Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ASPEK SEKSUAL DALAM


KEPERAWATAN
(S-1 KEPERAWATAN)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas KDK II

Disusun oleh Kelompok:


Riki Fachmi Dzulfiqar
09SP277028
Rita Rostiasih
09SP277029

STIKes MUHAMMADIYAH
CIAMIS
Jl. K.H Ahmad Dahlan No. 20 Tlp (0265)
773052 Ciamis 46216

2010/2011
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT, karena berkat rahmat
dan hidayah Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini yaitu mengenai
Aspek Seksual dalam Keperawatan dengan cukup baik.
Kami menyadari bahwa, makalah ini masih banyak kekurangan baik isi
maupun redaksinya. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan sarannya
yang bersifat konstruktif kearah perbaikan selanjutnya. Dan bersama ini pula
kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik
secara langsung maupun tidak langsung. Terutama kepada ibu Ns. Yuyun
Rahayu, S. Kep selaku dosen KDK II.
Merupakan suatu harapan kami, semoga makalah ini bermanfaat bagi
kami khususnya, umumnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Ciamis, Oktober 2010


Penyusun

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI..............................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN...........................................................................1
BAB II : PEMBAHASAN.............................................................................3
2.1 Definisi....................................................................................3
2.2 Kesehatan Seksual..................................................................3
2.3 Karakteristik Kesehatan Seksual.............................................4
2.4 6 Keterampilan Dasar Perawat dalam Memberikan Pelayanan
Seksualitas..........................................................................4
2.5 Tahap Perkembangan Seksual.................................................5
2.5.1 Bayi (0 12 bulan)...........................................................5
2.5.2 Todler (1 3 tahun)..........................................................5
2.5.3 Pra Sekolah (4 5 tahun).................................................5
2.5.4 Usia Sekolah (6 12 tahun)..............................................5
2.5.5 Remaja (12 18 tahun)....................................................6
2.5.6 Dewasa Tengah (40 65 tahun). ......................................6
2.5.7 Dewasa Akhir (65 tahun keatas). .....................................6
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Seksualitas...................................
6
2.6.1 Budaya.............................................................................6
2.6.2 Nilai nilai Religi (Keagamaan)........................................6
2.6.3 Status Kesehatan.............................................................6
2.7 Hospitalisasi............................................................................6
2.8 Beberapa Masalah Berhubungan Seksualitas..........................
7
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 3

2.8.1 Penganiyaan Seksual.......................................................7


2.8.2 Aborsi...............................................................................7
2.8.3 PMS (Penyakit Menular Seksual). .....................................7
2.9 Penyimpangan Prilaku Seksual................................................7
BAB III : KESIMPULAN.............................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...............................................
..........................................................................................11

BAB I
PENDAHULUAN

Pembicaraan mengenai seksualitas seringkali dianggap sebagai hal


yang tabu. Tidak pantas dibicarakan dalam komunitas umum. Bersifat
pribadi dan hanya dikaitkan dengan masalah hubungan antar lawan jenis.
Klien tidak terlepas dari aspek seksualitasnya ketika mereka berada dalam
sistem pelayanan kesehatan.
Tingkat kesadaran diri perawat terhadap seksualitas mempunyai
dampak langsung pada kemampuannya melakukan intervensi keperawatan.
Banyak faktor yang mempengaruhi seksualitas diantaranya agama, budaya,
nilai

dan

keyakinan

kebiasaan

hidup

sehat

dan

kondisi

kesehatan,

pertimbangan perkembangan, peran dan hubungan dan lain lain. Empat


tahap proses kesdaran diri:
1. Tahap Ketidaksesuaian Kognitif.dapat diatasi dengan:

Menghindari tanggung jawab profesional dan tetap berpegang pada


keyakinan pribadi

Memeriksa fakta bahwa seksualitas merupakan bagian integral dari


keadaan manusia
2. Tahap Ansietas
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 4

Perawat mengalami ansietas, rasa takut dan syok

Perawat menyadari bahwa semua orang mengalami ketidakpastian,


merasa tidak aman, bertanya-tanya dan bermasalah yang berkaitan
dengan seksualitas
3. Tahap Marah

