Anda di halaman 1dari 21

Perbandingan Kode Etik Persatuan Ahli Gizi Indonesia

dengan Code of Ethics American Dietetic Association,


Canadian Dietetic Association, dan Dietitians Association
of Australia

OLEH :
Hesti Retno Budi Arini (125070301111006)

JURUSAN GIZI KESEHATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014

BAB II
PEMBAHASAN
I. Kode Etik Ahli Gizi Indonesia (Persatuan Ahli Gizi Indonesia)
Ahli Gizi yang dalam melaksanakan profesi gizi harus mengabdikan
dirinya sepenuh hati dengan senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji yang dilandasi oleh falsafah dan nilainilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia serta etik profesinya, baik dalam
hubungan dengan pemerintah bangsa, negara, masyarakat, profesi maupun dengan
diri sendiri.
A. Kewajiban Umum
1.

Ahli Gizi berperan meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta


berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan kesejahteran rakyat

2.

Ahli Gizi berkewajiban menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan
menunjukkan sikap, perilaku, dan budi luhur serta tidak mementingkan diri
sendiri

3.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya menurut


standar profesi yang telah ditetapkan

4.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya bersikap jujur,


tulus dan adil

5.

Ahli Gizi berkewajiban menjalankan profesinya berdasarkan prinsip


keilmuan, informasi terkini, dan dalam menginterpretasikan informasi
hendaknya objektif tanpa membedakan individu dan dapat menunjukkan
sumber rujukan yang benar

6.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa mengenal dan memahami


keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan pihak lain atau membuat
rujukan bila diperlukan

7.

Ahli Gizi dalam melakukan profesinya mengutamakan kepentingan


masyarakat dan berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan
pengabdi masyarakat yang sebenarnya

8.

Ahli Gizi dalam bekerjasama dengan para profesional lain di bidang


kesehatan maupun lainnya berkewajiban senantiasa memelihara pengertian
yang sebaik-baiknya.

B. Kewajiban Terhadap Klien


1.

Ahli Gizi berkewajiban sepanjang waktu senantiasa berusaha memelihara


dan meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkungan institusi pelayanan
gizi atau di masyarakat umum

2.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjaga kerahasiaan klien atau


masyarakat yang dilayaninya baik pada saat klien masih atau sudah tidak
dalam pelayanannya, bahkan juga setelah klien meninggal dunia kecuali bila
diperlukan untuk keperluan kesaksian hukum

3.

Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya senantiasa menghormati dan


menghargai kebutuhan unik setiap klien yang dilayani dan peka terhadap
perbedaan budaya, dan tidak melakukan diskriminasi dalam hal suku, agama,
ras, status sosial, jenis kelamin, usia dan tidak menunjukkan pelecehan seksual

4.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima,


cepat, dan akurat

5.

Ahli Gizi berkewajiban memberikan informasi kepada klien dengan tepat


dan jelas, sehingga memungkinkan klien mengerti dan mau memutuskan
sendiri berdasarkan informasi tersebut

6.

Ahli Gizi dalam melakukan tugasnya, apabila mengalami keraguan dalam


memberikan pelayanan berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk
kepada ahli gizi lain yang mempunyai keahlian

C. Kewajiban Terhadap Masyarakat

1.

Ahli Gizi berkewajiban melindungi masyarakat umum khususnya tentang


penyalahgunaan pelayanan, informasi yang salah dan praktek yang tidak etis
berkaitan dengan gizi, pangan termasuk makanan dan terapi gizi/diet. Ahli
Gizi hendaknya senantiasa memberikan pelayanannya sesuai dengan informasi
faktual, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya

2.

Ahli Gizi senantiasa melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi


sehingga dapat mencegah masalah gizi di masyarakat

3.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa Peka terhadap status gizi masyarakat


untuk mencegah terjadinya masalah gizi dan meningkatkan status gizi
masyarakat

4.

Ahli Gizi berkewajiban memberi contoh hidup sehat dengan pola makan
dan aktivitas fisik yang seimbang sesuai dengan nilai praktek gizi individu
yang baik

5.

Dalam bekerja sama dengan profesional lain di masyarakat, Ahli Gizi


berkewajiban hendaknya senantiasa berusaha memberikan dorongan,
dukungan, inisiatif, dan bantuan lain dengan sungguh-sungguh demi
tercapainya status gizi dan kesehatan optimal di masyarakat

6.

