Anda di halaman 1dari 15

Perkenlkan saya Drs. Andi Ali Saladin, M.Pd. instruktur modul tematik.

salam sukses untuk bapak ibu semua.


Seorang guru ketika mengajar selalu disibukkan dengan aktivitas penyampaian
materi supaya dikuasai oleh siswa tanpa memperhatikan karakteristik, potensi, dan
kebutuhan setiap siswa. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru sesuai dengan
prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, sehingga pembelajaran tidak hanya
berorientasi materi ajar?

Salam Kenal Bapak Drs. Andi Ali Salahudin,M.Pd.

Jawaban saya ;
Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan,
kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga,
latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda
dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya.Pembelajaran yang
hanya berorientasi materi ajar merupakan salah satu kesalahan guru dalam
pembelajaran. Karena keberhasilan seorang pendidik tidak hanya hasil belajar
yang tinggi dan memuaskan tetapi keberhasilan seorang pendidik justru ada
pada perubahan perilaku peserta didiknya. Yaitu perubahan ke arah perilaku
positif, pribadi yang mantap berpendirian, dll. Apa yang sebaiknya dilakukan
oleh guru sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik

Prinsip -prinsip pembelajaran mendidik yang berlaku umum, yaitu:


1. Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian terhadap pembelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan
pelajaran dirasa penting atau dibutuhkan siswa dan diperlukan untuk belajar
lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dan akhirnya
membangkitkan motivasi.
2. Prinsip keaktifan
Belajar tidak dapat dipaksanakan oleh orang lain dan juga tidak dapat
dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila siswa
mengalaminya sendiri, guru sekedar membimbing dan mengarahkan.
3. Prinsip pengalaman atau keterlibatan secara langsung
Tiap-tiap siswa haruslah terlibat langsung dengan merasakan dan
mengalaminya, sehingga siswa secara langsung dapat mengamati dan
menghayati sehingga pengetahuan yang diperoleh lebih bermakna.
4. Prinsip pengulangan
Belajar adalah melatih daya manusia teridri atas mengamati, mengingat,
mengkhayal, merasakan, berpikir, dan lainnya yang akan berkembang dan
menguat ketika dilakukan pengulangan-pengulangan.
5. Prinsip tantangan
Pembelajaran yang dirancang dengan penuh tantangan bagi siswa dengan
memunculkan masalah untuk dipecahkan dapat mendorong rasa ingin tahu
siswa untuk terus mempelajarinya, sehingga menimbulkan motivasi untuk
belajar.
6. Prinsip balikan dan penguatan
Pembelajaran harus didasarkan atas temuan-temuan sebelumnya sehingga
guru dapat memberikan balikan atau penguatan atas temuan-temuan tersebut.
Guru harus memikirkan bentuk balikan atau penguatan untuk memotivasi siswa
belajar.
7. Prinsip perbedaan individu
Setiap siswa memilki keunikan dan potensi untuk dikembangkan. Pembelajaran
yang dilaksanakan harus sesuai dengan potensi dan karateristik siswa agar
pembelajaran efektif.

Selain itu Pembelajaran yang efektif sesuai standar proses pendidikan memiliki
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip keterlibatan siswa secara aktif
2. Prinsip kontekstual ,dengan melibatkan segala sesuatu yang dekat dengan
kehidupan siswa menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena segala
sesuatu yang dipelajari siswa tidak jauh dari realitas kehidupannya.
3. Prinsip keragaman media dan sumber belajar
4. Prinsip pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
5. Prinsip pembiasaan , pembelajaran yang efektif akan membiasakan siswa
untuk berprilaku positif supaya mereka dapat hidup dengan baik.

Guru harus mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi atau


sibuk dengan kegiatannya sendiri agar semua waktu peserta dapat
termanfaatkan secara produktif dan melakukan aktivitas pembelajaran
secara bervariasi dengan waktu yang cukup untuk kegiatan
pembelajaran yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar
dan mempertahankan perhatian peserta didik.

