Anda di halaman 1dari 27

1

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN LIMBAH TERNAK

“PENGOLAHAN FESES SAPI DAN JERAMI SECARA TERPADU


MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR, PAKAM IMBUHAN,
VERMIKOMPOS DAN BIOGAS”

Oleh :

Kelas: E

Kelompok 4

MUHAMMAD GHAISAN FATHUL BAARI

200110160275

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PENANGANAN LIMBAH


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
i1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah manajmen ternak unggas
dengan tepat waktu.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen


pengampuh matakuliah limbah peternakan yang telah memberikan materi dan
praktek sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu dalam proses
praktikum ini.

Diharapkan dengan tersusunnya laporan ini dapat memberi ilmu serta


wawasan bagi yang membaca. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jatinangor, 3 Desember 2018

Penyusun
1ii

DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ................................................................................. iv

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................. 2
II KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Pupuk Organik Cair (POC) ................................................................... 3
2.2 Pakan Imbuhan....................................................................................... 4
2.3 Vermikompos ............................................................................................ 5
2.4 Biogas ....................................................................................................... 7

III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan ......................................................................................... 9


3.1.1 Pembuatan dekomposisi awal bahan organik…………………………. 9
3.1.1.1 Alat………………………………………………………………….. 9
3.1.1.2 Bahan………………………………………………………………... 9
3.1.2 Pengeringan dekomposisi awal bahan organik………………………... 9
3.1.2.1 Alat………………………………………………………………….. 9
3.1.2.2 Bahan………………………………………………………………... 9
3.1.3 Ekstraksi, filtrasi, dekomposisi awal, dan pembuatan pakan
imbuhan……………………………………………………………………………. 9
3.1.3.1 Alat………………………………………………………………….. 10
3.1.3.2 Bahan………………………………………………………………... 10
3.1.4 Pembuatan vermikompos …………………..…………………………. 10
3.1.4.1 Alat …………………………………………………………………. 10
3.1.4.2 Bahan……………………………………………………………..... 10
3.1.5 Pembuatan biogas…………………….………………………………….. 10
iii1

3.1.5.1 Alat………………………………………………………………….. 10
3.1.5.2 Bahan……………………………………………………………… 10
3.2 Prosedur Kerja ................................................................................................ 10

3.2.1 Pembuatan dekomposisi awal bahan organik……………………… 10

3.2.2 Pengeringan dekomposisi awal bahan organic……………………. 11

3.2.3Ekstraksi, filtrasi dekomposisi awal, dan pembuatan pakan

imbuhan…………………………………………………..……………………. 12

3.2.4 Pembuatan vermikompos…………………………………………… 12

3.2.5 Pembuatan biogas……………………………………………………... 13

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan ................................................................................ 15


4.1.1 Pembuatan POC……………………………………………………. 15
4.1.2 Pembuatan pakan imbuhan…………………………………………. 15
4.1.3 Pembuatan vermikompos………………………………………….. 15
4.1.4 Pembuatan biogas………………………………………………………... 16
4.2 Pembahasan.......................................................................................... 16
4.2.1 Pembuatan POC……………………………………………………. 16
4.2.2 Pembuatan pakan imbuhan…………………………………………. 17
4.2.3 Pembuatan vermikompos………………………………………….. 18
4.2.4 Pembuatan biogas……….………………………………………………. 19

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 21

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 22
1iv

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Pengamatan pupuk organic cair ......................................... 15


2 Pengamatan pakan imbuhan ................................................ 15
3 Pengamatan vermikompos .................................................. 15
4 Pengamatan biogas .............................................................. 16
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limbah merupakan sesuatu dari hasil keiatan produksi yang sudah tidak

terpakai dan tidak memiliki nilai ekonomi. Berbagai kegiatan produksi

menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan sekitar. Usaha peternakan

merupakan salah satu kegiatan produksi yang menyumbang limbah dengan jumlah

besar. Limbah ternak tidak hanya berasal dari usaha on farm saja, usaha lain seperti

rumah potong hewan, dan industri pengolahan hasil ternakpun menghasilkan

limbah. Feses, urin, darah, bulu, dan limbah hasil pengolahan merupakan limbah

yang dihasilkan.

