Anda di halaman 1dari 31

Pengertian Spiritual Teaching | Manfaat

Dan Tujuan IQ, EQ Dan SQ


Langsung ke topik Spiritual teaching (IQ, EQ dan SQ) dan makalah ini adalah tugas
mata kuliah penulis. semoga berguna bagi sahabat semua.

I. PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.


Manusia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk
Tuhan yang lain. Akal merupakan kelebihan yang telah diberikan
Tuhan kepada manusia. Dengan akal manusia mampu belajar,
berfikir, memahami serta melakukan mana yang baik dan mana yang
buruk. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan akal yang
dimiliki, seorang manusia mampu mempertahankan dan
meningkatkan kualitas hidupnya yaitu memaksimalkan proses berfikir
sehingga dapat dikatakan manusia dibekali kecerdasan yang luar
biasa dibanding dengan makhluk Tuhan yang lain.
Sering kita temui, para pendidik (guru) yang bekerja semata – mata
untuk mencari nafkah, memperoleh penghasilan, hanya untuk
mendapatkan materi bukan untuk mendapatkan sebuah kepuasan
batin. Padahal dalam ajaran agama sendiri dijelaskan, ketika
seseorang memilih untuk bekerja apa pun itu, maka semua itu harus
didasari niat beribadah kepada Tuhan. Namun, banyak yang lupa akan
hal itu sehingga menganggap ketika dia (guru) telah memberikan
pengajaran tentang suatu pengetahuan, hanya sebatas itu saja,
tanpa memikirkan bagaimana budi pekerti atau sikap perilaku anak
didiknya.
Hanya sedikit guru yang mampu memberikan pelajaran, tidak hanya
memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik para peserta
didik agar menjadi manusia yang berbudi. Para pendidik yang seperti
ini berarti mampu mengenali dan memahami apa hakikat dari apa
yang dia lakukan tersebut yaitu menjadi seorang pendidik, panutan
bagi orang – orang di sekitarnya terutama bagi peserta didiknya.
Guru juga seorang manusia di mana masih perlu banyak belajar. Guru
merupakan salah satu profesi yang terhormat karena dari perantara
seorang gurulah kita mendapatkan berbagai macam ilmu dan
pengetahuan. Guru harus mampu memberikan teladan yang baik
bagi murid-muridnya karena setiap sikap dan tingkah lakunya selalu
menjadi sorotan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, seorang pendidik
(guru) harus mampu mengoptimalkan IQ, EQ dan SQ yang dimiliki
agar nantinya mampu melahirkan para generasi yang juga memiliki
IQ, EQ dan SQ yang baik.
II. PEMBAHASAN
A. Spiritual Teaching Sebagai Konsep Yang Melibatkan IQ,EQ,SQ
Guru merupakan orang yang sangat penting dalam proses belajar
mengajar tertentunya mengetahui berbagai pengaruh yang mengitari
dalam melaksanakan tugasnya. Strategi spiritual teaching adalah
rencana cermat melalui sebuah proses penyampaian dan penanaman
pengetahuan atau keterampilan yang berkaitan dengan suatu mata
pelajaran tertentu kepada siswa yang dilakukan oleh guru dalam
kerangka pengabdian kepada Allah sebagai sang Maha Pemilik Ilmu
dalam praktek model pembelajaran dengan pendekatan spiritual,
dengan cara mencintai profesi dan anak didiknya. Siswa akan
mencintai guru dengan cara mengidolakannya serta menempatkan
guru sebagai sosok yang berwibawa sehingga dapat mendorong
siswa semangat dan senang dalam belajar. Dalam konsep mengajar
seorang pendidik bahwa tolak ukur peranan guru bukan sebagai
pengajar, melainkan sebagai pembimbing belajar atau pemimpin
belajar atau fasilitator belajar.
Seorang guru yang dikatakan cerdas, profesional dan bermakna tidak
hanya memberikan atau menyampaikan pengetahuan (transfer of
knowledge) tapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai moral
sehingga mampu mendidik sikap dan perilaku peserta didik menjadi
lebih baik (transfer of value). Terkadang seorang pendidik hanya
mengandalkan kecerdasan intelektualnya saja dalam menyampaikan
materi pelajaran, sehingga tak jarang kita temukan seorang pendidik
yang tidak bertindak tidak patut dan semestinya. Maka dari itu sangat
penting bagi para guru untuk mulai menyadari bahwa pendidikan
bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu mendidik
merupakan upaya untuk menanamkan nilai – nilai kebaikan, nilai –
nilai religius.
Sebagai pribadi, salah satu tugas besar dalam hidup ini adalah
berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusiaan
yang kita miliki, melalui upaya belajar/ learning to do, learning to
know (IQ), learning to live together (EQ) dan learning to be (SQ) serta
berusaha untuk memperbaiki kualitas diri pribadi secara terus-
menerus, hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan
prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).
Sebagai pendidik (calon pendidik) dalam mewujudkan diri sebagai
pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita
adalah berusaha membelajarkan peserta didik untuk dapat
mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusiaan yang
dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang
menantang atau problematis (Problematical Learning/IQ),
menyenangkan (Joyful Learning/ EQ) dan bermakna (Meaningful
Learning/ SQ).
Seorang pendidik sejati akan menanamkan tauhid yang baik dan
kokoh kepada anak didiknya. Apapun mata pelajaran yang mereka
emban, sehingga tidak ada celah bagi si anak untuk membangkang
terhadap perintah Tuhannya. Sikap dan perilaku peserta didik akan
terkontrol degan sendirinya, tanpa perlu satpam, polisi dan hansip.
Dengan pribadi yang matang dari segi keilmuan dan tauhid, maka
akan secara otomatis memberi pengaruh yang positif bagi diri dan
lingkungannya.
Dalam dunia pendidikan, keseluruhan aspek kecerdasan (IQ, EQ dan
SQ) perlu mendapat perhatian yang seimbang. Kecerdasan intelektual
yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan
spiritual, hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi
kehidupan
Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul “Emotional
Intelligence”, dijelaskan bahwa kunci sukses seseorang ternyata tidak
hanya disebabkan tingginya IQ (Intelligence Quotient) saja, ada faktor
lain yang dapat membawa seseorang menuju jalan kesuksesan, yaitu
EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional. Tetapi IQ dan EQ
yang tinggi ternyata belum cukup, dibutuhkan lagi apa yang
dinamakan SQ (Spiritual Quotient). Penggabungan antara
kerelegiusan dan psikologi yang sudah mendekati
kesempurnaan,bahwa manusia tidak mungkin bisa terlepas dari yang
namanya takdir dan ikhtiar untuk keberlangsungan hidupnya. Dan
berikut akan disebutkan beberapa jenis manusia berdasarkan tingkat
IQ, EQ dan SQ yang dimilikinya.
1. Jenis manusia yang mempunyai IQ bagus, EQ tidak bagus, dan SQ
tidak bagus, maka dia seorang yang rasionalis, artinya
mengedapankan akal dan pikiran dalam menentukan sesuatu
(padahal akal manusia sangat terbatas jangkauannya).
2. Jenis manusia yang mempunyai IQ bagus, EQ bagus, dan SQ tidak
bagus, maka dia seorang materialis, artinya memandang sesuatu
mengharapkan material.
3. Jenis manusia yang mempunyai IQ tidak bagus, EQ tidak bagus,
dan SQ bagus, maka dia seorang yang moralis, artinya terus sendiri
dalam beribadah, tanpa memikirkan bagaimana orang lain di
sekelilingnya.
4. Jenis manusia yang mempunyai IQ bagus, EQ tidak bagus, dan SQ
bagus, maka dia seorang yang egois, artinya orang yang
mementingkan diri sendiri.
5. Jenis manusia yang mempunyai IQ bagus, EQ bagus, dan SQ bagus,
inilah manusia yang ulul albab dan seorang yang fitrah.
Maka Seorang pendidik harus mampu menjadi manusia yang kelima,
yaitu memiliki IQ, EQ dan SQ yang bagus. Sebagai konsep siritual
teaching.

B. Pengertian IQ, EQ dan SQ


1. Intelligence Quotient (IQ)
IQ (Intelligence Quotient) adalah kemampuan atau kecerdasan yang
didapat dari hasil pengerjaan soal-soal atau kemampuan untuk
memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu dikaitkan dengan hal
akademik seseorang. Banyak orang berpandangan bahwa IQ
merupakan pokok dari sebuah kecerdasan seseorang sehingga IQ
dianggap menjadi tolak ukur keberhasilan dan prestasi hidup
seseorang. Padahal IQ hanyalah satu “kemampuan dasar”.
Kemampuan ini umumnya terbatas pada keterampilan standar dalam
melakukan suatu kegiatan dan tingkatnya relatif tetap. IQ
(Intellegence Quotient) / kecerdasan otak masih berorientasi pada
kebendaan.
Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan
istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali
diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal
abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford
berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan
mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ
tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya
kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap
individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif
dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini
banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai
usia 13 tahun.
Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar
biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih
5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini
mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang
tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel
saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan.
Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang itu terus
diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya
digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %.
Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa
memori sekitar 94 %.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik
oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk
suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya
tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun.
Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang
dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan
yang cukup.
2. Emotional Quotient (EQ)
EQ (Emotional Quotient) / kecerdasan emosi merupakan
kemampuan untuk mengelola emosi atau perasaan. Goleman
mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan
mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain,
kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola
emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan
orang lain. EQ masih berorientasi pada kebendaan. Tingkat EQ dapat
meningkat sepanjang kita masih hidup. Kecerdasan Emosional (EQ)
justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan
oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi
hidup.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994)
menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya
sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-
faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama teknis itu ada
yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ
mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan
berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa
mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa
mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan
bermanfaat.
Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk
“menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang
lebih positif. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual
dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia
utama dilihat dari berbagai segi.
Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat
secara fungsional. Antara satu dengan lainnya saling menentukan.
Otak berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa
hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya
bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual.
3. Spiritual Quotient (SQ)
Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan,
pada tahun 1938 Frankl telah mengembangkan pemikiran tentang
upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna atau logo
hidup harus dicari oleh manusia, yang di dalamnya terkandung nilai-
nilai : (1) nilai kreatif; (2) nilai pengalaman dan (3) nilai sikap. Makna
hidup yang diperoleh manusia akan menjadikan dirinya menjadi
seorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan
manusia dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yang penuh
persaingan dan konflik. Untuk menunjang kebebasan rohani itu
dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri dan manusia lainnya.
Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab.

