Anda di halaman 1dari 33

Persepsi Seksualitas dalam Kajian Agama Islam:

Studi Kualitatif di Kecamatan Kejawan Lor, Surabaya

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos. and Friends

Bab I

Pendahuluan

Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos. and Friends Bab I Pendahuluan I.1. Latar belakang penelitian Kajian-kajian mengenai

I.1. Latar belakang penelitian Kajian-kajian mengenai hubungan seks yang baik mulai banyak diperbincangkan dimana-mana, karena seks bisa dibilang sebagai salah satu pilar terpenting dari rumah tangga. Seks sekarang bukan hanya saja sebagai ajang pelampiasan hasrat biologis, namun juga sebagai ajang pembultian dalam berbagai hal, seks juga dianggap sebagai aplikasi dari perasaan cinta tertinggi seseorang kepada orang lain, maka dari itu seks harus diatur sedemikian rupa sehingga mampu memberi kepuasan bagi pasangan yang melakukannya. Aturan-aturan mengenai hubungan seks yang selama ini dibuat khusus untuk mengatur suatu hubungan seks banyak terdapat di dunia medis atau kedokteran (ginekologi 1 dan seksiologi 2 ), namun jangan salah dulu, ada beberapa kitab dari masa lalu yang mengatur tentang hubungan seks yang baik, seperti misalnya Kama Sutra dan Kama Tantra dari India atau serat Centani dari Jawa. Kitab-kitab tersebut mewakili pemikiran-pemikiran kuno (local wisdom) mengenai bagaimana cara berhubungan seks yang baik. Lalu bagaimana dengan agama? Selama ini kajian seks mempunyai porsi yang relatif sedikit untuk dibicarakan di dalam forum agama. Kama Sutra dan Kama Tantra sendiri bisa dibilang merupakan perwakilan dari agama Hindu, walau memang pengaruh hindunya tidak begitu kental. Di kalangan Islam sendiri tedapat berbagai macam kitab yang membicarakan masalah hubungan seks yang baik baik secara general maupun detail, seperti misal kitab Uqudullujain dan Qurratul Uyyun, sangat menarik memahami isi kedua

1 Ilmu tentang kandungan

2 Ilmu yang mengkaji tentang hubungan seks

1

Uyyun, sangat menarik memahami isi kedua 1 Ilmu tentang kandungan 2 Ilmu yang mengkaji tentang hubungan

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

kitab tersebut, karena selama ini kita tahu bahwa Islam adalah agama yang paling disiplin menerapkan aturan mengenai hal-hal yang berhubungan tentang seks, pornoaksi, dan pornografi. Kitab Qurratul Uyyun berisi mengenai penjelasan tentang hubungan seks secara detail dan bukan sebagai konsumsi umum, melainkan lebih sering diajarkan di pondok-pondok pesantren. Sedangkan kitab uqdullujen biasanya dipelajari di kajian-kajian umum Islam, bahkan sekarang masyarakat bisa membaca dan memelajarinya sendiri karena sudah tersedia kitab terjemahannya dalam bahasa Indonesia di toko-toko buku. Dalam kasus ini, kampung Kejawan Lor yang kami teliti adalah sebuah kampung nelayan yang sebagian besar memeluk agama Islam dan memiliki tradisi Islam yang fundamental kaum Nahdiyin. Kajian-kajian Islam sering diadakan secara rutin di masjid-masjid atau Musholla, tak terkecuali kajian mengenai kitab uqudullujain yang memang mendapat porsi tersendiri untuk diajarkan ke pada para pemuda maupun pemudi disana.

yang sangat dekat

dengan ranah power atau kekuasaan. Hal ini yang mendorong kaum perempuan untuk bisa melepaskan diri dari jeratan kultural kaum laki-laki telah memasuki tahapan sangat menentukan. Tuntutan tradisional yang sebelumnya hanya sebatas menuntut kesetaraan dalam status sosial ekonomi, telah berubah menjadi tuntutan yang lebih modern. Dalam kehidupan rumah tangga, tuntutan modern ini dimanifestasikan ke dalam bentuk kesetaraan dalam hal pengambilan keputusan yang bersifat strategis dalam pola hubungan suami-istri. Hal inilah yang merupakan salah satu dasar atas ketertarikan kaum perempuan untuk aktif dalam pembelajaran budaya seksualitas yang ”benar”. Secara implisit, hal ini memiliki makna bahwa perempuan harus merubah tatanan kehidupan rumah tangga yang cenderung mendeskreditkan perempuan melalui partisipasi aktif dalam pembuatan kebijakan ”kepala keluarga”.

Seks, gender dan seksualitas

adalah isu-isu

2

melalui partisipasi aktif dalam pembuatan kebijakan ”kepala keluarga”. Seks, gender dan seksualitas adalah isu-isu 2

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Perlakuan terhadap kaum perempuan yang bersifat diskriminatif dan bermuara kepada ketidakadilan dikhawatirkan akan mematikan kreatifitas kaum hawa. Namun harus diakui bahwa justru dengan perlakuan yang diskriminatif tersebut kemudian menggugah semangat kaum perempuan untuk bangkit dari keterpurukan budaya patriarki. Beberapa produk hukum di Indonesia yang secara langsung mendukung adanya kesetaraan gender bisa dilihat dari UU No.7 Th 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan; UU No. 12 Th 2003 tentang Pemilu dan UU No. 23 Th 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) (Lihat Soedjendro 2005). Berangkat dari pemahaman tersebut, dalam kaitannya dengan problema seksualitas, kaum wanita seakan berkewajiban dalam menuntut ilmu dan menerapkannya dikelak nanti. Salah satu pembelajaran budaya seksualitas yang dilakukan oleh masyarakat dalam “lingkungan” agamis adalah dengan mengacu pada sang pembawa ajaran tersebut. Tak terkecuali dalam ajaran Islam, salah satu pedoman yang digunakan dalam pembelajarannya adalah dengan memahami kitab-kitab karangan para ulama terdahulu, yang merupakan pencerminan dari sang Nabi, Muhammad. Konsep mengenai budaya seksualitas diatas itulah yang dapat digunakan sebagai alat atau kacamata untuk mendatang dan mengkaji serta memahami seksualitas yang berdasar pada dogma agama. Bila seksualitas dilihat dengan menggunakan kacamata agama, maka agama diperlakukan sebagai kebudayaan; yaitu: sebagai sebuah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh para warga masyarakat tersebut. Agama dilihat dan diperlakukan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat; yaitu, pengetahuan dan keyakinan yang kudus dan sakral yang dapat dibedakan dari pengetahuan dan keyakinan sakral dan yang profan yang menjadi ciri dari kebudayaan.

