Taenia (cacing pita

)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari ? Taenia Skoleks Taenia solium
Skoleks Taenia solium

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Platyhelminthes Cestoda Cyclophyllidea Taeniidae Taenia
Linnaeus, 1758

Spesies Taenia crassiceps Taenia pisiformis Taenia saginata Taenia solium Taenia asiatica Taenia taeniaeformis Taenia merupakan salah satu marga cacing pita yang termasuk dalam Kerajaan Animalia, Filum Platyhelminthes, Kelas Cestoda, Bangsa Cyclophyllidea, Suku Taeniidae. [1] Anggotaanggotanya dikenal sebagai parasit vertebrata penting yang menginfeksi manusia, babi, sapi, dan kerbau. [1]

Daftar isi
[tampilkan]

[sunting] Perbedaan antarspesies

Taenia saginata. [2][3] Ketiga spesies Taenia ini dianggap penting karena dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Adapun perbedaan antarspesies cacing pita Taenia dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. sapi Cysticercus t. yang dikenal dengan istilah taeniasis dan sistiserkosis.Cacing Taenia saginata dewasa Segmen tubuh Taenia solium Terdapat tiga spesies penting cacing pita Taenia. domba Taenia asiatica [5] Usus halus manusia Babi (utama). kambing. yaitu Taenia solium.000 di segmen setiap segmen [sunting] Siklus Hidup .000-50. taiwanensis 4-8 meter 712 Cysticercus cellulosae Cysticercus bovis (3-8)x 0.01 meter (4-15) x 0. Perbedaan antara Taenia solium. Taenia saginata dan Taenia asiatica No.[2]. Tabel 1.s.01 meter 700-1000 1000-2000 30.000 di setiap lebih dari 100. 1 2 3 4 5 6 Keterangan Inang definitif dan habitat Inang antara Nama tahap larva Ukuran panjang x lebar Jumlah segmen Jumlah telur Taenia solium [1][4] Usus halus manusia Babi dan manusia Taenia saginata [1][4] Usus halus manusia Sapi (utama). dan Taenia asiatica.

diafragma. [9] Hal ini juga dapat terjadi melalui proses infeksi sendiri oleh individu penderita melalui pengeluaran dan penelanan kembali makanan. . [10]. [6] Manusia terkena sistiserkosis bila tertelan makanan atau minuman yang mengandung telur Taenia solium. Cacing pita Taenia dewasa hidup dalam usus manusia yang merupakan induk semang definitif. sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia. maupun sebaliknya. otot pengunyah.[1] Taeniasis adalah penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari hewan ke manusia. [4] Segmen tubuh Taenia yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus manusia atau secara pasif bersama-sama feses manusia. [6] Infeksi Taenia dikenal dengan istilah Taeniasis dan Sistiserkosis. sementara Taenia saginata dikenal juga sebagai cacing pita sapi. [3] Terdapat dugaan bahwa Taenia asiatica merupakan penyebab sistiserkosis di Asia. lidah.Siklus hidup Taenia sp. [2] Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia. [7] Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam menyebabkan sistiserkosis belum diketahui secara pasti. [3] Manusia terkena taeniasis apabila memakan daging sapi atau babi yang setengah matang yang mengandung sistiserkus sehingga sistiserkus berkembang menjadi Taenia dewasa dalam usus manusia. [4] Otot yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung. [4] Bila inang definitif (manusia) maupun inang antara (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio (onchosphere) yang kemudian menembus dinding usus. daerah esofagus. leher dan otot antar tulang rusuk.[4] Embrio cacing yang mengikuti sirkulasi darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi sistiserkosis yang infektif di dalam otot tertentu.[7][8] Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva Taenia (sistiserkus) akibat termakan telur cacing Taenia solium (cacing pita babi).[7] Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesies Taenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi [7].

