Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kelenjar getah bening terdapat beberapa tempat ditubuh kita. Kelenjar getah bening adalah bagian dari system pertahanan tubuh kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 getah bening. Limfoma adalah penyakit keganasan primer dari jaringan limfoid yang bersifat padat (solid) meskipun kadang-kadang menyebar secara sistemik

(Handayani, 2012). Penyakit limfoma diklasifikasikan menjadi dua golonganya itu penyakit Limfoma Hodgkin dan Limfoma Non Hodgkin. Lebih dari 45.000 klien di diagnosis sebagai limfoma non-Hodgkin atau LNH setiap tahun di Amerika Serikat. Di indonesia sendiri, frekeunsi LNH jauh lebih tinggi dibandingkan dengan limfoma Hodgkin (Handayani, 2012). Beberapa hasil studi menemukan bahwa insiden limfoma Non-Hodgkin

adalah keganasan terbanyak ketiga pada anak-anak, LNH terjadi pada bayi sampai remaja, dengan insidens puncak antara usia 7 - 11 tahun dan lebih sering menyerang laki-laki dari pada perempuan dengan rasio 3:1 (Betz &Sowden, 2009). Komplikasi yang dialami pasien dengan limfoma non-Hodgkin dihubungkan dengan penanganan dan berulangnya penyakit. Efek-efek umum yang merugikan berkaitan dengan kemotrapi meliputi : alopesia, mual, muntah, supresi sumsum tulang, stomatitis dan gangguan gastrointestianal.

B. Tujuan Untuk mengetahui pengertian dari limfoma non-Hodgkin Untuk mengetahui patifisiologi dari limfoma non-Hodgkin Untuk mengetahui etiologi dari limfoma non-Hodgkin Untuk mengetahui manifestasi klinis limfoma non-Hodgkin. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada penderita limfoma non-Hodgkin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Limfoma adalah neoplasma ganas yang berasal dari sel asli jaringan limfoid (yaitu, limfosit dan prekursor serta turunannya, dan yang jarang adalah histiosit). Seperti neoplasma lainnya, semua limfoma bersifat monoklonal. Secara klinis dan patologis, limfoma malligna dibagi menjadi dua golongan besar yaitu: Limfoma Hodgkin dan Limfoma non-Hodgkin. Limfoma non-Hodgkin (LNH) adalah suatu kelompok penyakit heterogen yang diddefinisikan sebagai keganasan jaringan limfoid selain penyakit Hodgkin. Manifestasinya sama dengan penyakit Hodgkin, namun penyakit ini biasanya sudah menyebar ke seluruh sistem limfatik sebelum pertama kali terdiagnosis. Apabila penyakitnya masih terlokasinya, radiasi merupakan penanganan pilihan. Jika terdapat keterlibatan umum, digunakan kombinasi kemoterapi. (Muttaqin, 2011) LNH merupakan proliferasi klonal yang ganas limfosit T dan B yang terdapat bersama berbagai tingkat beban tumor. Keganasan ini tidak boleh diracunkan dengan kelainan limfoproliferatif poliklonal. Kedua kelompok penyakit tadi terjadi dengan frekuensi meningkat pada anak dengan status imunodefisiensi herediter seperti ataksia-telangiektasia, sindrom Wiskott-Aldrich, imunodefisiensi campuran, dan sindrom lomfoproliferatif terkait-X (XLP). (Behrman, dkk, 2012) Limfoma non Hodgkin adalah penyakit yang menyerang sel dari sistem limfatik, yang dikenal sebagai sel darah putih atau limfosit. Pada limfoma non Hodgkin limfosit mulai berperilaku seperti kanker dan tumbuh serta berlipat ganda secara tidak terkontrol, dan tidak mati seperti proses seharusnya. Karena hal ini limfoma non Hodgkin disebut sebagai kanker. Limfosit abnormal ini terkumpul didalam jaringan getah bening, yang mengakibatkan pembengkakan. Karena limfosit bersirkulasi keseluruh tubuh, kumpula limfosit abnormal (limfoma) juga dapat terbentuk di bagian tubuh lainnya diluar kelenjar getah bening