Ahli Gizi dalam mempromosikan atau mengesahkan produk makanan


tertentu berkewajiban senantiasa tidak dengan cara yang salah atau,
menyebabkan salah interpretasi atau menyesatkan masyarakat

D. Kewajiban Terhadap Teman Seprofesi dan Mitra Kerja


1.

Ahli Gizi dalam bekerja melakukan promosi gizi, memelihara dan


meningkatkan status gizi masyarakat secara optimal, berkewajiban senantiasa
bekerjasama dan menghargai berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja di
masyarakat

2.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memelihara hubungan persahabatan


yang harmonis dengan semua organisasi atau disiplin ilmu/profesional yang

terkait dalam upaya meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan


kesejahteraan rakyat
3.

Ahli Gizi berkewajiban selalu menyebarluaskan ilimu pengetahuan dan


keterampilan terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerja

E. Kewajiban Terhadap Profesi dan Diri Sendiri


1.

Ahli Gizi berkewajiban mentaati, melindungi dan menjunjung tinggi


ketentuan yang dicanangkan oleh profesi

2.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memajukan dan memperkaya


pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam menjalankan profesinya
sesuai perkembangan ilmu dan teknologi terkini serta peka terhadap
perubahan lingkungan

3.

Ahli Gizi harus menunjukkan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan
berani mengemukakan pendapat serta senantiasa menunjukkan kerendahan
hati dan mau menerima pendapat orang lain yang benar

4.

Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya berkewajiban untuk tidak boleh


dipengaruhi oleh kepentingan pribadi termasuk menerima uang selain imbalan
yang layak sesuai denga jasanya, meskipun dengan pengetahuan
klien/masyarakat (tempat di mana ahli gizi dipekerjakan)

5.

Ahli Gizi berkewajiban tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum,


dan memaksa orang lain untuk melawan hukum

6.

Ahli Gizi berkewajiban memelihara kesehatan dan keadaan gizinya agar


dapat bekerja dengan baik

7.

Ahli Gizi berkewajiban melayani masyarakat umum tanpa memandang


keuntungan perseorangan atau kebesaran seseorang

8.

Ahli Gizi berkewajiban selalu menjaga nama baik profesi dan


mengharumkan organisasi profesi

F. Penetapan Pelanggaran

Pelanggaran terhadap ketentuan kode etik ini diatur tersendiri dalam Majelis Kode
Etik Persatuan Ahli Gizi Indonesia
G. Kekuatan Kode Etik
Kode etik Ahli Gizi ini dibuat atas prinsip bahwa organisasi profesi bertanggung
jawab terhadap kiprah anggotanya dalam menjalankan praktek profesinya.
Kode etik ini berlaku setelah hari dari disahkannya kode etik ini oleh sidang
tertinggi profesi sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga profesi gizi.

II. Kode Etik Ahli Gizi Amerika (American Dietetic Association)


A. Fundamental Principles
1.The dietetics practitioner conducts himself/herself with honesty, integrity, and
fairness.
2.The dietetics practitioner supports and promotes high standards of
professional practice. The dietetics practitioner accepts the obligation to protect
clients, the public, and the profession by upholding the Code of Ethics for the
Profession of Dietetics and by reporting perceived violations of the Code
through the processes established by ADA and its credentialing agency, CDR.
B. Responsibilities to the Public
3.The dietetics practitioner considers the health, safety, and welfare of the
public at all times.
The dietetics practitioner will report inappropriate behavior or treatment of a
client by another dietetics practitioner or other professionals.
4.The dietetics practitioner complies with all laws and regulations applicable or
related to the profession or to the practitioners ethical obligations as described
in this Code.

a. The dietetics practitioner must not be convicted of a crime under the laws of
the United States, whether a felony or a misdemeanor, an essential element of
which is dishonesty.
b. The dietetics practitioner must not be disciplined by a state for conduct that
would violate one or more of these principles.
c. The dietetics practitioner must not commit an act of misfeasance or
malfeasance that is directly related to the practice of the profession as determined
by a court of competent jurisdiction, a licensing board, or an agency of a
governmental body.
5.The dietetics practitioner provides professional services with objectivity and
with respect for the unique needs and values of individuals.
a. The dietetics practitioner does not, in professional practice, discriminate
against others on the basis of race, ethnicity, creed, religion, disability, gender,
age, gender identity, sexual orientation, national origin, economic status, or any
other legally protected category.
b. The dietetics practitioner provides services in a manner that is sensitive to
cultural differences.
c. The dietetics practitioner does not engage in sexual harassment in connection
with professional practice.
6.The dietetics practitioner does not engage in false or misleading practices or
communications.
a. The dietetics practitioner does not engage in false or deceptive advertising of
his or her services.
b. The dietetics practitioner promotes or endorses specific goods or products only
in a manner that is not false and misleading.
c. The dietetics practitioner provides accurate and truthful information in
communicating with the public.

