Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

EPIDURAL HEMORAGE

I. IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Sdr. Roso
Umur : 18 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Babadan II, Rt 002/007, Paten, Dukun, Magelang
Status perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 07 Agustus 2014
Tanggal pemeriksaan : 09 Agustus 2014
Bangsal : ICU

II. ANAMNESIS
Anamnesis didapatkan secara alloanamnesis pada tanggal 02 Agustus 2014,
pukul 06.45 WIB di bangsal Seruni

A. Keluhan utama
Pasien post KLL, tidak sadar
B. Riwayat penyakit sekarang
Kronologis :
5 hari SMRS, pasien kecelakaan sepeda motor tunggal, dibawa ke RS.
Muntilan, dan saat ini pasien merupakan rujukan dari RS. Muntilan dengan
diagnose CKS, keluhaan saat tiba : kejang-kejang kurang lebih selama 2 menit,
dan sebelumnya muntah kurang lebih 3x, pada saat dibawa pasien dalam keadaan
tidak sadar

C. RiwayatPenyakitDahulu
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat operasi : disangkal
Riwayat trauma : disangkal

D. Riwayat Keluarga
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayatasma : disangkal


III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
1. Keadaan umum : tampak sakit sedang
2. Kesadaran : koma GCS : E
1
M
3
V
1

3. Vital sign
Tekanandarah :120/90 mmHg
Nadi : 64x/menit, isi cukup, reguler
Respirasi : 28 x/menit
Suhu : 37,7
o
C
4. Pemeriksaan Fisik
Kepala : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
Isokor 1mm/1mm
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi trakea (-)
Thoraks :jejas (-)
Paru
Inspeksi : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi dada (-/-)
Palpasi : pengembangan paru yang tertinggal (-), fremitus
raba (normal/normal)
Perkusi : sonor
Auskultasi : SDV (+/+), ronkhi (+/-+), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi : iktus cordis tampak
Palpasi : iktus cordis kuat angkat
Perkusi :tidak ada pelebaran batas jantung
Auskultasi :bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : jejas (-), simetris,massa (-), sikatrik (-)
Auskultasi : peristaltik (normal)
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar, lien, dan ginjal tidak
teraba
Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin (-/-) (-/-)
Akral sianosis (-/-) (-/-)
Oedem (-/-) (-/-)
Capillary Refill < 2 < 2


IV. Assesment
CKR








V. Planning Diagnosis
Laboratoriom Darah Lengkap,CT/BT
CT Scan

Hasil laboratorium darah (9 Maret 2014)
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
WBC 14,7 /mm
3
(H) 3,5-10
RBC 5,47 10
3
/mm
3
3,80-5,80
HGB 14,3 g/dl 11.0-16.5
HCT 42,2 % 35,0-50,0
PLT 311 10
3
/mm
3
150-390
PCT 245 % 100-500
MCV 77 um
3
(L) 80-97
MCH 26,2 pg (L) 26,5-33,5
MCHC 34,0 g/dl 31,5-35,0
RDW 14,9 % 10,0-15,0
MPV 7,9 um
3
6,5-11,0
PDW 13,7 % 10,0-18,0
% LYM 11,8 % (L) 17,0-48,0
%MON 2,7% (L) 4,0-10,0
%GRA 85,5 % (H) 43,0-76,0
# LYM 2,0 10
3
/mm
3
1,2-3,2
#MON 0,4 10
3
/mm
3
0,3-0,8
#GRA 15,3 10
3
/mm
3
(H) 1,2-6,8








Ct scan

Kesan :
- EDH di region temporoparietalis dextra yang
menyempitkan ventrikel lateralis dextra ( voulume
LK 64cc)
- Struktur mediana relative di tengah tak tampak jelas
garis fraktur
- Cairan minimal di sinus sphenoidalis