3

dan sakral yang dapat dibedakan dari pengetahuan dan keyakinan sakral dan yang profan yang menjadi ciri

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Pada waktu seorang ahli antropologi melihat dan memperlakukan perilaku seks yang “benar” menurut agama sebagai kebudayaan, maka yang dilihatnya adalah perilaku seks sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat manusia, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, yaitu dalam kitab suci Al Qur'an dan Hadits Nabi. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam masyarakat, maka agama menjadi bercorak lokal; yaitu, lokal sesuai dengan kebudayaan dari masyarakat tersebut. Mengapa demikian? untuk dapat menjadi pengetahuan dan keyakinan dari masyarakat yang bersangkutan, maka agama harus melakukan berbagai proses perjuangan dalam meniadakan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan keyakinan hakiki dari agama tersebut dan untuk itu juga harus dapat mensesuaikan nilai-nilai hakikinya dengan nilai-nilai budaya serta unsur- unsur kebudayaan yang ada, sehingga agama tersebut dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai unsur dan nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian maka agama akan dapat menjadi nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut.

I.2. Perumusan masalah Dengan realitas yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, untuk mempermudah dan memperjelas arah penelitian ini, akan dibagi menjadi beberapa pertanyaan, yaitu :

Bagaimana pola, peran dan eksistensi pembelajaran seksualitas yang dipercaya sebagai cara “benar” berdasarkan ajaran agama Islam?

I.3. Tujuan penelitian Selain memang untuk memenuhi tuntutan akademis dari dosen pengajar mata kuliah seksualitas, kelompok kami juga mempunyai rasa keingintahuan untuk menelusuri bagaimana proses pembelajaran hubungan seks sebelum menikah melalui media agama, yang dalam hal ini adalah

4

menelusuri bagaimana proses pembelajaran hubungan seks sebelum menikah melalui media agama, yang dalam hal ini adalah

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

agama Islam yang faktanya adalah agama terbesar yang dipeluk oleh penduduk Kejawan Lor. Kelompok kami melihat bahwa pembelajaran mengenai hubungan seks yang baik lewat jalur agama sudah cukup lama ada di Indonesia, namun belum ada penelitian yang khusus meneliti mengenai hal tersebut, mengingat hal tersebut sangatlah unik karena masih ada beberapa golongan yang menganggap berbicara masalah hubungan seks dalam suatu forum agama adalah suatu hal yang tabu. Sehingga kami berpikir bahwa perlu adanya suatu penelitian yang membahas detail mengenai hal tersebut, dan disitulah kami memulainya. Kelompok kami berharap bahwa hasil dari penelitian kami ini bisa dijadikan kerangka acuan dalam memeperdalam kajian mengenai seks yang didasarkan oleh agama. Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yang diantaranya adalah:

secara ilmiah bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang terdapat pada perumusan masalah di atas secara sistematis. Dengan penelitian yang sistematis diharapkan masalah yang sudah terurai dapat digambarkan jawabannya. Tujuan umum dari penelitian ini adalah meramaikan kembali wacana dalam bentuk karya tulis bertajuk budaya seksualitas, khususnya pokok masalah perilaku seks dalam kajian antropologi sosial yang dibahas secara holistik 3 . Sedang tujuan khusus dari penelitian ini adalah memberikan sebuah thick description dalam fenomena tentang: pola, peran dan eksistensi pembelajaran seksualitas yang dipercaya sebagai cara “benar” berdasarkan ajaran agama. Dengan demikian penelitian deskriptif ini selain menjelaskan pola-pola keteraturan, juga berusaha memberikan gambaran pola pikir dan perilaku masyarakat dalam kehidupan keseharian, terkait dengan sistem

3 Holistik merupakan pendekatan dalam ilmu antropologi untuk melukiskan (suatu) kebudayaan sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Atau jaringan yang terkait untuk unsur-unsur kebudayaan itu secara fungsional (Sudikan, 2001:56).

5

yang terintegrasi. Atau jaringan yang terkait untuk unsur-unsur kebudayaan itu secara fungsional (Sudikan, 2001:56). 5

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

intepretasi mereka terhadap makna simbol–simbol agama yang tercermin dalam budaya seksualitas tersebut.

I.4. Kerangka teori Seperti telah diungkapkan pada latar belakang permasalahan, bahwa isu-isu seksualitas sangat erat kaitannya dengan ranah gender dan feminisme, maka untuk memahami konsep gender dan feminisme harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Sebagaimana dikatakan oleh Maria Mies (dalam Abdullah 1997) bahwa seks ataupun seksualitas manusia tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah biologis. Fisiologi manusia sepanjang sejarah telah dipengaruhi dan dibentuk oleh dimensi sosial budaya hubungan manusia. Kaum feminis radikal mengatakan bahwa pemisahan istilah seks dan gender melahirkan klasifikasi yang seolah- olah bisa memberi batasan tajam antara apa yang biologis dan apa yang sosio kultural (Abdullah 1997:32). Menurut Linda L. Lindsey (1990), dalam bukunya yang berjudul “Gender Roles”, mengatakan:

”Sex is considered in light of the biological aspects of a person, involving characteristics which differentiate females and males by chromosomal, anatomical, reproduktive, hormonal, and other physiological characteristics. Gender involves those social, cultural and psychological aspects linked to males and females through particular social contexts” (Lindsey, 1990:2). Pengertian jenis kelamin (sex) merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya bahwa manusia jenis laki-laki adalah manusia yang memiliki atau bersifat seperti daftar berikut ini: laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (kala menjing) dan

6

bersifat seperti daftar berikut ini: laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala ( kala menjing

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis perempuan dan manusia jenis laki-laki. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara yang melekat pada laki-laki dan perempuan. Secara permanent tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan tuhan atau kodrat (Fakih, 1999:8). Sedangkan konsep gender, yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dari sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut,keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, perkasa. Perubahan ciri dan sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dari dari satu tempat ke tempat yang lain. Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama bagi kaum perempuan dalam masalah pola pembelajaran hubungan seksual. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana baik kaum laki- laki maupun kaum perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni: pemuas seksual kaum Adam, marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentuksn stereotip atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (lihat Fakih, 1999:12-13). Untuk memperjelas peran analisis gender dalam pola pembelajaran

7

panjang dan lebih banyak (lihat Fakih, 1999:12-13). Untuk memperjelas peran analisis gender dalam pola pembelajaran 7

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

budaya seks (baik masyarakat agamis ataupun tidak), perlu kiranya dipahami paradigma di balik gerakan dan teori feminisme. Dalam arti luas, kesadaran feminis berkaitan dengan pemahaman bahwa perempuan telah mengalami diskriminasi atas dasar seksualitas, maka perubahan sosial yang mendasar kemudian diperlukan agar kepentingan-kepentingan perempuan dan “kebutuhan”-nya terpenuhi. Rosemarie Tong (1989 dalam Fakih 1999) dalam feminist thought, menjelaskan ragam feminisme ke berbagai aliran feminisme, seperti:

feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme Marxis, dan feminisme sosialis. Sedangkan Linda L. Lindsey membagi feminisme ke dalam tiga kelompok, yaitu feminisme liberal, feminisme sosialis, dan feminisme radikal. Dari pembagian tersebut dimaksudkan untuk mempermudah analisis, bahwa pola budaya pembelajaran seksualitas yang ”benar” bagi kaum hawa dalam kepercayaan suatu masyarakat akan menunjukkan kecenderungan pada salah satu aliran feminisme (lihat Fakih, 1999:10-12). Teori-teori tentang strukturasi:

Fenomena atau keberadaan antara guru ngaji dan santri (pemuda- pemudi kampung) dapat dikiaskan sebagai bentuk strukturasi yang berada di dalam lembaga. Sebagai awal pemaparan dari teori strukturasi, Anthony Giddens (2003) memulai pembahasan tentang pembagian-pembagian yang telah memisahkan fungsionalisme (termasuk teori sistem) dan strkturalisme di satu sisi dengan hermeneutika dengan berbagai bentuk ‘sosiologi interpretatif’. Fungsionalisme dan strukturalisme memiliki beberapa kemiripan yang jelas terlihat, meski ada pertentangan yang mencolok di antara kedua faham itu. Strukturalisme dan fungsionalisme benar-benar menekankan keunggukan keutuhan sosial atas bagian-bagian individualnya. Jika sosio-interpretatif didasarkan pada imperialisme subyek, fungsionalime dan strukturalisme mengusulkan digunakannya imperialisme obyek sosial. Salah satu tujuan utama dalam merumuskan teori strukturasi

8

mengusulkan digunakannya imperialisme obyek sosial. Salah satu tujuan utama dalam merumuskan teori strukturasi 8

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

adalah meletakkan suatu dasar pada masing-masing usaha pembangunan kekaisaran tersebut. Menurut teori strukturasi, domain dasar kajian ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman aktor individu, maupun keberadaan bentuk apa pun totalitas kemasyarakatan, namun merupakan praktek-praktek sosial yang ditata menurut ruang dan waktu. Aktifitas-aktifitas sosial manusia bersifat rekursif. Tujuannya adalah aktifitas-aktifitas sosial itu tidak dilaksanakan oleh aktor-aktor sosial melainkan secara terus menerus mereka ciptakan melalui alat-alat yang mereka gunakan mengekspresikan dirinya sendiri sebagai aktor-aktor. Pada dan melalui aktifitas-aktifitasnya (pengajian-pengajian), agen- agen (ulama-ulama) memproduksi kondisi yang memungkinkan dilakukannya aktifitas-aktifitas itu. Dalam teori strukturasi, titik awal hemeneutika sampai kini diterima karena diakui bahwa uraian atas aktifitas-aktifitas manusia menuntut adanya pengenalan terhadap bentuk-bentuk kehidupan yang dungkapkan dalam aktifitas-aktifitas tersebut. Menjadi manusia berarti menjadi agen bertujuan, yang keduanya memiliki alasan-alasan atas aktifitas- aktifitasnya dan mampu menguraikannya secara berulang alasan-alasan itu (Giddens, 2003:1-33).

“Allah mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh kepada kitabnya

(Alqur’an) dan Sunnah nabinya (As Sunnah), serta merujuk kepada

keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia (juga) memrintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah secara keyakinan dan amalan…” (tafsir Al Qurthubi).

“Dalam hubungan ini tinjauan pembahasan kitab uquddulujjain terkait

dengan ketaatan istri kepada suami di luar kemaksiatan, kewajiban istri selalu beada di rumah suami, menjaga diri dari perbuatan mesum, menutup aurat, dan mengenai masalah haid” (Nawawi, 2000).

Selain itu hubungan seks sehat menurut Islam adalah hubungan

seksual yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam ikatan

9

itu hubungan seks sehat menurut Islam adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

pernikahan (bukan perzinahan), dan dengan cara-cara yang halal (antar penis dan vagina) yang bisa mendatangkan kasih sayang dan kebahagiaan bagi keduanya.

Menurut konsep Islam, hubungan seks bukanlah ajang pelampiasan hawa nafsu, tetapi merupakan bagian mu’asyarah yang prinsipnya berlandaskan pada mawaddah dan rahmah. Karena itu mu’asyarah-nya harus bil ma’ruf yakni: kenikmatan yang dihasilkan harus dirasakan bersama-sama (bukan sepihak, yang mengecewakan bahkan menyakitkan pihak lain). Jadi suami harus menggauli istrinya dengan cara yang baik dan menyenangkan, sebagaimana hadits Rasulullah saw:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik terhadap keluarganya, dan saya adalah orang yang paling baik pada keluargaku, tidaklah menghormati pada wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah menghinakannya kecuali orang yang tercela.” “Dorongan seks. Satu yang jelas bahwa doronghan ini timbul pada tiap individu yang normal tanpa pengaruh ilmu pengratahuan dan memang dorongan ini mempunyai landasan biologi yang mendorong makluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya” (MacDougall, 1908) semua aktivitas manusia yangbersangkutan dengan religi brdasarkan atas suatu getaran jiwa yang biasanya disebut emosi keagamaan (religious emotion). Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi tersebut hanya berlangsung dalam beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong manusia untuk berbuat tindakan religius.

10

saja, untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong manusia untuk berbuat tindakan religius. 10

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

I.5. Metode penelitian Metode penelitian ini dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaian antara obyek yang diteliti serta studi ilmu yang bersangkutan. Untuk mendeskripsikan secara mendalam fenomena budaya pembelajaran seksualitas, maka penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan metode ini diharapkan temuan-temuan empiris dapat dideskripsikan secara lebih rinci, lebih jelas dan lebih akurat, terutama berbagai hal yang berkaitan dengan prosesi ritual ruqyah. Salah satu pendekatan dari metode kualitatif yang tepat digunakan pada penelitian ini adalah etnometodologi yang menghasilkan karya etnografi. Pendekatan ini pada awalnya diperkenalkan oleh Harorld Garfinkel (Pendit, 2003:281). Seperti yang disarankan oleh Bogdan dan Biklen (1982:37 dalam Dyson, 2001:117), bahwa etnometodologi tidaklah mengacu kepada suatu model atau teknik pengumpulan data ketika seseorang sedang melakukan suatu penelitian, tetapi lebih memberikan arah mengenai masalah apa yang akan diteliti. Moleong (1988) mendefinisikan sebagai berikut:

“Studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari–hari. Subyek etnometodologi adalah orang–orang dalam pelbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnometodologi berusaha memahami berbagai orang–orang mulai melihat, menerangkan dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup” (Moleong,

1988:15).