7.The dietetics practitioner withdraws from professional practice when unable to


fulfill his or her professional duties and responsibilities to clients and others.
a. The dietetics practitioner withdraws from practice when he/she has engaged in
abuse of a substance such that it could affect his or her practice.
b. The dietetics practitioner ceases practice when he or she has been adjudged by
a court to be mentally incompetent.
c. The dietetics practitioner will not engage in practice when he or she has a
condition that substantially impairs his or her ability to provide effective service
to others.
C. Responsibilities to Clients
8.The dietetics practitioner recognizes and exercises professional judgment
within the limits of his or her qualifications and collaborates with others, seeks
counsel, or makes referrals as appropriate.
9.The dietetics practitioner treats clients and patients with respect and
consideration.
a. The dietetics practitioner pro-vides sufficient information to enable clients and
others to make their own informed decisions.
b. The dietetics practitioner respects the clients right to make decisions regarding
the recommended plan of care, including consent, modification, or refusal.
10.The dietetics practitioner protects confidential information and makes full
disclosure about any limitations on his or her ability to guarantee full
confidentiality.
11.The dietetics practitioner, in dealing with and providing services to clients and
others, complies with the same principles set forth above in Responsibilities to
the Public (Principles #3-7).
D. Responsibilities to the Profession

12.The dietetics practitioner practices dietetics based on evidence-based


principles and current information.
13.The dietetics practitioner presents reliable and substantiated information
and interprets controversial information without personal bias, recognizing
that legitimate differences of opinion exist.
14.The dietetics practitioner assumes a life-long responsibility and
accountability for personal competence in practice, consistent with accepted
professional standards, continually striving to increase professional knowledge
and skills and to apply them in practice.
15.The dietetics practitioner is alert to the occurrence of a real or potential
conflict of interest and takes appropriate action whenever a conflict arises.
a. The dietetics practitioner makes full disclosure of any real or perceived conflict
of interest.
b. When a conflict of interest cannot be resolved by disclosure, the dietetics
practitioner takes
such other action as may be necessary to eliminate the conflict, including recusal
from an office, position, or practice situation.
16.The dietetics practitioner permits the use of his or her name for the purpose
of certifying that dietetics services have been rendered only if he or she has
provided or supervised the provision of those services.
17.The dietetics practitioner accurately presents professional qualifications and
credentials.
a. The dietetics practitioner, in seeking, maintaining, and using credentials
provided by
CDR, provides accurate information and complies with all requirements imposed
by CDR.

The dietetics practitioner uses CDR-awarded credentials (RD or Registered


Dietitian; DTR or Dietetic Technician, Registered; CS or Certified
Specialist; and FADA or Fellow of the American Dietetic Association) only
when the credential is current and authorized by CDR.
b. The dietetics practitioner does not aid any other person in violating any CDR
requirements,
or in representing himself or herself as CDR-credentialed when he or she is not.
18.The dietetics practitioner does not invite, accept, or offer gifts, monetary
incentives, or other considerations that affect or reasonably give an appearance
of affecting his/her professional judgment.
Clarification of Principle:
a. Whether a gift, incentive, or other item of consideration shall be viewed to
affect, or give the appearance of affecting, a dietetics practitioners professional
judgment is dependent on all factors relating to the transaction, including the
amount or value of the consideration, the likelihood that the practitioners
judgment will or is intended to be affected, the position held by the practitioner,
and whether the consideration is offered or generally available to persons other
than the practitioner.
b. It shall not be a violation of this principle for a dietetics practitioner to accept
compensation as a consultant or employee or as part of a research grant or
corporate sponsorship program, provided the relationship is openly disclosed and
the practitioner acts with integrity in performing the services or responsibilities.
c. This principle shall not preclude a dietetics practitioner from accepting gifts of
nominal value, attendance at educational programs, meals in connection with
educational exchanges of information, free samples of products, or similar items,
as long as such items are not offered in exchange for or with the expectation of,
and do not result in, conduct or services that are contrary to the practitioners
professional judgment.

d. The test for appearance of impropriety is whether the conduct would create in
reasonable minds a perception that the dietetics practitioners ability to carry out
professional responsibilities with integrity, impartiality, and competence is
impaired.

