Anda di halaman 1dari 11

RANGKUMAN MATERI

(SIKLUS KONVERSI)

Dibuat untuk memenuhi tugas kedua semester ganjil mata kuliah Sistem
Informasi Akuntansi
Disusun oleh :
KELOMPOK IV
Hariyanti (10800111049)
M. Rifkhi Fauzan S (10800111060)
Muh Dahri Firdaus (10800111064)
Muh Luthfi Adhitama (10800111066)
Muhammad Rezky( 10800111074)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
ALAUDDIN MAKASSAR
2013/2014

SIKLUS KONVERSI

Siklus konversi perusahaan mengubah (mengonversi) berbagai sumber daya input, seperti
bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, menjadi produk jadi atau jasa untuk dijual. Siklus
konversi tersebut adalah yang paling formal dan tampak jelas dalam perusahaan manufaktur.
Akan tetapi, siklus ini ada, secara konseptual, dalam berbagai industri jasa tertentu, seperti
perawatan kesehatan, konsultasi, dan akuntan publik (KAP).
LINGKUNGAN MANUFAKTUR TRADISIONAL
Siklus konversi tradisional terdiri atas dua subsistem: sistem prosuksi dan sisitem akuntansi
biaya. Sistem produksi (production system) melibatkan perencanaan, penjadwalan, dan
pengadilan produksi fisik di sepanjang proses produksi. Sistem akuntansi biaya (cost
accounting system) memonitor arus informasi biaya yang berkaitan dengan produksi.
SISTEM PRODUKSI
Tergantung dari produk yang diproduksi, perusahaan akan menggunakan salah asatu dari
berbagai metode produksi berikut ini:
Pemrosesan berkelanjutan membuat produk yang sama melalui rangkaian
berkelanjutan berbagai prosedur standar.
Pemrosesan Batch menghasulkan berbagai kelompok (batch) yang berbeda. Tiap
barang dalam batch hampir sama, yaitu membutuhkan bahan baku serta operasi yang
sama.
Pemrosesan berdasarkan pesanan melibatkan pembuatan berbagai produk yang
berbeda sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Proses ini diawali oleh pesanan
penjualan, bukan oleh tingkat persediaan yang menurun.

Dokumen dalam Sistem Pemrosesan Batch

1. Prakiraan penjualan (sales forecast) menunjukkan perkiraan permintaan barang jadi


perusahaan dalam suatu periode tertentu. Fungsi pemasaran biasanya menghasilkan
perkiraan permintaan tahunan berdasrakan produk.
2. Jadwal produksi (production schedule) adalah rencana danotorisasi formal untuk
memulai produksi. Dokumen ini menjelaskan berbagai produk yang akan dibuat,
jumlah yang akan diproduksi dalam tiap batch, serta jadwal produksi untuk memulai
serta menyelesaikan produksinya.
3. Daftar kebutuhan bahan baku (bill of material-BOM). Kebutuhan bahan baku untuk
seluruh batch ditetapkan dengan mengalihkan BOM dengan jumlah barang dalam
batch.
4. Lembar proses kerja (route set), alur produksi suatu batch produk yang harus diikuti
selama proses produksi. Secara konseptual lembar proses kerja ini sama dengan
BOM.
5. Perintah kerja, atau perintah produksi (work order/production order) dibuat
berdasarkan BOM dan lembar proses kerja untuk menspesifikasikan bahan baku dan
produksi (mesain, perakitan, dll) untuk tiap batch.

6. Lembar perpindahan (move ticket), mencatat pekerjaan yang digunakan tiap tempat
kerja serta mengotorisasi perpindahan pekerjaan atau batch dari satu tempat kerja ke
tempat berikutnya.
7. Permintaan bahan baku (material requisition) memgotorisasi karyawan gudang untuk
mengeluarkan bahan baku (dan subperakitan) ke orang-orang atau tempat kerja dalam
proses produksi. Dokumen ini biasanya hanya menspesifikasikan jumlah standar.

