733,3 737,7

Grosir 886,0 1093,7 1208,3 1270,7 1221,0 980,3 830,3 701,7 761,0 915,0 955,0 1029,0

a
Rata-rata bulanan sebagai % dari rata-rata total

Sentra 0,93 0,75 1,35 1,46 1,33 0,89 0,82 0,67 0,77 1,02 1,01 1,01

Grosir 0,90 1,11 1,22 1,29 1,24 0,99 0,84 0,71 0,77 0,93 0,97 1,04

a
Dihitung dengan membagi setiap harga rata-rata bulanan dengan harga rata-rata bulanan total selama periode
2001-2003 (Rp. 729,67 pada tingkat sentra produksi dan Rp. 987,67 pada tingkat grosir)

VI. Sistem pengelolaan (budidaya) dan panen

6.1. Syarat pertumbuhan

6.1.1. Iklim

a) Angin berpengaruh terhadap evaporasi lahan dan evapotranspirasi tanaman.


Laju angin tinggi yang berlangsung dalam waktu lama (kontinyu) dapat
mengakibatkan keseimbangan kandungan air antara tanah dan udara
terganggu, tanah kering dan keras, penguraian bahan organik terhambat,
unsur hara berkurang dan menimbulkan racun akibat tidak ada oksidasi gas-
gas beracun di dalam tanah.
b) Hasil penelitian mengindikasikan bahwa jumlah curah hujan 80% dari jumlah
normal (30 cm) memberikan hasil rata-rata 12% dibawah rata-rata normal.
c) Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan
naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan
pertumbuhan bibit. Sementara itu, pada stadia pertumbuhan diperlukan
intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan.

20
d) Tanaman kubis dapat hidup pada suhu udara 10-24 derajat C dengan suhu
optimum 17 derajat C. Kebanyakan varietas kubis tahan cuaca dingin (minus 6-
10 derajat C) untuk waktu singkat, tetapi akan rusak jika dihadapkan pada
cuaca dingin yang berlangsung lama.
e) Tanaman kubis akan hidup dengan baik pada kisaran kelembaban udara 60-
90%. Jika kelembaban di atas 90% maka muncul penyakit busuk lunak berair,
penyakit semai rebah dan penyakit lain yang disebabkan oleh cendawan.

6.1.2. Media Tanam

a) Kondisi fisik tanah yang sesuai untuk pertanaman kubis adalah tanah yang
bertekstur sedang, yaitu liat berpasir, berstruktur remah (gembur), subur,
banyak mengandung bahan organik. Namun demikian, tanaman kubis juga
masih toleran terhadap tanah yang agak berat.
b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kubis adalah latosol, regosol dan
andosol. Walaupun kubis masih dapat hidup pada jenis tanah lain, tetapi
hasilnya kurang optimal.
c) Keasaman tanah (pH) yang cocok adalah 5,5-6,5.
d) Kandungan air tanah yang baik adalah pada kandungan air tersedia, yaitu pF
antara 2,5-4. Dengan demikian lahan tanaman kubis memerlukan pengairan
yang cukup baik (irigasi maupun drainase).

6.1.3. Ketinggian Tempat

Tanaman kubis dapat tumbuh optimal pada ketinggian 200-2000 m dpl. Untuk
varietas dataran tinggi, dapat tumbuh baik pada ketinggian 1000-2000 m dpl.

6.2. Teknik budidaya

6.2.1. Pembibitan

Persyaratan Benih

Benih yang baik harus memenuhi syarat: a) utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat;
b) bebas hama dan penyakit; c) murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau
benih lain serta bersih dari kotoran; d) dari jenis unggul atau stek yang sehat; e)
mempunyai daya kecambah 80%; dan f) tenggelam bila direndam dalam air.

Penyiapan Benih

Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan


meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara
penyiapan adalah sebagai berikut:
a) Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan
dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55
derajat C selama 15-30 menit.

21
b) Penyeleksian benih, dengan merendam biji dalam air, dimana benih yang baik
akan tenggelam.
c) Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih
cepat berkecambah.

Kebutuhan benih per hektar tergantung varietas dan jarak tanam, umumnya
dibutuhkan 300 gram/ha. Benih harus disemai dan dibumbun sebelum dipindah-
tanam ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan atau langsung di
bumbun. Bumbunan dapat dibuat dari daun pisang, kertas makanan berplastik atau
polybag kecil.

Teknik Penyemaian Benih

Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi persemaian antara lain: (1)
tanah tidak mengandung hama dan penyakit atau faktor-faktor lain yang merugikan;
(2) lokasi mendapat penyinaran cahaya matahari cukup; dan (3) dekat dengan
sumber air bersih.

Penyemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:


a) Penyemaian di bedengan
Lahan diolah sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan selebar 110-120 cm
memanjang dari arah utara ke selatan. Tambahkan pupuk kandang yang telah
disaring halus dan campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1:2 atau
1:1. Bedengan dinaungi dengan naungan plastik, jerami atau daun-daunan
setinggi 1,25–1,50 m di sisi timur dan 0,8–1,0 m di sisi barat. Penyemaian
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebar merata di atas bedengan atau
disebar di dalam barisan sedalam 0,2–1,0 cm. Cara pertama memerlukan benih
yang lebih sedikit daripada cara kedua. Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit
dipindahkan ke dalam bumbunan. Bumbunan dapat dibuat dari daun pisang
atau kertas berplastik dengan ukuran diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm atau
berupa polybag 7x10 cm yang memiliki dua lubang kecil di kedua sisi bagian
bawahnya. Bumbunan diisi media campuran pupuk kandang matang dan tanah
halus dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Keuntungan dari cara ini diantaranya
adalah hemat waktu, permukaan petak semaian sempit dan jumlah benih
persatuan luas banyak. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan benih
banyak, penyiangan gulma sukar, memerlukan tenaga kerja terampil, terutama
saat pemindahan bibit ke lahan.
b) Penyemaian di bumbung (koker atau polybag)
Dengan cara ini, satu per satu benih dimasukkan ke dalam bumbunan yang
dibuat dengan cara seperti di atas. Bumbunan dapat terbuat dari daun pisang
atau daun kelapa dengan ukuran diameter dan tinggi 5 cm atau dengan
polybag kecil yang berukuran 7-8 cm x 10 cm. Media penyemaian adalah
campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. Sebaiknya
media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media tersebut pada suhu
udara 55-100 derajat C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan
formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain
dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60
gram/m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan

22
lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (10-
15 hari).
c) Kombinasi cara a) dan b).
Pertama benih disebar di petak persemain, setelah berumur 4-5 hari (berdaun
3-4 helai), dipindahkan ke dalam bumbunan.
d) Penanaman langsung.
Benih langsung ditanam di lahan, sehingga dapat lebih menghemat waktu,
biaya dan tenaga, namun memerlukan perawatan yang lebih intensif.

Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian dan dilakukan dengan
cara sebagai berikut;
1. Membuat media terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1).
2. Membuat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20 cm) dan
lubangi dasar kotak untuk drainase.
3. Memasukkan media kedalam kotak dengan tebalan 10-15 cm.

Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

a) Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung
cuaca.
b) Pengatur naungan persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan
sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas
dan kurang menguntungkan bagi bibit.
c) Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu
pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput/gulma
lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok.
d) Dilakukan pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan
penyemprotan pestisida ½ dosis jika diperlukan.
e) Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda
adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip, ulat pucuk, molusca dan
cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan
pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G,
Antracol, Dithane, Hostathion dan lain-lain.

Pemindahan Bibit

Pemindahan dilakukan bila bibit telah mempunyai perakaran yang kuat. Bibit dari
benih/biji siap ditanam setelah berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai,
sedangkan bibit dari stek dapat dipindahkan setelah berumur 28 hari.

Pemindahan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut:


a) Sistem cabut, bibit dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak
akar. Bila disemai pada polybag, pengambilan bibit dilakukan
dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit
antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk
perlahan hingga bibit keluar. Bila bibit disemai pada bumbung daun
pisang atau daun kelapa, bibit dapat ditanam bersama
bumbungnya.

23
b) Sistem putaran, caranya tanah disiram dan bibit dengan diambil
beserta tanahnya 2,5 - 3 cm dari batang dengan kedalaman 5 cm.

6.2.2. Pengolahan Media Tanam

Persiapan

Lahan sebaiknya bukan lahan bekas ditanami tanaman famili Cruciferae lainnya.
Pengukuran pH dan analisis tanah tentang kandungan bahan organiknya disarankan
untuk mengetahui kecocokan lahan ditanami kol/kubis.

Tanah digemburkan dan dibalik dengan dicangkul atau dibajak sedalam 40-50 cm,
dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan diberi pupuk dasar. Setelah itu, dibiarkan
terkena sinar matahari selama 1-2 minggu untuk memberi kesempatan oksidasi gas-
gas beracun dan membunuh sumber-sumber patogen.

Pembuatan Bedengan

Bedengan dibuat dengan arah Timur-Barat, lebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dan
panjang tergantung keadaan lahan. Lebar parit antar bedengan ± 40 cm (parit
pembuangan air PPA 60 cm) dengan kedalaman 30 cm (PPA 60 cm).

Pengapuran

Pengapuran diarahkan untuk menaikkan pH tanah dan mencegah kekurangan unsur


hara makro maupun mikro. Dosis pengapuran bergantung kisaran angka pH-nya,
umumnya antara 1-2 ton kapur per hektar. Jenis kapur yag digunakan antara lain:
Captan (calcit) dan Dolomit.

Pemupukan

Bedengan siap tanam diberi pupuk dasar yang banyak mengandung unsur Nitrogen
dan Kalium, yaitu Za, Urea, TSP dan KCl masing-masing 250 kg, serta Borax atau
Borate 10-20 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dilakukan sebanyak 0,5 kg per
tanaman.

6.2.3. Teknik Penanaman

Penentuan Sistem Pertanaman

Penentuan sistem pertanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan


varietas tanaman (dengan jarak tanam 50 x 50 cm). Pola penanaman ada dua, yaitu
larikan dan teratur seperti pola bujur sangkar; pola segi tiga sama sisi; pola segi
empat dan pola barisan (barisan tunggal dan barisan ganda). Pola segi tiga sama sisi
dan bujur sangkar tergolong baik, karena dapat diperoleh jumlah tanaman yang
lebih banyak.

24
Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam sedalam cangkul atau dengan
ukuran garis tengah 20-25 cm sedalam 10-15 cm.

Cara Penanaman

a) Waktu tanam yang baik adalah pada pagi hari antara pukul 06.00 - 10.00 atau
sore hari antara pukul 15.00 - 17.00, karena pengaruh sinar matahari dan
temperatur tidak terlalu tinggi.
b) Pilih bibit yang segar dan sehat (tidak terserang penyakit ataupun hama).
c) Bila bibit disemai pada bumbunan daun pisang atau, ditanam bersama dengan
bumbunannya, bila disemai pada polybag plastik maka dikeluarkan terlebih
dahulu dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara
telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk secara perlahan
hingga bibit keluar dari polybag.
d) Bila disemai dalam bedengan diambil dengan solet (sistem putaran), caranya
menggambil bibit beserta tanahnya sekitar 2,5-3 cm dari batang sedalam 5 cm.
e) Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi
sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak.
f) Siram bibit dengan air sampai basah benar.

6.2.4. Pemeliharaan Tanaman

Penjarangan dan Penyulaman

Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur 6
minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian
stek). Bila bibit disemai pada bumbunan maka penjarangan tidak dilakukan.
Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek
(2-3 bulan).

Penyiangan

Penyiangan dilakukan bersama dengan penggemburan tanah sebelum pemupukan


atau bila terdapat tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman.
Penyiangan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat
merusak sistem perakaran tanaman, bahkan pada akhir penanaman sebaiknya tidak
dilakukan.

Pembubunan

Pembumbunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada


pada saluran antar bedengan ke arah bedengan. Tindakan ini berfungsi untuk
menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan
tanah.

25
Perempelan

Perempelan cabang/tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin untuk menjaga


tanaman induk agar zat makanan terkonsentrasi pada pembentukan bunga
seoptimal mungkin.

Pemupukan

Pemupukan susulan I dilakukan dengan urea 1 gram per tanaman melingkari


tanaman dengan jarak 3 cm disaat tanaman kelihatan hidup untuk mendorong
pertumbuhan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 10-14 hari dengan dosis 3-5
gram, dengan jarak 7-8 cm. Pemupukan ketiga dilakukan pada umur 3-4 minggu
dengan dosis 5 gram pada jarak 7-8 cm. Bila pertumbuhan belum optimal dapat
dilakukan pemupukan lagi pada umur 8 minggu.

Pengairan dan Penyiraman

Waktu pemberian air sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada musim
kemarau, pengairan perlu dilakukan 1-2 hari sekali, terutama pada fase awal
pertumbuhan dan pembentukan bunga.

Waktu Penyemprotan Pestisida

Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman


atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan. Untuk penanggulangan,
penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat
segera ditanggulangi.

Jenis dan dosis pestisida yang digunakan dalam menanggulangi hama sangat
beragam tergantung jenis dan tingkat populasi hama yang dikendalikan.

Pemeliharaan Lain

Hal-hal yang penting dalam merawat tanaman adalah:


a) Menghindari pelukaan pada tanaman karena luka pada tanaman merupakan
salah satu jalan yang efektif dalam penularan penyakit dan sangat disukai oleh
hama.
b) Dalam pemupukan, pupuk tidak boleh mengenai tanaman dan harus selalu
diikuti dengan penyiraman.

6.2.5. Hama dan Penyakit

Hama

a) Ulat Plutella (Plutella xylostella L.)


Dikenal dengan nama ulat tritip, Diamond-black moth, hileud keremeng, ama
bodas, ama karancang (Sunda), omo kapes, kupu klawu (Jawa). Ciri: (1) siklus

26
hidup 2-3 minggu tergantung temperatur udara; (2) ngengat betina panjang
1,25 cm berwarna kelabu, mempunyai tiga buah titik kuning pada sayap
depan, meletakkan telur dibagian bawah permukaan daun sebanyak 50 butir
dalam waktu 24 jam; (3) telurnya berbentuk oval, ukuran 0,6-0,3 mm,
berwarna hijau kekuningan, berkilau, lembek dan menetas ± 3 hari; (4) larva
Plutella berwarna hijau, panjang 8 mm, lebar 1 mm, mengalami 4 instar yang
berlangsung selama 12 hari, ngengat kecil berwarna coklat keabu-abuan; (5)
ngengat aktif dimalam hari, sedangkan siang hari bersembunyi dibawah
dibawah sisa-sisa tanaman, atau hinggap dibawah permukaan daun bawah.
Gejala: (1) biasanya menyerang pada musim kemarau; (2) daun berlubang-
lubang terdapat bercak-bercak putih seperti jendela yang menerawang dan
tinggal urat-urat daunnya saja; (3) umumnya menyerang tanaman muda,
tetapi kadang-kadang merusak tanaman yang sedang membentuk bunga.
Pengendalian: (1) mekanis: mengumpulkan ulat-ulat dan telurnya, kemudian
dihancurkan. (2) Kultur teknik: pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman
yang bukan famili Cruciferae; pola tumpang sari brocolli dengan tomat, bawang
daun, dan jagung; dengan tanaman perangkap (trap crop) seperti
Rape/Brassica campestris ssp. Oleifera Metg. (3) Hayati/biologi: menggunakan
musuh alami, yaitu parasitoid (Cotesia plutella Kurdj, Diadegma semiclausum,
Diadegma eucerophaga) ataupun predatornya. (4) Sex pheromone : adalah
“Ugratas Ungu” dari Taiwan. Bentuk sex pheromone ini seperti benang nilon
berwarna ungu sepanjang ± 8 cm. Cara penggunaan : Ugratas ungu
dimasukkan botol bekas agua, kemudian dipasang dilahan perkebunan pada
posisi lebih tinggi dari tanaman. Daya tahan ugratas terpasang ±3 minggu, dan
tiap hektar kebun memerlukan 5-10 buah perangkap.(5) Kimiawi :
menyemprotkan insektisida selektif berbahan aktif Baccilus thuringiensis seperti
Dipel WP, Bactospeine WP, Florbac FC atau Thuricide HP pada konsentrasi 0,1-
0,2%, Agrimec 18 FC, pada konsentrasi 1-2 cc/liter.

b) Ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller)


Ulat croci disebut hileud bocok (sunda). Ciri: (1) siklus hidup 22-32 hari,
tergantung suhu udara; (2) ulat berwarna hijau, pada punggung terdapat garis
hijau muda dan perut kuning, panjang ulat 18 mm, berkepompong di dalam
tanah dan telur diletakkan dibawah daun secara berkelompok berbentuk pipih
menyerupai genteng rumah; (3) menyerang tanaman yang sedang membentuk
bunga. Pengendalian: sama dengan ulat Prutella, parasitoid yang paling
cocok adalah Inareolata sp.

c) Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)


Ulat tanah disebut ulat taneuh, hileud orok (Sunda) atau uler lettung (Jawa).
Ciri: (1) siklus hidup 6-8 minggu; (2) kupu-kupu ataupun ulatnya aktif pada
senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di bawah daun (kupu-
kupu) dan permukaan tanah (ulat). Gejala: memotong titik tumbuh atau
pangkal batang tanaman, sehingga tanaman muda rebah dan pada siang hari
tampak layu. Pengendalian: (1) mekanis: mencabut ulat-ulat tanah dan
membunuhnya; (2) kultur teknis: pembersihan kebun dari rerumputan atau
sisa-sisa tanaman yang dijadikan tempat bertelur hama tanah; (3) kimiawi:
dengan umpan beracun dan semprotan insektisida.Campuran dari 125-250

