Anda di halaman 1dari 18

DRAFT LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH CAIR

Sedimentasi
Dosen Pembimbing : Ir. Emma Hermawati Muhari, M.T.

Kelompok/Kelas : I / 3A-TKPB
Anggota : 1. Abdul Faza M (151424001)
2. Afifah Nur Aiman (151424002)
3. Agus Hermawan (151424003)

Tanggal Praktikum : 21 Februari 2018


Tanggal Pengumpulan Praktikum : 26 Februari 2018

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2018
DAFTAR ISI

BAB I ...................................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 3
1.2 Tujuan Praktikum.................................................................................................................... 3
BAB II..................................................................................................................................................... 2
LANDASAN TEORI .............................................................................................................................. 2
2.1 Sedimentasi ............................................................................................................................. 2
2.2 Bak Sedimentasi...................................................................................................................... 3
2.3 Plate Settler ............................................................................................................................. 6
2.4 Persamaan yang berlaku.......................................................................................................... 7
2.5 Koagulan Alumunium sulfat (Tawas) ..................................................................................... 7
2.6 Jartest ...................................................................................................................................... 8
2.7 Dosis Optimum Koagulan....................................................................................................... 9
BAB III ................................................................................................. Error! Bookmark not defined.
METODOLOGI PERCOBAAN ........................................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 Alat dan Bahan ...................................................................... Error! Bookmark not defined.
3.2 Prosedur Kerja ...................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB IV ................................................................................................................................................. 10
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN ................................................................................... 12
4.1 Data Pengamatan .................................................................................................................. 12
4.2 Hasil Percobaan .................................................................... Error! Bookmark not defined.
4.3 Pembahasan........................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB V .................................................................................................. Error! Bookmark not defined.
KESIMPULAN DAN SARAN............................................................. Error! Bookmark not defined.
5.1 Kesimpulan ........................................................................... Error! Bookmark not defined.
5.2 Saran ..................................................................................... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 16
LAMPIRAN.......................................................................................... Error! Bookmark not defined.

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini air tercemar yang berasal dari limbah industry semakin banyak seiring
meningkatnya perkembangan industry sehingga limbah cair tersebut perlu diolah agar
tidak mencemari lingkungan sekitar. Teknik tertua untuk pemurnian air adalah proses
klarifikasi. Proses ini mencakup pro koagulai, flokulai dan edimenytai. Proe
sedimentasi merupakan cara yang ekonomis untuk memisahkan padatan dari suatu
suspensi, bubur atau slurry secara fisik.
Sedimentasi bertujuan untuk memisahkan padatan dari cairan dengan
menggunakan gaya gravitasi untuk mengendapkan partikel suspensi. Agar proses
sedimentasi lebih cepat, pada umumnya dilakukan terlebih dahulu proses flokulasi dan
koagulasi karena dengan proses ini ukuran partikel padatan membesar sehingga
menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih cepat.

1.2 Tujuan Praktikum


- Menentukan waktu pengendapan optimum berdasarkan penurunan nilai turbiditas
air.
- Membandingkan waktu optimum pengendapan tanpa koagulan dan dengan
penambahan koagulan

