Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

SKRINING HIPOKRATIK
Dosen Pengampu :
Dr. Azrifitria, M.Si., Apt.
.Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt.
Yardi, M.Si., Ph.D., Apt.
Dimas Agung Waskito W, S.Far.
Marvel, M.Farm., Apt

Disusun Oleh:
Kelompok 6D :
Saif Ahmad Al-Mutaali

11141020000061

Puspitasari

11141020000067

Laela Wulandari

11141020000070

Nada Nursetiyanti

11141020000076

Sri Sumartini`

11141020000079

Philia Permaiswari Pratiwi

1111102000008

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Tujuan
1) Memahami dan terampil dalam melakukan skrining farmakodinamik obat
menggunakan teknik skrining hipokratik.
2) Memahami dan mampu menganalisis hasil-hasil skrining farmakologi
obat dan menentukan kategori aktivitas senyawa uji berdasarkan hasil
tersebut.
I.2. Rumusan Masalah
1) Bagaimana prinsip dan parameter skrining hipokratik dalam menentukan
kategori aktivitas senyawa uji dalam percobaan ini?
2) Bagaimana hasil analisis skrining hipokratik dalam percobaan ini?
3) Apakah kategori aktivitas senyawa uji dari ekstrak dalam percobaan ini?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Skrining Hipokratik

II.1.1. Definisi
Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas
suatu obat/ bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal dari
alam maupun senyawa sintesis/ semisintesis. suatu metode untuk
mengetahui aktivitas farmakologik suatu zat. (Nurmeilis, 2016)
II.1.2. Prinsip skrining
Hewan akan memberikan efek tertentu jika diberikan suatu
senyawa. Efek tersebut dapat bersifat tergantung pada dosis atau tidak
tergantung pada dosis. Pada efek yang tergantung dosis, dengan
bertambahnya dosis efek yang diberikan akan bertambah besar. (Adnan,
adek zamrud., et all. 1998)
II.1.3. Tujuan Skrinning Hipokratik
Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui
aktivitas farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini
dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba
setelah diberi zat uji. Zat atau obat yang disediakan dalam praktikum ini
antara lain yang memberikan efek depresan SSP, perangsang SSP,
simpatomimetik, parasimpatomimetik, simpatolitik, muscle relaxant,
analgesik, vasokonstriktor, dan vasodilator. Pada percobaan ini akan
dilakukan evaluasi dan pengelompokan efek-efek yang timbul pada hewan
uji (tikus) berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh zat atau obat
tersebut. (Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011).
Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat
yang belum diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat
tersebut memiliki efek fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai
penapisan hipokratik (penapisan awal). Penapisan ini masih merupakan
prediksi (Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011)
a. Parasimpatomimetik
Parasimpatomimetika atau kolinergika adalah sekelompok zat
yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan

parasimpatis, karena melepaskan neurohormon asetilkolin di


ujung-ujung neuronnya. Efek-efek yang muncul setelah pemberian
kolinergika adalah:

Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik


dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga

sekresi air mata, dll.


Memperlambat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi

kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah.


Memperlambat pernapasan, antara lain dengan menciutkan

bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar


Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis)
dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya

pengeluaran air mata.


Kontraksi kandung

memperlancar pengeluaran urin.


Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka.
Menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya

kemih

dan

ureter

dengan

efek

(Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011)


b. Simpatomimetik
Simpatomimetika atau adrenergika adalah zat-zat yang
dapat menimbulkan (sebagian) efek yang sama dengan stimulasi
susunan sipaticus dan melepaskan noradrenalin di ujung-ujung
sarafnya. Efek-efek yang ditimbulkan adalah:

Vasokonstriksi otot polos dan menstimulsi sel-sel


kelenjar dengan bertambahnya antar lain sekresi liur

dan keringat.
Menurunkan peristaltik usus.
Memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.
Bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan
lemak (Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011).

c. Simpatolitik
Simpatolitika

atau

adrenolitika

adalah

zat-zat

yang

melawan sebagian atau seluruh aktivitas susunan saraf simpatis.