27
gram Dipertex 95 SL, 10 kg dedak, 0,5-1,0 kg gula merah dan 10 liter air untuk
tanaman seluas 0,25-0,5 hektar. Umpan tersebut disebarkan disekeliling
tanaman pada senja dan malam hari. dapat juga disemprotkan insektisida
Dursban 20 EC 1 cc/liter air. Waktu penyemprotan sehabis tanam dan dapat
diulang 1-2 kali seminggu.

d) Kutu daun (Aphis brassicae)


Hidup berkelompok dibawah daun atau massa bunga (curd), berwarna hijau
diliputi semacam tepung berlilin. Gejala: menyerang tanaman dengan
menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun menguning dan massa
bunga berbintik-bintik tampak kotor. Menyerang hebat dimusim kemarau.
Pengendalian: Menyemprotkan insektisida ORTHENE 75 SP atau Hostathion
40 EC 1-2 cc/liter air.

e) Ulat daun
Misalnya ulat jengkal (Trichoplusiana sp., Chrysodeixis chalcites Esp.,
Chrysodeixis orichalcea L.) dan ulat grayuk (Spodoptera sp. S. litura), Ciri: (1)
Ulat-ulat jengkal (Trichoplusiana sp.): Cara berjalannya aneh dan melipat dua
bila merangkak. Panjang 4 cm, berwarna hijau pucat dan berpita warna muda
pada tiap sisi badan. Kupu-kupu ulat jengkal berwarna coklat keabu-abuan dan
berbintik-bintik berwarna perak pada setiap sayap depannya, telur berwarna
putih kehijau-hijauan diletakkan di bawah daun dan menetas dalam 3-20 hari.
(2) Chrysodzeixis chalcites Esp. dan Chrysodeixis orichalcea L.: Berwarna gelap
dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telur
berukuran kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan secara tunggal ataupun
berkelompok. Larva berwarna hijau bergaris-garis putih di sisinya dan jalannya
menjengkal. (3) Ulat-ulat grayak (S. litura): Ciri khas memiliki bintik-bintik
segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuning-kuningan pada sisinya dengan
siklus hidup 30-61 hari. Kupu-kupunya berwarna agak gelap dengan garis agak
putih pada sayap depan. Telurnya berjumlah 25-500 butir diletakkan secara
berkelompok di atas tanaman dan ditutup dengan bulu-bulu. Gejala: daun
rusak, berlubang-lubang atau kadang kala tinggal urat-urat daunnya saja.
Pengendalian: (1) mengatur pola tanam; (2) menjaga kebersihan kebun; (3)
penyemprotan insektisida seperti Orthene 75 SP 1 cc/liter air, Hostathion 1-2
cc/liter air, Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC; (4) khusus untuk ulat grayak
dapat digunakan sex pheromena (Ugratas Merah); (5) bila terjadi serangan
Spodoptera exiqua dapat digunakan Ugratas Biru.

f) Bangsa siput
Bangsa siput yang biasa menyerang antara lain: (1) Achtina fulica Fer., yaitu
siput yang mempunyai cangkang atau rumah, dikenal dengan bekicot; (2)
Vaginula bleekeri Keferst, yaitu siput yang tidak bercangkang, warna keabu-
abuan; (3) Parmarion pupilaris Humb, yaitu siput yang tidak bercangkang
berwarna coklat kekuningan. Gejala: menyerang daun terutama saat baru
ditanam dikebun. Pengendalian: dengan menyemprotkan racun Helisida atau
dengan dikumpulkan lalu dihancurkan dengan garam atau untuk makanan
ternak.

28
g) Cengkerik dan gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus).
Gejala: menyerang daun muda (memotong) pada malam hari; terdapat
banyak lubang di dalam tanah. Pengendalian: dengan insektisida atau
menangkap dengan menyirami lubang dengan air agar hama keluar.

h) Orong-orong.
Hidup dalam tanah terutama yang lembab dan basah. Bagian yang diserang
adalah sistem perakaran tanaman. Gejala: pertumbuhan terhambat dan daun
menguning. Pengendalian: pemberian insektisida ke liang.

Penyakit

a) Busuk hitam (Xanthomonas campestris Dows.)


Penyebab: bakteri, dan merupakan patogen tular benih (seed borne), dan
dapat dengan mudah menular ketanah atau ke tanaman sehat lainnya. Gejala:
(1) tanaman semai rebah (damping off), karena infeksi awal terjadi pada
kotiledon, kemudian menjalar keseluruh tanaman secara sistematik; (2) bercak
coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai, bunga maupun massa
bunga yang diserang; (3) gejala khas daun kuning kecoklat-coklatan berbentuk
huruf “V”, lalu mengering. Batang atau massa bunga yang terserang menjadi
busuk berwarna hitam atau coklat, sehingga kurang layak dipanen.
Pengendalian: (1) memberikan perlakuan pada benih seperti telah dijelaskan
pada poin pembibitan sub poin penyiapan benih; (2) pembersihan kebun dari
tanaman inang alternatif; (3) rotasi tanaman selama ± 3 tahun dengan
tanaman tidak sefamili.

b) Busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.)


Penyebab: bakteri yang mengakibatkan busuk lunak pada tanaman sewaktu
masih di kebun hingga pasca panen dan dalam penyimpanan. Gejala: (1) luka
pada pangkal bunga yang hampir siap panen; (2) luka akar tanaman scara
mekanis, serangga atau organisme lain; (3) luka saat panen; (4) penanganan
atau pengepakan yang kurang baik. Pengendalian: (1) Pra panen:
membersihkan sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan ditanami; menghindari
kerusakan tanaman oleh serangga pengerek atau sewaktu pemeliharaan
tanaman; menghindari bertanam kubis-kubisan pada musim hujan di daerah
basis penyakit busuk lunak. (2) Pasca panen: menghindari luka mekanis atau
gigitan serangga menjelang panen; menyimpan hasil panen dalam keadaan
kering, atau kalau dicuci dengan air bersih, harus dikeringkan terlebih dahulu
sebelum disimpan; berhati-hati dalam membawa atau mengangkut hasil panen
ketempat penyimpanan untuk mencegah luka atau memar; menyimpan hasil
ditempat sejuk dan mempunyai sirkulasi udara baik.

c) Akar bengkak atau akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.)


Penyebab: cendawan Plasmodiophora brassicae. Gejala: (1) pada siang hari
atau cuaca panas, tanaman tampak, tetapi pada malam atau pagi hari daun
tampak segar kembali; (2) pertumbuhan terlambat, tanaman kerdil dan tidak
mampu membentuk bunga bahkan dapat mati; (3) akar bengkak dan terjadi

29
bercak-bercak hitam. Pengendalian: (1) memberi perlakuan pada benih
seperti poin penyiapan benih; (2) menyemai benih di tempat yang bebas
wabah penyakit; (3) melakukan sterilisasi media semai ataupun tanah kebun
dengan Besamid-G 40-60 gram/m2 untuk arel pembibitan atau 60
gram/m2untuk kebun; (4) melakukan pengapuran untuk menaikkan pH; (5)
mencabut tanaman yang terserang penyakit; (6) pergiliran atau rotasi tanaman
dengan jenis yang tidak sefamili

d) Bercak hitam (Alternaria sp.)


Penyebab: cendawan Alternaria brassica dan Alternaria brassicicola. Gejala:
(1) bercak-bercak berwarna coklat muda atau tua bergaris konsentris pada
daun; (2) menyerang akar, pangkal batang, batang maupun bagian lain.
Pengendalian: (1) menanam benih yang sehat; (2) perlakuan benih seperti
pada poin penyiapan benih.

e) Busuk lunak berair


Penyebab: cendawan Sclerotinia scelerotiorumI, menyerang batang dan daun
terutama pada luka-luka tanaman akibat kerusakan mekanis dan dapat
menyebar melalui biji dan spora. Gejala: (1) pertumbuhan terhambat,
membusuk lalu mati; (2) bila menyerang batang, maka daun akan menguning,
layu dan rontok; (3) bila menyerang daun, maka daun akan membusuk dan
berlendir; (4) gejala lain terdapat rumbai-rumbai cendawan yang berwarna
putih dan lama-kelamaan menjadi hitam. Pengendalian: (1) gunakan biji
sehat dan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sejenis. (2)
pemberantasan dengan insektisida.

f) Semai roboh (dumping off)


Penyebab: cendawan Rhizitonia sp. dan Phytium sp. Gejala: (1) bercak-
bercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang
busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang
tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan.
Pengendalian: perlakuan benih sebelum ditanam, sterilisasi media semaian
dan rotasi tanaman dengan jenis selain kubis-kubisan.

g) Penyakit Fisiologis
Penyebab: Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) disebut penyakit
fisiologis. Kekurangan Nitrogen: bunga kecil-kecil seperti kancing atau disebut
“Botoning”. Kelebihan Nitrogen warna bunga kelabu dan berukuran kecil.
Kekurangan Kalium massa bunga tidak kompak (kurang padat) dan ukurannya
mengecil. Kelebihan Kalium tumbuh kerdil dan bunganya kecil. Pengendalian:
dengan pemupukan yang berimbang.

6.2.6. Panen

Ciri dan Umur Panen

Umur masak petik atau panen tanaman kubis tergantung pada varietasnya, berumur
pendek (genjah) dan berumur panjang (dalam). Sebagai contoh:

30
a) Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman.
b) Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman.
c) O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman.
d) Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman.
e) Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman.
f) Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1.2 kg/tanaman.
g) Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1.8-2 kg/tanaman.
h) K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.
i) Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.
j) Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman.

Ciri-ciri kemasakan kubis adalah sebagai berikut:


a) Krop kubis mengeras ditandai dengan cara menekan krop kubis.
b) Daun berwarna hijau mengkilap.
c) Daun paling luar sudah layu.
d) Besar krop kubis telah terlihat maksimal.

Cara Panen

Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis, sehingga krop
kubis terinfeksi patogen dan memudahkan pembusukan. Langkah-langkah dalam
memetik kubis:
a) Pilih kubis yang telah tua dan siap dipetik.
b) Petik kubis dengan menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Pemotongan
dilakukan pada bagian pangkal batang kubis.
c) Urutan pemetikan adalah dimulai dengan kubis yang sehat, kemudian
dilakukan pemetikan pada kubis yang telah terkena infeksi patogen.

Periode Panen

Kubis merupakan tanaman yang dipanen sekaligus, sehingga periode panen sama
dengan periode tanam.

Prakiraan Produksi

Produksi atau produktivitas kubis bergantung pada varietas yang digunakan. Secara
umum, produksi per tanaman dapat mencapai 0,75-4 kg. Produktivitas di daerah
tadah hujan dengan pemeliharaan semi intensif dapat mencapai 25-35 ton per
hektar, dan dengan pemeliharan intensif dapat diperoleh 85 ton per hektar.

6.2.7. Pascapanen

Pengumpulan

Setelah dipetik, kubis dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar
matahari langsung, agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan kubis yang
tinggi kualitas dan kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan
jangan ditumpuk dan dilempar-lempar.

31
Penyortiran dan Penggolongan

Penyortiran untuk memisahkan krop kubis baik dan bermutu dari yang kurang baik
atau rusak, seperti retak, lecet dan kerusakan lainnya.

Penggolongan bertujuan untuk mengolongkan krop ke dalam mutu kelas I, kelas II


dan seterusnya berdasarkan jumlah daun pembungkus krop, keseragaman bentuk,
keseragaman ukuran, kepadatan krop, kadar kotoran maksimum, kecacatan kubis
maksimum dan panjang batang kubis maksimum.
a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai.
b) Homoginetas bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
c) Homogenitas ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
d) Kepadatan krop: mutu I=padat; mutu II=kurang padat.
e) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5%; mutu II=2,5%.
f) Kubis cacat maksimum: mutu I=5%; mutu II=10%.
g) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 cm; mutu II=2,5 cm.

Penyimpanan

Penyimpanan kubis harus memperhatikan varietas kubis, suhu, kelembaban dan


kadar air. Pada suhu 32-35 derajat F dan kelembaban udara 92-95%, kubis dapat
disimpan 4-6 bulan (kubis kadar air tinggi) dan 12 bulan (kubis kadar air rendah)
dengan kehilangan berat sebesar 10%.

Pengemasan dan Pengangkutan

Pengemasan dilakukan dengan plastik polyethylene dan dalam pengangkutan


kemasan perlu dimasukkan ke dalam kotak atau peti kayu (field boxes) dengan
kapasitas 25-30 kg/peti.

VII. Analisis finansial usahatani

• Analisis finansial produksi kubis konsumsi

Secara umum, kubis dapat dikategorikan sebagai tanaman sayuran yang memiliki
karakteristik: membutuhkan masukan tinggi, menghasilkan luaran tinggi dan
mengandung risiko pengusahaan tinggi (a high-input, high-output, high-risk crop).
Respon hasil yang tinggi terhadap masukan, misalnya bibit berkualitas baik, pupuk,
pestisida dan tambahan tenaga kerja, memotivasi petani untuk menggunakan
masukan lebih tinggi pada tanaman kubis dibandingkan dengan tanaman sayuran
lain. Namun demikian, perlu pula diperhatikan bahwa tanaman kubis ini rentan
terhadap serangan hama penyakit, cekaman kelembaban serta perubahan cuaca
ekstrim. Kerentanan tersebut cenderung menyebabkan produksi kubis memiliki
variabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Variabilitas

32
hasil, fluktuasi harga serta biaya input tinggi menyebabkan usahatani kubis
termasuk jenis usaha yang berisiko tinggi.

Komersialisasi usahatani kubis pada dasarnya tercermin dari proporsi hasil panen
yang seluruhnya atau sebagian besar dijual ke pasar. Struktur hubungan harga
pasar yang terbentuk berdasarkan keterkaitan antara petani, surplus hasil dan pasar,
akan sangat berpengaruh terhadap alokasi masukan usahatani. Sebelum memulai
usahatani kubis, sangatlah penting untuk mempertimbangkan berbagai komponen
biaya yang berkaitan erat dengan operasionalisasi usaha. Tabel 14 menunjukkan
contoh komposisi biaya berbagai komponen masukan pada usahatani kubis di salah
satu sentra produksi penting di Indonesia.

Kontribusi komponen input tertinggi diperlihatkan oleh tenaga kerja dan secara
berturut-turut diikuti oleh pestisida, pupuk organik, pupuk buatan dan bibit. Relatif
besarnya komponen biaya pestisida secara tidak langsung mencerminkan masih
tingginya ketergantungan petani terhadap cara pengendalian kimiawi. Pencegahan
dan resiko kegagalan panen merupakan pertimbangan utama yang mendorong petani
melakukan penyemprotan rutin dan bahkan pencampuran pestisida.

Secara teoritis, setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan keuntungan


maksimal dari bidang usaha yang dipilihnya. Keuntungan maksimal ini dapat
diperoleh dengan meminimalkan biaya produksi pada tingkat output tertentu, atau
sebaliknya memaksimalkan ouput pada tingkat biaya produksi tertentu. Selain itu,
keuntungan maksimal juga dapat diperoleh melalui substitusi faktor produksi yang
satu dengan lainnya, sepanjang nilai yang dikeluarkan untuk input pengganti lebih
kecil dibandingkan dengan nilai input yang digantikan (pada tingkat output yang
sama). Pelaku ekonomi akan terus meningkatkan produksinya sepanjang
penerimaan dari setiap unit ouput masih lebih besar dibandingkan dengan biaya
produksinya (Colman and Young, 1989).

Dalam pengambilan keputusan seperti di atas, pelaku ekonomi membutuhkan


indikator kelayakan yang dapat diperoleh dari analisis biaya dan pendapatan (ABP).
ABP dapat mencerminkan perencanaan fisik dan finansial operasionalisasi suatu
usahatani pada periode waktu tertentu. ABP merupakan teknik sederhana yang
paling banyak digunakan dalam analisis ekonomi untuk membantu pengelola dalam
mengambil keputusan usahatani yang dapat memaksimalkan keuntungan (Dillon &
Hardaker, 1980).

Informasi input-output yang dihimpun pada Tabel 14 menunjukkan bahwa nisbah


benefit/biaya > 0 (indikasi bahwa usahatani tersebut memperoleh keuntungan dan
layak secara finansial). Namun demikian, indikator tersebut perlu diinterpretasikan
secara hati-hati, karena besaran nisbah penerimaan/biaya sangat sensitif terhadap
perubahan harga (terutama harga luaran). Fluktuasi harga kubis seringkali mengha-
dapkan petani pada tingkat harga di bawah titik impas, sehingga peluang mengalami
kerugian yang secara eksplisit tidak tergambarkan pada Tabel 14 sebenarnya juga
cukup tinggi.