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan solisd-liquid menggunakan pengendapan secara
gravitasi untuk menghilangkan suspensi solid. Proses sedimentasi banyak digunakan
sebagai tahap awal pengolahan air baku, pada pembuatan air minum, maupun
pengolahan air limbah.
Pada umumnya proses sedimentasi digunakan setelah proses koagulasi dan
flokulasi yang berfungsi untuk destabilisasi dan memperbesar gumpalan/ukuran
partikel, sehingga mudah untuk diendapkan (Asdak, 1995 : 33). Koagulan yang banyak
digunakan salah satunya adalah Tawas [Al2(SO4)3] yang berfungsi untuk mengikat
kotoran atau memutus rantai pada ikatan senyawa zat warna sehingga membentuk
gumpalan. Sedangkan pada proses flokulasi ditambahkan larutan polimer untuk
memperbesar gumpalan, sehingga relatif mudah untuk diendapkan. Selama proses
sedimentasi berlangsung, terdapat tida gaya yang mempengaruhi yaitu gaya gravitasi,,
gaya apung dan gaya dorong.
Berdasarkan konsentrasi dan kecenderngan partikel bereaksi proses sedimentasi
terbagi atas empat tipe, yaitu:
1) Sedimentasi Tipe I/Plain Settling/Discrete particle
Pada tipe partikel diskrit, sedimentasi partikel terjadi pada konsentrasi padatan
rendah dimana partikel mengendap secara individu serta tidak terjadi interaksi
dengan partikel yang lainnya (Ayu, 2012). Peristiwa ini terjadi pada pemisahan
partikel pasir pada air limbah. Pengendapan partikel ini tanpa menggunakan
koagulan dengan tujuan menurunkan kekeruhan air baku dan digunakan pada grit
chamber.
2) Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)
Pada flocculant settling terjadi penggumpalan (aglomerasi) pada konsentrasi
partikel yang cukup tinggi Pengendapan material koloid dan solid tersuspensi
terjadi melalui adanya penambahan koagulan, yang dilanjutkan dengan proses
flokulasi sehingga terjadi peningkatan massa partikel. Peningkatan rata-rata massa

2
partikel ini menyebabkan partikel mengendap lebih cepat. Flocculant settling
banyak digunakan pada primary clarifier (Ayu, 2012)
3) Hindered Settling (Zone Settling)
Pada hindered settling, konsentrasi partikel adalah tidak terlalu tinggi (cukup)
kemudian partikel bercampur dengan partikel lainnya dan kemudian mereka
karam bersama-sama.
4) Partikel kompresi
Pada tipe proses ini sedimentasi partikel terjadi terjadi pada konsentrasi padatan
yang sangat tinggi sehingga partikel mengalami penekanan oleh partikel yang
berada diatasnya. Peristiwa ini terjadi pada pemisahan mikroba (activated sludge)
pada pengolahan air limbah secara biologi.

Selain tipe proses sedimentasi, terdapat 2 jenis operasi sedimentasi yaitu operasi
sedimentasi secara gravitasi dan secara sentrifugasi.Pada sedimentasi secara gravitasi,
partikel mengendap melalui mekanisme gravitasi secara alami dan perbedaan densitas.
Sedangkan secara sentrifugasi pengendapan partikel menggunakan alat sentrifugasi
dengan kecepatan pengendapan lebih tinggi dibandingkan pengendapan secara
gravitasi.

2.2 Bak Sedimentasi


Bak sedimentasi merupakan unit untuk proses sedimentasi yang umumnya
dibangun dari bahan beton bertulang dengan bentuk lingkaran, bujur sangkar, atau segi
empat. Bak berbentuk lingkaran umumnya berdiameter 10,7 – 45,7 m dan kedalaman
3 – 4,3 m. Bak berbentuk bujur sangkar umumnya mempunyai lebar 10 hingga 79 m
dan kedalaman 1,8 hingga 5,8 m.bak berbentuk segi empat umumnya mempunyai lebar
1,5 – 6 m, panjang bak sampai 76 m dan kedalaman lebih dari 1,8 m (Reynold &
Richards, 1996).
a. Segi empat (rectangular)

3
Gambar 2.1 Bak Sedimentasi Segi Empat

Bentuk kolam memanjang sesuai arah aliran, sehingga dapat mencegah


kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting). Bentuk ini secara
hidraulika lebih baik karena tampang alirannya cukup seragam sepanjang kolam
pengendapan (Assyifa, 2015). Dengan demikian kecepatan alirannya relatif
konstan, sehingga tidak akan mengganggu proses pengendapan partikel suspensi.
Selain itu pengontrolan kecepatan aliran juga lebih mudah dilaksanakan.
b. Lingkaran

Gambar 2.2. Bak sedimentasi bentuk lingkaran aliran horizontal.

