Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agama adalah kata majemuk bahasa sanksekerta yang terdiri dari dua
perkataan.A dan gama. A artinya tidak, gama artinya kocar-kacir. Tidak kacau atau
tidak berantakan jadi kata agama itu teratur, tenang, tentram dan beres. Para imam
madzhad, kecuali safi’i dan syi’ah ja’fariyah, memandang kata ‘isqath’ (gugur)
sama dengan ‘ijhadh’ (aborsi). Dengan demikian, maka ‘isqath’ adalah wanita
yang menggugurkan janinnya sebelum masa hamilnya sempurna, baik janinnya
gugur dalam keadaaan mati atau hidup tapi kemudian mati, beberapa fisik bayi
telah jelas, dan prosesnya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan atau cara-
cara lainnya.Transplantasi adalah perpindahan sebagian atau seluruh jaringan atau
organ dari satu individu lainnya baik yang sama maupun berbeda spesies. Saat ini
yang lazim yang dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan suatu jaringan atau
organ antar manusia bukan antara hewan ke manusia, sehingga menimbulkan
pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ
dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya.Kloning adalah pembiakkan dengan teknik
membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya. Istilah
kloning atau klonasi berasal dari kalo clone (bahasa greek) atau klona, yang secara
harfiah berarti potongan/pangkasan tanaman. Transfusi darah itu tidak membawa
akibat hukum adanya kemahraman sudah ditentukan oleh islam sebagaimana
tersebut di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 23.Artinya: “Diharamkan atas
kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu
yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-suadara
ibumu yang perempuan, anak-anak.

1
B. Rumusan Masalah
1. pengertian aborsi menurut ajaran dan pandangan agama terhadap kehidupan
manusia?
2. pengertian tranplantasi organ menurut ajaran dan pandangan agama terhadap
kehidupan manusia?
3. pengertian kloning menurut ajaran dan pandangan agama terhadap kehidupan
manusia?
4. pengertian insenminasi menurut ajaran dan pandangan terhadap kehidupan
manusia?

C. Tujuan
1. untuk mengetahui tentang aborsi menurut ajaran dan pandangan terhadap
kehidupan manusia
2. untuk mengetahui tentang tranplatansi organ menurut ajaran dan pandangan
agama terhadap kehidupan manusia
3. untuk mengetahui tentang kloning menurut ajaran dan pandangan agama
terhadap kehidupan manusia
4. untuk mengetahui tentang insenminasi menurut ajaran dan pandangan
agamaterhadap kehidupan manusia

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

I. ABORSI
A. Hukum Aborsi

Al-hafidz ibnu raja berkata: “Beberapa ulama fiqih memberikan


arukhshah (dispensasi) kepada wanita yang menggugurkan kandungannya
selama janinnya belum bernyawa dengan cara ‘azl. Pendapat ini dhalif (lemah),
karena janin adalah anak yang terikat dan jika Allah berkehendak, maka ikatan
itu dapat terlepas dengan cara azl. Ketika Rasulullah ditanya tentang hukum
‘azl, Nabi menjawab: “Tak ada larangan kalian ber-‘azl. Tidak ada satu jiwa
pun yang bernafas melaikan Allah-lah penciptanya”. Para ulama menjelaskan
bahwa jika anak telah menjadi ‘alaqah (embrio), maka ibu tidak boleh
menggugurkannya, sebab anak itu telah terikat. Lain halnya jika masih berupa
nuthfah (sperma) yang terikat dan terkadang tidak menjadi anak“.

Berdasarkan uraian Al-Hafidz di atas, maka hukum aborsi terbagi atas:

a. Jika janin masih berupa nutfah (belum berusia 40 hari di fase pertama),
boleh digugurkan.
b. Jika janin telah jelas berbentuk manusia, maka tidak boleh digugurkan
sekalipun belum ditiupkan ruh.
c. Jika janin itu telah bernyawa, maka haram digugurkan dan tidak ada
perbedaan pendapat dalam hal ini.

3
B. Aborsi Menurut Para Fuqaha
Para imam madzhad, kecuali safi’i dan syi’ah ja’fariyah, memandang kata
‘isqath’ (gugur) sama dengan ‘ijhadh’ (aborsi). Dengan demikian, maka
‘isqath’ adalah wanita yang menggugurkan janinnya sebelum masa hamilnya
sempurna, baik janinnya gugur dalam keadaaan mati atau hidup tapi kemudian
mati, beberapa fisik bayi telah jelas, dan prosesnya dilakukan dengan
penggunaan obat-obatan atau cara-cara lainnya.

C. Aborsi dalam Pandangan Agama ; apakah pelakunya berdosa?


a. Fiqih madzhab hanafiyah berpendapat:
Boleh menggugurkan kandungan, sekalipun tanpa seiizin suami,
sebelum lewat 4 bulan. Maksudnya, sebelum ruh di tiupkan pada janin.
Boleh disini, bukan berarti halal, tapi makruh.
Apakakah aborsi diperbolehkan setelah hamil? Ya, boleh selama
kandungannya belum membentuk fisik manusia (setelah berusia 120 hari).
Maksudnya, sebelum ditiupkan ruh ke janin. Salah satu pendapat madzhab
hanafiyah menghukumi aborsi dengan makruh, sekalipun janin belum
berbentuk fisik bayi, sebab air sperma yang telah bersemayam di janin
berkesempatan untuk hidup sehingga ia dihukumi hidup sebagaimana telur
binatang buruan di tanah haram dan lainnya

b. Fiqih madzhab maliki berpendapat:


Tidak boleh mengeluarkan air mani yang telah masuk ke dalam
rahim, walaupun belum berusia 40 hari. Jika aborsi dilakukan setelah
ditiupkan ruh ke dalam janin hukumnya jelas haram secara ijma.

