Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebijakan pendidikan merupakan suatu hal yang pokok untuk menentukan
arah dan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dalam suatu negara. Dalam
penyelenggaraan pendidikan di setiap lembaga pendidikan tidak akan pernah lepas
dari suatu kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan dalam negera tempat lembaga
pendidikan itu ada.
Di Indonesia, yang merupakan negara hukum juga menitikberatkan sektor
pendidikan sebagai wahana untuk memajukan negaranya. Bagaimana tidak?
Kebijakan demi kebijakan dibongkar pasang untuk menghasilkan kualitas
pendidikan yang optimal, meski realitanya masih jauh dari harapan.
Dalam makalah kami ini, kami hendak memaparkan analisis kebijakan
pendidikan di Indonesia berikut permasalahan-permasalahan kebijakan pendidikan
yang masih menjadi trending topic di dunia pendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Seperti apakah ruang lingkup analisis kebijakan pendidikan?
2. Bagaimana Pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis kebijakan?
3. Bagaimanakah metode analisis kebijakan pendidikan?
4. Bagaimana Permasalahan yang dihadapi Indonesia terkait kebijakan
pendidikan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui ruang lingkup analisis kebijakan pendidikan.
2. Untuk mengetahui Pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis
kebijakan?
3. Untuk mengetahui metode analisis kebijakan pendidikan.
4. Untuk mengetahui Permasalahan yang dihadapi Indonesia terkait kebijakan
pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori Dasar Kebijakan Publik


Kebijakan adalah kata benda yang berasal dari kata “bijak” dan mempunyai
makna pandai, mahir, selalu menggunakan akal budinya. Kebijakan berarti sebagai
rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam
menjalankan suatu pekerjaan. Kebijaksanaan berasal dari kata “bijaksana” yang
artinya sering menggunakan akal budinya Kebijaksanaan berarti sebagai
kepandaian menggunakan akal budi apabila menghadapi kesulitan (Raba, 2006 :1
dalam Etty, 2016 )
Kebijakan publik merupakan suatu ilmu multidisipliner karena melibatkan
banyak disiplin ilmu seperti ilmu politik, sosial, ekonomi, dan psikologi. Studi
kebijakan berkembang pada awal 1970-an terutama melalui tulisan Harold D.
Laswell. Definisi dari kebijakan publik yang paling awal dikemukakan oleh Harold
Laswell dan Abraham Kaplan dalam Howlett dan Ramesh (1995:2) yang
mendefinisikan kebijakan publik/public policy sebagai “suatu program yang
diproyeksikan dengan tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan praktik-praktik tertentu (a
projected of goals, values, and practices)”.