33
Tabel 14 Contoh kasus biaya produksi dan pendapatan usahatani kubis per hektar

Pangalengan, Jawa Barat, 2004


Uraian
Jumlah Nilai %
(Rp. 000)
A. Sarana Produksi 60.53

Bibit 32 738 tan 1 893 9.74


Pupuk Organik 16 785 kg 3 161 16.27
Pupuk Buatan 12.44
• NPK 785 kg 1 257
• UREA 357 kg 393
• PONSKA 357 kg 571
• KNO3 5 kg 27
• PROGIB 7 kg 143
• SUPERGRO 2 kg 26

Pestisida 22.09
• Insektisida 57,44 l 3 875
• Fungisida 10,71 kg 418

B. Tenaga Kerja 26.24

• Mencangkul 35,71 hok 268


• Membuang rumput 31,90 hok 239
• Membuat garitan 9,28 hok 70
• Membuat lubang tanam 22,38 hok 168
• Angkut & pasang ppk.kandang 39,76 hok 298
• Menimbun pupuk 12,85 hok 96
• Tanam 30,47 hok 228
• Menyulam 3,57 hok 27
• Melakukan pengobatan 76,19 hok 571
• Pasang ppk.susulan 70,99 hok 532
• Menimbun tanaman 48,80 hok 366
• Menyiram 142,86 hok 1 071
• Melakukan pemanenan 155,36 hok 1 165

C. Lain-lain 13.23

Sewa lahan 2 500


Perekat 3,60 l 71

Biaya Total 19 434 100,00

• Harga (Rp/kg) 512,50


• Produktivitas (kg/ha) 48 000

Penerimaan Total 24 600


Keuntungan Bersih 5 166
R/C 1.266
B/C 0.266
Titik Impas Harga (produktivitas konstan/tetap) (Rp/kg) 404.875
Titik Impas Produksi (harga konstan/tetap) (kg/ha) 37 920

34
• Analisis finansial produksi semaian kubis di rumah plastik

Data yang digunakan dalam analisis finansial ini merupakan data yang diperoleh dari
studi kasus usaha semaian kubis di Dieng, Wonosobo pada tahun 2003. Beberapa
tabel yang disajikan secara bertahap menunjukkan langkah-langkah yang ditempuh
untuk menghitung Rasio Manfaat Biaya (Benefit Cost Ratio), Nilai Bersih Saat Ini
(Net Present Value) dan Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return).

A. Investasi dan Modal Kerja

1 Investasi
• Rumah kasa/plastik
• Kerangka besi/metal 1 200 000
• Plastik UV 360 000
• Net 1 dan net 2 (paranet) 830 000
• Tenaga kerja 100 000
• Lain-lain 279 600
Sub total 2 769 600
2 Modal Kerja
• Sewa tanah 5 x 36 000 180 000
• Kotak tempat semaian 5 x 150 000 750 000
• Rak bambu 2 x 120 000 240 000
• Pengawas/Supervisor 5 x 12 x 50 000 3 000 000
Sub total 4 170 000
Total 6 939 600

B. Sumber Pendanaan

1 Pinjaman/kredit dari Bank dengan tingkat bunga 10% 2 000 000


2 Dana sendiri/kelompok 4 939 600
Total 6 939 600

C. Production Plan

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5


Semaian (tanaman) 140 000
Harga jual (Rp.) 25
Nilai (Rp.) 3 500 000
Semaian (tanaman) 150 000
Harga jual (Rp.) 30
Nilai (Rp.) 4 500 000
Semaian (tanaman) 160 000
Harga jual (Rp.) 35
Nilai (Rp.) 5 600 000
Semaian (tanaman) 170 000
Harga jual (Rp.) 40
Nilai (Rp.) 6 800 000
Semaian (tanaman) 180 000
Harga jual (Rp.) 45
Nilai (Rp.) 8 100 000

35
D. Biaya Produksi

Biaya Variabel

Tahun Benih Input Lain Tenaga Kerja Sub total


(Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)

1 1 600 000 130 000 500 000 2 230 000


2 1 714 286 150 000 550 000 2 414 286
3 1 828 571 170 000 600 000 2 598 571
4 1 942 857 190 000 650 000 2 782 857
5 2 057 143 210 000 700 000 2 967 143
Total 12 992 857

Biaya Tetap

Tahun Pemeliharaan Lain-lain Total


(fasilitas dan peralatan) (Rp.) (Rp.) (Rp.)

1–5 732 500 500 000 1 232 500

E. Analisis Finansial

Anggaran Implementasi

Sumber Pendanaan Penggunaan/Pemanfaatan

1. Pinjaman Rp. 2 000 000 • Rumah kasa/plastik Rp. 2 769 600


o Kerangka besi, plastik UV, net
1 & 2, tenaga kerja dan lain-
lain
2. Kelompok Rp. 4 939 600 • Modal kerja Rp. 4 170 000
• Sewa tanah, kotak tempat
semaian, rak bambu dan
pengawas/supervisor

Total Rp. 6 939 Total Rp. 6 939 600


600

Pembayaran kembali pinjaman dan bunga

Tahun Pokok (Principal) Cicilan Tahunan Bunga (10%/year)

1 2 000 000 400 000 200 000


2 1 600 000 400 000 160 000
3 1 200 000 400 000 120 000
4 800 000 400 000 80 000
5 400 000 400 000 40 000

36
Keragaan Laba/Rugi

No Tahun

1 2 3 4 5

A Penerimaan

Semaian 140 000 150 000 160 000 170 000 180 000

Harga jual (Rp.) 25 30 35 40 45

Nilai (Rp.) 3 500 000 4 500 000 5 600 000 6 800 000 8 100 000

Penerimaan Total 3 500 000 4 500 000 5 600 000 6 800 000 8 100 000

B Biaya Operasional

Biaya tetap

• Pengawas 600 000 600 000 600 000 600 000 600 000
• Sewa lahan 36 000 36 000 36 000 36 000 36 000
• Kotak semaian 150 000 150 000 150 000 150 000 150 000
• Rak bambu 120 000 120 000
• Pemeliharaan 146 500 146 500 146 500 146 500 146 500
• Lain-lain 100 000 100 000 100 000 100 000 100 000

Biaya variabel

• Benih 1 600 000 1 714 286 1 828 571 1 942 857 2 057 143
• Input lain 130 000 150 000 170 000 190 000 210 000
• Tenaga kerja 500 000 550 000 600 000 650 000 700 000
• Bunga (10%) 200 000 160 000 120 000 80 000 40 000

Biaya Operasional 3 582 500 3 606 786 3 751 071 4 015 357 4 039 643
Total

C Kentungan/Benefit - 82 500 893 214 1 848 929 2 784 643 4 060 357

D Pajak (20%) 0 178 643 369 786 556 929 812 071

E Keuntungan bersih - 82 500 714 571 1 479 143 2 227 714 3 248 286

37
Analisis Manfaat/Biaya

No Tahun

1 2 3 4 5

A Penerimaan

Semaian 140 000 150 000 160 000 170 000 180 000

Harga jual (Rp.) 25 30 35 40 45

Nilai (Rp.) 3 500 000 4 500 000 5 600 000 6 800 000 8 100 000

Penerimaan Total 3 500 000 4 500 000 5 600 000 6 800 000 8 100 000

B Biaya

Investasi 2 769 600

Biaya tetap
• Pengawas 600 000 600 000 600 000 600 000 600 000
• Sewa lahan 36 000 36 000 36 000 36 000 36 000
• Kotak semaian 150 000 150 000 150 000 150 000 150 000
• Rak bambu 120 000 120 000
• Pemeliharaan 146 500 146 500 146 500 146 500 146 500
• Lain-lain 100 000 100 000 100 000 100 000 100 000

Biaya variabel
• Benih 1 600 000 1 714 286 1 828 571 1 942 857 2 057 143
• Input lain 130 000 150 000 170 000 190 000 210 000
• Tenaga kerja 500 000 550 000 600 000 650 000 700 000
• Bunga (10%) 200 000 160 000 120 000 80 000 40 000

Cicilan Pokok 400 000 400 000 400 000 400 000 400 000

Biaya Total 6 752 100 4 006 786 4 151 071 4 415 357 4 439 643

C Keuntungan - 3 252 100 493 214 1 448 929 2 384 643 3 660 357

D Pajak (20%) 0 98 643 289 786 476 929 732 071

E Keuntungan Bersih - 3 252 100 394 571 1 159 143 1 907 714 2 928 286

38
F. NPV pada DF (10%), (15%), (20%) dan (30%)

Thn Penerimaan Biaya Pajak Keunt. DF=10% NPV pd Keunt. Biaya


Bersih DF=10% Didiskon Didiskon

(1) (2) (3) (4) = (5) (6) = (7) = (8) =


(1)-(2)-(3) (4) x (5) (1) x (5) (2+3)x(5)

1 3 500 000 6 752 100 0 - 3 252 100 0.909 - 2 956 3 181 500 6 137 659
159
2 4 500 000 4 006 786 98 643 394 571 0.826 325 916 3 717 000 3 391 084

3 5 600 000 4 151 071 289 786 1 159 143 0.751 870 516 4 205 600 3 335 084

4 6 800 000 4 415 357 476 929 1 907 714 0.683 1 302 969 4 644 400 3 341 431

5 8 100 000 4 439 643 732 071 2 928 286 0.621 1 818 466 5 030 100 3 211 634

1 361 708 20 778 19 416


600 892

Thn DF=15% NPV pd DF=20% NPV pd DF=30% NPV pd


DF=15% DF=20% DF=30%

(9) (10)=(4)x(10) (11) (12)=(4)x(11) (13) (14)=(4)x(13)

1 0.870 - 2 829 327 0.833 - 2 708 999 0.769 - 2 500 865

2 0.756 298 296 0.694 273 832 0.592 233 586

3 0.658 762 716 0.579 671 144 0.455 527 410

4 0.572 1 091 212 0.482 919 518 0.350 667 700

5 0.497 1 455 358 0.402 1 177 171 0.269 787 709

778 255 332 666 - 284 460

Beberapa temuan dari hasil analisis:

• Metode penghitungan NPV menggunakan biaya oportunitas modal sebagai


tingkat diskon. Oleh karena itu, aliran tunai operasional diasumsikan
diinvestasikan kembali pada tingkat diskon yang sama dengan biaya modal (pre-
specified). NPV biasa digunakan untuk menaksir kelayakan usaha. Suatu jenis
usaha dinilai layak jika NPVnya sama dengan atau lebih besar dari nol. Namun
demikian, besaran NPV ini harus didiskon pada tingkat biaya oportunitas modal
yang layak. Dalam kasus ini, NPV pada DF(10%) sama dengan 1 361 708
(positif). Hal ini mengimplikasikan bahwa keuntungan bersih yang akan diterima
pada lima tahun ke depan sebesar Rp. Rp. 3 137 614 nilainya sekarang adalah
sebesar 1 361 708 dengan mengasumsikan tingkat bunga sebesar 10% per

39
tahun selama lima tahun. Oleh karena NPV lebih besar daripada nol, maka opsi
usahatani semaian kubis ini secara finansial dapat diterima atau layak.
• Kelayakan suatu jenis usaha akan mengacu pada adanya insentif finansial atau
motif keuntungan (penerimaan harus melebihi biaya). B/C ratio adalah
perbandingan antara semua penambahan keuntungan dan biaya tahunan yang
didiskon dari suatu jenis usaha. Besaran ini mengekspresikan keuntungan yang
diperoleh dari suatu jenis usaha per unit biaya usaha tersebut dalam nilai
sekarang. Suatu usaha yang tidak dapat membayar tingkat bunga, akan
mendorong B/C ratio kurang dari satu, karena pengembalian (returns) yang
dihasilkan tidak dapat menutupi biaya awal (nilai sekarang dari biaya akan
melebihi nilai sekarang dari keuntungan). Hasil analisis menunjukkan bahwa B/C
= 20 778 600/19 416 892 = 1.07 > 1. Hal ini mengimplikasikan bahwa opsi
proyek ini dikategorikan layak dan direkomendasikan sebagai proyek “go”.

• IRR (internal rate of return) adalah tingkat pinjaman maksimal atau tingkat
bunga maksimal yang dapat dibayarkan oleh suatu jenis usaha untuk menutupi
semua investasi dan biaya operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa IRR
untuk usahatani semaian kubis adalah:
IRR = 20% + [(332 666)/{(332 666) – (-284 460)}] [30% - 20%]
= 20% + [(332 666/617 126)] [10%]
= 20% + 5.59%
= 25.59%
Hal ini berarti bahwa jika biaya modal dari usaha di atas dibiayai dari pinjaman
dengan tingkat bunga sampai 25% (tingkat bunga aktual yang digunakan dalam
analisis diasumsikan 10% per tahun), maka usaha ini masih dapat memperoleh
cukup penerimaan untuk membayar pinjaman dan bunganya. Evaluasi finansial
memberikan indikasi bahwa opsi usahatani semaian kubis dapat dikategorikan
layak dan direkomendasikan sebagai proyek “go”.

VIII. Perkembangan penelitian

Pemuliaan

Penelitian pemuliaan dan plasma nutfah kubis periode 1980-2000 yang telah
dipublikasikan berjumlah 12 artikel, yang terdiri dari 5 artikel tentang hibridisasi dan
seleksi, 4 artikel tentang uji daya hasil pendahuluan dan lanjutan, 1 artikel tentang
uji adaptasi dan multilokasi, 1 artikel tentang uji resistensi genotip kubis terhadap
hama Plutella xylostella dan 1 artikel tentang perbenihan kubis.

Cakupan topik penelitian pemuliaan kubis dapat dilihat pada Tabel 15 dengan
penjelasan singkat sebagai berikut :

40
Tabel 15 Topik, varietas, asal, agroekosistem dan penerbit makalah penelitian pemuliaan dan
plasma nutfah tanaman kubis periode 1980-2000.

No Topik/Judul penelitian Jml. Varietas Asal Agro- Penerbit


artikel eko-
sistem
A. Hibridisasi dan seleksi 4

1. Pengaruh zat pengatur 1 KR Impor DT J.Hort.


tumbuh terhadap 5(3):16-
perakaran, pertumbuhan 19.1995
dan hasil krop stek tunas.

2. Pengamatan pendahuluan 1 F2 KK cross, F2 F1 DT Bull.Penel.Hort


segregat F2 KK cross, KY KY cross, F2 Gloria impor VolX.No.1.
cros dan Gloria Osena Osena F2 1983.
Balai

3. Pengujian beberapa 1 Gloria Osena, Import DT Bull.Penel.Hort


varietas kubis di Lembang Konstanta, King hybrid, Vol.XI.No.3.19
NS cross, Titan, 84
Dutchman,
Fukamidori,Ursa,Dece
ma, Predena

4. Penentuan daya ketidak- 1 Pujon, Yoshin Lokal DT Bull.Penel.Hort


mampuan menyerbuk Vol.XVI.No.3
sendiri pada kubis semusim 1988
pujon dan yoshin

5 Percobaan pendahuluan 1 Yoshin dan Pujon Lokal DT Bull.Penel.Hort


kultur anthera 2 kultivar Vol.XXIII.No.4.
kubis Yoshin dan Pujon 1992.

B. Uji Daya Hasil 4


Pendahuluan/ Lanjutan

1. Pengujian daya hasil 1 Anosha, TS cross, Bld., DT Bull.Penel.Hort


varietas kubis asal YT cross, YK cross, Den., Vol.XVI.No.1.1
introduksi Krauprinttz, Histona, Jpg., 988
Ones, Gloria Ocena, Lbg.
KK cross, KY cross,
Hy85-85, Hy85-56,
Hy85-57, Hy85-58,..….
73

2. Evaluasi daya hasil dan 1 16 varietas hibrida, 2 - DT Bull.Penel.Hort


kualitas varietas hibrida varietas OP, 5 galur Vol.XXIII.No.3.
kubis semusim produksi tetua, F1-KK cross, F1- 1992.
Lembang di dataran tinggi Green Coronet, F1-
Gloria Osena

3. Introduksi beberapa 1 Green Coronet, Rare - DT Bull.Penel.Hort


varietas kubis kualitas Ball, KR-1, Victory, YR Vol.XXVII.No.3
ekspor Natubare, Grand 11, 1995.
Rare 8004

4. Pengujian varietas kubis 1 KR-1, Summer Autum - DT Jurnal


introduksi yang sesuai 633, N.4962, Summit Hortikultura
untuk ekspor 637 5(1):102-105.
1995.

41
C. Uji adaptasi/ 1
multilokasi

1. Evaluasi pertumbuhan dan 1 Mancanta, Green Baru, - DT dan J.Hort.


daya hasil sepuluh genotip Cheers, Constanza, DM 7(4):864-869.
kubis di dataran tinggi dan Irodori, Summer 1998.
medium Autumn, KA#128,
Spring Light, KR#1

D. Uji resistensi genotip 1


kubis terhadap
hama/penyakit

1. Resistensi tanaman krusifer 1 20 jenis kubis putih, - DT Bull.Penel.Hort


terhadap hama ulat daun kubis merah, kubis Vol.XV.No.1.19
kubis, Plutella xylostella bunga, brokoli, petsai, 87
caisim, lobak

E. Perbenihan kubis 1

1. Pengaruh konsentrasi 1 KK cross - DT Bull.Penel.Hort


garam NaCl terhadap daya Vol.XI.No.2.19
kecambah dan vigor benih 84.
kubis

A. Hibridisasi dan seleksi (5 artikel)

1. Pengamatan pendahuluan segregat F2 kubis KK cross, KY cross dan Gloria


Osena menunjukkan 14-20 % segregat menyerupai F1, lebih lanjut 67 %
segregat F2 Gloria Osena menyerupai kubis merah.
2. Penggunaan hormon NAA dengan dosis 100 ppm dapat meningkatkan jumlah
dan panjang akar stek tunas kubis. Penggunaan Rootone F baik untuk
pembibitan kubis asal stek tunas. Bibit dari stek tunas dapat menghasilkan
krop dengan berat 0,9-1,2 kg/tanaman.
3. Pengujian beberapa varietas kubis di Lembang menunjukkan varietas Gloria
Osena memberikan hasil tertinggi dan kualitas terbaik, sehingga dapat
memenuhi selera petani dan pasar.
4. Penentuan daya ketidakmampuan menyerbuk sendiri pada kubis semusim
Pujon dan Yoshin menunjukkan sifat SI pada tanaman kubis dikendalikan oleh
suatu seri allel S yang terletak pada satu lokus dan diatur secara sporofitis.
Pada galur S6 kubis semusim Pujon dan Yoshin tidak menunjukkan adanya
sifat SI (self incompatible), melainkan SC (self compatible).
5. Percobaan pendahuluan kultur anthera 2 kultivar kubis Yoshin dan Pujon
menunjukkan persentase tertinggi kultur anthera berkembang membentuk
kalus didapat pada media MS ditambah 2,4 D 0,15 mg/l dan NAA 0,15 mg/l .