Limbah akan mencemari lingkungan dan tidak memiliki nilai ekonomi

apabila tidak dapat dikelola dengan baik. Limbah peternakan dapat mencemari

lingkungan melalui berbagai media seperti, udara, air, dan tanah. Tidak hanya

mencemari, bahan karena tercemarnya udara, air, dan tanah dapat menimbulkan

penyakit. Sebagai contoh pencemaran udara karena terlalu banyak mengandung

ammonia dapat menyebabkan sesak nafas.

Upaya untuk mengatasi pencemaran lingkungan akibat limbah ternak telah

sering dilakukan. Namun kebanyakan masyarakat hanya fokus mengolahnya

menjadi 1 produk saja, sehingga masih ada yang terbuang dari proses produksi

tersebut. Pengolahan secara terpadu merupakan cara yang terbaik untuk mengolah

limbah peternakan, dimana seluruh limbah khususnya feses dapat diolah menjadi

beberapa produk hingga tidak ada yang terbuang kembali. Produk yang dapat dibuat

seperti POC (Pupuk organik cair), pakan imbuhan, vermikompos dan biogas.
1
2
2

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui :

(1) Mengetahui pengolahan feses sapi perah dan jerami padi menjadi POC.

(2) Mengetahui pengolahan feses sapi perah dan jerami padi menjadi pakan

imbuhan

(3) Mengetahui pengolahan feses sapi perah dan jerami padi menjadi biogas.

(4) Mengetahui cara pengolahan vermikompos.


13
2

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair merupakan pupuk yang berbentuk cair yang sifatnya

mudah larut dan membawa nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Pupuk oranik cair adalah larutan dari pembusukan bahan-bahan oranik yang berasal

dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsure haranya

lebih dari satu unsure. Pupuk organik cair memiliki mamfaat bagi tanaman yaitu

Untuk menyuburkan tanaman, Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah,

Untuk mengurangi dampak sampah organik di lingkungan sekitar, Untuk

membantu revitalisasi produktivitas tanah, Untuk meningkatkan kualitas produk

(Suriadikarta, 2006).

Kelebihan dari pupuk organik cair adalah sercara cepat mengatasi

defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan mampu

menyediakan hara yang cepat. Dibandingkan dengan pupuk anorganik cair,

pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun

digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik cair juga memiliki

bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan kepermukaan tanah bisa

langsung digunakan oleh tanaman (Hadisuwito, 2007).

Pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting dalam

setiap proses metabolisme tanaman, yaitu dalam sintesis asam amino dan protein

dari ion-ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan turgor dengan

baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan menjamin

kesinambungan pemanjangan sel (Purwowidodo, 1992).


14
2

Pupuk organik cair dapat dibuat dari bahan organik cair (limbah organik

cair), dengan cara mengomposkan dan memberi aktivator pengomposan sehingga

dapat dihasilkan pupuk organik cair yang stabil dan mengandung unsur hara

lengkap (Oman,2003).

Standar mutu pupuk organik cair adalah pH 4-8, kadar total N, P dan K ,

2,00%, secara umum pupuk organik mengandung unsur N, P dan K yang

dibutuhkan oleh tanaman dengan sejumlah nutrisi yang terdiri atas 1-7% N, 2-12%

P dan 0-10% K dan nisbak C : N : P yang ideal untuk bahan organik tanah adalah

100 : 10 : 1 (Peraturan Menteri Pertanian, 2009).

2.2 Pakan Imbuhan

Menurut Lesson dan Summers (2001), Pakan Imbuhan dapat berupa

flavoring agent, antibiotik, enzim, antioksidan, hormon, probiotik dan antikoksidial.

Pakan Imbuhan adalah bahan yang tidak termasuk zat makanan yang ditambahkan

dengan jumlah sedikit dan bertujuan untuk memacu pertumbuhan dan

meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan yang ada di dalam saluran


5
pencernaan ayam. Pakan Imbuhan berfungsi sebagai pemicu pertumbuhan dan2

meningkatkan efisiensi pakan pada ayam, antara lain antibiotic dan hormon

(Nuningtyas, 2014).

