Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM FISIOLOGI

TENSION-TYPE HEADACHE

Disususn Oleh:
Saffana Qolby Mayana
(155070500111017)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB I
REVIEW TENSION TYPE HEADACHE

Nyeri kepala atau cephalgia adalah nyeri yang dirasakan di daerah kepala atau
merupakan suatu sensasi tidak nyaman yang dirasakan pada daerah kepala (Goadsby, 2002) .
Nyeri kepala merupakan salah satu gangguan sistem saraf yang paling umum dialami oleh
masyarakat. Telah dilakukan penelitian sebelumnya bahwa dalam 1 tahun, 90% dari populasi
dunia mengalami paling sedikit 1 kali nyeri kepala. Menurut WHO dalam banyak kasus nyeri
kepala dirasakan berulang kali oleh penderitanya sepanjang hidupnya. Nyeri kepala
diklasifikasikan oleh International Headache Society, menjadi nyeri kepala primer dan
sekunder. Yang termasuk ke dalam nyeri kepala primer antara lain adalah: nyeri kepala tipe
tegang (TTH - Tension Type Headache), migrain, nyeri kepala cluster dan nyeri kepala
primer lain, contohnya hemicrania continua. Nyeri kepala primer merupakan 90% dari semua
keluhan nyeri kepala. Nyeri kepala juga dapat terjadi sekunder, yang berarti disebabkan
kondisi kesehatan lain (Goadsby, 2002)
Sekitar 93% laki-laki dan 99% perempuan pernah mengalami nyeri kepala. TTH dan
nyeri kepala servikogenik adalah dua tipe nyeri kepala yang paling sering dijumpai. TTH
adalah bentuk paling umum nyeri kepala primer yang mempengaruhi hingga dua pertiga
populasi. Sekitar 78% orang dewasa pernah mengalami TTH setidaknya sekali dalam
hidupnya. TTH episodik adalah nyeri kepala primer yang paling umum terjadi, dengan
prevalensi 1-tahun sekitar 3874%.7 Rata-rata prevalensi TTH 11-93%.4,5 Satu studi
menyebutkan prevalensi TTH sebesar 87%.6. Suatu survei populasi di USA menemukan
prevalensi tahunan TTH episodik sebesar 38,3% dan TTH kronis sebesar 2,2%.13 TTH dapat
menyerang segala usia. Usia terbanyak adalah 25-30 tahun, namun puncak prevalensi
meningkat di usia 30-39 tahun. Sekitar 40% penderita TTH memiliki riwayat keluarga
dengan TTH, 25% penderita TTH juga menderita migren. Prevalensi seumur hidup pada
perempuan mencapai 88%, sedangkan pada laki-laki hanya 69%. Rasio perempuan:laki-laki
adalah 5:4. Onset usia penderita TTH adalah dekade ke dua atau ke tiga kehidupan, antara 25
hingga 30 tahun. 7,16. Meskipun jarang, TTH dapat dialami setelah berusia 50-65 tahun.
(Anurogo, 2014)
Tension type headache dikenal juga sebagai nyeri kepala otot tegang dimana tipe
nyeri kepala ini paling banyak menyerang banyak orang. Sakit kepala ini dapat berupa

