Anda di halaman 1dari 9

STRUKTUR SPASIAL DESA DAN KOTA

Disusun Oleh :

Kelompok : 2

1. Agil Al-Munawar
2. Karlina
3. Novita Sari F
4. Nurul Azmy R
5. Toni Suhendra
6. Yudi Sumarno
Kelas : XII IPS 1

SMA NEGERI 19 KABUPATEN TEBO


TAHUN AJARAN 2019/2020
STRUKTUR SPASIAL DESA DAN KOTA

A. STRUKTUR SPASIAL DESA


Letak desa dan kondiisi alam sekitarnya akan menentukan pola keruangan dan sisim
Perhubungan. Struktur spasial desa dipengaruhi oleh factor alam dan faktor sosial.
Faktor alam yang mempengaruhi pola keruangan dan sistim perhubungan, antara lain
iklim, tanah, topografi, tata air dan sumber daya alam Faktor social meliputi tingkat ekonomi,
mutu pendidikan dan adat istiadat serta kebudayaan.

- UNSUR-UNSUR DESA

Indonesia merupakan Negara yang memiliki sebutan sebagai Negara agraris yang sedang
berkembang, disebut Negara agraris karena penduduknya tinggal dipedesaan dengan aktifitas
sebagai petani, tanahnya cukup subur dan lahan pertaniaanya cukup luas. Suatu negara yang
ingin maju tentunya mempunyai upaya mengelola dan memanfaaatkan semua potensi
sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Negara Indonesia termasuk Negara yang
memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam jenisnya dan jumlahnya cukup banyak. Dalam
pembentukan sebuah desa terdapat

3 unsur pokok:

1) Daerah/wilayah yang merupakan tempat tinggal dan tempat beraktivitas.


2) Penduduk adalah terkait dengan kualitas dan kuantitas.
3) Tata kehidupan atau aturan-aturan yang berhubung langsung dengan keadan masyarakat
dan adat istiadat setempat.

Dalam perkembangan suatu tempat menjadi suatu desa atau kota tidak lepas dari keinginan serta
kemampuan manusia yang tinggal di tempat itu, karena desa dan kota pada dasarnya adalah
sama, merupakan tempat tinggal penduduk. Yang membedakan adalah perkembangannya.

- KLASIFIKASI DESA
Desa dapat diklasifikasikan berdasarkan potensi, perkembangan dan keegiatan
masyarakatnya.
a. Berdasarkan potensinya
Wilayah pedesaan dibagi menjadi 3 kelompok :
1. Berpotensi Tinggi
Menempati lahan pertanian yang subur dan topografi yang datar atau agak miring,
dilengkapi fasilitas irigaasi tekhnis. Mempunyai kemampuan untuk berkembang lebih
lanjut.
2. Berpotensi Sedang
Lahan pertanian agak subur,relief tidak rata, fasilitas irigasi tekhnis dan sebagian
semi tekhnis. Iklim mendukung untuk kegiatan pertanian. Masih mempunyai
kemampuan untuk berkembang.
3. Berpotensi Rendah
Lahan pertanian tidak subur dengan relief berbukit. Sumber air sulit, kegiatan
pertanian bergantung pada curah hujan. Wilayah ini sulit untuk dikembangkan.

b. Berdasarkan perkembangannya.
1. Desa tradisional.
Disebut juga pra desa. Mrpkn tipe desa pada masyarakat suku terasing.
Kehidupan masyarakatnya masih bergantung pada alam. Penduduknya cennderung
tertutup, kurang komunikasi dengan daerah lain.
2. Desa Swadaya
Penduduk masih jarang, terikat oleh kebiasaan adat., mempunyai lembaga yang
masih sederhana, tk pendidikan masyarakaaat rendah,produktivitas tanah rendah,
kegiatan penduduk dipengaruhi keadaan alam. Daerahnya pegunungan atau perbukitan.
3. Desa Swakarya
Adalah desa yang tingkat perkembangannya sudah lebih maju.
4. Desa Swasembada
Berdasar kegiatan masyarakatnya
1. Desa agraris
2. Desa industri
3. Desa nelayan.