Dengan menggunakan pendekatan ini, lebih banyak dipelajari suatu fenomena dengan pendukung kebudayaan tersebut, sehingga peneliti dapat memahami dan mendeskripsikannya. Salah satu antropolog kenamaan Clifford Geertz yang mendorong para ilmuwan sosial (khususnya para antropolog) agar mementingkan sisi pandang yang diteliti. Itu sebabnya antropologi memerlukan pendekatan yang mampu menghasilkan thick description, yaitu gambaran yang sangat kental atau padat dan terinci. Dalam

11

pendekatan yang mampu menghasilkan thick description, yaitu gambaran yang sangat kental atau padat dan terinci. Dalam

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

hal ini maka dalam sebuah laporan penelitian etnografi dapat dikatakan sebuah “fiksi antropologis” (meminjam istilah Pendit, 2003) yang berupaya keras mengungkapkan sebuah obyek penelitian dari sisi pandang peneliti. Dalam hal ini dapat dikategorikan pula sebagai penelitian eksplorasi yang bersifat emic. Jadi bukan menurut konsep dan tafsir peneliti. Salah satu kritik terhadap etnometodologi (yang ditulis kembali oleh Pendit 2003:284-285) adalah pada keengganan peneliti menggunakan banyak analisis teori dengan alasan ingin mengungkapkan sisi pandang obyek penelitian sebagaimana adanya. Dengan kata lain etnometodologi lebih mengutamakan bukti-bukti empiris daripada teori. Perdebatan tentang hal ini sampai menimbulkan tuduhan bahwa karya etnografi adalah empirisme gaya baru saja dan memicu perdebatan baru tentang hubungan atau pertentangan antara pengetahuan berdasarkan teori dan pengalaman. Terlepas dari kritik-kritik di atas, etnometodologi telah berkembang dan diterima sebagai salah satu upaya untuk mengurangi “pengaruh ilmu eksak” terhadap ilmu sosial. Sebagai sebuah pendekatan dalam metode penelitian ilmiah, etnometodologi dianggap sudah dapat membantu para ilmuwan sosial-budaya dalam memahami fenomena di masyarakat, -- khususnya dalam hal ini fenomena pola budaya pembelajaran seksualitas-- bukan sebagai benda-benda mati yang tidak berjiwa.

I.6. Lokasi penelitian Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive atau sengaja. Karena secara langsung penelitian ini berlokasi di suatu tempat yaitu di RT 3 RW 2, Kampung Kejawan Lor, Kelurahan Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya.

12

berlokasi di suatu tempat yaitu di RT 3 RW 2, Kampung Kejawan Lor, Kelurahan Kenjeran, Kecamatan

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

I.7. Teknik penentuan informan Untuk memperolah kedalaman materi yang disajikan serta validitas data yang diperoleh, maka pemilihan informan menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat dari merekalah awal mula data diperoleh dan dikembangkan dalam proses selanjutnya.

Informan adalah orang-orang yang pengetahuannya luas dan mendalam mengenai masalah ruqyah, sehingga ikut memberikan informasi yang

bermanfaat (Bungin, 2001:208). Informan dipilih berdasarkan beberapa kriteria tertentu, dan pemilihan ini juga dilakukan secara purposive (sengaja) berdasarkan informasi awal yang diperoleh peneliti. Sedangkan kriteria pemilihan informan sebagaimana dikemukakan oleh Spreadley (1995:61-70) adalah sebagai berikut:

1. Enkulturasi penuh

Enkulturasi merupakan proses yang ada dan pasti dalam setiap studi tentang suatu budaya tertentu. Informan yang baik adalah bagaimana ia

mengetahui dengan jelas baik secara perilaku maupun kognisi budaya mereka tanpa harus memikirkannya. Kriteria ini merujuk pada para informan yang (pernah) secara intens mengikuti pola kajian sebagai pembelajaran budaya seksualitas. Sehingga informan tersebut bersedia memberikan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan peran dan eksistensi budaya pembelajaran seksualitas melalui media agama Islam.

2. Keterlibatan langsung

Keterlibatan langsung serta aktif seseorang informan dalam setiap perkembangan budaya juga merupakan hal yang cukup penting. Untuk hal ini peneliti merujuk pada santri yang mengikuti kajian tersebut.

3. Suasana budaya yang tidak dikenal

13

Untuk hal ini peneliti merujuk pada santri yang mengikuti kajian tersebut. 3. Suasana budaya yang tidak

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Dalam kondisi ini jika seorang peneliti mempelajari suatu budaya tertentu, dimana budaya tersebut tidak dikenalnya, maka seorang peneliti diharuskan menciptakan sebuah hubungan yang sinergis dan produktif dengan informan. Sementra itu seorang peneliti juga diharuskan mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap kemampuan membaca fenomena sosial yang sedang ia amati.

4. Cukup waktu

Dalam pemilihan seorang informan, maka hal – hal yang harus mendapat perhatian khusus adalah informan – informan yang mempunyai cukup waktu luang dan bersedia meluangkan waktunya untuk penelitian ini. Kemudian dalam melakukan wawancara dengan informan, idealnya waktu-waktu yang

dipilih adalah siang dan sore hari atau waktu-waktu lain yang telah disepakati antara peneliti dengan informan.

5. Non analitik

Informan yang bagus adalah ketika ia dapat memberikan sebuah respon yang cukup positif terhadap setiap pertanyaan–pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, tanpa ia harus memberikan sebuah analisa yang rumit terhadap pertanyaan tersebut. Sehingga informasi yang didapat bersifat polos apa adanya. Dan akhirnya informan – informan yang dipilih adalah informan yang memenuhi kriteria – kriteria di atas. I.8. Strategi pengumpulan data

Agar memperoleh informasi yang akurat mengenai terapi pola pembelajaran hubungan seks, penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan wawancara yang disertai dengan catatan lapangan. Dimana dengan teknik tersebut dapat menghasilkan data ilmiah yang autentik dan validitasnya dapat dipertanggung jawabkan.

I.8.1. Data Primer

14

tersebut dapat menghasilkan data ilmiah yang autentik dan validitasnya dapat dipertanggung jawabkan. I.8.1. Data Primer 14

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

I.8.1.1.Pengamatan langsung (observasi) Dalam penelitian ini digunakan pengamatan langsung (observasi) dan terlibat terhadap fenomena yang terjadi pada wilayah observasi, baik berupa budaya fisik, situasi, kondisi maupun perilaku. Sehingga dapat diatikan bahwa pengamatan langsung dan terlibat adalah suatu pengamatan yang dibarengi interaksi antara peneliti dengan informan.

Sudikan (2001:59) menyarankan dalam pengamatan langsung diperlukan pendekatan antropologi visual, yaitu berupa penggunaan alat bantu seperti alat pemotret (kamera) untuk mengambil foto atau gambar hidup (sebagai dokumentasi) pada obyek-obyek yang relevan dengan tema yang hendak diteliti, serta berhubungan dengan latar belakang etnografisnya.

I.8.1.2. Wawancara mendalam Dalam penelitian kualitatif, untuk mendapatkan sebuah gambaran yang jelas mengenai pola budaya dalam suatu komunitas tertentu, Sevilla (1992:71) menuliskan bahwa salah satu ciri penting dalam penelitian adalah komunikasi langsung antara peneliti dengan informan yang telah ditentukan. Bentuk komunikasi langsung tersebut berupa wawancara terbuka (open interview) dan mendalam (in depth interview). Maksud dari wawancara ini adalah untuk mengumpulkan seluruh keterangan dari pengamatan pembelajaran, sampai dengan peran dan eksistensi pola pembelajaran seksualitas. Pelaksanaan wawancara tidak hanya sekali atau dua kali, melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Sudikan (2001:64) menambahkan, untuk memfokuskan wawancara, diperlukan catatan daftar

15

dengan intensitas yang tinggi. Sudikan (2001:64) menambahkan, untuk memfokuskan wawancara, diperlukan catatan daftar 15

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

pokok-pokok pertanyaan yang disebut pedoaman wawancara (interview guide). berikut adalah biodata dari informan kami;

1. Nama : Ani Pekerjaan : Ibu rumah tangga dan Ketua RT Umur : 42 tahun Jenis kelamin : Wanita

2. Nama : Maisaroh Pekerjaan : Ibu rumah tangga Umur : 40 tahun

Jenis Kelamin : Wanita

3. Nama : Thariq Hamdan Fawaid Pekerjaan : pelajar Umur : 17 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Nama : Ghanim Pekerjaan : guru les privat Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : Wanita

5. Nama : Siti Arifah Pekerjaan : Guru fisika MTS Umur : 27 tahun Jenis Kelamin : Wanita

Dengan pedoman wawancara yang digunakan sebagai penuntun, kondisi ini memungkinkan proses wawancara berlangsung dangan santai dan tekesan akrab. Sehingga ketika proses wawancara telah menciptakan kondisi yang intens, maka informasi yang dihasilkan akan lebih detail.

