Anda di halaman 1dari 5

PENDIDIKAN DAN PERTUMBUHAN

ANAK TUNANETRA

Makalah untuk memenuhi tugas kelompok


dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

Anggota Kelompok :
1. Febriana Tri Kustiarini

K3314021

2. Luluk Nur Ahyar

K3314031

3. Pramudya Darmawan A. M.

K3314041

4. Rima Anjarwani

K3314047

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
2015

Hasil Observasi

Nama Guru

: Ibu Mila

Nama Siswa : Sheila


Sekolah

: SLB/A YKAB Surakarta

SLB/A YKAB Surakarta adalah salah satu sekolah luar biasa yang
membimbing anak berkebutuhan khusus yang mengalami cacat pengelihatan
terletak di kota Surakarta tepatnya di Jagalan, Jebres, Surakarta. Sekolah tersebut
terdiri dari jenjang sekolah SMA, SMP dan SD. Siswanya berjumlah sekitar 50
siswa.
Metode pembelajaran anak tunanetra berbeda dengan anak normal, anak
tunanetra banyak menggunakan metode ceramah dan banyak dilakukan praktik,
karena dalam pembelajaran anak tunanetra itu harus konkrit. Dan sekarang sudah
dikembangkan metode pembelajaran MDBI yang diperuntukkan oleh anak yang
mengalami cacat ganda, misalnya ada anak tunanetra disertai kurang pendengaran,
tunanetra disertai lambat belajar perlu adanya metode pembelajaran yang konkrit
dan perlu banyak menggunakan alat peraga. Bahkan kadang akan dibawakan
barang nyata untuk proses pembelajaran. Seperti saat mengajarkan tentang hewan
ayam maka akan dibawakan hewan ayam yang asli agar bisa diraba oleh anak
tunanetra.
Dalam pembelajaran anak tunanetra pembelajaran yang dilakukan
disesuakian dengan kemampuan anak, jika dirasa anak kurang mengerti maka
pelajaran tersebut akan disampaikan kembali. Dalam sekolah tersebut juga di
ajarkan pelajaran Bina Diri yang mencakup kemampuan dalam mengenakan
pakaian, memakai sepatu, melepas kancing baju dan lain-lain. Ini dimaksudkan
agar anak tunanetra tetap mampu mandiri tidak selalu bergantung pada orang lain.
Di sekolah luar biasa ini terutama di kelas ganda diutamakan agar anak bisa
merawat dirinya sendiri dulu. Dalam pembelajaran anak tunanetra juga

diperkenalkan Orientasi Moblitas (OM) yang bertujuan untuk memperkenalkan


anak dengan lingkingan kuar, misalnya sekolah, pasar,warung, cara menyeberang,
naik bus dan lain sebagainya. Dalam sekolah tersebut kelas untuk anak tunanetra
dengan anak yang mengalami cacat ganda dipisahkan.
Dalam sekolah tersebut ,anak tunanetra yang masih duduk di kelas 1 atau 2
diperkenalkan terlebih dahulu membaca dan menulis braille serta diajarkan cara
memegang pena yang benar yang digunakan sebagai dasar bagi mereka
kedepannya. Dalam pembelajaran anak tunanetra menggunakan alat tersendiri,
seperti reglet dan pena sebagai alat tulis, abacus sebagai alat bantu hitung, mesin
tik braile, kertas braile dan masih banyak lagi. Untuk memberikan tugas atau PR
kepada anak materi atau tugas tersebut harus diketik dengan mesin tik braille
terlebih dahulu dan anak dapat menjawabnya di kertas braille dengan
menggunakan reglet dan pena.
Ketika membaca reglet menggunakan aturan negatif yaitu untuk
membacanya perlu dibalik terlebih dahulu tetapi untuk mesin ketik menggunakan
aturan positif. Dalam menulis huruf Braille digunakan enam titik yang digunakan
sebagai patokan untuk menulis titik lainnya (huruf lainnya), sedangkan untuk
menulis angka ada tandanya tersendiri yang disebut tanda angka. Tanda angka
tersebut terletak pada titik ke tiga,empat,lima dan enam.
Anak-anak tunanetra juga sering diikut sertakan dalam perlombaan, seperti
lomba kesenian dengan menyanyi, lomba dalam bidang studi dan lomba olahraga
biasanya catur. Untuk anak-anak tunanetra yang sekiranya mampu maka dapat di
inklusikan.
Dalam sekolah tersebut juga terdapat accessbility yaitu jalan yang dibuat
khusus untuk anak tunanetra, digunakan sebagai petunjuk ruangan atau tempat-tempat
tertentu. Selain itu accesbilty juga terdapat di halaman sekolah yang digunakan sebagai
tempat baris berbaris ketika sedang dilaksanakan upacara sehingga mereka yang sedang
melakukan upacara dapat berbaris dengan rapi.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tunanetra tidak berbeda,kemampuan


