Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH K3 LINGKUNGAN INDUSTRI DASAR

PERATURAN PERUNDANGAN DAN


STANDAR K3L DI INDUSTRI KERTAS

KELOMPOK 1
(Kelas B)
1. Adisty Salsabila A (R0017004)
2. Agidd Widya Brilianca (R0017006)
3. Alvin Mulia Cahyarini (R0017010)
4. Anke Irena Erianti (R0017018)
5. Bayu Andika (R0017024)
6. Bonita Donela Nefre Titi (R0017026)
7. Dessya Rahma Savitri (R0017028)
8. Faela Septa A F (R0017042)
9. Hapsariati’ Mustari (R0017050)
10. Hestika Mitya Marliana (R0017056)
11. Isa Sulthan Fattah (R0017060)
12. Khoirunisa Reza Safitri (R0017066)
13. Magdalena Puspita A M (R0017070)
14. Nunik Asri Ambarwati (R0017084)
15. Reza Putri Novitasari (R0017094)
16. Rossiana Khotami (R0017098)

PROGRAM STUDI D3 HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................................................. i

Daftar Isi ............................................................................. ii

Kata Pengantar ............................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................. 2
1.4 Manfaat ............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perundang-undangan di Industri Kertas ........................................... 3

2.2 Standar K3L di Industri Kertas ........................................................ 6

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .......................................................................... 20

3.2 Saran .......................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 22

ii
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah-SWT yang Maha-Pengasih lagi Maha-


Panyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta-alam. Sehingga makalah K3L
Industri Dasar yang kami buat ini dapat selesai tanpa halangan yang berarti.
Makalah ini kami beri judul “Peraturan Perundangan dan Standar K3L di Industri
Kertas”.
Makalah ini kami buat dan susun dengan usaha maksimal juga atas
bantuan dari berbagai pihak yang berkenan meluangkan waktu, tenaga dan
fikirannya untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh karenanya kami sampaikan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada segenap pihak yang telah ikut serta
dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.
Terlepas dari itu semua kami menyadari masih banyak kekurangan dalam
karya ilmiah yang kami buat. Mungkin dari segi bahasa, susunan kalimat atau hal
lain yang tidak kami sadari. Oleh karenanya kami sangat mengharapkan kritik dan
saran sebagai sarana perbaikan karya ilmiah yang lebih baik.
Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan
masyarakat luas. Akhir kata kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas
perhatiannya.

Surakarta, 8 Oktober 2018

Penulis

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam kegiatan sehari-hari dalam melakukan aktivitas, kita sering


tidak menduga akan mendapatkan resiko kecelakaan pada diri kita
sendiri. Banyak sekali masyarakat yang belum menyadari akan hal ini,
termasuk di Indonesia. Baik di lingkungan kerja (perusahaan, pabrik, atau
kantor), di jalan raya, tempat umum maupun di lingkungan rumah.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup dan masyarakat
sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut
merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan juga instansi
pemerintahan. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
bertujuan menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat
kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan
lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan
mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya
tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Azmi, 2008).
Penerapan K3 adalah untuk mengurangi atau mencegah kecelakaan
yang mengakibatkan cidera atau kerugian materi. Karena itu, para ahli K3
berupaya mempelajari fenomena kecelakaan, faktor penyebab, serta cara
efektif untuk mencegahnya. Upaya pencegahan kecelakaan kerja di
Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, salah satu diantaranya adalah
pola pikir yang masih tradisional yang menganggap kecelakaan adalah
sebagai musibah, sehingga masyarakatn bersifat pasrah terhadap
kecelakaan kerja yang menimpa mereka (Ramli, 2010). Di Indonesia sudah
ada Undang-Undang yang mengatur tentang keselamatan kerja yaitu pada
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 dan juga standar-standar yang harus
dilaksanakan di setiap perusahaan. Pada penulisan makalah ini akan

1
mengupas tentang peraturan dan standar yang dilaksanakan di perusahaan
kertas.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana peraturan perundang-undangan dan standart K3L di industri
kertas dan pulp?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui peraturan perundang-undangan dan standart K3L di industri
kertas dan pulp.

