Anda di halaman 1dari 8

Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi

2010, Vol. III, No.1: 37 - 44

TEORI PERKEMBANGAN MORAL DAN MODEL PENDIDIKAN MORAL

Agus Abdul Rahman


Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. Raya Cipadung No. 105 Bandung 10614 Telp (022) 7800525 email:a_abdurrahman72@yahoo.com

Moral values and it’s decadence were one of many problems that in Indonesia, whereas becoming a
huge responsibility that hold by all member of society. The inquiry, designing and implementation of
moral education strategy is foreseen as the most important aspect to improve society. Aside from great
efforts to improve society, it is imperative that we also need to review and inquire more about moral
development theory. Nowadays, it seems that moral development theory had moved from its role and
position which moved from its autonomic, rationalistic and universalistic nature to more emotionally
roles and becoming more culture bounded. The changes in society paradigm were also have many
implications on education of moral development. In this paper there are at least 3 models that can be
used in moral education, which are the learning of rule ethics, character ethics and the integration of
both in multidimensional fields.

Keywords : rules ethics, character ethic, integrative approach

Pendahuluan mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan


Krisis multidimensional yang selama ini terlarang lainnya (narkoba). Angka itu meru-
disebut-sebut sedang menimpa bangsa kita pakan 32 persen dari total 3,2 juta pengguna
tampaknya bukan hanya isapan jempol semata. narkoba secara nasional (Koran Tempo, 11
Rentetan peristiwa yang tersaji di media-media September 2007). Survey mutakhir terhadap
sepertinya mempertegas bahwa bangsa ini pelajar SMP dan SMA di 33 propinsi yang
memang sedang krisis. Yang lebih meng- dilakukan komisi perlindungan anak menun-
khawatirkan lagi, krisis tersebut juga terjadi jukkan bahwa 62,7 persennya sudah tidak
pada dunia pendidikan kita. Kasus-kasus mu- perawan lagi (Pikiran rakyat, 11 Desember
takhir yang terekspos di media seperti pe- 2008).
lecehan seksual dan kekerasan guru terhadap Kenyataan tersebut tentu membuat kaget
siswa, bulliying siswa terhadap siswa lainnya, banyak kalangan. Pendidikan yang semestinya
penggunaan narkoba, seks bebas, ataupun mempunyai fungsi sosialisasi nilai-nilai, pe-
aborsi di kalangan siswa adalah sebagian ngembangan diri, dan kontrol sosial tampak-
potret buram mengenai wajah dunia pen- nya justru menghasilkan sesuatu yang agak
didikan kita. Sebagai gambaran, survei yang paradoks. Lalu apa yang harus dilakukan?
dilakukan Badan Narkotika Nasional dan Dewasa ini pendidikan formal memang
Universitas Indonesia terhadap 73.842 pelajar menghadapi tantangan yang sangat luar biasa.
dan mahasiswa di 33 provinsi di Indonesia me- Sementara masalah-masalah internal (tata pa-
nunjukkan bahwa sebanyak 1.037.682 pelajar mong, kurikulum, sarana dan prasarana, ke-
dan mahasiswa di Indonesia diketahui telah uangan, sumber daya manusia) masih belum
Psympathic, 2010, Vol. III, No.1: 37 - 44