Efeknya melawan efek yang ditimbulkan oleh simpatomimetika


(Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011)
d. Analgetik
Anlagetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang
mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran (Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011).
e. Vasodilator
Vasodilator didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat
melebarkan pembuluh darah secara langsung. (Narendra, Baskoro
Surya., et all. 2011).
f. Vasokonstriktor
Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan vasodilator
(Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011).
g. CNS Activation
Zat-zat yang dapat merangsang SSP. Efek-efek yang
ditimbulkan adalah:
Konvulsi.
Meningkatkan laju pernapasan.
Misal pada tikus, efek yang ditimbulkan antara lain:
Aktivitas motorik meningkat
Temperatur rektum naik.
Rasa ingin tahu meningkat
(Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011).
h. CNS Depressant
Zat-zat yang dapat menekan SSP. Efek yang ditimbulkan
berlawanan dengan CNS activation.
Misal pada tikus, efek yang ditimbulkan antara lain: (Narendra,
Baskoro Surya., et all. 2011)
Aktivitas motorik menurun
Laju pernapasan menurun
Hilang refleks pinal
Paralisa kaki
Hilang daya cengkeram
i. Muscle Relaxant
Efek yang ditimbulkan mirip dengan CNS depressant.
(Narendra, Baskoro Surya., et all. 2011)
5

II.1.4. Paremeter yang diamati Pada Skrining Hipokratik


Dalam skrining hipokratis parameter yang diamati antara lain adalah:
aktifitasmotorik, refleks, paralisa kaki, daya cengkram, laju pemapasan, tremor,
fasikulasi, konvulsi, eksoftalmus, ataksia, ptosis, ukuran pupil, nistagmus,
lakrimasi, urinasi, diare, tail lashing, suhu tubuh, geliat, tonus tubuh, rasa ingin
tahu dan dilihat efek utama yang terjadi, sesuai dengan probabilitas data yang
diperoleh (Adnan, adek zamrud., et all. 1998).
Dalam Skrining Hipokratik ada berbagai macam parameter yang di lihat
untuk mengetahui efek apa yang dihasilkan oleh obat atau ekstrak dan dapat di
indikasikan untuk apa obat tersebut.
Parameter berupa kelopak mata turun menunjukan kriteria aktivitas kerja
obat relaksan otot atau pendepresi Sistem Saraf Pusat. Ekor berdiri menunjukan
parameter aktivitas kerja obat analgesik. Parameter motorik, rasa ingin tahu dan
tremor merupakan parameter yang berkontribusi untuk menentukan efek stimulasi
SSP dari obat atau ekstrak yang digunakan. Adanya penurunan pada aktivitas
motorik, rasa ingin tahu dan tremor dapat mengindikasikan bahwa obat atau
ekstrak yang di uji dapat mempunyai khasiat sebagai antidepressant, antiepileptik,
atau obat relaxan otot. Jika adanya peningkatan pada aktivitas motorik, rasa ingin
tahu dan tremor maka obat atau ekstrak yang di uji dapat mempunyai khasiat
sebagai peningkat atau pengaktivasi stimulasi sistem saraf pusat yang salah
satunya dapat meningkatkan kemampuan untuk tetap terjaga seperti khasiat yang
dipunyai oleh kafein
II. Ekstrak Daun Kelor

II.1.

Kandungan Kimiawi Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.)


