Anda di halaman 1dari 85

UPAYA PEMERINTAH MENGATASI MASALAH KEMISKINAN

Salah satu negara yang masih dibelit oleh masalah sosial ini salah satunya adalah
indonesia. Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang di hadapi oleh seluruh pemerintahan
yang ada di dunia ini. Kemiskinan di pengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan antara
satu dengan yang lainnya. Beberapa kebijakan yang menyangkut sektor ini seperti program KUR
(Kredit Usaha Rakyat) dan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Upaya
strategis yang dapat dilakukan dalam rangka pemberdayaan UMKM antara lain, pertama,
menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan UMKM meliputi regulasi dan
perlindungan usaha. Kedua menciptakan sistem penjaminan bagi usaha mikro. Ketiga
menyediakan bantuan teknis berupa pendampingan dan bantuan menejerial. Keempat
memperbesar akses perkreditan pada lembaga keuangan. Dengan empat langkah tersebut, maka
sektor UMKM akan lebih bergerak yang pada akhirnya akan berakibat pada pengurangan angka
kemiskinan.

Untuk mengatasi masalah kemiskinan, pemerintah memiliki peran yang besar. Namun
dalam kenyataannya, program yang dijalankan oleh pemerintah belum mampu menyentuh pokok
yang menimbulkan masalah kemiskinan ini. Ada beberapa program pemerintah yang sudah
dijalankan dan dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Baik ada
atau tidak ada masalah kemiskinan di indonesia.

Salah satu penghambat pembangaunan ekonomi adalah kemiskinan. Ia merupakan tolak
ukur bagi sebuah negara apakah pembangunan yang tengah berlangsung dapat di nikmati oleh
segenap warga negaranya tanpa memandang hal-hal yang bersifat atributif. Dengan kata lain,
pembangunan yang berlangsung benar-benar merata dalam masyarakat.

Kemiskinan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, sebab ia merupakan akibat
dari tidak tercapainya pembangunan ekonomi yang berlangsung. Dalam hal ini, kemiskinan akan
makin bertambah seiring tidak terjadinya pemerataan pembangunan. Pada tahun 2005 jumlah
rakyat miskin mencapai 35,1 juta jiwa (15,97 persen) dan meningkat menjadi 39,05 juta jiwa
(17,75 persen) pada tahun 2006. Antara tahun 2005 sampai 2006 jumlah penduduk miskin
meningkat 3,95 juta jiwa.

Pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin diperkirakan masih cukup besar dibandingkan
jumlahnya sebelum tahun 2006. Sementara itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 Pemerintah telah mempunyai sasaran mengurangi jumlah
penduduk miskin pada tahun 2009 hingga mencapai 8,2 persen. Dengan demikian, Pemerintah
membutuhkan upaya yang sangat besar untuk mencapai sasaran tersebut. Oleh karena itu, pada
tahun 2008 Pemerintah akan melakukan peningkatan efektivitas penanggulangan kemiskinan.



Langkah Mengatasi Masalah Kemiskinan:

Untuk itu kiranya pemerintah perlu membuat ketegasan dan kebijakan yang lebih
berpihaka kepada rakyat dalam rangka menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Beberapa
langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah :

1. Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi
pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan terbesar di
indonesia.



2. Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok manusia, sehingga setiap masyarakat bisa
menikmati makanan yang berkualitas. Hal ini berdampak pada meningkatnya angka kesehatan
masyarakat.



3. Menghapuskan korupsi. Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa
menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.



4. Menggalakkan program zakat. Di indonesia, islam adalah agama mayoritas. Dan dalam islam
ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan di
antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di indonesia,
ditengarai mencapai angka 1 triliun setiap tahunnya. Dan jika bisa dikelola dengan baik akan
menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.



5. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin daya
beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan
kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :



Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton.

Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer.



6. Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Fokus program ini bertujuan
untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan
prasarana dasar. Beberapa program yang berkaitan dengan fokus ini antara lain :



Penyediaan beasiswa bagi siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar di Sekolah Dasar
(SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah
(MTs).

Beasiswa siswa miskin jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah
Aliyah (SMA/SMK/MA).

Beasiswa untuk mahasiswa miskin dan beasiswa berprestasi.

Pelayanan kesehatan rujukan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III rumah sakit.



7. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di
kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan
kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini
antara lain :

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di daerah perdesaan dan perkotaan.

Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah.

Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus.

Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.



Selain yang diatas terdapat 4 strategi dasar yang telah ditetapkan dalam melakukan percepatan
penanggulangan kemiskinan, yaitu:

Menyempurnakan program perlindungan social.

Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar.

Pemberdayaan masyarakat, dan

Pembangunan yang inklusif.
Upaya penanggulangan kejahatan
Diposkan oleh RAY PRATAMA SIADARI, S.H.,M.H. (owner Sekolah TInggi Ilmu Hukum
Pratama) di 06.07


Masalah kejahatan bukanlah hal yang baru, meskipun tempat dan waktunya
berlainan tetapi tetap saja modusnya dinilai sama .Semakin lama kejahatan di ibu kota
dan kota-kota besar lainnya semakin meningkat bahkan dibeberapa daerah dan sampai
kekota-kota kecil.
Upaya penanggulangan kejahatan telah dilakukan oleh semua pihak ,baik
pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Berbagai program serta kegiatan
yang telah dilakukan sambil terus mencari cara yang paling tepat dan efektif dalam
mengatasi masalah tersebut.
Seperti yang dikemukakan oleh E.H.Sutherland dan Cressey (Ramli Atmasasmita
1983:66) yang mengemukakan bahwa dalam crime prevention dalam pelaksanaannya
ada dua buah metode yang dipakai untuk mengurangi frekuensi dari kejahatan, yaitu :
1. Metode untuk mengurangi pengulangan dari kejahatan
Merupakan suatu cara yang ditujukan kepada pengurangan jumlah residivis
(pengulangan kejahatan) dengan suatu pembinaan yang dilakukan secara konseptual.
2. Metode untuk mencegah the first crime
Merupakan satu cara yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kejahatan yang
pertama kali (the first crime) yang akan dilakukan oleh seseorang dan metode ini juga
dikenal sebagai metode prevention (preventif).
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa upaya penanggulangan kejahatan
mencakup aktivitas preventif dan sekaligus berupaya untuk memperbaiki perilaku
seseorang yang telah dinyatakan bersalah (sebagai seorang narapidana) di lembaga
pemasyarakatan. Dengan kata lain upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan
secara preventif dan represif.
a. Upaya preventif
Penanggulangan kejahatan secara preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya
atau timbulnya kejahatan yang pertama kali . Mencegah kejahatan lebih baik daripada
mencoba untuk mendidik penjahat menjadi lebih baik kembali, sebagaimana semboyan
dalam kriminologi yaitu usaha-usaha memperbaiki penjahat perlu diperhatikan dan
diarahkan agar tidak terjadi lagi kejahatan ulangan.
Sangat beralasan bila upaya preventif diutamakan karena upaya preventif dapat
dilakukan oleh siapa saja tanpa suatu keahlian khusus dan ekonomis.
Barnest dan Teeters (Ramli Atmasasmita,1983:79) menunjukkan beberapa cara
untuk menanggulangi kejahatan yaitu:
1) Menyadari bahwa akan adanya kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan
dorongan-dorongan sosial atau tekanan-tekanan sosial dan tekanan ekonomi yang
dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah perbuatan jahat.
2) Memusatkan perhatian kepada individu-individu yang menunjukkan potensialitas
kriminal atau sosial, sekalipun potensialitas tersebut disebabkan gangguan-gangguan
biologis dan psikologis atau kurang mendapat kesempatan sosial ekonomis yang cukup
baik sehingga dapat merupakan suatu kesatuan yang harmonis .

Dari pendapat Barnest dan Teeters tersebut di atas menunjukkan bahwa kejahatan
dapat kita tanggulangi apabila keadaan ekonomi atau keadaan lingkungan sosial yang
mempengaruhi seseorang ke arah tingkah laku kriminal dapat dikembalikan pada
keadaan baik. Dengan kata lain perbaikan keadaan ekonomi mutlak dilakukan.
Sedangkan faktor-faktor biologis, psikologis, merupakan faktor yang sekunder saja.
Jadi dalam upaya preventif itu adalah bagaimana kita melakukan suatu usaha yang
positif, serta bagaimana kita menciptakan suatu kondisi seperti keadaan ekonomi,
lingkungan, juga kultur masyarakat yang menjadi suatu daya dinamika dalam
pembangunan dan bukan sebaliknya seperti menimbulkan ketegangan-ketegangan
sosial yang mendorong timbulnya perbuatan menyimpang juga disamping itu
bagaimana meningkatkan kesadaran dan patisipasi masyarakat bahwa keamanan dan
ketertiban merupakan tanggung jawab bersama .
b.Upaya represif
Upaya represif adalah suatu upaya penanggulangan kejahatan secara konsepsional
yang ditempuh setelah terjadinya kejahatan . Penanggulangan dengan upaya represif
dimaksudkan untuk menindak para pelaku kejahatan sesuai dengan perbuatannya
serta memperbaikinya kembali agar mereka sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya
merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan merugikan masyarakat , sehingga
tidak akan mengulanginya dan orang lain juga tidak akan melakukannya mengingat
sanksi yang akan ditanggungnya sangat berat .
Dalam membahas sistem represif, tentunya tidak terlepas dari sistem peradilan
pidana kita, dimana dalam sistem peradilan pidana paling sedikit terdapat 5 (lima) sub-
sistem yaitu sub-sistem kehakiman, kejaksaan, kepolisian, pemasyarakatan, dan
kepengacaraan, yang merupakan suatu keseluruhan yang terangkai dan berhubungan
secara fungsional.
Upaya represif dalam pelaksanaannya dilakukan pula dengan metode perlakuan
(treatment) dan penghukuman (punishment). Lebih jelasnya uraiannya sebagai berikut
ini :
1) Perlakuan ( treatment )
Dalam penggolongan perlakuan, penulis tidak membicarakan perlakuan yang pasti
terhadap pelanggar hukum, tetapi lebih menitikberatkan pada berbagai kemungkinan
dan bermacam-macam bentuk perlakuan terhadap pelanggar hukum sesuai dengan
akibat yang ditimbulkannya.

Perlakuan berdasarkan penerapan hukum, menurut Abdul Syani (1987:139) yang
membedakan dari segi jenjang berat dan ringannya suatu perlakuan,yaitu :
a) Perlakuan yang tidak menerapkan sanksi-sanksi pidana, artinya perlakuan yang paling
ringan diberikan kepada orang yang belum telanjur melakukan kejahatan. Dalam
perlakuan ini, suatu penyimpangan dianggap belum begitu berbahaya sebagai usaha
pencegahan.
b) Perlakuan dengan sanksi-sanksi pidana secara tidak langsung, artinya tidak
berdasarkan putusan yang menyatakan suatu hukum terhadap si pelaku kejahatan.
Adapun yang diharapkan dari penerapan perlakuan-perlakuan ini ialah tanggapan
baik dari pelanggar hukum terhadap perlakuan yang diterimanya. Perlakuan ini
dititikberatkan pada usaha pelaku kejahatan agar dapat kembali sadar akan
kekeliruannya dan kesalahannya, dan dapat kembali bergaul di dalam masyarakat
seperti sedia kala .
Jadi dapat disimpulkan bahwa perlakuan ini mengandung dua tujuan pokok, yaitu
sebagai upaya pencegahan dan penyadaran terhadap pelaku kejahatan agar tidak
melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi dimaksudkan agar si pelaku kejahatan ini di
kemudian hari tidak lagi melakukan pelanggaran hukum, baik dari pelanggaran-
pelanggaran yang mungkin lebih besar merugikan masyarakat dan pemerintah.
2) Penghukuman (punishment)
Jika ada pelanggar hukum yang tidak memungkinkan untuk diberikan perlakuan
(treatment), mungkin karena kronisnya atau terlalu beratnya kesalahan yang telah
dilakukan, maka perlu diberikan penghukuman yang sesuai dengan perundang-
undangan dalam hukum pidana.
Oleh karena Indonesia sudah menganut sistem pemasyarakatan, bukan lagi sistem
kepenjaraan yang penuh dengan penderitaan, maka dengan sistem pemasyarakatan
hukuman dijatuhkan kepada pelanggar hukum adalah hukuman yang semaksimal
mungkin (bukan pembalasan) dengan berorientasi pada pembinaan dan perbaikan
pelaku kejahatan.
Seiring dengan tujuan dari pidana penjara sekarang, Sahardjo mengemukakan
seperti yang dikutip oleh Abdulsyani (1987:141) sebagai berikut :
Menyatakan bahwa tujuan dari pemasyarakatan yang mengandung makna bahwa tidak
hanya masyarakat yang diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana,
tetapi juga orang-orang yang menurut Sahardjo telah tersesat diayomi oleh pohon
beringin dan diberikan bekal hidup sehingga menjadi kaula yang berfaedah di dalam
masyarakat Indonesia .

Jadi dengan sistem pemasyarakatan, disamping narapidana harus menjalani
hukumannya di lembaga pemasyarakatan, mereka pun dididik dan dibina serta dibekali
oleh suatu keterampilan agar kelak setelah keluar menjadi orang yang berguna di
dalam masyarakat dan bukan lagi menjadi seorang narapidana yang meresahkan
masyarakat karena segala perbuatan jahat mereka di masa lalu yang sudah banyak
merugikan masyarakat, sehingga kehidupan yang mereka jalani setelah mereka keluar
dari penjara menjadi lebih baik karena kesadaran mereka untuk melakukan perubahan
didalam dirinya maupun bersama dengan masyarakat di sekitar tempat dia bertempat
tinggal.




A. Upaya Penanggulangan Kejahatan
Kejahatan adalah masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat di seluruh negara
semenjak dahulu dan pada hakikatnya merupakan produk dari masyarakat sendiri.
Kejahatan dalam arti luas, menyangkut pelanggaran dari norma-norma yang dikenal
masyarakat, seperti norma-norma agama, norma moral hukum. Norma hukum pada
umumnya dirumuskan dalam undang-undang yang dipertanggungjawabkan aparat
pemerintah untuk menegakkannya, terutama kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.
Namun, karena kejahatan langsung mengganggu keamanan dan ketertiban
masyarakat, maka wajarlah bila semua pihak baik pemerintah maupun warga
masyarakat, karena setiap orang mendambakan kehidupan bermasyarakat yang
tenang dan damai.
Menyadari tingginya tingkat kejahatan, maka secara langsung atau tidak langsung
mendorong pula perkembangan dari pemberian reaksi terhadap kejahatan dan pelaku
kejahatan pada hakikatnya berkaitan dengan maksud dan tujuan dari usaha
penanggulangan kejahatan tersebut.


Menurut Hoefnagels (Arif, 1991:2) upaya penanggulangan kejahatan dapat
ditempuh dengan cara :
a) Criminal application : (penerapan hukum pidana)
Contohnya : penerapan Pasal 354 KUHP dengan hukuman maksimal yaitu 8 tahun baik
dalam tuntutan maupun putusannya.

b) Preventif without punishment : (pencegahan tanpa pidana)
Contohnya : dengan menerapkan hukuman maksimal pada pelaku kejahatan, maka
secara tidak langsung memberikan prevensi (pencegahan) kepada publik walaupun ia
tidak dikenai hukuman atau shock therapy kepada masyarakat.

c) Influencing views of society on crime and punishment (mas media mempengaruhi
pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mas media).
Contohnya : mensosialisasikan suatu undang-undang dengan memberikan gambaran
tentang bagaimana delik itu dan ancaman hukumannya.

Upaya pencegahan kejahatan dapat berarti menciptakan suatu kondisi tertentu agar
tidak terjadi kejahatan. Kaiser (Darmawan, 1994:4) memberikan batasan tentang
pencegahan kejahatan sebagai suatu usaha yang meliputi segala tindakan yang
mempunyai tujuan yang khusus untuk memperkecil ruang segala tindakan yang
mempunyai tujuan yang khusus untuk memperkecil ruang lingkup kekerasan dari suatu
pelanggaran baik melalui pengurangan ataupun melalui usaha-usaha pemberian
pengaruh kepada orang-orang yang potensial dapat menjadi pelanggar serta kepada
masyarakat umum.
Penanggulangan kejahatan dapat diartikan secara luas dan sempit. Dalam
pengertian yang luas, maka pemerintah beserta masyarakat sangat berperan. Bagi
pemerintah adalah keseluruhan kebijakan yang dilakukan melalui perundang-undangan
dan badan-badan resmi yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari
masyarakat (Sudarto, 1981:114).
Peran pemerintah yang begitu luas, maka kunci dan strategis dalam menanggulangi
kejahatan meliputi (Arief, 1991:4), ketimpangan sosial, diskriminasi nasional, standar
hidup yang rendah, pengangguran dan kebodohan di antara golongan besar penduduk.
Bahwa upaya penghapusan sebab dari kondisi menimbulkan kejahatan harus
merupakan strategi pencegahan kejahatan yang mendasar.
Secara sempit lembaga yang bertanggung jawab atas usaha pencegahan kejahatan
adalah polisi. Namun karena terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh polisi
telah mengakibatkan tidak efektifnya tugas mereka. Lebih jauh polisi juga tidak
memungkinkan mencapai tahap ideal pemerintah, sarana dan prasarana yang
berkaitan dengan usaha pencegahan kejahatan. Oleh karena itu, peran serta
masyarakat dalam kegiatan pencegahan kejahatan menjadi hal yang sangat
diharapkan.



A. Upaya Penanggulangan Kejahatan
Kejahatan merupakan gejala sosial yang senantiasa dihadapi oleh setiap
masyarakat di dunia ini. Kejahatan dalam keberadaannya dirasakan sangat
meresahkan, disamping itu juga mengganggu ketertiban dan ketentraman dalam
masyarakat berupaya semaksimal mungkin untuk menanggulangi kejahatan tersebut.
Upaya penanggulangan kejahatan telah dan terus dilakukan oleh pemerintah
maupun masyarakat. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan sambil terus
menerus mecari cara paling tepat dan efektif untuk mengatasi masalah tersebut.
Menurut Barda Nawawi Arief (2007:77) bahwa:
Upaya atau kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan
termasuk bidang kebijakan kriminal. Kebijakan kriminal ini pun tidak terlepas dari
kebijakan yang lebih luas, yaitu kebijakan sosial yang terdiri dari kebijakan/ upaya-
upaya untuk kesejahteraan sosial dan kebijakan/upaya-upaya untuk perlindungan
masyarakat.
Lanjut menurat Barda Nawawi Arief (2007:77) ,bahwa:
Kebijakan penanggulangan kejahatan dilakukan dengan menggunakan sarana penal
(hukum pidana), maka kebijakan hukum pidana khususnya pada tahap kebijakan
yudikatif harus memperhatikan dan mengarah pada tercapainya tujuan dari kebijakan
social itu berupa social welfare dan social defence.

Lain halnya menurut Baharuddin Lopa (2001:16) bahwa upaya dalam
menanggulangi kejahatan dapat diambil beberapa langkah-langkah terpadu, meliputi
langkah penindakan (represif) disamping langkah pencegahan (preventif).
Langkah-langkah preventif menurut Baharuddin Lopa,( 2001:16-17) itu meliputi :
a) Peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mengurangi pengangguran, yang dengan
sendirinya akan mengurangi kejahatan.
b) Memperbaiki sistem administrasi dan pengawasan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan.
c) Peningkatan penyuluhan hukum untuk memeratakan kesadaran hukum rakyat.
d) Menambah personil kepolisian dan personil penegak hukum lainnya untuk lebih
meningkatkan tindakan represif maupun preventif.
e) Meningkatan ketangguhan moral serta profesionalisme bagi para pelaksana penegak
hukum.
Solusi preventif adalah berupa cara-cara yang cenderung mencegah kejahatan.
Solusi supresif adalah cara-cara yang cenderung menghentikan kejahatan sudah
mulai, kejahatan sedang berlangsung tetapi belum sepenuhnya sehingga kejahatan
dapat dicegah. Solusi yang memuaskan terdiri dari pemulihan atau pemberian ganti
kerugian bagi mereka yang menderita akibat kejahatan. Sedangkan solusi pidana atau
hukuman juga berguna, sebab setelah kejahatan dihentikan pihak yang dirugikan sudah
mendapat ganti rugi, kejahatan serupa masih perlu dicegah entah dipihak pelaku yang
sama atau pelaku lainnya. Menghilangkan kecendrungan untuk mengulangi tindakan
adalah suatu reformasi. Solusi yang berlangsung kerena rasa takut disebut hukuman.
Entah mengakibatkan ketidakmampuan fisik atau tidak, itu tergantung pada bentuk
hukumannya.
Hal tersebut terkait dengan pandangan Jeremy Bentham(2006:307) bahwa yang
mengemukakan bahwa Tujuan hukuman adalah mencegah terjadinya kejahatan
serupa, dalam hal ini dapat memberi efek jera kepada pelaku dan individu lain pun
untuk berbuat kejahatan.
Cara Mengatasi Masalah Kependudukan
Ledakan jumlah penduduk sering kali menyebabkan berbagai masalah, maka dari itu
pemerintah mengeluarkan berbagai program untuk mengatasi ledakan jumlah penduduk karena
masalah yang sering timbul di tanah air' salah satu penyebabnya adalah jumlah penduduk yang
tidak terkendali.
Pasti teman - teman pengen tau bukan cara untuk mengatasi jumlah penduduk yang tidak
terkendali?
Tenang saja pada postingan berikut ini saya akan membahas tentang cara mengatasi jumlah
penduduk yang tidak terkendali.
Baiklah tanpa berlama - lama lagi, berikut merupakan cara mengatasi masalah kependudukan

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatai pertumbuhan penduduk yang tinggi
adalah:
1. Mengikuti dan melaksanakan program Keluarga Berencana (KB)
Tujuan dalam program ini adalah yang pertama agar terjadi penurunan fertilitas dan terbentuknya
pola budaya small family size. Tujuan yang kedua adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
penduduk yang merata dan berkeadilan
2. Pembatasan usia perkawian, yaitu dengan diberlakukannya undang - undang perkawinan
Kalau ini saya tidak banyak komen lagi pasti kamu sudah tau maksudnya bukan.
3. Mengurangi dan membatasi tunjangan bagi pegawai negeri sipil
4. Program pendidikan kependudukan dan penyuluhan kepada masyarakat.