E. Responsibilities to Colleagues and Other Professionals


19.The dietetics practitioner demonstrates respect for the values, rights,
knowledge, and skills of colleagues and other professionals.
a. The dietetics practitioner does not engage in dishonest, misleading, or
inappropriate business practices that demonstrate a disregard for the rights or
interests of others.
b. The dietetics practitioner provides objective evaluations of performance for
employees and
coworkers, candidates for employment, students, professional association
memberships, awards, or scholarships, making all reasonable efforts to avoid
bias in the professional evaluation of others.

III. Kode Etik Ahli Gizi Kanada (Canadian Dietetic Association)


A. Responsibility to The Client
Principle 1. Maintain integrity and empathy in professional practice:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Client-Centered Provision of Service ( no 1-8)


Freedom from Prejudice (no 9)
Limiting Treatment of Services (no 10-12)
Fees for Services Rendered (no 13-15)
Honoring Commitments (no16-17)
Ensuring Provision of Service (no 18-19)
Honest Representation (no 20-26)
Record Keeping (no 27-28)

Principle 2. Strive for objectivity of judgment in such matters as


confidentiality and conflict of interest:
a) Conflict of Interest (no 29-30)
b) Client Confidentiality (no 31-34)
Principle 3. Work co-operatively with colleagues, other professionals and
lay persons:
a)
b)
c)
d)

Seeking Consultation (no 35-36)


Acting as a Consultant (no 37-38)
Working as Part of a Professional Team (no 39-41)
Working Cooperatively with the Employer (no 42-43)

Principle 4. Obtain informed consent, for our invasive or experimental


procedures:
a) Informed Consent (no 44-52)
B. Responsibility to The Society
Principle 5. Maintain a high standard of personal competence through
continuing education and an ongoing critical evaluation of professional
experience:
a) Compliance with Standards of Practice (no 53-55)
b) Commitment to Quality Practice (no 56-65)
Principle 6. Protect members of society against the unethical or incompetent
behavior of colleagues or other fellow health professionals:
a) Proper Representation of Knowledge and Credentials (66-67)
b) Prevention of Client Abuse (no 68)
c) Mandatory Reporting and Non-Mandatory Reporting (no 69)
Principle 7. Ensure that our publics are informed of the nature of any
nutritional treatment or advice and its possible effects:
a) Providing Accurate Nutrition-Related Information (no 70)
b) Respecting the Clients Choices ( no 76)

Principle 8. Support the advancement and dissemination of nutritional and


related knowledge and skills:
a) Advocacy and Lobbying (no 77-79)
b) Promoting Excellence in Dietetics Through Research (no 80-81)
c) Conducting Research (no 82-90)
C. Responsibility to The Profession
Principle 9. Support others in the pursuit of professional goals:
a) Providing Feedback and Support (no 91-93)
Principle 10. Support the training and education of future members of the
profession:
a) Responsibility as a Mentor/ Educator (no 94-101)
b) Responsibility to Promote Ethical Practice (no 102-103)
Principle 11. Involve myself in activities that promote a vital and progressive
profession:
a) Advancing Dietetic Standards and Knowledge (no 104)
b) Advancing the Regulation of the Profession (no 107)
c) Supporting or Participating in Professional Activities (no 109)

IV. Kode Etik Ahli Gizi Australia (Dietitians Association of Australia)


Practitioners act lawfully and responsibly and are accountable for their
decision making.
Practitioners will:
a. act within the letter and the spirit of the law and accept the
standards of DAA
b. be accountable for their decision making and have a moral and
legal obligation for the provision of safe and competent service
delivery

