Anda di halaman 1dari 6

Ajaran Tasawuf dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai krisis kehidupan modern yang serba materialis, hedonis,

sekular, ditambah lagi dengan kehidupan yang makin sulit baik secara ekonomis maupun psikologis Dalam bingkai sejarah keislaman, pada masa Rasulullah saw belum dikenal adanya istilah tasawuf, yang ada hanya sebutan sahabat bagi orang Islam yang hidup pada masa nabi dan sesudah itu generasi Islam disebut tabi'in. Oleh Hakim Hassan istilah tasawuf baru terdengar pada pertengahan abad II hijriyah, sedangkan menurut Nicholson dalam bukunya al-Tashawwuf al-Islami wa Tarikhihi istilah tasawuf muncul pada pertengahan abad III Hijriyah. Namun pada substansinya ruh tasawuf telah muncul pada masa Rasulullah, hanya saja belum terlembagakan secara sistematis dan massif. Tasawuf sebagai "ilmu keislaman" yang secara esensi telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, merupakan hasil dari proses budaya dan pemikiran sebagaimana ilmuilmu keislaman lainnya seperti ilmu fiqih dan ilmu tauhid. Secara etimologis, kata tasawuf berasal dari bahasa Arab, tashawwafa, yatashawwafu, tashawwufan. Ulama berbeda pendapat dari mana asal-usul kata tersebut, ada yang mengatakan dari kata "Shuf" (bulu domba), "Shaf" (barisan), "Shafa" (jernih) dan dari kata "Shuffah" (emper Masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian sahabat Nabi saw). Varian pemikiran tentang asal kata tersebut dilatarbelakangi oleh obsesi dan fenomena yang beragam pada diri para sufi. (Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA, 2004) Adapun dalam tinjauan terminologis, para ahli berbeda dalam memberikan definisi tasawuf, namun antara satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Hal ini karena masing-masing pendapat masih parsial dalam memaknai tasawuf. Maka tidak berlebihan jika Annemarie Schimmel mengatakan, sulit mendefinisikan tasawuf secara komprehensif, karena kita hanya bisa menyentuh salah satu aspeknya saja. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Afrika Utara mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang mendalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh asSuyuthi berkata, "Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk". Seorang tokoh Sufi modern, yaitu Al-Junaid Al-Baghdadi (w.289 H.) menyatakan bahwa "Tasawuf adalah riyadhah (latihan) membebaskan hati dari hayawaniyyah (sifat yang menyamai binatang) dan menguasai sifat basyariah (kemanusiaan) untuk memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian yang suci, berpegang pada ilmu dan kebenaran, dan benar-benar menepati janji kepada Allah swt, serta mengikuti sunnah Rasulullah saw." Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam artikelnya yang berjudul Hakikat dari Tasawuf menyebutkan bahwa arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam kearah bagian rohaniah, ubudiah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.

Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA menyatakan bahwa tasawuf adalah ilmu, amal dan ahwal (kondisi kejiwaan) atau tasawuf adalah ilmu rasa/perasaan. Dengan demikian, tasawuf tidak hanya dipikir dan dibicarakan, tetapi diketahui, dipahami, diamalkan dan dihayati (dirasakan). Inilah yang kemudian dimaksud dengan ihsan. Beliau menambahkan juga bahwa tasawuf bukan ilmu definisi yang perlu dijelaskan melalui rentetan redaksi, tetapi harus dijalankan dan dirasakan karena tasawuf adalah ilmu rasa. Tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Adapun Tasawuf adalah perwujudan dari ihsan yang mencakup segala aspek perilaku muslim, baik tindakan lahir maupun batin, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Oleh karena itu segala perilaku sufistik harus didasarkan para alQur'an, hadits nabi dan perilaku sahabat nabi saw. Praktik tasawuf sebagai manifestasi ihsan, seringkali diasumsikan dan dipraktikkan sebagai kegiatan ibadah individu yang mengutamakan kesalehan pribadi dan tidak peka terhadap realitas yang terjadi disekitarnya. Padahal sebagai mahluk sosial, manusia dalam menjalani kehidupan diniscayakan untuk berperan dan berinteraksi dengan realitas sosial yang ada. Seiring dengan hal tersebut, manusia perlu menajamkan kepekaannya dalam merespon apa yang tengah terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Berawal dari pemikiran ini, muncul sebuah kegelisahan, apakah praktik tasawuf hanya berkutat pada masalah ibadah mahdhoh? Bagaimana peran dan relasi tasawuf dengan realitas sosial? Dan dimana titik singgung dan titik tengkar antara keduanya?. Berbagai asumsi negatif tentang tasawuf perlu dijawab dengan tranformasi tasawuf sebagai gerakan sosial yang tidak hanya berkutat pada masalah individu namun merambah kedalam ranah kehidupan sosial. Refleksi Kehidupan di Era Kekinian Dalam kehidupan masyarakat modern, orientasi hidup lebih diarahkan kepada fungsional pragmatis yang materialistis, sekuler dan profan. Lebih parah lagi, dampak modernisasi dan industrialisasi membuat manusia mengalami dekadensi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabat manusia. Krisis multidimensi sebagai jelmaan krisis ekonomi yang hinnga kini masih melilit bangsa semakin diperparah dengan lunturnya penegakan nilai-nilai agama. Upaya dakwah yang gencar dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi, ternyata berbanding terbalik dengan realitas yang ada. Tindakan amoral, asusila, kekerasan, diskriminasi, korupsi, perjudian dan lainnya kian menggila dan menjamur dikalangan masyarakat. Betapa masyarakat butuh sentuhan dan siraman ruhani untuk membasahi hati mereka yang telah kering karena dikuras oleh modernisasi dan globalisasi. Dalam perjalanan kehidupan, gaya hidup yang hanya berorientasi pada fungsional pragmatis, materislitis, sekuler dan profan tersebut, dirasa belum mampu membahagiakan manusia secara spiritual. Dampak dari dunia modern yang mendewa-dewakan teknologi dan ilmu pengetahuan membuat manusia mengalami