Program - program diatas adalah suatu upaya masyarakat dalam mengatasi jumlah penduduk
yang tidak terkendali. Contoh lain dari upaya pemerintah dalam mengatasi masalah
kependudukan adalah migrasi atau perpidahan penduduk, inipun masih belum efektif sehingga
masalah - masalah akibat ledakan jumlah penduduk terus datang.
Berbagai masalah juga timbul akibat migrasi dan lagi - lagi pemerintah harus mencari cara untuk
mengatasi masalah tersebut. Masalah yang silih berganti memaksa agar kita berpikir panjang
mengenai masalah tersebut.
Upaya - upaya pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat migrasi
antara lain:
1. Meningkatkan produktivitas pertanian di pedesaan
akibat dari masalah ekonomi, memaksa para petani untuk migrasi, cara tersebut menyebabkan
produktivitas pertanian di pedesaan menurun.
2. Menumbuhkan industrialisasi di pedesaan
Para petani yang barmasalah dalam ekonomi akan migrasi ke tempat lain untuk kesejahteraan
hidup mereka, keadaan inilah yang menyebabkan proyek - proyek pertanian di pedesaan
menurun.
3. Membangun fasilitas dan infrastruktur di pedesaan
Para petani dalam bertani pastinya membutuhkan fasilitas yang cukup untuk pertaniannya.
Fasilitas yang kurang menyebabkan para petani meninggalkan pertaniannya dan mencari
lapangan pekerjaan lain, hal ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian negara.
Ciri-Ciri Gejala Sosial di Indonesia dan NegaraTetangga

Follow any responses to this article
Subscribe to entry RSS 2.0
Subscribe to entry RSS 0.92
Subscribe to responses RSS
Home Sains

(Keadaan Sosial Indonesia dan Negara Tetangga) Keadaan sosial adalah suatu keadaan
atau kondisi yang menggambarkan tentang hal-hal yang berkaitan perbuatan manusia.
Pegunungan, dataran rendah, rawa, dan sebagainya termasuk keadaan alam. Sementara
kemiskinan, kejahatan, dan sebagainya termasuk dalam keadaan sosial atau masalah sosial.
Keadaan alam suatu wilayah atau negara baik langsung maupun tidak langsung akan
memengaruhi keadaan sosial masyarakatnya. Orang yang hidup di daerah yang tandus dan
kurang sumber daya alam pada umumnya hidupnya miskin dan kekurangan. Sementara
kemiskinan kadang dapat mendorong orang untuk berbuat kejahatan. Dengan demikian keadaan
alam yang tandus dan miskin sumber daya alam secara tidak langsung mengakibatkan keadaan
sosial yang berupa kemiskinan dan kejahatan. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada
umumnya pernah dijajaholeh bangsa Barat kecuali negara Thailand. Oleh karena itu, secara
umum keadaan sosial penduduknya kondisinya hampir sama.
Beberapa persamaan keadaan sosial negara-negara di kawasan Asia Tenggara antara lain
berikut ini:
1. Sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian.
2. Pada umumnya negara-negara di Asia Tenggara pernah dijajah negara lain.
3. Penduduknya sebagian besar termasuk rumpun Melayu.
4. Dilihat dari kondisi sosial ekonominya, rata-rata negara di kawasan AsiaTenggara termasuk
kelompok negara berkembang.Sebagai negara berkembang, negara-negara di kawasan Asia
Tenggaramempunyai berbagai masalah khususnya masalah-masalah yang berkaitandengan
penduduk atau sering disebut sebagai masalah-masalah sosial.
Berikut ini beberapa masalah sosial di negara-negara kawasan Asia Tenggara
a.Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup atau tidak dapat memenuhi
kebutuhan pokok atau kebutuhan hidupnya secara umum. Seseorang dikatakan miskin apabila
orang itu tidak mampu memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan
pendidikan. Beberapa kelompok yangdapat dikategorikan sebagai orang miskin antara lain
berikut ini:
Kelompok petani yang tidak memiliki tanah garapan atau hanya memiliki sedikit tanah sehingga
tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka umumnya hidup sebagai buruh
tani atau penyewatanah pertanian dari pemilik tanah yang luas di daerahnya.
Kelompok buruh kasar yang tidak memiliki keahlian atau keterampilan karena tidak terlatih atau
pendidikannya sangat rendah. Mereka hidupserba kekurangan karena upah yang diperoleh tidak
sebanding dengankebutuhan hidup yang semakin banyak. Termasuk dalam kelompok iniadalah
tukang becak, pedagang kecil-kecilan, pembantu rumah tangga,bahkan termasuk gelandangan
di kota-kota besar. Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial, apabila perbedaan ekonomidari
warga masyarakat terlihat jelas. Dengan demikian pokok persoalan kemiskinan disebabkan
seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya sehingga timbullah masalah sosial
seperti tunakarya, tunasusila, dan lain-lain.
Masalah sosial yang ditimbulkan karena kemiskinan dapat mengakibatkan masalah-masalah
sosial yang lain seperti tindakkekerasan, penjarahan, pencurian, dan perampokan. Kemiskinan
merupakan masalahsosial yang umum dihadapi negara-negara diAsia Tenggara terutama
Indonesia, Filipina,Laos, Kamboja, dan Vietnam. Oleh karenaitu, pada saat ini negara-negara di
Asia Tenggara sedang berusaha untuk mengen-taskan kemiskinan dengan
melaksanakanpembangunan di segala bidang.
b.Kejahatan (Kriminalitas)
Kejahatan adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan seseorang atause kelompok orang yang
dapat merugikan orang lain. Kejahatan (kriminalitas) merupakan salah satu pelanggaran terhadap
peraturan hukum yang berlakudi masyarakat. Kejahatan dapat terjadi di mana saja baik di negara
majumaupun negara berkembang, termasuk di Indonesia dan negara-negara tetangga. Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kemiskinan dapat juga menyebabkan masalah-masalah
sosial lain diantaranya adalah tindak kejahatan. Kejahatan dapat terjadi karena disebabkan oleh
keadaan dansuatu proses yang menghasilkan perilaku penyimpangan atau perilaku yang
bertentangan dengan norma hukum. Masalah kejahatan dapat diatasi dengan cara preventif
(mencegah) dansecara repfresif (memaksa). Upaya pencegahan terhadap tindak kejahatan dapat
dilakukan dengan cara mengatasi beberapa faktor pendorongnya.Misalnya adalah menciptakan
lapangan pekerjaan baru, menciptakanpendidikan yang murah atau mengadakan pelatihan-
pelatihan kerja. Sementara tindakan represif diberlakukan bagi orang yang telah melakukan
kejahatan dengan cara dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.
c.Kebodohan
Sebagian besar penduduk negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesiadan juga
negara-negara tetangga memilikitingkat pendidikan yang rendah. Pendidikanyang rendah
mengakibatkan kebodohan.Kebodohan dapat menimbulkan masalahseperti ketertinggalan dalam
bidang iptek yang selanjutnya mengakibatkan ketertinggalan dibidang ekonomi. Kebodohan bagi
negara In-donesia dan negara tetangga pada umumnya berkaitan dengan jumlah dan
pertumbuhan penduduk yang tinggi.
Pertumbuhan penduduk mengakibatkan jumlah anak-anak usia sekolah meningkat. Apabila
sarana pendidikan masih sangat terbatas dan belum memadai menyebabkan anak-anak tidak
mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak atau hanya mendapatkan
pendidikan yang rendah.Pada akhirnya dapat menimbulkan masalah sosial yaitu rendahnya
kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang rendah merupakan faktor penghambat
pembangunan. Manusia yang tidak berkualitas atau bodoh akan menjadi beban bagi negara.
Akibat lain yang mungkin terjadi adalah rendahnya pertumbuhan ekonomi negara. Sarana
pendidikan yang belum memadai merupakan salah satu faktor penyebab tingkat pendidikan yang
rendah di negara-negara kawasan AsiaTenggara.
d.Kependudukan
Penduduk adalah orang atau sekelompok orang yang bertempat tinggalatau menempati suatu
wilayah atau negara. Dengan demikian penduduk merupakan komponen penting dari suatu
negara, karena penduduk merupakan motor penggerak dalam pelaksanaan pembangunan. Tanpa
ada penduduk suatunegara tidak dapat melaksanakan pembangunan, karena penduduk adalah
objeksekaligus subjek pembangunan.Masalah kependudukan yang umum dihadapi oleh negara
Indonesia dannegara-negara tetangga adalah jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan
penduduk yang tinggi, kepadatan penduduk yang tinggi, persebaran penduduk, serta masalah-
masalah yang berkaitan dengan kualitas penduduk seperti tingkat pendidikan, tingkat kesehatan,
dan tingkat pendapatan penduduk yang masih rendah. Masalah-masalah sosial yang berkaitan
dengan kependudukan umumnya dihadapi oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia dan
negara-negara tetangga. Hampir semua negara di kawasan Asia Tenggara memiliki jumlahdan
pertumbuhan penduduk yang tinggi.
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara. Sementara negara
dengan kepadatan penduduk paling tinggi di Asia Tenggara adalah Singapura. Masalah
persebaran penduduk yang tidak merata dialami oleh semua negara dikawasan Asia Tenggara
terutama negara-negara yang berbentuk kepulauan seperti Indonesia, Singapura, dan Filipina.
Selain itu masalah-masalah yang berkaitan dengan kualitas penduduk juga dialami oleh hampir
seluruh negaradi kawasan Asia Tenggara. Kecuali Singapura, negara-negara di kawasanAsia
Tenggara pada umumnya mempunyai kualitas penduduk yang masihrendah terutama di negara-
negara yang kondisi politik dan ekonominya masih belum stabil dan sering terjadi konflik.
Masalah-masalah kependudukan harus diatasi dan dicarikan solusinya. Pemerintah Indonesia
mengatasi masalah jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dengan program KB
(Keluarga Berencana), sedangkan masalah persebaran dan kepadatan penduduk diatasi dengan
program transmigrasi.
Sementara itu pemerintah Singapur amengatasi masalah kepadatan penduduk dengan cara
membangun rumah susun. Lalu,bagaimana cara mengatasi masalah-masalah kependudukan yang
lain? Setiap pemerintah, pada umumnya mempunyai kebijakan masing-masing untuk mengatasi
masalah kependudukan. Pembangunan rumah susun merupakan salah satu bentuk upaya
pemerintah untuk menyediakan permukiman bagi daerah yang padat penduduknya.
e.Lingkungan hidup
Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada di sekitar kita atau segala hal yang berada
di sekeliling makhluk hidup yang memengaruhi kehidupan. Dengan demikian lingkungan hidup
terdiri atas tiga lingkungan berikut ini.
Lingkungan fisik yaitu lingkungan di luar makhluk hidup yang meliputi semuabenda mati yang
ada di sekitar manusia. Misalnya batu, tanah, udara.
Lingkungan biologis, yaitu lingkungan di sekitar manusia yang terdiriatas benda-benda hidup
yang meliputi hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Lingkungan sosial, yaitu lingkungan antarmanusia yang terdiri atas orang-orang secara individu
maupun kelompok. Masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup adalah adanya
kerusakan lingkungan sebagai akibat dari adanya kegiatan manusia. Beberapa contoh masalah
lingkungan hidup adalah kerusakan lahan,kerusakan hutan, dan berbagai bentukpencemaran
lingkungan.
Pencemaran terjadi apabila di dalam lingkungan hidup manusia terdapat bahan pencemar yang
dapat merugikan manusia sehingga kondisi lingkungan tidak lagi sesuai dengan fungsinya.
Misalnya, air sungai kadang dimanfaatkan manusia untuk mandi, tetapi karena airnya tercemar
jadi air sungai tersebuttidak dapat dimanfaatkan untuk mandi lagi. Secara umum bentuk-bentuk
pencemaran meliputi pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran suara
dan pencemaran budaya. (RFQ)
Sumber: Google Search Engine
Masalah Kependudukan dan Penanggulangan Lingkup Indonesia dan Dunia

Pengertian Masalah Kependudukan

Pengertian Penduduk secara umum adalah masyarakat yang tinggal atau mendiami suatu
wilayah tertentu. Dan dalam sosiologi sendiri, penduduk merupakan kumpulan manusia yang
menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Jadi dapat Masalah Kependudukan dapat diartikan
sebagai berbagai persoalan yang menyangkut masyarakat dalam ruang lingkup yang luas.
Masalah Kependudukan bisa disebut juga sebagai masalah sosial, karena masalah itu terjadi di
lingkungan sosial atau masyakarat. Masalah tersebut bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, baik di
negara maju maupun negara Indonesia yang sedang berkembang ini. Masalah kependudukan terjadi
karena perkembangan penduduk yang tidak seimbang. Masalah-masalah yang dihadapi masyarakat
tidaklah sama, hal ini disebabkan perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan masyarakat dan
keadaan lingkungan alam dimana masyarakat itu hidup. Masalah-maslah tersebut dapat berupa masalah
sosial, moral, politik, ekonomi, agama dll.