Sebagai bahan pengganti antibiotik, digunakan bahan-bahan aditif pakan

seperti probiotik, prebiotik, asam organik, herbal, dan protein antimikrobial.

Probiotik digunakan untuk meningkatkan populasi bakteri menguntungkan dalam

saluran pencernaan seperti Lactobacilli dan Streptococci. Prebiotik seperti FOS

(frukto oligosakarida) dan MOS (mannan oligosakarida) digunakan untuk

mencegah penempelan dan pertumbuhan bakteri patogen di saluran pencernaan,

sebagai nutrien bagi bakteri menguntungkan. Asam organik seperti asam propionat
1
22

dan asam format digunakan sebagai acidifier, yaitu menurunkan pH saluran

pencernaan sehingga merangsang aktivitas enzim pencernaan dan mencegah

pertumbuhan mikroorganisme patogen. Herbal seperti rempah-rempah, minyak

esensial, ekstrak tumbuhan, madu dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme patogen, meningkatkan imunitas, dan merangsang aktivitas enzim

pencernaan. Protein antimikrobial seperti lisozim, laktasin F, laktoferrin, α-

laktalbumin dapat mencegah pertumbuhan mikroba patogen (Murtidjo, 2003).

2.3 Vermikompos

Vermikomposting merupakan proses bioksidasi dan stabilisasi bahan

organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan mikroorganisme

(Dominguez et al, 1997). Proses ini berlangsung dalam rentang waktu suhu

mesofilik (35-40oC) dimana zat hara tumbuhan seperti nitrogen, kalium dan fosfor

yang terdapat di dalam bahan makanan diubah melalui aktivitas mikroorganisme

menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tumbuhan (Ndegwa & Thompson,

2001).

Vermikompos yang dihasilkan oleh aktivitas cacing tanah, yang bekerja


6
sama dengan mikrobiota tanah, sehingga mengandung banyak hormon petumbuhan2

tanaman, berbagai mikrobiota bermanfaat bagi tanaman, enzim-enzim tanah, dan

kaya hara yang bersifat lepas lambat (Ndegwa dan Thompson, 2001).

Pemberian vermikompos akan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi

tanah (Ndegwa dan Thompson, 2001), dan tanpa memberikan efek negatif bagi

lingkungan. Cacing tanah yang biasa dimanfaatkan pembuatan pupuk kascing

(vermicomposting) adalah cacing epigeik yang berwarna cerah, seperti: Lumbricus

rubellus, Eisenia foetida, dan Eudrilus eugeniae (Hayawin dkk.,2012).


1

Penambahan cacing tanah yang dikenal dengan nama pupuk kascing atau

vermicomposting dapat mempersingkat waktu produksi pupuk kompos,

penambahan bahan organik dengan cacing tanah dalam pembuatan pupuk kompos,

hanya diperlukan separuh waktu dari pembuatan pupuk kompos konvensional

(Munroe, 2003).

2.4 Biogas

Menurut Willyan (2008), menyatakan bahwa biogas (gas bio) merupakan

gas yang ditimbulkan jika bahan-bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran

mausia, atau sampah, direndam didalam air dan disimpan di dalam tempat tertutup

atau anaerob. Proses terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob bahan

organik yang dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas yang

mudah terbakar yakni salah satunya gas metan.

Biogas merupakan produk dari pendegradasian substrat organik secara

anaerobik. Karena proses ini menggunakan kinerja campuran mikroorganisme dan

tergantung terhadap berbagai faktor seperti suhu, pH, hydraulic retention, rasio C:N

dan sebagainya sehingga proses ini berjalan lambat (Yadvika dkk, 2004). Biogas

dihasilkan apabila bahan-bahan organik terurai menjadi senyawa-senyawa


7
pembentuknya dalam keadaan tanpa oksigen (anaerob). Fermentasi anaerob ini2

biasa terjadi secara alami di tanah yang basah, seperti dasar danau dan di dalam

tanah pada kedalaman tertentu.