"kehampaan spiritual" yang berujung pada kegelisahan yang amat sangat karena tidak mempunyai pegangan dalam hidup. Abu al-Wafa al-Taftazani memberikan analisanya bahwa masyarakat modern mengalami kegelisahan disebabkan mereka takut kehilangan apa yang mereka miliki, timbulnya rasa takut masa depannya akan hancur dan cita-citanya tidak tercapai, kecewa dengan hasil kerja yang tidak memuaskan atau karena telah melakukan banyak dosa. Semua itu menyebabkan seseorang merasa asing dalam dunia spiritual dan haus akan siraman cahaya ilahi. Berawal dari realitas tersebut, Hossein Nasr menawarkan alternatif, agar mereka (masyarakat modern,red) mau mendalami dan menjalankan tasawuf. Sepintas, ini tawaran yang aneh, namun menurut Hossein Nasr, tasawuf dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual mereka. Dalam ranah ini tasawuf bukan berarti melarikan diri dari kehidupan dunia nyata sebagaimana diasumsikan selama ini, akan tetapi ia adalah suatu usaha mempersenjatai diri dengan nilai-nilai ruhaniah, sebab dalam tasawuf selalu dilakukan dzikir kepada Allah sebagai sumber gerak, sumber norma, sumber motivasi, dan sumber nilai Sosialime Tasawuf Tasawuf sering diidentikkan dengan kehidupan menjauhi dunia, individualistik, hidup menyendiri, tidak peduli lingkungan, suka berdiam diri, berbusana apa adanya, dan hidup hanya untuk ibadat dan dzikir semata (Dr. Yunasril Ali, MA, 2002). Sebenarnya secara substansial, tasawuf mempunyai ajaran yang bersifat sosial, yaitu Futuwwah dan Itsar. Ibn al-Husain al-Sulami (1992) mengartikan Futuwwah sebagai ksatria yang berasal dari kata fata (pemuda), Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA (2004) mengembangkan arti futuwwah sesuai dengan konteks kekinian menjadi seorang yang ideal, mulia, berani, dan sempurna. Manusia dalam menjalani kehidupan, selalu berkompetisi dengan hawa nafsu yang selalu ingin menguasainya. Oleh karena itu manusia perlu membentengi diri agar tidak tergoda oleh bujuk rayu hawa nafsu. Dalam dunia tasawuf, diajarkan strategi pertahanan dari gempuran hawa nafsu seperti riyadloh dan mujahadah. Dua hal ini jika betul-betul dilaksanakan akan dapat tercipta masyarakat yang tenteram, jujur, adil dan lainnya. Mungkin bukan hal yang berlebihan jika Amin Syukur berandaiandai, bahwa jika para pelaku pembangunan (pemerintah,red) ini melaksanakan ajaran tasawuf seperti muraqabah, maka kebocoran (korupsi,red) yang mencapai sekian prosen itu dapat dicegah atau diatasai. Menarik apa yang diungkapkan oleh Syekh as-Suyuthi tentang definisi tasawuf, ia berkata bahwa Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk. Dengan demikian bahwa tasawuf bukan hanya masalah transenden yang hanya berkutat tentang hubungan manusia dengan Allah (hablun min Allah) tapi juga sangat erat hubungannya dengan relasi manusia