- SEJARAH PERTUMBUHAN KOTA


wilayah pusat usaha pada kota-kota yang ada di Indonesia umumnya dipadati oleh perumahan,
gedung, dan pabrik-pabrik , keadaan ini membuat pusat usaha di Indonesia menjadi banyak dan
ramai.
adanya beberapa perkembangan aktivitas penduduk di Indonesia yang tumbuh mengakibatkan
munculnya kota-kota berdasarkan :
1. Kota yang berasal dari pusat perdagangan terjadi karena adanya distribusi/penyaluran
kebutuhan sehari-hari maupun sebagai perantara bagi perdagangan Nasional maupun
internasional.
Contohnya : surabaya dan Jakarta

2. Kata yang berasal dari pusat perkebunan terjadi karena adanya pembukaan lahan baru untuk
areal perkebunan, usaha perkebunan memerlukan tenaga kerja, para pekerja bertempat tinggal di
daerah sekitar perkebunan, akhirnya berkembang menjadi permukiman baru bahkan menjadi
sebuah kota.
Contohnya : Sukabumi perkebunan teh, Bandung perkebunan Kina dan Teh, ambrawa
perkebunan kopi, Bengkulu karet dan kelapa.

3. Kota yang berasal dari pusat pertambangan, kota yang berawal dari pertambangan atau kota
yang menghasilkan hasil-hasil tambang seperti hasil tambang perhiasan dan tambang timah.
Contohnya: Samarinda, Tarakan, Balikpapan penghasilan minyak bumi, Tanjung pandan dan
pangkal pinang pertambangan timah.

4. Kota yang berasal dari pusat administrasi pemerintah, ini terjadi karena segala urusan
administrasi pemerintah di kelola oleh pusat administrasi.
Contohnya: Bandung, Semarang, Bukittinggi
B. Struktur Organisasi Desa

Pemerintah Desa merupakan lembaga perpanjangan pemerintah pusat yang memiliki peran
strategi untuk mengatur masyarakat yang ada di perdesaan demi mewujudkan pembangunan
pemerintah. Berdasarkan perannya tersebut, maka diterbitkanlah peraturan-peraturan atau
undang-undang yang berkaitan dengan pemerintahan desa yang mengatur pemerintahan Desa,
sehingga roda pemerintahan berjalan dengan optimal.
Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa dan Perangkat Desa, yang meliputi Sekretaris Desa
dan lainnya. Struktur organisasinya adalah sebagai berikut.

1. Kepala Desa
Kepala desa adalah pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain yang dibantu perangkat
desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa (UU RI No 6 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 3).
Kepala desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan desa, dan pemberdayaan desa (UU RI No
6 Tahun 2014 Pasal 26 Ayat 1).
Kewajiban kepala desa menurut UU RI No 6 Tahun 2014 Pasal 26 Ayat 4 adalah:
 Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Desa
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara
keutuhan Negara Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika;
 Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;
 Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa;
 Menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan;
 Melaksanakan kehidupan demokrasi dan berkeadilan gender;
 Melaksanakan prinsip tata pemerintahan Desa yang akuntabel, transparan, professional,
efektif dan efisien, bersih serta bebas dari kolusi,korupsi dan nepotisme;
 Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di desa;
 Menyelenggarakan administrasi Pemerintahan Desa yang baik;
 Mengelola keuangan dan aset desa;
 Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa;
 Menyelesaikan perselisihan masyarakat di desa;
 Mengembangkan perekonomian masyarakat desa;
 Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa;
 Memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di desa;
 Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; dan
 Memberikan informasi kepada masyarakat desa.

2. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah lembaga yang melaksanakan fungsi


pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan
wilayah dan ditetapkan secara demokrasi (UU RI No 6 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 4 tentang UU
Desa).
Fungsi BPD yang berkaitan dengan kepala desa yaitu (UU RI No 6 Tahun 2014 Pasal 55) adalah:
1. Membahas dan menyepakati Rencana Peraturan Desa bersama kepala desa;
2. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa; dan
3. Melakukan pengawasan kinerja kepala desa.

