Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Luka bakar menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan

dengan cedera oleh sebab lain. Di Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang mengalami luka
bakar setiap tahunnya. Dari angka tersebut, 112.000 penderita luka bakar membutuhkan tindakan
emergensi, dan sekitar 210 penderita luka bakar meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada angka
pasti mengenai luka bakar, tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka
luka bakar terseut semakin meningkat (Ahmadsyah, 2005).
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan etiologi, kedalaman serta luasnya luka bakar yang
menentukan gejala klinis serta beratnya luka bakar. Salah satu etiologinya adalah luka bakar
akibat listrik. Luka bakar akibat listrik cukup jarang, biasanya terjadi di tempat kerja, sementara
anak-anak lebih sering mengalaminya di lingkungan rumah. Sekitar 1000 kematian per tahun
terjadi akibat luka bakar listrik di Amerika Serikat, dengan angka mortalitas sebanyak 3 5%.
Laki-laki lebih banyak mengalami luka bakar listrik dibanding perempuan karena terkait dengan
pekerjaan (Cushing, 2013).
Klasifikasi luka bakar listrik biasanya berfokus pada sumber listrik (petir atau sumber listrik
lainnya), voltase (tinggi atau rendah), dan tipe arus (bolak-balik atau searah), dengan pola
kerusakan yang khas dari tiap tipenya (Cushing, 2013).
Luka bakar menyebabkan terjadinya hipermetabolisme akibat stimulasi sitokin-sitokin
berlebihan. Proses inflamasi umumnya meningkat segera setelah trauma terjadi dan bertahan
sekitar 5 minggu paska trauma. Respons metabolisme yang terjadi diantaranya peningkatan suhu,
kebutuhan O2, glukosa serta peningkatan produksi CO2. Komplikasi yang terjadi pada pasien
luka bakar antara lain, gagal napas, syok dan infeksi sistemik ke berbagai organ yang dapat
menyebabkan kematian. Seringkali pasien luka bakar mengalami syok akibat kehilangan banyak
cairan atau sepsis, sehingga diperlukan pemantauan hemodinamik ketat. Tatalaksana penanganan
luka bakar di ruang perawatan intensif harus bersifat holistik yang mencakup tatalaksana jalan
napas dan oksigenasi, resusitasi cairan, pemberian antibiotika, tatalaksana nutrisi, penanganan
nyeri hingga perawatan luka untuk menurunkan mortalitas (Ahmadsyah, 2005).

1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan kasus ini adalah untuk lebih mengerti dan memahami

tentang Luka Bakar Listrik dan untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kegiatan
kepaniteraan klinik senior (KKS) di Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara / RSUP H Adam Malik Medan.

1.3.

Manfaat
Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca

khususnya yang terlibat dalam bidang medis dan masyarakat secara umumnya agar dapat lebih
mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai luka bakar listrik.

BAB 2
TNJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi
Kulit adalah organ yang terletak paling luar. Luas kulit orang dewasa 2 m 2 dengan berat
kira-kira 16% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan
cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitive, bervariasi
pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Pembagian
kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis atau kutikel,
lapisan dermis, dan lapisan subkutis. Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan
subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan
lemak (Gerald,2009).

1. Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan kulit
yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti,
dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum lusidum terdapat
langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan
protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak
lebih jelas di telapak tangan dan kaki. (Gerald,2009)
Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma
berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin.

Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya
berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak
mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke
permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel stratum spinosun terdapat
jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin.
Pelekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut
nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel
stratum spinosum mengandung banyak glikogen. (Gerald,2009)
Stratum germinativum terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun vertical
pada perbatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan ini
merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mrngalami mitosis dan
berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang berbentuk
kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan
lain oleh jembatang antar sel, dan sel pembentuk melanin atau clear cell yang merupakan
sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir
pigmen (melanosomes). (Gerald,2009)

2. Lapisan Dermis
Lapisan yang terletak di bawah lapisan epidermis adalah lapisan dermis yang jauh
lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2
bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut
saraf dan pembuluh darah, dan pars retikulare yaitu bagian bawahnya yang menonjol kea
rah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen,
elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan
kondroitin sulfat, di bagian ini terdapat pula fibroblast, membentuk ikatan yang
mengandung hidrksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dengan
bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen
muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang
serta lebih elastis. (Gerald,2009)

3. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat longgar
berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti
terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok
yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak
disebut panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat
ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak
tidak sama bergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di
daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan
bantalan. Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di
bagian atas dermis (pleksus superficial) dan yang terletak di subkutis pleksus profunda).
Pleksus yang di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus
yang di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di bagian ini
pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat
saluran getah bening. (Gerald,2009)

4. Jaringan Penyambung (Jaringan Ikat) Bawah Kulit (Hipodermis)


Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe,
saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari pembuluhpembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi
sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman
jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan
paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan
ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak,
lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta makin kehilangan kontur.
(Gerald,2009)

Fungsi Kulit

Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut (Gerald,2009) :


1. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan-jaringan
tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh pengaruh luar seperti luka
dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis
lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan lukaluka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau
rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari.

2. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan dengan
sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa
dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi.

3. Pengatur panas atau thermoregulasi


Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta
melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki
suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,50C. Ketika terjadi perubahan
pada suhu luar, darah dan kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian seperlunya
dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah satu fungsi kulit sebagai
organ antara tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan keringat.

4. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar keringat
yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat
kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat
tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang
tidak disadari.

5. Penyimpanan
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.

6. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam lemak
dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk
melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis.
Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar
palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke
berbagai organ tubuh lainnya.

7. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus,
putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan. Fungsi lain dari kulit yaitu kulit
dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi
otot penegak rambut.

2.2. Luka Bakar


2.2.1. Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan karena pengalihan energi dari suatu
sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi
elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi
atau kimia. (Idris, 1997)

2.2.2. Etiologi
Etiologi luka bakar dapat dibedakan menjadi : scald burn, flame burn, chemical
burn, dan electrical burn. (Jeschke, 2007)

2.2.3. Penentuan Luas Luka Bakar


The Rule of Nines merupakan cara praktis untuk menentukan luas luka bakar dan
untuk menghitung kebutuhan cairan pasien luka bakar berat di rumah sakit. Tubuh
manusia dewasa dibagi menurut pembagian anatomis yaitu tiap ekstremitas atas 9%, tiap
ekstremitas bawah 18%, batang tubuh 18% tiap sisi, kepala dan leher 9%. Berbeda

dengan orang dewasa, kepala bayi dan anak merupakan bagian terbesar dari luas
permukaan tubuh, sedangkan ekstremitas bawah merupakan bagian yang lebih kecil.
Persentase luas permukaan kepala anak adalah dua kali orang dewasa. (ATLS, 2004)
Untuk luka bakar yang lebih kecil atau distribusinya tersebar, cara terbaik untuk
mengukurnya adalah dengan menggunting kertas seukuran seluruh tangan pasien
(termasuk jari dan telapak tangan); hal ini mewakili 1% luas permukaan tubuh; cocokkan
dengan tiap area. Cara akurat lain untuk menghitung luas luka bakar adalah dengan
menggambar luasnya pada skema Lund and Bowder, yang menggambarkan persentase
luas permukaan bagian bagian anatomi tubuh. Hal ini juga dapat menghitung luas
permukaan tubuh proporsional yang berbeda berdasarkan usia pada anak. (William,
2012)

Jackson menjelaskan 3 zona kerusakan jaringan pada luka bakar. Zona koagulasi adalah
bagian terbakar yang paling berat dan biasanya di tengah luka. Jaringan yang terkena
menjadi terkoagulasi dan biasanya nekrotik sehingga memerlukan eksisi dan grafting.
Menuju ke perifer adalah zona stasis, yang mempunyai respon lokal vasokonstriksi dan

iskemia. Resusitasi yang tepat dan penanganan luka dapat mencegah luka yang lebih
dalam, namun infeksi atau perfusi tidak optimal dapat menambah dalamnya luka. Hal ini
secara klinis relevan karena banyak superficial partial-thickness burns akan sembuh
dengan penanganan tepat, sedangkan deep partial-thickness burns memerlukan eksisi dan
skin grafting. Area terakhir luka bakar adalah zona hiperemia yang sembuh dengan
minimal atau tidak ada skar. (Schwartz,2010)