B. Uji Daya Hasil Pendahuluan/Lanjutan (4 artikel)

1. Pengujian daya hasil varietas kubis asal introduksi menunjukkan Gloria Osena,
KK cross, Histona, Krautprinz, TS cross, Anosha dan TK cross memberikan
hasil tinggi dan kualitas krop yang baik.

42
2. Empat hibrida kubis semusim masing-masing F1 99-11,-12,-13 dan-23
memiliki berat tanaman yang seimbang dengan Gloria Osena, kepadatan krop
hibrida kubis semusim masih lebih rendah dibandingkan kubis dwi musim.

3. Introduksi varietas kubis kualitas ekspor menunjukkan varietas Green Coronet


dan KR-1 memberikan hasil tertinggi 107 kg/plot dan kekerasan krop Green
Coronet 0,27 lb/mm2.

4. Pengujian varietas kubis introduksi yang sesuai untuk ekspor di dataran tinggi
Berastagi menunjukkan varietas Summit 637 memberikan hasil tertinggi dan
mutu terbaik.

C. Uji adaptasi/Multilokasi (1 artikel)

1. Evaluasi pertumbuhan dan daya hasil sepuluh genotip kubis di dataran tinggi
dan medium menunjukkan Early Green introduksi asal Belanda dapat
beradaptasi di dataran tinggi dengan hasil krop tertinggi dan umur genjah.
Sedangkan untuk dataran medium terpilih Green Baru introduksi asal Jepang.

D. Uji Resistensi Genotip Kubis terhadap Hama/Penyakit (1 artikel)

1. Resistensi tanaman krusifer terhadap hama ulat daun kubis (Plutella


xylostella) menunjukkan Rotan F1 (kubis putih), Marner Rocco (kubis
merah) dan Cirateun (kubis bunga) resisten terhadap P. xylostella

Beberapa catatan umum yang dapat disimpulkan dari kegiatan penelitian pemuliaan
dan plasma nutfah kubis, adalah sebagai berikut:

2. Kubis (Brassica oleracea var. capitata) adalah tanaman dwi musim.


Secara alamiah kubis tidak dapat berbunga di daerah tropik termasuk di
Indonesia. Oleh sebab itu sampai saat ini benih kubis belum dapat diproduksi
di dalam negeri, sehingga benih harus diimpor dari luar negeri.
3. Usaha untuk merangsang kubis dwi musim berbunga dan membentuk biji
ternyata belum berhasil. Benih kubis asal vernalisasi mengalami segregasi
yang sangat besar dan terjadi penurunan hasil dan kualitas. Oleh karena itu,
sering dilakukan perbanyakan vegetatif untuk mendapatkan genotip yang
sama dengan induknya.
4. Luas area penanaman kubis berkisar 50.000 ha per tahun dan 90% ditanam
di dataran tinggi, sedangkan sisanya 10% ditanam di dataran medium dan
rendah.
5. Kebutuhan benih kubis diperkirakan 6 ton setiap tahun dan 95% merupakan
benih impor berupa kubis hibrida dwi musim.
6. Varietas RVE#37 pernah menjadi varietas unggulan, tetapi ternyata varietas
ini peka terhadap penyakit busuk hitam Xanthomonas campestris sehingga
ditinggalkan petani.

43
7. Varietas hibrida KK cross dan KY cross dari Jepang muncul kemudian, namun
kurang memenuhi selera petani karena bentuk kropnya gepeng dan kurang
kompak sehingga mudah pecah.
8. Varietas hibrida Gloria Osena dari Denmark pernah populer dan memenuhi
selera petani dan pasar, karena bentuk kropnya bulat dan sangat kompak;
tetapi ternyata varietas ini peka terhadap penyakit Club Root.
9. Saat ini varietas hibrida Green Coronet paling banyak ditanam petani dan
memenuhi selera pasar.

Agronomi

Sebaran topik, varietas, ekosistem dan hasil pada penelitian agronomi selama kurun
waktu 1980-2003 disajikan pada Tabel 16. Beberapa catatan umum yang dapat
ditarik dari Tabel 16 adalah:
h Topik penelitian didominasi oleh pemupukan sekitar 70%
h Jenis kultivar yang dominan digunakan adalah Gloria Osena
h Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis 90% dilaksanakan di
dataran tinggi, sisanya di dataran rendah

Tabel 16 Topik, jumlah artikel, hasil penelitian agronomi, 1980 - 2003

No. Topik Jumlah Varietas Ekosistem Hasil


Artikel
1. Aplikasi Pupuk N 4

Gloria Dataran Pemakaian pupuk Urea, ZA, Amonium


osena tinggi Nitrat dan Calcium Amonium Nitrat
sebagai sumber N tidak mempengaruhi
pertumbuhan dan hasil kubis

(Bul. Penel. Hort. 17 (1), 1988: 1-4)

KK Cross, Dataran KK Cross mempunyai daya adaptasi


KY Cross rendah dan hasil yang lebih tinggi

100 kg N/ha cukup memadai untuk


menghasilkan kubis di dat. Rendah

pemberian mulsa tidak meningkatkan


hasil dan kualitas hasil kubis

(Bul. Penel. Hort.17 (3), 1989: 99-107)

KK Cross Dataran Aplikasi mulsa meningkatkan


rendah pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil
kubis

Waktu pemupukan N (200 kg/ha) 2


kali (14 hst + 28 hst) menghasilkan
pertumbuhan dan bobot kubis per
tanaman tertinggi daripada waktu

44
pemupukan 4 kali, 2 kali (saat tanam +
14 hst) maupun sekaligus ( saat tanam
/14 hst)

(Bul. Penel. Hort.17 (3), 1989: 53-62)

Green Dataran 100 kg Urea/ha dan 125 kg ZA/ha


Coronet tinggi yang diberikan setengahnya satu hari
sebelum tanam dan setengahnya umur
30 hst menunjukkan efisiensi tertinggi
pada bobot kubis per tanaman dan per
plot (161,02 kg atau + 45,99 t/ha)

(Bul. Penel. Hort.27 (2), 1995: 17-27)

2. Pemupukan P dan K 3

Green Dataran Pemberian pupuk P (100-200 kg P2O5/


Coronet tinggi ha) dan pupuk K (100-200 kg K2O/ha
meningkatkan pertumbuhan dan bobot
krop per tanaman dan per plot

(Bul. Penel. Hort 24 (1), 1992: 129-


140)

Green Dataran Hasil kubis tertinggi diperoleh pada


Coronet tinggi perlakuan 250 kg P2O5/ha dan 1250 kg
dolomit/ha

(Bul. Penel. Hort 26 (2), 1994: 15-24)

KK-Cross Dataran 100 kg P2O5/ha adalah dosis terbaik


rendah
Jerami padi merupakan mulsa yang
paling cocok untuk tanaman kubis di
dataran rendah

(Bul. Penel. Hort 27 (1): 1-11)

3 Aplikasi pupuk NPK 3

Gloria Dataran Peningkatan dosis pupuk N lebih dari


Osena, tinggi 100 kg/ha tidak menaikkan
Konstanta pertumbuhan dan hasil kubis pada
tingkat P dan K 100 kg/ha

Pada tingkat dosis 200 kg /ha P dan K,


peningkatan dosis N meningkatkan
pertumbuhan dan hasil kubis

(Bul. Penel. Hort. 9 (5), 1982: 25-32)

Gloria Dataran Pupuk nitrofosfat dengan dosis 125


Osena tinggi dan 150 kg/ha menghasilkan bobot
krop lebih tinggi daripada 100 kg/ha

Pupuk nitrofosfat (14-9-20) dan (15-


15-15) nyata meningkatkan bobot krop
kubis dibandingkan macam pupuk
nitrofosfat lainnya

(Bul. Penel. Hort. 25 (4), 1993:15-21)

45
Green Dataran Dosis NPK 1250 kg/ha dengan cara
Coronet tinggi aplikasi pupuk dibenamkan
menghasilkan bobot dan diameter krop
kubis tertinggi

(Bul. Penel. Hort. 25 (4), 1993:108-


118)

4. Pupuk Daun dan Zat 2


Pengatur Tumbuh

Gloria Dataran Pemberian Wokozim dosis 300 ml/ha


Ocena tinggi dengan aplikasi sekaligus (umur 25
hst) meningkatkan pertumbuhan, laju
pertumbuhan dan bobot bersih kubis

(Bul. Penel. Hort. 19 (!), 1990: 55-66)

KR Dataran Penggunaan 100 ppm NAA dapat


tinggi meningkatkan jumlah dan panjang
akar stek tunas kubis

Penggunaan Rootone F cukup baik


untuk pembibitan kubis asal stek tunas
dilihat dari persentase tumbuh, jumlah
dan panjang akar serta berat krop

(J. Hort. 5 (3), 1995: 16-19)

5. Aplikasi Pupuk Organik 8

Gloria Dataran Aplikasi kompos jagung 30 t/ha dan


Osena tinggi kompos jerami 15 t/ha dapat
meningkatkan bobot bersih kubis per
hektar

(Bul. Penel. Hort 27 (4), 1989: 80-91)

Gloria Dataran Penggunaan pupuk kandang sapi


osena tinggi dapat digantikan dengan kompos
jagung atau kompos jerami pada dosis
20 t/ha.

Tanpa aplikasi pupuk organik hasil


kubis sangat rendah.

(Bul. Penel. Hort. 16 (4), 1988: 37-41)

Gloria Dataran Penambahan pupuk P dan dolomit


osena tinggi dalam kompos jagung hanya
meningkatkan pertumbuhan vegetatif ,
sedangkan dalam kompos jerami padi
nyata meningkatkan pertumbuhan dan
hasil kubis. Namun hasil tertinggi
terjadi pada perlakuan kompos padi +
P

(Bul. Penel. Hort. 16 (2), 1988:74-79)

Gloria Dataran Pemakaian pupuk sari humus pada


osena tinggi dosis 7,5 l/ha yang diaplikasikan
melalui tanah seminggu sebelum
tanam nyata meningkatkan hasil kubis

46
bersih dengan kenaikan hasil sebesar
24,18%

(Bul. Penel. Hort. 15 (2), 1987: 213-


218)

Gloria Dataran Aplikasi kompos jagung 30 t/ha dan


osena tinggi kompos jerami 15 t/ha dapat
meningkatkan bobot bersih kubis per
hektar

(Bul. Penel. Hort. 15 (1), 1987: 6-17)

- Dataran Pemberian pupuk kandang ayam (10


tinggi t/ha) dan sapi (40 t/ha) mampu
memproduksi kubis rata-rata 1,8
kg/tanaman atau + 54 t/ha

Pupuk kandang ayam, sapi, kambing


dan kuda dibutuhkan dalam budidaya
kubis untuk mempertahankan produksi
31-55t/ha

(Bul. Penel. Hort. 26 (3), 1994: 37-42)

KY, KR, Dataran Pupuk organik hanya berpengaruh


Marcanta tinggi nyata terhadap pertumbuhan,
sedangkan terhadap mutu dan
produksi tidak berpengaruh

(J. Hort. 23 (2), 1992: 127-133

KR-1 Dataran 5 g OST + 16 g NPK memberikan hasil


tinggi kubis yang cukup memadai dan dapat
menghemat 75% pemakaian pupuk
kandang

(Bul. Penel. Hort. 27 (3), 1995: 31-37)

6. Penggunaan dolomit 1

Gloria Dataran Pemberian dolomit dengan cara


Osena tinggi setempat dan diaduk rata di sekitar
lubang tanam dengan dosis 2,25 t/ha
memberikan pertumbuhan dan hasil
yang baik pada kubis

(Bul. Penel. Hort. 27 (1), 1994: 27-34)

7. Pola Tanam 3

KR-1 Dataran Hasil krop kubis tidak dipengaruhi oleh


tinggi tanaman tumpangsari (kentang, ercis,
tomat, bawang prei, bawang putih,
dan petsai)

Kombinasi kubis + petsai dan kubis +


ercis memberikan keuntungan terbesar
dengan nisbah R/C masing-masing
1,21 dan 1,16

(J. Hort. 6 (3), 1996: 255 – 262)

47
Gloria Dataran Tumpangsari kubis dengan ercis atau
Ocena tinggi kentang menghasilkan produk kubis
yang tidak berbeda nyata dengan
monokropnya

Pendapatan bersih perlakuan


monokrop kubis baris tunggal, baris
ganda serta tumpangsarinya dengan
ercis dan kentang masing-masing
adalah Rp 10.747,21; Rp 10.547,21;
Rp. 8.733,10 dan Rp 13.809,97 per
15,36 m2

(J. Hort. 4 (2), 1992: 66-72)

Gloria Dataran Tumpangsari tomat, ercis dan kubis


Ocena tinggi meningkatkan hasil tomat, ercis dan
kubis per tanaman masing-masing
sebesar 17,34%, 12,51% dan 26,56%
jika ditanam selang satu baris

Produktivitas lahan meningkat sebesar


74% pada sistem tumpangsari tomat,
ercis dan kubis yang ditanam di dalam
satu baris

(Bul. Penel. Hort. 22 (3), 1992: 38-44)

8. Konservasi Tanah 2
Gloria
Dataran Bedengan memotong lereng atau
Ocena
tinggi searah kontur berpengaruh nyata
dalam menekan erosi dan kehilangan
hara (C organik, N, P dan K) tanah,
tetapi tidak memberilkan hasil panen
kubis yang berbeda nyata dengan
bedengan searah lereng.

Pemberian mulsa plastik pada


tanaman kubis monokrop mampu
menekan erosi dan kehilangan hara
tanah (C organik, N, P dan K),
meningkatkan pertumbuhan dan hasil
kubis. Sedangkan pemberian mulsa
organik cenderung meningkatkan
serangan penyakit bengkak akar pada
tanaman kubis

(LHP Balitsa 2001)

Gloria Dataran cara pengolahan tanah barisan tidak


Osena tinggi menunjukkan sifat kimia, biologi dan
fisik yang lebih baik daripada cara
pengolahan tanah konvensional. Cara
pengolahan tanah tidak berpengaruh
nyata terhadap pertumbuhan tanaman
dan hasil kubis, kecuali terhadap bobot
segar tanaman.
Tanaman penutup tanah dari jenis
tanaman kacang-kacangan mening-
katkan sifat kimia (C organik, P total
tanah) dan sifat biologi (mikroba
tanah) serta pertumbuhan dan hasil

48
kubis.

(LHP Balitsa 2002)

9. Pengendalian Gulma 3

Gloria Dataran Pengendalian gulma dengan aplikasi


Osena tinggi herbisida Goal 2 E yang diberikan
secara pre-emergence (pra tumbuh)
dan post-emergence (setelah tumbuh)
mampu menekan gulma sampai 24%
sampai 56,93%.

Goal dengan dosis 1,00 l/ha sebelum


tanam menghasilkan produk kubis
tertinggi (69,7 kg/30 m2)

(Bul. Penel. Hort. 12 (2), 1985:20-26)

Gloria Dataran Penyiangan gulma dua kali (21 dan 42


Osena tinggi hst kubis) lebih efektif dibanding
dengan pemberian herbisida

Herbisida Gesaprim hanya efektif


menekan pertumbuhan gulma jenis
daun lebar dan rerumputan sampai
umur 21 hst dan menyebabkan tingkat
keracunan yang tinggi pada tanaman
kubis

(Bul. Penel. Hort. 27 (1), 1994: 41-47)

Green Dataran Sepuluh jenis dari 45 jenis gulma yang


Coronet tinggi terdapat pada komunitas kubis-tomat
yang penting adalah Alternanthera
philoxeroides, Drymaria cordata,
Galinsoga parviflora, Portulaca
oleracea, Polygonum nepalense,
Richardia brasiliensis, Eleusine indica,
Panicum repens, Axonopus compressus
dan Cyperus rotundus

Sistem tumpangsari kubis-tomat dapat


menekan populasi gulma mulai umur 9
minggu setelah tanam

Hasil panen kubis tertinggi (1,7


kg/tan.) diperoleh pada sistem kubis-
tomat yang tidak dilakukan
penyiangan, sedangkan terendah pada
sistem monokultur dengan penyiangan

(Bul. Penel. Hort. 27 (4), 1995: 93-


102)

Tanggapan umum terhadap hasil-hasil penelitian agronomi kubis adalah sebagai


berikut:

49
1. Hasil penelitian pemupukan masih terbatas pada jenis tanah tertentu dengan
hanya mencari sumber dan dosis pupuk yang terbaik dalam peningkatan hasil
kubis. Umumnya tidak ada pengujian nilai data tanah yang menyebabkan
tidak adanya kajian yang akurat antara hubungan nilai data tanah dengan
dosis aplikasi hara yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimum.
Perlu dikembangkan penelitian yang komprehensif yang meliputi respon
tanaman terhadap berbagai tingkat keragaman dan dinamika kesuburan
tanah dengan dosis pupuk yang dibutuhkan, serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya sehingga dapat ditentukan rekomendasi kebutuhan hara
secara akurat.
2. Meskipun penelitian pupuk kandang sudah banyak dilakukan dengan hasil
yang tinggi namun tidak ada hasil yang menunjukkan berapa dosis optimum
yang dibutuhkan tanaman. Penelitian umumnya lebih ke arah membanding-
kan macam pupuk kandang yang terbaik untuk menghasilkan produksi
tertinggi.