VI. Diagnosis Klinis
Epidural Hemorhage

VII. Planning Terapi
InfusRL 20 tpm
Manitol 125cc
Inj.Ceftriaxone 1 gr 2x1
Inj Ketorolac 3x1 amp
Inj. Fenitoin 3x1 amp
Balance cairan seimbang
RIWAYAT RAWAT INAP
Follow up pre-operatif (11 Agustus 2014)
Subjektif : Nyeri kepala (+) kelemahan ekstremitas kiri (+)
Objektif
Vital sign:
Tekanandarah : 118/73 mmHg
Nadi : 64 x/menit reguler
Suhu : 36,5
o
C
Respirasi : 20 x/menit
Status General
Keadaanumum: baik, GCS: E4V4M5
Kepala/Leher : pupil isokor, 3-3 mm
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Kekuatan motorik reflex patologis



Assessment
EDH
Planning
InfusRL 20 tpm
Manitol 4x125cc
Inj.Ceftriaxone 1 gr 2x1
Inj Ketorolac 3x1 amp
Inj. Fenitoin 3x1 amp
Balance cairan seimbang
Rencana op

Laporan Operasi (10 Maret 2014)
Pasien terlentang di meja oprasi dalam anestesi umum, kepala
menghadap ke kiri, a dan antisepsi di daerah oprasi dan sekitarnya, insisi
kulit bentuk tapal kuda diatas telinga kanan dari otot dan fasa medial dari
inti bulat,tampak fraktur lilin di parietal lalu dilakukan kraniotomi
tampak EDH meluas kea rah cranial. Dilakukan kraniotomi kurang lebih
5cm ditemukan darah hematoma. Dilakukan suction, tulang
dikembalikan, luka dijahit kembali.




5 3
5 3
- -
+ -
.
Dokumentasi Saat Operasi (10 Maret 2014)




Monitoring dan Evaluasi
Monitoring
Keadaan umum, tanda vital, dan kesadaran
Puasa sampai bising usus normal
Inful Nacl : RL 2:2 24 jam
Manitol 4x125cc, ceftriaxon 2x1, ketolorac 3x1,
fenitoin 3x1 amp
Cek DL post Op, transfusi bila HB <10



VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Follow up post-operatif hari ke 1 (12 agustus 2014)
Subjektif : gelisah
Objektif
Vital sign:
Tekanandarah : 130/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit reguler
Suhu : 36,5
o
C
Respirasi : 20 x/menit
Status General
Keadaanumum: baik, GCS: E4V4M5
Kepala/Leher : pupil isokor 3-3 mm
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Status neurologi : parese sinistra membaik
Assessment
Post Op Craniotomi H+1 e.c. SDH Kronik
Terapi
- Pindah ruangan
- Aff infuse
- Boleh duduk
Obat :
- Manitol 3x125 cc
- Inj. Ketorolac 3x30 mg
- Ceftriaxone 2x1 g
- Inj. Fenitoin 3x1 amp


Follow up post-operatif hari ke 2 (13 Agustus 2014)
Subjektif : Gelisah, bicara meracau
Objektif
Vital sign:
Tekanandarah : 100/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit reguler
Suhu : 36,2
o
C
Respirasi : 20 x/menit
Status General
Keadaanumum: baik, GCS: E4V4M6
Kepala/Leher : pupil isokor 3-3 mm
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Status Neurologi
Tangan Kaki
Kekuatan Motorik 5555/4444 5555/4444
Tonus Dbn dbn
Klonus - -
R. fisiologi +/+ +/+
R. patologis -/- -/-

Assessment
Post OP Craniotomi e.c EDH
Terapi
- RL 20 tpm
- Inj. Manitol 1x125 cc
- Inj. Ketorolac 3x30 mg
- Ceftriaxone 2x1 g
- Fenitoin 3x1 caps
- Haloperidol 3x1/2 tab
- Aff DC
- Diet bebas
- Boleh duduk

