Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH TOKSIKOLOGI

NARKOTIKA GOLONGAN 1

Disusun oleh : Kelompok 6

1. Agus Sholeh
2. Franciska Gledy Ambarita
3. Puji Nawang Sari
4. Rida Meiliana
5. Putri Agustin Arpa

Dosen Pembimbing : Rosnita Sebayang, SKM, M.Kes

UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS PALEMBANG


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
DIV ANALIS KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2017-2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang Narkotika
Golongan I. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bimbingan dari berbagai pihak,
makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Sehingga dalam kesempatan ini
perkenankan penyusun mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dosen mata kuliah Toksikologi Rosnita Sebayang, SKM., M.Kes
2. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan makalah ini.
Makalah ini dibuat untuk menambah pengetahuan mahasiswa/i tentang
Narkotika Golongan I. Adapun makalah ini harus digunakan sebaik-baiknya oleh
mahasiswa/i. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun dari para pembaca.
Akhir kata menulis mohon maaf jika kesalahan dalam bentuk apapun
berkaitan dengan makalah ini.

Palembang, 10 Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................................. 1

B. Perumusan Masalah ..................................................................................................... 3

C. Tujuan ......................................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Narkotika.................................................................................................... 4

B. Zat - zat kategori Narkotika Golongan I ...................................................................... 5

C. Pengertian Penyalahgunaan Narkotika ........................................................................ 7

D. Tahapan Pemakaian Narkotika ................................................................................... 8

E. Faktor Resiko Penyalahgunaan Narkotika ................................................................... 9

F. Dampak Penyalahgunaan Narkotika .......................................................................... 11

G. Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika .................................................................... 13

H. Jenis - jenis Terapi dan Rehabilitasi .......................................................................... 14

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ....................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 18

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya
(narkoba) di Indonesia beberapa tahun terakhir ini menjadi masalah serius
dan telah mencapai masalah keadaan yang memperihatinkan sehingga
menjadi masalah nasional. Korban penyalahgunaan narkoba telah meluas
sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, jenis
kelamin. Merambah tidak hanya perkotaan tetapi merambah sampai
pedesaan dan melampaui batas negara yang akibatnya sangat merugikan
perorangan, masyarakat, negara, khususnya generasi muda. Bahkan dapat
menimbulkan bahaya lebih besar lagi bagi kehidupan dan nilai-nilai
budaya bangsa yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional.
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah sampai pada titik yang
menghawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Narkotika
Nasional, jumlah kasus narkoba meningkat dari sebanyak 3. 478 kasus
pada tahun 2000 menjadi 8.401 pada tahun 2004, atau meningkat 28,9%
pertahun. Jumlah angka tindak kejahatan narkoba pun meningkat dari
4.955 pada tahun 2000 menjadi 11.315 kasus pada tahun 2004. data baru
sampai juni 2005 saja menunjukkan kasus 2 itu meningkat tajam.1
Sekarang ini terdapat sekitar 3,2 juta pengguna narkoba di Indonesia,
secara Nasional dari total 111.000 tahanan, 30% karena kasus narkoba,
perkara narkoba telah menembus batas gender, kelas ekonomi bahkan
usia.2 Maraknya peredaran narkotika di masyarakat dan besarnya dampak
buruk serta kerugian baik kerugian ekonomi maupun kerugian sosial yang
ditimbulkannya membuka kesadaran berbagai kalangan untuk
menggerakkan perang terhadap narkotika dan obat-obatan terlarang
lainnya (narkoba). Di bidang hukum, tahun 1997 pemerintah
mengeluarkan 2 (dua) UndangUndang yang mengatur tentang narkoba,
yaitu Undangundang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan

1
Undangundang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Kedua
undang-undang tersebut memberikan ancaman hukuman yang cukup berat
baik bagi produsen, pengedar, maupun pemakainya. Lahirnya kedua
undangundang tersebut, terjadi kriminalisasi terhadap penyalahguna
narkoba. Ketentuan pidana pada Undangundang Psikotropika diatur
dalam Pasal 59 sampai dengan Pasal 64, sedangkan pada UndangUndang
Narkotika diatur dalam Pasal 78 sampai dengan Pasal 99. Pengelompokan
kejahatan pada Undangundang Narkotika dan Psikotropika pada dasarnya
tidak berbeda, yaitu kejahatan yang menyangkut produksi, peredaran,
penguasaan, penggunaan, dan kejahatan lain misalnya menyangkut
pengobatan dan rehabilitasi, label dan iklan, transito, pelaporan kejahatan,
dan pemusnahan. Baik Undangundang Psikotropika maupun Undang
undang Narkotika mengamanatkan kewajiban untuk menjalani perawatan
dan pengobatan atau rehabilitasi bagi pecandu narkoba. Ketentuan
mengenai kewajiban untuk menjalani rehabilitasi bagi pengguna yang
mengalami kecanduan, dalam Undang-Undang Psiktropika diatur dalam
Pasal 36 sampai dengan Pasal 39 dan pada Undangundang Narkotika
diatur dalam Pasal 45. Adanya kriminalisasi terhadap pengguna (terutama
pemakai) narkotika dan adanya mandat bagi diberikannya tindakan
rehabilitasi kepada pecandunya, maka Lapas menjadi institusi negara yang
memainkan peran yang sangat penting dalam kebijakan penanganan
narkotika. Ia digunakan untuk menghukum dan juga menjaga
sejumlah besar orang yang memiliki pengalaman memakai dan bermasalah
dengan narkotika. Ia juga memiliki peran penting dalam upaya
mengurangi dampak buruk yang disebabkan oleh (pemakaian) narkotika.
Pemakai atau pecandu narkotika dalam perspektif hukum merupakan
seorang pelaku pidana. Namun bila dicermati dengan lebih seksama,
banyak kalangan berpendapat bahwa sebenarnya mereka merupakan
korban dari sindikat atau mata rantai peredaran dan perdagangan
narkotika, psikotropika dan obat terlarang. Pecandu 4 merupakan pangsa
pasar utama sebagai pelanggan tetap. Secara psikologis, mereka sulit

2
melepaskan diri dari ketergantungan, walaupun mungkin, sebenarnya
mereka ingin lepas dari jeratan narkotika yang membelitnya. Pecandu
memerlukan penanganan yang berbeda dalam proses pemidanannya.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka penghukumannya pun perlu
dilakukan tersendiri, dengan pola penanganan, pembinaan, dan perlakuan
yang berbeda pula. Di sinilah peran Lapas menjadi vital dalam upaya
membantu pecandu keluar dari jerat ketergantungan. Dengan demikian,
Lapas selain berfungsi sebagai penjaga ketertiban umum, juga
menjalankan fungsi rehabilitasi.

B. Perumusan Masalah
A. Apa pengertian Narkotika ?
B. Apa saja zat-zat kategori Narkotika Golongan 1?
C. Apa pengertian penyalahgunaan Narkotika ?
D. Bagaimana Tahapan Pemakaian Narkotika ?
E. Apa saja Faktor Risiko Penyalahgunaan Narkotika ?
F. Apa saja Dampak Penyalahgunaan Narkotika ?
G. Bagaimana Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika ?
H. Apa saja jenis - jenis Terapi dan Rehabilitasi ?

C. Tujuan
A. Mengetahui pengertian Narkotika
B. Mengetahui zat-zat kategori Narkotika Golongan 1
C. Mengetahui pengertian penyalahgunaan Narkotika
D. Mengetahui Tahapan Pemakaian Narkotika
E. Mengetahui Faktor Risiko Penyalahgunaan Narkotika
F. Mengetahui Dampak Penyalahgunaan Narkotika
G. Mengetahui Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika
H. Mengetahui jenis - jenis Terapi dan Rehabilitasi

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Narkotika
Narkotika menurut UU ketentuan pasal 6 ayat (1) adalah zat
atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan (Undang-Undang No. 35 tahun 2009). Cara kerjanya
mempengaruhi susunan syaraf yang dapat membuat orang yang
memakai nya tidak merasakan apa-apa, bahkan bila bagian tubuh
disakiti sekalipun.
Efek narkotika disamping membius dan menurunkan kesadaran,
adalah mengakibatkan daya khayal atau halusinasi (ganja), serta
menimbulkan daya rangsang atau stimulant (cocaine). Narkotika
tersebut dapat menimbulkan ketergantungan (depence). Narkotika
yang dibuat dari alam yang di kenal adalah candu (opium), ganja dan
cocaine.
Golongan - golongan narkotika yang dimaksud dalam UU narkotika
ketentuan pasal 6 ayat (1) terdapat 3 golongan, yaitu:
a. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat
digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat
tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Antara lain: Tanaman koka, tanaman ganja, opium, MDMA,
Amfetamina,selanjutnya ada 65 Jenis (Lampiran I UU Narkotika).
b. Narkotika Golongan II adalah Narkotika berkhasiat pengobatan
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam
terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Antara lain: Morfina, Bezitramida, Alfaprodina, selanjutnya ada 86
Jenis (Lampiran I UU Narkotika).