c. have an ethical responsibility to report unsafe and unethical


practice and support colleagues who appropriately notify the
relevant authorities of such practice
d. respect the collaborative nature of comprehensive health care
with recognition and respect for the perspective and expertise
of other health professionals
e. acknowledge the contribution of colleagues and any other
sources of original material in their work.
Practitioners will be honest and fair with members of the public,
colleagues, employers and employees.
Practitioners will:
a. ensure that they do not exploit relationships with clients for
emotional, sexual or financial gain
b. identify and manage conflicts of interest
c. not use inaccurate or misleading ways to promote their services or
products, or accept undisclosed private financial benefits
d. treat their colleagues with fairness, honesty, courtesy, respect and
good faith.
e. apply natural justice when dealing with clients and colleagues
f. provide services within the legal requirements of occupational
health, welfare and safety and workplace requirements.
Practitioners will respect individuals needs, values, culture and privacy.
Practitioners will:
a. ensure provision of non-discriminatory services to all people
regardless of age, color, gender, sexual orientation, religion,
ethnicity, race, and mental or physical status
b. respect the rights of individuals to make informed choices
c. respect the confidences and trust in their relationships with clients
d. promote a professional relationship and maintain appropriate
professional boundaries between themselves and those for whom
they provide services.

Practitioners will maintain their professional competence and provide


evidence based practice and quality service.
Practitioners will:
a. recognize the limits of competence, referring to the most
appropriate provider if necessary
b. continually update and extend professional knowledge and skills
through such activities as attending professional development or
seeking a mentor
c. be required to practice within current evidence based practice
d. limit their provision of advice about alternate therapies to those
who voluntarily seek it and only about therapies for which there is
documented scientific peer reviewed evidence of effectiveness
e. understand and respect diversity of nutrition and dietetic practice
f. promote an ecological, social and economic environment which
supports health and well being.

V. Perbandingan Antar Kode Etik


Tabel 1. Perbandingan Antar Kode Etik menurut Aspek Pertanggungjawaban dan Prinsip

Aspek

Prinsip
Integritas dan Empati
Objektivitas
Kerjasama kooperatif
Keamanan Informasi
Profesionalisme
Perlindungan dari

Indonesia
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

Amerika
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

Kanada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

Australia
Ada
Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada

Diskriminasi
Akurasi Informasi

Ada

Ada

Ada

Ada

dan Asuhan Gizi


Mendukung Inovasi

Ada

Ada

Ada

Ada

Organisasi

di Bidang Gizi
Saling Mendukung

Ada

Ada

Ada

Tidak Ada

Profesi

dalam Mencapai
Tidak Ada

Tidak Ada

Ada

Tidak Ada

Klien

Masyarakat
dan
Lingkungan

Tujuan Profesi
Mendukung
Pelatihan dalam
Rangka Kaderisasi

Melibatkan Diri

Ada

Ada

Ada

Tidak Ada

Terlalu

Lugas, rinci,

Lugas,

Singkat

bertele-tele

tetapi

rinci, dan

tetapi rinci

sehingga

penyusunannya

sistematis

rawan akan

agak kurang

multitafsir

sistematis

dalam Kegiatan yang


Memajukan Profesi
Gizi

Bahasa dan Isi

Pada dasarnya semua kode etik memiliki standar isi yang sama yakni
pertanggungjawaban pada klien, masyarakat, dan profesi. Selain itu dalam hal
sanksi pelanggaran juga tidak dicantumkan dalam kode etik tetapi dijelaskan
dalam penjelasan yang lain. Yang membedakan antara kode etik yang satu dengan
yang lain adalah redaksional bahasa dan rinci tidaknya isi dari kode etik tersebut.
Sebagai contoh kode etik ADA memiliki rincian poin a, b, dan c untuk beberapa
nomor, sedangkan untuk kode etik PERSAGI dibagi menurut sasaran
pertanggungjawaban dengan kalimat yang rinci tanpa poin tambahan di tiap
nomornya.
Perbedaan lain adalah dalam hal pertanggungjawaban pada profesi dan
masyarakat. Misal pada kode etik CDA terdapat poin kode etik untuk mendukung
pengajaran dan pelatihan bagi anggota baru demi kemajuan profesi, sedangkan
dalam kode etik lainnya ada poin untuk memajukan profesi tetapi tidak
tersampaikan secara eksplisit tentang pelatihan bagi anggota baru tersebut.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara keseluruhan antara kode etik profesi gizi di Indonesia, Amerika
Serikat, Kanada, dan Australia memiliki persamaan dalam aspek
pertanggungjawabannya yakni kepada masyarakat, klien, lingkungan, dan
profesi. Hal yang membedakan adalah ada beberapa prinsip yang tidak
dijelaskan atau dijelaskan dengan redaksional yang berbeda antara satu negara
dengan negara yang lain. Selain itu perbedaannya adalah rincian yang ada
dalam kode etik tersebut, ada yang dijabarkan secara detail dan ada yang
dijelaskan dalam bagian terpisah.

B. Saran
Dari perbandingan antara kode etik profesi gizi di Indonesia dengan kode
etik profesi gizi di negara lain, dapat dilihat bahwa kode etik dari Indonesia
tersebut sudah cukup baik. Untuk ke depannya dapat lebih ditingkatkan
pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik tersebut. Selain itu bila perlu dapat
pula ditambahkan poin tambahan atau pengubahan dalam kode etik tersebut
bila memang ada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk memajukan
profesi gizi.

DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 374/Menkes/SK/III/2007
tentang Standar Profesi Gizi. http://www.rsuab.com/book/kmk374gizi.pdf.
Diakses 27 Februari 2014 14.34 WIB
Code of Ethics For The Dietetic Profession In Canada.
http://ethics.iit.edu/ecodes/node/4290. Diakses 1 Maret 2014 23.16 WIB
American Dietetic Association Code of Ethics. http:// www.eatright.org. Diakses
27 Februari 2014 13.35 WIB

Dietitians Association of Australia Statement of Ethical Practice.


http://daa.asn.au/wp-content/uploads/2013/11/2013-Statement-of-Ethical-PracticeMember-and-APD.pdf. Diakses 27 Februari 2014 14.29 WIB

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini tren di masyarakat menunjukkan bahwa profesi gizi mulai
banyak diminati. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan jumlah mahasiswa yang
memilih kuliah di jurusan gizi baik gizi kesehatan maupun gizi masyarakat.
Demikian juga dengan kemauan masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui
makanan juga menunjukkan tren positif. Sehingga ahli gizi pun lebih banyak
dicari.

Di sisi lain, kenyataan di Indonesia bahwa minat yang besar pada profesi
gizi dapat dikatakan sedikit terlambat. Dikatakan sedikit terlambat karena masalah
gizi di Indonesia yang cukup kompleks telah terjadi sejak lama dan tenaga gizi
yang dibutuhkan belum ada sehingga ada profesi-profesi lain yang memilih
mempelajari ilmu gizi walaupun sebenarnya itu agak jauh dari ranah kerjanya.
Maka dari itu adanya standar profesi gizi tahun 2007 dan Permenkes tentang
penyelenggaraan dan praktik tenaga kerja gizi tahun 2013 memberikan kejelasan
akan ranah kerja tenaga gizi di Indonesia. Tetapi sebenarnya peraturan hukum
yang memayungi profesi gizi masih memerlukan kajian mendalam dan
pemantauan terkait pelaksanaannya. Sehingga perbandingan antara kode etik
profesi gizi di Indonesia dengan kode etik beberapa negara yang notabene sudah
maju dalam hal gizinya, perlu dilakukan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah isi dari kode etik profesi gizi oleh Persatuan Ahli Gizi
Indonesia?
2. Bagaimanakah isi dari kode etik profesi gizi oleh American Dietetic
Association?
3. Bagaimanakah isi dari kode etik profesi gizi oleh Canadian Dietetic
Association?
4. Bagaimanakah isi dari kode etik profesi gizi oleh Dietitians
Association of Australia?
5. Bagaimanakah perbandingan antara kode etik profesi gizi di Indonesia
dengan kode etik profesi gizi di Amerika Serikat, Kanada, dan
Australia?
C.

Tujuan
1. Mengetahui isi dari kode etik profesi gizi oleh Persatuan Ahli Gizi
Indonesia.
2. Mengetahui isi dari kode etik profesi gizi oleh American Dietetic
Association.

3. Mengetahui isi dari kode etik profesi gizi oleh Canadian Dietetic
Association.
4. Mengetahui isi dari kode etik profesi gizi oleh Dietitians Association
of Australia.
5. Mengetahui perbandingan antara kode etik profesi gizi di Indonesia
dengan kode etik profesi gizi di Amerika Serikat, Kanada, dan
Australia.
D. Manfaat
1. Dapat memberikan gambaran profesi gizi di Indonesia beserta kode
etik yang harus dilaksanakan.
2. Dapat memberikan gambaran profesi gizi di negara lain beserta
kode etiknya.
3. Dapat membandingkan antara kode etik profesi gizi di Indonesia
dengan kode etik profesi gizi di negara lain.