4
Gambar 2.3. Bak sedimentasi bentuk lingkaran aliran vertikal.

Aliran air dapat secara horizontal ke arah radial dan umumnya menuju ke tepi
lingkaran atau dengan aliran arah vertikal. Pada kapasitas yang sama, pada kolam
pengendapan ini kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting) lebih
besar daripada kolam pengendapan berbentuk segi empat (Assyifa,2015). Bentuk
ini secara hidraulika kurang baik karena tampang alirannya tidak seragam, sehingga
kecepatan alirannya tidak konstan. Karena itu timbul kesulitan dalam pengontrolan
kecepatan aliran dan semakin besar dimensi bangunan pengontrolan kecepatan
menjadi lebih sulit lagi.

Bak sedimentasi terdiri dari beberapa bagian, diantaranya:

1) Zona Inlet atau struktrur influent: tempat air masuk ke dalam bak. Zona inlet
mendistribusikan aliran air secara merata pada bak sedimentasi dan menyebarkan
kecepatan aliran yang baru masuk
2) Zona pengendapan: tempat flok/partikel mengalami proses pengendapan. Dalam
zona ini, air mengalir pelan secara horisontal ke arah outlet, dalam zona ini terjadi
proses pengendapan. Lintasan partikel tergantung pada besarnya kecepatan
pengendapan.
3) Zona lumpur: tempat lumpur mengumpul sebelum diambil ke luar bak. Kadang
dilengkapi dengan sludge collector/scrapper. Dalam zona ini lumpur terakumulasi.
Sekali lumpur masuk area ini ia akan tetap disana.

5
4) Zona Outlet atau struktur efluen: tempat di mana air akan meninggalkan bak,
biasanya berbentuk pelimpah (weir). Seperti zona inlet, zona outlet mempunyai
pengaruh besar dalam mempengaruhi pola aliran dan karakteristik pengendapan
flok pada bak sedimentasi. Biasanya weir/pelimpah dan bak penampung limpahan
digunakan untuk mengontrol outlet pada bak sedimentasi.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan efisiensi bak pengendapan,


diantaranya :
(1) Luas bidang pengendapan
(2) Penggunaan baffle pada bak sedimentasi
(3) Mendangkalkan bak
(4) Pemasangan plat miring

2.3 Plate Settler


Plate settler adalah salah satu jenis bak sedimentasi untuk mengolah air bersih
dalam skala produksi yang dapat digunakan untuk mengendapkan partikel flokulen
yang terkandung dalam air baku (Ambat dan Budianto, No Date).
Plate settler merupakan keeping pengendap yang dipasang pada settling zone (zona
pengendapan) di bak sedimentasi dengan kemiringan tertentu yang bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi dan memperluas bidang pengendapan sehingga proses fisika
dari sedimentasi dapat berlangsung lebih effektif bila tanpa menggunakan plate settler.
Terdapat tiga macam aliran yang melalui plate settler yaitu (Hendrick,
2005 dalam Husaeni, 2013) :
a. Upflow (aliran keatas), yaitu dimana sludge yang mengendap turun ke dasar bak
melalui plate ketika aliran air mengalir ke atas menuju outlet zone.
b. Downflow (aliran ke bawah), yaitu dimana sludge yang mengendap turun ke dasar
bak melalui plate bersamaan dengan aliran air yang mengalir ke bawah.
c. Crossflow (aliran silang), yaitu dimana sludge yang mengendap turun ke dasar bak,
sedangkan aliran air menyilang (crossing) di masing – masing plate.

Plate settler dapat dibuat dari jenis bahan yang tidak mudah berserat, semacam
polyethylene (berupa plastik yang keras dan tebal), kayu, fiber, baja tipis dan
sebagainya. Bentuk plate yang digunakan dapat berupa lempengan, gelombang, dan
zigzag dan dengan kemiringan plate yang bervariasi (Husaeni, 2013).