terselesaikan dengan baik, sekolah harus judgment pada anak, dan menulis buku
berhadapan dengan arus globalisasi yang me- berjudul “The Moral Judgment of The
miliki dampak yang sangat luas terhadap setiap Child“ pada tahun 1932. Penelitian Piaget
segmen kehidupan. Struktur, norma, gaya hi- kemudian dikembangkan oleh Lawrence
dup, dan karakteristik masyarakat yang be- Kohlberg pada tahun 1970-an. Teori Kohlberg
rubah dengan cepat menuntut sekolah untuk mengenai Moral Reasoning atau Cognitive
terus-menerus mengevaluasi serta mereformasi Model of Moral Development mendapatkan
dirinya. banyak perhatian dan memberikan pengaruh
Namun demikian, seberat apapun tan- pada penelitian-penelitian mengenai perkem-
tangannya sekolah harus tetap menjalankan bangan moral.
fungsinya. Sekolah harus berusaha semaksimal Namun demikian, teori Kohlberg tidak
mungkin mensosialisasikan nilai-nilai dan lepas dari kritik. Carol Gilligan, seorang
membentuk karakter siswa yang sesuai dengan feminis misalnya, menyampaikan kritik pada
nilai-nilai tersebut. Sekolah tidak boleh puas artikelnya yang cukup berpengaruh di Harvard
dengan hanya memperkaya kemampuan kog- Educational Review pada tahun 1997 dan buku
nitif siswa saja, sementara perilaku moral best-sellernya In a Different Voice pada tahun
siswa diabaikan. 1982. Gilligan mengklaim bahwa moralitas pe-
rempuan secara kualitatif berbeda dibanding
Pembahasan
moralitas laki-laki. Menurutnya, prinsip moral
Pendidikan moral bukanlah perkara
reasoning perempuan adalah ethic of care,
sepele atau main-main. Telah terjadi diskusi
sedangkan laki-laki adalah ethic of justice
panjang tentang bagaimana pendidikan moral
(Walker, 2006). Gilligan mengkritik bahwa
dilakukan sehingga nilai-nilai dapat terin-
Kohlberg hanya membatasi diri pada pada
ternalisasi dengan baik dan muncul perilaku
prinsip keadilan (ethic of justice), dan bersifat
moral yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
diskriminatif karena tidak mempertimbangkan
Banyak teori bermunculan tentang perkem-
perbedaan gender.
bangan moral dan pendidikan moral. Dari
Kritik lain disampaikan oleh Eliot Turiel
mulai Jean piaget, Lawrence kolhberg, Marvin
dengan social cognitive domain theory. Dalam
W. Ber-kowitz, Thomas Lichona, Elliot Turiel,
beberapa hal, antara Kohlberg (structural-
Larry P. Nucci, Jonathan Haidt, sampai Darcia
development theory) dan Turiel (social-
Narvaez telah banyak melahirkan teori tentang
cognitive domain perspectives) sebenarnya
perkembangan moral dan pendidikan moral.
memiliki beberapa kesamaan. Keduannya me-
Teori Perkembangan Moral
nyampaikan bahwa perkembangan moral akan
Jean Piaget bisa dibilang sebagai orang
lebih baik dipahami dengan menganalisa moral
yang pertama kali meneliti perkembangan
judgment. Emosi dianggap terpisah dan tidak
moral (Lapsley, 2006). Piaget meneliti moral
memotivasi kekuatan moral judgment, se-