Proses Produksi Batch

Tahap ini melibatkan dua prosedur: spesifikasi permintaan kebutuhan bahan baku dan
opersional (materials and operations requirement) serta penjadwalan produksi. Membuat
kebutuhan bahan baku untuk sebuah batch dalam perincian produk tertentu adalah
menganalisis apa yamg dibutuhkan dibandingkan apa yang tersedia dalam persediaan bahan
baku.
Ketika memproduksi batch yang nonstandar atau produk yang berdasar pesanan, spesifikasi
bahan baku dan operasi bisa jadi sangat penting karena kebutuhan analisis terperinci yang
dibutuhkan untuk membuat BOM dan lembar proses kerja. Akan tetapi, untuk produk standar,
BOM dan lembar proses kerja dapat dibuat terlebih dahulu dan disimpan.
Prosedur kedua yang dilakukan dibawah tahap perencanaan dan pengendalian produksi
adalah penjadwalan produk. Jadwal untuk operasi produksi tersebut dibuat oleh staf
administrasi penjadwalan produk dan didasarkan pada informasi yang diberikan dalam BOM
serta lembar proses kerja. Staf administrasi bagian penjadwalan juga membuat perintah kerja,
lembar perpindahan, dan permintaan bahan baku untuk tiap batch dalm operasi produksi.
Tahap produksi dimulai ketika para pekerja mendapat bahan baku dari staf gudang sebagai
ganti dari permintaan bahan baku. Bahab baku ini, beserta mesin dan tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk memproduksi produk tersebut, digunakan sesuai dengan perintah kerja.
Ketika pekerjaan tersebut selesai, supervisor atau ornag lain yang berwenang mengisi dan
menandatangani lembar perpindahan untuk meneruskannya ke tempat kerja selanjutnya.
Sebagai bukti bahwa tahap produksi ini telah selesai, sebuah salinan dari lembar perpindahan
dikirimkan kembali ke bagian perencanaan dan pengendalian produksi untuk memperbarui
file perintah kerja terbuka.
Setelah menerima lembar perpindahan terakhir, file perintah kerja terbuka akan ditutup.
Barang jadi bersama dengan sebuah salinan dari perintah kerjanya akan dikirimkan ke
gudang barang jadi. Satu salinan perintah kerja juga dikirimkan ke bagian pengendalian
persediaan untuk memperbarui record persediaan barang jadi.

Proses Produksi batch

Tahap selebihnya dari sistem produksi adalah pengendalian persediaan, yang memiliki
tiga fungsi penting dalam proses produksi. Pertama, memicu keseluruhan proses dengan
menyediakan laporan status persediaan bahan baku dan barang jadi bagi perencanaan dan
pengendalian produksi. Kedua, personel bagian pengendalian persediaan secara terus
menerus terlibat dalam pembaruan record persediaan bahan baku berdasarkan permintaan
bahan baku, permintaan tambahan bahan baku, dan lembar pengembalian bahan baku.
Terakhir, setelah menerima perintah kerja dari tempat kerja terakhir, bagian pengendalian
persediaan akan mencatat produk yang jadi dalam record persediaan barang jadi.

Model EOQ

Model persediaan yang paling sederhana dan umum digunakan adalah model jumlah
pesanan ekonomi (economics order quantity-EOQ). Akan tetapi model EOQ didasarkan
pada asumsi yang tidak selalu mencerminkan kenyataan ekonomi. Asumsi-asumsinya adalah:
1. Permintaan produk konstan dan diketahui secara pasti.
2. Waktu tunggu-waktu antara memasukkan pesanan persediaan hingga kedatangannyadiketahu dan konstan.
3. Semua persediaan yang dipesan tiba pada saat yang sama.
4. Biaya total pertahununtuk memesan adalah dapat bervariasi dan menurun sejalan
denga peningkatan jumlah pesanan. Biaya pemesanan meliputi biaya membuat
dokumen, menghubungi pemasok, memproses penerimaan persediaan, memelihara
rekening pemasok, dan menulis cek.
5. Biaya total pertahun untuk menyimpan persediaan (biaya penggudangan) adalah biaya
yang bervariasi yang akan meningkatkan sejalan dengan peningkatan jumlah yang
dipesan. Biaya-biaya ini meliputi biaya kesempatan dari dana yang diinvestasikan,
biaya penyimpanan, pajak properti, dan asuransi.

6. Tidak ada diskon jumlah. Oleh karenanya, harga total pembelian persediaan untuk
tahun terkait adalah konstan.
Tujuan dari model EOQ adalah untuk mengurangi biaya persediaan.