Kemarahan umumnya ditujukan pada diri sendiri, klien dan masyarakat

Perawat mulai mengakui bahwa masalah yang berkaitan dengan seks


dan seksualitas bersifat emosional
4. Tahap Tindakan

Pada tahap terakhir ini, perasaan marah mulai berkurang

Perawat

mulai

menyadari

bahwa

menyalahkan

diri

sendiri

atau

masyarakat karena ketidaktahuannya, tidak akan membantu klien


dengan masalah seksualnya
Dengan memahami ke empat tahap perkembangan kesadaran perawat
tentang seksualitas, akan memudahkan dan memungkinkan perawat untuk
menjalankan empat tugas utamanya sebagai perawat berkaitan dengan
yang dikemukakan oleh Johnson, 1989 yaitu :
1. Berpengetahuan tentang seksualitas dan norma masyarakat
2. Menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami perbedaan antara
perilaku dan sikap orang lain dengan diri sendiri sebagai akibat dari
pengaruh sosial budaya
3. Menggunakan pemahaman ini untuk membantu adaptasi klien dan
keadaan sehat yang optimal
4. Menyadari dan merasa nyaman dengan seksualitas diri sendiri
Dalam pelayanan kesehatan dengan pendekatan holistik, semua aspek
saling berinteraksi. Aspek seksualitas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
aspek biologi, psikologi, sosiologi, kultural dan spiritual. Bidan, perawat
maupun dokter harus mempunyai dasar pengetahuan, ketrampilan dalam
pengkajian dan komunikasi serta sikap yang tepat. Pengaruh penyuluhan
keagamaan, peran jender secara kultural, keyakinan tentang orientasi
seksual

pengaruh

sosial

dam

lingkungan

masa

lalu

dan

saat

ini

mempengaruhi sistem nilai klien maupun perawat.


Rasa seksual timbul sejak bayi lahir sampai dewasa. Dikalangan
masyarakat umum banyak sekali masalah yang berhubungan dengan
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 5

masalah seksual. Terkadang seksualitas bagi sebgian orang disalahgunakan


sehingga terjadilah dengan yang dinamakan penyimpangan seksual. Selain
itu juga dari seksual yang menyimpang bisa menimbulkan berbagai macam
penyakit kelamin yang menular dan berbahaya dan dari penyakit itu juga
bisa menimbulkan kematian.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Definisi

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 6

Sulit didefinisikan. Seksualitas dan seks merupakan hal yang berbeda.


Seksualitas adalah bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka
dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada
orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti sentuhan, pelukan,
ataupun perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, cara
berpakaian, dan perbendaharaan kata, termasuk pikiran, pengalaman, nilai,
fantasi, emosi.
Seks adalah menjelaskan ciri jenis kelamin secara anatomi dan fisiologi
pada laki-laki dan perempuan, hubungan fisik antar individu (aktivitas
seksual genital).
Identitas

jender

merupakan

perasaan

seseorang

tentang

jenis

kelaminnya. Perilaku peran jender adalah bagaimana seseorang berperan


sesuai jendernya, nilai-nilai yang dianut individu dan lingkungannya. Perawat
mengkaji kemungkinan terjadinya perubahan peran jender pada klien
ataupun anggota keluarga sebagai dampak dari hospitalisasi atau perubahan
status kesehatan. Orientasi seksual (identitas seksual) adalah bagaimana
seseorang mempunyai kesukaan berhubungan intim dengan orang lain,
dengan lawan jenis atau sejenis.
2.2

Kesehatan Seksual
Kesehatan

seksual

didefinisikan

sebagai

pengintegrasian

aspek

somatik, emosional, intelektual, dan sosial dari kehidupan seksual, dengan


cara yang positif yang memperkaya dan meningkatkan kepribadian,
komunikasi dan cinta (WHO, 1975). Definisi ini mencakup dimensi biologi,
psikologi dan sosiokultural.
Komponen kesehatan seksual:

konsep seksual diri


body image
identitas jender
orientasi seksual
Konsep seksual diri adalah nilai tentang kapan, dimana, dengan siapa

dan bagaimana seseorang mengekspresikan seksualitasnya. Konsep seksual


diri yang negatif menghalangi terbentuknya suatu hubungan dengan orang
lain.
Body image adalah pusat kesadaran terhadap diri sendiri dan secara
konstan dapat berubah. Bagaimana seseorang memandang (merasakan)
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 7

penampilan tubuhnya berhubungan dengan seksualitasnya. Kehamilan,


proses penuaan, trauma, penyakit, dan terapi tertentu. Contoh :
Wanita
Pria

: bentuk tubuh dan ukuran payudara.