4
c. Narkotika Golongan III adalah Narkotika berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan.

B. Zat-zat kategori Narkotika Golongan 1


a. Heroin
Heroin adalah jenis narkotika yang sangat keras dengan zat adiktif
yang cukup tinggi dan bentuk yang beragam, seperti butiran, tepung,
atau pun cair. Zat imi sifatnya memperdaya penggunanya dengan cepat
baik secara fisik ataupun mental. Bagi mereka yang telah kecanduan,
usaha untuk menghentikan pemakaiannya dapat menimbulkan rasa
sakit disertai kejang-kejang, kram perut dan muntah-muntah, keluar
ingus, mata berair, kehilangan nafsu makan, serta dapat kehilangan
cairan tubuh (dehidrasi). Salah satu jenis heroin yang banyak disalah
gunakan dalam masyarakat adalah putauw.
b . Ganja
Ganja verasal dari tumbuhan yang bernama Marijuana. Ganja
mengandung zat kimia yang dapat mempengaruhi perasaan,
penglihatan dan pendengaran.
Dampak penyalahgunaan diantaranya hilangnya konsentrasi,
meningkatnya denyut jantung, gelisah, panik, depresi, serta sering
berhalusinasi. Para pengguna ganja biasanya melakukan
penyalahgunaan ganja dengan cara dihisap seperti halnya tembakau
pada rokok.
c . Ekstasi
Ekstasi termasuk jenis zat psikotropika yang diproduksi secara
illegal dalam bentuk tablet ataupun kapsul. Jenis obat ini mampu
mendorong penggunanya berenergi secara lebih bahkan di luar
kewajarannya.
Hal ini menyebabkan pengguna berkeringat secara berlebih juga.

5
Akibatnya, pengguna akan selalu merasa haus dan bahkan dehidrasi.
Dampak yang ditimbulkan dari pengguna ekstasi, di antaranya diare,
rasa haus yang berlebihan, hiperaktif, sakit kepala, menggigil, detak
jantung tidak teratur, dan hilangnya nafsu makan.
d . Shabu-Shabu
Shabu-shabu berbentuk kristal kecil yang tidak berbau dan tidak
berwarna. Jenis zat ini menimbulkan dampak negatif yang sangat kuat
bagi penggunanya, khususnya di bagian saraf.
Dampak yang ditimbulkan dari pengguna shabu-shabu di antaranya
penurunan berat badan secara berlebihan, impotensi, sariawan akut,
halusinasi, kerusakan ginjal, jantung, dan hati, stroke, bahkan dapat
diakhiri dengan kematian. Para pecandu biasanya mengonsumsi shabu-
shabu dengan menggunakan alat yang dikenal dengan sebutan bong.
e. Amphetamin
Amphetamin merupakan jenis obat-obatan yang mampu
mendorong dan memiliki dampak perangsang yang kuat pada jaringan
saraf. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan obat ini, di
antaranya penurunan berat badan yang drastis, gelisah, kenaikan
tekanan darah dan denyut jantung, paranoid, mudah lelah dan pingsan,
serta penggunanya sering bertindak kasar dan berperilaku aneh.
f. Inhalen
Inhalen merupakan salah satu bentuk tindakan menyimpang
dengan cara menghirup uap lem, thinner, cat, atau sejenisnya.
Tindakan ini sering dilakukan oleh anak-anak jalanan yang lazim
disebut dengan ngelem. Penyalahgunaan inhalen dapat memengaruhi
perkembangan otot-otot sarat, kerusakan paru-paru dan hati, serta
gagal jantung.