B. Patofisiologi Telah diketahui bahwa penjalaran penyakit LNH terjadi secara limfogen dengan melibatkan rantai kelenjar getah bening yang saling berhubungan dan merambat dari satu tempat ke tempat yang berdekatan. Meskipun demikian, hubungan antara kelenjar getah bening pada leher kiri dan daerah aorta pada LNH jenis folikular tidak sejelas seperti apa yang terlihat pada LNH jenis difus. Walaupun pada LNH timbul gejala-gejala konstitisoinal (demam, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari), namun insidennya lebih rendah daripada penyakit Hodgkin. Ditemukan adanya limfadenopati difus tanpa rasa nyeri, dapat menyerang satu atau seluruh kelenjar limfe perifer. Biasanya adenopati hilus tidak ditemukan, tetapi sering ditemukan adanya efusi pleura, kira-kira 20% atau lebih penderita menunjukkan adanya gejala-gejala yang berkaitan dengan pembesaran kelenjar limfe retroperitoneal atau mesentrium dan timbul bersama nyeri abdomen atau defekasi yang tidak teratur. Sering didapatkan dapat menyerang lambung dan usus halus yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala tukak lambung, anoreksia, penurunan berat badan, nausea, hematemesis, dan melena. Penyakit-penyakit susunan saraf pusat walaupun jarang terjadi tetap dapat timbul pada limfoma histisitik difus (imunoblastik sel besar). (Muttaqin, 2011) Kriteria diagnosis medic LNH adalah sebagai berikut. 1. Riwayat pembesaran kelenjar getah bening atau timbulnya massa tumor di tempat lain. 2. Riwayat demam yang tidak jelas 3. Penurunan berat badan 10% dalam waktu enam bulan 4. Keringat malam yang banyak tanpa sebab yang sesuai 5. Pemeriksaan hispatologis tumor sesuai dengan LNH

Faktor pencetus : Gangguan sel B Herediter

Faktor Lingkungan: Infeksi virus, infeksi bakteri, radiasi / obat tertentu

Faktor predisposisi: Penyakit autoimun, supresi imun

Gangguan pada kelenjar getah beniing

Limfadenopati Adenopati hilus tidak ditemukan Menyerang satu/seluruh kelenjar limfe perifer

Efusi pleura sering ditemukan

Limfoma non-Hodgkin

Splenomegali

Gejala-gejala sistemik dan infeksi Demam Menyerang lambung dan usus halus yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala tukak lambung

Nyeri akut

Dx 1

Dx 2

Anoreksi a dan Nausea

Penurunan berat badan

Dx 3

Defekasi yang tidak teratur

Dx 4

Keterangan: Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe Dx 2: resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh Dx 3: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menelan atau mencerna makanan Dx 4: inkontinensia defekasi berhubungan dengan abnormalitas tekanan abdomen tinggi dan tekanan usus tinggi.

C. Etiologi Para pakar cenderung berpendapat bahwa terjadinya LNH disebabkan oleh pengaruh rangsangan imunologis persisten yang menimbulkan proliferasi jaringan limfoid tidak terkendali. Diduga ada hubungan dengan virus Epstein Barr LNH, kemungkinan ada kaitannya dengan faktor keturunan karena ditemukan fakta bila salah satu anggota keluarga menderita LNH maka resiko anggota keluarga lainnya terjangkit tumor ini lebih besar dibanding dengan orang lain yang tidak termasuk keluarga itu. (Muttaqin, 2011) Etiologi pada penyakit Limfoma non-Hodgkin adalah sebagai berikut. 1. Abnormalitas sitogeneik , seperti translokasi kromosom 2. Infeksi virus, yang menyebabkan antara lain adalah: o Virus Epstein-barr yang berhubungan dengan limfoma burkitt (sebuah penyakit yang ditemukan di Afrika). o Infeksi HTLV-1 ( human T lymphotropic virus tipe 1 )

D. Manifestasi Klinis Keterlibatan intraabdominal 1. Kemungkinan gejala yang menyerupai appendicitis (nyeri, nyeri tekan di kuadran kanan bawah) 2. Intususepsi 3. Massa ovarium, pelvis, retroperitoneal 4. Asites 5. Muntah 6. Diare 7. Penurunan berat badan
5

Keterlibatan mediastinum 1. 2. 3. 4. 5. 6. Efusi plura Kompresi trakea Sindrom vena kava superior Batuk, mengi, dipsnea, gawat pernafasan Edema ekstremitas atas Perubahan status mental

Keterlibatan primer nasal, paranasal, oral dan faringeal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kongesti nasal Rinorea Epistaksis Sakit kepala Proptosis Iritabilitas Penurunan berat badan(Betz &Sowden, 2009)

E. Pemeriksaan penunjang

Tabel 1.1 Tes Diagnostik dan Intrepretasi pada Klien dengan LNH Jenis Pemeriksaan Hitung darah lengkap : Sel darah putih Variasi normal, menurun atau meningkat secara nyata Diferensial sel darah putih Neutofilia, monnosit, basofilia, dan eosinofilia mungkin ditemukan. Limfofenia sebagai gejala lanjut. Interpretasi Hasil

Sel darah merah dan Hb/Ht

Menurun

Eritrosit Morfologi sel darah merah Normositik, hipokromik ringan sampai sedang

Kerapuhan eritrosit osmotik

Meningkat Meningkat selama tahap aktif (inflamasi, malignasi).