[6] Penyebaran penyakit ini luas karena Taenia dapat memproduksi puluhan bahkan ratusan ribu telur setiap hari yang dapat disebar oleh air hujan ke lingkungan bahkan pada lokasi yang jauh dari tempat pelepasan telur. 3. Penyebaran Taenia dan kasus infeksi akibat Taenia lebih banyak terjadi di daerah tropis karena daerah tropis memiliki curah hujan yang tinggi dan iklim yang sesuai untuk perkembangan parasit ini. [12] Taeniasis dan sistiserkosis akibat infeksi cacing pita babi Taenia solium merupakan salah satu zoonosis di daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi daging babi dan tingkat sanitasi lingkungannya masih rendah. asiatica yang tinggi terutama ditemukan di Pulau Samosir.661 orang penderita taeniasis. dan Amerika Latin. [19]. [17] Sistiserkosis merupakan infeksi yang sering ditemukan pada babi dan manusia terutama di negara berkembang. [16] Taeniasis/sistiserkosis terutama ditemukan di Papua. Selain Indonesia itu ditemukan di NTT. [14] Cina Brazil 0. Hewan. Malaysia. Kejadian T. Bali dan Sumatera Utara. minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur cacing pita. seperti di Asia Tenggara. Makanan. 2.Sumber penularan cacing pita Taenia pada manusia yaitu [11] 1. Korea dan Cina. [13] Adapun kasus infeksi cacing pita Taenia di negara tropis dapat dilihat pada Tabel 2. Afrika Selatan. Kasus Infeksi Cacing Pita Taenia di Negara Tropis Negara Kasus Taiwan. [7]. [20] Kini Asian Taenia disebut Taenia asiatica [21]. terutama babi dan sapi yang mengandung larva cacing pita (sistisekus). Penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau segmen tubuh (proglotid) cacing pita. [sunting] Penyebaran [sunting] Penyebaran di Dunia Cacing pita Taenia tersebar secara luas di seluruh dunia. [17] [3] [9] Laos Kejadian taeniasis mencapai 14% [18] Salah satu bukti lebih luasnya penyebaran Taenia di daerah tropis yaitu ditemukannya spesies ketiga penyebab taeniasis pada manusia di beberapa negara Asia yang dikenal dengan sebutan Taiwan Taenia atau Asian Taenia. Thailand. Sulawesi Utara. Kalimantan Barat dan Jawa Timur. dan konsumsi daging mentah atau setengah matang.9% dari 1450 orang positif taeniasis. [15] Thailand 5.1-0. Lampung. Asian Taenia dilaporkan telah ditemukan di negaranegara Asia yang umumnya beriklim tropis seperti Indonesia. [4] . Filipina. Indonesia. 1. India. [3] Penyebaran sistiserkus pada manusia dipengaruhi oleh kontak antara babi dan feses manusia. Tabel 2. tidak adanya pemeriksaan kesehatan daging saat penyembelihan.9 % kejadian sistiserkosis pada manusia.

[17] Kasus T.8% menderita epilepsi akibat adanya sistiserkosis pada otak. [17] Sebanyak 13. Sementara 28. sedangkan prevalensi taeniasis di provinsi yang sama berkisar antara 0.7%.5% (10 dari 74 orang) pasien yang mengalami epilepsi di Bali didiagnosa menderita sistiserkosis di otak. Dari 257 pasien yang menderita luka bakar di Papua.9%-20.3% orang adalah penderita sistiserkosis yang dapat dilihat dan diraba benjolannya di bawah kulit [3].3% (106 orang dari 160 responden) positif menderita taeniasis solium/sistiserkosis selulosae dari babi [3].2% sampai 21%. asiatica di Provinsi ini umumnya disebabkan oleh konsumsi daging babi hutan setengah matang. asiatica di Sumatera Utara berkisar 1.6% (30 orang) di antaranya adalah penderita sistiserkosis selulosae yang menunjukkan gejala epilepsi [3].[sunting] Penyebaran di Indonesia Infeksi cacing pita Taenia tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Papua. Indonesia ditemukan 66. sebanyak 82.4%-23%. [3] Prevalensi sistiserkosis pada manusia berdasarkan pemeriksaan serologis pada masyarakat Bali sangat tinggi yaitu 5. Gejala klinis terbanyak yang dikeluhkan adalah[14]: . [17] [sunting] Dampak terhadap Kesehatan Sistiserkosis pada otak Taenia saginata di usus buntu Cacing pita Taenia dapat menimbulkan penyakit yang disebut taeniasis dan sistiserkosis. [22] Di Kabupaten Jayawijaya Papua. Sebanyak 18. [23] Prevalensi taeniasis T.