Bahan bioaktif yang terdapat dalam daun kelor (Moringa oleifera

Lamk.) adalah kelompok flavonoid dengan komponen utama quercetin dan


kaempferol. Dalam penelitian lain, didapatkan jumlah senyawa flavonoid
sebesar 0,17- 1,64 mg/100 g berat kering; carotenoid berupa dan karoten sebesar 4,49-45,94 mg/100 g berat kering; senyawa tocopherol
berupa - dan - tocopherol sebesar 7,1-116 mg/100 g berat kering, serta
derivat asam chlorogenic berupa asam caffeoylquinic dan asam
coumaroylquinic sebesar 0,18-0,41 mg/100 g berat kering. - karoten yang
merupakan analog vitamin A dan - tocopherol yang merupakan analog
vitamin E merupakan provitamin poten yang terkandung dalam suatu
tanaman.
Kelor (Moringa oleifera Lamk.) juga 21 mengandung kombinasi
senyawa yang unik yaitu isotiosianat dan glukosinolat. Daun kelor
(Moringa oleifera Lamk.) mengandung 3,2% tanin, 4,65% saponin, 2,02%
total polifenol, dan 20 macam asam amino, diantaranya 19 asam amino L-amino dan satu asam amino L-amino. Asam amino ini akan mengalami
biosinteis menjadi 50.000 lebih protein yang bersama dengan enzim akan
berperan dalam mengontrol aktivitas kimia antibodi untuk mencegah
berbagai penyakit.
II.2.

Efek Biologis dan Farmakologis Daun Kelor (Moringa oleifera


Lamk.)
Ekstrak n-heksana daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) dengan

konsentrasi 35% memiliki efek antimikroba terhadap E.coli galur patogen


secara in vitro. Infusa daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) juga memiliki
efek antipiretik dalam penelitian terhadap kelinci putih yang diinduksi
demam dengan vaksin DPT-HB. Ekstrak etanol 50% daun kelor (Moringa
oleifera Lamk.) memiliki efek imunomodulator pada mencit model
imunosupresi, di mana ekstrak ini menstimulasi imunitas selular dan
humoral mencit. Daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) dapat memperbaiki
7

status metabolisme penderita diabetes mellitus dengan memperbaiki


metabolisme lipid, meningkatkan status antioksidan dan fungsi 22 kapiler,
serta menurunkan kadar kolesterol. Kelor (Moringa oleifera Lamk.) juga
dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Kelor (Moringa
oleifera Lamk.) memiliki potensi sebagai agen kemopreventif karena
memiliki kandungan isotiosianat. Secara in vivo, isotiosianat menunjukkan
aktivitas sebagai agen antikanker.
Kandungan tanin yang terdapat dalam daun kelor (Moringa
oleifera

Lamk.)

memiliki

efek

antibakteri,

antitumor,

antivirus,

antihipertensi, dan aktivitas antioksidan. Saponin adalah suatu glikosida


alamiah yang terikat dengan steroid atau triterpen. Saponin mempunyai
aktifitas farmakologi yang cukup luas, seperti imunomodulator, antitumor,
antiinflamasi,

antivirus,

antijamur,

antihiperglikemik,

dan

antihiperkolesterol
Manfaat terapeutik daun kelor didasarkan atas aktivitas antioksidan
yang tinggi. Di antara berbagai bahan fitokimia dalam daun kelor
(Moringa oleifera Lamk.), flavonoid merupakan komponen utama yang
berperan dalam aktivitas antioksidan. Secara biologis, flavonoid diketahui
memiliki

aktivitas

antioksidan

yang

sangat

baik,

namun

jalur

metaboliknya masih belum banyak diketahui. Quercetin dan kaempferol


merupakan flavonol utama dalam daun kelor (Moringa oleifera Lamk.).
Flavonoid merupakan antioksidan donor hidrogen yang akan bereaksi
efektif dengan radikal bebas. Selain itu flavonoid juga dikenal sebagai
antioksidan pemecah rantai reaksi radikal bebas seperti peroksidasi lipid.
24 Flavonoid dapat mencegah peroksidasi lipid melalui radical scavengers
pada tahap inisiasi, sementara reaksi propagasi dapat dicegah dengan
peroxyradical scavenger. Flavonoid menghambat enzim yang berperan
pada produksi radikal anion superoksida seperti xantin oksidase. Terdapat
2 gugus fungsi utama pada flavanoid yang menentukan potensi peredaman
radikal bebas yaitu: 1) gugus katekol (o-dihidroksi) pada cincin B yang
mempunyai sifat sebagai donor elektron dan merupakan target radikal;