SISTEM AKUNTANSI BIAYA


Subsistem akuntansi biaya dalam siklus konversi mencatat berbagai pengaruh peristiwa yang
terjadi dalam proses produksi. Proses akuntansi biaya untuk suatu operasi produksi dimulai
ketika bagian perencanaan dan pengendalian mengirimkan sebuah salinan dari perintah kerja
yang asli ke bagian akuntansi biaya. Staf administrasinya kemudian membuat record biaya
baru untuk batch yang memulai produksi dan menyimpannya dalam file barang dalam proses
(work-in-process-WIP). File ini bertindak sebagai buku pembantu bagi akun pengendali
barang dalam proses di buku besar.
PENGENDALIAN DALAM LINGKUNGAN TRADISIONAL

Otorisasi Transaksi
1. Dalam lingkungan manufaktur tradisional, aktivitas produksi diotorisasi oleh bagian
perencanaan dan pengendalian produksi melalui perintah kerja yang formal.
2. Lembar perpindahan ditandatangani oleh supervisor tiap tempat kerja untuk
mengotorisasi dengan aktivitas tiap batch dan untuk perpindahan produk melalui
bebragai tempat kerja.
3. Permintaan bahan baku dan permintaan tambahan bahan baku mengotorisasi staf
gudang utntuk mengeluarkan bahan baku ke berbagai tempat kerja.

Pemisahan Tugas

Tujuan pengendalian lainnya adalah untuk memisahkan penyimpanan catatan dengan penyimpanan
aktiva. Berikut ini pemisahan yang berlaku:

1. Bagian pengendalian persediaan memelihara record akuntansi atas persediaan bahan baku
(raw material-RM) dan barang jadi (FG).
2. Begitu pula, fungsi akuntansi biaya untuk barang dalam proses seharusnya dipisahkan dari
tempat kerja dalam proses produksi.
SUPERVISI
Berikut ini adalah prosedur supervisi yang berlaku dalam siklus konversi.
1. Supervisor dalam berbagai tempat kerja mengawasi penggunaan bahan baku dalam proses
produksi. Hal ini membantu untuk memastikan bahwa semua bahan baku yang dikeluarkan
dari gudang memang digunakan dalam produksi dan bahwa sisa yang terbuang dapat
diminimalkan.
2. Supervisor juga mengamati dan melihat kembali aktivitas pencaatan waktu kerja. Hal ini akan
mendorong adanya kartu kerja dan lembar pekerjaan karyawan yang akurat.

Pengendalian Akses

Akses Langsung ke Aktiva. Sifat dari produk fisik dan proses produksi memengaruhi berbagai jenis
pengendalian akses yang dibutuhkan.
1. Perusahaan sering kali membatasi akses ke berbagai area sensitif seperti gudang, tempat kerja
produksi, dan gudang barang jadi.
2. Penggunaan biaya standar memberikan suatu jenis pengendalian akses. Dengan menetapkan
jumlah bahan baku dan tenaga kerja yang diotorisasi untuk tiap produk, perusahaan
membatasi akses tidak sah ke berbagai sumber daya tersebut.
Akses Tidak Langsung ke Aktiva. Aktiva, seperti kas dan persediaan, dapat dimanipulasi melalui akses
ke berbagi dokumen sumber yang mengendalikannya. Dalam siklus konversi, berbagai dokumen yang
penting meliputi permintaan bahan baku, permintaan tambhan bahan baku, dan kartu kerja karyawan.

Pencatatn Akuntansi

Dalam siklus konversi, hal ini dicapai melalui penggunaan perintah kerja, lembar biaya, kembar
perpindahan, lembar pekerjaan, permintaan bahan baku, file WIP, dan file persediaan barang jadi.