SQ (Spiritual Qoutient) / kecerdasan spiritual dapat dikatakan


sebagai penggabungan antara IQ dan EQ. SQ merupakan kemampuan
untuk mengenal siapa dirinya secara lahir dan bathin dan mengenal
bahwa ada kekuasaan yang melebihi dari apa pun di dunia ini yaitu
Sang Pencipta. Manusia secara fitrah memang memiliki potensi untuk
menghambakan Dzat di mana dalam hubungan vertikal yaitu
hubungan manusia dengan Tuhannya. Manusia yang memiliki sifat
yang lemah, terbatas dan tergantung memiliki kecenderungan untuk
meminta perlindungan dan pertolongan kepada yang lebih darinya.
Manusia yang mampu mengelola kecerdasan ini dengan baik, maka
hidupnya akan merasakan ketenangan yang luar biasa nikmatnya.
Selain IQ, dan EQ, di beberapa tahun terakhir juga berkembang
kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Tepatnya di tahun
2000, dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate
Intellegence, Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ
adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk
menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan
adanya kecerdasan ini, akan membawa seseorang untuk mencapai
kebahagiaan hakikinya. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya,
dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Karena setiap
manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya.
Intinya, bagaimana kita bisa melihat hal itu. Intelejensia spiritual
membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan
keluarga, dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta.
Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan
spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna
atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup
kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan
untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai
landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara
efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita.
Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan
permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan
emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri
setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan
kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan
tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah
keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).
Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate
intelligence: 2001, IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran),
dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ
(spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’
Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi
jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan
kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa
adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang
dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi
terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih
berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu
memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada
setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya.
Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan
jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ
tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ)
adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang
membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya
atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan
kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.
Dalam Islam, orang yang cerdas adalah orang yang mampu
menundukkan pandangan hawa nafsunya. Hal ini merupakan Sabda
Rasulullah saw, seorang pendidik yang luar biasa cerdasnya yang
diriwayatkan oleh Tarmidzi.

III. PENUTUP
IQ, EQ dan SQ masing-masing memiliki peran yang penting dalam
setiap kehidupan manusia. Ketiganya harus berjalan secara seimbang
agar didapatkan keberhasilan yang sesungguhnya. Begitu pula bagi
seorang pendidik (guru). Dia harus mampu menguasai ketiga
kecerdasan ini.
Tugas dan peranan guru sebagai pengajar yang professional ,
berorientasi pada kegiatan layanan pengajaran kepada masyarakat
dan upaya konsisten dalam sistem pendidikan nasional. Seorang
pendidik (calon pendidik) diharapkan memiliki tiga kecerdasan ini (IQ,
EQ dan SQ) yang baik sehingga mampu melahirkan generasi-generasi
yang juga memiliki IQ,EQ serta SQ yang luar biasa. Tidak hanya
memiliki kecerdasan otak yang tinggi tetapi juga memiliki sikap,
moral dan tingkah laku yang luhur serta beriman kepada Tuhan Yang
Maha Esa (menguasai iptek dan imtak).

Sekolah Hanya Fokus IQ, EQ dan SQ Terlewatkan Sabtu, 09 Oktober 2010. Diposkan
oleh Dhink di 23.54 oleh : Eko Soenaryo SE Pendidikan sekolah bukan lagi satu-
satunya tumpuan keberhasilan seseorang dalam meraih kebahagiaan. Sistem pendidikan
yang dikenal selama ini hanya menekankan pada nilai akademik, kecerdasan otak saja.
Siswa dituntut belajar mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi sekedar supaya
memeroleh nilai bagus yang dapat dijadikan bekal mencari pekerjaan. Kecerdasan IQ
ditengarai tidak berjalan seimbang dengan dua kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan
emosi dan kecerdasan spiritual. Di sisi lain, dijumpai kekerasan dan penyimpangan
perilaku. Keahlian dan pengetahuan saja tidaklah cukup, perlu ada pengembangan
kecerdasan emosi, seperti inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi. Emotional
Spiritual Quotient (ESQ) mencoba menjawab persoalan tersebut. Konsep ESQ yang
berlaku secara universal akan membawa seseorang pada ‘predikat memuaskan’ bagi
dirinya serta sesama. ESQ yang dicetuskan Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ
Leadership Center, memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter
berdasar ESQ Way 165. Bagaimana konsep ESQ dalam memengaruhi keberhasilan
seseorang? Berikut petikan penuturan Eko Soenaryo SE, Koordinator ESQ Leadership
Center Cabang Malang kepada Restu Distiamardianti dari KORAN PENDIDIKAN Bisa
anda jelaskan tiga kecerdasan apa yang dimiliki diri manusia? Dan kecerdasan apa yang
tidak terlalu ditonjolkan oleh setiap manusia? Setiap manusia memiliki kecerdasan otak
(Intellectual Qoutient), kecerdasan emosi (Emosional Quotient) dan Spiritual Qoutient
atau penguasaan ruhiah vertikal. IQ berupa keahlian (skill) dan pengetahuan
(knowledge). EQ merupakan kemampuan untuk ‘merasa’ yang berpusat pada kejujuran
suara hati. SQ merupakan kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna (value),
kecerdasan untuk menilai tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna. Saya
menggambarkan EQ dengan garis hubung antara manusia dengan manusia yang lain.
Sedangkan SQ, hubungan manusia dengan Tuhan. Tiga kecerdasan tersebut tidak bisa
dipisahkan. Ketika seseorang berhasil meraih kesuksesan dengan memaksimalkan IQ
dan EQ, seringkali ada perasaan hampa dalam kehidupan batinnya, karena mereka tidak
memuat SQ. ESQ sebagai metode dan konsep merupakan jawaban atas kekosongan
batin. Ada hubungan antara duniawi, kepekaan emosi dan intelegensi yang baik, dengan
akhirat. ESQ memelihara keseimbangan antara akhirat dan duniawi, sehingga keduanya
mampu bersinergi menghasilkan kekuatan jiwa raga yang seimbang. Tidak ada dikotomi
pemikiran dunia saja atau akhirat saja. Adakah contoh kasus mengenai hal ini dalam
kehidupan masyarakat kita? Tiga kecerdasan ini seharusnya mendapat porsi yang serupa
saat diasah, sebab ketiganya menentukan keberhasilan seseorang. Selama ini banyak
orang lebih mengutamakan kecerdasan otak, Orangtua beramai-ramai memasukkan
anaknya ke sekolah, hanya supaya mereka pintar. Indonesia tidak pernah kekurangan
orang pandai, tapi orang yang tidak beretika juga tidak kalah banyak. Permasalahan ini
pernah dikaji Emotional Quotient Inventory, suatu lembaga data bank raksasa, dengan
melakukan riset IQ. Hasilnya, secara teori IQ hanya memberikan kontribusi sebesar 20
persen bagi keberhasilan manusia. Faktanya, yang benar-benar terjadi, sekitar 6 persen.
Jadi, IQ hanya menyumbang 6-20 persen atas keberhasilan seseorang. Kecerdasan otak
baru syarat minimal mencapai meraih keberhasilan, sedangkan kecerdasan emosi
memiliki peran jauh lebih signifikan. Dengan demikian, bagaimana anda
menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia? Masyarakat kita banyak yang
mengalami split personality (keterbelahan jiwa), banyak pribadi manusia yang memiliki
dua jiwa yang bertolak belakang. Seperti yang saya katakan tadi, bangsa ini memang
tidak kekurangan orang pintar. Juara olimpiade kimia dan fisika berasal dari Indonesia.
Banyak hacker yang canggih juga berasal dari Indonesia. Lantas, banyak juga orang
yang tidak memiliki moral dan etika. Padahal ratusan ribu jamaah Indonesia setiap
tahun menunaikan ibadah haji. Banyak orang rajin beribadah, tapi (maaf) tidak
ketinggalan melakukan kegiatan negatif. Mereka hanya menggunakan agama sebagai
simbol, sebab pemaknaan terhadap ajarannya terkesan kering yang tidak menghasilkan
kerinduan terhadap kasih sayang dan kejujuran terhadap orang lain. Padahal ini berlaku
di semua agama. Dapat dikatakan, masyarakat kita mengalami krisis moral? Iya, mereka
yang krisis moral ini hanya menempatkan agama seperti simbol. Mereka tidak mencapai
esensi spiritualitas yang berada di atas agama. Mereka yang mengalami hal ini perlu
ditetesi sedikit demi sedikit, untuk mengeluarkan Emotional Spiritual Quotient (ESQ).
Manusia kan memiliki tiga kecerdasan yang pasti ada semenjak ia lahir.
Perkembangannya, saat dewasa ada kecerdasan yang makin lama makin tidak diasah.
Inilah yang menyebabkan masyarakat kita memiliki moral rendah. Penyebab lain, ada
kalanya suara hati manusia tertutup. Mereka tidak mengakui perasaan universal saat
menyaksikan kejadian yang menonjolkan value kasih sayang. Maka yang terjadi adalah
kekerasan dan penyimpangan perilaku muncul dimana-mana. Tidak sama saat manusia
mengiyakan perasaan tersebut. Perasaan ini berasal dari God Spot yang disebut dengan
kesadaran spiritual, bahwa semua manusia itu memiliki suara hati yang sama secara
universal. Namun, ada 7 faktor yang membelenggu suara hati dan membuat manusia
menjadi buta, antara lain prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan,
sudut pandang, pembanding, dan literatur. Oleh karena itu, kemampuan melihat sesuatu
secara obyektif, harus didahului kemampuan mengenali faktor-faktor yang
memengaruhi. Langkahnya, dengan mengembalikan manusia pada fitrah hatinya.
Apakah seseorang bisa menemukan hubungan antara IQ, EQ dan SQ dengan sendiri
atau memerlukan bantuan, semacam pelatihan? Bisa, namun tidak semua orang bisa
memunculkan ESQ dalam dirinya. Analoginya begini, seseorang memiliki bahan baku
lengkap seperti gula, garam, dan singkong. Tetapi tidak mengetahui resep untuk
membuat bahan baku tadi menjadi makanan yang enak. Melakukan pelatihan membantu
seseorang menemukan resep tadi, juga berguna bagi seseorang untuk menyinergikan IQ,
EQ, dan SQ secara komprehensif. Patut diingat, pada umumnya IQ tidak berubah
selama masih hidup, berbeda dengan kecakapan emosi yang dapat terus meningkat
dengan motivasi dan usaha yang benar. Meningkatkan EQ yang seimbang dengan IQ,
disertai latihan dan tidak mengabaikan kecerdasan emosi dan spiritual, akan
meminimalisir kegagalan. Siapa saja yang perlu menumbuhkan kecerdasan emosi dan
spiritual? Setiap orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Anak-anak tidak
terlepas dari masalah yang membelit, misalnya yang kita dengar ada anak-anak yang
mengalami stres kemudian bunuh diri, adapula yang melakukan kekerasan terhadap
teman sebayanya. Tekanan psikologis ini bisa dijumpai di rumah, sekolah, dan
lingkungannya. Pada orang dewasa, ini nyata terjadi semisal pada lingkungan
perusahaan. Membangun ESQ dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja.
Bahkan bisa merubah budaya ketidakdisplinan menjadi disiplin dan meningkatkan rasa
tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan tempat ia bekerja. Metodologi training
yang diterapkan akan menuntun peserta membangkitkan 7 nilai dasar, yakni kejujuran,
keadilan, kedisiplinan, tanggung jawab, visioner, kerjasama, dan kepedulian. Tujuh nilai
dasar itu sebenarnya sudah ada dalam diri manusia. Sehingga melalui pelatihan akan
menghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur
hidup. Mengapa anak-anak memerlukan ESQ? Apakah pendidikan di sekolah belum
mengarah ke sana? Sekolah kan merupakan pendidikan formal yang mengasah
kemampuan otak. Siswa belajar, supaya bisa membaca menulis dan berhitung. Selama
ini, masyarakat hanya mendewakan pencapaian kecerdasan intelektual, yang
berhubungan dengan kemampuan menghafal, nalar, dan logika. Pendidikan dengan pola
demikian, hanya akan menghasilkan seseorang yang berdasar intelektual komitmen.
Intelektual komitmen menyangkut hal-hal yang bersifat fisik atau materi, contohnya,
pelajar yang hanya ingin memeroleh nilai tinggi saat ujian, mengharapkan pujian atau
hadiah dari teman atau keluarga saat nilai mereka baik, termasuk menghalalkan segala
cara supaya mendapat nilai baik dengan mencontek pekerjaan teman. Ini adalah dampak
dari dunia pendidikan yang hanya mementingkan IQ dan mengenyampingkan EQ dan
SQ. Mengapa, training ESQ mengelompokkan anak-anak menjadi satu kelas tersendiri?
Ini kembali pada tujuan ESQ untuk membentuk karakter yang tangguh dengan
memadukan konsep IQ, EQ, dan SQ. Anak-anak jauh lebih sulit dikendalikan daripada
orang dewasa. Sehingga membutuhkan perhatian yang lebih besar, kelas untuk anak-
anak saja dibatasi 75-100 orang. Lagipula untuk memasuki dunia anak-anak perlu
media yang berbeda, lebih banyak permainannya dan berkesan atraktif dan
demonstratif. Pelatihan khusus anak-anak juga menyiasati bagaimana seorang trainer
menghindarkan rasa jenuh, sehingga pikiran terbuka untuk memudahkan menyerap
materi. Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

