Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI HISTOLOGI HEWAN

PENGAMATAN HISTOLOGI KELENJAR GASTROINTESTINAL DAN SISTEM REPRODUKSI

Oleh: Dinia Rizqi Dwijayanti 105090100111005

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011

LEMBAR PERNYATAAN

PENGAMATAN HISTOLOGI SISTEM GASTROINTESTINAL DAN SISTEM REPRODUKSI Dinia R.D., Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya. Malang. 2011 ABSTRAK Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar yang berhubungan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh metabolit-metabolit yang diperlukan untuk pertumbuhan dan energi yang diperlukan bagi tubuh dari makanan yang dimakan. Sistem genitalia atau alat kelamin merupakan alat reproduksi yang memegang peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Metode yang digunakan adalah pengamatan preparat awetan dengan menggunakan mikroskop untuk mengatahui struktur sel dan jaringan yang diamati. Sistem gastrointestinal pada manusia terdiri atas tractus digestivus yang memiliki fungsi yang penting dalam penyediaan nutrisi bagi tubuh. Struktur histologis dari duodenum, appendix, dan colon berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula. Sistem reproduksi pada manusia terbagi menjadi 2, jantan dan betina yang memiliki struktur histologis yang berbeda dan gamet yang dihasilkan juga berbeda. Sistem reproduksi jantan terdiri atas testis, sistem saluran, kelenjar tambahan, dan penis. Sistem reproduksi betina terdiri atas ovarium, oviduct, uterus, cervix, dan vagina. Kata kunci : gastrointestinal, histologi, reproduksi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Slonane (2001) dan Yadav (2003), Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjarkelenjar yang berhubungan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh metabolit-metabolit yang diperlukan untuk pertumbuhan dan energi yang diperlukan bagi tubuh dari makanan yang dimakan. Sebelum disimpan atau digunakan sebagai energi, makanan dicernakan dan diubah menjadi molekul-molekul kecil yang dapat dengan mudah diabsorpsi melalui dinding saluran pencernaan. Saluran pencernaan dimulai dari bibir sampai dengan anus. Pada beberapa tempat mengalami dilatasi serta menempuh arah yang berliku-liku. Makanan dapat bergerak ke belakang karena adanya gerakan peristaltik, dan gerakan anti peristaltik. Gerakan ini dimungkinkan karena adanya lapisan otot (tunica muscularis) pada dinding saluran pencernaan. Sistem genitalia atau alat kelamin merupakan alat reproduksi yang memegang peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Dibedakan atas sistema genitalia maskulin dan sistema genitalia feminin (Junqueria dan Cameiro, 2005) Mengingat begitu banyaknya jenis jaringan, maka seorang bioloyst penting untuk mempelajari histologi jaringan penyusun sistem gastrointestinal dan sistem genatalia agar dapat membedakan antara satu jaringan dengan jaringan yang lain. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum Pengamatan Histologi Sistem Gastrointestinal dan Sistem Reproduksi. 1.2 Tujuan Tujuan pelaksanaan Pengamatan Histologi Sistem Gastrointestinal dan Sistem Reproduksi adalah untuk mengetahui struktur sel, jaringan penyusun sistem gastrointestinal dan sistem reproduksi serta mengetahui perbedaan antara jaringan-jaringan penyusun sistem gastrointestinal dan sistem reproduksi.