a. Derajat Luka Bakar


Derajat luka bakar dikelompokkan beradasarkan kedalaman kerusakan yang
terjadi. Kedalaman luka bakar penting untuk menilai beratnya luka bakar, merencanakan
perawatan luka, dan memprediksi hasil dari segi fungsional maupun kosmetik
(ATLS,2004). Kulit manusia yang terbakar bergantung pada waktu dan temperatur.
Butuh 6 jam bagi kulit bertahan pada 44C untuk mengalami perubahan ireversibel,
namun temperatur 70 C dalam 1 detik dibutuhkan untuk menghasilkan destruksi
epidermal. Sebagai contoh air panas 65 C, terekspos selama 45 detik menyebabkan fullthickness burn, selama 15 detik deep partial-thickness burn, dan selama 7 detik
superficial partial-thickness burn.(William, 2012)
Luka bakar derajat I atau superficial
partial-thickness burn ditandai dengan adanya bula
dan atau kehilangan epidermis. Dalam hal ini luka
bakar tidak lebih dalam dari lapisan papiler dermis.
Dermis berwarna merah jambu dan basah. Waktu
pengisian kapiler terlihat jelas ketika warnanya
pucat, tidak ada atau sedikit warna kapiler yang
menetap.

Pinprick sensation normal. Luka bakar ini


akan sembuh tanpa skar residual dalam 2 minggu.
(William, 2012)

Luka bakar derajat II atau partial-thickness


burns melibatkan bagian yang lebih dalam dari
lapisan retikuler dermis. Secara klinis, epidermis
biasanya hilang. Dermis yang terkena tidak sebasah
pada superficial burn. Sering terdapat warna kapiler
terfiksir samar, terutama jika diperiksa setelah 48
jam. Warna tidak memucat dengan penekanan jari
pemeriksa. Sensasi berkurang, dan pasien tidak
mampu membedakan ketajaman dari tekanan tumpul
ketika dinilai dengan jarum. Luka bakar jenis ini
memerlukan 3 minggu atau lebih waktu untuk
sembuh tanpa operasi dan biasanya meninggalkan
skar hipertrofi. (William, 2012)

Luka bakar derajat III atau full-thickness burns melibatkan seluruh dermis.
Warna kulit bisa terlihat putih seperti lilin, merah, sampai kehitaman, tergantung
intensitas panas. Warna kulit merah ini tidak berubah menjadi pucat dengan penekanan,
tidak merasa nyeri, dan kering. Pembuluh darah yang trombosis sering terlihat di bawah
kulit. (ATLS,2004)

Derajat luka bakar di atas dapat dirangkum dalam tabel di bawah ini.

Grade

Superficial

Deep partial-

Full-thickness

partial-

thickness burns

burns

thickness
burns
Injured skin

No deeper Deeper parts of The whole dermis


than

the reticular

papillary

dermis

dermis
Brisk

Delayed

None

Blanching to

Yes, brisk

No

No

pressure

return

Bleeding on
Pinprick test

Appearance

Red,

Cherry red

Dry, white, leathery

Dull

None

glistering
Sensation

Painful

Berdasarkan berat ringannya luka bakar, diperoleh beberapa kategori luka bakar
menurut American Burn Association yaitu (William, 2012):
1.

Luka bakar berat/ kritis (major burn)

Derajat II-III > 20% pada pasien berusia < 10 tahun atau di atas 50 tahun

Derajat II- III > 25 % pada kelompok usia selain yang disebutkan pada butir
pertama

2.

Luka bakar pada muka, telinga tangan, kaki dan perineum

Adanya cedera pada jalan napas tanpa memperhitungkan luas luka bakar.

Luka bakar listrik tegangan tinggi

Disertai trauma lainnya

Pasien-pasien dengan resiko tinggi

Luka bakar sedang (moderate burn)

Luka bakar dengan luas 15-25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III
kurang dari 10 %

Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia kurang 10 thn atau dewasa lebih
dari 40 thn, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %

Luka bakar dengan derajat III kurang dari 10 % pada anak maupun dewasa yang
tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.

3. Luka bakar ringan (mild burn)


Luka bakar dengan luas kurang dari 15 % pada orang dewasa
Luka bakar dengan luas kurang dari 10 % pada anak-anak
Luka bakar dengan luas kurang dari 2 % pada segala usia yang tidak mengenai muka,
tangan, kaki, dan perineum.

2.2.4. Patofisiologi
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi.
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang mengandung
banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan
kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa
mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang
khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan
produksi urin yang berkurang.
Pada kebakaran ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan
mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terisap. Edema laring yang
ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea,
stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. CO akan mengikat
hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda
keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat
terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal.

Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta
penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya
diuresis.
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium
yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena
daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis.
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari
kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gram negatif,
Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dari toksin lain yang
berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur
keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah.
Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan
nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang kering dengan
perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menadi nekrotik; akibatnya, luka
bakar yang mula-mula derajat II menjadi derajat III. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada
pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga jaringan yang
didarahinya nanti.
Bila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman dan terlihat
invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut luka bakar septik.
Bila penyebabnya kuman Gram positif, seperti stafilokokus atau basil Gram negatif lainnya,
dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi
di usus. Syok sepsis dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyebar di darah.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat II dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih
vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut.
Luka bakar derajat II yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal,
kaku dan secara estetik jelek. Luka bakar derajat III yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Bila terjadi di persendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.

Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristalsis usus
menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis dapat menurun
karena kekurangan ion kalium.
Stres atau badan faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan
terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama dengan gejala
tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi dan infeksi.
Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerluka kalori tambahan. Tenaga yang
diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan menurun. Dengan
demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Bila
luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat,
penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. Jadi prognosis luka bakar ditentukan oleh
luasnya luka bakar.

Fase Pada Luka Bakar


Dalam perjalanan penyakit, dapat dibedakan menjadi tiga fase pada luka bakar, yaitu:
1.

Fase akut

Pada fase ini, masalah utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas yaitu
gangguan mekanisme bernafas, hal ini dikarenakan adanya eskar melingkar di dada atau
trauma multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi seperti keseimbangan cairan
elektrolit, syok hipovolemia.
2.

Fase sub akut

Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan
Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis. Hal ini merupakan dampak
dan atau perkembangan masalah yang timbul pada fase pertama dan masalah yang bermula
dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka)
3.

Fase kronis

Fase ini berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan. Masalah
yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar seperti parut hipertrofik, kontraktur dan

deformitas lain yang terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses
inflamasi yang hebat dan berlangsung lama

Pembagian zona kerusakan jaringan:


1. Zona koagulasi, zona nekrosis
Merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat
pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis
beberapa saat setelah kontak. Oleh karena itulah disebut juga sebagai zona nekrosis.
2. Zona statis
Merupakan daerah yang langsung berada di luar/di sekitar zona koagulasi. Di daerah ini
terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit,
sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas
kapilar dan respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera
dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
3. Zona hiperemi
Merupakan daerah di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa
banyak melibatkan reaksi selular. Tergantung keadaan umum dan terapi yang diberikan,
zona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan, atau berubah menjadi zona kedua
bahkan zona pertama.

2.2.5. Penilaian Luka Bakar


Penilaian pasien mulai dengan anamnesis, dan disusul penilaian luas dan dalamnya luka
bakar.
a. Anamnesis
Anamnesis riwayat trauma sangat penting dalam penanganan pasien luka bakar. Sewaktu
menyelamatkan diri dari tempat kebakaran, mungkin terjadi cedera penyerta. Ledakan dapat
melemparkan pasien, mengakibatkan misalnya cedera kepala, jantung, paru-paru, trauma
abdomen dan fraktur. Catat waktu terjadinya trauma. Luka bakar yang terjadi pada ruangan
tertutup harus diurigai terjadinya trauma inhalasi.
Anamnesis dari pasien sendiri atau keluarga, hendaknya juga mencakup riwayat singkat
penyakit-penyakit yang diderita sekarang (seperti misalnya diabetes, hipertensi, jantung, paru-

paru dan/atau ginjal) dan obat yang sedang dipakai untuk terapi. Penting pula diketahui riwayat
alergi dan status imunisasi tetanus.
b. Pemeriksaan Fisik
The Rule of Nines merupakan ccara praktis untuk menentukan luas luka bakar. Tubuh
manusia dewasa dibagi menurut pembagian anatomis yang bernilai 9% atau kelipatan dari 9%
dari keseluruhan luas tubuh. Berbeda dengan orang dewasa, kepala bayi dan anak merupakan
bagian terbesar dari luas permukaan lubuh, sedangkan ekstremitas bawah merupakan bagian
yang lebih kecil. Presentase luas permukaan kepala anak adalah dua kali orang dewasa. Unutk
luka bakar yang distribusinya tersebar, rumus luas permukaan telapak tangan (termasuk jari-jari)
pasien sama dengan 1% luas permukaan tubuhnya dapat membantu memperkirakan luas luka
bakar.
Kedalaman luka bakar penting untuk menilai beratnya luka bakar, merencanakan
perawatan luka, dan memprediksi hasil dari segi fungsional dan kosmetik.
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan:
1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah
2. Urinalisis
3. Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
4. Analisis gas darah
5. Radiologi jika ada indikasi ARDS
6. Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS

2.2.6. Penatalaksanaan
a. Pertolongan Pertama Pada Pasien Luka Bakar
1. Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan
menutup bagian yang terbakar.
2. Singkirkan baju, perhiasan dan benda-benda lain karena jaringan yang terkena luka bakar akan
segera menjadi oedem.
3. Setelah sumber dihilangkan rendam, daerah luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan
air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di
jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi

tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan
mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan
diperkecil. Akan tetapi cara ini tidak dapat dipakai untuk luka bakar yang lebih luas karena
bahaya terjadinya hipotermi. Es tidak seharusnya diberikan langsung pada luka bakar apapun.
4. Evaluasi awal
Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penanganan pada luka akibat trauma yang lain,
yaitu dengan ABC (Airway Breathing Circulation) yang diikuti dengan pendekatan khusus pada
komponen spesifik luka bakar pada survey sekunder. Saat menilai airway, perhatikan apakah
terdapat luka bakar inhalasi. Biasanya ditemukan sputum karbonat, rambut atau bulu hidung
yang gosong. Luka bakar pada wajah, oedem oropharyngeal, perubahan suara, perubahan status
mental. Bila benar terdapat luka bakar inhalasi lakukan intubasi endotracheal, kemudian beri
oksigen melalui mask face atau endotracheal tube.Luka bakar biasanya berhubungan dengan luka
lain, biasanya dari luka tumpul akibat kecelakaan sepeda motor. Evaluasi pada luka bakar harus
dikoordinasi dengan evaluasi pada luka-luka yang lain. Meskipun perdarahan dan trauma
intrakavitas merupakan prioritas utama dibandingkan luka bakar, perlu dipikirkan untuk
meningkatkan jumlah cairan pengganti. Anamnesis secara singkat dan cepat harus dilakukan
pertama kali untuk menentukan mekanisme dan waktu terjadinya trauma. Untuk membantu
mengevaluasi derajat luka bakar karena trauma akibat air mendidih biasanya hanya mengenai
sebagian lapisan kulit (partial thickness), sementara luka bakar karena api biasa mengenai
seluruh lapisan kulit (full thickness) (Wim de Jong, 2005).
b. Resusitasi Cairan
Sebagai bagian dari perawatan awal pasien yang terkena luka bakar, pemberian cairan
intravena yang adekuat harus dilakukan, akses intravena yang adekuat harus ada, terutama pada
bagian ekstremitas yang tidak terkena luka bakar. Adanya luka bakar diberikan cairan resusitasi
karena adanya akumulasi cairan edema tidak hanya pada jaringan yang terbakar, tetapi juga
seluruh tubuh. Telah diselidiki bahwa penyebab permeabilitas cairan ini adalah karena keluarnya
sitokin dan beberapa mediator, yang menyebabkan disfungsi dari sel, kebocoran kapiler.
Tujuan utama dari resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan mengembalikan perfusi
jaringan tanpa menimbulkan edema. Kehilangan cairan terbesar adalah pada 4 jam pertama
terjadinya luka dan akumulasi maksimum edema adalah pada 24 jam pertama setelah luka bakar.
Prinsip dari pemberian cairan pertama kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang

hilang pada jaringan yang terbakar, dan sel-sel tubuh. Pemberian cairan paling popular adalah
dengan Ringer laktat untuk 48 jam setelah terkena luka bakar. Output urin yang adekuat adalah
0.5 sampai 1.5mL/kgBB/jam.
Resusitasi cairan dilakukan dengan memberikan cairan pengganti. Ada beberapa cara
untuk menghitung kebutuhan cairan ini:
Formula Hospital Parkland :
24 jam pertama

: Cairan Ringer laktat : 4ml x % BSA x BB (kg)

8 jam

: jumlah cairan 24 jam pertama

16 jam berikutnya

: jumlah cairan 24 jam pertama

Cara Evans :
1. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah NaCl / 24 jam
2. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumah plasma / 24 jam (nomor 1 dan 2
pengganti cairan yang hilang akibat oedem. Plasma untuk mengganti plasma yang keluar dari
pembuluh dan meninggikan tekanan osmosis hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik
kembali cairan yang telah keluar).
3. 2000 cc Dextrose 5% / 24 jam (untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan).
Separuh dari jumlah cairan 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16
jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan pada hari pertama dan hari
ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

Cara Baxter :
%BSA x BB (kg) x 4 cc
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam
berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan RL karena terjadi defisit ion
Na. Hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama.
Contoh : seorang dewasa dengan BB 50 kg dan luka bakar seluas 20 % permukaan kulit akan
diberikan 50 x 20 % x 4 cc = 4000 cc yang diberikan hari pertama dan 2000 cc pada hari kedua
(Gerard, 2005).
c. Perawatan Luka Bakar
Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan
perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari

semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal.Setelah luka
dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. Penutupan luka ini memiliki beberapa fungsi:
pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan meminimalkan
timbulnya koloni bakteri atau jamur. Luka harus benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi
pasien tidak hipotermi. Penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien merasa
nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit

Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier
pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian
antibiotik topikal untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu
dapat diberi NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan
pembengkakan.