6
2.4 Persamaan yang berlaku

Untuk aliran laminar berlaku persamaan Stokes :

𝑔
𝑣𝑜 = (18 µ) [(ρs − ρl). d2]

Keterangan :

vo = kecepatan linier
µ = viskositas cairan

ρs = densitas padatan

ρl = densitas cairan
d = diameter rata-rata partikel padatan yang berbentuk gumpalan

Bilangan Reynold 1 - 0.0001 1 -1000 1000 - 200.000


lambat Sedang Tinggi
Nama Aliran
laminar Intermediate Turbulen
Persamaan Yang Berlaku Stokes Allen Newton

2.5 Koagulan Alumunium sulfat (Tawas)


Tawas merupakan salah satu koagulan yang paling lama dikenal dan paling luas
digunakan. Alum dapat dibeli dalam bentuk likuid dengan konsentrasi 8,3% atau dalam
bentuk kering dengan konsentrasi 17%. Alum padat akan langsung larut dalam air dan
larutannya bersifat korosif terhadap aluminium, besi, dan beton sehingga tangki-tangki
dari bahan-bahan tersebut membutuhkan lapisan pelindung (Kristijarti, 2013).
Aluminium sulfat jarang ditemukan dalam bentuk garam anhydrous biasanya
aluminium sulfat membentuk garam hyrous dengan kandungan H2O yang berbeda –
beda dan yang paling umum dalam bentuk heksadecahydrate (Pulungan, 2012). Rumus
kimia alum adalah Al2(SO4)3.18H2O tetapi alum yang disuplai secara komersial
kemungkinan hanya memiliki 14 H2O.
Pembentukan flok aluminium hidroksida merupakan hasil dari reaksi antara
koagulan yang bersifat asam dan alkalinitas alami air (biasanya mengandung kalsium
bikarbonat).

7
Jika air kurang memiliki kapasitas alkalinitas (buffering capacity), basa
tambahan seperti hydrated lime, sodium hidroksida (soda kaustik) atau sodium
karbonat harus ditambahkan.

Dengan penambahan sodium karbonat:

1 mg/L alum bereaksi dengan 5,3 mg/L alkalinitas (CaCO3). Jadi jika tidak ada basa
yang ditambahkan, alkalinitas akan turun dan terjadi penurunan pH. Flok aluminium
hidroksida tidak dapat larut pada rentang pH yang relatif sempit, dan akan bervariasi
tergantung air yang diolah. Oleh karenanya, kontrol pH menjadi penting dalam
koagulasi, tidak hanya untuk menyisihkan kekeruhan dan warna, tetapi juga untuk
menjaga residu terlarut tetap berada dalam jumlah minimum untuk membantu
sedimentasi. Nilai pH optimum koagulasi sebaiknya dijaga dengan menambahkan asam
seperti asam sulfat, tidak dengan menambahkan koagulan yang berlebih. pH optimum
untuk koagulasi menggunakan alum, sangat tergantung pada karakteristik air yang
diolah, biasanya berada dalam rentang 5-8.
2.6 Jartest
Jar test merupakan metode standar yang dilakukan untuk menguji proses
koagulasi (Kemmer,2002). Data yang didapat dengan melakukan jar test antara lain
dosis optimum penambahan koagulan, lama pengendapan serta volume endapan yang
terbentuk. Jar test sebaiknya dilakukan setiap beberapa hari, bulan atau tahun bahkan
musim terutama pada saat dimana terjadi perubahan keadaan air secara kimia. Jar test
terdiri dari enam buah batang pengaduk yang masing – masing mengaduk satu buah
gelas dengan kapasitas satu liter. Satu buah gelas berfungsi sebagai kontrol dan kondisi
operasi dapat bervariasi diantara lima gelas yang tersisa. Penggunaan sebuah
pengukuran rpm di bagian atas petangkat jar test ini berperan sebagai pengontrol
keseragaman kecepatan pencampuran pada keenam gelas tersebut. Hasil dari uji ini
menjadi acuan dalam pemberian dosis koagulan pada proses koagulasi.

