Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN STATUS GIZI BIOKIMIA DARAH

PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN

OLEH : SUCI QADRIANTY SAKINAH K21110283 KELOMPOK C3

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masyarakat awam mengenal anemia sebagai penyakit kekurangan darah. Penyakit ini rentan dialami pada hampir setiap siklus kehidupan, mulai dari balita, remaja, dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, hingga manula1. Menurut Dr. dr. Citrakesumasari, M.Kes dalam bukunya Anemia Gizi Masalah dan Pencegahannya, anemia didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana rendahnya konsentrasi hemoglobin (Hb) atau hematokrit berdasarkan nilai ambang batas (referensi) sebagai akibat dari rendahnya produksi sel darah merah (eritrosit) dan hemoglobin, meningkatnya hemolisis atau kerusakan sel darah merah, atau kehilangan darah yang berlebihan (misalnya pada keadaan perdarahan)1. Dalam penelitian Martin et al. yang dimuat dalam Medical Journal of Australia, dikemukakan hasil bahwa prevalensi diabetes yang ditemukan ialah 32% pada orang dewasa (36 orang dari 112 responden) dan 0% pada anak-anak. Prevalensi gangguan glukosa puasa bisa tidak dapat diandalkan 40% dinilai sebagai peserta yang tidak benar-benar berpuasa. Demikian pula, prevalensi gangguan toleransi glukosa tidak dihitung sebagai OGTT dilakukan hanya dalam peserta dengan kadar glukosa puasa plasma sekitar 5.5% mmol/L. Tak satu pun dari pasien dengan diabetes menerima pengobatan dialisis ginjal pada saat studi2. Lama kelangsungan hidup eritrosit berkurang dalam anemia hemolitik, dan dapat dikurangi pada gagal ginjal kronik, penyakit hati yang parah dan anemia dari penyakit kronis3.

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. David D. Martin, et al. 2005. Point-of-Care Testing of HbA1c and Blood Glucose in a Remote Aboriginal Australian Community. d'Emden, M.C., et al. 2012. The Role of HbA1c in the Diagnosis of Diabetes Mellitus in Australia.

Dalam penelitian Michael C dEmden dkk, direkomendasikan beberapa poin mengenai penggunaan pengujian terglikasi hemoglobin (HbA1c) untuk diagnosis diabetes, yakni sebagai berikut: 1) pengukuran tingkat HbA1c dapat digunakan sebagai tes diagnostic untuk diabetes jika analisis dilakukan di fasilitas produksi diterima kinerja dalam jaminan kualitas eksternal, tes yang standar untuk disesuaikan dengan kriteria internasional nilai acuan, dan jika tidak ada kondisi yang menghalangi nya akurasi yang hadir. Penting untuk dicatat bahwa HbA1c pengujian ini tidak didanai oleh Medicare untuk tujuan diagnosis diabetes; 2) tingkat HbA1c sebesar 6,5% (48 mmol/mol). Dianjurkan sebagai titik cut-off untuk mendiagnosis diabetes; 3) tingkat HbA1c <6,5% (48 mmol/mol) tidak meniadakan diagnosis diabetes berdasarkan parameter glukosa. Kriteria yang ada berdasarkan puasa dan random kadar glukosa, dan pada toleransi glukosa oral; 4) tes, tetap berlaku, dan tes diagnostik pilihan untuk gestational diabetes, diabetes tipe 1 dan di hadapan kondisi yang mengganggu pengukuran HbA1c3. Diagnosis dan manajemen anemia defisiensi besi (IDA) tetap menjadi tantangan. Ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang penting di Australia, dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 8% dari anak-anak prasekolah, 12% dari hamil perempuan dan 15% dari wanita yang tidak hamil usia reproduksi di Australia mengalami anemia, dengan IDA penyebab utama4. Oleh karena pemeriksaan hemoglobin merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi penyakit anemia gizi besi pada seseorang, maka penting juga bagi kami para mahasiswa gizi untuk mengetahui ilmu tentang pemeriksaan hemoglobin ini serta memiliki keterampilan dalam

mempraktikkan cara pemeriksaan hemoglobin.

d'Emden, M.C., et al. 2012. The Role of HbA1c in the Diagnosis of Diabetes Mellitus in Australia. Pasricha, S.R.S., et al. 2010. Diagnosis and Management of Iron Deficiency Anaemia: a Clinical Update.

