Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dakwah merupakan fenomena yang sering terjadi di kalangan masyarakat, bahkan
kegiatan dakwah itu dilaksanakan bukan hanya di tempat konvensional seperti, majlis
talim, masjid maupun pesantren namun banyak juga kegiatan berdakwah dilakukan di
hotel, rumah sakit, perusahaan, radio, televisi bahkan internet. Aktifitas dakwah
merupakan proses komunikasi penyampaian ajaran islam.
Aktifitas dakwah merupakan salah satu strategi untuk membentuk perubahan
kepada masyarakat ke arah yang lebih baik, dan sebagai proses membentuk masyarakat
yang islami, dan proses dakwah haruslah berpedoman pada Al-quran dan Al-hadist. Agar
pesan dakwah itu bisa diterima oleh para madu maka perlu menggunakan metode ataupun
cara berkomunikasi dalam melakukan dakwah, salah satunya yaitu dengan cara
komunikasi persuasif. Dan kesempatan kali ini kami akan membahas tentang dakwah
dengan menggunakan komunikasi persuasif.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MAKNA DAKWAH PERSUASIF
Dakwah merupakan bahasa Arab, berasal dari kata dawah yang bersumber pada
kata (daa, yadu, dawatan) yang bermakna seruan, panggilan, undangan atau doa.Selain
itu dakwah memiliki pengertian upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia
menuju Allah SWT. Perluasan berikutnya dari pemaknaan dakwah adalah aktivitas yang
berorientasi pada pengembangan masyarakat muslim, antara lain dalam bentuk
peningkatan kesejahteraan social.
Usaha untuk mempengaruhi pendapat, pandangan, sikap ataupun tingkah laku
seseorang dapat ditempuh dengan cara:
a. Koersif, yaitu dengan cara paksaan bahkan disertai dengan terror yang dapat
menekan batin. Contohnya yaitu adanya penolakan ketidaksetujuan FPI yang
kerapkali kita tahu beritanya di media-media dengan cara mereka yang
memberontak bahkan anarkis.
b. Persuasif, yaitu tanpa adanya paksaan dengan mempengaruhi jiwa seseorang
sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima dan menerima
suatu tindakan. Persuasif berasal dari istilah bahasa Inggris persuation.
Persuation dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan, dan
sebagainya. Baik koersif ataupun persuasif keduanya bertujuan mengubah
perilaku, kepercayaan, dan sikap. Bedanya ialah terletak pada cara
penyampaiannya.
Sehingga dapat dikatakan Dakwah Persuasif adalah proses kegiatan yang
mempengaruhi jiwa seseorang (madu) sehingga timbul kesadarannya sendiri untuk
mengikuti ajakan pendakwah (dai) dengan cara halus atau tanpa paksaan.

2.2 UNSUR-UNSUR DAKWAH


Kondisi psikologis mad'u yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pendekatan
persuasif dalam berdakwah juga berbeda-beda.Namun untuk mencapai dakwah yang
persuasif jelas ada unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur yang menyebabkan suatu
dakwah itu persuasif atau tidak ialah:
a. Pribadi Dai
Sosok Dai yang memiliki kepribadian sangat tinggi dan tak pernah kering jika
digali dari pribadi Rasulullah sendiri.Ketinggian pribadi Rasul dapat dilihat pada
pernyataan Al-Quran.Pengakuan Rasul sendiri dan kesaksian para sahabat yang
mendampinginya.

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang-orang yang (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan dia banyak
menyebut Allah (QS. Al-Ahzab/33:21)
Di mata sahabatnya, Rasul SAW adalah guru, teman, orangtua, dan pemimpin, satu
gabungan peran yang sangat ideal bagi seorang Dai.sehingga Beliau layak disebut sebagai
Dai agung.
Sesuai

dengan

teori

Gestalt,

seseorang

itu

dipersepsi

sebagai

suatu

keseluruhan.Oleh karena itu, jika kepribadian seorang Dai sudah dipandang tinggi oleh
masyarakat madu, maka pesan dakwahnya juga dianggap sebagai bagian dari struktur
kepribadiannya. Untuk membuat suatu dakwah itu persuasive, pertama-tama seorang Dai
harus memiliki kriteria-kriteria yang dipandang posistif oleh masyarakat. Kriteria-kriteria
itu antara lain :
1. Memiliki Kualifikasi Akademis Tentang Islam
Dalam hal ini seorang Dai sekurang-kurangnya memiliki pengetahuan
tentang Al-Quran dan Al-Hadis, bahwa Al-Quran mempunyai fungsi sebagai
petunjuk hidup, nasihat bagi yang membutuhkan (mauidzah) dan pelajaran yang
oleh karena itu, selalu menjadi rujukan dalam menghadapi segala macam
persoalan. Cirri seorang Dai yang berilmu antara lain, ia tidak berani mengatakan
apa yang tidak dikuasainya dengan menggunakan term-term yang digunakan oleh
ahlinya.
2. Memiliki Konsistensi antar Amal dan Ilmunya