Proses pencernaan anaerobik merupakan dasar dari reaktor biogas, yaitu

proses pemecahan bahan organik oleh aktivitas bakteri metanogenik dan bakteri

asidogenik pada kondisi tanpa udara (Haryati, 2006). Bakteri ini secara alami
1

terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang,

feses manusia, dan sampah organik rumah tangga. Bahan organik yang bisa

digunakan sebagai bahan baku industri ini adalah sampah organik, limbah yang

sebagian besar terdiri dari kotoran dan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman,

seperti jerami dan sebagainya serta air yang cukup banyak. Teknologi biogas pada

dasarnya memanfaatkan proses pencernaan yang dilakukan oleh bakteri

methanogen yang produknya berupa gas methan (CH4). Gas metan hasil pencernaan

bakteri tersebut dapat mencapai 60% dari keseluruhan gas hasil reaktor biogas

sedangkan sisanya didominasi karbondioksida (CO2).

Proses anaerob terjadi pada empat tahapan utama, yaitu : hidrolisis,

fermentasi, asetogenesis, dan metagenesis. Setiap tahapan melibatkan populasi

mikroba yang berbeda.

(1) Hidrolisis

Material organik polimerik dihidrolisis menjadi monomer seperti glukosa,

asam lemak dan asam amino oleh bakteri hidrolitik. Proses hidrolisis adalah proses

yang sangat penting pada limbah organik tinggi. Solubilisasi melibatkan proses

hidrolisis dimana senyawa – senyawa organik kompleks dihidrolisis menjadi

monomer – monomer. Lemak dihidrolisis menjadi asam – asam lemak atau gliserol;
8
protein dihidrolisis menjadi asam – asam amino atau peptida sedangkan karbohidrat2

dihidrolisis menjadi monosakarida dan disakarida.

(2) Fermentasi (Asidogenesis)

Pada tahap ini produk yang telah dihidrolisa dikonversikan menjadi asam

lemak volatil, alkohol, aldehid, keton, amonia, karbondioksida, air dan hidrogen

oleh bakteri pembentuk asam. Asam – asam organik yang terbentuk adalah asam

asetat, asam propionat, asam butirat dan asam valerat (Lang, 2007).
1

(3) Asetogenesis

Asam lemak volatil dengan empat atau lebih rantai karbon tidak dapat

digunakan secara langsung oleh metanogen. Asam-asam organik ini dioksidasi

terlebih dahulu menjadi asam asetat dan hidrogen oleh bakteri asetogenik penghasil

hidrogen melalui proses yang disebut asetogenesis. Asetogenesis juga temasuk

pada produksi asetat dari hidrogen dan karbon dioksida oleh asetogen dan

homoasetogen.

(4) Metagenesis

Pada akhirnya gas metana diproduksi dengan dua cara. Pertama adalah

karbon dioksida dengan hidrogen oleh organisme hidrogenotropik.

mengkonversikan asetat menjadi karbon dioksida dan metana oleh organisme

asetropik dan cara lainnya adalah dengan mereduksi Metanogen yang dominan

digunakan pada reaktor biogas adalah Methanobacterium, Methanothermobacter,

Methanobrevibacter, Methanosarcina dan Methanosaeta (Lang, 2007).


12

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Pembuatan Dekomposisi Awal Bahan Organik

3.1.1.1 Alat

1. Wadah/ bak penampung

2. Timbangan

3. Terpal

4. Tongkat kayu

5. Jarum

6. Karung

7. Tali rapia

8. Karton bula

3.1.1.2 Bahan

1. Feses sapi perah

2. Jerami padi

3.1.2 Pengeringan Dekomposisi Awal Bahan Organik

3.1.2.1 Alat

1. Kotak kayu

3.1.2.2 Bahan

1. Dekomposisi awal sebanyak 5kg

3.1.3 Ekstraksi dan Filtrasi Dekomposisi Kering dan Pembuatan Pakan

Imbuhan
1
102

3.1.3.1 Alat

1. Baskom

2. Garukan

3. Timbangan

4. Papan kayu

3.1.3.2 Bahan

1. Substrat kering

2. Air
3.1.4 Pembuatan Vermikompos

3.1.4.1 Alat

1. Baskom

3.1.4.2 Bahan

1. Substrat kering POC

2. Media cacing tanah

3. Cacing tanah Lumbricus rubellus

3.1.5 Pembuatan Biogas

3.1.5.1 Alat

1. Digester

2. Ban

3.1.5.2 Bahan

1. Substrat POC

2. Air
111

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Pembuatan Dekomposisi Awal Bahan Organik