1.4 Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai peraturan
perundang-undangan dan standart K3L di industri kertas dan pulp secara
umum di perusahaan.
2. Bagi Program Diploma III Hiperkes dan KeselamatanKerja
Untuk menambah kepustakaan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
khususnya peraturan perundang-undangan dan standart K3L di industri
kertas dan pulp.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perundang-Undangan di Industri Kertas


A. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
1. Pasal 1 (Tentang Istilah-Istilah)
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1) Tempat kerja, ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja atau
yang sering dimasuki tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu
usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya
sebagai mana terperinci pada pasal 2, termasuk tempat kerja semua
ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan
bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
2) Pengurus ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung
suatu tempat kerja atau bagian yang berdiri.
3) Pengusaha ialah :
a. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri
menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk
keperluan itu mempergunakan tempat kerja.
b. Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik
sendiri dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja.
c. Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau
badan hukum termaksud pada a) dan b), jikalau yang diwakili
berkedudukan di luar Indonesia.
4) Direktur ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja
untuk melaksanakan undang-undang ini.
5) Pegawai Pengawas, ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari
Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga
Kerja.

3
6) Ahli keselamatan kerja, ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari
luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga
Kerja untuk mengawasi ditaatinya undang-undang ini.
2. Pasal 3 (Syarat-Syarat Keselamatan Kerja)
1) Dengan peraturan perundang-undangan ditetapkan syarat-syarat
keselamatan kerja untuk :
a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
b) Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
c) Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
d) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada
waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya.
e) Memberi pertolongan pada kecelakaan
f) Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja.
g) Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya
suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan
angin, cuaca sinar atau radiasi, suara dan getaran.
h) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja
baik fisik maupun phychis, peracunan, infeksi dan penularan.
i) Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
j) Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.
k) Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
l) Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
m) Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja,
lingkungan, cara dan proses kerjanya .
n) Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang,
binatang, tanaman atau barang.
o) Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
p) Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat,
perlakuan dan penyimpanan barang.
q) Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.

4
r) Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada
pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah
tinggi.
2) Dengan peraturan perundangan dapat diubah perincian seperti
tersebut pada ayat sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan teknik dan teknologi serta pendapat baru di
kemudian hari.

B. Keputusan Menteri Perindustrian Repulik Indonesia N0. 514 Tahun


2015 tentang Penetapan Standar Industri Hijau Untuk Industri Pulp
dan Pulp Terintegrasi Kertas
Aspek standarisasi industri hijau yang diatur dalam Keputusan Menteri
Perindustrian tersebut, yaitu:
1. Bahan Baku. Sumber bahan baku industri pulp dan kertas harus
memiliki izin penggunaan bahan baku seperti sertivikat verifikasi
legalitas kayu (SVLK). Efisiensi penggunaan bahan baku merupakan
elemen penting dalam penerapan konsep industri hijau yang akan
mengurangan biaya produksi dan mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan. Tingkat rasio produk terhadap bahan baku
menjadi sasaran dalam penerapan industri hijau. Batasan
rasio pulp menjadi kertas adalah minimum 80 persen.
2. Bahan Penolong. Membatasi kandungan bahan berbahaya yang
terdapat dalam bahan penolong yang digunakan dalam proses
produksi menjadi salah satu cara mengurangi dampak negatif dari
proses produksi terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
3. Energi. Efisiensi energi merupakan energi yang lebih sedikit untuk
menghasilkan jumlah output yang sama. Indikator kinerja energi yang
biasa digunakan adalah konsumsi energi panas (KEP) spesifik dan
konsumsi energi listrik (KEL) spesifik. Batasan
KEP pulp dan pulp terintegrasi kertas masing-masing maksimal 38
GJ/ton dan 40 GJ/ton, sedangkan batasan