3. Topik penelitian tumpangsari masih berorientasi pada membandingkan atau


mencari jenis tanaman tumpangsari yang cocok dalam meningkatkan hasil
dan pendapatan dengan tidak memberikan kajian yang lebih tajam mengenai
aspek fisiologis yang dihubungkan dengan efisiensi penggunaan hara, air
maupun cahaya. Dalam topik ini belum ada informasi tentang jarak tanam
kubis yang optimum, baik untuk sistem monokrop maupun tumpangsarinya.

4. Kajian topik konservasi tanah masih sangat terbatas baru menyangkut salah
satu aspek yaitu cara pengolahan tanah untuk pengendalian erosi. Konsep
konservasi tanah untuk menjaga atau mempertahankan kesuburan tanah
harus didesain secara holistik dan simultan dengan kajian berbagai aspek
menyangkut pengelolaan lahan secara fisik, kimia dan biologi dalam beberapa
musim tanam.

5. Informasi penelitian mengenai mulsa, zpt dan pupuk daun juga masih
terbatas ditinjau dari jumlah maupun kajian ilmiah menyangkut mekanisme
respon tanamannya

6. Topik pengairan untuk tanaman kubis kiranya perlu dilakukan terutama


menyangkut efisiensinya

7. Umumnya hasil kubis yang diperoleh terutama pada topik pemupukan


menunjukkan hasil yang sangat tinggi sampai mencapai diatas 50 t/ha

Hama Penyakit

Sebaran topik, varietas dan ekosistem penelitian hama penyakit kubis, khususnya
yang telah dipublikasikan dari tahun 1982-2004 disajikan pada Tabel 17. Beberapa
catatan umum yang dapat ditarik dari Tabel 17 adalah sebagai berikut:

50
1. Topik penelitian hama proporsinya lebih besar dibandingkan dengan penyakit.
Penelitian hama mencapai 73%, penyakit 14,6%, nematoda 4,2% dan topik lain
8,2% (48 artikel). Dari topik hama yang dominan diteliti adalah Plutella xylostella,
sedang dari penyakit adalah Plasmodiophora brasicae (clubroot/akar gada).

2. Jenis kultivar yang dominan digunakan adalah Gloria Ocena.

3. Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis adalah dataran tinggi, medium
dan rendah. Dari ketiga ekosistem tersebut paling dominan dataran tinggi (90%).

Tabel 17 Topik, jumlah artikel, varietas dan ekosistem penelitian hama penyakit kubis, 1982-2004

Σ
No Eko-
Topik artikel Varietas Sumber
. sistem

A. HAMA-HAMA KUBIS
1. Plutella xylostella

a. Kehilangan hasil 1 Gloria Ocena DT Skripsi HPT UNPAD 1985

b. Pengendalian 17 Green Coronet (4) DT (17) Bull.Hort.Vol.X/1, Vol.XIX/4,


insektisida kimia KK Cross Vol.XX/3, Vol.XXII/3 dan 4,
Gloria Ocena (12) Vol.XXIII/3, Vol.XXVI/1,
Vol.XIV/2, Vol.X/106,
Vol.XXVI/2,
Skripsi FPN UNINUS 1989,
Skripsi Akpernas 1981, Skripsi
UNBAR 1988,
Skripsi UNINUS 1989,
Skripsi UNBAR 1989,
Skripsi UNINUS 1989,
Skripsi UNBAR 1992

c. Pengendalian secara 7 Gloria Ocena DT (6) Bull.Hort. Vol.XVI/4,


biologi DM (1) Vol. XIII/1,
Skripsi Biologi UNPAD 1985,
Skripsi HPT UNINUS 1990,
Disertasi UNPAD 1987,
Skripsi FPN UNINUS 1991

d. Pengendalian dengan 1 Myr-3329, Gloria, DT Bull.Hort.Vol.XV/1


varietas resisten Michili 70, Ocena,
Roton F.1 , Hybrid
Conguesh,

e. Pengendalian secara 1 Gloria Ocena DT Tesis FPN UNSOED 1986


kultur teknis

2. Croccidolomia binotalis
a. Kehilangan hasil 1 KK Cross DR J.Hort.Vol.III/2 1993

b. Pengendalian 5 Green Coronet, DT (5) Bull.Hort.Vol.XV/3 (87),


insektisida kimia Gloria Ocena, Vol.XXIII/2(92),
Danish Vol.III/2 (93),
Skripsi FPN UNBAR 1992,
Skripsi HPT UNINUS 1992

51
c. Pengendalian secara 3 KR I DT, DM Bull.Hort.Vol.XXIII/2 (92),
biologi Gloria Ocena DR Vol.I/4 (95)

3. Agrotis ipsilon

Pengendalian insektisida 1 Gloria ocena DT Bull.Hort.XVII/3 (89)


kimia

B. NEMATODA
1. Meloidogyne sp.

a. Kehilangan hasil 1 Gloria Ocena DT Bull.Hort.Vol.XXIII/2 (92)

b. Pengendalian dengan 7 Gloria Ocena, DT Bull.Hort.Vol.X/4 (95)


varietas resisten Green Coronet, KY
Cross, KK Cross,
Titanga, NS Bross,
Nagano, Bruswick

C. PENYAKIT KUBIS
1. Plasmodiophora brassicae
(Clubroot)

a. Kehilangan hasil 7 Gloria Ocena DT (3) Bull.Hort.Vol.VI/5 (76),

b. Pengendalian secara 2 Bull.Hort.Vol.XIX/1 (90),


biologi Vol.XXI/2 (91)

2. Erwinia carotovora
(Busuk basah)

a. Pengendalian secara 1 King Hibrid DT (2) Bull.Hort.Vol.XVI/1 (88)


kimiawi

b. Pengendalian secara 1 Yosin Bull.Hort.Vol.XXV/1 (93)


kultur teknis

3. Peronospora parasitica
(Embun bulu)

Pengendalian secara 2 R.E. 37, G. Ocena DT (2) Bull.Hort.Vol.IV/4 (76),


Kimiawi Vol.XXII/1 (92)

D. RESIDU PESTISIDA 2 Green Coronet, DT (2) Bull.Hort.Vol.XV/4 (87),


Gloria Ocena Media Pen. Sukamandi
No. 1 (88)

E. PHT 1 Gloria Ocena, DM Eugenia Vol.1/4 (95).


Green Coronet

Jumlah 48

Hasil penelitian per topik tahun 1982-2004 adalah sebagai berikut :

A. Hama-hama kubis

1. Pengendalian Plutella xylostella

52
• Kehilangan hasil kubis oleh P. xylostella

Terjadi interaksi yang positif antar umur tanaman dengan serangan larva
P. xylostella. Semakin muda umur tanaman kubis terserang oleh P. xylostella,
maka semakin tinggi kehilangan hasilnya. Tanaman kubis yang berumur 2
minggu setelah tanam sudah terserang P. xylostella maka kehilangan hasilnya
hampir mencapai 100%.

• Pengendalian secara kimiawi

Efikasi insektisida
- Dari 25 artikel yang menyoroti hama Plutella xylostella dapat dibagi
menjadi 5 kelompok topik pengendalian, dan juga paling dominan adalah
kegiatan penelitian efikasi insektisida. Adapun insektisida yang diuji dan
efektif terhadap P. xylostella adalah Teflubenzuron (2 gr/l), Flufenoksuron
(2 gr/l), Klorfluazuron (2 gr/l), Bezsultap (Buncol 50 WP 2 gr/l),
Diafenturon (Polo 500 EC 1-2 cc/l), Permetrin (2 cc/l). Dalam efikasi ini,
frekwensi penyemprotan insektisida seminggu sekali.

Insektisida Ovisida
- Insektisida Teflubenzuron (hair formulasi 375 ppm) selain bersifat
larvasida juga bersifat ofisida, dapat menenkan penetasan telur sebesar
88,75%.

Sinergisme insektisida
- Efektifitas insektisida Profenofos, Deltametrin dan Kartop Hydroklorida
(3000 ppm) menunjukkan sinergisme terhadap P. xylostella, bila dicampur
dengan klorfirifos. Nisbah sinergismenya berturut-turut 2,93 kali, 5,06 kali
dan 1,94 kali.

Insektisida selektif
- Beberapa insektisida kimia yang bersifat selektif, artinya efektif terhadap
larva P. xylostella tetapi aman terhadap musuh alaminya (Diadegma
eucerophaga), antara lain Sipermethrin, Fenvolerat, Asetat (Ancothene
75 2 gr/l), Klorfluazuron (Atabron 50 EC), B. thuringiensis (Bastaspene
 WP, Thuricide  HP dan Dipel  WP).

Status resistensi hama terhadap insektisida


- Plutella xylostella strain Lembang dan Pangalengan resisten terhadap
Deltametrin, Profenofos dan Bacillus subsp/var. Kurstaki strain HD-7
(pada tahun 2004).
- P. xylostella strain Kejajar (Dieng) dan Batu resisten terhadap
Deltametrin dan Profenofos (pada tahun 2004).
- P. xylostella strain Berastagi resisten terhadap Bacillus subsp/var.
Kurstaki strain HD-7 (pada tahun 2004).
- P. xylostella strain Lembang telah resisten terhadap Triazofos, Asetat
dan Dekametrin, dan tingkat resistensinya berturut-turut 31 kali, 172

53
kali dan 267 kali lipat lebih tinggi dibanding Permetrin (pada tahun
1988).
- Ngengat P. xylostella jantan dan betina strain Lembang dan Pacet telah
resisten terhadap Supermetrin dan Fenvalocat dengan relative Toxicity
≥ 10 (pada tahun 1989).

Efisiensi alat semprot


- Penyemprotan insektisida dengan menggunakan modifikasi “boom
sprayer” lebih efisien (66%) dibandingkan “knapsack sprayer”.
- Penyemprotan insektisida dengan menggunakan sprayer (nozel) kipas
Teejet XR 8002 VS, Teejet D6 1102 VS dan Twenjet TJ60.8002 VS lebih
efisien (rata 30%) dibandingkan nozel Hollowcone 4 lubang.

Ambang Kendali (AK)


- Aplikasi insektisida B. thuringiensis atau Khlorfluazuron yang
berdasarkan pada AK 5 larva 110 tanaman efektif menekan serangan P.
xylostella, dan mampu mempertahankan hasil kubis tetap tinggi, serta
dapat menghemat penggunaan insektisida sebesar 50% (pada tahun
1991).
- Aplikasi insektisida B. thuringiensis berdasarkan AK 20 imago
jantan/perangkap seks feromon dapat mempertahankan hasil panen
kubis sebesar 23,59 ton/ha, dan dapat menghemat penggunaan
insektisida.

• Pengendalian Secara Biologis

Insektisida asal mikroba


- Pengendalian P. xylostella dengan menggunakan insektisida mikroba rata-
rata efektifitasnya baru terlihat tiga hari setelah aplikasi.
- Insektisida mikroba dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis (kons.
formulasi 50, 100, 500 ppm) efektif terhadap larva P. xylostella.
- Insektisida mikroba dengan bahan aktif bakteri Streptomyces avermestylis
(Avermestrin 1,8 EC, 18 gr BA/ha) efektif terhadap larva P. xylostella.

Insektisida asal nabati


- Ekstrak biji nimba dengan konsentrasi formulasi 103 ppm bersifat sebagai
antifeedant dan repellen terhadap larva P. xylostella.
- Ekstrak daun pacar cina dan daun kirinyuh bersifat toksik terhadap larva P.
xylostella, dengan nilai LC50 berturut-turut 0,495% dan 0,389%. Selain
bersifat toksik kedua daun tersebut juga bersifat antifeedant dengan nilai
penghambatan makan berturut-turut sebesar 41-81% dan 40-75%.

Pemanfaatan musuh alami


- Parasitoid Diadegma eucerophaga merupakan musuh alami utama hama
P. xylostella di daerah sentra kubis dataran tinggi. Dikarenakan: memiliki
kemampuan; daerah pancaran yang luas; mampu meregulasi populasi
hama P. xylostella dengan tingkat parasitasi 50 larva/hari.

54
- Pemeliharaan parasitoid D. eucerophaga di dalam kurungan besar (90 x
90 x 90 cm3) dapat meningkatkan parasitasi dan nisbah imago betina
dibandingkan dalam kurungan kecil (50 x 50 x 50 cm3).

• Pengendalian dengan varietas resisten

- Beberapa varietas kubis yang resisten terhadap hama P. xylostella adalah


Rotan F.1 (kubis putih), Marmer Rocco (kubis merah) dan Cirateun (kubis
bunga) (pada tahun 1987).

• Pengendalian kultur teknis

- Tanaman Rape yang ditanam mengelilingi tanaman kubis (sebagai


border) dapat berfungsi sebagai tanaman perangkap hama P. xylostella.

2. Pengendalian Croccidolomia binotalis

• Kehilangan hasil kubis oleh C. binotalis


Kehilangan hasil kubis akibat serangan hama C. binotalis dapat mencapai
65,80%.

• Pengendalian secara kimiawi

Efikasi insektisida kimia


- Beberapa insektisida yang telah diuji efikasinya dan efektif terhadap
C. binotalis antara lain : Elson 50 EC (0,2%), Dursban 20 EC (0,2%),
Bayrusil 25 EC, Hostation 40 EC, Karphos 25 EC, Lonnate 90 WSP,
Phosvel 300 E, Reldan 24 EC, Thuricide 25 EC, Tamaron 200 LC,
Khlorfluazuron (0,2%) dan pemberian Magnesium (200 kg/ha).

Ambang pengendalian
- Nilai ambang kendali hama ulat krop kubis C. binotalis adalah 3 kelompok
telur/10 tanaman, atau 30 larva instar II/10 tanaman. Penggunaan
insektisida berdasarkan AP tersebut dapat menghemat pemakaian
insektisida sebesar 80-90%, dan dapat mempertahankan hasil sampai 23
ton/ha (pada tahun 1992).

Status resistensi C. binotalis terhadap insektisida


- Pada tahun 1993, lama C. binotalis strain Lembang belum menunjukkan
gejala resistensi terhadap insektisida khlorfluazuron, khlorfirifos,
profenofos, permetrin dan BPMC.

• Pengendalian secara biologis

Insektisida asal mikroba


- Jamur Metarrhizium anisopliae dengan dasar 1010 spora/ha dapat
menekan serangan C. binotalis sampai 53% dan dapat menekan
kehilangan hasil/sampai 84%.

55
- Jamur Fusarium sp dengan kerapatan spora 105-107 dapat menekan
populasi hama C. binotalis sampai 68-76%.

Insektisida asal nabati


- Ekstrak biji bengkuang (0,1%) dapat menurunkan populasi larva C.
binotalis instar 2 dan 3 sampai 84%.

3. Pengendalian Agrotis ipsilon

• Pengendalian secara kimiawi


- Penggunaan Karbaril dengan dosis 8 gr/100g dedak dapat menurunkan
populasi A. ipsilon sampai 33,3% dan dapat menekan tingkat kerusakan
sampai 10%.

B. Nematoda

Dari 48 artikel mengenai hama dan penyakit kubis hanya 2 artikel yang
menyoroti tentang nematoda dan jenis nematodanya adalah Meloidogyne spp.

• Kehilangan hasil kubis oleh nematoda


Kepadatan populasi awal Meloidogyne spp 500 larva/1 kg tanah tidak
berpengaruh terhadap penurunan hasil kubis.

• Pengendalian dengan varietas resisten


- Tanaman kubis varietas N.S. Cross tahan terhadap M. incognita
maupun M. javanica, sedangkan varietas K.K. Cross hanya tahan
terhadap M. javanica.
- Varietas Titan 90, Brunswick dan Siuntung agak tahan terhadap M.
incognita dan M. javanica.

C. Penyakit Kubis

Dari 48 artikel mengenai hama dpenyakit kubis, terdapat artikel yang menyoroti
tentang penyakit dan penyakit tersebut adalah Plasmiodophora brassicae,
Erwinia caratovora dan Peronospora parasitica.

1. Pengendalian Plasmiodophora brasicae (culbroot)

• Pengendalian secara biologi


- Pemberian cendawan Mostierella sp yang diikuti dengan pengapuran
dapat menekan serangan P. brasicae.
- Dedak + glukosa dapat digunakan sebagai media tumbuh Mortierella
sp atau Trichoderma sp, yang dapat digunakan untuk
mengendalikan P. brasicae.

56
• Pengendalian kultur teknis
- Drainase dan pengapuran dapat menekan serangan P. brasicae.
- Pergiliran tanaman dengan bukan kubis dapat menekan insiden
kerusakan kubis oleh P. brasicae.

2. Pengendalian Erwinia sp (busuk lunak)

• Pengendalian kultur teknis


- Penggunaan mulsa jerami padi pada pertanaman kubis dapat
menekan serangan Erwinia sp sampai 39,4%.