1. Menghitung perbandingan bahan dengan perhitungan nisbah C/N

2. Menghitung air dari masing-masing campuran. Bila kurang dari 55% hitung

banyaknya air yang perlu ditambahkan ke dalam bak plastik

3. Menimbang jerami padi sebanyak 20 kg dan feses sapi perah sebanyak 10

kg

4. Memasukan campuran ke dalam bak plastik

5. Mencampurkan kedua bahan (jerami dan feses sapi perah sampai

homogen/merata

6. Menambahkan air jika kadar air campuran < 55%

7. Memasukan jerami pelapis sebanyak 1 kg berdasar karung dan padatkan

8. Memasukkan campuran tersebut ke dalam karung sedikit demi sedikit

sambil dipadatkan dengan bantuan tongkat bambu

9. Menambahkan jerami pelapis 1 kg ke bagian atas campuran kemudian

menutupnya dengan karton/kardus

10. Mengikat bagian atas karung dan lap pinggiran karung yang kotor

11. Melubangi karung di bagian atas tengah bawah dengan bambu

12. Mengukur dan mengamati suhu menggunakan termomenter setiap harinya

selama 7 hari

13. Setelah hari ke-7 melakukan pembongkaran hasil dekomposisi

14. Mempersiapkan untuk bahan baku POC

3.2.2 Pengeringan Dekomposisi Awal Bahan Organik

1. Mengambil dekomposisi awal sebanyak 5kg

2. Menimbang dekomposisi awal


1
12

3. Menaruh dekomposisi awal yang sudah ditimbang kedalam kotak kayu

4. Dekomposisi awal diangin – anginkan selama 1 minggu

3.2.3 Ekstraksi dan Filtrasi Dekomposisi Kering dan Pembuatan Pakan

Imbuhan

1. Menimbang substrat yang sudah kering sebanyak 1,5 kg kemudian ekstrak

dengan cara merendam dengan air panas sebanyak 11 liter sampai seluruh

substrat terendam air, diamkan selama ± 30 menit sampai air rendaman

mencapai suhu 30-35oC

2. Menyaring dengan saringan bertingkat

3. Menyisihkan residu/padatan yang diperoleh untuk yang diperoleh untuk

pembuatan POP dan bahan baku biogas

4. Menginkubasi filtrat pekat dalam wadah plastik.

5. Melakukan aerasi setiap hari selama 15 menit sampai larutan tidak berbau

dan tidak mengendap apabila disimpan dalam waktu relatif lama.

3.2.4 Pembuatan Biogas

1. Menyiapkan instalasi biogas yang terdiri dari digester dan penampung gas

2. Merangkai instalasi biogas yang terdiri dari digester (tong plastik dengan

volume 30 L) yang dilengkapi dengan kran gas dibagian penutupnya

3. Menyiapkan penampung gas terbuat dari ban karet bagian dalam yang telah

dilepaskan pentilnya

4. Menghubungkan kran dari digester ke lubang angin pada ban menggunakan

selang plastik dengan diameter sama dengan lubang kran angin pada ban

5. Menentukan kadar air substrat (KA = 75%)


1
13

6. Menganalisis kandungan air substrat biogas

7. Menghitung penambahan air pada substrat sampai mencapai kada r air

substrat 75%

8. Menimbang substrat dan air yang harus ditambahkan sesuai perhitungan

9. Menambahkan air dalam substrat dan mencampurnya hingga rata

10. Memasukan substrat tersebut kedalam digester sampai mencapai volume ¾

dari volume tong

11. Menyisipkan sealer yang terbuat dari karet pada antara tong dan penutupnya

dengan dibaluri vaseline.

12. Mengunci tong dan penutup dengan menggunakan klem

13. Menginkubasi selama 1 bulan, setiap 1 minggu sekali di periksa

perkembangan proses pembentukan biogas

14. Setelah 1 bulan, untuk mengetahui kualitas biogas yang dihasilkan,

lakukan uji nyala api.