episodik atau kronik. Tension type headache menyerang secara bilateral (dua sisi) atau
unilateral (satu sisi) dan meliputi area frontal, temporal dan oksipitalis. Sakit kepala
dideskripsikan sebagai rasa tekan (terikat) yang konstan kepala bagaikan diikat oleh tali. Tipe
sakit kepala ini dapat dirasakan oleh baik pria atau wanita, namun wanita lebih mendominasi.
Rasa sakit pada episodik akut dipicu baik secara tekanan fisik dan psikologis. Tekanan fisik
dirasakan dari menyetir yang terlalu lama, bekerja dengan posisi leher tegang atau paparan
sinar katoda dapat menyebabkan nyeri kepala. (Waldman, 2009). Gambaran khas nyeri
kepala ini adalah nyeri tumpul di seluruh kepala, biasanya tidak terlokalisasi dengan jelas,
respon buruk terhadap analgesik yang dibeli bebas, bertambah berat sepanjang hari, durasi
berhari-hari sampai berminggu-minggu. (Davey, 2006)
TTH adalah kondisi stres mental, nonfisiologikal motor stres, dan miofasial lokal
yang melepaskan zat iritatif ataupun kombinasi dari ke tiganya yang menstimuli perifer
kemudian berlanjut mengaktivasi struktur persepsi supraspinal pain, kemudian berlanjut lagi
ke sentral modulasi yang masing-masing individu mempunyai sifat self limiting yang
berbeda-beda dalam hal intensitas nyeri kepalanya. Nyeri miofascial adalah suatu nyeri pada
otot bergaris termasuk juga struktur fascia dan tendonnya. Dulu dianggap bahwa kontraksi
dari otot kepala dan leher yang dapat menimbulkan iskemik otot sangatlah berperan penting
dalam tension type headache sehingga pada masa itu sering juga disebut muscle contraction
headache. Akan tetapi pada akhir-akhir ini pada beberapa penelitian yang menggunakan
EMG (elektromiografi) pada penderita tension type headache ternyata hanya menunjukkan
sedikit sekali terjadi aktifitas otot, yang tidak mengakibatkan iskemik otot, jika meskipun
terjadi kenaikan aktifitas otot maka akan terjadi pula adaptasi protektif terhadap nyeri.
Peninggian aktifitas otot itupun bisa juga terjadi tanpa adanya nyeri kepala. (Dewanto dkk,
2009)
Gejala yang timbul pada sakit kepala Tension-type Headache (TTH) adalah rasa sakit
dimulai dibelakang kepala dan leher atas serta digambarkan seperti tertekan, sering
digambarkan sebagai tekanan yang melingkari kepala dengan tekanan paling kuat di atas alis,
nyeri biasanya ringan (tidak melumpuhkan) dan bilateral (mempengaruhi kedua sisi kepala),
rasa sakit terjadi secara sporadic (jarang atau tanpa pola) namun dapat terjadi sering dan
bahkan setiap hari pada beberapa orang, dan rasa sakit memungkinkan kebanyakan orang
tetap melakukan aktivitas secara normal, meskipun sakit kepala sedang ia derita. (Dewanto
dkk, 2009)

Tension type headache diklasifikasi menjadi episodik dan kronik. Episodik terasa
nyeri kepala antara 30 menit hingga 7 hari, terasa seperti ditekan atau diikat namun tidak
berdenyut intensitasnya ringan atau sedang dapat mengganggu aktivitas namun tidak
menghalangi aktivitas, lokasinya bilateral, tidak bertambah berat saat aktivitas rutin lainnya,
tidak ada mual atau muntah, tidak ada nyeri kepala akibat sebab lain. Kronik memiliki
kriteria selama 6 bulan atau lebih mengalami nyeri kepala rata-rata 15 hari atau lebih setiap
bulannya, nyeri bersifat menekan dan terasa kencang, intensitas ringan sampai sedang, lokasi
bilateral, tidak bertambah berat saat aktivitas rutin lainnya, muntah, mual. (Dewanto dkk,
2009)
Faktor-faktor penyebab dari TTH bukan merupakan infeksi virus ataupun bakteri
melainkan tetapi keadaan-keadaan seperti stress, kecemasan, depresi, konflik emosional, dan
kelelahan. Nyeri kepala yang timbul adalah manifestasi dari reaksi tubuh terhadap stres,
kecemasan, depresi, konflik emosional atau kelelahan. Respon fisiologis yang terjadi meliputi
refleks vasodilatasi pembuluh darah ekstrakranial serta kontraksi otot-ototskelet kulit kepala
(scalp), wajah, leher dan bahu secara terus menerus (Dewanto dkk, 2009). Pencetus TTH lain:
kelaparan, dehidrasi, pekerjaan/beban yang terlalu berat (overexertion), perubahan pola tidur,
caffeine withdrawal, dan fluktuasi hormonal wanita. Stres dan konflik emosional adalah
pemicu tersering TTH. Gangguan emosional berimplikasi sebagai faktor risiko TTH,
sedangkan ketegangan mental dan stres adalah faktor-faktor tersering penyebab TTH.
Asosiasi positif antara nyeri kepala dan stres terbukti nyata pada penderita TTH. (Anurogo,
2014)
Prinsip pengobatan adalah pedekatan psiklogik (psikoterapi), fisiologik (relaksasi)
dan farmakologik (analgesik, sedativa dan minor transquilizers). Dalam praktek, diperlukan
penjelasan yang cukup mengenai latar belakang munculnya nyeri agar penderita mengerti
tentang permasalahan yang selama ini kurang atau tidak disadarinya. Penjelasan tentang
berbagai macam pemeriksaan tambahan yang perlu dan yang tidak perlu akan sangat
bermanfaat bagi penderita. (McPhee dkk, 2009)
Analgesik seperti aspirin atau acetaminophen atau NSAID lain yang sangat
membantu, tetapi hanya untuk waktu yang singkat. Tension headache memberi respon terbaik
terhadap penggunaan hati-hati salah satu dari beberapa obat yang mengurangi kecemasan
atau depresi, ketika gejala terakhir timbul. (McPhee dkk, 2009)