BAB II
PEMBAHASAN

A.Apa itu egois ?


Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan
pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti
menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan
orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat.
Istilah lainnya adalah "egois".
Hal ini berkaitan erat dengan, atau "mencintai diri sendiri," dan kecenderungan
mungkin untuk berbicara atau menulis tentang diri sendiri dengan rasa
sombong dan panjang lebar. Egoisme dapat hidup berdampingan dengan
kepentingannya sendiri, bahkan pada saat penolakan orang lain.
Egoisme berbeda dari altruisme, atau bertindak untuk mendapatkan nilai
kurang dari yang diberikan, dan egoisme, keyakinan bahwa nilai-nilai lebih
didapatkan dari yang boleh diberikan. Berbagai bentuk "egoisme empiris" bisa
sama dengan egoisme, selama nilai manfaat individu diri sendirinya masih
dianggap sempurna.

Istilah "egoisme" berasal dari bahasa Yunani yakni yang berarti "Diri"
atau "Saya", dan yang digunakan untuk menunjukkan filsafat. Dengan
demikian, istilah ini etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, di sekitar kita banyak terdapat


beranekaragam type, karakter, kepribadian manusia yang memberikan warna
tersendiri dalam kehidupan ini. Ketika berinteraksi itu tak jarang terjadi gesekan
yang bisa membuat salah satu atau semua pihak merasa tersakiti. Efeknya
dapat menimbulkan rasa kecewa, kesal dan marah. Hal ini mungkin disebabkan
karena ucapan, tulisan atau perbuatan kita yang bagi orang lain serasa telah
menyinggung. Pada saat seseorang merasa tersakiti atau kecewa, bisa saja
seketika itu juga dia bisa memaafkan orang yang menyakitinya, namun belum
tentu dia bisa melupakan (secara langsung) kejadian itu.
Seperti kata petuah bijak, "Berbuat kebaikan itu bagaikan guyuran
hujan disaat kemarau, segarnya bisa dirasakan oleh semua orang. Namun
berbuat keburukan ibarat menancapkan paku pada sebuah kayu, andai
sudah dicabut pakunya tapi bekasnya akan selalu ada”

Para ahli psikologi klinis dan eksperimental, setelah meneliti ribuan


kasus orang yang sesungguhnya dengan segala macam masalahnya, sampai
pada kesimpulan bahwa dahaga akan ego juga bersifat universal danalami
seperti kelaparan akan makanan. Dan makanan bagi ego memenuhi tujuan
yang sama seperti makanan bagi tubuh. Tubuh memerlukan makanan untuk
bisa mempertahankan kelangsungan hidup. Ego, atau kepribadian setiap
individu yang unik, memerlukan penghargaan dan persetujuan serta rasa puas
karena telah mencapai sesuatu.

Ego yang lapar adalah ego yang jahat. Memperbandingkan ego dengan perut
sangat tepat untuk menjelaskan mengapa orang bertindak sebagaiman yang
mereka lakukan. Seseorang yang makan kenyang tiga kali sehari tidak terlalu
memikirkan perutnya. Tetapi seseorang yang tidak makan satu atau dua hari
menjadi benar-benar lapar dan seluruh kepribadiannya tampak berubah, dari
orang yang pemurah, periang dan baik hati, dia cenderung akan menjadi suka
bertengkar dan jahat. Dia jadi lebih suka mencela. Tidak ada suatu apapun
yang memuaskannya. Tidak ada gunanya bagi teman-teanyang beritikad baik
untuk menghampirinya dan mengatakan bahwa masalahnya hanyalah bahwa
dia “terlalu pemperhatikan perutnya” dan bahwa dia harus mengalihkan pikiran
dari perutnya.
Demikian pula tidak ada manfaatnya mengatakan kepadanya bahwa dia
akan bisa mengatasi sifat “memntingkan perutnya sendiri” dan bahwa itu berarti
menyesuaikan diri dengan tuntutan alam akan kelestarian. Alam telah
menempatkan insting dalam setiap makhluk hidup yang mengatakan “Anda dan
kebutuhan dasar Anda didahulukan”. Singkatnya dia harus makan, dan
memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, sebelum dia bisa memberikan
perhatian kepada hal-hal lainnya.

Demikian pula halnya dengan orang yang mementingkan diri sendiri. Bagi
pribadi yang sehat jasmani dan rohani serta normal, alam menuntut takaran
tertentu penerimaan diri dan persetujuan diri. Dan tidak ada manfaatnya
mengecam orang yang mementingkan diri sendiri dan menyuruhnya
mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengalihkan pikiran dari
dirinya sebelum dahaganya akan ego belum terpuaskan. Setelah itu, dia pasti
akan mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri, dan memberikan perhatiannya
kepada pekerjaannya, serta kepada orang lain dan kebutuhan mereka.

B.Tentang egois !

Pada dasarnya manusia itu merupakan makhluk yang egois. Ini sudah
dijelaskan oleh berbagai ilmu pengetahuan, yang antara lain:

1. Berdasarkan ilmu Perkembangan, sifat egois sudah ada dari kita


masih balita yaitu egocentrism. Egocentrism adalah tingkah laku anak
yang tidak dapat menempatkan dirinya di posisi orang lain. Misalnya:
Ingin selalu diperhatikan, pendapatnya harus bisa diterima, mengharap
orang lain memahami dirinya padahal dirinya tidak pernah mau
memahami orang lain.

2. Berdasarkan ilmu Antropologi, setiap manusia memang bersifat


antroposentris, yakni melakukan sesuatu yang didasarkan pada
kepentingan dirinya. Misalnya: Orang melakukan sesuatu karena ingin
memenuhi kebutuhan dan memuaskan diri dengan apa yang disukai. Dia
berhubungan dengan orang lain untuk mewujudkan apa yang menjadi
keinginannya. Manusia disebut makhluk sosial adalah karena sama-
sama tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, tapi membutuhkan
orang lain.