Guru harus mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi atau sibuk
dengan kegiatannya sendiri agar seluruh waktu peserta didik dapat
termanfaatkan secara produktif dan melakukan aktivitas pembelajaran secara
bervariasi dengan waktu yang cukup untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai
dengan usia dan tingkat kemampuan belajar serta karakter peserta didik.

Terima kasih.

Pembelajaran pada abad 21 memiliki karakteristik yang berbeda dengan

pembelajaran abad sebelumnya, standar untuk guru di abad kesembilan belas

lebih ditekankan pada bagaimana mereka menjalani kehidupan pribadi dari

pada kemampuan profesionalnya,. Pada Abad 21 ini perubahan zaman dan

perkembangan teknologi berkembang dengan pesatnya, pembelajaran

diselenggarakan dengan berfokus pada keterampilan karir, keterampilan

hidup, keterampilan media, keterampilan belajar, keterampilan

berkomunikasi dan berkolaborasi. Dan untuk itu teori belajar apa yang

relevan untuk pembelajaran abad 21? Pada dasarnya setiap teori


pembelajaran bisa mendominasi di setiap perkembangan zaman tergantung

kebutuhannya, tidak bisa kita katakan bahwa hanya teori ini saja yang

relevan. Untuk pembelajaran abad 21 teori yang relevan menurut saya:

1. Teori kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar

tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan sehingga

pengetahuan itu bersifat non-objektif, temporer, serta selalu berubah.

Belajar merupakan pemaknaan pengetahuan, sedangkan mengajar itu

menggali makna. Jadi dengan adanya teori kognitivisme seorang siswa

akan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas sehingga

pengetahuan yang mereka dapatkan tetap setia dalam ingatan.

2. Teori Belajar Konstruktivistik, menenkankan proses pembelajaran

menciptakan pengetahuan dan pengalaman peserta didik lebih bermakna

dan akan bertahan lama dalam pikiran peserta didik, kemudian dapat

diimplementasikannya. Peserta didik dapat mengkonstruksi sendiri

pengetahuannya melalui asimilasi dan akomodasi.

3. Teori belajar sosial , Teori ini menyatakan bahwa manusia belajar melalui

pengamatannya terhadap perilaku orang lain sebagai model, dan

kemudian meniru perilaku model tersebut.

Contoh konkretnya di lapangan

Yaitu dalam setiap proses pembelajaran aplikasi teori kognitif terjadi di

setiap proses pembelajaran, pembelajaran bermakna melalui


pengalaman dalam aplikasi teori konstruktivisme dan aplikasi sosial

melalui pengamatan terhadap model tertentu tertuang pada ilustrasi

gambar di bawah ini


a

Pada saat pembelajaran tematik terpadu dilaksanakan, banyak


guru yang tidak memahami karakteristik atau kekhasan mata
pelajaran yang terikat pada jaringan pembelajaran, sehingga
muatan suatu mata pelajaran dibelajarkan kepada siswa
dengan kekhasan mata pelajaran lain baik terkait struktur
materi maupun pendekatan dan metode yang dilaksanakan.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi tidak efektif.
Bagaimana menurut pendapat Anda tentang hal tersebut? dan
bagaimana seharusnya guru tersebut mengajar?

Jawaban :
Ya saya setuju sekali, karena itu yang dialami saya pribadi ketika
mengajar. Terkadang saya masih kesulitan mengaitkan atau mentematik-kan
semua mata pelajaran pada tema tertentu dan masih perlu pemahaman yang
luas. Guru sebagai pelaksana utama kegiatan pembelajarn merupakan kunci
keberhasilan pembelajaran tematik. Kenyataannya belum semua guru
memperoleh pelatihan pembelajaran tematik dan kurikulum 13. Pelatihan
hanya 3 hari tentu tidak dapat memberi hasil maksimal. Terutama bagi guru
yang terbiasa mengajar pembelajaran dengan kurikulum KTSP 2006.
Permasalahan selanjutnya adalah kegiatan pembelajaran . Kegiatan inti
pembelajarn tematik melalui lima tahapan pembelajaran yaitu kegiatan
mengamati, menanya, mengasosiasikan, mencoba dan membagun jejaring.
Pelaksanaan pembelajaran di SD/MI terbagi pada tema. Setiap tema terbagi
menjadi sub tema dan setisp tema terbagi menjadi pembelajaran 1 sampai
dengan pembelajaran 6. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setipa hari
setiap kelas akan mendapatkankan satu kegiatan pembelajaran. Satu
kegiatan pembelajaran merupakan pembelajaran tematik sebagai satu
kesatuan tema yang menggamit beberapa pelajaran. Hal yang menjadi
masalah adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran dari beberapa mata
pelajaran dengan lima langkah pembelajaran pada satu kegiatan
pembelajaran yang juga terdiri dari penilaian pembelajaran baik penilaian
proses maupun penilaian hasil yang tercakup di dalamnya.