4
c. Fiqih madzhab syafi’i berpendapat:
Para ulama madzhab syafi’iyah berbeda pendapat soal penyebab
pengguguran kandungan yang belum ditiupkan ruh (belum berusia 120
hari), dan hukum aborsi mengarah kepada haram.

d. Fiqih madzhab ahmad bin hanbal berpendapat:


Seorang wanita boleh mengeluarkan sperma sebelum berusia 40 hari
dengan obat-obatan yang mubah. Dengan pendapat ini, berarti aborsi
dengan meminum obat-obatan yang mubah, hukumnya mubah.

e. Fiqih madzhab adh-dhahiry berpendapat:


Sesungguhnya seseorang yang memukul perut wanita hamil, lalu
janinnya keguguran, jika janin itu belum berusia 4 bulan maka itu belum
terkena kafarat, tapi wajib membayar diyat/denda berupa pembebasan
ghurah (budak laki-laki atau wanita) sebagaimana ketetapan Rasulullah
SAW.

f. Zaidiyah, syiah imamiyah dan ibadhiyah:


Selanjutnya, tentang pendapat-pendapat dari madzhab zaidiyah,
syiah imamiyah dan ibadhiyah, mengenai kajian aborsi terhapat janin yang
belum bernyawa ada 4 pendapat, yaitu:
1. Mutlak diperbolehkan (mubah) tanpa memandang adanya udzur.
2. Aborsi janin belum bernyawa, hukumnya boleh dalam (mubah) asal
ada udzur. Jika tidak ada udzur, hukumnya makruh.
3. Mutlak dimakruhkan untuk aborsi janin yang belum bernyawa.
4. Haram dan ini pendapat terkuat dikalangan madzhab malikiyah.
Sedangkan menurut madzhab adh-dhahairiyah, mereka sepakat, baik
aborsi dan azl terhadap janin belum bernyawa hukumnya haram.

5
D. Hukum Aborsi terhadap Janin Bernyawa dan Hukumnya Secara Syar’i
Pendapat para ulama fiqih madzhab, semuanya menunjukkan bahwa janin
yang telah bernyawa lalu digugurkan oleh ibunya tanpa udzur, hukumnya
haram. Apabila wanita itu menggugurkan janinnya dan keluar dalam keadaan
mati setelah sebelumnya bernyawa, maka ia wajib membebaskan ghurrah
(budak laki-laki atau perempuan). Hukum ini juga diberlakukan pada kasus
pengguguran janin yang dilakukan orang lain dimana janinnya terlahir mati,
padahal sebelumnya bernyawa. Sekalipun, orang lain tersebut adalah bapak dari
si janin, ia tetap dikenai denda dengan membebaskan ghurrah. Beberapa ulama
mengatakan, hukumnya ditambah dengan kafarat. Kesimpulannya, kasus aborsi
janin yang bernyawa adalah dosa dan termasuk tindakan kriminal (jarimah),
sebab pelakunya jelas-jelas membunuh manusia yang bernyawa. Untuk
menebus dosanya, ia dikenai balasan yang bersifat agamis dengan membayar
kafarat. Sedangkan tindakan jarimah-nya ia dikenai diyat berupa pembebasan
ghurrah.

E. Aborsi Ketika Darurat


Apabila ada keadaan darurat yang mengharuskan aborsi (pengguguran
janin), seperti wanita yang kesulitan dalam melahirkan dan para dokter
memandang bahwa jika wanita itu tetap mengandung janin dapat
membahayakan kondisi ibunya, maka dalam situasi seperti ini diperbolehkan
melakukan aborsi. Bahkan, bila mengancam jiwa sang ibu, aborsi wajib
dilakukan, sesuai dengan kaidah fiqih: ”irtikab akhaffu adh-dhararain wa
ahwan asy-syarrain” (boleh melanggar salah satu yang paling bahaya dan
paling ringan kesalahannya). Dalam hal ini, pilihannya antara kematian janin
dan kematian ibunya, maka keselamatan ibu lebih diutamakan, sebab pada
asalnya, ibu itu telah hidup dan kehidupannya bebas tak terikat dengan
kehidupan lain. Karenya, hak dan kewajiban harus tetap diberikan kepada ibu.

6
Tidak boleh mengorban ibu demi kehidupan janin yang pada dasarnya masih
terikat.

F. Hereditas, Sterilisasi dan Aborsi


Apabila pandangan agama dan ilmu pengetahuan telah menetapkan
adanya penyakit dan cacat fisik yang merupakan faktor genetik yang dapat
menular dari ushul ( orangtua ) ke furu ‘(anak turun), maka timbul beberapa
pertanyaan berikut:
1) Bolehkan tindakan sterilisasi dijadikan solusi akhir, agar orangtua dapat
memilih bibit keturunan yang baik, terutama pada calon anaknya telah
diketahui terjangkit penyakit yang tidak bisa disembuhkan?
2) Bolehkah melakukan aborsi-menggugurkan kandungan-jika diketahui
pada janin adanya penyakit atau cacat berbahaya yang tidak sesuai dengan
kehidupan normal?

3) Bolehkah melakukan aborsi terhadap janin, jika adanya cacat masih


memungkinkan si janin dapat hidup seperti biasa pasca kelahirannya
nanti?

4) Bolehkah melakukan aborsi, jika cacat pada janin masih bisa diobati
secara medis? Atau tidak bisa diobati secara langsung? Lalu, bagaimana
dengan cacat yang diwariskan ibu atau ayah kepada janin laki-laki saja
atau janin perempuan saja, apakah boleh membiarkan janinnya sehat
menetap didalam rahim,sementara janin yang sakit segera diaborsi?

Untuk menjawab permasalahan diatas, ketika kita kembali kepada


tuhan dan sunnah, kita tidak menemukan teks yang secara khusus
menjelaskan keharaman sterilisasi janin. Yaitu, mengubah manusia ( laki-
laki atau wanita) yang tidak layak hidup sehat dan normal dengan cara

7
dioperasi atau dengan cara lain. Akan tetapi, teks-teks yang membahas
sterilisasi
Lebih menganggapnya sebagi perbuatan haram. Jumhur ulama
berpendapat, bahwa sterilisasi manusia, menurut syariat, hukumnya
haram, jika tidak ada darurat dalam kurung ( udzur). Sebab, sterilisasi
dapat merusak keturunan. Dan, itu artinya dapat merusak nasab, padahal
nasab merupakan salah satu dari 5 hal yang harus dijaga dan dilindungi.