Permasalahan Kependudukan yang terjadi di Dunia dan Indonesia

Terdapat 2 jenis masalah kependudukan menurut sifatnya, yakni Kuantitatif dan Kualitatif
1. Masalah Penduduk yang Bersifat Kuantitatif
a. Jumlah Penduduk Besar
Penduduk dalam suatu negara menjadi faktor terpenting dalam pelaksanaan pembangunan
karena menjadi subjek dan objek pembangunan. Manfaat jumlah penduduk yang besar:
Penyediaan tenaga kerja dalam masalah sumber daya alam.
Mempertahankan keutuhan negara dari ancaman yang berasal dari bangsa lain.
Selain manfaat yang diperoleh, ternyata negara Indonesia yang berpenduduk
besar, yaitu nomor 4 di dunia menghadapi masalah yang cukup rumit yaitu:
Pemerintah harus dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidupnya. Dengan kemampuan pemerintah
yang masih terbatas masalah ini sulit diatasi sehingga berakibat seperti masih banyaknya penduduk
kekurangan gizi makanan, timbulnya pemukiman kumuh.
Penyediaan lapangan kerja, sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan serta fasilitas sosial
lainnya. Dengan kemampuan dana yang terbatas masalah ini cukup sulit diatasi, oleh karena itu
pemerintah menggalakkan peran serta sektor swasta untuk mengatasi masalah ini.
b. Pertumbuhan Penduduk Cepat
Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif cepat, walaupun ada
kecenderungan menurun. Antara tahun 1961 1971 pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 % pertahun,
tahun 1971 1980 sebesar 2,32% pertahun, tahun 1980 1990 sebesar 1,98% pertahun, dan periode
1990 2000 sebesar 1,6% pertahun. Keluarga berencana merupakan suatu usaha untuk membatasi
jumlah anak dalam keluarga, demi kesejahteraan keluarga. Dalam program ini setiap keluarga
dianjurkan mempunyai dua atau tiga anak saja atau merupakan keluarga kecil.Dengan terbentuknya
keluarga kecil diharapkan semua kebutuhan hidup anggota keluarga dapat terpenuhi sehingga
terbentuklah keluarga sejahtera.
Dua tujuan pokok Program Keluarga Berencana yaitu:
Menurunkan angka kelahiran agar pertambahan penduduk tidak melebihi
kemampuan peningkatan produksi.
Meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai keluarga sejahtera
Persebaran Penduduk Tidak Merata
c. Persebaran Penduduk Yang Tidak Merata
Persebaran penduduk di Indonesia tidak merata baik persebaran antarpulau, provinsi,
kabupaten maupun antara perkotaan dan pedesaan. Pulau Jawa dan Madura yang luasnya hanya 7%
dari seluruh wilayah daratan Indonesia, dihuni lebih kurang 60% penduduk Indonesia Perkembangan
kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura tergolong tinggi, yaitu tahun 1980 sebesar 690 jiwa
tiap-tiap kilometer persegi, tahun 1990 menjadi 814 jiwa dan tahun 1998 menjadi 938 jiwa per kilo
meter persegi (km2).
Akibat dari tidak meratanya penduduk, yaitu luas lahan pertanian di Jawa semakin sempit.
Lahan bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan industri. Sebaliknya banyak lahan di luar Jawa
belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Sebagian besar tanah di
luar Jawa dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan pertanian. Keadaan demikian tentunya sangat tidak
menguntungkan dalam melaksanakan pembangunan wilayah dan bagi peningkatan pertahanan
keamanan negara.
2. Masalah Penduduk yang Bersifat Kualitatif
a. Tingkat Kesehatan Penduduk yang rendah
Meskipun telah mengalami perbaikan, tetapi kualitas kesehatan penduduk Indonesia masih
tergolong rendah. Indikator untuk melihat kualitas kesehatan penduduk adalah dengan melihat:
Angka Kematian
Angka Harapan Hidup
Angka kematian yang tinggi menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang rendah. Angka
harapan hidup yang tinggi menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang baik. Kualitas kesehatan
penduduk tidak dapat dilepaskan dari pendapatan penduduk. Semakin tinggi pendapatan penduduk
maka pengeluaran untuk membeli pelayanan kesehatan semakin tinggi. Penduduk yang pendapatannya
tinggi dapat menikmati kualitas makanan yang memenuhi standar kesehatan.
b. Tingkat Pendidikan yang Rendah
Tingkat pendidikan bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur kualitas SDM penduduk
suatu negara. Kualitas SDM berhubungan dengan produktivitas kerja. Orang yang tingkat pendidikannya
tinggi diharapkan punya produktivitas yang tinggi. Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah banyak
orang berpendidikan tinggi (sarjana) tetapi menganggur. Keadaan demikian tentu sangat
memprihatinkan. Orang yang menganggur menjadi beban bagi orang lain (keluarganya). Tingkat
pendidikan diharapkan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Sehingga pembangunan dalam
bidang pendidikan yang dilakuka oleh pemerintah membawa dampak positif yang signifikan terhadap
kesejahteraan penduduk.
c. Tingkat Kemakmuran yang Rendah
Meskipun tidak termasuk negara miskin, jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis
kemiskinan cukup besar. Sebanyak 37,5 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan
menurut standard yang ditetapkan PBB. Kemakmuran berbanding lurus dengan kualitas SDM. Semakin
tinggi kualitas SDM penduduk, semakin tinggi pula tingkat kemakmurannya. Banyak negara yang miskin
sumber daya alam tetapi tingkat kemakmuran penduduknya tinggi. Indonesia dikenal sebagai negara
yang kaya sumber daya alam. Mengapa banyak penduduk Indonesia yang hidup miskin?
Dampak-dampak Masalah Kependudukan
Dari semua masalah kependudukan yang dipaparkan diatas, terdapat banyak sekali dampak
negatif yang dihasilkan, diantaranya:
1. Rendahnya tingkat kualitas SDM
Rendahnya tingkat pendidikan akan berdampak besar pada kualitas sumber daya manusia suatu
Negara. Penduduk adalah objek dan subyek pembangunan. Sebagai objek, penduduk adalah sasaran
pembangunan. Sebagai subyek, penduduk adalah pelaku pembangunan. Peranan penduduk sebagai
subyek menentukan arah dan keberhasilan pembangunan. Potensi dan tantangan pembangunan
ditentukan oleh keadaan riil kependudukan dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara.
Bagaimana potensi dan tantangan pembangunan di Indonesia? Kekayaan sumber daya alam yang ada di
bumi Indonesia sangat besar. Ini merupakan suatu potensi. Masalahnya adalah sanggupkah penduduk
Indonesia mengeksploitasi dan mengelola sumber daya alam yang melimpah itu?
Fakta menunjukkan bahwa eksploitasi sumber daya alam (penambangan) di Indonesia banyak
dilakukan oleh perusahaan asing. Proyek-proyek pembangunan oleh pemerintah juga sering
menggunakan bantuan (assistance) perusahaan asing. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan modal dan
teknologi yang dimiliki penduduk Indonesia. Penguasaan teknologi dan kepemilikan modal terkait
dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) penduduk Indonesia. Rendahnya kualitas sumber daya
manusia penduduk Indonesia ditunjukkan dengan GDP perkapita yang relatif rendah. Kualitas sumber
daya manusia penduduk Indonesia yang rendah merupakan penghambat pembangunan. Secara
terperinci faktor kependudukan yang menghambat pembangunan adalah:
Rendahnya kualitas SDM penduduk Indonesia
Salah satu indikator kemakmuran suatu negara adalah volume barang dan jasa yang dihasilkan
oleh penduduknya. Untuk memproduksi barang dan jasa diperlukan penguasaan teknologi dan ilmu
pengetahuan. Penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan terkait dengan kualitas SDM penduduk
suatu negara. Jadi kualitas SDM merupakan faktor penentu kemakmuran. Apa yang dapat dilakukan oleh
orang yang tidak memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan?
Pertumbuhan penduduk yang tinggi
Penduduk merupakan potensi sekaligus beban pembangunan. Penduduk yang berkualitas
(produktif) merupakan potensi/kekuatan pembangunan. Sedangkan penduduk dengan kualitas rendah
(non produktif) merupakan beban pembangunan. Pertumbuhan penduduk bagi suatu negara dapat
menjadi kekuatan sekaligus beban. Ini tergantung bagaimana kualitas penduduknya. Bagi Indonesia,
pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan beban pembangunan. Mengapa? Jumlah penduduk
Indonesi saat ini sudah cukup besar. Tetapi kualitas hidupnya (kemakmurannya) masih rendah. Apabila
pertumbuhan penduduk masih tetap tinggi, maka kualitas hidup (kemakmuran) akan semakin menurun.
2. Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk yang besar dan nditambah dengan angka pertumbuhan penduduk yang pesat
membuat banyak Negara khususnya Negara berkembang di dunia mengalami kepadatan penduduk yang
berlebihan. Kepadatan penduduk atau Density adalah jumlah rata-rata penduduk yang mendiami suatu
wilayah administrative tertentu biasanya dinyatakan dalam jiwa/Km2.
Kepadatan penduduk ini terjadi karena tidak seimbangnya jumlah penduduk yang mendiami
wilayah tertentu dengan wilayah yang didiami. Jumalh penduduk yang terus menunjukkan peningkatan
tidak dibarengi dengan luas wilayah suatu tempat yang tetap. Sehingga ini menyebabkan jumlah
penduduk yang ada diwilayah tertentu melebihi jumlah ideal penduduk yang seharusnya tinggal
diwilayah tersebut.
Selain itu, kepadatan penduduk yang biasanya terjadi di kota-kota besar terus mengalami
peningkatan dengan adanya urbanisasi yang dilakukan secara berlebihan. Banyaknya para urban yang
berpindah dari desa ke kota dengan tujuan mencari lapangan pekerjaan di kota membuat kepadatan
penduduk yang ada semakin menjadi-jadi. Sehingga dengan tidak adanya lahan untuk mereka tinggal,
biasanya mereka mendirikan perumahan-perumahan kumuh didaerah-daerah yang dilarang untuk
mendirikan bangunan seperti dibantaran kali dan sebagainya. Dengan begitu, dampak yang dihasilkan
akan terus melebar dan melebar lagi.
3. Kemiskinan
Dampak dari kepadatan penduduk, tidak hanya berhenti disitu. Dari dampak yang ada, dampak
yang baru akan kembali dihasilkan. Para urban yang tidak mendapat lahan tempat tinggal dan juga lahan
pekerjaan seperti yang mereka harapkan, mulai mempertahankan hidup mereka dikota dengan segala
kemampuan mereka seperti memanfaatkan lahan terlarang untuk mendirikan rumah-rumah kumuh
sebagai tempat mereka tinggal. Dengan tidak adanya pekerjaan mereka bekerja serabutan seperti
mengamen, meminta-minta dijalan dan sebagainya hingga timbullah kemiskinan.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini
secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan
yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang,
perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah
politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini
sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
4. Kriminalitas
Kemiskinan yang terjadi dikota dan terus meningkatnya taraf hidup dikota, membuat setiap
orang berusaha mempertahankan hidupnya walaupun hanya sekedar untuk makan. Berbagai kebutuhan
hidup yang terus menekan dan keadaan financial mereka yang tidak seimbang mulai memaksa mereka
untuk melakukan hal apa saja demi mendapatkan rupiah hinggal lahirlah tindak kriminalitas.
Kriminalitas merupakan segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan.
Pelaku kriminalitas disebut seorang kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang
pencuri, pembunuh, perampok, atau teroris. Walaupun begitu kategori terakhir, teroris, agak berbeda
dari kriminal karena melakukan tindak kejahatannya berdasarkan motif politik atau paham.
Tindak kriminalitas memang sudah merajalela di kota-kota besar. Sebagian besar dari mereka
berasal dari masyarakat yang kurang mampu dan tidak mempunyai pekerjaan. Adanya tindak
kriminalitas menandakan bahwa memang sebenarnya dampak yang dihasilkan merupakan dampak yang
serius yang harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Karena sudah membahayakan masyarakat luas
serta keamanan Negara.
Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kependudukan
Terdapat beberapa solusi yang bisa digunakan sebagai upaya pencegahan atas masalah
kependudukan, diantaranya:
1. Melaksanakan program KB (2 anak lebih baik)
2. Menunda pernikahan dini
3. Meratakan pertumbuhan penduduk
Dari solusi tersebut, penulis berharap Pertumbuhan Penduduk di negara Indonesia bisa lebih
stabil dan hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih baik lagi dari yang sebelumnya.
Indonesia dengan jumlah penduduknya kira-kira 185 juta, termasuk negara-negara yang paling
banyak jumlah penduduknya. Karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan jumlah penduduk ini penting
sekali di Indonesia. Kalau di masa depan jumlah ini mau jadi lebih banyak lagi, pasti ada lebih banyak
masalah sosial lagi. Pemerintah Indonesia sudah mengambil dua macam tindakan untuk mencegah
masalah sosial ini. Yang pertama adalah program KB atau Keluarga Berencana dan yang kedua adalah
program transmigrasi. Kedua program ini sudah lama dapat banyak kritik, dari dalam negeri dan dari
luar negeri.
Berikut kekurangan dan kelebihan dari masing-masing program :
1. Program Transmigrasi
Program transmigrasi adalah program nasional untuk memindahkan kelompok penduduk dari
satu tempat ke tempat yang lain. Misalnya, kalau ada tempat di mana ada terlalu banyak penduduk, di
sana pasti ada banyak masalah, seperti masalah kesehatan, masalah tanah, dan masalah sosial yan lain.
Untuk mencegah masalah itu, pemerintah coba memindahkan penduduk dari tempat-tempat seperti itu
ke tempat yang lain di mana jumlah penduduknya sedikit. Jadi dulu, penduduk Jawa, Madura dan Bali
sudah dipindahkan ke Irian Jaya, Sumatra, dan Kalimantan.
Kami rasa program transmigrasi ini sudah banyak menolong penduduk Indonesia. Peserta
program transmigrasi diberi sebuah rumah, alat-alat untuk bertani dan sedikit uang. Ada sekolah dan
puskesmas. Setelah dipindahkan, kehidupan mereka lebih baik daripada dulu.
Program ini dapat banyak kritik. Kritik yang pertama adalah mengenai hutan yang menghilang
karena transmigran. Mereka menebang pohon-pohon untuk mempersiapkan ladang mereka. Kemudian,
dulu ada kelompok transmigran di Kalimantan yang tidak diberi fasilitas untuk bertani. Jadi, mereka
tidak bisa berdikari (yaitu: BERDIri di atas KAkinya sendiRI). Juga ada masalah kehilangan tempat
tinggal orang setempat seperti orang Kubu di Sumatra dan orang Dayak di Kalimantan. Tanah mereka
diambil orang transmigran yang baru. Menurut saya, masalah-masalah ini dibesarkan dengan sengaja.
Program transmigrasi memang berhasil. Sudah 3.6 juta orang dipindahkan dalam program ini, dan
kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik daripada dulu.
2. Program Keluarga Berencana
Dalam program Keluarga Berencana (Dua Anak Cukup!), suami-istri diberi informasi dan
alat/obat kontrasepsi. Dengan ini, pemerintah mencoba untuk mencegah kelahiran terlalu banyak anak.
Kritik atas program ini adalah kritik mengenai obat kontrasepsi yang bernama Norplant. Perempuan
yang pakai Norplant itu tidak bisa beranak lagi untuk selamanya. Dan ada juga orang yang bilang bahwa
perempuan dipaksa untuk pakai Norplant ini (Norplant ada sebuah obat yang disuntikkan di bawah
kulit).
Kami berpendapat bahwa kedua program ini, yaitu transmigrasi dan Keluarga Berencana,
memang sudah berhasil. Sekarang di Indonesia, jumlah anak yang lahir setiap tahun sudah menurun.
Kalau Indonesia mau mencegah masalah yang berkaitan dengan jumlah penduduk, saya rasa pemerintah
harus meneruskan kedua program ini.
Selain itu, terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah-
masalah tersebut adalah:
1. Jumlah penduduk dan pertumbuhannya diatasi dengan program Keluarga Berencana (KB)
2. Persebaran dan Kepadatan penduduk diatasi dengan:
a. Program Transmigrasi
b. Pembangunan lebih intensif di Kawasan Indonesia Timur.
3. Tingkat kesehatan yang rendah diatasi dengan:
a. Pembangunan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD)
b. Pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin
4. Tingkat pendidikan yang rendah diatasi dengan:
a. Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia.
b. Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
c. Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah
d. Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
e. Mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga- lembaga pemerintah
5. Tingkat pendapatan yang rendah diatasi dengan:
a. Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi, baik
PMDN ataupun PMA.
b. Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap
tenaga kerja.
c. Penyederhanaan birokrasi dalam perizinan usaha. Pembangunan/menyediakan fasilitas umum (jalan,
telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi
5 - 6
Unit 5
Subunit 1
Masalah-Masalah Sosial
A. Konsep/Pengertian Masalah Sosial
erbicara mengenai konsep/pengertian masalah sosial tidak dapat lepas
dengan konsep
das sollen
dan
das sein.
Apa yang dimaksud dengan konsep tersebut, silahkan Anda menyimak
penjelasan berikut ini.
Manusia sebagai makhluk sosial dala
m kehidupannya mengalami interaksi
antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dalam interaksinya,
manusia mengalami berbagai keadaan dan gejala yang sangat bervariasi,
karena setiap individu mempunyai keinginan sendiri-sendiri.
Pada umumnya keadaan yang menjadi dambaan masyarakat luas adalah
terciptanya suatu interaksi yang harmonis diantara sesama anggota
masyarakat.
Misalnya, pada hari Minggu di dusun Karangmojo akan mengadakan kerja
bakti membersihkan jalan. Kerja bakti tersebut diharapkan dikerjakan oleh
kaum laki-laki dari pemuda sampai orang tua. Mereka membersihkan saluran
air, pohon-pohon yang mengganggu kawat lisrik, membersihkan rumput-
rumput liar di tepi jalan, dan sebagainya. Sementara itu ibu-ibu atau kaum
perempuan juga ikut membantu, misalnya menyapu, membawakan makanan
dan minuman. Setelah mereka merasa le
lah, maka mereka akan beristirahat
sambil makan dan minum bersama-sama, baik kaum laki-laki maupun kaum
perempuan. Suasana sangat akrab dan mereka bergembira bersama.
Keadaan seperti itu kelihatannya sangat diinginkan dalam kehidupan
bermasyarakat. Keadaan yang menjadi keinginan dan menjadi harapan itulah
yang disebut dengan
das
sollen,
yaitu apa yang seharusnya terjadi. Namun
pada kenyataannya tidak semua gejala berlangsung secara normal
sebagaimana yang dikehendaki oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
Gejala yang berlangsung secara nyata inilah yang dinamakan dengan
das
sein.
Antara
das sollen
dengan
das sein
tidak selalu terjadi
kesesuaian. Kesenjangan
diantara keduanya itulah yang dinamakan dengan masalah, atau apa yang
seharusnya tidak sama dengan apa yang senyatanya. Apabila kesenjangan itu
berlarut-larut, maka hal itu bisa di
kategorikan dalam masalah sosial.
B
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 7
Masalah sosial berkaitan dengan ukuran tentang nilai-nilai dan norma-norma
sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Setiap masyarakat tentu saja
memiliki ukuran tentang nilai dan norma sendiri-sendiri yang berbeda dengan
nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang lain. Nilai-nilai dan
norma-norma sosial yang hidup dalam masyarakat akan dijadikan sebagai
penuntun atau pedoman dalam kehidupannya.
Nilai pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu
obyek, jadi bukan obyek itu sendiri yang dinamakan nilai. Sesuatu itu
mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu
itu.
Sebagai contoh
, bunga itu indah, perbuatan itu bermoral. Indah dan moral
adalah sifat atau kualitas yang melekat pada bunga atau perbuatan. Dengan
demikian nilai itu sebenarnya adalah suatu kenyataan yang tersembunyi di
balik kenyataan-kenyataan lainnya.
Nilai mengandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan, dan keharusan. Oleh
karena itu berbicara mengenai nilai bera
rti kita berbicara tentang hal-hal yang
ideal atau
das sollen
yaitu sesuatu yang seharusnya, bukan
das sein
atau
sesuatu yang senyatanya.
Nilai berada dalam tataran dunia ideal, bukan dunia yang real. Meskipun
demikian antara keduanya saling berhubungan atau berkaitan dengan erat,
artinya
das sollen
itu harus menjelma menjadi
das sein
, yang ideal harus
menjadi riil. Dalam kenyataannya ada orang atau sekelompok orang yang
dengan sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-
nilai yang hidup dalam masyarakat dan sangat dijunjung tinggi oleh
masyarakat tersebut.
Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang akan menimbulkan kesenjangan dan
pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah dalam masyarakat.
Apabila masalah-masalah itu menjadi berlarut-larut, maka gejala atau
kenyataan itu akan menjadi masalah sosial.
Jadi pada dasarnya masalah sosial itu
berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Hal
ini merupakan masalah karena memang ada kesenjangan antara tata kelakuan
yang seharusnya berlaku dengan keadaan yang senyatanya terjadi. Dalam hal
ini kita memerlukan nilai dan norma untuk mengukur apa yang dianggap baik
dan apa yang dianggap tidak baik, apa yang dianggap benar dan apa yang
dianggap tidak benar, hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang tidak
boleh dilakukan.
5 - 8
Unit 5
Pengertian nilai yang telah diuraikan di atas masih bersifat abstrak. Oleh
karena itu agar dapat diterapkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan
nyata, maka nilai harus dijabarkan ke dalam norma-norma yang sifatnya lebih
konkrit dan jelas sebagai pedoman. Misalnya, norma kesusilaan, norma
kesopanan, norma kesucian, norma keadilan, dan sebagainya.
1. Sebab-sebab Timbulnya Masalah Sosial
Setiap masyarakat pasti mendambakan adanya kemajuan dan
perkembangan dalam
kehidupannya. Tidak bi
sa dipungkiri bahwa
kemajuan-kemajuan atau perkembangan-
perkembangan itu tentu diiringi
oleh dampak-dampak yang akan berpengaruh bagi kehidupan
masyarakatnya. Dampak-dampak tersebut biasanya berupa masalah-
masalah. Semakin cepat perkembangan itu berlangsung maka semakin
banyak pula masalah yang mungkin timbul. Dengan demikian sebetulnya
masalah-masalah sosial itu merupakan dampak dari proses perkembangan
masyarakat.
Apabila terjadi perubahan baik yang disebabkan karena adanya gagasan-
gagasan baru maupun karena adanya penemuan-penemuan baru, hal ini
akan menimbulkan reaksi dari individu-individu dalam masyarakat
tersebut. Antara individu yang satu dengan individu yang lain kadang-
kadang muncul reaksi yang tidak sama, ada yang menyikapinya secara
positif tetapi ada pula yang menyikapinya secara negatif.
Pemahaman Anda tentang penjelasan di atas akan lebih jelas jika Anda
menyimak contoh-contoh berikut ini.
Misalnya listrik masuk desa, hal ini akan membawa pengaruh positif dan
negatif bagi kehidupan masyarakatnya. Pengaruh positif dapat dilihat yaitu
dengan masuknya listrik di daerah pedesaan, maka hal ini sangat
menguntungkan dan sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. Selain
menguntungkan dan bermanfaat untuk penerangan, masuknya listrik
tersebut juga mendorong masuknya alat-alat elektronik, seperti Televisi
(TV).
Masuknya televisi di daerah pedesaan akan membawa banyak perubahan
bagi masyarakat desa, karena siaran televisi banyak menyampaikan pesan-
pesan pembangunan, pengetahuan, hiburan, dan informasi-informasi yang
lain. Melalui acara-acara yang menyam
paikan pesan-pesan tersebut maka
masyarakat desa akan lebih terbuka
wawasannya, berpengetahuan luas dan
lebih maju, terutama untuk generasi-generasi mudanya, sehingga tidak
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 9
jauh tertinggal dengan masyarakat di daerah perkotaan. Kesenjangan
antara masyarakat desa dan masyarakat kota bisa diminimalkan.
Selain berpengaruh secara positif, maka televisi juga menghadirkan
pengaruh-pengaruh negatif atau pengaruh yang kurang baik. Acara-acara
televisi seperti hiburan, iklan juga akan berpengaruh terhadap sikap dan
perilaku masyarakat untuk meniru, sehingga akan menghadirkan
kebiasaan-kebiasaan dan kebutuhan-kebutuhan baru pula yang kadang-
kadang tidak sesuai dengan kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat
desa.
Kebiasaan-kebiasaan dan kebutuhan-kebutuhan baru akibat acara televisi
tersebut dapat menimbulkan berbagai keinginan baru yang tidak
seluruhnya dapat terpenuhi. Apabila keinginan-keinginan baru itu terus
menerus mendesak, maka semakin lama akan menimbulkan kesenjangan
antara keinginan dan kenyataan. Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa
dengan masuknya listrik di desa ternyata juga menimbulkan masalah-
masalah sosial dalam masyarakat.
Contoh lain dapat Anda lihat dalam uraian berikut ini.
Kemajuan dan perkembangan di bidang Iptek khususnya dalam bidang
komunikasi dan informasi, juga membawa pengaruh besar bagi
masyarakat. Kita ambil contoh dengan masuknya internet dalam dunia
kehidupan masyarakat.
Di satu sisi akan membawa pengaruh positif, sedang di sisi lain akan
membawa pengaruh negatif. Pengaruh positif ditunjukkan dengan adanya
kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, karena melalui internet
orang dengan mudah mengakses pengetahuan-pengetahuan maupun
informasi-informasi lain dari berbagai penjuru negara, sehingga hal ini
akan lebih membuka wawasan seseorang terhadap kemajuan-kemajuan.
Seseorang tidak akan merasa tert
inggal jauh dengan orang-orang yang
berasal dari negara lain.
Di samping pengaruh positif, internet juga menghadirkan pengaruh-
pengaruh negatif, misalnya situs-situs porno, kebudayaan dari negara-
negara lain yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Hal itu
tentu akan mencemari atau merusak moral bangsa, terutama generasi muda
sebagai penerus bangsa. Oleh karena
itu seseorang memang harus pandai
dalam mengakses internet agar tidak terperangkap ke dalam jurang yang
akan merusak moral bangsa. Meningkatkan moral memang merupakan
5 - 10
Unit 5
suatu hal yang sangat penting agar seseorang bisa bertindak dan bersikap
lebih bijaksana lagi.
Internet memang merupakan suatu dilema atau pilihan yang sangat sulit
antara kemajuan dan kemerosotan moral. Di satu sisi akan membawa
perkembangan dan kemajuan bagi suatu bangsa, namun di sisi lain akan
merusak moral bangsa jika tidak bisa menyikapinya dengan baik.
Kesenjangan antara dampak positif dan
negatif atau antara kemajuan dan
kemerosotan moral inilah yang akan menimbulkan masalah-masalah sosial
dalam masyarakat.
Pada umumnya perubahan itu sangat bermanfaat bagi kehidupan
masyarakat terutama yang mendukung perkembangan. Namun mungkin
saja terjadi kegoncangan, terutama jika perubahan itu berlangsung secara
cepat. Proses perubahan itu memerlukan penyesuaian dari para individu
dan kelompok, yang tidak selalu be
rlangsung secara cepat dan mulus.
Dalam proses penyesuaian itulah yang kadang-kadang menimbulkan
masalah-masalah sosial.
2. Jenis-jenis Masalah Sosial
Masalah-masalah sosial yang hidup dalam masyarakat dapat
diklasifikasikan kedalam beberapa hal, yaitu:
a.
Kemiskinan
Masalah kemiskinan bisa dipandang
secara relatif oleh masing-masing
orang, hal ini tergantung pada taraf kehidupan masyarakat setempat.
Bagi masyarakat modern, miskin itu dipandang karena tidak
terpenuhinya seluruh kebutuhan hidupnya. Akan tetapi bagi
masyarakat yang sederhana kemiskinan itu dipandang karena mereka
tidak dapat memenuhi kebutuhan primernya seperti sandang, pangan,
dan papan.
Jadi secara umum kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadaan di
mana anggota masyarakat tidak sanggup memelihara dirinya sendiri
sesuai dengan taraf kehidupan kelompok, dan juga tidak mampu
memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok
tersebut. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu, miskin
budaya dan budaya miskin. Miskin budaya adalah miskin pengetahuan
atau miskin kreativitas, dengan keterbatasan kemampuannya maka
seseorang tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, sehingga
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 11
tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya atau kebutuhan primernya.
Adapun budaya miskin adalah budaya malas, orang yang etos kerjanya
sangat rendah meskipun mereka mempunyai kemampuan, pengetahuan
yang memadai dan juga memiliki daya kreatifitas.
b.
Kejahatan atau Kriminalitas
Kejahatan berhubungan dengan organisasi-organisasi yang hidup
dalam masyarakat. Biasanya kejahatan yang dilakukan oleh seseorang
disebabkan karena adanya kekecewaan, merupakan bentuk
kompensasi, dapat juga ditimbulkan oleh golongan yang menganggap
dirinya kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendalian sosial
lainnya, juga situasi sosial yang memberikan peluang atau kesempatan
untuk melakukan kejahatan.
c.
Disorganisasi Keluarga
Adapun yang dimaksud dengan disorganisasi keluarga adalah
perpecahan keluarga sebagai satu un
it karena anggota keluarga gagal
memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya.
Bentuk-bentuk disoganisasi keluarga antara lain:

Unit keluarga tidak lengkap karena hubungan di luar perkawinan

Perceraian

Tidak ada komunikasi yang baik diantara anggota keluarga

Krisis keluarga yang disebabkan faktor intern dan ekstern
d.
Peperangan
Masalah peperangan berbeda dengan masalah
sosial lainnya karena
menyangkut beberapa masyarakat sekaligus, sehingga merupakan
masalah sosial yang paling sulit dipecahkan. Peperangan
mengakibatkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan
baik bagi negara yang dapat memenangkan perang maupun bagi
negara yang kalah perang.
e.
Pelanggaran Terhadap Norma-norma Masyarakat
Bentuk masalah sosial yang disebabkan karena adanya pelanggaran
terhadap norma-norma sosial yang hidup dalam masyarakat dapat
berupa:

Pelacuran
, berpengaruh besar terhadap moral seseorang.
5 - 12
Unit 5

Delinkuensi anak-anak
yaitu, kelompok anak-anak muda yang
tergabung dalam suatu organisasi baik formal maupun non formal
yang mempunyai tingkah laku yang tidak disukai oleh masyarakat
pada umumnya.