1.3 Tujuan Praktikum 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum kegiatan praktikum ini adalah untuk menilai status gizi individu melalui uji biokimia darah (pemeriksaan hemoglobin).

1.3.2 Tujuan Khusus Tujuan khsusus kegiatan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kadar hemoglobin praktikan.

1.4 Manfaat Praktikum Manfaat dari percobaan ini adalah dapat mengetahui kadar Hb praktikan sehingga diketahui apakah praktikan menderita anemia atau tidak, serta dapat mengetahui cara pemeriksaan hemoglobin (Hb) dengan menggunakan alat hemoglobin meter (Hemocue).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kekurangan pasokan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin (Hb) sebagai unsur utama eritrosit (sel darah merah). Anemia gizi besi dapat mengakibatkan mengecilnya ukuran hemoglobin, menurunnya kandungan hemoglobin dalam darah, juga mengurangi jumlah sel darah merah. Menurunnya kadar Hb total di bawah nilai normal (hipokromia) serta ukuran sel darah merah yang lebih kecil dari normal (mikrositosis) merupakan indikator terjadinya anemia gizi besi. Tanda-tanda tersebut biasanya akan mengakibatkan proses metabolisme energi terganggu sehingga produktivitas pengidapnya pun ikut menurun1. Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia terutama bagi kelompok wanita usia reproduksi (WUS). Anemia pada WUS dapat mengakibatkan beberapa gejala seperti rasa lelah, badan lemah, serta umumnya menurunkan kemampuan atau produktivitas kerja. Bagi ibu hamil, anemia turut mengambil andil dalam peningkatan AKI (Angka Kematian Ibu) juga angka kesakitan ibu. Sedangkan bagi bayi, anemia dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bayi serta berat badan lahir rendah (BBLR)5. Defisiensi zat besi (Fe) yang umum terjadi di dunia merupakan penyebab utama terjadinya anemia gizi. Di negara-negara di mana prevalensi anemia lebih besar dari 20 persen, penyebab anemia adalah defisiensi Fe atau kombinasi defisiensi Fe dengan kondisi lainnya seperti status sosial-ekonomi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Manado pada Oktober 2002 terhadap 30 ibu hamil menunjukkan adanya hubungan positif antara status sosial ekonomi ibu hamil dengan kadar serum ferritin darahnya5. Serum feritin merupakan petunjuk kadar cadangan besi dalam tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar serum ferritin sudah rutin dikerjakan untuk menentukan diagnosis defisiensi zat besi, karena terbukti bahwa kadar serum
1 5

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2011.Gizi dan Kesehatan Masyarakat.

ferritin sebagai indikator paling dini menurun ketika cadangan besi menurun1. Metabolisme besi terutama ditujukan untuk pembentukan hemoglobin. Zat besi terdapat pada semua sel dan memegang peranan penting dalam beragam reaksi biokimia. Besi terdapat dalam enzim-enzim yang bertanggungjawab dalam proses pengangkutan elektron (sitokrom) untuk mengaktifkan oksigen dalam hemoglobin dan mioglobin1. Besi dalam makanan yang dikonsumsi berada dalam bentuk ikatan ferri (umumnya dalam pangan nabati) maupun dalam bentuk ikatan ferro (umumnya terdapat dalam pangan hewani). Besi yang berbentuk ferri direduksi oleh getah lambung (HCl) menjadi bentuk ferro yang lebih mudah diabsorpsi oleh mukosa usus halus. Adanya vitamin C juga dapat membantu proses reduksi tersebut1. Di dalam sel mukosa, ferro dioksidasi menjadi ferri, kemungkinan bergabung dengan apoferitin membentuk protein yang mengandung besi yaitu ferritin. Selanjutnya, untuk masuk ke plasma darah, besi dilepaskan dari ferritin dalam bentuk ferro, sedangkan apoferitin yang terbentuk kembali akan bergabung lagi dengan ferri ahsil oksidasi di dalam sel mukosa. Setelah masuk ke dalam plasma, maka besi ferro segera dioksidasi menjadi ferri untuk digabungkan dengan protein spesifik yang mengikat besi yaitu transferin1. Selain menerima besi yang berasal dari penyerapan makanan, plasma darah juga menerima besi yang berasal dari simpanan, pemecahan hemoglobin dan selsel yang telah mati. Sebaliknya, plasma harus mengirim besi ke sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin, juga ke sel endothelial untuk disimpan, dank e semua sel untuk fungsi enzim yang mengandung besi. Jumlah besi yang setiap hari diganti sebanyak 30-40 mg, dari jumlah ini hanya sekitar 1 mg yang berasal dari makanan1. Banyaknya besi yang dimanfaatkan untuk hemoglobin umumnya sebesar 2025 mg per hari. Pada kondisi di mana sumsum tulang berfungsi baik, dapat memproduksikan sel darah merah dan hemoglobin sebesar 6x1. Penyerapan zat besi terjadi dalam lambung dan usus bagian atas yang masih bersuasana asam, banyaknya zat besi dalam makanan yang dapat dimanfaatkan
1