1.3 Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan diselesaikan pada praktikum ini adalah : 1. Bagaimanakah struktur sel dan jaringan sistem gastrointestinal, dan sistem reproduksi? 2. Bagaimanakah perbedaan antara jaringan-jaringan penyusun sistem gastrointestinal dan sistem reproduksi? 1.4 Manfaat Manfaat dari praktikum ini adalah ketika praktikan dihadapkan pada bidang medis maka praktikan dapat membedakan beberapa jenis jaringan berdasarkan struktur dan ciri khususnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Gastrointestinal Menurut Junqueria dan Carneiro (2005), faring berupa rongga dimana tujuh saluran bermuara kedalamnya. Secara histologik dibedakan atas nasofaring dan orofaring. Esophagus berupa saluran yang cukup panjang yang menghubungkan faring dengan lambung. Terbagi atas tiga daerah antara lain pars cervicis, pars thoracis, dan pars abdominis. Ciri khas lambung adalah memiliki lapis umum lengkap, berselaput lendir, dan berkelenjar dengan epithel silindris sebaris. Usus secara umum usus berperan sebagai tempat terjadinya pencernaan akhir dengan bantuan enzyma dari usus dan pankreas serta empedu dari hati, tempat penyerapan dari bahan-bahan yang telah dicerna yang diperlukan tubuh misalnya karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin dan air, serta melakukan atau membuang ampas-ampas pencernaan. Usus halus (intestinum tenue) terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum. Ciri umum berselaput lendir berkelenjar yang membentuk vili untuk kelancaran penyerapan. Memiliki 3 macam sel pada epitel permukaan yakni sel penyerap, sel mangkok dan sel argentafin. Memiliki lapis umum lengkap. Usus besar (Intestinum crassum) fungsi utamanya adalah menyerap air,

menyerap vitamin dan mineral, menghasilkan lendir sebagai pelicin. Ciri umum memiliki lapisan umum lengkap Tunika mukosa relatif lebih teba dari usus halus serta tidak memiliki villi. Tidak memiliki sel mangkok dan ujung kelenjar lieberkhum lebih lurus dan panjang. (Kerr, 1998). 2.2 Sistem Reproduksi Sistem genitalia maskulina terdiri atas testis, alat penyalur, kelenjar asesorius, genitalia eksterna, Testis setelah mencapai umur dewasa dan dibawah pengaruh hormon gonadotropin hipophisa menghasilkan spermatozoa. Organa genitalia feminina terdiri dari ovarium (alat kelamin primer), alat penyalur terdiri atas tuba fallopii dan fimbrie, uterus, serviks dan vagina, serta alat kelamin luar (genitalia eksterna) terdiri dari vestibulum, labia-vulva dan klitoris (Slonane, 2001). BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum pengamatan histologi sistem gastrointestinal, dan sistem reproduksi ini dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2011 pukul 13.30-15.30 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya. 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, alat tulis, pensil warna dan kertas A4 untuk menggambar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah preparat awetan kelenjar endokrin, dan jaringan saraf. 3.3 Cara Kerja Preparat awetan sistem gastrointestinal dan sistem reproduksi diletakkan di atas papan amat mikroskop kemudian diamati struktur histologinya dan digambar serta diberi keterangan baguan-bagiannya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sistem Gastrointestinal 1. Duodenum Berdasarkan pengamatan, duodenum tersusun atas 4 lapisan. Lapisan pertama adalah serosa. Lapisan kedua adalah muscularis. Lapisan terakhir adalah mucosa dan submucosa. Duodenum dengan perbesaran 400x terlihat bahwa pada lapisan mucosa terdapat crypt dan duct. Berikut adalah gambar histologi duodenum dengan perbesaran 100x dan 400x.

Gambar 4.1 Struktur histologi duodenum dengan perbesaran 100x (kiri) dan perbesaran 400x (kanan)
Keterangan gambar 4.1 1. Submucosa 2. Mucosa 3. Muscularis 4. Serosa 5. Muscularis mucosa 6. Crypt 7. Duct

Menurut Slonane (2001), intestinum tenue merupakan bagian tractus digestivus di antara ventriculus dan intestinum crassum, seluruhnya ada sekitar 6 meter panjangnya. Dinding duodenum tersusun atas tunika mucosa, tunika submucosa, tunika muscularis, dan tunika serosa. Menurut Ross dan Pawlina (2006), tunika mucosa berfungsi untuk absorbsi makanan, maka perlu perluasan