8
2.7 Dosis Optimum Koagulan
Penentuan dosis optimum koagulan untuk aluminium sulfat dapat dilakukan
dengan membandingkan nilai parameter air (pH, warna dan turbiditas)

9
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan
Satu set peralatan sedimentasi yang terdiri dari:
1. Tangki penampungan air
2. Pompa peristaltik
3. Bak sedimentasi
4. Turbidity-meter
5. TDS-meter
6. pH-meter
b. Bahan yang digunakan
1. Air limbah
2. Tawas
3.2 Prosedur Kerja

1. Memastikan seluruh keran dalam keadaan tetutup


2. Mengisi bak umpan dengan air limbah yang mengandung zat/bahan tersuspensi dan
zat organic tertentu, sekitar 100 liter
3. Memastikan umpan berada di atas kolom filtrasi, serta memastikan pompa berjalan
dengan baik.
4. Membuka semua keran, dan memastikan air umpan teraliri dengan baik
5. Mengalirkan air umpan dengan cara menyalakan pompa terlebih dahulu
6. Memastikan bak filtrasi terisi penuh, dan menunggu air limbah tersebut tersaring
sempurna oleh filter selama 10 menit.
7. Mengalirkan filtrat yang tersaring dengan cara membuka keran keluaran, dan
menampung filtrate dengan menggunakan ember
8. Mengambil 100 mL filtrate tersebut untuk nilai TDS dan NTU dari air limbah yang
sudah memlalui proses filtrasi
9. Mengulang percobaan 5 hingga 9, untuk menentukan efesiesnsi dan waktu tinggal
optimum (percobaan diulang sebanyak 12 kali)

10
3.3 Diagram Alir

Mulai

Air Limbah

Koagulan
(Tawas)

Bak Sedimentasi Tangki Koagulasi

Analisa TDS, kekeruhan Bak Sedimentasi


dan pH

Analisa TDS, kekeruhan


dan pH
Tidak
Target

(waktu optimum)

Target Tidak

(waktu optimum)

Selesai

Selesai

11
BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Volume air umpan = 20 Liter


Kekeruhan awal = 31.1 NTU
TDS awal = 0.419 mg/L
Dosis tawas = 4 gram

a. Sedimentasi tanpa koagulan

Waktu Kekeruhan
No TDS
(menit) (NTU)
1 0 0.419 31.10
2 5 0.399 27.23
3 10 0.376 23.64
4 15 0.401 22.31
5 20 0.366 20.42
6 25 0.425 16.86
7 30 0.417 15.36
8 35 0.421 15.30
9 40 0.43 15.26
10 45 0.431 14.23
11 50 0.422 13.23

Waktu VS Turbiditas
35.00
30.00
25.00
Turbiditas

20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
0 10 20 30 40 50 60
Waktu

12
b. Sedimentasi dengan koagulan

Waktu Kekeruhan Konsentrasi


No
(menit) (NTU) TDS (mg/L)
1 0 0.435 31.10
2 5 0.423 19.33
3 10 0.411 12.37
4 15 0.396 10.46
5 20 0.393 11.24
6 25 0.392 9.28
7 30 0.37 9.24
8 35 0.392 8.35
9 40 0.386 7.80
10 45 0.382 7.70
11 50 0.382 6.51

Waktu VS Turbiditas
35.00
30.00
25.00
Turbiditas

20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
0 10 20 30 40 50 60
Waktu

4.2 Pembahasan
Waktu optimum tanpa pengendapan adalah pada t= 25 menit dengan nilai
kekeruhan 16.86 NTU. Sedangkan waktu optimum pengendapan dengan penambahan
koagulan berupa tawas adalah pada t= 10 menit dengan nilai kekeruhan 19.33.
Membandingkan waktu optimum masing-masing, sudah pasti nilai kekeruhan yang
dengan penambahan koagulan lebih rendah. Air sungai Sarijadi setelah penambahan
koagulan selama 10 menit yang semula keruh (nilai kekeruhannya tinggi), langsung
menjadi lebih jernih (nilai kekeruhannya menjadi rendah) hal ini dikarenakan pada air
sungai mengandung TSS yang berupa koloid jika ditambahkan koagulan dengan dosis