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya.

oleh tubuh tergantung pada tingkat absorpsinya. Tingkat absorpsi zat besi dapat dipengaruhi oleh pola menu makanan atau jenis makanan yang menjadi sumber zat besi. Misalnya, zat besi yang berasal dari; bahan makanan hewani dapat diabsorpsi sebanyak 20-30% sedangkan zat besi yang berasal dari tambahan makanan tumbuh-tumbuhan hanya sekitar 5%1. Zat besi yang terkandung dalam makanan dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk kimianya, penyantapan bersama dengan faktor-faktor yang mempertinggi dan atau menghambat penyerapannya, status kesehatan dan status zat besi individu yang bersangkutan1. Defisiensi Fe terjadi ketika jumlah zat besi yang diabsorpsi tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kurangnya asupan Fe ialah salah satu penyebab defisiensi Fe. Selain itu, penurunan bioavailabilitas Fe dalam tubuh, peningkatan kebutuhan Fe karena perubahan fisiologi seperti kehamilan, serta proses pertumbuhan adalah beberapa penyebab lainnya5. Terjadinya defisiensi besi yang menyebabkan anemia diawali dengan deplesi atau penipisan Fe yang ditandai dengan menurunnya cadangan Fe yang tercermin dari berkurangnya konsentrasi serum ferritin. Selanjutnya, terjadi peningkatan absorpsi Fe akibat menurunnya level Fe tubuh. Manifestasi keadaan ini menimbulkan eritropoiesis defisiensi Fe (defisiensi Fe tanpa anemia), cadangan Fe menipis dan produksi Hb menjadi terganggu. Walaupun konsentrasi Hb di atas cut off point kategori anemia, akan tetapi terjadi pengurangan transferrin saturasi yaitu jumlah suplai Fe ke sumsum tulang tidak cukup, meningkatnya konsentrasi eritrosit protoporfirin karena kekurangan Fe untuk membentuk Hb. Di akhir tahapan defisiensi Fe, anemia ditandai dengan konsentrasi Hb atau hematokrit di bawah range normal5. Hemoglobin (Hb) merupakan parameter yang digunakan secara luas untuk menentukan prevalensi anemia. Garby et al. menyatakan bahwa penentuan status anemia yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2011.Gizi dan Kesehatan Masyarakat.

perlu ditambah dengan pemeriksaan yang lain6. Hemoglobin merupakan suatu senyawa yang membawa/mengangkut oksigen pada eritrosit. Secara kimia, hemoglobin dapat diukur dan jumlah hemoglobin per 100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Jika kandungan hemoglobin dalam darah rendah, maka hal tersebut mengindikasikan terjadinya anemia. Bergantung pada metode yang digunakan, nilai hemoglobin menjadi akurat sampai 2-3%. Metode yang lebih dulu dikenal adalah metode Sahli yang menggunakan teknik kimia dengan membandingkan senyawa akhir secara visual terhadap standar gelas warna. Ini memberi 2-3 kali kesalahan rata-rata dari metode yang menggunakan spektrofotometer yang baik6. Tabel 1. Nilai Ambang Batas Pemeriksaan Hematokrit dan Hemoglobin Kelompok Umur/ Jenis Kelamin 6 bulan 5 tahun 5 11 tahun 12 13 tahun Wanita Ibu hamil Laki-laki Konsentrasi Hemoglobin (<g/dL) 11,0 11,5 12,0 12,0 11,0 13,0 Hematokrit (<%) 33 34 36 36 33 39