3. Sekretaris
Merupakan perangkat desa yang bertugas membantu kepala desa untuk mempersiapkan dan
melaksanakan pengelolaan administrasi desa, mempersiapkan bahan penyusunan laporan
penyelenggaraan pemerintah desa. Fungsi sekretaris desa adalah:
 Menyelenggarakan kegiatan administrasi dan mempersiapkan bahan untuk kelancaran
tugas kepala desa;
 Membantu dalam persiapan penyusunan Peraturan Desa;
 Mempersiapkan bahan untuk Laporan Penyelenggara Pemerintah Desa;
 Melakukan koordinasi untuk penyelenggaraan rapat rutin;
 Pelaksana tugas lain yang diberikan kepada kepala desa.

4. Pelaksana Teknis Desa:


A. Kepala Urusan Pemerintah (KAUR PEM) Tugas Kepala Urusan Pemerintahan (KAUR PEM)
adalah membantu kepala desa melaksanakan pengelolaan administrasi kependudukan,
administrasi pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat desa,
mempersiapkan bahan perumusan kebijakan penataan, kebijakan dalam penyusunan produk
hukum Desa. Sedangkan fungsi adalah:
 Melaksanakan administrasi kependudukan.
 Mempersiapkan bahan-bahan penyusunan perencanaan peraturan desa dan keputusan
kepala desa.
 Melaksanakan kegiatan administrasi pertanahan.
 Melaksanakan kegiatan pencatatan monografi desa.
 Mempersiapkan bantuan dan melaksanakan penataan kelembagaan masyarakat untuk
kelancaran penyelenggaraan pemerintahan desa.
 Mempersiapkan bantuan dan dan melaksanakan kegiatan masyarakat yang berhubungan
dengan upaya menciptakan ketentraman dan ketertiban masyarakat dan pertahanan sipil.
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan kepada desa.

B. Kepala Urusan Pembangunan (KAUR PEMBANGUNAN) Tugas Kepala Urusan


Pembangunan (KAUR PEMBANGUNAN) adalah membantu kepala desa mempersiapkan bahan
perumusan kebijakan teknis pengembangan ekonomi masyarakat desa, pengelolaan administrasi
pembangunan, pengelolaan pelayanan masyarakat serta menyiapkan bahan usulan kegiatan dan
pelaksanaan tugas pembantuan. Sedangkan fungsinya adalah:
 Menyiapkan bantuan-bantuan analisa dan kajian perkembangan ekonomi masyarakat.
 Melaksanakan kegiatan administrasi pembangunan
 Mengelola tugas pembantuan
 Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa.

C. Kepala Urusan kesejahteraan Rakyat (KAUR KESRA) Tugas Kepala Urusan kesejahteraan
Rakyat (KUR KESRA) adalah membantu kepala desa untuk mempersiapkan bahan perumusan
kebijakan teknis penyusunan program keagamaan, serta melaksanakan program pemberdayaan
masyarakat dan sosial kemasyarakatan. Sedangkan fungsinya adalah:
 Menyiapkan bahan dan melaksanakan program kegiatan keagamaan.
 Menyiapkan dan melaksanakan program perkembangan kehidupan beragama.
 Menyiapkan bahan dan melaksanakan program, pemberdayaan masyarakat dan sosial
kemasyarakatan.
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan kepala desa.

D. kepala Urusan Keuangan (KAUR KEU) Tugas Kepala Urusan Keuangan (KAUR KEU)
adalah membantu sekretaris desa melaksanakan pengelolaan sumber pendapatan desa,
pengelolaan administrasi keuangan desa dan mempersiapkan bahan penyusunan APB Desa, serta
laporan keuangan yang dibutuhkan desa. Sedangkan fungsinya adalah:
 Mengelola administrasi keuangan desa.
 Mempersiapkan bahan penyusunan APB Desa.
 Membuat laporan pertanggungjawaban keuangan.
 Melaksanakan tugas lain yang diberikan sekretaris desa.
E. Kepala Urusan Umum (KAUR UMUM) Tugas Kepala Urusan Umum (KAUR UMUM)
adalah membantu sekretaris desa dalam melaksanakan administrasi umum, tata usaha dan
kearsipan pengelolaan inventaris kekayaan desa, serta mempersiapkan bahan rapat dan laporan.
Sedangkan fungsinya adalah:
 Melakukan pengendalian, dan pengelolaan surat masuk dan surat keluar serta
pengendalian tata kearsipan desa.
 Melaksanakan pencatatan inventarisasi kekayaan desa.
 Melaksanakan pengelolaan administrasi umum.
 Sebagai penyedia, penyimpan dan pendistribusi alat tulis kantor serta pemeliharaan dan
perbaikan peralatan kantor.
 Mengelola administrasi perangkat desa.
 Mempersiapkan bahan-bahan laporan.
 Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa.