• Pengendalian pada pasca panen


- Perlakuan dengan silicagel 100% atau larutan tawas 30% dapat
menekan pembusukan oleh Erwinia sp.

3. Pengendalian Peronospora parasitica

• Pengendalian secara kimiawi

Efikasi fungisida
- Fungisida yang diuji efikasinya dan efektif terhadap P. parasitica
antara lain : Antracol, Polyram, Combi, Manzate 200 dan Vandozeb.
- Perlakuan fungisida dengan cara disemprotkan pada kecambah lebih
baik daripada ke medium pada waktu akan semai.

• Pengendalian kultur teknis


Penggunaan media semai dengan tanah sub soil + pasir + kompos
(1:1:1) dan dipupuk NPK, efektif untuk mengendalikan P. parasitica di
pesemaian.

D. Residu Pestisida

Sayuran kubis yang dihasilkan dari Lembang, Pangalengan dan Cisurupan (Garut)
mengandung residu pestisida Supermetrin (0,20 ppm), Dekametrin (0,10
ppm), Permetrin (0,10 ppm) dan Profenofos (0,41 ppm) (pada tahun 1988).

E. Pengendalian Hama Terpadu pada Kubis

• Penerapan PHT telah dilaksanakan antara lain di Kecamatan Tomohon, Lab.


Minahasa, Sulawesi Utara.
• Penerapan PHT tersebut didahului dengan kegiatan sekolah lapang (SLPHT),
dan berjalan dengan lancar atau baik.
• Komponen pengendalian yang dipadukan dalam penerapan PHT tersebut
adalah :

57
- Pengendalian secara biologi yaitu pelepasan parasitoid Diadegma
eucerophaga. Dari pelepasan tersebut tingkat parasitoid telah mencapai
80%, berarti parasitoid tersebut telah mapan.
- Pengendlaian kultur teknis yaitu dengan penanaman rope (Brassica
campestris) sebagai border untuk perangkap hama P. xylostella.
- Pemasangan perangkap imago jantan (sex feromone) mendpaat respon
yang baik dari ngengat P. xylostella jantan sehingga banyak yang
tertangkap.
- Pengendalian secara kimiawi dengan berdasarkan :
1. Penggunaan insektisida yang selektif (dengan dosis rekomendasi :
contoh insektisida selektif antara lain, klorfluazuron (Ataboon  50 EC)
dan B. thuringiensis (Bastospend  WP, Thuricide  HP, dan Dipel 
WP).
2. Aplikasi insektisida didasarkan pada ambang pengendalian :
AP. P. xylostella adalah 3 larva/10 tanaman contoh.
AP. C. binotalis adalah 3 kelompok telur/10 tanaman contoh.

• Dengan penerapan PHT tersebut dapat menghemat pestisida sebesar 50%


dan hasil panen kubis mencapai 21.5 ton/ha.

Pasca Panen

Catatan umum penelitian pasca panen kubis dalam kurun waktu 1980-2002:

1. Pada teknik prapanen belum ditemukan teknologi yang dapat mempercepat atau
memperlambat waktu/umur panen. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam
mendukung kontinuitas supplai dan pengendalian fluktuasi harga.

2. Umur panen akan sangat tergantung kepada varietas, musim tanam, kesuburan
tanah dan teknik budidaya. Kriteria panen yang sudah lazim digunakan oleh
petani dan layak menurut hasil penelitian yaitu krop sudah kompak, daun tua
agak menguning, bagian atas krop agak menonjol dengan kisaran umur tanaman
85-100 hari setelah tanam.

3. Teknik penanganan hasil yang dianggap kritis dan mempunyai andil besar dalam
kehilangan hasil adalah penanganan pra pengemasan dan pengangkutan.
Pengapuran pangkal krop, baik dengan semen putih, tawas dan silikagell
memberikan pengaruh baik terhadap penekanan busuk lunak. Kerusakan hasil
akibat pengangkutan antar kota tidak terlalu tinggi sementara dalam
pengangkutan antar pulau bisa mencapai 80% terutama musim hujan.

4. Potensi diversifikasi produk dan teknologi pengolahan kubis sangat terbatas.


Permintaan dan pemanfaatan saat ini lebih kepada produk segar, baik untuk
konsumsi domestik maupun ekspor.

58
Tabel 18 Topik dan varietas penelitian pasca panen, 1982-2004

No. Topik Varietas Hasil/Sumber


1. Prapanen King Hybrid • Perlakuan pemutaran tanaman 90o sebelum
panen dapat mempertahankan berat krop kubis
dengan tingkat kerusakan dan susut bobot
terendah masing-masing 1,70 % dan 4,26%
(Hortikultura, No. 25 – 1989)
• Cara pengolahan tanah sempurna dan
tumpangsari kubis + kacang jogo, baik secara
parsial maupun kombinasi keduanya
menghasilkan kubis dengan mutu dan daya
simpan terbaik.
(LHP TA 1999/2000)

2. Panen KR-1 • Di dataran tinggi kubis dapat dipanen pada


umur 80 –95 HST, dengan berat individu krop
896,21 – 1996,70 g; diameter 17,4 – 22,4 cm;
tinggi 10,3 – 11,7 cm; PTT 4,6 – 4,9 %Brix; dan
kekerasan 22,2 – 29,4 pond/cm2 .
(J.Hort. vol 6(5) 1997).

3. Pengangkutan - • Penanganan hasil kubis sejak panen sampai


distribusi umumnya dilakukan oleh pedagang.
• Titik kritis dalam penanganan pascapanen kubis
adalah pra pengemasan dan pengangkutan.
• Hasil survai ke Pontianak-Kalbar menunjukkan
bahwa pemenuhan kebutuhan kubis di Kalbar
seluruhnya berasal dari Jawa Barat dengan
volume 200 ton/bulan dengan frekwensi
pengiriman 2 hari sekali
(Pros. Sem. Ilmiah Nas. Sayuran. 1995).

4. Quality Control - • Hasil pengamatan sifat kimia kubis adalah:


kadar air kubis berkisar antara 91,78% -
93,55%; kadar serat 0,66 – 3,82%; bahan
kering 6,45 – 7,52%; PTT 5,00 – 6,85 %Brix;
Vit.C 9,62 –12,11 mg/100 g).
(BPH. Vol XVI (4) 1988).

- • Hasil pengamatan sifat fisik kubis: diameter


16,83–20,46 cm; tinggi 14,26–17,74 cm; berat
per krop 1755–2180 g; kepadatan 13,16–22,09
kg/cm2; ketebalan daun 0,52–1,03 mm.
(BPH. Vol XVI (2) 1988).

• Hasil pengamatan terhadap beberapa varietas


kubis lainnya diperoleh keragaan sifat fisikokimia
berikut: kadar air 86-93%; kadar serat 4,08-
6,66%; PTT 2,10 – 6,89; Dilihat dari sifat
kepadatan dan tebal daun serta kualitasnya
diperoleh 9 varietas yang berpotensi baik untuk
ketahanan dalam pengangkutan, yaitu: Hinova,
2016 A, Oscar, Hitoma, 2017, L.F. Dutch, N.S.
Cross; King Hybrid; dan Predena.
(Hortikultura. No 10-1980).

59
• Hasil analisis residu pestisida diperoleh data
seperti berikut: Kadar residu pestisida terbesar
pada daun kubis limbah pertanian (0,144
mg/kg), limbah rumah tangga (0,131 mg/kg)
dan pada krop (0,125 mg/kg). Dengan demikian
dapat dilihat bahwa semakin ke dalam residu
semakin rendah. Sedangkan perlakuan
pascapanen seperti pencucian dan perebusan
juga berdampak kepada penurunan residu.
(MI-UNSUD. No. 5 – 1999).

• Dari hasil pengamatan terhadap kualitas kubis


introduksi diperoleh dua varietas yang secara
berurutan mempunyai kualitas expor yaitu
Summit 637 dan KR-1.
(J.Hort. Vol 5(1) 1995).

5. Pengapuran King Hybrid • Perlakuan dengan Silikagel 100% dan tawas


30% setelah 4 jam panen dengan mengoleskan
pada pangkal krop, kemudian dianginkan pada
rak bambu selama 1 malam memberikan penga-
ruh baik dalam menekan busuk lunak kubis.
(BPH. Vol. XVI (1) 1988).

6. Olahan - • Kimchi yang mempunyai rasa cukup baik,


mengandung total asam sebagai asam laktat 0,8
– 1,3%, pH 4,0 – 4,2 dihasilkan oleh
penambahan garam 2 – 4% dengan fermentasi
3 – 6 hari di Jakarta dan 9 hari di Lembang.
Rasa kimchi yang di fermentasi di Lembang
lebih enak dibandingkan dengan yang
difermentasi di Jakarta.
(LHP- BPH 1982/1983).

• Kombinasi perlakuan blansing media air pada


suhu 80 –90oC selama 15 menit dengan jarak
rak selang 2 (± 15 cm) memberikan mutu kubis
kering terbaik. Namun warna agak coklat dan
kapasitas oven jadi lebih rendah.
(LHP-Balitsa TA 2000).

• Kombinasi suhu pengering 50oC dengan lama


pengeringan 27 jam, dan suhu 60oC dengan
lama pengeringan 22 jam memberikan tingkat
rehidrasi paling tinggi dan kualitas kubis kering
terbaik.
(LHP-Balitsa TA 1999/2000).

• Kombinasi perlkuan asam askorbat 0,02% dan


jenis kemasan aluminium foil dapat
mempertahankan kubis kering selama 3 bulan
penyimpanan dengan kondisi sifat fisikokimia
seperti berikut: kadar air 12,67%, Vitamin C
174 mg/g dan warna relatif masih dapat
dipertahankan dengan skor nilai 1,33 dan aroma
yang masih normal.

60
Agro Ekonomi

Tabel 19 memperlihatkan sebaran topik serta ekosistem pada penelitian


agroekonomi selama kurun waktu 1984-2004. Beberapa catatan umum yang dapat
ditarik dari Tabel 19 adalah sebagai berikut:
• Topik penelitian ekonomi produksi proporsinya lebih dominan dibandingan
dengan topik penelitian agro-ekonomi lainnya.
• Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis seluruhnya dataran
tinggi (5).

Tabel 19 Topik dan ekosistem penelitian agroekonomi kubis 1984-2004.


No. Topik Jlh. Laporan./ Ekosistem Sumber
Artikel
1. Studi ekonomi produksi 4 dt (4) BPH XI (4): 20-25; BPH XII (4):
8-18; BPH XXII (3): 90-98; BPH
XXVII (4): 34-39

3. Studi pemasaran dan 1 dt (1) JH 7 (3) : 840-851


analisis harga

Keterangan :
dt = dataran tinggi
BPH = Buletin Penelitian Hortikultura
JH = Jurnal Hortikultura

Tabel 20 Hasil penelitian agroekonomi kubis 1984-2004.


No. Topik Varietas Hasil/Sumber
1. Studi ekonomi - • Secara teknis, penggunaan tenaga kerja (tanpa
produksi disiang, penyiangan dengan tangan dan
penggunaan herbisida/Goal 2 E) pada usahatani
kubis di Lembang tidak menunjukkan pengaruh
yang nyata terhadap produksi.
• Sementara itu secara ekonomis, penggunaan
herbisida Goal 2 E dan pestisida Tamaron 200 L
merupakan alternatif investasi yang paling
menguntungkan, yaitu yang ditunjukkan oleh
tingkat pengembalian marjinalnya yangtertinggi
(2256 %).

Ocena • Pada usahatani kubis di Lembang yang


ditumpangsarikan dengan tanaman tomat,
kacang jogo dan bawang daun (tanaman
sampingan/ catch crop), secara teknis tidak
berpengaruh nyata terhadap produksi tanaman
utama (main crop) kubis.
• Secara ekonomis kombinasi tanaman kubis +
bawang daun merupakan alternatif terbaik yang
memberikan keuntungan/pendapatan bersih ter-
tinggi dengan tingkat pengembalian marjinal
paling tinggi (135,6 %) dibandingkan dengan
kombinasi lainnya.
• Bila dikaji dari segi produktivitas tanah yang

61
dihitung berdasarkan nisbah kesetaraan
(NKT/LER = land equipment ratio), ternyata
kombi-nasi tanaman kubis + tomat membe-
rikan NKT yang paling tinggi (2,01).
• Komposisi biaya usahatani kubis di Solok,
Sumatera Barat (1998) menunjukkan bahwa,
komponen biaya tenaga kerja menempati urutan
tertinggi (25,8 %), diikuti pestisida (16,7 %),
pupuk (15,4 %), biaya lain-lain (14,4 %) dan
biaya bibit (10,7%).
- • Dengan tingkat produksi yang cukup tinggi
(28,3 t/ha) dan nilai produksi Rp. 2.405.500,
maka tingkat keuntungan yang dapat diterima
petani cukup tinggi, yaitu Rp. 1.431.852 (R/C
ratio = 2,47).
• Produktivitas usahatani kubis di daerah ini
ternyata masih belum optimal, peningkatan
produksi masih dapat diusahakan dengan
meningkat-kan penggunaan pupuk, luas lahan
garapan dan tenaga kerja.

- • Ditinjau dari segi penggunaan inputnya,


usahatani kubis di daerah Pangalengan,
Bandung masih belum efisien. Secara nyata
produksi masih dapat ditingkatkan dengan
menam-bah penggunaan pupuk ZA dan KCl.

2. Studi pemasaran - • Dalam periode 1985-1995, terdapat indikasi


dan analisis harga bahwa marjin tataniaga riil dan nominal kubis di
Jawa Barat dan Sumatera Utara terus
menunjukkan peningkatan. Namun demikian,
marjin tataniaga riil dan nominal kubis di Jawa
Barat lebih tinggi dibandingkan dengan Sumatera
Utara.
• Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir
(1985-1995), bagian petani relatif lebih stabil
dibandingkan dengan marjin tataniaga. Semakin
tinggi nilai ekonomis suatu komoditas, semakin
tinggi pula bagian yang diterima petani. Semakin
tinggi marjin tataniaga, semakin rendah bagian
petani dari harga yang dibayarkan konsumen.
• Perbandingan koefisien variasi marjin tataniaga,
harga produsen dan harga konsumen
mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek,
mekanisme pasar cenderung mendorong
stabilitas harga di tingkat konsumen. Sementara
itu, jika ditinjau dari sisi produksi kubis (Jawa
Barat dan Sumatera Utara), mekanisme pasar
cenderung lebih mendorong stabilitas marjin
tataniaga dibandingkan dengan harga di tingkat
produsen.
• Dalam usaha perbaikan sistem pema-saran perlu
lebih ditekankan untuk memecahkan masalah
ketidakstabilan atau tingginya variasi harga di
tingkat produsen.

62
Catatan Umum

1. Informasi mengenai sosial ekonomi kubis masih sangat terbatas. Dalam kurun
waktu 1984-2004 (20 tahun), studi sosial ekonomi kubis yang dapat dikumpulkan
hanya 5 buah artikel (4 buah artikel studi ekonomi produksi dan 1 buah artikel
studi pemasaran dan analisis harga).

2. Informasi studi ekonomi produksi sudah relatif lama (terakhir tahun 1994) dan
mengingat perkembangan perubahan yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir
yang cukup signifikan, maka dirasa perlu untuk segera memperbaharuhi data-
data tersebut melalui kegiatan-kegiatan penelitian pada masa yang akan datang.

3. Mengingat komoditas kubis memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi dan banyak
diminati serta ditanam petani, maka pada tahun-tahun mendatang dirasa sangat
perlu untuk memperbanyak penelitian sosial ekonomi kubis yang menyangkut
berbagai aspek, yaitu mulai dari studi produksi, pemasaran hingga studi
konsumen (selera pasar).

IX. Kendala pengembangan kubis dari sisi tekno-sosio-ekonomis

Analisis data tahunan produksi dan areal tanam kubis mencakup periode waktu
1970-2003 menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata produksi kubis di
Indonesia cenderung menurun sebesar 0.5% (0.005). Tingkat pertumbuhan
produksi rata-rata kubis (meningkat/menurun) pada dasarnya dapat dipilah ke dalam
pertumbuhan yang disebabkan oleh peningkatan/penurunan areal tanam dan
peningkatan/penurunan produktivitas. Kontribusi peningkatan dari komponen areal
tanam dan produktivitas terhadap pertumbuhan produksi kubis secara berturut-turut
adalah (-) 2.3% dan 1,8%. Dengan demikian, sumber dominan yang menyebabkan
penurunan produksi kubis selama periode 1970-2003 adalah penurunan areal tanam.
Lebih jauh lagi, keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi
terhadap ketidak-stabilan produksi sayuran secara umum, dibandingkan dengan
keragaman produktivitas.

Pola pertumbuhan produksi (negative) yang didominasi oleh penurunan areal tanam
(kontribusi penurunan areal tanam lebih besar dibandingkan dengan kontribusi
peningkatan produktivitas), mengindikasikan beberapa kendala pengembangan
sebagai berikut:
• Inovasi teknologi/penelitian yang ada belum dapat memacu pertumbuhan
produksi berbasis peningkatan produktivitas. Salah satu diantaranya adalah
belum adanya varietas baru kubis (local) yang dikategorikan lebih unggul
daripada yang telah banyak digunakan di tingkat petani.
• Komponen teknologi budidaya yang tersedia secara umum belum dapat
memacu peningkatan produktivitas kubis.
• Program penyuluhan, terutama dikaitkan dengan proses alih teknologi di
tingkat petani, belum berjalan secara optimal.

