Anda di halaman 1dari 17

PARADIGMA SAINS MODERN DAN SAINS BARU

Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang


merupakan kata serapan dari bahasa Latin pada tahun 1483 yaitu paradigma yang
berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang
berarti untuk "membandingkan", "bersebelahan" (para) dan memperlihatkan
(deik)
Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap
diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif),
bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti
seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam
memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam
disiplin intelektual.
Istilah paradigm pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khun (1962)
dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Paradigma menurut
Thomas S. Kuhn (dalam Surajiyo, 2007) adalah suatu asumsi dasar dan asumsi
teoretis yang umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga menjadi suatu
sumber hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat
menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.
Scott mengartikan paradigma Kuhn sebagai :
a. an achievement, a new, accepted way of solving a problem which then is
used as a model of future work;
b. a set of shared values, the methods, standard and generalizations shared
by those trained to carry on the scientific work modeled on that paradigm.
Dengan
mensistesiskan

maksud

lebih

pengertian

memperjelas
yang

lagi, George

Ritzer mencoba

dikemukakan

oleh Kuhn,

Mastermann danFriedrich, dengan pengertian paradigma sebagai berikut:


Pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok
persoalan yang semestinya oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (diciplin)
Bertolak dari berbagai pengertian yang telah dikemukakan di atas,
pengertian paradigma oleh mereka tampaknya diberatkan pada beberapa unsur,
yaitu :

1. Sebagai pandangan mendasar sekelompok ilmuwan;


2. objek ilmu pengetahuan yang seharusnya dipelajari oleh suatu displin;
dan
3. metode kerja ilmiah yang digunakan untuk mempelajari objek itu.
Thomas Kuhn telah menggunakan sejarah sebagai dasar untuk menyusun
gagasan paradigmanya. Sejarah telah membantunya untuk menemukan konstelasi
fakta, teori, dan metode-metode yang tersimpan di dalam buku-buku teks sains.
Dengan jalan begitu, Kuhn menemukan suatu proses perkembangan teori yang
kemudian disebutnya sebagai proses perkembangan paradigma yang bersifat
revolusioner. Inilah rangkaianshifting paradigma Khun:
P1 Ns A C R P2
P1 = adalah suatu simbol dari suatu paradigma yang telah ada dalam suatu
masyarakat sains
Ns = merupakan simbol dari pengertian Normal Science atau sains yang
normal. Sains yang normal adalah periode akumulasi ilmu pengetahuan, di mana
ilmuwan-ilmuwan berorientasi dan memegang teguh paradigma pendahulunya itu
(P1). Sains yang normal merupakan usaha untuk mewujudkan janji melalui
perluasan pengetahuan dan fakta-fakta, dengan menaikkan tingkat kecocokan
antara fakta-fakta yang diperoleh dengan prakiraan yang terkandung di dalam
paradigma pengetahuannya (P1). Sains yang normal, sering menekan hal-hal baru
yang fundamental, karena hal-hal baru yang fundamental itu akan meruntuhkan
paradigma pendahulunya (P1).
Keadaan ini tidak akan dapat bertahan secara terus-menerus. Gejalagejala baru yang tumbuh dan berkembang sebagai gejala alamiah, senantiasa akan
menjadi sebab yang menantang untuk meruntuhkan paradigma itu. Gejala-gejala
itu merupakan sebab dibutuhkannya penjelajahan-penjelajahan baru yang dapat
menanggapi gejala-gejala itu. Jika telah sampai pada periode ini, maka suatu
proses perkembangan sains segera berada pada periode anomali.
A= merupakan simbol dari pengertian anomali. Anomali adalah periode
pertentangan antara kelompok ilmuwan yang memegang teguh pencapaianpencapaian lama (P2) dengan ilmuwan-ilmuwan yang menanggapi kehadiran
gejala-gejala baru itu, dan karenanya mereka menghendaki perubahan-perubahan
dan perkembangan komitmen-komitmen baru, yang dapat digunakan untuk