38
Teori Perkembangan Moral dan Model Pendidikan Moral (Agus Abdul Rahman)

dangkan perilaku dianggap hasil dari moral Kritik berikutnya muncul dari kalangan
judgment. Keduanya juga menganggap bahwa cultural psychology dan cross-cultural psy-
moralitas terbentuk bukan karena interaksi chology. Kritik terutama terhadap klaim bahwa
individu dan lingkungannya. Kritik Turiel terdapat prinsip-prinsip moral yang bersifat
terhadap Kohlberg adalah bahwa moralitas ha- universal, seperti yang disampaikan oleh Jean
nyalah satu dari tiga bentuk pengetahuan sosial Piaget, Lawrence Kohlberg, Gilligan, ataupun
(Social Knowledge). Pengetahuan sosial, me- Elliot Turiel. Cultural psychology memegang
nurut Turiel, ditandai dengan heterogeneity premis bahwa proses kultural dan proses
dan coexistence antara orientasi sosial, psikologis sama-sama penting di dalam
motivasi dan tujuan. Jadi, pemahaman me- memahami perkembangan moral (Miler, 2007).
ngenai justice, welfare, dan right (moral issues) Cultural psychology berpendapat bahwa do-
coexist dengan authority, tradition, social main moral secara kultural beragam dan lebih
norms (social conventional issues), dan luas daripada sekedar domain yang ber-
privacy, bodily integrity and control, dan hubungan dengan harm, right, dan justice
delimited set of choices and preferences (Haidt, dkk., 1993). Cultural psychology juga
(personal issues) (Smetana, 2006). Turiel mengakui adanya non-rasionalitas di dalam
(2006) mengatakan bahwa untuk memahami konsepsi moral. Berbeda dengan mainstream
fungsi dan perkembangan moral yang ada pada teori psikologi tentang moral yang meng-
suatu masyarakat ada baiknya memahami juga abaikan peran agama dalam pembentukan
kultur dan struktur masyarakatnya. Menurut moralitas, cultural psychology justru me-
Turiel, (2006) : ngakuinya Shweder, dkk (1997), misalnya,
berdasarkan penelitian ethnografis di India,
“In some cultural analyses, inequalities
Brazil, dan Amerika, mengidentifikasi tiga
are seen as acceptable to members of the
group because of asymmetrical reci- moral domain yang salah satunya moralitas
procity; that is, the subordinate accepts
yang berhubungan dengan agama, yaitu
his or her status and is compensated by
the advantages of the care given by those autonomy, community, dan divinity. Penelitian
in dominant positions, and because of an
Shweder menunjukkan bahwa ethic of
upbringing that shapes the individual to
participate in a collective system of autonomy saja tidak cukup untuk menjelaskan
interdependence and duties”
perilaku moral dalam berbagai kultur. Pada
kultur-kultur lain, perilaku moral juga di-
Masyarakat seperti itu jika dinilai de-
tentukan oleh ethic of community, dan ethic of
ngan menggunakan standard yang berbeda,
divinity. Artinya, menurut Shweder bahwa pe-
misal ethic of justice, tentu, akan menimbulkan
rilaku moral seseorang juga dipengaruhi oleh
kritik dan kesalahan. Namun demikian, Turiel
pertimbangan-pertimbangan kelompok bahkan
masih menganggap bahwa teorinya bersifat
tuhan, jadi tidak hanya ditentukan oleh moral
universal.
reasoning semata.