Verifikasi Independen

Berbagai tahapan verifikasi dalam silus konversi dilakukan seperti berikut ini.
1. Bagian akuntansi biaya merekonsiliasi penggunaan bahan baku dan tenaga kerja yang diambil
dari permintaan bahan baku dan lembar pekerjaan, dengan standar yang telah ditetapkan.2
2. Bagian buku besar juga memiliki fungsi verifikasi yang penting melalui pemeriksaan
perpindahan total produk dari WIP hingga barang jadi.
3. Terakhir, auditor internal dan eksternal secara berkala akan memverifikasi persediaan bahan
baku dan persediaan barang jadi yang dimiliki melalui perhitingan fisik.
LINGKUNGAN MANUFAKTUR KELAS DUNIA
FLEKSIBILITAS PRODUKSI
Para pelanggan modern menginginkan produk berkualitas, mereka menginginkannya denga segera,
dan ingin berbagai pilihan. Profil permintaan ini membebankan konflik dasar bagi produsen

tradisional, yang orientasi pada lingkungan terstruktur dan tidak fleksibelnya, menghambat sehingga
tidak efektif dalam lingkungan ini.
Mencapai fleksibilitas produksi (manufacturing flexibility) menggabungkan empat karakteristik:
1.
2.
3.
4.

Reorganisasi fisik pabrik


Otomatisasi proses produksi
Pengurangani persediaan, dan
Kualitas prosuk yang tinggi.

REORGANISASI FISIK FASILITAS PRODUKSI


Ketidakefisienan yang inheren dalam tata letak pabrik internasional menambah biaya penanganan,
waktu konversi, dan bahkan persediaan dalam proses produksi. Selain itu, karena aktivitas produksi
biasanya diatur di sepanjang garis fungsional, terdapat tendensi adanya kecurigaan antarkaryawan.
OTOMATISSASI PROSES PRODUKSI
Otomatisasi adalah inti dari lingkungan produksi yang berfungsi dengan baik. Melalui penggantian
tenaga kerja dengan otomatisasi, perusahaan dapat menjadi lebih efisien dan karenanya menjadi lebih
kompetitif. Otomatisasi juga dapat berkontribusi secara langsung pada karakteristik operasi lainnya
yaitu pengurangan persediaan dan peningakatan kualitas.

Produk Tradisional

Lingkungan produksi tradisional terdiri atas berbagai jenis mesin, yang masing-masing dikendalikan
oleh seorang operator. Karena mesin-mesin ini membutuhkan banyak waktu penyetelan, biaya
penyetelan harus disebarkan dalam operasi produksi berjumlah besar.

Teknologi Yang Berdiri Sendiri

Teknologi yang berdiri sendiri (islands of technolody) menggambarkan lingkungan dengan


keberadaan otomatisasi dalam bentuk (pulau) yang terpisah-pisah dan yang berdiri sendiri dalam
lingkungan tradisional. Teknologi yang berdiri sendiri ini menggunakan mesin yang Dikendalikan
Numerik komputer (computer numerical controlled-CNC) yang dapat melakukan beberapa operasi
dengan keterlibatan manusia yang lebih sedikit.

Penyederhanaan Proses

Penyederhanaan Proses (process simplification) berfokus pada pengurangan kompleksitas tata letak
fisik produksi di lantai pabrik. Berbagai jenis mesin CNC akan diatur dalam sel (cell) untuk
menghasilkan sebuah bagian lengkap dari awal hingga akhir di satu lokasi. Tidak seperti mesin CNC
yang biasa, tidak ada keterlibatan manusia dalam sel.

Produksi Yang Diintegrasikan dengan Komputer

Produksi yang diintegrasikan dengan komputer (computer-integrated manufacturing CIM) adalah


lingkungan yang teroromatisasi penuh. Pabrik CIM diatur menjadi dua sel teknologi yang tidak
menggunakan tenaga kerja manusia dalam proses produksi.

Sistem penyimpanan dan penarikan otomatis. Banyak perusahaan dapat meningkatkan produktivitas
dan profitabilitasnya dengan mengganti forklif beserta operator manusianya dengan sistem
penyimpanan dan penarikan otomatis (automated storage and retrieval system-AS/RS). AS/RS
adalah sistem konveyor yang dikendalikan komputer dan yang membawa bahan baku dari berbagai
gudang ke lantai pabrik, serta barang jadi ke gudang. Manfaat operasional dari teknologi AS/RS ini
jika dibandingkan dengan sistem manual meliputi penurunan kesalahan, perbaikan pengendalian
persediaan, dan biaya peyimpanan yang lebih rendah.