Laju endap darah (LED)

Trombosit

Menurun (sumsum tulang digantikan oleh limfoma atau hipersplenisme).

Test Coomb

Reaksi positif (anemia hemolitik), reaksi negatif pada tahap lanjut.

Alkalin fosfatase Kalsium serum BUN Globulin

Mungkin meningkat bila tulang terkena Meningkat pada eksaserbasi Mungkin meningkat bila ginjal terlibat Hipogamammaglobulinemia umum dapat terjadi pada penyakit lanjut

Foto toraks, vertebrata, ekstremitas proksimal, serta nyeri tekan pada area pelvis. Ct scan dada, abdominal, tulang

Dilakukan untuk area yang terkena dan membantu penetapan stadium penyakit. Dilakukan bila terjadi adenopati hilus dan memastikan keterlibatan nodus limfe mediatinum, abdominal, dan keterlibatan tulang.

USG abdominal

Mengevaluasi luasnya keterlibatan nodus limfe retroferitoneal

Biopsi sumsum tulang

Menentetukan keterlibatan sumsum tulang, invasi sumsum tulang terlihat tahap luas.

Biopsi nodus limfe

Memastikan klasifikasi diagnosis limfoma.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Pengumpulan Data 1.Identitas Nama, umur, jenis kelamin, agama , suku dan kebangsaan, pendidikan,
pekerjaan, alamat, nomor register, tanggal Masuk Rumah Sakit , diagnosa

medis. 2. Keluhan Utama Pada umumnya pasien mengeluh adanya benjolan pada kelenjar limfe dan nyeri telan. 3. Riwayat penyakit sekarang Pada umumnya pasien dengan limfoma didapat keluhan benjolan terasa nyeri bila ditelan kadang-kadang disertai dengan kesulitan bernafas, gangguan penelanan, berkeringat di malam hari. Pasien biasanya mengalami demam dan disertai dengan penurunan BB. 4. Riwayat penyakit terdahulu Pada Limfoma biasanya diperoleh riwayat penyakit seperti pembesaran pada area leher , ketiak dan lain-lain. 5. Riwayat kesehatan keluarga Melihat apakah terdapat riwayat pada keluarga dengan penyekit vaskuler, penyakit metabolik atau penyakit lain yang pernah diderita oleh keluarga pasien. 6. Activity Daily Living (ADL) 1. Aktivitas dan Istirahat Gejala : o o o Kelelahan, kelemahan, dan malaise umum Kehilangan produktivitas dan penurunan toleransi aktivitas Kebutuhan tidur dan istirahat lebih banyak

Tanda : o Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban, dan tandatanda lain yang menunjukkan kelelahan

2. Nyeri dan kenyamanan Gejala : o Nyeri tekan pada nodus yang terkena, misalnya : pada sekitar mediastinum, nyeri dada, nyeri punggung (kompresi vertebral), nyeri tulang (keterlibatan tulang limfomatus) Tanda : o Menangis, merintih kesakitan

3. Eliminasi Gejala : o Perubahan karakteristik urine dan/ atau feses o Riwayat obstruksi usus, sindrom malabsorpsi (infiltrasi kelenjar limfe retroperitoneal) Tanda : o Nyeri tekan kuadran kanan atas, hepatomegali o Nyeri tekan kuadran kiri atas, splenomegali o Penurunan keluaran urine, warna lebih gelap/pekat, anuria (obstruksi uretral, gagal ginjal) o Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi spinal cord pada gejala lanjut)

4. Makanan dan Cairan Gejala : o Anoreksia


9

o o

Disfagia (tekanan pada esophagus) Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan >10% dalam 6 bulan tanpa upaya diet pembatasan.