menjawab tantangan-tantangan baru dari gejala itu. Sebab utama kehadiran


periode ini adalah gagalnya paradigma lama (P1) untuk memecahkan masalahmasalah baru yang hadir bersama gejala-gejala baru. Jika pertentangan ini
memuncak, maka proses perkembangan sains segera memasuki periode
terbarunya, yaitu periode krisis.
C= merupakan simbol dari pengertian krisis, yaitu suatu periode
perkembangan sains yang menunjuk pada kondisi pertentangan antara penganut
paradigma lama (P1) dengan kelompok yang menghendaki perubahan terhadap
paradigma lama.
Krisis ini akan diakhiri oleh munculnya teori baru yang ditandai oleh
suatu proses penggantian kedudukan yang radikal, yaitu revolusi sains.
R = merupakan simbol dari pengertian revolusi sains, yaitu periode
munculnya teori baru yang secara radikal menggantikan teori lama. Revolusi sains
dibuka oleh kesadaran yang semakin tumbuh yang ditandai oleh pandangan
subdivisi masyarakat sains yang cenderung bersifat sempit, yaitu tidak
difungsinya lagi paradigma lama. Karenanya paradigma lama harus digantikan
oleh paradigma baru. Bertolak dari dasar proses ini maka lahirlah paradigma baru
(P2).
P2 = merupakan simbol dari pengertian Paradigma baru, yaitu paradigma
hasil revolusi sains yang menggantikan kedudukan paradigma lama (P1).
Berdasarkan karakter proses ini maka ciri untuk menentukan standar revolusi
sains adalah ada atau tidaknya penerobosan terhadap suatu komitmen sains yang
normal. Ciri lainnya adalah ada tidaknya anomali, krisis dan akhirnya pergantian
kedudukan terhadap suatu teori lama. Menurut Kuhn, revolusi sains tidak selalu
merupakan gejala eksplisit yang tegas.
Terdapat 3 paradigma sebelum munculnya sains baru yang menjelaskan tentang
ilmu pengetahuan
Moral-Teologikal
(Aristotelian)

Mengacu pada pemikiran Aristoteles. Aristoteles lahir di Stagira, Yunani


Utara dari ayah seorang dokter di Macedonia. Pada usia 18 tahun
Aristoteles belajar di Akademi Plato di Athena dan tetap di akademi ini
sampai meninggalnya Plato, kemudian kembali ke Athena mendirikan
sekolah Lyceum.

Berpangkal pada pandangan ontologik-metafisika.Pandangan ontologikmetafisika kental dengan pandangan idealistis dan teleologis.

Menurut Aristoteles, alam semesta merupakan suatu dunia ideal,


keseluruhan organis yang saling berhubungan, suatu sistem ide-ide (forms)
yang abadi dan tetap. Ketertiban alam telah ditetapkan sebelumnya (preestablished) yang semua realitas terpusat dan ditentukan, diprogram, dan
ditata oleh serba keserasian oleh sang pencipta. Keserasian yang sempurna
(perfect harmony), ini ditentukan oleh sang pencipta (teologik).

Rasional(Cartesian):

Mengacu pada pemikiran Rene Descartes


Rene Descartes adalah seorang filsuf dan ahli matematika Perancis yang
lahir di La Haye Touraine, anak keluarga bangsawan. Dia belajar ilmu
pasti dan filsafat Skolastik. Ia senang merantau antara lain ke Jerman,
Belanda, Italia, dan Perancis yang kemudian menemukan ketenangan dan
menetap di negeri Belanda sejak 1629-1649. Pada masa inilah Descartes
banyak menulis karya ilmiah sehingga terkenal dengan sebutan Cartesian.

Berpangkal pada rasio subjek. Rasio subjek menyatakan bahwa manusia


yang berfikir sebagai pusat dunia.

Menurut Rene Descartes, alam memiliki struktur matematis. Descartes


menolak semua kebenaran apabila tidak dapat dideduksi dengan prinsip
matematika yang berangkat dari pengertian-pengertian umum yang
kebenarannya tidak dapat diragukan (clear and distinct). Semua fenomena

alam dapat dijelaskan dengan cara deduksi matematika. Descartes telah


mematematikakan

alam

dan

berkesimpulan

bahwa

alam

raya

(makrokosmos) adalah mesin raksasa. Alam bekerja sesuai dengan hukumhukum mekanik. Segala sesuatu dalam alam materi dapat diterangkan
sebagai tatanan dan gerakan dari bagian-bagianya. Kehidupan dan
spiritualitas dalam alam raya tidak ada tujuan. Adapun manusia
(mikrokosmos) juga seperti itu yang di dalamnya terdapat unsur ruh dan
tubuh. Cara pandang dualisme seperti ini pada gilirannya menciptakan
pola pikir yang serba dikotomis melalui logika biner.
Saintifik(Galilean)

Mengacu pada pemikiran Galileo Galilei. Galileo Galilei lahir di Pisa,


Italia. Ia belajar dan kemudian mengajar di Universitas Pisa. Beberapa
tahun kemudian ia bergabung dengan Universitas Padua dan menetap di
sana hingga 1610. Pada masa inilah produktivitas temuan ilmiah Galileo
tersalurkan.