3. Menurut Sigmund Freud manusia memiliki struktur kepribadian yang


dibagi menjadi tiga (3), yaitu id, ego, dan superego.
a. Id adalah keinginan paling liar yang dimiliki setiap orang (makan, minum, sex).
b. Superego adalah norma-norma di luar diri kita.
c. Ego adalah diri kita yang bersifat memutuskan, apakah kita lebih memilih id
atau ego dan bagaimana id bisa terpuaskan dengan tetap memperhitungkan
superego.
Ketika seseorang terlalu mementingkan id-nya, maka orang tersebut
menjadi orang yg menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhannya.
Frued menyebut orang seperti ini sebagai idish (mementingkan id-nya) dan kita
biasa menyebutnya egois.

C.Manfaat dan dampak egois


Manfaat egois bagi kehidupan :
 Terlalu ingin melindungi orang yang penting didalam hidup kita demi

keselamatannya.
 Suka mengatur untuk kebaikan.
 Tidak suka melihat hal-hal yang tidak baik.
 Selalu berusaha dan pantang menyerah walaupun sering mengalami kegagalan.
 Membantah untuk sesuatu yang tidak baik dan berdampak buruk.

Dampak egois bagi kehidupan :


Lingkungan sulit menerimanya karena tidak ada usaha darinya untuk
menyesuaikan diri. Daripada terjadi konflik, pada umumnya lingkungan akan
menghindar berelasi dengannya sehingga ia terpaksa hidup dalam kesendirian.
Malangnya, makin terkucil, makin ia menganggap bahwa lingkunganlah yang
salah. Pada akhirnya orang yang egois hidup dalam kesendirian.
Lingkungan pun sulit untuk mempercayainya sebab lingkungan menilai ia
tidak tulus. Semua yang dikerjakannya cenderung dinilai mempunyai maksud
tersembunyi di belakangnya. Pada akhirnya relasinya dengan sesama
terhambat dan makin hari makin sedikit orang yang bersedia berelasi
dengannya. Kalaupun berelasi, relasi yang terjalin merupakan relasi timbal-
balik, tanpa ketulusan dan pengorbanan.
dan hal-hal di atas dapat di ringkas menjadi sebagai berikut :
 Merasa diri selalu benar dan hebat.
 Suka membantah bila dinasehati yang baik.
 Gaya hidup yang terlalu bebas tanpa aturan dan orang lain tidak berhak
melarang.
 Memuaskan diri sendiri dengan merugikan orang lain.
 Tidak perduli dengan orang-orang dan lingkungan disekelilingnya.

D.Ciri-Ciri Pribadi yang Egois

Hanya dapat melihat dari sudut pandangnya; tidak dapat melihat dari sudut
pandang orang lain, apa lagi merasakan apa yang orang lain rasakan. Jadi,
tidak mudah untuk berbincang dengannya kerana ia akan berusaha agar kita
menuruti pendapatnya.
Hanya memikirkan kepentingan peribadinya; jadi, apa yang dilakukannya selalu
untuk kepentingan peribadi, bukan ikhlas untuk kepentingan orang lain. Ia tidak
mengenal erti pengorbanan dan ketulusan; semua hal diperkirakan
berdasarkan untung ruginya.
Kesan Peribadi Yang Ego. Orang sekeliling sukar menerimanya kerana tidak
ada usaha darinya untuk menyesuaikan diri. Daripada terjadi konflik, pada
umumnya orang sekeling akan menjauhkan diri dari berhubungan dengannya
sehingga ia terpaksa hidup bersendirian. Malangnya, semakin kesunyian,
semakin ia menganggap bahawa orang sekeliling yang salah. Pada akhirnya
orang yang ego hidup dalam bersendirian. Sahabat pun sukar untuk
mempercayainya sebab mereka menilai ia tidak jujur. Semua yang
dikerjakannya cenderung dinilai mempunyai maksud tersembunyi di
belakangnya. Pada akhirnya hubungannya dengan yang lain tersekat dan
semakin hari semakin sedikit orang yang bersedia berkawan dengannya.
seandainya bersahabatpun, hubungan yang terjalin merupakan hubungan
timbal-balik, tanpa keikhlasan dan pengorbanan.

Secara garis besar egois di bagi menjadi dua level yaitu :

A. Ciri - ciri orang egois pada level I adalah:


1. Suka membuang makanan sementara ada orang yang kelaparan.
2. Suka menghamburkan uang sementara banyak orang yang membutuhkan.
3. Membuang sampah sembarangan sehingga dapat merugikan banyak orang.
4. Merokok di tempat umum tanpa peduli ada orang lain di sekitarnya.
5. Mendengarkan musik keras-keras saat orang lain sedang beristirahat atau
beribadah.
B. Ciri – ciri orang egois level II adalah:
1. Mampu bersenang-senang sementara ada orang di sekitarnya yang menderita
karenanya.
2. Setiap kali menyakiti tidak pernah berkata maaf.
3. Tidak berusaha memperbaiki kesalahannya yang berakibat buruk untuk orang
lain.
4. Selalu ingin menang sendiri, setiap keinginannya harus terpenuhi dengan cara
apapun.
5. Merasa dirinya hebat dan tidak membutuhkan orang lain.

E.Penggolongan Teori Egoisme


1.Egoisme Psikologis
1.1. Pendapat pokok faham egoisme psikologis:

Egoisme psikologis pada pokoknya berpendapat bahwa kodrat manusia


dalam kenyataannya secara psikologis cenderung memilih tindakan yang
menguntungkan bagi dirinya sendiri. Menurut faham ini, apa yang disebut
sebagai sikap altruis (y.i. sikap mau mencintai dan berkorban diri demi
kepentingan orang lain) hanyalah mitos belaka. Kalau dalam praktek kehidupan
sehari-hari nampaknya terjadi, hal itu memang hanya nampaknya saja
demikian. Sebab apabila orang mau meneliti apa motivasi sesungguhnya yang
mendorong dilakukan tindakan itu, akan menjadi nyata bahwa tindakan altruis
itu tidak lain hanyalah bentuk terselubung dari cinta diri.

1.2. Argumentasi untuk menolak kemungkinan adanya sikap altruis


sungguh-sungguh:

1.2.1. Setiap tindakan yang dilakukan dengan bebas pada dasarnya muncul
dari pilihan pelakunya untuk melakukan sesuatu yang paling ia ingini untuk
dilakukan. Misalnya seorang yang menyumbangkan uangnya ke proyek sosial
pengumpulan dana bagi para korban gempa bumi tidak dapat dikatakan bahwa
ia bersikap altruis, sedangkan yang memakainya untuk menonton film bersikap
egois. Karena pada keduanya, si pelaku hanyalah melakukan apa yang
masing-masing memang paling mereka ingin lakukan. Yang satu justru merasa
senang dan bahagia kalau dia dapat menyumbangkan uangnya pada proyek
sosial, sedangkan yang lain merasa senang dan bahagia kalau dapat
melakasanakan apa yang ia inginkan, dan dalam hal ini yang ia inginkan adalah
menonton film. Jadi kedua-duanya sebenarnya mencari apa yang
menguntungkan untuk dirinya sendiri.

1.2.2. Suatu tindakan hanya nampaknya saja tidak bersifat egois atau
altruis. Kalau motivasi sesungguhnya dapat diketahui, maka akan menjadi
nyata bahwa tindakan itu sebenarnya didasari oleh cinta diri. Misalnya orang
yang menyumbangkan uangnya ke proyek sosial tadi, setelah melakukan apa
yang ingin dia lakukan, ia merasa senang dan puas dan kemudian dapat tidur
dengan pulas di waktu malam karena merasa telah menunaikan tugasnya
dengan baik. Sedangkan kalau ia tidak menyumbangkan uangnya pada proyek
sosial, maka hatinuraninya terus merasa terganggu. Jadi dalam melakukan
pemberian dana itu sebenarnya ia mempunyai pamrih pribadi.

1.2.3. Untuk menjelaskan pendapat di atas, Thomas Hobbes (1588-1679)


dan kemudian dikembangkan oleh Moritz Schlick (1881-1936) mengajukan
pendapat bahwa untuk menilai suatu tindakan, orang perlu menemukan
motivasi sesungguhnya dari tindakan tersebut, dan untuk ini orang perlu tidak
hanya berhenti pada penafsiran yang dangkal. Menyebut suatu tindakan
sebagai ungkapan sikap altruis menurut dia merupakan suatu penafsiran yang
terlalu dangkal terhadap kejadian yang sesungguhnya. Kalau orang mau
mengakui kenyataan, motivasi yang sesungguhnya selalu mengandung unsur
cinta diri. Sebagai contoh misalnya apa yang disebut cintakasih. Motivasi yang
sesungguhnya di balik tindakan menolong orang lain adalah mau menunjukkan
bahwa dirinya lebih baik dari yang lain, lebih mampu, lebih unggul dari yang
ditolong. Dalam tindakan berbelaskasih, alasan yang sebenarnya mengapa kita
mempunyai rasa belaskasih terhadap sesama manusia yang menderita adalah
karena kita sendiri berharap agar kalau kita berada dalam situsai macam itu
orang lain pun berbelaskasih atau mau menolong kita. Pada orang yang
berbelaskasih ada kekhawatiran jangan-jangan penderitaan atau kemalangan
yang sama nanti suatu ketika juga menimpa dirinya.