[sunting] Pengendalian . otot dan lapisan bawah kulit [17]. gatal-gatal di kulit dan gangguan pernapasan (masing-masing <1%). epilepsi dan kelainan pada tengkorak. [4] Sistiserkus pada manusia paling sering ditemukan di otak (disebut neurosistiserkosis). Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit dalam tubuh. mengantuk. [8] Sistiserkosis merupakan penyebab 1% kematian pada rumah sakit umum di Meksiko City dan penyebab 25% tumor dalam otak [8]. [4] Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan sistiserkus di jaringan tubuh yang berbeda-beda. gelisah. Dampak kesehatan yang paling ditakuti dan berbahaya akibat larva cacing Taenia yaitu neurosistiserkosis yang dapat menimbulkan kematian. serta kejang-kejang.                 Pengeluaran segmen tubuh cacing dalam fesesnya (95%) Gatal-gatal pada anus (77%) Mual (46%) Pusing (42%) Peningkatan nafsu makan (30%) Sakit kepala (26%) Diare (18%) Lemah (17%) Merasa lapar (16%) Sembelit (11%) Penurunan berat badan (6%) Rasa tidak enak di lambung (5%) Letih (4%) Muntah (4%) Tidak ada selera makan saat lapar (1%) Pegal-pegal pada otot (1%) Nyeri di perut. Neurosistiserkosis merupakan faktor risiko penyebab stroke baik pada manusia yang muda maupun setengah baya[25]. mata. [24] Neurosistiserkosis adalah infeksi sistem saraf pusat akibat sistiserkus dari larva Taenia solium.

Telur cacing ini dapat terbawa oleh air ke tempat-tempat lembap sehingga telur cacing lebih lama bertahan hidup dan penyebarannya semakin luas. [26] Untuk mengurangi kemungkinan infeksi oleh Taenia ke manusia maupun hewan diperlukan peningkatan daya tahan tubuh inang. [8] Faktor risiko utama transmisi telur Taenia ke babi yaitu pemeliharaan babi secara ekstensif. defekasi manusia di dekat pemeliharaan babi sehingga babi memakan feses manusia dan pemeliharaan babi dekat dengan manusia. [28] Hal yang sama juga berlaku pada transmisi telur Taenia ke sapi. serta penyediaan sumber air bersih sangat diperlukan. Pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi dapat dilakukan melalui pemusatan pemotongan ternak di rumah potong hewan (RPH) yang diawasi oleh dokter hewan. [4] Kontrol penyakit akibat Taenia di lingkungan dapat dilakukan melalui peningkatan sarana sanitasi. pencegahan kontaminasi tanah dan tinja pada makanan dan minuman. terutama babi di daerah endemis taeniasis/sistiserkosis serta peningkatan kualitas dan kecukupan gizi pada manusia.Cara Pengendalian cacing pita Taenia Pengendalian cacing pita Taenia dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi. [29] . Librax dan Niclosamide [5] dan Praziquantel [17]. Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui diagnosa dini dan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi. [8] Beberapa obat cacing yang dapat digunakan yaitu Atabrin. [27] Lingkungan yang bersih sangat diperlukan untuk memutuskan siklus hidup Taenia karena lingkungan yang kotor menjadi sumber penyebaran penyakit. Hal ini dapat dilakukan melalui vaksinasi pada ternak. [28] Pembangunan sarana sanitasi. Pelepasan telur Taenia dalam feses ke lingkungan menjadi sumber penyebaran taeniasis/sistiserkosis. Sedangkan untuk mengobati sistiserkosis dapat digunakan Albendazole dan Dexamethasone. misalnya kakus dan septic tank.