Bagaimana seharusnya guru mengajar :

1. Memilih Tema yang dapat disesuaikan


Tema yang akan dipilih terdapat dalam dokumen kurikulum 2013 bagi

sekolah yang masih menerapkan kurikulum 2013 ini. Guru dapat

melakukan pemilihan tema yang akan dibelajarkan terlebih dahulu.

Sejatinya penetapan tema haruslah disesuaikan dengan kondisi

daerah, sekolah, peserta didik, dan guru di wilayahnya.

2. Melakukan Analisis SKL, KI, KD, membuat Indikator

Membca semua SKL, KI dan KD dari semua mata pelajaran, karena

meskipun semua indikator sudah tersedia, guru dapat menambahkan

indikator yang sesuai dengan tema yang sudah dipilihnya dengan

mengikuti kriteria pembuatan indikator.

3. Melakukan pemetaan KD, Indikator dengan Tema

Setelah indikator selesai dibuat, kemudian guru melakukan pemetaan

terhadap kompetensi dasar dan indikator yang berkaitan dengan tema

yang sudah dipilih dan memasukkannya ke dalam format agar lebih

memudahkan dalam penyajian pembelajaran dan pada saat proses

pembelajaran berlangsung.
4. Membuat Jaringan Kompetensi Dasar

Setelah dilakukan pemetaan KD, Indikator dengan tema dalam satu

tahun, maka dilanjutkan dengan membuat jaringan KD dan Indikator

dengan cara menurunkan hasil cek dari pemetaan ke dalam format

jaringan KD dan Indikator.

5. Menyusun Silabus Tematik Terpadu

Langkah guru selanjutnya adalah menyusun silabus tematik untuk

memudahkan guru melihat seluruh desain pembelajaran untuk setiap

Tema sampai tuntas tersajikan di dalam proses pembelajaran.

Adapun komponen-komponen yang terdapat pada Silabus Tematik

Integratif yakni:

 Kompetensi Dasar (di ambil dari jaringan KD yang sudah terpilih)

 Indikator( dibuat oleh guru, juga diturunkan dari jaringan)

 Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian (memuat perencanaan penyajian

untuk beberapa minggu Tema tersebut akan dibelajarkan, dan penilaian

proses serta penilaian hasil yang wajib memuat penilaian dari aspek

keterampilan, sikap, dan pengetahuan selama proses pembelajaran

berlangsung)

 Alokasi waktu (ditulis secara utuh komulatif satu minggu berapa jam

pertemuan, misalnya 30Jp x 35 menit) x 4 minggu)

6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Integratif(TI)

Menyusun RPP merupakan langkah terakhir dari sebuah perencanaan. Di

dalam RPP TI tergambar proses penyajian secara utuh dengan memuat

berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam Tema.


Permasalahan yang ke tiga adalah sumber belajar. Pada pembelajaran tematik
di SD/MI sumber belajar yang dipakai adalah satu buku siswa. Hal ini akan menjadi
masalah ketika buku siswa sebagai sumber belajar tidak dikembangkan oleh guru.
mengapa demikian? Hal ini bisa dilihat bahwa buku siswa pada setiap materi
pembelajaran (pembelajaran 1 s.d. pembelajaran 6) hanya terdiri dari beberapa
lembar. Guru akan mengalami kesulitan manakala sumber belajar lain tidak tersedia.
Bagi SD/MI yang berada di daerah perkotaan tentu bukan masalah untuk
mendapatkan jaringan internet, namun tidak demikian bagi SD/MI yang berada di
pelosok desa.