serta 2) ikatan rangkap C2-C3 yang berkonjugasi dengan gugus 4- okso


pada cincin heterosiklik yang berperan pada delokalisasi elektron.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat efek daun kelor
(Moringa oleifera Lamk.) dalam meningkatkan memori dan memperbaiki
fungsi neuron. 250 mg/kgBB ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera
Lamk.) bermanfaat meningkatkan kadar neurotransmiter monoamin seperti
norepinefrin, dopamin, dan serotonin serta mengurangi jumlah kerusakan
neuron setelah paparan kolkisin. Sementara itu, dalam penelitian yang
dilakukan Ganguly et. al. (2005), ekstrak akuades daun kelor (Moringa
oleifera Lamk.) dengan dosis 250 mg/kgBB dapat meningkatkan nilai
pilihan benar tikus pada maze radial Y 25 melalui peran antioksidan dari
vitamin dan komponen bioaktif daun kelor (Moringa oleifera Lamk.)
seperti flavonoid. Aktivitas antioksidan daun kelor (Moringa oleifera
Lamk.) juga dibuktikan pada penelitian yang menggunakan tikus model
serebral iskemia fokal, di mana terjadi peningkatan aktivitas SOD dan
katalase

serta

penurunan

aktivitas

malondialdehyde

(MDA)

(Kirisattayakul et. al., 2012). Bubuk ekstrak daun kelor (Moringa oleifera
Lamk.) juga diketahui dapat meningkatkan kadar antioksidan dan aktivitas
SOD otak terutama di hipokampus dan memperbaiki fungsi memori pada
tikus dengan kekurangan energi protein (Illiandri et. al., 2010).
Hasil penelitian lain menunjukkan pemberian ekstrak daun kelor
dapat meningkatkan jumlah sel T CD4+ dan sel T CD8+ (imunostimulan)
pada semua kelompok mencit dan pemberian ekstrak daun kelor dengan
dosis tinggi menyebabkan imunosupresi. Zat aktif yang diduga memiliki
peran sebagai imunostimulan adalah saponin dan flavonoid. Saponin dan
flavonoid diduga mampu menginduksi peningkatan sekresi sitokin yang
terlibat dalam proses aktivitas sel T CD4+. Saponin dan flavonoid
merupakan substansi yang berperan dalam memicu up regulasi sel T helper
dengan cara memacu peningkatan produksi sitokin interleukin 2 (IL-2).
Sitokin IL-2 diperlukan oleh sel T CD4+ untuk berdiferensiasi pada subset
sel T helper 2 (Th2) dan Th1. Sel Th1 memproduksi interferon gamma

(IFN) yang mengaktifkan makrofag untuk memproduksi Reaktive


Oksigen intermediate (ROI) dan enzim-enzim yang dapat membunuh
bakteri. Senyawa IFN merupakan senyawa yang berperan dalam aktivasi
makrofag, meningkatkan kemampuan untuk proses fagositosis, dan
menghancurkan mikrob. Peningkatan tertinggi jumlah sel T CD4+ untuk
kelompok mencit yang diinfeksi S. thypi terlihat pada pemberian ekstrak
daun kelor dosis 14 mg/kg BB (jumlah sel sekitar 26.106 sel/mL),
sedangkan peningkatan terendah terdapat pada pemberian ekstrak daun
kelor dosis 42 mg/kg BB (jumlah sel sekitar 22.106 sel/mL) dan dosis
ekstrak 84 mg/kg BB (jumlah sel sekitar 22.106 sel/mL).