: ukuran penis

Identitas jender adalah suatu pandangan mengenai jenis kelamin


seseorang, sebagai laki-laki atau perempuan yang mencakup komponen
biologi, juga norma sosial dan budaya.
Transjender adalah istilah bagi seseorang yang identitas jender atau
ekspresi jendernya berbeda dengan anatomi jenis kelaminnya. Transjender
mencakup

cross

dresser,

interseks,

transeksual

pre

operatif

dan

transeksual postoperatif.
Cross-dresses adalah orang yang rutin menggunakan pakaian dari jenis
kelamin yang berbeda, bentuk ekspresi jender, tidak perlu dihubungkan
dengan orientasi seksual. Banyak cross-dresser adalah heteroseksual.
Interseks

adalah

orang

yang

memiliki

organ

seksual

ganda

(ambiguous) pada saat lahir atau hermaprodit.


Transeksual preoperatif adalah seseorang yang mengalami konflik
antara jender dengan anatominya.
Transeksual postoperatif adalah orang yang telah menjalani operasi
untuk mengubah jendernya.
2.3

Karakteristik Kesehatan Seksual

1. Kemampuan mengekspresikan potensi seksual, dengan meniadakan


kekerasan, eksploitasi dam penyalahgunaan seksual.
2. Gambaran tubuh positif, ditunjukkan dengan kepuasan diri terhadap
penampilan pribadi.
3. Kongruen antara seks biologis, identitas jender, dan perilaku peran
jender.
4. Kemampuan

membuat

keputusan

pribadi

(otonomi)

mengenai

kehidupan seksual yang dijalani dalam konteks personal dan etik


sosial.
5. Kemampuan

mengekspresikan

seksualitas

melalui

komunikasi,

sentuhan, emosional dan cinta.


6. Kemampuan menerina pelayanan kesehatan seksual untuk mencegah
dan mengatasi semua masalah, dan gangguan seksual.
7. Menerima tanggung jawab yang berkaitan dengan peran jendernya.
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 8

8. Menghargai sistem yang berlaku.


9. Mampu membina hubungan efektif dengan orang lain.
2.4

Enam ketrampilan dasar perawat dalam memberikan

pelayanan seksualitas
1. Pengetahuan dan kenyamanan diri terhadap seksualitas pribadi.
2. Pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan seksualitas
sepanjang rentang kehidupan.
3. Pengetahuan tentang seksualitas dasar, termasuk bagaimana masalah
kesehatan dan penyelesaiannya dapat mempengaruhi seksualitas dan
fungs seks serta intervensi apa yang dapat memfasilitasi ekspresi
seksual.
4. Keahlian komunikasi terapeutik.
5. Menerima

seksualitas

sebagai

keperawatan dan adanya

area

penting

kemauan bekerja

dalam

intervensi

dengan klien yang

mempunyai berbagai jenis ekspresi seksualitas.


6. Kemampuan mengenal kebutuhan klien dan anggota keluarga dalam
mendiskusikan topik seksualitas, tidak hanya dengan tulisan atau
audiovisual tapi juga melalui diskusi verbal.
2.5

Tahap perkembangan seksual

2.5.1 Bayi (0 12 bulan)

Penentuan jender laki-laki atau perempuan

Pembedaan diri sendiri dengan orang lain secara bertahap

Genital eksternal sensitif terhadap sentuhan

Bayi laki-laki mengalami ereksi penis; bayi perempuan mangalami


lubrikasi vagina

Bayi laki-laki mengalami ereksi nokturnal spontan

Stimulasi taktil (sentuhan, menyusu, emmeluk, membuai), senang &


nyaman berinteraksi dengan manusia

2.5.2 Todler (1-3 tahun)

Identitas jender berkembang secara kontinyu (terus menerus)

Mampu mengidentifikasi jender diri sendiri

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 9

Mulai menirukan tindakan orang tua yang berjenis kelamin sama ,misal
berinteraksi dengan boneka, pakaian yang dipakai

2.5.3 Pra sekolah (4 5 tahun)

Kesadaran terhadap diri sendiri meningkat

Mengeksplorasi anggota tubuh sendiri dan teman bermain

Mempelajari nama anggota tubuh dengan benar

Belajar mengendalikan perasaan dan tingkah laku

Menyukai orang tua yang berbeda jenis

Mempertanyakan mengenai bagaimana seorang bayi bisa ada

2.5.4 Usia sekolah (6 12 tahun)

Mempunyai identifikasi yang kuat dengan orang tua yang berjenis


kelamin sama (misalnya anak perempuan dengan ibu)

Senang berteman dengan sesama jenis

Kesadaran diri meningkat

Mempelajari konsep dan peran jender

Mulai menyukai hal yang bersifat pribadi, modis

Sekitar usia 8-9 tahun mulai memikirkan tentang perilaku seksual,


menstruasi, reproduksi, seksualitas

2.5.5 Remaja (12 18 tahun)

Karakteristik seks mulai berkembang

Mulai terjadi menarke

Mengembangkan hubungan yang menyenangkan

Dapat terjadi aktivitas seksual, misalnya masturbasi

Mengidentifikasi orientasi seksual (homoseks / heteroseks)

