Anda di halaman 1dari 24

NAMA

NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

RANGKUMAN TEORI- TEORI BELAJAR


A. TEORI BELAJAR THORNDIKE
1. Definisi Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike (Budiningsih, 2005: 21) belajar adalah proses interaksi
antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang
terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat
ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan
peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Dalam teori trial dan error ini, berlaku bagi semua organisme
dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru
maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan
yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya
disetiap stimulus itu pasti ditemui respon.
2. Ciri-ciri Belajar Menurut Thorndike
Adapun beberapa ciri-ciri belajar menurut Thorndike (Kartika, 2013: 6),
antara lain:
a. Ada motif pendorong aktivitas.
b. Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
c. Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d. Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
3. Hukum-hukum yang Digunakan Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa belajar pada hewan maupun manusia
berlangsung berdasarkan tiga macam hukum pokok belajar, yaitu :
a. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang
yang belajar harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak
belajar agar dalam belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk
memiliki kesiapan, baik fisik maupun psikis. Menurut Thorndike (Ayuni, 2011: 9)
ada tiga keadaan yang menunjukkan berlakunya hukum ini, yaitu :
a. Bila pada organisme adanya kesiapan untuk bertindak atau berprilaku, dan bila
organisme itu dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan
mengalami kepuasan.
b. Bila pada organisme ada kesiapan organisme untuk bertindak atau berperilaku,
dan organisme tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka
organisme akan mengalami kekecewaan.
c. Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu
dipaksa untuk melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang
tidak memuaskan.
b. Hukum Latihan (Law of Exercise)
Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk
merespon suatu stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan
latihan yang berulang-ulang, adapun latihan atau pengulangan perilaku yang
cocok yang telah ditemukan dalam belajar, maka ini merupakan bentuk
peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut semakin kuat (Law of
Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentransfer pesan yang telah ia
dapat dari sort time memory ke long time memory ini dibutuhkan pengulangan

NAMA
NIM
KELAS

c.

a.

b.

c.

d.

e.

4.
a.

c.

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang telah didapat tidak mudah hilang
dari benaknya.
Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum akibat Thorndike mengemukakan (Dahar, 2011: 18) jika suatu
tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan,
kemungkinan tindakan itu diulangi dalam situasi yang mirip akan meningkat.
Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh suatu perubahan yang tidak
memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu diulangi akan menurun.
Jadi konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu memegang peranan penting
dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Selain hukum pokok belajar tersebut di atas, masih terdapat hukum
subside atau hukum-hukum minor lainnya, yaitu :
Law of Multiple Response
Supaya sesuatu respons itu memperoleh hadiah atau berhasil, maka
respons itu harus terjadi. Apabila individu dihadapkan pada sesuatu soal, maka dia
akan mencoba-coba berbagai cara, apabila tingkah laku yang tepat (yakni yang
membawa penyelesaian atau berhasil) dilakukan maka sukses terjadi, dan proses
belajar pun terjadi. Hal tersebut akan berlaku sebaliknya.
Law of Attitude (Law of Set, Law of Disposition)
Respons-respons apa yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara
penyelesaian individu yang khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan
tertentu. Sikap (attitude) tidak hanya menentukan apa yang akan dikerjakan oleh
seseorang tetapi juga cara yang kiranya akan memuaskan atau tidak memuaskan
baginya. Proses belajar ini dapat berlangsung bila ada kesiapan mental yang
positif pada siswa
Law of Partial Activity (Law of Prepotency Element)
Pelajar dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan
yang ada dalam situasi tertentu. Manusia dapat memilih hal-hal yang pokok dan
mendasarkan tingkah lakunya kepada hal-hal yang pokok itu serta meninggalkan
hal-hal yang kecil.
Law of Response by Analogy (Law of Assimilation)
Orang bereaksi terhadap situasi yang baru sebagaimana dia bereaksi
terhadap situasi yang mirip dengan itu yang dihadapinya diwaktu yang lalu, atau
dia bereaksi terhadap hal atau unsur tertentu dalam situasi yang telah berulang kali
dihadapinya. Jadi, respons-respons selalu dapat diterangkan dengan apa yang telah
pernah dikenalnya, dengan kecenderungan asli yang berespons.
Law of Assosiative Shifting
Bila suatu respons dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian
perubahan -perubahan bahan dalam situasi yang merangsang, maka respons itu
akhirnya dapat diberikan kepada situasi yang sama sekali baru.
Prinsip-prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike
Pada saat berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon ia lakukan.
Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun
menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatlan respon
atau tindakan yang cocok dan
Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan,
sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya
tujuan yang ingin dicapai.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