6
C. Penyalahgunaan Narkotika
Penyalahgunaan Narkotika adalah penggunaan Narkotika yang
bersifat patologis, paling sedikit telah berlangsung satu bulan lamanya
sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan dan fungsi sosial.
Sebetulnya Narkotika banyak dipakai untuk kepentingan pengobatan,
misalnya menenangkan klien atau mengurangi rasa sakit. Tetapi
karena efeknya enak bagi pemakai, maka Narkotika kemudian
dipakai secara salah, yaitu bukan untuk pengobatan tetapi untuk
mendapatkan rasa nikmat. Penyalahgunaan Narkotika secara tetap ini
menyebabkan pengguna merasa ketergantungan pada obat tersebut
sehingga menyebabkan kerusakan fisik ( Sumiati, 2009). Menurut
Pasal 1 UU RI No.35 Tahun 2009 Ketergantungan adalah kondisi yang
ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika secara terus-
menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang
sama dan apabila penggunaannya dikurangi atau dihentikan secara
tiba-tiba, menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas
Ketergantungan terhadap Narkotika dibagi menjadi 2, yaitu (Sumiati,
2009):
a. Ketergantungan fisik adalah keadaan bila seseorang mengurangi
atau menghentikan penggunaan Narkotika tertentu yang biasa ia
gunakan, ia akan mengalami gejala putus zat. Selain ditandai dengan
gejala putus zat, ketergantungan fisik juga dapat ditandai dengan
adanya toleransi.
b. Ketergantungan psikologis adalah suatu keadaan bila berhenti
menggunakan Narkotika tertentu, seseorang akan mengalami
kerinduan yang sangat kuat untuk menggunakan Narkotika tersebut
walaupun ia tidak mengalami gejala fisik.

7
D. Tahapan Pemakaian Narkotika
Ada beberapa tahapan pemakaian Narkotika yaitu sebagai berikut :
1. Tahap pemakaian coba-coba (eksperimental) Karena pengaruh
kelompok sebaya sangat besar, remaja ingin tahu atau coba-coba.
Biasanya mencoba mengisap rokok, ganja, atau minum-minuman
beralkohol. Jarang yang langsung mencoba memakai putaw atau
minum pil ekstasi.
2. Tahap pemakaian sosial Tahap pemakaian Narkotika untuk
pergaulan (saat berkumpul atau pada acara tertentu), ingin diakui atau
diterima kelompoknya. Mula-mula Narkotika diperoleh secara gratis
atau dibeli dengan murah. Ia belum secara aktif mencari Narkotika.
3. Tahap pemakaian situasional Tahap pemakaian karena situasi
tertentu, misalnya kesepian atau stres. Pemakaian Narkotika sebagai
cara mengatasi masalah. Pada tahap ini pemakai berusaha memperoleh
Narkotika secara aktif.
4. Tahap habituasi (kebiasaan) Tahap ini untuk yang telah mencapai
tahap pemakaian teratur (sering), disebut juga penyalahgunaan
Narkotika, terjadi perubahan pada faal tubuh dan gaya hidup. Teman
lama berganti dengan teman pecandu. Ia menjadi sensitif, mudah
tersinggung, pemarah, dan sulit tidur atau berkonsentrasi, sebab
narkoba mulai menjadi bagian dari kehidupannya. Minat dan cita-
citanya semula hilang. Ia sering membolos dan prestasi sekolahnya
merosot. Ia lebih suka menyendiri dari pada berkumpul bersama
keluarga.
5. Tahap ketergantungan Ia berusaha agar selalu memperoleh
Narkotika dengan berbagai cara. Berbohong, menipu, atau mencuri
menjadi kebiasaannya. Ia sudah tidak dapat mengendalikan
penggunaannya. Narkotika telah menjadi pusat kehidupannya.
Hubungan dengan keluarga dan teman-teman rusak. Pada
ketergantungan, tubuh memerlukan sejumlah takaran zat yang dipakai,
agar ia dapat berfungsi normal. Selama pasokan Narkotika cukup, ia

8
tampak sehat, meskipun sebenarnya sakit. Akan tetapi, jika
pemakaiannya dikurangi atau dihentikan, timbul gejala sakit. Hal ini
disebut gejala putus zat (sakaw). Gejalanya bergantung pada jenis zat
yang digunakan. Orang pun mencoba mencampur berbagai jenis
Narkotika agar dapat merasakan pengaruh zat yang diinginkan, dengan
risiko meningkatnya kerusakan organ-organ tubuh. Gejala lain
ketergantungan adalah toleransi, suatu keadaan di mana jumlah
Narkotika yang dikonsumsi tidak lagi cukup untuk menghasilkan
pengaruh yang sama seperti yang dialami sebelumnya. Oleh karena itu,
jumlah yang diperlukan meningkat. Jika jumlah Narkotika yang
dipakai berlebihan (overdosis), dapat terjadi kematian (Harlina, 2008).

E. Faktor Risiko Penyalahgunaan Narkotika


Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko yang menyebabkan
penyalahgunaan Narkotika antara lain faktor genetik, lingkungan
keluarga, pergaulan (teman sebaya), dan karakteristik individu.
1. Faktor Genetik Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian
bahwa remaja dari orang tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4
kali sebagai peminum alkohol dibandingkan remaja dari orang tua
angkat alkoholik. Penelitian lain membuktikan remaja kembar
monozigot mempunyai risiko alkoholik lebih besar dibandingkan
remaja kembar dizigot.
2. Lingkungan Keluarga Pola asuh dalam keluarga sangat besar
pengaruhnya terhadap penyalahgunaan Narkotika. Pola asuh orang tua
yang demokratis dan terbuka mempunyai risiko penyalahgunaan
Narkotika lebih rendah dibandingkan dengan pola asuh orang tua
dengan disiplin yang ketat. Fakta berbicara bahwa tidak semua
keluarga mampu menciptakan kebahagiaan bagi semua anggotanya.
Banyak keluarga mengalami problem-problem tertentu. Salah satunya
ketidakharmonisan hubungan keluarga. Banyak keluarga berantakan
yang ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya

9
komunikasi antara mereka. Ketidakharmonisan yang terus berlanjut
sering berakibat perceraian. Kalau pun keluarga ini tetap
dipertahankan, maka yang ada sebetulnya adalah sebuah rumah tangga
yang tidak akrab dimana anggota keluarga tidak merasa betah.
Orangtua sering minggat dari rumah atau pergi pagi dan pulang hingga
larut malam. Ke mana anak harus berpaling? Kebanyakan diantara
penyalahguna Narkotika mempunyai hubungan yang biasa-biasa saja
dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan waktu luang dan
bercanda dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).
3. Pergaulan (Teman Sebaya) Di dalam mekanisme terjadinya
penyalahgunaan Narkotika, teman kelompok sebaya (per group)
mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau mencetuskan
penyalahgunaan Narkotika pada diri seseorang. Menurut Hawari
(2006) perkenalan pertama dengan Narkotika justru datangnya dari
teman kelompok. Pengaruh teman kelompok ini dapat menciptakan
keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar
melepaskan diri. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat
perkenalan pertama dengan Narkotika, melainkan juga menyebabkan
seseorang tetap menyalahgunakan Narkotika, dan yang menyebabkan
kekambuhan (relapse).
Bila hubungan orangtua dan anak tidak baik, maka anak akan terlepas
ikatan psikologisnya dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh
dalam pengaruh teman kelompok. Berbagai cara teman kelompok ini
memengaruhi si anak, misalnya dengan cara membujuk, ditawari
bahkan sampai dijebak dan seterusnya sehingga anak turut
menyalahgunakan Narkotika dan sukar melepaskan diri dari teman
kelompoknya. Marlatt dan Gordon (1980) dalam penelitiannya
terhadap para penyalahguna Narkotika yang kambuh, menyatakan
bahwa mereka kembali kambuh karena ditawari oleh teman-temannya
yang masih menggunakan Narkotika (mereka kembali bertemu dan

10
bergaul). Kondisi pergaulan sosial dalam lingkungan yang seperti ini
merupakan kondisi yang dapat menimbulkan kekambuhan.
4. Karakteristik Individu
a. Umur Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna Narkotika
adalah mereka yang termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara
kejiwaan masih sangat labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan
sedang mencari identitas diri serta senang memasuki kehidupan
kelompok.
b. Pendidikan Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian
yang menyatakan apakah pendidikan mempunyai risiko
penyalahgunaan Narkotika. Akan tetapi, pendidikan ada kaitannya
dengan cara berfikir, kepemimpinan, pola asuh, komunikasi, serta
pengambilan keputusan dalam keluarga. Hasil penelitian
Prasetyaningsih (2003) menunjukkan bahwa pendidikan penyalahguna
Narkotika sebagian besar termasuk kategori tingkat pendidikan dasar
(50,7%). Asumsi umum bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin
mempunyai wawasan atau pengalaman yang luas dan cara berpikir
serta bertindak yang lebih baik. Pendidikan yang rendah memengaruhi
tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting tentang
Narkotika dan segala dampak negatif yang dapat ditimbulkannya,
karena pendidikan rendah berakibat sulit untuk berkembang menerima
informasi baru serta mempunyai pola pikir yang sempit.