39
Psympathic, 2010, Vol. III, No.1: 37 - 44

Kritik yang lain disampaikan oleh Yang menarik adalah apa yang di-
Jonathan Haidt. Hampir sama dengan Shweder, sampaikan oleh Shweder, dkk tentang ethic of
dkk., Haidt mengkritik main-streams psikologi divinity dan Haidt dkk. tentang ethic of purity.
moral yang lebih menekankan pada rasio- Walaupun istilahnya berbeda, kedua ethic
nalitas, otonomi, dan penekanan berlebih pada tersebut sebenarnya menunjuk pada substansi
prinsip harm, right, dan justice. Menurut Haidt, yang sama (Horberg E.J, Oveis C, Keltner D,
dkk. (1993), walaupun Turiel ataupun Killen Cohen AB, 2009; Haidt, 2009). Keduanya
dan Helwig sudah menyatakan bahwa aturan mengakui adanya pengaruh sesuatu yang
moral tertentu boleh jadi berbeda dari satu dimahakan terhadap moral judgment dan
kultur dengan kultur yang lainnya, tapi mereka adanya prinsip-prinsip moral yang sifatnya
masih menganggap bahwa prinsip moral di private dan spirituil. Domain of Purity, me-
seluruh budaya tidak terlepas dari harm, rights, nurut Horberg, dkk (2009), meliputi nilai-nilai
atau justice. Bagi Haidt (2001), moral dan prinsip-prinsip yang bertujuan untuk
reasoning bukanlah yang menyebabkan moral menjaga kesucian tubuh dan jiwa. Lebih lanjut,
judgement. Moral reasoning seringkali bersifat Horberg, dkk. (2009) menambahkan bahwa
post hoc construction, yaitu dibuat setelah domain of purity juga meliputi “the belief that
moral judgment dilakukan. Sebagai alternatif, people ought to be, in their bodies and minds,
Haidt (2001) kemudian menekankan pen- clean, chaste, selfrestrained, and spiritually
tingnya pengaruh faktor sosial dan kultural pure and should strive to live in a sacred,
terhadap moral judgment. Baginya, moral divine way (which does not necessarily require
judgment secara umum merupakan hasil dari belief in deity)”.
evaluasi yang sifatnya cepat atau otomatis atau Dalam formulasi Shweder, pelanggaran
bersifat intuitif (intuition) daripada rasional. terhadap ethic of care and justice dan ethic of
Lebih lanjut, Haidt (2009) menjelaskan purity akan menimbulkan reaksi yang berbeda.
bahwa moral intuition merupakan mekanisme Pelanggaran terhadap ethic of care and justice
psikologis yang sifatnya innate, tapi juga akan menimbulkan ketidakberhargaan atau
dipengaruhi oleh institusi dan praktek-praktek disrespect, sedangkan pelanggaran terhadap
kultural. Karena bisa dipengaruhi, maka orang ethic of purity akan menimbulkan perasaan
tua atau agent sosialisasi moral yang lainnya tidak suci, rasa bersalah, kejijikan atau disgust
bisa membangun moral foundation tertentu (Haidt J, Roller SH, Dias MG, 1993). Menurut
pada anak. Berdasarkan surveynya terhadap Haidts, dkk. (1993), Disgust mungkin meru-
list of virtue dari berbagai kultur, Haidt (2007) pakan komponen moralitas yang sifatnya
mendapatkan 5 moral foundation. Kelima umum. Dalam berbagai kultur, termasuk dalam
moral foundation tersebut adalah Harm/care, masyarakat global sekalipun, terdapat perilaku-
Fairness/reciprocity, Ingroup/loyalty, Autho- perilaku yang jika dilakukan akan menim-
rity/ respect, dan Purity/sanctity. bulkan disgust. Looy (2004) menggambarkan

40
Teori Perkembangan Moral dan Model Pendidikan Moral (Agus Abdul Rahman)

bahwa disgust berakar dalam tubuh. Me- Model Pendidikan Moral


nurutnya, disgust merupakan “moral emotion Perkembangan teori mengenai per-
yang fungsi khususnya adalah memfasilitasi kembangan moral yang sudah dijelaskan
evaluasi baik dan buruk, benar atau salah, dan ternyata berpengaruh besar pada bagaimana
sekaligus menyatakan keterikatan (embedded- nilai-nilai moral diajarkan di sekolah-sekolah.
ness)”. Masih menurut Looy, pemicu mun- Menurut Narvaez (2008), terdapat dua pen-
culnya Disgust banyak berhubungan dengan dekatan dalam pendidikan moral. Pertama,
tuntutan dan harapan sesuatu yang dimahakan pendekatan yang bersifat universalis – Narvaez
dan merefleksikan sisi spiritualitas manusia. menyebutnya dengan rule ethics. Pendekatan
Terakhir, Disgust ini penting karena bisa ini menekankan pada apa yang sebaiknya dila-
merupakan “as gurdian of the temple of the kukan pada situasi moral tertentu. Pendekatan
body” (Haidt, Rozin, McCauley, dan Imada, ini banyak dipengaruhi oleh teori moral
1997) dan dapat melindungi kesucian tubuh judgmen dan moral reasoning dari Jean Piaget
dan jiwa (Horbeg, Oveis C, Keltner, dan dan Lawrence Kohlberg. Perilaku moral, me-
Cohen, 2009). nurut pendekatan ini, sangat ditentukan oleh
Jadi, perkembangan teori mengenai kemampuan moral reasoning seseorang.
perkembangan moral sudah banyak mengalami Karena pentingnya moral reasoning, maka
pergeseran. Teori moral reasoning dan moral pendidikan moral lebih diarahkan pada pe-
judgment dari Piaget dan Kohlberg yang cukup ningkatan kemampuan moral reasoning ber-
lama mendomi-nasi penelitian psikologi moral dasarkan prinsip justice dan fairness, seperti
dan mem-pengaruhi pendidikan moral sudah belajar memecahkan dilema-dilema moral
banyak mendapatkan koreksi. Penekanan ber- yang seringkali dihadapi siswa dalam kehi-
lebih terhadap peran rasio dalam penilaian dupan sehari-hari.
moral, prinsip keadilan, dan universalitas teori Pendekatan ini lebih mengedepankan
sudah mengalami pergeseran ke arah yang proses daripada isi dan menganggap faktor
lebih menghargai peran penting emosi di lingkungan bukan merupakan faktor penting di
dalam penilaian moral, prinsip-prinsip moral dalam membentuk moral reasoning siswa.
menjadi lebih beragam dan berkait dengan Pendekatan ini kadang dianggap menggunakan
budah, culture-bound. Pergeseran ini dapat pendekatan tidak langsung terhadap per-
dipahami karena akhir-akhir ini tengah ber- kembangan moral (Narvaez, 2006). Sebab,
kembang pesat penelitian-penelitian mengenai siswa tidak diarahkan secara langsung untuk
social neuroscience (pengaruh fungsi neural meyakini atau melakukan suatu perilaku moral.
terhadap perilaku sosial) dan munculnya Peran guru atau orang dewasa pada pende-
perhatian yang sangat intens terhadap budaya katan ini lebih sebagai fasilitator. Guru atau
dan pengaruhnya terhadap perilaku sosial. orang dewasa bertugas menguji perspektif
siswa, membangun empati, mendo-rong dis-