Seorang Dai sekurang-kurangnya harus mengamalkan apa yang ia serukan


kepada orang lain. Perbuatan seorang Dai tidak boleh melecehkan kata-katanya
sendiri, apa yang ia demonstrasikan kepada masyarakat haruslah apa yang memang
menjadi keyakinan batinnya, sebab inkonsistensi antara kedua hal tersebut akan
membuat seruan dakwahnya tidak berbobot dan tidak berwibawa di depan
masyarakat.
3. Santun dan Lapang Dada
Sifat santun dan lapang dada yang memiliki seseorang merupakan indicator
dari ketulusan ilmunya dan secara khusus kemampuannya mengendalikan akalnya
(ilmunya) dalam praktek kehidupan.Cirri orang santun adalah lembut tutur
katanya, tenang jiwanya, tidak gampang marah dan tidak suka omong kosong.
Secara psikologis, kepribadian santun dan lapang dada seorang Dai akan membuat
orang madu terikat perasaannya, lebih daripada pemahaman melalui pikirannya
sehingga masyarakat madu cenderung ingin selalu mendekatinya
4. Bersifat Pemberani
Daya

tarik

kepemimpinan

seseorang

antara

lain

terletak

pada

keberaniannya. Keberanian yang diperlukan oleh seorang Dai sudah tentu berbeda
dengan keberanian kelompok oposisi yang lebih menekankan asal berbeda, atau
keberanian yang asal berani, tetapi keberanian yang konstruktif, yang sejalan
dengan konsep dasar dakwah, yaitu keberanian mengemukakan kebenaran. Dalam
hal keberanian berargumen, berdialog dan berdebat, seorang Dai dituntut untuk
tetap konsisten dengan tujuan dakwah bukan asal menang. Oleh karena itu, seorang
Dai tidak dibenarkan mencacimaki agama atau keyakinan orang lain.
5. Tidak Mengharapkan Pemberian Dari Orang
Iffah artinya hatinya bersih dari pengharapan terhadap apa yang ada pada
orang lain. Seorang Dai yang tak terlintas sedikitpun di dalam hatinya keinginan
terhadap harta orang lain, maka ia dapat merasa sejajar atau bahkan lebih tinggi
atau sekurang-kurangnya memiliki kemerdekaan di dalam dirinya.
6. Qanaah Atau Kaya Hati
Seorang Dai boleh miskin harta, tetapi tidak boleh miskin hati, karena
kaya hati (qanaah) itu lebih tinggi nilainya disbanding kekayaan harta. Dalam
perspektif psikologi, orang yang memiliki harta melimpah tetapi masih merasa
banyak kekurangan dan tidak sempat berpikir untuk memberikan pada orang lain,