63
• Keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap
ketidak-stabilan produksi kubis secara umum, dibandingkan dengan
keragaman produktivitas. Dengan demikian, probabilitas terjadinya fluktuasi
pasokan relatif lebih tinggi.

Komparasi dengan beberapa negara di Asia (Cina, Singapura) mengindikasikan


bahwa konsumsi kubis di Indonesia masih jauh dari titik saturasi. Pertumbuhan
konsumsi kubis per kapita juga dipengaruhi oleh harga relatif, ketersediaan bahan
substitusi, selera, preferensi serta berbagai faktor demografis dan kultural. Dari sisi
konsumsi, diversifikasi pemanfaatan yang relatif masih rendah dan terbatas pada
perkembangan permintaan kubis relatif lambat. Hal ini pada gilirannya dapat
pemanfaatan untuk pangan (bahkan bukan bahan pangan pokok) menyebabkan
dikategorikan sebagai salah satu faktor pembatas pengembangan produksi kubis di
Indonesia.

Indikator bagian petani (farmer's share) sebesar 75% dari harga eceran serta
minimalnya campur tangan (pasar) pemerintah, memberikan gambaran bahwa
struktur pasar domestik kubis dapat dikategorikan bersaing sempurna dan
keragaannya cukup efisien. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak terjadi pada
ekspor-impor kubis.

Data perdagangan (ekspor-impor) kubis menunjukkan bahwa Indonesia masih


merupakan net exporter dari sisi volume maupun nilainya. Namun demikian, perlu
diperhatikan bahwa unit biaya per kilogram kubis yang harus dikeluarkan untuk
ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun, namun biaya/kg untuk kubis
impor selalu lebih tinggi dibandingkan dengan biaya/kg untuk kubis ekspor. Dugaan
bahwa kubis Indonesia kebersaingannya (competitiveness) semakin menurun perlu
mendapat klarifikasi lebih lanjut.

Variasi harga kubis di tingkat pedagang besar secara umum lebih rendah
dibandingkan dengan variasi marjin tataniaga dan variasi harga di tingkat sentra
produksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek pasar cenderung
beroperasi untuk mempertahankan stabilitas harga kubis di tingkat pedagang besar.
Indikasi ini memberikan penekanan perlunya perbaikan pengelolaan rantai pasokan
kubis di Jawa Barat yang lebih memberikan perhatian terhadap upaya memecahkan
instabilitas harga yang cukup tinggi di tingkat sentra produksi.

Selama periode 2001-2003, di tingkat sentra produksi maupun grosir/pedagang


besar, harga kubis terendah terjadi pada bulan Agustus, sedangkan harga kubis
tertinggi tercapai pada bulan April. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kubis pada
dasarnya dapat ditanam sepanjang tahun pola perilaku harga kubis secara eksplisit
menunjukkan adanya pola musiman penanaman dan penawaran kubis (peak and
low season).

Sampai saat ini, hama penyakit masih merupakan kendala biotis utama produksi
kubis, karena dapat menyebabkan kehilangan hasil dengan kisaran 25-90%. Kendala
biotis penting pada kubis diantaranya penyakit busuk hitam (Xanthomonas
campestris Dows.); busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.); akar bengkak atau

64
akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.) dan bercak hitam (Alternaria sp.) serta
hama ulat Plutella (Plutella xylostella L.); ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller);
ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn); kutu daun (Aphis brassicae) dan cengkerik atau
gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus).

Intensitas penggunaan input yang tinggi pada penanaman kubis menyebabkan


usahatani ini dikategorikan sebagai jenis usaha berbiaya tinggi. Intensitas
penggunaan input tinggi, terutama pestisida, bahkan tidak saja berimplikasi
terhadap tingginya biaya usahatani (tingkat kebersaingan produk), tetapi juga
terhadap semakin terganggunya keseimbangan ekosistem.

X. Prospek, kebijakan dan strategi pengembangan

Berbagai indikator di atas (pertumbuhan produksi, konsumsi, stabilitas harga dan


kelayakan finansial) memberikan gambaran bahwa prospek pengembangan
komoditas kubis di Indonesia masih cukup baik. Gambaran tersebut secara implisit
juga menunjukkan bahwa prospek peranan kubis dalam sistem pangan Indonesia
akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan perubahan demografis, ekonomi,
politis serta lingkungan. Beberapa faktor penentu utama diantaranya adalah
pertumbuhan penduduk, tingkat urbanisasi, tingkat pendapatan serta penurunan/
peningkatan daya beli konsumen. Perlu pula diperhatikan bahwa perubahan diet,
liberalisasi pasar dan perdagangan serta tekanan/proteksi terhadap basis
sumberdaya alam juga akan mempengaruhi penawaran dan permintaan kubis di
masa depan. Berbagai perubahan ini cenderung mendorong produsen dan
konsumen untuk memproduksi dan mengkonsumsi lebih banyak kubis dengan cara,
utilisasi dan penggunaan teknologi baru.

Sejak awal dibudidayakan, kubis sebagian besar ditanam di daerah atau ekosistem
dataran tinggi. Kendala utama peningkatan produksi kubis di tingkat usahatani adalah
penurunan kesuburan tanah, serangan hama penyakit serta ketergantungan terhadap
benih impor. Oleh karena itu, isu penting yang perlu diantisipasi berkenaan dengan
strategi pengembangan kubis adalah aspek keberlanjutan usahatani secara
keseluruhan. Perlu penelitian interdisiplin berupa studi dampak pengelolaan intensif
usahatani kubis terhadap sustainabilitas ekosistem, terutama dataran tinggi. Beberapa
topik penelitian yang juga perlu dipertimbangkan diantaranya adalah status kesuburan
tanah dan pola tanam, status hama penyakit, preferensi petani terhadap varietas,
bahkan kelayakan pengembangan kentang berdasarkan pendekatan ekstensifikasi.

Keterbatasan lahan untuk ekspansi serta ekspektasi tinggi untuk meningkatkan


produktivitas cenderung mengarah pada penggunaan input, terutama pupuk dan
pestisida, secara berlebih. Hal ini pada gilirannya telah meningkatkan biaya produksi
dan mengurangi kebersaingan komoditas kubis, terutama untuk pasar ekspor.
Sementara itu, observasi lapang mengindikasikan bahwa rekomendasi PHT kubis masih
belum banyak diadopsi petani, karena risiko kehilangan hasil dari teknologi tersebut

65
masih dipersepsi tinggi. Oleh karena itu, kaji ulang untuk berbagai teknologi kubis
perlu dilakukan sebagai bahan masukan untuk program pengembangan.

Beberapa usulan kebijakan dan strategi pengembangan yang bersifat generik dapat
dikemukakan sebagai berikut:

a. Perlu dipertimbangkan pelaksanaan studi dampak berkenaan dengan


teknologi usahatani kubis yang ada sekarang terhadap status kesuburan
tanah, hama penyakit dan sistem pertanaman atau sistem usahatani
untuk mendapatkan assessment apakah teknologi yang ada cenderung
lebih memberikan solusi atau justru lebih menimbulkan masalah.
Penelitian dan pengembangan komoditas kubis perlu diarahkan untuk
menciptakan teknologi tepat guna yang memiliki karakteristik sebagai
pengurang tingkat risiko. Secara implisit, hal ini juga mencakup teknologi
yang menghasilkan output di bawah tingkat produksi maksimal dan
bertumpu pada pemanfaatan proses biologis serta sumberdaya yang
renewable.
b. Penataan kelembagaan dan kebijakan yang diarahkan untuk memberikan
fasilitas kredit serta memperbaiki sistem pemasaran merupakan langkah
penting yang perlu segera diinisiasi agar keragaan dan efektivitas
pengembangan kubis dapat terus ditingkatkan.
c. Dalam rangka memperlambat degradasi lingkungan di dataran tinggi,
berbagai komponen teknologi yang mengarah pada integrated crop
management (teknologi yang mempertimbangkan sensitivitas
lingkungan, viabilitas ekonomis, pendekatan keseluruhan usahatani,
teknologi moderen, efifiensi penggunaan input, produk berkualitas sesuai
kebutuhan konsumen dan strategi jangka panjang) perlu lebih dipacu
perancangannya. Komponen teknologi tersebut perlu pula didukung oleh
kebijakan pemerintah yang jelas menyangkut pemanfaatan dan
pengelolaan ekosistem dataran tinggi. Disamping itu, berbagai
kemungkinan pengembangan kubis ke dataran medium/rendah juga
perlu dijajagi kembali kelayakan teknis, ekonomis dan sosialnya secara
lebih komprehensif.
d. Keragaan pasar kubis dengan segala permasalahannya perlu
mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah. Dalam hal ini,
pemerintah perlu terus didorong untuk memfasilitasi pasar persaingan
sempurna (melalui penerbitan regulasi pasar standar, pemberian jasa
informasi pasar serta perbaikan infrastruktur pasar). Khusus untuk
pasar ekspor, kebersaingan kubis Indonesia dalam jangka panjang
perlu ditingkatkan melalui upaya pengurangan biaya produksi.

Daftar Pustaka

Bisaliah, S. 1986. Soybean development in India: A methodological frame. In


CGPRT. Socio-economic research on food legumes and coarse grains:
Methodological issues. CGPRT No. 4. Bogor, Indonesia.

66
Colman, D & Young, T. 1989. Principles of agricultural economics: Markets and
prices in less developed countries. Cambridge University Press, Great Britain.

Dillon, J. L. & Hardaker, J. B. 1980. Farm management research for small farmer
development. Food and Agriculture Organization Agricultural Services Bulletin,
Rome.

Hazell, P. B. R. 1984. Sources of increased instability in Indian and US cereal


production. Amer. J. of Agr. Econ., 66(2): 302-311.

Pustaka penelitian agronomi kubis

No Nama Penulis Tahun Judul Sumber


1. A. Darwin Harahap, P. 1996 Pola tanam tumpangsari pada J. Hort. 6 (3):
Nainggolan dan DJ. tanaman kubis 255 - 262
Sinaga
2. A. Wasito 1993 Penggunaan pupuk majemuk Bul. Penel.
nitrofosfat pada tanaman kubis Hort. 25 (4):
kultivar Gloria Osena 15-21
3. F. Silalahi 1992 Pengaruh susunan barisan pada J. Hort. 4 (2):
tumpangsari kubis terhadap 66-72
produksi dan pendapatan bersih
4. F. Silalahi 1992 Pengaruh tumpangsari tomat, ercis Bul. Penel.
dan kubis terhadap hasil dan Hort. 22 (3):
produktivitas lahan 38-44
5. Holil Sutapradja dan Y. 1994 Respon tanaman kubis terhadap Bul. Penel.
Hilman dosis dan cara aplikasi dolomit Hort. 27 (1):
27-34
6. Loso Winarto dan M. 1995 Pengaruh organic soil treatment Bul. Penel.
Samin (OST) pada tanaman kubis Hort. 27 (3):
31-38
7. Nani Sumarni 1982 Pengaruh pemupukan N, P dan K Bul. Penel.
terhadap pertumbuhan dan hasil Hort. 9 (5),:
kubis varietas Osena dan Konstanta 25-32
8. Nikardi Gunadi dan A ziz 1989 Pemberian pupuk Nitrogen dan Bul. Penel.
A. Asandhi mulsa pada tanaman kubis di Hort.17 (3),:
dataran rendah 99-107
9. Nunung Nurtika 1988 Pengaruh macam pupuk nitrogen Bul. Penel.
terhadap pertumbuhan dan hasil Hort. 17 (1),:
kubis varietas Osena 1-4
10 Nunung Nurtika, E. 1995 Pengaruh dosis dan waktu aplikasi Bul. Penel.
Koeswara dan Mastur pupuk nitrogen dalam pemupukan Hort. 27 (2),:
berimbang terhadap pertumbuhan 17-27
dan hasil kubis
11. Rini Rosliani, N. Gunadi, 2001 Perbaikan kultur teknis pada sistem LHP Balitsa
N. Sumarni, A. Hidayat pertanaman sayuran dataran tinggi
dan I. Sulastrini untuk pengendalian erosi
12. Rini Rosliani, N. Gunadi, 2002 Perbaikan kultur teknis pada sistem LHP Balitsa
N. Sumarni, A. Hidayat pertanaman sayuran dataran tinggi
dan I. Sulastrini untuk pengendalian degradasi lahan

13. S. Simatupang 1995 Pengaruh zat pengatur tumbuh J. Hort. 5 (3):


terhadap perakaran, pertumbuhan, 16-19

67
dan hasil krop stek tunas kubis
14. Subhan 1987 Pengaruh macam dan dosis pupuk Bul. Penel.
organik terhadap hasil kubis kultivar Hort. 15 (1: 6-
Gloria Osena 17
15. Subhan 1988 Pengaruh penambahan pupuk P dan Bul. Penel.
Mg dalam kompos terhadap Hort. 16
pertumbuhan vegetatif dan hasil (2),:74-79
tanaman kubis varietas Ocena
16. Subhan 1988 Pengaruh pupuk bahan-bahan Bul. Penel.
organik terhadap pertumbuhan dan Hort. 16 (4),:
produksi tanaman kubis 37-41
17. Subhan 1989 Pengaruh mulsa dan waktu Bul. Penel.
pemberian pupuk N terhadap Hort.17 (3),:
pertumbuhan dan hasil kubis 53-62
varietas KK Cross di dat. rendah
18. Subhan 1989 Uji banding pemakaian kompos Bul. Penel. Hort
jagung, kompos jerami, dan pupuk 27 (4): 80-91
kandang domba terhadap hasil
kubis kultivar Gloria Osena

19. Subhan 1992 Pengaruh pemberian pupuk P dan K Bul. Penel.


terhadap pertumbuhan dan hasil Hort. 24 (1):
kubis kultivar Green Coronet 129-140
20 Subhan 1993 Pengaruh dosis dan cara pemberian Bul. Penel. Hort
pupuk majemuk NPK (15-15-15) 25 (4): 103-118
terhadap pertumbuhan dan hasil
kubis kultivar Green Coronet
21. Subhan 1994 Pengaruh pupuk fosfat dan dolomit Bul. Penel. Hort
terhadap pertumbuhan dan hasil 26 (2): 15-24
kubis dataran tinggi kultivar Green
Coronet
22. Subhan dan Agus 1994 Pengaruh dosis fosfat dan mulsa Bul. Penel. Hort
Sumarna terhadap pertumbuhan vegetatif 27 (1): 1-11
dan hasil kubis kultivar KK-Cross
23. Sudarwohadi S., Z. 1995 Pengaruh tumpangsari kubis-tomat Bul. Penel. Hort
Abidin, F. A. Bahar dan dan penyiangan terhadap komunitas 27 (4): 93-102
A. Ramlan gulma dan serangga
24. Suwandi dan Nunung 1987 Pengaruh pupuk biokimia “sari Bul. Penel.
Nurtika humus” pada tanaman kubis Hort. 15 (2):
213-218
25. T. Sembiring, F. Silalahi 1992 Pengaruh pupuk organik Tress Bul. Penel.
dan E. Bangun terhadap mutu dan produksi kubis Hort. 23 (2),:
127-133
26. Wardjito, Z. Abidin dan 1994 Pengaruh dosis bermacam-macam Bul. Penel. Hort
Suwahyo pupuk kandang terhadap 26 (3): 37-42
pertumbuhan dan produksi kubis
27. Wardjito dan Zainal 1994 Upaya pengendalian gulma dengan Bul. Penel. Hort
Abidin berbagai jenis herbisida dan secara 27 (1): 41-47
manual pada budidaya kubis
28. Y. Hilman, A.A. Asandhi 1990 Dosis dan waktu aplikasi pupuk Bul. Penel.
dan E. Sumiati daun Wokozim Crop Plus pada Hort. 19 (1):
tanaman kubis kultivar Gloria Ocena 55-66
29. Zainal Abidin 1985 Percobaan efikasi herbisida pra Bul. Penel.
tumbuh Goal 2 E pada pertanaman Hort. 12 (2):20-
kubis 26

68
Pustaka penelitian hama penyakit kubis

No
Judul Penulis Publikasi/Th. Volume/Hal
.
HAMA
A. Plutella xylostella
1. Pengaruh umur tanaman kubis Emma Agustien Skripsi Ilmu Hama 110 hal
(Brassica oleraceae L.) dan Hasyim dan Penyakit
tingkat populasi larva (Plutella Tumbuhan.
xylostella Linn) terhadap FPN UNPAD.
tingkat kerusakan dan hasil Th. 1985
panen kubis.
2. Pengaruh beberapa insektisida Sudarwohadi S. Buletin Penelitian Vol. X No. 1
terhadap hama ulat daun Tonnny K. Hortikultura Hal : 21-30
kubis dan parasitoid Moekasan Th. 1983
(Diadegma eucerophaga).
3. Efikasi Teflubenzuron, Rustaman, E.S. Buletin Penelitian Vol XIX No. 4
Flufenoxuron dan Duskarno Hortikultura Hal : 117-123
Chlorfluazuron terhadap hama Th. 1990
Plutella xylostela L. dan
Croccidolomia binotalis Zell.)
pada tanaman kubis
4. Pengaruh banyaknya aplikasi Haeruman Skripsi Jurusan 59 hal
insektisida Permetrin terhadap Selamet Hortikultura
keperidian Plutella xylostella L. Akademi Pertanian
pada tanaman kubis di Nasional Yayasan
laboratorium. Pembina Pendidikan
Pertanian Bandung.
Th. 1986
5. Efektivitas insektisida Am Am Gilang Skripsi 51 hal
Teflubenzuron terhadap telur, Yatmaha FPN Univ. Bandung
larva dan imago Plutella Raya
xylostella L. (Lepidoptera : Th. 1989
Yponomeutidae) di
laboratorium.
6. Efisiensi dan efektivitas Purnomo Dwi Skripsi Jurusan Ilmu 64 hal
modifikasi alat semprot “Boom Sasongko Hama dan Penyakit.
Sprayer” dalam pengendalian FPN UNINUS
hama Plutella xylostela L. Bandung.
(Lepidoptera : Th. 1989
Yponomeutidae) pada
tanaman kubis.
7. Pengaruh konsentrasi Sutiana Skripsi 68 hal
insektisida asetat terhadap FPN Univ. Bandung
serangan beberapa jenis hama Raya
kubis dan tingkat parasitasi Th. 1992
Diadegma semiclausum
Hellen.
8. Kemangkusan insektisida Tinny S. Uhan Buletin Penelitian Vol. XXII No. 4
Diafentiuron (Polo 500 EC) Hortikultura Hal : 56-62
terhadap kerusakan daun Th. 1992
Plutella xylostella L. dan
Croccidolomia binotalis Zell
pada tanaman kubis.
9. Kemangkusan Bensultap 50 Laksanawati Buletin Penelitian Vol. XXIII No. 3