Beberapa pasien memberi respon terhadap ancillary measure seperti massase,


meditasi dan teknik biofeedback. Pengobatan analgesik yang lebih kuat sebaiknya dihindari.
Raski melaporkan berhasilnya terapi dengan calcium channel blocker, phenelzine atau
cyproheptadine. Ergotamin dan propanolol tidak efektif kecuali jika terdapat gejala migren
dan tension headache. Teknik relaksasi sangat menolong pasien bagaimana cara menghadapi
anxietas dan stress. (McPhee dkk, 2009)
Penanganan dilakukan dengan istirahat dengan tenang, ruangan gelap hingga gejala
berkurang dan hilang, konsumsi obat nyeri seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen, pijat
leher, bahu dan punggung. Letakkan heat, ice pack, atau dikompres pada area yang nyeri.
Segera ke dokter bila sakit kepala yang lebih sakit dari biasanya, muntah berulang, mati rasa
wajah, lengan atau kaki, lengan dan kaki lemah dan perubahan visual yang tidak segera
hilang. (McPhee dkk, 2009)

BAB II
ANALISIS KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama

: Ny. Ninik

Umur

: 32 tahun

Tempat Tinggal : Lawang


Pekerjaan

: Administrasi Lab

Status Pernikahan: Menikah


Berat Badan

: 60 kg

Golongan Darah : B
2.2 Anamnesa
Keluhan utama yang dirasakan oleh pasien yaitu sakit kepala dari bagian depan ke
bagian belakang kepala, sakit kepala ini dirasakan seperti kepala diikat dan dibebani oleh
benda tumpul sehingga berat di belakang kepala (radiasi pain). Riwayat penyakit
sekarang yaitu sakit kepala yang dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dengan frekuensi
seminggu 1 sampai 2 kali, sifat munculnya yaitu intermitten yang muncul hilang, durasi
sakit kepala 2 hingga 6 jam atau bahkan bisa lebih. Dalam skala 1-10, sakit kepala yang
dirasakan oleh pasien dalam skala mencapai 7 yang dapat mengindikasikan sebagai sakit
kepala yang akan mencapai sakit kepala sedang. Sakit kepala ini biasanya dirasakan saat
beraktivitas dan terjadi pada siang hari. Namun, saat sakit kepala muncul tidak
mengganggu aktivitas kerja dari pasien. Aktivitas pekerjaan pasien adalah di depan layar
komputer selama 8 jam perhari. Riwayat pekerjaan yang terlalu lama maka keluhan
muncul. Sakit kepala tidak menjalar ke organ tubuh lainnya. Upaya yang dilakukan

untuk mengurangi beban adalah saat terasa sakit, pasien mengonsumsi obat paramex dan
setelah beberapa saat sakit yang dirasakan hilang dengan diiringi oleh istirahat.
Riwayat penyakit dulu adalah pasien tidak menderita penyakit atau gejala yang sama.
Pasien juga tidak memiliki trauma tertentu. Berdasarkan pengakuan pasien, pasien tidak
memiliki kebiasaan yang jelek seperti merokok atau meminum alkohol. Pasien memiliki
pola makan yang teratur, pola beristirahat yang teratur selama 8 jam sehari, pola
mengonsumsi air putih juga cukup dan tidak sering mengonsumsi kopi. Menurut riwayat
keluarga, keluarga dari pasien tidak memiliki gejala atau penyakit yang sama seperti
yang pasien rasakan.
Pasien juga memiliki keluhan penyerta yaitu pasien merasa mual saat sakit kepala
menyerang dan terkadang muntah. Selain itu pasien juga menjadi berkeringat dingin
tetapi tidak merasakan demam karena efek sakit kepala yang terjadi sehingga dirasakan
sangat tidak nyaman. Selama ini pasien tidak mengalami sulit tidur, jantung tidak
berdebar-debar, dan pasien tidak pernah berobat sebelumnya.
2.3 Pemeriksaan Fisik
Pasien Ny. Ninik juga dilakukan pemeriksaan fisik yang meliputi st. Interna dan st.
neurologis. Dalam pemeriksaan interna, vital sign berupa tekanan darah 120/80, nadi 80
per menit, respiratory rate (RR) 20 per menit, suhu tubuh normal 36,5 oC. Dilakukan
pemeriksaan di bagian kepala meliputi pemeriksaan mata yang menunjukkan pasien
tidak mengalami anemia, tidak mengalami icterik, dan pemeriksaan bibir cyanotic
menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan leher JUP normal dan tidak ada pembesaran
lympnode. Pemeriksaan toraks meliputi pemeriksaan jantung dan paru dengan hasil suara
jantung dan batas jantung normal, irama jantung S1 S2 tunggal dan tidak murmurus. Pada
pemeriksaan paru Rh, Wh negatif dan pernapasan tipe vesikuler. Pemeriksaan abdomen,
distended negatif, meteorismus negatif (tidak kembung), aulkultasi peristaltik normal.
Pemeriksaan ekstremitas tidak ada edema, perfusi negatif, suhu aksial hangat dan
cyanotic negatif. Pemeriksaan St. neurologis, GCS (Glasglow Comma Scale) sebesar 456
yang berarti dalam keadaan sadar sempurna, MS (Multiple Sclerosis) negatif, fungsi
luhur, nervus cranialis, motorik, sensorik, refleks fisiologis, refleks patologis normal, dan
ANS dalam batas normal.
2.4 Manajemen dan Terapi