3.2.5 Pembuatan Vermicompost

1. Substrat padat atau residu hasil ekstraksi POC diangin-angin selama 1

minggu

2. Substrat yang sudah dikondisikan berfungsi sebagai media sekaligus pakan

bagi cacing tanah

3. Menimbang substrat 2 kg dan media asal cacing 250 g, masukan pada wadah

plastik yang sudah disediakan

4. Memasukan cacing tanah sebanyak170,6 g ke dalam media

5. Menutup kotak plastik dengan karton tebal yang telah dilubangi, sampai

menutupi permukaan tengah wadah


14
1

6. Menyimpan wadah yang sudah berisi cacing tanah di tempat yang

terlindung cahaya langsung

7. Ssetelah 1 minggu cacing tanah di panen

8. Menimbang dan mencatat produksi biomassa cacing tanah dan kascing


1

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Pembuatan Pupuk Organik Cair

Tabel 1. Hasil pengamatan POC (Pupuk organik cair)


POC

Warna : Hitam Kecoklatan

Gelembung : Tidak ada

Mikroba : Masih terdapat aktivitas mikroba

Tekstur : Cair agak kental

Tidak terdapat koloni mikroba pada permukaan

4.1.2 Pembuatan Pakan Imbuhan

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pakan Imbuhan

Pakan Imbuhan

Warna Coklat
Rasa Asam

Aroma Harum

Tekstur Cair

4.1.3 Pembuatan Biogas

Tabel 3. Hasil pengamatan biogas

Biogas

Terdapat sedikit gas pada ban


1
16

4.1.4 Pembuatan Vermikompos

Tabel 4. Hasil pengamatan vermikompos


Hasil Pengamatan Vermicomposting pada saat 1 minggu

Cacing menjadi lebih besar

Aktivitas gerak baik ketika dibuka cacing langsung menghilang kedalam media
tanam.

Terdapat coccon

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pembuatan Pupuk Organik Cair

Setelah dekomposisi awal dikeringkan selama 1 minggu, langkah

berikutnya adalah pembuatan POC (Pupuk Organik Cair) dari dekomposan yang

sudah dikeringkan. Pupuk Organik Cair adalah jenis pupuk yang berbentuk cair

tidak padat yang mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting

guna kesuburan tanah (Slamet dkk, 2005).

Pembuatan POC diawali dengan ekstraksi dekomposan sebanyak 1,5kg

menggunakan air panas sebanyak 10 liter atau hingga terendam. Ekstraksi

merupakan proses pemisahan 2 bahan menggunakan pelarut cair. Ekstraksi

dekomposan bertujuan untuk melepas atau memisahkan mikroorganisme dengan

bahan organik. Penggunaan air panas pada proses ekstraksi mempermudah

pemisahan. Kemudian ditekan dan didiamkan beberapa menit hingga

mikroorganisme dapat terlarut.


1
17

Hasil ekstraksi difiltrasi dengan memanfaatkan jerami sebagai saringan, dan

ditampung di dalam bak penampung. Hasil filtrasi atau filtrat dalam bak

penampung difermentasi secara aerob selama 1 minggu hingga menjadi POC

(Pupuk Organik Cair) siap pakai. Pupuk organik cair dapat memberikan hara yang

sesuai dengan kebutuhan tanaman pada tanah, karena bentuknya yang cair, maka

jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk pada tanah maka dengan sendirinya tanaman

akan mudah mengatur penyerapan komposisi pupuk yang dibutuhkan. Pupuk cair

organik dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan terjadi penumpukan

konsentrasi pupuk di satu tempat (Slamet dkk, 2005).

POC (Pupuk Organik Cair) yang siap pakai ditandai dengan perubahan

warna menjadi coklat, kental, dan tidak berbau karena bahan organik sudah terurai

dengan sempurna. Permukaan POC (Pupuk Organik Cair) mengandung koloni

mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi pakan imbuhan.

4.2.2 Pembuatan Pakan Imbuhan

Hasil dari ekstraksi dan filtrasi berbentuk kental dan encer. Filtrat kental

akan diolah menjadi POC, sedangkan filtrat encer dijadikan pakan imbuhan.