41
Psympathic, 2010, Vol. III, No.1: 37 - 44

kusi, memperkaya perspektif dan kemampuan kankan pada tradisi, otoritas, dan kepatuhan
berfikir siswa, serta membantu siswa belajar daripada penalaran, otonomi, ataupun keadilan
membuat keputusan yang baik. sosial (Narvaez, 2006). Selain itu, pendekatan
Walaupun demikian, perkembangan be- ini lebih bersifat a teacher-centered dan direct
rikutnya, Kohlberg dengan Just Community teaching approach (Benninga, 1991; Solomon,
Schoolnya kemundian menambahkan penting- dkk., 2002). Dalam prakteknya, siswa memang
nya iklim sekolah di dalam meningkatkan dituntut untuk meyakini dan melakukan suatu
moral reasoning siswa. Menurutnya, adalah perilaku moral tanpa terlalu perduli apakah
penting siswa memahami dan merasakan siswa memahami dan merasakan keadilan
keadilan di sekolah dengan mendapatkan ataupun tidak. Menurut Narvaez (2006),
perlakuan yang adil. terdapat dua penekanan pada pendekatan ini.
Pendekatan kedua adalah pendekatan Pertama, pendekatan ini lebih mengutamakan
yang sifatnya partikularis (character ethics). isi daripada proses, dan yang kedua pendeka-
Pendekatan ini mengutamakan penguasaan tan ini menganggap penting lingkungan di
nilai-nilai keutamaan atau virtue yang di- dalam membentuk perilaku moral.
anggapnya perlu dan memadai untuk men- Sebenarnya, seperti yang disampaikan
dapatkan kehidupan yang baik. Model pen- Narvaez (2008), selain kedua model pen-
didikan moral dengan pendekatan ini sebenar- didikan moral seperti yang sudah disampaikan,
nya secara tradisional sudah lama diterapkan. terdapat model pendidikan moral yang lain
Tapi, karena besarnya pengaruh teori moral yang sifatnya integratif atau multidimentional.
reasoning dari Piaget dan Kohlberg dan faktor- Model ini berusaha menggabungkan rule ethic
faktor lainnya, model pendidikan character dan character ethic dan yang termasuk tokoh
ethic kemudian mengalami kemunduran. integrative model tersebut antara lain Thomas
Model pendidikan character ethic mendapat Lichona, Darcia Narvaez dan Marvin W.
perhatian kembali setelah teori moral rea- Berkowitz.
soning mendapatkan banyak kritik dan mun- Menurut Lichona, karakter moral ber-
culnya penjelasan menyakinkan mengenai per- sifat multidimensional. Menurut Lichona, pen-
lunya emosi di dalam pembentukan perilaku didikan moral bertujuan untuk membangun
moral. kualitas karakter yang positif atau virtue.
Fokus pendidikan moral dengan pen- Baginya, karakter moral terdapat tiga kom-
dekatan ini lebih pada bagaimana membentuk ponen, yaitu moral knowledge, moral feeling,
karakter. Selain karena karakter tersebut tidak dan moral behavior. Artinya, perilaku moral
dibawa sejak lahir juga diyakini bahwa saja bagi Lichona tidaklah cukup, perilaku
perilaku moral seseorang akan konsisten moral tersebut harus dibarengi dengan pe-
dengan karakter yang dimilikinya. Pendekatan ngetahuan dan perasaan tentang apakah
ini, terutama yang tradisional, lebih mene-