Mencari perawatan kesehatan tanpa ditemani orang tua

Dewasa awal (18-40 tahun )

Terjadi aktivitas seksual

Gaya hidup dan nilai-nilai yang dianut telah kuat

Beberapa pasangan berbagi tugas : keuangan, pekerjaan rumah


tangga

Mengalami ancaman terhadap body image akibat penuaan

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 10

2.5.6 Dewasa tengah (40 65 tahun)

Penurunan produksi hormon

Wanita mengalami menopause (umumnya usia 40-55 tahun)

Laki-laki mengalami klimakterik secara bertahap

Mulai memperkokoh stndar moral dan etik

2.5.7 Dewasa akhir (65 tahun keatas)


Aktivitas seksual lebih berkurang

Sekresi vagina berkurang, payudara mengalami atrofi

Laki-laki menghasilkan sperma lebih sedikit dan memerlukan waktu


lebih lama untuk dapat ereksi dan ejakulasi

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas


2.6.1 Budaya
Berpakaian, tata cara pernikahan, perilaku yang diharapkan sesuai
norma. Peran laki-laki dan perempuan mungkin juga akan dipengaruhi
budaya.
2.6.2 Nilai nilai religi (keagamaan)
Aturan atau batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait
seksualitas. Misalnya larangan aborsi, hubungan seks tanpa nikah.
2.6.3 Status kesehatan
Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan
fisik. Medikasi dapat mempengaruhi keinginan seksual. Citra tubuh yang
buruk,

terutama

ketika

diperburuk

oleh

perasaan

penolakan

atau

pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien


kehilangan perasaannya secara seksual.
2.7 Hospitalisasi
Kesepian, tidak lagi memiliki privasi, merasa tidak berguna. Beberapa
klien di rumah sakit mungkin dapat berperilaku secara seksual melalui
pengucapan kata kata kotor, mencubit, dan lain lain. Klien yang
mengalami pembedahan dapat merasa kehilangan harga diri dan perasaan
kehilangan yang mencakup maskulinitas dan femininitas. Klien yang
mendapatkan

tindakan

asuhan

keperawatan

harus

diawali

dengan

penjelasan tindakan yang rasional dan membuat klien puas dan menerima.
2.8 Beberapa masalah berhubungan seksualitas
2.8.1 Penganiayaan seksual
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 11

Mencakup

tindak

kekerasan

pada

wanita,

pelecehan

seksual,

perkosaan, pedofilia, inses, pornografi anak. Efek traumatik adalah masalah


fisik dan psikologis dan disfungsi seksual.
Contoh : Ibu yang mengalami penganiayaan selama masa kehamilan
cenderung melahirkan anak dengan bblr. Anak-anak yang mengalami
penganiayaan dapat berisiko terhadap masalah kesehatan, emosional,
kinerja di sekolah dan dapat terjadi peningkatan keagresifan dan menjadi
orang dewasa yang suka melakukan tindak kekerasan. Dukungan perlu
diberikan

kepada

korban

dan

keluarga.

Pelaku

penganiayaan

harus

dilaporkan kepada yang berwenang .


2.8.2 Aborsi
Dilakukan oleh wanita yang telah menikah maupun oleh wanita yang
berhubungan seks sebelum nikah. Kontroversi baik yang pro maupun kontra.
Klien mungkin dapat mangalami rasa bersalah dan berduka.
2.8.3 Penyakit menular seksual (PMS)
Individu terlibat dalam melakukan hubungan seksual. PMS ditularkan
dari individu yang terinfeksi kepada pasangannya selama kontak seksual
yang intim. Tempat penularannya biasanya genital, tetapi mungkin juga
tertular melalui oral-genital atau anal-genital. Penyakit Gonorrea, Klamidia,
Sfilis disebabkan oleh bakteri . Penyakit Herpes genital dan HIV/AIDS
disebabkan oleh virus.
2.9 Penyimpangan Perilaku Seksual
Transeksualisme
Rasa tidak nyaman yang menetap dan adanya ketidakwajaran seks
dengan preokupasi yang menetap (sedikitnya untuk 2 tahun) dengan
menyisihkan karakteristik seks primer dan sekunder dan memperoleh
karakteristik lawan jenis.
Gangguan identitas jender pada masa kanak-kanak, remaja
dan dewasa
Tekanan yang kuat dan menetap mengenai status sebagai laki-laki
atau perempuan dengan keinginan yang kuat untuk berjenis kelamin lawan
seks dan penanggalan struktur anatomis individu.
Pedofilia
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6
bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 12