d. Orang cenderung memberi respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti
apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia
mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang
sama karena hal yang sama maka tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti
yang ia lakuan seperti dahulu ia lakukan.
e. Orang cenderung menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu
tatkala menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut
mempunyai hubungan.
f. Manakala suatu respon cocok dengan situasinya maka relatif lebih mudah untuk
dipelajari.
5. Keunggulan-keunggulan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
1. Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang
bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya sehingga
orang akan terbiasa berpikir dan terbiasa mengembangkan pikirannya.
2. Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan,
anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan
adanya sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih
memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
6. Kelemahan-kelemahan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
1. Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka
disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis,
tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial
and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon.
Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut
dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus-menerus.
3.
Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak
dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan
pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan
kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi,
bereksperimentasi dan mengembangkan kemempuannya sendiri. Karena sistem
pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus
dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pelajar
kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri
mereka.
2.2. Penerapan Teori Thorndike dalam Pembelajaran Matematika
Setiap pembelajaran yang berpegang pada teori belajar behavioristik telah
terstruktur

rapi,

dan

mengarah

pada

bertambahnya

pengetahuan

pada

siswa.Penerapan yang sebaiknya dilakukan dalam pembelajaran matematika adlah


sebagai berikut:

NAMA
NIM
KELAS

a.

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Sebelum memulai proses belajar mengajar, pendidik harus memastikan siswanya


siap mengikluti pembelajaran tersebut. Jadi setidaknya ada aktivitas yang dapat
menarik perhatian siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

b.

Pembelajaran yang diberikan sebaiknya berupa pemebelajaran yang kontinu, hal


ini dimaksudkan agar materi lampau dapat tetap diingat oleh siswa.

c.

Dalam proses belajar, pendidik hendaknya menyampaikan materi matematika


denagn cara yang menyenangkan, contoh dan soal latihan yang diberikan tingkat
kesulitannya bertahap, dari yang mudah sampai yang sulit. Hal ini agar siswa
mampiu menyerap materi yang diberikan.

d.

Pengulangan terhadap penyampaian materi dan latihan, dapat membantu siswa


mengingat materi terkait lebih lama.

e.

Supaya peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran, proses hars bertahap
dari yang sederhana hingga yang kompleks.

f.

Peserta didik yang telah belajar dengan baik harus segera diberi hadiah, dan yang
belum baik harus segera diperbaiki.

g.

Dalam belajar, motivasi tidak begitu penting, karena perilaku peserta didik
terutama ditentukan oleh penghargaan eksternal dan bukan oleh intrinsic
motivation. Yang lebih penting dari ini ialah adanya respon yang benar terhadap
stimulus.

h.

Materi yang diberikan kepada peserta didik harus ada manfaatnya untuk
kehidupan anak kelak setelah dari sekolah

i.

Thorndike berpendapat, bahwa cara mengajar yang baik bukanlah mengharapkan


murid tahu bahwa apa yang telah di ajarkan, tetapi guru harus tahu apa yang
hendak diajarkan. Dengan ini guru harus tahu materi apa yang harus diberikan,
respon apa yang diharapkan dan kapan harus memberi hadiah atau membetulkan
respons yang salah.

j.