maka ia adalah orang miskin. Sebaliknya orang yang sebenarnya tidak memiliki
kekayaan yang berarti tetapi ia merasa berkecukupan, merasa bersyukur dan
bahkan sanggup memberikan sebagian besar milikinya untuk orang lain yang lebih
membutuhkan, maka ia adalah orang kaya.
7. Kemampuan Berkomunikasi
Dakwah adalah mengkomunikasikan pesan kepada madu.komunikasi
dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan, dengan bahasa kata-kata atau
bahasa perbuatan. Komunikasi dapat berhasil manakala pesan dakwah itu dipahami
oleh madu.kaum intelektual lebih mudah memahami bahasa ilmiah sedangkan
orang awam lebih mudah memahami bahasa awam. Jadi, seorang Dai dituntut
dapat menggunakan metode yang tepat dalam mengkomunikasikan pesan
dakwahnya.
8. Memiliki Rasa Percaya Diri dan Rendah Hati
Seorang Dai harus memiliki rasa percaya diri, yakni bahwa selama
dakwahnya dilandasi oleh keikhlasan dan dijalankan dengan memakai perhitungan
yang benar dan mengharap ridha Allah, insyaAllah akan membawa manfaat.
Dalam perspektif islam, rendah hati justru akan mendatangkan kehormatan,
sementara kesombongan justru akan mengantar pada kehinaan.
9. Tidak Kikir Ilmu
Pada dasarnya seorang Dai dapat diibaratkan sebagai danau menampung
air hujan, menyimpannya dan menyediakan diri bagi orang yang membutuhkan.
Dalam puncak kerjanya, seorang Dai dapat diibaratkan sebagai ember yang
membawa air dari danau untuk disiramkan ke pohon-pohon yang kekeringan.Jadi,
ilmu yang dipelajari oleh seorang Dai adalah diperuntukkan bagi kepentingan
madu.oleh karena itu, ia tidak pernah kikir terhadap ilmunya.
10. Anggun
Salah satu ciri keanggunan seseorang ialah kepribadiannya tetap
tersembunyi meskipun namanya sudah banyak dikenal.Rahasia keanggunan justru
terletak

pada

kemampuannya

menyembunyikan

sisi-sisi

pribadinya

dari

pengetahuan orang banyak.


11. Selera Tinggi
Artinya ia tidak merasa puas dengan hasil kerja yang tidak sempurna.

12. Sabar
Seorang Dai dituntut untuk mampu bersabar dalam menghadapi rintanganrintangan itu.Urgensi sabar berkaitan erat, dengan pencapaian tujuan. Oleh karena
itu, Dai yang selalu ingat akan tujuan utama dakwahnya, ia akan mampu bersabar
dan tabah.
13. Memiliki Nilai Lebih
Manusia cenderung tertarik kepada orang yang memiliki kelebihan dalam
bidang apapun. Seorang Dai yang juga berperan sebagai pemimpin haruslah
memiliki nilai lebih atau nilai plus dibanding orang lain yang dipimpin. Oleh
karena itu, agar dakwahnya menarik dan mempunyai daya panggil, seorang Dai
yang tidak memiliki nilai plus, apalagi jika dibawah rata-rata maka meskipun katakata dakwahnya indah didengar, tetapi tidak atau kurang mempunyai daya panggil,
tidak menyentuh hati nurani tak menggores jiwa madu.
Kriteria diatas merupakan salah satu pendukung terciptanya dakwah persuasif,
tetapi tidak menutup kemungkinan jika ada beberapa criteria yang mungkin tidak terdapat
dalam diri seorang Dai selama dakwah yang diberikan dapat mempengaruhi jiwa madu
atas keinginan diri madu itu sendiri maka dapat dikatakan bahwa dakwah tersebut adalah
dakwah persuasif. Jadi, kriteria seorang Dai hanya sebagai standart dalam keilmuan tetapi
kenyataannya seorang Dai juga memiliki kekurangan sehingga tolak ukur dakwah
persuasive adalah penyampaian dakwah Dai yang dapat diterima dan dipahami oleh
madu dengan tujuan yang diinginkan (mempengaruhi) madunya.
b. Materi Dakwah Persuasif
Secara psikologis, bahasa mempunyai peran yang sangat besar dalam
mengendalikan perilaku manusia. Bahasa ibarat remot control yang dapat menyetel
manusia menjadi tertawa, marah, sedih, lunglai, semangat, dan sebagainya. Bahasa juga
dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan baru kedalam pikiran manusia.
Sebagai pesan, bahasa juga ada psikologinya, misalnya cara berkata seseorang,
isyarat tertentu, struktur bahasa yang digunakan dan sebagainya, dapat memberikan
maksud tertentu kepada lawan bicara. Jadi, dengan memperhatikan psikologi pesan,
bahasa dapat digunakan oleh dai untuk mengatur, menggerakkan dan mengendalikan
perilaku masyarakat.