B. Pengertian Kebijakan publik


Kebijakan dipakai sebagai istilah yang diterjemahkan dari kata “policy”.
Policy sendiri secara etimologis diambil dari bahasa Yunani, Sansekerta dan Latin.
Akar kata “policy” dalam bahasa Yunani adalah “polis” berarti negara kota, sedang
bahasa Sansekerta “pur” berarti kota. Kata ini berkembang dalam bahasa Latin
“politic” yang berarti negara. Dalam bahasa Inggris Pertengahan kata “policie”
menunjuk kepada perbuatan yang berhubungan dengan masalah kenegaraan dan
administrasi pemerintahan. Asal kata “policy” sama dengan asal kata dua kata latin
yaitu “polis” dan “politic”.
Menurut Thomas R. Dye dalam Howlett dan Ramesh (2005:2), kebijakan
publik adalah adalah “segala yang dikerjakan pemerintah, mengapa mereka
melakukan, dan perbedaan yang dihasilkannya (what government did, why they do
it, and what differences it makes)”. Dalam pemahaman bahwa “keputusan”
termasuk juga ketika pemerintah memutuskan untuk “tidak memutuskan” atau
memutuskan untuk “tidak mengurus” suatu isu, maka pemahaman ini juga merujuk
pada definisi Thomas R. Dye dalam Tilaar dan Nugroho (2008:185) yang
menyatakan bahwa kebijakan publik merupakan “segala sesuatu yang dikerjakan
dan tidak dikerjakan oleh pemerintah”.
Senada dengan definisi Dye, George C. Edwards III dan Ira Sharkansky
dalam Suwitri (2008: 9) juga menyatakan bahwa kebijakan publik merupakan: Apa
yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah yang dapat
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan atau dalam policy statement yang
berbentuk pidato-pidato dan wacana yang diungkapkan pejabat politik dan pejabat
pemerintah yang segera ditindaklanjuti dengan program-program dan tindakan
pemerintah.
Kedua definisi baik dari Dye dan Edwards III dan Sharkansky sama-sama
menyetujui bahwa kebijakan publik juga termasuk juga dalam hal “keputusan untuk
tidak melakukan tindakan apapun”. Suwitri (2008: 11) memberi contoh bahwa
keputusan pemerintah untuk menunda pelaksanaan Undang-Undang Anti
Pornografi dan Pornoaksi sehingga dalam hal ini pemerintah tidak melakukan
tindakan apapun untuk menjalankan Undang-Undang tersebut juga termasuk
kebijakan publik.
Menurut James A. Anderson dalam Subarsono (2005: 2), kebijakan publik
merupakan “kebijakan yang ditetapkan oleh badan-badan dan aparat pemerintah”.
Senada dengan Laswell dan Kaplan, David Easton dalam Subarsono (2005:2)
mendefinisikan kebijakan publik sebagai “pengalokasian nilai-nilai kepada
masyarakat”, karena setiap kebijakan mengandung seperangkat nilai di
dalamnya.Dari dua definisi ini dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik juga
menyentuh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Suwitri (2008: 13)
mencontohkan bahwa pergeseran nilai-nilai masyarakat dapat mengakibatkan
pergeseran kebijakan publik seperti dicontohkan tatanan masyarakat yang sangat
terbuka akan nilai-nilai baru membuat beberapa negara melegalkan perkawinan
sesama jenis. Sebaliknya negara juga dapat mengkampanyekan atau bahkan
memaksakan suatu nilai kepada masyarakat, seperti dicontohkan program KB yang
mula-mula ditentang sebagian kalangan masyarakat pada akhirnya dapat diterima
oleh masyarakat setelah pemerintah membuat kebijakan tentang KB, memberi
penyuluhan, menyediakan sarana dan prasarana dan merangkul pemuka-pemuka
agama untuk mendukung program tersebut.
Berdasarkan definisi-definisi kebijakan publik yang dipaparkan di atas,
maka kebijakan publik memiliki konsep-konsep sebagai berikut :
a. Kebijakan publik berisi tujuan, nilai-nilai, dan praktik/pelaksanaannya.
b. Kebijakan publik tersebut dibuat oleh badan pemerintah, bukan organisasi
swasta.
c. Kebijakan publik tersebut menyangkut pilihan yang dilakukan atau tidak
dilakukan oleh pemerintah.
Dari poin-poin di atas maka kita bisa menarik benang merah dari definisi
kebijakan publik dalam Lampiran 1 Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor PER/04/M.PAN/4/2007 tentang Pedoman Umum Formulasi,
Implementasi, Evaluasi Kinerja, dan Revisi Kebijakan Publik di Lingkungan
Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam Peraturan Menteri ini, kebijakan
publik adalah “keputusan yang dibuat oleh pemerintah atau lembaga pemerintahan
untuk mengatasi permasalahan tertentu, untuk melakukan kegiatan tertentu atau
untuk mencapai tujuan tertentu yang berkenaan dengan kepentingan dan manfaat
orang banyak”.
Kebijakan harus dapat membantu merealisasikan kebutuhan manusia, yang
antara lain meliputi: (a) kekuasaan (power) yaitu keikutsertaan dalam pengambilan
keputusan, (b) pencerahan dari kebodohan (enlightenment) yaitu pemahaman,
pengetahuan informasi, (c) kekayaan (wealth) yaitu penghasilan dan hak milik, (d)
kesejahteraan (well-being) yaitu kesehatan, rasa aman, kenyamanan dan
keselamatan, (e) keterampilan (skill) yaitu kemahiran dalam melaksanakan tugas,
(f) perasaan kasih sayang (affection) yaitu cinta, persahabatan, kesetiaan dan
solidaritas, (g) penghargaan (respect) yaitu kehormatan, status, reputasi dan
nondiskrimasi, (h) kejujuran (rectitude) yaitu kecocokan dengan standar etik dan
keagamaan.
Dalam Peraturan Menteri tersebut, kebijakan publik mempunyai 2 (dua)
bentuk yaitu peraturan yang terkodifikasi secara formal dan legal, dan pernyataan
pejabat publik di depan publik. Menurut Subarsono (2005:3) kebijakan publik dapat
berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah Provinsi,
Peraturan Pemerintah Kota/Kabupaten, dan Keputusan Walikota/Bupati.
Berdasarkan Peraturan Menteri ini, pernyataan pejabat publik juga merupakan
bagian kebijakan publik. Hal ini dapat dipahami karena pejabat publik adalah salah
satu aktor kebijakan yang turut berperan dalam implementasi kebijakan itu sendiri.