G. Kapan boleh dilakukan sterilisasi bagaimana caranya?


Apabila ada problem darurat ( udzur) yang mengharuskan untuk
sterilisasi (memandulkan) kandungan, seperti : adanya sakit jiwa, cacat fisik,
penyakit akut yang tidak mungkin dioperasi atau diobati. Sementara itu, zat-zat
dikeluarkan pada anak-anak melalui genetik ( faktor keturunan) maka, dalam
kasus ini, ‘ sterilisasi sementara’ diperbolehkan bagi wanita, melalui tindakan
medis untuk mencegah bahaya diatas. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara
meminum obat atau cara medis lainnya untuk merusak vaksin atau untuk
menghilangkan gen jenis kelamin baik pada janin laki-laki maupun perempuan.
Yang dimaksud ‘sterilisasi sementara’ adalah steril yang bisa diangkat
kembali dan kandungan bisa terus bisa difungsikan setelah penyakit dapat
disembuhkan. Menurutnya, mulut rahim seorang wanita boleh ditutup untuk
mencegah masuknya sperma laki-laki agar mencegah terjadinya kehamilan
dengan syarat, harus seizin suaminya.

H. Aborsi Setelah Ruh Ditiupkan


Jika kandungan telah menetap pada rahim selama 120 hari atau 4 bulan,
maka baik al-qur’an maupun sunnah telah menjelaskan ia ‘ telah bernyawa’
diusia tersebut. Dengan demikian, ia telah menjadi manusia yang memiliki hak-
hak sebagai berikut:
1) Ia berhak menerima wasiat.

8
2) Ia berhak menerima wakaf.
3) Ia berhak menerima harta pusaka dari pewarisnya.
4) Nasabnya berhak ditetapkan kepada kedua orangtuanya dan silsilah lain
yang berhubungan dengan orangtuanya sesuai dengan ketentuan yang
jelas.

Selain itu, ada hak-hak lain yang perlu diperhatikan bagi bayi tersebut.
Bahwasanya jika janin itu telah bernyawa, berarti yang telah menjadi manusia
yang memiliki hak untuk hidup. Allah telah melarang membunuh jiwa dalam
berbagai ayat di al-Qur’an. Antara lain, “ ....dan janganlah kamu mebunuh jiwa
yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab)
yang benar”.(QS.Al-An-am:151,QS.Al-isra 33).

Kapanpun janin telah menjadi manusia dan memiliki jiwa (nyawa),maka


haram dibunuh.Dengan kata lain,janin juga haram diaborsi dengan cara apapun
yang menyebabkan ia gugur atau keluar dari dalam perut ibunya sebelum masa
perkembangannya dilalui secara sempurna.Kecuali,jika ada udzur (darurat)
yang membolehkan untuk diaborsi,seperti:apabila ada wanita yang kesulitan
menjalani persalinan,sementara itu para dokter telah memutuskan jika ibu tetap
dipertahankan hamil,maka akan membahayakan jiwa ibu.

II. TRANSPLANTASI ORGAN


A. Pengertian
Transplantasi adalah perpindahan sebagian atau seluruh jaringan atau
organ dari satu individu lainnya baik yang sama maupun berbeda spesies. Saat
ini yang lazim yang dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan suatu jaringan
atau organ antar manusia bukan antara hewan ke manusia, sehingga
menimbulkan pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau
sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya. Transplantasi ini

9
ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tidak berfungsi pada
penerima dengan orang lain yang masih berfungsi dari pendonor.
Organ atau jaringan yang akan dipindahkan dapat di ambil dari donor
yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana meninggal
sendiri didefinisikan kematian batang otak.
Organ yang dapat diambil dari donor hidup seperti kulit, ginjal, sumsum
tulang dan darah. Sedangkan organ yang dapat diambil dari jenazah adalah
jantung, hati, ginjal, kornea, pankreas, paru-paru dan sel otak.
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi
adalah:
1. Ekspantasi yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup
atau yang sudah meninggal.
2. Implantasi yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut
kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.

Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang


keberhasilan tindakan transplantasi, yaitu:

1. Adaptasi donasi yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang


hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan
psikis untuk hidup dengan kekurangan jaringan atau organ.
2. Adaptasi resepien yaitu usaha dan kemampuan dari penerima atau organ
tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan atau
organ tersebut, untuk berfungsi baik, menggantiyang sudah tidak dapat
berfungsi lagi.

10
B. Berbagai Pandangan Mengenai Transplantasi Organ
1. Hukum Transplantasi Organ Menurut Islam
a. Auto-transplantasi: Hukumnya boleh
Misalnya, kulit wajah yang terbakar “ditambal” dengan kulit dari
bagian paha atau penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah
jantung dengan mengambil pembuluh darah pada bagian kaki. Kasus ini
hukumnya boleh (mubah), dengan ketentuan: proses tersebut
manfaatnya lebih besar dari pada mudarat yang timbul, organ tubuhnya
ada yang hilang atau untuk mengembalikan ke bentuk asal dan
fungsinya, untuk menutupi cacat yang membuat si resipien terganggu
secara psikologis maupun fisiologis.
b. Homo-transplantasi dari manusia yang yang masih hidup dapat
mengakibatkan kematian bila organ vitalnya diambil hukumnya haram.
Misalnya, seseorang yang mendonorkan organ vitalnya seperti
jantung hati atau paru-parunya beresiko tinggi akan mengakibatkan
kematian diri si pendonor. Padahal seseorang dilarang membunuh
dirinya sendiri atau meminta dengan sukarela kepada orang lain untuk
membunuh dirinya. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kalian membunuh diri sendiri kalian.”
(QS. An-Nissa: 29)
Allah SWT berfirman pula:
“...dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”
(QS. Al An’aam: 151)
Imam muslim meriwayatkan dari Tsabit bin Adl Dlahaak RA yang
mengatakan bahwa.
Rasulullah SAW bersabda:

11
“...dan siapa saja yang membunuh sirinya sendiri dengan sesuatu
(alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang tersebut dengan
alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.”

c. Homo-transplantasi dari manusia yang maish hidup yang tidak


mengakibatkan kematian bila organ non-vitalnya diambil hukumnya
boleh.
Misalkan, seseorang disaat hidupnya menyumbangkan organ
tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan seperti tangan, kulit,
ginjal, kornea mata (organ yang ganda jumlahnya). Boleh dilakukan
dengan syarat:
 Tidak membahayakan kelangsungan hidup yang wajar bagi donatur
jaringan atau organ.
 Hal itu harus dilakukan oleh donatur dengan sukarela tanpa paksaan
dan organ tersebut tidak boleh diperjual belikan.
 Boleh dilakukan bila memang benar-benar transplantasi sebagai
alternatif peluang satu-satunya bagi penyembuhan penyakit pasien
dan benar-benar darurat.
 Boleh dilakukan bila peluang keberhasilan transplantasi tersebut
sangat besar.
 Hanya menyumbangkan satu bagian saja, bukan sepasang. Akan jadi
haram hukumnya jika menyumbangkan sepasang organ misalnya
sepasang kornea mata. Hal tersebut menyebabkan hilangnya fungsi
tubuh yang asasi ssecara total (kebutaan) meskipun tidak
membahayakan keselamatan jiwanya.

d. Homo-transplantasi dari manusia yang telah mati dengan mengambil


organ vitalnya hukumnya haram.

12
Setelah kematian, manusia tidak memiliki hak kepemilikan serta
kekuasaannya terhadap semua halbaik harta, tubuh maupun
pasangannya. Dengan demikian dia tidak lagi memiliki hak terhadap
tubuhnya. Maka ketika dia memberikan wasiat untuk mendonorkan
sebagian anggota tubuhnya, berarti dia telah mengatur sesuatu yang
bukan hakny. Jadi dia tidak lagi diperbolehkan untuk mendonorkan
tubuhnya. Dengan sendirinya wasiatnya dalam hal ini juga tidak sah.
Berbeda dengan wasiat harta yang hukumnya boleh, karena syara’
memberikan izin pada manusia tentang perkara tersebut. Dan itu
merupakan izin khusus pada harta, tentu tidak dapat diberlakukan
terhadap yang lain. Dengan demikian manusia tidak diperbolehkan
memberikan wasiat dengan mendonorkan sebagian anggota tubuhnya
setelah dia mati. Jadi ahli waris tidak boleh mewariskan jasad
keluarganya apalagi dokter atau penguasa, mereka sama sekali tidak
berhak untuk mentransplantasi organ yang setelah mati pada orang lain
yang membutuhkan.
Diriwayatkan dari A’isyah Ummul Mu’minim RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
“Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang
hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Jadi, melanggar kehormatan dan menganiaya mayat sama dengan
melanggar kehormatan dan menganiaya orang hidup. Perlakuan pada
mayat seperti membedah perutnya, memenggal lehernya, mencongkel
matanya, atau memecahkan tulangnya, sama saja tidak diperbolehkan
seperti menyakiti orang hidup dengan memcaci maki, memukul atau
melukainya. Hanya saja penganiayaan terhadap mayat tidak dikenakan
denda padanya sebagaimana denda pada penganiayaan orang hidup
hanya memerintahkan orang itu memasukkan potongan-potongan
tulang yang ada ke dalam tanah. Akan tetapi jelas jika melampaui batas

13
terhadap jasad si mayat atau menyakitinya dengan cara mengambil
anggota tubuhnya adalah haram. Hukum transplantasi itu lebih
mengedepankan kehormatan jenazah serta larangan menyakiti atau
merusaknya. Berdasarkan hal ini maka haram melakukan transplantasi
organ.

e. Homo-transplantasi dari manusia yang telah mati dengan mengambil


organ non-vitalnya hukumnya haram.
Transplantasi organ dari mayat yang kegagalannya tidak
menyebabkan kematian atau penyelamatan kehidupan tidak bergantung
pada transplantasi organ maka illat tidak ada. Dengan begitu hukum
darurat tidak berlaku disini. Contohnya yaitu transplantasi kornea, atau
pupil atau mata hukumnya adalah haram.

f. Homo-transplantasi dari manusia dengan reproduksi


Dalam kasus ini misalnya donor sepasang testis bagi pria atau
donor indung telur bagi perempuan. Mendonorkan sepasang atau hanya
satu bagian memang tidak akan menyebabkan kematian, namun
keduanya dilarang oleh Allah SWT. Karena akan mengakibatkan
kemandulan, tentu hal ini bertentangan denag perintah islam untuk
memelihara keturunan.

g. Hetero-transplantasi dari hewan tidak najis (halal) hukumnya boleh.


Contohnya adalah binatang ternak (sapi, kerbau, dan kambing).
Dalam hal ini tidak ada larangan bahkan diperbolehkan dan termasuk
dalam kategori obat yang diperintahkan Nabi untuk mencarinya bagi
yang sakit.

h. Hetero-transplantasi dari hewan najis (haram) hukumnya haram.

14
Contohnya adalah babi atau bangkai binatang dikarenakan mati
tanpa disembelih secara islami terlebih dahulu. Dalam kasus ini tidak
diperbolehkan (haram) kecuali dalam kondisi benar-benar gawat
darurat, dan tidak ada pilihan lain. Dalam hadis, “Berobatlah wahai
hamba-hamba Allah, namun janganlah berobat dengan barang haram.”
Dalam kaedah fiqh disebutkan “al-Dharurat Tubih al-Mhudaraat.”
(darurat membolehkan pemanfaatan hal yang haram) atau kaedah “al-
Dhararu Yuzaal” (Bahaya harus dihilangkan).