BAB III
METODOLOGI
III.1. Alat dan Bahan
1) Hewan percobaan : tikus
2) Obat dari ekstrak daun kelor
10

3) Alat suntik, stopwatch


III.2. Prosedur Percobaan
Tikus ditimbang, ditandai, dan ditentukan dosis yang akan
diberikan
Pada tikus kontrol, diamati parameter-parameter respon
kualitatif seperti pada Tabel 4.1, dan diberi skor 1 atau 0
Injeksi per oral dengan menggunakan jarum sonde pada tikus
berdasarkan dosis yang sudah ditentukan
diamati parameter parameter-parameter respon kualitatif seperti
pada Tabel 4.1, pada menit ke- 5,, 15, 30, 60, dan 90 setelah
ekstrak disuntikkan

hasil pengamatan dievaluasi :

a.
a. nilai
nilai menurut
menurut bobot
bobot
pada
pada total
total menit
menit
pengamatan
dikumpulkan
pengamatan dikumpulkan

b.
total dihitung
dihitung
b. skor
skor total
dengan mengalikan
skor
dengan
mengalikan skor
dengan
dengan faktor
faktor untuk
untuk
masing-masing
masing-masing parameter
parameter
pada
dosis dan
pada tiap-tiap
tiap-tiap dosis
dan
dibandingkan
dengan
skor
dibandingkan dengan skor
maksimum
maksimum

c.
c. aktivitas
aktivitas senyawa
senyawa uji
uji
ekstrak
ekstrak ditentukan
ditentukan
berdasarkan
faktor
bobot
berdasarkan faktor bobot
pada
pada Tabel
Tabel 4.2
4.2

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Praktikum
A. Data Pendukung
a) Hewan percobaan
b) BB hewan

: Tikus
: 0,225 kg
11

c) Dosis ekstrak
: 1 ml
d) Pembawa
: Na CMC 1%
e) Konsentrasi ekstrak
: 500 mg/mL
f) Rute
: Per Oral (jarum sonde)
B. Tabel 4.1. Tabel Hasil Pengamatan Respon Kualitatif
No.

Parameter

Nilai ( 1 = positif; atau 0 = negatif)

kualitatif

Tikus
Kontrol

1.

Kelopak

Pengamatan menit ke5


15
30

60

Total
(Skor

bobot)
2x1=2

faktor

mata turun
2.

Bulu berdiri

3.

Ekor berdiri

1 x 0,5 = 0,5

4.

Tremor

1x1=1

5.

Aktivitas

1x1=1

meningkat
Rasa
ingin -

2x1=2

1x1=1

1x1=1

motorik
6.

menurun
Aktivitas
motorik

7.

tahu
8.

menurun
Rasa
ingin tahu

9.

meningkat
Paralisis kaki

C. Tabel 4.2. Tabel Daftar Faktor Bobot untuk Parameter yang


Diamati
12

No.

Parameter

Faktor

Kriteria Aktivitas

1.

Kelopak mata turun

Bobot
1

Penekan SSSP / SIMPL / Relaksan otot

2.

Bulu berdiri

0,5

SIMM / PARASIMM

3.

Ekor berdiri

0,5

ANALG

4.

Tremor

STIM SSP

5.

Aktivitas motorik menurun

Penekan SSP / SILML Relaksan otot

6.

Aktivitas

7.

meningkat
Rasa ingin tahu menurun

Penekan SSP / Relaksan otot

8.

Rasa ingin tahu meningkat

STIM SSP

9.

Paralisis kaki

Penekan SSP / Relaksan otot

motorik 1

STIM SSP

IV.2. Pembahasan
Berdasarkan literatur dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya,
diketahui daun kelor memiliki berbagai aktivitas farmakologis diantaranya
sebagai imunostimulan, imunodepresan, memperbaiki status metabolisme
penderita diabetes mellitus, menurunkan kadar kolesterol, antibakteri, antitumor,
antivirus, antihipertensi, dan aktivitas antioksidan. Pustaka lain mengatakan
flavonoid merupakan senyawa marker yang berperan dalam aktivitas antioksidan
dimana quercetin dan kaempferol merupakan flavonol utama dalam daun kelor.
Dari hasil pengamatan parameter yang teramati pada hewan uji yaitu
kelopak mata menurun, ekor berdiri, rasa ingin tahu meningkat, rasa ingin tahu
menurun,

tremor

dan

palisasi

kaki.