C. Pengertian Kebijakan Pendidikan


Pengertian Kebijakan pendidikan adalah proses suatu penilaian terhadap
sistem nilai dan faktor-faktor kebutuhan situasional yang sudah dirumuskan secara
strategis oleh lembaga pendidikan yang dijabarkan dari visi dan misi pendidikan
dan dioperasikan dalam sebuah lembaga pendidikan sebagi perencanaan umum
dalam rangka untuk mengambil keputusan agar tujuan pendidikan yang di inginkan
bisa tercapai.
Siklus kebijakan pendidikan bisa diuraikan sebagai berikut, Kebijakan
pendidikan yang berdasarkan fakta dan informasi telah mendapat input dari
kebutuhan masyarakat, selanjutnya kebijakan pendidikan tersebut akan
menentukan masalah-masalah yang perlu diteliti. Dengan demikian riset bukan
hanya dilaksanakan untuk kepentingan riset itu sendiri dan hasilnya kebanyakan
disimpan dilaci meja, tetapi riset yang betul-betul dilaksanakan karena kebutuhan
lapangan. Hasil riset yang demikian akan mempunyai validasi berdasarkan
kenyataan-kenyataan dilapangan. Riset yang telah divalidasi dapat disebar luaskan
dalam berbagai eksperimen. Eksperimen pendidikan inilah yang akan
membuahkan kebijakan pendidikan yang telah tervalidasi. Demikian seterusnya
terjadi siklus yang berkesinambungan antara kebijakan pendidikan, praktik
pendidikan, riset dan eksperimen.
Dalam artikel jurnal Manajemen Pendidikan yang ditulis Mada sutapa (2008)
berjudul Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Kebijakan Publik ditulis “Secara
prinsip, manajemen pendidikan merupakan aplikasi ilmu manajemen ke dalam
lingkup pendidikan dan merupakan bagian dari applied sciences terutama pada
bidang pendidikan baik di sekolah maupun luar sekolah. Prinsip-prinsip yang
dimiliki oleh manajemen pendidikan tidak berbeda dengan prinsip-prinsip yang ada
pada konsep manajemen pada umumnya, demikian pula dengan fungsi-fungsi
manajemen pendidikan adalah juga merupakan rangkaian konsep dari rumusan
manajemen”. Penerapan manajemen di bidang pendidikan diarahkan pada usaha
untuk menunjang kelancaran pencapaian tujuan pendidikan, sedangkan untuk
fungsi dan strategi dari konsep manajerial pada prinsipnya sama dengan yang
diterapkan dalam lingkup manajemen. Manajemen pendidikan dapat dikatakan
sebagai kegiatan penataan aspek pendidikan, termasuk dalam sistem
penyelenggaraan pendidikan yang tercakup dalam proses pembuatan kebijakan
pendidikan, seperti yang dilakukan dalam kegiatan manajemen pendidikan di level
nasional (makro) maupun level regional (messo).
Aspek pendidikan yang merupakan kajian manajemen pendidikan merupakan
public goods bukan private goods. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan
barang dan jasa milik umum (publik), yang mana masyarakat mempunyai hak untuk
mendapatkan pendidikan dan pengajaran (pasal 31 UUD 1945), dan pendidikan
merupakan kewajiban pemerintah untuk melaksanakannya, utamanya peranan
mendasar menyediakan kesempatan belajar. Oleh karena pendidikan merupakan
public goods, maka sudah semestinya kajian kebijakan pendidikan masuk dalam
perspektif kebijakan publik dalam dimensi kajian manajemen pendidikan yang
multidisipliner.
Istilah kebijakan dalam dunia pendidikan sering disebut dengan istilah
perencanaan pendidikan (educational planning), rencana induk tentang pendidikan
(master plan of education), pengaturan pendidikan (educational regulation),
kebijakan tentang pendidikan (policy of education) namun istilah-istilah tersebut
itu sebenarnya memiliki perbedaan isi dan cakupan makna dari masing-masing
yang ditunjukan oleh istilah tersebut (Arif Rohman, 2009: 107-108).
Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut (Riant Nugroho, 2008: 37)
sebagai bagian dari kebijakan publik, yaitu kebijakan publik di bidang pendidikan.
Dengan demikian, kebijakan pendidikan harus sebangun dengan kebijakan publik
dimana konteks kebijakan publik secara umum, yaitu kebijakan pembangunan,
maka kebijakan merupakan bagian dari kebijakan publik. Kebijakan pendidikan di
pahami sebagai kebijakan di bidang pendidikan, untuk mencapai tujuan
pembangunan Negara Bangsa di bidang pendidikan, sebagai salah satu bagian dari
tujuan pembangunan Negara Bangsa secara keseluruhan.
Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut Arif Rohman (2009: 108),
kebijakan pendidikan merupakan bagian dari kebijakan Negara atau kebijakan
publik pada umumnya. kebijakan pendidikan merupakan kebijakan publik yang
mengatur khusus regulasi berkaitan dengan penyerapan sumber, alokasi dan
distribusi sumber, serta pengaturan perilaku dalam pendidikan. Kebijakan
pendidikan (educational policy) merupakan keputusan berupa pedoman bertindak
baik yang bersifat sederhana maupun kompleks, baik umum maupun khusus, baik
terperinci maupun longgar yang dirumuskan melalui proses politik untuk suatu arah
tindakan, program, serta rencana-rencana tertentu dalam menyelenggarakan
pendidikan.
BAB III
KAJIAN PRAKTIS

