Anda di halaman 1dari 12

TUGAS SAINTIFIKASI JAMU

Peran Apoteker dalam Saintifikasi Jamu dan Quality


Assurance

Disusun oleh : Kelompok V

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Khrisna Agung C.
Annisa Rahmawati
Indri Dyah K.
Egi Garcinia Z.
Hendra Widya P.
Jessica Dwi P.
Harkina Dian R.
Rini Oktaviana

(142211101033)
(142211101034)
(142211101035)
(142211101036)
(142211101037)
(142211101038)
(142211101039)
(142211101040)

PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat merupakan komponen pendukung utama dalam pelayanan kesehatan,
sehingga upaya pembangunan kesehatan senantiasa memperhatikan pembangunan di
bidang kefarmasian. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk menjamin
ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat essential melalui
Kebijakan Obat Nasional. Demi menunjang ketersediaan dan pemerataan bahan baku
obat maka pengembangan obat tradisional menjadi alternatif karena bahan baku obat itu
sendiri berada di sekitar kita. Pemerintah pun dalam salah satu subsistem SKN disebutkan
bahwa pengembangan dan peningkatan obat tradisional ditujukan agar diperoleh obat
tradisional yang bermutu tinggi, aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah,
dan dimanfaatkan secara luas, baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun
dalam pelayanan kesehatan formal (Kepmenkes 381 Tentang Kebijakan Obat Tradisional,
2007).
Pada tahun 2007, total nilai impor bahan farmasi penting mencapai USD 211,7 juta,
59% diantaranya adalah bahan baku antibiotika. Dan Indonesia tercatat mengimpor bahan
farmasi dari RRC sebesar USD 76,5 juta, dan dari India sebesar USD 25 juta. Kondisi ini
senantiasa mendorong pemerintah untuk berusaha menggapai kemandirian di bidang
industri kefarmasian nasional. Indonesia termasuk mega-centre keaneka-ragaman hayati,
namun belum banyak dimanfaatkan dan ekspor masih banyak dalam bentuk raw material
(bahan mentah dan simplisia kering) yang memiliki nilai ekonomi rendah jika dibanding
dengan ekstrak ataupun produk siap pakai (herbal terstandar, fitofarmaka ataupun sediaan
kosmetik). Diperkirakan 40.000 spesies tumbuhan hidup di muka bumi ini, 30.000 di
antaranya tumbuh di Indonesia. Dari jumlah itu, baru sekitar 180 spesies yang
dimanfaatkan sebagai bahan oleh industri obat tradisional dan industri kosmetika.
Industri jamu pada saat ini berkembang cukup pesat. Peningkatan produksi jamu
olahan antara lain disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan jumlah industrinya.
Diperkirakan investasi di bidang industri obat tradisional sangat menjanjikan keuntungan
dan masih untuk dikembangkan mengingat potensinya sebagai salah satu unsur pelayanan
kesehatan masyarakat. Perkembangan ini didukung oleh semakin tingginya minat

masyarakat terhadap jamu tradisional, karena harganya lebih murah dan dipandang lebih
aman.
Berdasarkan permenkes nomor 03 tahun 2010 tentang saintifikasi jamu antara lain
menjelaskan tentang tujuan pengaturan ketenagaan serta pencatatan tentang saintifikasi
jamu, namun dalam Permenkes tersebut belum dikaji tentang peran dari apoteker. Di sisi
lain, menurut Undang undang No. 36 tahun 2009 pasal 108 serta Peraturan Pemerintah No.
51 tahun 2009 tentang Praktik kefarmasian menyatakan bahwa praktik kefarmasian
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
peraturan undang-undang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Obat Tradisional
Menurut Permenkes No 246/Menkes/Per/V/1990 yang dimaksud dengan obat
tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara
traditional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Sedangkan yang dimakasud dengan Obat Bahan Alam adalah semua jenis sediaan
bahan alam yang belum sampai pada isolat murni. Menurut Keputusan Badan POM Nomor
: HK.00.05.4.2411 tahun 2006, yang termasuk ke dalam obat bahan alam Indonesia ada 3
kategori yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Penggolangan ini dapat
dilihat pada gambar 2.1.