Alkoholisme
, akibat dari alkoholisme adalah kurangnya
kemampuan
untuk mengendalikan diri baik secara fisik, psikologis,
maupun sosial sehingga tindakannya akan mengganggu
ketenteraman masyarakat secara umum.
f.
Masalah Kependudukan
Masalah kependudukan merupakan masa
lah dasar terjadinya masalah-
masalah sosial yang lain. Artinya masalah kependudukan menjadi
pendorong timbulnya masalah-masalah sosial yang lain. Pertumbuhan
penduduk akan diikuti oleh pertumbuhan kebutuhan hidupnya. Apabila
kebutuhan hidup itu tidak terpenuhi akan mengakibatkan terjadinya
berbagai ketimpangan, misalnya dalam bidang ekonomi, ekologi atau
lingkungan, pendidikan dan sebagainya.
g.
Masalah Lingkungan
Secara umum, masalah lingkungan dapat diartikan sebagai masalah
yang terjadi dalam lingkungan hidup manusia. Masalah lingkungan ini
tidak bisa berdiri sendiri artinya masalah ini terkait dengan masalah-
masalah yang lain, seperti masalah kependudukan, misalnya tingginya
arus urbanisasi, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan
sebagainya. Selain itu juga terkait dengan perkembangan Iptek.
B. Teori-Teori Sosial
Sebelum membahas lebih jauh tentang masalah-masalah sosial yang ada di
lingkungan sekitar kita, maka baiklah kita membahas tentang teori-teori sosial
lebih dulu.
Adapun teori-teori sosial yang akan dibahas di sini adalah teori
Fungsionalisme Struktural
dan teori
Konflik
.
1. Teori Fungsionalisme Struktural
Tokoh-tokoh pengembang dan pendukung teori Fungsionalisme Struktural
ini antara lain, Talcott Parsons, Robert
K. Merton, dan Neil Smelser. Teori
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 13
ini menjelaskan tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam
masyarakat yang didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu:
a.
Masyarakat harus dianalisis sebagai satu kesatuan yang utuh dan terdiri
dari beberapa bagian yang saling berinteraksi.
b.
Bagian-bagian dalam masyarakat tersebut saling berhubungan, sifat
hubungannya ada yang searah tapi ada juga yang bersifat timbal balik.
c.
Sistem sosial yang ada bersifat dinamis, penyesuaian tidak perlu
banyak merubah sistem sebagai satu kesatuan yang utuh.
d.
Integrasi yang sempurna dalam masyarakat tidak pernah ada, oleh
karena itu dalam masyarakat senantiasa timbul ketegangan-ketegangan
dan penyimpangan-penyimpangan. Akan tetapi ketegangan-
ketegangan dan penyimpangan-penyimpangan itu akan dinetralisir
melalui proses pelembagaan.
e.
Perubahan-perubahan akan berjalan
secara perlahan-lahan sebagai
suatu proses adaptasi dan penyesuaian.
f.
Perubahan merupakan hasil penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya
diferensiasi dan inovasi
g.
Sistem diintegrasikan melalui pemilikan nilai-nilai yang sama
Menurut teori Fungsionalisme Struktural, masyarakat sebagai suatu sistem
memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga yang masing-masing
lembaga memiliki fungsi sendiri-sendiri. Struktur dan fungsi, dengan
kompleksitas yang berbeda-beda ada pada setiap masyarakat, baik pada
masyarakat yang modern maupun pada masyarakat primitif.
Sebagai contoh:
a.
Lembaga pendidikan, lembaga ini mempunyai fungsi untuk
mewariskan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat kepada
generasi-generasi penerus bangsa.
b.
Lembaga keagamaan, lembaga ini mempunyai fungsi untuk
membimbing, dan mengarahkan pemeluk-pemeluknya agar menjadi
manusia yang bermoral baik, sehingga bisa menuntun setiap manusia
dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
c.
Lembaga ekonomi, lembaga ini mempunyai fungsi untuk mengatur
proses produksi, konsumsi, dan dist
ribusi barang-barang maupun jasa.
d.
Lembaga politik, lembaga ini mempunyai fungsi untuk menjaga dan
mengatur tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara, sehingga kehidupan kita akan menjadi lebih baik dan
teratur.
5 - 14
Unit 5
e.
Lembaga keluarga, lembaga ini mempunyai fungsi untuk menjaga
kelangsungan perkembangan jumlah penduduk.
f.
Lembaga sosial, lembaga ini mempunyai fungsi untuk mengatur relasi
antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, karena pada
prinsipnya manusia itu hidup bersama-sama dengan manusia lain dan
saling berinteraksi.
g.
Lembaga kebudayaan, lembaga ini mempunyai fungsi untuk
melestarikan nilai-nilai budaya ba
ngsa yang merupakan warisan dari
nenek moyang kita.
h.
Lembaga hukum, lembaga ini mempunyai fungsi untuk mengatur
kehidupan masyarakat agar lebih tertib dan teratur berdasarkan hukum
yang berlaku di negara kita.
Lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat tersebut saling terkait satu
sama lain. Lembaga-lembaga itu juga saling berinteraksi satu sama lain,
dan pelaksanaan masing-masing lembag
a saling menyesuaikan sehingga
dalam kehidupan masyarakat akan selalu terjadi keseimbangan.
Kadang-kadang ketidakseimbangan juga akan muncul, namun hal ini
sifatnya hanya sementara, karena apabila terjadi ketidakseimbangan, maka
lembaga-lembaga yang lainpun akan terganggu. Oleh karena itu lembaga-
lembaga yang lain akan segera berusaha untuk menyeimbangkan kembali.
Sebagai contoh, pengaruh globalisasi s
aat ini sangat dirasakan sekali oleh
masyarakat kita. Di satu sisi kita senang karena adanya perkembangan dan
kemajuan dalam kehidupan masyarakat, ta
pi di sisi lain globalisasi juga
berdampak kurang baik terutama bagi masyarakat yang belum siap untuk
menghadapinya.
Misalnya, hadirnya pasar-pasar modern (
hypermarket
) di tengah-tengah
kehidupan masyarakat ternyata telah menggeser pasar-pasar tradisional
yang sudah lebih dulu ada. Orang lebih
senang pergi berbelanja ke pasar-
pasar modern yaitu supermarket atau swalayan-swalayan, karena
tempatnya lebih bagus, lebih nyaman, serta barang-barangnya pun juga
lebih baik dan lebih menarik. Kehadiran pasar-pasar modern tersebut juga
membuat masyarakat lebih senang, sehingga akan sangat menguntungkan
baik bagi masyarakat maupun bagi pengusaha. Pengusaha sebagai wujud
lembaga ekonomi merasa sangat senang, karena mendapatkan keuntungan
lebih banyak.
Namun beberapa saat kemudian dampak negatif juga akan muncul, yaitu
ketegangan-ketegangan dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena para
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 15
pedagang di pasar-pasar tradisional
mulai berunjuk rasa, karena mereka
merasa bahwa rejekinya mulai berkurang. Melihat ketegangan-ketegangan
yang terjadi dalam masyarakat tersebut, maka lembaga hukum dan
lembaga politik mulai mengambil langkah-langkah penyesuaian.
Pemerintah mulai menertibkan para pedagang di pasar-pasar tradisional.
Selain itu juga membangun pasar-pasar tradisional agar kondisinya
semakin baik, semakin menarik, semakin bersih dan semakin nyaman
untuk berbelanja sehingga banyak orang yang akan kembali berbelanja di
pasar-pasar tradisional. Dengan kata lain, pasar tradisional tidak akan
ditinggalkan oleh masyarakat, meskipun di tengah-tengah masyarakat
marak dengan munculnya pasar-pasar modern. Kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah akan menguntungkan kedua belah pihak,
sehingga masyarakat akan berada dalam keseimbangan kembali dengan
kondisi yang lebih maju dan lebih baik.
Contoh lain bisa kita lihat dalam uraian berikut ini. Globalisasi selain
berpengaruh dalam bidang ekonomi juga berpengaruh dalam bidang-
bidang yang lain, diantaranya dalam bidang kebudayaan. Seperti halnya
dalam bidang ekonomi, pengaruh globalisasi dalam bidang kebudayaan
pun juga sangat kita rasakan. Masukn
ya budaya-budaya asing di negara
kita tentu saja akan membawa dampak baik positif maupun dampak
negatif. Anak-anak muda sekarang mulai menyukai budaya-budaya yang
berasal dari luar, dan mulai meninggalkan budayanya sendiri, atau budaya
yang dimilikinya sudah mulai luntur
. Bahkan ada anak yang sudah tidak
mengenali budayanya sendiri.
Hal ini apabila dibiarkan terus menerus tentu akan membahayakan
kelangsungan hidup bangsa dan negara sendiri. Misalnya, anak yang tidak
mengenali kesenian daerahnya sendiri atau kesenian tradisional, tari-tarian
daerah, lagu daerah, dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena adanya
pengaruh-pengaruh budaya asing yang masuk. Anak-anak akan merasa
ketinggalan jaman jika masih mempertahankan budaya tradisional,
sehingga mereka lebih senang menggunakan budaya-budaya asing yang
menurut anggapannya lebih baik dan lebih modern.
Dalam hal ini lembaga kebudayaan merasa sangat dirugikan, karena
lembaga tersebut berfungsi untuk melestarikan budaya-budaya daerah atau
budaya tradisional, sehingga beberapa saat kemudian akan muncul
ketegangan-ketegangan dalam masyarakat. Melihat ketegangan tersebut,
5 - 16
Unit 5
maka lembaga pendidikan mengambil langkah-langkah penyesuaian, yaitu
dengan membuat aturan-aturan melalui dunia pendidikan.
Misalnya, dengan melestarikan kesenian-kesenian tradisional melalui
kegiatan ekstra kurikuler yang harus diikuti oleh murid-murid, melalui
muatan lokal (mulok) untuk mempelajari bahasa daerah, dan sebagainya.
Melalui kegiatan tersebut maka
secara tidak langsung anak akan
mempelajari dan mulai mengenal kesenian-kesenian tradisional yang
menjadi miliknya, sehingga budaya-budaya tradisional tersebut akan tetap
lestari di tengah-tengah derasnya arus globalisasi.
Dengan demikian masyarakat akan berada dalam keseimbangan kembali,
dengan kondisi yang lebih baik dan lebih maju.
2. Teori Konflik
Teori konflik memandang bahwa adanya kemiskinan di dunia ketiga
sebagai akibat dari proses perkembangan kapitalis di dunia barat.
Kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar umat manusia merupakan
tumbal kejayaan masyarakat kapitalis. Negara-negara sedang
berkembang sekarang ini dijadikan sebagai sapi perah bagi negara-negara
barat. Oleh karena itu jika negara
-negara sedang berkembang ingin maju
maka harus mampu melepaskan dan memutuskan hubungan dengan
negara-negara kapitalis.
Teori konflik memiliki beberapa asumsi, antara lain:
a.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki sejumlah kepentingan yang
paling mendasar. Mereka selalu berusaha untuk dapat mewujudkan
kepentingan-kepentingan tersebut.
b.
Kekuasaan mendapatkan penekanan sebagai pusat hubungan sosial,
karena kekuasaan pada hakekatnya bersifat pemaksaan, maka
kekuasaan justru merupakan sumber konflik.
c.
Ideologi dan nilai-nilai yang digunakan sebagai penuntun dan
pedoman dalam hidup bermasyarakat, bukan merupakan sarana untuk
mencapai integrasi dan mengembangkan identitas bangsa.
Antara teori konflik dengan teori fung
sional struktural terdapat saling
perbedaan, bahkan sangat bertentang
an. Sebagaimana kita ketahui bahwa
teori fungsional struktural memandang masyarakat dan lembaga-lembaga
sosial yang ada sebagai suatu sistem yang bagian-bagiannya saling terkait
dan ada saling ketergantungan. Bagian-bagian itu saling bekerjasama
dengan baik untuk menciptakan suatu keseimbangan. Akan tetapi mereka
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 17
tidak menolak jika konflik itu juga sering muncul dalam masyarakat,
namun masyarakat itu sendirilah yang juga akan mengatasinya.
Berbeda dengan teori fungsional str
uktural dalam memandang masyarakat,
teori konflik memandang masyarakat sebagai suatu arena dimana antara
kelompok yang satu dengan kelompok yang lain saling berebut, misalnya
berebut kekuasaan. Apabila golongan
fungsional melihat Undang-undang
sebagai jalan untuk meningkatkan integrasi sosial, maka teori konflik akan
memandang Undang-undang itu sebagai suatu bentuk aturan yang akan
menguntungkan salah satu kelompok saja.
Baiklah, untuk lebih memperjelas tentang teori konflik di atas maka
simaklah contoh berikut ini. Indonesia adalah negara yang plural atau
majemuk atau beraneka ragam dalam setiap aspek kehidupannya. Bagi
golongan fungsional, pluralitas atau
keanekaragaman tersebut dipandang
sebagai suatu kekayaan bangsa, karena
apabila keanekaragaman bangsa itu
bisa dikelola dengan baik, arif dan bijaksana, maka hal itu justru akan
menjadi kekuatan bangsa.
Kekuatan bangsa itulah yang akan mendorong terwujudnya integrasi
bangsa atau persatuan. Keanekaragaman itu mengandung perbedaan-
perbedaan, dan yang berbeda itu harus kita pandang sebagai sesuatu yang
indah karena saling mewarnai dan melengkapi. Sebaliknya, golongan
konflik memandang bahwa keanekaragaman bangsa itu mengandung
perbedaan-perbedaan, dan perbedaan-perbedaan itulah yang merupakan
pemicu atau sumber konflik. Konflik yang terjadi secara terus menerus
akan menimbulkan perpecahan yang akan mengarah pada disintegrasi
bangsa.
Contoh lain bisa Anda lihat misalnya pa
da sistem kerja di sebuah pabrik.
Sebuah pabrik tentunya terdiri dari bagian-bagian yang berbeda tapi saling
terkait antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Golongan
fungsional mengatakan bahwa bagian-bagian yang berbeda dalam pabrik
tersebut saling bekerja sama sehingga menyebabkan pabrik itu bisa
beroperasi dengan baik.
Sebaliknya, golongan konflik memandang bahwa bagian-bagian dalam
pabrik tersebut saling bertentang
an. Masing-masing bagian membentuk
suatu grup atau kelompok sendiri-sendiri, dan mereka berusaha bekerja
sebaik mungkin untuk kelompoknya
sendiri. Hal ini tentu akan
menimbulkan persaingan di antara kelompok-kelompok yang ada, dan
pada akhirnya persaingan itu akan menimbulkan konflik. Jadi teori konflik
5 - 18
Unit 5
tidak memusatkan perhatiannya pada keseimbangan, adanya saling
ketergantungan, dan adanya kerja sama antara bagian yang satu dengan
bagian yang lain.
Apabila kita cermati lebih jauh lagi, hal-hal yang dapat memicu timbulnya
konflik dalam suatu masyarakat adalah kekuasaan, prestise, dan kekayaan.
Dalam usaha untuk memiliki hal-hal tersebut, tidak ada orang yang mau
mengalah secara sukarela. Berdasarkan hal ini maka dalam masyarakat
akan senantiasa timbul konflik sosial untuk memperebutkan kekuasaan,
prestise, dan kekayaan. Melalui cara apapun hal itu akan ditempuh, dan
konflik yang timbul dapat terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya
kekerasan fisik.
C. Masalah-Masalah Sosial
di Lingkungan Sekitar
Seperti yang telah kita pelajari di at
as bahwa masalah-masalah sosial yang ada
dalam masyarakat ditimbulkan karena adanya kesenjangan antara
das sollen
dengan
das sein.
Apa yang seharusnya terjadi tidak sama dengan kenyataan
yang sesungguhnya terjadi.
Dalam membahas masalah-masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar,
akan diklasifikasikan kedalam tiga aspek, yaitu masalah sosial dalam skope
atau lingkup lokal, nasional, dan internasional.
Agar pemahaman Anda lebih jelas, s
ilahkan menyimak penjelasan-penjelasan
berikut ini.
1. Masalah-masalah Sosial Dalam Lingkup Lokal
Masalah-masalah sosial dalam lingkup
lokal adalah masalah-masalah yang
dialami oleh seseorang dalam interaksinya dengan masyarakat. Masalah-
masalah sosial ini dapat berupa:
a.
Kemiskinan
Masalah kemiskinan ini bisa dialami oleh seseorang maupun oleh
sekelompok orang dalam suatu wilayah tertentu. Biasanya masalah
kemiskinan muncul karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan
hidup yang paling mendasar atau kebutuhan primer, yaitu sandang,
pangan, dan papan. Masalah ini biasanya timbul pada orang atau
masyarakat yang masih sederhana, orang yang tidak memiliki
pekerjaan tetap sehingga penghasilan
nya masih jauh dibawah standar.
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 19
Untuk memenuhi kebutuhan primer saja sulit, apalagi kebutuhan
sekunder. Namun kadang-kadang kemiskinan juga terjadi pada
seseorang atau sekelompok orang yang sudah modern. Biasanya hal
ini disebabkan karena mereka tidak bisa memenuhi seluruh
kebutuhannya, meskipun untuk kebutuhan primer sudah terpenuhi.
Namun kebutuhan sekunder merasa masih belum terpenuhi.
b.
Kejahatan atau Kriminalitas
Masalah kemiskinan pada akhirnya juga berdampak pada masalah-
masalah yang lain, seperti timbulnya kejahatan, kriminalitas, dan
sebagainya. Dalam kondisi yang tidak memiliki apa-apa, akan
mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk berbuat jahat.
Namun ada kalanya kejahatan itu juga terjadi karena situasi sosial yang
memberikan peluang atau kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Kejahatan ini terjadi sebagai bent
uk kompensasi atau kekecewaan
yang sangat mendalam yang dialami oleh seseorang atau sekelompok
orang. Oleh karena itu mereka akan melakukan tindakan apa saja demi
kepuasan dirinya, meskipun hal itu akan merugikan orang lain.
c.
Masalah Keluarga
Dalam masalah keluarga biasanya yang muncul adalah masalah
disorganisasi keluarga, yaitu perpecahan keluarga sebagai suatu unit.
Hal ini disebabkan karena anggota keluarga gagal memenuhi
kewajibannya sesuai dengan peranan sosialnya.
Sebagai contoh misalnya perceraian, karena kurangnya komunikasi
antar anggota keluarga sehingga menimbulkan pertengkaran. Krisis
keluarga yang disebabkan
karena faktor-faktor
intern dan ekstern,
seperti kemiskinan, orang tua yang baru saja di PHK(Pemutusan
Hubungan Kerja) dari pekerjaannya, intervensi atau campur tangan
pihak-pihak luar dalam urusan rumah tangga, dan sebagainya.
d.
Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja atau tidak mempunyai
pekerjaan saat mereka termasuk dalam usia produktif. Hal ini bisa
terjadi karena mereka malas bekerja atau karena baru saja
diberhentikan dari pekerjaannya. Penyebab terjadinya masalah
pengangguran ini sangatlah kompleks, dan terkait antara masalah yang
5 - 20
Unit 5
satu dengan masalah yang lain. Misalnya, tingginya tingkat urbanisasi
yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan tujuan untuk
mendapatkan pekerjaan. Padahal di kota sulit untuk mencari pekerjaan,
sehingga mereka justru akan menyebabkan terjadinya pengangguran.
Pengangguran akan meningkatkan kemiskinan dan kriminalitas.
e.
Pelanggaran Terhadap Norma-norma Masyarakat
Bentuk masalah sosial yang disebabkan karena melanggar norma-
norma yang berlaku dalam masyarakat bermacam-macam. Misalnya,
melanggar norma-norma kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat
yang sangat dijunjung tinggi. Pelanggaran terhadap norma kesusilaan
ini akan berpengaruh besar terhadap moral seseorang.
Bentuk lain dari pelanggaran ini misalnya seseorang yang tidak
melaksanakan adat atau tradisi yang hidup dalam masyarakat seperti
kenduri, tradisi gotong royong, dan sebagainya. Meskipun mereka
yang tidak melaksanakan tradisi yang berlaku dalam masyarakat itu
tidak mendapatkan sangsi hukum, namun mereka akan mendapatkan
sangsi sosial, seperti dikucilkan ol
eh masyarakat. Hal yang demikian
apabila terjadi terus menerus akan menimbulkan masalah sosial dalam
masyarakat.
D. Masalah-masalah Sos
ial Dalam Lingkup Nasional
Masalah-masalah sosial dalam lingkup nasional adalah masalah-masalah yang
dialami oleh masyarakat dalam suatu wilayah tertentu namun akibatnya akan
dirasakan oleh seluruh bangsa dalam su
atu wilayah negara. Masalah-masalah
sosial ini dapat berupa:
1.
Kemiskinan
Kemiskinan bisa menjadi masalah dalam lingkup lokal, namun bisa juga
menjadi masalah dalam lingkup nasional. Ketika kemiskinan itu dialami
oleh sekelompok orang dalam suatu wilayah tertentu, dan berdampak luas
sampai pada negara, maka kemiskinan tersebut bisa dikategorikan dalam
lingkup nasional.
Misalnya, terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah
longsor, gunung meletus, banjir, banjir lumpur panas di Sidoarjo, dan
sebagainya. Bencana-bencana alam yang hebat tersebut dapat
meluluhlantakkan suatu daerah, sehingga masyarakat yang tinggal di
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 21
daerah tersebut akan kehilangan keluarganya, harta bendanya, rumahnya,
dan juga mata pencahariannya.
Keadaan seperti inilah yang akhirnya akan menimbulkan kemiskinan
dalam lingkup nasional karena bukan hanya menjadi beban bagi
seseorang, tapi juga menjadi beban atau masalah bagi suatu negara.
2.
Pengangguran
Pengangguran juga bisa dikategorikan dalam masalah lokal maupun
masalah nasional, tergantung dari mana kita memandangnya. Ketika
pengangguran itu dialami oleh seseorang dan hanya berdampak pada suatu
wilayah tertentu, maka pengangguran ini hanya bersifat lokal.
Namun apabila pengangguran ini terjadi pada sekelompok orang dan akan
berdampak pada wilayah negara, ma
ka pengangguran ini bisa disebut
sebagai pengangguran yang sifatnya
nasional. Misalnya pengangguran ini
terjadi karena sekelompok orang atau masyarakat yang kehilangan mata
pencahariannya atau pekerjaannya karena bencana alam atau karena
diberhentikan dari pekerjaannya.
3.
Masalah Kependudukan
Masalah kependudukan merupakan masalah yang akan mendasari
masalah-masalah sosial yang lain. Artinya masalah kependudukan ini akan
mendorong timbulnya masalah-masalah sosial yang lain.
Misalnya, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, distribusi penduduk
yang tidak merata, kepadatan penduduk, tingkat urbanisasi yang masih
cukup tinggi. Masalah-masalah penduduk tersebut pasti akan diikuti oleh
masalah-masalah yang lain.
Sebagai contoh, pertumbuhan pendud
uk yang sangat pesat akan diikuti
oleh pertumbuhan kebutuhan hidup. Apabila kebutuhan-kebutuhan hidup
itu tidak terpenuhi, akan mengakibatkan terjadinya berbagai ketimpangan,
baik di bidang ekonomi, ekologi atau lingkungan, pendidikan, dan
sebagainya.
Distribusi penduduk yang tidak merata juga akan menyebabkan
terkonsentrasinya penduduk di suatu daerah, sehingga menimbulkan
kepadatan penduduk di suatu daerah, sementara ada daerah-daerah lain
yang jarang sekali penduduknya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan
masalah atau ketimpangan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun
pertahanan dan keamanan. Masalah urbanisasi juga akan berdampak pada
5 - 22
Unit 5
masalah-masalah sosial, seperti masa
lah ekonomi, sosial, ekologi atau
lingkungan karena penduduk yang menumpuk di daerah perkotaan
tersebut akan menimbulkan pencemaran sehingga lingkungan menjadi
kumuh.
4.
Masalah Lingkungan
Masalah lingkungan ini terjadi karena ulah manusia yang dengan sengaja
merusak lingkungan hidupnya yang seharusnya digunakan sebagai
penopang kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Misalnya, membuang
limbah baik itu limbah industri maupun limbah domestik atau limbah
rumah tangga tidak pada tempatnya.
Hal ini tentu saja akan menimbulkan pencemaran baik pencemaran darat,
air, maupun udara, sehingga akan mengganggu kelangsungan hidup
manusia itu sendiri. Penebangan hutan secara liar, akan mengakibatkan
banjir dan tanah longsor yang akhirnya manusialah yang akan
menanggung akibatnya.
Eksploitasi kekayaan alam secara tidak bertanggung jawab juga akan
menyebabkan kerusakan lingkungan. Selain itu masalah lingkungan juga
bisa terjadi karena faktor alam, di luar kekuasaan manusia sehingga
manusia tidak akan mampu untuk mencegahnya. Misalnya terjadinya
bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, tsunami, angin
puting beliung, tanah longsor, dan sebagainya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah lingkungan itu terjadi
karena adanya ketimpangan antara manusia (penduduk) dengan daya
dukung alam atau lingkungan sebagai penopang kelangsungan hidup
manusia itu sendiri.
5.
Konflik Sosial
Konflik sosial terjadi karena adanya pertentangan, percekcokan,
perselisihan, ketegangan antar ang
gota masyarakat secara menyeluruh.
Pertentangan tersebut muncul karena adanya perbedaan-perbedaan baik
secara individual maupun kelompok, misalnya perbedaan pendapat,
pandangan, penafsiran, pemahaman, kepentingan, dan sebagainya.
Secara lebih luas pertentangan juga bisa diakibatkan karena adanya
perbedaan agama, suku bangsa, bahasa, budaya, dan profesi Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang majemuk atau beraneka ragam dalam
aspek-aspek kehidupannya, apabila keanekaragaman tersebut tidak
Pengembangan Pendidikan IPS SD
5 - 23
dikelola dengan baik maka timbulnya adalah konflik yang akhirnya akan
menjurus ke perpecahan atau disintegrasi.
Namun apabila keanekaragaman tersebut bisa dikelola dengan baik, maka
yang berbeda-beda atau beraneka ragam itu akan menjadi kekayaan bagi
suatu bangsa, sehingga akan menimbulkan persatuan atau integrasi bangsa.
E. Masalah-masalah Sosial
Dalam Lingkup Internasional
Masalah-masalah sosial dalam lingkup in
ternasional adalah masalah-masalah
yang terjadi dalam suatu wilayah negara namun akibatnya akan dirasakan oleh
negara-negara lain. Jadi bukan hanya negara yang bersangkutan yang akan
merasakan akibatnya, api juga akan berdampak lebih luas sampai ke negara-
negara lain. Apabila hal ini tidak segera diatasi maka dampaknya akan lebih
parah lagi.
Masalah-masalah sosial tersebut dapat berupa:
1.
Masalah Lingkungan
Masalah lingkungan dalam lingkup internasional disini adalah yang
berdampak sangat luas karena dampaknya akan dirasakan oleh negara-
negara lain. Misalnya kebakaran huta
n yang terjadi di daerah Kalimantan,
ternyata asapnya tidak hanya dirasakan oleh bangsa Indonesia sendiri, tapi
juga dirasakan oleh negara-negar
a tetangga kita seperti Malaysia,
Singapura. Apabila masalah seperti ini tidak segera diatasi, maka bisa juga
menimbulkan konflik antar negara. Pencemaran yang ditimbulkan dari
asap kebakaran hutan tersebut akan menimbulkan berbagai macam
penyakit.
2.
Terorisme
Terorisme adalah segala bentuk tind
ak kejahatan yang ditujukan langsung
kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror atau ancaman
terhadap orang-orang tertentu atau sekelompok orang atau masyarakat
luas. Teror digunakan sebagai teknik untuk mencapai tujuan.
Terorisme ini dikategorikan sebaga
i masalah dalam lingkup internasional,
karena biasanya jaringan teroris beke
rjasama dengan negara-negara lain
dan dampaknya juga akan dirasakan di dunia internasional. Taktik yang
sering digunakan oleh kelompok teroris adalah pengeboman, pembajakan,
pembunuhan, penghadangan, penculikan, penyanderaan, perampokan,
5 - 24
Unit 5
ancaman atau intimidasi. Melihat bahayanya aksi terorisme, maka tindak
terorisme itu harus segera ditanggulangi secara baik dan bijaksana.
Latihan
Untuk memperdalam pemahaman anda mengenai materi di atas, maka silahkan
anda mengerjakan latihan berikut ini.
1.
Apakah yang dimaksud dengan masalah dan masalah sosial?
2.
Sebutkanlah dan jelaskan masalah-masa
lah sosial yang ada disekitar kita!
3.
Berikanlah contoh masalah-masalah so
sial dalam lingkup lokal, nasional, dan
internasional!
Petunjuk Jawaban Latihan
1.
Bacalah kembali bagian awal dari uraian tentang konsep atau pengertian
masalah dan masalah sosial.
2.
Pelajari kembali uraian yang membahas tentang masalah-masalah sosial yang
ada di sekitar kita.
3.
Bacalah kembali uraian tentang masalah-masalah sosial dalam lingkup lokal,
nasional, dan internasional.
Rangkuman
Masalah adalah kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi (
das
sollen
) dengan apa yang betul-betul terjadi (
das sein
). Apabila masalah
tersebut terjadi berlarut-larut, maka akan menjadi masalah sosial. Masalah
sosial berkaitan dengan nilai dan norma. Masalah sosial muncul karena
ada kesenjangan antara tata kelaku
an yang seharusnya berlaku dengan
keadaan yang senyatanya terjadi dan berlawanan dengan hukum.
Masalah-masalah sosial ini juga didasarkan pada teori-teori sosial yaitu,
teori Fungsionalisme Struktural dan
teori Konflik. Teori Fungsionalisme
Struktural menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari
banyak lembaga yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri,
5 - 26
Unit 5
Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepa
t dari beberapa alternatif jawaban yang
disediakan.
1. Manusia disebut sebagai makhluk m
onodualis karena manusia memiliki sifat
kodrat sebagai .....
A.
makhluk Tuhan
B.
makhluk individu
C.
makhluk sosial
D.
makhluk individu sekaligus makhluk sosial
2. Agar manusia dapat hidup serasi dengan lingkungan di sekitarnya, maka sejak
kecil memerlukan proses pembelajaran, proses ini disebut.....
A.
interaksi
B.
sosialisasi
C.
adaptasi
D.
komunikasi
3. Sosialisasi bertujuan untuk membentuk .....
A.
kepribadian anak
B.
kedisiplinan anak
C.
kesopanan anak
D.
kemandirian anak
4. Kesenjangan antara
das sollen
dengan
das sein
disebut.....
A.
masalah
B.
masalah sosial
C.
sikap sosial
D.
perilaku sosial
5. Kesenjangan antara
das sollen
dengan
das sein
yang berlarut-larut
disebut.....
A.
masalah
B.
masalah sosial
C.
sikap sosial
D.
perilaku sosial
1. Latar Belakang