5
KEL pulp dan pulp terintegrasi kertas maksimal 1.05 Mwh/ton dan 1.5
Mwh/ton.
4. Air. Efisiensi penggunaan air merupakan salah satu upaya untuk
menjaga keberlanjutan sumberdaya air. Batasan konsumsi air pada
proses pulp dan pulp terintegrasi kertas masing-masing adalah
maksimal 65 m3/ton dan 45 m3/ton, sedangkan batasan pemanfataan
air recycle untuk keduanya minimum 25 persen.
5. Proses Produksi. Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan
metode untuk mengukur tingkat kesempurnaan proses produksi.
Batasan kinerja peralatan proses produksi dalam OEE
untuk pulp dan pulp terintegrasi kertas minimum 85 persen.
6. Produk. Membatasi bahan berbahaya yang terkandung dalam produk
dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan.
Produk harus memenuhi kriteria mutu produk pulp dan kertas sesuai
kriteria yang ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI).
7. Limbah. Industri memiliki kewajiban untuk melakukan pengelolaan
limbah (cair, padat, dan emisi udara). Minimisasi dampak limbah
terhadap lingkungan dapat mengacu pada baku mutu yang telah
ditetapkan. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari upaya pencapaian
target atau adanya peningkatan pemenuhan baku mutu yang telah
ditetapkan. Penjelasan pengelolaan limbah dapat dilihat lebih lanjut
pada lampiran Keputusan Menteri Perindustrian No 514 Tahun 2015.
8. Emisi CO2. Kegiatan industri merupakan salah satu penyumbang
emisi gas rumah kaca diantaranya emisi CO2 sehingga perlu
komitmen dan kebijakan dari perusahaan untuk melakukan upaya
penurunan emisi gas rumah kaca. Batasan emisi CO2 untuk produk
pulp dan kertas masing-masing 0.35 ton CO2/ton produk.

2.2 Standar K3L di Industri Kertas


A. Industri Kertas
Pulp dan kertas yang diproduksi dari bahan baku yang
mengandung selulosa fiber seperti kayu pada umumnya, kertas daur

6
ulang, dan limbah pertanian. Di negara-negara berkembang, sekitar 60 %
dari selulosa fiber berasal dari bahan baku nonwood (bukan kayu) seperti
ampas tebu, jerami, bambu, alang-alang, dan rami. Langkah-langkah
utama dalam manufaktur pulp dan kertas adalah: persiapan bahan baku
dan penanganan, manufaktur Pulp, Pulp cuci dan Screening, pemulihan
kimia, Bleaching, Stock Preparation, dan pembuatan kertas.
Cellulosa merupakan komponen organik utama dalam tanaman
kayu dengan jumlah yang melimpah, terjangkau, dan sangat diminati
karena kemampuannya untuk dikonversi menjadi bermacam-macam
produk dari pulp and papper industri.

B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Industri Kertas


Proses Pembuatan Pulp dan Kertas :
1. Pemilihan Jenis Kayu
Jenis kayu yang banyak digunakan dalam pembuatan kertas adalah
 Kayu lunak (soft wood) adalah kayu dari tumbuhan conifer
contohnya pohon pinus.
 Kayu keras (hard wood) adalah kayu dari tumbuhan yang
menggugurkan daunnya setiap tahun. Lebih halus dan kompak
sehingga menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras
juga lebih mudah diputihkan hingga warnanya lebih terang karena
memiliki sedikit lignin.
 Bahaya yang Ditimbulkan
Bahaya yang ditimbulkan dari bakteri, jamur yang terdapat
pada kayu yang kemungkinan besar menyebabkan penyakit
akibat kerja.
 Proteksi Bahaya
Jika terjadi infeksi bakteri atau jamur pada saat bekerja,
segera menghubungi rumah sakit atau klinik terdekat untuk
segera ditangani dan menghindari kejadian yang tidak
diinginkan. Pastikan pekerja menggunakan APD saat bekerja
untuk mengurangi penyakit akibat infeksi bakteri atau jamur.

7
2. Persiapan Kayu
a) Kayu dibawa ke lokasi perusahaan deng truk-truk pengangkut
kayu.
b) Kemudian kayu-kayu tersebut dibongkar dengan sebuah goliath
crane yang besar di wood yard.
c) Kulit kayu dikelupas secara mekanis atau hidraulis sebelum
dicacah menjadi serpihan kayu.
d) Kayu gelondongan tersebut dipotong menjadi serpihan kayu.
e) Kemudian dicuci dan disaring untuk menghilangkan debu yang
melekat.
 Bahaya yang Ditimbulkan
Infeksi saluran pernafasan akibat dari serpihan kayu yang
beterbangan dan bahaya terhadap kecelakaan tertimpa kayu.
 Proteksi Bahaya
Rekayasa mesin dan pergantian pekerja setiap beberapa
waktu. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang
dapat melindungi mereka dari paparan serpihan kayu.
3. Pembuburan Kayu (Pulping)
Pulping adalah proses pembuburan, menggunakan alat yang
disebut Pulper. Pulper yang digunakan berbentuk bejana kerucut
terbalik yang atasnya terbuka sebagian dan mempunyai rotor (hydra
pulper). Proses pulping bertujuan untuk membebaskan serat selulosa
dari lignin ketika mendapatkan hemicelulosa dan cellulosa secara
lengkap, akan meningkatkan yield dari serat yang berguna.
 Bahaya yang Ditimbulkan
Resiko utama asam sulfat adalah kontak dengan kulit
menyebabkan luka bakar, iritasi mata, pengikisan gigi dan
faktor mesin & faktor bangunan fisik pabrik.
 Proteksi Bahaya
Pengendalian secara teknis, pengendalian administratif
dan penggunaan APD.

