Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH AGAMA

TENTANG
TRANSEKSUAL

Oleh :
WINDI YESIKA
160201008

Dosen Pembimbing :
Virgo Vicnori, M.Ag

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fenomena transeksual (masalah kebingungan jenis kelamin) yang
diikuti dengan tindakan operasi merubah kelamin, sebenarnya mempunyai
implikasi yang akan menyentuh banyak aspek, masalah ini merupakan suatu
gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara
bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun dengan ketidakpuasan
dengan alat kelamin yang dimilikinya.Ironisnya, di media pertelevisian
Indonesia seakan menyemarakkan dan menyosialisasikan perilaku
ketransseksualan dalam berbagai acara yang memberikan porsi kepada para
waria dan semacamnya sebagai pengisi acara atau pembawa acara, yang secara
tidak langsung membiasakan masyarakat dengan fenomena semacam itu.
Dewasa ini masyarakat sudah tidak risih dengan keberadaan para guy
atau waria yang mungkin juga disebabkan oleh kebiasaan mereka menonton
idola mereka di televisi yang notabene adalah seorang waria atau guy. Dan
seakan artis seperti Dorce Gamalama yang telah melakukan operasi alat
kelamin di Singapore merupakan figur yang berani dan patut dicontoh karena
telah mengikuti apa kata nuraninya. Apakah yang dimaksud dengan
penggantian kelamin dan bagaimanakah hukum operasi kelamin serta
mengubah-ubah jenis kelamin?. Bagaimanakah fatwa para ulama tentang
operasi ganti kelamin ini ?. Atas dasar pertanyaan-pertanyaan itulah, maka
disusunlah makalah hukum operasi ganti kelamin ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan penggantian kelamin ?
2. Bagaimanakah proses operasi ganti kelamin dan efeknya ?
3. Bagaimanakah hukum operasi ganti kelamin ?
4. Bagaimanakah fatwa para ulama tentang operasi ganti kelamin ini ?
5. Apakah konsekuensi hukum atas terjadinya penggantian kelamin ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Operasi ganti kelamin (taghyir al-jins) adalah operasi pembedahan
untuk mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau
sebaliknya. Pengubahan jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan dilakukan
dengan memotong dzakar dan testis, kemudian membentuk kelamin
perempuan (vagina) dan membesarkan payudara. Sedang pengubahan jenis
kelamin perempuan menjadi laki-laki dilakukan dengan memotong payudara,
menutup saluran kelamin perempuan, dan menanamkan organ genital laki-
laki (dzakar). Operasi ini juga disertai pula dengan terapi psikologis dan
terapi hormonal. (M. Mukhtar Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibbiyah, hal.
199).

B. Proses Operasi Ganti Kelamin dan Efeknya.


Pada opersi penggantian kelamin, dzakar dan scrotum (buah dzakar
atau buah pelir) serta tesis (tempat produksi sperma) dibuang. Sedangkan
kulit scrotan digunakan untuk menutup liang vagina (faraj) ; dan untuk
pembuatan clitoris (klentit), diambil dari sebagian dzakar yang telah terbuang
tadi.
Karena operasi tersebut merupakan pembedahan yang mengandung
resiko, maka seorang dokter yang menanganinya harus berhati-hati dan
cermat, karena bisa saja terjadi hal-hal sebagai berikut:
1. Tembusnya anus atau tempat kotoran, sehingga mestinya kotoran keluar
dari dubur, justru melewati liang vagina buatan itu. Maka kedalaman liang
vagina buatan itu harus disesuaikan dengan besarnya pinggul atau
anatomi tubuh yang menjalani operasi. Tentu saja pinggul yang agak kecil
tidak diperbolehkan membuat liang vaginanya terlalu dalam, karena
dikhawatirkan dapat menembus tempat kotorannya, yang pada gilirannya
dapat membahayakan pasien itu sendiri. Tapi kebanyakan pasien yang
dioperasi di indonesia, kedalaman vaginanya hanya mencapai antara 10
sampai 15 cm. Itu pun masih bisa mengerut dan memendek bila

2
operasinya sudah sembuh. Oleh karena itu, vagina yang selesai dioperasi,
dipasangi didalamnya sebuah alat penyanggah yang disebut tampo
selama satu bulan baru bisa dilepaskan. Dan kalau dilepaskan sebelum
lukanya sembuh maka liangnya bisa tertutup lagi.
2. Terjadinya kelainan syaraf pada penderita, bila ia tidak dapat menahan
kencing setelah operasinya selesai . Ini sering terjadi, karena ketika
dioperasi, saluran kencingnya ikut terbuang.

C. Hukum Operasi Ganti Kelamin.


Transeksual dapat diakibatkan oleh faktor bawaan (hormon atau gen)
dan faktor lingkungan yang kemudian memotifasi seseorang untuk
melakukan pergantian kelamin. Mengenai hukum dari melakukan operasi
penggantian kelamin (Sex Reassignment Surgery) bagi orang yang lahir
normal jenis kelaminnya adalahharam. Dasar yang digunakan atas
pengharaman ini yaitu:
1. Firman Allah swt,. Dalam surat an-Nisa ayat 119, yaitu :

Artinya : Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan


akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh
mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-
benar memotongnya[3], dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan
Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya[4]". Barangsiapa yang
menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya
ia menderita kerugian yang nyata.
2. Hadist Rasulullah saw,.
a. Hadits Nabi riwayat Bukhari dan enam ahli hadits lainnya dari Ibnu
Masud.

Artinya: Allah mengutuk para wanita tukang tato, yang meminta
di tato, yang menghilangkan bulu muka, yang meminta dihilangkan bulu

3
mukanya, dan para wanita yang memotong (panggur) giginya, yang
semuanya itu dikerjakan dengan maksud untuk kecantikandengan
mengubah ciptaan Allah swt.
Hadits ini bisa menunjukkan bahwa seorang pria atau wanita yang
normal jenis kelaminnya dilarang oleh Islam mengubah jenis kelaminnya,
karena mengubah ciptaan Allah tanpa alasan yang hak yang dibenarkan
oleh Islam.
b. Hadits riwayat Bukhari.

Artinya : Rasulullah telah melaknat orang-orang laki-laki
yang meniru-niru ( menyerupai ) perempuan dan perempuan yang
meniru-niru ( menyerupai ) laki-laki ( HR Bukhari ). Berkata Imam
Qurtubi : Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ahli Fiqh
dari Hijaz dan Ahli Fikih dari Kufah bahwa mengebiri keturunan
Adam hukumnya haram dan tidak boleh, karena termasuk dalam
katagori menyiksa. ( Tafsir Qurtubi : 5 / 391 ). Kalau mengebiri saja
tidak boleh, yaitu perbuatan untuk memandulkan alat kelamin, apalagi
merubah dan menggantikannya, tentunya sangat diharamkan.
Akan tetapi, seminar tinjauan syariat islam tentang operasi
ganti kelamin oleh PWNU Jawa Timur, tanggal 24-26 Muharram 1410
H / 26-28 Agustus 1989 M. Telah mengupas persoalan ini sampai
mendalam, sebagai berikut :
1. Seorang laki-laki atau perempuan yang normal, dalam arti alat
kelamin luar dan dalamnya tidak ada kelaian, lalu karena sesuatu
hal dia minta dioperasi agar kelamin luarnya diubah menjadi
jenis kelamin yang berbeda atau berlawanan dengan jenis
kelaminnya yang dalam. Bagaimanakah hukumnya?

Hukumnya adalah haram, sebab termasuk mengubah


ciptaan dari Allah dan mengecoh orang lain . Dasar pengambilan
hukum:

4
a. Imam Qurthubi dalam tafsirnya juz III, halaman 1963
mengatakan sebagai berikut :
Abu Jafar al-Thabari berkata, hadits riwayat Ibnu
Masud adalah sebagai dalil tentang ketidakbolehan
mengubah apapun yang telah diciptakan oleh Allah swt., baik
menambah atau mengurangi ... Imam Iyadh berkata, bahwa
orang yang diciptakan dengan jari-jari berlebih atau anggota
tubuh yang berlebih atau anggota tubuh yang berlebih, maka
ia tidak boleh memotongnya atau mencabutnya, karena yang
demikian itu berati merubah ciptaan Allah swt. Kecuali jika
kelebihan itu menyakitkan, maka boleh menurut iman Abu
jafar dan yang lainya.
b. Dalam Tafsir al-Munir juz I, halaman 174 dinyatakan sebagai
berikut :
Dan syetan berkata ketika itu. Saya akan benar-benar
mengambil dari hamba-Mu bagian yang sudah
ditentukan(al-Nisa:118) yakni, saya (syetan) benar-benar
akan menjadikan dari hamba-hamba-Mu sebagai bagian yang
telah dientukan untuk saya. Mereka adalah yang telah
mengikuti langkah-langkah iblis dan menerima bisikan-
bisikannya....dan pasti saya akan menyuruh mereka untuk
melakukan perubahan, maka mereka pun pasti akan
mengubah ciptaan Allah swt, baik bentuk apapun, sifat,
seperti mengebiri hamba sahaya, mencungkil mata, memotong
telinga, membuat tato dan memakai wieg. Sesungguhnya
wanita dengan melakukan perbuatan yang demikian itu berarti
telah mendekatkan diri pada perzinaan. Orang-orang arab, jika
unta mereka telah mencapai seribu, mereka akan membuat
cacat mata penjantannya.
Termasuk dalam pengertian (larangan) ayat ini adalah,
mengganti kelamin dirinya secara mutlak; laki-laki menjadi
wanita dan wanita menjadikan dirinya sebagai laki-laki. Para

5
Fuqaha memberikan dispensasi pengebirian itu pada hewan
untuk keperluan tertentu, maka diperbolehkan pada binatang
kecil yang boleh dimakan dan haram pada selainnya.
2. Seorang laki-laki atau perempuan yang kelamin dalamnya
normal, tetapi kelamin luarnya tidak normal, misalnya: kelamin
luar berlawanan dengan kelamin dalam, lalu dioperasi untuk
disamakan dengan kelamin dalam. Bagaimana hukum nya?
Hukumnya adalah mubah atau boleh apabila ada adat
syariyyah atau hajat yang sangat penting. Dasar pengambilan
hukumn:
a. Dalam kitab Fathul Baari, juz X, halaman 377 disebutkan:
Imam al-Thabari berkata, wanita itu tidak
diperbolehkan mengubah sesuatu dari bentuk dirinya yang
telah diciptakan oleh allah swt, baik dengan menambahkan atau
dengan mengurangi dengan tujuan mempercantik diri dan
bukan untuk suami..... semua itu termasuk dalam larangan,
yakni mengubah ciptaan allah swt terkecuali hal-hal yang dapat
menyebabkan kesakitan dan bahaya, seperti seseorang yang
mempunyai gigi atau jari lebih sehingga menyakitinya.[8]
3. Seseorang (laki-laki atau perempuan) yang kelamin dalamnya
normal, tetapi kelamin luarnya tidak normal, misalnya: kelamin
luarnya sama atau cocok dengan kelamin dalamnya, tetapi
bentuknya tidak sempurna, lalu diopersi untuk disempurnakan.
Bagaimana hukumnya?

Hukumnya boleh, bahkan lebih utama. Dasar


pengambilan hukum
a. Dalam tafsir al qurthubi juz III halaman 1963 disebutkan:

6
:

( ) .
Imam iyadh berpendapat, berdasarkan penjelasan
diatas, maka orang yang diciptakan (oleh allah) dengan jari-jari
berlebih atau anggota tubuh yang berlebih, ia tidak boleh
memotongnya, ataupun mencabutnya, karena yang demikian
itu berarti mengubah ciptaan allah swt, namun jika anggota
yang lebih itu menyakitkan, maka menurut abu jafar dan yang
lainnya boleh mencabutnya.
b. Kitab Fathul Baari, juz X, halaman 272.
Diriwayatkan dari Utsman bin Jarir dari Manshur dari
Ibrahim dari alqamah dari Abdillah, bahwa Allah swt,.
Melaknat wanita-wanita yang membuat tato dan yang meminta
untuk ditato, serta wanita-wanita yang mencukur atau
mencabut bulu (yang ada di wajah, seperti bulu mata dan alis),
dan wanita yang memangur gigi mereka untuk mempercantik
diri. Selanjutnya dikatakan, mengapa aku tidak melaknat
orang-orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah saw,.
Sedangkan dalam kitab Allah swt,. disebutkan bahwa apapun
yang datang dari Rasulullah saw,. Untuk kalian maka
laksanakan, dan yang dilarang olehnya terhadap kalian maka
tinggalkanlah.
Kalimat wanita-wanita yang memangur gigi mereka
untuk mempercantik diri memberikan pengertian, bahwa yang
tercela itu adalah wanita yang melakukan perbuatan tersebut
dengan tujuan untuk mempercantik diri. Sedangkan jika
memang karena kebutuhan yang mendesak, seperti untuk
pengobatan, maka hukumnya boleh.
4. Seseorang yang mempunyai kelamin luar dua jenis (laki-laki dan
perempuan) lalu dioperasi untuk mematikan salah satunya.
Bagaimana hukumnya?

7
Setelah ahlul khibrah (team ahli) melakukan penelitian
jenis kelaminnya dan telah menetukn jenis kelaminnya, maka:
a. Operasi mematikan alat kelamin luar yang berlawanan dengan
alat kelamin dalamnya, hukumnya boleh. Dasar hukumnya
sama dengan dasar hukum dari jawaban poin dua dan tiga.
b. Operasi untuk menghidupkan alat kelamin luar yang
berl;awanan alat kelamin dalamnya, maka hukumnya
haram; karena hal tersebut membawa bencana dan tidak
hajat dalam hal tersebut. Adapun status hukum dari
kekelaminannya sesuai dengan penetapan ahlul khibrah.
Dasar hukumnya sama dengan dasar hukum dari jawaban
poin satu di atas.
c. Pendapat para Ulama tentang Operasi Ganti Kelamin
1. Adapun operasi kelamin maka hukumnya haram secara syari
apabila hanya disandarkan pada keinginan pribadi tanpa adanya
suatu cacat pada sisi jasmani atau alat kelaminnya yang
membolehkan dilakukannya operasi tersebut. Dan operasi kelamin
yang telah banyak dilakukan dan tidak mengandung unsur cacat
secara medis, tetapi hanya dimaksudkan untuk mempercantik diri
dengan menampakkan suatu bentuk tertentu dari kecantikannya,
ataupun mengubah bentuk yang telah ditetapkan oleh Allah
atasnya maka hal ini tidak ada keraguan lagi tentang
keharamannya. Karena di dalamnya ada bentuk perusakan hukum
syari dan unsur penipuan serta membahayakan. (Dr. Yasir Shalih
M. Jamal, Kepala fakultas kedokteran bidang operasi anak RS.
Universitas Al-Malik Abdul Aziz).
2. Dibolehkannya operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin,
sesuai dengan keadaan anatomi bagian dalam kelamin orang yang
mempunyai kelainan kelamin atau kelamin ganda, juga merupakan
keputusan Nahdhatul Ulama PW Jawa Timur pada seminar
Tinjauan Syariat Islam tentang Operasi Ganti Kelamin pada
tanggal 26-28 Desember 1989 di Pondok Pesantren Nurul Jadid,
Probolinggo, Jawa Timur.

8
Sehingga jelaslah, jika operasi kelamin dilakukan hanya
karena kurang sreg dengan kepribadiannya, padahal Allah
Subhana Wa Taala telah mengaruniakannya kelamin yang jelas,
maka perbuatan ini diharamkan secara syari, dan hendaknya
pelakunya bertobat kepada Allah.

D. Konsekuensi Hukum Penggantian Kelamin.


Adapun konsekuensi hukum penggantian kelamin adalah sebagai berikut:
Apabila penggantian kelamin dilakukan oleh seseorang dengan
tujuan tabdil dan taghyir (mengubah-ubah ciptaan Allah), maka identitasnya
sama dengan sebelum operasi dan tidak berubah dari segi hukum. Menurut
Mahmud Syaltut, dari segi waris seorang wanita yang melakukan operasi
penggantian kelamin menjadi pria tidak akan menerima bagian warisan pria
(dua kali bagian wanita) demikian juga sebaliknya.
Sementara operasi kelamin yang dilakukan pada seorang yang
mengalami kelainan kelamin (misalnya berkelamin ganda) dengan tujuan
tashih atau takmil (perbaikan atau penyempurnaan) dan sesuai dengan hukum
akan membuat identitas dan status hukum orang tersebut menjadi jelas.
Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu bahwa
jika selama ini penentuan hukum waris bagi orang yang berkelamin ganda
(khuntsa) didasarkan atas indikasi atau kecenderungan sifat dan tingkah
lakunya, maka setelah perbaikan kelamin menjadi pria atau wanita, hak waris
dan status hukumnya menjadi lebih tegas. Dan menurutnya perbaikan dan
penyempurnaan alat kelamin bagi khuntsa musykil sangat dianjurkan demi
kejelasan status hukumnya.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Operasi ganti kelamin (taghyir al-jins) adalah operasi pembedahan untuk
mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau
sebaliknya.
2. Pada opersi penggantian kelamin, dzakar dan scrotum (buah dzakar atau
buah pelir) serta tesis (tempat produksi sperma) dibuang. Sedangkan kulit
scrotan digunakan untuk menutup liang vagina (faraj) ; dan untuk
pembuatan clitoris (klentit), diambil dari sebagian dzakar yang telah
terbuang tadi.
3. Hukum dari melakukan operasi penggantian kelamin (Sex Reassignment
Surgery) bagi orang yang lahir normal jenis kelaminnya adalah haram.
4. Adapun operasi kelamin maka hukumnya haram secara syari apabila
hanya disandarkan pada keinginan pribadi tanpa adanya suatu cacat pada
sisi jasmani atau alat kelaminnya yang membolehkan dilakukannya
operasi tersebut.
5. Menurut Mahmud Syaltut, dari segi waris seorang wanita yang
melakukan operasi penggantian kelamin menjadi pria tidak akan
menerima bagian warisan pria (dua kali bagian wanita) demikian juga
sebaliknya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah. Jakarta: Kalam Mulia, 2005.


Aibak, Kutbuddin. Kajian Fiqh Kontemporer. Surabaya: eLKAF, 2006.
Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan
Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M) Terjmh :
H.M Djamaluddin Mirri, (Surabaya: Lajnah Talif Wa Nasyr (LTN) NU
Jawa Timur dan Khalista, 2007.
Maruf, Farid. Operasi Ganti
Kelamin,http://konsultasi.wordpress.com/2010/01/05/operasi-ganti-
kelamin/ 05 januari 2010 diakses pada tanggal 23 November 2016.
Zain An-Najah, Ahmad. Hukum Operasi
Kelaminhttp://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=11677 diakses
pada tanggal 22 september 2016.
Azhar , Tengku. Operasi Ganti Kelamin : Dalam Tinjauan Fiqh Islam (Bagian
Pertama), http://majalah.baitulmalfkam.com/?p=323 10 maret 2010 diakses
pada tanggal 24 November 2016.
Budi Utomo, Setiawan . Fenomena Transgender dan Hukum Operasi
Kelaminhttp://www.dakwatuna.com/2009/08/3427/fenomena-transgender-
dan-hukum-operasi-kelamin/ diakses pada tanggal 22 september 2016.

11
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian........................................................................................ 2
B. Proses Operasi Ganti Kelamin dan Efeknya...............................................2
C. Hukum Operasi Ganti Kelamin..............................................................3
D. Konsekuensi Hukum Penggantian Kelamin...............................................9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA

12
KATA PENGANTAR
ii

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Transeksual.
Adapun Makalah Transeksual ini telah penulis usahakan dapat disusun
dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga
penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. untuk itu penulis
tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Transeksual ini bermanfaat, dan
pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman, Januari 2017

Penulis

13
i

14