Luka bakar derajat II (superfisial), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama luka
diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan kasa dan dibalut lagi dengan
perban elastik.

Luka derajat II dan luka derajat III, perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok kulit
(early exicision and grafting) (Gerard, 2005).

d. Nutrisi
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari orang normal
karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan hipermetabolik. Kondisi yang
berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang ada adalah:
Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, dan luas permukaan tubuh.
Riwayat penyakit sebelumnya seperti Diabetes Mellitus, penyakit ginjal dan lain-lain.
Luas dan derajat luka bakar.
Suhu dan kelembaban ruangan (memepngaruhi kehilangan panas melalui evaporasi).
Aktivitas fisik dan fisioterapi.
Penggantian balutan.
Rasa sakit dan kecemasan
Dalam menentukan kebutuhan kalori basal pasien yang paling ideal adalah dengan
mengukur kebutuhan kalori secara langsung menggunakan indirek kalorimetri karena alat ini
telah memperhitungkan beberapa faktor seperti BB, jenis kelamin, luas luka bakar, luas

permukan tubuh dan adanya infeksi. Untuk menghitung kebutuhan kalori total harus
ditambahkan faktor stress sebesar 20-30%. Tapi alat ini jarang tersedia di rumah sakit. Formula
nutrisi yang dapat digunakan adalah Formula Curreri (kebutuhan kalori dalam 24 jam), dengan
rumus :
Dewasa

: 25 kkal/kg BW + 40 kkal % BSA

Anak anak : 60-90 kkal/kg BW + 35 kkal % BSA


Perhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar perlu perhatian khusus karena
kurangnya asupan kalori akan berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga meningkatkan
resiko morbiditas dan mortalitas. Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan
dengan beberapa metode, yaitu : oral, enteral dan parenteral. Untuk menentukan waktu
dimulainya pemberian nutrisi dini pada penderita luka bakar, masih sangat bervariasi, dimulai
sejak 4 jam pasca trauma sampai dengan 48 jam pasca trauma.
e. Antibiotik
Terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit sehingga memudahkan
timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah mikroorganisme sudah mencapai 105
organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus kedalam jaringan yang lebih dalam
kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi sistemik yang dapat
menyebabkan kematian (Gerard, 2005). Antibiotik topikal yang dapat digunakan, misalnya :
Silver Sulfadiazine, Silver Nitrat (0,5 % solution), Sulfanylon, dan sebagainya.
f. Early Exicision and Grafting
Dengan metode ini eskar di angkat secara operatif dan kemudian luka ditutup dengan
cangkok kulit (autograft atau allograft), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas
dengan sendirinya. Early exicision and grafting dilakukan 3-7 hari setelah terjadi luka. Pada
umumnya tiap harinya dilakukan eksisi 20% dari luka bakar kemudian dilanjutkan pada hari
berikutnya.
Beberapa penelitian membandingkan teknik early exicision and grafting dengan teknik
konvensional, hasilnya tidak ada perbedaan dalam hal kosmetik atau fungsi organ, bahkan lebih
baik hasilnya bila dilakukan pada luka bakar yang terdapat pada muka, tangan dan kaki (Gerard,
2005).
g. Escharatomy

Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas dapat menyebabkan iskemik distal
yang progresif, terutama apabila terjadi edema saat resusitasi cairan, dan saat adanya pengerutan
keropeng. Iskemi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada jari tangan dan kaki. Tanda dini
iskemi adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai pada ujung-ujung distal. Juga luka
bakar menyeluruh pada bagian toraks atau abdomen dapat menyebabkan gangguan respirasi, dan
hal ini dapat dihilangkan dengan escharotomy. Dilakukan insisi memanjang yang membuka
keropeng sampai penjepitan bebas (James, 2005).

2.2.7. Kriteria Merujuk


Menurut American Burn Association, luka bakar yang perlu dirujuk ke pusat luka bakar
adalah (ATLS, 2004) :
1.

Luka bakar derajat II dan III dari 10% luas permukaan tubuh pada penderita yang berumur
kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun.