Rx : Pamol 500 mg
Amitriptilin 10 mg
Diazepam 1 mg
Cafein 25 mg
m.f.l.a pulv dtd no X in caps
S 2 dd caps
Yaitu pemberian obat Pamol 500 mg, Amitriphylin 10 mg, Diazepam 1 mg, Cafein 25
mg dibuat dalam serbuk terbagi (pulveres) dalam bentuk kapsul sebanyak 10 dan dikonsumsi
sehari 2 kapsul. Menurut dosis obat, dosis yang diberikan tidak overdose dan tidak
underdose.
Dapat dilakukan terapi non farmakologis yaitu dengan kompres panas atau dingin
pada dahi, mandi air panas, tidur atau istirahat. Inti pencegahan tension-type headache adalah
menghindari faktor pencetus. Hindari kafein dan nikotin, situasi yang menyebabkan stres,
kecemasan, rasa lapar, rasa marah, dan posisi tubuh yang tidak baik. Perubahan gaya hidup
diperlukan untuk menghindari tension-type headache kronis.

Hal yang dapat dilakukan

antara lain, beristirahat dan berolah raga teratur, berekreasi, atau merubah situasi kerja.
(Dewanto dkk. 2009). Selain itu dapat dilakukan dengan latihan relaksasi, relaksasi progresif,
terapi kognitif, biofeedback training, cognitive-behavioural therapy, atau kombinasinya.
Solusi lain adalah modifikasi perilaku dan gaya hidup. Misalnya: istirahat di tempat tenang
atau ruangan gelap. Peregangan leher dan otot bahu 20-30 menit, idealnya setiap pagi hari,
selama minimal seminggu. Hindari terlalu lama bekerja di depan komputer, beristirahat 15
menit setiap 1 jam bekerja, berselang-seling, iringi dengan instrumen musik alam atau klasik.
Saat tidur, upayakan dengan posisi benar, hindari suhu dingin. Bekerja, membaca, menonton
TV dengan pencahayaan yang tepat. (Russel, 2007).

BAB III
DIAGNOSA
Ibu Ninik usia 32 tahun didiagnosa mengalami penyakit TTH (Tension Type
Headache) dimana keadaan Definisi (TTH) adalah sakit kepala yang terasa seperti tekanan
atau ketegangan di dalam dan disekitar kepala. Diagnosa ini didukung oleh anamnesa dan
pemeriksaan fisik yang telah dilakukan. Nyeri kepala karena tegang yang menimbulkan nyeri
akibat kontraksi menetap otot- otot kulit kepala, dahi, dan leher. Penyakit TTH ini dialami
sejak dua tahun dan memiliki frekuensi seminggu terjadi dua kali yang menandakan bahwa
Ibu Ninik menglami TTH episode yang sering dan sudah cukup kronis. Untuk mengatasinya
digunakan terapi obat dengan menggunakan obat golongan anti depressan, dan mengubah
pola hidup seperti beolahraga dan melakukan relaksasi berperiode selama mengalami
pekerjaan seperti peregangan otot-otot kepala dan leher.

DAFTAR PUSTAKA
Anurogo, Dito. 2014. Tension Type Headache. CDK-214 41(3) : Hal 186-191
Davey, Patrick. 2014. Medicine at a Glance. John Wiley and Sons, Ltd: Oxford
Dewanto, George, Wita J. Suwono, Budi Riyanto, Yuda Turana. 2009. Panduan Praktis
Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. EGC: Jakarta
Goadsby PJ, Lipton RB, Ferrari MD. 2002. Migraine Current Understanding
and Treatmen. N Engl J Med: London
McPhee, Stephen J, Maxine A. Papadakis, dkk. 2009. Nervous System Disorders Current
Medical Diagnosis and Treatment. McGraw-Hill: San Fransisco
Russell MB. 2007. Genetics of Tension-Type Headache. Journal of Headache Pain
V(8):Hal71-76.