Tujuan pendidikan harus masih dalam batas kemampuan belajar peserta didik dan
harus terbagi dalam unit unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan
menurut bermacam macam situasi.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

B. Teori Belajar Pavlov dan Aplikasinya


a. Teori belajar Pavlov (Conditioning theory)
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.
b. Hukum-hukum belajar Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya :
1). Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika
dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi
sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2). Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika
refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan
kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
c. Aplikasi teori Pavlov
Aplikasi teori Pavlov terhadap pembelajaran siswa yaitu : mementingkan
pengaruh lingkungan, mementingkan bagian-bagian, mementingkan peranan
reaksi, mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur
stimulus respon, mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk
sebelumnya, mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan
pengulangan, hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang
diinginkan.
d. Kekurangan
Proses pembelajaran sangat tidak menyenangkan bagi siswa karena guru sebagai
sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan
menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, Perlu

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa
yang didengar dan dipandang sebagai belajar yang efektif. Guru tidak
memperhatikan individual-differences.
f. Kelebihan
Cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan
pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : kecepatan, spontanitas,
kelenturan, refleks, daya tahan dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa,
suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentukbentuk

penghargaan

langsung

seperti

diberi

permen

atau

pujian.

C.Teori Belajar B.F Skinner dan Aplikasinya


a. Sejarah Munculnya Teori Kondisioning Operan B.F Skinner
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu
keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. Skinner tidak
sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana
stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut
Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap
untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya.
b. Kajian Umum Teori B.F Skinner
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning
operan).

Pengkondisian

operan

adalah

sebentuk

pembelajaran

dimana

konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas


prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk
kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu
adalah sebagai berikut:
1. Belajar itu adalah tingkah laku.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan


adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi
lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya
dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya
di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi
yang di control secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya
sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya
tingkah laku.
Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua
bagian:
-

Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi

respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).


-

Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi

respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan


(tidak menyenangkan).
Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons,
diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf).
c. Prinsip Belajar Teori Belajar Skinner
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner
antara lain:
-

Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan,
jika benar diberi penguat.

Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini

lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.


-

Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya

Dalam pembelajaran, digunakan shaping.

d. Hukum-Hukum Teori Belajar Skinner


Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus
dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :
1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan
stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
2.

Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah


diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

e. Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran.


Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut:
-

Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.

Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan

dan jika benar diperkuat.


-

Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Materi pelajaran digunakan sistem modul.

Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.

Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.

Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari

pelanggaran agar tidak menghukum.


-

Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)

Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat

mencapai tujuan.
-

Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.

Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.

Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.

Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas

menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya.


Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru
berat, administrasi kompleks.
f.

Analisis Perilaku Terapan Dalam Pendidikan


Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk
mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting
dalam bidang pendidikan yaitu
1. Meningkatkan perilaku yang diinginkan.
2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
g. Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner
Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini
ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan
adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan
meminimalkan terjadinya kesalahan.
Kekurangan
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B.
G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa
lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii)

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran
peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan
dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang
sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajarmengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi
semakin berat.

D. TEORI BELAJAR BANDURA


1. Teori Pembelajaran Sosial
Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku
yang tradisional (behavioristik). Dalam pandangan belajar social manusia itu
tidak didorong oleh kekuatan kekuatan dari dalam dan juga tidak dipengaruhi
oleh stimulus stimulus lingkungan.
2. Teori Peniruan ( Modeling )
Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui
peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku ( modeling ). Dalam hal ini
orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh
bagi anak anak untuk menirukan tingkah laku membaca.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam
diri(kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah
mengemukakan teori pembelajaran peniruan, Berdasarkan teori ini terdapat
beberapa cara peniruan yaitu meniru secara langsung. Seterusnya proses peniruan
melalui contoh tingkah laku.. Proses peniruan yang seterusnya ialah elisitasi.
Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain.
3. Unsur Utama dalam Peniruan (Proses Modeling/Permodelan)
Menurut teori belajar social, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran
kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat
diringkas dalam 4 tahap , yaitu : perhatian / atensi, mengingat / retensi, reproduksi
gerak , dan motivasi.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