dari permukaan tunika mucosa. Perluasan tersebut dilaksanakan dalam beberapa tingkat. Lipatan-lipatan tunika mucosa sampai tunika submucosa, yang melingkar-lingkar yang disebut plica circularis atau valvula kerckingi (mirip lipatan). Lipatan ini merupakan bangunan yang tetap yang tidak berubah karena pembesaran usus. Lipatan tersebut dimulai 5cm distal dari pylorus yang makin membesar dan paling besar pada akhir duodenum dan awal jejunum dan makin merendah sampai pada pertengahan ileum menghilang. Menurut Kerr (1998), vili intestinalis merupakan penonjolan tunika mucosa dengan panjang 0,5 1,5 mm. Di daerah ileum agak jarang, tersusun sebagai jari-jari, pada dasar vili terdapat muara kelenjar usus yang disebut glandula intestinalis liberkuhn atau crypta lieberkuhn. Microvili, dengan adanya microvili, maka luas permukaan diperbesar sekitar 30x. Pada permukaan sel-sel epitel gambaran bergaris-garis yang disebut striated border, yang merupakan tonjolan sitoplasmatis diliputi membrane sel. Tunika mucosa ini tersusun atas beberapa lapis sel diantaranya, 1. Epitel Bentuk epitel silindris selapis. Oleh vili intestinalis dan glandula dibagi 4 sel, yaitu : a) Sel absorbtif Berbentuk silindris dengan tinggi 2026 . Bentuk inti ovoid pada basal sel. Pada permukaan bebas terdapat microvili. Enzim pencernaan amylase dan protease diserap oleh selubung glukoprotein hingga pencernaan dapat terjadi dalam lumen usus dan permukaan microvili. Dalam microvili terdapat filamen-filamen halus yang penting dan sintesa trigliseride untuk proses absorbsi lemak (Junqueria dan Cameiro, 2005). b) Sel piala/goblet sel Merupakan sel uniseluler yang menghasilkan mucin. Sitoplasma merupakan lapisan yang tipis untuk melindungi lapisan secret tersebut sebagai plica. Ruangan yang dibatasi oleh plica tersebut berisi tetes-tetes mucigen (Fawcett, 1994).

c) Sel argentafis Sangat umum ditemukan dalam epitel duodenum. Sangat banyak pada epitel appendix (Kerr, 1998). d) Sel paneth Berkelompok dalam jumlah kecil di dasar crypta lieberkuhn. Bentuk sel seperti pyramid, inti bulat pada dasarnya. Sitoplasma terlihat basofil, granular reticulum endoplasma lebih banyak. Menghasilkan peptidase dan losozim (Fawcett, 1994). 2. Lamina propria Merupakan jaringan pengikat yang mengisi celah-celah di antara crypta lieberkuhn. Mengandung serabut reticuler dan elastic. Terdapat sel makrofag, limfosit, plasmosit, dan leukosit. Nodus limfaticus lebih banyak, sebesar 0,6 3 mm sepanjang usus. Pada ileum sebagai nodus limfaticus paling besar plaques peyeri (Junqueria dan Cameiro, 2005). 3. Lamina muscularis Terdiri atas 2 lapisan, yaitu stratum circulare di sebelah dalam dan stratum longitudinal di sebelah luar (Yadav, 2003). Menurut Junqueria dan Cameiro (2005), tunika submucosa merupakan jaringan ikat padat yang banyak mengandung serabut elastis. Di dalamnya terdapat pula kelompok-kelompok sel lemak. Terdapat anyaman saraf sebagai plexus nervosus, submucosa meisseri. Gambaran khusus tunika submucosa ada 2, yaitu: 1. Plica circularis Merupakan lipatan yang diikuti oleh lapisan dinding usus sampai tunika submucosa untuk memperluas permukaan usus. Terdapat 800 lipatan melingkar sabagai cincin yang tidak sempurna di sepanjang intestinum. 2. Glandula duodenalis bruneri Pars terminalis berbentuk tubuler yang bercabang dan bergelung. Ductus excretorius akan menembus lamina muscularis dan bermuara pada crypta

lieberkuhn. Pada 2/3 distal duodenum kelenjar tersebut akan berkurang kemudian menghilang. Tunika muscularis terdiri atas 2 lapisan serabut otot polos yaitu stratum circulare di sebelah dalam dan stratum longitudinal di sebelah luar. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat plexus myentericus aurbach. Tunika serosa merupakan jaringan pengikat longgar sebagai lanjutan peritoneum visceral (Slonane, 2001). Histologi duodenum dapat dilihat pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Struktur histologi duodenum (Slomianka, 2009) 2. Appendix Berdasarkan pengamatan, appendix dengan perbesaran 100x tampak intestinum tenue, muscularis mucosa, crypt, dan vili. Vili berupa tonjolan sedangkan crypt berupa cekungan. Intestinum tenue terletak pada bagian bawah. Berikut adalah gambar struktur histologi appendix.
Keterangan gambar 4.3 1. Vili 2. Crypt 3. Muscularis mucosa 4. Intestinum tenue