A. Kebijakan Pendidikan & Program Pemerintah


Pendidikan sejatinya tidak dibolehkan mengekang antara pendidik dengan
yang terdidik. Pendikan tidak membenarkan penindasan dan pembedaan strata
sosial. Singkatnya pendidikan merupakan hak yang dimiliki oleh manusia, sebab
dengan pendidikan akan mengantarkannya menjadi resource person dalam
menunjukan jalan kemanusiaan. Maka dari itu hak untuk memperoleh pendidikan
sebagai hak bangsa, juga dianut dalam konstitusi kita (Undang-Undang Dasar NRI
1945); dalam pembukaannya eksplisit ditegaskan …”membentuk suatu
pemerintahan yang… mencerdaskan kehidupan bangsa…” Bahkan keterlibatan
negara menanggung perwujudan hak demikian masih ditegaskan lagi dalam Pasal
31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI
1945) yang terdiri atas 6 (enam) ayat:
1. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan;
2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah
wajib membiayaianya;
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-
Undang;
4. Negara memperioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua
puluh persen dari anggaran pendapatan belanja negara serta dari pendapatan
belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan
nasional;
5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan
peradaban serta kesejahteraan ummat manusia.
Selain itu, masih pula hak tersebut terderivasi dalam Pasal 12 Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yang menegaskan
“setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk
memperoleh pendidikan, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi
manusia yang beriman, bertakwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia,
dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia.”
Meningkatkan akses dan perluasan kesempatan belajar bagi semua anak
usia pendidikan dasar, dengan target utama daerah dan masyarakat miskin,
terpencil, dan terisolasi.
1. Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan dengan menerapkan
standar nasional pendidikan sebagai acuan dan rambu-rambu hukum untuk
meningkatkan mutu berbagai aspek pendidikan nasional termasuk mutu
pendidik dan tenaga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan,
kompetensi lulusan, pembiayaan pendidikan dan penilaian pendidikan,
2. Meningkatkan anggaran pendidikan untuk dapat mencapai 20 persen dari
APBN dan APBD sesuai amanat UUD 1945 dan UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. Mendorong pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pengelolaan pendidikan
sampai dengan satuan pendidikan dalam menyelenggaraan pendidikan.
4. Memperkuat manajemen pelayanan pendidikan dalam rangka membangun
pelayanan pendidikan yang amanah, efisien, produktif dan akuntabel
melalui upaya peningkatan tata kelola yang baik (good governance)
kelembagaan pendidikan.
5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan
termasuk meningkatkan peran dan fungsi komite sekolah dan dewan
pendidikan dalam