Pada pembelajaran Kurikulum Sekolah Dasar.Madrasah Ibtidaiyah akan muncul


permasalahan mengapa pembelajaran tematik. Pada umumnya tingkat perkembangan
masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami
hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung
kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. Sesuai dengan
tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan
(holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan
menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan
bagi peserta didik.

Dalam pembelajaran tematik terpadu di kelas IV SD, seorang


guru kelas mengajarkan mata pelajaran Matematika secara
parsial. Bagaimana menurut pendapat Anda?
Bagaimana seharusnya guru tersebut mengajarkan mata
pelajaran Matematika? (kaitkan dengan pembelajaran terpadu
menurut Fogarty)
Buatlah implementasi pembelajaran Matematika secara
tematik integrated secara konkret di lapangan !

Model Pembelajaran Tematik-Matematik

Pada model pembelajaran matematika ini ciri utamanya adalah adanya tema yang akan dipelajari
siswa dalam suatu kelompok (siswa). Tema yang dipelajari adalah tema ―Matematika‖. Dalam
kelompok ini jenis kecerdasan siswanya heterogen. Sesuai dengan jenis kecerdasan dalam multiple
intelligences berarti ada 8 (delapan) sub kelompok sesuai dengan kecerdasan dalam multiple
intelligences. Secara umum model pembelajaran tematik-matematik ini dapat digambarkan dalam
Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Model Pembelajaran Tematik-Matematik
Berbasis Multiple Intelligences
38 Abdul Halim Fathani
Gambaran umum model model pembelajaran tematik-matematik berbasis multiple
intelligences pada anak tersebut dianggap efektif dalam proses pembelajaran, karena setiap
anak (kelompok) memiliki kebebasan untuk menentukan cara atau menangkap informasi
yang terkandung dalam tema tersebut. Sebagai contoh, tema ―Himpunan‖. Tema ini dapat
disetting tidak hanya mudah dipelajari oleh anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan
matematik saja, namun kecerdasan lain yang terangkum dalam multiple intelligences juga
dapat secara nyaman untuk mempelajari materi himpunan.
Bagi anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan musikal, guru memberi kebebasan agar
mereka dapat mengoptimalkan kecerdasannya dalam mempelajari materi matematika pada
tema ―Himpunan‖. Mereka bisa membuat lagu yang berasal dari materi yang dipelajari, bisa
juga belajar dengan diiringi alunan musik. Jika model pembelajaran tematik-matematik ini
dapat diselenggarakan secara maksimal, maka dipastikan setiap anak akan merasakan
kenyamanan dan kepuasan dalam belajar. Intinya tidak akan ada materi pelajaran yang sulit.
Sebagaimana pendapat Gardner (1993) bahwa esensi teori multiple intelligences adalah
menghargai keunikan setiap orang, berbagai variasi cara belajar, mewujudkan sejumlah
model untuk menilai mereka, dan cara yang hampir tak terbatas untuk mengaktualisasikan
diri di dunia ini.
2) Model

Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai proses perubahan baik kognitif, afektif, dan kognitif
kearah kedewasaan sesuai dengan kebenaran logika. Ada beberapa karakteristik matematika, antara
lain :
1.Objek yang dipelajari abstrak.

Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak
ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia.

2.Kebenaranya berdasarkan logika.

Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya kebenarannya
tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. Contohnya nilai √-2
tidak dapat dibuktikan dengan kalkulator, tetapi secara logika ada jawabannya sehingga bilangan
tersebut dinamakan bilangan imajiner (khayal).

3.Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.

Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan
secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-
latihan soal.

4.Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.

Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya ketika
akan mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang maka harus menguasai tentang materi
luas dan keliling bidang datar.

5.Menggunakan bahasa simbol.

Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan
dipahami secara umum. Misalnya penjumlahan menggunakan simbol “+” sehingga tidak terjadi
dualisme jawaban.

6.Diaplikasikan dibidang ilmu lain.