16

ketika proses wawancara telah menciptakan kondisi yang intens, maka informasi yang dihasilkan akan lebih detail. 16

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

I.8.2. Data-data sekunder Pemanfaatan data–data sekunder adalah untuk mendapatkan informasi yang bersifat tetap, biasanya yang berhubungan dengan keadaan fisik lokasi penelitian. Dan juga akan pemanfaatan buku – buku referensi yang terdapat di tempat tertentu (ruang rujukan, perpustakaan) atau atas saran informan dimana dapat memperoleh buku tersebut; makalah–makalah yang menunjang dan relevan, serta majalah dan tabloid yang memuat tema besar penelitian kali ini. Teknik pengumpulan data ini dapat juga dilakukan dengan cara mengutip, mencatat arsip–arsip, dokumen resmi, hasil penelitian terdahulu, maupun data yang belaku sekarang dan yang berkaitan dan diperlukan dalam penelitian ini.

I.9. Analisis data Penelitian tentang pembelajaran seksualitas ini menggunakan strategi analisis kualitatif. Strategi ini dimaksudkan bahwa analisis bertolak dari data dan bermuara pada simpulan-simpulan umum. Di dalam penelitian ini, kesimpulan umum itu bisa berupa kategorisasi maupun proposisi. Untuk membangun proposisi ayau teori dapat dilakukan dengan analisis induktif. “Berdasarkan strategi analisis data yang digunakan, dalam rangka membentuk kategorisasi, maupun proposisi-proposisi, maka di dalam penelitian (kualitatif), analisis data dilakukan secara induktif” (Bungin,

2001:209).

Maka dalam penelitian ini, akan digunakan analisis induktif melalui beberapa tahap. Setidaknya Taylor dan Bogdan (1984:127 dalam Bungin, 2001:209) adalah sebagai berikut: (a) membuat definisi umum atau kategorisasi yang bersifat sementara tentang ruqyah, gangguan jin dan sihir, (b) merumuskan suatu hipotesis untuk menguji kategorisasi tersebut secara triangulasi, hal mana didasarkan pada hasil wawancara mendalam,

17

hipotesis untuk menguji kategorisasi tersebut secara triangulasi, hal mana didasarkan pada hasil wawancara mendalam, 17

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

pengamatan terlibat dan dokumentasi dari berbagai sumber (informan, waktu dan tempat) yang berbeda, (c) mempelajari satu kasus untuk melihat kecocokan antara kategorisasi dan hipotesis, (d) bila ditemui kasus negatif, diformulasikan kembali hipotesis atau didefinisikan kategorisasi, (e) dilanjutkan sampai hipotesis benar-benar dapat dijelaskan dengan cara menguji kategorisasi yang bervariasi. Dari rumusan tersebut di atas, dapatlah kita menarik garis, bahwa analisis data pada penelitian kualitatif berfungsi untuk mengorganisasikan data. Data yang tekumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, foto dokumentasi, biografi, artikel dan sebagainya. Strategi analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkategorikannya. Dalam analisis, data tersebut dikaitkan dengan acuan teoritik yang relevan dan sesuai dengan masalah yang dibahas dan sesuai dengan perkembangan di lapangan. Yaitu dengan menggambarkan, menjelaskan dan menguraikan secara detail atau mendalam dan sistematis tentang keadaan yang sebenarnya, yang kemudian akan ditarik suatu kesimpulan sehingga diperoleh suatu penyelesaian masalah penelitian yang memuaskan. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan analisis data, maka peneliti menggunakan tahap-tahap analisis induktif tersebut di atas dengan cara silang (Bungin, 2001:210). Maksudnya data yang diperoleh dari responden, disilang dengan teori-teori seks, teori-teori gender, feminisme dan seksualitas, maupun teori-teori tentang strukturalitas. Akhirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lokasi penelitian. Dari data primer yang diperoleh kemudian dideskripsikan sebagai penjelasan secara terperinci tentang budaya pola pembelajaran seksualitas.

18

diperoleh kemudian dideskripsikan sebagai penjelasan secara terperinci tentang budaya pola pembelajaran seksualitas. 18

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Sedangkan data sekunder yang diperoleh sebagai pendukung penjelasan dari data primer.

19

Laporan PKL Mata Kuliah Sedangkan data sekunder yang diperoleh sebagai pendukung penjelasan dari data primer. 19

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

BAB II

Sejarah desa

II.1. Sejarah lokasi Pada awalnya asal kata Kejawan Lor bukan berasal dari daerah dimana saat ini berada kampung Kejawan berada. Tetapi terdapat di daerah tetangga, yang berdekatan dengan daerah sekarang. Jadi daerah ini pada awalnya merupakan tempat mendarat atau merapatnya perahu-perahu tradisional nelayan. Sebelumnya daerah ini, merupakan hutan bakau yang tidak terdapat penghuni. Namun seiring waktu hanya terdapat beberapa gubug-gubug nelayan. Gubug-gubug tersebut dihuni baik dari etnis Jawa manupun Madura dari seberang. Karena lambat laun gubug –gubug tersebut menjadi banyak, dan tak jarang yang membangun rumah sekaligus, maka daerah ini sengaja dibuat sebuah perkampungan. Perkampungan nelayan yang tak hanya dihuni oleh penduduk lokal saja. Maka nama yang diinginkan oleh penduduk setempat adalah nama yang netral, tidak Jawa dan tidak Madura, hingga akhirnya disepakati nama “Kejawan”. Sedang kata “Lor” yang mengikuti kata Kejawan, dalam bahasa Jawa berarti arah utara, karena lokasinya yang terletak di ujung utara (tepi laut).

II.2. Lokasi Secara Administratif Secara administratif, kampung Kejawan Lor berada di wilayah kelurahan Kenjeran, kecamatan Bulak, kota Surabaya. Dimana Surabaya merupakan ibukota propinsi Jawa Timur yang memiliki letak geografis 07 o 12’ LS – 07 o 21’ LS, dengan luas wilayah 280,44 km 2 dan berpenduduk lebih dari tiga juta jiwa. Hal inilah yang menjadikan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia (Surabaya & Perkembangan, 2004).

20

jiwa. Hal inilah yang menjadikan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia (Surabaya & Perkembangan, 2004).