Sediaan Berupa Simplisia


dengan Bukti Empiris

Jamu

Sediaan Berupa Ekstrak


dengan Bukti Ilmiah
secara Pra Klinis

Obat Herbal
Terstandar
(OHT)

Sediaan Berupa Ekstrak


dengan Bukti Ilmiah
secara Klinis

Fitofarmaka

Gambar 2.1. Kategori Obat Bahan Alam Indonesia (BPOM, 2006)


2.2 Jamu, Obat Herbal Tersdandar dan Fitofarmaka
Obat Herbal Terstandar adalah obat bahan alam yang bentuk sediaannya sudah
dalam bentuk ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang tersdandarisasi. Herbal
terstandar juga harus melewati uji praklinis seperti uji keamanan (toksisitas jangka pendek
dan jangka panjang), Uji Manfaat (efek farmakologinya), dan harus memenuhi kualiatas
pembuatan herbal yang terstandar. Menurut BPOM, Obat Herbal Terstandar harus
memenuhi kriteria Aman sesuai persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan
secara ilmiah (uji Praklinik, dan terlah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku dalam
produk jadi.

Fitofarmaka adalah Obat herbal terstandar yang sudah naik kelas menjadi
fitofarmaka karena sudah melalui uji klinis. Dosis pada hewan percobaan dikonversikan ke
dosis aman bagi manusia. Dari uji inilah diketahui keamanan efek pada hewan percobaan
dan manusia. Menurut BPOM fitofarmaka harus memenuhi kriteria seperti obat herbal
terstandar hanya saja ditambahakan dengan bukti khasiat harus sudah melalui uji klinis.
Jamu adalah obat bahan alam yang sediannya masih berupa simplisia sederhana
seperti ramuan dari tumbuh-tumbuhan, hewan, pelikan dan mineral yang mempunyai
khasiat sebagai obat.. Khasiat dan keamanannya baru terbukti secara empiris berdasarkan
pengalaman turun temurun. Disebut sebagai jamu bila sudah digunakan di masyarakat
secara turun temurun melewati 3 generasi atau setara dengan 180 tahun. Menurut BPOM
RI jamu harus memenuhi kriteria Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim
khasiat berdasarakan data empiris, dan memenuhi persyaratan mutu. Perbedaan pokok
antara obat modern dan obat tradisional ialah bahwa obat tradisional dalam pembuatannya
tidak memerlukan bahan kimia, biasanya hanya memerlukan air dingin atau air panas
sebagai penyeduhannya. Jadi zat berkhasiatnya tidak perlu dipisahkan terlebih dahulu,
bahkan zat apa yang berkhasiat belum tentu diketahui secara pasti. Lagi pula obat
tradisional mempunyai susunan yang jauh lebih kompleks daripada obat modern, sehingga
dengan demikian untuk mempelajari susunan kimianya saja sudah lebih rumit (Depkes RI,
1995).
2.3 Proses Produksi Jamu
Proses produksi jamu dibagi menjadi 2 yaitu proses persiapan bahan baku dan proses
pengolahan jamu.
1. Persiapan bahan baku
a) Sortasi
Sortasi dibedakan menjadi 2 yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah
dilakukan pada saat bahan masih segar yang bertujuan untuk memisahkan bahan dari
kotoran-kotoran yang berupa bahan-bahan yang mencemari hasil tanaman obat, misal
tanah, kerikil, gulma dan rumput. Sedangkan sortasi kering bertujuan untuk memisahkan
benda-benda asing seperti bagian tanaman yang diinginkan dan pengotor lain yang masih
ada dan tertinggal pada simplisia kering, misal pasir, tanah, kerikil, rambut serta bahan lain
yang mencemari bahan pada saat pengeringan harus segera dihilangkan karena dapat
berpengaruh pada kualitas simplisia (Widiyastuti, 2004).
b) Pencucian

Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat,


terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar
pestisida. Pencucian bias dilakukan dengan menggunakan air yang berasal dari beberapa
sumber sebagai berikut :
(1) Mata Air
Pencucian yang dilakukan dengan menggunakan air yang berasal dari mata air harus
memperhatikan kemungkinan pencemaran yang diakibatkan oleh adanya mikroba dan
pestisida.
(2) Sumur
Pencucian menggunakan air sumur, perlu memperhatikan pencemaran yang mungkin
timbul akibat mikroba dan air limbah buangan rumah tangga.
(3) PAM
Pencucian menggunakan fasilitas air PAM (ledeng) sering tercemar oleh kapur khlor
(Gunawan dan Sri, 2004). Pencucian bertujuan agar bahan bebas dari kotoran dan bahan
bahan yang tidak dikehendaki. Pencucian dapat dilakukan dengan perendaman air (kalau
perlu menggunakan air panas), dengan penyemprotan ataupun menggunakan alat pencuci
dengan segala perlengkapannya (washing machine) dan lain-lain. Sebelum digunakan
sebagai wadah, sebaiknya diadakan pencucian agar terhindar dari adanya kotoran-kotoran
serta untuk menghilangkan bagian-bagian yang tidak dikehendaki baik logam halus pelapis
dan sebagainya. Biasanya yang dipergunakan sebagai pencuci adalah air panas ataupun
pencuci lainnya (Susanto, 1994).
c) Pengecilan Ukuran
Perajangan pada simplisia dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya, seperti
pengeringan, pengemasan, penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada
simplisia yang tebal dan tidak lunak seperti akar, rimpang, batang dan lain-lain. Ukuran
perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia. Jika perajangan terlalu tipis
dapat menambah kemungkinan berkurangnya zat yang terkandung dalam simplisia.
Sebaliknya, jika terlalu tebal maka kandungan air dalam simplisia akan sulit dihilangkan.
Tebal perajangan yang baik pada simplisia adalah 3-5 mm sehingga diperoleh ketebalan
ideal simplisia kering yaitu 3-5 mm (Tilaar,2002).

d) Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan langsung dibawah teriknya sinar matahari, diangin-anginkan


atau dipanaskan pada suhu tertentu dalam ruang pengeringan, pengeringan daun digitalis
misalnya pada suhu yang tidak lebih dari 60C. Pengeringan bertujuan mengurangi kadar
air, sebab dengan keringnya bahan-bahan akan dapat dicegah :
a. Terjadinya reaksi enzimatik
b. Pertumbuhan bakteri dan cendawan (Kartasapoetra, 1992).
Pengeringan dengan memanfaatkan energi panas dari cahaya matahari langsung yang
umum dilakukan. Beberapa jenis produk tanaman obat yang sering dikeringkan dengan
sinar matahari langsung, meliputi bahan yang berasal dari akar, rimpang, kulit batang
dan biji-bijian. Namun demikian simplisia bunga dan daun yang mengandung minyak atsiri
tidak tepat bila dikeringkan dengan cahaya matahari langsung karena dapat menurunkan
simplisia (Widiyastuti, 2004). Dalam pengeringan, keseimbangan kadar air menentukan
batas akhir dari proses pengeringan. Kelembaban udara serta suhu udara pada simplisia
kering biasanya mempengaruhi keseimbangan kadar air. Pada saat kadar air seimbang
penguapan pada simplisia akan terhenti dan jumlah molekul air yang diserap oleh
permukaan bahan. Laju pengeringan amat tergantung pada perbedaan antara kadar air
simplisia dengan kadar air keseimbangan (Widiyastuti, 2004).
2. Pengolahan Jamu
a) Penggilingan
Tiga tipe mesin yang biasa digunakan adalah plate mill, hammer mill, dan roller mill.
Penggunaan mesin-mesin tersebut tergantung pada tipe produk yang akan digiling dan
hasilnya seperti yang diharapkan. Penggilingan palu (hammer mill) merupakan aplikasi
dari gaya pukul (impact force). Bahan masuk akan terpukul oleh palu yang berputar dan
bertumbukan dengan dinding, palu atau sesama bahan. Akibatnya akan terjadi pemecahan
bahan. Proses ini berlangsung terus hingga didapatkan bahan yang dapat lolos dari
saringan di bagian bawah alat. Jadi selain gaya pukul dapat juga terjadi sedikit gaya sobek
(Aman, 1992).

b) Pengayakan
Menurut Fellows (1990), laju pemisahan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran partikel sifat
alami bahan ayakan, amplitudo dan frekuensi goyangan ayakan dan keefektifan metode
yang digunakan untuk mencegah pengeblokan ayakan. Tipe kasa banyak digunakan untuk
mengayak bahan pangan kering seperti tepung, gula dan rempah-rempah. Masalah yang
sering dihadapi yaitu:

Pengeblokan, bila ukuran partikel hampir sama dengan ukuran lubang ayakan.

Partikel besar, dimana mengeblok kasa.

Laju pemasukan bahan yang berlebih, dimana menyababkan pada kasa terjadi
overloaded dan partikel kecil terhimpit partikel yang besar.