Dalam hal tipe pendonor organ paling tidak ada 3 tipe donor organ tubuh:
a. Donor dalam keadaan hidup sehat: tipe ini memerlukan seleksi yang
cermat dan pemeriksaan yang lengkap, baik terhadap donor maupun
resipien untuk menghindari kegagalan karena penolakan tubuh oleh
resipien dan untuk mencegah resiko bagi donor. Pada tipe donor ini
yang dimaksud adalah donor anggota tubuh bagi siapa saja memerlukan
pada saat si pendonor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya boleh
karena Allah SWT memperbolehkan memberikan pengampunan
terhadap qisash maupun diyat.
Allah SWT berfirman:
“Maka barang siapa yang mendapat pema’afan dari saudaranya,
hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik (pula).
Yang demikian itu adalah suatu keringan dari Tuhan kamu dan suatu
rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya
siksa yang sangat pedih.” (TQS al-Baqarah [2]: 178)

b. Donor dalam keadaan koma atau diduga akan meninggal dengan segera.
Untuk tipe ini pengambilan organ donor memerlukan alat kontrol
kehidupan misalnya alat bantu pernafasan khusus. Alat bantu akan
dicabut setelah pengambilan organ selesai. Hukum islampun tidak

15
membolehkan karena salah satu hadist mengatakan bahwa “Tidak boleh
membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan diri orang
lain.” (HR. Ibnu Majah). Yakni penjelasannya bahwa kita tidak boleh
membahayakan orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

c. Donor dalam keadaan mati. Tipe ini merupakan tipe yang ideal, sebab
secara medis tinggal menunggu penentuan kapan donor dianggap
meninggal secara medis dan yurudis. Menurut hukum islam yang
membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang membolehkan
menggantungkan pada syarat sebagai berikut:
1) Resipien (penerima organ) berada dalam keadaan darurat yang
mengancam dirinya setelah menempuh berbagai upaya pengobatan
yang lama.
2) Pencangkokan tidak akan menimbulkan akibat atau komplikasi yang
lebih gawat.
3) Telah disetujui oleh wali atau keluarga.

2. Pandangan Menurut Agama Kristen


Ajaran ini menggemakan Katekismus Gereja Katolik: “transplantasi
sesuai dengan hukum susila dan malahan dapat berjasa sekali, kalau bahaya
dan resiko fisik dan psikis, yang dipikul pemberi sesuai dengan kegunaan
yang diharapkan pada penerima” (No. 2296). Guna memahami ajaran ini
dengan lebih baik, marilah kita bergerak selangkah demi selangkah. Perlu
dicatat bahwa masalah ini pertama kali dibahas dengan jelas oleh Paus Pius
XII pada tahun 1950-an, dan kemudian disempurnakan sesuai dengan
kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai dalam bidang medis.
Pertama-tama, dibedakan antara transplantasi organ tubuh (termasuk
jaringan) dari seorang yang telah meninggal dunia ke seorang yang hidup,
versus transplantasi organ tubuh (termasuk jaringan) dari seorang yang

16
hidup ke seorang lainnya. Dalam kasus pertama, yaitu apabila donor organ
tubuh adalah seorang yang telah meninggal dunia, maka tidak timbul
masalah moral. Paus Pius XII mengajarkan, “seorang mungkin
berkehendak untuk mendonorkan tubuhnya dan memperuntukannya bagi
tujuan-tujuan yang berguna, yang secara moral tidak tercela dan bahkan
luhur, di antaranya adalah keinginan untuk menolong mereka yang sakit
dan menderita. Seorang dapat membuat keputusan akan hal ini dengan
hormat terhadap tubuhnya sendiri dan dengan sepenuhnya sadar akan
penghormatan yang pantas untuk tubuhnya, keputusan ini hendaknya tidak
dikutuk melainkan sungguh dibenarkan.” (Amanat kepada kelompok
Spesialis Mata, 14 Mei 1956).
Pada dasarnya, apabila organ-organ tubuh dari seorang yang telah
meninggal dunia, seperti ginjal, hati, kornea mata, dapat menolong
menyelamatkan atau memperbaiki hidup seorang lainnya yang masih
hidup, maka transplantasi yang demikian adalah baik secara moral dan
bahkan patut dipuji. Patut dicatat bahwa donor wajib memberikan
persetujuannya dengan bebas dan penuh kesadaran sebelum wafatnya, atau
keluarga terdekat wajib melakukannya pada saat kematiannya:
“Transplantasi organ tubuh tidak dapat diterima secara moral, kalau
pemberi atau yang bertanggung jawab untuk dia tidak memberikan
persetujuan dengan penuh kesadaran” (No. 2296).

3. Pandangan Menurut Agama Hindu


Berdasarkan prinsip-prinsip ajaran agama, dibenarkan dan dianjurkan
agar umat Hindu melakukan tindakan transplantasi organ tubuh sebagai
wujud nyata pelaksanaan kemanusiaan (manusia yajna). Tindakan
kemanusian ini dapat meringankan beban derita orang lain. Bahkan,
transplantasi organ tubuh ini tidak hanya dapat dilakukan pada organ yang
telah meninggal, melainkan juga dapat dilakukan pada orang yang masih

17
hidup, sepanjang ilmu kedokteran dapat melakukannya dengan tetap
mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan (Heri, 2008).
Menurut ajaran Hindu transplantasi organ tubuh dapat dibenarkan
dengan alasan, bahwa pengorbanan (yajna) kepada orang yang menderita,
agar dia bebas, dari penderita dan dapat menikmati kesehatan dan
kebahagiaan, jauh lebih penting, utama, mulia dan luhur, dari keutuhan
organ tubuh manusia yang telah meninggal. Tetapi sekali lagi, perbuatan
ini harus dilakukan diatas prinsip yajna yaitu pengorbanan tulus ikhlas
tanpa pamrih dan bukan dilakukan untuk maksud mendapatkan keuntungan
material. Alasan yang lebih bersifat logis dijumpai dalam kitab
Bhagawadgita II.22 sebagai berikut: “Wasamsi jirnani yatha wihaya
nawani grihnati naro’parani tatha sarirani wihaya jirnany anyani samyati
nawani dehi” Artinya: seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru
dan membuka pakaian lama, begitu pula Sang Roh menerima badan-badan
jasmani yang baru dengan meninggalkan badan-badan lama yang tiada
berguna. Oleh karena itu, ajaran Hindu tidak melarang umatnya untuk
melaksanakan transplantasi organ tubuh dengan dasar yajna (pengorbanan
tulus ikhlas dan tanpa pamrih) untuk kesejahteraan dan kebahagian sesama
umat manusia. Demikian pandangan agama Hindu terhadap transplantasi
organ tubuh sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ajaran Panca Yajna
terutama Manusa Yajna.