F. Dampak Penyalahgunaan Narkotika


1. Terhadap kondisi fisik
a. Akibat zat itu sendiri Termasuk di sini gangguan mental organik
akibat zat, misalnya intoksikasi yaitu suatu perubahan mental yang
terjadi karena dosis berlebih yang memang diharapkan oleh
pemakaiannya. Sebaliknya bila pemakaiannya terputus akan terjadi
kondisi putus zat. Contohnya :

11
Ganja : pemakaian lama menurunkan daya tahan sehingga
mudah terserang infeksi. Ganja juga memperburuk aliran darah
koroner.
Kokain : bisa terjadi aritmia jantung, ulkus atau perforasi sekat
hidung, jangka panjang terjadi anemia dan turunnya berat
badan.
Alkohol : menimbulkan banyak komplikasi, misalnya :
gangguan lambung, kanker usus, gangguan hati, gangguan pada
otot jantung dan saraf, gangguan metabolisme, cacat janin dan
gangguan seksual.
b. Akibat bahan campuran atau pelarut : bahaya yang mungkin
timbul : infeksi, emboli.
c. Akibat cara pakai atau alat yang tidak steril akan terjadi infeksi,
berjangkitnya AIDS atau hepatitis.
d. Akibat pertolongan yang keliru misalnya dalam keadaan tidak
sadar diberi minum.
e. Akibat tidak langsung misalnya terjadi stroke pada pemakaian
alkohol atau malnutrisi karena gangguan absorbsi pada pemakaian
alkohol.
f. Akibat cara hidup pasien terjadi kurang gizi, penyakit kulit,
kerusakan gigi dan penyakit kelamin.
2. Terhadap kehidupan mental emosional Intoksikasi alkohol atau
sedatif-hipnotik menimbulkan perubahan pada kehidupan mental
emosional yang bermanifestasi pada gangguan perilaku tidak
wajar. Pemakaian ganja yang berat dan lama menimbulkan
sindrom amotivasional. Putus obat golongan amfetamin dapat
menimbulkan depresi sampai bunuh diri.
3. Terhadap kehidupan sosial gangguan mental emosional pada
penyalahgunaan obat akan mengganggu fungsinya sebagai anggota
masyarakat, bekerja atau sekolah. Pada umumnya prestasi akan
menurun, lalu dipecat atau dikeluarkan yang berakibat makin

12
kuatnya dorongan untuk menyalahgunakan obat. Dalam posisi
demikian hubungan anggota keluarga dan kawan dekat pada
umumnya terganggu. Pemakaian yang lama akan menimbulkan
toleransi, kebutuhan akan zat bertambah. Akibat selanjutnya akan
memungkinkan terjadinya tindak kriminal, keretakan rumah tangga
sampai perceraian. Semua pelanggaran, baik norma sosial maupun
hukumnya terjadi karena kebutuhan akan zat yang mendesak dan
pada keadaan intoksikasi yang bersangkutan bersifat agresif dan
impulsif (Alatas, dkk, 2006).

G. Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika


Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, meliputi (BNN, 2004) :
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer atau pencegahan dini yang ditujukan kepada
mereka, individu, keluarga, kelompok atau komunitas yang
memiliki risiko tinggi terhadap penyalahgunaan Narkotika, untuk
melakukan intervensi agar individu, kelompok, dan masyarakat
waspada serta memiliki ketahanan agar tidak menggunakan
Narkotika. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia
dini, agar faktor yang dapat menghambat proses tumbuh kembang
anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada kelompok atau komunitas
yang sudah menyalahgunakan Narkotika. Dilakukan pengobatan
agar mereka tidak menggunakan Narkotika lagi.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah pernah
menjadi penyalahguna Narkotika dan telah mengikuti program
terapi dan rehabilitasi untuk menjaga agar tidak kambuh lagi.
Sedangkan pencegahan terhadap penyalahguna Narkotika yang
kambuh kembali adalah dengan melakukan pendampingan yang

13
dapat membantunya untuk mengatasi masalah perilaku adiksinya,
detoksifikasi, maupun dengan melakukan rehabilitasi kembali.