Saat ini banyak masalah-masalah sosial yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan
kita semua. Masalah sosial seharusnya harus diselesaikan bersama dan bukan hanya sebagian
atau beberapa orang, melihat Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk terbanyak
nomer 4 di dunia yakni pasti penduduk Indonesia sangat banyak. Semakin banyak individu akan
semakin banyak pula persoalan yang dihadapi masing-masing individu.
Kali ini kami akan membahas beberapa solusi penyelesaian beberapa persoalan masalah-
masalah sosial yang ada, yakni : kemiskinan, pengganguran, urbanisasi, transmigrasi, narkoba,
prostitusi, konflik sosial, korupsi, kolusi dan terakhir nepotisme. Masalah-masalah sosial tersebut
dapat diselesaikan melalui beberapa aspek yakni : pendidikan, hukum, HAM, keluarga dan
lingkungan. Tentunya setiap aspek memiliki keutamaan masing-masing yang semuanya harus
dijalankan dengan seimbang dan tidak boleh lebih mengutamakan hanya satu aspek saja dan
yang lain tidak dihiraukan. Jadi pada intinya semua aspek sangat berhubungan yang apabila
dilaksanakan dengan baik, benar dan tepat akan dapat mengatasi masalah-masalah sosial yang
telah kami sebutkan diatas tadi.
Permasalahan sosial bukanlah sebuah masalah sepele yang apabila kita diamkan lambat
laun akan menghilang dengan sendirinya. Tentunya tidak akan terjadi seperti itu tetapi harus ada
tindakan yang bertujuan untuk mengurangi bahkan untuk menyelesaikannya hingga tuntas
maslah-maslah sosial tersebut.



2. Tujuan Pembahasan

a) Tujuan Umum
Memenuhi Tugas Wawasan IPS
b) Tujuan Khusus
Dapat memahami bagaimana cara-cara penyelesaian masalah-masalah sosial melaluli
pendidikan, hukum, HAM, keluarga dan lingkungan

3. Rumusan Masalah

a) Bagaimana mengatasi masalah sosial kemiskinan dan penganguran melalui pendidikan, hukum,
HAM keluarga dan lingkungan ?
b) Bagaimana mengatasi masalah sosial urbanisasi dan transmigrasi melalui pendidikan, hukum,
HAM keluarga dan lingkungan ?
c) Bagaimana mengatasi masalah sosial narkoba, prostitusi dan konflik sosial melalui pendidikan,
hukum, HAM keluarga dan lingkungan ?
d) Bagaimana mengatasi masalah sosial korupsi, kolusi dan nepotisme melalui pendidikan, hukum,
Ham keluarga dan lingkungan ?





B. POKOK PEMBAHASAN

Alternatif dan solusi tentang kemiskinan dan pengganguran. Kemiskinan adalah suatu
situasi baik yang merupakan proses maupun akibat dari adanya ketidakmampuan individu
berinteraksi dengan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya.Kurangnya pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila
pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan,
pakaian, tempat berteduh. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu :
- Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
- Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
- Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok
masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta tingkat
kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan
dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang, tidak terkecuali di Indonesia.
Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan.
Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif, sedangkan konsep
yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolute
- Kemiskinan Relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan
biasanya dapat didefinisikan di dalam kaitannya dengan tingkat rata rata dan distribusi yang
dimaksud.
- Kemiskinan Absolut adalah derajat dari kemiskinan dibawah, dimana kebutuhan minimum untuk
bertahan hidup tidak dapat terpenuhi. 1[1]

Pengganguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari
kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha
mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah



angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada
yang mampu menyerapnya.

Pengangguran menurut Badan Pusat Statistik Pengangguran adalah istilah untuk orang
yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan

Penduduk usia kerja dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a. Angkatan Kerja ( labour force ) adalah penduduk usia kerja ( 10 tahun 65 tahun ) yang mampu
dan ingin bekerja.
b. Bukan Angkatan Kerja adalah penduduk di luar usia kerja atau penduduk usia kerja tetapi tidak
mampu / tidak mau untuk bekerja. Misalnya : anak sekolah, mahasiswa ibu rumah tangga, dll.

Kemiskinan dan pengangguran adalah suatu masalah sosial yang harus segera dituntaskan
dan dicari solusinya dengan berbagai cara. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, mulai dari
aspek pendidikan, hukum, keluarga, dan lingkungan.
Alternatif dan solusi melalui pendidikan, pendidikan dapat mendidik seseorang memiliki
ketrampilan dan keahlian agar dapat ia gunakan dalam bekerja bahkan dapat membuka lapangan
pekerjaan bagi orang lain, dengan begitu penganguran dapat berkurang dan pengentasan
kemiskinan semakin menemui jalan keluarnya. Pendidikan juga dapat menjadi sebuah sarana
untuk mengembangkan suatu bakat yang tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam
bidang non akademik. Salah satu caranya yakni banyaknya dibuka sekolah berbasis kejuruan
SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang menyiapkan lulusannya agar langsung siap dalam
dunia kerja. Sekalipun fakta membuktikan tidak hanya orang yang tidak berpendidikan yang
yang menggangur dan miskin, tetapi juga orang-orang yang berpendidikanpun juga banyak yang
mengangur dan miskin. Ini disebabkan karena kurangnya kesempatan kerja yang seharusnya
dapat diciptakan orang itu sendiri karena kesempatan tidak hanya untuk ditunggu tapi juga untuk
diciptakan, demi berkurangnya pengganguran dan menurunnya angka pengganguran serta
kemiskinan.
Aspek yang kedua yakni melalui jalur hukum, hukum dan pemerintah Indonesia tidak ada
bosan bosannya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial demi terciptanya keselarasan dan
keimbangan masyarakat. Banyak cara yang telah dilakukan dalam aspek hukum yakni dengan
sering diadakanya bursa kerja bagi para pencari kerja, pelatihan ketramilan, kucuran dana UKM
(Usaha Kecil Menengah) yang memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berwirausaha
menciptakan suatu lapangan usaha yang diharapkan dapat menarik banyak pengawai untuk
menekan angka penganguran dan kemiskinan, cara lain yakni dengan BLT (Bantuan Langsung
Tunai) sekalipun tidak serta merta menghapus angka kemiskinan tapi setidaknya dapat
mengurangi beban mereka yang kurang mampu, tettapi bukan berarti akan selamnya hidup
mereka ditangung oleh pemerintah dan mereka tidak berbuat apa-apa.
Aspek berikutnya yakni melalui Ham, seperti yang tercantum si UU pasal 28A yang
berbunyi Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya. Sekalipun mereka tidak bekerja dan masih berada dibawah garis kemiskinan
mereka tetap masih memiliki hak yang sama dengan yang lain, sesuai dengan UU Pasal 34 ayat 1
yang berbunyi Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara olek Negara.
Aspek berikutnya yakni melalui keluarga.
Keluarga adalah struktur anggota terkecil dalam masyarakat yang beranggotakan Ayah,
Ibu dan anak-anak mereka yang hidup terpisah dari orang lain. Keluarga inti yang hidup
terpisah dari orang lain di tempat tinggal mereka sendiri dan para anggotanya satu sama lain
terikat erat secara khusus. 2[2]

Yakni dengan cara pendekatan antar keluarga yang dapat saling membantu.
Tak kalah pentingnya yakni melalui aspek lingkungan, lingkungan sangat berpengaruh
dalam suatu masyarakat.Bagaimana masyarakat tersebut terbentuk tergantung bagaimana
lingkungan itu membentuk mereka. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan melalui lingkungan
yakni salah satunya dengan pemanfaatan sumber daya alam yang ada yang dapat
dikelolabersama suatu masyarakat agar dapat menekan laju penganguran. Pembentukan suatu
kelompok kerja masyarakat secara bergotong royong.

Alternative dan solusi mengatasi urbanisasi, transmigrasi dan penataan lingkungan.




Setiap tahun, angka urbanisasi terus meningkat. Semua masyarakat daerah yang pindah
ke kota besar melakukan urbanisasi dengan satu tujuan, mencari pekerjaan yang layak.3[3]

Pada akhirnya, para pencari kerja tersebut menjadi terbengkalai dan pengangguran di
kota besar. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimmin Iskandar mengatakan solusi
untuk mengurangi tingkat urbanisasi dengan E-KTP.
Menurut Muhaimin Iskandar Untuk penyelesaian Jakarta sebagai tempat urbanisasi terbesar
ada 2 sebab.
1. pembatasan yang hadir dan tidak mudah mendapatkan KTP Jakarta.
2. Yang kedua ada cara tercipta lapangan kerja yang formal. Khususnya untuk di daerah. 4[4]
Selain adanya pembatasan mendapatkan E-KTP, Muhaimmin juga menjelaskan kalau
pengembangan dan penciptaan lapangan kerja sektor formal harus ditingkatkan di
daerah.Pasalnya selama ini, lapangan kerja hanya tumbuh pesat di kota-kota besar. Transmigrasi
sudah seharusnya menjadi bagian dari program penataan lingkungan dan tata ruang nasional
serta program pembangunan yang berkelanjutan, baik pembangunan dalam arti fisik berupa
sarana dan prasarana maupun pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pada program
penataan lingkungan dan desain tata ruang nasional, program transmigrasi menjadi sangat
relevan dan penting serta bisa dijadikan salah satu solusi mengatasi masalah lingkungan.
Berbagai masalah lingkungan bisa ditimbulkan akibat kepadatan penduduk yang belebihan,
ditambah dengan kurang akuratnya rencana tata ruangkota atau daerah dan tidak terintegrasinya
rencana tata ruang antar kotaatau daerah, padahal masih satu provinsi atau negara.
Salah satu contoh yang nyata yang bisa kita amati adalah betapa tidak terintegrasinya tata ruang
di wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) dalam mengelola sampah, banjir,
macet, pengangguran dan penduduk miskin. Kondisi tersebut tentu kita telah memahami betul





apalagi yang bertempat tinggal di wilayah Jabotabek, masalahannya adalah bagaimana mengatasi
kondisi tersebut.
Dalam kasus di Jabotabek, pemecahannya harus diawali dengan mengurangi kepadatan
penduduknya, dengan cara mengendalikan urbanisasi dan memindahkan penduduk dari wilayah
Jobotabek, melalui program transmigrasi dan pemerataan pembangunan di daerah khususnya
daerah transmigrasi.
Dengan kepadatan yang berkurang tentu akan memudahkan pemerintah daerah di
wilayah Jabotabek untuk mengatur wilayahnya. Seperti mengatur daerah aliran sungai dengan
mencegah membuang sampah ke kali atau sungai, reboisasi di hulu dan sekitar sungai. Volume
sampah yang berkurang memudahkan dalam mengelolanya, kemacetan secara otomatis
berkurang karena jumlah penduduk yang berkurang, pengangguran dan penduduk miskin pun
dipastikan berkurang karena di daerah transmigrasi mereka dituntut untuk bertani atau berkarya.
Selain di Jabotabek, kepadatan penduduk di wilayah lain di Pulau Jawa telah menyebabkan tidak
berimbangnya daya dukung alam dan lingkungan terhadap penduduknya, seperti berubahnya
fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman, berkurangnya hutan di Pulau Jawa mengakibatkan
tanah longsor, banjir dan masalah-masalah lingkungan.
Mengingat hal di atas pemerintah harus segera. mengimplementasikan program
transmigrasi demi kesejahteraan rakyat Indonesia dan menjadikan Indonesia sebuah negara yang
tertata lingkungannya sampai tiap jengkal tanahnya.
Dalam program transmigrasi pemerintah harus memperhatikan efek yang timbul dari program
tersebut
1. rindu kampung halaman.
2. benturan budaya transmigran dengan budaya setempat
3. pembukaan lahan yang tidak mengganggu hutan lindung.
sehingga dengan adanya program transmigrasi bukan berarti memindahkan masalah sosial dan
lingkungan ke daerah transmigrasi.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Muhaimin Iskandar,
menyiapkan solusi urbanisasi pascamudik Lebaran.Dia menjelaskan tiga langkah yang disiapkan.

1. mendorong pemerintah daerah terus menerus meningkatkan perencanaan ketenagakerjaan.
Bagaimana caranya agar terjadi investasi penciptaan lapangan alternatif pekerjaan, baik
sementara maupun pekerjaan tetap. Pembangunan infrastruktur terus dilakukan melalui padat
karya. Kemudian pembangunan alternatif tingkat kemandirian masyarakat harus direncanakan
dengan matang.Pihaknya berjanji terus mendorong pemerintah daerah membuat perencanaan
ketenagakerjaan. Sasarannya adalah daerah-daerah basis tenaga kerja di kota-kota besar.
"Perencanaantenaga kerja itu penting supaya tidak terjadi penumpukan, kata Muhaimin, di
Jakarta, Jumat (24/8).

2. Kemenakertrans terus mendorong memberikan program-program alternatif seperti
kewirausahaan, pelatihan, kemudian teknologi serba guna, dan padat karya produktif. Kegiatan
penciptaan dan pembangunan ekonomi kawasan juga terus dilakukan.