1) Perhatian (Attention)
Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya.
Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain
yang dimiliki.
2) Mengingat (Retention)
Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem
ingatannya.
3) Reproduksi gerak (Reproduction)
Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat
menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam
bentuk tingkah laku.
4) Motivasi
Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah
penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu.
4. Ciri ciri teori Pemodelan Bandura
a. Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan
b. Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain lain
c. Pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang didemonstrasikan guru
sebagai model
d. Pelajar memperoleh kemampuan jika memperoleh kepuasan dan penguatan yang
positif
e. Proses pembelajaran meliputi perhatian, mengingat, peniruan, dengan tingkah laku
atau timbal balik yang sesuai, diakhiri dengan penguatan yang positif
5. Eksperimen Albert Bandura
Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang
menunjukkan anak anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Eksperimen Pemodelan Bandura :
Kelompok A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul,
menumbuk, menendang, dan menjerit kearah patung besar Bobo.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Hasil = Meniru apa yang dilakukan orng dewasa malahan lebih agresif
Kelompok B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra
dengan patung besar Bobo
Hasil = Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A
Rumusan :
Tingkah laku anak anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah hasil
dari penguatan.
Hasil Keseluruhan Eksperimen :
Kelompok A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari orang dewasa.
Kelompok B tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif
6. Jenis jenis Peniruan (modelling)
Jenis jenis Peniruan (modeling):
1. Peniruan Langsung
Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling , yaitu suatu fase dimana
seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi
bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan.
2. Peniruan Tak Langsung
Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak
langsung.
3. Peniruan Gabungan
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang
berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung.
4. Peniruan Sesaat / seketika.
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja.
5. Peniruan Berkelanjutan
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun.
Hal lain yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai
prinsip prinsip sebagai berikut :
1.

Tingkat

tertinggi

belajar

dari

pengamatan

diperoleh

dengan

cara

mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

melakukannya2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan
nilai yang dimilikinya.
3. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model tersebut disukai dan
dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
7. Aplikasi Teori Belajar Bandura dalam Pembelajaran
Proses belajar masih berpusat pada penguatan, hanya terjadi secara langsung
dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Motivasi banyak ditentukan oleh
kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya.
8. Kelemahan Teori Albert Bandura
Teknik pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan
adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami
sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan
hanya melalui peniruan ( modeling ), sudah pasti terdapat sebagian individu yang
menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negative ,
termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.
9. Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya ,
karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan
melalui system kognitif orang tersebut. Pendekatan teori belajar social lebih
ditekankan pada perlunya conditioning ( pembiasan merespon ) dan imitation
( peniruan ). Selain itu pendekatan belajar social menekankan pentingnya
penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan anak anak. Penelitian ini
berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak anak, faktor social
dan kognitif.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

E. Teori Belajar Ausubel

1.

Pengertian Belajar Menurut Ausubel


Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi.

Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran


disajikan pada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua
menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur
kognitif yang telah ada. Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat
dikomunikasikan pada siswa baik dalam bentuk belajar penerimaan yang
menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupaun dengan bentuk belajar
penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau
seluruh materi yang akan diajarkan. Pada tingkat kedua, siswa menghubungkan
atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa konsep-konsep atau lainlain) yang telah dimilikinya; dalam hal ini terjadi belajar bermakna.
2.
I..

Prinsip dan Karakteristik belajar Menurut Ausubel


Belajar Bermakna
Inti dari teori Ausubel tentang belajar ialah belajar bermakna (Ausubel, 1996).

Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi


baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Peristiwa psikologi tentang belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi
baru pada pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif seseorang. Jadi,
dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsume-subsumer
relevan yang telah ada dalam struktur kognitif.
II.

Belajar Hafalan
Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan

atau subsumer-subsumer relevan, maka informasi baru dipelajari secara hafalan.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Bila tidak dilakukan usaha untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada


konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar
hafalan.
.
III.
Langkah-langkah Pembelajaran
Sebelum

dimulainya

suatu

proses

belajar, maka

penting

untuk

memperhatikan apa-apa saja yang telah diketahui siswa, sebab ini merupakan
faktor dalam mempengaruhi keberhasilan belajar. Untuk itu perlu dibuat langkahlangkah pembelajaran agar tidak terjadi kerancuan dalam kegiatan belajar. Berikut
merupakan langkah-langkah pembelajaran menurut teori Ausubel:
1.
2.

Menentukan tujuan pembelajaran.


Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awwal, motivasi, gaya

3.

belajar, dan sebagainya)


Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya

4.

dalam bentuk konsep-konsep inti.


Menentukan topik-topik dan menampilkanya dalam bentuk advance organizer

5.

yang akan dipelajari siswa.


Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk

6.

nyata/konkret.
Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
IV. Kegiatan Pembelajaran
Hakikat belajar merupakan suatu aktivitas yang berkaitan dengan
penataan informasi, reorganisasi, perceptual, dan proses internal. Berikut
merupakan bentuk kegiatan kegiatan pembelajaran:

1.
2.

Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya.
Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik,

3.

terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.


Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya
dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan

4.

dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.


Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan
pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si

pelajar.
5.
Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan
6.

menggunakan pola atau logika tertentu, dan sederhana ke kompleks.


Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal.

NAMA
NIM
KELAS

7.

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor
ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.

V.

Faktor - faktor yang Mempengaruhi Belajar Bermakna


Prasyarat-prasyarat dari belajar bermakna adalah sebagai berikut:

1.
2.

Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial


Anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar
bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna
Tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna. Banyak
siswa mengikuti pelejarn pelajaran yang kelihatannya tidak relevan dengan
kebutuhan mereka pada saat itu.
Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung pada dua
faktor :

1.
2.

Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis


Gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
Materi yang memiliki kebermaknaan logis merupakan materi yang
nonarbitrer ( materi yang konsisten dengan apa yang telah diketahui) dan
substantif ( materi itu dapat dinyatakan dalam berbagai cara tanpa mengubah arti
VI.

Kelebihan dari belajar menurut teori Ausubel


Menurut Ausubel dan juga Novak (1997), ada tiga kebaikan dari belajar

bermakna,yaitu:
1.
2.

Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.


Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari

subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi


pelajaran yang mirip.
3.
Informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif, meninggalkan efek
residual pada subsume, sehingga mempermudah belajar hal-hal yang mirip,
walaupun telah terjadi lupa.
F. TEORI BELAJAR GAGNE
1. Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan


lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu
seseorang. Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena
belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil
belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan
kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang.
Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar,
situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari
stimulasi
2. Sistematika Delapan Tipe Belajar
Menurut Robert M. Gagne, ada 8 tipe belajar, yaitu:
1. Tipe belajar tanda (Signal learning)
Belajar dengan cara ini dapat dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh
Pavlov. Semua jawaban/respons menurut kepada tanda/sinyal.
2. Tipe belajar rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)
Tipe ini hampir serupa dengan tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons
juga karena adanya dorongan yang datang dari dalam serta adanya penguatan
sehingga seseorang mau melakukan sesuatu secara berulang-ulang.
3. Tipe belajar berangkai (Chaining Learning)
Pada tahap ini terjadi serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah
bahwa suatu respons pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya
akan menimbulkan respons baru.
4. Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)
Tipe ini berhubungan dengan penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu
memberikan reaksi verbal pada stimulus/perangsang.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

5. Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)


Hasil dari tipe belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar
objek-objek yang terdapat dalm lingkungan fisik.
6. Tipe belajar konsep (Concept Learning)
Belajar pada tipe ini terutama dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau
pengertian tentang suatu yang mendasar.
7. Tipe belajar kaidah (RuleLearning)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan
beberapa konsep.
8. Tipe belajar pemecahan masalah (Problem solving)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk
memecahkan suatu permasalahan.
3. Sistematika Lima Jenis Belajar
Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe belajar,
dimana isinya merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan tipe
belajar.
Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah informasi verbal, kemahiran
intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
1. Informasi verbal (Verbal information)
Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam
bentuk bahasa, lisan, dan tertulis.
2.Kemahiran intelektual (Intellectual skill)
Yang dimaksud adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup
dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan
berbagai lambang/simbol (huruf, angka, kata, dan gambar).

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

3. Pengaturan kegiatan kognitif (Cognitive strategy)


Merupakan suatu cara seseorang untuk menangani aktivitas belajar dan
berpikirnya sendiri, sehingga ia menggunakan cara yang sama apabila
menemukan kesulitan yang sama.
4. Keterampilan motorik (Motor skill)
Adalah kemampuan seseorang dalam melakukan suatu rangkaian gerak-gerik
jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik
berbagai anggota badan secara terpadu.
5. Sikap (Attitude)
Merupakan kemampuan seseorang yang sangat berperan sekali dalam mengambil
tindakan, apakah baik atau buruk bagi dirinya sendiri.
4. Fase-Fase Belajar
Fase-fase belajar ini berlaku bagi semua tipe belajar. Menurut Gagne, ada 4
buah fase dalam proses belajar, yaitu:
1.

Fase penerimaan (apprehending phase)


Pada fase ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa
langkah.
2.

Fase penguasaan (Acquisition phase)

Pada tahap ini akan dapat dilihat apakah seseorang telah belajar atau belum
3.

Fase pengendapan (Storage phase)

Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat
digunakan bila diperlukan.
4.

Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)

Apa yang telah dipelajari, dimiliki, dan disimpan (dsalam ingatan) dengan maksud
untuk digunakan (memecahkan masalah) bila diperlukan.
5. Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran
1. Mengontrol perhatian siswa.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai hasil belajar yang


diharapkan guru.
3. Merangsang dan mengingatkan kembali kemampuan-kemampuan siswa.
4. Penyajian stimuli yang tak bisa dipisah-pisahkan dari tugas belajar.
5. Memberikan bimbingan belajar.
6. Memberikan umpan balik.
7. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memeriksa hasil belajar yang
telah dicapainya.
8. Memberikan kesempatan untuk berlangsungnya transfer of learning.
9. Memberikan kesempatan untuk melakukahn praktek dan penggunaan
kemampuan yang baru diberikan.

G. TEORI BELAJAR PIAGET


Menurut Piaget, intelegensi terdiri dari tiga aspek yaitu:
1. Struktur (structure)
Terbentuk dari hubungan fungsional anak antara tindakan fisik, tindakan
mental dan perkembangan berpikir logis anak dalam berinteraksi dengan
lingkungan

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

2. Isi (content)
Isi disebut juga dengan content, yaitu pola perilaku anak yang khas yang
tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi
yang dihadapi.
3.

Fungsi (function)
Fungsi adalah cara yang digunakan organisme dalam mencapai kemajuan
intelektual.
Menurut piaget perkembangan intelektual anak terdiri dari dua fungsi
yaitu

a.

Organisasi, yaitu kemampuan untuk mengorganisasi proses-proses fisik atau


proses-proses psikologi menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan.

b. Adaptasi, yaitu penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya.


Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus
baru dilakukan dengan dua cara yaitu:Pertama asimilasi
A. Tahap-Tahap Perkembangan
Berdasarkan hasil penelitiannya, piaget menemukan empat tahapan
perkembangan kognitif yaitu:
1. Tahap sensori motor (0-2 tahun)
Merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari
rangsangan
2. Tahap pra operasi (2-7 tahun)
Tahap pra operasi terbagi atas dua yaitu pertama pemikiran prakonseptual (sekitar
usia 2-4 tahun Kedua periode pemikiran intuitif (sekitar usia 4-7 tahun).
3. Tahap operasi konkrit (7-11 tahun)
Pada tahap ini umumnya anak sudah berada di Sekolah Dasar, sehingga
semistanya guru sudah mengetahui benar kondisi anak pada tahap ini.
4. Tahap operasi formal (usia 11 keatas)
Periode operasi formal ini disebut juga periode operasi hipotetik-deduktif
yang merupakan tahap tertinggi dari perkembangan intelektual.

NAMA
NIM
KELAS

B.

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan


Piaget mengidentifikasi lima faktor yang mempengaruhi transisi tahap

perkembangan anak, yaitu:


1. Kedewasaan atau kematangan
Proses perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan
manifestasi fisik lainnya mempengaruhi perkembangan kognitif.
2. Pengalaman fisik
Interaksi dengan lingkungan fisik digunakan untuk mengabstrak berbagai
sifat fisik dari benda-benda
3. Pengalaman logika-matematik
Interaksi dengan lingkungan dengan cara mengamati benda-benda
disekililingnya atau
4. Transmisi sosial
Interaksi dan kerja sama anak dengan orang lain atau dengan lingkungnya.
Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak.
5. Penyetimbangan (Equilibrium
Proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai
akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses
asimilasi dan akomodasi.
C.

Sikus Belajar
Prinsip belajar piaget adalah kontruktivis yaitu pengajaran efektif yang

menghendaki guru agar mengetahui bagaimana para siswa memandang fenomena


yang menjadi subjeks pengajaran. Pengajaran kemudian dikembangkan dari
gagasan yang telah ada, melalui langkah-langkah intermediet dan berakhir degan
gagasan yang telah mengalami modifikasi.
Strategi yang digunakan adalah
a. Fase deskriptif
Siklus belajar deskriptif menghendaki hanya pola-pola deskriptip
(misalnya seriasi, klasifikasi, konsurvasi).
b. Fase Empiris Deduktif

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

Yaitu, para siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam
suatu konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya mengemukakan
sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu.
c.

Fase Hipotesis-Deduktif

Yaitu dimulai dengan pernyataan berupa suatu pertanyaan sebab.


D. Implikasi Teori Belajar Piaget
Penerapan teori perkembangan kognitif Piaget di kelas adalah:
a) Guru harus mengerti cara berpikir anak, bukan sebaliknya anak yang beradaptasi
dengan guru.
b) Agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung efektif, guru tidak
meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi mereka memberi tugas khusus
yang dirancang untuk membimbing para siswa menemukan dan menyelesaikan
masalah sendiri. c)

Tidak menghukum siswa jika menjawab pertanyaan yang

salah.
d) Menekankan kepada para siswa agar mau menciptakan pertanyaa-pertanyaan dari
permasalahan yang ada serta pemecahan permasalahannya.
e) Tidak meninggalkan anak pada saat di beri tugas.
f)

Membimbing siswa dalam menemukakan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

g) Menghindari istilah-istilah teknis.


h) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak karena Bahasa dan
cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa.
i)

Menganjurkan para siswa berpikir dengan cara mereka sendiri.

j)

Memilih pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

k) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
l)

Memberi peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

m) Didalam kelas, anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
berdiskusi dengan teman-temannya.
E. Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain
sebagai berikut :
1.

Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada
produknya.

NAMA
NIM
KELAS

: ANDREW OSCAR SIMANJUNTAK


: 8156171004
: A-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA PPS

2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam
inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran.
3. Tidak menekankan pada praktek - praktek yang diarahkan untuk menjadikan anakanak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.