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Kelurahan Kenjeran terletak kurang lebih 12 km dari pusat kota Surabaya. Kondisi Demografinya adalah berada di ketinggian 0,50 m di atas permukaan air laut, dengan kondisi topografi yaitu merupakan daerah pantai dengan suhu udara rata – rata 36 o C. Sedang batas-batas wilayah kelurahan yaitu, sebelah utara, Selat Madura dan kelurahan Bulak; selatan, kelurahan Komplek Kenjeran; barat, kelurahan Bulak dan kelurahan Gading; dan bagian timur, Selat Madura (Surabaya & Perkembangan, 2004).

II.3. Potensi sumber daya masyarakat Potensi sumber daya yang dimiliki di daerah Kejawan Lor, kelurahan Kenjeran, kecamatan Bulak ialah sebagian besar pada berbagai macam hasil laut, diantaranya berbagai jenis ikan, kerang dan udang Jumlah keluarga menurut ketua RT 3/02 (Kampung Kejawan Lor) sampai dengan tahun 2006, lebih kurang terdiri dari 70 kepala keluarga yang keseluruhannya beragama Islam.

Karena fasilitas pendidikan formal yang beragam, penduduk kampung Kejawan Lor rata-rata telah mengenyam pendidikan umum, mulai SD, SMP, SLTA hingga sarjana. Sedangkan pada pendidikan khusus berbasis agama, beberapa diantara penduduk setempat juga mengenyam pendidikan informal di pondok pesantren. Mata pencaharian mayoritas penduduk kampung Kejawan Lor, kecamatan Bulak ini adalah sebagai nelayan, meskipun ada juga yang bermata pencaharian di bidang jasa, petani tambak, guru atau pegawai lainnya. Maka tak salah jika kampung Kejawan Lor disebut “kampung nelayan”, karena pada umumnya atau secara mayoritas pekerjaan utama mereka adalah sebagai nelayan, yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka. Dalam mencari hasil laut mereka tidak terlalu bergantung pada waktu dan musim, karena mayoritas nelayan di tempat tersebut

21

mencari hasil laut mereka tidak terlalu bergantung pada waktu dan musim, karena mayoritas nelayan di tempat

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

merupakan nelayan pantai, yang mana daerah tangkapan hanya sekitar pantai, dan kalaupun tangkapannya lebih dari 50 km, itupun tidak jauh dari garis pantai. Perahu yang digunakan nelayan untuk melaut dibedakan juga pada jenis mesin yang digunakannya, yaitu: perahu dengan mesin bensin; perahu dengan mesin diesel; dan perahu bermesin bensin dan diesel.

II.4. Kognisi masyarakat Anak-anak muda yang sudah memasuki tahap pubertas hingga yang sudah dewasa namun belum menikah antara usia 16-25 tahun di kampung Kejawan Lor diberi bahasan khusus yang sudah diatur dalam setiap pengajian islam harian, mengenai hubungan seks yang baik saat mereka menikah kelak. Pembelajaran itu berdasarkan salah satu kitab yang terkenal dalam dunia Islam yaitu kitab Uqudullujen. Kitab tersebut membahas masalah bagaimana membangun hubungan rumah tangga yang islami,termasuk di dalamnya terdapat ajaran-ajaran mengenai hubungan seks yang baik. Bahasan mengenai kitab uqudullujen tersebut diadakan rata- rata dua kali dalam seminggu di suatu masjid yang diajarkan oleh kyai Sholeh yang memang dikenal sebagai pemuka agama Islam di kampung Kejawan lor. Masalah hubungan seks yang biasanya dibahas adalah hari-hari yang baik untuk berhubungan seks, hari-hari yang dilarang untuk berhubungan seks, cara mengajak yang baik dsb. Pengajian tersebut diikuti oleh murid-murid baik wanita maupun laki- laki, mereka berkumpul dalam satu ruang dan dibatasi oleh kain pembatas

seperti yang umum kita lihat di masjid-masjid. Adapun hari-hari yang dilarang untuk melakukan hubungan seks adalah

1)

hari raya Idul Fitri,

2)

hari raya Idul Adha,

3)

saat ada tetangga meninggal namun belum dikuburkan.

dan hari-hari yang dianjurkan untuk berhubungan seks adalah hari

22

saat ada tetangga meninggal namun belum dikuburkan. dan hari-hari yang dianjurkan untuk berhubungan seks adalah hari

Seksualitas

1)

senin

2)

rabu

3)

dan jum’at.

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Dalam “mengajak”pun pria maupun wanita haruslah saling pengertian satu sama lainnya, tidak bolah ada dominasi dari satu pihak saja, namun seperti dalam kajian Islam lainnya Istri ditempatkan di pihak yang harus menurut apa kemauan suami, termasuk saat meminta jatah berhubungan seks. Bahkan menurut ajaran agama Islam, Istri yang menolak diajak untuk berhubungan seks (selain pada saat menstruasi) mereka akan mendapat laknat Allah sampai si suami memaafkannya. Hadistnya adalah:

“wanita mana saja yang diajak suaminya ke tempat tidurnya lalu ia menunda-nunda hingga suaminya tidur, maka ia dilaknat Allah “ ( H.R. Karena tingkat ke-religiusitas-an mereka tergolong tinggi, maka aturan-aturan tersebut sangat efektif untuk diterapkan kepada mereka, sehingga di kampung ini media pembelajaran seks melalui agama masih eksis dan sangat digemari.

23

kepada mereka, sehingga di kampung ini media pembelajaran seks melalui agama masih eksis dan sangat digemari.

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Bab III

Analisa Data

Hal yang sebenarnya perlu diperhatikan disini adalah bagaimana agama bisa menjadi suatu media pembelajaran seks yang sangat efektif. Emosi keagamaan yang timbul di dalam jiwa masyarakat Kejawan lor adalah menjadi faktor pendukung yang sangat kuat, karena memang emosi keagamaan sendiri adalah pondasi awal berdirinya suatu agama menurut Emile Durkheim. Emosi keagamaan ini menjadi beckground penyemangat masyarakat Kejawan untuk menaati setiap tatanan yang ditawarkan oleh agama pada setiap persoalan hidup tidak terkecuali pada permasalahan hubungan seks, dalam kasus ini adalah Islam sebagai agama mayoritas di kampung Kejawan. Hubungan seks yang diatur oleh agama disini tidak terlalu detail seperti apa yang dituliskan dalam Kama Sutra dengan gaya-gaya seksnya, namun lebih pada aturan-aturan berhubungan seks diluar gaya- gaya dalam berhubungan seks, aturan-aturan pra hubungan seks, aturan hubungan seks yang benar dan aturan pasca berhubungan seks. Aturan-aturan dalam berhubungan seks ini menyangkut hari-hari yang disarankan oleh Islam untuk berhubungan seks, hari-hari yang dilarang oleh Islam dalam berhubungan seks, cara mengajak behubungan seks baik dan sopan. Aturan-aturan pra berhubungan seks menyangkut do’a-do’a sebelum berhubungan seks, labih baik mandi terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan dan wudhlu. Aturan hubungan seks yang benar menyangkut bagaimana kita seharusnya melakukan hubungan seks yang sesuai dengan apa yang sudah digariskan olah Tuhan. Seperti misal hubungan seks tidak diperbolehkan penetrasi melalui anus atau yang sering disebut dengan istilah

anal seks. Hal tersebut tertulis dalam

hadist nabi Muhammad SAW yang

24

anus atau yang sering disebut dengan istilah anal seks. Hal tersebut tertulis dalam hadist nabi Muhammad