Sumber: WHO/UNICEF/UNU, 19976 Nilai normal yang paling sering dinyatakan ialah 14-18 gm/100 ml untuk pria, dan untuk wanita ialah 12-16 gm/100 ml (gram/100 ml sering disingkat dengan gm% atau gm/dl). Akan tetapi, di beberapa literatur yang lain, menunjukkan nilai yang lebih rendah, terutama pada wanita, sehingga mungkin pasien tidak dianggap menderita anemia sampai Hb kurang dari 13 gm/100 ml pada pria dan 11 gm/100 ml pada wanita6. Kadar besi di dalam tubuh kita relatif kecil. Pada laki-laki dewasa, terdapat 40-50 mg besi per kg berat badan sedangkan pada wanita dewasa terdapat 35-50 mg per kg berat badan. Dari seluruh zat besi yang ada, sekitar 60-70% digolongkan sebagai zat besi yang esensial, sementara sisanya digolongkan ke
6

I Nyoman Supariasa, Bachtiar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi.

dalam zat besi non esensial. Hemoglobin mengandung banyak zat besi yang esensial, sekitar 5% terdapat di dalam otot (mioglobin), dan kurang dari 1% terdapat di dalam sel tubuh sebagai bagian dari enzim oksido-reduktase. Di dalam hati, sumsum tulang belakang dalam limpa, sekitar 20% zat besi yang disimpan sebagai ferritin dan hemosiderin. Dalam plasma darah besi terdapat seabgai transferin7. Dalam pembentukan hemoglobin, tubuh memerlukan ketersediaan ion besi. Masa hidup setiap butir darah merah termasuk hemoglobin ialah 120 hari. Kenyataan ini perlu diketahui secara meluas untuk mencegah ketakutan orang untuk melakukan donor darah7. Defisiensi besi akan menimbulkan penurunan kadar hemoglobin darah atau anemia gizi besi. Kebutuhan tubuh terhadap unsur besi rata-rata 12-18 mg per hari. Makanan yang banyak mengandung besi antara lain hati, daging, kuning telur, sayuran yang berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan7. Bayi yang baru lahir dibekali Fe sedikit dari ibunya, sehingga makanannya harus sudah diberi suplemen sumber Fe dalam bentuk sari buah, sejak bulan kesatu atau kedua8. Defisiensi besi di Indonesia merupakan masalah defisiensi nasional dan perlu ditanggulangi secara serius dengan liputan nasional pula. Upaya prevalensi belum diprogramkan secara menyeluruh, baru diberikan suplemen preparat Ferro kepada para ibu hamil yang memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau dokter. Sebagai percobaan, sudah dilakukan upaya suplementasi Fe bagi beberapa pekerja perkebunan, tetapi tampaknya belum dilakukan secara bersungguh-sungguh, belum efektif serta belum memasyarakat8. Di antara metode yang paling sering digunakan di laboratorium dan yang paling sederhana ialah metode Sahli, sedangkan metode yang paling canggih ialah metode cyanmethemoglobin6. Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisis dengan HCl menjadi globin ferroheme. Ferroheme dioksida oleh oksigen yang terdapat di udara menjadi
7 8 6

Anna Poedjiadi dan F.M. Titin Supriyanti. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. Ahmad Djaeni Sediaoetama. 2010. Ilmu Gizi Jilid 1 Untuk Mahasiswa dan Profesi. I Nyoman Supariasa, Bachtiar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi.

ferriheme yang segera bereaksi dengan ion Cl dan membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna coklat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang membandingkan adalah mata telanjang, maka subjektivitas sangat berpengaruh. Di samping faktor mata, faktor lain seperti ketajaman, penyinaran, dan lain-lain juga dapat mempengaruhi hasil pembacaan6. Meskipun demikian, untuk pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode Sahli ini masih memadai dan bila pemeriksanya telah terlatih, hasilnya bisa diandalkan6. Pada metode yang lebih canggih, yakni metode cyanmethemoglobin, hemoglobin dioksidasi oleh kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion sianida dan membentuk sian-methemoglobin yang berwarna merah. Intensitas warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Karena yang membandingkan alat elektronik, maka hasilnya lebih objektif. Akan tetapi, kendalanya ialah soal biaya. Saat ini, fotometer masih cukup mahal, sehingga belum semua laboratorium memilikinya6. Menurut Arisman (2002), untuk diagnosis laboratoris, penentuan anemia defisiensi zat besi/Fe (kecuali anemia berat) secara klinis sangat dipengaruhi oleh banyak variabel, seperti ketebalan kulit dan pigmentasi. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis dan menentukan tingkat keparahan anemia (berat atau ringan). Pemeriksaan ini akan sangat bermanfaat terutama terhadap kelompok yang berisiko tinggi9. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan ialah penentuan derajat anemia dan pengujian defisiensi zat besi. Untuk menentukan tingkat keparahan anemia, pengujian dilakukan melalui pemeriksaan darah secara rutin, seperti pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), hitung jumlah RBC, bentuk RBC, dan jumlah
6 9