3. pihaknya berharap kota-kota besar memperketat diri untuk tidak memudahkan orang
pengangguran numpuk di kota-kota besar. Saya setuju dengan operasi yustisi, termasuk yang
kita dorong transmigrasi dari kota-kota besar," kata Muhaimin.
Ketiga program ini akan mengurangi tingkat pengangguran. Akan tetapi yang paling
penting dari ketiga hal itu, menurutnya, adalah memperketat perencanaan tenaga kerja baik di
tingkat perusahaan maupun daerah sehingga masyarakat yang melakukan transmigrasi tidak
merasa resah di tempat tinggalnya.
Dan jugasebenarnya pemusatan penduduk pada daerah tertentu (terutama kawasan
perkotaan dan pusat-pusat kegiatan)itu juga akan menimbulkan berbagai permasalahan
kependudukan antara lain:
1. munculnya kawasan-kawasan kumuh kota dengan rumah-rumah yang tidak layak huni.
2. sulitnya persaingan di dunia kerja, sehingga menyebabkan merebaknya sector-sektor informal
seperti pedagang kaki lima, pengamen, dan sebagainya yang terkadang keberadaanya dapat
mengganggu ketertiban.
3. Turunnya kualitas lingkungan.
4. Serta terganggunya stabilitas keamanan.
Adapun usaha-usaha yang di lakukan pemerintah dalam mengatasi masalah penduduk
meliputi hal-hal berikut ini.
1. Melaksanakan program transmigrasi
2. Melaksanakan program pemerataan pembangunan dengan cara mendistribusikan perusahaan
atau industry di pinggir kota (dekat kawasan pedesaan) di pulau-pulau selain pulau jawa.
3. Melengkapi sarana dan prasarana social masyarakat hingga ke pelosok desa, sehingga pelayanan
kebutuhan social ekonomi masyarakat desa dapat di penuhi sendiri dan dapat mencegah atau
mengurangi arus urbanisasi.
Factor Sehingga Terjadinya Korupsi Secara Garis Besar Ada Dua Factor
a) Factor penghambat dan pendorong ss
b) Factor internal dan eksternal
Factor internal merupakan salah satu factor yang timbul dari diri sendiri. Contoh:
keserakahan karena tidak puas dengan apa yang di miliki. Kurang dan lemahnya moralitas
individu
Factor eksternal adalah yang timbul dari luar baik lingkungan masyarakat atau negara. Contoh:
lemahnya system dan pengawasan hokum, factor politik
c) Akibat
Menghambat proses pembangunan penderitaan rakyat semakin bertambah
Solusi dan cara dalam memberantas KKN secara hukum
1) Dalam kelembagaan
a. Legislative
Berdasarkan undang-undang dasar 1945 pasal 1 ayat 2 yang menjelaskan bahwa MPR sebagai
lembaga tertinggi negara yang mempunyai tugas sebagai kedaulatan negara. Dengan memiliki
beberapa kewenangan atau kekuasaan yaitu kewenangan untuk menetapkan dan mengubah UU
sesuai pasal 3 dan 37 ayat UUD 1945 serta menetapkan garis-garis besar negara 5[5]dari
penjelasan di atas di harapkan MPR mampu menetapkan UU atau hokum yang kuat sesuai
dengan tindakan dan perbuatan yang di lakukan oleh seseorang.
b. Eksekutif sebagai pelaksana agar mampu melaksanankan sesuai dengan apa yang telah di buat
dan di sepakati oeh legislative.
c. Udikatif sebagai pengawas memantau sejauh mana UU itu di jalankan ataukah di tegakan dan
berani memberikan sanksi jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan tersebut.
Secara Pendidikan .



a. Belajar mengetahui dampak dari masalah-masalah tersebut
b. Memahami nilai-nilai moral dengan belajar dalam pendidikan agama
c. Hilangkan sikap rakus, tamak dan serakah dalam pendidikan
Menurut HAM
a. Aksi menuntut di tegakkan hokum yang seadil-adilnya untuk para pelaku
Secara Lingkungan
a. Menghargai akan sebuah perbedaan
b. Membangun komunikasi yang baik antar sesama tanpa membedakan satu sama lain
c. Membangun kerjasama baik individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok
d. Bermusyawarah dengan mengambil dengan mengambil sebuah keputusan hokum
Secara Hukum
a. Menyelesaikan konflik sesuai dengan proses hokum yang belaku
b. Hindari kegiatan kolusi

Kemudian ada juga beberapa cara pemecahan konflik yang lain yaitu:
1. Elimination yaitu pengunduran diri dari salah satu pihak yang terlibat dalam konflik yang
terlibat dalam konflik yang di ungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami
keluar, kami membantu kelompok kami sendiri
2. Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat
memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya
3. Majority Rule artinya suara terbanyak yang di tentukan dengan voting akan menentukan
keputusan , tanpa mempertimbangkan argumentasi .
4. Minority Consent; artinya kelompok mayoritas memenangkan, namun kelompok minoritas tidak
merasa di kalahkan dan menerima keputusan serta sepakan untuk melakukan kegiatan bersama
5. Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang terlibat dalam komflik berusaha
mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6. Integration;artinya pendapat-pendapat yang bertentangan di diskusikan, dipertimbangkan dan di
telah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.
Narkoba dan zat adiktif adalah obat-obat terlarang yang pemakaiannya hanya boleh
dilakukan secara medis dan tidak untuk dislahgunakan. Di Indonesia khususnya sudah banyak
penyalahgunaan penyalahgunaan zat adiktif tersebut secara hokum ini harus benar-benar ditindak
dengan jelas dan tidak boleh diremehkan. Pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan
bijaksana. Pelaku penyalahgunan zat adiktif ini kebanyakan remaja usia 17-25tahun tetapi tidak
menutupi kemungkinan remaja anak-anak dibawah 17tahun dan dewasa diatas 25tahun juga
menjadi pelakunya. Ini disebabkan oleh beberapa factor yakni : adanya perdangan narotika
secara bebas melalui bandar bandar. Adanya pengaruh dari lingkungan sekitar atau teman.
Berada pada lingkungan yang buruk dan tidak bagus yang didalam lingkungan itu terdapat orang
orang pengguna dan Bandar serta masyarakat yang berpendidikan rendah. Adanya uang yang
cukup untuk membali barang tersebut. Adanya mind set bahwa narkoba itu keren dan apabila
tidak menggunakannya dianggap sebagai seseorang yang tketinggalan zaman. Adanya persepsi
bahwa narkoba dapat menghilanggan stress dan pusing kepala. Ini adalah suatu masalah sosial
yang tidak boleh dibiarkan begitu saja dan harus ada penanganan secara maksimal demi
menyelesaikan maslah ini.
Mengatasi melalui jalur pendidikan, pendidikan adalah cara yang sangat baik untuk
menyelesaikannya, sebaiknya para pelajar sudah mulai dikenalkan dengan bahaya narkoba dan
zatpzat adiktif ini, penggenalan secara mendalam juga perlu dilaksanakan. Tidak kalah
pentingnya lagi yakni pendidikan melalui agama. Karena disemua agama mengajarkan bahwa
narkoba itu tidak baik, Islam lebih tegas terhadap masalah ini, narkoba hukumnya sudah jelas
pasti haram, dan neraka adalah jaminannya jia kta tetap memakai narkoba ini.
Penangganan melalui hukum yakni sudah dibentuknya BNN (Badan Narkoba Nasional)
yang meanggani masalah ini kgususnya, jugasudah ada beberapa undang undang yang
menggatur yakini pada UU No 35 tahun 2009 tentang Penyalah gunaan psikitrobika dan zat zat
adiktif.
Penanganan melalui lingkup keluarga Seseorang bisa menjadi pecandu narkoba karena
banyak faktor, termasuk keluarga. Faktor-faktor keluarga yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Keadaan dan kondisi keluarga.
Keharmonisan keluarga ikut menentukan mudahnya seseorang terkena narkoba atau
tidak. Keluarga yang kurang harmonis, baik antara suami-istri, orang tua-anak, serta anggota
keluarga yang lain, sangat memudahkan anggotanya terpikat oleh narkoba. Untuk pencegahan,
ciptakan kehidupan keluarga yang harmonis!
2. Kurang perhatian.
Perhatian tidak cukup hanya dalam bentuk materi saja, tetapi perlu empati. Untuk pencegahan,
bina perhatian dan kepedulian antar anggota keluarga!
3. Kurangnya komunikasi antarkeluarga.
Hal ini menyebabkan anggota keluarga mencari orang lain (bukan keluarga) untuk melepaskan
segala permasalahan yang dialaminya. Untuk pencegahan, perbaiki komunikasi dalam keluarga!
4. Kurang kesatuan.
Kurangnya kesatuan dalam keluarga membuat ikatan keluarga menjadi longgar. Dengan
demikian, masing-masing anggota keluarga akan mencari pelampiasan di tempat lain. Untuk
pencegahan, ajak setiap anggota keluarga rutin berdoa dan aktif bergereja!
5. Orang tua yang otoriter.
Orang tua yang selalu mengatur dan memaksakan kehendak, baik dalam menentukan pendidikan
atau hal-hal lain, membuat anggota keluarga -- anak merasa tidak bebas. Anggota keluarga akan
mencari pelampiasan kepada hal/orang lain. Untuk pencegahan, ciptakan suasana keluarga yang
terbuka, demokratis, dan ajarkan kepada anak, agar berani mengemukakan pendapat dan berani
mengatakan TIDAK untuk hal/benda-benda asing/negatif (Say No to Drugs).
6. Terlalu menuntut prestasi anak.
Orang tua yang terlalu menuntut, bisa memicu timbulnya kejengkelan bagi anggota keluarga.
Apabila mereka yang dituntut tidak sanggup memenuhi tuntutan tersebut, maka mereka bisa
merasa depresi dan lari ke narkoba. Untuk pencegahan, berikan kebebasan anggota keluarga
mengemukakan pendapat dan hargai pendapat mereka!

7. Terlalu memanjakan anggota keluarga.
Kebiasaan menuruti semua kemauan anak tidak baik. Untuk pencegahan, jangan memanjakan
siapa pun dalam keluarga dan hindarkan kebebasan yang tidak bertanggung jawab!
8. Kurang pengawasan.
Salah satu anggota keluarga yang menjadi pecandu narkoba bisa "menulari" anggota keluarga
yang lain. Waspadalah! Untuk pencegahan, segera obati penderita kecanduan dan kirim ke
tempat rehabilitasi!
Peran Keluarga dalam Penanggulangan Narkoba
Peran keluarga sangat penting bagi setiap anggota keluarga yang menghadapi suatu masalah.
Dukungan keluarga terhadap anggotanya yang terjerat narkoba sangat besar pengaruhnya dalam
penyembuhan.
Biasanya, para pecandu narkoba suka mencari sensasi, hiperaktif, mudah kecewa,
cenderung agresif, dan destruktif. Selain itu, ia juga kurang berpartisipasi dalam kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah dan kurang aktif di gereja (antisosial), kurang cerdas, suka
memberontak terhadap peraturan, dan suka berbohong. Kalau anggota keluarga Anda sudah
terkena narkoba, jangan berhenti berdoa dan berharap kepada Tuhan, jangan jauhi dia, dengar
keluhannya dengan sabar namun tetap waspada. Ajak dia untuk berdoa agar dia diberikan
kekuatan, ketabahan, dan cara untuk melepaskan diri dari narkoba. Ajak dia berkonsultasi ke
dokter untuk memulihkan kesehatannya, apalagi kalau dia sedang sakaw. Setelah itu, ajak dia
untuk mengikuti pastoral konseling, kegiatan keagamaan, dan kebaktian di gereja secara rutin.
Jangan biarkan dia bergaul dengan teman-teman yang menjadi pemakai. Lakukan rehabilitasi
psikologis, baik di keluarga maupun dengan bantuan psikolog, untuk memulihkan konsep diri
dan mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai anak yang baik, berguna, dan diterima
keluarga. Lakukan rehabilitasi sosial, dengan didampingi keluarga, untuk belajar keterampilan,
latihan kerja, melakukan rekreasi, dan kebaktian di gereja, agar dia merasa diterima sebagai
keluarga dan anggota masyarakat. Keluarga harus terus mendampingi dan mengawasi perubahan
yang terjadi. Jaga pergaulannya agar tidak kambuh lagi.
Sekali mencoba narkoba, seseorang akan terbelenggu seumur hidup. Sekali ketagihan, efek
kejiwaan tidak hilang seumur hidup. Narkoba hanya menawarkan solusi sementara, tetapi
menciptakan masalah lain yang lebih besar. Narkoba merusak tubuh dan jiwa. Jadi, jalan terbaik
adalah tidak mencoba sama sekali.
Tidak ada seorang pun yang paling tahu dan dapat membantu seorang pecandu narkoba
untuk sembuh dan kembali ke dalam lingkungan kehidupan yang normal, kecuali keluarganya.
Kasih, perhatian, dan doa seluruh anggota keluarga, merupakan obat yang paling mujarab bagi
pecandu narkoba
Dilihat dari beberapa factor penyebabnya maka sudah dipastikan peran keluarg sangatlah
penting, sebaiknya keluarga harus saling dapat menjaga dan membari pengarahan terhadap
anggota keluarga lainnya, orang tua terutama harus berperan aktif dan tidak hanya sibuk mencari
nafkah tetapi juga memperikan perhatian penuh terhadap putra putrinya.
Berikutnya yang terakhir penelesaian masalah sosial penelahgunaan narkotika melalui
lingkungan.

Penanggulangan narkoba berbasis masyarakat
Kasus penyalahgunaan narkoba tidak dapat dipungkiri semakin mengkhawatirkan
masyarakat bahkan bangsa ini. Jaringan pengedarnya pun seakan terus meluas dan sulit untuk
diberantas. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk memberantas permasalahan tersebut.
Harus dipahami bahwa untuk mengatasi masalah ini diperlukan kerja sama dari berbagai pihak,
baik dari lembaga pemerintah, LSM atau masyarakat sekalipun. Seperti yang terjadi sekarang ini
banyak lembaga penanganan masalah penyalahgunaan narkoba berupa panti rehabilitasi baik
milik pemerintah ataupun swasta, ada juga banyak LSM yang gencar menyuarakan betapa
berbahayanya penggunaan narkoba, kemudian muncul juga perkumpulan-perkumpulan dalam
masyarakat yang menentang narkoba. Namun semua itu seakan terus berlomba dengan semakin
banyaknya pula kasus pengedaran dan penyalahgunaan narkoba. Biasanya untuk lembaga-
lembaga rehabilitasi formal, ia mempunya satu atau beberapa model dalam upaya
penanggulangan masalah penyalahgunaan narkoba, lalu bagaimana dengan peran masyarakat,
seperti apa mereka memandang permasalahan ini?

Metode dan Teknik
Untuk dapat keluar dari permasalahan narkoba ini diperlukan model penanggulagan yang
sangat mendasar dan berdasar pada prinsip dasar yang mengandalkan kekuatan-kekuatan serta
inisiatif warga masyarakat. Pendekatan ini dibangun atas asumsi bahwa pada dasarnya setiap
komunitas memiliki berbagai mekanisme pemecahan masalah (Probelem Solving) yang
seringkali lebih handal dibandingkan dengan mekanisme artificial yang didesain orang luar
secara instant.
Untuk meningkatan efektifitas dan efisiensi mekanisme pemecahan masalah (Probelem Solving)
yang telah dimiliki masyarakat tersebut, maka metode Pengorganisasian dan Pengembangan
Masyarakat menjadi metode kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa
permasalahan narkoba dan kekuatan-kekuatan yang telah mereka miliki, serta untuk
menanggulangi partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah. Metode tersebut juga perlu
dikombinasikan dengan Metode Pekerjaan Sosial dengan Kelompok yang mengedepankan
berbagai teknik terapi kelompok, dan manajemen akses setiap warga Negara terhadap berbagai
pelayanan yang tersedia.Pengguna metode-metode tersebut di atas perlu didasarkan pada hasil
penerapan teknik-teknik asemen partisipatif yang berbasis masyarakat. Teknik-Teknik seperti
Community Involvement (CI), Participatory Learning Action (PLA), Methods of Participatory
Assessment (MPA) dan lain-lain memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan
keberhasilan upaya yang dilakukan.
Pengorganisasian
Menajemen pencegahan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika yang berbasis
masyarakat/gereja hanya mungkin dilakukan kalau kegiatannya terorganisir dengan baik. Untuk
itu maka perlu dilakukan :
Mengidentifikasi, memetakan dan menjalin hubungan antar mpok/organisasi-organisasi
sosial yang ada di masyarakat yang telah menunjukkan kemampuannya dan atau potensinya
untuk melaksanakan upaya pelayanan kesejahteraan sosial.

Memperkuat suatu wadah yang dapat menjaring kepedulian warga masyarakat.
* Program Aksi
a.Program pencegahan bagi remaja
Beberapa program pelayanan sosial yang dapat dilakukan antara lain :
Model Kepemimpinan Teman Sebaya (Peer Leadership), pemberian informasi tentang masalah
narkoba, penggunaan dan akibat-akibatnya melalui kegiatan rekreatif, yang dikemas dalam
permainan-permainan inovatif dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok sasaran, program
pengembangan kegitan-kegiatan alternatif.
b.Program Kelompok Anonim

Program ini ditujukan untuk memberikan fasilitas bagi para pengguna narkoba yang
membutuhkan pertolongan untuk mengatasi masalah-masalahnya yang berkaitan dengan
penggunaan narkoba, baik untuk menurunkan resiko penggunaan substansi, untuk mengatasi
permasalahan psikososial yang mereka hadapi, atau untuk mengurangi ketergantungan dan
meningalkan perilaku penyalahgunaan obat tersebut. Teknik-teknik terapi kelompok dapat
diterapkan sesuai dengan kebutuhan klien dan dilakukan secara bertahap.
c. Program Aksi bagi Orang Tua
Tujuan program aksi bagi orang tua adalah memberikan pemahaman tentang narkoba, faktor-
faktor penyebab, pendorong dan peluang bagi terjadinya penyalahgunaan narkoba terutama
dikalangan anak-anak dan remaja. Menyadari akan peranan orangtua yang begitu penting
dalam menentukan masa depan anak, mereka diharapkan untuk berjuang membantu pemulihan
generasi ini. Dampak fisik, psikologis dan sosial ekonomi dari penyalahgunaan narkoba serta
tempat penanggulangannya. Di samping itu pendekatan terhadap pendidikan orang tua
diarahkan pada pemberian daya tilik kepada orang tua mengenai tingkah laku anak dan
mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk mengasuh anak agar terbebas dan terhindar
dari penyalagunaan narkoba.
d. Penyuluhan dan Pendidikan Afektif Bagi Anak dan Remaja.
Penyuluhan dan pendidikan afektif bagi anak dan remaja bisa dilakukan di sekolah-sekolah
mulai dari tingkat SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi, serta pada kelompok-kelompok
pertemanan di lingkungan ketetanggaan. Penyuluhan dan pendidikan afektif ini berupa
penyampaian informasi yang tepat terpercaya, objektif, jelas dan mudah dimengerti tentang
narkoba dan pengaruhnya bagi tubuh dan perilaku manusia, dan mengkaitkannya dengan
pendidikan kesehatan secara luas dan pendidikan tentang menghadapi masalah hidup. Melalui
pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan, anak dan remaja akan dirangsang untuk memikirkan
nilai-nilai kehidupannya sendiri dan membuat kesimpulan tentang manfaat tidaknya
penyalahgunaan narkoba dalam kehidupan. Aspek pendidikan afektif bertujuan
mengembangkan. Kepribadian, pendewasaan diri, peningkatan kemampuan, membuat
keputusan, mengetahui cara mengatasi tekanan mental secara efektif, peningkatan kepercayaan
diri, dan meningkatkan kemampuan komunikasi.
e. Pembentukan dan Pengembangan Kelompok anti Narkoba.
Yaitu membentuk kelompok-kelompok baru atau mengembangkan fungsi kelompok yang sudah
ada sebagai gerakan anti narkoba dengan upaya-upaya seperti mempengaruhi secara aktif
terhadap remaja lainnya baik secara individual mapun kelompok untuk melembagakan budaya
anti narkoba. Dengan begitu peluang untuk menciptakan generasi yang anti narkoba semakin
hari akan semakin nyata dan terwujud. 6[6]









C. ANALISIS DAN DISKUSI

ANALISIS
Setelah membuat, memahami dan membaca tentang bagaimana cara-cara penyelesaian
masalah-masalah sosial kami berpendapat bahwa yang masalah sosial bukan tidak mungkin akan
diselesaikan ternyata banyak cara untuk mengatasinya yankni dengan cara pendidikan, hukum,
ham, keluarga dan lingkungan. Semua cara tersebut tentunya tidak ada yang lebih baik,
semuanya harus dilaksanak secar continue dan selaras serasi seimbang.
Apabila hanya dilakukan degan satu cara dan tidak melakukan beberapa aspek yang lain
tentunya hasilnya tidak aktan maksimal. Dan kurang efisien, sebab antara aspek satu dan aspek
yang lain sangat mempengaruhi dan mendukung.
Jadi ionteinya tidak menutup kemungkinan bahwa semua masalah-masalah sosial akan
teratasi tentunya dengan secara bertahap. Semoga Indonesia akan menjadi Negara yang semakin
baik kedepannya.

















DISKUSI





























D. KESIMPULAN

Masalah-masalah sosial di Indonesia sangat beragam ini disebabkan karena pendududk
Indonesia yang beragam pula, seperti masalah kemiskinana, penganguran, urbanisani,
trsnsmigrasi, narkotika dan juga kkn serta masih banyak lagi lainnya.
Seperti biasanya semua akan berjalan seimbang, setiapa ada massalah pasti ada pula jalan
keluar untuk menyelesaikannya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yakni melaluli aspek
pendidikan, hukum, ham, keluarga dan lingkungan.
Semuanya bertjuan demi menuntaskan masalah-masalah sosial tersebut. Dan kami juga
berharap adanya berubahan demi lebih baiknya bangsa kita kedepan dengan berkurangnya
bahwa dengan tuntasnya semua permasalahan sosial ini.

DAFTAR RUJUKAN

- Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, Jakarta: 2003, hal. 84
Upaya Mengatasi Masalah Sosial



Kita sudah mengetahui bentuk-bentuk permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Tentunya
berbagai masalah tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Masalah sosial harus diatasi.
Negara tidak akan maju masih banyak terjadi masalah sosial. Bagaimana cara mengatasi masalah
sosial?
Mengatasi masalah sosial bukanlah perkara yang mudah. Pemerintah selalu berusaha mengatasi
berbagai masalah sosial dengan melibatkan peran serta tokoh masyarakat, pengusaha, pemuka
agama, tetua adat, lembaga-lembaga sosial dan lain-lainya. Kita pun sebenarnya dapat berperan
serta dalam mengatasi masalah sosial tersebut. Tentu saja sesuai dengan kemampuanmu masing-
masing.

Berikut ini beberapa contoh upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi
permasalahan sosial:


1. Pemberian kartu askes
Kartu Askes (Asuransi Kesehatan) diberikan kepada keluarga miskin. Kartu Askes kadang
disebut Askeskin (Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin). Dengan kartu Askes. keluarga miskin
dapat berobat di rumah sakit yang ditunjuk dengan biaya ringan atau gratis.


2. Pemberian beras untuk masyarakat miskin (Raskin)
Raskin merupakan program pemberian bantuan pangan dari pemerintah berupa beras dengan
harga yang sangat murah. Dengan raskin diharapkan masyarakat yang termasuk keluarga miskin
dapat memenuhi kebutuhan pangannya.


3. Pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
BOS diberikan kepada siswa-siswi sekolah mulai dari sekolah dasar sampai tingkat SLTA.
Tujuannya untuk meringankan biaya pendidikan.
Sekarang juga sudah dilakukan program BOS buku. Yakni program penyediaan buku pelajaran
bagi siswa sekolah. Dengan BOS buku diharapkan orang tua tidak lagi dibebani biaya membeli
buku pelajaran untuk anaknya yang sekolah.

4. Sekolah terbuka
Sekolah terbuka merupakan sekolah yang waktu belajarnya tidak terlalu padat dan terikat.
Sekolah terbuka diperuntukkan bagai siswa yang kurang mampu. Dengan sekolah terbuka
siswanya dapat sekolah meskipun sudah bekerja.


5. Program pendidikan luar sekolah
Pendidikan luar sekolah biasanya berupa kursus-kursus seperti menjahit, perbengkelan ataupun
komputer. Pemerintah mengadakan program pendidikan luar sekolah agar anak-anak yang tidak
sekolah atau putus sekolah dapat tetap memiliki ilmu dan ketrampilan.


6. Pemberian Bantuan Tunai Langsung (BTL)
BTL diberikan kepada masyarakat miskin yang tidak berpenghasilan. BTL merupakan dana
kompensasi/pengganti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).