8
4. Pencucian (Clening)
Cleaning adalah proses pembersihan/pencucian bubur serat
yang telah dihancurkan dalam pulper. Pencucian pulp secara efisien
untuk memastikan kebutuhan maksimal zat kimia dalam proses
pulping dan mengurangi jumlah limbah organik yang terbawa oleh
pulp dalam proses pemutihan. pulp yang kurang tercuci membutuhkan
dosis zat pemutih yang lebih besar.
Alat – alat yang digunakan dalam proses cleaning adalah :
 Magnetic Separator, Magnetic yang bekerja secara magnetic, yaitu
memisahkan kotoran yang mengandung logam seperti kawat
pengikat pulp, seng serta partikel - partikel lainnya yang bersifat
magnet.
 HCC (High Consistency Cleaner) bekerja secara sentrifugal, yaitu
memisahkan kotoran yang ukurannya hampir sama dengan serat
berdasarkan berat jenisnya.
 Bahaya yang Ditimbulkan
a. Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang
mengandung klorin, yang dapat menimbulkan penyakit
asma, kanker.
b. Pemutih bahaya pada kulit jk kontak terus menerus dengan
zat kimia tersebut dapat mnimbulkan dermatitis kulit.
c. Bahaya-bahaya yang ditimbulkan dapat di kurangi jika
limbah hasil pencucian di olah kembali.
d. Bahaya pada pekerja bisa dicegah jika pekerja mau tertib
menggunakan APD
 Proteksi Bahaya
a. Subtitusi bahan
b. Good housekeeping
c. Pengawasan proses yang lebih ketat
d. Modifikasi peralatan & perubahan teknologi.
e. Pemeliharaan peralatan & lingkungan pabrik,

9
f. Modifikasi produk, untuk meningkatkan usia produk (tahan
lama), untuk mempermudah daur ulang & minimisasi
dampak lingkungan dari pembuangan produk tersebut.
g. Penggunaan APD & memberi sangsi tegas pada pekerja
yang melanggar peraturan & melepas APDnya dengan
alasan apapun

5. Menyuling (Pemisahan Gumpalan Selulosa Menjadi Serat)


Proses menyuling adalah bubur kertas melewati slot dalam
piringan yang berputar untuk memisahkan gumpalan selulosa menjadi
serat & mempersiapkan pulp untuk proses pembuatan kertas.
Alat yang digunakan : piringan yang berputar & pemotong bahan yang
digunakan : pulp kayu
 Bahaya yang Ditimbulkan
a. Kebisingan menyebabkan ketulian.
b. Larutan putih (white liquor) memberikan efek pada kesehatan
yaitu kulit,inhalasi dan kontak mata
 Proteksi Bahaya
a. Penggunaan alat pelindung telinga, sumbat telinga (ear plug),
tutup telinga (ear muff) & pelindung kepala (helmet)
b. Pemeriksaan pendengaran audiometric nada murni 16-36 jam
bebas paparan bising.
c. Pekerja yang terpapar bising sebaiknya dipindahkan tempat
kerjanya dari lingkungan bising.
d. Pengendalian Secara Teknik
e. Pengendalian Secara Administratif
f. Pengendalian Secara Personal (Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD)
6. Delignifikasi Oksigen (Penghilangan Lignin Menggunakan
Oksigen)
Proses Delignifikasi Oksigen bertujuan sebagai proses pra-
bleaching (sebelum pemutihan) untuk mengurangi bilangan kappa,

