Anda di halaman 1dari 4

Nama :Muhammad Ilham R

NIM :111 180 056

Kesalahan Nalar dalam Berbahasa

1. Generalisasi yang Terlalu Luas


Salah nalar ini disebut juga induksi yang salah karena jumlah
percontohnya yang terbatas tidak mamadai. Harus dicatat bahwa
kadang-kadang percontoh yang terbatas mengizinkan generalisasi
yang sahih.
Misalnya : Orang sunda putih dan ramah. (Orang sunda ada  yang
hitam dan ada juga yang tidak ramah).

2. Analogi yang Salah


Analogi adalah usaha perbandingan dan merupakan upaya yang
berguna untuk mengembangkan penalaran. Namun, analogi tidak
membuktikan apa-apa dan analogi yang salah dapat menyesatkan
karena logikanya salah.
Misalnya : Rektor harus memimpin universitas seperti letkol
memimpin pasukan. (Universitas itu bukan tentara dengan disiplin
tentara).

3. Salah Nilai atas Penyebaban


Generalisasi induktif sering disusun berdasarkan pengamatan sebab
dan akibat, tetapi kita kadang-kadang tidak menilai dengan tepat
sebab suatu peristiwa atau hasil kejadian. Khususnya dalam hal yang
menyangkut manusia, penentuan sebab dan akibat sulit sifatnya.
Salah nilai atas penyebab yang lazim terjadi ialah salah nalar yang
disebut post hoc, ergo propter hoc ‘sesudah itu, maka karena itu’.
Misalnya : Arsenal menjadi juara Premier League tanpa
terkalahkan karena doa kita. (Lawan Arsena tentu juga didoakan
para pendukungnya).
Nama :Muhammad Ilham R
NIM :111 180 056

4. Pemikiran ‘atau ini, atau itu’


Salah nalar ini berpangkal pada keinginan pada keinginan untuk
masalah yang rumit dari dua sudut pandang (yang bertentangan)
saja. Isi pernyataan itu jika tidak baik, tentu buruk; jika tidak betul,
tentu salah: jika tidak putih, tentu hitam.
Misalnya : Tukang parkir harus lulus sekolah supaya
terampil. (Apakah untuk   menjadi terampil kita selalu harus lulus
sekolah?).

5. Deduksi yang Salah


Salah nalar yang amat lazim ialah simpulan yang salah dalam
silogisme yang berpremis salah atau yang berpremis yang tidak
memenuhi syarat.
Misalnya: Pengiriman kucing ke bulan hanya
penghamburan. ( Premisnya: Semua eksperimen ke angkasa luar
hanya penghamburan).

6. Non Sequitur
Dalam argumentasi, salah nalar ini mengambil simpulan berdasarkan
premis yang tidak, atau hampir tidak, ada sangkut pautnya.
Misalnya : HMTA paling banyak cendekiawannya; karena itu saran
saran yang diberikan paling bermutu. (Tidak ada korelasi antara
kecendekiaan dan kepandaian merumuskan usul).

7. Penyimpangan Masalah
Salah nalar di sini terjadi jika argumentasi tidak mengenai pokok,
atau jika kita menukar pokok masalah dengan pokok yang lain,
ataupun jika kita menyeleweng dari garis.
Misalnya : Program Keluarga Berencana tidak perlu karena tanah
di Kalimantan masih banyak yang tidak berpenghuni (Manusia tidak
bisa hidup dengan hanya memiliki tanah).
Nama :Muhammad Ilham R
NIM :111 180 056

8. Imbauan pada Keahlian yang Disangsikan


Dalam pembahasan masalah, orang sering mengandalkan wibawa
kalangan ahli untuk memperkuat argumentasinya. Mengutip
pendapat seorang ahli sangat berguna walaupun kutipan itu tidak
dapat membuktikan secara mutlak kebenaran pokok masalah.
Misalnya : Kita mengutip pendapat pemain ftv tentang
pengembangan pancasila.

9. Pembenaran Masalah Lewat Pokok Sampingan


Salah nalar di sini muncul jika argumentasi menggunakan pokok
yang tidak langsung berkaitan, atau yang remeh, untuk
membenarkan pendiriannya. Misalnya, orang merasa kesalahannya
dapat dibenarkan karena lawannya juga berbuat salah.
Misalnya : Saya boleh melanggar lampu lalu lintas karena banyak
orang yang melanggar lampu lalu lintas juga.  (Melanggar lampu
lalu dilakukan karena banyak oknum yang melakukan dimana-
mana).

10. Argumentasi ad hominem


Salah nalar terjadi jika kita dalam argumentasi melawan orangnya
dan bukan persoalannya. Khususnya di bidang politik, argumentasi
jenis ini banyak dipakai.
Misalnya: orang itu tidak akan menjadi seorang pemimpin yang
baik karena kekayaannya yang sangat berlimpah. (Yang
dipersoalkan bukan kepemimpinannya)
Nama :Muhammad Ilham R
NIM :111 180 056

Bahasa Daerah

1. Generalisasi yang Terlalu Luas


Tuladha: Tiyang sunda sakmenika tiyang ingkang sregep wonten ing
nyambut damel. (Mboten sedanten tiyang Sunda sregep wonten ing
nyambut damel).

2. Pembenaran Masalah Lewat Pokok Sampingan


Tuladha: Kula angsal nglanggar lampu lalu lintas merga akih wong
nglanggar lampu lalu lintas. (Nlanggar lampu lalu dilakoke merga
akeh oknum sing padha- padha nglanggar).

3. Pemikiran ‘atau ini, atau itu’


Tuladha: Tukang parkir kedah lulus sekolah ben terampil. (Dados
terampil mboten mesti sekolah).

4. Penyimpangan Masalah
Tuladha: Program Keluarga Berencana mboten perlu amargi lemah
wonten ing Kalimantan tasih kosong  (Manungsa mboten saged
gesang namung merga gadhah lemah).

5. Salah Nilai atas Penyebaban


Tuladha: Arsena dados juara wonten ing English Premiere League
tanpi kalah amargi donganipun pendukung. (Arsenal tansah
didongaaken kaliyan pendukungipun).