Menurut Fathul dkk.(2013), pakan aditif yaitu suatu substansi yang ditambahkan

kedalam ransum dalam jumlah yang relatif sedikit untuk meningkatkan nilai

kandungan zat makanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan khusus. Pakan

Imbuhan adalah suatu bahan pakan yang ditambahkan dalam pakan ternak, bahan

pakan tersebut tidak mengandung nutrisi tetapi dapat mempengaruhi kesehatan

ataupun keadaan gizi ternak dan metabolisme dalam tubuh terna (Adams, 2000).

Pemberian pakan imbuhan bertujuan untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan

produktivitas, kesehatan ternak serta efisiensi produksi. Pakan Imbuhan yang biasa
18
1

digunakan umumnya terdiri dari antibiotik, enzim, probiotik, prebiotik, asam

organik dan bioaktif tanaman (Sinurat dkk, 2003).

Pakan imbuhan dibuat dengan fermentasi anaerob. Filtrat encer

ditambahkan molasses sebagai starter untuk pertumbuhan bakteri asam laktat.

Molases digunakan secara luas sebagai sumber energi untuk denitrifikasi,

fermentasi anaerobik, pengolahan limbah aerobik, dan diaplikasikan pada budidaya

perairan (Hidayat dkk., 2006). Molases mengandung nutrisi cukup tinggi untuk

kebutuhan mikroorganisme, sehingga dapat dijadikan bahan alternatif untuk

sumber energi dalam media fermentasi. Guna sumber energi yaitu untuk

pertumbuhan sel mikroorganisme (Kusmiati dkk., 2002).

Pada saat pengecekan hasil pembuatan pakan imbuhan dilakukannya uji

organoleptik yang meliputih rasa, warna, kekentalan, serta bau. Masing masing

tersebut memiliki rasa asam, warna coklat tua, baunya seperti bau asam dan

kekentalannya cukup kental. Hasil tersebut menunjukan bahwa proses pembuatan

pakan imbuhan telah selesai.

4.2.3 Pembuatan Vermikompos

Vermicomposting berarti membuat pupuk kompos dari sampah

biodegradable menjadi pupuk dengan mutu tinggi dengan bantuan cacing tanah

(Lumbricus rubellus) (Kuruparan, 2005). Vermikompos yang dihasilkan oleh

aktivitas cacing tanah, yang bekerja sama dengan mikrobiota tanah, sehingga

mengandung banyak hormon petumbuhan tanaman, berbagai mikrobiota

bermanfaat bagi tanaman, enzim-enzim tanah, dan kaya hara yang bersifat lepas

lambat (Ndegwa dan Thompson, 2001). Pada praktikum kali ini pembuatan

vermicompost menggunakan substrat hasil ekstraksi dan filtrasi yang sudah

berkurang kadar airnya sebanyak 3,5 kg.


1
19

Langkah awal, praktikan memisahkan cacing dari tanah, kemudian

ditimbang dan didapat 250 gram cacing. Kemudian, substrat dimasukkan kedalam

bak plastik beserta cacing dan tanahnya. Setelah itu tanah kembali digemburkan

untuk meningkatkan kadar oksigen dalam media untuk cacing. Setelah itu, bak

plastik ditutup menggunakan triplek agar terhindar dari hama dan cacing tetap

berada di dalam. Tutup triplek dilubangi agar oksigen tetap tersedia untuk tumbuh

cacing.

Seminggu kemudian, cacing sudah bermigrasi dari media tanah keseluruh

bagian substrat, serta terdapat coccoon atau cikal bakal cacing. Dengan begitu dapat

dikatakan, vermicompost berhasil dibuat.

4.2.4 Pembuatan Biogas

Filtrat padat hasil ekstraksi dan filtrasi dibuat menjadi biogas. Biogas

merupakan gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan gas lainnya

yang didapat dari hasil penguraian bahan organik (seperti kotoran hewan, kotoran

manusia, dan tumbuhan) oleh bakteri metanogen (Harsono, 2013).