Jika

parameter-parameter

tersebut

13

dihubungkan dengan aktivitas farmakologis senyawa marker yaitu sebagai


antioksidan pada ekstrak daun kelor maka tidak tampak perubahan yang
signifikan yang menunjukkan aktivitas ekstrak daun kelor tersebut. Dalam
literatur disebutkan untuk melihat aktivitas antioksidan dapat ditentukan dengan
parameter penanda adanya radikal bebas, yaitu menghitung kadar malondialdehid
(MDA) pada hewan uji. Seperti disebutkan diatas aktivitas farmakologis lainnya
yaitu antidiabetes dan imunostimulansia namun dalam jurnal dijelaskan dalam
melakukan uji aktivitas farmakologis tersebut hewan uji harus diinduksi dengan
perlakuan aspek yang akan diuji seperti uji efek antidiabetes maka hewan uji
harus diberi perlakuan dengan penginduksian tertentu atau pada uji efek
imunostimulan maka hewan uji pun perlu di beri perlakuan yang sesuai.
Hasil praktikum yang dilihat pada hewan percobaan yaitu pada menit ke 5
hewan menurunkan kelopak mata, mata menonjol, rasa ingin tahu meningkat dan
terjadi tremor. Untuk menit ke 15 terjadi rasa ingin tahu yang menurun pada
hewan percobaan. Dan untuk menit ke 30 kelopak mata menurun, aktivitas
motorik juga menurun, rasa ingin tahu menurun dan palisasi kaki.
Berdasarkan literatur yang didapat daun kelor (MoringaoleiferaLamk.)
mengandung 3,2% tanin, 4,65% saponin, 2,02% total polifenol, dan 20 macam
asam amino. Ekstrak daun kelor juga memiliki efek sebagai imunostimulan
namun, dalam dosis tinggi dapat memberikan efek imunodepresan.
Menurut hasil penelitian lain menunjukkan pemberian ekstrak daun kelor
dapat meningkatkan jumlah sel T CD4+ dansel T CD8+ (imunostimulan) pada
semua kelompok mencit dan pemberian ekstrak daun kelor dengan dosis tinggi
menyebabkan imunosupresi. Berdasarkan hasil yang didapat pada praktikum
bahwa dosis ektrak daun kelor yang diberikan pada hewan percoobaan terlalu
tinggi sehingga pada menit ke 30 menyebabkan kelopak mata menurun, aktivitas
motorik menurun, rasa ingin tahu hewan juga menurun dan palisasi kaki.
Berdasarkan literatur hasil yang seharusnya terjadi pada hewan uji yaitu
imunostimulan yang ditujukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi
imunosupresi. Kelompok ini mempengaruhi respon imunitass selular dan
humoral. Beberapa penelitian yang telah untuk melihat efek daun kelor (Moringa

14

oleifera Lamk.) dalam meningkatkan memori dan memperbaiki fungsi neuron.


Aktivitas antioksidan daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) juga dibuktikan pada
penelitian yang menggunakan tikus model serebral iskemia fokal, dimana terjadi
peningkatan

aktivitas

SOD

dan

katalase

serta

penurunan

aktivitas

malondialdehyde (MDA) (Kirisattayakul et. al., 2012). Bubuk ekstrak daun kelor
(Moringa oleifera Lamk.) juga diketahui dapat meningkatkan kadar antioksidan
dan aktivitas SOD otak terutama di hipokampus dan memperbaiki fungsi memori
pada tikus dengan kekurangan energi protein.
Jadi berdasarkan literatur dan hasil praktikum dapat ditarik kesimpulan
bahwa hasil yang diharapkan tidak sesuai dikarenakan efek daun kelor yang
terlalu tinggi sehingga menyebabkan hewan percobaan menjadi melemah sistem
kekebalan tubuhnya (imunosupresi).