10
sehingga dapat mengurangi pemakaian bahan kimia pemutih pada
proses pemutihan.
Proses Delignifikasi Oksigen:
1) Penghilangan lignin (delignifikasi) menggunakan oksigen,
2) Oksigen dan larutan putih ditambahkan ke dalam brownstock
dalam reaktor pemanas,
3) Senyawa lignin akan lepas dan dihilangkan dengan pencucian dan
ekstraksi,
4) Oksigen delignification akan mengurangi jumlah klorin yang
dibutuhkan dalam proses pemutihan (bleaching),
 Bahaya yang Ditimbulkan
Klor mengiritasi sistem pernafasan (krongkongan gatal,
batuk, peradangan hidung dan sesak nafas).
 Proteksi Bahaya
Mengetahui prosedur penyimpanan klor dan memakai alat
perlindungan diri
7. Bleaching (Pemutihan)
Bleaching mempunyai tujuan menghilangkan lignin tanpa
merusak selulosa. Dalam industri kertas terdapat beberapa tahap
dalam proses pemutihan: Tahap klorinasi, menggunakan Cl2 dalam
media asam Extraksi Alkali, untuk melarutkan hasil degradasi lignin
yang terbentuk pada tahap sebelumnya dengan larutan NaOH. Klorin
dioksida, mereaksikan ClO2 dengan pulp pada kondisi asam. Oksigen,
digunakan pada tekanan tinggi dan suasana basa. Hipoklorit,
mereaksikan NaClO dalam media basa. Peroksida, reaksi dengan
hidrogen peroksida (H2O2) dalam kondisi basa. Ozon, menggunakan
ozon (O3) dalam kondisi asam. Xylanase, Biobleaching dengan enzim
murni mikroba dalam kondisi netral
 Bahaya yang ditimbulkan
a) Terkena kulit, luka bakar.
b) Terkena mata, luka bakar serta dapat mengalami kebutaan.
c) Menyebabkan luka bakar, kebutaan & kornea kerusakan.

11
d) Penyebab kulit terbakar, borok kulit.
 Proteksi Bahaya
a) Pengendalian secara teknis
b) Pengendalian administratif
c) APD (Alat Pelindung Diri)
8. Paper Making (Proses Pembuatan Lembar Kertas)
Pulp yang sudah diputihkan kemudian dibawa ke mesin
pembuat kertas dimana akan dibentuk lembaran pulp pada screen. Air
dihilangkan dari lembaran dengan kombinasi vakum, panas, dan
tekanan yang diberikan di bagian penggulung (roller). Kertas jadi
dapat dibuat dengan berbagai jenis berat dan digulung menjadi
gulungan besar untuk diproses lebih lanjut.
Alat : Mesin pembuat kertas, Penggulung (roller)
Bahan : Kaolin, Pengikat yang mengandung formaldehyde., ammonia
/ polivinil alcohol
 Bahaya yang Ditimbulkan
a) Mesin pembuat kertas → bising (menyebabkan pekak /tuli)
b) Penerangan lampu yang kurang baik dapat menyebabkan
kelainan pada indera penglihatan / kesilauan yang
memudahkan terjadi kecelakaan.
c) Penggulung (roller) → resiko terjepit (menyebabkan
kehilangan salah satu anggota tubuh /cacat tubuh)
d) Kaolin ( menyebabkan iritasi kulit, mata & saluran
pernafasan )
e) Formaldehyde (menyebabkan dermatosis, iritasi saluran
pernafasan, asma
f) Ammonia ( Iritasi terhadap saluran pernapasan, hidung,
tenggorokan dan mata
g) Kesalahan konstruksi mesin, sikap badan kurang baik,
lambat laun dapat menyebabkan perubahan fisik tubuh
pekerja.

12
 Proteksi Bahaya
a) Mengetahui informasi perusahaan, kandungan bahaya zat
kimia yang digunakan, data fisik, data bahaya kesehatan,
prosedur kebocoran, informasi pencegahan khusus &
petunjuk khusus.
b) Mengadakan inspeksi / pengujian
c) Kegiatan yang dilaksanakan secara periodik & lingkup dari
tempat kerja, mesin, proses produksi : memastikan setiap
potensi bahaya terdeteksi, mengetahui tindakan teknis yang
harus diambil.
d) Audit
e) Tindakan perbaikan & pencegahan
f) Substitusi, ventilasi, good housekeeping,
g) Pemeriksaan kesehatan
h) Pelatihan & pendidikan, penggunaan APD
9. Calendar Stack
Calendar stack, yang terdiri dari beberapa pasangan silinder
dengan jarak tertentu untuk mengontol ketebalan & kehalusan hasil
akhir kertas.
 Bahaya yang Ditimbulkan
a) Dioksin dapat kembali menguap akibat pengepresan kertas
yang mengandung klorin.
b) Dampak paparan dioksin dapat mengakibatkan kanker,
chloracne (jerawat disertai erupsi kulit dan kista),
penurunan hormon reproduksi pria , juga endometriosis.
c) Debu hasil pengepresan dapat menimbulkan iritasi mata
pekerja, yang pada akhirnya dapat mengganggu akurasi
pekerjaan & kualitas kertas hasil pengolahan.
 Proteksi Bahaya
a) Menggunakan mesin-mesin yang telah terstandarisasi untuk
meminimalkan bahaya yang mungkin timbul.