Gambar 4.3 Struktur histologi appendix (100x) Menurut Feldhamar dkk. (1999), apendix merupakan tonjolan sebagai jari atau cacing, yang berpangkal pada caecum. Dindingnya relatif tebal dibandingkan lumennya. Adanya lipatan tunica mucosa kedalam dinding menyebabkan bentuk lumen yang tidak teratur. Pada orang dewasa lumen agak membulat. Kadang-kadang lumennya berisi sisa-sisa sel sampai tersumbat. Appendix ini berakhir buntu. Dindingnya dengan struktur tunika mucosa, tunika submucosa, tunica muscularis, dan tunika serosa. Tunica mucosa tidak mempunyai villi intestinalis. Epitel, berbentuk silindris selpais dengan sel piala. Banyak ditemukan sel argentafin dan kadang-kadang sel paneth. Lamina propria, hampir seluruhnya terisi oleh jaringan limfoid dengan adanya pula nodulus Lymmphaticus yang tersusun berderet-deret sekeliling lumen. Diantaranya terdapat crypta lieberkuhn. Lamina muscularis mucosa, sangat tipis dan terdesak oleh jaringan limfoid dan kadang-kadang terputus-putus (Ross dan Pawlina, 2006). Tunica submucosa tebal, biasanya mengandung selsel lemak dan infiltrasi limfosit yang merata. Di dalam jariangan tunica submucosa terdapat anyaman pembuluh darah dan saraf. Tunic muscularis walaupun tipis, tapi masih dapat dibedakan adanya lapisan dua lapisan. Tunica serosanya mempunyai struktur yang tidak berbeda dengan yang terdapat pada intestinum tenue. Kadangkadang pada potongan melintang dapat diikuti pula mesoappendix yang merupakan alat penggantung sebagai lanjutan peritoneum visceral (Yadav, 2003). Struktur histologi appendix dapat dilihat dapad gambar 4.4.

Gambar 4.4 Struktur histologi appendix (Blue histologi, 2010) 3. Colon Berdasarkan pengamatan, colon tersusun atas 4 lapisan. Lapisan pertama adalah serosa. Lapisan kedua adalah muscularis externa. Lapisan ketiga adalah submucosa kemudian yang keempat adalah muscularis mucosa. Tonjolan-tonjolan pada colon tersusun atas sel goblet. Berikut adalah gambar struktur histologi colon.

Gambar 4.5 Struktur histologi colon (100x)


Keterangan gambar 4.5 1. Muscularis mucosa 2. Submucosa 3. Muscularis externa 4. Serosa 5. Sel goblet

Menurut Slonane (2001), colon dan caecum mempunyai struktur yang sama. Dari luar colon tampak segmen yang melintang menggelembung yang disebut haustra. Disamping itu tampak adanya tiga jalur sebagai pita yang memanjang mengikuti sumbu panjang colon yang disebut taenia coli. Di antara colon, yang terletak intraperitoneal ialah caecum dengan appendia, colon transversum dan colon sigmoideum. Sedang yang terletak retro peritoneal ialah colon ascendens dan colon descendens. Lapisan intestinum crassum tersusun atas tunica mucosa, tunica submucosa, tunica muscularis, dan tunica serosa. Tunica mucosa tidak membentuk lipatan, plica atau villa sehingga permukaan dalamnya halus. Adanya lekukan ke dalam oleh incisura di luar menyebabkan di dalam terdapat bangunan sebagai lipatan yang diikuti seluruh lapisan dinding, yang disebut plica semilunaris (Kerr, 1998). 1. Epitel Epitel permukaan berbentuk silindris selapis dengan striated border yang tipis. Diantara sel-sel epitel ini terdapat sel piala. Kelenjar-kelenjarnya lebih panjang dari yang terdapat di usus halus, maka tunica mucosa lebih tebal. Kelenjar-kelenjar tersebut tersusun teratur dan sangat rapat. Hampir seluruhnya sel-sel kelenjar terdiri atas sel piala. Kadang-kadang terdapat sel argentafin. Sedang sel paneth sangat jarang (Fawcett, 1994). 2. Lamina propria Susunan jaringan pengikat seperti pada intestinum tenue. Lebih banyak pula nodulus lymphaticus soliterius yang kadang-kadang meluas ke tunica submucosa (Kerr, 1998). 3. Lamina muscularis mucosae jelas adanya dua lapisan (Slonane, 2001). Struktur histologi colon dapat dilihat pada gambar 4.6.