5. Pelaksanaan Kewilayahan
Kepala Dusun (KADUS) tugas kepala dusun adalah membantu kepala desa melaksanakan tugas
dan kewajiban pada wilayah kerja yang sudah ditentukan sesuai dengan ketentuan yang sudah
ditetapkan. Fungsi kepala dusun:
 Membantu pelaksana tugas kepala desa di wilayah kerja yang sudah ditentukan.
 Melaksanakan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
 Melaksanakan keputusan dan kebijakan yang ditetapkan oleh kepala desa.
 Membantu kepala desa melakukan kegiatan pembinaan dan kerukunan warga.
 Membina swadaya dan gotong royong masyarakat.
 Melakukan penyuluhan program pemerintah desa.
 Sebagai pelaksana tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala desa.
Pola Persebaran Pemukiman Desa Dalam Lingkup Bentang Alamnya
Pola persebaran desa dan pemusatan penduduk desa sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah, tata
air, topografi, dan keadaan sumber alam yang terdapat di desa tertentu. Ada tiga pola persebaran
desa dalam hubungannya dengan bentang alamnya, yaitu sebagai berikut.

Pola mengelompok di daerah pertanian


Pola mengelompok di daerah pertanian (nucleated agricultural village community type) memiliki
ciri saling menggerombol I mengelompok. Letak tanah garapan untuk pertanian, jaraknya cukup
jauh dan lokasi rumah.

Pola pasar atau negara terbuka


Pola pasar (open country or trade center community type) memiliki ciri tersebar di daerah
pertaniannya, antara perumahan-perumahan saW dengan yang lain di hubungkan jalurj alur lalu
lintas untuk keperluan dalam bidang perdagangan.

Pola memanjang
Pola memanjang (line village community type) memiliki ciri berupa deretan pemukiman
memanjang yang letaknya di kanan-kiri jalan atau sungai. Tanah pertanian yang di miliki terletak
di belakang rumah dan tidak begitu luas. Hampir sama dengan tiga pola persebaran keruangan
desa tersebut, Profesor Bintarto membedakan pola keruangan dengan dasar kondisi fisik daerah.
1. Pola memanjang, biasanya terdapat pada desa yang terletak di sepanjang jalan, arus
sungai, dan daerah pantai.
2. Pola radial atau melingkar, biasanya terdapat pada desa yang terletak di daerah gunung
berapi.
3. Pola tersebar, biasanya terdapat pada desa yang terletak di daerah yang homogen, tetapi
dengan kesuburan yang tidak merata.

Apabila digambarkan secara diagram, ketiga pola keruangan desa tersebut adalah sebagai
berikut.
Penduduk yang menempati pemukiman desa, ada yang terikat pada tanah pertanian dan ada yang
tinggal di desa pertanian tetapi tidak mengolah tanah pertanian. Mereka mi mungkin
mengeijakan sesuatu yang diperlukan penduduk desanya seperti pandai besi, tukang kayu,
tukang cukur, maupun ahli lainnya.

Pertumbuhan dan perkembangan pemukiman di desa dipengaruhi oleh faktor fisik, ekonomi,
politik, sosial budaya, dan agama. Faktor fisik misalnya keadaan morfologi, keadaan tanah, tata
air, sumber daya, iklim. Faktor ekonomi misalnya kemampuan daya beli penduduk, transportasi,
komunikasi, lapangan kehidupan, harga tanah, dan hasil produksi. Faktor sosial budaya misalnya
faktor keamanan, bentuk dan struktur organisasi, hubungan sosial antarwarga, keadaan
kesehatan, serta keadaan pendidikan. Faktor politik misalnya keadaan pemerintahan dan keadaan
kenegaraan, peraturan-peraturan yang berlaku, serta kebijaksanaan yang dilaksanakan. Faktor
agama atau religi akan mempengaruhi keadaan sosial dan politik setempat.