2.

Luka bakar derajat II dan III lebih dari 20% di luar usia tersebut.

3.

Luka bakar derajat II dan III yang mengenai wajah, mata, telinga, tangan, kaki, genitalia,
atau perineum atau yang mengenai kulit sendi-sendi utama.

4.

Luka bakar derajat III lebih dari 5% luas permukaan pada semua umur.

5.

Luka bakar listrik, termasuk tersambar petir (kerusakan jaringan bawah kulit hebat dan
menyebabkan gagal ginjal akut serta komplikasi lainnya.

6.

Luka bakar kimia.

7.

Trauma inhalasi.

8.

Luka bakar pada penderita yang karena penyakit yang sedang dideritanya dapat
mempersulit penanganan, memperanjang pemulihan, atau dapat mengakibatka kematian.

9.

Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah resiko morbiditas dan mortalitas,
ditangani dahulu di UGD sampai stabil, baru dirujuk ke pusat luka bakar.

10.

Anak-anak dengan luka bakar yang dirawat di rumah sakit tanpa petugas dan peralatan
yang memadai, dirujuk ke pusat luka bakar.

11.

Penderita luka bakar yang memerlukan penanganan khusus seperti masalah sosial,
emosional atau yang rehabilitasinya lama, termasuk adanya tindakan kekerasan pada anak
atau anak yang ditelantarkan.

2.3.

Luka Bakar Listrik


Lewatnya tenaga listrik bervoltase tinggi melalui jaringan menyebabkan perubahannya

menjadi tenaga panas, menimbulkan luka bakar yang tidak hanya mengenai kulit dan jaringan
subkutis, tetapi juga semua jaringan pada jalur arus listrik tersebut.
Luka bakar listrik biasanya disebabkan oleh kontak dengan sumber tenaga bervoltase
tinggi seperti yang terjadi pada petugas listrik. Anggota gerak merupakan tempat kontak yang
terlazim dan tangan serta lengan lebih sering cedera dibandingkan kaki. Kontak sering
menyebabkan gangguan jantung dan/atau pernafasan sehingga sering memerlukan tindakan
resusitasi.
Luka bakar listrik ditentukan oleh tegangan listrik, kekuatan arus, resistensi listrik, durasi
kontak dengan sumber listrik, jalur aliran listrik, dan tipe arus.
Tegangan listrik dibagi menjadi tegangan tinggi dan tegangan rendah, dengan 500 atau
1000 V sebagai titik potong. Tegangan listrik rumahan sekitar 110 V dan lingkungan industri
menggunakan hingga 100.000 V.
Kekuatan arus yang dapat dirasakan melalui sentuhan minimal 1 mA. Terdapat suatu
kisaran sempit dari kekuatan arus yang dapat dipersepsi dengan arus pelepasan: yaitu arus
maksimum dimana seseorang dapat menerima arus lalu melepaskannya sebelum tetanus
membuat arus tidak bisa keluar. Bagi anak, arus pelepasannya sekitar 3 5 mA, dan 6 9 mA
untuk orang dewasa. Tetanus terjadi pada 15 20 mA dan fibrilasi ventrikel pada 50 100 mA.
Tahanan listrik jaringan bervariasi, dengan tulang, tendon, dan kulit yang paling tahan
sedangkan darah dan jaringan saraf memiliki tahanan yang rendah. Sehingga listrik dapat
menyebabkan kerusakan vaskular atau saraf pada jarak tertentu dari daerah luka bakar kulit.
Tipe sirkuit arus listrik adalah arus bolak-balik dan searah. Tipe arus bolak-balik biasa
digunakan di rumah dan tempat kerja. Tipe arus searah yang besar dapat menyebabkan kontraksi
otot besar yang sangat kuat hingga membuat korban terlempar menjauhi sumber, sehingga
berpengaruh pada durasi kontak. Sebaliknya, arus bolak-balik yang menyebabkan aliran siklik
pada otot memperlama durasi kontak karena korban mengalami tetanus. Tetanus terjadi pada
frekuensi 40 110 Hz, dimana arus bolak-balik berada pada kisaran tersebut (60 Hz).
Tipe luka bakar listrik kemudian dapat digolongkan sebagai berikut:

luka bakar langsung : arus listrik mengaliri badan secara langsung menyebabkan luka
bakar elektrotermal, baik di permukaan kulit maupun jaringan yang lebih dalam
tergantung resistensinya. Akan terjadi kerusakan pada titik kontak dan titik ground.