Langkah pertama yang dilakukan pada pembuatan biogas yakni dengan

membuat digester. Digester dibuat menggunakan tong plastik tebal dengan

dipasang keran pada tutupnya. Setelah digester berhasil dibuat, dimasukkan filtrat

padat kedalamnya, tetapi tidak sampai penuh untuk menghindari terjadinya ledakan

akibat proses metanogenesis. Metanogenesis merupakan proses gas metan

diproduksi dengan mengkonversikan asetat menjadi karbon dioksida dan metana

oleh organisme asetropik dan cara lainnya adalah dengan karbon dioksida dengan

hidrogen oleh organisme hidrogenotropik (Lang, 2007).


1
20

Filtrat yang sudah dimasukkan kedalam digester dalam keadaan tertutup

kemudian dipasang selang dan ban untuk mengetahui keberhasilan biogas setelah 1

minggu kemudian. Setelah 1 minggu didapat gas terisi di dalam ban, namun hanya

sedikit. Hal ini kemungkinan terjadi karena gas yang dihasilkan terserap kembali

kedalam digester.
1

SIMPULAN

(1) Pupuk Organik Cair dibuat menggunakan dekomposan awal yang di

ekstraksi dan filtrasi, yang kemudian difiltrasi secara anaerob

(2) Pakan Imbuhan merupakan pakan imbuhan yang dibuat dari filtrate encer

hasil ekstraksi yang difermentasi secara anaerob

(3) Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari filtrat padat atau dekomposan

yang tidak tersaring, kemudian difermentasi secara aerob.

(4) Vermicompost terbuat melalui proses vermicomposting dimana dalam

pembuatannya menggunakan cacing sebagai pengurai bahan organik

hingga menjadi pupuk siap pakai.


1
22

DAFTAR PUSTAKA
Haryati, T. 2006. Biogas : Limbah Peternakan yang Menjadi Sumber Energi
Alternatif. Balai Penelitian Ternak. Wartazoa. Vol. 16.
Hayawin, Nahrul.Z., Astimar, A.A., Hakim, M,. Khalil Abdul, H.P.S., Ibrahim,
Zawawi. 2012. Vermicomposting Of Empty Fruit Bunch With Addition Of
Palm Oill Mill Effluent Solid. Journal of Oil Palm Research. Vol 24:1542-
15.
Kuruparan, p. 2005. Vermicomposting As An Eco Tool In Sustainable Solid Wate
Management. Anna university.
Lesson, S and J. D. Summers. 2000. Broiler Breeder Production. University Books.
Guelph, Ontario, Canada.
Ling Yu Lang.2007. Treatability of Palm Oil Mill Effluent (POME) Using Black
Liquor inan Anaerobic Treatment Process. Thesis for The Degree of Master
of Science. Universitas Sains Malaysia. Malaysia.
Munroe, G. 2003. Manual Of On-Farm Vermicomposting And Vermiculture.
Oranik agriculture centre of Canada. Kanada.
Murtidjo, A. G. 2003. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Ndegwa, P.M., Thompson, S.A., 2001. Integrating Composting and
Vermicomposting In the Treatment and Bioconversion of Biosolids. J. Bio.
Tech. 76 : 107-112.
Nuningtyas,Y.2014..Pengaruh Penambahan Tepung Bawang Putih (Allium
Sativum) Sebagai Aditif Terhadap Penampilan Produksi Ayam Pedaging. J.
Ternak Tropika Vol. 15, No.1: 21-30, 2014.Fakultas
Peternakan.Universitasy Brawijaya
Oman. 2003. Kandungan Nitrogen (N) Pupuk Organik Cair Dari Hasil
Penambahan Urine Pada Limbah (Sludge) Keluaran Instalasi Biogas
Dengan Masukan Feces Sapi. Skripsi. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor. 28/PERMENTAN/SR.130/5/2009 Tahun
2009 Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah.
Purwowidodo, 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa Persada.
Bandung.
Slamet, R., Abrianti dan Daryanto. 2005. Pengolahan Limbah Organik (Fenol) dan
Logam Berat (Cr6+ atau Pt4+) Secara Simultan dengan Fotokatalis TiO2,
ZnO- TiO2. Jurnal Makara Teknologi Vol. 9(2) Hal. 1-3.

Suriadikarta, D. A., & Setyorini, D.2006. Baku mutu pupuk organik. In D. A.

Willyan, D. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos Dari Kotoran Ternak. Agro
Media. Jakarta