Kelembaban tinggi yang menyebabkan partikel kecil menempel pada kasa atau
mengumpil dan membentuk partikel berukuran lebih besar, sehingga melebihi
ukuran dari kasa.

c) Pencampuran
Menurut Fellows (1990), pencampuran merupakan suatu proses untuk mendapatkan
campuran yang seragam dari dua atau lebih komponen. Hal ini banyak diaplikasikan pada
industri makanan untuk mengkombinasikan bahan sehingga didapatkan sesuatu secara
fungsional atau karakteristik sensoris yang berbeda. Tingkat pencampuran yang didapatkan
bergantung pada ukuran relatif partikel, bentuk dan densitas masing-masing komponen,
efisiensi alat pencampur terhadap komponen, tendensi bahan untuk bercampur,
kelembaban, karakteristik permukaan dan karakteristik untuk mengurai dari masingmasing komponen. Secara umum, bahan yang memiliki ukuran, bentuk, densitas yang
serupa dapat menghasilkan campuran yang lebih seragam bila dibandingkan dengan bahan
yang tidak serupa. Selama proses pencampuran, perbedaan properti dapat menyebabkan
tidak bercampurnya sebagian dari komponen. Selain itu, penting untuk menentukan waktu
pengadukan yang tepat. PERMENKES Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tetang
Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker
dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Peran apoteker dalam saintifikasi jamu
Menurut Permenkes no 3 tahun 2010 saintifikasi jamu adalah pemerolehan bukti
ilmiah, terhadap jamu sebagai obat tradisional Indonsia, oleh dokter dan dokter gigi
sebagai profesi bersumpah, dari suatu klaim penggunaan turun-temurun yang bertahap
diarahkan menopang paradigma sehat yaitu promotif, preventif, rehabilitatif dan paliatif
sebelum menuju indikasi kuratif melalui fasilitas layanan kesehatan. Saintifikasi jamu ini
meurpakan proses penjembatanan antara penyedia layanan kesehatan yang berbasis herbal
dan dilakukan oleh tenaga medis dengan penelitian dibidang herbal itu sendiri dalam
rangka mempercepat promosi dan pemanfaatan herbal untuk kesehatan masyarakat.
Berdasarkan permenkes no 03 tahun 2010 tentang saintifikasi jamu antara lain
menjelaskan tentang tujuan pengaturan ketenagaan serta pencatatan tentang saintifikasi
jamu, namun dalam Permenkes tersebut belum dikaji tentang peran dari apoteker. Di sisi
lain, menurut Undang undang No. 36 tahun 2009 pasal 108 serta Peraturan Pemerintah No.
51 tahun 2009 tentang Praktik kefarmasian menyatakan bahwa praktik kefarmasian
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Berdasarkan kedua undang-undang tersebut Peran dan
tanggung jawab apoteker dalam saintifikasi jamu meliputi proses Pembuatan/ penyediaan
simplisia dan penyimpanan, Pelayanan Resep mencakup skrining Resep, Penyiapan obat,
Peracikan, pemberian Etiket, pemberian Kemasan Obat, Penyerahan Obat, dan Informasi
Obat, Konseling. Monitoring Penggunaan Obat. Promosi dan Edukasi, penyuluhan
Pelayanan Residensial (Home Care). Serta Pencatatan dan pelaporannya. Hal ini sesuai
dengan paradigma pelayanan kefarmasian yang sekarang berkembang yaitu pelayanan
kefarmasian yang berazaskan pada konsep Pharmaceutical Care, yaitu bergesernya
orientasi seorang apoteker dari product atau drug oriented menjadi patient oriented.
Konsep pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) merupakan pelayanan yang
dibutuhkan dan diterima pasien untuk menjamin keamanan dan penggunaan obat termasuk

obat tradisional yang rasional, baik sebelum, selama, maupun sesudah penggunaan obat
termasuk obat tradisional.
Peran apoteker dalam saintifikasi jamu diperlukan suatu tambahan pengetahuan
meliputi Pengenalan tanaman obat, Formula jamu yang terstandar, Pengelolaan jamu di
apotek (pengendalian mutu sediaan jamu, pengadaan, penyimpanan dan pengamanan
jamu), Fitoterapi, Adverse reaction, Toksikologi, Dosis dan monitoring evalusi bahan aktif
jamu, MESOT (Monitoring efek samping OT), Manajemen pencatatan dan pelaporan, Post
market surveilance, serta Komunikasi dan konseling. Berdasarkan riset yang dilakukan
oleh suharmiati et al. Menjelaskan bahwa peran dan tangung jawab apoteker lebih besar
mulai dari skrining resep sampai diberikan kepada pasien pada rumah sakit diketiga kota
diindonesia (yogyakarta, denpasar, surabaya), hasil