yang dimiliki sama.

Ketika sedang melakukan ujian anak tunanetra didampingi oleh seorang


guru yang bertugas untuk membacakan soal dan menyalin jawaban yang telah
dijawab oleh sang anak. Anak menuliskan jawabanya terlebih dahulu
menggunakan huruf braile kemudian sang guru menyalinnya menjadi tulisan
normal.
Susunan meja didalam ruang kelas berbentuk leter U agar antar guru dank
didik dapat berinteraksi dengan baik. Ketika mengajar anak tunanetra tidak ada
jarak antara guru dan murid. Disini guru sudah menjadi orang tua sendiri bagi
sang anak. Ketika guru mengajar mereka sang guru banyak mencurahkan kasih
sayang kepada mereka sehingga anak menjadi lebih percaya diri dan tidak merasa
berbeda dengan orang lain.
Selain wawancara dengan guru pengajar kami juga mewawancarai anak
penyandang tunanetra. Anak tunanetra kebanyakan ingin bersekolah di sekolah
umum, akan tetapi karena anak penyandang tunanetra tersebut tidak dapat
mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh guru pendidik maka dipindahkan ke
sekolah luar biasa. Seperti salah satu siswa tunanetra kelas 4 yang bercerita bahwa
sebelumnya dia bersekolah di sekolah umum kemudian dia dipindahkan di SLB
karena disana dia tidak bisa mengikuti pembelajaran. Dan dia merasa kurang
nyaman bersekolah di SLB karena di SLB jumlah temannya sedikit, yaitu hanya 3
orang.
Disana juga ada beberapa guru yang menyandang tunanetra. Salah satunya
yaitu guru agama. Beliau juga penyandang tunanetra akan tetapi beliau masih bisa
sedikit melihat. Beliau menggunakan metode pembelajaran dengan ceramah dan
juga mengajarkan hafalan surat dalam Al-Qur`an dengan cara memperdengarkan
rekaman tilawah Al-Qur1an dari handphone. Sebenarnya sudah ada Al-Qur`an
dalam bentuk huruf braille akan tetapi menurut ibu guru dengan menggunakan AlQur`an huruf braille lebih sulit karena anak akan lebih susah menghafalkannya
karena anak hanya dapat meraba huruf tersebut, akan tetapi apabila dengan
menggunakan rekaman handphone anak akan mendapatkan ingatan yang lebih
kuat karena si anak juga mendengarkan lafal dari surat tersebut. Salah satu anak

penyandang tunanetra tersebut adalah Sheila. Anak tersebut selain menyandang


tunanetra juga memiliki kekuranggan dalam segi fisik dan mental. Disini sheila
memiliki mental yang dibawah rata-rata anak seumurannya dan sheila disini juga
tidak dapat berjalan. Sehingga sheila harus duduk dikursi roda atau kadang
digendong oleh orang tuannya.
Di SLB ini juga disediakan asrama untuk anak-anak yang rumahnya jauh
dari sekolah atau rumahnya berada diluar kota. Di asrama tersebut juga diterapkan
kepada anak-anaknya untuk menjalankan sholat secara berjamaah bagi anak-anak
yang beragama islam. Selain itu di asrama anak-anak juga setiap malamnya
melaksanakan belajar bersama. Dan untuk urusan pribadi anak akan diserahkan
pada anak tersebut seperti mencuci pakaian, maka anak penyandang tunanetra
diusahakan bisa mencuci baju mereka sendiri serta dalam urusan merapikan
tempat tidur juga diserahkan pada setiap anak penyandang tunanetra yang ada
dalam asrama tersebut.