Anda di halaman 1dari 9

ETNOGRAFI DAN MASALAH ANEKA WARNA MANUSIA

1. Masalah Aneka Warna Manusia


Orang awan di Eropa pada umumnya tertarik akan sifat yang aneh dari benda-benda
kebudayaan orang Afrika, orang Asia, orang Oceania atau orang Indian Amerika itu, tetapi di antara
para ahli filsafat paling sedikit terdapat tiga pandangan dasar mengenai masyarakat dan kebudayaan
manusia.
Pandangan yang pertama berdasarkan keyakinan bahwa sifat aneka warna manusia, baik
ragawi maupun rohani, yang tampak dari bahan etnografi dan etnografika itu disebabkan karena
makhluk manusiadari sejak awal diciptakan beraneka warna, atau karena makhluk manusia
diturunkan dari beraneka warna makhluk induk.
Pandangan yang kedua adalah berdasarkan keyakinan bahwa manusia diciptakan sekali, yaitu
bahwa manusia adalah keturunan dari satu makhluk induk. Pandangan ini yang juga disebut
pandangan monogenesis.

2. Filsafat Sosial dan Masalah Aneka Warna Manusia


Para ahli filsafat sosial, yaitu para ahli filsafat yang berpikir mengenai bentuk masyarakat
yang sempurna serta tingkah laku dan perilaku manusia yang dapat menuju ke arah tercapainya cita-
cita semacam itu, dalam zaman Aufklarung di Eropa dalam abad ke-18 seperti telah disebutkan di
atas, sangat dipengaruhi oleh kemajuan dalam ilmu alam dan pasti.
Contoh ahli filsafat dari zaman Aufklarung di Eropa Barat yang mencoba melakukan metode
ilmiah seperti terurai di atas adalah C.L.de Secondat, Baron de la Brede et de Montesquieu
(1689-1755) atau yang biasa dikenal dengan Montesquieu.
Montesquieu mengajukan konsep tentang kemajuan masyarakat melalui tiga tingkatan
evolusi sosial, yaitu :
• Tingkat masyarakat berburu atau tingkat liar (sauvage)
• Tingkat beternak atau tingkat barbar (barbarism)
• Tingkat pertanian dimana berkembang peradaban (civilizator)

Montesquieu berpendirian bahwa aneka warna kebudayaan yang kini tampak pada bangsa-
bangsa di muka bumi tidak disebabkan karena bangsa-bangsa itu dahulu berasal dari jenis-jenis
makhluk induk yang berbeda melainkan karena mereka terkena pengaruh lingkungan alam yang
berbeda-beda dan arena proses belajar yang berbeda.
3. Filsafat Positivisme dan Masalah Aneka Warna Manusia
Auguste Comte adalah contoh dari ahli filsafat social yang paling konsekwen menerapkan
metode positifisme tersebut. Comte mengajukan pendapatnya mengenai metode ilmiah umum,
artinya yang dapat diterapkan terhadap ilmu pengetahuan yang ada. Dalam hubungan itu, comte
mengakui bahwa ada tingkat kompleksitas dalam metode ilmiah. Ilmu pasti, ilmu astronomi, dan
ilmu alam adalah ilmu-ilmu yang paling mudah bagi penerapan metodologi positif dan untuk
mencapai generalisasi dan perumusan kaidah yang tetap.
SISTEM KEKERABATAN

1. Rumah Tangga dan Keluarga Inti


Apabila antara seseorang dengan orang lainnya menikah, maka sepasang suami istri
membentuk suatu kesatuan social yang disebut rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus
ekonomi rumah tangga. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga tinggi yaitu suami, isteri
dan anak-anak.
Keluarga inti poligini pun umumnya terbagi dalam dua rumah tangga yang terpisah, yaitu bagi
setiap istri dengan anak-anak mereka masing-masing. Keluarga inti diseluruh dunia memiliki dua
fungsi pokok, yaitu :
a. Dimana warga dapat memperoleh dan mengharapkan bantuan serta perlindungan dari
sesama warga keluarga inti,
b. Dimana warganya diasuh dan memperoleh pendidikan awalnya ketika mereka belum
mandiri.
Selain fungsi pokok sebagaimana ditegaskan diatas, apabila diidentifikasi dari seluruh
karakteristik keluarga inti dinamapun di dunia ini, terdapat dua fungsi tambahan, yaitu :
a. Keluarga ini merupakan suatu kelompok sosial dengan ekonomi rumah tangga yang
mandiri, walaupun dalam hal ini sering kali banyak kecualinya, dan
b. Melaksanakan pekerjaan-pekerjaan prodiktif (misalnya berladang, dan bertani di sawah),
yang tentu saja banyak terkecualinya.

2. Kelompok-Kelompok Kekerabatan
Murdock membedakan antara 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi
sosialnya, serta berdasarkan terminology atau peristilahan yang ia gunakan sebagai berikut :
a. Kelompok kekerabatan berkorporasi, yang sifatnya eksklusif dan biasanya memiliki ciri-ciri
kelompok sosial pada umumnya.
b. Kelompok kekerabatan kadang kala, kelompok yang tidak berinteraksi secara terus menerus
tetapi berkumpul hanya kadang-kadang saja.
c. Kelompok kekerabatan menurut adat, kelompok ini bentuknya sudah sedemikian besar.
Rasa kepribadian kelompok sering kali juga ditentukan oleh tanda-tanda adapt tersebut.

3. Keluarga Luas
Keluarga luas termasuk kategori kelompok kekerabatan yang merupakan kesatuan sosial yang
sangat erat selalu terdiri dari lebih dari satu keluarga inti. Terutama di daerah pedesaan, warga
keluarga luas umumnya masih tinggal berekatan, dan sering kali bahkan masih tinggal bersama-
sama dalam satu rumah.
Dilihat dari komposisinya, paling tidak dapat didefinisikan tiga jenis keluarga luas, yang
semua didasarkan pada suatu adat menetap sesudah menikah. Apabila adat itu berubah, maka
keluarga luas dalam masyarakat pun akan retak dan akhirnya hilang. Secara lebih khusus, dapat
dikaji tiga jenis keluarga luas itu sebagai berikut :
a. Keluarga luas utrolokal (berdasarkan adat utrolokal), yang terdiri dari satu keluarga inti
senior dengan keluarga-keluarga inti anak-anaknya baik yang pria maupun yang wanita.
b. Keluarga luas virilikal (berdasarkan adat virilokal), yang terdiri dari keluarga inti senior
dengan keluarga inti dari anak laki-lakinya.
c. Keluarga luas uxorilokal (berdasarkan adat uxorilokal), yang terdiri dari keluarga inti senior
dengan keluarga inti anak-anak wanita.

4. Keluarga Ambilinear Kecil dan Besar


Kelompok kekerabatan yang terdiri apabila suatu keluarga luas untrolokal membentuk suatu
kepribadian yang khas, yang disadari oleh para warganya dinamakan keluarga ambilinear kecil.
Kepribadian khas itu tidak hanya ada pada saat mereka hidup saja, tetapi sudah ada selama beberapa
angkatan sebelumnya. Nenek moyang yang menurunkan kelompok tersebut adakalanya masih
hidup, sebagai warga senior dari kelompok.
Apabila suatu keluarga ambilinear tidak hanya terbatas pada tiga sampai empat generasi saja,
tetapi juga mencakup lebih banyak generasi yang diturunkan seorang nenek moyang tertentu, maka
kelompok kekerabatan itu disebut keluarga ambilinear besar.

5. Klen
Istilah klen diambil dari istilah asing clan, yang sudah dikenal luas dalam terminology atau
peristilahan antropologi, namun dalam pembahasannya seringkali masih di artikan berbeda-beda.
Secara lebih khusus dapat diidentifikasi fungsi lengkap dari kelompok kekerabatan yang di
namakan klen kecil adalah :
a. Memelihara harta pusaka, atau memegang hak ulayat atau hak milik komunal atau harta
produktif.
b. Bergotong-royong dalam melakukan berbagai kegiatan mata pencaharian.
c. Bergotong-royong dalam melakukan berbagai kegiatan social mupun pribadi.
d. Mengatur permainan sesuai dengan adat eksogami.
Di samping klen kecil, dikenal pula klen besar, yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri dari
semua keturunan dari seorang leluhur, yang diperhitungkan melalui garis keturunan pria atau
wanita, sehingga ada klen besar patrilineal dan klen besar matrilineal. Biasanya anggota klen besar
sudah tidak saling menganal, meskipun sudah saling tidak menganal, warga klen besar merasa
dirinya terikat pada klen besar berkat adanya tanda-tanda lahir yang dimiliki klen besar yang
bersangkutan, yaitu :
a. Nama
b. Nyanyian-nyanyian
c. Dongeng-dongeng suci tertentu, dan
d. Lambing-lambang

Sebagai kelompok kekerabatan yang menghimpun semua keturunan dari seorang leluhurnya, klen
besar ini memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Mengatur perkawinan
b. Menyalenggarakan kehidupan keagamaan kelokpok
c. Mengatur hubungan antar kelas dalam masyarakat, dan
d. Dasar dari organisasi-organisasi politik.

6. Fratri
Kata fratri ini menunjukan pada kelompok-kelompok kekerabatan patrilineal maupun
kelompok kekerabatan matrilineal yang sifatnya local, dan merupakan gabungan dari kelompok-
kelompok kekerabatan dalam bentuk klen setempat (bisa klen kecil, tetapi bisa juga bagian dari klen
besar). Penggabungan ini tidak selalu merata dan menyangkut seluruh klen besar.
KELUARGA SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN

1. Pendidikan dan Pendidikan Keluarga


Dalam perspektif sosiologi (Durkheim, 1954, Sudarja, 1988), pendidikan adalah merupakan
sebuah fakta sosial. Disebut demikian karena memiliki ciri-ciri :
• Berada di luar individu dan bersifat langgeng, artinya telah ada sebelum individu lahir dan
akan tetap ada meskipun individu berpulang ke asalnya.
• Memiliki daya paksa terhadap individu untuk melakukan dan menjalaninya.
• Tersebar di warga masyarakat dan menjadi milik warga masyarakat.
Emile Durkheim memberikan definisi pendidikan sebagai sebuah proses mempengaruhi yang
dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap melakukan fungsi-fungsi
social. Yang sasarannya adalah mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelek, dan watak sesuai
tuntutan dimana mereka hidup.
Model-model pengertian pendidikan menurut Buckley (Sudardja, 1988:65-66) di jelaskan
sebagai berikut :
• Model mekanis, yaitu yang menggambarkan usaha mempertahankan apa yang ada dalam
masyarakat, dalam arti bahwa pendidikan sebagai upaya untuk memberikan kemamapuan
menyesuaikan diri kepada keadaan yang diasumsikan telah mantap
• Model organis, yaitu mengandung konsep homeostatis, yakni yang melukiskan penyesuaian
diri kepada lingkungan yang berubah
• Model proses, yaitu yang menggambarkan perubahan pada struktur sesuai dengan
keperluan menghadapi situasi lingkungan yang berubah.

Dalam arti luas pendidikan adalah proses pembudayaan melalui mana masing-masing anak
yang dilahirkan dengan potensi belajar yang lebih besar dari makhluk menyusui lainnya, dibentuk
menjadi anggota penuh dari suatu masyarakat, menghayati dan mangamalkan bersama-sama
anggota-anggota lainnyasatu kebudayaan tertentu.
Dalam perspektif ilmu pendidikan, keluarga dipandang sebagai ilmu pendidikan yang pertama
dan utama, yang oleh Ki Hajar Dewantara (1962:375) ditegaskan bahwa “ alam keluarga itu buat
tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan disitu pertama halnya bersifat
pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar, dan
sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh).
Diakui bahwa dewasa ini kehidupan keluarga tengah mengalami dinamika perubahan
mengikuti arus perubahan zaman. Bahkankini keluarga pada kelompok masyarakat tertentu
disinyalir jauh berkurang peranannya dalam kehidupan anak-anaknya, terutama pada saat anak
mendekati usia remaja dan dewasa. Dengan adanya lembaga-lembaga masyarakat seperti sekolah,
institusi pemerintah yang banyak mempengaruhi sosialisasi anak dan bahkan merebutnya, sehingga
pentingnya orang tua dalam pembinaan mental dan budaya manjadi berkurang.
Oleh karena itu, tugas dan tanggung jawab orang tua hingga saat ini tetap menentukan dalam
memenuhi kebutuhan perkembangan pribadi anak, membantu anak dalam memenuhi kebutuhan
fisik dan psikososialnya dengan mempertahankan jalinan hubungan emosional dan rasional sebagai
tuntutan azasi kepada seluruh komponen anggota keluarga nenurut kedudukannya.

2. Kedudukan Keluarga dalam Pembinaan Anak


Proses pendidikan dalam keluarga berlangsung sejalan dengan pola pergaulan antara orang tua
dengan anak yang berlandaskan kewajiban orang tua, disamping adanya rasa persahabatan antara
orang tua dan anak. Sehingga pola itu harus pula dibarengi dengan pendekatan kemanusiaan yang
dipenuhi dengan kasih sayang yang akan membawa pada suasana hangat dan menyenangkan.
Sebagaimana uraian diatas, maka kedudukan terutama orang tua dalam pembinaan anak sangatlah
sentral, mengingat posisinya yang penting dalam kehidupan keluarga. Karena itu, maka peran orang
tua dalam konteks pembinaan anak didalam keluarga meliputi :
a. Peran sebagai pendidik
b. Peran sebagai panutan
c. Peran sebagai pendorong
d. Peran sebagai pengawas
e. Peran sebagai teman
f. Peran sebagai inspirasi
g. Peran sebagai konselor

Pandangan dan Dasar Teoritik tentang perilaku Kependidikan Anak


Banyak teori tentang perilaku manusia yang diketengahkan oleh para ahli yang
menggunakan pendekatan yang berbeda dalam merumuskan asumsi dasar tetang sifat manusia.
Tetapi pendekatan yang paling dominan adalah pendekatan dari psikoanalisis, behaviorisme,
kognitif, dan humanisme.
- Konsep psikoanalisis melukiskan bahwa manusia itu merupakan makhluk yang digerakkan
oleh keinginan-keinginannya yang terpendam.
- Konsep behaviorisme memandang bahwa manusia itu merupakan makhluk yang digerakkan
oleh lingkungannya.
- Konsep kognitif melihat manusia sebagai makhlik yang aktif mengorganisasikan dan
mengolah rangsangan (stimulus) yang diterimanya.
- Konsep humanisme menggambarkan bahwa manusia itu merupakan pelaku aktif untuk
merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya.

4. Fungsi Sosialisasi dan Pola Asuh Keluarga


Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi itu keluarga menduduki kedudukan sebagai
penghubung anak dengan kehidupan social dan norma-norma social yang seperti telah dikemukakan
di atas meliputi : penerangan, penyaringan dan penafsirannya ke dalam bahasa yang dapat
dimengerti dan ditangkap maknanya oleh anak.
Pelaksanaan fungsi sosialisasi anak ini tidak terlepas dari status social keluarga itu. Status social
tersebut turut menentukan sikap dan pandangan hidupnya, pandangannya terhadap dirinya, dan
lingkungan serta kelas-kelas masyarakat lainnya.
Adapun alat pendidikan yang dapat digunakan dalam keluarga yaitu :
• Kasih sayang, dalam hal ini orang tua berperan untuk melindungi anak dalam hal
ketidakberdayaannya.
• Tindakan kewibawaan, hal ini dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang tercermin
pada rasa tanggungjawab, sehingga orang lain merasa hormat padanya.
• Pola asuh yang memanjakan, dala hal ini masih ada orang tua yang mengartikan kasih
sayang dengan memanjakan yang berlebihan.
• Pola asuh yang membiarkan, pola ini dilakukan oleh orang tua dengan membiarkan anak
sendiri tanpa mengarahkan.
• Pola asuh yang otoriter, pola ini orang tua bertindak bahwa segala sesuatu yang menjadi
aturannya harus dipatuhi oleh si anak.
• Pola asuh yang otoriatif, pola asuh yang wajar dan tepat untuk membantu perkembangan
potensi-potensi anak yang dibawanya sejak lahir.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiwinata, Jajat. dan Hufad, Achmad. (2007). Sosiologi Antropologi Pendidikan. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia Press.

Garna, Judistira K., (1996). Ilmu-ilmu social;Dasar-Konsep-Posisi. Bandung: Program


Pascasarjana UNPAD

Sadulloh, Uyoh. Et al. (2007). Pedagogik. Bandung: Cipta Utama