Al-Quran memeberikan istilah-istilah pesan yang persuasive dengan kalimat


qaulan layyina, qaulan marifah, qaulan baligha, qaulan syadida, qaulan karima, qaulan
maisura, qaulan tsaqilan, dan qaulan adzima.
1. Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut).
Menurut Asfihani dalam Mujam-nya, qaulan layyina mengandung arti
lawan dari kasar, yakni halus dan lembut. Pada dasarnya halus dan lembut itu
dipergunakan untuk mensifati benda oleh indera peraba, tetapi kata-kata ini
kemudian dipinjam untuk menyebut sifat-sifat akhlak dan arti-arti yang lain. Jadi
dakwah yang lemah lembut adalah dakwah yang dirasakan oleh madu sebagai
sentuhan yang halus tanpa mengusik atau menyentuh kepekaan perasaannya
sehingga tidak menimbulkan gangguan pikiran dan perasaan.
2. Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa)
Menurut Ishfihani dalam Mujam-nya, perkataan yang baligh (membekas
atau tajam) mempunyai dua arti:
a.
Suatu perkataan dianggap baligh manakala berkumpul pada tiga sifat,
yaitu memiliki kebenaran dari sudut bahasa, mempunyai kesesuaian
dengan apa yang dimaksudkan dan mengandung kebenaran secara
b.

subtansial.
Suatu perkataan dinilai baligh jika perkataan itu membuat lawan
bicaranya terpaksa mempersepsi perkataan itu sama dengan apa yang
dimaksudkan oleh pembicara, sehingga tidak ada celah untuk

mengalihkan perhatian kepermasalahan lain.


3. Qaulan Syadida (perkataan yang benar).
Term qaulan syadida, menurut ibn Manshur dalam lisan al-arabnya kata
sadid diyang dihubungkan dengan qaul (perkataan) mengandung arti mengenai
sasaran (yusib al-qashda). Jadi pesan dakwah yang secara psikologis menyentuh
hati madu siapa pun madunya, adalah jika materi yang disampaikan itu benar,
baik darin segi bahasa atau pun logika, dan disampaikan dengan pijakan takwa.
4. Qaulan Karima (perkataan yang mulia)
Dalam perspektif dakwah, qaulan karima diperlukan jika dakwah itu
ditujukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut.
Psikologi orang usia lanjut biasanya sangat peka terhadap kata-kata yang bersifat
menggurui, menyalahkan apalagi yang kasar, karena meeka merasa lebih banyak
pengalaman hidupnya, dan merasa dalam kondisi telah banyak kehilangan

kekuatan fisiknya. Oleh karena itu, untuk menjadikan pesan dakwah kepada orang
tua itu persuasif, haruslah disampaikan dengan perkataan yang mulia.
5. Qaulan maisura (perkataan yang ringan)
Kalimat Maisura berasal dari kata yasr, yang artinya mudah. Qaulan
Maisura adalah perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang
tidak berliku-liku. Dakwah dengan qaulan maisura artinya pesan yang disampaikan
itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat difahami secara spontan tanpa harus
berfikir dua kali.
c. Kondisi Psokologis Madu
Sehubungan dengan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat, bila dilihat
dari aspek kehidupan psikologis, maka dalam pelaksanaan program kegiatan dakwah,
berbagai permasalahan yang menyangkut sasaran bimbingan atau dakwah mendapatkan
konsiderasi yang tepat yaitu meliputi hal-hal sbb:
1. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis.
2. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi struktur
kelembagaan.
3. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi social cultural.
4. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi tingkat usia.
5. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi profesi atau
pekerjaan.
6. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup
sosial-ekonomis.
7. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin.
Bila dilihat dari kehidupan psikologis masing-masing golongan masyarakat
tersebut diatas, memiliki crri-ciri khusus, yang menuntut kepada system dan metode
dakwah yang didasari dengan prinsip-prinsip psikologi yang berbeda-beda, yang
merupakan suatu keharusan jika kita menghendaki efektifitas dan efisiensi dalam program
kegiatan dakwah dikalangan mereka

2.3 LANGKAH-LANGKAH DAKWAH PERSUASIF


Langkah-langkah dakwah dengan menggunakan komunikasi persuasif :

Sebagaimana telah dijelaskan tentang dakwah yaitu suatu aktivitas atau kegiatan yang
bersifat menyeru atau mengajak kepada orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam.
Sedangkan tujuan dakwah ialah untuk mengubah masyarakat ke arah kehidupan yang
lebih baik, lebih Islami, lebih sejahtera lahiriah maupun batiniah, tujuan dakwah tersebut
sesuai dengan tujuan komunikasi persuasif yaitu merubah situasi tersebut yakni merubah
kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang dengan menggunakan manipulasi psikologis
sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.
Dakwah persuasif sendiri ialah kegiatan berdakwah dengan menggunakan metode
komunikasi persuasif yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon
(sikap atau perilaku) dari penerima atau madu. Dan tujuan itu akan berhasil manakala
seorang Dai mampu menyampaikan dakwahnya dengan pendekatan psikologis.
Dalam surat Ali imran ayat 159 menjelaskan bahwa ada tujuh langkah dakwah
persuasif:
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap
mereka.Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu.Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian, apabila
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.Sungguh, Allah
mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali Imran/3: 159).
Dari ayat tersebut dijelaskan ada tujuh langkah dakwah persuasif yaitu:
a.
b.
c.
d.