Berpangkal pada pandangan ontologik-metafisika. Pandangan ontologimetafisika Galileo dapat digambarkan bahwa alam semesta tidaklah
harmoni, serasi, selaras, dan seimbang, melainkan terdiri dari unsur-unsur
yang beragam dan penuh kesemrawutan - Menurut Galileo Galilei, alam
semesta tidaklah harmoni, serasi, selaras, dan seimbang, melainkan terdiri
dari unsur-unsur yang beragam dan penuh kesemrawutan (chaos),
bagaikan keberserakan dedaunan yang terjatuh dari pepohonan di musim
gugur. Kesemrawutan seperti ini merupakan koreksi total atas peradaban
manusia yang terjadi selama hampir 19 abad, tidak bergeming dari
pengaruh paradigma normative-teologik-kausatif Aristotelian. Galileo
menetapkan paradigma yang berbeda. Secara cerdas dan cermat Galileo
menetapkan fenomena dan pengamatan empiris sebagai titik tolak ilmu
pengetahuan. Ia meralat teori Aristoteles yang mengajarkan bahwa benda
yang lebih berat, membutuhkan waktu jatuh lebih cepat dari pada benda
yang lebih ringan. Melalui eksperimen, Galileo berkesimpulan bahwa

benda ringan dan benda berat jatuh pada kecepatan yang sama kecuali
sampai batas mereka berkurang kecepatannya akibat pergeseran udara
Persamaan Ketiga Paradigma :

Sama-sama membahas tentang alam

Ketiga paradigma tersebut sama-sama tidak membenarkan bahwa ilmu


pengetahuan tidak lebih unggul dari agama.

Merupakan pemikiran tentang keseimbangan antara Tuhan, alam dan


manusia
Sains modern yang diprakarsai oleh Cartes dan Newton dimulai dari abad

ke 17 hingga akhir abad ke 20. Memasuki abad ke 20, orang-orang melihat


rusaknya lingkungan akibat ternyadinya eksploitasi secara berlebihan, melihat
fenomena yang nyata dan alami ini berlawanan dengan paradiogma yang ada
sehingga penerapan paradigm yang lama (paradigm sains modern) diaggap tak
lagi sesuai untuk diterapkan sehingga terjadinya perubahan atau pergeseran
paradigm dari paradigm sains modern ke paradigm sains baru yang diprakarsai
oleh Capra. Dalam Paradigma Sains baru ini memiliki konsep holistic sehingga
dianggap manusia merupakan bagian dari ekosistem, bukan bagian terpisah yang
dapat memanfaatkan lingkungannya hanya demi keuntunggannya, sehingga
dengan merasa sebagai bagian dari ekosistem diharapkan orang-orang akan lebih
arif dalam menggunakan lingkungan sekitar agar tidak membawa dampak yang
buruk bagi manusia itu sendiri

CARA BERFIKIR SAINS BARU & MODERN, PERTENTANGANNYA


SERTA PERBEDAANNYA
SAINS MODERN
Sains modern diidentikkan dengan paradigm deterministic, yang dapat
pula disebut paradigma Cartesian dan Newtonian (mengacu pada Rene Descartes

dan Issac Newton). Ada 6 macam asumsi paradigma Cartesian-Newtonian yang


dapat dilihat, yakni:
1. Subjektivisme-Antroposentristik
Dalam hal ini, manusia dipandang sebagai pusat dunia. Descartes melalui
pernyataanya cogito ergo sum, mencetuskan kesadaran subjek yang terarah pada
dirinya sendiri, dan ini adalah basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal
di luar diri si subjek. Selain itu, subjektivisme ini juga tampak pada pandangan
Francis Bacon mengenai dominasi manusia terhadap alam. Letak subjektivisme
Newton ada pada ambisi manusia untuk menjelaskan seluruh fenomena alam raya
melalui mekanika yang dirumuskan dalam formula matematika.
2. Dualisme
Pandangan mengenai dualisme ini tampak pada pemikiran Descartes.
Dalam hal ini, realitas dibagi menjadi subjek dan objek. Subjek ditempatkan
sebagai yang superiortas atas objek. Dengan ini, manusia (subjek) dapat
memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia.
Subjek pun dapat mengukur objek tanpa mempengaruhi dan tanpa dipengaruhi
oleh objek. Paham dualisme ini kemudian mempunyai konsekuensi alamiah
dimana seolah-olah menghidupkan subjek dan mematikan objek. Hal
didasarkan pada pemahaman bahwa subjek itu hidup dan sadar, sedangkan objek
itu berada secara diametral dengan subjek, sehingga objek haruslah mati dan tidak
berkesadaran.
3. Mekanistik-deterministik
Alam raya dipandang sebagai sebuah mesin raksasa yang mati, tidak
bernyawa dan statis. Malahan, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek lalu
dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum matematika yang
kuantitatif, termasuk tubuh manusia.
Dalam pandangan mekanistik ini, realitas dianggap dapat dipahami dengan
menganalisis dan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu

dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil dari penyelidikan terhadap


bagian-bagian yang kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Dengan
demikian, keseluruhan itu berarti sama atau identik dengan penjumlahan atas
bagian-bagiannya.
Pandangan yang deterministik juga tampak pada sikap dimana alam
sepenuhnya itu dapat dijelaskan, diramal, dan dikontrol berdasarkan hukumhukum yang deterministic (pasti) sedemikan rupa sehingga memperoleh kepastian
yang setara dengan kepastian matematis. Dengan kata lain, masa depan suatu
system, pada prinsipnya dapat diprediksi dari pengetahuan yang akurat terhadap
kondisi system itu sekarang. Prinsip kausalitas pada dasarnya merupakan prinsip
metafisis tentang hukum-hukum wujud. Determinisme ini juga didukung oleh
Laplace. Ia mengatakan bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan setiap
partikel di alam semesta, kita akan dapat/sanggup memprediksi semua kejadian
pada masa depan.
4. Reduksionis
Dalam hal ini, alam semesta hanya dipandang sebagai mesin yang mati,
tanpa makna simbolik dan kualitatif, tanpa nilai, tanpa cita rasa etis dan estetis.
Paradigma ini memandang alam raya ( termasuk di dalamnya realitas
keseluruhan) tersusun/terbangun dari balok-balok bangunan dasar materi yang
terdiri dari atom-atom. Perbedaan antara materi yang satu dengan lainnya
hanyalah soal beda kuantitas dan bobot. Selain itu, pandangan reduksionis ini
berasumsi bahwa perilaku semua entitas ditentukan sepenuhnya oleh perilaku
komponen-komponen terkecilnya.
Pada jaman phytagoras maupun Plato, matematika itu mempunyai symbol
kualitatif. Namun pada masa modern ini, matematika hanya dibatasi pada soal
numeric-kuantitatif, unsure-sunsur simbolik ditiadakan.
5. Instrumentalisme

Focus pertanyaan di sini adalah menjawab soal bagaimana dan bukan


mengapa. Newton bersikukuh dengan teori gravitasi karena ia sudah dapat
merumuskannya secara matematis meskipun ia tidak tahu mengapa dan apa
penyebab gravitasi itu. Yang lebih penting menurutnya adalah dapat
mengukurnya, mengobservasinya, membuat prediksi-prediksi berdasarkan konsep
itu, daripada soal menjelaskan gravitasi.
Modus berpikir yang instrumentalistik ini tampak pada kecondongan
bahwa kebenaran suatu pengetahuan atau sains itu diukur dari sejauh mana hal itu
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan/kepentingan material dan praktis.
Semuanya diarahkan pada penguasaan dan dominasi subjek manusia terhadap
alam.
6. Materialisme-saintisme
Saintisme

adalah

pandangan

yang

menempatkan

metode

ilmiah

eksperimental sebagai satu-satunya metode dan bahasa keilmuan yang universal


sehingga segala pengetahuan yang tidak dapat diverifikasi oleh metode tersebut
dianggap tidak bermakna. Pada Descartes, Tuhan itu bersifat instrumentalistik
karena sebagai penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas
eksternal. Pada Newton, Tuhan hanya diperlukan pada saat awal pencitpaan.
Tuhan menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan antar partikel, hukum gerak
dasar, dan sesudah tercipta lalu alam ini terus bergerak seperti sebuah mesin ayng
diatur oleh hukum-hukum deterministic.
Bagi kaum materialis, pada prinsipnya setiap fenomena mental manusia
dapat ditinjau dengan menggunakan hukum-hukum fisikal dan bahan-bahan
mentah yang sama, yang mampu menjelaskan fotosintesis, nutrisi, dan
pertumbuhan.
Ada 3 pilar utama Sains Modern yang telah menggantikan sistem AristotelianPtolemeus yang berbau mistik neoplatonis dan teologi kristiani, yaitu:

1. Reduksionisme, yaitu faham yang melihat segala sesuatu terdiri atas bagianbagian. Menurut faham ini pemahaman terhadap setiap bagian akan
memberikan gambaran komprehensif tentang sesuatu itu.
2. Determinisme, yaitu faham yang meyakini bahwa semesta bekerja menurut
hukum sebab akibat yang pasti.
3. Objektivisme, yaitu faham yang meyakini kebenaran bersifat objektif, tidak
tergantung kepada pengamat dan cara mengamati. Sains Modern yang
dikenal dengan Newtonian memandang alam semesta tidak lebih dari
suatu sistem mekanis yang tunduk pada hukum-hukum matematika yang
pasti. Semua hal dapat diprediksi secara kuantitatif, sehingga tidak
menyisakan sedikitpun ruang bagi

pertimbangan-pertimbangan yang

bernuansa kualitatif termasuk mental spiritual.


Sains Modern telah memberikan sumbangan besar bagi peradaban manusia,
namun dibalik itu semua dirasakan adanya kehampaan makna dan kekosongan
bagi sebagian besar umat manusia. Peradaban yang dihasilkan dari Sains Modern
tidak dapat dipungkiri telah sangat berhasil menggunakan secara optimal potensi
rasio manusia, namun disisi lain Sains Modern telah menjauhkan diri dari hal
lainnya yang lebih kaya dan bermakna. Ilmu pengetahuan dan teknologi di era ini
sangat begitu maju, namun disisi lain membuat manusia terasing dengan
lingkungannya, bahkan tidak mengenal dengan dirinya sendiri. Hal ini mendorong
manusia untuk kembali meneruskan pencariannya.

SAINS BARU
Dalam paradigm deterministic dijelaskan bahwa bahwa manusia
merupakan pusat dunia dan alam raya tak lain adalah mesin raksasa. Prinsip ini
juga mempunyai ciri dominasi manusia terhadap alam raya. Paradigma CartesianNewtonian disatu sisi berhasil mengembangkan sains dan teknologi yang
memudahkan kehidupan manusia, namun di sisi lain mereduksi kompleksitas dan
kekayaan manusia itu sendiri. Pandangan Cartesian Newtonian ini turut
berkontribusi menimbulkan krisis ekologi. Pandangannya yang mekanistik
terhadap alam telah melahirkan pencemaran udara, air, tanah yang mengancam

balik kehidupan manusia. Paradigma ini menimbulkan sikap-sikap yang


antiekologis. Manusia modern secara sadar atau tidak menganut paradigma
Cartesian-Newtonian sebagai bagian, cara dan berada dalam sistem, pola serta
dinamika modernisme.
Sains Modern sangat mencengangkan karena telah menyingkap banyak dari
rahasia alam semesta, namun disisi lain banyak juga menghasilkan dampak
negatif.
Beberapa penemuan sains telah memperingatkan kita untuk meninjau
kembali

/merevisi

pilar-pilar

paradigma

Sains

Modern.

Teori

Chaos

memperingatkan kita bahwa kita harus memperhatikan perubahan-perubahan kecil


karena memiliki potensi nyata untuk mengubah masa depan suatu sistem.
Butterfly Effect (Efek sayap kupu-kupu), adalah istilah dalam "Teori Chaos"
(Chaos Theory) yang berhubungan dengan "ketergantungan yang peka terhadap
kondisi awal" (sensitive dependence on initial conditions), dimana perubahan
kecil pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan
perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Istilah yang pertama kali dipakai oleh
Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap
kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di
Texas beberapa bulan kemudian.
Semesta terbukti tidak linear dan saling terkait satu dengan yang lainnya
secara dinamis. Semesta juga bersifat partisipatif sekaligus tertutup. Semesta
hanya mau menjawab pertanyaan sesuai dengan cara yang kita ajukan, tetapi
menyembunyikan yang lainnya. Fakta ini membuat metode penelitian
membutuhkan revisi mendasar, meninggalkan pendekatan interogatif dan
menggantikannya dengan pendekatan keterlibatan/dialogis. Pendekatan ilmiah
pun sudah saatnya dilengkapi dengan pendekatan lain yang bersifat kualitatif, agar
kita dapat memanfaatkan secara optimal potensi kemanusiaan kita, seperti emosi,
intuisi, kemampuan spiritual dan kesadaran transendental.
Paradigma sains baru merupakan jawaban dari hasil temuan-temuan baru,
diharapkan dapat menghadirkan dimensi baru yang akan memperkaya makna
kehidupan serta mengantarkan kita untuk lebih dekat dengan hakikat realitas alam
semesta.