Gambar 4.6 Struktur histologi colon (Blue Histologi, 2008) 4.3 Sistem Reproduksi Sistem reproduksi jantan terdiri atas (Feldhamer dkk, 1999): 1. Sepasang testis yang berfungsi memproduksi sperma dan hormon seks jantan. 2. Sistem saluran yang berfungsi membawa sperma dari testis menuju uretra dan tempat pematangan sperma. 3. Kelenjar-kelenjar tambahan yang berkaitan dengan sistem saluran yang berfungsi mensekresikan komponen air mani 4. Penis yang berfungsi sebagai organ kopulasi Sistem reproduksi jantan dapat dilihat pada gambar 4.7.

Gambar 4.7 Sistem reproduksi jantan (educational, 2009)

Sistem reproduksi betina terdiri atas (Feldhamer dkk, 1999): 1. Sepasang ovarium yang berfungsi menghasilkan sel telur dan hormon seks. 2. Sepasang oviduct yang berfungsi sebagai saluran sel telur menuju uterus 3. Uterus sebagai tempat berkembangnya embrio 4. Cervix (leher rahim) yang menghubungkan antara uterus dan vagina, membantu mencegah infeksi ke dalam uterus, dan dilatasi serviks saat proses persalinan 5. Vagina berfungsi sebagai jalan masuknya spermatozoa, keluarnya darah menstruasi dan hasil konsepsi, membantu menopang uterus, dan membantu mencegah infeksi. Gambar sistem reproduksi betina dapat dilihat pada gambar 4.8.

Gambar 4.8 Sistem reproduksi betina (educational, 2009) 1. Testis Berdasarkan pengamatan, testis tersusun atas beberapa bagian yaitu tubulus seminiferus, jaringan interstitial, dan tunica albugenia. Tubulus seminiferus dalam perbesaran 400x tersusun atas beberapa bagian diantaranya sel sertoli, spermatogonia, dan sel leydig. Berikut adalah gambar struktur histologi testis dan tubulus seminiferus.

Gambar 4.9 Struktur histologi testis (100x) dan tubulus seminiferus (400x)
Keterangan gambar 4.9 1. Tubulus seminiferus 2. Jaringan interstitial 3. Tunica albugenia 4. Sel sertoli 5. Sel leydig 6. Spermatogonia

Menurut Junqueria dan Cameiro (2005), testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang cukup tebal disebut tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum tunika vaginalis viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginea sebaliknya kaya akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya vaskularisasi. Menurut Yadav (2003), pada tempat melekatnya epididimis pada testis, tunika albuginea berhubungan dengan mediastinum testis, yaitu suatu tali jaringan ikat yang memanjang sepanjang axis memanjang dari testis. Jaringan interstitial disekitar tubulus seminiferus tidak ditemukan otot dan sperma di testis bersifat non motil. Gerakan mereka pada tubulus disebabkan oleh tekanan sekretorik dan tekanan internal dari testis, gerakan ini juga dibantu oleh cairan yang mungkin dihasilkan oleh sel sertoli. Parenkim testis terdiri atas tubulus seminiferus, yang dibungkus jaringan ikat halus. Jaringan ikat interstitial kadang menunjukkan struktur/lamelar yang banyak