B. Arah kebijakan pendidikan Indonesia


1. Pemberdayaan Lembaga Pendidikan.
Kebijakan pendidikan nasional pada semua jenjang baik kini maupun ke
depan terutama telah diarahkan kepada pemberdayaan lembaga
pendidikan, sehingga memiliki otonomi yang tinggi dalam menghadapi
setiap persoalan yang dihadapi. Pemberdayaan lembaga pendidikan ini
lebih didasarkan pada pemberian trust kepada lembaga untuk mengelola
dirinya sendiri secara bertanggung jawab.
2. Desentralisasi Pendidikan
Keragaman yang dimiliki oleh lembaga pendidikan baik dilihat dari jenis
dan njenjangnya tidaklah relevan lagi jika semua pengelolaan pendidikan
disentralkan, sebagaimana pada era-era sebelumnya. Desentralisasi
pendidikan diharapkan dapat mewujudkan setiap program dan
pelaksanaannya sesuai dengan kondisi masing-masing, sehingga dapat
dijamin efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
3. Akuntabilitas Pendidikan. Institusi dan sumber daya pendidikan dalam
menunjukkan kegiatannya sering kali lepas dari tanggung jawabnya.
Untuk dapat lebih dipertanggungjawabkan kepada public, maka setiap
institusi seharusnya mampu menunjukkan kinerjanya secara bertanggung
jawab sebagaimana amanat yang telah diberikan. Kegiatan pendidikan
tidak hanya menghabiskan biaya yang telah disepakati, namun sejauh
mana dapat diwujudkan dalam kegiatan yang bermakna.
4. Relevansi Pendidikan
Program pendidikan dan kurikulum telah dilakukan perbaikan secara terus
menerus yang diharapkan dapat menyiapkan lulusan memiliki kesiapan
dalam menghadapi tantangan pada jamannya. Namun lepas dari itu tetap
berbagai kegiatan yang diciptakan perlu dirahkan juga untuk membekali
peserta didik dalam menghadapi kebutuhan dalam hidupnya.
5. Pemberdayaan Msasyarakat
Masyarakat merupakan stakeholder utama dalam proses pendidikan. Oleh
karena di samping pemerintah memenuhi tanggung jawabnya untuk
mendukung terjadinya proses pendidikan, masyarakat perlu diberdayakan
untuk berpartisipasi, baik secara finansial maupun substantive, sehingga
mereka ikut memiliki tanggung jawab dalam mengawal proses pendidikan
yang ada di sekitarnya.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pendidikan
di Indonesia.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pendidikan
di Indonesia, di antaranya:
1. Mentalitas birokrat sektor pendidikan
Pengelolaan pendidikan tidak akan lebih produktif manakala pimpinan
lebih menunjkukkan penampilan birokratis, dibandingkan dengan
penampilan profesional. Penampilan birokratis cenderung mengatasi
persoalan pendidikan akademik-profesional dan humanistik. Tentui saja
untuk beberapa hal masih juga diperlukan pendekatan adminsitratif.
2. Politisasi birokrasi pendidikan.
Dampak negatif otonomi pendidikan memungkinkan terjadinya
pembinaan karir tanpa batas, sehingga siapapun dapat mengelola birokrasi
pendidikan. Jika birokrasi pendidikan dikelola dengan cara dan
pendekatan seperti ini, maka pengembangan pendidikan tidak akan pernah
menunjukkan kinerja yang membanggakan dan memuaskan semua
stakeholder.
3. Penghargaan terhadap profesi pendidikan
Profesi pendidikan tidak akan pernah menggairahkan, selama
pernghargaan yang diberikan masih belum menjanjikan dan memberikan