13
b) Memberikan perlindungan bagi pekerja dlm pekerjaanya
dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang membahayakan kesehatan.
c) Menempatkan & memelihara pekerja di suatu lingkungan
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik & psikis
pekerjanya.
d) Penggunaan masker.
e) memakai kacamata apabila memasuki ruangan kerja.
f) Pengecekan mesin serta bahan kimia yang digunakan,
secara rutin agar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
g) Memberikan penyuluhan & tambahan pengetahuan bagi
para pekerja mengenai penggunaan APD & penyakit yang
dapat timbul akibat pekerjaannya.
10. Pope Reel (Pemotongan Kertas)
Proses ini terdiri dari:
a) Penggulungan kembali lembaran kertas
b) Pemotongan lembaran kertas
c) Pengemasan
d) Debu hasil pemotongan kertas dpt menimbulkan iritasi
mata pekerja,
e) Pengecekan mesin untuk meminimalkan bahaya yang
mungkin timbul
f) Penggunaan APD

C. APD (Alat Pelindung Diri)


1) APD untuk Muka dan Mata : Safety goggles, Face shields
2) APD untuk Pendengaran Ear muff, ear plug
3) APD untuk Kepala : Safety helmet
4) APD untuk Tangan : Hand glove
5) APD untuk Pernafasan : Masker, Respirator
6) APD untuk Tubuh : Apron
7) APD untuk Kaki : Safety Shoes

14
D. Limbah Industri Kertas
Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga atau yang lebih
dikenal sabagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai
ekonomis. Jenis sampah ini pada umumnya berbentuk padat dan cair.
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi
serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami,
dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Pabrik Kertas menghasilkan
limbah cair yang mengandung logam berat jenis Hg dan Cu. Limbah cair
tersebut berupa bubur kertas encer yang apabila dibuang sembarangan
akan mengakibatkan pencemaran APD untuk Pernafasan lingkungan.
Menurut Rini (2002), limbah proses pembuatan kertas yang
berpotensi mencemari lingkungan tersebut dibagi menjadi :
1. Limbah cair, yang terdiri dari :
a) Padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan
pigmen
b) Senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula,
alkohol, lignin, terpenting, zat pengurai serat, perekat pati dan zat
sintetis yang menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand)
tinggi,
c) Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna
kertas,
d) Bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin,
e) Limbah panas
f) Mikroba seperti golongan bakteri koliform.
g) Partikulat yang terdiri dari :
h) Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain
i) Partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan
kalsium.

15
2. Gas yang terdiri dari :
a) Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang
dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan
proses pemulihan bahan kimia
b) Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery
furnace dan lime kiln (tanur kapur)
c) Uap yang mengganggu jarak pandangan
3. Limbah padat yang terdiri dari :
a) Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder
b) Limbah dari potongan kayu.

 Pengolahan Limbah Industri Kertas


Limbah industri terdiri dari limbah gas, cair dan padat. Menurut
Sunu (2001), berbagai cara untuk mencegah pencemaran udara antara
lain :

Pencemar berbentuk gas

a) Adsorbsi, merupakan proses melekatnya molekul polutan atau


ion pada permukaan zat padat, yaitu adsorben, seperti karbon
aktif dan silikat.
b) Absorbsi, merupakan proses penyerapan yang memerlukan
solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan
konsentrasinya.
c) Kondensasi, merupakan proses perubahan uap air atau benda
gas menjadi cair pada suhu udara di bawah titik embun.
d) Pembakaran, merupakan proses untuk menghancurkan gas
hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan menggunakan
proses oksidasi panas yang disebut incineration menghasilkan
gas karbon dioksida (CO2) dan air.