13
tertentu koloid tersebut akan menjadi fine flock. Fine flock tersebut ukuran partikelnya
pasti lebih besar dan lebih mudah mengendap.
Mungkin jika tidak melakukan praktikum sudah dapat diprediksi antara air
sungai yang ditambahkan koagulan dengan yang tidak ditambahkan koagulan yang
mana yang akan lebih jernih setelah. Tetapi praktikum ini adalah untuk mengamati dan
mengetahui waktu pengendapan yang paling optimal dengan menggunakan bahan baku
air sungai Sarijadi jika ditambah koagulan ataupun tidak ditambah koagulan. Pada air
sungai yang ditambahkan koagulan, jenis koagulan yang digunakan adalah Tawas dan
dosis optimum tawas adalah 4 gram. Dosis optimum tawas didapat dari kurva dengan
mengeplotkan nilai kekeruhan awal air sungai.

14
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
- Waktu optimum pengendapan air sungai tanpa koagulan adalah pada 25 menit
- Waktu optimum pengendapan air sungai dengan penambahan koagulan adalah
pada 10 menit
- Air sungai dipakai adalah air sungai Sarijadi
- Koagulan yang dipakai adalah tawas
- Dosis optimum tawas adalah 4 gram
5.2 Saran
Praktikan menyarankan kepada praktikan lain yang akan praktikum sedimentasi
agar memvariasikan sumber air yang digunakan ataupun koagulan yang digunakan,
misalnya 2 sumber air yang berbeda dengan penambahan koagulan yang sama ataupun
1 sumber air tetapi ditambahkan jenis koagulan yang berbeda. Atau dapat mencoba
menggunakan koagulan lain yang belum tersedia di laboratorium.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ambat, R. Esther dan Bambang Setio Budianto,. No Date. Perancangan Bak Pengendap Jenis
Plate Settler Untuk Instalasi Pengolahan Air. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri
Bandung
Asdak, 1995, “Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai”, UGM-Press, Yogyakarta
Ayu, Sani. 2012. Makalah “Sedimentasi”. https://adekbacatulisbagi.wordpress.com/2012
/06/23/sedimentasi/ [Diunduh pada 16 Februari 2018]
Assyifa. 2015. “Makalah Sedimentasi” https://caracararaaa.blogspot.co.id/2015/09/makalah-
pam-sedimentasi.html [Diunduh pada 16 Februari 2018]
Husaeni, Nurul dkk. 2013. Penurunan Konsentrasi Total Suspended Solid Pada Proses Air
Bersih Menggunakan Plate Settler. Progdi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil
Dan Perencanaan.
Kristijarti, A Prima dkk. 2013. Penentuan Jenis Koagulan Dan Dosis Optimum Untuk
Meningkatkan Efisiensi Sedimentasi Dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah Pabrik
Jamu. Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik
Parahyangan
Lestari, Siska Tri. 2016. Artikel Penelitian “Keefeektifan Penambahan Dosis Tawas Dalam
Menurunkan Kadar TSS (Total Suspended Solid) Pada Limbah Cair Rumah Makan”.
Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Pulungan , Amanda Desviani. 2012. Evaluasi Pemberian Dosis Koagulan Aluminium Sulfat
Cair Dan Bubuk Pada Sistem Dosing Koagulan Di Instalasi Pengolahan Air Minum
Pt. Krakatau Tirta Industri. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Bogor
Bahan Ajar Satuan Operas. Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung.
http://www.kuliah.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2016/10/sedimentasi.pdf
[Diunduh pada 16 Februari 2018]
“Plate Settler Vs Tube Settler: Best Choice For A Sedimentation Basin”
https://www.jmsequipment.com/tube-settlers-vs-plate-settlers/ [Diunduh pada 16
Februari 2018]

16