Follow up post-operatif hari ke 3 (14 Agustus 2014)
Subjektif : Gelisah, bicara meracau
Objektif
Vital sign:
Tekanandarah : 100/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit reguler
Suhu : 36,2
o
C
Respirasi : 20 x/menit
Status General
Keadaanumum: baik, GCS: E4V4M6
Kepala/Leher : pupil isokor 3-3 mm
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Status Neurologi
Tangan Kaki
Kekuatan Motorik 5555/4444 5555/4444
Tonus Dbn dbn
Klonus - -
R. fisiologi +/+ +/+
R. patologis -/- -/-

Assessment
Post OP Craniotomi e.c EDH H+3
Terapi
- RL 20 tpm
- Inj. Manitol stop
- Cefadroxil 3x1 tab
- Haloperidol 3x1/2 tab
- Tramat 3x1 tab
- Aff infuse


Follow up post-operatif hari ke 4 (15 Agustus 2014)
Subjektif : semalam gelisah, teriak-teriak, bicara meracau sendirian, diajak
bicara tidak nyambung
Objektif
Vital sign:
Tekanandarah : 100/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit reguler
Suhu : 36,6
o
C
Respirasi : 20 x/menit
Status General
Keadaanumum: baik, GCS: E4V4M6
Kepala/Leher : pupil isokor 3-3 mm
Thorax : dbn
Abdomen : dbn
Status Neurologi
Tangan Kaki
Kekuatan Motorik 5555/5555 5555/5555
Tonus Dbn Dbn
Klonus - -
R. fisiologi +/+ +/+
R. patologis -/- -/-

Assessment
Post OP Craniotomi e.c EDH H+4
Terapi
- RL 20 tpm
- Meiact 2x1
- Haloperidol 3x1


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
A. Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit,
connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea
aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan
pericranium.



B. Tulang Tengkorak
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang
tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan
oksipital. Kalvaria khususnya di regio temporal adalah tipis, namun di sini dilapisi
oleh otot temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapatmelukai
bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga
tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior tempat lobusfrontalis, fosa
media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak
dan serebelum.
C. Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3
lapisan yaitu :
1. Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan
endosteal dan lapisan meningeal.4 Duramater merupakan selaput yang keras,
terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari
kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka
terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara duramater dan
arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak,
pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus
sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami
robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior
mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari
sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Arteri meningea terletak
antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya
fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan
menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah
arteri meningea media yang terletak pada fosatemporalis (fosa media).
2. Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang.
Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah
luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang
potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid
yang terisi oleh liquor serebrospinalis.4 Perdarahan sub arakhnoid umumnya
disebabkan akibat cedera kepala.
3. Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri.3. Pia mater adarah
membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk
kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan
menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak
juga diliputi oleh pia mater.

D. Otak
Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat padaorangdewasa
sekitar 14 kg.7 Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; proensefalon (otak depan)
terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan
rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula oblongata dan
serebellum

retikular yang berfungsi
dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada medula oblongata terdapat pusat
kardiorespiratorik. Serebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan
keseimbangan.
E. Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan
kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral
melalui foramen monro menuju ventrikel III, dari akuaduktus sylvius menuju
ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio
arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS
dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS
dan menyebabkan kenaikan takanan intracranial.3 Angka rata-rata pada kelompok
populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS
per hari.
F. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang
supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang
infratentorial (berisi fosa kranii posterior).
G. Perdarahan Otak
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.
Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk
sirkulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam
dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Vena tersebut keluar
dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis

2.2 ASPEK FISIOLOGIS CEDERA KEPALA
a. Hukum Monroe-Kellie
Volume intrakranial adalah tetap karena sifat dasar dari tulang tengkorang yang
tidak elastik. Volume intrakranial (Vic) adalah sama dengan jumlah total volume
komponen-komponennya yaitu volume jaringan otak (V br), volume cairan
serebrospinal (V csf) dan volume darah (Vbl).
Vic = V br+ V csf + V bl