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah
berbunyi:
berbunyi:

atau agama Islam melarang pasangan suami istri melakukan

hubungan seks pada saat istri mengalami menstruasi. Sedangkan hubungan yang mengatur pasca berhubungan seks yaitu berdoa dan diharuskan langsung mandi junub atau mandi besar dimana berarti badan dibersihkan dari segala noda-noda jasmaniah setelah berhubungan seks. Sebenarnya bila aturan-aturan tersebut dikorelasikan dengan seksiologi, memang banyak benarnya, contohnya saja hari yang ditawarkan untuk berhubungan seks hanya tiga kali dalam seminggu. Di dunia seksiologipun hubungan seks yang sehat berkisar antara dua sampai tiga kali dalam seminggu, karena sekali berhubungan seks tubuh kita mengeluarkan energi yang banyak, sehingga bila dilakukan terlalu sering dikhawatirkan stamina kita akan terkuras habis disaat-saat penting lainnya. Aturan mengenai pangajakan hubungan seks yang baik ditujukan agar lelaki maupun wanita yang mengajak memilki kesopanan dan tidak kasar ataupun terjadi pemaksaan, karena pemaksaaan yang dilakukan untuk berhubungan seks tidak akan menghasilkan seks yang baik dan cenderung terjadi hal yang tidak diinginkan pada organ vital wanita seperti contohnya wanita yang dipaksa untuk melakukan hubungan seks saat dirinya enggan untuk melakukannya, si wanita tentunya sangat tidak bergairah saat melakukan, akhirnya vagina tidak mengalami lubrikasi (proses keluarnya cairan pelicin yang membahasi dinding vagina) dan mengakibatkan iritasi pada dinding vagina dan terjadi luka. Hal tersebut juga bisa mengakibatkan sakit yang sering kita dengar dengan istilah “cengger ayam” dimana labia minora vagina mengalami pembengkakan sebab iritasi akibat gesekan dengan penis tanpa adanya lubricrant yang cukup. Iritasi juga bisa terjadi pada penis pria bila saat penetrasi ke vagina yang tidak mengalami lubrikasi. Membaca do’a sebelum melakukan hubungan seks merupakan salah satu gerbang menuju kesiapan psikis dan fisik dalam berhubungan seks. Kita tahu bersama bahwa

25

seks merupakan salah satu gerbang menuju kesiapan psikis dan fisik dalam berhubungan seks. Kita tahu bersama

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

ketidaksiapan fisik dan psikis akan membawa dampak yang mengerikan pada wanita terutama. Dinding vagina bisa tiba-tiba mengalami pengerutan dan penegangan yang luar biasa sebagai konsekuensi dari ketidaksiapan psikis yang berujung pada ketidaksiapan fisik wanita, sehingga sering kita dengar tentang pasangan (biasanya belum menikah) sedang melakukan hubungan seks, tiba-tiba saat penetrasi penis si lelaki tidak dapat dikeluarkan lagi dari liang vagina perempuan dan fenomena ini sering dihubungkan dengan hal-hal yang gaib semisal hubungan yang tidak direstui oleh “penjaga gaib” tempat dimana hubungan seks dilakukan. Dengan melihat hal tersebut kesiapan mental (psikis) yang berujung pada kesiapan secara fisik perlu ditunjang dengan suatu ritual khusus yaitu dengan berdo’a, karena ritual khusus dari suatu kepercayan dapat membantu kesiapan psikis sekaligus fisik.

Dianjurkan untuk mandi dan wudhlu sebelum berhubungan seks, agar badan kita tidak menimbulkan bau dan membuat pasangan enggan melakukan hubungan seks. Mandi juga menghilangkan kuman-kuman serta bakteri yang menempel di sekitar organ vital, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Dalam Islam kita tidak boleh melakukan penetrasi (saat melakukan hubungan seks) melalui anus atau dubur. Mungkin bagi kita yang beragama Islam atau Kristen pernah mendengar cerita mengenai kota Sodom dan Gommorah yang dihancurkan oleh Tuhan karena rakyatnya banyak berbuat maksiat seperti berzina (melakukan hubungan seks atau bentuk interaksi fisik yang menjurus pada hubungan badan dengan pasangan yang bukan semestinya), lalu kelainan seks seperti sodomi (anal seks), homoseks (pasangan sejenis, lesbi dan gay). Jadi dalam hal ini Islam sangatlah melaknat hubungan-hubungan seks diluar kewajaran. Dalam dunia seksiologipun melakukan penetrasi melalui anus atau dubur dianjurkan untuk dijauhi. Pertama, dinding anus sangatlah tipis dan banyak pembuluh darah di dalamnya. Sehingga bila pelaku anal seks mempunyai suatu penyakit

26

anus sangatlah tipis dan banyak pembuluh darah di dalamnya. Sehingga bila pelaku anal seks mempunyai suatu

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

menular akan sangat medah menulari pasangannya. Apalagi anus tidak bisa mengalami lubrikasi, sehingga sangat mudah pada dua alat kelamin baik itu penis atau dinding anus terjadi luka akibat gesekan denga penis, dan bila terjadi luka, maka penyakit akan cepat menular. Kedua dalam anus banyak sekali terdapat bakteri yang merugikan sehingga bila kulit penis bergesekan timbul luka lalu terkena bakteri dalam anus, maka akan beresiko terkena penyakit akibat infeksi bakteri. Agama Islam juga melarang umatnya untuk berhubungan seks saat sang istri mengalami menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa saat sel-sel telur yang tidak terbuahi keluar dalam bentuk gumpalan-gumpalan darah. Bila dalam keadaan ini wanita dipaksa untuk berhubungan seks, maka

kemungkinan akan terkena

Saat berhubungan seks manusia membakar kalori

sebanyak mungkin untuk menghasilkan tenaga, sehingga suhu tubuhpun meningkat dan tubuh mengeluarkan keringat. Bila keringat ini bercampur dengan bakteri, maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap serta endapan keringat pada tubuh akan terasa lengket dan tidak nyaman ketika akan beranjak tidur. Sehingga alangkah baiknya bila sesudah melakukan hubungan seks, pasangan suami istri mandi junub. Islam memang menempatkan posisi wanita dibawah lelaki dalam hal seksualitas. Dengan adanya ayat-ayat yang kami tuliskan diatas bahwa, wanita seakan diarahkan olah Islam agar menjadi individu yang penurut disertai dengan “ancaman-ancaman” bila tidak melakukan apa yang suami linginkan. Dalam seksualitas Islam, istri hanya diberi dua kesempatan menolak suami saat mengajak berhubungan seks, yaitu: pada saat istri sedang menstruasi dan pada saat suami mengajak istri untuk berhubungan seks lewat anus. Hal ini sebenarnya cukup berbahaya, bila istri melakukan hubungan seks tidak atas dasar ketulusikhlasan, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang kami tulis diatas. Bila terus menerus suami

seperti yang kami tulis diatas. Bila terus menerus suami kanker rahim. Mandi junub atau disebut mandi

kanker rahim. Mandi junub atau disebut

mandi
mandi

besar adalah mandi….