mengandung vasa dan nervi. Sel interstitial yang diduga menghasilkan hormon testosteron ditemukan tunggal atau bergerombol (Kerr, 1998). Dinding tubulus seminiferus dibatasi oleh sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong atau sel sustentakulum disebut juga sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik ada beberapa tipe yang berbeda morfologinya antara lain spermatogenia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa. Tiap sel sentroli melekat pada lamina basalis, sedangkan sel sprematogenik tersusun secara tradisional. Sel yang muda terletak dekat membrana basalis, semakin mendekati lumen, umur sel makin tua (Fawcett, 1994). Sel sertoli berbentuk tinggi langsing seperti segitiga dengan basisnya melekat pada membrana basalis, ujungnya mencolok keluar, inti sel terletak pada basal. Struktur histologi menunjukkan adanya gambaran mitokhondria yang memanjang sejajar dengan axis panjang sel, fibril tetes lemak dan kadang ditemukan granula lipofasia. Dengan EM dapat ditemukan bangunan berupa kristal terbentuk kumparan yang disebut Kristaloid Charcot Bottcher (sel sertoli manusia). Susunan kimia dan kegunaan fisiologinya belum diketahui. Filament yang halus dan mikrotubulus yang tersusun sejajar dengan axis panjang sel sering dapat ditemukan, RER jarang tetapi SER ditemukan lebih banyak. Sel sertoli melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan mungkin berperan penting dalam memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang kelihatan mengalami mitosis, tetapi mereka lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik (Ross dan Pawlina, 2006). Spermatogonia memiliki panjang bervariasi antara 5075 m, terdiri atas caput dan cauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Pembagian nya didasarkan atas perbedaan diameter. Dengan

mikroskop cahaya perbedaan struktur internanya tidak jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan struktur interna nya jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Midle piece berbentuk silindris panjangnya lima sampai tujuh m, tebalnya mencapai 1 m. Bagian ini timbul dari polus pasterior dari caput yaitu pada bagian yang mempunyai struktur mirip dengan cincin Annulus. Principal piece panjangnya kira-kira 45 m dengan tebal 0,5 m, makin keujung makin mengecil membentuk end piece. Spermatogonia terdapat diatas satu sampai dua lapis membran basal. Sel induk ini bersifat mitosis aktif, jadi sering terlihat bentuk pembelahan sel. Menurut penelitian dibedakan adanya spermatogonia tipe A dan B. Tipe A terdapat langsung pada membran basal dan tipe B diatas tipe A. Tipe A membelah secara mitosis menjadi tipe A dan tipe B, tipe B inilah yang menumbuhkan spermatosit primer (Ross dan Pawlina, 2006). Menurut Slonane (2001), parenkim testis yang terdiri atas tubuli seminiferi dibalut oleh jaringan ikat halus yang dikenal sebagai jaringan ikat interstitial. Didalamnya ditemukan pembuluh darah saraf, sel interstitial (sel leidig). Bentuknya tidak teratur, berdiameter 10-15 m, inti besar, kromatin bulat dan nukleus jelas. Dalam sitoplasma sering terdapat apparatus golgi, smooth E.R mitokhondria, butir-butir lipoid, kristal protein dan pigment. Pada manusia kristal tersebut cukup besar dan semakin tua semakin banyak jumlahnya. Menurut Junqueria dan Cameiro (2005), fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi : 1. Mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat. 2. Memelihara tanda khas jantan (secondary sex characteristics) 3. Bersama dengan hormon FSH dan hiphofisa mengatur aktivitas spermatogenesis. Struktur histologi testis dan tubulus seminiferus dapat dilihat pada gambar 4.10.

Gambar 4.10 Struktur histologi testis (kiri) dan tubulus seminiferus (kanan) (Slomianka, 2009) 2. Ovarium Berdasarkan pengamatan, folikel primer yang terdapat di dalam ovarium terdiri atas beberapa bagian yaitu oosit dan sel granulose. Folikel primer dengan perbesaran 400x tampak sel techa, oosit, anthrum, dan sel granulose. Berikut adalah gambar struktur histologi ovarium.

Gambar 4.11 Struktur histologi folikel primer perbesaran 100x (kiri) dan perbesaran 400x (kanan)
Keterangan gambar 4.11 1. Oosit 2. Sel granulose 3. Sel theca 4. Anthrum

Menurut Junqueria dan Cameiro (2005), ovarium berjumlah sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ukuran

serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum). Germinal epithelium pada hewan muda bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel tersebut, kecuali daerah hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah germinal epithelium. Feldhamer dkk. (1999) dan Slonane (2001), korteks atau disebut juga korteks ovarii atau zona parenchymatosa, letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali pada kuda yang terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada berbagai stadia. Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat di dalamnya. Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag, ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum. Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia. Srtuktur histologi ovarium dapat dilihat pada gambar 4.12.