7. Pemberian bantuan modal usaha
Bantuan modal usaha diberikan kepada masyarakat miskin yang akan mengembangkan atau
memulai suatu usaha. Biasanya untuk usaha kecil dan menengah. Bantuan modal usaha ini
adalah dalam rangka mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

Selain berbagai bantuan dari pemerintah, ada juga pihak-pihak lain yang juga turut membantu
mengatasi masalah sosial, antara lain:
1. Menjadi orang tua asuh bagi anak sekolah yang kurang mampu.
2. Para tokoh agama memberikan penyuluhan tentang keimanan dan moral dalam menghadapi
masalah sosial.
3. Para pengusaha dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lain memberikan bantuan,
beasiswa, modal usaha, penyuluhan, dan pendidikan.
4. Lembaga-lembaga dari PBB seperti UNESCO, UNICEF dan WHO memberikan bantuan
kepada pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah sosial.
5. Organisasi pemuda seperti karang taruna dan remaja masjid mendidik dan mengarahkan para
pemuda putus sekolah untuk berkarya. Sehingga ikut mengatasi masalah pengangguran.
6. Perguruan tinggi melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan berbagai
penyuluhan, bakti sosial ataupun melatih keterampilan.
ara Mengatasi Masalah Sosial
Pengangguran dapat menyebabkan kemiskinan, dan selanjutnya
menimbulkan kejahatan dan permusuhan atau pertikaian dalam masyarakat.
Hal ini merupakan masalah sosial yang harus kita atasi.
Pemerintah selalu berusaha mengatasi berbagai persoalan sosial dengan peran
serta tokoh masyarakat, pengusaha, pemuka agama, tetua adat, dan Iain-Iain.

Berbagai cara yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak dalam membantu
mengatasi masalah sosial antara lain:
a. Menjadi orang tua asuh bagi anak sekolah yang kurang mampu.
b. Tokoh agama memberikan penyuluhan tentang keimanan dan moral
dalam menghadapi persoalan sosial.
c. Para pengusaha dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan lain
ikut memberikan beasiswa.
d. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Sosial Masyarakat
(LSM) membantu dalam berbagai bidang dimulai dengan penyuluhan
sampai bantuan berupa materi.
e. Lembaga-lembaga dari PBB seperti UNESCO, UNICEF, dan WHO
memberikan bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk mengatasi
masalah sosial.
f. Para dermawan yang secara pribadi banyak memberi bantuan kepada
masyarakat sekitarnya berupa materi.
g. Organisasi pemuda seperti karang taruna yang mendidik dan
mengarahkan para remaja putus sekolah dan pemuda untuk berkarya
dan berusaha mengatasi pengangguran.
h. Perguruan tinggi melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan
memberikan berbagai penyuluhan.

Selain cara-cara tersebut di atas, pemerintah juga menggalakkan berbagai
program untuk mengatasi masalah sosial antara lain:
a. Pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
b. BOS diberikan kepada siswa-siswa sekolah mulai dari sekolah dasar
sampai tingkat SLTA. Tujuannya untuk meringankan biaya pendidikan.
c. Pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT)
d. BLT diberikan kepada masyarakat miskin yang tidak berpenghasilan
sebagai dana kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
e. Pemberian Kartu Askes
f. Bagi keluarga miskin pemerintah memberikan kartu Askes untuk berobat ke
puskesmas atau rumah sakit yang ditunjuk dengan biaya
ringan atau gratis.
g. Pemberian Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin)
h. Pemberian bantuan pangan dari pemerintah berupa beras dengan
harga yang sangat murah.
i. Pemberian Sembako
a. bantuan pangan lainnya berupa sembako, dengan harga murah.

C. Hambatan dalam Mengatasi Masalah Sosial
b. Berbagai bantuan dari pemerintah kadang-kadang tidak tepat
sasaran. Contohnya orang yang mampu justru mendapat dana
bantuan sedangkan yang miskin tidak mendapat dana bantuan.
c. Kurang disiplinnya petugas dalam menyalurkan bantuan pemerintah.
d. Terdapat pihak-pihak yang menyalahgunakan bantuan dari
pemerintah maupun luar negeri.
e. Kurang adanya kerja sama dari masyarakat yang mengalami masalah
sosial terhadap bantuan yang diberikan pemerintah.
f. Penyuluhan maupun pelatihan keterampilan yang diberikan kepada
masyarakat kadang-kadang tidak ditanggapi sebagaimana mestinya.
g. Ada pihak-pihak yang kurang peduli dalam masalah-masalah bantuan
sosial.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kependudukan
Posted by : Smansa Sungailiat Jul 29, 2013
Terdapat beberapa solusi yang bisa digunakan sebagai upaya pencegahan atas masalah
kependudukan, diantaranya:
1. Melaksanakan program KB (2 anak lebih baik)
2. Menunda pernikahan dini
3. Meratakan pertumbuhan penduduk
Dari solusi tersebut, diharapakan Pertumbuhan Penduduk di negara Indonesia bisa lebih stabil
dan hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

Indonesia dengan jumlah penduduknya kira-kira 185 juta, termasuk negara-negara yang paling
banyak jumlah penduduknya. Karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan jumlah penduduk ini
penting sekali di Indonesia. Kalau di masa depan jumlah ini mau jadi lebih banyak lagi, pasti ada
lebih banyak masalah sosial lagi. Pemerintah Indonesia sudah mengambil dua macam tindakan
untuk mencegah masalah sosial ini. Yang pertama adalah program KB atau Keluarga Berencana
dan yang kedua adalah program transmigrasi. Kedua program ini sudah lama dapat banyak
kritik, dari dalam negeri dan dari luar negeri.

Berikut kekurangan dan kelebihan dari masing-masing program :
1. Program Transmigrasi
Program transmigrasi adalah program nasional untuk memindahkan kelompok penduduk dari
satu tempat ke tempat yang lain. Misalnya, kalau ada tempat di mana ada terlalu banyak
penduduk, di sana pasti ada banyak masalah, seperti masalah kesehatan, masalah tanah, dan
masalah sosial yan lain. Untuk mencegah masalah itu, pemerintah coba memindahkan penduduk
dari tempat-tempat seperti itu ke tempat yang lain di mana jumlah penduduknya sedikit. Jadi
dulu, penduduk Jawa, Madura dan Bali sudah dipindahkan ke Irian Jaya, Sumatra, dan
Kalimantan.
Kami rasa program transmigrasi ini sudah banyak menolong penduduk Indonesia. Peserta
program transmigrasi diberi sebuah rumah, alat-alat untuk bertani dan sedikit uang. Ada sekolah
dan puskesmas. Setelah dipindahkan, kehidupan mereka lebih baik daripada dulu.
Program ini dapat banyak kritik. Kritik yang pertama adalah mengenai hutan yang menghilang
karena transmigran. Mereka menebang pohon-pohon untuk mempersiapkan ladang mereka.
Kemudian, dulu ada kelompok transmigran di Kalimantan yang tidak diberi fasilitas untuk
bertani. Jadi, mereka tidak bisa berdikari (yaitu: BERDIri di atas KAkinya sendiRI). Juga ada
masalah kehilangan tempat tinggal orang setempat seperti orang Kubu di Sumatra dan orang
Dayak di Kalimantan. Tanah mereka diambil orang transmigran yang baru. Menurut saya,
masalah-masalah ini dibesarkan dengan sengaja. Program transmigrasi memang berhasil. Sudah
3.6 juta orang dipindahkan dalam program ini, dan kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik
daripada dulu.

2. Program Keluarga Berencana
Dalam program Keluarga Berencana (Dua Anak Cukup!), suami-istri diberi informasi dan
alat/obat kontrasepsi. Dengan ini, pemerintah mencoba untuk mencegah kelahiran terlalu banyak
anak. Kritik atas program ini adalah kritik mengenai obat kontrasepsi yang bernama Norplant.
Perempuan yang pakai Norplant itu tidak bisa beranak lagi untuk selamanya. Dan ada juga orang
yang bilang bahwa perempuan dipaksa untuk pakai Norplant ini (Norplant ada sebuah obat yang
disuntikkan di bawah kulit). Kami berpendapat bahwa kedua program ini, yaitu transmigrasi dan
Keluarga Berencana, memang sudah berhasil. Sekarang di Indonesia, jumlah anak yang lahir
setiap tahun sudah menurun. Kalau Indonesia mau mencegah masalah yang berkaitan dengan
jumlah penduduk, saya rasa pemerintah harus meneruskan kedua program ini. Selain itu, terdapat
beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut
adalah:

1. Jumlah penduduk dan pertumbuhannya diatasi dengan program Keluarga Berencana (KB)

2. Persebaran dan Kepadatan penduduk diatasi dengan:
a. Program Transmigrasi
b. Pembangunan lebih intensif di Kawasan Indonesia Timur.

3. Tingkat kesehatan yang rendah diatasi dengan:
a. Pembangunan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD)
b. Pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin

4. Tingkat pendidikan yang rendah diatasi dengan:
a. Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia.
b. Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
c. Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik
pemerintah
d. Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
e. Mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga- lembaga pemerintah

5. Tingkat pendapatan yang rendah diatasi dengan:
a. Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi,
baik PMDN ataupun PMA.
b. Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak
menyerap tenaga kerja.
c. Penyederhanaan birokrasi dalam perizinan usaha. Pembangunan/menyediakan fasilitas umum
(jalan, telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi.
Share This
Upaya penanggulangan kejahatan
Diposkan oleh RAY PRATAMA SIADARI, S.H.,M.H. (owner Sekolah TInggi Ilmu Hukum
Pratama) di 06.07


Masalah kejahatan bukanlah hal yang baru, meskipun tempat dan waktunya
berlainan tetapi tetap saja modusnya dinilai sama .Semakin lama kejahatan di ibu kota
dan kota-kota besar lainnya semakin meningkat bahkan dibeberapa daerah dan sampai
kekota-kota kecil.
Upaya penanggulangan kejahatan telah dilakukan oleh semua pihak ,baik
pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Berbagai program serta kegiatan
yang telah dilakukan sambil terus mencari cara yang paling tepat dan efektif dalam
mengatasi masalah tersebut.
Seperti yang dikemukakan oleh E.H.Sutherland dan Cressey (Ramli Atmasasmita
1983:66) yang mengemukakan bahwa dalam crime prevention dalam pelaksanaannya
ada dua buah metode yang dipakai untuk mengurangi frekuensi dari kejahatan, yaitu :
1. Metode untuk mengurangi pengulangan dari kejahatan
Merupakan suatu cara yang ditujukan kepada pengurangan jumlah residivis
(pengulangan kejahatan) dengan suatu pembinaan yang dilakukan secara konseptual.
2. Metode untuk mencegah the first crime
Merupakan satu cara yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kejahatan yang
pertama kali (the first crime) yang akan dilakukan oleh seseorang dan metode ini juga
dikenal sebagai metode prevention (preventif).
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa upaya penanggulangan kejahatan
mencakup aktivitas preventif dan sekaligus berupaya untuk memperbaiki perilaku
seseorang yang telah dinyatakan bersalah (sebagai seorang narapidana) di lembaga
pemasyarakatan. Dengan kata lain upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan
secara preventif dan represif.
a. Upaya preventif
Penanggulangan kejahatan secara preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya
atau timbulnya kejahatan yang pertama kali . Mencegah kejahatan lebih baik daripada
mencoba untuk mendidik penjahat menjadi lebih baik kembali, sebagaimana semboyan
dalam kriminologi yaitu usaha-usaha memperbaiki penjahat perlu diperhatikan dan
diarahkan agar tidak terjadi lagi kejahatan ulangan.
Sangat beralasan bila upaya preventif diutamakan karena upaya preventif dapat
dilakukan oleh siapa saja tanpa suatu keahlian khusus dan ekonomis.
Barnest dan Teeters (Ramli Atmasasmita,1983:79) menunjukkan beberapa cara
untuk menanggulangi kejahatan yaitu:
1) Menyadari bahwa akan adanya kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan
dorongan-dorongan sosial atau tekanan-tekanan sosial dan tekanan ekonomi yang
dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah perbuatan jahat.
2) Memusatkan perhatian kepada individu-individu yang menunjukkan potensialitas
kriminal atau sosial, sekalipun potensialitas tersebut disebabkan gangguan-gangguan
biologis dan psikologis atau kurang mendapat kesempatan sosial ekonomis yang cukup
baik sehingga dapat merupakan suatu kesatuan yang harmonis .

Dari pendapat Barnest dan Teeters tersebut di atas menunjukkan bahwa kejahatan
dapat kita tanggulangi apabila keadaan ekonomi atau keadaan lingkungan sosial yang
mempengaruhi seseorang ke arah tingkah laku kriminal dapat dikembalikan pada
keadaan baik. Dengan kata lain perbaikan keadaan ekonomi mutlak dilakukan.
Sedangkan faktor-faktor biologis, psikologis, merupakan faktor yang sekunder saja.
Jadi dalam upaya preventif itu adalah bagaimana kita melakukan suatu usaha yang
positif, serta bagaimana kita menciptakan suatu kondisi seperti keadaan ekonomi,
lingkungan, juga kultur masyarakat yang menjadi suatu daya dinamika dalam
pembangunan dan bukan sebaliknya seperti menimbulkan ketegangan-ketegangan
sosial yang mendorong timbulnya perbuatan menyimpang juga disamping itu
bagaimana meningkatkan kesadaran dan patisipasi masyarakat bahwa keamanan dan
ketertiban merupakan tanggung jawab bersama .
b.Upaya represif
Upaya represif adalah suatu upaya penanggulangan kejahatan secara konsepsional
yang ditempuh setelah terjadinya kejahatan . Penanggulangan dengan upaya represif
dimaksudkan untuk menindak para pelaku kejahatan sesuai dengan perbuatannya
serta memperbaikinya kembali agar mereka sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya
merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan merugikan masyarakat , sehingga
tidak akan mengulanginya dan orang lain juga tidak akan melakukannya mengingat
sanksi yang akan ditanggungnya sangat berat .
Dalam membahas sistem represif, tentunya tidak terlepas dari sistem peradilan
pidana kita, dimana dalam sistem peradilan pidana paling sedikit terdapat 5 (lima) sub-
sistem yaitu sub-sistem kehakiman, kejaksaan, kepolisian, pemasyarakatan, dan
kepengacaraan, yang merupakan suatu keseluruhan yang terangkai dan berhubungan
secara fungsional.
Upaya represif dalam pelaksanaannya dilakukan pula dengan metode perlakuan
(treatment) dan penghukuman (punishment). Lebih jelasnya uraiannya sebagai berikut
ini :
1) Perlakuan ( treatment )
Dalam penggolongan perlakuan, penulis tidak membicarakan perlakuan yang pasti
terhadap pelanggar hukum, tetapi lebih menitikberatkan pada berbagai kemungkinan
dan bermacam-macam bentuk perlakuan terhadap pelanggar hukum sesuai dengan
akibat yang ditimbulkannya.

Perlakuan berdasarkan penerapan hukum, menurut Abdul Syani (1987:139) yang
membedakan dari segi jenjang berat dan ringannya suatu perlakuan,yaitu :
a) Perlakuan yang tidak menerapkan sanksi-sanksi pidana, artinya perlakuan yang paling
ringan diberikan kepada orang yang belum telanjur melakukan kejahatan. Dalam
perlakuan ini, suatu penyimpangan dianggap belum begitu berbahaya sebagai usaha
pencegahan.
b) Perlakuan dengan sanksi-sanksi pidana secara tidak langsung, artinya tidak
berdasarkan putusan yang menyatakan suatu hukum terhadap si pelaku kejahatan.
Adapun yang diharapkan dari penerapan perlakuan-perlakuan ini ialah tanggapan
baik dari pelanggar hukum terhadap perlakuan yang diterimanya. Perlakuan ini
dititikberatkan pada usaha pelaku kejahatan agar dapat kembali sadar akan
kekeliruannya dan kesalahannya, dan dapat kembali bergaul di dalam masyarakat
seperti sedia kala .
Jadi dapat disimpulkan bahwa perlakuan ini mengandung dua tujuan pokok, yaitu
sebagai upaya pencegahan dan penyadaran terhadap pelaku kejahatan agar tidak
melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi dimaksudkan agar si pelaku kejahatan ini di
kemudian hari tidak lagi melakukan pelanggaran hukum, baik dari pelanggaran-
pelanggaran yang mungkin lebih besar merugikan masyarakat dan pemerintah.
2) Penghukuman (punishment)
Jika ada pelanggar hukum yang tidak memungkinkan untuk diberikan perlakuan
(treatment), mungkin karena kronisnya atau terlalu beratnya kesalahan yang telah
dilakukan, maka perlu diberikan penghukuman yang sesuai dengan perundang-
undangan dalam hukum pidana.
Oleh karena Indonesia sudah menganut sistem pemasyarakatan, bukan lagi sistem
kepenjaraan yang penuh dengan penderitaan, maka dengan sistem pemasyarakatan
hukuman dijatuhkan kepada pelanggar hukum adalah hukuman yang semaksimal
mungkin (bukan pembalasan) dengan berorientasi pada pembinaan dan perbaikan
pelaku kejahatan.
Seiring dengan tujuan dari pidana penjara sekarang, Sahardjo mengemukakan
seperti yang dikutip oleh Abdulsyani (1987:141) sebagai berikut :
Menyatakan bahwa tujuan dari pemasyarakatan yang mengandung makna bahwa tidak
hanya masyarakat yang diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana,
tetapi juga orang-orang yang menurut Sahardjo telah tersesat diayomi oleh pohon
beringin dan diberikan bekal hidup sehingga menjadi kaula yang berfaedah di dalam
masyarakat Indonesia .

Jadi dengan sistem pemasyarakatan, disamping narapidana harus menjalani
hukumannya di lembaga pemasyarakatan, mereka pun dididik dan dibina serta dibekali
oleh suatu keterampilan agar kelak setelah keluar menjadi orang yang berguna di
dalam masyarakat dan bukan lagi menjadi seorang narapidana yang meresahkan
masyarakat karena segala perbuatan jahat mereka di masa lalu yang sudah banyak
merugikan masyarakat, sehingga kehidupan yang mereka jalani setelah mereka keluar
dari penjara menjadi lebih baik karena kesadaran mereka untuk melakukan perubahan
didalam dirinya maupun bersama dengan masyarakat di sekitar tempat dia bertempat
tinggal.




A. Upaya Penanggulangan Kejahatan
Kejahatan adalah masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat di seluruh negara
semenjak dahulu dan pada hakikatnya merupakan produk dari masyarakat sendiri.
Kejahatan dalam arti luas, menyangkut pelanggaran dari norma-norma yang dikenal
masyarakat, seperti norma-norma agama, norma moral hukum. Norma hukum pada
umumnya dirumuskan dalam undang-undang yang dipertanggungjawabkan aparat
pemerintah untuk menegakkannya, terutama kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.
Namun, karena kejahatan langsung mengganggu keamanan dan ketertiban
masyarakat, maka wajarlah bila semua pihak baik pemerintah maupun warga
masyarakat, karena setiap orang mendambakan kehidupan bermasyarakat yang
tenang dan damai.
Menyadari tingginya tingkat kejahatan, maka secara langsung atau tidak langsung
mendorong pula perkembangan dari pemberian reaksi terhadap kejahatan dan pelaku
kejahatan pada hakikatnya berkaitan dengan maksud dan tujuan dari usaha
penanggulangan kejahatan tersebut.


Menurut Hoefnagels (Arif, 1991:2) upaya penanggulangan kejahatan dapat
ditempuh dengan cara :
a) Criminal application : (penerapan hukum pidana)
Contohnya : penerapan Pasal 354 KUHP dengan hukuman maksimal yaitu 8 tahun baik
dalam tuntutan maupun putusannya.

b) Preventif without punishment : (pencegahan tanpa pidana)
Contohnya : dengan menerapkan hukuman maksimal pada pelaku kejahatan, maka
secara tidak langsung memberikan prevensi (pencegahan) kepada publik walaupun ia
tidak dikenai hukuman atau shock therapy kepada masyarakat.

c) Influencing views of society on crime and punishment (mas media mempengaruhi
pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mas media).
Contohnya : mensosialisasikan suatu undang-undang dengan memberikan gambaran
tentang bagaimana delik itu dan ancaman hukumannya.

Upaya pencegahan kejahatan dapat berarti menciptakan suatu kondisi tertentu agar
tidak terjadi kejahatan. Kaiser (Darmawan, 1994:4) memberikan batasan tentang
pencegahan kejahatan sebagai suatu usaha yang meliputi segala tindakan yang
mempunyai tujuan yang khusus untuk memperkecil ruang segala tindakan yang
mempunyai tujuan yang khusus untuk memperkecil ruang lingkup kekerasan dari suatu
pelanggaran baik melalui pengurangan ataupun melalui usaha-usaha pemberian
pengaruh kepada orang-orang yang potensial dapat menjadi pelanggar serta kepada
masyarakat umum.
Penanggulangan kejahatan dapat diartikan secara luas dan sempit. Dalam
pengertian yang luas, maka pemerintah beserta masyarakat sangat berperan. Bagi
pemerintah adalah keseluruhan kebijakan yang dilakukan melalui perundang-undangan
dan badan-badan resmi yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari
masyarakat (Sudarto, 1981:114).
Peran pemerintah yang begitu luas, maka kunci dan strategis dalam menanggulangi
kejahatan meliputi (Arief, 1991:4), ketimpangan sosial, diskriminasi nasional, standar
hidup yang rendah, pengangguran dan kebodohan di antara golongan besar penduduk.
Bahwa upaya penghapusan sebab dari kondisi menimbulkan kejahatan harus
merupakan strategi pencegahan kejahatan yang mendasar.
Secara sempit lembaga yang bertanggung jawab atas usaha pencegahan kejahatan
adalah polisi. Namun karena terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh polisi
telah mengakibatkan tidak efektifnya tugas mereka. Lebih jauh polisi juga tidak
memungkinkan mencapai tahap ideal pemerintah, sarana dan prasarana yang
berkaitan dengan usaha pencegahan kejahatan. Oleh karena itu, peran serta
masyarakat dalam kegiatan pencegahan kejahatan menjadi hal yang sangat
diharapkan.