27

yang kami tulis diatas. Bila terus menerus suami kanker rahim. Mandi junub atau disebut mandi besar

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

yang aktif meminta, maka istri akan cenderung menunggu terus tanpa mau berinisiatif terlebih dahulu, karena memang sudah terbiasa “dimintai”, bukannya “meminta”. Hal ini akan membuat perempuan terus menerus impulsif dan pasif dalam berhubungan seks. Karena istri sudah terbiasa sebagai posisi penerima, dan ditempatkan pada posisi penurut.

28

pasif dalam berhubungan seks. Karena istri sudah terbiasa sebagai posisi penerima, dan ditempatkan pada posisi penurut.

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Bab IV

Kesimpulan

. Hal-hal yang seperti kami ungkap di bab analisa data membuat kami sedikit berpikir bagaimana agama bisa menjalankan perannya hingga begitu detail, sampai ke mengatur hubungan seks yang baik pasangan suami istri. Mungkin jawabannya terletak pada fungsi agama bagi manusia itu sendiri. Agama sebagai pattern for behaviour mengatur tingkah laku manusia dan berusaha mengarahkan manusia ke arah yang baik. Karena pada dasarnya agama adalah media bagi umat manusia yang ingin hidup damai di bumi dan di alam lainnya nanti. Aturan-aturan yang mengatur tingkah laku manusia ini terkadang dianggap tidak bisa sejalan dengan ilmu pengetahuan modern. Namun disini kami bisa membuktikan bahwa sebenarnya, dalam masalah hubungan seks, agama dan ilmu pengetahuan modern bisa berjalan beriringan dan mempunyai korelasi satu sama lain. Banyak aturan-aturan agama mengenai hubungan seks yang ternyata bisa dijelaskan dan benar menurut seksiologi modern. Mungkin bila kita lihat sepintas lalu, aturan- aturan agama yang berkaitan dengan berhubungan seks tersebut hanya menyentuh sisi luar,yang artinya hanya menyentuh pada sisi norma-norma, filosofi, dan religinya saja. Namun bila kita selidiki lebih dalam lagi sebenarnya aturan-aturan tersebut juga ikut menyangkut kesehatan alat reproduksi, dan juga kesehatan tubuh kita sendiri. Kajian-kajian mengenai kesehatan alat reproduksi ini tidaklah nampak diluaran, karena memang tidak pernah dibahas dalam pengajarannya. Namun karena emosi keagamaan yang kuat dari masyarakat Kejawan Lor, maka hal tersebut tidak pernah dipertanyakan secara mendetail, Di kampung Kejawan lor mungkin sosialisasi seksiologi tidak akan efektif, bila dibandingkan dengan sosialisasi hubungan seks yang baik melalui media agama seperti misalnya di pengajian-pengajian

29

dibandingkan dengan sosialisasi hubungan seks yang baik melalui media agama seperti misalnya di pengajian-pengajian 29

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

rutin yang biasa diselenggarakan di langgar atau masjid. mereka hanya menerima ajaran dari tokoh agama disana dan benar-benar meyakini kalau apa yang diajarkan oleh Islam adalah yang terbaik untuk umatnya. Mungkin saran dari kelompok kami adalah bagaimana membuat kajian ini bisa lebih meluas lagi daya jangkaunya. Jadi, pengajian yang mengajarkan tentang hubungan seks yang ideal tidak hanya diberikan kepada pemuda dan pemudi saja, namu juga pada pasangan suami dan istri yang terkadang masih butuh pengajaran lagi. Suami istri belum tentu mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan menurut agama Islam. Atau mungkin pihak masjid bekerjasama dengan lembaga-lembaga seperti PKK atau Karang Taruna untuk mengadakan pengajian tentang hubungan seks yang Islami sehingga lebih mudah dalam prosedur mengumpulkan jamaah, dan juga yang diajari tidak hanya santri dan santriwati yang khusus mengaji, namu juga orang umum. Karena memang pendidikan dalam bidang apapun adalah bukan milik satu golongan, namunmilik kita bersama. Mari kita bentuk tata dunia baru masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya kesehatan dan sadar akan pentingnya pendidikan di bawah satu mata yang melihat segalanya. Novus Ordo Seclorum.

30

kesehatan dan sadar akan pentingnya pendidikan di bawah satu mata yang melihat segalanya. Novus Ordo Seclorum.

Seksualitas

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

1997 Sangkan Paran Gender, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bungin, Burhan.

2001 ‘Strategi Multi Farious-Method di Dalam Penelitian Media Massa’ dalam Burhan Bungin, ed. Metode Penelitian Kualitatif.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 199-214.

Dyson, L.

2001 ‘Peran Etnometodologi dalam Penelitian Sosial’ dalam Burhan Bungin, ed. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 117-121.

Fakih, Mansour

1999 Analisis Gender Dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka

Pelajar

Giddens, Anthony

2003 Teori Strukturasi Untuk Analisis Sosial, Pasuruan: Penerbit

Pedati

Lindsey, Linda L.

31

Pelajar Giddens, Anthony 2003 Teori Strukturasi Untuk Analisis Sosial , Pasuruan: Penerbit Pedati Lindsey, Linda L.

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

1990 Gender Role (A Sociological Perspective), New Jersey: Prentice Hall Inc

Moleong, Lexy J.

1988

Rosdakarya

Metode

Pendit, Putu Laxman

Penelitian

Kualitatif.

Bandung:

Remaja

2003 Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Sebuah Pengantar Diskusi Epistemologi & Metodologi. Jakarta: Kumandang

Sevilla, Consuello G.

1992 Pengantar

Press

Metode

Penelitian.

Jakarta:

Universitas

Indonesia

Soedjendro, J. Kartini

2005 Pilkada

Berperspektif

Gender,

dalam

merdeka.com/artikel/17Juni2005

Spreadley, James P.

http://www.suara-

1995 Metode Penelitian Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacara

Sudikan, Setya Yuwana

2001 ‘Ragam Metode Pengumpulan Data. Mengulas Kembali; Pengamatan, Wawancara, Analisis Life History, Analisis Folklor’ dalam Burhan Bungin, ed. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada, hlm. 53-81.

32

Folklor’ dalam Burhan Bungin, ed. Metode Penelitian Kualitatif . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 53-81.

Seksualitas

Laporan PKL Mata Kuliah
Laporan PKL Mata Kuliah

Surabaya & Perkembangan 2004 Surabaya & Perkembangan Skala 1:26.000. Surabaya: Karya Pembina Swajaya

33

Kuliah Surabaya & Perkembangan 2004 Surabaya & Perkembangan Skala 1:26.000 . Surabaya: Karya Pembina Swajaya 33