1.3. Tanggapan kritis:

Seperti pernah secara cukup jeli dikemukakan oleh James Rachels,


argumentasi yang mendasari faham egoisme psikologis sepintas nampak sulit
dibantah, namun argumentasinya sebenarnya muncul karena beberapa
kerancuan pengertian. Kalau kerancuan tersebut dapat diurai, menjadi jelas
bahwa argumentasi mereka yang menganut egoisme psikologis tidak dapat
dipertahankan. Sekurang-kurangnya terkandung tiga jenis kerancuan
pengertian dalam argumentasi yang dikemukakan oleh para penganut dan
penganjur egoisme psikologis. Kerancuan yang pertama adalah kerancuan
pengertian antara egoisme dalam arti mendahulukan kepentingan diri sendiri
(selfishness) dan egoisme dalam arti berguna untuk diri sendiri (self-interest).
Keduanya tidak sama. Kalau saya mematuhi hukum yang berlaku atau bekerja
keras di kantor, ini tidak dapat dikatakan bahwa saya egois dalam arti hanya
mendahulukan kepentingan diri saya sendiri. Perbuatan itu memang pada
dasarnya berguna (atau mungkin lebih tepat bernilai) untuk diri saya sendiri. Arti
yang kedua ini sebenarnya tidak tepat untuk disebut egois. Dalam pengertian
egois sebenarnya selalu terkandung penilaian negatif bahwa si pelaku tidak
mempedulikan kepentingan orang lain dan hanya mementingkan dirinya sendiri
melulu.

Kerancuan yang kedua adalah kerancuan antara pengertian perilaku


yang mengejar kepentingan diri (self-interested behavior) dan perilaku yang
disukai, karena memberi nikmat (the pursuit of pleasure). Dalam kehidupan
sehari-hari banyak hal seringkali kita lakukan memang karena kita
menyukainya. Tetapi kenyataan bahwa kita melakukan suatu perbuatan karena
kita menyukainya, atau bahwa perbuatan itu membawa kenikmatan tersendiri
bagi kita, tidak dengan sendirinya dapat dikatakan bahwa perbuatan kita itu
muncul berdasarkan motif egoisme, dalam arti hanya mengejar kepentingan diri
sendiri. Kalau ada orang yang suka menghisap rokok kretek dalam-dalam
setelah makan siang, karena hal itu terasa nikmat untuknya, kita tidak dapat
mengatakan bahwa perbuatan orang itu dengan sendirinya bermotifkan
egoisme. Baru kalau dalam menghisap rokok tersebut ia sama sekali tidak
peduli akan keluhan tetangganya yang sedang sakit flu, maka perbuatan itu
dapat dikatakan sebagai perbuatan yang egois.

Kerancuan yang ketiga adalah kerancuan pengertian bahwa suatu


perhatian akan kepentingan diri sendiri selalu tidak dapat diselaraskan dengan
kepentingan sejati dari orang lain. Karena sudah jelas bahwa setiap orang (atau
hampir setiap orang) selalu memperhatikan apa yang menjadi kepentingannya,
para penganut egoisme psikologis menarik kesimpulan bahwa setiap orang itu
egois dan tidak pernah secara sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan
orang lain. Anggapan ini tentu saja keliru. Pengejaran kepentingan diri sendiri
tidak dengan sendirinya bertabrakan dengan kepentingan orang lain. Memang
tidak jarang terjadi bahwa timbul tabrakan antara kepentingan diri kita sendiri
dengan kepentingan orang lain. Tetapi hal ini tidak selalu terjadi, dan kalau itu
terjadi, tidak dengan sendirinya pula bahwa kita mendahulukan kepentingan diri
kita sendiri seraya mengorbankan kepentingan orang lain. Kenyataan bahwa
ada orang yang secara tulus berkorban untuk orang lain, seperti seorang ibu
bagi anaknya, seorang gadis bagi pemuda idamannya, dsb., membuktikan
bahwa dalam berbuat, orang pada dasarnya secara psikologis tidak selalu
didorong oleh egoisme.

Dalam usaha untuk menemukan faktor pokok yang menentukan tindakan


manusia, para penganut egoisme psikologis melupakan bahwa motivasi
tindakan manusia itu dapat bersifat kompleks. Menyatakan bahwa semua
tindakan manusia pada dasarnya didorong oleh motivasi egois merupakan
suatu penyederhanaan yang mengabaikan kompleksitas tersebut. Pernyataan
yang bersifat reduksionistik (terlalu menyederhanakan) itu juga
mengungkapkan sikap yang terlalu sinis terhadap perbuatan baik orang.
Dengan alasan menekankan kejujuran untuk mengakui apa yang sesungguh-
nya menjadi motivasi seseorang untuk bertindak, lalu secara sinis terlalu cepat
curiga akan maksud baik orang lain.

2. Egoisme Etis
2.1. Pendapat pokok faham egoisme etis:

Egoisme etis adalah suatu faham etika normatif yang menyatakan


bahwa setiap orang wajib memilih tindakan yang paling menguntungkan bagi
dirinya sendiri. Dengan kata lain, menurut faham ini, tindakan yang baik dan
dengan demikian wajib diambil adalah tindakan yang menguntungkan bagi diri
sendiri. Satu-satunya kewajiban manusia adalah mengusahakan agar
kepentingannya sendiri dapat terjamin.

Ini tidak berarti bahwa kepentingan orang lain harus senantiasa


diabaikan. Karena, bisa jadi demi pencapaian hasil yang paling menguntungkan
untuk diri sendiri, orang justru perlu mengindahkan kepentingan orang lain.
Namun dalam hal ini kenyataan bahwa tindakan itu membawa keuntungan atau
kebaikan untuk orang lain bukanlah hal yang membuat tindakan tersebut benar.
Yang membuat tindakan itu benar adalah fakta bahwa tindakan itu menunjang
usaha untuk memperoleh apa yang paling menguntungkan bagi dirinya.

Faham ini juga tidak bermaksud menganjurkan untuk mencari nikmat


pribadi sepuas-puasnya, seperti halnya diajarkan oleh faham Hedonisme.
Justru dalam banyak hal faham Egoisme Etis melarang pencarian nikmat
pribadi, karena hal itu dalam jangka panjang justru tidak menguntungkan. Yang
dianjurkan oleh Egoisme Etis adalah agar setiap orang melakukan apa yang
sesungguhnya dalam jangka panjang akan menguntungkan untuk dirinya (“A
person ought to do what really is to his or her own best advantage, over the
long run.”) Egoisme Etis memang menganjurkan “selfishness” tetapi bukan
“foolishness”.

2.2. Argumen-argumen untuk mendukung Egoisme Etis:

Argumen pertama yang biasanya dipakai untuk mendukung Egoisme


Etis adalah kenyataan bahwa kalau kita mau mengusahakan hal-hal yang
menguntungkan semua pihak, masing-masing orang justru wajib
memperhatikan kepentingannya sendiri. Karena yang paling tahu tentang apa
yang paling dibutuhkan oleh seseorang adalah orang itu sendiri, dan bukan
orang lain. Kalau kita cenderung mau mengurusi orang lain, dapat terjadi
bahwa kita justru tidak menguntungkan semua pihak. Seperti dinyatakan oleh
Robert G. Olson dalam bukunya The Morality of Self-Interest (1968), “The
individual is most likely to contribute to social betterment by rationally
pursuing his own best long-range interests”

(“Masing-masing individu akan paling menyumbang pada perbaikan sosial


[kalau masing-masing individu] dengan secara rasional mengejar apa yang
dalam jangka panjang menjadi kepentingannya sendiri yang paling baik”).
Masing-masing orang sendiri lah yang paling tahu akan apa yang diinginkan
dan dibutuhkannya. Kita tidak pernah tahu persis apa yang diinginkan dan
dibutuhkan orang lain. Kalau kita mencampuri urusan orang lain, campurtangan
ini justru malah hanya merusak kesejahteraannya, karena bersifat ofensif bagi
kebebasannya untuk menentukan diri. Mencampuri urusan orang lain dapat
melanggar prinsip “privacy” seseorang. Menjadikan orang lain sebagai objek
atau sasaran perbuatan karitatif kita, sama saja dengan merendahkan
martabatnya. Dengan memperhatikan kepentingan orang lain, kita dapat
menciptakan situasi ketergantungan dan kurang menghargai kemampuan serta
harga diri orang yang ditolong.

Argumen yang kedua mendasarkan diri pada keunggulan Egoisme Etis


dibandingkan dengan Etika Altruis dalam menjunjung tinggi nilai hidup masing-
masing individu. Seperti dinyatakan oleh Ayn Rand (dalam bukunya The
Virtues of Selfishness), Egoisme Etis merupakan satu-satunya filsafat moral
yang menghormati integritas kehidupan masing-masing individu. Menurut dia,
Etika Altruis bersifat merusak nilai hidup manusia sebagai individu di dunia ini.
Etika Altruis yang cenderung mengatakan pada setiap orang “hidupmu
hanyalah sesuatu yang bersifat sementara dan pantas dikorbankan,” dapat
dikatakan cenderung menolak nilai diri pribadi manusia. Perhatian pokok kaum
altruis bukan bagaimana dapat hidup sepenuh-penuhnya di dunia ini, tetapi
bagaimana mati suci (bagaimana mengorbankan hidup ini) bagi orang lain.
Perhatian pokok macam ini dapat membuat orang kurang menghargai dan
memperkembangkan hidupnya semaksimal mungkin.

Argumen tersebut kalau mau dirumuskan secara singkat akan berbunyi


sebagai berikut:

(1) Setiap pribadi manusia hanya memiliki satu hidup untuk dihayati. Kalau
kita memandang setiap individu bernilai sungguh-sungguh, atau kalau setiap
individu secara moral bernilai dalam dirinya sendiri, maka kita mesti menyetujui
bahwa hidup kita yang satu ini amatlah penting untuk dipertahankan dan
dikembangkan sepenuhnya.

(2) Etika Altruis memandang hidup masing-masing individu sebagai suatu


yang bila perlu mesti direlakan untuk dikorbankan bagi orang lain.

(3) Maka Etika Altruis tidak menganggap serius nilai hidup masing-masing
individu manusia.

(4) Sedangkan, Egoisme Etis, yang memperkenankan setiap pribadi


manusia memandang hidupnya sendiri sebagai bernilai paling tinggi,
sungguh mengambil serius nilai hidup masing -masing individu manusia;
bahkan Egoisme Etis dapat dika-takan merupakan satu-satunya teori moral
yang melakukan hal itu.