Mendasarkan kegiatan dakwah atas dasar menebar kasih sayang Allah.


Senantiasa bersikap lemah lembut dalam menghadapi umat.
Bersikap lapang dada sehingga mudah memaafkan kesalahan umat.
Membangun komunikasi personal dengan Allah dengan senantiasa memohon

agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan umat.


e. Bermusyawarah dengan umat dalam merencanakan suatu program aksi.
f. Mengambil keputusan yang tepat dan mantap dalam bermusyawarah dengan
kebulatan tekad untuk mewujudkannya.
g. Bertawakal kepada Allah, jika suatu perencanaan sudah dilakukan dengan
cermat dan diputuskan dengan hati yang mantap.
A. Teknik red herring
Teknik komunikasi persuasif red herring berasal dari nama jenis ikan yang hidup
di samudera Atlantik Utara. Jenis ikan ini terkenal dengan kebiasaannya dalam membuat
gerak tipu ketika diburu oleh binatang lain atau oleh manusia. Dalam hubungannya
dengan komunikasi persuasif, teknik red herring adalah seni seorang komunikator untuk
9

meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah


untuk kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna
dijadikan senjata ampuh untuk menyerang lawan.Jadi teknik ini digunakan pada saat
komunikator berada dalam posisi terdesak.
B. Teknik pay off idea
Suatu usaha untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan harapan yang
baik atau mengiming-imingi hal-hal yang baik saja, bahwa pada hari akhir nanti akan ada
pembalasan, sesuai dengan ayat yang ada dalam Al-quran bahwa bagi orang yang
melakukan amal baik selama di dunia maka ia akan meraih kebahagiaan di akhirat nanti
dengan diamsukkan ke dalam surga Allah dan kekal di dalamnya. Allah SWT akan ridha
kepada orang-orang yang melakukan amal baik.
C. Teknik fear arousing
Usaha menakut-nakuti orang lain atau menggambarkan konsekuensi buruknya,
sesuai dengan ajaran islam yang terkandung dalam Al-quran dan hadist bahwa bagi orang
yang durhaka kepada Allah dan orang-orang kafir konsekuensinya yaitu akan mendapat
siksaan di akhirat nanti
Teknik komunikasi fear arousing adalah usaha menakut-nakuti orang lain atau
menggambarkan konsekuensi buruknya ( Carld I Hovland, Irving L. Janis, Harold H.
Kelly 1963 : 57 ). Dalam konteks ajaran agama Islam teknik ini secara eksplisit dan inlpisit
terkandung di dalam Al-Quran dan Hadits.Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya
ayat yang menggambarkan konsekuensi berupa siksaan di akhirat nanti bagi orang kafir
dan orang yang durhaka kepada Allah SWT.
Dalam bidang hukum Islam dikenal dengan hudud atau ketentuan hukuman bagi
orang-orang yang melanggar aturan Allah SWT; seperti membunuh orang tanpa alasan
syari, berzina, minum minuman keras, mencuri dalam kadar tertentu dan dosa-dosa besar
lainnya. Seperti terdapat dalam Al-Maidah ayat 38:


Terjemahan:
Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan
bagi apa yang telah mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah maha
perkasa lagi maha bijaksana.
10