b. Tekanan Perfusi Serebral
Adalah selisih antara mean arterial pressure (MAP) dan tekanan intarkranial
(ICP). Pada seseorang yang dalam kondisi normal, aliran darah otak akan bersifat
konstan selama MAP berkisar 50-150mmhg. Hal ini dapat terjadi akibat adannya
autoregulasi dari arteriol yang akan mengalami vasokonstriksi atau vasodilatasi
dalam upaya menjaga agar aliran darah ke otak berlangsung konstan.
PATOFISIOLOGI
Pada cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu
cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera pada kepala
sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa, dapat disebabkan benturan
langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses
akselarasideselarasi gerakan kepala.Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi
peristiwa coup dan contrecoup. Cedera primer yang diakibatkan oleh adanya
benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup. Pada
daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut
contrecoup. Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti
secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang
tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan
tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya isi
dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada
tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup).

Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses
patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer, berupa
perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia, peningkatan
tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.
Fraktur tengkorak
Fraktur tengkorak dapat terjadi pada kalvaria atau basis. Pada fraktur
kalvaria ditentukan apakah terbuka atau tertutup, linear atau stelata, depressed
atau non depressed. Fraktur tengkorak basal sulit tampak pada foto sinar-x polos
dan biasanya perlu CT scan dengan setelan jendela-tulang untuk
memperlihatkanlokasinya. Sebagai pegangan umum, depressed fragmen lebih dari
ketebalan tengkorak (> 1 tabula) memerlukan operasi elevasi. Fraktura tengkorak
terbuka atau compound berakibat hubungan langsung antara laserasi scalp dan
permukaan serebral karena duranya robek, dan fraktura ini memerlukan operasi
perbaikan segera.
Frekuensi fraktura tengkorak bervariasi, lebih banyak fraktura ditemukan
bila penelitian dilakukan pada populasi yang lebih banyak mempunyai cedera
berat. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar
400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar.
Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400
kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. Untuk
alasan ini, adanya fraktura tengkorak mengharuskan pasien untuk dirawat dirumah
sakit untuk pengamatan, tidak peduli bagaimana baiknya tampak pasien
tersebut.15
Lesi Intrakranial
Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa, walau
kedua bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. Lesi fokal termasuk hematoma
epidural, hematoma subdural, dan kontusi (atau hematoma intraserebral). Pasien
pada kelompok cedera otak difusa, secara umum, menunjukkan CT scan normal
namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma dalam. Basis selular
cedera otak difusa menjadi lebih jelas pada tahun-tahun terakhir ini.
Hematoma Epidural
Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang
potensial antara tabula interna dan duramater. Paling sering terletak diregio
temporal atau temporalparietal dan sering akibat robeknya pembuluh meningeal
media. Perdarahan biasanya dianggap berasal arterial, namun mungkin sekunder
dari perdarahan vena pada sepertiga kasus. Kadang-kadang, hematoma epidural
mungkin akibat robeknya sinus vena, terutama diregio parietal-oksipital atau fossa
posterior. Walau hematoma epidural relatif tidak terlalu sering (0.5% dari
keseluruhan atau 9% dari pasien koma cedera kepala), harus selalu diingat saat
menegakkan diagnosis dan ditindak segera. Bila ditindak segera, prognosis
biasanya baik karena cedera otak disekitarnya biasanya masih terbatas. Outcome
langsung bergantung pada status pasien sebelum operasi. Mortalitas dari
hematoma epidural sekitar 0% pada pasien tidak koma, 9% pada pasien obtundan,
dan 20% pada pasien koma dalam.12,14
Hematoma Subdural
Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara
duramater dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH, ditemukan
sekitar 30% penderita dengan cedera kepala berat. Terjadi paling sering akibat
robeknya vena bridging antara korteks serebral dan sinus draining. Namun ia juga
dapat berkaitan dengan laserasi permukaan atau substansi otak. Fraktura
tengkorak mungkin ada atau tidak. Selain itu, kerusakan otak yang mendasari
hematoma subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih
buruk dari hematoma epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun mungkin
diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis
agresif.