Materi matematika banyak digunakan atau diaplikasikan dalam bidang ilmu lain. Misalnya materi
fungsi digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mempelajari fungsi permintan dan fungsi penawaran.

Berdasarkan karakteristik tersebut maka matematika merupakan suatu ilmu yang penting dalam
kehidupan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini yang harus ditekankan kepada
siswa sebelum mempelajari matematika dan dipahami oleh guru.

Perkembangan matematika, bermula dari kepekaan serta kesadaran ataupunkepedulianmanusia untuk


memahami fenomena-fenomena empiris yang ditemui dalam kehidupan keseharian. Bermunculanlah
konsep-konsep dasar yang selanjutnya mengalamiperluasan (ekspansi), pembenaran (justification),
pembenahan serta generalisasi atau formalisasi.

Konsep matematika disajikan dengan bahasa yang jelas dan spesifik.Bahasa matematika (yang
digunakan dalam matematika) sangat efisien dan merupakan alat yang ampuh menyatakan konsep-
konsep matematika,merekonstruksi konsep atau menata suatu penyelesaian secara sistematis setelah
terlaksananya eksplorasi, dan terutama untuk komunikasi. Bahasa matematika initidak ambigu
namunsingkat serta jelas. Hal ini sangat diperlukan terutama terlihat dalammenyusun suatu definisi
ataupun teorema.

Dengan belajar matematika diharapkan peserta didik dapat memperoleh manfaat berikut:

1. cara berpikir matematika itu sistematis, melalui urutan-urutan yang teratur dan tertentu. dengan
belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis. Sehingga bila
diterapkan dalam kehidupan nyata, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan lebih mudah

2. cara berpikir matematika itu secara deduktif. Kesimpulan di tarik dari hal-hal yang bersifat umum.
bukan dari hal-hal yang bersifat khusus. sehingga kita menjadi terhindar dengan cara berpikir menarik
kesimpulan secara “kebetulan”..

3. belajar matematika melatih kita menjadi manusia yang lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh
dalam bertindak.

4. belajar matematika mengajarkan kita menjadi orang yang sabar dalam menghadapi semua hal
dalam hidup ini. Saat kita mengerjakan soal dalam matematika yang penyelesaiannya sangat panjang
dan rumit, tentu kita harus bersabar dan tidak cepat putus asa. jika ada lamgkah yang salah, coba
untuk diteliti lagi dari awal. jangan-jangan ada angka yang salah, jangan-jangan ada perhitungan yang
salah. namun, jika kemudian kita bisa mengerjakan soal tersebut, ingatkah bagaimana rasanya? rasa
puas dan bangga.( tentunya jika dikerjakan sendiri)

5. yang tidak kalah pentingnya, sebenarnya banyak penerapan matematika dalam kehidupan nyata.
Tentunya dalam dunia ini, menghitung uang, laba dan rugi, masalah pemasaran barang, dalam teknik,
bahkan hampir semua ilmu di dunia ini pasti menyentuh yang namanya matematika.

Untuk mata pelatajan Matematika, pada buku Tematik Terpadu kedalaman materinya terasa dangkal.
Oleh karena itu, siswa tidak mendapatkan pemahaman konsep matematika secara mendalam.
Dengan demikian, perlu digunakan buku Matematika secara terpisah. Alasan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut.