4. Pandangan Menurut Agama Buddha


Handojo Ojong (Ketua DPD Walubi Provinsi Jawa Barat),
transplantasi tidak dilarang, selama tujuannya untuk kesehatan dan
menyelamatkan nyawa manusia, yang tidak melanggar hukum agama, dan
diusahakan apa yang masuk dalam tubuh seseorang itu berasal dari
keturunan yang baik serta bukan barang curian.

18
5. Pandangan Menurut Agama Konghucu
Js. Andi Haryanto dan Oni Haryoni (Majelis Tinggi Agama Konghucu
(MATAKIN)), transplantasi menurut konghucu diperbolehkan dengan
tujuan menyelamatkan nyawa manusia dan memenuhi 5 unsur kebajikan.

C. Transplantasi Dalam Hukum di Indonesia


Transplantasi organ sebenarnya tidak dilarang asalkan sesuai dengan
peraturan dan hukum yang ada. Terdapat peraturan perundang-undangan di
Indonesia yang membahas mengenai legalitas dari transplantasi organ, seperti:
1. UU No 23/1992 tentang kesehatan dan PP 18/1981 mengenai bedah mayat
klinis dan bedah mayat anatomis serta transplantasi organ.
2. Pasal UU No 23/1992 mengenai transplantasi sebagai sarana pengobatan.
3. Pasal 33 ayat 2 UU No. 23/1992 transplantasi untuk tujuan kemanusiaan.
4. Pasal 34 ayat 1 UU No 23/1992 transplantasi yang hanya boleh dilakukan
tenaga kesehatan.
5. Pasal 11 ayat 1 PP 18/1981 mengenai tenaga dokter untuk transplantasi.
6. Pasal 15 ayat 1 PP 18/1981 persetujuan dari donor dan ahli waris.
7. Pasal 16 PP 18/1981 mengenai donor dilarang menerima imbalan material
dalam bentuk apapun dan lain-lain.

19
III. KLONING
A. Pengertian
Kloning adalah pembiakkan dengan teknik membuat keturunan dengan
kode genetik yang sama dengan induknya. Istilah kloning atau klonasi berasal
dari kalo clone (bahasa greek) atau klona, yang secara harfiah berarti
potongan/pangkasan tanaman. Dalam hal ini tanam-tanaman baru yang persis
sama dengan tanaman induk dihasilkan lewat penanaman potongan tanaman
yang diambil dari suatu pertemuan tanaman jantan dan betina.
Kloning terdahap manusia merupakan bentuk intervensi hasil rekayasa
manusia. Kloning adalah teknik memproduksi duplikat yang identik secara
genetis dari suatu organisme. Klon adalah keturunan aseksual dari individu
tunggal.
Kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama
dengan induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan,
maupun manusia.
Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik
yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian
diambil inti selnya (nukleusnya), dan kemudian di tanamkan pada sel telur
(ovum) wanita yang telah dihilangkan inti selnya dengan suatu metode yang
mirip dengan proses pembuahan atau inseminasi buatan. Dengan metode
semacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel
dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari
seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan kejutan
arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah proses penggabungan
ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut ditransfer ke
dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang,
berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan

20
yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami. Keturunan ini akan berkode
genetik sama dengan iduknya, yakni yang menjadi sumber inti sel tubuh yang
telah ditanamkan pada sel telur perempuan.

B. Proses Kloning
Proses kloning pada manusia sebenarnya tidak banyak memiliki perbedaan
dengan bayi tabung atau in vitro fertilization. Dalam proses ini, sperma sang
suami dicampur ke dalam telur sang istri dengan proses in vitro di dalam tabung
kaca.
Setelah sperma tumbuh menjadi embrio, embrio tersebut ditanamkan
kembali ke dalam tubuh si ibu atau perempuan lain yang menjadi ‘ibu tumpang’
. bayi yang lahir secara biologis merupakan anak suami istri tadi, walaupun
dilahirkan dari rahim perempuan lain.

C. Manfaat Kloning
1. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan yang tidak subur untuk
mendapatkan anak.
2. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dimanfaatkan sebagai
organ pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat
meminimalisir resiko penolakan.
3. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan-
jaringan tubuh yang rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot.
4. Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan
dan mematikan sel-sel.
5. Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan
penyakit-penyakit keturunan.

21
D. Dampak Kloning
Perdebatan tentang kloning di kalangan ilmuwan barat terus terjadi,bahkan
dalam hal kloning binatang sekalipun, apalagi dalam hal kloning manusia.
kelompok kontra kloning diwakili oleh George Annos (seorang pengacara
kesehatan di universitas boston) dan pdt. Russel E. Saltzman (pendeta gereja
lutheran). Menurut George Annos, kloning akan memiliki dampak buruk bagi
kehidupan, antara lain :
1. Merusak peradaban manusia .
2. Memperlakukan manusia sebagai objek .
3. Jika kloning di lakukan manusia seolah seperti barang mekanis yang bisa
di cetak semaunya oleh pemilik modal. Hal ini akan mereduksi nilai-nilai
kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia hasil kloning.
4. Kloning akan menimbulkan perasaan dominasi dari suatu kelompok
tertentu terhadap kelompok lain. Kloning biasanya di lakukan pada
manusia unggulan yang memiliki keistimewaan dibidang tertentu. Tidak
mungkin kloning dilakukan pada manusia awam yang tidak memiliki
keistimewaan. Misalnya kloning Einstein,kloning Beethoven maupun
tokoh-tokoh yang lain. Hal ini akan menimbulkan perasaan dominasi oleh
manusia hasil kloning tersebut sehingga bukan suatu kemustahilan ketika
manusia hasil kloning malah menguasai manusia sebenarnya karena
keunggulan mereka dalam berbagai bidang.