Desain Berbantukan Komputer

Para teknisi menggunakan desain berbantukan komputer (computer-aided design-CAD) untuk


mendesain produk yang lebih baik secara lebih cepat. Sistem CAD meningkatkan produktivitas
teknisi, meningkatkan akurasi dengan otomatisasi pekerjaan desain yang berulang, memungkinkan
perusahaan untuk menjadi lebih responsif pada permintaan pasar, dan menghubungkan sistem CAM
dan MRP II, serta lingkungan eksternal.
Teknologi CAD telah sangat banyak mempersingkat waktu antara desain awal dengan akhir. Hal ini
memungkinkan perusahaan menyesuaikan produksinya secara cepat dengan perubahan dalam
permintaan pasar. Hal ini juga memungkinkan perusahaan merespons permintaan pelanggan atas
produk yang khusus.

Produksi Berbantuan Komputer

Produksi berbantuan komputer (computer-aided manufacturing-CAM) berfokus pada pabrik dan


penggunaan komputer untuk mengendalikan proses produksi secara fisik. Tujuan awal dari
otomatisasi adalah peningkatan produktivitas tenaga kerja. Kini, CAM memberikan presisi, kcepatan,
dan pengendalian yang lebih baik daripada proses produksi oleh manusia. Tujuan dibalik CAM adalah
untuk menggantikan tenaga kerja ,elalui otomatisasi.

MRP II, EDI dan ERP

Perencanaan sumber daya produksi (manufacturing resource planning-MRP II) adalah perluasan
dari konsep sederhana yang masih digunakan dan disebut sebagai sistem perencanaan permintaan
bahan baku (materials requirements planning-MRP)
MRP II tidak terbatas pada persediaan manajemen. MRP II adalah sistem dan filosofi untuk
mengoordinasikan berbagai aktivitas seluruh perusahaan. Oleh karenanya, MRP II menggabungkan
berbagai teknik untuk melaksanakan perencanaan produksi, memberikan umpan balik, dan
mengendalikan proses. Sistem MRP II akan menghasilkan daftar kebutuhan bahan baku untuk produk
terkait, menyesuaikan produksi dan produk tersebut dalam jadwal produksi induk, membuat perkiraan
kasar perencanaan kapasitas berdasarkan ketersediaan mesin dan kerja, menghasulkan rencana
permintaan bahan baku yang akan menjadwalkan pengiriman bahan baku secara just-in-time,
mendesain rencana kapasitas akhir untuk pabrik dan mengelola persediaan bahan baku serta barang
jadi.
Produsen kelas dunia bisa mewujudkan sejumlah manfaat dari sistem MRP II yang sangat terintegrasi,
dalam hal-hal berikut ini:
Perbaiakan layanan pelanggan
Pengurangan investasi pada persediaan

Peningkatan produktivitas
Perbaikan arus kas
Bantuan dalam mencapai tujuan strategis jangka panjang
Bantuan dalam mengelola perubahan (yaitu, dalam pengembangan produk baru, atau
pengembanagn produk khusu untuk pelanggan atau oleh pemasok).
Fleksibilitas dalam proses produksi.

MRP II telah berubah perlahan menjadi peranti lunak canggih yang disebut sistem perencanaan
sumber daya perusahaan (enterprise resource planning-ERP). Paket peranti lunak komersial ini
mendukung kebutuhan informasi keseluruhan perusahaan, tidak hanya fungsi produk.
PENGURANGAN PERSEDIAAN

Sisi Buruk Persediaan

Tiga alasan penting mengapa perusahaan lebih baik mengurangi persediaannya.


1. Persediaan membutuhkan biaya. Persediaan mewakili investasi dalam bahan baku, tenaga
kerja, dan overhead yang tidak dapat direalisasikan sampai dijual.
2. Persediaan menyamarkan masalah produksi. Jika kapasitaas mesin tidak seimbang dalam
proses produksi hingga menyebabkan ketidakseimbangan, persediaan barang dalam proses
akan menumpuk di titik ketidakseimbangan tersebut.
3. Kemauan untuk menyimpan persediaan dapat menimbulkan kelebihan produksi. Oleh karena
adanya hambatan biaya penyetelan, perusahaan cenderung untuk menghasilkan lebih banyak
persediaan dalam batch besar untuk menyebarkan biaya yang dialokasikan secara membuat
persepsi adanya peningkatan efisiensi.