Ada dua alternatif paradigma Sains Baru yaitu paradigma Holisme-Dialogis


dan paradigma digitalis-informatisme.
Pada kesempatan ini akan difokuskan pada paradigma Holisme-Dialogis
yang merupakan jawaban langsung dari runtuhnya paradigma Newtonian. 3 Pilar
utama yang menunjang paradigma ini adalah:
1. Holisme-interkoneksitas
2. Probabilisme
3. Kontekstualisme
Sehingga muncullah paradigm sains baru yaitu paradigm holistic. Istilah
holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik
memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif,
afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat
dengan lingkungannya.
Adapun karakter paradigm Holistik :
Karakter pertama dalam sistem paradigma holistik-dialogis adalah
pandangan ontologis yang mendekonstruksi realitas yang padat, beku dan statis.
Sistem paradigma holistik-dialogis membalikkan skema metafisika Aristotelean.
Karakter kedua filsafat holistik-dialogis adalah sibernetik ekologis.
Maksudnya adalah sebagai suatu pandangan yang memperlakukan alam raya
sebagai sistem hidup yang memiliki sistem pengendalian dan pengaturan diri.
Karakteristik

ketiga

paradigma

holistik-dialogis

berkaitan

dengan

pandangan antropologisnya bahwa subjek merupakan pengertian yang


berkorelasi dengan subjek-subjek lain.
Keempat, paradigma holistik juga berkarakter realis pluralis, kritis
konstruktif, dan sintesis-dialogis. Oleh karena dibangun atas dasar dialog dan
sintesis, maka paradigma holistik ini dapat berdialog dengan pelbagai wilayah
peradaban manusia, seperti dunia sains, kebudayaan kontemporer dan realitas
kehidupan global dengan segenap problematikanya.
Jadi, terdapat dua paradigma, yang pertama paradigma mekanik.
Paradigma ini di satu sisi berhasil mengembangkan dunia sains sehingga
mempermudah kehidupan manusia, namun di lain sisi mereduksi kompleksitas
dan kekayaan kehidupan manusia itu sendiri. Pendekatan persoalan melalui
paradigma ini cenderung bersifat sebagian;

Yang kedua, paradigma holistik (Capra 1982) merupakan paradigma baru


yg digunakan untuk mengembangkan teori, ilmu, pengetahuan, praktek dan pola
fikir untuk memecahkan masalah kerusakan sumber daya dan pencemaran
lingkungan yg meluas. Paradigma ini hadir sebab paradigma lama (Cartesian)
dipandang tidak memadai lagi untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan
yg dihadapi masyarakat modern.
SAINS MODERN VS SAINS BARU
Perbandingan Sains Modern dan Sains Baru
Pilar Utama
3 Pilar utama

Sains Modern
Reduksionisme

Sains Baru
Holisme-interkoneksitas

Determinisme

Probabilisme

Objektivisme

Kontekstualisme

Objektivisme
Objektivisme merupakan konsekuensi logis paham dualisme yang
membagi alam semesta menjadi subjek dan objek yang saling terpisah secara
absolut. Subjek dalam hal ini manusia dapat mengamati, mengukur, dan
memahami objek sebagaimana adanya, tanpa pengaruh atau dipengaruhi oleh
objek. Hasil pengamatan itu sendiri bersifat objektif, dalam arti bukan
merupakan hasil konstruksi mental manusia dan juga tidak dipengaruhi oleh
proses pengamatan. Dengan demikian realitas atau kebenaran yang ditemukan
bersifat absolut. Artinya jika sesuatu telah diterima atau dianggap benar,
maka semua yang tidak sesuai atau serupa dengannya pastilah salah.
Agar dapat menghasilkan kebenaran ilmiah, proses pengamatan harus
dilakukan berdasarakan metode ilmiah yang shahih. Jika tidak, hasil yang
diperoleh harus ditolak. Inilah yang kemudian dikenal sebagai paham
Materialisme-Saintisme (materialisme ilmiah) yang menjadi acuan dalam
penelitian-penelitian yang memberikan kontribusi kepada kemajuan sains
seperti yang kita lihat sekarang. Walaupun perlu digarisbawahi, bahwa tidak
sedikit pula temuan ilmiah yang tidak diperoleh melalui metode ilmiah.
Kontekstualisme
Kontekstualisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kebenaran
tidaklah bersifat objektif. Kebenaran sangat tergantung pada pengamat dan