(5) Maka Egoisme Etis merupakan teori moral yang wajib


diterima.Argumen yang ketiga yang biasanya dipakai untuk mendukung teori
moral Egoisme Etis adalah kemampuannya untuk secara jelas dan sederhana
memberikan satu prinsip dasar untuk menjelas-kan macam-macam aturan dan
pedoman perilaku manusia sehari-hari. Di balik macam-macam aturan yang
mengikat manusia dalam hidupnya sehari-hari, seperti: tidak boleh menyakiti
orang lain, wajib mengatakan yang benar, wajib menepati janji, dsb., menurut
Egoisme Etis, ada satu prinsip dasar, yakni prinsip mengejar kepentingan diri
sendiri. Aturan-aturan tersebut dapat diterangkan berdasarkan prinsip mengejar
kepentingan diri sendiri. Mengapa kita tidak boleh menyakiti orang lain,
misalnya, dapat dijelaskan demikian: apabila kita biasa menyakiti orang lain,
maka orang lain pun tidak akan segan-segan atau ragu-ragu untuk menyakiti
kita. Kalau kita menyakiti orang lain, orang itu akan melawan dan membalas.
Dapat terjadi pula bahwa karena kita menyakiti orang lain, kita akan dihukum
dan dimasukkan penjara karenanya. Dengan menyakiti orang lain, akhirnya kita
sendiri akan rugi. Maka pada dasarnya merupakan keuntungan bagi diri kita
sendiri apabila kita tidak menyakiti orang lain. Logika pemikiran yang sama
dapat dipakai untuk menjelaskan aturan-aturan lain yang wajib kita patuhi
setiap hari.

2.3. Tanggapan Kritis:

Kalau kita perhatikan argumen pertama di atas secara kritis, maka akan
nampak bahwa argumen tersebut sebenarnya tidak mendukung prinsip
egoisme etis. Mengapa demikian? Alasan pokok yang diberikan dalam argumen
pertama untuk mendukung Egoisme Etis adalah bahwa kalau setiap orang
mengejar apa yang dalam jangka panjang menjadi kepentingannya sendiri yang
paling baik, maka perbaikan sosial atau terpenuhinya kepentingan semua pihak
justru akan terjamin, karena masing-masing individu lah yang paling tahu apa
yang dia butuhkan. Kalau Egoisme Etis sungguh konsisten dengan prinsipnya,
maka ia tidak perlu peduli akan perbaikan sosial atau keterjaminan bahwa
kepentingan semua pihak akan lebih terpenuhi. Kenyataan bahwa dalam
argumen pertama hal tersebut dipedulikan dan bahkan dijadikan alasan untuk
bersikap egoistik, maka walaupun Egoisme Etis menganjurkan untuk
berperilaku egoistik, prinsip dasariah yang melandasinya justru tidak egoistik.

Dalam argumentasi kedua, Egoisme Etis nampaknya keluar sebagai


teori moral yang lebih baik atau lebih masuk akal daripada Etika Altruis. Akan
tetapi hal itu terjadi karena faham Etika Altruis digambarkan sedemikian
ekstrim, sehingga tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya diajarkan
olehnya. Dalam argumen tersebut diberi kesan bahwa Etika Altruis itu
mengajarkan bahwa kepentingan diri sendiri itu sama sekali tidak bernilai
dibandingkan dengan kepentingan orang lain, sehingga setiap tuntutan untuk
mengorbannkannya demi kepentingan orang lain wajib dipenuhi.

Akan tetapi gambaran tentang Etika Altruis, sebagaimana diberikan oleh


Ayn Rand sebagai penganjur Egoisme Etis, itu tidak fair, karena yang diajarkan
oleh Etika Altruis tidak seekstrim dalam gambaran tersebut. Yang diajarkan oleh
Etika Altruis adalah bahwa meskipun hidup masing-masing individu di dunia ini
merupakan suatu yang amat bernilai, namun bukanlah satu-satunya nilai dan
juga bukan nilai yang mutlak. Usaha mencapai kebagiaan hidup sejati manusia
tidak lepas dari perlunya bersikap baik terhadap orang lain dan kerelaan untuk
berkorban bagi manusia lain. Kalau hal tersebut sasamasekali diabaikan,
karena nilai hidup masing-masing individu di dunia ini dimutlakkan, maka
kebahagiaan sejati manusia justru tidak akan tercapai. Demikianlah, dengan
terlalu memutlakkan nilai hidup masing-masing individu manusia, Egoisme Etis
justru akan menggagalkan usahanya sendiri untuk mengejar apa yang paling
menunjang bagi terpenuhinya kepentingan diri yang sejati.
Berkenaan dengan argumentasi ketiga, argumen ini pun tidak berhasil
menegakkan Egoisme Etis sebagai teori moral normatif yang dapat dan perlu
diterima. Argumen tersebut hanya mampu menunjukkan bahwa sebagai
pedoman umum dapat dikatakan bahwa memang lebih menguntungkan bagi
diri sendiri untuk melaksanakan kewajiban dan tidak melanggar larangan
sebagaimana diatur dalam pedoman perilaku sehari-hari. Berusaha untuk tidak
menyakiti orang lain memang pada umumnya lebih menguntungkan untuk diri
sendiri. Tetapi hal ini tidak selalu demikian. Kadang-kadang dalam praktek
orang lebih beruntung kalau dapat menyakiti orang lain terlebih dulu daripada
disakiti olehnya. Maka kewajiban untuk tidak menyakiti orang lain dan
kewajiban-kewajiban moral yang lain tidak dapat diturunkan dari prinsip egoistik
untuk mencari apa yang paling menguntungkan untuk diri sendiri.

Selain itu, seandainya benar bahwa dengan mendermakan uangnya


kepada orang miskin pada akhirnya diri sendirilah yang diuntungkan, kiranya
tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa keuntungan diri sendirilah yang menjadi
motif pokok tindakan mendermakan uang kepada orang miskin. Yang seringkali
terjadi adalah bahwa motif pokok tindakan tersebut memang kepentingan orang
yang ditolong, sedangkan untuk diri sendiri itu hanyalah sekunder atau
merupakan akibat samping dari tindakan mau menolong orang lain tersebut.
Seandainya betul bahwa semua tindakan altruistik itu bermotifkan kepentingan
egoistik, maka hidup sosial manusia akan menjadi lebih sulit, karena dipenuhi
rasa kecurigaan. Setiap perbuatan baik akan selalu ditanggapi dengan sikap
sinis, karena toh bukan kepentingan orang yang ditolong yang menjadi fokus
perhatian, tetapi diri sendiri. Orang yang mendapatkan pertolongan sulit untuk
berterima kasih, karena melulu hanya dijadikan sarana saja bagi pemenuhan
kepentingan diri si penolong saja.

Egoisme Etis biasanya mendasarkan diri pada apa yang dikemukakan


oleh Egoisme Psikologis. Tetapi kita sudah lihat di atas, bahwa pendapat pokok
Egoisme Psikologis tidak dapat dipertahankan. Sebagaimana Egoisme
Psikologis, Egoisme Etis meredusir kompleksitas motivasi tindakan manusia
pada motif mencari apa yang menguntungkan bagi diri sendiri. Tetapi ini tidak
sesuai dengan kenyataan. Bahwasanya Egoisme Etis dapat menjelaskan
kewajiban moral atas dasar prinsip kepentingan diri atau motif mencari apa
yang menguntungkan bagi diri sendiri, belumlah merupakan bukti bahwa
kepentingan diri merupakan satu-satunya dasar bagi kewajiban moral. Hanya
kalau dapat dibuktikan bahwa kepentingan diri merupakan satu-satunya dasar
bagi kewajiban moral, maka Egoisme Etis sebagai suatu teori moral normatif
tidak dapat diterima.
F.Penyebab adanya egois
Sebagian pribadi egois berasal dari latar belakang keluarga yang terlalu
memanjakan sehingga apa pun yang diminta selalu diberikan. Sebagian pribadi
egois berasal dari latar belakang hampa kasih sayang sehingga ia tidak pernah
belajar mengasihi. Ia menjadi hemat mengasihi dan berkorban karena ia tidak
pernah mengenal kasih sayang sehingga ia tidak pernah belajar mengasihi. Ia
menjadi orang yang tidak mengasihi dan tidak rela berkorban kerana ia tidak
pernah mengenal kasih sayang.