H. Terapi dan Rehabilitasi


1. Terapi
Terapi pengobatan bagi klien Narkotika misalnya dengan
detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau
menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi Klien ketergantungan putau
(heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gejala
putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat
tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat
tersebut berhenti sendiri.
b. Detoksifikasi dengan Substitusi Putau atau heroin dapat
disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein,
bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-
hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas, misalnya
diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan
dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama
pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang
menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa
nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang
ditimbulkan akibat putus zat tersebut (Purba, 2008).
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya memulihkan dan mengembalikan kondisi
para mantan penyalahguna Narkotika kembali sehat dalam arti
sehat fisik, psikologik, sosial, dan spiritual. Dengan kondisi sehat
tersebut diharapkan mereka akan mampu kembali berfungsi secara
wajar dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut Hawari (2006)
jenis-jenis rehabilitasi antara lain :
a. Rehabilitasi Medik

14
Dengan rehabilitasi medik ini dimaksudkan agar mantan
penyalahguna Narkotika benar-benar sehat secara fisik.
Termasuk dalam program rehabilitasi medik ini ialah
memulihkan kondisi fisik yang lemah, tidak cukup diberikan
gizi makanan yang bernilai tinggi, tetapi juga kegiatan olahraga
yang teratur disesuaikan dengan kemampuan masing-masing
yang bersangkutan.
b. Rehabilitasi Psikiatrik
Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi
yang semula bersikap dan bertindak antisosial dapat
dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan baik
dengan sesama rekannya maupun personil yang membimbing
atau mengasuhnya. Termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah
psikoterapi atau konsultasi keluarga yang dapat dianggap
sebagai rehabilitasi keluarga terutama bagi keluarga-keluarga
broken home. Konsultasi keluarga ini penting dilakukan agar
keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian anaknya
yang terlibat penyalahgunaan Narkotika, bagaimana cara
menyikapinya bila kelak ia telah kembali ke rumah dan upaya
pencegahan agar tidak kambuh.
c. Rehabilitasi Psikososial
Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan agar peserta
rehabilitasi dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam
lingkungan sosialnya, yaitu di rumah, di sekolah atau kampus
dan di tempat kerja. Program ini merupakan persiapan untuk
kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali
dengan pendidikan dan keterampilan misalnya berbagai kursus
ataupun balai latihan kerja yang dapat diadakan di pusat
rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila mereka telah
selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan
kembali ke sekolah atau kuliah atau bekerja.

15
d. Rehabilitasi Psikoreligius
Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan penting. Unsur
agama dalam rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna
Narkotika mempunyai arti penting dalam mencapai
penyembuhan. Unsur agama yang mereka terima akan
memulihkan dam memperkuat rasa percaya diri, harapan dan
keimanan. Pendalaman, penghayatan dan pengamalan
keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan kekuatan
kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan
risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam
penyalahgunaan Narkotika.

16
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Golongan - golongan narkotika yang dimaksud dalam UU narkotika
ketentuan pasal 6 ayat (1) terdapat 3 golongan, yaitu:
a. Narkotika Golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan
ketergantungan.
Antara lain: Tanaman koka, tanaman ganja, opium, MDMA,
Amfetamina,selanjutnya ada 65 Jenis (Lampiran I UU Narkotika).
b. Narkotika Golongan II adalah Narkotika berkhasiat pengobatan
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi
dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Antara lain: Morfina, Bezitramida, Alfaprodina, selanjutnya ada 86
Jenis (Lampiran I UU Narkotika).
c. Narkotika Golongan III adalah Narkotika berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan.

17
DAFTAR PUSTAKA
Priyanto. 2010. Toksikologi Mekanisme, Terapi Antridotum dan Penilaian
Risiko. Jakarta Barat. Leskonfi.
Darmono. 2005. Toksikologi Alkohol dan Narkoba. Jakarta. Universitas
Indonesia.
Mandagi Jeanne. 1996. Penanggulangan Bahaya Narkotika dan
Psikotropika. Jakarta. Pramuka Saka Bhayangkara.

18
19