42
Teori Perkembangan Moral dan Model Pendidikan Moral (Agus Abdul Rahman)

perilaku tersebut termasuk perilaku moral atau menggunakan ketrampilan memecahkan


bukan. konflik
10. Sekolah menciptakan kultur moral positif
Simpulan
11. Sekolah memberikan kesempatan pada
Lickona (dalam Narvaez, 2006) meng-
siswa untuk menunjukan keperdulian pada
gambarkan 12 strategi komprehensif pen-
masyarakat
didikan karakter :
12. Sekolah merekrut orang tua dan masya-
1. Guru merupakan caregiver, moral model,
rakat sebagai rekanan di dalam upaya me-
dan moral mentor ketika berhubungan
lakukan pendidikan karakter
dengan siswa. Guru memperlakukan siswa
dengan penuh penghargaan Berkowitz terkenal dengan teori moral
2. Guru menciptakan komunitas kelas yang anatomynya. Berkowitz berusaha mengin-
saling perduli dengan menciptakan komunitas tegrasikan antara identitas moral, kepribadian,
peer group yang positif dan model pendidikan karakter. Moral ana-
3. Guru mengajarkan disiplin moral. Disiplin tomy Berkowitz terdiri dari tujuh komponen,
merupakan alat untuk pengembangan yaitu moral behavior, moral character (ke-
karakter, digunakan untuk mengembang- cenderungan yang terinternalisasi untuk me-
kan respect, reasoning dan self control lakukan suatu perilaku yang benar), moral
4. Guru menciptakan komunitas yang demo- values, moral reasoning, moral emotion, moral
kratis yaitu siswa terlibat dalam peng- identity, dan metamoral characteristic seperti
ambilan-pengambilan keputusan disiplin diri. Terakhir, Narvaez terkenal de-
5. Guru memelihara nilai-nilai melalui ngan Integrative Ethical Education. Model
kurikulum integrative moral education dari Narvaez
6. Guru menggunakan cooperative learning terdiri dari tiga ide dasar. Pertama, bahwa
untuk membantu siswa belajar menyatu pengembangan moral berarti pengembangan
dengan yang lainnya dan memiliki sense of moral expertise. Implikasinya adalah guru
community harus mengajarkan proses dan keterampilan
7. Guru mengembangkan conscience of craft perilaku moral dan guru harus mengajarkan
dengan menggabungkan antara harapan baik moral virtue atau-pun moral reasoning.
tinggi dan dukungan yang tinggi Kedua, pendidikan moral bersifat transfor-
8. Guru menggunakan refleksi etis di dalam matif dan interaktif. Implikasinya, guru harus
membantu siswa merefleksikan perspektif mensetting struktur lingkungan dengan baik
orang lain, mempertimbangkan persya- sehingga dapat meningkatkan moral intuition
ratan kongkrit dari suatu virtue dan guru harus merancang instruksi yang da-
9. Guru membantu siswa untuk meme- pat mendorong siswa menjadi lebih kompeten
cahkan konflik dengan damai dengan dalam ethical know-how. Ketiga, karakteristik