Bagaimana Perusahaan dapat Mengurangi Persediaan

Perusahaan yang telah berhasil mengurangi persediaan mengadopsi model produksi just-in-time (JIT).
Akan tetapi, JIT lebih dari hanya sekadar teknik pengurangan persediaan. JIT adalah filosofi yang
menyerang berbagai masalah produksiyang sebelumnya dijelaskan, melalui penyederhanaan proses
serta pengurangan persediaan.
Konsep JIT sangat tergantung pada berbagai asumsi berikut ini:

Tingkat Cacat Nol


Waktu Penyetelan Nol
Ukuran Lot Kecil
Persediaan Nol
Waktu Tunggu Nol dalam Pemasok yang Andal
Sikap Tim

KUALITAS PRODUK

Bagaimana Perusahaan dapat Meningkatkan Kualitas?

Salah satu cara perusahaan dapat meningkatkan kualitas adalah dengan menempatkan titik
pengendalian di sepanjang proses produksi untuk mengidentifikasi operasi yang tidak terkendali
ketika operasi tersebut terjadi.
Pengendalian proses secara statistik (statistical process control) adalah metode untuk
mengendalikan sistem produksi otomatis.
IMPLIKASI UNTUK AKUNTANSI DAN SIA
PERUBAHAN DALAM TEKNIK AKUNTANSI
Apa yang Salah Dalam Informasi akuntansi Tradisional?
Alokasi Biaya yang Tidak Akurat. Sistem akuntansi tidak secara akurat menelusuri biaya ke produk
dan proses. Salah satu konsekuensi dan teknologi baru adalah restrukturisasi pola biaya produksi.
Ketertinggalan Waktu. Data akuntansi transaksi pelaporan manajemen pada dasarnya adalah daat
historis.
Orientasi Keuangan. Orientasi informasi akuntansi tradisional tidak secara memadai
mengidentifikasi produk atau proses yang tidak benar.
Penekanan Pada Biaya Standar. Akuntansi yang konvensional menekankan pada biaya standar dan
analisis varian

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah-masalah Ini?

Banyak perusahaan kelas dunia yang telah menemkan solusi atas berbagai masalah ini melalui
perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity-based costing-ABC).
PERUBAHAN DALAM PELAPORAN
Manajemen Aktivitas
- Mengevaluasi aktivitas produksi
- Mengidentifikasi aktivitas yang tidak penting
- Mengidentifikasi penggerak biaya
- Membandingkan aktivitas dengan baku mutu
- Membuat hubungan antara aktivitas utama
SISTEM INFORMASI KELAS DUNIA
KARAKTERISTIK SISTEM INFORMASI TRADISIONAL
Teknologi yang digunakan oleh produsen tradisional biasanya akan terdiri atas sebuah mainframe
yang menangani berbagai fungsi utamaakuntansi, seperti pemrosesan pesanan penjualan, pemrosesan
pembelian, dan penggajian.
SAP: CONTOH SISTEM INFORMASI KELAS DUNIA
SAP R/3
ISU PENGENDALIAN DALAM WICS
Lingkungan tanpa Kertas
WCIS sebenarnya dapat meniadakan arus dokumen kertas tradisionaldalam siklus
pesanan-pengiriman-faktur-pembayaran karena sistem tersebut memungkinkan berbagai
transaksi dilakukan, dicatat, disetujui, dan dilaksanakan secara elektronik.
Transaksi Otomatis

Sistem memasukkan pesanan hanya ketika persediaan dibutuhkan


Pemesanan persediaan dimasukkan hanya untuk pemasok yang disetujui
Jumlah barang yang dipesan benar sesuai kebutuhan perusahaan.
Prosedur yang diprogram secara tepat mencocokkan dokumen pengendali
elektroniknya sebelum memulai fungsi pembayaran.
Pertimbangan Pembentukan Jaringan

WCIS akan didesain di sekitar rangkaian local are network, minikomputer, dan/atau mainframe,
tergantung pada kebutuhan produsennya.

DAFTAR PUSTAKA

James A. Hall. Accounting Information Systems. 3rd Edition, South-Western, 2001. (Mar)