rangsangan lain yang melibatkan seorang anak atau lebih yang berusia 13
tahun kebawah.
Eksibisionisme
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6
bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau
rangsangan lain dengan memamerkan genitalnya kepada orang asing/orang
yang belum dikenal.
Sadisme Seksual
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6
bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau
rangsangan lain yang menimbulkan kesakitan yang nyata atau stimulasi
psikologis dan penderitaan fisik.
Masokisme Seksual
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6
bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan ,fantasi atau
rangsangan lain yang melibatkan penghinaan, pemukulan, pengikatan atau
hal-hal lain yang sengaja dilakukan untuk menderita.
Voyeurisme
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsunag selama 6
bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau
rangsangan lain yang melibatkan pengamatan terhadap orang-orang yang
telanjang, sedang menanggalkan pakaian atau sedang melakukan kegiatan
seksual tanpa diketahui mereka.
Fetisisme
Terjadi hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6
bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantsi atau
rangsangan lain dengan menggunakan objek mati.
Fetisisme Transvestik
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selam 6
bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau
rangsangan lain dengan menggunakan pakaian orang lain.
Frotterurisme

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 13

Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berakhir 6 bulan


antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan
lain meraba tanpa persetujuam pihak lain.
Gangguan keinginan Seksual Hipoaktif
Defisit yang menetap/berulang atau tidak terdapatnya fantasi seksual
dan keinginan untuk melakukan kegiatan seksual.
Gangguan Keengganan Seksual
Keengganan yang berlebihan dan menetap dan menghindari semua
atau hampir semua kontak dengan pasangan seksual.

Gangguan Rangsangan Seksual


Kegagalan

yang

menetap

dan

sebagian

untuk

mencapai

atau

mempertahankan respons fisiologis dari kegiatan seksual atau hilangnya


kepuasan seksual selama kegiatan seksual dilakukan.
Hambatan Orgasme
Keterlambatan yang menetap atau tidak adanya orgasme yang
menyertai pada saat fase puncak hubungan seksual, walaupun menurut
tenaga profesional terhadap intensitas, lama dan fokus yang sesuai dengan
usia individu.

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 14

BAB III
KESIMPULAN

Seksualitas adalah bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka


dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada
orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti sentuhan, pelukan,
ataupun perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, cara
berpakaian, dan perbendaharaan kata, termasuk pikiran, pengalaman, nilai,
fantasi, emosi.
Seks adalah menjelaskan ciri jenis kelamin secara anatomi dan fisiologi
pada laki-laki dan perempuan, hubungan fisik antar individu (aktivitas
seksual genital).
Komponen kesehatan seksual:

konsep seksual diri


body image
identitas jender
KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 15

orientasi seksual
Perawat harus mempunyai ketrampilan dasar dalam memberikan

pelayanan seksualitas diantaranya pengetahuan dan kenyamanan diri


terhadap seksualitas pribadi, pengetahuan tentang pertumbuhan dan
perkembangan seksualitas sepanjang rentang kehidupan, pengetahuan
tentang seksualitas dasar, termasuk bagaimana masalah kesehatan dan
penyelesaiannya dapat mempengaruhi seksualitas dan fungs seks serta
intervensi

apa

yang

dapat

memfasilitasi

ekspresi

seksual,

keahlian

komunikasi terapeutik dan sebagainya.


Perkembangan seksual dimulai dari sejak bayi, todler, pra sekolah, usia
sekolah,

remaja,

dewasa

tengah,

dan

dewasa

akhir.

Faktor

yang

mempengaruhi seksualitas diantaranya adalah budaya, nilai dan satus


kesehatan. Dari sana timbul masalh yang terjai dalam hubungan seksual
diantaranya penganiyaan seksual, aborsi dan PMS (Penyakit Menular
Seksual). Dapat juga terjadi berbagai macam penyimpangan seksual
diantaranya, transeksualiseme, pedofilia, eksibisionisme, sadisme seksual,
fetisisme dan lain lain.

DAFTAR PUSTAKA

o http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/.../asuhankeperawatan-pasien-dengan_1094.html - Tembolok

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 16

o http://www.slideshare.net/.../aspek-seksualitasdalamkeperawatan - Amerika Serikat - Tembolok


o http://nurulmisbah66.files.wordpress.com/2009/07/sex
education.ppt Mirip

KDK II (Aspek Seksual dalam Keperawatan)

Page 17