G. Contoh contoh kasus Egoisme


 Tidak mau kalah
Yang dimaksud tidak mau kalah disini:seseorang memaksakan semua
keinginannya,tanpa memperhatikan orang lain, atau ia menganggap bahwa
semua yang dia lakukan benar.
CONTOH KASUS: Dalam berorganisasi
Si fulan mengungkapkan pendapatnya dalam rapat,temannya menanggapi
atau memberikan masukan.Tetapi Si Fulan itu tidak mau menerima
masukan,dan ia bersikeras agar pendapatnya diterima dan tidak mau
mendengarkan pendapat orang lain.
 Mempunyai keinginan yang harus dicapai
Yang dimaksud Mempunyai Keinginan yang harus dicapai disini:
seseorang dalam mengerjakan sesuatu mempunyai tujuan dan obsesi tertentu.
CONTOH KASUS: Dalam perkuliahan
Si fulan pada perkuliahannya ingin mendapatkan IPK besar,ia
menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya tersebut.
 Pola pikir dan orientasi hidup yang serba kebendaan
Yang dimaksud Pola pikir dan orientasi hidup yang serba kebendaan
disini:Seseorang dalam pikiran semasa hidupnya hanya mementingan semua
keinginan kebendaan.
CONTOH KASUS: Dalam kehidupan
Si fulan dalam hidupnya hanya memikirkan benda-benda yang ingin dia
dapatkan atau dia miliki,padahal masing-masing sudah mempunyai hak dan
rizkinya masing-masing.
 Paham matrealisme
Yang dimaksud Paham matrealisme disini:Seseorang memikirkan
sesuatu itu hanya dengan materi dan segala sesuatu yang ia lakukan pasti
UUD (Ujung-ujungnya Duit)dan ia melakukannya dengan menghalalkan
berbagai cara.
CONTOH KASUS: Dalam Pendidikan
Pada zaman dahulu kemampuan seseorang lebih dihargai daripada
kekayaannya,namun pada zaman sekarung uang mempunyai pengaruh yang
lebih besar.
 Gaya hidup hedonis
Hedonisme yang berasal dari bahasa yunani memiliki arti hidup dalam
kesenangan dan kemewahan. Dimana kesenangan menjadi tolak ukur yang
mutlak.
Yang dimaksud Gaya Hidup Hedonis disini:seseorang menganggap
bahwa kesenangan dan kenikmatan merupakan tujuan utama hidup.
CONTOH KASUS: boros
Pikiran hedonis biasanya banyak ditemukan pada lingkungan strata
sosial ekonomi mapan, serta kurangnya pendidikan dari orang tua. Contoh
kecil, seseorang yang biasa hidup di dunia borjuis, ataupun seseorang yang
hidupnya berkutat dengan dunia narkoba, atau yang sangat jauh dari
pendidikan agama dia akan merasa bahwa kesenangan baginya adalah
hidupnya yang sebenarnya.
 Hanya dapat melihat dari sudut pandangnya
Maksudnya: ia hanya melihat segala sesuatu dengan sudut pandangnya
sendiri,ia tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain, apalagi merasakan
apa yang orang lain rasakan. Jadi, tidak mudah untuk berdiskusi dengannya
karena ia akan
berusaha keras agar kita menuruti pendapatnya.
CONTOH KASUS:
Ketika seseorang meminta bantuan pada kita namun kita mengatakan
tidak bisa karena sedang ada keperluan yang mendesak, namun orang yang
meminta bantuan itu sontak tidak terima dan menganggap kita tidak peduli
padanya. Padahal pada keadaan lain orang yang dimintakan sedang
menghadapi musibah yang orang tidak tahu.
 Hanya memikirkan kepentingan pribadinya
jadi, apa yang dikerjakannya selalu untuk kepentingan pribadi, bukan
murni untuk kepentingan orang lain. Ia tidak mengenal makna pengorbanan
dan ketulusan; semua hal diperhitungkan berdasarkan untung-ruginya.
CONTOH KASUS:
Ketika terjadi kebanjiran di jalan raya, muncul orang-orang yang tiba-tiba
ikut membantu seseorang yang kendaraannya mogok, namun sebelum mereka
membantu kita mereka meminta bayaran dengan alasan untuk sesuap nasi.
Padahal orang yang terkena banjir sedang menghadapi musibah sehingga dia
harus bersegera mencari solusi, namun orang yang membantu tidak
menghiraukan dan tetap meminta byaran.
 Sifat dasar manusia yang tidak pernah puas
Dalam diri manusia mempunyai sifat utama, yaitu sifat baik dan buruk.
Maka egois adalah sifat dasar manusia yang buruk dan akan terlihat tergantung
dari manusia itu sendiri mampu mengontrol tidaknya sifat tersebut.

 Rasa trauma yang menimbulkan ketidak percayaan kepada orang lain


Ketika pada satu lingkungan kita selalu dihadapkan pada kekecewaan
yang dilakukan oleh lingkungan kita, maka kemudian akan mengakibatkan kita
menjadi skeptis atau sulit untuk menerima pikiran orang lain.
 Pemahaman yang dangkal tentang fungsi manusia sebagai makhluk sosial
yang saling membutuhkan.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial
dimana kita hidup berdampingan dengan yang lainnya saling membutuhkan,
namun hal itu tidak akan disadari jika kita tidak berusaha peka dan peduli pada
sesama, selain itu pembekalan moral dan agama dalam lingkungan keluarga
berperan besar terhadap perkembangan sikap diri kita dalam kehidupan.
 Sikap egois ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah diterimanya
selama ini.
Maksudnya,seseorang berprilaku egois itu besar kemungkinannya dari
cara keluarganya memperlakukan ia.
CONTOH KASUS :
sejak kecil ia dijunjung dan diutamakan, ia tidak pernah disalahkan dan
senantiasa dibenarkan, orang seperti ini sewaktu dia dewasa, dia menuntut
perlakuan yang sama dari semua orang.
 Sikap egois timbul dari keadaan lingkungan yang kelaparan, kelaparan
emosional, kelaparan finansial atau kelaparan jasmaniah & rohaniah.
 Lingkungan sulit menerimanya karena tidak ada usaha darinya untuk
menyesuaikan diri
Daripada terjadi konflik, pada umumnya lingkungan akan menghindar
berelasi dengannya sehingga ia terpaksa hidup dalam kesendirian. Malangnya,
makin terkucil, makin ia menganggap bahwa lingkunganlah yang salah. Pada
akhirnya orang yang egois hidup dalam kesendirian.
 Lingkungan pun sulit untuk mempercayainya sebab lingkungan menilai ia
tidak tulus
Semua yang dikerjakannya cenderung dinilai mempunyai maksud
tersembunyi di belakangnya. Pada akhirnya relasinya dengan sesama
terhambat dan makin hari makin sedikit orang yang bersedia berelasi
dengannya. Kalaupun berelasi, relasi yang terjalin merupakan relasi timbal-
balik, tanpa ketulusan dan pengorbanan.
 Akan menimbulkan suasana yang tidak harmonis dalam pergaulan
Pada suatu kelompok yang memiliki ikatan yang saling mengikat dan
membutuhkan, namun kemudian kita mengedepankan sikap egois pada
lingkungan tersebut maka keadaan yang tadinya dibuat untuk saling mengikat
akan menjadi tidak harmonis. Contoh sederhana dalam satu tim sepakbola jika
saja banyak yang mengedepankan sikap egois dalam permainannya maka
yang akan terjadi adalah rasa saling tidak percaya dan tidak suka yang
mengakibatkan ketidak harmonisan dalam tim tersebut.
 Memicu prilaku negatif pada lingkungan sekitar.
Jika dalam suatu lingkungan pergaulan cenderung kepada pemaksaan
keinginan atau ego masing-masing individu maka dalam lingkungan itu akan
timbul prilaku-prilaku yang negatif atau tidak sesuai dengan tatanan manusia
sebagai makluk sosial. Salah satu contoh sederhana ketika kita sedang
dirundung masalah dengan orang lain, karena kita merasa benar dan kita
disudutkan oleh orang lain maka kita melawan dengan memilih untuk
memanggil kawan-kawan kita yang tentu akan membela diri kita. Kemudian jika
orang yang bertikai dengan kita ternyata mempunyai rasa yang sama, maka
prilaku anarki atau hal-hal yang berdampak negatif pada lingkungan itu akan
bermunculan.

H.Cara mengatasi egois


Bagi kamu yang punya teman tapi memiliki sifat egois yang menurut
kamu sudah tidak wajar lagi,saya yakin jika kamu tidak berjiwa besar dan
menerima apa adanya dari sifat egois yang dimilikinya, pasti kamu akan
merasa tidak nyaman ketika bersamanya. Atau, bisa jadi kamu langsung
menjaga jarak dengannya. Berbeda halnya jika kamu merasa bahwa dia adalah
sahabat kamu, pastinya kamu akan berusaha untuk memberikan perubahan
kepada teman kamu itu agar bisa mengurangi keegoisannya dan menjadi lebih
baik lagi dari sebelumnya. So, kalau kamu memang ingin melakukan hal
tersebut.
Cara menghadapi orang yang egois :
 Sabar
Pastinya disini kamu memang harus lebih sabar menghadapinya.
Rasanya saya tidak perlu menjelaskan tentang ini, karena saya yakin kamu
bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu tidak sabar.
 Menjadi cermin baginya
Maksudnya disini adalah, kamu berusaha untuk menjadi contoh bagi
dirinya. Ketika kamu sering memenuhi permintaannya, sesekali cobalah kamu
meminta kepadanya agar dia mau memenuhi permintaan kamu juga. Misalnya,
“Andi, sudah dua hari kemarin kan saya selalu jemput kamu. Besok gantian,
tolong kamu yang jemput saya ya..”. Intinya dalam permintaan kamu itu
memberikan sebuah penegasan bahwa kamu berharap dia harus memenuhi
permintaan kamu.
 Berikan kritik dan saran

Seperti orang bijak mengatakan, “Teman sejati adalah seseorang yang


tidak selalu sejalan dengan kamu”. Ketika kamu merasa tindakannya adalah
salah, maka kamu sebagai sahabat harus segera mengingatkannya. Maka dari
itu, ketika kamu mendapatkan waktu yang tepat, berikan dia kritik dan saran
bahwa ada sesuatu hal yang tidak kamu sukai dan juga tidak baik untuknya.
Memang terkadang hal ini terasa susah, tapi bukankah kamu adalah sahabat
sejati baginya? mengintrospeksi diri dan mengetahui bahwa selama ini dia telah
membuat kamu menjadi korban keegoisannya.So, katakan walaupun itu pahit!
J

 Berikan skak mat!