I Nyoman Supariasa, Bachtiar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi. Arisman. 2002. Gizi dalam Daur Kehidupan.

retikulosit. Sedangkan untuk pengujian defisiensi besi, dilakukan melalui pemeriksaan ferritin serum, kejenuhan transferin, dan protoporfirin eritrosit9. Menurut literatur lain (Almatsier, 2009), dalam mengevaluasi status besi, indikator yang paling umum digunakan ialah pengukuran jumlah dan ukuran eritrosit, serta nilai hemoglobin (Hb) darah. Nilai hemoglobin kurang peka terhadap tahap awal kekurangan zat besi, akan tetapi berguna untuk menentukan beratnya anemia. Nilai hemoglobin yang rendah mencerminkan kekurangan zat besi tahap lanjut. Selain kekurangan zat besi, nilai hemoglobin yang rendah mungkin disebabkan oleh kekurangan intake protein atau vitamin B610.

9 10

Arisman. 2002. Gizi dalam Daur Kehidupan. Sunita Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1

Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin pada hari Jumat tanggal 2 Desember 2012 pada pukul 09.30 sampai pukul 10.30 WITA.

3.2

Alat dan Bahan Praktikum Alat yang digunakan pada praktikum ini ialah hemoglobin meter (Hemocue), microcuvet, lancet dan softclick. Bahan yang digunakan pada praktikum ini ialah darah, alkohol dan kapas steril.

3.3

Prosedur Praktikum Adapun prosedur kerja dari percobaan ini adalah: 1. 2. Disiapkan alat. Dibersihkan jari yang akan diambil darahnya terlebih dahulu dengan kapas yang mengandung alkohol. 3. Digunakan auto lancet untuk mengambil darah pada jari yang telah diolesi alkohol. 4. Dibuang darah pertama yang menetes, selanjutnya tetesan darah kedua diambil dengan menggunakan microcuvet. 5. Dilakukan pemeriksaan pada alat Hemocue.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil

Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Biokimia (Pemeriksaan Hemoglobin) Nama Suci Qadrianty Sakinah Faridah Hidayanti Nursyahidah Imran Nurmaya Tahir Aisyah Alhadar Marina Rudianto Sumber: Data Primer, 2012
* **

Hasil Pemeriksaan 14,1 g/dl 9,3 g/dl 13,6 g/dl 10,9 g/dl 12,8 g/dl 12,4 g/dl 16,4 g/dl

Jenis Kelamin

Nilai Normal

Ket. Normal Anemia Normal Anemia Normal Normal Normal

Perempuan Laki-laki: * Perempuan 13 16 g/dl atau Perempuan 14 18 g/dl** Perempuan Perempuan: * Perempuan 12 14 g/dl atau Perempuan 12 16 g/dl** Laki-laki

: Sirajuddin, 2012 : Supariasa, 2002

4.2

Pembahasan Pada praktikum uji biokimia khususnya pemeriksaan kadar

hemoglobin, setiap anggota kelompok diperiksa kadar hemoglobinnya dengan menggunakan hemoglobinmeter merek hemocue. Pemeriksaan hemoglobin dimaksudkan untuk mengetahui apakah subjek menderita anemia gizi besi atau tidak. Menurut Supariasa (2002), hemoglobin ialah senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah sekaligus merupakan parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Akan tetapi, Garby et al. dalam Supariasa (2002) menyatakan bahwa penentuan anemia tidak cukup dengan hanya melakukan pemeriksaan hemoglobin sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang lain misalnya pemeriksaan hematokrit