Ayat di atas menggambarkan ancaman bagi seorang yang mencuri dalam jumlah
tertentu, kemudian diproses dan disahkan secara hukum, maka hukumannya adalah
dipotong tangannya supaya menimbulkan efek jera bagi pelakunya dan menimbulkan rasa
takut bagi orang yang hendak melakukan perbuatan serupa.
2.4 PELUANG KEBERHASILAN DAKWAH
Salah satu pusat perhatian psikologi dakwah adalah bagaimana dawah itu bisa
dilakukan dengan cara persuasif. efektifitas suatu kegiatan dakwah memang berhubungan
dengan bagaimana mengkomunikasikan pesan dakwah itu kepada ma'du, persuasif atau
tidak. dakwah persuasif adalah proses mempengaruhi ma'du dengan pendekatakn
psikologis, sehingga ma'du mengikuti ajakan dai tetapi merasa sedang melakukan sesuatu
atas kehendak sendiri.
Keberhasilan suatu dakwah dimungkinkan oleh berbagai hal:
a. Kemungkinan pertama karena pesan dakwah yang disampaikan oleh dai
memang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yang merupakan satu
keniscayaan yang tak mungkin ditolak sehingga mereka menerima pesan
dakwah itu dengan antusias.
b. Kemungkinan kedua karena faktor pesona dai, yakni dai tersebut memiliki
daya tarik personal yang menyebabkan masyarakat mudah menerima pesan
dakwahnya, meski kualitas dakwahnya boeh jadi sederhana saja.
c. Kemungkinan ketiga karena kondisi psikologi masyarakat yang sedang haus
siraman rohani, dan mereka terlanjur memiliki persepsi positif kepada setiap
dai, sehingga pesan dakwah yang sebenarnya kurang jelas ditafsirkan sendiri
oleh masyarakat dengan penafsiran yang jelas.
d. Kemungkinan keempat adalah karena kemasan yang menarik. Masyarakat yang
semula acuh tak acuh terhaadap agama dan juga terhadap dai setelah melihat
paket dakwah yang diberi kemasan lain (misal kesenian, stimulasi, atau dalam
program-program pengembangan masyarakat) maka paket dakwah itu berhasil
menjadi stimuli yang menggelitik persepsi masyarakat, dan akhirnya mereka
pun merespon secara positif.
Kondisi psikoogis madu yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pendekatan
persuasif dalam dakwah juga berbeda-beda.Namun untuk mencapai dakwah yang
persuasif jelas ada unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur yang menyebabkan suatu
dakwah itu persuasif atau tidak dapat berasal dari :

11

a. Pribadi dai
b. Materi dakwah

c.Kondisi psikologis mad'u.


d. Pertemuan dari ketiga unsur 1,2, dan 3

a. Kelebihan Dakwah Persuasif


1.
Relevan
2.
Pribadi Dai
3.
Kondisi psikologi madu
4.
Kemasan menarik
b. Hambatan Dakwah Persuasif
1. Noise factor
2. Semantic factormeliputi penggunaan kata-kata dan istilah
3. Kepentingan
4. Motivasi yang berbeda antara komunikator dengan komunikan
5. Prasangka
2.5 DAI SEBAGAI PEMIMIPIN
2.5.1 Pengertian Dai
Kata dai berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakar (laki-laki) yang berarti orang
yang mengajak, kalau muanas (perempuan) disebut daiyah.[1] Sedangkan dalam kamus
besar bahasa Indonesia, dai adalah orang yang pekerjaannya berdakwah, pendakwah:
melalui kegiatan dakwah para dai menyebarluaskan ajaran Islam. Dengan kata lain, dai
adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung atau tidak langsung,
melalui lisan, tulisan, atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam atau
menyebarluaskan ajaran Islam, melakukan upaya perubahan kearah kondisi yang lebih
baik menurut Islam.
Dai dapat diibaratkan sebagai seorang guide atau pemandu terhadap orang-orang
yang ingin mendapat keselamatan hidup dunia dan akhirat. Dalam hal ini dai adalah
seorang petunjuk jalan yang harus mengerti dan memahami terlebih dahulu mana jalan
yang boleh dilalui dan yang tidak boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberi
petunjuk jalan kepada orang lain. Ini yang menyebabkan kedudukan seorang dai di
tengah masyarakat menempati posisi penting, ia adalah seorang pemuka (pelopor) yang
selalu diteladani oleh masyarakat di sekitarnya.
Segala perbuatan dan tingkah laku dari seorang dai akan dijadikan tolak ukur oleh
masyarakatnya. Dai akan berperan sebagai seorang pemimpin di tengah masyarakat
walau tidak pernah dinobatkan secara resmi sebagai pemimpin. Kemunculan dai sebagai
pemimpin adalah kemunculan atas pengakuan masyarakat yang tumbuh secara bertahap.
Oleh karena itu, seorang dai harus selalu sadar bahwa segala tingkah lakunya selalu

12

dijadikkan tolak ukur oleh masyarakatnya sehingga ia harus memiliki kepribadian yang
baik.
2.5.2 Pembagian Dai:
Dai dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
1. Dai menurut kriteria umum yaitu setiap muslim yang berdakwah sebagai
kewajiban yang melekat tak terpisahkan dari misinya sebagai penganut Islam,
dan
2. Dai menurut kriteria khusus yaitu mereka yang mengambil keahlian khusus
dalam bidang dakwah Islam, dengan kesungguhan luar biasa dan dengan
qudwah hasanah.