prestisius bagi siapapun yang terlibat dalam proses pendidikan. Oleh
karena itu, baik secara material maupun non-material, perlu terus
diupayakan peningkatan penghargaan bagi profesi pendidikan.
4. Mayoritas tenaga kependidikan belum menunjukkan keprofesionalan yang
membanggakan.
Tidaklah dapat dipnungkiri bahwa kebijakan pendidikan belum dapat
diwujudkan secara optimal, karena mayoritas tenaga kependidikan masih
menunjukkan tingkat kualifikasi dan kompetensi masih berada di bawah
kualifikasi dan kompetensi minimal.
5. Kepedulian masyarakat bisnis dan industri yang masih rendah.
Implementasi kebijakan pendidikan nampaknya tidak bisa lepas dari
kepedulian masyarakat bisnis dan industri yang masih rendah terhadap
penyelenggaraan pendidikan. Mereka belum sepenuhnya menunjukkan
dukungannnya baik berupa dukungan material yang memadai, maupun
menyiapkan space untuk tempat melakukan praktek, atau mengirimkan
tenaga ahlinya ke tempat pendidikan. (Wahab:2004, Disampaikan dan
dibahas dalam Sarasehan Hizbut Tahrir Indonesia: Membangun Generasi
Cerdas, Generasi Peduli Bangsa, pada tanggal 25 Juli 2004 di Balai Besar
Diklat Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta.)
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1. Analisis kebijakan pendidikan merupakan cara memecahkan masalah yang ada
dalam kebijakan-kebijakan tentang pendidikan menggunakan pemahaman
yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.
2. Aktor yang melakukan analisis kebijakan pendidikan adalah lembaga
penelitian dan pengembangan yang berada di bawah Departemen Pendidikan
dan Kebudayan serta lembaga penelitian independent seperti SMERU.
3. Ruang lingkup analisis kebijakan pendidikan meliputi pengumpulan data
statistik pendidikan, pengembangan kurikulum, sistem pengujian, penelitian
pendidikan dan kebudayaan, teknologi komunikasi pendidikan, dan
pengemabangan analisis kebijakan pendidikan dan kebudayaan.
4. Pendekatan analisis pendidikan yakni pendekatan deskriptif dan normatif.
5. Metode analisis kebijakan pendidikan yaitu metode kualitatif dan kuantitatif.
6. Permasalahan kebijakan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah sistem
pendidikan di era otonomi daerah yang masih menggunkan alat ukur berupa
ujian nasional atau unas.

B. Saran
Seyogyanya analisis dalam bidang pendidikan harus selalu dilakukan
karena pendidikan di Indonesia masih jauh dari tujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD alinea IV.
DAFTAR PUSTAKA

Djohar.M.S. 2006. Pengembangan Pendidikan Nasional Menyongsong Masa


Depan. Yogyakarta: CV Gravika Indah.
Mu’arif.Liberalisasi Pendidikan. 2008.Yogyakarta : Pinus Book Publisher.
Suryadi, Ace dan H.A.R Tilaar. (1993). Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu
Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Udiutomo, Purwo, dkk, 2013. Besar Janji daripada Bukti : Kebijakan dan Praktik
Pendidikan Indonesia di Era Transisi Demokrasi, Dompet Dhuafa
Makmal Pendidikan, Bogor.
Wahab, Rochmat, 2003. Mencermati RUUSPN dikaitkan dengan Masa Depan
Bangsa, (paper), Yogyakarta..
www.kajianteori.com, 2013. Arah Kebijakan Dan Strategi Pendidikan Dasar,
Menengah, Dan Tinggi Di Indonesia, 4 Maret 2013