dan/atau pemeriksaan serum feritin6. Adapun hasil pemeriksaan hemoglobin (Hb) pada setiap anggota kelompok C3 yakni dari tujuh anggota kelompok C3, dua orang di antaranya mengidap penyakit anemia gizi besi ditandai dengan hasil pemeriksaan Hb-nya yang menunjukkan angka 9,3 g/dl dan 10,9 g/dl (berada di bawah batas normal untuk wanita). Sementara itu, subjek yakni Suci Qadrianty Sakinah memiliki kadar hemoglobin sebanyak 14,1 g/dl yang menunjukkan bahwa subjek memiliki kadar Hb yang normal atau dengan kata lain subjek tidak menderita anemia. Menurut teori yang ada (Citrakesumasari, 2011), anemia gizi bisa disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin sebagai unsur utama eritrosit. Anemia gizi dapat mengakibatkan terjadinya pengecilan ukuran hemoglobin, rendahnya kandungan hemoglobin, serta berkurangnya jumlah sel darah merah4. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa anemia gizi besi biasanya ditandai dengan menurunnya kadar hemoglobin total di bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah merah yang lebih kecil dari ukuran biasanya/ukuran normal (mikrositosis). Tanda-tanda ini biasanya mengganggu metabolisme energi yang dapat menurunkan produktivitas. Secara umum, orang yang menderita anemia gizi akan terlihat pucat, lemas, merasa pusing, kurang nafsu makan, kurang fit, imunitas menurun, mengalami gangguan penyembuhan luka1. Ada beberapa faktor determinan penyakit anemia gizi besi. Husaini (1989) dalam Citrakesumasari (2011) mengelompokkan penyebab anemia gizi besi menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab tidak langsung anemia gizi besi meliputi ketersediaan zat besi dalam bahan makanan yang tidak memadai, praktek pemberian makanan kurang gizi, status sosial-ekonomi yang rendah, komposisi makanan yang kurang beragam, konsumsi makanan yang mengandung zat-zat penghambat
6 4

I Nyoman Supariasa, Bachtiar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi. Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya.

absorpsi zat besi, faktor fisiologis: pertumbuhan fisik dan masa kehamilan dan menyusui, perdarahan kronis, parasit, infeksi, serta pelayanan kesehatan yang rendah. Sedangkan faktor penyebab langsung anemia gizi besi meliputi jumlah Fe dalam makanan yang tidak cukup, rendahnya absorpsi zat besi, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, serta kehilangan banyak darah1. Karena ketersediaan Fe dalam bahan makanan yang tidak adequat merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi, maka perlu diketahui jenis-jenis makanan yang kandungan Fe-nya memadai. Menurut Almatsier (2009), sumber baik zat besi ialah dari makanan hewani, seperti daging, ayam, dan ikan. Sumber baik lainnya ialah telur, serealia tumbuk, kacangkacangan, sayuran hijau, dan beberapa jenis buah. Di samping jumlahnya, perlu diperhatikan kualitas zat besi di dalam bahan makanan, yang disebut dengan ketersediaan biologik (bioavailability). Pada umumnya, besi di dalam daging, ayam, dan ikan memiliki ketersediaan biologik yang tinggi, besi dalam serealia dan kacang-kacangan memiliki ketersediaan biologik yang sedang, dan besi di dalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung asam oksalat tinggi, seperti bayam, memiliki ketersediaan biologik rendah10. Sebaiknya, kombinasi makanan sehari-hari diperhatikan, yakni yang terdiri atas campuran sumber besi hewani dan nabati, sumber gizi lain yang dapat membantu penyerapan, serta menghindari konsumsi makanan yang mengandung zat penghambat absorpsi bersamaan dengan konsumsi makanan sumber zat besi10. Penyerapan zat besi terjadi di dalam lambung dan usus bagian atas yang masih bersuasana asam, banyaknya zat besi dalam makanan yang dapat dimanfaatkan di dalam tubuh tergantung pada tingkat absorpsinya. Tingkat absorpsi zat besi dapat dipengaruhi oleh pola menu makanan atau jenis makanan yang menjadi sumber zat besi. Misalnya, zat besi yang berasal dari
1 10

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Sunita Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.

