Anda di halaman 1dari 3

Etnografi Dalam Pendekatan Interpretatif

(Sebuah Resume Dari Buku Tafsir Kebudayaan


Karya Clifford Geertz)
Oleh: Darundiyo Pandupitoyo

Menurut Geertz, karya etnografi dalam antropologi budaya bukan hanya

sebagai penjelas peripheral bagi keberadaan suatu komunitas atau suku bangsa di

dunia. Sudut pandang konvensional mengatakan bahwa mengerjakan sebuah

karya etnografi adalah menetapkan hubungan, menyeleksi informan, mentranskrip

teks wawancara, mengambil silsilah, memetakan daerah penelitian, mengisi buku

harian dan seterusnya. Sudut pandang teknikal tersebut mulai tergradasi oleh cara

pandang baru tentang sebuah karya etnografi yang harus menguraikan secara

mendalam apa yang ditelitinya, atau meminjam istilah Gilbert Ryle “Lukisan

Mendalam (Thick Description)”.

Dalam lukisan mendalam terletaklah objek etnografi, yaitu sebuah

hierarkhi yang memiliki lapisan-lapisan struktur-struktur yang bermakna. Sebuah

kedipan dapat diartikan bermacam-macam oleh orang lain yang melihatnya.

Kedipan bisa diartikan isyarat rahasia untuk bersekongkol, isyarat rasa suka pada

seseorang atau memang si pengedip sedang sakit mata. Dengan lapisan-lapisan

struktur tersebut, isyarat-isyarat subyektif tersebut bisa dipahami dan ditafsirkan.

Tanpa hierarkhi tersebut isyarat-isyarat tersebut tidak akan ada dalam kenyataan.


Penulis adalah mahasiswa jurusan Antropologi Sosial Universitas Airlangga NIM 070417391

1
Geertz sedikit mengkritik bahwa selama ini riset antropologi kebanyakan

hanya menekankan pada kegiatan observasional dan agaknya kurang

memerhatikan kegiatan interpretatif sesungguhnya. Hal tersebut ditulis oleh

Geertz sebagai pengisyaratan-pengisyaratan atas pengisyaratan-pengisyaratan atas

pengisyaratan. Lalu, analisis menata struktur-struktur pemaknaan, struktur

tersebut disebutkan oleh Ryle sebagai kode-kode tetap. Selain menata struktur

pemaknaan, analisis juga menentukan dasar dan makna sosial struktur-struktur

tersebut. Pendekatan ini bisa disebut dengan pendekatan interpretatif

Menurut Geertz, apa yang dihadapi oleh etnografer adalah sebuah

kenekaragaman struktur konseptual yang kompleks. Struktur-struktur tersebut

bersifat asing, tidak biasa dan tidak bersifat eksplisit. Seorang etngrafer harus

memahami dan kemudia menerjemahkan struktur-struktur tersebut. Mengerjakan

etnografi mirip usaha membaca sebuah manuskrip yang bersifat asing, samar-

samar, penuh elips-elips, perubahan-perubahan mencurigakan dan komentar-

komentar yang tendensius. Manuskrip tersebut tidaklah tertulis di atas kertas,

melainkan pada grafik suara yang konvensional namun mendalam.

Jadi, menurut Geertz terdapat tiga ciri paparan etnografis, pertama paparan

yang bersifat intepretatif; kedua, paparan ini mencoba menyelamatkan dan

menafsirkan segala perbincangan sosial dalam riset antropologis; ketiga, apa yang

interpretatif adalah aliran perbincangan sosial. Namun, Geertz menambahkan satu

lagi ciri yaitu paparan yang bersifat mikroskopis.

Dalam akhir tulisannya,Geertz memberikan sedikit ulasan mengenai kritik

yang banyak dilayangkan kepada pendekatan interpretatif. Karena terkungkung

2
dalam sifat langsung detailnya sendiri, pendekatan interpretatif dianggap

menshahihkan diri (self-validating), atau lebih buruk lagi sebagai sesuatu yang

disahkan dengan kepekaan yang dianggap lebih maju dari orang yang

menjelaskannya.