1. Matematika memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan mata
pelajaran lain. Objek kajian matematika bersifat abstrak, metode untuk melakukan kajian
terhadap objek matematika bersifat deduktif, tentunya dengan tidak mengabaikan
pengembangan kecakapan 4 C (Critical, Creative, Colaboratif, Dan Communication).
2. Kebermaknaan pembelajaran matematika di SD/MI salah satunya dapat ditingkatkan melalui
pembelajaran matematika dalam konteks dunia nyata siswa. Pembelajaran dengan
mengambil konteks kehidupan nyata tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran tematik
terpadu.
3. Kebermaknaan pembelajaran merupakan energi bagi peningkatan motivasi belajar siswa,
ketika motivasi sudah dimiliki pembelajaran tidak harus selalu dikaitkan dengan dunia
nyata/tema, karena pembelajaran matematika dengan tema memiliki keterbatasan dalam
mengakomodir struktur dan konten matematika secara utuh. Oleh karena itu, ketika konteks
sudah diperoleh, pembelajaran Matematika dapat dilakukan dengan pemahaman konsep
matematika secara utuh.
Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara berfikir dan mengolah logika,
baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar
bagaimana mengembangkan cara berfikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil
(dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut dianut dan
digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain.
Pengembangan konsep dalam materi-materi matematiak seyogianya dibatasi oleh topik
yang sedang dibahas saja, melainkan dikaitkan pula dengan topik-topik yang relevan, bahkan
dengan bidang studi lain jika memungkinkan secara terpadu. Pembelajaran matematika
terpadu menfokuskan pada pendekatan pebelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan
antar disiplin. Konsep pembelajaran matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai
pembelajaran dan proses yang melibatkan pengembangan berpikir dan belajar. Karena secara
umum, para siswa sulit untuk berpikir secara parsial tentang apa yang mereka pelajari, tetapi
mereka cenderung memandang ‘dunia sekitar’ secara holistik.
Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang
komprehensif dan holistik (lintas topik bahkan lintas bidang studi jika memungkinkan)
tentang materi yang telah disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar
memenuhi tuntutan tujuan pembelajaran matematika secara substantif saja, namun
diharapkan pula muncul ‘efek iringan’ dari pembelajaran matematiak tersebut. Efek iringan
yang dimaksud antara lain adalah :
a. Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika
yang lain.
b. Lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain.
c. Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia.
d. Lebih mampu berfikir logis, kritis, dan sistematis.
e. Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah.
f. Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran matematika belum banyak membentuk siswa untuk berpikir kreatif. Akan diterapkan
pembelajaran terpadu model connected dan pembelajaran terpadu model webbed yang memberikan
kebebasan kepada siswa untuk merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif,
dan pada akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang lain. Penelitian ini
bertujuan untuk: (1) Menghasilkan kajian mengenai keefektifan pembelajaran terpadu model connected
dan pembelajaran terpadu model webbed terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika; (2)
Menghasilkan kajian mengenai kesulitan yang dihadapi dalam menyelesaikan pemecahan masalah
matematika siswa pada kelas pembelajaran terpadu model connected , dan pembelajaran terpadu model
webbed. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed methods model concurrent embedded dengan
metode kuantitatif sebagai metode primer. Subjek pada penelitian kualitatif adalah tiga kelas yang diberi
perlakuan pembelajaran terpadu model connected, pembelajaran terpadu model webbed serta
pembelajaran ekspositori. Pada penelitian kualitatif masing-masing dari setiap pembelajaran diambil 5
siswa kemudian dijenjangkan dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jawaban tes
akhir siswa pada setiap pembelajaran dianalisis, diberikan penskoran dan subjek penelitian diwawancarai
kemudian diberikan kesimpulan dari kedua data tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)
Pembelajaran pembelajaran terpadu model connected dan pembelajaran terpadu model webbed efektif
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Ketuntasan KKM paling tinggi pada pembelajaran
terpadu model webbed, serta terdapat pengaruh terhadap karakter ingin tahu siswa dan ketrampilan
berfikir kreatif sebesar 90,2% dan mempunyai nilai rata-rata ketuntasan paling tinggi yaitu 83; (2)
Kemampuan pemecahan masalah matematika pada pembelajaran terpadu model connected yang memiliki
kemampuan sedang mengalami kesulitan dalam langkah-langkah menyelesaikan soal matematika serta
pada siswa yang memiliki kemampuan rendah mengalami kesulitan dalam hal percaya diri untuk
menyelesaikan soal matematika; (3) kemampuan pemecahan masalah matematika pada pembelajaran
terpadu model webbed yang memiliki kemampuan sedang mengalami kesulitan dalam langkah-langkah
menyelesaikan soal matematika serta pada siswa yang memiliki kemampuan rendah mengalami kesulitan
dalam hal percaya diri untuk menyelesaikan soal matematika