Gambar 4.12 Struktur 2009)

histologi

ovarium

(Slomianka,

3. Oviduct Berdasarkan pengamatan, oviduct tersusun atas beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan serosa. Lapisan kedua adalah muscularis. Lapisan terakhir adalah mucosa. Berikut adalah gambar struktur histologi oviduct.

Keterangan gambar 4.13 1. Lapisan serosa 2. Muscularis 3. Mucosa

Gambar 4.13 Struktur histologi oviduct (100x) Secara morfologis, oviduct dibagi menjadi infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan lapisan otot (Slonane, 2001). Menurut Ross dan Pawlina (2006), mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya

lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris. Pada epitel ini terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni sel yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos sering tampak di dalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada. Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya. Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx) (Yadav, 2003). Struktur histologi oviduct dapat dilihat pada gambar 4.14.

Gambar 4.14 Struktur histologi oviduct (Ansci, 2008) 4. Uterus Berdsarkan pengamatan, uterus tersusun atas endometrium dan myometrium. Di dalam myometrium terdapat kelejar yang disebut kelenjar uterin. Berikut adalah gambar struktur histologi uterus
Keterangan gambar 4.15 1. Endometrium 2. Myometrium 3. Kelenjar uterin

Gambar 4.15 Struktur histologi uterus (100x) Menurut Kerr (1998), struktur histologi uterus terdiri atas endometrium, cranculae, dan myometrium. Endometrium merupakan istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut sratum selulare, di bawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut zona spongiosa.

Karunkula (carunculae) merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak jelas. Saat tidak terjadi kehamilan karunkula ini kecil, tapi saat terjadi kehamilan berukuran sangat membesar. Pada saat terjadi kehamilan khorion melekat bahkan membenamkan vili kedalamnya. Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin (Junqueria dan Cameiro, 2005). Menurut Ross dan Pawlina (2006), myometrium berperan sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah mengalami kehamilan stratum vaskulare ini memiliki pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara. Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatif tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus (ligamentum lata uteri). Struktur histologi oviduct dapat dilihat pada gambar 4.16.

Gambar 4.16 Struktur histologi uterus (Ansci, 2008) BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Sistem gastrointestinal pada manusia terdiri atas tractus digestivus yang memiliki fungsi yang penting dalam penyediaan nutrisi bagi tubuh. Struktur histologis dari duodenum, appendix, dan colon berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula. Sistem reproduksi pada manusia terbagi menjadi 2, jantan dan betina yang memiliki struktur histologis yang berbeda dan gamet yang dihasilkan juga berbeda. Sistem reproduksi jantan terdiri atas testis, sistem saluran, kelenjar tambahan, dan penis. Sistem reproduksi betina terdiri atas ovarium, oviduct, uterus, cervix, dan vagina. 5.2 Saran Disarankan untuk praktikum selanjutnya agar preparat dan alat yang digunakan lebih komprehensif agar gambar yang dihasilkan juga jelas.

DAFTAR PUSTAKA Fawcett, Don W. 1994. A Textbook of Histology. Chapman and Hall. New York. Feldhamer, George A., Lee C. Drickamer, Stephen A. Vessey, Joseph F. Mermitt. 1999. Mammalogy, Adaptation, Diversity and Ecology. Mc Graw-Hill Company. New York Junqueria, L.C., dan J. Carneiro. 2005. Basic Histology, Text and Atlas 11th edition. McGraw-Hill. New York Kerr, J. B. 1998. Atlas of Functional Histology. Mosby. London Ross, M.H., dan W. Pawlina. 2006. Histology: a text and atlas : with correlated cell and molecular biology. Lippincott Williams & Wilkins. New York Slonane, E. 2001. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. EGC. Jakarta Yadav, P.E. 2003. Histology. Discovery Publishing House. USA