Pencemaran berbentuk partikel

16
a) Filter, bertujuan menangkap debu atau partikel yang ikut keluar
cerobong atau stack pada permukaan filter agar tidak ikut
terlepas ke lingkungan.
b) Filter basah (Scrubbers / wet collectors), caranya adalah
membersihkan udara kotor dengan menyemprotkan air dari
bagian atas alat sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah
alat.
c) Elektrostatik, menggunakan arus searah (DC) yang
mempunyai tegangan 25 – 100 KV sehingga terjadi pemberian
muatan pada polutan dan akhirnya mengendap.
d) Kolektor mekanis, merupakan proses pengendapan polutan
partikel berukuran besar secara gravitasi. Contohnya adalah
cyclone separators (pengendap siklon) dengan memanfaatkan
gaya sentrifugal.
e) Program penghijauan, bertujuan untuk menyerap hasil
pencemaran udara berupa gas karbon dioksida (CO2) dan
melepas oksigen sehingga mengurangi jumlah polutan di
udara.
j) Pembersih udara secara elektronik (electronic air cleaner),
berfungsi mengurangi polutan udara dalam ruangan.
k) Ventilasi udara dan exhaust fan, bertujuan agar kebutuhan
oksigen ruangan tercukupi dan polutan segera keluar dari
ruangan sehingga ruangan bebes polutan.

Pengolahan limbah cair pada dasarnya dikelompokkan menjadi 3


tahap yaitu :

1. Pengolahan primer, bertujuan membuang bahan – bahan padatan yang


mengendap atau mengapung. Pada dasarnya pengolahan primer terdiri
dari tahap – tahap untuk memisahkan air dari limbah padatan dengan
membiarkan padatan tersebut mengendap atau memisahkan bagian –
bagian padatan yang mengapung. Pengolahan primer ini dapat
menghilangkan sebagian BOD dan padatan tersuspensi serta sebagian

17
komponen organik. Proses pengolahan primer limbah cair ini biasanya
belum memadai dan masih diperlukan proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan sekunder, merupakan proses dekomposisi bahan – bahan
padatan secara biologis. Penerapan yang efektif akan dapat
menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan BOD. Ada 2
proses pada pengolahan sekunder yaitu :
a. Penyaring trikle, menggunakan lapisan batu dan kerikil dimana
limbah cair dialirkan melalui lapisan ini secara lambat dengan
bantuan bakteri yang berkembang pada batu dan kerikil akan
mengkonsumsi sebagian besar bahan – bahan organik.
b. Lumpur aktif, kecepatan aktivitas bakteri dapat ditingkatkan
dengan cara memasukkan udara dan lumpur yang mengandung
bakteri ke dalam tangki sehingga lebih banyak mengalami kontak
dengan limbah cair yang telah diolah pada proses pengolahan
primer.
3. Pengolahan tersier, dibutuhkan karena proses pengolahan primer dan
sekunder limbah cair hanya dapat menurunkan BOD air dan
meghilangkan bakteri yang berbahaya tidak dapat menghilangkan
komponen organik dan anorganik terlarut.

 Dampak Pencemaran Limbah Pabrik Kertas


Dampak bagi pencemaran lingkungan antara lain :
a. Membunuh ikan, kerang, dan invertebrata akuatik lainnya
b. Memasukkan zat kimia karsinogenik dan zat pengganggu
aktivitas hormon ke dalam lingkungan
c. Menghabiskan jutaan liter air tawar
d. Menimbulkan resiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat
kimia berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan

Menurut Green (2005), terdapat beberapa senyawa dalam industri


pulp dan kertas yang berpeluang besar bersifat karsinogenik bagi
kesehatan manusia, yaitu :

18
a. Asbes dapat menyebabkan kanker paru – paru, digunakan pada
penyambungan pipa dan boiler.
b. Aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes, formaldehid
dan epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada
manusia.
c. Kromium heksavalen dan senyawa nikel
d. Senyawa ini umumnya digunakan pada pengelasan stainless steel
dan dikenal sebagai karsinogenik terhadap paru – paru dan organ
pernafasan lain.
e. Debu kayu (utamanya kayu keras)
f. Debu kayu keras dikenal sebagai penyebab kanker pernafasan.
g. Hidrazin, styren, minyak mineral, chlorinated phenols dan dioxin
h. Senyawa – senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan
kanker.