E. Hukum Kloning dalam Perspektif Hukum Islam


Kloning terhadap tumbuh-tumbuhan atau hewan asalkan memiliki daya
guna (bermanfaat) bagi kehidupan manusia maka hukumnya mubah atau halal.
Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini
diciptakan untuk kesejahteraan manusia. Kloning terhadap hewan atau
tumbuhan jika memiliki daya guna bagi kehidupan manusia maka hukumnya
mubah/ boleh dalilnya : Q.S. Al-baqoroh:29. Dia-lah allah, yang menjadikan

22
segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan)
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala
sesuatu.
Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan beberapa ulama’ dapat
diketahui mafsadat dari kloning lebih banyak dari pada maslahatnya. Oleh
karena itu, praktek kloning manusia bertentangan dengan hukum islam dengan
demikian kloning manusia dalam islam hukumnya haram. Dalil-dalil
keharaman : Q.S. An-Najm:45-46.
45. Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan
wanita.
46. Dari air mani, apabila dipancarkan
Disini menyatakan bahwa logika syari’at islam dengan nash-nashnya yang
mutlak, kaidah-kaidahnya yang menyeluruh, dan berbagai tujuan umumnya,
melarang praktik kloning pada manusia. Karena jika kloning ini dilakukan pada
manusia, maka akan mengakibatkan berbagai kerusakan sebagai berikut.
1. Hilangnya hukum variasi di alam raya.
2. Kerancuan hubungan antara orang yang di kloning dengan orang hasil
kloningannya .
3. Kemungkinan kerusakan lainnya seperti terjangkit penyakit.
4. Kloning bertentangan dengan sunnah untuk berpasang-pasangan.

F. Pertimbangan Etika
Dari sudut pertimbangan moral bahwa berbagai macam riset atau penelitian
hendaknya selalu dikaitkan dengan tuhan, karena riset dengan tujuan apapun
tanpa dikaitkan dengan tuhan tentu akan menimbulkan resiko, meskipun
manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah, namun dalam mengekpresikan
dan mengaktualisasikan kebesaran kreatifitasnya tersebut seyogyanya tetap
mengacu pada pertimbangan moral dan agama.

23
G. Pertimbangan Hukum
Dari beragam pertimbangan mungkin pertimbangan hukum inilah yang
secara tegas memberikan keputusan, khususnya dari para ulama’ fiqih yang
akan menolak mengenai praktek kloning manusia selain memakai dua landasan
pertimbangan diatas. Larangan ini muncul karena alasan adanya kekhawatiran
tingginya frekuensi mutasi pada gen produk kloning sehingga akan
menimbulkan efek buruk pada kemudian hari dari segi pembiayaan yang sangat
mahal dan juga dari sudut pandangan ushul fiqh bahwa jika sesuatu itu lebih
banyak madharat-nya dari pada manfaatnya maka sesuatu itu perlu ditolak.
Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama tentang kloning
manusia diantaranya : Muhammad Quraish Shihab mengatakan, tidak pernah
memisahkan ketetapan-ketetapan hukumnya dari moral sehingga dalam kasus
kloning walaupun dalam segi aqiqah tidak melanggar wilayah qodrat illahi,
namun karena dari moral teknologi kloning dapat mengantar kepada
perpecahan manusia karena larangan lahir dari aspek ini. Munawar ahmad Anas
mengatakan bahwa paradigma al- Qur’an menolak kloning seluruh siklus
kehidupan mulai dari kehidupan hingga kematian, adalah tindakan illahiyah.
Manuasia adalah agen yang diberi amanah oleh tuhan, karena itu
pnggandaan manusia semata-mata tak diperlukan (suatu tindakan yang
mubadzir).

24
IV. INSEMINASI ATAU BAYI TABUNG
A. Pengertian Inseminasi atau Bayi Tabung

Inseminasi merupakan terjemahan dari artificial insemination. Artificial


artinya buatan atau tiruan, sedangkan insemination bersal dari kata latin.
Inseminatus artinya pemasukan atau penyampaian. Artificial insemination
adalah penghamilan atau pembuahan buatan.

Inseminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap


wanita dengan cara memsukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut
dengan pertolongan dokter, istilah lain yang semakna adalah kawin suntik,
penghamilan buatan dan permainan buatan (PB). Yang dimaksud dengan bayi
tabung (test tubebaby) adalah bayi yang di dapatkan melalui proses pembuahan
yang dilakukan diluar rahim sehingga terjadi embrio dengan bantuan ilmu
kedokteran. Dikatakan sebagai kehamilan bayi tabung karena benih laki-laki
yang disebut zakar laki-laki disimpan dalam suatu tabung.

Inseminasi buatan pada manusia sebagai suatu teknologi reproduksi berupa


teknik menempatkan sperma didalam vagina wanita, pertama kali berhasil di
praktekan pada tahun 1970. Awal perkembangannya inseminasi buatan
bermula dari ditemukannya teknik pengawetan sperma.sperma bisa ertahan
hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan
nitrogen pada temperatur - 321 derajat fahrenheit. Bank sperma atau disebut
juga bank ayah mulai tumbuh pada awal tahun 1970.

Secara sederhana, inseminasi (buatan) adalah proses penempatan sperma


dalam organ reproduksi wanita dengan tujuan untuk mendapatkan kehamilan.
Ini harus dilakukan pada masa paling subur dari seorang wanita, yakni sekitar
24-48 jam sebelum ovulasi terjadi.

25
Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari istilah inggris artificial
insemination. Dalam bahasa arab disebut al-talqih al-shina’iy. Dalam bahasa
indonesia ada yang menyebutkan permainan buatan,pembuahan buatan, atau
penghamilan buatan.