cara mengamati. Artinya bersifat kontekstual. Doktrin ini mengantar kita


kepada simpulan bahwa tidak ada kebenaran absolut karena semuanya
tergantung kepada cara pandang atau paradigma yang kita anut.
Kontekstualisme merupakan salah satu pilar utama dari paradigm
Holisme-Dialogis yaitu salah satu paradigma Sains Baru. Kontekstualisme
sebagai pengganti dari objektivisme pada paradigma Newtonian.
Realitas sangat tergantung kepada posisi dan cara kita mengamatinya.
Tidak terdapat kenyataan objektif yang menunggu untuk diungkapkan
rahasianya. Tidak ada rumus yang tetap untuk menerangkan realitas. Yang ada
hanyalah apa yang kita ciptakan melalui hubungan manusia dengan manusia
dan dengan peristiwa. Dengan demikian segala sesuatu selalu baru dan unik
(Wheatley, 1999). Dengan kata lain, kenyataan hanya akan mewujud jika ada
pengamat. Tanpa kehadiran pengamat, tidak akan ada kenyataan. Kehadiran
pengamat akan meruntuhkan gelombang probabilitas menjadi kenyataan
tunggal.
Dengan demikian, penjelasan atau deskripsi ilmiah yang selama ini
diyakini bersifat objektif yaitu terlepas dari manusia yang mengamati dan
dari proses pengetahuan, tidak lagi dapat dipertahankan. Kesadaran baru
terhadap adalah bahwa epistemologi, pemahaman atas proses ilmu
pengetahuan, secara eksplisit tercakup ke dalam penjelasan terhadap
fenomena alam. Ini menunjukan bahwa realitas tergantung pada cara
pandang kita. Walaupun pada saat ini belum disepakati format epistemologi
yang tepat, namun mulai dapat diterima bahwa epistemologi harus menjadi
bagian integral dari setiap teori ilmiah(Capra, 1991).
Konsekuensi logis dari pergeseran yang dimaksudkan di atas adalah
bahwa semua penjelasan ilmiah bersifat perkiraan deskriptif bukan
merupakan kebenaran absolut sebagaimana yang diyakini dalam
paradigma Newtonian. Paradigma lama didasarkan pada keyakinan bahwa
pengetahuan ilmiah mampu mencapai kepastian yang mutlak dan final.
Sedangkan dalam paradigma baru, diakui bahwa semua konsep, teori, dan
hasil penyelidikan selalu terbatas dan hanya bersifat perkiraan.
Hak ini dapat mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa tidak ada
bentuk pengukuran yang netral, karena disadari bahwa semua objek
pengamatan, termasuk pengamatnya sendiri saling terkait dengan

objek yang lainnya. Kontekstualisme merupakan kepekaan terhadap


saling ketergantungan antara bagaimana segala sesuatu terlihat dan
lingkungannya yang menyebabkannya tampak demikian.
Perbandingan antara objektivisme dan kontekstualisme
Unsur
Filsafat Ilmu
Ontologi

Objektivisme

Kontekstualisme

Realitas berdasarkan objek. Kebenaran


bersifat absolut

penjelasan atau deskripsi ilmiah yang


selama ini diyakini bersifat objektif yaitu
terlepas dari manusia yang mengamati dan
dari proses pengetahuan

Epistemologi

Aksiologi

Subjek dalam hal ini manusia dapat


mengamati, mengukur, dan memahami
objek
sebagaimana
adanya,
tanpa
pengaruh atau dipengaruhi oleh objek.
Hasil pengamatan itu sendiri bersifat
objektif, dalam arti bukan merupakan
hasil konstruksi mental manusia dan juga
tidak dipengaruhi oleh proses pengamatan.
Agar dapat menghasilkan kebenaran
ilmiah,
proses
pengamatan
harus
dilakukan berdasarakan metode ilmiah
yang shahih. Jika tidak, hasil yang
diperoleh harus ditolak.
Ini membuat manusia merasa bebas untuk
mengamati semesta demi mendapatkan
pengetahuan yang diperlukan untuk
memanipulasi,
mengontrol
dan
memanfaatkannya. Dengan kata lain,
objektivisme mendorong lahirnya ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
yang
memberikan dominasi manusia terhadap