go. 2005. K.pdf. 14. 6. Szyfres. 7. dan A. C. A History of Human Helminthology. http://repository. http://www. 2007.pdf. 16. K. Institut Pertanian Bogor. N. 2004. 2003. ^ a b c d e (Inggris) Acha.id/bitstream/123456789/9251/2/2008fdm. T. "”Studi Kejadian Sistiserkosis pada Babi yang Dijual di Pasar Jibama Kabupaten Jayawijaya Papua”" (Pdf). ^ Waikagul. Fakultas Kedokteran Hewan.depkes. A Manual of Tropical Medicine. 4. W. T.ipb. Helminthology 66: 118-123 15. Rio de Jaineiro 102 (6): 725-731. W. S. S. (2006).[sunting] Referensi 1. P. R. M. A. C. H.025. dan M. Journal of Emerging Infectious Disease 9 (7): 884-885.. P. A. ^ (Inggris) Hunter. doi:10. E. ^ a b (Indonesia) Dharmawan. G. Badan Litbang Kesehatan. B. United Kingdom: CAB International. ^ (Indonesia) Arimbawa. Taenia solium Cysticercosis. Swartzwelder. "Petunjuk Pemberantasan Taeniasis/Sistiserkosis di Indonesia" (PDF). Frye. 11. W. Diakses pada 13 Mei 2010. ^ Agapejev. Ito. "Epidemiology of Neurocysticercosis in Brazil". T. http://www. A..depkes. Clinical Manifestation of Taeniasis in Taiwan Aborigines. Kusumamihardja (1992) (dalam bahasa Indonesia). C. Wandra.. Philadelphia: Saunders Company. Y. S. T. Diakses pada 13 Mei 2010. Rev Inst Med Trop Sao Paulo 38: 207-216. S. Soares. ^ a b Fan. J. "Challenges for Control of Taeniasis/Cysticercosis in Indonesia". Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals 3rd Edition Volume III Parasitoses. A. ^ a b c (Inggris) Wandra. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak Piaraan di Indonesia. Irian Jaya.ac. Hal 1-5 5. dan N. 12. P. Yamasaki. 2003. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Indonesia.11... 2004. A. N. "Studi Taeniasis/Cysticercosis di Kabupaten Jayawijaya Propinsi Irian Jaya" (Pdf). Espindola. 10. ^ Devidson Maitindom. 2. C. ^ a b c d e f g h i Simanjuntak. W.ekologi. Washington: Pan American Health Organization. H.litbang.1016/S0022-510X(97)85101-5. Jurnal Veteriner 5 (4). H. Anantaphruti (2006). . doi:10. dan J. Diakses pada 10 Mei 2010. Taenia asiatica: Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia. Comparative Evaluation of Different Immunoassays for the Detection of Taenia solium Cysticercosis in Swine with Low Parasite Burden. Chung. 3. Suroso. S (1996). Gindo Mangara. J. Helmintologi: Ciri Umum dan Morfologi Helminth.pdf. D. N. 9. 13. Bogor: Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. 1990. Parasitology Int 55 (175-180).2005. Pediatrica Indonesiana 44 (7-8): 165-170. "Taeniasis.go.. M.parint. Dekumyoy. 8. Institut Pertanian Bogor. ^ Departemen Kesehtan Republik Indonesia. Margono. I. ^ a b c d e (Inggris) Grove. Systicercosis and Echinococcosis in Thailand" (pdf). Mem Inst Oswaldo Cruz. Ito. ^ a b c d e f g h i j (Indonesia) Satrija.id/data/abstrak/Gindo. F.. Kari. ^ a b c d e S. dan S. Parasitology International 55: 161-165. Chan. I. Bueno. Laksminingsih. Margono. T. Neurocysticercosis. 1992. Peralta. J. Ferry (2008). dan C.id/downloads/Taeniasis. C. ^ a b c (Inggris) Gomes. Maia. Departemen Kesehtan Republik Indonesia. Lin. A. dan B.. ^ a b Suroso. S. Vaz.1016/j. 1966.