Dalam aktivitas dakwah, dai merupakan unsur penting. Tanpa ada dai agama
Islam akan menjadi sekadar ide atau cita-cita tanpa ada implementasi. Karena dai lah
agama Isladapat disebarkan sehingga ide dan cita-cita Islam dapat diimplementasikan
dalam realitas kemasyarakatan.
2.5.3 StatusDai
Status dai dalam dakwah begitu penting di antaranya :
1. Sebagai pemimpin, karena dia adalah penyeru kepada kebajikan dan orang
yang mencegah kemunkaran. Dalam kaitan ini, d dituntut untuk bisa menjadi
uswah hasanah bagi umat.
2. Sebagai mujahid, artinya sebagai pejuang dan penegak ajaran Allah. Dalam hal
ini dai dituntut memiliki jiwa besar dan mampu membesarkan jiwa orang lain.
3. Sebagai obyek, karena dai selain sebagai penyeru kebajikan kepada orang
lain, dia juga harus menyeru dirinya sendiri supaya berbuat kebajikan dan
menjauhi kemunkaran.

13

4. Sebagai pembawa misi yaitu pembawa amanah Allah.


5. Sebagai pembangun, yaitu pembawa perubahan ke arah yang lebih baik.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

14

Dakwah Persuasif adalah proses kegiatan yang mempengaruhi jiwa seseorang


(madu) sehingga timbul kesadarannya sendiri untuk mengikuti ajakan pendakwah (dai)
dengan cara halus atau tanpa paksaan.
Usaha untuk mempengaruhi pendapat, pandangan, sikap ataupun tingkah laku
seseorang dapat ditempuh dengan cara:
a. Koersif, yaitu dengan cara paksaan bahkan disertai dengan terror yang dapat
menekan batin. Contohnya yaitu adanya penolakan ketidaksetujuan FPI yang
kerapkali kita tahu beritanya di media-media dengan cara mereka yang
memberontak bahkan anarkis.
c. Persuasif, yaitu tanpa adanya paksaan dengan mempengaruhi jiwa seseorang
sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima suatu tindakan.
Persuasif dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan, dan
sebagainya.Baik koersif ataupun persuasif keduanya bertujuan mengubah perilaku,
kepercayaan, dan sikap. Bedanya ialah terletak pada cara penyampaiannya.
Al-Quran memberikan istilah-istilah pesan yang persuasif atau materi dakwah
persuasif dengan kalimat qaulan layyina, qaulan marifah, qaulan baligha, qaulan sadida,
qaulan karima, qaulan maisura, qaulan tsaqilan, dan qaulan adzima.
Hambatan Dakwah Persuasif yaitu: Noise factor, Semantic factormeliputi
penggunaan kata-kata dan istilah, Kepentingan, Motivasi yang berbeda antara
komunikator dengan komunikan dan Prasangka.
Langkah-langkah dakwah persuasif yaitu:
1.
2.
3.
4.

Mendasarkan kegiatan dakwah atas dasar menebar kasih sayang Allah.


Senantiasa bersikap lemah lembut dalam menghadapi umat.
Bersikap lapang dada sehingga mudah memaafkan kesalahan umat.
Membangun komunikasi personal dengan Allah dengan senantiasa memohon

agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan umat.


5. Bermusyawarah dengan umat dalam merencanakan suatu program aksi.
6. Mengambil keputusan yang tepat dan mantap dalam bermusyawarah dengan
kebulatan tekad untuk mewujudkannya.
3.2 SARAN
Demikianlah sedikit uraian tentang. Tentunya tulisan ini masih sangat jauh untuk
mengungkap secara detail dan sempurna tentang dakwah persuasifUntuk itu penulis yakin
makalah ini masih membutuhkan banyak koreksi dan masukan. Sebagai penutup penulis
berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

15