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1) Skrining hipokratik farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas
farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan
dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi
ekstrak daun kelor.
2) Daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) mengandung 3,2% tanin, 4,65%
saponin, 2,02% total polifenol, dan 20 macam asam amino, diantaranya 19
asam amino -L-amino dan satu asam amino L-amin.

15

3) kandungan tanin dalam ekstrak daun kelor bertanggung jawab dalam efek
antihipertensi, dan aktivitas antioksida. Ekstrak tersebut juga memiliki
efek sebagai imunostimulan namun, dalam dosis tinggi dapat memberikan
eek imunodepresan.
4) Hasil yang diharapkan tidak sesuai dikarenakan efek daun kelor yang
terlalu tinggi sehingga menyebabkan hewan percobaan menjadi melemah
sistem kekebalan tubuhnya (imunosupresi).

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, adek zamrud., et all. 1998. PEMERIKSAAN FARMAKOLOGI
TINOKRISPOSID SENYAWA FURANODITERPEN GLIKOSIDA BARU
DARI BROTOWALI
Aldillah

Nisriana

Putri.

2013.

Skrinning

Hipokratik.

diakses

melalui

https://www.scribd.com/doc/144982469/SKRINNING-HIPOKRATIK
pada 18 Mei pada pukul 11.31
Dewi, Novia Fefti Oktavia. 2015. Naskah Publikasi Efek Antioksidan Ekstrak
Etanol Buah Kurma Sukkari (Phoenix dactylifera) Pada Tikus Jantan yang
Diinduksi dengan Parasetamol. Diakses melalui http://eprints.ums.ac.id/
pada 17 Mei 2016

16

Fathir, Akhmad., Rifai Widodo, , Muhaimin. 2014. Aktivitas Ekstrak Daun Kelor
Terhadap Sel-T Helper dan Sel-T Sitotoksik pada Mencit yang Diinfeksi
Salmonella thypi (ACTIVITY OF AQUEOUS LEAF EXTRACT OF
HORSERADISH TREE ON HELPER T- CELL AND CYTOTOXIC TCELL IN MICE INFECTED WITH SALMONELLA THYPI). Malang:
diakses

melalui

http://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet/article/view/8926/6714. Pada tanggal


16 Mei 2016 pukul 20.33 WIB
Fathir, Akhmad.,RifaiWidodo, , Muhaimin. 2014. Aktivitas Ekstrak Daun Kelor
Terhadap Sel-T Helper dan Sel-T Sitotoksik pada Mencit yang Diinfeksi
Salmonella thypi (ACTIVITY OF AQUEOUS LEAF EXTRACT OF
HORSERADISH TREE ON HELPER T- CELL AND CYTOTOXIC TCELL IN MICE INFECTED WITH SALMONELLA THYPI).
Narendra, baskoro surya., et all. 2011. PENAPISAN ATAU SKRINING
FARMAKOLOGI. Depok : Departemen farmasi fakultas matematika dan
ilmu

pengetahuan

alam

universitas

indonesia.

diakses

di

http://documents.tips/documents/82930532-kel-5-laporan-praktikumfarkol-skrining.html pada tanggal 17 mei 2016 pukul 22.00 WIB.


Nurmeilis. 2016. Penuntun Praktikum Farmakologi. Tangerang Selatan : Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
SALAMAH,

NSNUR.

2015.

https://eprints.uns.ac.id/20358/3/11._ISI.pdf.

Diakses pada tanggal 17 Mei 2016, pukul 19.40 WIB


Tinospora crispa (L.) Miers . Volume 4 No. 2 Warta Tumbuhan Obat
Indonesia.

Diakses

di

http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=87497&val=4894).

17

18