 Usaha Penanggulangan Masyarakat terhadap Limbah Industri


Kertas
Limbah pabrik kertas dapat didaur ulang menjadi karton yang
memiliki nilai jual tinggi. Karton hasil pengolahan limbah pabrik
kertas ini disebut dengan kertas gembos. Proses pembuatannya Sludge
dan kertas pemulung diproses menjadi bubur kertas. Kemudian
dicetak menjadi lembaran dengan ukuran 66 x 78 cm. Setelah itu,
dijemur di bawah terik matahari selama empat jam. Kemudian
dihaluskan dengan rol kalender. Kemudian di pak dengan berat 25 kg.
Hal ini tentu saja terasa lebih bernilai ekonomis serta dapat
mengurangi dampak terhadap lingkungan.

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Dapat disimpulkan dari pembahasan diatas bahwa peraturan
perundang-undangan yang digunakan oleh industri kertas adalah
Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Dan
Keputusan Menteri Perindustrian republik Indonesia No. 514 Tahun
2015 tentang Penetapan Standar Industri Hijau untuk Industri Pulp
dan Pulp Terintegrasi Kertas.
2. Proses produksi pada pembuatan pulp dan kertas antara lain :
pemilihan jenis kayu, persiapan kayu, pembuburan kayu, pencucian,
menyuling, delignifikasi oksigen, bleaching, paper making, calendar
stack, dan popereel. Limbah yang dihasilkan oleh industri kertas yaitu
limbah cair, limbah gas, dan limbah padat. Dampak dari limbah
industri kertas yaitu pencemaran lingkungan dan dapat mempengaruhi
kesehatan manusia. Sehingga cara mencegah pencemaran udara
dengan menggunakan pencemar berbentuk gas dan pencemar
berbentuk partikel. Ada pula pengolahan limbah cair dikelompokkan
menjadi 3, yaitu pengolahan primer, pengolahan sekunder dan
pengolahan tersier.
3. Dampak dari limbah industri kertas antara lain pencemaran
lingkungan seperti membunuh ikan, kerang, dan invertebrata akuatik,
juga dapat menimbulkan resiko terpaparnya masyarakat oleh buangan
zat kimia berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan.
Limbah industri kertas sendiri juga berdampak pada kesehatan
manusia terutama menyebabkan gangguan pernapasan pada pekerja
yang terkena paparan langsung pada proses produksi.
4. Dalam penanggulangan limbah industri kertas, masyarakat juga dapat
ikut andil dalam pengelolaan limbah hasil proses produksi industri
kertas.

20
3.2 Saran
1. Setiap perusahaan yang memproduksi kertas agar mematuhi dan
menjalankan produksi sesuai peraturan perundang-undangan sehingga
tidak terjadi kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja, serta
tidak merugikan banyak pihak karena limbah yang dihasilkan.
2. Dalam proses pengelolaan dan pengendalian limbah, perusahaan dapat
meminimalisir limbah seperti perubahan dalam bahan baku dan
perubahan pada proses produksi sehingga limbah dapat diminimalisir
dengan baik. Masyarakat juga dapat iku andil dalam pengelolaan
limbah seperti mendaur ulang limbah menjadi karton yang memiliki
nilai jual yang lebih tinggi.

21
DAFTAR PUSTAKA

APKI, 2013. Pulp & Paper : Industri Kertas dan Bubur Kertas Genjot
Produksi.

http://industri.bisnis.com/read/20130219/99/137042/pulp-and-paper-industri-
kertas-dan-bubur-kertas-genjot-produksi.

Arryati, H. 2010. Pengaruh Komposisi Bahan Baku Campuran Batang


terhadap Kualitas Pulp dan Kertas Kayu Leda ( Eucalyptus Deglupta Blume)
dengan Proses Kraft. Jurnal Hutan Tropis Vol. 11 No. 30. Fakultas Kehutanan
Universitas Lambung Amangkurat . Banjarbaru.

Fengel, D. dan G. Wegener, 1995. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-


Reaksi. Diterjemahkan oleh Hardjono Sastrohamidjojo. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

Haroen, W.K dan F. Dimyati. 2006. Sifat Kayu Tarik, Teras dan Gubal
Acacia Mangium Terhadap Karakteristik Pulp. Peneliti Kelompok Pulp. Balai
Besar Pulp dan Kertas Bandung.

IAWA. 2008. Identifikasi kayu : Ciri Mikroskopik untuk Identifikasi Kayu


Daun Lebar. Badan Penelitian dan Kehutanan, Pusat Penelitian dan Kehutanan,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Marsoem, S. N. 2004. Pemanfaatan Hasil Hutan Tanaman Acacia


mangium. Pembangunan Hutan Tanaman Acacia mangium : Pengalaman di PT.
Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan.

22