Juan. Sarti (2005). M. 24. S. doi:10. F. Fenwick.002.. M. S. A.07. William.034..2005. Karya Tulis. M. ^ (Inggris) Bowles. The Asian Taenia and The Possibility of Cysticercosis. dan R. 21. A. dan K.11. J. Wandra. S. 29. Bogor: Institut Pertanian Bogor.".2008. T. Y.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6TB7-4HS3C483&_user=10&_coverDate=12%2F31%2F2006&_alid=1334096728&_rdoc=2&_fmt=hig h&_orig=search&_cdi=5135&_st=13&_docanchor=&_ct=3&_acct=C000050221&_versi on=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=35de212e9bda1e60bbe5989699f43229. S. ^ (Inggris) Alacron. Journal of Parasitology 35: 1221-1232. 27. doi:10.surneu. Blacksell. Suroso.. Hoffmann. McManus.parint. T. T. Khounsy. Southest Asian J Trop Med Public Health 36(4): 123-130.. Okamoto. doi:10. ^ a b c d e f g Wandra. A.". Taeniasis and Cysticercosis in Asia and The Pacific. Stroke Journal 23 (11):1563-1565. Sako.1016/j. Veterinary Public Health Activities at FAO: Cysticercosis and Echinococcosis. Indonesia". http://www. T. 19. F. http://www.parint. Okamoto.1016/j. M..sciencedirect. Andrew. U.1016/j. A. S. J.M.. Z. Strategi Global Kesehatan Masyarakat Veteriner dalam Pengendalian Taeniasis/Sistiserkosis sebagai Re-emerging Foodborne Zoonoses Daerah Tropis. Parasitology International 55: 155-160. Journal of Emerging Infectious Disease 10 (3): 508-510 25. Nakao. J. V. Parasitology International 55: 143-148. Joseph. 22. 18. Suroso (2001). C. 2005.. dan K. J. Craig. Inthavong. Allan.024. 23. Suroso. ^ (Inggris) Townes. dan A. A. dan T. J. "A Review of Taeniasis and Cysticercosis in The Lao People’s Democratic Republic" (Pdf).03. A Newly Described Taeniid Cestodes of Human. A. B.2006. Neurocysticercosis in Oregon 1995-2000. Yamasaki. Parasitology Int 55: S305-S308. 17. P. Wandra.2005. "Cysticercosis in Indonesia: Epidemiological Aspects" (dalam bahasa English).2005.11. Sharma (2007).1016/j. Nakaya. C. Margono. Parasitology International. T. Depary. S. dan B. American Journal Trop Med Hyg 50:33-34. ^ (Indonesia) Rotinsulu DA. dan D. Indonesia.051.parint. ^ (Inggris) Galan-Purchades. P. Ito (2006). ^ Margono.1016/j. ^ Ahmad.doi:10. 20. 1992.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6TB7-4S7J62H2&_user=10&_coverDate=09%2F30%2F2008&_alid=1334097891&_rdoc=3&_fmt=hig h&_orig=search&_cdi=5135&_st=13&_docanchor=&_ct=3&_acct=C000050221&_versi on=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=855e10456d6056f75af361e697cb191e. ^ a b (Inggris) Eddi. 2004. 28. Southeast Asian J Trop Med Public Health 32 (2): 79-84. Vanormelingen. 26. S. doi:10. ^ Pawlowski. dan M. dan M. S.ijpara.015.11.2005.027. Korean Journal of Parasitology 38 (1): 1-7. Kohn. P. H.. 2008. ^ Conlan. Daniela. "Taeniasis and Cysticercosis in Bali and North Sumatra.. "Treatment of Intramedullary Spinal Cysticercosis: Report of 2 Cases and Review of Literature. B. Katalin. Genetic Characterization of the Asian Taenia. L. 1994. Sutisna. Thompson.parint. ^ Margono. Surgical Neurology 67 (7477).1016/j. 2000. C.. SS (2006). dan E. (2008). S.04.. "Control of Taenia solium Taeniasis/Cysticercosis: From research towards Implementation". "Taeniasis/Cysticercosis in Papua (Irian Jaya). 2006. dan D. doi:10. S. Fuentes. Cerebral Cysticercosis as a Risk Factor Stroke in Young and Middle-Aged People. P. T. ^ (Inggris) Ito.sciencedirect. Halaman 22 .

[sunting] Pranala Luar Petunjuk Pemberantasan Taeniasis/Sistiserkosis di Indonesia [sembunyikan]    l b s Regnum Animalia Makhluk Hidup • Eukariotik • Metazoa • Heterotrof • Keanekaragaman Hayati Porifera Ctenophora Cnidaria Platyhelminthes Calcarea • Hexactinellida • Demospongiae Tentaculata • Nuda Hydrozoa • Scyphozoa • Anthozoa Turbellaria • Trematoda • Cestoda • Monogenea Ascaris lumbricoides • Ancylostoma • Enterobius vermicularis • Wuchereria bancrofti • Trichinella spiralis • Heterodera radicicola Polychaeta • Oligochaeta • Hirudinea Polyplacophora • Gastropoda • Pelecypoda • Scaphopoda • Cephalopoda Crustacea • Chelicerata • Myriapoda • Hexapoda Asteroidea • Ophiuroidea • Echinoidea • Holothuroidea • Crinoidea Urochordata • Cephalochordata • Hemichordata Nematoda Avertebrata Annelida Mollusca Artropoda Echinodermata Acraniata Vertebrata Chordata Pisces (Agnatha • Chondrichthyes Craniata • Osteichthyes) • Amphibia • Reptilia • Aves • .