B. Pandangan Agama Terhadap Inseminasi


1. Pandangan Agama Islam Terhadap Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung
Mengenai hukum islam terhadap inseminasi buatan pada manusia
harus di klasifikasikan persoalaannya dengan jelas. Bila dilakukan dengan
sperma atau ovum suami istri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma
suami kemudian disuntikkan ke dalam vagina, tuba valopi atau uterus istri,
maupun dengan cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya
ditanam di dalam rahim istri, maka hal ini dibolehkan, asal keadaan suami
istri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu
pasangan suami istri tersebut memperoleh keturunan. Hal ini sesuai kaedah
‘al hajatu tanzilu manzilah al dharurat’ (hajat atau kebutuhan yang sangat
mendesak diperlakukan seperti kaedah darurat).
Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan
donor sperma atau ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan
zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak sah dan
nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkan.
Hadis Nabi SAW:
“Tidak halal bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari akhir
menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (vagina istri orang
lain). Hadis riwayat Abu Daud, Al-Tirmidzi.

26
2. Pandangan Agama Kristen Terhadap Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung
Menurut agama kristen inseminasi diperbolehkan dengan syarat
sperma dan ovum berasal dari suami istri agar tidak terjadi perzinahan dan
suami istri tersebut benar-benar membutuhkan atau dalam keadaan terdesak
untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

3. Pandangan Agama Hindu Terhadap Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung


Menurut agama Hindu inseminasi buatan tidak disetujui karena sudah
melanggar ketentuan. Maksudnya sudah melanggar kewajiban Tuhan
(Ranying Hatalla) untuk mencipkan manusia. Inseminasi atau pembuahan
secara suntik bagi umat hindu dipandang tidak sesuai dengan tata kehidupan
agama hindu, karena tidak melalui ciptaan Tuhan.
Meskipun melalui suami istri tetap tidak di perbolehkan karena sudah
melanggar hak cipta Raying Hatalla.

4. Pandangan Agama Budha Terhadap Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung


Sesungguhnya dalam agama Budha, hidup berumah tangga ataupun
tidak adalah sama saja. Masalah terpenting disini adalah kualitas
kehidupannya. Apabila seseorang berniat berumah tangga, maka hendaknya
ia konsekuen dan setia dengan pilihannya, melaksanakan tugas dan
kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Orang yang demikian ini
sesungguhnya adalah seperti orang pertapa tetapi hidup dalam rumah tangga.
Sikap ini pula yang dipuji oleh Sang Buddha. Dengan demikian inseminasi
diperbolehkan dalam agama Budha.

27
V. TRANSFUSI DaARAH MENURUT PANDANGAN ISLAM
A. Pengertian
Transfusi darah adalah proses mentransfer darah dari satu orang ke dalam
sistem peredaran darah orang lain. Transfusi darah dapat menyelamatkan jiwa
dalam beberapa situasi, seperti kehilangan darah besar karena trauma atau dapat
digunakan untuk menggantikan darah yang hilang selama operasi.
Transfusi darah itu tidak membawa akibat hukum adanya kemahraman sudah
ditentukan oleh islam sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa
ayat 23.
Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang
perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu
yang perempuan, saudara-suadara ibumu yang perempuan, anak-anak
perempuan dari saudara-saudara yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui
kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibumu istrimu (mertua), anak-anak
istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri tetapi
jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka
tidak berdosa kamu mengawininya, (dan haramkan bagimu) istri-istri anak
kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua
perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 3 [3]

28
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Al-hafidz ibnu raja berkata: “Beberapa ulama fiqih memberikan
arukhshah (dispensasi) kepada wanita yang menggugurkan kandungannya selama
janinnya belum bernyawa dengan cara ‘azl. Pendapat ini dhalif (lemah), karena
janin adalah anak yang terikat dan jika Allah berkehendak, maka ikatan itu dapat
terlepas dengan cara azl. Ketika Rasulullah ditanya tentang hukum ‘azl, Nabi
menjawab: “Tak ada larangan kalian ber-‘azl. Tidak ada satu jiwa pun yang
bernafas melaikan Allah-lah penciptanya”. Para ulama menjelaskan bahwa jika
anak telah menjadi ‘alaqah (embrio), maka ibu tidak boleh menggugurkannya,
sebab anak itu telah terikat. Lain halnya jika masih berupa nuthfah (sperma) yang
terikat dan terkadang tidak menjadi anak“.
Transplantasi adalah perpindahan sebagian atau seluruh jaringan atau
organ dari satu individu lainnya baik yang sama maupun berbeda spesies. Saat ini
yang lazim yang dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan suatu jaringan atau
organ antar manusia bukan antara hewan ke manusia, sehingga menimbulkan
pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ
dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya. Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti
organ yang rusak atau tidak berfungsi pada penerima dengan orang lain yang masih
berfungsi dari pendonor.Organ atau jaringan yang akan dipindahkan dapat di ambil
dari donor yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana
meninggal sendiri didefinisikan kematian batang otak.
Kloning adalah pembiakkan dengan teknik membuat keturunan dengan
kode genetik yang sama dengan induknya. Istilah kloning atau klonasi berasal dari

29
kalo clone (bahasa greek) atau klona, yang secara harfiah berarti
potongan/pangkasan tanaman.
Inseminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap
wanita dengan cara memsukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut
dengan pertolongan dokter, istilah lain yang semakna adalah kawin suntik,
penghamilan buatan dan permainan buatan (PB).

B. SARAN

Dengan dibuatnya makalah ini kami mengharapkan kepada pembaca agar


bisa memahami tentang ajaran dan pandangan agama terhadap kehidupan manusia
yang berhubungan dengan kesehatan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Dr.’Adil Yusuf al-‘Izazy 2011 Panduan Lengkap Kehamilan Dalam Hukum Islam:
Gala Ilmu Semesta.

Pendidikan Agama Untuk Perguruan Tinggi Dan Umum.

31