Kontusi dan hematoma intraserebral.
Kontusi serebral sejati terjadi cukup sering. Selanjutnya, kontusi otak
hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural. Majoritas terbesar kontusi
terjadi dilobus frontal dan temporal, walau dapat terjadi pada setiap tempat
termasuk serebelum dan batang otak. Perbedaan antara kontusi dan hematoma
intraserebral traumatika tidak jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona
peralihan, dan kontusi dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral
dalam beberapa hari.
Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan
(parenkim) otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan
otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam
jaringan otak tersebut. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan
temporalis. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi
lainnya (countrecoup). Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan
tergantung pada lokasi dan luas perdarahan.

KLASIFIKASI
Cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale
adalah sebagai berikut :
1. Nilai GCS sama atau kurang dari 8 didefenisikan sebagai cedera kepala berat.
2. Cedera kepala sedang memiliki nilai GCS 9-13 dan,
3. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14-15.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal penderita cedara kepala pada dasarnya memikili
tujuan untuk memantau sedini mungkin dan mencegah cedera kepala sekunder
serta memperbaiki keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat membantu
penyembuhan sel-sel otak yang sakit.16 Penatalaksanaan cedera kepala tergantung
pada tingkat keparahannya, berupa cedera kepala ringan, sedang, atau berat.
Prinsip penanganan awal meliputi survei primer dan survei sekunder. Dalam
penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan antara lain airway,
breathing, circulation, disability, dan exposure, yang kemudian dilanjutkan
dengan resusitasi. Pada penderita cedera kepala khususnya dengan cedera kepala
berat survei primer sangatlah penting untuk mencegah cedera otak sekunder dan
mencegah homeostasis otak. Tidak semua pasien cedera kepala perlu di rawat
inap di rumah sakit.
Indikasi rawat antara lain:
1. Amnesia posttraumatika jelas (lebih dari 1 jam)
2. Riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit)
3. Penurunan tingkat kesadaran
4. Nyeri kepala sedang hingga berat
5. Intoksikasi alkohol atau obat
6. Fraktura tengkorak
7. Kebocoran CSS, otorrhea atau rhinorrhea
8. Cedera penyerta yang jelas
9. Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggungjawabkan
10. CT scan abnormal


Terapi medikamentosa pada penderita cedera kepala dilakukan untuk
memberikan suasana yang optimal untuk kesembuhan. Hal-hal yang dilakukan
dalam terapi ini dapat berupa pemberian cairan intravena, hiperventilasi,
pemberian manitol, steroid, furosemid, barbitirat dan antikonvulsan. Pada
penanganan beberapa kasus cedera kepala memerlukan tindakan operatif. Indikasi
untuk tindakan operatif ditentukan oleh kondisi klinis pasien, temuan
neuroradiologi dan patofisiologi dari lesi. Secara umum digunakan panduan
sebagai berikut:
1. volume masa hematom mencapai lebih dari 40 ml di daerah supratentorial atau
lebih
2. dari 20 cc di daerah infratentorial
3. kondisi pasien yang semula sadar semakin memburuk secara klinis, serta gejala
dan
4. tanda fokal neurologis semakin berat
5. terjadi gejala sakit kepala, mual, dan muntah yang semakin hebat
6. pendorongan garis tengah sampai lebih dari 3 mm
7. terjadi kenaikan tekanan intrakranial lebih dari 25 mmHg.
8. terjadi penambahan ukuran hematom pada pemeriksaan ulang CT scan
9. terjadi gejala akan terjadi herniasi otak
10. terjadi kompresi / obliterasi sisterna basalis





BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar, edisi IV, cetakan kelima.
Jakarta : PT Dian Rakyat. 87-95. 1999
2. Sidharta, Priguna. Sakit Neuromuskuloskeletal Dalam Praktek Umum.
Jakarta : PT Dian Rakyat. 182-212.
3. Purwanto ET. Hernia Nukleus Pulposus. Jakarta: Perdossi
4. Nuarta, Bagus. Ilmu Penyakit Saraf. In: Kapita Selekta Kedokteran,
edisi III, jilid kedua, cetakan keenam. Jakarta : Media Aesculapius. 54-59.
2004