Kamu pasti tahu Skak mat? Itu adalah istilah yang digunakan dalam
permainan catur, ketika menandakan bahwa sang raja sedang berada di
ambang kematian. Jadi maksudnya disini adalah, ketika kamu telah berusaha
melakukan segala hal untuk merubahnya tapi dia tidak juga berubah, berikan
dia skak mat! Misalnya, “Andi, kamu adalah sahabat saya. Jadi tolong
dengarkan saran saya! Kalau kamu nggak juga mau mendengarkan, saya
bukan lagi sabahat bagimu!”. Memang disini kesannya kita yang terlihat egois,
tapi itu bertujuan demi kebaikan dia, dan juga kebaikan kamu. Dengan ucapan
seperti itu diharapkan dia dapat

Cara mengatasi egois pribadi


 Selalu positive thinking pada orang lain, jangan biarkan pikiran negatif
masuk kepikiranmu.
Maksudnya,dalam berprilaku kepada orang lain walaupun orang lain
pernah melakukan salah pada kita, janganlah kita beranggapan bahwa orang
lain itu selalu salah alias kita bersuudzan tapi kita harus
berhusnuzan(berprasangka baik).
 Jangan suka membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain.
Siapa yang enak si klo dibanding-bandingkan?makanya biar kita ga
dianggap orang egois jangan selalu membandingkan diri kita dengan orang
lain,karena setiap manusia itu tidak ada yang sempurna,pasti setiap orang itu
mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
 Kembangkan empati kamu terhadap orang lain.
Kita sebagai manusia bersosialisasi tentunya harus mengembangkan
sifat empati pada orang lain,sebab dengan berempati kita akan merasakan atau
dapat berbagi kasih sayang dengan orang lain.
 Kembangkan sikap melayani dan mendahulukan kepentingan orang lain.
Siapa si yang ga mau dilayani?tapi terkadang kita sendiri suka lupa
untung melayani orang lain,Sebab kita hanya memikirkan untuk selalu dilayani
orang lain.Oleh karena itu mulai sekarang mulailah untuk lebih mengutamakan
atau mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri
sendiri,sebab itu akan menjadi sebuah pahala bagi kita,tapi ingat
mengutamakannya harus dengan ikhlas alias tulus dari hati,jangan kepaksa
ya?
 Senyum dunkz!
Karena orang egois identik dengan jutek,jadi mulai sekarang biar ga
disebut jutek,SENYUM donk!!!!

I.Keriteria orang yang egois

Cara mengetes diri sendiri apakah anda termasuk diri yang egois atau
tidak, diantaranya sebagai berikut :

 Orang egois itu adalah orang yang merokok di angkutan umum dan dengan
cueknya menghembuskan asap rokoknya sementara orang-orang
disampingnya sudah mengap-mengap, atau orang yang tetap merokok di
tempat umum sementara sudah ada perda yang melarang merokok parahnya
lagi bila di sampingnya ada tanda DILARANG MEROKOK.
 Orang egois itu adalah orang yang membuang sampah dengan seenaknya,
tanpa memikirkan kebaikan bagi lingkungan bila ia rela sedikit saja bersusah
mencari kotak sampah atau menyimpan bungkus tersebut sampai ia bertemu
kotak sampah.
 Orang egois itu adalah orang yang duduk dengan cueknya di angkutan umum
sementara disebelahnya ada wanita hamil, menggendong bayi atau lansia yang
terlihat letih.
 Orang egois itu adalah orang yang berharap orang lain memberikan bangkunya
pada orang-orang di atas, sementara dia sendiri keberatan memberikan
bangkunya.
 Orang egois itu adalah orang yang selalu ngoceh kurangnya fasilitas sementara
dia sendiri tidak mau bayar pajak.
 Orang egois itu bila dia selalu telat bayar kas dan berlagak seakan-akan dia
sudah membayar ontime .
 Orang egois itu bila ada orang di aniaya sementara ia hanya melihat tanpa
memberi bantuan.
 Orang egois itu adalah orang yang berfoya-foya dengan hartanya sementara di
sekitarnya ada orang miskin yang butuh dikasihani (percaya deh uangmu gak
bakal berkurang kalau sekedar memberi makan atau sesekali mebayarkan spp
anak miskin yang ingin sekolah).
 Orang egois itu adalah orang yang membuang makanannya sementara banyak
orang lain kelaparan.
 Orang egois itu adalah orang yang dengan mudah mencela kesalahan orang
lain sementara ia tak mau melihat kekurangan sendiri.
 Orang egois itu adalah yang merusak fasilitas umum (ex. telepon umum, WC
umum, jalan) termasuk mencoret-coretnya.
 Orang egois itu adalah orang yang gak peduli dengan kesulitan temannya
sementara ketika dia bermasalah dia menyalahkan karena tak ada yang
membantunya.
 Orang egois itu adalah orang yang dapat kerja lewat jalur nggak beres (nyogok,
nepotisme dll) sementara orang lain bersusah payah untuk mencari kerja.
 Orang egois itu adalah orang yang setelah membaca tulisan ini, dia tidak mau
berubah memperbaiki diri malah mencela tulisan tersebut.

Ketentuan :
Bila lebih dari 7 point yang ditulis ada di dalam diri anda berarti anda
termasuk orang yang sangat egois plus gak peka kalau anda egois, kalau
kurang dari 7 berarti anda egois, jadi belajarlah menguranginya.
Sekiranya anda ingin menambahkan daftar tersebut, silakan saja beri
komentar. Sekiranya tidak setuju dengan tulisan ini, tidak ada paksaan bagi
anda untuk menyetujuinya. Ini hanya sekedar tulisan agar kita mau menyadari
bersama.

J.Tips jitu Menuju Perubahan


 Peribadi yang ego mesti menerima fakta bahwa ia egois; jangan lagi mencari
alasan dan menyalahkan orang. Ia mesti melihat hal ini sebagai dosa
keangkuhan bukan hanya karakteristik keperibadian yang unik. Perubahan @
penyesalan bermula dari pengakuan. "Tinggi hati mendahului kehancuran tetapi
kerendahan hati mendahului kehormatan."
 Lihatlah apa yang diperlukan orang dan cubalah penuhinya, tanpa berkira-
kira. Peribadi yang ego tidak mempunyai ramai teman kerana tidak memikirkan
orang lain. "Seorang sahabat memberi kasih setiap waktu dan menjadi seorang
saudara dalam kesukaran."
 Hiduplah berdasarkan prinsip: "Kasihilah sesama manusia seperti dirimu
sendiri" dan "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat
kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka"

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Egois adalah suatu keadaan dimana seseorang yang bersikap mementingkan
dirinya sendiri.
Kesimpulan
 Egois merupakan salah satu sifat alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia,
karena salah satu karakter manusia adalah “tidak pernah merasa cukup”;
 Egois itu timbul secara naluriah, ketika manusia itu sendiri dihadapkan kepada
keinginan, kepentingan dirinya yang bersinggungan dengan kepentingan
manusia lainnya maka egois itu akan muncul;
 Pendidikan moral dan agama dalam lingkungan keluarga sangat berpengaruh
terhadap tingkat keegoisan seseorang;
Sifat egois tidak dapat dihilangkan pada diri manusia, namun dapat diredam
dengan keinginan manusia itu sendiri untuk mau belajar, memaknai dan
melaksanakan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan.

Egois berasal dari kata ego, ego itu adalah aku dalam bahasa Yunani
Jadi orang yang disebut egois orang yang memang mementingkan dirinya.
Ciri orang egois itu,seperti apa?
 Hanya dapat melihat dari sudut pandangnya;
 Hanya memikirkan kepentingan pribadinya.
Penyebab sifat egois itu sangatlah banyak,tapi secara garis besar dibagi
2,yaitu:
 Penyebab dari diri pribadi;
 Penyebab dari kehidupan (lingkungan).
Penyebab dari diri pribadi
 Sifat dasar manusia yang tidak pernah puas;
 Rasa trauma yang menimbulkan ketidak percayaan kepada orang lain;
 Pemahaman yang dangkal tentang fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang
saling membutuhkan.
Penyebab dari kehidupan (lingkungan)
 Sikap egois ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah diterimanya selama
ini;
 Sikap egois timbul dari keadaan lingkungan yang kelaparan, kelaparan
emosional, kelaparan finansial atau kelaparan jasmaniah & rohaniah.
Ada ga dampak kalau kita mempunyai sifat egois?
Dalam mengerjakan atau berbuat sesuatu,pasti ada dampak yang akan kita
terima,yaitu:
 Dampak bagi kita pribadi
 Dampak bagi lingkungan
Dampak bagi kitapribadi
 Lingkungan sulit menerimanya karena tidak ada usaha darinya untuk
menyesuaikan diri
 Lingkungan pun sulit untuk mempercayainya sebab lingkungan menilai ia tidak
tulus.
Dampak bagi lingkungan
 Akan menimbulkan suasana yang tidak harmonis dalam pergaulan
 Memicu prilaku negatif pada lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
http:// James Rachel, The Elements of Moral Philosophy, hlm. 60-64.

http://forumkuliah.wordpress.com/2009/01/23/egoisme-memilih-yang-paling-
menguntungkan-untuk-diri-sendiri/
id.wikipedia.org/wiki/Egoisme

Sumber : http://arie5758.blogspot.com/2012/01/pada-dasarnya-manusia-
adalah-makhluk.html#ixzz1rq5LHagd
Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2113030-sifat-
egois/#ixzz1rq9ygksy
www.danti.blogspot.com |
http://sokhibi-iby.blogspot.com/2008/11/ciri-ciri-gambaran-orang-egois.html
altruisme.

Contoh kasus yang mempengaruhi IQ dari Kelas sosial


Ada dua keluarga yang berbeda. Keluarga pertama, orangtuanya berjualan ikan,
berjualan dari pagi hingga menjelang malam. Orangtunya tidak tamat sekolah, tetapi mereka
sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Walaupun rakyat kecil tetapi anaknya di sekolahkan
di sekolah yang berkualitas baik, dan kedua anaknya pun di les privatkan. Orangtuanya
berambisi bagaimanapun anaknya harus pintar dan tidak seperti mereka. Dan ternyata ayahnya
dari cara bicara cukup cerdas pemikirannya, hanya dahulu tidak memiliki kesempatan dari kelas
sosial.

Dan di lain sisi, keluarga kedua ayah dan ibuya seorang dosen dan kuliah lagi untuk
mendapatkan S3. Tetapi anaknya hanya di sekolahkan di sekolah biasa. Orangtuanya tidak
mementingkan pendidikan anak melainkan mementingkan pendidikan mereka sendiri.
Menurut mereka, yang penting anak mereka sekolah. Sehingga anaknya menjadi trouble
maker, karena sering main dan kurang di pedulikan pendidikannya oleh orangtua.

Jadi, sikap orangtua sangat berpengaruh, mana yang peduli pendidikan anaknya dan
mana yang tidak dari sudut pandang kelas sosial. Belum tentu orangtuanya pintar lalu anaknya
pun pintar, dan belum tentu anak yang kurang pintar itu karena orang tuanya tidak tamat
sekolah atau tidak pintar.