makanan hewani dapat diabsorpsi sebanyak 20-30% sedangkan zat besi yang berasal dari makanan nabati hanya dapat diserap sekitar 5 %1. Zat besi yang terkandung dalam makanan dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk kimianya, penyantapan bersama dengan faktor-faktor yang mempertinggi dan atau yang menghambat penyerapannya, status kesehatan, dan status zat besi pada individu yang bersangkutan1. Adapun zat yang dapat membantu absorpsi besi yakni vitamin C, yang dapat meningkatkan absorpsi zat besi non heme (zat besi yang berasal dari bahan makanan nabati) secara signifikan. Vitamin C dapat kita peroleh dari beberapa jenis buah, seperti buah jeruk, jambu biji, buah kiwi, dan sebagainya. Selain itu, faktor-faktor yang berada di dalam daging juga memudahkan absorpsi besi nonheme. Laktoferin, yakni glikoprotein susu, yang terdapat di dalam ASI, akan mengikat zat besi sehingga memudahkan penggunaan zat besi secara optimal dengan menyediakan zat besi selama masa defisiensi dan mencegah ketersediaan zat besi bagi bakteri intestinal. Meskipun kandungan besi dalam ASI sama seperti dalam susu sapi, namun ditinjau dari sudut absorpsi yang lebih baik daripada susu sapi ataupun susu formula pengganti yang telah difortifikasi1. Sementara itu, zat yang dapat menghambat absorpsi besi ialah kalsium, tanin, kalsium fosfat, bekatul, asam fitat, dan polifenol. Asam fitat yang banyak terdapat dalam sereal dan kacang-kacangan merupakan faktor utama yang bertanggung jawab atas buruknya ketersediaan biologik zat besi dalam jenis makanan ini. Karena serat pangan sendiri tidak menghambat absorpsi besi, efek penghambat pada bekatul semata-mata disebabkan oleh keberadaan asam fitat. Perendaman, fermentasi, dan perkecambahan bijibijian yang menjadi produk pangan akan memperbaiki absorpsi dengan mengaktifkan enzim fitase untuk menguraikan asam fitat. Polifenol (asam fenolat, flavonoid, dan produk polimerasinya) terdapat dalam teh, kopi, kakao, dan anggur merah. Tanin yang terdapat dalam teh hitam merupakan jenis penghambat paling paten dari semua inhibitor tersebut. Kalsium yang
1

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya.

dikonsumsi dalam produk susu seperti susu atau keju dapat menghambat absorpsi besi dan khususnya santapan yang kompleks, dapat mengimbangi efek penghambat pada polifenol dan kalsium1. Kebutuhan besi (yang diabsorpsi atau fisiologi) harian dihitung berdasarkan jumlah zat besi dari makanan yang diperlukan untuk mengatasi kehilangan basal, kehilangan karena menstruasi dan kebutuhan bagi pertumbuhan. Kebutuhan tersebut bervariasi menurut usia dan gender, dalam kaitannya dengan berat badan, kebutuhan ini paling tinggi terjadi pada bayi yang kecil. Seorang laki-laki dewasa mengalami kehilangan zat besi yang dibutuhkan lebih kurang 1 mg per hari dan kehilangan ini terutama pada saluran pencernaan (hilangnya lapisan terluar sel-sel epitel dan sekresi), kulit, dan saluran urinari. Dengan demikian, agar tetap terdapat persediaan zat besi, seorang pria dewasa dengan ukuran tubuh rata-rata hanya perlu menyerap 1 mg zat besi dari makanannya setiap hari1. Kehilangan zat besi yang dibutuhkan pada wanita berjumlah sama, yaitu sekitar 0,8 mg per hari. Namun, wanita dewasa mengalami kehilangan zat besi tambahan akibat menstruasi dan hal ini menaikkan kebutuhan ratarata setiap harinya sehingga zat besi yang harus diserap adalah 1,4 mg per hari (jumlah ini memenuhi 90% kebutuhan pada wanita yang sedang menstruasi untuk memenuhi kebutuhan yang 10% lagi diperlukan absorpsi harian aling sedikit 2,4 mg zat besi guna mengimbangi kehilangan yang sangat tinggi saat menstruasi). Selain itu, kehamilan juga menyebabkan kebutuhan tambahan terhadap zat besi, khususnya pada kehamilan trimester kedua dan ketiga sehingga kebutuhan hariannya menjadi 4-6 mg. Anak yang sedang tumbuh dan para remaja memerlukan 0,5 mg zat besi per hari untuk mengatasi kehilangan secara berlebihan yang diperlukan guna mendukung pertumbuhan1. Anemia merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebagian besar anemia gizi ini adalah anemia gizi besi. Sebagaimana diketahui dari uraian sebelumnya bahwa penyebab anemia gizi besi terutama karena
1

Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya.

makanan yang dimakan kurang mengandung zat besi, terutama dalam bentuk besi-hem. Di samping itu, pada wanita karena kehilangan darah karena haid dan persalinan10. Pada wanita hamil, anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian dan kesakitan ibu dan bayinya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007) menunjukkan anemia gizi besi pada ibu hamil di Indonesia sebesar 24,5%. Berdasarkan Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008, terdapat 28,1% ibu hamil yang mengalami anemia gizi besi. Hasil penelitian dalam skala kecil (skripsi) di Kabupaten Takalar dan Maros dengan responden ibu hamil yang telah kontak dengan pelayanan kesehatan ternyata ditemukan anemia gizi sebesar 63,9% di Takalar dan 79,4% di Maros1. Pasricha et al. mengemukakan bahwa anemia gizi besi menyisakan penyakit yang umum dan penting. Upaya meringankan beban anemia gizi besi di Australia sebaiknya meliputi strategi-strategi untuk meningkatkan kesadaran akan masalah di antara tenaga kesehatan dan masyarakat umum, memperbaiki ketersediaan formulasi oral yang tepat, meningkatkan akses terhadap terapi besi IV, dan studi prospektif terhadap epidemiologi, penelitian dan perawatan anemia gizi besi, yang akan memberitahukan perkembangan petunjuk praktek4.

10 1

Sunita Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Citrakesumasari. 2012. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Pasricha, S.R.S., et al. 2010. Diagnosis and Management of Iron Deficiency Anaemia: a Clinical Update.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa di antara tujuh orang anggota kelompok C3, terdapat 2 orang yang mengalami anemia gizi besi sedangkan kelima anggota lainnya (termasuk subjek) memiliki kadar hemoglobin yang normal.

5.2 Saran a. Kepada Dosen: Sebaiknya dosen mata kuliah PSG sekali-kali juga ikut mengawasi proses berlangsungnya praktikum. b. Kepada Asisten: Sebaiknya asisten lebih banyak memberikan informasi terkait ilmu mengenai PSG atau praktikum PSG dan mempertahankan keobjektifannya dalam menilai laporan praktikan. c. Laboratorium: Sebaiknya peralatan praktikum diperbanyak untuk lebih mengefisienkan waktu. d. Kegiatan Praktikum: Sebaiknya kegiatan praktikum berlangsung sesuai waktu yang telah disepakati (disiplin waktu).

DAFTAR PUSTAKA

1.

Citrakesumasari. (2012). Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Cetakan I. Penerbit Kalika: Yogyakarta. Martin, D. D., et al. (2005). Point-of-Care Testing of HbA1c and Blood Glucose in a Remote Aboriginal Australian Community., Medical Journal of Australia, vol. 182(10), p. 524-527. d'Emden, M.C., et al. (2012). The Role of HbA1c in the Diagnosis of Diabetes Mellitus in Australia, Medical Journal of Australia, vol. 197(4), p. 1-3. Pasricha, S.R.S., et al. (2010). Diagnosis and Management of Iron Deficiency Anaemia: a Clinical Update, Medical Journal of Australia, vol. 193(9), p. 525-532. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2011). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Supariasa, I.D.N, Bachtiar B, & Ibnu F. (2002). Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Poedjiadi, A. & F.M. Titin S. (2009). Dasar-Dasar Biokimia. Edisi Revisi. Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta. Sediaoetama, A.D. (2010). Ilmu Gizi Jilid I Untuk Mahasiswa dan Profesi. Cetakan IX. Penerbit Dian Rakyat: Jakarta. Arisman. (2002). Gizi dalam Daur Kehidupan. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Cetakan VIII. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

LAMPIRAN

Jari ditusuk dengan menggunakan autolancet

Darah yang keluar di masukkan pada microcuvet

Microcuvet dimasukkan ke dalam hemoglobinmeter

Status Hb akan terbaca pada hemoglobin meter