Tanda : o Pembengkakan pada wajah, leher, rahang, (kompresi vena cava superior) o Edema ekstremitas bawah, asites (kompresi vena cava inferior oleh pembesaran kelenjar limfe intraabdominal). 5. Keamanan Gejala : o Riwayat infeksi (sering terjadi) karena abnormalitas sistem imun seperti infeksi herpes sitemik, TB, toksoplamosis, atau infeksi bacterial. o Riwayat ulkus/perforasi/pendarahan gaster. o Demam Pel Ebstein (peningkatan suhu malam hari sampai beberapa minggu), diikuti demam menetap dan keringat malam tanpa menggigil. o Integritas kulit : kemerahan, pruritus umum, dan vitiligo (hipopigmentasi) Tanda : o Demam suhu tubuh >38C) menetap dengan etiologi yang tidak dapat dijelaskan, tanpa gejala infeksi. o Kelenjar limfe asimetris, tidak ada nyeri, membengkak/membesar terutama kelenjar limfe servikal (kiri>kanan), nodus aksila, dan mediastinum. o Pembesaran tonsil. o Pruritus umum. o Sebagian area kehilangan melanin (vitiligo).

10

B. Diagnosa Keperawatan Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe Dx 2: resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh Dx 3: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan Dx 4: inkontinensia defekasi berhubungan dengan abnormalitas tekanan abdomen tinggi dan tekanan usus tinggi.

C. Intervensi 1. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan menunjukkan tingkatan nyeri berkurang, dibuktikan dengan idikator berikut ini: Perubahan dalam kecepatan pernapasan, denyut jantung, atau tekanan darah Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Menggunakan tindakan nonanalgesik secara tepat. Intervensi prioritas NIC Pemberian analgesik: penggunaan agens-agens farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri Penatalaksanaan nyeri: meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Aktivitas keperawatan Pengkajian Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian Minta pasien untuk menilai nyeri / ketidaknyamanan pada skala 0 sampai 10 (0=tidak ada nyeri/ketidaknyamanan, 10 = nyeri yang sangat) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang konsisten dengan usia dan tingkat perkembangan.
11

mengurangi

nyeri dengan analgesik

dan

Pendidikan untuk pasien/keluarga Penatalaksanaan nyeri (NIC): Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, seberapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum menjadi berat Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, kompres hangat/dingin dan masase) sebelum, setelah dan jika

memungkinkan, selama aktivitas yang menyaitkan, sebelum nyeri terjadi atau meningkta, dan selama penggunaan tindakan pengurangan nyeri yang lain. Aktivitas kolaboratif Penatalaksanaan nyeri (NIC) Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan ssaat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa lalu. Aktivitas yang lain Penatalaksanaan nyeri (NIC) Libatkan pasien dalam modalitas pengurangan nyeri, jika mungkin. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respons pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya: suhu ruangan, cahaya dan kegaduhan)

2. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh Tujuan (NOC) : Setelah dilakukan tindakan keperawatan defisit volume cairan akan dicegah, dibuktikan dengan keseimbangan cairan, hidrasi yang adekuat.

Intervensi prioritas NIC: Pengelolaan cairan: peningkatan keseimbangan cairan dan pencegahan komplikasi akibat dari kadar cairan yyang tidak normal atau diluar harapan Pemantauan cairan: pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan
12

Aktivitas keperawatan : Pengkajian : Pantau jumlah dan frekuensi kehilangan cairan Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap bertambah buruknya dehidrasi (misalnya: obat-obatan, demam, stres dan program pengobatan) Kaji adanya vertigo atau hipotensi postural Kaji orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu Pengelolaan cairan (NIC) : Pantau status hidrasi (misalnya, kelembaban membran mukosa, keadekuatan nadi, dan tekanan darah ortostatik) Pendidikan untuk pasien/keluarga Anjurkan pasien untuk menginformasikan perawat bila haus

Aktivitas kolaboratif Berikan terapi IV, sesuai dengan anjuran

Aktivitas lain Tingkatkan asupan oral (misalnya berikan cairan oral yang disukai pasien, letakkan pada tempat yyang mudah dijangkau, berikan sedotan, dan berikan air segar), sesuai dengan keinginan. Berikan cairan, sesuai dengan kebutuhan.

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menelan atau mencerna makanan (anoreksia, nausea) Tujuan / Kriteria evaluasi (NOC): Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan, dan zat gizi, ditandai dengan indikator berikut: Pasien akan : Toleransi terhadap diet yang dianjurkan (4) Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal (4) Melaporkan keadekuatan tingkat energi (4)

Intervensi prioritas NIC


13

Pengelolaan nutrisi: bantuan atau pemberian asupan diet makanan dan cairan yang seimbang.