lingkungannya

bahwa kebenaran tidaklah bersifat


objektif. Kebenaran sangat tergantung
pada pengamat dan cara mengamati.
Artinya bersifat kontekstual
tidak ada kebenaran absolut karena
semuanya tergantung kepada cara
pandang atau paradigma yang kita anut
kenyataan hanya akan mewujud jika ada
pengamat. Tanpa kehadiran pengamat,
tidak akan ada kenyataan. Kehadiran
pengamat akan meruntuhkan gelombang
probabilitas menjadi kenyataan tunggal.
Realitas sangat tergantung kepada posisi
dan cara kita mengamatinya
Wujud
semesta/realitas
di
interpretasikan sesuai dengan persepsi
manusia yang dibentuk oleh akumulasi
pengalaman dan pengetahuan yang
dimiliki
Semesta sangat partisipatif

alam semesta terdiri dari unsur-unsur


yang
bertentangan
tapi
saling
melengkapi. Kedua kekuatan saling
bertentangan itu sebenarnya bersifat
komplementaris, saling melengkapi,
khususnya dilihat dari perannya untuk
menjaga keberlangsungan proses yang
menjadi sifat dasar semesta.
Kontekstualisme memberikan pelajaran
bahwa kita harus bisa menerima
perbedaan sudut pandang, kebenaran
tidak bersifat absolut karena tergantung
sudut pandang, oleh karena itu tidak ada
bentuk pengukuran yang netral, karena
disadari
bahwa
semua
objek
pengamatan, termasuk pengamatnya
sendiri saling terkait dengan objek

yang
lainnya.
Kontekstualisme
merupakan kepekaan terhadap saling
ketergantungan antara bagaimana
segala
sesuatu
terlihat
dan
lingkungannya yang menyebabkannya
tampak demikian.

Suatu Paradigma dapat mempengaruhi cara berfikir seseorang, karena


paradigm dalam disiplin intelektual merupakan cara pandang seseorang terhadap
diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berfikir, bersikap, dan
bertingkah laku. Suatu paradigm mempengaruhi seseorang biasanya lebih kuat
berasal dari lingkungan sekitar tempat orang tersebut, sesuai dengan shifting
Khun dituliskan pula P1 yang merupakan symbol dari suatu paradigm yang telah
ada dalam suatu masyarakat SAINS. Jadi, paradigm dalam suatu masyarakat akan
mempengaruhi cara berfikir orang-orang dalam masyarakat tersebut, namun tidak
menutup kemungkinan akan terbentuknya paradigm baru atau pergeseran
paradigm, hal ini bergantung aoakah terjadi anomaly atau pun paradigm yang dulu
dianggap sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan sehingga terjadilah pergeseran
dari paradigm lama ke paradigm baru yang dianggap lebih sesuai untuk
diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Firdaus,

Azhar. 2015. Paradigma Cartesian-Newton dan Krisis Ekologis.


https://www.academia.edu/2397761/PARADIGMA_CARTESIAN-NEWTON
DAN_KRISIS_EKOLOGIS. Diakses pada 12 februari 2015 pukul 15.31 WITA.

Saefudin,Imron.
2015.
Paradigma
Holistik.
https://www.academia.edu/2008966/
Paradigma_Holistik. Diakses pada 12 februari 2015 pukul 15.33 WITA.
Soparie, Hery. 2015. Sains Modern vs Sains Baru. https://www.academia.edu/7212268
/Sains_Modern_versus_Sains_Baru. Diakses pada 12 februari 2015 pukul 15.34
WITA.
Usman, Halim. 2013. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains Thomas S. Khun.
http://pengetahuanhalimusman.blogspot.com/2013/12/peran-paradigma-dalamrevolusi-sains_19.html. Diakses pada 12 februari 2015 pukul 15.35 WITA.
Wikipedia. 2015. Paradigma. http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma. Diakses pada 12
februari 2015 pukul 15.30 WITA.
Winni, Triana. 2013. Mekanistik vs Holistik = Saling Menghargai. http://filsafat.
kompasiana.com/2013/11/02/mekanistik-vs-holistik-saling-menghargai604743.html. Diakses pada 12 februari 2015 pukul 15.32 WITA.