69
WP (Panol) terhadap laju H.D. Hortikultura Hal : 49-56
serangan Plutella xylostella L. Mastur Th. 1992
dan Croccidolomia binotalis Suparman
Zell pada tanaman kubis.
10. Sinergisme insektisida Tinny S. Uhan Buletin Penelitian Vol. XXVI No. 1
klorpirifos dan beberapa Ineu Sulastrini Hortikultura Hal : 133-137
insektisida serta PB terhadap Th. 1993
larva Plutella xylostella L.
11. Ambang kendali ulat daun Sudarwohadi S. Buletin Penelitian Vol. XX No. 3
kubis (Plutella xylostella L.) Tata R. Omoy Hortikultura Hal : 95-104
pada tanaman kubis. Th. 1991
12. Efisiensi penggunaan Wiwin Setiawati Buletin Penelitian Vol. XXII No. 3
insektisida pada tanaman Sudarwohadi S. Hortikultura Hal : 64-74
kubis berdasarkan hasil Th. 1992
tangkapan ngengat Plutella
xylostella L. dengan seks
feromon Px dan perangkap
kuning.
13. Telaahan ambang kendali L.P. Astuti Habitat Vol. 10 No. 106
hama Plutella xylostella L. Gatot Mudjiono April 1999. Hal : 9-13
pada tanaman kubis. T. Nur Rofiyah
14. Status resistensi Plutella Adi Sukwida Skripsi 77 hal
xylostella L. (Lepidoptera : FPN Univ. Bandung
Yponomeutidae) strain Raya
Lembang terhadap beebrapa Th. 1988
jenis insektisida golongan
organofosfor, piretroid sintetik
dan benzoil urea.
15. Resistensi ngengat Plutella Hanifah Skripsi 85 hal
xylostella L. (Lepidoptera : Sobarioh FPN Univ. Islan
Yponomeutidae) strain Nusantara Bandung
Lembang dan Pacet terhadap Th. 1989
beberapa jenis insektisida
piretroid sintetik.
16. Status resistensi lima strain Moekasan, T.K. Jurnal Hortikultura Vol. 14 No. 2
Plutella xylostella L. terhadap S. Sastrisiswojo Th. 2004 Hal : 84-90
formulasi fipronil, delbametrin, T. Rukmana
profenofos, abamektin dan H. Sutanto
Bacillus thuringiensis. I.S. Purnamasari
A. Kurnia
Penggunaan bakteri Anna Buletin Penelitian Vol. XVI No. 4
17. Streptomyces avermectylis Laksanawati Hortikultura Hal : 70-75
sebagai insektisida mikroba H.D. Th. 1988
untuk pengendalian hama-
hama utama tanaman kubis.
18. Pengaruh penggunaan Sukma Skripsi 110 hal
formulasi bakteri Bacillus Nuswantara Jurusan Biologi
thuriensis Berliner terhadap FMIPA UNPAD Bdg.
mortalitas larva Plutella Th. 1985
xylostella L. dan kerusakan
yang ditimbulkan oleh P.
xylostella pada tanaman kubis
di laboratorium.
19. Perpaduan pengendalian Sudarwohadi Disertasi 388 hal
secara hayati dan kimia hama Sastrosiswojo Universitas
ulat daun kubis (Plutella Padjadjaran
xylostella L. (Lepidoptera : Th. 1987

70
Yponomeutidae) pada
tanaman kubis.
20. Aktivitas ekstrak biji nimba Rika Kartika Skripsi 57 hal
(Azadirachta indica A. Zuss) Jurusan Hama &
sebagai antifeedant dan Penyakit Tumbuhan
repellent terhadap larva FPN UNINUS
Plutella xylostella L. Bandung
(Lepidoptera : Th. 1990
Yponomeutidae).
21. Efektivitas insektisida mikroba Dadang Wahyu Skripsi 95 hal
dan kimia secara tunggal dan Iriana Jurusan Hama &
campurannya terhadap hama Penyakit Tumbuhan
Plutella xylostella L. FPN UNINUS
(Lepidoptera : Bandung.
Yponomeutidae) dan Th. 1990
Croccidolomia binotalis Zell
(Lepidoptera : Pyralidae) pada
tanaman kubis.
22. Pengujian toksisitas ekstrak Martua Suhunan Jurnal Agrikultura Vol. 13 No. 1
daun pacar cina, Aglaia S. April 2002 Hal : 30-38
odorata dan daun kirinyu, Toto Suharto
Cromolaena odorata terhadap
ulat daun kubis Plutella
xylostella L.
23. Resistensi tanaman krusifer Sudarwohadi S. Buletin Penelitian Vol. XV No. 1
terhadap hama ulat daun Anggorohadi Hortikultura Hal : 29-37
kubis, Plutella xylostella L. Permadi Th. 1987
A. Laksanawati
H.D.
Itja Misra
24. Pengaruh tanaman perangkap Bidari Setiati Skripsi 87 hal
terhadap populasi Plutella Aisyah FPN Univ. Jendral
xylostella L. dan kerusakan Soedirman
pada tanaman kubis. Th. 1986
25. Pengaruh ukuran kurungan Ratna Ningsih Skripsi 53 hal
pada tingkat parasitasi dan Jurusan Hama &
nisbah kelamin Cotesia Penyakit Tumbuhan
plutellae Kurdj (Hymenoptera : FPN Univ. Islam
Broconidae) terhadap larva Nusantara Bandung
Plutella xylostella L. Th. 1991
(Lepidoptera :
Yponomeutidae).
B. Crocidolomia SP.
1. Kehilangan hasil panen kubis Tinny S. Uhan Jurnal Hortikultura Vol. 3 No. 2
karena ulat krop kubis Th. 1993 Hal : 22-26
(Croccidolomia binotalis Zell.)
dan cara pengendaliannya.
2. Pengujian bebrapa macam Tata Resta Buletin Penelitian Vol. XV No. 3
insektisida terhadap hama Omoy Hortikultura Hal : 110-116
Croccidolomia binotalis Zell Th. 1987
pada tanaman kubis.
3. Pengaruh pemberian Amral Fery Buletin Penelitian Vol. XXIII No. 2
Magnesium dan insektisida Hubagyo K. Hortikultura Hal : 63-68
terhadap serangan hama Losowinarto Th. 1992
Croccidolomia binotalis Zell
pada tanaman kubis (Brassica

71
oleracea L. var. Capitata).
4. Penetapan ambang kendali Tisna Skripsi 67 hal
Croccidolomia pavonana (F) FPN Univ. Bandung
(Lepidoptera : Pyralidae) pada Raya
tanaman kubis (Brassica Th. 1992
oleracea var. Capitata).
5. Pengujian ambang kendali ulat Barnas Subhana Skripsi 76 hal
krop kubis Croccidolomia Jurusan Hama &
binotalis Zell (Lepidoptera : Penyakit Tumbuhan
Pyralidae) pada tanaman FPN Univ. Islam
kubis. Nusantara
Th. 1992
6. Resistensi Croccidolomia Tinny S. Uhan Jurnal Hortikultura Vol. 3 No. 2
binotalis Zell strain Lembang Ineu Sulastrini Th. 1993 Hal : 75
terhadap beberapa jenis
insektisida.
7. Efikasi plasma nutfah Budi Martono Agr. UMY Vol. XII No. 1
bengkuang (Pachyrhizus Th. 2004 Hal : 17-22
erosus) terhadap ulat krop
kubis (Croccidolomia pavanana
F.)
8. Pengaruh jamur Metarrhizium Hubagyo K. Buletin Penelitian Vol. XXIII No. 2
anisopliae terhadap serangan Loso Winarto Hortikultura Hal : 58-62
Croccidolomia binotalis Zell Amral Fery Th. 1992
pada tanaman kubis varietas S. Sembiring
KR-1.
8. Patogenitas jamur yang Berty H. Assa Eugenia Vol. 1 No. 4
berasosiasi dengan larva Henny Makal Th. 1995 Hal : 40-43
Croccidolomia binotalis Zell.
C. Agrotis ipsilon Hufn
1. Pengaruh beberapa umpan Tinny S. Uhan Buletin Penelitian Vol. XVII No. 3
beracun terhadap ulat tanah Hortikultura Hal : 24-30
(Agrotis ipsilon Hufn; Th. 1989
Lepidoptera : Noctuidae) dan
kerusakan tanaman kubis.
NEMATODA
D. Meloidogyne spp.
1. Ketahanan varietas kubis dan A. Widjaya W. Buletin Penelitian Vol. XXIII No. 2
bebawangan terhadap Hadisoeganda Hortikultura Hal : 33-40
nematoda bengkak akar Th. 1992
(Meloidogyne spp.)
berdasarkan reproduksi
nematoda pada tanaman
inang.
2. Hubungan antara densitas A. Widjaya W. Jurnal Hortikultura Vol. 5 No. 4
populasi awal Meloidogyne Hadisoeganda Th. 1995 Hal : 55-60
incognita ras 1 dari hasil
tanaman kubis.
PENYAKIT
E. Plasmodiophora brassicae
1. First report on the incidence of Suhardi Buletin Penelitian Vol. IV No. 5
clubroot on cabbage in Euis Affandi Hortikultura Hal : 19-24
Indonesia; current spread, H. Vermevlen Th. 1976
damage and importance.

72
2. Pemanfaatan mikroba tanah I. Djatnika Buletin Penelitian Vol. XIX No. 1
untuk pengendalian Hortikultura Hal : 32-35
Plasmodiophora brassicae War Th. 1990
pada kubis (Brassica oleracea
Linn)

3. Pengaruh Mortirella sp., I. Djatnika Buletin Penelitian Vol. XXI No. 2


Trichoderma sp. dan media Hortikultura Hal : 34-38
tumbuhnya terhadap serangan Th. 1991
Plasmodiophora brassicae M.
pada kubis.
F. Erwinia carotovora
1. Pencegahan pasca panen Sjaifullah Buletin Penelitian Vol. XVI No. 1
terhadap serangan penyakit Besman Hortikultura Hal : 60-66
busuk lunak pada kubis Napitupulu Th. 1988
dengan senyawa kapur tawas Mass H. Lunis
dan silika gel.
2. Pengendalian busuk basah Hanudin Buletin Penelitian Vol. XXV No. 1
pada kubis secara kultur I. Djatnika Hortikultura Hal : 32-36
teknis. Th. 1993
Peronospora parasitica
G.
(Fr) Tul
1. Pengujian fungisida terhadap Harmidi Buletin Penelitian Vol. IV No. 4
Peronospora parasitica (Fr) Tul Widjorini Hortikultura Hal : 23-26
pada tanaman kubis di Th. 1976
persemaian.
2. Pengendalian embun bulu Euis Buletin Penelitian Vol. XXII No. 1
(Peronospora parasitica Pers. Suryaningsih Hortikultura Hal : 64-70
Ex. Fr) pada kubis di Th. 1992
pesemaian.
3. Pengamatan penyakit pada Eveline Herlina Skripsi 60 hal
pertanaman kubis (Brassica Jurusan Ilmu Hama
oleracea L. var. Capitata) di & Penyakit
kebun percobaan Balai Tumbuhan - FPN
Penelitian Hortikultura IPB
Lembang dan sekitarnya. Th. 1984

II. ALAT SEMPROT


1. Perbaikan teknik Tata R. Omoy Buletin Penelitian Vol. XXVI No. 2
penyemprotan insektisida Tonny K. Hortikultura Hal : 100-108
dengan penggunaan beberapa Moekasan Th. 1994
macam nozel pada tanaman
kubis.
III. RESIDU PESTISIDA
1. Pengaruh tingkat konsentrasi Tonny Koestoni Buletin Penelitian Vol. XV No. 4
penyemprotan insektisida M. Hortikultura Hal : 87-97
Acephate, Kuinalfos dan Ineu Sulastrini Th. 1987
Triazofos terhadap residu Sudarwohadi S.
pestisida pada tanaman kubis.
2. Pemeriksaan residu insektisida Rustaman E.S. Media Penelitian No. 6
dalam buah tomat dan Sudarwohadi S. Sukamandi Hal : 13-21
tanaman kubis di Kecamatan Th. 1988
Lembang, Pangalengan dan
Cisurupan.

73
IV. PHT
1. Penerapan pengendalian C.S. Rante Eugenia Vol. 1 No. 4 Th.
hama terpadu pada tanaman D.T. Sembel Oktober 1995 XI
kubis di Kecamatan Tomohon, M. Meray Hal : 44-50
Kabupaten Minahasa. N.N. Wanta

Pustaka penelitian pasca panen kubis

No. Judul Penulis Publikasi


1. Pengaruh umur panen terhadap hasil dan Sabari, dkk. Jurnal Hort. Vol 6 (5)
mutu kubis 1997 : 477– 483
2. Penilaian mutu fisik enam hibrida kubis Ali Asgar, dkk. BPH. Vol XVI (2) 1988:
107-110
3. Penilaian mutu kimia enam macam kubis hasil Ali Asgar, dkk. BPH. Vol XVI (4) 1988: 1-
silangan 4
4. Pencegahan pascapanen terhadap srg. Syaifullah, dkk. BPH. Vol XVI (1) 1988:
penyakit busuk lunak pada kubis dengan 60 – 66
senyawa kapur tawas dan silikagel
5. Studi orientasi dan inventarisasi cara dan alat Darkam M., Pros. Seminar Ilmiah
pengiriman kubis antar pulau dkk. Nas.Sayuran. 1995. 582-
590
6. Perlkuan prapanen untuk mempertahankan Marsono Hortikultura. No 25,
kualitas dan hasil krop kubis 1989: 42 - 43
7. Pembuatan kimchi dari limbah kubis; P. Sihombing, LHP-BPH. 1982/1983: 66
Pengaruh konsentrasi garam, lama dan lokasi dkk. – 73
fermentasi
8. Perbandingan mutu krop beberapa varietas RM. Sinaga Hortikultura. No 10-1980:
kubis 267 – 271
9. Residu pestisida Diazinon dalam daun kubis Theresia S. Majalah Ilmiah- UNSUD
dari saat panen sampai penanganan sebelum No. 5 tahun 1990.
dikonsumsi
10. Pengujian varietas kubis introduksi yang Sudjiyo, dkk Jurnal Hort. Vol 5 (1)
sesuai untuk ekspor 1995: 102-105
11. Pengaruh perlakuan pra-pengeringan dan Kusdibyo dan LHP-Balitsa TA 2000
jarak rak pengering terhadap mutu dan daya
Darkam
simpan wortel dan kubis kering
12. Teknik pengeringan dengan kontak panas Dian H. dan LHP-Balitsa TA
(Konveksi) pada Sayuran Wortel dan Kubis Darkam 1999/2000
13. Uji ketahanan simpan wortel dan kubis kering Kusdibyo dan LHP-Balitsa TA 2000
dengan antioksidan dan beberapa jenis Darkam
kemasan
14. Kajian mutu dan daya simpan kubis hasil Darkam M, dkk LHP-Balitsa TA
tumpangsari 1999/2000

74
Pustaka penelitian agro-ekonomi kubis

No. Judul Penulis Publikasi


1. Pengaruh penggunaan tenaga kerja dan Adiyoga, W. Bul. Penel. Hort. XI (4)
pestisida terhadap pendapatan bersih 1984: 20-25
usahatani kubis
2. Pengaruh tumpangsari terhadap tingkat Adiyoga, W. Bul. Penel. Hort. XII (4)
produksi dan pendapatan usahatani kubis 1985: 8-18
3. Analisis usahatani kubis di Sumatera Barat Arifin, M. dan G. Bul. Penel. Hort. XXII (3)
(Studi kasus di Desa Galagah, Kabupaten S. Hardono 1992: 90-98
Solok)
4. Efisiensi penggunaan faktor produksi dalam Nurmalinda dan Bul. Penel. Hort. XXVII
usahatani kubis di tingkat petani (4) 1995: 34-39
M. Ameriana
5. Marjin tataniaga dan bagian petani untuk Adiyoga, W. Jurnal Hort. 7 (3) 1997:
kentang, kubis dan tomat di Jawa Barat dan 840-851
Sumatera Utara

75