A. Upaya Penanggulangan Kejahatan
Kejahatan merupakan gejala sosial yang senantiasa dihadapi oleh setiap
masyarakat di dunia ini. Kejahatan dalam keberadaannya dirasakan sangat
meresahkan, disamping itu juga mengganggu ketertiban dan ketentraman dalam
masyarakat berupaya semaksimal mungkin untuk menanggulangi kejahatan tersebut.
Upaya penanggulangan kejahatan telah dan terus dilakukan oleh pemerintah
maupun masyarakat. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan sambil terus
menerus mecari cara paling tepat dan efektif untuk mengatasi masalah tersebut.
Menurut Barda Nawawi Arief (2007:77) bahwa:
Upaya atau kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan
termasuk bidang kebijakan kriminal. Kebijakan kriminal ini pun tidak terlepas dari
kebijakan yang lebih luas, yaitu kebijakan sosial yang terdiri dari kebijakan/ upaya-
upaya untuk kesejahteraan sosial dan kebijakan/upaya-upaya untuk perlindungan
masyarakat.
Lanjut menurat Barda Nawawi Arief (2007:77) ,bahwa:
Kebijakan penanggulangan kejahatan dilakukan dengan menggunakan sarana penal
(hukum pidana), maka kebijakan hukum pidana khususnya pada tahap kebijakan
yudikatif harus memperhatikan dan mengarah pada tercapainya tujuan dari kebijakan
social itu berupa social welfare dan social defence.

Lain halnya menurut Baharuddin Lopa (2001:16) bahwa upaya dalam
menanggulangi kejahatan dapat diambil beberapa langkah-langkah terpadu, meliputi
langkah penindakan (represif) disamping langkah pencegahan (preventif).
Langkah-langkah preventif menurut Baharuddin Lopa,( 2001:16-17) itu meliputi :
a) Peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mengurangi pengangguran, yang dengan
sendirinya akan mengurangi kejahatan.
b) Memperbaiki sistem administrasi dan pengawasan untuk mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan.
c) Peningkatan penyuluhan hukum untuk memeratakan kesadaran hukum rakyat.
d) Menambah personil kepolisian dan personil penegak hukum lainnya untuk lebih
meningkatkan tindakan represif maupun preventif.
e) Meningkatan ketangguhan moral serta profesionalisme bagi para pelaksana penegak
hukum.
Solusi preventif adalah berupa cara-cara yang cenderung mencegah kejahatan.
Solusi supresif adalah cara-cara yang cenderung menghentikan kejahatan sudah
mulai, kejahatan sedang berlangsung tetapi belum sepenuhnya sehingga kejahatan
dapat dicegah. Solusi yang memuaskan terdiri dari pemulihan atau pemberian ganti
kerugian bagi mereka yang menderita akibat kejahatan. Sedangkan solusi pidana atau
hukuman juga berguna, sebab setelah kejahatan dihentikan pihak yang dirugikan sudah
mendapat ganti rugi, kejahatan serupa masih perlu dicegah entah dipihak pelaku yang
sama atau pelaku lainnya. Menghilangkan kecendrungan untuk mengulangi tindakan
adalah suatu reformasi. Solusi yang berlangsung kerena rasa takut disebut hukuman.
Entah mengakibatkan ketidakmampuan fisik atau tidak, itu tergantung pada bentuk
hukumannya.
Hal tersebut terkait dengan pandangan Jeremy Bentham(2006:307) bahwa yang
mengemukakan bahwa Tujuan hukuman adalah mencegah terjadinya kejahatan
serupa, dalam hal ini dapat memberi efek jera kepada pelaku dan individu lain pun
untuk berbuat kejahatan.
Masalah pengangguran dan pencegahannya


Oleh: Erman Suparno

Pengangguran bukanlah kata yang mengenakkan, baik bagi individu di masyarakat
maupun pemerintah. Pasalnya, Orang yang berprofesi ini berpotensi menimbulkan
kerawanan berbagai tindakan kriminal dan gejolak sosial, politik dan kemiskinan.
Selain itu, pengangguran juga merupakan pemborosan yang luar biasa bagi anggota
masyarakat dan pemerintah.
Setiap orang harus mengonsumsi beras, gula, minyak, pakaian, energi listrik, sepatu,
jasa dan sebagainya setiap hari, tapi mereka tidak mempunyai penghasilan.
Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 10 juta pengangguran terbuka (open unemployed).
Jumlah ini bukanlah persoalan kecil yang harus dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini
dan ke depan.
Berbagai upaya telah dilakukan agar semua penduduknya dapat bekerja. Bekerja
merupakan hal penting karena dengan bekerja, seseorang berarti memiliki produksi.
Seberapapun hasil yang didapat dari kegiatan itu, akan lebih baik daripada tidak
memiliki hasil produksi sama sekali. Karena itu, bagaimanapun kondisinya, masalah
pengangguran harus bisa diatasi bangsa Indonesia.
Pengangguran muncul antara lain karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih
kecil dari jumlah pencari kerja.
Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja yang ada. Selain itu,
kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja, ikut mendukung
meningkatnya jumlah pengangguran.
Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan
kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi bidang
usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif; peraturan yang
menghambat inventasi; hambatan dalam proses ekspor impor, dan sebagainya.
Pemerintah sendiri tidak menutup mata dengan kondisi yang terjadi selama ini.
Berbagai upaya telah dilakukan dan terbukti mampu mengurangi angka pengangguran.
Berkurang
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah pengangguran terbuka, yang
sebelumnya mencapai 11 juta orang, telah berhasil ditekan menjadi 10 juta orang.
Pengurangan jumlah pengangguran ini terjadi akibat meningkatnya jumlah penempatan
tenaga kerja di dalam negeri maupun di luar negeri.
Keberhasilan mengurangi jumlah pengangguran sebesar satu juta orang itu tentunya
merupakan hasil kerja keras semua pihak.
Namun, keberhasilan itu tidak boleh menyurutkan kerja keras pemerintah, masyarakat
dan pelaku dunia usaha untuk menekan jumlah pengangguran.
Upaya mengatasi pengangguran memang tak terlepas dari kondisi ekonomi sebuah
bangsa. Berdasarkan teori ekonomi, setiap satu persen kenaikan pertumbuhan ekonomi
sebuah negara, maka akan terserap 300.000 tenaga kerja.
Bila bergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi semata, masalah pengangguran
agak sulit diatasi.
Untuk itu diperlukan upaya lain secara konsepsional, komprehensif, integral baik
terhadap persoalan hulu maupun hilirnya.
Ada dua metode yang saat ini mulai diterapkan pemerintah, dalam hal ini Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan departemen terkait lainnya, untuk
mengatasi masalah pengangguran di negeri ini, yaitu metode pencegahan dan metode
penanggulangan.
Metode pencegahan terkait erat dengan kebijakan yang terjadi di hulu, sedangkan
metode penanggulangan berhubungan erat dengan kondisi di hilirnya.
Penerapan metode pencegahan harus berangkat dari sistem pendidikan yang diterapkan
di negeri ini. Kurikulum yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia selama ini
masih mengacu kepada output oriented.
Dengan begitu, lulusan dari lembaga pendidikan kita belum begitu siap dalam
menghadapi pasar kerja.
Reformasi pendidikan
Karena itu, diperlukan reformasi pada sistem pendidikan dari output oriented menjadi
job oriented sehingga angkatan kerja yang baru sudah siap masuk ke pasar kerja.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Departemen Pendidikan Nasional
telah menyepakati perlunya perubahan dalam sistem pendidikan di negeri ini.
Dan reformasi ini sudah bisa diterapkan pada tahun ini dengan mengubah fokus
pendirian lembaga pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat kejuruan
akan diperbanyak jumlahnya.
Idealnya, jumlah lembaga pendidikan kejuruan mencapai 70% dari lembaga pendidikan
yang ada, sedangkan sisanya 30% lagi diisi oleh lembaga pendidikan umum.
Komposisi ini telah banyak diterapkan oleh negara-negara di kawasan Asia dan Eropa,
dan telah terbukti mampu menekan laju pengangguran di negara-negara tersebut.
Dengan besarnya komposisi lembaga pendidikan kejuruan, akan tercipta link and match
antara dunia pendidikan dan lulusannya dengan kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha.
Sementara itu, penerapan metode penanggulangan tidak terlepas dari masalah yang
terjadi pada sisi hilir. Saat ini, di sisi hilir sudah terdapat 10 juta pengangguran.
Untuk mengatasi masalah yang terjadi di hilir itu, pemerintah telah menetapkan
sejumlah program, antara lain penciptaan investasi baru di dunia usaha dan
pemberdayaan masyarakat.
Sebagai realisasi dari apa yang telah ditetapkan pemerintah itu, mulai 2007,
Depnakertrans akan menerapkan program pemberdayaan masyarakat.
Dengan dana yang dialokasikan pemerintah sebesar Rp51 triliun itu, program
pemberdayaan masyarakat akan menfokuskan pada pembangunan infrastruktur
sehingga memudahkan proses kegiatan usaha.
Program ini juga berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas pelaku usaha yang
tergolong usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga kegiatan mereka bisa berjalan
lancar.
Pemberdayaan UKM amat penting mengingat sekitar 95 % pelaku usaha di negeri ini
adalah usaha skala itu dan usaha ini banyak menyerap tenaga kerja.
Pemerintah akan memberikan bantuan berupa kemudahan akses bagi kelompok usaha
ini, yang telah terbukti mampu bertahan dari badai krisis ekonomi beberapa tahun lalu.
Selain itu, program pemberdayaan masyarakat juga akan mendorong munculnya
kegiatan-kegiatan bersifat padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja.
Penerapan kegiatan ini akan terkait dengan pembangunan proyek-proyek yang
dilaksanakan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan badan usaha milik negara.
Keberhasilan dari semua program untuk mengatasi masalah pengangguran di negeri ini
tentunya berpulang pada bagaimana kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan
pelaku di dunia usaha.
URL Source:
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL
Erman Suparno
MASALAH KEPENDUDUKAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN
MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA
Nama : Mutia Handayani
NPM : 35412173
Kelas : 2ID04
Setiap Negara mempunyai masalah di bidang kependudukan. Masalah kependudukan yang
dihadapi suatu negara berbeda dengan negara yang dihadapi negara lain.
Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia memiliki masalah-masalah kependudukan
yang cukup serius dan harus segera diatasi.
Masalah-masalah kependudukan di Indonesia yaitu:
1. Jumlah penduduk besar.
2. Pertumbuhan penduduk cepat.
3. Persebaran penduduk tidak merata.
4. Kualitas penduduk rendah.
5. Komposisi penduduk sebagian besar berusia muda.
Agar Anda dapat memahami masalah kependudukan di Indonesia seperti yang disebutkan di
atas, perhatikan uraian berikut ini.
Jumlah penduduk besar
Penduduk dalam suatu negara menjadi faktor terpenting dalam pelaksanaan pembangunan karena
menjadi subyek dan obyek pembangunan.
Jumlah penduduk yang besar bermanfaat dalam:
- Penyediaan tenaga kerja dalam masalah sumber daya alam.
- Mempertahankan keutuhan negara dari ancaman yang berasal dari bangsa lain.
Selain manfaat yang diperoleh, ternyata negara Indonesia yang berpenduduk besar yaitu nomor 4
di dunia menghadapi masalah yang cukup rumit yaitu:
Pemerintah harus dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidupnya. Dengan
kemampuan pemerintah yang masih terbatas masalah ini sulit diatasi sehingga berakibat
seperti masih banyaknya penduduk kekurangan gizi makanan, timbulnya pemukiman
kumuh.
Penyediaan lapangan kerja, sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan serta fasilitas
sosial lainnya. Dengan kemampuan dana yang terbatas masalah ini cukup sulit diatasi,
oleh karena itu pemerintah menggalakkan peran serta sektor swasta untuk mengatasi
masalah ini. Peran serta swasta yang telah dilakukan antara lain pembangunan
pabrik/industri, sekolah swasta, rumah sakit swasta dan lain-lain.
Pertumbuhan penduduk cepat
Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif cepat, walaupun ada
kecenderungan menurun. Antara tahun 1961 1971 pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 %
pertahun, tahun 1971 1980 sebesar 2,32% pertahun, tahun 1980 1990 sebesar 1,98%
pertahun, dan periode 1990 2000 sebesar 1,6% pertahun.
Penurunan pertumbuhan penduduk ini tentunya cukup menggembirakan, hal ini didukung oleh
pelaksanaan program keluarga berencana di seluruh tanah air.
Keluarga berencana merupakan suatu usaha untuk membatasi jumlah anak dalam keluarga, demi
kesejahteraan keluarga.
Dalam program ini setiap keluarga dianjurkan mempunyai dua atau tiga anak saja atau
merupakan keluarga kecil.
Dengan terbentuknya keluarga kecil diharapkan semua kebutuhan hidup anggota keluarga dapat
terpenuhi sehingga terbentuklah keluarga sejahtera.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa Program Keluarga Berencana mempunyai dua tujuan pokok
yaitu:
a. Menurunkan angka kelahiran agar pertambahan penduduk tidak melebihi kemampuan
peningkatan produksi.
b. Meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai keluarga sejahtera.
Persebaran Penduduk Tidak Merata
Persebaran penduduk di Indonesia tidak merata baik persebaran antar pulau, propinsi, kabupaten
maupun antara perkotaan dan pedesaan.
Pulau Jawa dan Madura yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah daratan Indonesia, dihuni
lebih kurang 60% penduduk Indonesia.
Jika kondisi ini dibiarkan diperkirakan angka tersebut akan cenderung meningkat diwaktu yang
akan datang.
Akibat dari tidak meratanya penduduk yaitu luas lahan pertanian di Jawa semakin sempit. Lahan
bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan industri. Sebaliknya banyak lahan di luar Jawa
belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Sebagian besar
tanah di luar Jawa dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan pertanian. Keadaan demikian
tentunya sangat tidak menguntungkan dalam melaksanakan pembangunan wilayah dan bagi
peningkatan pertahanan keamanan negara.
Persebaran penduduk antara kota dan desa juga mengalami ketidakseimbangan.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu
ke waktu.
Urbanisasi yang terus terjadi menyebabkan terjadinya pemusatan penduduk di kota yang luas
wilayahnya terbatas.
Pemusatan penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota besar
lainnya dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan hidup seperti:
Munculnya permukiman liar.
Sungai-sungai tercemar karena dijadikan tempat pembuangan sampah baik oleh
masyarakat maupun dari pabrik-pabrik industri.
Terjadinya pencemaran udara dari asap kendaraan dan industri.
Timbulnya berbagai masalah sosial seperti perampokan, pelacuran dan lain-lain.
Oleh karena dampak yang dirasakan cukup besar maka perlu ada upaya untuk meratakan
penyebaran penduduk di tiap-tiap daerah.
Upaya-upaya tersebut adalah:
- Pemerataan pembangunan.
- Penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya dan daerah pedesaan.
- Pemberian penyuluhan terhadap masyarakat tentang pengelolaan lingkungan alamnya.
Selain di Jawa ketimpangan persebaran penduduk terjadi di Irian Jaya dan Kalimantan.
Luas wilayah Irian Jaya 21,99% dari luas Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hanya 0,92%
dari seluruh penduduk Indonesia. Pulau Kalimantan luasnya 28,11% dari luas Indonesia, tetapi
jumlah penduduknya hanya 5% dari jumlah penduduk Indonesia.
Untuk mengatasi persebaran penduduk yang tidak merata dilaksanakan program transmigarasi.
Tujuan pelaksanaan transmigrasi yaitu:
- Meratakan persebaran penduduk di Indonesia.
- Peningkatan taraf hidup transmigran.
- Pengolahan sumber daya alam.
- Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
- Menyediakan lapangan kerja bagi transmigran.
- Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
- Meningkatkan pertahanan dan kemananan wilayah Indonesia.
Persebaran yang tidak merata berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Daerah-daerah yang
padat penduduknya terjadi exploitasi sumber alam secara berlebihan sehingga terganggulah
keseimbangan alam. Sebagai contoh adalah hutan yang terus menyusut karena ditebang untuk
dijadikan lahan pertanian maupun pemukiman. Dampak buruk dari berkurangnya luas hutan
adalah:
- terjadi banjir karena peresapan air hujan oleh hutan berkurang
- terjadi kekeringan
- tanah sekitar hutan menjadi tandus karena erosi
Kualitas Penduduk Rendah
Kualias penduduk seperti yang telah dibahas pada kegiatan 1, tercermin dari tingkat pendapatan,
tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan.
Bagaimana dengan ketiga tingkat di atas bagi penduduk Indonesia. Dari pengamatan Anda, saya
yakin Anda telah mempunyai pendapat bahwa secara umum tingkat pendapatan, pendidikan dan
kesehatan penduduk Indonesia masih rendah.
a. Tingkat pendapatan rendah
Berkat hasil-hasil pembangunan pendapatan perkapita penduduk Indonesia mengalami
kenaikan. Tahun 1981 pendapatan perkapita sebesar 530 dollar AS, tahun 1990 sebesar 540
dollar AS, tahun 1996 sebesar 1.041 dollar AS dan tahun 1999 menjadi 1.110 dollar AS.
Walaupun mengalami kenaikan ternyata pendatapan perkapita penduduk Indonesia masih
tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Dengan pendapatan perkapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu
memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai manusia yang sejahtera.
Pendapatan per kapita rendah juga berakibat kemampuan membeli (daya beli) masyarakat
rendah, sehingga hasil-hasil industri harus disesuaikan jenis dan harganya. Bila industri
terlalu mahal tidak akan terbeli oleh masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan industri sulit
berkembang dan mutu hasil industri sulit ditingkatkan.
Penduduk yang mempunyai pendapatan perkapita rendah juga mengakibatkan kemampuan
menabung menjadi rendah.
Bila kemampuan menabung rendah, pembentukan modal menjadi lambat, sehingga jalannya
pembangunan menjadi tidak lancar.
Untuk itu perlu dicari pinjaman modal dari negara lain untuk membiayai pembangunan.
Masih rendahnya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, terutama disebabkan oleh:
Pendapatan/penghasilan negara masih rendah, walaupun Indonesia kaya sumber daya
alam tetapi belum mampu diolah semua untuk peningkatan kesejahteraan penduduk.
Jumlah penduduk yang besar dan pertambahan yang cukup tinggi setiap tahunnya.
Tingkat teknologi penduduk masih rendah sehingga belum mampu mengolah semua
sumber daya alam yang tersedia.
Oleh karena itu upaya menaikan pendapatan perkapita, pemerintah melakukan usaha:
1. Meningkatkan pengolahan dan pengelolaan sumber daya alam yang ada.
2. Meningkatkan kemampuan bidang teknologi agar mampu mengolah sendiri sumber
daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia.
3. Memperkecil pertambahan penduduk diantaranya dengan penggalakan program KB
dan peningkatan pendidikan.
4. Memperbanyak hasil produksi baik produksi pertanian, pertambangan, perindustrian,
perdagangan maupun fasilitas jasa (pelayanan)
5. Memperluas lapangan kerja agar jumlah pengangguran tiap tahun selalu berkurang.
b. Tingkat Pendidikan Rendah
Walaupun bangsa Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan tingkat pendidikan
namun karena banyaknya hambatan yang dialami maka hingga saat ini tingkat pendidikan
bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Beberapa faktor penyebab rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia adalah:
1. Pendapatan perkapita penduduk rendah, sehingga orang tua/penduduk tidak mampu
sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
2. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti
jumlah kelas, guru dan buku-buku pelajaran. Ini berakibat tidak semua anak usia
sekolah tertampung belajar di sekolah.
3. Masih rendahnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya pendidikan, sehingga
banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya.
Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi masalah pendidikan. Usaha-
usaha pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia yaitu:
Menambah jumlah sekolah dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.
Menambah jumlah guru (tenaga kependidikan) di semua jenjang pendidikan.
Pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang telah dimulai tahun
ajaran 1994/1995.
Pemberian bea siswa kepada pelajar dari keluarga tidak mampu tetapi berprestasi di
sekolahnya.
Membangun perpustakaan dan laboratorium di sekolah-sekolah.
Menambah sarana pendidikan seperti alat ketrampilan dan olah raga.
Meningkatkan pengetahuan para pendidik (guru/dosen) dengan penataran dan
pelatihan.
Penyempurnaan kurikulum sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Menggalakkan partisipasi pihak swasta untuk mendirikan lembaga-lembaga
pendidikan dan ketrampilan.
c. Tingkat Kesehatan Rendah
Faktor-faktor yang dapat menggambarkan masih rendahnya tingkat kesehatan di Indonesia
adalah:
1. Banyaknya lingkungan yang kurang sehat.
2. Penyakit menular sering berjangkit.
3. Gejala kekurangan gizi sering dialami penduduk.
4. Angka kematian bayi tahun 1980 sebesar 108 per 1000 bayi dan tahun 1990 sebesar
71 per 1000 kelahiran bayi.
Masalah gizi yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah:
- kekurangan vitamin A
- kekurangan kalori protein
- kekurangan zat besi
- gondok
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk Indonesia yaitu:
1. Melaksanakan program perbaikan gizi.
2. Perbaikan lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat penduduk, serta
melengkapi sarana dan prasarana kesehatan.
3. Penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan, dan perawat.
4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
5. Pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.
6. Pemberian penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
7. Penyediaan air bersih.
8. Pembentukan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), kegiatan posyandu meliputi:
- Penimbangan bayi secara berkala
- Imunisasi bayi/balita
- Pemberian makanan tambahan
- Penggunaan garam oralit
- Keluarga berencana
- Peningkatan pendapatan wanita

Komposisi penduduk sebagian besar berusia muda
Golongan usia muda adalah penduduk yang berusia 0-14. Kebutuhan penduduk usia muda yang
harus disediakan oleh pemerintah yaitu sarana pendidikan dan kesehatan. Kebutuhan sarana
pendidikan dan kesehatan yang disediakan pemerintah sering tidak seimbang dengan jumlah
penduduk. Oleh karena itu pemerintah terus menggalakkan partisipasi pihak swasta agar bersedia
membangun sekolah maupun rumah sakit.
c. Sampai di sini apakah Anda sudah memahami masalah kependudukan di Indonesia?
d. Selanjutnya perhatikan uraian berikut ini!
Dari uraian-uraian terdahulu dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang besar baru akan
menguntungkan apabila diikuti dengan kualitas atau mutu yang tinggi khususnya bidang
pendidikan dan kesehatan. Dalam suatu negara jumlah penduduk yang besar dengan kualitas
yang rendah, lebih merupakan beban atau tanggungan bagi pemerintah daripada sebagai sumber
daya tenaga dalam pembangunan.
e. Oleh karena itu setiap negara selalu mengupayakan peningkatan kualitas penduduknya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilan kerja yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup. Melalui berbagai cara
peningkatan kualitas sumber daya manusia diharapkan dapat tercipta manusia pembangunan
Indonesia yang tangguh, berbudi luhur, cakap, terampil, percaya diri, dan bersemangat
membangun.