dengan sesama mahluk lainnya. Mahluk disini adalah dalam arti holistik, mulai dari manusia sampai alam semesta. Hubungan baik harus dijaga antara sesama manusia dan juga dengan alam, sehingga akan ada keseimbangan dalam relasi manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Membangun relasi yang baik dengan alam dimasa sekarang menjadi sebuah keniscayaan. Tasawuf (berdasarkan definisi diatas) dapat diperluas maknanya dengan melakukan perjuangan penyelamatan alam yang kini sedang berada diujung kehancuran. Hal ini berdasarkan fakta bahwa alam adalah termasuk mahluk Allah. Maka, bukanlah hal yang berlebihan jika penyelamatan alam termasuk dalam agenda perilaku sufistik. Tasawuf dan Gerakan Sosial Dalam rangka reformulasi gerakan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada, tasawuf kiranya dapat menjadi solusi strategi gerakan. Tasawuf dalam kondisi ini hadir dengan memberikan obat penawar rohani yang memberikan daya tahan. Budhy Munawar Rachman (1998) dalam salah satu tulisannya menyatakan bahwa dalam wacana kontemporer, tasawuf telah menjadi obat dalam mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan, dan membuat penderitaan batin. Mata air tasawuf yang sejuk kiranya dapat memberikan penyegaran dan penyelamatan pada manusia-manusia yang terasing itu. Agar gerakan sosial tasawuf dapat merambah dalam kehidupan masyarakat, maka harus dimahami kultur lokal yang ada. Kesan bahwa tasawuf yang elitis dan egois dengan mengedepankan atau menunjukkan simbol-simbol seperti memakai jubah, berjanggut panjang kiranya harus didekonstruksi. Tasawuf perlu mengakomodasi budaya lokal yang ada, terutama didaerah yang sangat kental budaya lokalnya. Jika tasawuf tidak didukung oleh budaya lokal karena dianggap tidak berbanding lurus dengan budaya yang telah ada, maka tasawuf akan terasa kering. Namun jujur harus diakui bahwa ada budaya yang baik dan juga ada budaya yang rusak, dalam hal ini perlu dilakukan filterisasi budaya lokal. Yang masuk dalam kategori budaya rusak harus diperbaiki sedikit-demi sedikit dan diarahkan kepada yang lebih baik. Toleransi terhadap budaya lokal menjadi salah satu kunci keberhasilan dari tasawuf dalam melakukan gerakan-gerakan sosial dimasyarakat yang memiliki budaya lokal sangat kuat. Mewujudkan serangkaian cita-cita tersebut diatas, oleh Budhy Munawar Rachman bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa disebut di sini; seperti pertemuan tasawuf dengan fisika dan sains modern yang holistik, yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugastugas utamanya di muka bumi; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya kesinambungan alam ini dengan

keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal tetapi lebih-lebih ruhani, disini tasawuf memberikan visi keruhanian untuk kedokteran; pertemuan tasawuf dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan interdisipliner yang intinya sama. Semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal yang individualistis, tetapi juga merambah dalam ranah etika global. Untuk itu maka tasawuf perlu diwujudkan dalam cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tasawuf itu dapat menjadi way of life. Dengan demikian maka tasawuf bukan hanya dalam ranah transenden, namun juga masuk dalam wilayah sosial. Hal ini selaras dengan gagasan Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA yang menawarkan tasawuf sosial. Yang dimaksud dengan Tasawuf Sosial di sini ialah tasawuf yang tidak memisahkan antara hakikat dan syari'at (fikh) dan pula bekecimpung dalam hidup dan kehidupan duniawi, tidak memisahkan antara dunia dan akhirat. Tasawuf sosial bukan tasawuf isolatif, tetapi aktif ditengah-tengah pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara sebagai tuntutan tangggung jawab sosial tasawuf pada awal abad XXI ini. Tasawuf sosial bukan lagi bersifat uzlah dari keramaian, namun sebaliknya, harus aktif mengarungi kehidupan ini secara total, baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Oleh Karena itu, peran sufi seharusnya lebih empirik dan fungsional dalam menyikapi dan memandang kehidupan ini secara nyata. (Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA, 2004) Indonesia sebagai salah satu Negara di dunia kini telah digempur dengan berbagai krisis dan permasalahan yang telah merambah ke berbagai lini kehidupan. Dari dulu hingga kini dan entah sampai kapan krisis yang sudah multidimensi tersebut dapat dikikis atau bahkan dihapuskan. Gundukan kecil krisis kehidupan yang pernah terbentuk kini telah menjadi gunung sebagai akumulasi proses pembiakan selama bertahun-tahun. Tasawuf dalam hal ini kiranya dapat dijadikan sebagai senjata dalam melawan gempuran krisis yang telah merambah dalam berbagai dimensi kehidupan yang sampai kini terus melilit bangsa Indonesia. Gerakan tasawuf yang populis-sosialis kiranya akan lebih ramah dan santun dalam mendekosntruksi budaya amoral yang telah menjadi penyakit akut bangsa. Gerakan anarkis dengan dalih penegakan agama perlu didekonstruksi dan diganti dengan kesantunan dan keramahan dalam berdakwah. Tindakan anarkis seringkali tidak menyelesaikan masalah namun terkadang memunculkan masalah-masalah baru. Tasawuf sosial adalah bertasawuf dengan tetap memegang nilai-nilai kebersamaan dan humanistik. Orang yang sufi harus peka dengan berbagai permasalahan yang muncul dengan memberikan diagnosa dan turut terlibat sebagai agen perubahan. Wallahu A'lam (denis)

Daftar Bacaan : Amin Syukur, Prof, Dr, MA, Tasawuf Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 Yunasril Ali, Dr, MA, Jalan Kearifan Sufi; Tasawuf Sebagai Terapi Derita Manusia, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2002 Ghalib bin 'Ali 'Awaji, Penyimpangan Sufisme, Yogyakarta: Padma, 2003 Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Hakikat dari Tasawuf http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/10/OPINI/dema04.htm http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf