Anda di halaman 1dari 14

KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah dan Pembangunan

Kelompok 8

Anggota :

INTAN PERMATA SARI 1410532043

DELVI AGITYA 1410532044

PRAMUDIA YOLANDA 1410532045

PRATIWI DAMAYANTI 1410532046

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan kasih-Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah penulis terima, serta petunjuk-
Nya sehingga memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyusun makalah ini.

Didalam makalah ini penulis selaku penyusun hanya bisa memberikan sebatas ilmu yang
dirangkum kedalam topik Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah
dan Pembangunan. Dimana didalam topik ini ada beberapa hal yang penting untuk dipahami
dan dianalisa oleh masyarakat luas, terutama untuk pemerintah daerah.

Penulis menyadari bahwa ada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang


analisa keuangan negara dan daerah yang digunakan pada makalah ini, oleh karena itu masih
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Tak ada gading
yang tak retak, maka penulis menerima semua kritikan dan saran demi kesempurnaan
penulisan.

Harapan penulis, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita semua,
terutama masyarakat Sumatera Barat. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang terkait didalam pembuatan makalah ini.

Padang, 27 Agustus 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN ...................................................................................................

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................


1.1.1 Sentralisasi .........................................................................................................
1.1.2 Desentralisasi .....................................................................................................
1.1.3 Pengelolaan Pra Otonomi Daerah ......................................................................
1.1.4 Ruang Lingkup dan Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah ..
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ........................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN......................................................................................................

BAB III : PENUTUPAN .......................................................................................................

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................

3.2 Saran ................................................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Pemerintah Indonesia melakukan perubahan dalam peraturan perundang-undangan


dalam mengatur kewenangan daerahnya. Dimana pemerintah membuat perubahan dari
sentralisasi menjadi desentralisasi yang disebut otonomi daerah. Sentralisasi hanya
memusatkan kekuasaan pada daerah pusat yang menyebabkan adanya ketimpangan
perekonomian antara pemerintah pusat dan daerah. Dengan adanya otonomi daerah
pemerintah pusat memberikan wewenang penuh kepada pemerintah daerah untuk mengatur
pemerintahnnya dan daerahnya sendiri. Dengan adanya otonomi daerah tidak ada lagi
pembangunan yang terpusat, seluruh daerah dapat melakukan pembangunan dan
mengembangkan daerahnya sendiri. Otonomi daerah membuat keuangan dan pembangunan
daerah meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik.

Otonomi daerah memiliki banyak dampak positif, namun di samping itu otonomi
daerah belum terlaksana dengan baik. Oleh karenanya, penulis ingin membahas dampak yang
ditimbulkan dari otonomi daerah baik dari segi positif maupun segi negatif.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang
akan dibahas dalam makalah ini adalah :

1. Apakah dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuangan daerah dan


pembangunan ?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Agar bisa menjelaskan perbedaan desentralisasi dan sentralisasi
2. Agar bisa memahami pengaruh sentralisasi dan desentralisasi terhadap
pengelolaan keuangan negara dan daerah.

Adapun manfaatnya adalah :


1. Bagi penulisa, agar dapat memperdalam ilmu dan pemahaman penulis mengenai
dampak otonomi daerah terhadap pengelolaan keuangan daerah dan
pembangunan.
2. Bagi pembaca, agar bisa menambah wawasan pembaca mengenai otonomi daerah.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sentralisasi

Sentralisasi adalah pengaturan kewenangan dari pemerintah daerah kepada


pemerintah pusat untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa dan
aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia (Wikipedia).
Sentralisasi adalah penyerahan kekuasaan serta wewenang pemerintahan sepenuhnya kepada
pemerintah pusat. Pemerintah pusat dimaksud adalah Presiden dan Dewan Kabinet.
Kewenangan yang dimaksud adalah kewenangan politik dan kewenangan administrasi.
Kewenangan politik adalah kewenangan membuat dan memutuskan kebijakan sedangkan
kewenangan administrasi adalah kewenangan melaksanakan kebijakan.

2.2 Desentralisasi

Desentralisasi (otonomi daerah) adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah


pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri
berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik
Indonesia (Wikipedia)

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU


Pemda) menjelaskan pengertian desentralisasi yang terdapat pada Pasal 1 angka 7 yang
menyebutkan bahwa Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Soejipto, Pengertian Desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan


pemerintah kepada pihak lain untuk dilaksanakan. Soejito juga mengatakan bahwa
desentralisasi sebagai suatu sistem yang dipakai dalam bidang pemerintahan merupakan
kebalikan dari sentralisasi.

2.3 Pengelolaan Pra Otonomi Daerah

Pada masa sebelum 1998, kekuasaan pemerintah pusat Negara Republik Indonesia
sangat sentralistik dan semua daerah di republik ini menjadi perpanjangan tangan kekuasaan
Jakarta (Pemerintah pusat). Dengan kata lain, rezim orde baru mewujudka kekuasaan
sentripetal, yakni berat sebelah memihak pusat bukan pinggiran (daerah).

Daerah yang kaya akan sumber daya alam di tarik keuntungan produksinya dan di
bagi-bagi di antara elit Jakarta, alih-alih di investasikan untuk pembangunan daerah.
Akibatnya, pembangunan antara daerah dengan Jakarta menjadi timpang. B.J. Habibie yang
menggantikan Soeharto sebagai presiden pasca orde baru membuat kebijakan untuk
mengubah hubungan kekuasaan pusat dan daerah dengan menerbitkan UU Nomor 5 tahun
1999 tentang pelaksanaan otonomi daerah. Untuk menanggulangi adanya keinginan provinsi
memisahkan diri dari republik seperti Aceh, Riau, dan Papua menuntut merdeka dan ingin
berpisah dari republik Indonesia juga bermunculan aspirasi dari berbagai daerah yang
menginginkan dilakukannya pemekaran provinsi atau kabupaten. Dengan terbitnya Undang-
Undang ini, daerah tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada Jakarta dan tidak lagi mau
didikte pusat.

2.4 Ruang Lingkup dan Asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah

Ruang Lingkup Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah


Pasal 2 UU 17/2003 1. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan
uang, dan melakukan pinjaman; 2. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan
umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga; 3. Penerimaan Negara; 4.
Pengeluaran Negara; 5. Penerimaan Daerah; 6. Pengeluaran Daerah; 7. kekayaan
negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat
berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk
kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah; 8. kekayaan pihak
lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan
dan/atau kepentingan umum; 9. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan
fasilitas yang diberikan pemerintah.
Asas dan Prinsip Pengelolaan Keuangan Negara

Terwujudnya Good Pengelolaan Keuangan


Governance dalam Negara
Penyelenggaraan diselenggarakan secara
Negara :

Profesional
Sesuai Pasal
Terbuka
23C UUD
1945 Bertanggung

Asas-asas Baru (best practises) :

Akuntabilitas berorientasi Asas-Asas Umum


hasil Pengelolaan
Profesionalitas Keuangan Negara
Proporsionalitas
Keterbukaan dalam PKN
Pemeriksaan keuangan oleh
BP yang bebas & mandiri
Asas-asas yng
telah lama
dikenal :

Tahunan
Universalit
as
Kesatuan

BAB III
PEMBAHASAN

1.1 Dampak Otonomi Daerah terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah dan


Pembangunan
1.1.1 Pengertian Otonomi Daerah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Pengertian Otonomi Daerah menurut F. Sugeng Istianto, adalah:

Hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah

Pengertian Otonomi Daerah menurut Ateng Syarifuddin, adalah:

Otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan


melainkan kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian
kesempatan yang harus dapat dipertanggungjawabkan

Pengertian otonomi daerah menurut Benyamin Hoesein, adalah

Pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara
informal berada di luar pemerintah pusat

1.1.2 Perangkat Pelaksana Otonomi Daerah


Menurut UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 19 bahwa penyelenggara pemerintahan daerah
yaitu pemerintah daerah dan DPRD. DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintah daerah. Berdasarkan Pasal 1 UU No. 32 Tahun 2004,
pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.

1.1.3 Otonomi Daerah Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah

Dengan adanya otonomi daerah diharapkan daerah dapat meningkatkan efisiensi,


efektivitas, dan akuntabilitas sektor publik di Indonesia. Dengan otonomi, daerah dituntut
untuk mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan sendiri. Maka dampak yang
ditimbulkan dari otonomi darah ini terhadap pengelolaan keuangan daerah adalah:

1. Peranan pihak swasta dan perusahaan milik daerah sangat diharapkan sebagai pemacu
utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah (enginee of growth).
2. Daerah lebih mudah menarik investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
3. Masyarakat daerah dapat untuk mengelola sumber daya alam yang dimiliki di masing-
masing daerah, dengan demikian apabila sumber daya alam yang dimiliki telah dikelola
secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat

Pelaksaan otonomi daerah Indonesia mengandung dampak yang positif terhadap


pengelolaan keuangan seperti daerah memiliki wewenang sendiri untuk mengatur keuangan
daerahnya, jika diperlukan keuangan di dalam daerah untuk menangani masalah infrastruktur
pemerintah dapat dengan cepat menanganinya karena pemerintah daerah memiliki uang
untuk daerahnya sendiri tanpa harus menunggu pemerintah pusat. Juga melalui otonomi,
daerah di beri kebebasan untuk mengatur dan mengelola sumber daya daerahnya sendiri
sebaik-baiknya, apabila pemerintah daerah dapat mengelola keuangannya sendiri dengan baik
maka daerah tersebut dapat meningkatkan pendapatannya. Dengan meningkatnya pendapatan
daerah maka kesejahteraan daerah akan meningkat juga. Jika setiap daerah di Indonesia dapat
meningkatkan pendapatannya maka akan berimbas pada meningkat pendapatan nasisoal dan
meningkatkan kesejahteraan penduduk. Jika pendapatan daerah mengalami kenaikan, maka
penerimaan pajak daerah juga akan meningkat. Hal ini berimbas pada meningkatnya
pemasukan daerah.

1.1.4 Dampak Otonomi Daerah terhadap Pembangunan

Otonomi daerah dapat meningkatkan pembangunan di daerah karena dengan adanya


otonomi daerah pemerintahan daerah dapat mengelola infrastruktur daerahnya masing-
masing tanpa adanya campur tangan pusat, sehingga pembangunan akan meningkat di derah.
Berikut adalah dampak positif otonomi daerah terhadap pebangunan :

1. Pemerintah daerah akan dengan mudah melakukan pembangunan sendiri seperti


membangun fasilitas-fasilitas umum yang sangat dibutuhkan masyarakt daerah untuk
memudahkan nya dalam beraktifitas karena, daerah lebih tau apa yang dibutuhkan oleh
masyarakatnya sedniri dibandingkan dengan pemerintahan pusat.
2. Sumber daya yang dimiliki oleh daerah dapat dikelola oleh pemerintah daerah sendiri
tanpa adanya campur tangan pusat sehingga akan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
3. Pemerintah daerah akan lebih mudah untuk mengembangkan budaya serta
mengenalkan tempat pariwisata yang dimilikinya ke masyarakt luas.
4. Dana yang didapatkan dari pemerintahan pusat oleh daerah lebih besar sehingga dapat
meningkatkan pembangunan di daerah.
5. Seluruh penduduk daerah dapat berkontribusi langsung dalam melakukan
pembangunan daerah yang merata.

Otonomi daerah tidak hanya memiliki dampak positif terhadap pembangunan daerah
karena ada juga dampak negatif dari otonomi daerah dimana ada kontra mengenai otonomi
daerah ini. Berikut dampak negatif otonomi daerah terhadap pembangunan:

1. Tidak semua daerah memiliki sumber daya yang banyak dan melimpah sehingga bagi
daerah yang memiliki sumber daya yang minim maka itu akan merugikan daerah nya
dalam pembangunan, karena tidak banyak sumber daya yang dapat ia kelola dengan
keterbatasan sumber daya yang ia miliki tersebut.
2. Daerah yang memiliki pendapatan sedikit maka akan sulit untuk melakukan
pembangunan yang signifikan.
3. Banyak nya terjadi penyelewengan dana oleh pemerintah karena tidak adanya kontrol
terhadap anggaran yang diberikan.
4. Dapat terjadi kesenjangan sosial karena kewenangan yang diberikan pemerintah pusat
terkadang bukan pada tempatnya.

3.1.5 Fakta tentang Otonomi Daerah

Tujuan utama dari dibentuknya peraturan pemerintahan mengenai otonomi daerah


adalah demi kesejahteraan masyarakat indonesia, terutama agar tidak terjadi lagi
ketimpangan yang sangat mencolok antara daerah pusat dengan daerah-daerah lain yang ada
di Indonesia. Namun sayangnya, tujuan utama ini bukanlah menjadi prioritas bagi sebagian
besar pemerintahan daerah, karna faktanya kesejahteraan di Indonesia masih sangat rendah.

Otonomi daerah memberikan memberikan kebebasan bagi daerah untuk menyusun


dan mengatur keuangannya sendiri, hal ini banyak disalah gunakan oleh pemerintah daerah.
Otonomi daerah seolah-olah menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk meniru
tindakan pemerintah pusat pada masa pra otonomi daerah, yaitu korupsi, sehingga kerugian
negara bahkan mencapai triliunan rupiah hanya pada rentang waktu 10 tahun terakhir.
Faktor lain yang memicu ketidak efektifan otonomi daerah adalah pemilihan kepala
daerah, secara logika pemilihan umum tingkat daerah membutuhkan dana yang sangat besar
yang tidak akan mungkin bisa tertupi hanya dengan gaji kepala daerah dengan kisaran Rp
10.000.000 per bulan. Oleh karena itulah cara satu-satunya untuk menutupi biaya yang telah
dikeluarkan untuk pemilu itu adalah dengan cara korupsi.

BAB III

PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN
Pelaksanaan otonomi daerah dalam pembangunan dan keuangan sudah berjalan
dengan baik. Akan tetapi dalam praktiknya otonomi daerah masih belum sepenuhnya
terealisasi karena masih adanya ketimpangan pembangunan dan pendapatan daerah di pulau
Jawa dan luar pulau Jawa serta otonomi derah tidak sepenuhnya dapat mengurangi praktek
KKN. Akan tetapi dengan adanya otonomi daerah tingkat pembangunan daerah dan tingkat
pendapatan daerah meningkat secar garis besar otonomi daerah dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat Indonesia.

3.2 SARAN

Agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang oleh pemerintah daerah, pemerintah


pusat harus memantau perkembangan daerah agar pembangunan dapat berjalan dengan
maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Adi PH. 2006. Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Jurnal Kritis.
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
Kuncoro, Mudrajad 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan,
Strategi, dan Peluang. Yogyakarta: Erlangga

https://id.wikipedia.org/

https://inspirasitabloid.wordpress.com/2010/03/19/pengelolaan-keuangan-di-era-otonomi-
daerah/

http://www.kompasiana.com/akbaranwari/pengaruh-otonomi-daerah-dalam-perekonomian-
daerah_54f74b08a33311e32b8b4585

http://merinaastuti.blogspot.co.id/2013/09/mengetahui-dampak-positif-dan-
negatif.html
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/147-artikel-anggaran-dan-
perbendaharaan/20088-azas-azas-good-governance-dalam-pengelolaan-
keuangan-negara