yang diberikan tidak sesuai

perundangan permenkes. Berdasarkan riset tersebut dapat disimpulkan peran apoteker


saintifikasi jamu tentang preparasi jamu, sinergi dengan pengobatan konvensional dan
meningkatkan penggunaan obat bahan alam sebagai pelayanan kesehatan tradisional. Di
samping itu di dalam Permenkes khusus tersebut perlu dicantumkan tentang
Pharmaceutical Record yang dilakukan oleh seorang apoteker saintifikasi jamu.
3.2 Peran apoteker dalam QA (Quality Assurance) saintifikasi jamu
Konsep yang menjadi dasar pelayanan kesehatan adalah jaminan kualitas dari
pelayanan pasien. Quality Assurance adalah rangkaian aktifitas yang dilakukan untuk
memonitor dan meningkatkan penampilan sehingga pelayanan kesehatan seefektif dan
seefisien mungkin. Quality Assurance juga dapat diartikan sebagai aktifitas yang
berkontribusi untuk menetapkan, merencakan, mengkaji, memonitor, dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan. Aktifitas ini dapat ditampilkan sebagai akreditasi pelayanan
farmasi, pengawasan tenaga kefarmasian atau upaya meningkatkan penampilan dan
kualitas pelayanan kesehatan. Peningkatan kualitas dalam pelaksanaan dan praktek dari
pharmaceutical care dapat ditingkatkan dengan membuat perubahan pada sistem
pelayanan kesehatan atau sistem pelayanan kefarmasian.
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245/Menkes/SK/V/1990
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri
Farmasi Pasal 10, suatu industri farmasi obat jadi dan bahan baku obat setidaknya harus
mempekerjakan secara tetap minimal tiga orang apoteker WNI sebagai manager atau

penanggung jawab produksi, pengawasan mutu (Quality Control/QC), dan pemastian mutu
(Quality Assurance/QA).
QA bertanggung jawab untuk dengan berkaitan kualitas produk, sistem atau
pelayanan dan pelatihan. Peran apoteker dalam perusahaan jamu untuk kualitas produk
yaitu menentukan waktu panen tanaman obat, pengeringan, pembentukan simplisia sampai
kesediaan dan akhirnya diberikan kepada pasien. Jika diruncingkan kembali, tugas
Apoteker dalam Saintifikasi jamu ini yang berkaitan dengan QA atau Pemastian Mutu
adalah apoteker bertugas untuk memastikan bahwa langkah-langkah dalam produksi
sediaan jamu sudah sesuai dengan GMP. Mulai dari pemilihan bahan sampai dengan
terbentuknya produk jadi. Berikut adalah tugas penjaminan mutu yang harus dilakukan
oleh apoteker mulai dari GAP (Good Agricultular Product) atau pemilihan produk
pertanian yang baik sebagai tanaman obat hingga Saintifikasi Jamu berkaitan dengan
distribusi dan khasiat.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan, (2005). Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional
yang Baik. Jakarta : BPOM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan, (2005). Penyiapan Simplisia Untuk Sediaan Herbal.
Jakarta : BPOM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan, (2011). Persyaratan Teknis Cara Pembuatan Obat
Tradisional yang Baik. Jakarta : BPOM RI.
Dewoto, Hedi R. (2007). Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi
Fitofarmaka. Makalah Ilmiah. Majalah Kedokteran Indonesia Vol. 57, No. 7 ; hal
205 211.Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional Badan POM
RI. (2010).
Kementerian Kesehatan RI. (2010). Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis
Pelayanan Kesehatan. PerMenkes No : 003/Menkes/Per/I/2010.
Suharmiati., Handayani, L., Bahfen, F., Djuharto., dan Kristiana, L. 2012. Kajian Hukum
Peran Apoteker Dalam Saintifikasi Jamu. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
Vol. 15 No. 1 Januari 2012: 20-25.
Wahyuningsih, R. 2010. Proses Produksi Jamu di PT Jamu Air Mancur. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret. [Tugas Akhir]