Aktivitas keperawatan Pengkajian Kaji dan dokumentasikan derajat kesulitan mengunyah/menelan Identifikasi faktor pencetus mual Identifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap hilangnya nafsu makan pasien Pendidikan untuk pasien / keluarga Instruksikan pasien agar menarik napas dalam, perlahan, dan menelan secara sadar untuk mengurangi mual ataupun muntah Aktivitas kolaboratif Berikan obat antiemetik dan analgesik sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang dianjurkan Konsultasikan pada ahli gizi untuk menentukan asupan kalori harian yang dibutuhkan Laporkan kepada dokter jika pasien menolak makan Bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, dan pasien untuk merencanakan tujuan asupan dan berat badan. Aktivitas lain Ciptakan hubungan saling percaya dan mendukung dengan pasien Yakinkan pasien dan berikan lingkungan yang tenang selama makan Diskusikan keuntungan dari perilaku makan yang sehat dan konsekuensi dari ketidakpatuhan Berikan umpan balik positif pada pasen yang menunjukkan peningkatan nafsu makan Tawarkan kudapan (misalnya, minuman dan buah-buahan segar/juice buah-buahan), bila memungkinkan. Berikan makanan bergizi, tinggi kalori dan bervariasi yang dapat dipilih

4. Inkontinensia defekasi

berhubungan dengan abnormalitas tekanan abdomen

tinggi dan tekanan usus tinggi.

14

Tujuan / kriteria evaluasi (NOC): Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan menampilkan kontinensia usus dengan indikator: Mempertahankan kendali terhadap keluarnya feses (4) Secara progresif mengurangi episode inkontinensia (4)

Intervensi prioritas NIC: Perawatan inkontinensia alvi : meningkatkan kontinensia usus pada anak

Aktivitas keperawatan Pengkajian Catat frekuensi episode inkontinensia Kaji gejala enkopresis Kaji riwayat latihan eliminasi anak, termasuk durasi enkopresis dan usaha pengobatan. Perawatan inkontinensia alvi (NIC) : Tentukan penyebab fisik atau psikologis inkontinensia alvi Pantau kebutuhan diet dan cairan Pantau keadekuatan pengeluaran feses Tentukan tujuan dari program pengelolaan defekasi dengan pasien/keluarga Pendidikan untuk pasien atau keluarga Ajarkan pasien/keluarga tentang fisiologi dari defekasi normal Perawatan inkontinensia alvi (NIC) : Ajarkan pasien/keluarga untuk mencatat pengeluaran feses, sesuai dengan kebutuhan. Diskusikan prosedur dan hasil yang diharapkan pasien. Jelaskan penyebab masalah dan alasan tindakan. Aktivitas kolaboratif Lakukan anjuran dari dokter untuk menjalankan program latihan defekasi

Aktivitas lain Berikan perawatan dengan cara yang dapat diterima, tidak menghakimi Berikan privasi untuk defekasi Tentukan waktu yang teratur untuk defekasi Berikan banyak makanan berserat dan cukup cairan
15

D. Evaluasi o Pasien menunjukkan tingkatan nyeri yang berkurang o Pasien menunjukkan defisit volume cairan yang dapat dicegah dibuktikan dengan keseimbangan cairan dan hidrasi yang adekuat o Pasien menunjukkan status gizi yang adekuat o Pasien menunjukkan kontinensia usus dengan secara progresif mengurangi episode inkontinensia.

16

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Limfoma adalah neoplasma ganas yang berasal dari sel asli jaringan limfoid (yaitu, limfosit dan prekursor serta turunannya, dan yang jarang adalah histiosit). Limfoma non-Hodgkin (LNH) adalah suatu kelompok penyakit heterogen yang diddefinisikan sebagai keganasan jaringan limfoid selain penyakit Hodgkin. Pada LNH timbul gejala-gejala konstitisoinal (demam, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari), namun insidennya lebih rendah daripada penyakit Hodgkin. Ditemukan adanya limfadenopati difus tanpa rasa nyeri, dapat menyerang satu atau seluruh kelenjar limfe perifer. Etiologi pada penyakit Limfoma non-Hodgkin disebabkan oleh pengaruh rangsangan imunologis persisten yang menimbulkan proliferasi jaringan limfoid tidak terkendali. Diduga ada hubungan dengan virus Epstein Barr LNH, kemungkinan ada kaitannya dengan faktor keturunan karena ditemukan fakta bila salah satu anggota keluarga menderita LNH maka resiko anggota keluarga lainnya terjangkit tumor ini lebih besar dibanding dengan orang lain yang tidak termasuk keluarga itu. Pada anak, terdapat empat diagnosa keperawatan yaitu, Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menelan atau mencerna makanan. Inkontinensia defekasi berhubungan dengan abnormalitas tekanan abdomen tinggi dan tekanan usus tinggi.

B. Saran

Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan bahan belajar mahasiswa, terutama mahasiswa ilmu keperawatan dalam mempelajari limfoma non-hodgkin.

17