43
Psympathic, 2010, Vol. III, No.1: 37 - 44

alamiah manusia besifat kooperatif dan Narvaez, D. (2008). Human Flourishing and
Moral Development: Cognitive and
aktualisasi diri. Implikasinya, guru harus
Neurobiological Perspectives of Virtue
membantu menciptakan komunitas baik di Development. In Nucci Larry P, Narvaez
Darcia (Editor). 2008. Handbook of
dalam maupun di luar sekolah dan guru harus
moral and character education. Taylor
meningkatkan kemampuan regulasi diri siswa & Francis
Narvaez, D. (2006). Integrative Ethical
dan komunitas. (lihat Narvaez, 2008).
Education. In Klillen, M. and Smetana,
J.G. (Ed.). Hanbook of Moral Deve-
Daftar Pustaka lopment. New Jersey London. Lawrence
Erlbaum Associates, Publishers
Haidt, J. (2001). The Emotional Dog and Its Seligman, M. (2002). Authentic Happiness:
Rational Tail: A Social Intuitionist Using the new positive psychology to
Approach to Moral Judgment. realize your potential for lasting
Psychological Review, 2001. Vol. 108. No. 4, fulfillment. New York: Free Press
814-834 Smetana, J.G (2006). Social-Cognitive Domain
Haidt, J., & Graham, J. (2007). When morality Theory : Consistencies and Variations
opposes justice: Con-servatives have in Children’s Moral and Social
moral intuitions that liberals may not Judgments. In Klillen, M. and Smetana,
recognize. Social Justice Research, 20, J.G. (Ed.). Hanbook of Moral
98–116. Development. New Jersey London.
Haidt, Roller, dan Dias (1993). Affect, Culture, Lawrence Erlbaum Associates,
and Morality, or Is It Wrong to Eat \bur Publishers.
Dog? Journal of Personality and Social Turiel, E. (2008). Thought about actions in
Psychology, 1993, Vol. 65, No. 4, 613- social domains: Morality, social
628 conventions, and social interactions.
Haidt, J., Graham, J., & Nosek, B.A. (2009). Cognitive Development (2008) 136–
Liberals and Conservatives Rely on 154
Different Sets of Moral Foundations. Turiel, E. (2006). Thought, Emotions, and
Journal of Personality and Social Social Interactional Processes in Moral
Psychology, 2009, Vol. 96, No. 5, 1029– Development. In Klillen, M. and
1046 Smetana, J.G. (Ed.). Hanbook of Moral
Haidt, J., P. Rozin, C. McCauley, and S. Imada. Development. New Jersey London.
1997. “Body, Psyche, and Culture: The Lawrence Erlbaum Associates,
Relationship between Disgust and Publishers.
Morality.” Psychology and Developing Peterson, Christopher dan Seligman M.E.P,
Societies 9:107–31. 2004. Character strengths and virtues :
Halstead, J.M. (2007) Islamic values: a a handbook and classification.
distinctive framework for moral American Psycho-logical Association
education? Journal of Moral Education 750 First Street, NE, Washington, DC
Vol. 36, No. 3, September 2007, pp. 20002-4242
283–296 Walker, L.J. (2006). Gender and Morality. In
Lapsley, D.K. (2006). Moral Stage Theory. In Klillen, M. and Smetana, J.G. (Ed.).
Klillen, M. and Smetana, J.G. (Ed.). Handbook of Moral Development. New
Hanbook of Moral Development. New Jersey London. Lawrence Erlbaum
Jersey London. Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Associates, Publishers
Miller, J.G. (2007). Cultural Psychology of
Moral Development. In Kitayama, S. &
Cohen, D. (Ed.). Handbook of Cultural
Psychology. New York. London. The
Guilford Press

44