Arkus listrik : terjadi percikan arus listrik antara objek-objek dengan potensial listrik
yang berbeda namun tidak saling kontak satu sama lainnya. Temperatur pada arkus listrik
ini sekitar 2500 5000oC dan mengakibatkan luka bakar yang dalam. Hal ini terutama
disebabkan arus langsung.

Luka bakar api : arus listrik dapat menyebabkan baju korban terbakar hingga menjadi
luka bakar karena api.

Kilat : arus dari sumber listrik menyebabkan luka bakar, tapi sebenarnya pada hal ini
arus tidak benar-benar memasuki badan korban.

Luka pada daerah masuknya listrik biasanya tampak gosong dan cekung, dan dapat
dikelilingi kulit yang normal. Luka keluarnya arus sama seperti luka tembak karena peluru
berkecepatan tinggi. Kontak arus listrik dengan sendi dapat menimbulkan luka bakar kulit pada
daerah yang tidak berkontak ketika arus keluar masuk jaringan.. Luka bakar listrik mudah
terkena komplikasi sindroma kompartemen karena adanya luka otot yang dalam atau vaskular.
Terapi luka bakar listrik diarahkan ke bagian kulit. Trauma termal permukaan dihitung
dengan cara yang sama seperti luka bakar standard. Cairan diberikan seperti pada luka bakar
permukaan dengan menambahkan volume untuk kerusakan otot. Tindakan ini dilakukan seperti
pada luka remuk, yang mirip dengan luka bakar listrik bervoltase tinggi. Pada luka bakar listrik
yang luas, penggantian cairan yang cukup banyak diperlukan untuk menghindari komplikasi.
Jumlah ini tidak dapat ditentukan dengan rumus apapun. Penderita dengan mioglobinuria
menyebabkan urinnya berwarna merah anggur, dan langkah resusitasi termasuk pengeluaran urin
75 100 ml/jam. Selain itu, urin harus diubah menjadi basa. Bila urin tidak segera bening atau
pengeluaran urin rendah, maka dapat diberikan suntikan manitol. Pasien yang gagal merespon
setelah diberi manitol mungkin membutuhkan amputasi darurat dan pembersihan jaringan
nonviabel. Jaringan yang terbakar listrik sebaiknya diperiksa viabilitas otot.
Otot jantung, juga rentan trauma arus listrik. Elektrokardiogram harus dilakukan untuk
mengetahui kerusakan jantung dan pemantauan jantung yang terus menerus diperlukan untuk

diagnosis dan merawat aritmia. Kerusakan neurologi terutama terjadi pada medulla spinalis.
Arus yang melalui kavitas peritoneum dapat menyebabkan kerusakan saluran cerna.
Perawatan luka bakar listrik yang tepat mengikuti prinsip perawatan umum luka bakar
atau luka yang besar. Dengan kehilangan jaringan yang masif atau amputasi jaringan yang besar,
mungkin diperlukan rekonstruksi dengan flap otot atau miokutis.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadsyah I, Prasetyono TOH. Luka. Dalam: Sjamsuhidajat R, de Jong W,


editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005. h.
73-5.
Brunicardi FC. Schwartzs Principles of Surgery: Burns. 9th ed. United States of America: The
McGraw-Hills Companies, Inc; 2010.

Gerard J. Tortora, Bryan H. Derrickson. 2009. Principles of Anatomy and


Physiology, 12th Edition. Canada: John Wiley & Sons.

Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGraw- Hill
Companies. New York. Hal 245-259.

Heimbach DM, Holmes JH. Burns. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL,
Hunter JG, Pollock RE, editors. Schwartzs principal surgery, 8th ed. USA: The McGrawHill Companies; 2007.

Idris, A.M. Luka Bakar dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi pertama, Jakarta : PT
Binarupa Aksara;1997
James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartzs Principles of Surgery. 18th
ed. McGraw-Hill. New York. Hal 189-216.

Jeschke MG, Mlcak RP, Finnerty CC, Nor bury WB. Burn size determines the inflamma- tory
and hypermetabolic response. Crit Care J. 2007;11(1):1-11

Naradzay JFX, Alson R. Thermal burns. Dalam: Slapper D, Talavera F, Hirshon JM, Halamka J,
Adler J, editors. Diunduh dari http://www.emedicinehealth.com. 25 Maret 2014.

Williams NS, Bulstrode CJK, OConnell PR. Bailey & Loves Short Practice of Surgery: Burns.
26th ed. London: CRC Press; 2012

Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC. Jakarta.
Hal 66-88.